Senin, 31 Maret 2014

ARAH HIDUP PAULUS (II KORINTUS 4:16-5:10)

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div

I) Arah hidup Paulus.


1)   Manusia lahiriah Paulus semakin merosot (2Kor 4:16).
‘Manusia lahiriah’ bukan menunjuk kepada ‘manusia lama’, tetapi kepada ‘tubuh’. Keadaan makin merosot ini tentu bukan hanya berlaku atas diri Paulus, tetapi juga atas semua manusia, termasuk saudara dan saya. Tidak ada orang yang tambah lama tambah kuat atau tambah lama tambah sehat! Semua orang menjadi makin tua, makin lemah, dan makin sakit-sakitan!

2)   Paulus mengalami penderitaan.
2Kor 4:17 - ‘Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini. Ini terjemahan yang kurang tepat.
NIV: ‘For our light and momentary troubles’ (= Karena kesukaran / penderitaan kita yang ringan dan sementara).
RSV: ‘For this slight momentary affliction’ (= Karena penderitaan sementara yang ringan ini).
KJV: ‘For our light affliction, which is but for a moment (= Karena kesukaran / penderitaan kita yang ringan, yang hanya untuk sementara).
NASB: ‘For momentary, light affliction’ (= Karena penderitaan ringan dan sementara).

Sekalipun dalam 2Kor 4:17 ia mengatakan bahwa penderitaannya ringan dan bersifat sementara, tetapi sebetulnya penderitaannya ini:

a)   Sama sekali tidak ringan.
Bdk. 2Kor 5:4a - “Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan. Bandingkan juga dengan:
·    1Kor 4:9-13 - “(9) Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. (10) Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina. (11) Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, (12) kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; (13) kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini”.
·   2Kor 1:8-9 - “(8) Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. (9) Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati”.
·       2Kor 11:23-29 - “(23) Apakah mereka pelayan Kristus? - aku berkata seperti orang gila - aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. (24) Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, (25) tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. (26) Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. (27) Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, (28) dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat. (29) Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?”.

b)  Berlangsung terus menerus mulai saat ia bertobat sampai ia mati.
Ia mengatakan ‘sementara’ untuk mengkontraskan dengan penderitaan kekal di neraka.

Charles Hodge: “These afflictions in themselves, and as they affected Paul’s consciousness, were exceedingly great; ... His afflictions were not light in the sense of giving little pain. ... They were not momentary so far as the present life was concerned. They lasted from his conversion to his martyrdom” (= Penderitaan ini sendiri, dan ketika penderitaan itu menyerang kesadaran Paulus, adalah sangat hebat; ... Penderitaannya tidak ringan dalam arti bahwa penderitaan itu memberikan rasa sakit hanya sedikit. ... Penderitaan itu tidaklah bersifat sementara sejauh hidup yang sekarang ini yang dipersoalkan. Penderitaan itu berlangsung mulai saat pertobatannya sampai ia mati syahid) - hal 479-480.

3)   Jauh dari Tuhan.
2Kor 5:6b - ‘kami masih jauh dari Tuhan’.
KJV/NASB: ‘we are absent from the Lord’ (= kami absen dari Tuhan).
RSV/NIV: ‘we are away from the Lord’ (= kami jauh dari Tuhan).

Calvin: “‘We are absent from the Lord.’ Scripture everywhere proclaims, that God is present with us: Paul here teaches, that we are absent from him. This is seemingly a contradiction; but this difficulty is easily solved, when we take into view the different respects, in which he is said to be present or absent. ... He is present with his believing people by the energy of His Spirit; he lives in them, resides in the midst of them, nay more, within them. But in the mean time he is absent from us, inasmuch as he does not present himself to be seen face to face, because we are as yet in a state of exile from his kingdom, and have not as yet attained that blessed immortality, which the angels that are with him enjoy” (= Kita absen dari Tuhan. Kitab Suci dimana-mana menyatakan bahwa Allah hadir dengan kita: Paulus di sini mengajarkan bahwa kita absen dari Dia. Ini kelihatannya merupakan kontradiksi; tetapi kesukaran ini mudah untuk diselesaikan, pada waktu kita memperhatikan sudut pandang yang berbeda dimana Ia dikatakan hadir atau absen / tidak hadir. ... Ia hadir bersama umatNya yang percaya oleh kekuatan RohNya; Ia hidup di dalam mereka, tinggal di tengah-tengah mereka, bahkan lebih dari itu, Ia tinggal di dalam mereka. Tetapi sementara itu Ia absen dari kita, karena Ia tidak menghadirkan diriNya sendiri untuk dilihat muka dengan muka, karena kita masih ada dalam keadaan pengasingan dari kerajaanNya, dan belum mencapai ke-tidak-bisa-binasa-an yang mulia, yang dinikmati oleh para malaikat yang bersama dengan Dia) - hal 220-221.

Dalam penjelasannya tentang 2Kor 5:7 Calvin berkata: “He states the reason, why it is that we are now absent from the Lord - because we do not as yet see him face to face. (1Cor. 13:12.) The manner of that absence is this - that God is not openly beheld by us” [= Ia menyatakan alasan, mengapa kita sekarang absen dari Tuhan - karena kita belum melihatNya muka dengan muka. (1Kor 13:12). Cara ke-absen-an / ketidak-hadiran itu adalah ini - bahwa Allah tidaklah terlihat secara terbuka oleh kita] - hal 221.
Bdk. 1Kor 13:12 - “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal”.

4)   Mati.
2Kor 5:1 - “Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia”.
2Kor 5:8 - “tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan”.

a)   ‘kemah’.
Tubuh yang sekarang ini disebut ‘kemah’ untuk menunjukkan bahwa itu hanya bersifat sementara (bdk. 2Pet 1:13-14). Ini dikontraskan dengan ‘suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia’ (5:1b). NASB: ‘a building from God, a house not made with hands, eternal in the heavens’ (= suatu bangunan dari Allah, suatu rumah yang tidak dibuat oleh tangan, kekal di surga).
Bandingkan juga dengan Luk 16:9 yang sekalipun menggambarkan surga dengan sebutan ‘kemah’ tetapi menambahkan kata ‘abadi’. Juga bandingkan dengan Ibr 9:11 yang juga menyebutkan surga dengan istilah ‘kemah’, tetapi menambahkan kata-kata ‘yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia, - artinya yang tidak termasuk ciptaan ini’.

b)   ‘dibongkar’.
NASB: ‘is torn down’ (= dibongkar / dirobohkan).
RSV/NIV: ‘is destroyed’ (= dihancurkan).
KJV: ‘were dissolved’ (= larut / hancur).

Kata-kata ‘kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar’ maupun kata-kata ‘beralih dari tubuh ini’ artinya sama, yaitu ‘mati’. Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:
·   Yes 38:9-12 - “(9) Karangan Hizkia, raja Yehuda, sesudah ia sakit dan sembuh dari penyakitnya: (10) Aku ini berkata: Dalam pertengahan umurku aku harus pergi, ke pintu gerbang dunia orang mati aku dipanggil untuk selebihnya dari hidupku. (11) Aku berkata: aku tidak akan melihat TUHAN lagi di negeri orang-orang yang hidup; aku tidak akan melihat seorangpun lagi di antara penduduk dunia. (12) Pondok kediamanku dibongkar dan dibuka seperti kemah gembala; seperti tukang tenun menggulung tenunannya aku mengakhiri hidupku; TUHAN memutus nyawaku dari benang hidup”.
·     2Pet 1:13-15 - “(13) Aku menganggap sebagai kewajibanku untuk tetap mengingatkan kamu akan semuanya itu selama aku belum menanggalkan kemah tubuhku ini. (14) Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (15) Tetapi aku akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat semuanya itu”.

Jelas bahwa bukan hanya Paulus yang pasti mengalami kematian. Kita semua, termasuk saudara, juga demikian!

Penerapan: apakah saudara pernah memikirkan bahwa suatu saat, lambat atau cepat, saudara pasti mati? Siapkah saudara kalau kematian itu terjadi saat ini?
Bdk. Maz 90:10,12 - “(10) Masa hidup kami 70 tahun dan jika kami kuat, 80 tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap. ... (12) Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana”.

5)   Menghadap takhta pengadilan Kristus.
2Kor 5:10 - “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat”.

a)   Kristus akan menjadi Hakim pada akhir jaman; ini membuktikan bahwa Ia adalah Allah.
Charles Hodge: “As Christ is to be the judge, as all men are to appear before him, as the secrets of the hearts are to be the grounds of judgment, it is obvious that the sacred writers believed Christ to be a divine person, for nothing less than omniscience could qualify any one for the office here ascribed to our Lord” (= Karena Kristus akan menjadi Hakim, karena semua orang akan menghadap di hadapanNya, karena rahasia dari hati adalah dasar penghakiman, jelaslah bahwa penulis-penulis sakral / kudus percaya bahwa Kristus adalah Pribadi ilahi, karena hanya kemaha-tahuan yang bisa memenuhi syarat bagi siapapun untuk jabatan / tugas yang di sini dianggap sebagai milik Tuhan kita) - ‘I & II Corinthians’, hal 501.

b)   Menghadap takhta pengadilan Kristus.
Bukan hanya Paulus yang akan menghadap takhta pengadilan Kristus, semua orang, termasuk saudara, juga demikian! Kalau saudara sudah percaya kepadaNya, saudara tidak usah takut menghadapi hal itu.
1Yoh 4:17-18 - “(17) Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. (18) Di dalam kasih yang sempurna tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut ia tidak sempurna di dalam kasih.
Tetapi kalau saudara belum percaya kepada Yesus, celakalah saudara pada waktu itu!

II) Hidup Paulus tetap benar. Mengapa bisa demikian?


1)   Paulus tidak tawar hati.
2Kor 4:16 - “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari”.
Mengapa Paulus bisa tidak tawar hati?

a)         Karena ia percaya adanya kebangkitan orang mati.
2Kor 4:14 - “Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diriNya”.

b)   Karena ia percaya manusia batiniahnya diperbaharui dari hari ke hari.
2Kor 4:16b - ‘manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari’.
TB2: ‘manusia batiniah kami diperbarui dari hari ke hari’.
Tetapi benarkah manusia batiniah kita diperbarui dari hari ke hari? Bukankah kita sering merasa ada saat-saat dimana manusia batiniah kita justru makin merosot?
Pulpit Commentary: “Day by day? Ah! are there not idle days, apparently useless days, even days when prayer and holy service seem a burden? Doubtless; but we must not conclude that these seasons are altogether unprofitable. If we are learning nothing else, we are learning how weak and impotent we are, and how unreliable are our constitution and habits except we have daily renewing grace” (= Hari demi hari? Ah, apakah di sana tidak ada hari-hari yang sia-sia / terbuang percuma, kelihatannya merupakan hari-hari yang tak berguna, bahkan hari-hari dimana doa dan kebaktian / pelayanan kudus kelihatan sebagai suatu beban? Tidak diragukan; tetapi kita tidak boleh menyimpulkan bahwa saat-saat ini sama sekali tidak bermanfaat. Jika kita tidak sedang belajar sesuatu apapun, maka kita sedang belajar betapa lemah dan tak berdayanya kita, dan betapa tak dapat dipercayanya komponen-komponen yang membentuk kita dan kebiasaan kita kecuali kita mendapatkan kasih karunia yang memperbaharui kita setiap hari) - hal 99-100.

c) Karena ia menganggap penderitaannya ringan dan bersifat sementara (2Kor 4:17. Lihat pembetulan terjemahan di atas pada point I,2).
Kata ‘ringan’ dalam 2Kor 4:17 ini hanya dalam perbandingan dengan kemuliaan yang akan datang (dikontraskan dengan kata ‘weight’ dalam terjemahan NASB/Lit). Demikian juga kata ‘sementara’ tidak berarti ‘cuma sebentar’ tetapi dikontraskan dengan kata ‘kekal’.

Charles Hodge: “These afflictions in themselves, and as they affected Paul’s consciousness, were exceedingly great; ... His afflictions were not light in the sense of giving little pain. ... It was only by bringing these sufferings into comparison with eternal glory that they dwindled into insignificance. So also when the apostle says that his afflictions were but for a moment, it is only when compared with eternity. They were not momentary so far as the present life was concerned. They lasted from his conversion to his martyrdom” (= Penderitaan ini sendiri, dan ketika penderitaan itu menyerang kesadaran Paulus, adalah sangat hebat; ... Penderitaannya tidak ringan dalam arti bahwa penderitaan itu memberikan rasa sakit hanya sedikit. ... Hanya dengan membandingkan penderitaan ini dengan kemuliaan kekal maka penderitaan itu menjadi kecil sehingga tidak berarti. Begitu juga ketika sang rasul berkata bahwa penderitaannya hanya sebentar / singkat, itu hanya pada waktu dibandingkan dengan kekekalan. Penderitaan itu tidaklah bersifat sementara sejauh hidup yang sekarang ini yang dipersoalkan. Penderitaan itu berlangsung mulai saat pertobatannya sampai ia mati syahid) - hal 479-480.

d)   Karena ia percaya penderitaannya mengerjakan kemuliaan baginya.
2Kor 4:17 - ‘mengerjakan bagi kami’.
Lit: ‘works for us’.
Alangkah berbedanya sikap Paulus di sini dengan sikap Yakub dalam Kej 42:36, dimana Yakub berkata: ‘Aku inilah yang menanggung segala-galanya’. Ini salah terjemahan.
NIV: ‘Everything is against me’ (= Segala sesuatu menentang aku).
KJV/NASB: ‘all these things are against me’ (= Semua hal ini menentang aku).

Adam Clarke: “All these things are against me, said poor desponding Jacob; whereas, instead of being against him, all these things were for him” (= Semua hal-hal ini menentang aku, kata Yakub yang putus asa; padahal semua hal-hal itu bukannya menentang dia, tetapi untuk dia).

Pulpit Commentary:
·   “So God’s providences are often misinterpreted by his saints” (= Demikianlah providensia Allah sering disalah-mengerti / disalah-tafsirkan oleh orang-orang kudusNya).
·      “How often the believer says, ‘All these things are against me.’ when he is already close upon that very stream of events which will carry him out of his distress into the midst of plenty, peace, and joy of a healed heart in its recovered blessedness” (= Betapa sering orang percaya berkata: ‘Semua hal ini menentang aku’ pada saat ia sudah dekat dengan aliran peristiwa-peristiwa yang akan membawanya keluar dari kesukaran / penderitaan ke tengah-tengah kelimpahan, damai dan sukacita dari hati yang disembuhkan dalam keberkatan yang dipulihkan).

Pada saat itu Yakub sebetulnya sudah dekat sekali dengan kebahagiaan yang luar biasa dimana ia bertemu kembali dengan Yusuf, dan semua yang ia alami ini mengerjakan baginya pertemuan yang berbahagia itu, tetapi pada saat seperti itu ia justru menjadi putus asa, dan mengira bahwa segala sesuatu menentangnya.
Bagi kita, karena kita mengetahui Kej 43-dst, maka kita bisa melihat betapa bodohnya Yakub. Tetapi bagi Yakubnya sendiri pada saat itu, segalanya terlihat gelap gulita, sehingga ia menjadi putus asa.

Penerapan: Kalau saudara adalah seorang anak Tuhan yang sungguh-sungguh, maka Tuhan tidak pernah dan tidak akan pernah bekerja menentang saudara. Sebaliknya Ia selalu bekerja untuk saudara! Bdk. Ro 8:28 (KJV): “... all things work together for good to them that love God” (= ... segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah).
Karena itu kalau saudara adalah anak Allah, dan pada saat ini segalanya kelihatan gelap gulita bagi saudara, jangan putus asa seperti Yakub. Percayalah bahwa Allah mengarahkan semua itu pada kebaikan saudara, dan mungkin sekali, sama seperti Yakub, saudara sudah dekat sekali dengan saat yang akan sangat membahagiakan saudara!

e)   Ia tidak memperhatikan yang kelihatan / yang sementara tetapi yang tidak kelihatan / yang kekal.
2Kor 4:18 - “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal”.

2)   Tabah.
2Kor 5:6,8 - ‘tabah’.
NASB/RSV: ‘good courage’ (= tabah / teguh hati). Ini yang diterima oleh Hodge.
NIV/KJV: ‘confident’ (= yakin).
Sekalipun selama hidup ia tetap jauh dari Tuhan / absen dari Tuhan, tetapi ia tetap tabah / yakin. Mengapa? Karena ia berjalan / hidup dengan iman bukan dengan penglihatan.
2Kor 5:7 - “Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat”.
NASB: ‘For we walk by faith not by sight’ (= Karena kita berjalan dengan iman bukan dengan penglihatan).
NIV: ‘We live by faith not by sight’ (= Kita hidup dengan iman bukan dengan penglihatan).
Absennya kita dari Tuhan / jauhnya kita dari Tuhan (2Kor 5:6b) menyebabkan kita harus berjalan dengan iman, bukan dengan penglihatan.

3)   Ia bukan hanya tidak takut mati, tetapi bahkan rindu pada kematian. Hal ini terlihat dari:

a)   2Kor 5:2-3.
·   2Kor 5:2 - “Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi (di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini).
*    Kata-kata yang saya letakkan dalam tanda kurung itu seharusnya tidak pernah ada. Dalam terjemahan-terjemahan bahasa Inggris maupun TB2-LAI bagian itu tidak ada.
*        2Kor 5:2 - ‘mengenakan’. Rumah di surga itu digambarkan sebagai pakaian (5:3).
Charles Hodge: “As the house from heaven is spoken of as a garment, being houseless is expressed by the word ‘naked’” (= Sebagaimana rumah dari surga dikatakan sebagai pakaian, ‘tidak mempunyai rumah’ dinyatakan oleh kata ‘telanjang’) - hal 494.
·    Mengeluh dalam 2Kor 5:2 ini disebabkan kerinduan pada surga, bukan seperti mengeluh dalam 2Kor 5:4 yang terjadi karena beratnya penderitaan.

b)   2Kor 5:4b - “karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama”. Ini salah terjemahan. TB2-LAI juga tidak memperbaiki kesalahan ini.
NASB: ‘because we do not want to be unclothed, but to be clothed’ (= karena kita tidak mau telanjang, tetapi berpakaian).
Mungkin artinya sama seperti 5:8 - “terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan”.
Jadi ini lagi-lagi menunjukkan keinginan untuk mati.

Mengapa Paulus bisa tidak takut mati, dan bahkan rindu pada kematian?

1.   Karena ia yakin akan keselamatannya.
¨      2Kor 5:1 - “Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia”.
Kata ‘tahu’ (bdk. 1Yoh 5:13) menunjukkan bahwa Paulus yakin akan keselamatannya. Demikian juga semua orang kristen harus yakin akan keselamatannya.
¨      2Kor 5:5 - “Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita”.
Allahlah yang mempersiapkan kita supaya sesuai dengan rumah di surga itu, dan Ia memberikan kita Roh KudusNya sebagai jaminan.
Charles Hodge: “All therefore in whom the Spirit dwells, i.e. manifests his permanent presence by producing within them the Christian graces, have the pledge of immediate admission into heaven when they die, and of a glorious resurrection when the Lord comes” (= Karena itu semua di dalam siapa Roh itu tinggal, yaitu menyatakan kehadiranNya yang permanen dengan menghasilkan di dalam mereka kasih karunia Kristen, mempunyai jaminan tentang ijin masuk ke surga langsung pada waktu mereka mati, dan tentang kebangkitan yang mulia pada saat Tuhan datang) - hal 496.

Tetapi bagaimana ia bisa yakin akan masuk surga padahal 2Kor 5:10 mengatakan: “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat”. Bukankah Paulus juga banyak dosanya seperti yang ia akui sendiri dalam Ro 7:18-19  1Tim 1:15  Gal 1:13  Fil 3:6a dsb? Jelas karena ia percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat dosanya. Ini menyebabkan ia tidak mungkin bisa dihukum (Ro 8:1 - “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus”).

Charles Hodge: “according to Scriptures and the doctrine of all Protestant churches, the blood of Jesus Christ cleanses from all sin, whether committed before or after baptism or conversion. ... On the ground of the one offering of Christ, by which those who believe are forever sanctified, (i.e. atoned for,) God does not impute to the penitent believer his sins unto condemnation. He is not judged by the law or treated according to its principles, for then no man could be saved. But he is treated as one for all whose sins, past, present, and future, an infinite satisfaction has been made, and who has a perpetual claim to that satisfaction so long as he is united to Christ by faith and the indwelling of his Spirit. ... The sacrifice of Christ avails for the sins committed from the foundation of the world to the final consummation. It affords a permanent and all-sufficient reason why God can be just and yet justify the ungodly” [= menurut Kitab Suci dan doktrin / ajaran semua gereja-gereja Protestant, darah Yesus Kristus menyucikan / membersihkan dari semua dosa, apakah itu dilakukan sebelum atau sesudah baptisan atau pertobatan. ... Berdasarkan satu korban Kristus, dengan mana mereka yang percaya dikuduskan (yaitu ditebus) untuk selamanya, Allah tidak memperhitungkan kepada orang percaya yang sudah menyesal / bertobat dosa-dosanya kepada penghukuman. Ia tidak dihakimi oleh hukum atau diperlakukan menurut prinsip-prinsip dari hukum itu, karena kalau demikian tidak ada orang yang bisa diselamatkan. Tetapi ia diperlakukan sebagai seseorang untuk siapa dosa-dosanya, yang lampau, yang sekarang, dan yang akan datang, telah dibuatkan pelunasan / penebusan yang tak terbatas, dan yang mempunyai hak yang kekal terhadap pelunasan / penebusan itu asalkan ia dipersatukan dengan Kristus oleh iman dan penghunian RohNya. ... Korban Kristus bermanfaat untuk dosa-dosa yang dilakukan sejak penciptaan dunia sampai akhir jaman. Itu memberikan alasan yang kekal dan mencukupi segala sesuatu mengapa Allah bisa adil dan tetap membenarkan orang yang jahat] - ‘I & II Corinthians’, hal 502-503.

2.   Karena ia percaya bahwa begitu ia mati, ia langsung masuk surga.

¨      2Kor 5:1 - “Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia”.
NIV/NASB: ‘we have a building from God’.
Perhatikan kata ‘have’ yang ada dalam present tense. Ini menunjukkan bahwa begitu kita mati kita langsung mendapatkan rumah itu.

Charles Hodge: “The present tense, EKHOMEN, is used because the one event immediately follows the other; there is no perceptible interval between the dissolution of the earthly tabernacle and entering on the heavenly house. As soon as the soul leaves the body it is in heaven. ... The soul therefore at death enters a house whose builder is God” (= Present tense, EKHOMEN, digunakan karena peristiwa yang satu langsung mengikuti yang lain; di sana tidak ada selang waktu yang terlihat di antara hancurnya kemah duniawi dan masuknya ke rumah surgawi. Begitu jiwa meninggalkan tubuh, jiwa itu ada di surga. ... Karena itu pada saat kematian jiwa memasuki suatu rumah yang pembangunnya adalah Allah) - hal 489.

¨      5:8b: ‘terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.
NASB: ‘to be at home with the Lord’ (= ada di rumah bersama Tuhan).
NIV: ‘at home with the Lord’ (= di rumah bersama Tuhan).
Lit: ‘to come home to the Lord’ (= pulang ke rumah kepada Tuhan).
Jadi, ini menunjukkan bahwa bagi Paulus ‘mati’ sama dengan ‘pulang ke rumah Bapa’ dan ini menunjukkan bahwa begitu seorang kristen mati ia langsung masuk surga.
Catatan: bagian ini juga menunjukkan bahwa keinginannya untuk mati, bukanlah sekedar merupakan keinginan yang bersifat egois untuk bebas dari segala penderitaan duniawi, tetapi karena ia ingin bersama dengan Tuhan. Bdk. Fil 1:23 - “aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus”.

Charles Hodge: “The soul of the believer does not cease to exist at death. It does not sink into a state of unconsciousness. It does not go into purgatory; but, being made perfect in holiness, it does immediately pass into glory. As soon as it is absent from the body, it is present with the Lord” (= Jiwa dari orang percaya tidak berhenti ada pada saat kematian. Jiwa itu tidak tenggelam / terbenam ke dalam keadaan tidak sadar. Jiwa itu tidak pergi ke api penyucian; tetapi, setelah disempurnakan dalam kekudusan, jiwa itu langsung masuk ke dalam kemuliaan. Begitu jiwa itu absen dari tubuh, jiwa itu hadir bersama Tuhan) - hal 488-489.

3.   Karena tanpa kematian ia tidak bisa masuk surga.
Calvin: “they feel this life to be a burden, because in it they cannot enjoy true and perfect blessedness, because they cannot escape from the bondage of sin otherwise than by death, and hence they aspire to be elsewhere” (= mereka merasa hidup ini sebagai suatu beban, karena mereka tidak bisa melepaskan diri dari belenggu dosa selain oleh kematian, dan karena itu mereka ingin ada di tempat lain) - hal 218-219.
Bdk. 1Kor 15:50 - ‘daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah’. Karena itu harus mati dulu baru bisa masuk surga.

4)   Baik hidup atau mati Paulus berusaha menyenangkan Tuhan.
2Kor 5:9 - “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepadaNya”.
NASB: ‘Therefore also we have as our ambition, whether at home or absent, to be pleasing to Him’ (= Karena itu juga kita mempunyai sebagai ambisi kita, apakah di rumah atau absen, untuk memperkenan / menyenangkan Dia).
Bdk. Ro 14:8 - “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan”.
Penerapan: apakah saudara mempunyai ambisi untuk menyenangkan Tuhan. Atau hanya ambisi untuk sukses secara duniawi, menjadi kaya, dsb.?

Mengomentari tentang 2Kor 5:10 (menghadap takhta pengadilan Kristus), William Barclay berkata: “Even when Paul was thinking of the life to come, he never forgot that we are on the way not only to glory, but also to judgment” (= Bahkan pada waktu Paulus sedang berpikir tentang kehidupan yang akan datang, ia tidak pernah melupakan bahwa kita ada dalam jalan bukan hanya menuju kemuliaan, tetapi juga menuju penghakiman) - hal 206.

Memang penebusan Kristus menyebabkan kita yang percaya kepadaNya tidak lagi bisa dihukum, tetapi pahala di surga tergantung pada kehidupan kita. Makin kita hidup memperkenan Allah, makin besar pahala kita, dan sebaliknya. Karena itu Paulus berusaha untuk hidup berkenan kepada Allah (2Kor 5:9). Kita seringkali cuma memikirkan tentang masuk surganya, sehingga kita cuma kepingin mati, tetapi kita tidak berusaha memperkenan Allah.

Penutup.


Semua orang mengalami kemerosotan secara jasmani, mengalami penderitaan, dan akhirnya akan mati dan menghadap pengadilan Kristus.

Kita bisa menghadapi semua itu dengan cara yang salah, misalnya:
·         dengan tetap tidak mau percaya kepada Yesus.
·         dengan menjadi kecewa dan putus asa.
·         dengan mengarahkan hidupnya pada hal-hal duniawi, khususnya uang.
·         dengan berjalan dengan penglihatan, bukan dengan iman.
·         dengan hidup memperkenan diri sendiri, bukan memperkenan Allah.
·         dengan sikap takut pada kematian dan pada penghakiman akhir jaman.

Tetapi kita juga bisa menghadapi semua itu dengan cara yang benar, seperti yang dilakukan oleh Paulus. Yang mana yang saudara pilih?


-AMIN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar