Senin, 24 Maret 2014

PENJAHAT YANG BERTOBAT


Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div

LUKAS 23:39-43


I) Penjahat yang menghujat Kristus.

  1)   Penjahat-penjahat itu ‘digantung’ (ay 39).
Dari istilah ‘digantung’ ini Adam Clarke menafsirkan bahwa berbeda dengan Kristus yang betul-betul disalibkan (dipaku pada kayu salib), maka penjahat-penjahat itu hanya diikatkan pada kayu salib, dan karena itu Kristus mati lebih cepat dari mereka (Yoh 19:31-33).
Tetapi saya tidak setuju dengan penafsiran Adam Clarke ini karena:
a)    Mat 27:44 mengatakan bahwa penjahat-penjahat itu ‘disalibkan’.
b)  Dalam Luk 23:33, kata kerja ‘menyalibkan’ digunakan baik untuk Yesus, maupun untuk kedua penjahat tersebut.

Kesimpulannya: kata ‘disalibkan’ dan ‘digantung’ digunakan secara inter-changeable (= bisa dibolak balik). Bdk. juga dengan Gal 3:13b.

2)   ‘Menghujat’ (ay 39).
Mat 27:44 dan Mark 15:32 menggunakan kata ‘mencela’, Luk 23:39 menggunakan kata yang jauh lebih keras yaitu ‘menghujat’. Ini menun-jukkan bahwa:
a)    Lukas tidak menceritakan bagian yang persis sama dengan yang diceritakan oleh Matius dan Markus.
b)    Penjahat ini betul-betul orang yang keterlaluan. Sudah mau mati masih menghujat orang lain. Andaikatapun Yesus memang adalah seorang penipu / penjahat, apa perlunya ia menghujat Yesus? Ini adalah contoh orang yang bertekun dalam dosa sampai mati!
Apakah saudara adalah orang yang bertekun dalam dosa seperti penjahat ini?

3)   Hujatannya (ay 39).

a)         ‘Bukankah Engkau adalah Kristus?’.
Ini jelas diucapkan dengan nada mengejek, dan karena itu justru me-nunjukkan ketidakpercayaannya bahwa Yesus adalah Kristus / Mesias.

b)         ‘Selamatkanlah diriMu dan kami’.
Sekalipun ini juga bisa diucapkan sebagai ejekan, tetapi mungkin sekali dalam dirinya ada keinginan untuk betul-betul diselamatkan oleh Yesus.

Dua pernyataan tersebut di atas adalah dua pernyataan yang kontradiksi! Ia tidak percaya Yesus, tetapi ia ingin diselamatkan. Itu mustahil bisa terjadi, karena Yesus sendiri berkata: “Jikalau kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu” (Yoh 8:24b). Mengapa demikian? Karena tanpa memiliki Yesus sebagai Penebus / Juruselamat dosa saudara, maka saudara sendirilah yang harus membayar hutang dosa saudara!

Penerapan:
Kalau saudara tidak percaya kepada Yesus, jangan berharap saudara bisa selamat! Kalau saudara ingin selamat, percayalah dan datanglah kepada Yesus! Ia adalah satu-satunya jalan ke surga (Yoh 14:6  Kis 4:12  1Yoh 5:11-12).

II) Penjahat yang bertobat.

1)   Dalam Mat 27:44 / Mark 15:32 dikatakan bahwa kedua penjahat itu mencela Yesus, tetapi dalam Luk 23:39-42 dikatakan bahwa hanya satu penjahat yang menghujat Yesus, sedangkan yang satunya justru menegur temannya itu, dan lalu menyatakan imannya kepada Yesus.
Bagaimana cara mengharmoniskan Mat 27:44 / Mark 15:32 dengan Luk 23:39-42? Ada beberapa cara:

a)   Calvin menganggap bahwa Matius dan Markus menggunakan gaya bahasa synecdoche, dimana sekalipun mereka menuliskan seluruh-nya (kedua penjahat), tetapi yang mereka maksudkan adalah seba-gian (salah satu penjahat).
Gaya bahasa seperti ini sering dipakai bahkan dalam pembicaraan sehari-hari, misalnya: kalau kesebelasan sepak bola Indonesia kalah, maka orang berkata ‘Indonesia kalah’.

b)   Dalam Kitab Suci kadang-kadang plural / jamak bisa diartikan singular / tunggal.
Contoh: kata ‘mereka’ dalam Mat 2:20 jelas menunjuk pada satu orang, yaitu Herodes (Mat 2:19).

c)   Matius dan Markus hanya menceritakan bagian awalnya, sedangkan Lukas hanya menceritakan bagian akhirnya.
Jadi, mula-mula kedua penjahat itu mencela Yesus (Mat 27:44 / Mark 15:32), tetapi akhirnya salah satu bertobat, dan yang satunya bahkan menjadi bertambah jahat sehingga lalu menghujat Yesus, dan ini menyebabkan penjahat yang bertobat itu menegur dia (Luk 23:39-41).
Saya condong pada penafsiran yang ke 3 ini.

2)   Faktor-faktor yang menghalangi dan mendukung pertobatannya.

a)   Faktor yang menghalangi pertobatannya: Yesus yang mengaku sebagai Anak Allah, Mesias, Raja, dan Juruselamat itu, pada saat itu sedang tergantung dengan tidak berdaya di atas kayu salib. Menurut logika duniawi, ini tentu hal yang menggelikan!

b)   Faktor-faktor yang mendukung pertobatannya:

·         rasa takut kepada Allah pada saat ia mau mati (ay 40).
Ini menunjukkan bahwa dalam memberitakan Injil kita juga perlu memberitakan tentang keadilan Allah, hukuman Allah, kengerian neraka dsb, supaya orang yang kita injili itu menjadi takut dan bertobat.

·         Sikap dan kesucian Yesus yang terlihat mulai saat Ia dicambuki, digiring, disalibkan dsb (ay 41b).
*        Yesus diejek, dihina tetapi tidak membalas.
*        pada waktu paku menembus tangan dan kaki, apalagi pada waktu kayu salib yang tadi terbaring di tanah itu lalu ditegakkan, orang hukuman itu biasanya melontarkan segala macam kutukan, sumpah serapah dan cacian. Tetapi Yesus justru berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34a).
*        dalam mengalami semua penderitaanNya, Yesus tidak takut tetapi tetap tenang dan berserah kepada BapaNya.
Kalau saja kita bisa mempunyai sikap dan kesucian seperti ini, maka pasti kitapun akan menarik banyak orang datang kepada Yesus! Maukah saudara berusaha meneladani sikap dan kehi-dupan Yesus?

·         Firman yang pernah ia dengar, baik secara langsung atau tak langsung, dari Yesus (ay 42  bdk. Mat 24:30  25:31). Pada saat ia mendengarnya, ia tidak bertobat. Tetapi sekarang pada saat ia mau mati, ia menanggapinya dan bertobat!
Ini suatu hal yang harus selalu kita pikirkan pada saat kita mem-beritakan Injil dan ditolak. Sekalipun pada saat itu orang yang kita injili itu menolak, tetapi tetap ada kemungkinan bahwa dikemudian hari ia bertobat. Jadi jangan kecewa, putus asa, apalagi berhenti dalam memberitakan Injil, pada waktu saudara mengalami pe-nolakan.

·         pekerjaan Roh Kudus dalam dirinya.
Ini jelas harus ada karena tanpa ini tidak seorangpun bisa datang kepada Yesus (bdk. Yoh 6:44,65  1Kor 12:3).

3)   Imannya.

a)   Imannya terlihat dari:

·         ia sadar bahwa kematian bukanlah akhir dari segala-galanya (ay 40,42). Apakah saudara juga menyadari hal ini?

·         ia sadar bahwa Allah itu adil dan akan menghukum orang berdosa (ay 40).
Ada banyak orang hanya menyoroti kasih Allah saja, sehingga mereka mengabaikan keadilan dan penghukuman Allah! Bagai-mana dengan saudara?

·         Ia sadar dirinya adalah orang yang berdosa dan patut dihukum (ay 41a).
Apakah saudara menganggap diri saudara baik dan layak masuk surga? Kalau ya, saudara justru pasti akan masuk neraka!

·         ia percaya bahwa Yesus adalah orang benar (ay 41b).
Dengan demikian ia pasti juga percaya bahwa claim Yesus, yang menyatakan diriNya sebagai Mesias dan Anak Allah, pasti juga benar.
Apakah saudara percaya akan hal-hal ini?

·         ia percaya bahwa Yesus akan datang sebagai Raja pada keda-tanganNya yang keduakalinya (ay 42).
Mengomentari ayat ini Calvin berkata: kalau penjahat itu bisa menerima Yesus sebagai Raja pada saat Yesus sedang terpaku di atas kayu salib, maka celakalah kita kalau sekarang setelah Yesus bangkit, naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah, kita tidak menerimaNya sebagai Raja dalam kehidupan kita.

·         ia menyerahkan keselamatan jiwanya kepada Yesus (ay 42).
Perhatikan bahwa ia tidak mempersoalkan keselamatan jasmani-nya seperti penjahat yang pertama (ay 39), tetapi mempersoalkan jiwanya setelah ia mati!
Jaman sekarang ada begitu banyak gereja / hamba Tuhan, orang kristen yang hanya menekankan manfaat Yesus bagi hidup sekarang ini, seperti memberikan kesembuhan, memberikan berkat / kekayaan, menolong dari problem dsb. Kalau saudara adalah orang seperti ini, maka renungkan kata-kata Paulus dalam 1Kor 15:19 yang berbunyi:
“Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia”.

Renungkanlah: apakah saudara sudah percaya kepada Yesus demi keselamatan jiwa saudara pada hidup yang akan datang?

b)   Bukti imannya:
Sekalipun hidup penjahat ini sudah tinggal sangat singkat, tetapi tetap saja ada pengudusan yang membuktikan kesejatian imannya.

·         Tadi, bersama-sama penjahat yang satunya, ia mencela Yesus (Mat 27:44  Mark 15:32). Tetapi sekarang, pada waktu penjahat satunya itu menghujat Yesus, ia bukan saja tidak ikut menghujat, tetapi ia bahkan berani menegur temannya itu (ay 39-41).
Ada banyak orang yang tidak berani menegur anaknya yang mela-kukan kesalahan yang dulu ia sendiri juga lakukan (misalnya tidak jujur dalam ulangan). Tetapi penjahat ini, baru saja mencela Yesus, tetapi sekarang berani menegur temannya yang menghujat Yesus. Ini sesuatu yang luar biasa!

·         Ia adalah orang yang tahu diri dan rendah hati!
Berbeda dengan Yakobus dan Yohanes yang minta duduk di kiri dan kanan Yesus (Mark 10:35-37), penjahat ini hanya minta ‘diingat’ oleh Yesus (ay 42).
Ini harus kita tiru, bahkan kalau dalam hidup ini kita sudah banyak melakukan banyak hal untuk Tuhan (bdk. Luk 17:7-10).

Penerapan: adanya pengudusan menunjukkan kesejatian iman pen-jahat itu (bdk. Yak 2:17,26). Bagaimana dengan iman saudara? Apa-kah juga disertai dengan pengudusan / perbuatan baik / ketaatan yang membuktikan kesejatiannya? Kalau tidak, jangan pernah mimpi bahwa saudara akan diselamatkan!

III) Jawaban Yesus (ay 43).

1)   Ketika dicela / dihujat, Yesus tidak menjawab; tetapi pada waktu Ia melihat ada penjahat yang membutuhkan Firman Tuhan, bimbingan dan hiburan, Ia menjawabnya! Kalau kita mungkin terbalik! Pada saat ada orang mencela, kita menjawabnya, tetapi pada waktu ada orang membu-tuhkan Firman Tuhan, hiburan dan bimbingan, kita bungkam seribu bahasa!

Juga perlu saudara perhatikan bahwa kata-kata Yesus ini bukan sekedar hiburan kosong yang tidak benar! Ini adalah kebenaran, yang pasti melegakan sekali bagi penjahat itu.

Penerapan:
Berusahalah untuk menghibur orang, tetapi jangan memberikan hiburan kosong yang tidak benar. Itu sama dengan dusta!

2)   Perhatikan bahwa dalam penderitaan yang luar biasa hebatnya, dan dalam detik-detik terakhir hidupNya, Yesus tetap melayani BapaNya dan sesama manusiaNya.
Berbeda dengan penjahat yang pertama, yang bertekun dalam dosa sampai pada akhir hidupnya, maka Yesus tekun dalam berbuat baik / melayani sampai pada akhir hidupNya!

Penerapan:
Apakah saudara bertekun dalam berbuat baik / melayani, atau dalam berbuat dosa?

3)   Firdaus adalah surga, bukan tempat penantian.
Dasarnya: Kata ‘Firdaus’ berasal dari kata bahasa Yunani PARADEISOS, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan paradise (= surga).
Kata Yunani itu muncul hanya 3 x dalam Perjanjian Baru, yaitu dalam Luk 23:43 ini, dalam 2Kor 12:4 dan dalam Wah 2:7.
·        dalam 2Kor 12:4, kalau kita membandingkannya dengan 2Kor 12:2, maka jelas bisa kita dapatkan bahwa Firdaus adalah surga, karena dalam 2Kor 12:2 Paulus mengatakan diangkat ke sorga, sedangkan dalam 2Kor 12:4 Paulus mengatakan diangkat ke Firdaus.
·     dalam Wah 2:7 dikatakan bahwa dalam taman Firdaus itu terdapat pohon kehidupan. Sedangkan dari Wah 22:2,14,19 terlihat bahwa pohon kehidupan itu ada di surga. Kesimpulannya lagi-lagi adalah bahwa Firdaus adalah surga!
·   Kalau dalam 2 ayat itu Firdaus menunjuk pada surga, maka jelas bahwa dalam Luk 23:43 juga harus diartikan sebagai surga! Dan kalau dalam Luk 23:43 ini kata ‘Firdaus’ tidak diartikan sebagai ‘surga’, maka akan terjadi kontradiksi antara kata-kata Yesus di sini dengan kata-kata Yesus yang terakhir, yaitu ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan nyawaku’ (Luk 23:46).

Kalau Firdaus menunjuk pada surga, maka ini menunjukkan bahwa:

a)   Pada saat Yesus mati, Ia langsung pergi ke surga (bdk. Luk 23:46).
Dengan demikian jelaslah bahwa Yesus tidak turun kemana-mana, baik ke neraka, kerajaan maut ataupun tempat penantian!
Kalau demikian, apa artinya kata-kata ‘turun ke neraka / kerajaan maut’ dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli? Calvin mengatakan bahwa kalimat ini menunjuk pada penderitaan rohani yang dialami oleh Yesus, pada saat Ia masih hidup / terpancang di atas kayu salib, tepatnya pada saat Ia berteriak ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’. Ingat bahwa di neraka orang terpisah dari Allah (bdk. 2Tes 1:9). Karena itu, pada saat Yesus terpisah dari Allah, Ia dikatakan ‘turun ke neraka’.
Jadi Calvin beranggapan bahwa 12 Pengakuan Iman Rasuli itu mula-mula menunjukkan penderitaan Yesus secara jasmani yang terlihat oleh mata manusia, yaitu ‘menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, mati dan dikuburkan’. Setelah itu 12 Pengakuan Iman Rasuli itu menunjukkan penderitaan Yesus secara rohani yang tidak terlihat oleh mata manusia, yaitu ‘turun ke neraka’.

Keberatan: kalau memang Yesus langsung kesurga pada saat mati, mengapa setelah Ia bangkit Ia mengatakan bahwa Ia belum pergi kepada Bapa (Yoh 20:17)?

Jawab: Kata-kata ‘janganlah engkau memegang Aku’ dalam Yoh 20:17 tidak mungkin berarti bahwa Ia tidak mau disentuh oleh Maria Magdalena, karena Ia membiarkan murid-murid dan perempuan-perempuan yang lain menyentuhNya setelah Ia kebangkitanNya (Mat 28:9b  Luk 24:39-40  Yoh 20:27). Jadi kata-kata itu maksudnya adalah ‘jangan menahan / nggandoli Aku’.
Dengan demikian kata-kata ‘belum pergi kepada Bapa’ tidak menunjuk ke belakang (antara kematian dan kebangkitan), tetapi menunjuk ke depan, pada kenaikanNya ke surga (perhatikan Yoh 20:17b yang jelas berbicara tentang kenaikanNya ke surga).
Jadi Yesus, yang tahu bahwa Maria Magdalena itu bermaksud mena-han Dia selama-lamanya di dunia ini, lalu berkata ‘Jangan menahan / nggandoli Aku, karena Aku harus naik ke surga / pergi kepada Bapa!’.
Dengan demikian, Yoh 20:17 ini tidak menunjukkan bahwa antara kematian dan kebangkitan, Yesus tidak pergi ke surga!

b)   Pada saat mati, penjahat yang bertobat itu (dan juga semua orang yang betul-betul percaya kepada Yesus) langsung masuk ke surga (hanya roh / jiwanya, sedangkan tubuhnya menunggu kedatangan Kristus yang keduakalinya).

Ini menunjukkan bahwa:

·         api pencucian itu tidak ada!
*      doktrin tentang api pencucian sama sekali tidak punya dasar Kitab Suci!
*   Kalau memang api pencucian itu ada, maka pasti penjahat ini harus lama sekali berada di situ!
*    doktrin api pencucian menghina penebusan Kristus yang sudah membereskan semua dosa-dosa kita!

·       doktrin yang mengajarkan bahwa antara kita mati sampai Kristus datang kembali jiwa / roh kita tidur, adalah doktrin yang salah! Perhatikan bahwa baik Lazarus maupun orang kaya dalam Luk 16:19-31 sama-sama sadar dan tidak tidur! Juga mereka tidak ada di kuburan tetapi sudah ada di surga / neraka!

·   doktrin yang mengajarkan adanya tempat penantian, juga adalah ajaran yang salah.
Kalau memang Firdaus berarti tempat penantian, dan penjahat itu masuk tempat penantian lebih dulu, itu berarti bahwa Kristus juga pergi ke tempat penantian (karena Ia berkata: ‘... hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus’). Apa gerangan yang Ia lakukan di tempat penantian?

Perhatikan juga bahwa penjahat itu hanya minta supaya Kristus mengingat Dia. Kapan? Pada saat Kristus datang kembali! Tetapi bagaimana jawaban Yesus? ‘Engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus’! Kapan? ‘Hari ini’!

c)   Penjahat itu selamat / masuk surga sekalipun ia bertobat pada saat terakhir hidupnya.
Memang, selama saudara masih hidup, saudara bisa bertobat dan datang kepada Yesus, dan saudara akan diselamatkan. Tetapi, jangan secara sengaja menunda pertobatan saudara sampai pada detik terakhir hidup saudara! Ingat bahwa:
·         Saudara tidak tahu apa yang akan terjadi besok (Amsal 27:1).
Bagaimana kalau saudara mati secara mendadak dan tidak sempat bertobat? Saudara akan masuk ke neraka sekali dan selama-lamanya, dan pada saat itu, segala penyesalan / pertobatan tidak ada gunanya.
·         Allah tidak membiarkan dirinya dipermainkan (Gal 6:7).
Kalau saudara sengaja menunda pertobatan saudara dengan maksud supaya saudara bisa menikmati dosa dalam dunia, dan tetap masuk surga, maka ingatlah dan renungkan baik-baik Gal 6:7 ini!

J. C. Ryle: “I know that people are fond of talking about deathbed evidences. They will rest on words spoken in the hour of fear and pain and weakness, as if they might take comfort in them about the friends they lose. But I am afraid in ninety-nine cases out of a hundred such evidences are not to be depended on. I suspect that, with rare exceptions, men die just as they have lived” (= Saya tahu bahwa banyak orang senang membicarakan bukti-bukti ranjang kematian. Mereka bersandar pada kata-kata yang diucapkan pada saat ketakutan dan sakit dan kelemahan, seakan-akan mereka bisa mendapatkan hiburan dalam kata-kata itu tentang sahabat mereka yang hilang / mati. Tetapi saya takut / kuatir bahwa 99 kasus dari 100 bukti-bukti seperti itu tidak bisa diandalkan. Saya menduga bahwa dengan perkecualian yang sangat jarang, orang mati sama seperti mereka telah hidup) - ‘Holiness’, hal 40.

Karena itu, kalau saat ini saudara belum sungguh-sungguh percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara, datanglah dan percayalah kepada Dia sekarang juga! Sama seperti Yesus mau menerima penjahat yang bertobat itu, Ia pasti juga mau menerima saudara, bagaimanapun jahatnya dan berdosanya hidup saudara selama ini!





-AMIN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar