Minggu, 16 Maret 2014

UNCONDITIONAL ELECTION (PEMILIHAN TANPA SYARAT) - Part 1


Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div






Doktrin pemilihan yang tidak bersyarat ini lebih lazim dikenal dengan sebutan Predestinasi.

I) Definisi Predestinasi.


1) Sejak semula (sebelum penciptaan segala sesuatu) Allah sudah menetapkan orang-orang tertentu untuk diselamatkan / masuk ke surga. Sisanya ditetapkan untuk binasa / masuk ke neraka.

2) Allah menentukan semua ini semata-mata berdasarkan kehendakNya sendiri, dan sama sekali bukan karena apapun yang ada atau yang akan ada dalam diri orang-orang itu.

3) Penetapan Allah ini pasti terjadi / tidak mungkin gagal.

Kalau saudara menginginkan definisi Predestinasi yang lebih terperinci, yang betul-betul disusun dengan kata-kata ilmu hukum, saudara bisa melihat ‘Westminster Confession of Faith’, Chapter III, no 3,4,5,6,7 di bawah ini:

a) “By the decree of God, for the manifestation of His glory, some men and angels are predestinated unto everlasting life; and others foreordained to everlasting death (= Oleh ketetapan Allah, bagi perwujudan kemuliaanNya, sebagian manusia dan malaikat telah dipredestinasikan untuk hidup yang kekal; sedangkan yang lain ditetapkan untuk kebinasaan yang kekal).

Penekanan bagian ini: baik manusia maupun malaikat, sebagian ditetapkan untuk selamat, sebagian lainnya ditetapkan untuk binasa.

b) “These angels and men, thus predestinated, and foreordained, are particularly and unchangeably designed, and their number so certain and definite, that it cannot be either increased or diminished (= Para malaikat dan manusia yang sudah dipredestinasikan dan ditetapkan lebih dahulu ini, direncanakan secara khusus dan tak bisa berubah, dan jumlah mereka adalah begitu pasti dan tertentu, sehingga tidak dapat bertambah atau berkurang).

Penekanan bagian ini: Predestinasi itu tidak bisa berubah / gagal.

c) “Those of mankind that are predestinated unto life, God, before the foundation of the world was laid, according to His eternal and immutable purpose, and the secret counsel and good pleasure of His will, hath chosen, in Christ, unto everlasting glory, out of His mere free grace and love, without any foresight of faith, or good works, or perseverance in either of them, or any other thing in the creature, as conditions, or causes moving Him thereunto: and all to the praise of His glorious grace” (= Sebagian dari umat manusia yang telah dipredestinasikan untuk memperoleh hidup kekal, sebelum dunia dijadikan, sesuai rencanaNya yang kekal dan tidak bisa berubah, serta rencana rahasia dan kerelaan kehendakNya, oleh Allah telah dipilih di dalam Kristus untuk mendapatkan kemuliaan kekal, semata-mata karena kasih karunia dan cintaNya yang cuma-cuma, tanpa lebih dulu melihat akan adanya iman, perbuatan baik, atau ketekunan di dalam diri mereka, atau hal-hal lain apapun dalam ciptaan tersebut, sebagai syarat atau penyebab yang dapat menggerakkanNya ke sana, dan semuanya ini bagi pujian kasih karuniaNya yang mulia).

Penekanan bagian ini: pemilihan Allah itu sama sekali tidak didasarkan pada adanya iman, perbuatan baik ataupun ketekunan yang akan ada dalam diri orang pilihan, tetapi semata-mata didasarkan pada kehendak Allah yang berdaulat.

d) “As God hath appointed the elect unto glory, so hath He, by the eternal and most free purpose of His will, foreordained all the means thereunto. Wherefore, they who are elected, being fallen in Adam, are redeemed by Christ, are effectually called unto faith in Christ by His Spirit working in due season, are justified, adopted, sanctified, and kept by His power, through faith, unto salvation. Neither are any other redeemed by Christ, effectually called, justi­fied, adopted, sanctified, and saved, but the elect only” (= Sebagaimana Allah telah menetapkan orang-orang pilihanNya kepada kemuliaan, Dia juga, oleh kehendakNya yang kekal dan bebas, telah menentukan caranya / jalannya untuk mencapai hal itu. Karena itu, mereka yang dipilih, yang telah jatuh di dalam Adam, ditebus oleh Kristus, dipanggil secara efektif ke dalam iman di dalam Kristus oleh RohNya yang bekerja pada saatnya, dibenarkan, diangkat menjadi anak, dikuduskan, dan dipelihara oleh kuasaNya, melalui iman, kepada keselamatan. Tidak ada yang lain yang ditebus oleh Kristus, dipanggil secara efektif, dibenarkan, diangkat menjadi anak, dikuduskan, dan diselamatkan, kecuali orang-orang pilihan saja).

Penekanan bagian ini: bagi orang pilihanNya, Allah tidak hanya menentukan tujuan akhirnya, tetapi juga saat dan cara / jalan untuk mencapai tujuan akhir itu, yaitu melalui Kristus, pekerjaan Roh Kudus, iman dsb.

e) The rest of mankind God was pleased, according to the unsearchable counsel of His own will, whereby He extendeth or withholdeth mercy, as He pleaseth, for the glory of His sovereign power over His crea­tures, to pass by; and to ordain them to dishonour and wrath for their sin, to the praise of His glorious justice (= Sisa dari umat manusia lainnya, Allah berkenan, sesuai dengan rencana yang tak terselami dari kehendakNya sendiri, dengan mana Dia  memberikan atau menahan belas kasihanNya, sesuai kerelaanNya, untuk kemuliaan dari kuasaNya yang berdaulat atas makhluk ciptaanNya, untuk melewati; dan menentukan mereka kepada kehinaan dan murka untuk dosa-dosa mereka, bagi pujian terhadap keadilanNya yang mulia).

Penekanan bagian ini: selain dari orang pilihan, maka Allah melewati (tidak menyelamatkan) umat manusia yang lain, dan menetapkan mereka untuk dihukum karena dosa-dosa mereka. Dengan demikian terlihat keadilan Allah.

II) Dasar Kitab Suci Predestinasi.

A) Ayat-ayat Kitab Suci tanpa penjelasan / tafsiran / komentar.

Pdt. Jusuf B. S. menganggap bahwa orang-orang Calvinist memang mempunyai dasar ayat Kitab Suci untuk ajarannya, tetapi semua itu sudah diputarbalikkan, ditafsirkan dengan akal dsb, sehingga menjadi ajaran yang salah / sesat. Ini terlihat dari kutipan-kutipan di bawah ini:
·       “Teori2 manusiawi ini seolah-olah didasarkan atas ayat2 Alkitab, tetapi ayat-ayat ini diputarbalikkan atau diartikan dengan akal, sehingga artinya menyesatkan 2Pet 3:16” - ‘Diktat PD’ (keluaran Gereja Bukit Zaitun), hal 6.
·       “Teori-teori manusiawi inilah yang memojokkan Allah menjadi pembohong, tetapi sebetulnya, merekalah yang memutarbalikkan kebenaran ini - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 25.
·       “Ada beberapa ayat-ayat dan fakta-fakta yang sulit dimengerti oleh beberapa orang, tetapi dengan akalnya mereka memaksa untuk mengerti, diartikan menurut pengertiannya sendiri, menurut teori-teorinya sendiri, dan diputarbalikkan sedemikian rupa sehingga keluar teori-teori manusiawi yang mendatangkan kebinasaan atas dirinya sendiri dan orang-orang yang mau percaya kepadanya” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 26.

Ayat-ayat Kitab Suci tanpa penjelasan / tafsiran / komentar di bawah ini saya berikan untuk menunjukkan:

1.  Bahwa di sini tidak ada pemutar-balikan, penafsiran salah, ataupun penafsiran menurut akal sendiri. Ini betul-betul hanyalah ayat Kitab Suci tanpa penjelasan / penafsiran / komentar, sehingga jelas tidak ada pemutar-balikan, penafsiran menurut akal sendiri, dsb!

2.  Bahwa Predestinasi bukanlah sekedar merupakan ajaran saya / golongan Reformed / Calvinist / John Calvin, ataupun merupakan penafsiran saya / golongan Reformed / Calvinist / John Calvin tentang Kitab Suci, tetapi betul-betul merupakan ajaran Kitab Suci sendiri!

Dan saya memberikan berpuluh-puluh ayat untuk menunjukkan bahwa ayat dasar untuk Predestinasi bukanlah hanya satu atau dua ayat saja, tetapi sangat banyak!

Janganlah meloncati ayat-ayat Kitab Suci ini, karena tanpa itu saudara tidak akan bisa mengetahui apakah memang Kitab Suci mengajarkan Predestinasi atau tidak! Karena itu, hendaklah saudara, lebih-lebih kalau saudara adalah orang Arminian atau orang yang terpengaruh oleh ajaran Arminian, membaca dan merenungkan ayat-ayat di bawah ini!

1) Ayat-ayat yang menunjukkan / menyebutkan adanya orang pilihan (elect).

Mat 22:14 - “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.

Mat 24:22,24 - “(22) Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat. ... (24) Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga”.

Mat 24:31 - “Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikatNya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihanNya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain”.

Luk 18:7a - “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihanNya yang siang malam berseru kepadaNya?”.

Ro 8:33 - “Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka?”.
 
Ro 11:5-8 - “(5) Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. (6) Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia. (7) Jadi bagaimana? Israel tidak memperoleh apa yang dikejarnya, tetapi orang-orang yang terpilih telah memperolehnya. Dan orang-orang yang lain telah tegar hatinya, (8) seperti ada tertulis: ‘Allah membuat mereka tidur nyenyak, memberikan mata untuk tidak melihat dan telinga untuk tidak mendengar, sampai kepada hari sekarang ini.’”.

Ro 16:13 - “Salam kepada Rufus, orang pilihan dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya, yang bagiku adalah juga ibu”.

Kol 3:12 - “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran”.

1Tes 1:4-5 - “(4) Dan kami tahu, hai saudara-saudara yang dikasihi Allah, bahwa Ia telah memilih kamu. (5) Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu”.

2Tim 2:10 - “Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal”.

Tit 1:1 - “Dari Paulus, hamba Allah dan rasul Yesus Kristus untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan akan kebenaran seperti yang nampak dalam ibadah kita”.

1Pet 1:1-2 - “(1) Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, (2) yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darahNya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu”.

1Pet 2:8-9 - “(8) Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan. (9) Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib”.

1Pet 5:13 - “Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon, dan juga dari Markus, anakku”.

2Yoh 1 - “Dari penatua kepada Ibu yang terpilih dan anak-anaknya yang benar-benar aku kasihi. Bukan aku saja yang mengasihi kamu, tetapi juga semua orang yang telah mengenal kebenaran”.

2Yoh 13 - “Salam kepada kamu dari anak-anak saudaramu yang terpilih.

2) Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah memilih / menetapkan / menentukan orang-orang tertentu untuk diselamatkan.

Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.

Kis 22:14 - “Lalu katanya: Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendakNya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulutNya.

Ro 8:29-30 - “(29) Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (30) Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya.

Ef 1:4-5 - “(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya.

Ef 1:11 - “Aku katakan ‘di dalam Kristus’, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan - kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya.

1Tes 5:9 - “Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

2Tes 2:12-13 - “(12) supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan. (13) Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai.

Yak 2:5 - “Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikanNya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?”.

3) Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa kehendak / rencana Allahlah yang menentukan / menyebabkan keselamatan seseorang.

Mat 11:25-27 - “(25) Pada waktu itu berkatalah Yesus: ‘Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. (26) Ya Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu. (27) Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.

Yoh 5:21 - “Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendakiNya.

Ro 10:20 - “Dan dengan berani Yesaya mengatakan: ‘Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku’”.

2Tim 1:9 - “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman.

Yak 1:18 - Atas kehendakNya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaanNya”.
NIV: He chose to give us birth through the word of truth, that we might be a kind of firstfruits of all he created” (= Ia memilih untuk melahirkan kita melalui firman kebenaran, supaya kita bisa menjadi buah sulung dari semua ciptaanNya).

4) Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa orang-orang tertentu diselamatkan karena karunia Tuhan, sedangkan orang-orang lain binasa, karena Tuhan tidak menghendaki keselamatan mereka.

Mat 13:10-15 - “(10) Maka datanglah murid-muridNya dan bertanya kepadaNya: ‘Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?’ (11) Jawab Yesus: ‘Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. (12) Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. (13) Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. (14) Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. (15) Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.

Yoh 12:39-40 - “(39) Karena itu mereka tidak dapat percaya, sebab Yesaya telah berkata juga: (40) ‘Ia telah membutakan mata dan mendegilkan hati mereka, supaya mereka jangan melihat dengan mata, dan menanggap dengan hati, lalu berbalik, sehingga Aku menyembuhkan mereka’”.

5) Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah menyediakan Kerajaan surga / tempat di surga untuk orang-orang tertentu.

Mat 20:23 - “Yesus berkata kepada mereka: ‘CawanKu memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kananKu atau di sebelah kiriKu, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa BapaKu telah menyediakannya’”.

Mat 25:34 - “Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kananNya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.

6) Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa ada orang-orang yang ditentukan untuk dihukum.

Yoh 17:12 - “Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam namaMu, yaitu namaMu yang telah Engkau berikan kepadaKu; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci”.

Amsal 16:4 - “TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuatNya untuk hari malapetaka.

Yudas 4 - “Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus”.

7)     Text istimewa dari Predestinasi.

Ro 9:6-29 - “(6) Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, (7) dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: ‘Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu.’ (8) Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar. (9) Sebab firman ini mengandung janji: ‘Pada waktu seperti inilah Aku akan datang dan Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki.’ (10) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita.  (11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’ (14) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! (15) Sebab Ia berfirman kepada Musa: ‘Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.’ (16) Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah. (17) Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: ‘Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasaKu di dalam engkau, dan supaya namaKu dimasyhurkan di seluruh bumi.’ (18) Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendakiNya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendakiNya. (19) Sekarang kamu akan berkata kepadaku: ‘Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkanNya? Sebab siapa yang menentang kehendakNya?’ (20) Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ (21) Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa? (22) Jadi, kalau untuk menunjukkan murkaNya dan menyatakan kuasaNya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaanNya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan - (23) justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaanNya atas benda-benda belas kasihanNya yang telah dipersiapkanNya untuk kemuliaan, (24) yaitu kita, yang telah dipanggilNya bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain, (25) seperti yang difirmankanNya juga dalam kitab nabi Hosea: ‘Yang bukan umatKu akan Kusebut: umatKu dan yang bukan kekasih: kekasih.’ (26) Dan di tempat, di mana akan dikatakan kepada mereka: ‘Kamu ini bukanlah umatKu,’ di sana akan dikatakan kepada mereka: ‘Anak-anak Allah yang hidup.’ (27) Dan Yesaya berseru tentang Israel: ‘Sekalipun jumlah anak Israel seperti pasir di laut, namun hanya sisanya akan diselamatkan. (28) Sebab apa yang telah difirmankanNya, akan dilakukan Tuhan di atas bumi, sempurna dan segera.’ (29) Dan seperti yang dikatakan Yesaya sebelumnya: ‘Seandainya Tuhan semesta alam tidak meninggalkan pada kita keturunan, kita sudah menjadi seperti Sodom dan sama seperti Gomora.’”.

8)     Ayat-ayat lain yang mendukung adanya Predestinasi.

Yoh 15:16 - Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu”.

Yoh 15:19 - “Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu”.

Kis 9:15 - “Tetapi firman Tuhan kepadanya: ‘Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagiKu untuk memberitakan namaKu kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel”.

Kis 18:10 - “Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umatKu di kota ini.

Ro 11:25 - “Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk.

1Kor 1:27-30 - “(27) Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, (28) dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, (29) supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. (30) Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita”.


B) Dasar-dasar lain dari Predestinasi.

1) Pada waktu Allah menciptakan segala sesuatu, maka ada yang diciptakan sebagai benda, sebagai tumbuh-tumbuhan, sebagai binatang, sebagai manusia dan sebagai malaikat. Ini semua dilakukan berdasarkan kehendak dan kemurahan hati Allah, bukan karena Ia melihat akan adanya sesuatu yang baik dalam ciptaanNya itu.

Calvin: “Let them answer why they are men rather than oxen or asses. Although it was in God’s power to make them dogs, he formed them to his own image” [= Biarlah mereka (orang-orang yang menolak Predestinasi) menjawab mengapa mereka adalah manusia dan bukannya sapi atau keledai. Sekalipun Allah berkuasa membuat mereka jadi anjing, Ia membentuk mereka sesuai gambarNya] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXII, no 1.

Kalau Allah yang berdaulat itu mempunyai hak untuk menciptakan sebagai benda, binatang, tumbuh-tumbuhan, manusia, ataupun malaikat, mengapa Ia tidak mempunyai hak untuk melakukan Predestinasi?

2) Persoalan bayi yang mati.
Ada pandangan-pandangan yang bertentangan tentang seseorang yang mati pada waktu masih bayi. Tetapi ini tidak jadi soal di sini. Kalau bayi mati itu masuk surga berarti bayi itu ditentukan / dipredestinasikan untuk selamat, karena bayi itu masuk surga tanpa ia beriman kepada Kristus ataupun melakukan perbuatan baik apapun juga. Sedangkan kalau bayi mati itu masuk neraka, maka itu berarti bayi itu ditentukan untuk binasa, karena ia tidak diberi kesempatan apapun untuk bertobat / percaya kepada Yesus ataupun berbuat baik. Jadi, apakah kita percaya bahwa bayi mati itu masuk surga atau neraka, tetap menunjukkan bahwa ada predestinasi terhadap bayi-bayi itu. Juga terlihat bahwa predestinasi terhadap bayi-bayi ini tidak tergantung pada iman maupun perbuatannya, karena ia sudah mati tanpa bisa beriman ataupun berbuat apapun.
Catatan: Arminianisme percaya bahwa bayi mati akan masuk surga.

3) Binasanya orang kafir yang mati tanpa Taurat / Injil / kesempatan untuk bertobat.
Ada orang-orang yang dibiarkan oleh Allah untuk mati tanpa kesempatan untuk bertobat:

a) Dalam Perjanjian Lama, di luar orang Yahudi hampir semuanya binasa tanpa kesempatan.

Ro 2:12a - “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat.

Orang-orang non Yahudi yang selamat hanyalah orang seperti Rahab, Rut, Naaman, dsb, yang masuk ke dalam agama Yahudi.

b) Dalam Perjanjian Baru, ada orang-orang yang mati tanpa pernah mendengar Injil, dan ini juga binasa tanpa ada kesempatan untuk percaya kepada Yesus.

Ro 10:13-14 - “(13) Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. (14) Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya?”.

Text ini membentuk suatu rantai. Orang yang berseru kepada nama Tuhan akan selamat, tetapi ia tidak akan bisa berseru kepada nama Tuhan kalau ia tidak percaya kepada Tuhan. Dan ia tidak akan bisa percaya kepada Tuhan kalau ia tidak pernah mendengar tentang Dia. Dan ia tidak akan bisa mendengar tentang Dia, kalau tidak ada yang memberitakan Injil kepadaNya.
Jadi, kalau tidak ada orang yang memberitakan Injil kepadanya, ia tidak bisa mendengar tentang Dia, sehingga tidak percaya kepadaNya, sehingga tidak bisa berseru kepadaNya, sehingga tidak bisa diselamatkan.
Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang tidak diinjili / tidak pernah mendengar tentang Yesus, pasti tidak selamat. Fakta Kitab Suci inilah yang mendasari pengutusan misionaris ke tempat-tempat yang belum pernah dijangkau Injil.

Loraine Boettner: “In fact the belief that the heathens without the Gospel are lost has been one of the strongest arguments in favour of foreign missions” (= Kenyataannya kepercayaan bahwa orang kafir tanpa Injil akan terhilang merupakan salah satu argumentasi terkuat yang mendukung misi asing) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 119.

Bandingkan juga dengan Yeh 33:8 yang berbunyi:
“Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! - dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu”.

Loraine Boettner: “When the watchman sees danger coming but does not give the people warning they perish in their iniquity, Ezek. 33:8, - true, the watchman will be held responsible, yet that does not change the fate of the people” (= Pada waktu penjaga melihat bahaya datang tetapi tidak memperingatkan orang-orang, mereka binasa dalam kesalahan mereka, Yeh 33:8, - memang benar bahwa penjaga itu dianggap bertanggung jawab, tetapi itu tidak mengubah nasib orang-orang itu) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 119.

Jelas bahwa orang-orang yang tidak diberi kesempatan untuk bertobat ini, adalah orang-orang yang memang ditetapkan untuk binasa.

Loraine Boettner:
·       “The problem of the heathens, who live and die without the Gospel, has always been a thorny one for the Arminians who insist that all men have sufficient grace if they will but make use of it” (= Problem orang kafir, yang hidup dan mati tanpa Injil, selalu menjadi duri bagi orang Arminian, yang berkeras bahwa semua manusia mempunyai kasih karunia yang cukup kalau saja mereka mau menggunakannya) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 118.
·       “Only in Calvinism, ... and its doctrine of grace through which some are sovereignly rescued and brought to salvation while others are passed by, do we find an adequate explanation of the phenomenon of the heathen world” (= Hanya dalam Calvinisme, ... dan doktrin kasih karunianya melalui mana beberapa orang secara berdaulat ditolong dan dibawa pada keselamatan sementara yang lain dilewati, bisa kita dapatkan penjelasan yang memadai tentang phenomena dunia kafir) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 121.

4)     Pemilihan terhadap Israel dalam Perjanjian Lama.
Ul 7:6 & Ul 32:8-9 menunjukkan pemilihan Tuhan atas Israel.
·       Ul 7:6 - “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayanganNya.
·       Ul 32:8-9 - “(8) Ketika Sang Mahatinggi membagi-bagikan milik pusaka kepada bangsa-bangsa, ketika Ia memisah-misah anak-anak manusia, maka Ia menetapkan wilayah bangsa-bangsa menurut bilangan anak-anak Israel. (9) Tetapi bagian TUHAN ialah umatNya, Yakub ialah milik yang ditetapkan bagiNya.

Alasan pemilihan Israel:
¨    Ul 4:37 - Karena Ia mengasihi nenek moyangmu dan memilih keturunan mereka, maka Ia sendiri telah membawa engkau keluar dari Mesir dengan kekuatanNya yang besar”.
¨    Ul 10:14-15 - “(14) Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya; (15) tetapi hanya oleh nenek moyangmulah hati TUHAN terpikat sehingga Ia mengasihi mereka, dan keturunan merekalah, yakni kamu, yang dipilihNya dari segala bangsa, seperti sekarang ini”.
¨    Ul 7:7-8 - “(7) Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu - bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? - (8) tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpahNya yang telah diikrarkanNya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir”.
¨    Ul 9:4-6 - “(4) Janganlah engkau berkata dalam hatimu, apabila TUHAN, Allahmu, telah mengusir mereka dari hadapanmu: Karena jasa-jasakulah TUHAN membawa aku masuk menduduki negeri ini; padahal karena kefasikan bangsa-bangsa itulah TUHAN menghalau mereka dari hadapanmu. (5) Bukan karena jasa-jasamu atau karena kebenaran hatimu engkau masuk menduduki negeri mereka, tetapi karena kefasikan bangsa-bangsa itulah, TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu, dan supaya TUHAN menepati janji yang diikrarkanNya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub. (6) Jadi ketahuilah, bahwa bukan karena jasa-jasamu TUHAN, Allahmu, memberikan kepadamu negeri yang baik itu untuk diduduki. Sesungguhnya engkau bangsa yang tegar tengkuk!”.
Israel diberi tanah Kanaan (ini jelas berhubungan dengan pemilihan terhadap mereka), bukan karena jasa mereka. Bahkan dikatakan secara explicit bahwa mereka adalah ‘bangsa yang tegar tengkuk’ (Ul 9:6b  bdk. Kel 32:9).
¨    Bandingkan juga dengan Yeh 16:1-14 di bawah ini, yang jelas menunjukkan ketidak-layakan Israel waktu dipilih / diambil oleh Tuhan.
Yeh 16:1-14 - “(1) Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku: (2) ‘Hai anak manusia, beritahukanlah kepada Yerusalem perbuatan-perbuatannya yang keji (3) dan katakanlah: Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada Yerusalem: Asalmu dan kelahiranmu ialah dari tanah Kanaan; ayahmu ialah orang Amori dan ibumu orang Heti. (4) Kelahiranmu begini: Waktu engkau dilahirkan, pusatmu tidak dipotong dan engkau tidak dibasuh dengan air supaya bersih; juga dengan garampun engkau tidak digosok atau dibedungi dengan lampin. (5) Tidak seorangpun merasa sayang kepadamu sehingga diperbuatnya hal-hal itu kepadamu dari rasa belas kasihan; malahan engkau dibuang ke ladang, oleh karena orang pandang enteng kepadamu pada hari lahirmu. (6) Maka Aku lalu dari situ dan Kulihat engkau menendang-nendang dengan kakimu sambil berlumuran darah dan Aku berkata kepadamu dalam keadaan berlumuran darah itu: Engkau harus hidup (7) dan jadilah besar seperti tumbuh-tumbuhan di ladang! Engkau menjadi besar dan sudah cukup umur, bahkan sudah sampai pada masa mudamu. Maka buah dadamu sudah montok, rambutmu sudah tumbuh, tetapi engkau dalam keadaan telanjang bugil. (8) Maka Aku lalu dari situ dan Aku melihat engkau, sungguh, engkau sudah sampai pada masa cinta berahi. Aku menghamparkan kainKu kepadamu dan menutupi auratmu. Dengan sumpah Aku mengadakan perjanjian dengan engkau, demikianlah firman Tuhan ALLAH, dan dengan itu engkau Aku punya. (9) Aku membasuh engkau dengan air untuk membersihkan darahmu dari padamu dan Aku mengurapi engkau dengan minyak. (10) Aku mengenakan pakaian berwarna-warna kepadamu dan memberikan engkau sandal-sandal dari kulit lumba-lumba dan tutup kepala dari lenan halus dan selendang dari sutera. (11) Dan Aku menghiasi engkau dengan perhiasan-perhiasan dan mengenakan gelang pada tanganmu dan kalung pada lehermu. (12) Dan Aku mengenakan anting-anting pada hidungmu dan anting-anting pada telingamu dan mahkota kemuliaan di atas kepalamu. (13) Dengan demikian engkau menghias dirimu dengan emas dan perak, pakaianmu lenan halus dan sutera dan kain berwarna-warna; makananmu ialah tepung yang terbaik, madu dan minyak dan engkau menjadi sangat cantik, sehingga layak menjadi ratu. (14) Dan namamu termasyhur di antara bangsa-bangsa karena kecantikanmu, sebab sangat sempurna adanya, oleh karena semarak perhiasanKu yang Kuberikan kepadamu, demikianlah firman Tuhan ALLAH.’”.

Dari semua alasan ini terlihat bahwa Israel dipilih sama sekali bukan karena mereka baik, tetapi karena itulah kehendak Allah. Kalau kita bisa mempercayai bahwa Israel dipilih semata-mata berdasarkan kehendak Allah yang berdaulat, lalu mengapa kita tidak bisa percaya bahwa kitapun dipilih semata-mata berdasarkan kehendak Allah yang berdaulat?

Catatan: Memang pemilihan Israel berbeda dengan Predestinasi, karena tidak semua Israel selamat. Tetapi B. B. Warfield menganggap bahwa Israel ini adalah simbol dari orang pilihan yang sejati.

B. B. Warfield: “... though Israel as a nation constituted the chosen people of God ..., yet we must not lose from sight the fact that the nation as such was rather the symbolical than the real people of God, and was His people at all, indeed, only so far as it was, ideally or actually, identified with the inner body of the really ‘chosen’” (= ... sekalipun Israel sebagai bangsa membentuk umat pilihan Allah ..., tetapi kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa bangsa itu lebih merupakan simbol dari pada umat Allah yang sungguh-sungguh, dan mereka hanya menjadi umatNya kalau mereka secara ideal dan sungguh-sungguh bergabung dengan tubuh dalam dari orang-orang pilihan yang sungguh-sungguh) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 290.

5)     Adanya malaikat pilihan.
1Tim 5:21 - “Di hadapan Allah dan Kristus Yesus dan malaikat-malaikat pilihanNya kupesankan dengan sungguh kepadamu: camkanlah petunjuk ini tanpa prasangka dan bertindaklah dalam segala sesuatu tanpa memihak”.

Perhatikan juga Mat 25:41 yang menunjukkan bahwa Tuhan menyiapkan / menyediakan neraka untuk ‘reprobate angels’ (= malaikat-malaikat yang ditetapkan untuk binasa).
Mat 25:41 - “Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.

Kalau predestinasi bisa terjadi dalam dunia malaikat, mengapa tidak bisa terjadi dalam dunia manusia?

Sebagai tambahan dalam persoalan ini, perlu diketahui bahwa ada perbedaan antara pemilihan pada malaikat dan pada manusia (R. L. Dabney, ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 231-232):

a) Pada manusia: semua manusia berdosa, lalu dari antara mereka dipilih orang-orang tertentu untuk diselamatkan melalui iman.
Pada malaikat: semua malaikat suci, dan dari antara mereka lalu dipilih malaikat-malaikat tertentu. Yang dipilih dijaga supaya tidak jatuh; yang tidak dipilih akan jatuh.

b) Manusia dipilih melalui / di dalam Yesus Kristus.
Malaikat tidak dipilih dalam seorang Pengantara, karena mereka suci dan karena itu tidak memerlukan penebusan.

6) Kitab Kehidupan.
Kitab Kehidupan mencatat nama dari orang-orang yang selamat, atau dengan kata lain, orang yang namanya tercatat dalam Kitab Kehidupan itulah yang akan masuk surga.

Wah 21:27 - “Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu”.

Sebaliknya, orang yang namanya tidak tercatat dalam kitab kehidupan itu akan masuk ke neraka.

Wah 20:15 - “Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, dilemparkan ke dalam lautan api itu”.

Sesuatu yang menarik dan harus diperhatikan tentang kitab kehidupan ini ialah bahwa Tuhan bukannya baru menuliskan nama seseorang di dalam kitab itu pada waktu orang itu bertobat / percaya kepada Yesus! Nama seseorang sudah tertulis atau tidak tertulis dalam kitab kehidupan sejak dunia belum dijadikan.

Ini bisa terlihat dalam Wah 13:8 yang berbunyi: “Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih.

Bandingkan juga dengan Wah 17:8 yang berbunyi: “Dan mereka yang diam di bumi, yaitu mereka yang tidak tertulis di dalam kitab kehidupan sejak dunia dijadikan, akan heran, apabila ....”.

Memang kalau kita melihat Wah 13:8 dan Wah 17:8 di atas, kita melihat bahwa kedua ayat itu berbicara tentang orang yang namanya tidak tertulis dalam kitab kehidupan sejak dunia dijadikan. Tetapi bahwa orang-orang tertentu namanya tidak tertulis dalam kitab kehidupan, secara implicit / tidak langsung menunjukkan sebaliknya, yaitu bahwa orang yang namanya ada dalam kitab kehidupan, juga sudah tercatat sebelum dunia dijadikan.

Hal yang perlu kita ketahui tentang Wah 13:8 ini adalah bahwa dalam bahasa Yunaninya, kata-kata ‘sejak dunia dijadikan’ mempunyai 2 kemungkinan:

a) Dihubungkan dengan ‘penulisan dalam kitab kehidupan’.
Ini sesuai dengan terjemahan Kitab Suci Indonesia, dan juga RSV, NASB, dan ASV.

Wah 13:8 - “Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih.

Kalau dipilih arti ini, maka Wah 13:8 ini menjadi seperti Wah 17:8.

b) Dihubungkan dengan ‘penyembelihan Anak Domba’.
Ini sesuai dengan KJV yang menterjemahkan:
“... whose names are not written in the book of life of the Lamb slain from the foundation of the world (= ... yang namanya tidak tertulis dalam kitab kehidupan dari Anak Domba yang disembelih sejak dunia dijadikan).
NIV dan NKJV menterjemahkan seperti KJV.

William Barclay memilih pandangan yang pertama, dengan berkata: “We have in these two translations two equally precious truths. But, if we must choose, we must choose the first, because there is no doubt that is the way in which John uses the phrase when he repeats it in Revelation 17:8” (= Dalam kedua terjemahan ini kita mempunyai dua kebenaran yang sama berharga. Tetapi, jika kita harus memilih, kita harus memilih yang pertama, karena tidak ada keraguan bahwa demikianlah Yohanes menggunakan ungkapan itu ketika ia mengulanginya dalam Wahyu 17:8).

Catatan: perlu diingat bahwa andaikatapun yang benar dari dua kemungkinan ini adalah yang kemungkinan yang kedua, tetap ada Wah 17:8 yang jelas-jelas berbicara bahwa tertulisnya / tidak tertulisnya nama dalam kitab kehidupan itu sudah dilakukan sejak dunia dijadikan!

William Barclay, yang bukanlah seorang Calvinist, menafsirkan arti ungkapan itu dengan berkata:
The meaning would then be that God has chosen his own from before the beginning of time, and nothing in life or in death, nothing in time or eternity, nothing that the Devil or the Roman Empire can ever do can pluck them from his hand” (= Artinya adalah bahwa Allah telah memilih milikNya sejak sebelum permulaan waktu, dan tidak ada sesuatupun dalam kehidupan atau kematian, tidak ada sesuatupun dalam waktu atau kekekalan, tidak ada sesuatupun yang bisa dilakukan oleh Setan atau Kekaisaran Romawi yang bisa mengambil mereka dari tanganNya).

George Eldon Ladd, yang juga bukan seorang Calvinist, dalam tafsirannya tentang Wah 13:8 berkata:
“For the book of life, see 3:5. Here and in 21:27, it is called the Lamb’s book of life. It is the register of those who have been saved by faith in the crucified Lamb of God. That their names were written before the foundation of the world carries the assurance that even though they seem to be powerless before the attacks of the beast, they are really in the keeping providence of God and have been since the foundation of the world. ‘Before the foundation of the world’ grammatically can modify either ‘written’ (as in RSV) or ‘slain’ (as in AV), but the parallel thought in 17:8 decides in favour of the former construction” [= Untuk kitab kehidupan, lihat 3:5. Di sini dan dalam 21:27, itu disebut kitab kehidupan Anak Domba. Itu adalah catatan tentang mereka yang telah diselamatkan oleh iman dalam Anak Domba Allah yang tersalib. Bahwa nama mereka telah tertulis sebelum dunia dijadikan memberikan kepastian bahwa sekalipun mereka kelihatannya tidak berdaya di hadapan serangan binatang itu, sebetulnya mereka ada dalam pemeliharaan Providensia Allah dan telah ada sejak dunia dijadikan. ‘Sebelum dunia dijadikan’ secara tatabahasa bisa menjelaskan baik ‘tertulis’ (seperti dalam RSV) ataupun ‘disembelih’ (seperti dalam AV/KJV), tetapi pemikiran yang paralel dalam 17:8 mendukung konstruksi yang pertama] - ‘A Commentary on the Revelation of John’, hal 181.

William Hendriksen, dalam tafsirannya tentang Wah 13:8 berkata:
“But even in these most dreadful days that shall precede Christ’s second coming there will be believers on earth, those whose names have been written from eternity in the Lamb’s book of life (cf. 17:8). Because of the fact that God has elected them from eternity to salvation in sanctification of the Spirit and belief of the truth (2Thes. 2:13), these individuals cannot perish. The government of antichrist may destroy their bodies, but it cannot destroy their souls” [= Tetapi bahkan pada hari-hari yang paling mengerikan yang akan mendahului kedatangan Kristus yang keduakalinya, tetap akan ada orang-orang percaya di bumi, mereka yang namanya telah tertulis dari kekekalan dalam kitab kehidupan Anak Domba (bdk. 17:8). Disebabkan oleh fakta bahwa Allah telah memilih mereka sejak kekekalan untuk diselamatkan dalam pengudusan Roh dan kepercayaan pada kebenaran (2Tes 2:13), individu-individu ini tidak bisa binasa. Pemerintahan antikristus bisa menghancurkan tubuh mereka, tetapi tidak bisa menghancurkan jiwa mereka] - ‘More than Conquerors’, hal 147.

Leon Morris (Tyndale), dalam tafsirannya tentang Wah 13:8 berkata:
“But the significant thing is that their names are not written in the book of life. John wants his little handful of persecuted Christians to see that the thing that matters is the sovereignty of God, not the power of evil. When a man’s name is written in the book of life he will not be forgotten. His place is secure” (= Tetapi hal yang penting adalah bahwa nama-nama mereka tidak tertulis dalam kitab kehidupan. Yohanes ingin sedikit orang-orang kristen yang dianiaya itu melihat bahwa hal yang berarti adalah kedaulatan Allah, bukan kuasa jahat. Kalau nama seseorang tertulis dalam kitab kehidupan, ia tidak akan dilupakan. Tempat / kedudukannya adalah aman / pasti).

Dan tentang Wah 17:8 Leon Morris berkata:
“The reminder that this goes back to the foundation of the world is a reminder of God’s eternal purpose (= Mengingatkan bahwa hal ini sudah ada pada penjadian dunia adalah mengingatkan tentang Rencana Allah yang kekal).

Bahwa nama seseorang sudah tertulis atau tidak tertulis dalam kitab kehidupan sebelum dunia dijadikan, jelas menunjukkan bahwa selamat atau tidaknya seseorang sudah ditentukan sejak dunia belum dijadikan. Inilah Predestinasi!

7) Kelahiran baru (Regeneration), yang merupakan pekerjaan Roh Kudus, dan yang dilakukan sesuai kehendak Roh Kudus, menunjukkan adanya Predestinasi.
Untuk mengerti ini kita perlu mengerti dahulu apakah regeneration / kelahiran baru itu.

a) Apakah regeneration itu?

1. Regeneration tidak sama dengan iman / pertobatan!
Banyak orang bersaksi bahwa ia dilahirbarukan tanggal sekian tahun sekian, dsb. Yang ia maksudkan adalah pada saat itu ia bertobat / percaya kepada Kristus, tetapi ia mencampuradukkan hal itu dengan regeneration. Ini jelas merupakan pengertian yang salah, karena regeneration harus mendahului iman, dan tanpa regeneration seseorang tidak mungkin bisa beriman kepada Kristus.

2. Regeneration juga tidak sama dengan perubahan hidup / pengudusan.
Kalau seseorang sudah bisa meninggalkan dosa-dosanya dan mengubah hidupnya ke arah yang positif, maka sering dikatakan bahwa ia sudah mengalami regeneration / kelahiran baru. Ini lagi-lagi merupakan pandangan yang salah, karena perubahan hidup / pengudusan terjadi sesudah seseorang beriman, sehingga jelas bahwa regeneration harus mendahului pengudusan.

3. Regeneration adalah pekerjaan penciptaan yang dilakukan Allah dalam diri manusia yang mengubah manusia itu dari keadaan mati secara rohani menjadi hidup secara rohani. Karena itu ada yang menyebut regeneration sebagai spiritual resurrection (= kebangkitan rohani).

b) Regeneration dalam arti sempit dan luas (Louis Berkhof).

1. Regeneration dalam arti sempit’.
Ini menunjuk pada saat pertama penanaman hidup yang baru dalam roh / jiwa manusia, dan kalau mau dianalogikan dalam dunia jasmani, maka ini menunjuk pada pembuahan (saat sperma bertemu dengan sel telur).

Di dalam theologia, kalau dibicarakan tentang regeneration, biasanya arti sempit inilah yang dimaksudkan.

2.     Regeneration dalam arti yang luas’.
Di sini, hidup yang baru yang tadinya ada di dalam, mulai muncul ke permukaan, sehingga bisa disadari oleh orangnya sendiri, bahkan mungkin terlihat oleh orang lain.
Ini bisa dianalogikan dengan kelahiran (saat bayi keluar dari kandungan).

Pembedaan ini sangat penting, karena dalam Kitab Suci, ayat-ayat yang berhubungan dengan regeneration, kadang-kadang menunjuk pada regeneration dalam arti pertama, dan kadang-kadang menunjuk pada regeneration dalam arti kedua, sehingga kalau kita tidak membedakan kedua arti itu, kita akan menjumpai hal-hal kontradiksi dalam Kitab Suci.

c) Sifat-sifat / ciri-ciri regeneration:

1. Regeneration terjadi dalam sub-conscious life (= alam bawah sadar) dari manusia.
Dasar:
a. Analogi: bayi tidak menyadari saat ia dilahirkan, apalagi pada saat pembuahan yang menjadikan dia!
b. Yoh 3:8 - “Angin bertiup kemana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau kemana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh”.

2.     Regeneration bersifat monergistic.
Istilah monergistic adalah suatu istilah theologia yang berasal dari 2 kata Yunani yaitu MONO (= satu) dan ERGA (= work / pekerjaan), dan ini menunjukkan bahwa ‘hanya satu pihak yang bekerja’.
Jadi berbeda dengan pengudusan dimana dua pihak, yaitu Allah dan kita, sama-sama bekerja untuk melakukan hal itu (Synergistic), maka dalam terjadinya regeneration, hanya satu pihak yang bekerja, yaitu Allah! Bagaimana dengan manusianya? Manusianya pasif secara total, dan sama sekali tidak ikut mengerjakan regeneration itu!

Dasar Kitab Suci:
a. Bahwa regeneration terjadi dalam alam bawah sadar, sudah menunjukkan secara jelas bahwa orang yang dilahirbarukan itu pasif total. Bagaimana ia bisa berbuat sesuatu tentang apa yang terjadi di alam bawah sadarnya?

b. Kata dilahirkan’ (bdk. Yoh 3:3,5) adalah suatu kata kerja pasif.

c. Analogi dengan kelahiran jasmani: Sama seperti kita tidak melakukan apapun pada saat kita dilahirkan secara jasmani, demikian juga kitapun tidak melakukan apapun pada saat kita dilahirkan kembali oleh Roh Kudus!
Memang dalam kelahiran jasmani, bayi yang dilahirkan itu juga pasif total, dalam arti ia sama sekali tidak membantu terjadinya kelahiran itu. Apalagi kalau kita berbicara tentang pembuahan / pertemuan sperma dan sel telur (regeneration dalam arti sempit), maka bayi itu lebih-lebih pasif total!

d. Yoh 1:13 yang berbunyi “Orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan laki-laki, melainkan dari Allah”, menunjukkan bahwa dalam terjadinya regeneration, manusianya sama sekali tidak ikut campur.
Yoh 1:13 ini menjelaskan tentang ‘anak-anak Allah’ dalam Yoh 1:12. Kata-kata ‘bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan laki-laki’ menunjukkan bahwa dalam persoalan regeneration manusia sama sekali tidak punya peranan, sedangkan kata-kata ‘melainkan dari Allah’ menunjukkan bahwa regeneration merupakan pekerjaan Allah saja!

e. Yoh 3:6 yang berbunyi “Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh”, juga menunjukkan bahwa dalam terjadinya regeneration, manusianya sama sekali tidak ikut campur.
Ayat ini jelas menunjukkan bahwa ‘daging’ / ‘manusia’ hanya bisa melahirkan ‘daging’ (= manusia yang dikuasai dosa). Hanya Roh (Roh Kudus) yang bisa melahirkan ‘roh’ (manusia yang dikuasai Roh Kudus).

f.  Mengingat bahwa regeneration adalah spiritual resurrection (= kebangkitan rohani), maka adalah sesuatu yang tidak masuk akal untuk berkata: ‘saya ikut bekerja sama dengan Allah untuk membangkitkan diri saya sendiri yang mati’! Jadi jelas bahwa dalam pembangkitan rohani itu hanya Allah / Roh Kudus yang bekerja, sedangkan manusianya pasif total.

Keberatan terhadap pandangan ini:
Yoh 3:7b yang berbunyi: “Kamu harus dilahirkan kembali”, memerintahkan kita untuk dilahirbarukan!

Jawaban terhadap keberatan ini:
Yoh 3:7 bukanlah suatu perintah, tetapi menunjukkan bahwa kelahiran baru adalah syarat mutlak untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

William Hendriksen: “It does not refer to the realm of moral duty, but to that of the divine decree” (= Itu tidak menunjuk pada kewajiban moral, tetapi pada ketetapan ilahi).

Illustrasi: Orang yang mau jadi ABRI, tinggi badan harus 170 cm, usia harus 21 tahun ke atas, berat badan harus diatas 60 kg. Kata ‘harus’ di sini tidak berarti bahwa itu adalah perintah, tetapi menunjukkan bahwa itu adalah syarat!

Karena regeneration / kelahiran baru adalah pekerjaan Roh Kudus secara mutlak, maka tidak ada hal apapun yang bisa dilakukan oleh manusia supaya hal itu bisa terjadi.

Bandingkan dengan buku tulisan Billy Graham, yang adalah seorang Arminian, yang berjudul ‘How to be born again’ (= Bagaimana caranya supaya dilahirkan kemba­li). Dari judulnya saja sudah jelas menunjukkan pengertiannya yang salah tentang kelahiran baru!

3. Regeneration dilakukan sesuai kehendak dan kedaulatan Roh Kudus.
Yoh 3:8 - Angin bertiup kemana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau kemana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh”.
Kata-kata ‘angin bertiup kemana ia mau’ menunjukkan bahwa Roh Kudus bekerja / melahirbarukan sesukaNya.

Ini menunjukkan bahwa Ia memilih orang-orang tertentu sesuai kehendakNya untuk dilahirbarukan, dan Ia tidak melahirbarukan yang lain. Ini jelas menunjuk pada Predestinasi!



8) Doktrin Total Depravity, dan doktrin bahwa iman adalah pemberian Allah, menunjukkan adanya Predestinasi.

Loraine Boettner: “If the doctrine of Total Inability or Original Sin be admitted, the doctrine of unconditional Election follows by the most inescapable logic” (= Jika doktrin tentang Ketidak-mampuan Total atau Dosa Asal diterima, maka doktrin pemilihan yang tidak bersyarat akan mengikuti oleh suatu logika yang tidak terhindarkan) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 95.

Keadaan Total Depravity dari manusia, tidak memungkinkan manusia untuk percaya kepada Yesus dengan kekuatan dan kemauannya sendiri. Ini sudah saya bahas dalam pelajaran tentang Total Depravity, dan tidak akan saya ulangi di sini.
Tetapi Kitab Suci maupun fakta menunjukkan bahwa ada orang-orang tertentu yang ternyata beriman / percaya kepada Yesus. Mengapa bisa demikian? Karena adanya:

a) Pekerjaan Allah di dalam diri mereka.
Ini terlihat dari ayat-ayat di bawah ini:
Yoh 6:37a - “Semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu”.
Yoh 17:2b - “Ia akan memberikan hidup kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepadaNya.
Yoh 17:6 - “Aku telah menyatakan namaMu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepadaKu dari dunia. Mereka itu milikMu dan Engkau telah memberikan mereka kepadaKu dan mereka telah menuruti firmanMu”.
Yoh 17:9 - “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab mereka adalah milikMu”.
Yoh 6:44 - “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir jaman”.
1Kor 1:30a - “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus.

b) Pemberian iman / pertobatan dari Allah kepada mereka.
Kis 11:18b - “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup”.
Fil 1:29 - “Sebab kepada kamu dikaru­niakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”.

Jadi, kalau ada orang yang percaya kepada Yesus, itu karena Allah bekerja dalam dirinya dan memberikan iman kepadanya. Sebaliknya kalau ada orang yang terus menolak Kristus sampai ia mati, itu disebabkan karena Allah tidak bekerja dalam dirinya dan / atau tidak memberikan iman kepadanya. Jadi, adanya orang yang percaya dan yang tidak percaya, menunjukkan bahwa ada orang yang diberi iman dan tidak diberi iman oleh Bapa. Jadi di sini ada pemilihan / penetapan dari Bapa, tentang siapa yang diberi iman (Elect - orang yang dipilih / ditentukan untuk selamat) dan siapa yang tidak diberi iman (Reprobate - orang yang dipilih / ditentukan untuk binasa). Semua ini mendukung doktrin Reformed / Calvinisme tentang Unconditional Election / Predestinasi.

Arthur W. Pink menguraikan hal ini dengan cara yang menarik. Ia berkata: “‘Salvation is of the Lord’ (Jonah 2:9); but the Lord does not save all. Why not? He does save some; then if He saves some, why not others? Is it because they are too sinful and depraved? No; for the apostle wrote, ‘This is a faithful saying, and worthy of all acceptation, that Christ Jesus came into the world to save sinners; of whom I am chief’ (1Tim. 1:15). Therefore, if God saved the ‘chief’ of sinners, none are excluded because of their depravity. Why then does not God save all? Is it because some are too stony-hearted to be won? No; because of the most stony-hearted people of all it is written, that God will yet ‘take the stony heart out of their flesh, and will give them a heart of flesh (Ezek. 11:19)” [= ‘Keselamatan adalah dari TUHAN’ (Yunus 2:9); tetapi Tuhan tidak menyelamatkan semua orang. Mengapa tidak? Ia memang menyelamatkan sebagian orang; lalu jika Ia menyelamatkan sebagian orang, mengapa Ia tidak menyelamatkan yang lain? Apakah karena mereka terlalu berdosa dan bejat? Tidak; karena rasul menulis, ‘Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa’ (1Tim 1:15). Karena itu, jika Allah menyelamatkan orang yang paling berdosa, tidak ada yang tidak bisa diselamatkan karena kebejatan mereka. Lalu mengapa Allah tidak menyelamatkan semua? Apakah karena sebagian orang terlalu keras hatinya untuk dimenangkan? Tidak; karena tentang bangsa yang paling keras hatinya dituliskan, bahwa Allah akan ‘mengambil hati yang keras itu dari daging mereka, dan akan memberikan hati dari daging’ (Yeh 11:19)] - ‘The Sovereignty of God’, hal 45.

Penekanan dari kutipan di atas ini adalah: manusia tidak selamat bukan karena mereka terlalu jahat / keras hati.

Arthur W. Pink lalu melanjutkan: “Why is it that all are not saved, particularly all who hear the Gospel? Do you still answer, Because the majority refuse to believe? Well, that is true, but it is only a part of the truth. It is the truth from the human side. But there is a Divine side too, and this side of the truth needs to be stressed or God will be robbed of His glory” (= Mengapa tidak semua diselamatkan, khususnya semua yang mendengar Injil? Apakah kamu tetap menjawab, Karena mayoritas menolak untuk percaya? Itu memang benar, tetapi itu hanyalah sebagian dari kebenaran. Itu adalah kebenaran dari sudut manusia. Tetapi ada sudut Allah juga, dan sudut kebenaran ini perlu ditekankan, atau Allah akan dirampok kemuliaanNya) - ‘The Sovereignty of God’, hal 46.

Penekanan dari kutipan di atas ini adalah: sekalipun memang benar bahwa manusia tidak selamat karena mereka menolak untuk percaya, tetapi itu adalah dari sudut pandang manusia. Ada sudut pandang Allah yang juga harus diperhatikan.

Arthur W. Pink melanjutkan lagi: “The unsaved are lost because they refuse to believe; the others are saved because they believe. But why do these others believe? What is it that causes them to put their trust in Christ? Is it because they are more intelligent than their fellows, and quicker to discern their need of salvation? Perish the thought, ‘Who maketh thee to differ from another? And what hast thou that thou didst not receive? Now if thou didst receive it, why dost thou glory, as if thou hadst not received it?’ (1Cor. 4:7)” [= Orang yang tidak selamat terhilang karena mereka menolak untuk percaya; yang lain diselamatkan karena mereka percaya. Tetapi mengapa yang lain ini percaya? Apa yang menyebabkan mereka percaya kepada Kristus? Apakah karena mereka lebih pandai dari pada sesama mereka, dan lebih cepat melihat kebutuhan keselamatan mereka? Buanglah pikiran itu, ‘Karena siapa yang membuat engkau berbeda dari orang lain? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?’ (1Kor 4:7)] - ‘The Sovereignty of God’, hal 46.
Catatan: 1Kor 4:7 versi Kitab Suci Indonesia berbunyi: Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?”.
Bagian yang saya garisbawahi itu salah terjemahan.
NIV: For who makes you different from anyone else? What do you have that you did not receive? And if you did receive it, why do you boast as though you did not?” (= Karena siapa yang membuat engkau berbeda dari orang lain? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?).

Penekanan dari kutipan di atas ini adalah: seseorang bisa percaya, bukan karena ia lebih baik dari orang-orang yang tidak percaya.

Akhirnya Arthur W. Pink menyimpulkan dan sekaligus memberikan dasar Kitab Suci untuk kesimpulannya itu:
¨    “It is God himself who makes the difference between the elect and the non-elect, for of His own it is written, ‘And we know that the Son of God is come, and hath given us an understanding, that we may know Him that is true’ (1John 5:20)” [= Adalah Allah sendiri yang membuat perbedaan antara orang pilihan dan orang yang bukan pilihan, karena tentang milikNya dituliskan, ‘Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar’ (1Yoh 5:20)] - ‘The Sovereignty of God’, hal 46.
¨    “Faith is God’s gift, and ‘all men have not faith’ (2Thess. 3:2); therefore, we see that God does not bestow this gift upon all. Upon whom then does He bestow this saving favour? And we answer, upon His own elect - ‘As many as were ordained to eternal life believed’ (Acts 13:48)” [= Iman adalah pemberian / karunia Allah, dan ‘bukan semua orang beroleh iman’ (2Tes 3:2); karena itu, kita melihat bahwa Allah tidak memberikan pemberian / karunia ini kepada semua orang. Lalu kepada siapa Ia memberikan hadiah / kemurahan yang menyelamatkan ini? Dan kami menjawab, kepada orang pilihanNya - ‘Semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya’ (Kis 13:48)] - ‘The Sovereignty of God’, hal 47.

Penekanan dari kesimpulan ini adalah: perbedaan yang menyebabkan satu orang percaya sedangkan yang lain tidak, terletak dalam diri Allah. Ia memberikan iman hanya kepada orang-orang pilihan!

9) Bahwa manusia diselamatkan semata-mata karena kasih karunia Allah, bukan karena perbuatan baik manusia, tidak bisa tidak akan menunjuk pada adanya Predestinasi.
Kitab Suci memang secara jelas mengajar bahwa manusia diselamatkan semata-mata oleh kasih karunia Allah, dan sama sekali bukan karena perbuatan baik manusia.
 
Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.

Kalau keselamatan memang bukan terjadi karena perbuatan baik manusia, tetapi karena pemberian kasih karunia, maka jelaslah bahwa siapa yang diselamatkan dan siapa yang tidak diselamatkan tergantung kepada Allah. Kalau Allah memberikan kasih karuniaNya kepada seseorang maka orang itu akan percaya kepada Yesus dan selamat. Sebaliknya kalau Allah menahan kasih karuniaNya dari diri seseorang (dan Ia berhak melakukan hal ini - bdk. Ro 9:15,18), maka orang itu tidak akan percaya kepada Yesus dan tidak akan selamat. Lalu siapa yang diberi kasih karunia dan siapa yang tidak? Berdasarkan apa Allah memilih? Jelas berdasarkan Predestinasi / pemilihan Allah. Memang Predestinasi berhubungan sangat erat dengan kasih karunia.

Hal ini terlihat dari Ef 1:4-8a yang berbunyi: “(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya, (6) supaya terpujilah kasih karuniaNya yang mulia, yang dikaruniakanNya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihiNya. (7) Sebab di dalam Dia dan oleh darahNya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karuniaNya (8a) yang dilimpahkanNya kepada kita.

Perhatikan bahwa kalau dalam Ef 1:4-5 Paulus berbicara tentang Predestinasi / pemilihan, maka dalam Ef 1:6-8a ia berbicara tentang kasih karuniaNya. Bahkan dalam Ef 1:6 itu ada kata-kata supaya terpujilah kasih karuniaNya yang mulia”, yang jelas menunjukkan bahwa tujuan Predestinasi / pemilihan itu adalah untuk meninggikan kasih karunia Allah.

Hubungan erat antara Predestinasi dan kasih karunia Allah ini juga terlihat dari Ro 11:5-6 yang berbunyi: “(5) Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. (6) Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia”.

Pdt. Jusuf B. S. dan Guy Duty sama-sama menekankan keselamatan yang merupakan anugerah / pemberian cuma-cuma dari Allah berdasarkan Ef 2:8-9, tetapi anehnya mereka tetap mengakui bahwa manusia selamat karena kemauan mereka, dan bahkan dipilih oleh Allah karena Allah melihat lebih dulu kebaikan mereka / iman mereka. Ini jelas merupakan suatu kontradiksi! Bahwa mereka berdua memang mengajarkan kontradiksi itu, akan saya tunjukkan di bawah ini, melalui kutipan-kutipan dari buku-buku mereka.

a) Pdt. Jusuf B. S.

1. Dalam bukunya ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 9, ia berkata: “Kita menerima keselamatan dari Tuhan dengan cuma-cuma, bukan karena jasa, kebaikan, usaha atau pekerjaan kita”. Dan ia lalu mengutip Ef 2:8 sebagai dasar. Saya setuju dengan kata-katanya di sini.

2. Tetapi lalu dalam buku yang sama, hal 67, ia berkata:
“Ada seseorang ditanya, kalau sekarang mati, ke mana? Jawabnya tegas: ‘Ke Surga!’. Kalau lima tahun lagi mati, ke mana? Orang itu berpikir lalu katanya: ‘Kalau saya tetap setia, saya ke Surga!’. Betulkah ini? Kepastian keselamatan kita, tergantung dari Allah dan kita. Allah 100 % menghendaki keselamatan kita. Ia tidak pernah berubah Ibr 13:8. Sebab itu sekarang hanya tergantung dari kita. Kalau kita sungguh-sungguh, itu berarti kita akan tumbuh, tidak tinggal kanak-kanak rohani, pasti naik, kita juga pasti tetap selamat. Jadi kepastian keselamatan itu tergantung dari kesungguhan kita dengan kata lain: tergantung dari tingkat kerohanian kita.

Dari kata-katanya ini jelas terlihat bahwa kesetiaan, kesungguhan dan bahkan tingkat kerohanian seseorang berperan / punya andil dalam keselamatan seseorang! Ini jelas menjurus pada ajaran sesat ‘Salvation by works’ (= Keselamatan karena perbuatan baik), dan bertentangan dengan kata-katanya sendiri yang telah saya kutip di atas dan juga bertentangan dengan Kitab Suci.

b) Guy Duty.

1. Dalam bukunya ‘Keselamatan bersyarat atau tanpa syarat?’, ia berkata:
·       Keselamatan adalah anugerah, kasih, dan belas kasihan dari Allah bagi umat manusia yang berdosa” - hal 38.
·       Tanpa anugerah dan kasih Allah yang tak dapat dibeli dan tak terbalaskan, tidak ada orang berdosa yang diselamatkan ... Tetapi anugerah Allah yang cuma-cuma, yang sebenarnya tidak layak kita terima, ...” - hal 115.

2. Tetapi lucunya dalam bagian-bagian lain dari buku yang sama, ia lalu mengatakan hal-hal yang bertentangan, seperti:
·       “Kata-kata ‘predestinasi’ dan ‘pemilihan’, bagaimana-pun tidak dapat mengubah fakta bahwa Allah membuat rencana kekal-Nya bagi manusia menurut apa yang Ia ketahui terlebih dahulu, yaitu apa yang akan manusia perbuat dengan kuasa mereka untuk memutuskan secara bebas” - hal 126.
·       “Apakah itu Yakub, Esau, Firaun, orang-orang Yahudi, atau orang-orang kafir, tak seorangpun yang dipredes-tinasikan tanpa memandang kepada tindakan bebas dari kehendaknya sendiri. Teks-teks yang mereka kutip ini tidak membuktikan keselamatan tanpa syarat. Teks-teks ini tidak mengesampingkan kehendak manusia sebagai satu syarat untuk memperoleh belas kasihan ilahi - hal 110.
·       “Lalu mengapa Allah lebih menyukai Yakub dan mengabaikan Esau? Ingat definisi-definisi Leksikon-leksikon terkemuka tentang pemilihan yang menyiratkan arti ‘pilihan (choice), memilih (select), yaitu, yang terbaik dari antara jenisnya atau kelasnya’ -- ‘dipilih (selected), yaitu dari antara yang berkualitas lebih baik dari lainnya’. Alasan-alasan Allah bagi pemilihannya atas Yakub dengan melampaui Esau adalah alasan-alasan yang ditemukan dalam kepribadian kedua orang ini, ... Marilah kita melihat sekilas kepribadian dari kedua orang itu, dan melihat jika hal ini benar” - hal 103.

Guy Duty lalu menguraikan panjang lebar segala ‘kebaikan Yakub’ dan ‘kejelekan Esau’ (hal 103-104).

Dari semua ini jelas terlihat bahwa sama seperti Pdt. Jusuf B. S., Guy Duty juga mengatakan bahwa kehendak dan kebaikan manusia itu mempunyai andil dalam keselamatannya, dan dengan demikian menentang ajarannya sendiri di atas, yaitu bahwa manusia diselamatkan hanya karena anugerah cuma-cuma dari Allah.

Pikirkan sendiri, apakah ajaran Pdt. Jusuf B. S. dan Guy Duty ini sesuai dengan Ro 11:5-6, yang jelas-jelas menekankan kasih karunia dan menyingkirkan perbuatan baik, sebagai alasan pemilihan / Predestinasi?

Ro 11:5-6 - “(5) Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. (6) Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.

Sekarang kita melihat hal ini dari sudut Reformed / Calvin sendiri.

Loraine Boettner: “Through the election of individuals the truly gracious character of salvation is most clearly shown. Those who declare that salvation is entirely by the grace of God, and yet deny the doctrine of election, hold an inconsistent position (= Melalui pemilihan individu-individu sifat keselamatan yang betul-betul karena kasih karunia ditunjukkan secara paling jelas. Mereka yang menyatakan bahwa keselamatan itu sepenuhnya oleh kasih karunia Allah, tetapi menyangkal doktrin pemilihan, memegang posisi yang tidak konsisten) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 95.

Calvin: “We shall never be clearly persuaded, as we ought to be, that our salvation flows from the wellspring of God’s free mercy until we come to know his eternal election, which illumines God’s grace by this contrast: that he does not indiscriminately adopt all into the hope of salvation but gives to some what he denies to others” (= Kita tidak akan pernah diyakinkan secara jelas, seperti yang seharusnya, bahwa keselamatan kita mengalir dari mata air belas kasihan cuma-cuma dari Allah sampai kita mengenal pemilihanNya yang kekal, yang menerangi kasih karunia Allah oleh kontras ini: bahwa Ia tidak secara sama rata mengadopsi semua orang ke dalam pengharapan keselamatan tetapi memberikan kepada sebagian orang apa yang tidak Ia berikan kepada yang lain) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXI, no 1.

Dalam buku tafsirannya tentang surat Roma, Calvin mengomentari Ro 11:6 dengan berkata: “But if no regard to works can be admitted in election, without obscuring the gratuitous goodness of God, which he designed thereby to be so much commended to us, what answer can be given to Paul by those infatuated persons, (phrenetici - insane,) who make the cause of election to be that worthiness in us which God has foreseen? For whether you introduce works future or past, this declaration of Paul opposes you; for he says, that grace leaves nothing to works. ... why God, before the foundation of the world, chose only some and passes by others: and he declares, that God was led to make this difference by nothing else, but by his own good pleasure; for if any place is given to works, so much, he maintains, is taken away from grace. It hence follows, that it is absurd to blend foreknowledge of works with election. For if God chooses some and rejects others, as he has foreseen them to be worthy or unworthy of salvation, then the grace of God, the reward of works being established, cannot reign alone, but must be only in part the cause of our election” (= Tetapi jika perbuatan baik tidak bisa diterima dalam pemilihan, tanpa mengaburkan kebaikan yang bersifat kasih karunia dari Allah, yang Ia rencanakan dengan cara itu supaya sangat kita hargai, jawaban apa yang bisa diberikan kepada Paulus oleh orang-orang gila itu, yang mengatakan bahwa penyebab dari pemilihan adalah kelayakan dalam diri kita yang telah dilihat lebih dulu oleh Allah? Karena apakah kamu mengajukan perbuatan baik yang akan datang ataupun yang lalu, pernyataan Paulus ini menentangmu; karena ia mengatakan, bahwa kasih karunia tidak menyisakan apapun untuk perbuatan baik. ... mengapa Allah, sebelum dunia dijadikan, hanya memilih sebagian dan melewati yang lain: dan ia menyatakan bahwa Allah dipimpin untuk membuat perbedaan ini bukan oleh apapun yang lain, tetapi oleh kerelaan kehendakNya; karena jika ada tempat yang diberikan kepada perbuatan baik, ia berpendapat bahwa begitu banyak yang diambil dari kasih karunia. Karena itu, adalah sesuatu yang menggelikan untuk memadukan / mencampur ‘pengetahuan lebih dulu tentang perbuatan baik’ dengan ‘pemilihan’. Karena jika Allah memilih sebagian orang dan menolak yang lain, karena Ia telah melihat lebih dulu apakah mereka layak atau tidak layak untuk keselamatan, maka kasih karunia Allah, dengan ditegakkannya / adanya upah perbuatan baik, tidak bisa bertahta sendirian, tetapi harus merupakan hanya sebagian dari penyebab pemilihan).

Calvin lalu melanjutkan dengan membicarakan tentang Abraham (bacalah Ro 4:1-5 dan Ro 3:24!) dan berkata: “... if works come to the account, when God adopts a certain number of men unto salvation, reward is a matter of debt, and that therefore it is not a free gift (= ... jika perbuatan baik diperhitungkan pada waktu Allah mengadopsi sejumlah orang tertentu untuk keselamatan, pahala / upah adalah persoalan hutang, dan karena itu bukan lagi merupakan pemberian cuma-cuma).

Ro 4:1-5 - “(1) Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? (2) Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. (3) Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? ‘Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ (4) Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. (5) Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran”.

Ro 3:24 - “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus”.


10) Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa orang-orang yang belum percaya kepada Kristus, yang sudah disebut dengan istilah ‘umat Tuhan’, ‘domba’, dan bahkan ‘anak Allah’. Ini jelas menunjukkan bahwa mereka adalah orang pilihan Allah.

a) Kis 18:9b-10 - “(9b) ‘Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! (10) Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umatKu di kota ini’”.

Kata-kata ini diucapkan oleh Tuhan kepada Paulus, yang pada saat itu sedang menghadapi kemarahan orang-orang Yahudi di Korintus. Tuhan tidak menghendaki Paulus meninggalkan tempat itu, sebaliknya Tuhan menyuruh Paulus untuk terus memberitakan Injil di situ. Mengapa? Karena ada banyak ‘umat Tuhan’ di sana. Orang-orang itu masih kafir, tetapi Tuhan menyebut mereka sebagai ‘umatNya’ karena mereka adalah orang-orang pilihanNya, yang pasti akan bertobat. Supaya mereka bisa bertobat, maka Paulus harus memberitakan Injil di sana.

b) Yoh 10:16 - “Ada lagi padaKu domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suaraKu.
Kata-kata ‘bukan dari kandang ini’ menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang non Yahudi yang pada saat itu belum percaya. Kata-kata akan mendengarkan suaraKu’ lebih-lebih menunjukkan bahwa mereka belum percaya kepada Yesus. Tetapi mereka sudah disebut sebagai ‘domba’! Ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang pilihan!

Calvin: “Thus, according to the secret election of God, we are already sheep in his heart, before we are born; but we begin to be sheep in ourselves by the calling, by which he gathers us into his fold” (= Jadi, menurut pemilihan yang rahasia dari Allah, kita sudah adalah domba dalam hatiNya, sebelum kita dilahirkan, tetapi kita mulai menjadi domba dalam diri kita oleh panggilan, dengan mana Ia mengumpulkan kita ke dalam kandangNya).

Calvin: “Therefore, according to God’s secret predestination (as Augustine says), ‘many sheep are without, and many wolves are within.’” [= Karena itu, menurut predestinasi rahasia dari Allah (seperti dikatakan Agustinus), ‘banyak domba ada di luar, dan banyak serigala ada di dalam’] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book IV, Ch. 1, no 8.

c) Yoh 11:51-52 - “(51) Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, (52) dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.

Kata-kata ‘bangsa itu’ jelas menunjuk kepada bangsa Yahudi, sedangkan kata-kata ‘anak-anak Allah yang tercerai-berai’ jelas menunjuk kepada orang-orang non Yahudi yang saat itu belum percaya kepada Yesus. Mengapa orang-orang non Yahudi yang belum percaya ini sudah disebut ‘anak-anak Allah’? Jelas karena mereka adalah orang pilihan Tuhan, yang pasti akan bertobat, dan pasti akan dikumpulkan dan dipersatukan oleh kematian Yesus!

Calvin (tentang Yoh 11:52): But how comes it that they who, in consequence of being wretchedly scattered and wandering, became the enemies of God, are here called the children of God? I answer, as has been already said, God had in his breast children, who in themselves were wandering and lost sheep, or rather who were the farthest possible from being sheep, but, on the contrary, were wolves and wild beasts. It is therefore by election that he reckons as the children of God, even before they are called, those who at length begin to be manifested by faith both to themselves and to others (= Tetapi bagaimana mungkin bahwa mereka yang, sebagai konsekwensi dari keberadaan mereka yang tersebar dan mengembara secara buruk, menjadi musuh-musuh Allah, di sini disebut anak-anak Allah? Saya menjawab, seperti telah dikatakan, Allah mempunyai di dadaNya anak-anak, yang dalam diri mereka sendiri adalah domba-domba yang mengembara dan terhilang, atau lebih tepat, ada dalam kemungkinan yang terjauh dari keberadaan sebagai domba, tetapi sebaliknya, adalah serigala-serigala dan binatang-binatang liar. Karena itu, adalah oleh pemilihan maka Ia menganggap / memperhitungkan sebagai anak-anak Allah, bahkan sebelum mereka dipanggil, mereka yang akhirnya mulai dinyatakan oleh iman, baik kepada diri mereka sendiri dan kepada orang-orang lain).

Bdk. Yoh 17:20-21 - “(20) Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepadaKu oleh pemberitaan mereka; (21) supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”.

Saya menantang orang Arminian, khususnya Pdt. Jusuf B. S., untuk menjelaskan dari sudut pandang Arminian, mengapa dalam ketiga text di atas ini orang-orang yang tidak percaya bisa disebut dengan istilah ‘umat Tuhan’, ‘domba’ dan bahkan ‘anak Allah’!

11) Adanya pertanyaan ‘Apakah Allah tidak adil?’ dalam Ro 9:14.

Ro 9:6-15 - “(6) Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, (7) dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: ‘Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu.’ (8) Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar. (9) Sebab firman ini mengandung janji: ‘Pada waktu seperti inilah Aku akan datang dan Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki.’ (10) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. (11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’ (14) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! (15) Sebab Ia berfirman kepada Musa: ‘Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.’”.

Memang kalau seseorang untuk pertama kalinya mendengar doktrin Predestinasi, biasanya reaksi yang pertama muncul adalah ‘Allah itu tidak adil’. Tentang apakah adanya Predestinasi itu memang menunjukkan bahwa Allah itu tidak adil atau tidak, akan saya bahas belakangan. Di sini saya hanya ingin menunjukkan bahwa adanya pertanyaan ‘Apakah Allah tidak adil?’ dalam Ro 9:14 itu jelas menunjukkan bahwa doktrin Predestinasi ini memang adalah ajaran Kitab Suci / Paulus.

Dalam Ro 9:6-9 Paulus mengajarkan tentang pemilihan terhadap Ishak, bukan terhadap Ismael. Lalu dalam Ro 9:10-13 Paulus mengajarkan tentang pemilihan terhadap Yakub dan penolakan terhadap Esau, yang ia katakan sama sekali tidak didasarkan pada perbuatan mereka (karena mereka sudah dipilih sebelum mereka dilahirkan), tetapi pada panggilan / kehendak Allah. Lalu dalam Ro 9:14, Paulus menanyakan suatu pertanyaan yang ia tahu pasti akan timbul dalam diri orang yang mendengar tentang doktrin Predestinasi yang baru ia ajarkan: ‘Apakah Allah tidak adil?’.

Kalau doktrin Predestinasi ini tidak ada, atau kalau Tuhan melakukan Predestinasi / pemilihan dengan melihat pada perbuatan baik manusia yang akan terjadi, maka pertanyaan ‘Apakah Allah tidak adil?’ itu tidak akan muncul dalam Ro 9:14! Tetapi ternyata pertanyaan itu muncul, dan ini membuktikan bahwa doktrin Predestinasi itu memang adalah ajaran Paulus / Kitab Suci!

12) Segala sesuatu tergantung Tuhan, dan ini bisa terlihat dari:

1Sam 2:6-8 - “(6) TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana. (7) TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga. (8) Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, dan membuat dia memiliki kursi kehormatan”.

Ayub 1:21 - “katanya: ‘Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!’”.

Maz 75:7-8 - “(7) Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, (8) tetapi Allah adalah Hakim: direndahkanNya yang satu dan ditinggikanNya yang lain.

Maz 135:6-7 - “(6) TUHAN melakukan apa yang dikehendakiNya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap samudera raya; (7) Ia menaikkan kabut dari ujung bumi, Ia membuat kilat mengikuti hujan, Ia mengeluarkan angin dari dalam perbendaharaanNya”.

Amsal 16:1 - “Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN.

Amsal 16:4 - TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuatNya untuk hari malapetaka”.

Amsal 16:9 - “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.

Amsal 16:33 - “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN.

Amsal 19:21 - “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana.

Amsal 21:1 - Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkanNya ke mana Ia ingini”.

Amsal 21:31 - “Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan TUHAN.

Mat 10:29-30 - “(29) Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak BapaMu. (30) Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya”.

Kalau segala sesuatu terjadi karena kehendak Tuhan, maka selamat atau tidaknya manusia pasti juga tergantung Tuhan / kehendak Tuhan, dan ini menunjuk pada Predestinasi.

Catatan: Bagian ini saya bahas singkat saja, karena ini saya bahas secara mendetail / panjang lebar dalam buku ‘Providence of God’.

III) Penjabaran / penguraian Predestinasi.

1) Predestinasi bersifat kekal.

Mengapa kita mempercayai bahwa Predestinasi itu bersifat kekal?

a) Allah adalah ‘intelligent being’ (= makhluk berakal / makhluk cerdas).
Bahwa Allah adalah ‘intelligent being’, terlihat dari manusia yang juga adalah ‘intelligent being’, padahal manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
Keberadaan Allah sebagai ‘intelligent being’ ini tidak memungkinkan ada saat dimana Ia tidak mempunyai rencana sama sekali.

Bahkan ada ahli theologia yang berani mengatakan bahwa Allah tidak lebih dulu ada dibanding dengan rencanaNya. Sepintas lalu ini kelihatan extrim dan merupakan suatu pendewaan terhadap rencana Allah. Tetapi coba renungkan: bisakah saudara membayangkan adanya saat dimana Allah, yang adalah ‘intelligent being’ itu, ada dalam keadaan bermalas-malasan tanpa mempunyai rencana apapun? Saya sendiri tidak bisa membayangkan hal itu, dan karena itu saya berpendapat bahwa Rencana Allah sudah ada sejak kekekalan.

Herman Bavinck: “Scaliger correctly observed that God’s decree was not preceded by a long period of reflection and deliberation, so that for a long time God would have been without purpose and without a will ... It is impossi­ble to conceive of God as a being without a purpose and without an active and operative will (= Scaliger secara benar mengamati bahwa ketetapan Allah tidak didahului oleh waktu pemikiran dan pertimbangan yang lama, sehingga untuk waktu yang lama Allah tidak mempunyai tujuan / rencana dan tidak mempunyai kehendak ... Adalah tidak mungkin untuk membayangkan Allah sebagai makhluk tanpa tujuan / rencana dan tanpa kehendak yang aktif dan operatif) - ‘The Doctrine of God’, hal 370.

Herman Hoeksema: “God is en eternally active God. ... We must, therefore, not imagine, ... that God the Lord began to be active when in the beginning He created the heavens and the earth, while before the creation He was completely idle and inactive (= Allah adalah Allah yang aktif secara kekal. ... Karena itu, kita tidak boleh membayangkan bahwa Allah Tuhan mulai aktif ketika pada mulanya Ia menciptakan langit dan bumi, sementara sebelum penciptaan Ia sepenuhnya bermalas-malasan / menganggur dan tidak aktif) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 153.

b) Kemahatahuan dan kemahabijaksanaan Allah menyebabkan Ia bisa merencanakan seluruh rencanaNya dari sejak kekekalan.
Kalau manusia membuat rencana, maka manusia membuatnya secara bertahap. Misalnya pada waktu kita ada di SMP kita merencanakan untuk masuk SMA tertentu, dan pada waktu di SMA baru kita meren­canakan untuk masuk perguruan tinggi tertentu. Setelah lulus dari perguruan tinggi, baru kita merencanakan untuk bekerja di tempat tertentu, dsb. Tidak ada manusia yang dari lahir lalu bisa meren­canakan segala sesuatu dalam seluruh hidupnya! Mengapa? Karena manusia tidak maha tahu sehingga ia tidak mampu melakukan hal itu. Manusia membutuhkan penambahan pengetahuan untuk bisa membuat rencana lanjutan.
Tetapi Allah yang maha tahu dan maha bijaksana, merencanakan seluruh RencanaNya sejak semula!

c) Kitab Suci menyatakan bahwa Rencana Allah (secara umum) memang bersifat kekal / sudah ada sejak kekekalan.

2Raja 19:25 - “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari, dan telah merancangnya pada zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu”.

Maz 139:16 - “mataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.

Yes 37:26 - “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu”.

Yes 46:10-11 - “(10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya”.

d) Dalam persoalan Predestinasipun, Kitab Suci menyatakan bahwa Allah telah merencanakannya sejak kekekalan.

2Tim 1:9 - “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman.

Ef 1:4-5,11 - “(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya, ... (11) Aku katakan ‘di dalam Kristus’, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan - kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya”.

2Tes 2:13 - “Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai”.

Ro 9:11-13 - “(11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’”.

Ro 8:29-30 - “(29) Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (30) Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya”.

Wah 13:8 - “Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih”.

Wah 17:8 - “Dan mereka yang diam di bumi, yaitu mereka yang tidak tertulis di dalam kitab kehidupan sejak dunia dijadikan, akan heran, apabila ....”.

2) Predestinasi bersifat ‘unconditional’ / tak bersyarat.

Kebanyakan gereja percaya Predestinasi, tetapi apa dasarnya Allah memilih? Jawaban terhadap pertanyaan ini menentukan apakah orang itu Reformed atau tidak.

Kalau jawabannya menunjukkan suatu ‘conditional election’ (= pemilihan yang bersyarat), dimana Predestinasi / pemilihan itu tergantung pada kehidupan manusianya (Allah memilih orang karena Ia tahu bahwa orang itu baik / akan menjadi baik / akan beriman), maka orang itu bukan Reformed / Calvinist.

Sebaliknya kalau jawabannya menunjukkan suatu ‘unconditional election’ (= pemilihan yang tidak bersyarat), dimana Predestinasi / pemilihan itu sama sekali tidak tergantung pada kehidupan manusia yang dipilih, tetapi semata-mata tergantung kepada Allah, maka orang itu Reformed / Calvinist (Catatan: tetapi tentu ada hal-hal lain yang harus ia percayai untuk betul-betul disebut Reformed / Calvinist).

a) Dasar Kitab Suci dari Predestinasi / pemilihan yang tidak bersyarat.

1. Di atas sudah kita pelajari bahwa Predestinasi bersifat kekal. Jadi, kita sudah dipilih sebelum kita lahir, dan ini menunjukkan bahwa pemilihan ini tidak tergantung perbuatan / hidup kita (unconditional).

Ro 9:11 - “Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya”.

2. Kita sudah melihat bahwa pemilihan terhadap Israel dilakukan bukan karena mereka baik, tetapi semata-mata karena kehendak Allah. Calvin menjadikan ini sebagai salah satu dasar dari Unconditional Election (= pemilihan yang tidak bersyarat).

Calvin: “... let those now come forward who would bind God’s election either to the worthiness of men or to the merit of works. Since they see one nation preferred above all others, and hear that God was not for any reason moved to be more favorably inclined to a few, ignoble - indeed, even wicked and stubborn - men, will they quarrel with him because he chose to give such evidence of his mercy?” (= ... biarlah maju ke depan mereka yang mengikat pemilihan Allah pada kelayakan manusia atau pada jasa pekerjaan / perbuatan baik mereka. Karena mereka melihat satu bangsa dipilih di atas yang lain, dan mendengar bahwa Allah bukan karena alasan apapun digerakkan untuk bersikap lebih baik kepada segelintir orang-orang hina / rendah / tercela, bahkan jahat dan tegar tengkuk, akankah mereka bertengkar dengan Dia karena Ia memilih untuk memberikan bukti dari belas kasihanNya?) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXI, no 5.

3. Yoh 15:16a - “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu”.

Calvin: “We therefore find Christ’s statement to his disciples, ‘You did not choose me, but I chose you’ (John 15:16), generally valid among all believers. There he not only rules out past merits but also indicates his disciples had nothing in themselves for which to be chosen if he had not first turned to them in his mercy” [= Karena itu kita menemukan pernyataan Kristus kepada murid-muridNya: ‘Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu’ (Yoh 15:16), yang merupakan suatu hal yang benar / sah secara umum di antara semua orang percaya. Di sana Ia bukan hanya menyingkirkan jasa-jasa pada waktu lampau tetapi juga menyatakan bahwa murid-muridNya tidak mempunyai apapun dalam diri mereka sendiri yang menyebabkan mereka dipilih, kalau Ia tidak lebih dulu berbalik kepada mereka dalam belas kasihanNya] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXII, no 3.

4. Ro 11:35 - “Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepadaNya, sehingga Ia harus menggantikannya?”.

Calvin: “And how is Paul’s statement to be understood, ‘Who has first given to him, and he shall receive recompense (Rom. 11:35)? He means to show that God’s goodness so anticipates men that among them he finds nothing either past or future to win them his favor” [= Dan bagaimana pernyataan Paulus dimengerti: ‘Siapakah yang lebih dulu memberikan sesuatu kepadaNya, dan ia akan menerima balas jasa (Ro 11:35)? Ia bermaksud menunjukkan bahwa kebaikan Allah begitu mendahului manusia sehingga di antara mereka Ia tidak menemukan apapun, baik di waktu lampau maupun di waktu yang akan datang, yang menyebabkan Ia bersikap baik kepada mereka] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXII, no 3.

Catatan: terjemahan Kitab Suci Indonesia berbeda dengan KJV dalam Ro 11:35 ini, tetapi kalau kita menggunakan terjemahan Indonesia ataupun NIV / NASB maka tetap akan cocok dengan argumentasi Calvin.

5. 2Tim 1:9 - “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman”.

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Predestinasi tidak tergantung perbuatan baik / kehidupan kita, tetapi tergantung pada Rencana Allah dan kasih karunia Allah.

6. Ro 9:11-13 - “(11) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau’”.

Ini adalah dasar yang sangat kuat / menyolok bahwa Predestinasi tidak dilakukan karena Allah melihat / tahu lebih dulu bahwa orang itu bakal baik / beriman.

Calvin:
·       “Suppose we admit that Jacob was chosen because he had worth arising out of virtues to come; why should Paul say that he had not yet been born? ... But the apostle proceeds to resolve this difficulty, and teaches that the adoption of Jacob comes not from works but from God’s call” (= Kalau kita mengakui bahwa Yakub dipilih karena ia mempunyai kelayakan yang ditimbulkan oleh kebaikannya di masa yang akan datang; mengapa Paulus harus mengatakan bahwa ia belum dilahirkan? ... Tetapi sang rasul meneruskan untuk memecahkan kesukaran ini, dan mengajar bahwa pengangkatan Yakub sebagai anak tidak datang dari perbuatan tetapi dari panggilan Allah) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXII, no 4.
·       “But because he well knew that God could foresee nothing good in man except what he had already determined to bestow by the benefit of his election, he does not resort to that absurd disorder of putting good works before their cause” [= Tetapi karena ia (Paulus) tahu benar bahwa Allah tidak melihat lebih dulu apapun yang baik dalam diri manusia kecuali apa yang Ia telah tetapkan untuk berikan sebagai manfaat pemilihanNya, ia tidak mengambil jalan menuju urutan kacau yang menggelikan yang menempatkan perbuatan baik sebelum penyebabnya] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXII, no 5.
·       “Esau and Jacob are brothers, born of the same parents, as yet enclosed in the same womb, not yet come forth into the light. In them all things are equal, yet God’s judgment of each is different. For he receives one and rejects the other. It was only by right of primogeniture that one excelled the other. Yet even that is disregarded, and what is denied to the elder is given to the younger” (= Esau dan Yakub adalah saudara, dilahirkan dari orang tua yang sama, dan masih terbungkus dalam kandungan yang sama, belum dilahirkan. Dalam diri mereka semua hal adalah sama, tetapi penghakiman Allah terhadap mereka masing-masing berbeda. Karena Ia menerima yang satu dan menolak yang lain. Hanya karena hak kesulungan maka seseorang melebihi yang lain. Tetapi bahkan hal itu diabaikan, dan apa yang tidak diberikan kepada yang lebih tua diberikan kepada yang lebih muda) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXII, no 5.

The Biblical Illustrator: Old Testament (tentang 2Sam 1:26): “THE LOVE OF CHRIST WAS WONDERFUL WHEN WE CONSIDER THOSE HE LOVED. ... There was nothing lovely in us. It is as natural for anything lovely to draw forth our admiration as for the magnet to attract the iron or the flower to attract the bee. There was great reason why Jonathan should love David. But when we come to consider our Lord’s love for us, we have to say - What was there in me that could merit esteem, Or give the Creator delight? It is recorded that a minister once announced his intention of being in the vestry of his Church, for a certain time on a certain day, to meet any one who might have scriptural difficulties, that he might try to solve them. Only one came. ‘What is your difficulty,’ said the minister. The man answered, ‘My difficulty is in the ninth chapter of Romans, where it says, ‘Jacob have I loved, but Esau have I hated.’ ‘Yes,’ said the minister, ‘there is great difficulty in that verse; but which part of the verse forms your difficulty?’ ‘The latter part, of course,’ said the man. ‘I cannot understand why God should hate Esau.’ The minister’s reply was this: ‘The verse has often been a difficulty to me, but my difficulty has always been in the first part of the verse; I never could understand how God could love that wily, deceitful, supplanting scoundrel, Jacob.’ (= Kasih Kristus itu sangat indah pada waktu kita mempertimbangkan mereka yang Ia kasihi. ... Tidak ada yang bagus dalam diri kita. Merupakan sesuatu yang alamiah / wajar untuk apapun yang bagus untuk menarik kekaguman kita seperti magnet menarik besi, atau bunga menarik lebah. Ada alasan yang besar / agung mengapa Yonatan mengasihi Daud. Tetapi pada waktu kita mempertimbangkan kasih Tuhan kita bagi kita, kita harus mengatakan - Ada apa di dalam diriku yang bisa layak mendapatkan penghargaan, Atau memberikan sang Pencipta kesenangan? Ada tercatat bahwa seorang pendeta suatu kali mengumumkan tujuan / maksudnya untuk berada di suatu tempat di Gerejanya, untuk waktu tertentu pada hari tertentu, untuk menemui siapapun yang mungkin mempunyai kesukaran berkenaan dengan Kitab Suci, supaya ia bisa mencoba untuk membereskannya. Hanya satu orang yang datang. ‘Apa kesukaranmu’, kata sang pendeta. Orang itu menjawab, ‘Kesukaranku ada dalam pasal ke 9 dari Roma, dimana dikatakan, ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau’. ‘Ya’, kata sang pendeta, ‘ada kesukaran yang besar dalam ayat itu; tetapi bagian yang mana dari ayat itu yang membentuk kesukaranmu?’ ‘Bagian yang terakhir, tentu saja’, kata orang itu. ‘Saya tidak bisa mengerti mengapa Allah harus membenci Esau’. Jawaban sang pendeta adalah ini: ‘Ayat ini telah sering merupakan suatu kesukaran bagiku, tetapi kesukaranku selalu ada dalam bagian pertama dari ayat itu; aku tidak pernah bisa mengerti bagaimana Allah bisa mengasihi Yakub yang cerdik / licik, penuh tipu daya / dusta, bajingan pengganti itu’.).


 7. Ro 9:14-16 - “(14) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! (15) Sebab Ia berfirman kepada Musa: ‘Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati’. (16) Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.

Bandingkan bagian yang digaris-bawahi dengan Ro 9:16 versi KJV yang menterjemahkan ayat ini secara hurufiah: “So then it is not of him that willeth, nor of him that runneth, but of God that sheweth mercy” [= Jadi hal itu bukanlah dari dia yang mau, bukan juga dari dia yang berlari (maksudnya ‘berusaha’), tetapi dari Allah yang menunjukkan belas kasihan].

Calvin berkata bahwa Ambrose, Origen, Jerome mengatakan bahwa Allah membagikan kasih karuniaNya di antara manusia seperti yang Ia lihat lebih dulu (foresaw) bahwa mereka akan menggunakannya dengan baik. Calvin juga mengatakan bahwa mula-mula Agustinus juga mempunyai pandangan seperti ini, tetapi lalu berubah. Agustinus menggunakan Ro 9:14 sebagai dasar. Ia berkata bahwa kalau memang Allah membagikan kasih karuniaNya kepada orang-orang yang Ia lihat lebih dulu akan menggunakannya dengan baik, maka Ro 9:14 ini adalah tempat yang tepat untuk menyatakan hal itu. Tetapi Paulus justru mengatakan Ro 9:15-16, yang sama sekali bertentangan dengan pandangan itu.

8. Pemilihan Efraim atas Manasye.
Kej 48:13-14,17-20 - “(13) Setelah itu Yusuf memegang mereka keduanya, dengan tangan kanan dipegangnya Efraim, yaitu di sebelah kiri Israel, dan dengan tangan kiri Manasye, yaitu di sebelah kanan Israel, lalu didekatkannyalah mereka kepadanya. (14) Tetapi Israel mengulurkan tangan kanannya dan meletakkannya di atas kepala Efraim, walaupun ia yang bungsu, dan tangan kirinya di atas kepala Manasye - jadi tangannya bersilang, walaupun Manasye yang sulung. ... (17) Ketika Yusuf melihat bahwa ayahnya meletakkan tangan kanannya di atas kepala Efraim, hal itu dipandangnya tidak baik; lalu dipegangnya tangan ayahnya untuk memindahkannya dari atas kepala Efraim ke atas kepala Manasye.  (18) Katanya kepada ayahnya: ‘Janganlah demikian, ayahku, sebab inilah yang sulung, letakkanlah tangan kananmu ke atas kepalanya.’ (19) Tetapi ayahnya menolak, katanya: ‘Aku tahu, anakku, aku tahu; ia juga akan menjadi suatu bangsa dan ia juga akan menjadi besar kuasanya; walaupun begitu, adiknya akan lebih besar kuasanya dari padanya, dan keturunan adiknya itu akan menjadi sejumlah besar bangsa-bangsa.’ (20) Lalu diberkatinyalah mereka pada waktu itu, katanya: ‘Dengan menyebutkan namamulah orang Israel akan memberkati, demikian: Allah kiranya membuat engkau seperti Efraim dan seperti Manasye.’ Demikianlah didahulukannya Efraim dari pada Manasye.

b) Jangan mencampuradukkan pemilihan yang tidak bersyarat’ dengan keselamatan yang tidak bersyarat’. Ini adalah 2 hal yang berbeda seperti langit dengan bumi!
Calvinisme memang mengajarkan pemilihan yang tidak bersyarat’ (unconditional election), dimana Allah memilih seseorang tanpa tergantung pada kehidupan orang itu. Tetapi Calvinisme tidak pernah mengajarkan keselamatan tanpa syarat’! Keselamatan tentu ada syaratnya, yaitu orangnya harus mendengar Injil, lalu percaya kepada Yesus, dan bertekun ikut Yesus sampai mati (sebetulnya yang terakhir ini merupakan bukti keselamatan).

Pdt. Jusuf B. S. secara memfitnah menyatakan pandangan Calvinisme dengan cara sebagai berikut: “Dilayani atau tidak dilayani, kalau mereka sudah ditentukan selamat, akhirnya toh tetap selamat, sebab Tuhan berdaulat penuh” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 35.

Guy Duty, dalam seluruh bukunya ‘Keselamatan bersyarat atau tanpa syarat?’, menekankan dari awal sampai akhir bahwa keselamatan itu bukan tanpa syarat (unconditional), tetapi dengan syarat (conditional), dan syaratnya adalah ‘percaya’. Dan ini dijadikannya sebagai suatu serangan terhadap ‘Calvinisme’ seakan-akan Calvinisme mengajar bahwa ‘Unconditional Election’ berarti bahwa orang yang dipilih tetap akan selamat sekalipun orangnya tidak percaya, atau tidak percaya sampai akhir.

Bahwa Guy Duty memang mempunyai anggapan salah tentang Calvinisme seperti itu, atau memfitnah Calvinisme seperti itu, saya buktikan dengan memberikan beberapa kutipan dari bukunya itu.

1. Pada bagian Pendahuluan dari bukunya itu, Guy Duty menuliskan surat dari seorang pendeta kepada Guy Duty yang menanggapi buku Guy Duty ini. Dan saya mengutip sebagian surat itu yang berbunyi sebagai berikut: “Anda telah mengadakan pendekatan tentang pokok ini dari sudut yang sangat menyegarkan. Karya akademik ini tidak hanya menghadapi argumen-argumen dari guru-guru Kepastian Keselamatan Kekal dengan telak, tetapi juga membuktikan dari Alkitab, bahwa keselamatan itu bersyarat, dan hanya didasarkan pada fakta bahwa orang beriman harus terus percaya - hal 10.

Jadi setelah pendeta itu membaca buku Guy Duty, ia diyakinkan bahwa ‘Calvinisme’ itu salah, karena ‘Calvinisme’ mengajarkan keselamatan tanpa syarat, dimana orang yang sudah dipilih tetap akan selamat sekalipun tidak terus menerus percaya. Sayang sekali pendeta ini sama tidak mengertinya dengan Guy Duty bahwa Calvinisme tidak pernah mengajar seperti itu!

2. Guy Duty mengutip kata-kata Strombeck, yang ia katakan adalah seorang Calvinist, dalam bukunya yang berjudul ‘Shall Never Perished’ (= Takkan pernah binasa), yang berbunyi: “Diajarkan dalam Ef 1:13-14, bahwa setelah seseorang percaya (suatu tindakan yang telah selesai dikerjakan), ia dimeteraikan dengan Roh Kudus sampai pada penebusan milik yang sudah dibeli. Bagian Alkitab ini sekaligus mengesampingkan argumentasi bahwa seseorang harus terus percaya. Tidak perlu iman yang terus menerus di pihak orang yang diselamatkan ...(hal 130-131)” - hal 27.

Terhadap hal ini perlu saya tegaskan bahwa:
a. Saya tidak pernah mendengar tentang adanya seorang ahli theologia Reformed / Calvinist yang bernama Strombeck.
b. Kalau Strombeck memang menulis seperti yang dikutip oleh Guy Duty itu, saya bisa pastikan bahwa ia bukanlah seorang Calvinist / Reformed, bahkan ia bukan seorang kristen. Ia adalah orang sesat / nabi palsu.
c. Calvinisme yang sejati tidak pernah mengajar seperti kutipan Guy Duty dari kata-kata Strombeck tersebut di atas.

3. Dalam bagian yang lain Guy Duty juga mengatakan sebagai berikut: “Dengan fakta-fakta ini di hadapan kita dapatkah para pembaca setuju dengan para penulis Calvinis yang dikutip di bawah ini? ‘Mereka yang diselamatkan bukan diselamatkan karena iman mereka atau pertobatan mereka atau alasan-alasan lain yang ada pada mereka.’ ‘Jadi panggilan Allah dilakukan, adalah dalam rangka untuk menggenapi maksud Allah sendiri, terlepas dari segala perbuatan yang dilakukan oleh orang yang diselamatkan - hal 32.

4. Dalam bagian lain lagi Guy Duty berkata: “Biarlah pembaca mempertimbangkan pernyataan sederhana dari Kristus tentang keselamatan yang bersyarat ini, dan kemudian membaca apa yang dikatakan oleh para guru Kepastian Keselamatan Kekal: ‘Tidak perlu iman yang terus menerus di pihak orang yang diselamatkan’ -- ‘Orang yang sudah dipredestinasikan, diselamatkan tanpa memandang apa yang boleh atau yang tidak boleh ia perbuat - hal 83.

Perlu saudara ketahui bahwa saya adalah seorang Calvinist yang sangat keras dan saya mempunyai dan membaca banyak sekali buku-buku yang ditulis oleh Calvin sendiri maupun ahli-ahli theologia Calvinist / Reformed (seperti Louis Berkhof, R. L. Dabney, Charles Hodge, John Murray, William G. T. Shedd, Herman Bavinck, John Owen, G. C. Berkouwer, B. B. Warfield, Loraine Boettner, R. C. Sproul, dsb), tetapi saya belum pernah menjumpai satupun dari mereka mengatakan / mengajarkan hal sesat semacam itu. Lucunya Guy Duty tidak menyebutkan siapa penulis Calvinist / para guru Kepastian Keselamatan Kekal yang ia maksudkan (dalam 2 kutipan yang terakhir di atas), dan dari buku apa ia mengutip kata-kata itu. Atau ini juga merupakan fitnahan Guy Duty terhadap Calvinisme?

Yang saya pertanyakan adalah: apakah Pdt. Jusuf B. S. dan Guy Duty memang salah mengerti tentang Calvinisme, atau mereka memang memfitnah Calvinisme? Kalau kemungkinan pertama yang benar, maka adalah sesuatu yang menggelikan dan menyedihkan bahwa seseorang bisa menyerang sesuatu yang tidak ia mengerti. Kalau kemungkinan kedua yang benar, maka ini lebih menyedihkan lagi, karena bagaimana mungkin seseorang yang mengaku sebagai hamba Tuhan bisa memfitnah seperti itu. Tetapi kemungkinan kedua ini bukannya merupakan sesuatu yang mustahil. Perhatikan kata-kata Charles Hodge dan Charles Haddon Spurgeon di bawah ini.

¨    Charles Hodge: “That there are formidable objections to the Augustinian doctrine of divine sovereignty cannot be denied. They address themselves even more powerfully to the feelings and to the imagination than they do to understanding. They are therefore often arrayed in such distorted and exaggerated forms as to produce the strongest revulsion and abhorrence. This, however, is due partly to the distortion of the truth and partly to the opposition of our imperfectly or utterly unsanctified nature, to the things of the Spirit, of which the Apostle speaks in 1Cor. 2:14” (= Bahwa ada keberatan-keberatan yang berat / hebat terhadap doktrin Agustinus tentang kedaulatan ilahi tidak dapat disangkal. Mereka lebih tertuju pada perasaan dan imajinasi dari pada pada pengertian. Karena itu mereka sering diatur / disusun dalam bentuk yang menyimpang dan dilebih-lebihkan supaya menghasilkan reaksi mendadak dan kejijikan yang paling kuat. Bagaimanapun, hal ini sebagian disebabkan oleh penyimpangan kebenaran dan sebagian lagi oleh oposisi dari diri manusia yang pengudusannya belum sempurna atau belum ada sama sekali, terhadap hal-hal dari Roh, tentang mana sang Rasul berbicara dalam 1Kor 2:14) - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 349.
Catatan: 1Kor 2:14 - “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani”.

¨    Charles Haddon Spurgeon: “The doctrine of election has been made into a great bugbear by its unscrupulous opponents and its injudicious friends. I have read some very wonderful sermons against this doctrine, in which the first thing that was evident was that the person speaking was totally ignorant of his subject. ... The usual way of composing a sermon against the doctrine of grace is this, - first exaggerate and belie the doctrine, and then argue against it. ... Nobody ever believed the doctrine of election as I have heard it stated by Arminian controversialists. ... Is it remarkable that we are as eager to denounce the dogmas imputed to us as ever our opponents can be? Why do they earnestly set themselves to confute what no one defends? They might as well spare themselves the trouble” (= Doktrin pemilihan telah dibuat menjadi momok yang besar oleh penentang-penentangnya yang tidak teliti dan teman-temannya yang tidak bijaksana. Saya telah membaca beberapa khotbah yang luar biasa yang menentang doktrin ini, dimana hal pertama yang nyata adalah bahwa orang yang berbicara sama sekali tidak mempunyai pengertian tentang pokok yang dibicarakannya. ... Jalan / cara yang umum untuk menyusun khotbah untuk menentang doktrin kasih karunia adalah ini, - mula-mula lebih-lebihkan dan nyatakanlah doktrin ini secara salah, dan setelah itu berargumentasilah menentangnya. ... Tidak seorangpun pernah mempercayai doktrin pemilihan seperti yang saya dengar pendebat-pendebat Arminian menyatakannya. ... Bukankah merupakan sesuatu yang luar biasa / hebat bahwa kita sama bersemangatnya dengan penentang-penentang kita untuk mencela dogma yang  mereka hubungkan dengan kita? Mengapa mereka begitu bersungguh-sungguh menyiapkan diri mereka untuk menyangkal / membantah apa yang tidak dipertahankan oleh seorangpun? Mereka lebih baik menghemat / menyimpan jerih payah mereka) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 36-37.

Kata-kata Hodge dan Spurgeon ini penting untuk saudara perhatikan dalam menghadapi setiap serangan orang Arminian (termasuk Pdt. Jusuf B. S. dan Guy Duty) yang mengextrimkan dan memfitnah Calvinisme sehingga tidak mirip Calvinisme, dan baru setelah itu menyerangnya.

Catatan: belakangan ini muncul Suhento Liauw dan Steven Liauw (mereka ini bapak dan anak, yang sama-sama punya gelar doktor theologia), yang juga menyerang Calvinisme dengan cara yang sama seperti Pdt. Jusuf B. S. dan Guy Duty.

Dan Guy Duty juga memberikan tuduhan sebagai berikut:
“Dalam tulisan-tulisan para guru Kepastian Keselamatan Kekal, anda tidak akan dapat menemukan kata predestinasi yang dipakai dalam hubungannya dengan pokok-pokok tentang keselamatan yang bersyarat seperti yang telah anda baca di atas” - ‘Keselamatan, bersyarat atau tanpa syarat?’, hal 37.

Ini jelas-jelas merupakan suatu fitnahan dari Guy Duty, dan juga menunjukkan betapa sembrononya / sembarangannya Guy Duty menyatakan Calvinisme!

Bahwa Calvinisme memang menghubungkan ‘Predestinasi’ dengan ‘keselamatan bersyarat’ terlihat dengan jelas dari acrostic TULIP (5 points Calvinisme), yang:
a. Pada point ke 2 menyatakan Predestinasi.
b. Pada point ke 4 menyatakan bahwa kasih karunia Allah tidak bisa ditolak. Ini jelas menunjukkan bahwa orang yang dipilih dan diberi kasih karunia itu tidak bisa tidak pasti akan beriman kepada Yesus.
c. Pada point ke 5 menyatakan bahwa orang percaya itu karena pekerjaan Allah dalam dirinya pasti akan bertekun ikut Yesus sampai mati!

Saya juga akan membuktikan bahwa orang Calvinist menghubungkan predestinasi dengan keselamatan bersyarat dengan memberikan kutipan-kutipan kata-kata Calvin, R. L. Dabney, R. C. Sproul, B. B. Warfield, dan juga dari Westminster Confession of Faith di bawah ini, yang semuanya percaya bahwa sekalipun kita dipilih untuk diselamatkan, tetapi kita juga harus percaya. Allah yang sudah menetapkan keselamatan seseorang juga akan bekerja untuk membuat orang itu menjadi percaya sampai akhir hidupnya.

Calvin: “Election is to be understood and recognized in Christ alone. ... Accordingly, those whom God has adopted as his sons are said to have been chosen not in themselves but in his Christ (Eph. 1:4)” [= Pemilihan hanya dimengerti dan dikenali dalam Kristus saja. ... Karena itu, mereka yang Allah adopsi sebagai anak-anakNya dikatakan telah dipilih bukan dalam diri mereka sendiri tetapi dalam KristusNya (Ef 1:4)] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXIV, no 5.

Robert L. Dabney: “God’s act in forming His decree is unconditioned on anything to be done by His creatures. In another sense, a multitude of the things decreed are conditional; God’s whole plan is a wise unit, linking means with ends, and causes with effects. In regard to each of these effects, the occurrence of it is conditional on the presence of its cause, and is made so dependent by God’s decree itself. But while the events decreed are conditional, God’s act in forming the decree is not conditional, on anything which is to occur in time; because in the case of each dependent event, His decree as much determined the occurrence of the cause, as of its effect. And this is true equally of those events in His plan dependent on the free acts of free agents” (= Tindakan Allah dalam membentuk ketetapanNya tidak disyaratkan pada apapun yang akan dilakukan oleh makhluk ciptaanNya. Dalam pengertian yang lain, banyak hal-hal yang ditetapkan yang bersyarat; seluruh rencana Allah merupakan kesatuan yang bijaksana, menghubungkan cara / jalannya dengan tujuannya, dan menghubungkan sebab dengan akibatnya. Memperhatikan pada setiap akibat, terjadinya hal itu disyaratkan pada adanya penyebab, dan dibuat begitu tergantung oleh ketetapan Allah sendiri. Tetapi sementara kejadian yang ditetapkan itu bersyarat, tindakan Allah dalam membentuk ketetapan itu tidak bersyarat, pada apapun yang akan terjadi dalam waktu; karena dalam kasus dari setiap kejadian, ketetapanNya menetapkan terjadinya penyebabnya maupun akibatnya. Dan ini sama benarnya tentang kejadian-kejadian dalam rencanaNya yang tergantung pada tindakan bebas dari agen yang bebas) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 218-219.

Karena kata-kata ini cukup sukar, maka saya jelaskan sebagai berikut: Pada waktu Allah menetapkan bahwa si A akan selamat, maka itu bersifat tidak bersyarat, artinya itu bukan karena Allah melihat si A bakal percaya, bakal menjadi baik dsb. Tetapi keselamatan si A bersyarat, yaitu kalau ia percaya kepada Yesus. Tetapi Allah, yang menetapkan keselamatan si A, pasti juga menetapkan caranya / jalannya supaya si A selamat (misalnya si B menginjilinya sehingga si A percaya kepada Yesus).

Allah


 




B menginjili A ® A percaya Kristus ® A selamat

Robert L. Dabney: “His decree includes means and conditions” (= KetetapanNya mencakup cara-cara / jalan-jalan dan syarat-syarat) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 220.

Dabney lalu memberikan 2Tes 2:13 dan 1Pet 1:2 sebagai pendukung pandangannya.

2Tes 2:13 - “Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai.
Kata-kata ‘Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan’ jelas menunjuk pada Predestinasi, sedangkan kata-kata ‘dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai’ menunjukkan cara / jalan untuk mencapai ketetapan Tuhan itu.
 
1Pet 1:1-2 - “(1) Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, (2) yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darahNya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu”.
Kata-kata ‘orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita’ jelas menunjuk pada Predestinasi, sedangkan kata-kata ‘yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darahNya’ menunjukkan cara / jalan untuk mencapai ketetapan Tuhan itu.

Dabney menambahkan lagi: “The sophism of the Arminian is just that, in this case, already pointed out; confounding conditionality of events decreed, with conditionality of God’s decree (= Kesalahan dari orang Arminian dalam hal ini adalah seperti telah ditunjukkan; mencampuradukkan persyaratan dari hal-hal yang ditetapkan dengan persyaratan dari ketetapan ilahi) - ‘Lecturein Systematic Theology’, hal 222.

R. C. Sproul: “We must be careful to distinguish between conditions that are necessary for salvation and conditions that are necessary for election. ... There are all sorts of conditions that must be met for someone to be saved. Chief among them is that we must have faith in Christ. Justification is by faith. Faith is a necessary requirement. To be sure, the Reformed doctrine of predestination teaches that all the elect are indeed brought to faith. God insures that the conditions necessary for salvation are met” (= Kita harus hati-hati membedakan antara syarat-syarat yang diperlukan untuk keselamatan dan syarat-syarat yang diperlukan untuk pemilihan. ... Ada segala macam persyaratan yang harus dipenuhi supaya seseorang diselamatkan. Yang terutama dari mereka adalah bahwa kita harus mempunyai iman kepada Kristus. Pembenaran adalah oleh iman. Iman adalah persyaratan yang diperlukan. Jelasnya, doktrin Reformed tentang Predestinasi mengajarkan bahwa semua orang pilihan memang dibawa kepada iman. Allah memastikan bahwa persyaratan yang perlu untuk keselamatan dipenuhi) - ‘Chosen By God’, hal 155.

Arthur W. Pink: It is not true that, because God has chosen a certain one to salvation, he will be saved willy-nilly, whether he believes or not: nowhere do the Scriptures so represent it. The same God who predestined the end, also appointed the means; the same God who ‘chose unto salvation,’ decreed that His purpose should be realized through the work of the Spirit and belief of the truth (= Adalah tidak benar bahwa karena Allah telah memilih orang tertentu untuk keselamatan, bagaimanapun juga ia akan diselamatkan, apakah ia percaya atau tidak: Kitab Suci tidak pernah menggambarkannya seperti itu. Allah yang sama yang mempredestinasikan akhir / tujuannya, juga menetapkan cara / jalannya; Allah yang sama yang ‘memilih kepada keselamatan’, menetapkan bahwa RencanaNya harus diwujudkan melalui pekerjaan Roh dan kepercayaan pada kebenaran) - ‘The Sovereignty of God’, hal 52.

B. B. Warfield: “Of course this election is to privileges and means of grace; and without these the great end of the election would not be attained: for the ‘election’ is given effect only by the ‘call,’ and manifests itself only in faith and the holy life (= Tentu saja pemilihan ini adalah bagi hak dan cara / jalan kasih karunia; dan tanpa hal-hal ini tujuan besar dari pemilihan tidak akan tercapai: karena ‘pemilihan’ hanya terjadi / terlaksana oleh ‘panggilan’, dan mewujudkan dirinya sendiri hanya dalam iman dan kehidupan yang kudus) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 301.

B. B. Warfield: “In the case of neither class, that of the elect as little as that of those that are without, are the purpose of God wrought out without the co-operation of the activities of the subjects” (= Tidak ada golongan yang manapun, baik golongan pilihan maupun yang diluar pilihan, dalam mana rencana / tujuan Allah dilaksanakan tanpa kerja sama dari aktivitas orangnya) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 302.

‘Westminster Confession of Faith’, Chapter III, no 6:
“As God hath appointed the elect unto glory, so hath He, by the eternal and most free purpose of His will, foreordained all the means thereunto. Wherefore, they who are elected, being fallen in Adam, are redeemed by Christ, are effectually called unto faith in Christ by His Spirit working in due season, are justified, adopted, sanctified, and kept by His power, through faith, unto salvation. Neither are any other redeemed by Christ, effectually called, justi­fied, adopted, sanctified, and saved, but the elect only” (= Sebagaimana Allah telah menetapkan orang-orang pilihanNya kepada kemuliaan, Dia juga, oleh kehendakNya yang kekal dan bebas, telah menentukan caranya / jalannya untuk mencapai hal itu. Karena itu, mereka yang dipilih, yang telah jatuh di dalam Adam, ditebus oleh Kristus, dipanggil secara efektif ke dalam iman di dalam Kristus oleh RohNya yang bekerja pada saatnya, dibenarkan, diangkat menjadi anak, dikuduskan, dan dipelihara oleh kuasaNya, melalui iman, kepada keselamatan. Tidak ada yang lain yang ditebus oleh Kristus, dipanggil secara efektif, dibenarkan, diangkat menjadi anak, dikuduskan, dan diselamatkan, kecuali orang-orang pilihan saja).

Saya kira saya sudah lebih dari cukup menunjukkan bukti-bukti bahwa ahli-ahli theologia Calvinist tidak mengajar seperti apa yang dikatakan oleh Guy Duty! Jadi di sini terbukti hitam di atas putih bahwa Guy Duty memang memfitnah. Dan saya berpendapat bahwa Gereja Bukit Zaitun dan tim penterjemah buku Guy Duty bukannya tanpa salah pada waktu mereka menterjemahkan dan menyebarkan buku yang berisikan fitnahan ini! Saya berharap mereka bisa bertobat!

3) Predestinasi pasti terjadi / tidak mungkin gagal.

a) Rencana Allah secara umum tidak bisa berubah ataupun gagal.
Orang Arminian / non Reformed percaya bahwa Allah bisa mengubah RencanaNya, dan percaya bahwa Rencana Allah bisa gagal.

Pdt. Jusuf B. S. dalam bukunya ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’ berkata sebagai berikut:
·       “(Memang, setiap dosa yang diperbuat itu merusak banyak hal-hal yang baik (Pkh 9:18), bahkan rencana-rencana indah kelas I bisa hilang seperti Musa, Harun, Israel yang batal tidak jadi masuk Kanaan). Jangan sampai berulang-ulang jatuh, rencana Tuhan bagi kita rusak dan tidak ada pahalanya” (hal 79).
·       “Takdir Allah dapat berubah oleh manusia” (hal 116).
Ia lalu memberi contoh: Niniwe, Ahab, Hizkia.
·       “Tetapi rencana Allah bagi anak-anaknya itu sebagian bantut, sebagian jadi, tergantung dari orang itu sendiri. Meskipun Allah sudah tahu akan batal, pada beberapa orang Allah toh memberikan semua ini” (hal 119).

Sebetul­nya pandangan Arminian yang mengatakan bahwa Rencana Allah bisa gagal atau bahwa Allah bisa mengubah RencanaNya merupakan:

1. Suatu penghinaan bagi Allah karena ini menyamakan Allah dengan manusia, yang sering harus mengubah rencanaNya dan gagal dalam mencapai rencanaNya!

2. Pandangan yang bertentangan dengan logika.
Mengapa bisa demikian? Karena Allah itu mahatahu dan karena itu pada waktu Ia merencanakan, tentu Ia sudah tahu apakah RencanaNya itu akan berhasil atau akan gagal. Kalau Ia sudah tahu bahwa RencanaNya akan gagal / akan diubah, mengapa Ia tetap merencanakannya?

3. Pandangan yang jelas bertentangan dengan ayat-ayat Kitab Suci di bawah ini:
·       Bil 23:19 - “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?”
·       1Sam 15:29 - “Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal”.
·       Maz 110:4 - “TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: ‘Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek’”.
Catatan: dalam Kitab Suci memang ada ayat-ayat yang mengatakan bahwa Allah menyesal (Kej 6:5-6  Kel 32:10-14  1Sam 15:1  Yes 38:1,5  Yer 18:8  Yunus 3:10  Amos 7:3,6), atau seolah-olah mengubah rencanaNya, seperti dalam kasus raja Hizkia (2Raja 20:1-6). Ini akan saya jelaskan belakangan pada waktu menjelaskan tentang doktrin ‘Providence of God’. Untuk sementara ini cukup saudara renungkan ini: kalau ayat-ayat itu memang menunjukkan bahwa Allah itu menyesal sehingga mengubah rencanaNya, lalu mengapa dalam Kitab Suci juga ada ayat-ayat di atas yang jelas-jelas menunjukkan bahwa Allah tidak mungkin menyesal?
·       Maz 33:10-11 - “(10) TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; (11) tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun.
·       Yes 14:24-27 - “(24) TUHAN semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: (25) Aku akan membinasakan orang Asyur dalam negeriKu dan menginjak-injak mereka di atas gunungKu; kuk yang diletakkan mereka atas umatKu akan terbuang dan demikian juga beban yang ditimpakan mereka atas bahunya.’ (26) Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?”.
·       Yes 46:10-11 - “(10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya.
·       Ayub 23:13 - “Tetapi Ia tidak pernah berubah - siapa dapat menghalangi Dia? Apa yang dikehendakiNya, dilaksanakanNya juga.
·       Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal’”.
·       Ibr 6:17 - “Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusanNya, Allah telah mengikat diriNya dengan sumpah”.


 b) Kalau Rencana Allah secara umum tidak bisa berubah / gagal, maka jelas bahwa Predestinasi, yang merupakan sebagian dari Rencana Allah, juga tidak bisa berubah / gagal.
Dan tidak bisa gagalnya Predestinasi juga didukung secara khusus oleh ayat-ayat Kitab Suci di bawah ini:

1. Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.

Perhatikan bahwa di sini tidak dikatakan bahwa sebagian orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal menjadi percaya’, tetapi semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya’.

2. Yoh 17:12 - “Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam namaMu, yaitu namaMu yang telah Engkau berikan kepadaKu; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci”.

Bagian yang saya garisbawahi itu menunjukkan secara jelas bahwa tidak ada orang pilihan yang bisa binasa / masuk neraka! Hanya orang yang bukan pilihan yang akan binasa.

3. Ro 11:25 - “Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk”.

Tujuan Allah menegarkan Israel / Yahudi adalah supaya Injil bisa diberitakan kepada orang-orang non Yahudi, sehingga menyelamatkan orang pilihan Allah di kalangan bangsa-bangsa non Yahudi itu. Dan Ro 11:25 ini menunjukkan bahwa Israel akan tetap tegar, sampai ‘jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk’! Selama ada satu saja orang pilihan di antara bangsa-bangsa non Yahudi yang belum diselamatkan, Allah tetap menegarkan Israel, dan Allah bekerja untuk mencari dan mempertobatkan satu orang itu. Setelah itu baru Tuhan bekerja untuk mempertobatkan Israel / Yahudi (itupun tentu hanya orang Israel / Yahudi yang termasuk orang pilihan).

Bandingkan ini dengan Luk 21:24b - “dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.

Tentang kata-kata ‘zaman bangsa-bangsa’ itu ‘New Geneva Study Bible’ memberi komentar sebagai berikut: “This may mean the time when the Gentiles will have their triumph over Israel, or the time when the gospel is preached to the Gentiles, or both” (= Ini bisa berarti waktu dimana bangsa-bangsa non Yahudi akan mendapatkan kemenangan atas Israel, atau waktu dimana Injil diberitakan kepada bangsa-bangsa non Yahudi, atau kedua-duanya).

‘Zaman bangsa-bangsa’ ini tidak akan genap sebelum setiap orang non Yahudi yang adalah orang pilihan Allah, diselamatkan!

4. Ro 8:29-30 - “(29) Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (30) Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya”.

Sebetulnya tanpa dijelaskanpun ayat ini sudah jelas menunjukkan bahwa orang yang dipilih / ditentukan oleh Allah itu pada akhirnya pasti akan dimuliakan.

Tetapi ada satu hal lain yang menarik yang bisa didapatkan dari ayat ini, yaitu bahwa Ro 8:29-30 ini menggunakan kata-kata kerja dalam bentuk lampau (past tense).
NIV: “For those God foreknew he also predestined to be conformed to the likeness of his Son, that he might be the firstborn among many brothers. And those he predestined, he also called; those he called, he also justified; those he justified, he also glorified(= Karena mereka yang diketahuiNya lebih dulu, juga dipredestinasikanNya untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang dipredestinasikanNya, juga dipanggilNya; mereka yang dipanggilNya, juga dibenarkanNya; mereka yang dibenarkanNya, juga dimuliakanNya).

Memang tidak aneh kalau foreknew’ (= diketahui lebih dulu) dan predestined’ (= dipredestinasikan) ada dalam bentuk lampau, karena itu memang terjadi pada masa yang lampau, tetapi mengapa ‘called’ (= dipanggil), ‘justified’ (= dibenarkan), dan ‘glorified’ (= dimuliakan), juga ada dalam bentuk lampau? Loraine Boettner memberikan penafsiran yang menarik tentang hal ini dimana ia berkata: “Paul has cast the verse in the past tense because with God the purpose is in principle executed when formed, so certain is it of fulfillment” (= Paulus telah melemparkan ayat itu ke dalam past tense karena dengan Allah, maksud / tujuan / rencana itu pada dasarnya dilaksanakan pada saat dibentuk, begitu pastinya penggenapan tujuan itu) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 85-86.

c)     Konsekwensi dari pasti terjadinya Predestinasi.

1. Keselamatan kita tidak terletak dalam tangan kita, tetapi dalam kehendak / keputusan Allah.

Memang dari sudut manusia, seseorang selamat karena ia percaya kepada Yesus. Tetapi dari sudut Allah, seseorang bisa percaya dan selamat, karena ia sudah dipilih oleh Allah.

Loraine Boettner mengutip kata-kata Martin Luther:
“God’s decree of predestination is firm and certain; and the necessary resulting from it is, in like manner, immovable, and cannot but take place. For we ourselves are so feeble, that if the matter were left in our hands, very few, or rather none, would be saved; but Satan would overcome us all (= Ketetapan Allah tentang Predestinasi adalah teguh dan pasti; dan karena itu tidak berubah, dan tidak bisa tidak terjadi. Karena kita sendiri adalah begitu lemah, sehingga kalau persoalannya diletakkan dalam tangan kita, sangat sedikit, bahkan tidak ada, yang akan selamat; tetapi Setan akan mengalahkan kita semua) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 187.

Bandingkan kata-kata ini, khususnya pada bagian yang saya garisbawahi, dengan ajaran Pdt. Jusuf B. S. dalam bukunya ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’ (hal 11-13,15-20), dimana secara berulangkali dan secara bertele-tele menyatakan bahwa Allah selalu menghendaki keselamatan manusia, setan selalu menghendaki kebinasaan manusia, dan karena itu keselamatan manusia tergantung pada manusia itu sendiri, apakah ia mau percaya kepada Yesus atau tidak.

2. Kalau seseorang belum percaya kepada Yesus, memang tidak bisa diketahui apakah ia orang pilihan atau bukan. Sekalipun ia sudah lama menolak Kristus, tetap belum tentu bahwa ia adalah orang yang tidak dipilih (reprobate). Karena siapa tahu ia akan bertobat? Hanya kalau seseorang menolak Kristus sampai mati, barulah jelas bahwa ia termasuk orang yang tidak dipilih.

Tetapi, kalau seseorang bisa menjadi orang kristen yang sejati (betul-betul percaya kepada Yesus), ia bisa yakin bahwa ia adalah orang pilihan.

Pdt. Jusuf B. S. berulang-ulang berkata bahwa orang tidak bisa tahu apakah ia adalah orang pilihan atau bukan.
·       “sebab siapa yang tahu dengan pasti keputusan Allah tentang dirinya?” (hal 37).
·       “Mereka tidak akan tahu kalau mereka sudah dipilih akan selamat atau tidak. Saul mula-mula begitu berapi-api dan penuh dengan Roh, akhirnya bunuh diri dan mati dalam dosanya, terhilang. Siapa dapat mengira kalau Saul yang begitu berapi-api, penuh dengan Roh Allah akhirnya binasa? Juga aktif, berapi-api seperti Yudas Iskariot, Iskandar, Ananias, Safira, dan lain-lain, tetapi akhirnya binasa. Begitu pula dengan mereka. Mana mungkin mereka tahu kalau mereka termasuk pilihan Tuhan yang akan selamat sebelum mereka mati” (hal 35-36).

Catatan: Nama ‘Iskandar’ berasal dari 1Tim 1:20 dalam Kitab Suci Indonesia Terjemahan Lama. Dalam Terjemahan Baru orang itu disebut ‘Alexander’.

Cara pengajaran Pdt. Jusuf B. S. ini betul-betul menggelikan karena ia memasukkan ajaran Arminian (tentang kemungkinan untuk murtad) ke dalam pemikiran orang Calvinist pada waktu memperkirakan apakah dirinya termasuk orang pilihan atau tidak. Dalam Calvinisme tidak dipercaya adanya orang kristen sejati yang bisa murtad! Karena itu, orang kristen yang sejati bisa yakin bahwa ia pasti selamat dan bahwa ia adalah orang pilihan.

Tetapi dalam persoalan meyakini diri sendiri sebagai orang pilihan, ada suatu peringatan yang sangat penting untuk diperhatikan.

Charles Haddon Spurgeon:
“We have known more than once in our day of some men who pretended to know their election by their impudence. They had got into their head the presumption that they were elected, and though they lived on in sin, and still did as they liked, they imagined they were God’s chosen. This is what I call presuming upon election by sheer impudence. We know of others, alas! who have imagined themselves to be elect, because of the visions that they have seen when they have been asleep or when they have been awake - for men have walking dreams - and they have brought these as evidence of their election” (= Kita sering tahu akan adanya orang-orang yang menganggap dirinya tahu pemilihan mereka oleh kelancangan mereka. Mereka memasukkan kesombongan ke dalam kepala mereka bahwa mereka telah dipilih, dan sekalipun mereka terus hidup dalam dosa, dan tetap melakukan seperti yang mereka senangi, mereka mengira / mengkhayalkan bahwa mereka adalah orang-orang pilihan Allah. Ini adalah apa yang saya sebut mengira / menduga tentang pemilihan dengan kelancangan / kekurangajaran. Kita tahu tentang orang-orang lain yang mengira / mengkhayalkan bahwa diri mereka adalah orang pilihan, karena penglihatan yang telah mereka lihat pada saat mereka tidur atau pada waktu mereka sedang sadar / bangun - karena manusia bisa mimpi sambil berjalan - dan mereka menggunakan hal-hal ini sebagai bukti pemilihan mereka) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 13

Camkan kata-kata Spurgeon ini! Hanya kalau saudara betul-betul adalah orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan, dan iman itu memang terbukti dengan adanya perbuatan baik / ketaatan, maka saudara boleh yakin / percaya bahwa saudara adalah orang pilihan.
Tetapi:
·       kalau saudara sekedar adalah orang yang mengaku percaya kepada Kristus, tetapi terus hidup dalam dosa, dan bahkan mencintai dosa,
·       atau kalau saudara sekedar adalah orang yang rajin pergi ke gereja, dibaptis, melayani / mempunyai jabatan tinggi dalam gereja,
·       atau kalau saudara sekedar adalah orang yang ada dalam keluarga kristen selama puluhan atau bahkan ratusan tahun,
·       atau kalau saudara sekedar adalah orang yang berbahasa Roh, yang sukar dipastikan asli tidaknya,
·       atau kalau saudara sekedar adalah orang yang mengalami pertolongan Tuhan / kesembuhan secara mujijat / kesembuhan ilahi,
·       atau kalau saudara sekedar adalah orang yang pernah mendapat penglihatan,
·       atau kalau saudara sekedar adalah orang yang percaya pada doktrin tentang Predestinasi,
maka jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa saudara adalah orang pilihan.

4) Reprobation (= penentuan binasa).

Kita sudah membahas banyak tentang pemilihan / penentuan untuk selamat yang Allah lakukan (election). Sekarang kita akan membahas tentang Reprobation (= penentuan binasa).

a) Calvin sendiri jelas percaya pada doktrin reprobation / penentuan binasa ini.
Ini terlihat dari kutipan-kutipan dari kata-kata Calvin di bawah ini:
·       “... eternal life is foreordained for some, eternal damnation for others (= ... hidup yang kekal ditentukan lebih dulu untuk sebagian manusia, penghukuman kekal untuk yang lain) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXI, no 5.
·       “... predestination, by which God adopts some to hope of life, and sentences others to eternal death (= ... predestinasi, dengan mana Allah mengadopsi sebagian manusia kepada pengharapan kehidupan, dan memvonis yang lain pada kebinasaan kekal) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXI, no 5.
·       “Indeed many, as if they wished to avert a reproach from God, accept election in such terms as to deny that anyone is condemned. But they do this very ignorantly and childishly, since election itself could not stand except as set over against reprobation” (= Memang banyak orang, karena mereka tidak ingin Allah dicela, menerima pemilihan dalam istilah-istilah sedemikian rupa sehingga menolak adanya penentuan binasa. Tetapi mereka melakukan hal ini secara bodoh dan kekanak-kanakan, karena pemilihan itu sendiri tidak bisa berdiri / bertahan kecuali diimbangi oleh penentuan binasa) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXIII, no 1.
·       Calvin (tentang Mal 1:2-3): As to reprobation, I know that many greatly dislike this doctrine - that some are rejected, and that yet no cause can be found in themselves why they thus remain disapproved by God. But there is here need of docility and of a meek spirit, to which Paul also exhorts us, when he says, “O man, who art thou who answerest against God?” (Romans 9:20.) For were it lawful to investigate the cause, surely Paul, who had been taken up to the third heaven, might have showed us the way; but he is here silent and drives us away from the indulgence of a bold and an over curious spirit. Since the Holy Spirit by the mouth of Paul restrains the presumption of men, that they may not dare to go beyond this step - that God hardens whom he wills and rejects whom he wills, why do men leap beyond this, except they wilfully seek to carry on war with God? (= ).
·       Calvin (tentang Mal 1:2-3): and yet they pretend modesty, and under this pretext they seek to bury the doctrine of election; we ought, they say, to speak soberly of mysteries. This last sentence I allow fully; but what is our sobriety but our docility? that is, when we embrace what God declares in his word, and never allow ourselves to investigate more than what he teaches us. But they would extinguish God’s word; nay, they dare openly to pronounce blasphemies against God, and to find fault with the Spirit, who has spoken by the prophets and the apostles. We indeed see that there are many devils who preach modesty, when their object is to suppress the light and this chief doctrine, the main basis of our salvation; and they extort wicked edicts from the ignorant and the slumbering, as though it were in the power of men, by babbling about things unknown, and by barbarously mixing all things together, to thrust God as it were from his celestial throne. This is horribly monstrous, and ought to be detested by all; for it would be better that all the empires of the world should be swallowed up in the lowest depths, than that mortal creatures should raise themselves up as it were into heaven, and attempt to penetrate into the secret things of God. But, however, when the whole world either assail this doctrine by barking, or seek to subvert it by threats and terrors, or when all in various ways manifest their rage, and when they roll thunders who seem to themselves to be very powerful, it behoves us to hold fast this doctrine, that God alone is the author of our salvation, because he has been pleased freely to elect us, and also that he possesses power over all the human race, so that some, according to his will, are elected and some are rejected, and that he ever acts justly, and holds secret the cause both of election and of reprobation. But it is no wonder that we are so blind, for we are stupid by nature, nay, blind altogether; and were we angels, it would be still our duty reverently to regard the manifold wisdom of God, which no human minds, no, not even angelic minds, can fully comprehend (= ).

b)     Dasar dari doktrin reprobation.

1. Ini merupakan konsekwensi logis dari doktrin pemilihan (election).
Ada orang-orang yang percaya pada ‘single predestination’, dimana mereka hanya percaya bahwa Allah menentukan / memilih sebagian manusia untuk diselamatkan, tetapi Allah tidak menetapkan sisanya untuk dibinasakan. Tetapi ini adalah pandangan yang tidak konsekwen dari orang yang kurang bisa menggunakan logikanya, karena doktrin reprobation memang merupakan konsekwensi logis dari doktrin election. Kalau hanya sebagian manusia yang dipilih / ditetapkan untuk selamat, sedangkan setelah mati hanya ada surga dan neraka, maka tidak bisa tidak, orang yang tidak dipilih untuk selamat sama dengan ditetapkan untuk binasa. Karena itu kita harus percaya bukan pada ‘single predestination’ tetapi pada ‘double predestination’, dimana selain kita percaya bahwa Allah memilih sebagian manusia untuk diselamatkan, kita juga percaya bahwa Allah menetapkan sisanya untuk dihukum.

Louis Berkhof: “The decree of election inevitably implies the decree of reprobation. ... If He has chosen or elected some, then He has by that very fact also rejected others” (= Ketetapan tentang pemilihan secara tak terhindarkan menunjuk pada ketetapan tentang reprobation. ... Jika Ia telah memilih sebagian, maka oleh fakta itu Ia juga telah menolak yang lain) - ‘Systematic Theology’, hal 117-118.

Loraine Boettner: “The very terms ‘elect’ and ‘election’ imply the terms ‘non-elect’ and ‘reprobation’” (= Istilah-istilah ‘orang pilihan’ dan ‘pemilihan’ secara tidak langsung menunjuk pada ‘orang yang bukan pilihan’ dan ‘penentuan binasa’) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 104.

2. Adanya banyak orang yang mati tanpa mendapatkan kesempatan untuk bertobat.
Dalam Perjanjian Lama, hampir semua orang non Yahudi tidak selamat dan dalam Perjanjian Baru juga banyak orang mati sebelum mendengar Injil. Jelas bahwa mereka ini tidak mendapat kesempatan bertobat, dan karena itu termasuk reprobate / orang yang ditentukan untuk binasa.

3. Ayat-ayat Kitab Suci yang mendasari doktrin reprobation.

·       Amsal 16:4 - “TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuatNya untuk hari malapetaka”.

·       Mat 11:20-24 - “(20) Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizatNya: (21) ‘Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. (22) Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. (23) Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: (24) Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu’”.

Yesus berkata bahwa kalau di Tirus, Sidon, dan Sodom ada mujijat-mujijat terjadi, seperti yang terjadi di Khorazim, Betsaida dan Kapernaum, maka Tirus, Sidon, dan Sodom pasti sudah bertobat. Tetapi mengapa Tuhan dalam kenyataannya tidak memberi mujijat-mujijat itu kepada mereka? Jelas karena mereka termasuk reprobate!

John Calvin: Among the people of Nineveh [cf. Matthew 12:41] and of Sodom, as Christ testifies, the preaching of the gospel and miracles would have accomplished more than in Judea [Matthew 11:23]. If God wills that all be saved, how does it come to pass that he does not open the door of repentance to the miserable men who would be better prepared to receive grace? (=) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter 24, no 15.
 

·       Mat 11:25 - “Pada waktu itu berkatalah Yesus: ‘Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil”.

·       Yes 6:9-10 - “(9) Kemudian firmanNya: ‘Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan! (10) Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh’”. Bdk. Mat 13:10-15  Mark 4:12  Luk 8:10  Yoh 12:37-40  Kis 28:26-27  Ro 11:7-8.

Mat 13:10-15 - “(10) Maka datanglah murid-muridNya dan bertanya kepadaNya: ‘Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?’ (11) Jawab Yesus: ‘Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. (12) Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. (13) Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. (14) Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. (15) Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka’.
Ro 11:7-8 - “(7) Jadi bagaimana? Israel tidak memperoleh apa yang dikejarnya, tetapi orang-orang yang terpilih telah memperolehnya. Dan orang-orang yang lain telah tegar hatinya, (8) seperti ada tertulis: ‘Allah membuat mereka tidur nyenyak, memberikan mata untuk tidak melihat dan telinga untuk tidak mendengar, sampai kepada hari sekarang ini.

Komentar Calvin tentang ayat-ayat ini:
“Observe that he directs his voice to them but in order that they may become even more deaf; he kindles a light but that they may be made even more blind; he sets forth doctrine but that they may grow even more stupid; he employs a remedy but so that they may not be healed (= Perhatikan bahwa Ia menujukan suaraNya kepada mereka tetapi supaya mereka menjadi makin tuli; Ia menyalakan cahaya tetapi supaya mereka menjadi makin buta; Ia menyatakan doktrin / ajaran tetapi supaya mereka menjadi makin bodoh; Ia menggunakan obat tetapi supaya mereka tidak disembuhkan) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXIV, no 13.

·       Yoh 17:12 - “Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam namaMu, yaitu namaMu yang telah Engkau berikan kepadaKu; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci”.

Dalam ayat ini sebetulnya terjemahan Kitab Suci Indonesia terlalu keras. Bandingkan dengan NASB yang memberikan terjemahan hurufiah: “and not one of them perished but the son of perdition (= dan tidak seorangpun dari mereka yang binasa selain anak kehancuran / neraka).

Dalam ‘Webster’s New World Dictionary’ dikatakan bahwa istilah ‘perdition’ bisa diterjemahkan bermacam-macam:
*       ‘complete and irreparable loss; ruin’ (= kehilangan yang lengkap dan tidak bisa dibetulkan; kehancuran).
*       ‘the loss of a soul or of hope for salvation; damnation’ (= kehilangan jiwa atau pengharapan untuk selamat; penghukuman / pengutukan).
*       ‘the place or condition of damnation; hell’ (= tempat atau kondisi penghukuman; neraka).

·       Ro 9:13,17,18,21-22 - “(13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’ ... (17) Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: ‘Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasaKu di dalam engkau, dan supaya namaKu dimasyhurkan di seluruh bumi.’ (18) Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendakiNya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendakiNya. ... (21) Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa? (22) Jadi, kalau untuk menunjukkan murkaNya dan menyatakan kuasaNya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaanNya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan.

B. B. Warfield: “Certainly St. Paul as explicitly affirms the sovereignty of reprobation as of election, ... if he represents God as sovereignly loving Jacob, he represents Him equally as sovereignly hating Esau; if he declares that He has mercy on whom He will, he equally declares that He hardens whom He will” (= Santo Paulus memang menegaskan kedaulatan dari reprobation secara sama explicitnya dengan kedaulatan dari election, ... jika ia menggambarkan Allah secara berdaulat mengasihi Yakub, ia secara sama menggambarkanNya secara berdaulat membenci Esau; jika ia menyatakan bahwa Ia mempunyai belas kasihan bagi siapa yang Ia kehendaki, ia secara sama menyatakan bahwa Ia mengeraskan siapa yang Ia kehendaki) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 317.

·       1Pet 2:8 - “Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan.

Kitab Suci terjemahan Indonesia ini salah terjemahan. Perhatikan terjemahan-terjemahan bahasa Inggris di bawah ini:
*       NASB: “for they stumble because they are disobedient to the word, and to this doom they were also appointed (= karena mereka tersandung karena mereka tidak taat kepada firman, dan pada tujuan / nasib ini mereka juga telah ditetapkan).
*       NIV: “They stumble because they disobey the message - which is also what they were destined for (= Mereka tersandung karena mereka tidak mentaati pesan / firman - yang juga merupakan apa yang telah ditentukan untuk mereka).
*       KJV: “even to them which stumble at the word, being disobedient: whereunto also they were appointed (= bahkan bagi mereka yang tersandung pada firman, karena tidak taat: untuk mana mereka juga telah ditetapkan).
*       RSV: “for they stumble because they disobey the word, as they were destined to do (= karena mereka tersandung karena mereka tidak mentaati firman, sebagaimana mereka telah ditentukan untuk melakukannya).

·       Yudas 4 - “Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus”.

Calvin menganggap ini menunjuk pada penetapan yang kekal dari Allah, dengan kata lain dalam Rencana Allah orang-orang itu telah ditentukan untuk dihukum.
Tetapi dalam ayat ini kata ditentukan’ sebetulnya juga merupakan kata yang terlalu keras, karena dalam bahasa Yunaninya digunakan kata PROGEGRAMMENOI yang artinya adalah: ‘having been previously written’ (= telah dituliskan lebih dulu).
Bandingkan dengan NIV yang menterjemahkan bagian ini secara hurufiah: “For certain men whose condemnation was written about long ago ...” (= Karena orang-orang tertentu yang penghukumannya sudah dituliskan sejak dahulu).
Adanya kata ‘dituliskan’ ini menyebabkan adanya orang-orang yang menganggap bahwa ini tidak menunjuk pada ketetapan yang kekal dari Allah, tetapi pada Perjanjian Lama maupun nubuat dari Yesus dan rasul-rasul (Misalnya Mat 18:7).
Tetapi seorang penafsir Calvinist / Reformed bernama Thomas Manton, dalam buku tafsirannya tentang surat Yudas, memberikan komentar sebagai berikut:
“The meaning of the metaphor is to show that these decrees are as certain and determinate as if he had a book wherein to write them” (= Arti dari kiasan ini adalah untuk menunjukkan bahwa ketetapan-ketetapan ini adalah sama pasti dan tertentunya seperti kalau ia mempunyai sebuah buku dimana ia menuliskannya).
Jadi Thomas Manton tidak menganggap ini menunjuk pada tulisan Kitab Suci / Firman Tuhan, tetapi sebagai suatu kiasan yang menunjukkan suatu kepastian.

Mengapa dasar Kitab Suci dari reprobation hanya sedikit, atau setidaknya lebih sedikit dibandingkan dengan dasar dari election? Louis Berkhof menjawab sebagai berikut: “Since the Bible is primarily a revelation of redemption, it naturally does not have as much to say about reprobation as about election. But what it says is quite sufficient” (= Karena Alkitab terutama merupakan wahyu tentang penebusan, secara alamiah Alkitab tidak berbicara tentang reprobation sebanyak tentang election. Tetapi apa yang Alkitab katakan sudah cukup) - ‘Systematic Theology’, hal 118.


 c)     Alasan / dasar Allah melakukan reprobation.

Baik Robert L. Dabney maupun Loraine Boettner percaya bahwa sekalipun iman dan / atau perbuatan baik bukanlah dasar dari election, tetapi dosa merupakan dasar dari reprobation.

Robert L. Dabney: “... it is disputed what is the ground of this righteous preterition of the non-elect. The honest reader of his Bible would suppose that it was, of course, their guilt and wickedness foreseen by God, and, for wise reasons, permissively decreed by Him. This, we saw, all but the supralapsarian admitted in substance. God’s election is everywhere represented in Scripture, as an act of mercy, and His preterition as an act of righteous anger against sin” (= ... diperdebatkan apa yang menjadi dasar dari pelewatan yang benar dari orang yang tidak dipilih. Pembaca Alkitab yang jujur akan menganggap bahwa itu tentu adalah kesalahan dan kejahatan mereka yang dilihat lebih dulu oleh Allah, dan, karena alasan-alasan yang bijaksana, diijinkan olehNya. Kami melihat bahwa hal ini pada pokoknya diterima oleh semua kecuali oleh penganut Supralapsarianisme. Pemilihan Allah dimana-mana dinyatakan dalam Kitab Suci, sebagai suatu tindakan belas kasihan, dan pelewatanNya sebagai tindakan kemarahan yang benar terhadap dosa) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 240.

Catatan: saya berpendapat bahwa tidak benar kalau semua menerima pandangan ini kecuali penganut Supralapsarian-isme.

Loraine Boettner: “‘When the Arminian says that faith and works constitute the ground of election we dissent,’ says Clark. ‘But if he says that foreseen unbelief and disobedience constitute the ground of reprobation we assent readily enough. A man is not saved on the ground of his virtues but he is condemned on the ground of his sin. As strict Calvinists we insist that while some men are saved from their unbelief and disobedience, in which all are involved, and others are not, it is still the sinner’s sinfulness that constitutes the ground of his reprobation. Election and reprobation proceed on different grounds; one the grace of God, the other the sin of man’” (= ‘Pada waktu orang Arminian berkata bahwa iman dan ketaatan / perbuatan baik merupakan dasar pemilihan, kami tidak setuju,’ kata Clark. ‘Tetapi jika ia berkata bahwa ketidakpercayaan dan ketidaktaatan yang telah dilihat lebih dulu merupakan dasar dari reprobation, kami menyetujui dengan cepat. Seseorang tidak diselamatkan berdasarkan kebaikannya, tetapi ia dihukum berdasarkan dosanya. Sebagai Calvinist yang ketat, kami berkeras bahwa sementara sebagian manusia diselamatkan dari ketidak-percayaan dan ketidaktaatan mereka, di dalam mana semua orang terlibat, dan sebagian yang lain tidak diselamatkan, adalah keberdosaan dari orang berdosa itu yang merupakan dasar dari reprobationnya. Election dan reprobation bertolak dari dasar yang berbeda; yang satu berdasarkan kasih karunia Allah, yang lain berdasarkan dosa manusia) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 114.

Tetapi Charles Hodge tidak setuju bahwa dosa adalah dasar dari reprobation. Dasar dari reprobation tetap adalah kedaulatan Allah.

Charles Hodge: “God condemns no man, and foreordains no man to condemnation, except on account of his sin. But the preterition of such men, leaving them, rather than others equally guilty, to suffer the penalty of their sins, is distinctly declared to be a sovereign act” (= Allah tidak menghukum siapapun, dan tidak menentukan lebih dulu siapapun kepada penghukuman, kecuali karena dosanya. Tetapi tindakan melewati mereka, meninggalkan mereka, dan bukannya orang-orang lain yang sama bersalahnya, untuk mendapatkan hukuman atas dosa-dosa mereka, dinyatakan secara jelas sebagai tindakan yang berdaulat) - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 346.

Louis Berkhof mendukung Hodge dengan berkata:
·       “... the decree of reprobation comprises two elements, namely, preteri-tion or the determination to pass by some men; and condemnation (sometimes called precondemnation) or the determination to punish them who are passed by for their sins” [= ... ketetapan reprobation terdiri dari dua elemen, yaitu, preterition atau penentuan untuk melewati sebagian manusia; dan hukuman (kadang-kadang disebut hukuman sebelumnya) atau penentuan untuk menghukum mereka yang dilewati karena dosanya] - ‘Systematic Theology’, hal 116.
·       “Preterition is a sovereign act of God, and act of His mere good pleasure, in which the demerits of man do not come into consideration ... The reason for preteretion is not known by men. It cannot be sin, for all men are sinners. We can only say that God passed some by for good and wise reasons sufficient unto Himself” (= Tindakan melewati merupakan tindakan berdaulat dari Allah, dan tindakan dari kerelaanNya, dimana pelanggaran / kesalahan manusia tidak dipertimbangkan ... Alasan dari tindakan melewati itu tidak diketahui oleh manusia. Alasannya tidak mungkin adalah dosa, karena semua orang adalah orang berdosa. Kita hanya dapat berkata bahwa Allah melewati sebagian orang karena alasan-alasan yang baik dan bijaksana yang cukup untuk diriNya sendiri) - ‘Systematic Theology’, hal 116.

Dengan demikian Louis Berkhof mempunyai pandangan yang sama dengan B. B. Warfield di bawah ini.

B. B. Warfield:
“Were not all men sinners, there might still be an election, as sovereign as now; and there being an election, there would still be as sovereign a rejection: but the rejection would not be a rejection to punishment, to destruction, to eternal death, but to some other destiny consonant to the state in which those passed by should be left. It is not indeed, then, because men are sinners that men are left unelected; election is free, and its obverse of rejection must be equally free: but it is solely because men are sinners that what they are left to is destruction” (= Andaikata semua manusia tidak berdosa, tetap bisa ada pemilihan, yang sama berdaulatnya dengan sekarang; dan dengan adanya pemilihan, juga ada penolakan yang sama berdaulatnya: tetapi penolakan itu tidak akan merupakan penolakan kepada hukuman, kepada penghancuran, kepada kematian kekal, tetapi kepada tujuan yang lain yang sesuai / cocok dengan keadaan dimana orang-orang yang dilewati itu berada. Jadi, bukannya karena mereka berdosa sehingga mereka lalu tidak dipilih; pemilihan itu bebas, dan pasangannya yaitu penolakan harus sama bebasnya: tetapi karena semua manusia adalah orang berdosa maka mereka ditinggalkan kepada penghancuran) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 317.

Saya lebih setuju dengan pandangan dari Charles Hodge, Louis Berkhof, B. B. Warfield, karena Ro 9:11-13 yang berbunyi:
“(11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau’”.

Jelas bahwa ayat ini menunjukkan bahwa sama seperti pemilihan Yakub tidak tergantung perbuatan Yakub, demikian juga penolakan / reprobation terhadap Esau juga tidak tergantung pada dosa Esau.

d)     Guna / tujuan dari reprobation.

Loraine Boettner mengatakan bahwa guna / tujuan reprobation adalah:
1. Untuk menyatakan kebencian Allah terhadap dosa dan juga untuk menyatakan keadilan Allah.
2. Untuk orang pilihan, hal ini menyebabkan kita sadar akan apa yang seharusnya kita terima andaikata Allah tidak bermurah hati kepada kita. Kesadaran seperti ini sudah ada pada waktu orang pilihan ini hidup di dunia, dan ini menyebabkan kita lebih menghargai kasih dan kemurahan hati Allah yang telah menyelamatkan kita, sehingga kita akan lebih bersyukur kepada Allah, memuji Allah, dan mengasihi Allah. Tetapi di dunia, adanya banyak penderitaan atau kadang-kadang kesenangan, sering membuat kita lupa akan nasib kita yang seharusnya andaikata Allah tidak bermurah hati kepada kita. Tetapi nanti pada waktu kita sudah masuk ke surga, kesadaran ini akan lebih nyata lagi, karena dari Luk 16:22-23 dan Wah 14:10 terlihat bahwa orang-orang yang masuk ke surga dan ke neraka bisa saling melihat. Jadi nanti di surga kita bisa melihat orang-orang yang ada di neraka, dan menyadari sepenuhnya bahwa itulah nasib kita andaikata Allah tidak bermurah hati kepada kita.

Calvin menyatakan guna / tujuan dari reprobation ini dengan mengutip kata-kata Agustinus: “The Lord can therefore also give grace ... to whom he will ... because he is merciful, and not give to all because he is a just judge. For by giving to some what they do not deserve, ... he can show his free grace ... By not giving to all, he can manifest what all deserve (= Karena itu Tuhan juga bisa memberi kasih karunia ... kepada siapa yang dikehendakiNya ... karena Ia berbelas kasihan, dan tidak memberikan kepada semua karena Ia adalah Hakim yang adil. Karena dengan memberikan kepada sebagian apa yang tidak layak mereka dapatkan, ... Ia bisa menunjukkan kasih karuniaNya yang cuma-cuma ... Dengan tidak memberikan kepada semua, Ia bisa menunjukkan apa yang semua layak dapatkan) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXIII, no 11.

e)     Pelaksanaan dari penentuan binasa ini.

R. L. Dabney: “... God does nothing to those thus passed by, to make their case any worse, or to give any additional momentum to their downward course. He leaves them as they are” (= ... Allah tidak melakukan apa-apa kepada mereka yang dilewatiNya, untuk membuat keadaan mereka menjadi lebih buruk, atau untuk memberikan tambahan momentum pada kejatuhan mereka. Ia membiarkan mereka sebagaimana adanya mereka) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 239.

R. L. Dabney: “When it is said that God hardens the non-elect, it is not, and cannot be intended, that He exerts positive influence upon them to make them worse. ... God is only the negative cause of hardening - the positive depravation comes only from the sinner’s own voluntary feelings and acts. And the mode in which God gives place to, or permits this self-inflicted work, is by righteously withholding His restraining word and Spirit; and second, by surrounding the sinner (through His permissive providence) with such occasions and opportunities as the guilty man’s perverse heart will voluntarily abuse to increase his guilt and obduracy” [= Ketika dikatakan bahwa Allah mengeraskan orang yang bukan pilihan, itu tidak berarti bahwa Ia menggunakan pengaruh positif pada mereka untuk membuat mereka makin jelek. ... Allah hanyalah merupakan penyebab negatif dari pengerasan - kebejadan positif datang hanya dari perasaan dan tindakan sukarela dari orang berdosa itu. Dan cara dimana Allah memberi tempat, atau mengijinkan pekerjaan yang timbul dengan sendirinya ini, adalah dengan secara benar menahan firman dan RohNya yang mengekang; dan kedua, dengan melingkupi orang berdosa itu (melalui ProvidensiaNya yang mengijinkan) dengan kejadian dan kesempatan yang akan disalah-gunakan secara sukarela oleh orang yang hatinya bengkok dan salah untuk meningkatkan kesalahannya dan kebandelannya] - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 242-243.

Dengan demikian, sekalipun Allah menetapkan seseorang untuk binasa, tetapi nanti orang itu sendiri yang dengan sukarela memilih kehidupan yang berdosa, menolak Kristus dsb, sehingga ia binasa karena kesalahannya sendiri.

Pertanyaan: Kalau Allah membiarkan orang dalam dosa dan tidak menolong mereka, apakah itu berarti bahwa Allah melakukan dosa pasif (bdk. Amsal 24:11-12)? R. L. Dabney mengatakan tidak, karena hukum yang mengikat kita tidak berlaku bagi Allah, yang adalah pembuat hukum dan yang berada di atas hukum!


Dasar Alkitab dari point ini:
Dalam persoalan ini, dalam Alkitab ada dua kelompok ayat:

1. Ayat-ayat yang kelihatannya menunjukkan bahwa dalam hal buruk / dosapun Allah bekerja secara aktif.

Contoh:

a. Kej 45:5-8 - “(5) Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. (6) Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai. (7) Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. (8) Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir”.
Bdk. Maz 105:17 - diutusNyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual sebagai budak’.

b. Maz 105:25 - diubahNya hati mereka untuk membenci umatNya, untuk memperdayakan hamba-hambaNya”.
Bdk. Kel 1:8-10 - “(8) Kemudian bangkitlah seorang raja baru memerintah tanah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf. (9) Berkatalah raja itu kepada rakyatnya: ‘Bangsa Israel itu sangat banyak dan lebih besar jumlahnya dari pada kita. (10) Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi dan - jika terjadi peperangan - jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini.’”.

c. Kel 4:21 - “Firman TUHAN kepada Musa: ‘Pada waktu engkau hendak kembali ini ke Mesir, ingatlah, supaya segala mujizat yang telah Kuserahkan ke dalam tanganmu, kauperbuat di depan Firaun. Tetapi Aku akan mengeraskan hatinya, sehingga ia tidak membiarkan bangsa itu pergi.

2. Ayat-ayat yang kelihatannya menunjukkan bahwa dalam hal buruk / dosa Allah bekerja secara pasif.

Contoh:

a. Ro 1:24,26,28 - “(24) Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. ... (26) Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. ... (28) Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas”.

b. Maz 81:12-13 - “(12) Tetapi umatKu tidak mendengarkan suaraKu, dan Israel tidak suka kepadaKu. (13) Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan mengikuti rencananya sendiri!”.

c. Kis 14:16 - “Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing.

Adanya dua kelompok ayat ini menyebabkan kita ‘menjadi serba salah’ dalam menafsirkan. Kalau kita menganggap Allah aktif dalam pelaksanaan rencana yang berhubungan dengan dosa, maka kita mengabaikan kelompok ayat yang kedua, dan kalau kita menganggap Allah hanya sekedar mengijinkan dalam persoalan dosa (seperti yang dilakukan oleh Arminianisme), maka kita mengabaikan kelompok ayat yang pertama.

Jadi, satu-satunya cara / jalan, yang betul-betul mempedulikan kedua kelompok ayat itu adalah menafsirkan sebagai berikut:
Dalam pelaksanaan rencana yang berhubungan dengan dosa, Allah memang bekerja secara pasif, yaitu menarik kasih karuniaNya, dan mengijinkan setan dan / atau manusia untuk menggoda manusia yang ditetapkan untuk jatuh ke dalam dosa itu sehingga dosa itu pasti terjadi.
Supaya tidak dianggap bahwa Allah hanya semata-mata mengijinkan terjadinya dosa, maka diberi ayat-ayat kelompok pertama.
Ayat-ayat kelompok pertama bisa ada dalam Alkitab, untuk menunjukkan bahwa semua itu terjadi karena penentuan Allah. Allah adalah first cause / penyebab pertama dari segala sesuatu. Ini bukan merupakan sesuatu yang aneh, karena kalau saya membangun sebuah rumah, sekalipun saya membangun rumah itu menggunakan orang lain (pemborong, kuli dsb) dan tidak membangunnya sendiri, saya tetap bisa berkata bahwa sayalah yang membangun rumah.
Catatan: kalau mau tahu lebih mendalam lagi tentang hal ini, baca buku saya yang berjudul ‘Providence of God’.

5) Predestinasi, kehendak bebas dan tanggung jawab manusia.

a) Banyak orang Reformed yang tidak setuju dengan istilah free will ( = kehendak bebas).

Charles Haddon Spurgeon: “Any man who should deny that man is a free agent might well be thought unreasonable, but free-will is a different thing from free-agency. Luther denounces free-will when he said that ‘free-will is the name for nothing’; and President Edwards demolished the idea in his mastery treatise” (= Orang yang menyangkal bahwa manusia adalah agen bebas akan dianggap tidak masuk akal / tidak rasionil, tetapi kebebasan kehendak berbeda dengan tindakan bebas. Luther mencela kehendak bebas ketika ia berkata bahwa ‘kehendak bebas adalah nama untuk sesuatu yang tidak ada’; dan Presiden Edwards menghancurkan gagasan / idee ini dalam bukunya yang luar biasa) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 10.

Robert L. Dabney: “... I have not used the phrase ‘freedom of the will’. I exclude it, because persuaded that it is inaccurate, and that it has occasioned much confusion and error. Freedom is properly predicated of a person, not of a faculty. ... I have preferred therefore to use the phrase, at once popular and exact: ‘free agency’ and ‘free agent’” (= Saya tidak memakai ungkapan ‘kebebasan kehendak’. Saya meniadakannya karena diyakinkan bahwa itu adalah tidak tepat, dan bahwa itu menimbulkan banyak kebingungan dan kesalahan. Kebebasan secara tepat ditujukan kepada seseorang, bukan pada bagian dari jiwa / pikiran. ... Karena itu saya lebih menyukai untuk menggunakan ungkapan yang sekaligus populer dan tepat: ‘tindakan bebas’ dan ‘agen bebas’) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 129.

Catatan:
·       Istilah ‘agent’ berarti ‘a person that performs actions or is able to do so’ (= seseorang yang melakukan tindakan-tindakan atau yang mampu melakukannya).
·       Istilah ‘agency’ berarti ‘action’ (= tindakan) atau ‘the business of a person’ (= kegiatan / kesibukan seseorang).
Ini diambil dari Webster’s New World Dictionary.

Tetapi karena istilah ‘free will’ sudah begitu populer, dan lebih-lebih dalam kalangan orang awam di Indonesia istilah kehendak bebas sangat populer sedangkan istilah ‘agen bebas’ dan ‘tindakan bebas’ tidak pernah terdengar, maka saya tetap menggunakan istilah free will / kehendak bebas. Tetapi tentu saja kita harus berhati-hati terhadap penyalahgunaan dari istilah free will / kehendak bebas ini.

b) Arti yang salah dan benar dari free will ( = kehendak bebas).

1. Adanya free will / kehendak bebas tidak berarti bahwa manusia itu bebas secara mutlak.
Kalau kita meninjau doktrin Allah (theology), maka kita bisa melihat bahwa satu-satunya makhluk yang bebas mutlak adalah Allah, dan Allah menciptakan segala sesuatu dan membuat segala sesuatu tergantung kepada diriNya (Neh 9:6  Maz 94:17-19  Maz 104:27-30  Kis 17:28  1Tim 6:13  Ibr 1:3). Jadi jelas bahwa manusia tidak bebas secara mutlak, tetapi sebaliknya tergantung kepada Allah.

2. Adanya free will / kehendak bebas tidak berarti bahwa manusia selalu bisa / mampu melakukan apa yang ia kehendaki.
Ini berlaku dalam hal:
a. Biasa / jasmani. Misalnya manusia boleh saja ingin terbang, tetapi ia tidak bisa terbang.
b. Rohani. Orang berdosa di luar Kristus tidak bisa berbuat baik atau datang kepada Kristus dengan kekuatannya sendiri. Bahkan orang kristenpun sering menginginkan hal yang baik tetapi tidak mampu melakukannya (Ro 7:18-23  Mat 26:41).
Jadi, free will / kehendak bebas tidak berhubungan dengan kemampuan untuk melakukan apa yang ia kehendaki.

3. Adanya free will / kehendak bebas tidak berarti pada saat manapun dalam kehidupannya, manusia itu betul-betul bisa memilih beberapa tindakan sesuai dengan kehendaknya sendiri.
Orang Reformed mempercayai bahwa segala sesuatu ditentukan oleh Allah, dan pasti akan terjadi sesuai kehendak Allah. Karena itu adalah omong kosong kalau kita dalam hal ini beranggapan bahwa manusia betul-betul bisa memilih tindakan sesuai dengan kemauannya. Sebaliknya, ia pasti akan melakukan tindakan yang telah ditentukan oleh Allah.
Catatan: kalau mau mengetahui tentang penentuan mutlak dari Allah atas segala sesuatu, bacalah buku saya yang berjudul ‘Providence of God’.

4. Free will / kehendak bebas berarti: semua yang manusia lakukan, ia lakukan sesuai dengan ketetapan Tuhan, tetapi pada saat yang sama, ia tetap melakukan itu karena itu memang adalah kehendaknya / keputusannya. Ia tidak dipaksa oleh Allah untuk melakukan kehendak / ketetapan Allah tersebut. Ia akan secara sukarela melakukan ketetapan Allah tersebut.

Bahkan pada saat manusia itu dipaksa untuk melakukan sesuatu, ia tetap melakukan sesuai keputusan / kehendaknya sendiri. Misalnya: seseorang ditodong dan dipaksa untuk menyerahkan uangnya. Ia bisa saja memutuskan untuk melawan, apapun resikonya. Tetapi setelah ia mempertimbangkan resiko kehilangan nyawa / terluka, maka ia mengambil keputusan untuk menyerahkan uangnya. Ini tetap adalah keputusan / kehendak bebasnya. Karena itu sebetulnya ungkapan bahasa Inggris ‘I did it against my will’ (= aku melakukan itu bertentangan kehendakku) adalah sesuatu yang salah.

Yang bisa terjadi adalah: sesuatu dilakukan terhadap kita bertentangan dengan kehendak kita. Misalnya kita diikat lalu dibawa ke tempat yang tidak kita ingini. Tetapi ini bukan kita yang melakukan.

Jadi, kalau kita melakukan sesuatu, itu karena kita mau / menghendaki untuk melakukan hal itu.

c) Predestinasi tidak menghancurkan kebebasan manusia.

Pdt. Jusuf B. S. secara memfitnah menggambarkan Calvinisme sebagai berikut: “Tidak ada kemauan bebas dari manusia” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 22.
Saya katakan bahwa Pdt. Jusuf B. S. memfitnah Calvinisme, bukan sekedar menyerang Calvinisme, karena ia menuliskan kalimat itu di bawah point ke 2 dari lima pokok Calvinisme, yang ia sebut dengan istilah ‘Ikatan Takdir’. Jadi pada waktu orang membaca bukunya, maka orang jelas akan mengambil kesimpulan bahwa itu adalah ajaran Calvinisme. Padahal Calvinisme tidak pernah mengajarkan seperti itu.

Sekalipun Calvinisme mempercayai kedaulatan Allah yang menentukan keselamatan seseorang dan bahkan juga menentukan segala sesuatu yang lain, tetapi Calvinisme tetap mempercayai kebebasan manusia. Mengapa? Karena dalam Kitab Suci kita melihat bahwa sekalipun segala sesuatu terjadi sesuai kehendak / rencana Allah, tetapi pada waktu manusianya melakukan hal itu, ia tidak dipaksa, tetapi melakukannya dengan sukarela.
Misalnya:
1. Pada waktu mengutus Musa kepada Firaun, Tuhan berkata bahwa Ia akan mengeraskan hati Firaun (Kel 4:21  7:3). Ini menunjukkan bahwa Tuhan sudah menentukan bahwa Firaun tidak akan melepaskan Israel. Tetapi pada waktu Musa sampai kepada Firaun, dikatakan bahwa ‘Firaun mengeraskan hatinya sendiri’ (Kel 7:22  8:15,19,32  9:34-35  14:5).
2. Yudas mengkhianati / menyerahkan Yesus sesuai dengan ketetapan Allah (Luk 22:22), tetapi pada waktu Yudas melakukan hal itu, ia betul-betul melakukannya dengan kehendaknya sendiri. Kita tidak melihat bahwa Allah memaksa dia untuk mengkhianati Yesus.
3. Orang-orang yang membunuh Yesus melakukan hal itu sesuai dengan apa yang sudah Allah tentukan dari semula (Kis 4:27-28), tetapi pada waktu mereka melakukannya, mereka betul-betul bebas, dan melakukannya atas kehendak mereka sendiri.

Sekarang perhatikan beberapa kutipan atau penjelasan dari beberapa ahli theologia Reformed yang jelas mempercayai baik ‘kedaulatan Allah’ maupun ‘kebebasan manusia’.

Robert L. Dabney: “... God executes this purpose as to man’s acts, not against but through and with man’s own free will. In producing spiritually good acts, He ‘worketh in man to will and to do’ and determines that he ‘shall be willing in the day of His power’. And in bringing about bad acts, He simply leaves the sinner in circumstances such that he does, of himself only, yet certainly, choose the wrong” (= ... Allah melaksanakan rencanaNya yang berkenaan dengan tindakan manusia, bukan menentang tetapi melalui dan dengan kehendak bebas manusia. Dalam menghasilkan tindakan-tindakan yang baik secara rohani, Ia ‘bekerja dalam manusia untuk menghendaki dan melakukan’ dan menentukan bahwa ia ‘akan mau pada hari kuasaNya’. Dan untuk menghasilkan tindakan-tindakan yang jahat, Ia hanya membiarkan orang berdosa itu dalam keadaan sedemikian rupa sehingga ia melakukan, hanya dari dirinya sendiri, tetapi dengan pasti, memilih yang jahat / salah) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 223.

Catatan: kata-kata yang diletakkan di antara tanda petik itu diambil dari Fil 2:13 dan Maz 110:3 (versi KJV).

R. C. Sproul, dalam bukunya ‘Chosen by God’, menjelaskan beberapa point sehubungan dengan hubungan antara kedaulatan Allah dan kebebasan manusia ini:
a. Ia berkata bahwa kita tidak menerima kontradiksi, sehingga kalau kedaulatan Allah memang bertentangan dengan kebebasan manusia, maka salah satu harus dibuang.
“If human freedom and divine sovereignty are real contradictions, then one of them, at least, has to go” (= Jika kebebasan manusia dan kedaulatan ilahi sungguh-sungguh bertentangan, maka sedikitnya salah satu dari mereka harus dibuang) - ‘Chosen by God’, hal 41.
b. Tetapi ia lalu berkata bahwa yang bertentangan / kontradiksi dengan kedaulatan Allah bukanlah kebebasan manusia, tetapi kebebasan mutlak dari manusia, yang ia sebut dengan istilah autonomos (self-law). Tetapi perlu diingat bahwa Calvinisme memang tidak mempercayai kebebasan mutlak dari manusia (lihat arti yang salah dan benar dari free will dalam point b di atas).
c. Sedangkan kedaulatan Allah dan kebebasan manusia bukanlah merupakan suatu kontradiksi tetapi merupakan suatu paradox, yaitu hal-hal yang kelihatannya saja merupakan kontradiksi.

Charles Hodge: God can control the free acts of rational creatures without destroying either their liberty or their responsibility” (= Allah bisa mengontrol tindakan-tindakan bebas dari makhluk-makhluk rasionil tanpa menghancurkan kebebasan ataupun tanggung jawab mereka) - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 332.

Saya berpendapat bahwa bagian yang harus diperhatikan dalam kata-kata Charles Hodge ini adalah ‘God can’ (= Allah bisa).
Kalau saya membuat film, maka saya akan menyusun naskah, dimana setiap pemain sudah ditentukan harus bertindak apa atau berkata apa. Tetapi selalu ada sedikit kebebasan bagi para pemain. Kalau saya tidak memberikan kebebasan sama sekali, maka para pemain itu akan menjadi robot, yang tidak lagi mempunyai kebebasan apapun.
Tetapi Allah berbeda dengan saya atau dengan manusia lain. Allah bisa menentukan dan mengontrol segala sesuatu sampai detail-detail yang sekecil-kecilnya, tanpa menghancurkan kebebasan manusia! Bagaimana Ia bisa melakukan hal itu, merupakan suatu mystery bagi kita, tetapi yang jelas Kitab Suci menunjukkan bahwa Allah memang menentukan dan menguasai segala sesuatu, tetapi manusia tetap mempunyai kebebasan.
 

d) Karena Predestinasi tidak membuang kebebasan manusia, maka Predestinasi juga tidak membuang tanggung jawab manusia.
Ada 2 hal yang dimaksud dengan ‘tanggung jawab’ di sini:

1. Manusia bertanggung jawab / wajib berusaha mentaati Tuhan / Firman Tuhan.
Jadi kita tidak boleh hidup apatis / acuh tak acuh dengan alasan bahwa Allah toh sudah menentukan segala sesuatu. Bandingkan dengan Ul 29:29 yang berbunyi: Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini”.
‘Hal-hal yang tersembunyi’ menunjuk pada Rencana Allah yang tidak kita ketahui. Ul 29:29 mengatakan bahwa ‘hal-hal yang tersembunyi’ ini ialah bagi Allah, bukan bagi kita! Jadi kita tidak boleh menjadikannya sebagai dasar hidup kita.
‘Hal-hal yang dinyatakan’ menunjuk pada hukum Taurat / Firman Tuhan, dan inilah yang harus kita gunakan sebagai dasar hidup kita.

Contoh: Tuhan sudah memilih orang-orang tertentu untuk sela­mat dan orang-orang tertentu untuk binasa, tetapi kita tidak tahu siapa yang dipilih untuk selamat dan siapa yang ditentukan untuk binasa. Jadi itu adalah kehendak Allah yang tersembunyi dan tidak boleh kita jadikan dasar / pedoman hidup kita, misalnya dengan berpikir / bersikap seperti ini:
a. Sekarang ini saya tidak perlu percaya kepada Yesus. Kalau saya memang ditentukan selamat, nanti pasti akan percaya dengan sendirinya.
b. Mungkin orang itu bukan orang pilihan, sehingga hanya membuang-buang waktu dan tenaga untuk menginjili dia. Biarkan saja dia, kalau ternyata dia orang pilihan, toh nanti akan percaya dengan sendirinya.
Kita harus hidup berda­sarkan Firman Tuhan (kehendak Allah yang dinyatakan bagi kita), misalnya:
·       Kis 16:31 - perintah untuk percaya kepada Yesus.
·       Mat 28:19-20 - perintah untuk memberitakan Injil kepada semua orang.

2. Manusia harus bertanggung jawab / dihukum karena ketidak-taatannya.
Kalau manusia tidak bebas (seperti robot / wayang), maka ia tidak bertanggung jawab atas tindakannya. Tetapi karena ia bebas, maka ia bertanggung jawab.

J. I. Packer: “God’s sovereignty and man’s responsibility are taught us side by side in the same Bible; sometimes indeed, in the same text” (= Kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia diajarkan berdampingan dalam Alkitab yang sama; bahkan kadang-kadang dalam text yang sama) - ‘Evangelism and the Sovereignty of God’, hal 22.

Dan ia lalu memberikan contoh Luk 22:22 yang berbunyi sebagai berikut: “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan.
Kata-kata ‘Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan’ menunjukkan kedaulatan Allah, sedangkan kata-kata ‘celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan’ menunjukkan adanya tanggung jawab manusia pada waktu ia melakukan apa yang Tuhan tetapkan itu.

Memang sepintas lalu, kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia kelihatan sebagai suatu kontradiksi. Ini terlihat dari Ro 9:19 dimana Paulus, setelah mengajarkan Predestinasi dan kedaulatan Allah dalam Ro 9:6-18, lalu menanyakan pertanyaan yang ia perkirakan bakal muncul dalam diri orang yang mendengar ajaran Predestinasi dan kedaulatan Allah.

Ro 9:19 - “Sekarang kamu akan berkata kepadaku: ‘Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkanNya? Sebab siapa yang menentang kehendakNya?’”.
NASB: “You will say to me then, ‘Why does He still find fault? For who resists His will?’” (= Lalu kamu akan berkata kepadaku: ‘Mengapa Ia masih menyalahkan / mencari kesalahan? Karena siapa yang menahan / menolak kehendakNya?’).
KJV / RSV » NASB.
NIV: “One of you will say to me: Then why does God still blame us? For who resists his will?” (= Salah satu dari kamu akan berkata kepadaku: Lalu mengapa Allah masih menyalahkan kita? Karena siapa yang menahan / menolak kehendakNya?).

Jadi, karena Allah dalam kedaulatanNya sudah menetapkan / mempredestinasikan, dan kehendak Allah pasti terjadi sehingga tidak bisa ditolak, maka orang lalu merasa aneh bahwa manusia masih harus bertanggung jawab / disalahkan oleh Allah.

Andaikata Paulus menganggap bahwa karena adanya kedaulatan Allah / Predestinasi maka manusia tidak lagi perlu bertanggung jawab, maka ia akan menjawab dengan berkata: ‘Siapa bilang bahwa Allah menyalahkan kamu? Karena Ia yang menetapkan segala sesuatu dan karena kehendakNya pasti terjadi, maka Ia tidak akan menyalahkan kamu kalau kamu berbuat dosa atau tidak percaya’.

Andaikata Paulus memang tidak setuju dengan kedaulatan Allah yang menetapkan segala sesuatu, maka ia akan menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata: ‘Allah tidak menetapkan apa-apa, karena itu kamu bertanggung jawab’.

Tetapi Paulus tidak menjawab seperti itu. Perhatikan jawaban Paulus dalam Ro 9:20-21: “(20) Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ (21) Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?”.

J. I. Packer mengomentari ayat ini dengan berkata:
“What the objector has to learn is that he, a creature and a sinner, has no right whatsoever to find fault with the revealed ways of God. Creatures are not entitled to register complaints about their Creator” (= Apa yang harus dipelajari oleh orang yang mengajukan keberatan itu adalah bahwa ia, seorang makhluk ciptaan dan seorang berdosa, tidak mempunyai hak apapun untuk tidak puas / berkeberatan dengan jalan Allah yang dinyatakan. Makhluk-makhluk ciptaan tidak berhak menyatakan keluhan / ucapan yang menyatakan ketidakpuasan tentang Pencipta mereka) - ‘Evangelism and the Sovereignty of God’, hal 23.

Banyak orang kristen yang tidak senang dengan 2 hal yang kelihatan kontradiksi ini, sehingga lalu bersikap salah:

a. Menekankan kedaulatan Allah dan mengabaikan tanggung jawab manusia. Ini Hyper-Calvinisme / fatalisme! Orang yang belum percaya tidak perlu berusaha untuk percaya, karena kalau mereka sudah dipilih untuk selamat toh nanti akan percaya dengan sendirinya, dan kalau mereka memang ditentukan untuk binasa, maka mereka toh tidak akan bisa percaya. Juga kalau kita sebagai orang kristen bertemu dengan orang yang belum percaya, kita tidak perlu memberitakan Injil kepadanya, karena kalau ia memang orang pilihan nanti ia toh akan percaya dengan sendirinya, dan kalau ia adalah orang yang ditentukan untuk binasa, maka penginjilan kita toh akan sia-sia.

Dan orang Arminian sering menuduh / memfitnah bahwa Calvinisme adalah seperti ini. Bandingkan dengan fitnahan Pdt. Jusuf B. S. yang berbunyi sebagai berikut: “Dilayani atau tidak dilayani, kalau mereka sudah ditentukan selamat, akhirnya toh tetap selamat, sebab Tuhan berdaulat penuh” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 35.
Tetapi fitnahan ini salah dan bodoh, karena Hyper-Calvinisme bukanlah Calvinisme!

b. Menekankan tanggung jawab manusia dan mengabaikan kedaulatan Allah. Ini Arminianisme.

Calvinisme yang benar memperhatikan baik kedaulatan Allah maupun tanggung jawab manusia.

Arthur W. Pink: “Two things are beyond dispute: God is sovereign, man is responsible. ... To emphasize the sovereignty of God, without also maintaining the accountability of the creature, tends to fatalism; to be so concerned in maintaining the responsibility of man, as to lose sight of the sovereignty of God, is to exalt the creature and dishonour the Creator” (= Dua hal tidak perlu diperdebatkan: Allah itu berdaulat, manusia itu bertanggung jawab. ... Menekankan kedaulatan Allah, tanpa juga memelihara pertanggungan jawab dari makhluk ciptaan, cenderung kepada fatalisme; terlalu memperhatikan pemeliharaan tanggung jawab manusia, sehingga tidak mengindahkan kedaulatan Allah, sama dengan meninggikan makhluk ciptaan dan merendahkan sang Pencipta) - ‘The Sovereignty of God’, hal 9.

Arthur W. Pink: “We are enjoined to take ‘no thought for the morrow’ (Matt 6:34), yet ‘if any provide not for his own, and specially for those of his own house, he hath denied the faith, and is worse than an infidel’ (1Tim 5:8). No sheep of Christ’s flock can perish (John 10:28,29), yet the Christian is bidden to make his ‘calling and election sure’ (2Peter 1:10). ... These things are not contradictions, but complementaries: the one balances the other. Thus, the Scriptures set forth both the sovereignty of God and the responsibility of man” [= Kita dilarang untuk ‘menguatirkan hari esok’ (Mat 6:34), tetapi ‘jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman’ (1Tim 5:8). Tidak ada domba Kristus yang bisa binasa (Yoh 10:28-29), tetapi orang kristen diperintahkan untuk membuat ‘panggilan dan pilihannya teguh’ (2Pet 1:10). ... Hal-hal ini tidaklah bertentangan tetapi saling melengkapi: yang satu menyeimbangkan yang lain. Demikian Kitab Suci menyatakan kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia] - ‘The Sovereignty of God’, hal 11.

Charles Haddon Spurgeon: “man, acting according to the device of his own heart, is nevertheless overruled by that sovereign and wise legislation ... How these two things are true I cannot tell. ... I am not sure that in heaven we shall be able to know where the free agency of man and the sovereignty of God meet, but both are great truths. God has predestinated everything yet man is responsible” (= manusia, bertindak sesuka hatinya, bagaimanapun dikalahkan / dikuasai oleh pemerintahan yang berdaulat dan bijaksana ... Bagaimana dua hal ini bisa benar saya tidak bisa mengatakan. ... Saya tidak yakin bahwa di surga kita akan bisa mengetahui dimana tindakan bebas manusia dan kedaulatan Allah bertemu, tetapi keduanya adalah kebenaran yang besar. Allah telah mempredestinasikan segala sesuatu, tetapi manusia bertanggungjawab) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 10.

Barnes’ Notes (tentang Kis 2:23): “We have here a striking and clear instance of the doctrine that the decrees of God do not interfere with the free agency of people. This event was certainly determined beforehand. Nothing is clearer than this. It is here expressly asserted; and it had been foretold with undeviating certainty by the prophets. God had, for wise and gracious purposes, purposed or decreed in his own mind that his Son should die at the time and in the manner in which he did; for all the circumstances of his death, as well as of his birth and his life, were foretold; and yet in this the Jews and the Romans never supposed or alleged that they were compelled or cramped in what they did. They did what they chose. If in this case the decrees of God were not inconsistent with human freedom, neither can they be in any case. Between those decrees and the freedom of man there is no inconsistency, unless it could be shown - what never can be that God compels people to act contrary to their own will. In such a case there could be no freedom. But that is not the case with regard to the decrees of God” (= ).

J. I. Packer, dalam bukunya yang berjudul ‘Evangelism and the Sovereignty of God’ menghubungkan kedaulatan Allah dengan tanggung jawab tertentu dari orang kristen, yaitu pemberitaan Injil. Ia berkata:
·       “the sovereignty of God in grace is the one thing that prevents evangelism from being pointless. For it creates the possibility - indeed, the certainty - that evangelism will be fruitful” (= kedaulatan Allah dalam kasih karunia adalah satu hal yang mencegah supaya penginjilan tidak menjadi tanpa arti. Karena itu menciptakan kemungkinan - bahkan kepastian - bahwa penginjilan itu akan berbuah) - hal 106.
·       “What, then, are we to say about the suggestion that a hearty faith in the absolute sovereignty of God is inimical to evangelism? We are bound to say that anyone who makes this suggestion thereby shows that he has simply failed to understand what the doctrine of divine sovereignty means” (= Lalu apa yang akan kita katakan tentang usul / saran bahwa iman yang sungguh-sungguh kepada kedaulatan mutlak dari Allah bertentangan dengan penginjilan? Kita harus mengatakan bahwa siapapun yang membuat usul / saran itu dengan itu menunjukkan bahwa ia tidak mengerti apa arti dari doktrin kedaulatan ilahi) - hal 125.

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar