Jumat, 28 Maret 2014

PEMATAHAN KAKI DAN PENUSUKAN TOMBAK

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div

YOHANES 19:31-37


Catatan: pelajaran tentang Yoh 19:31-37 ini tidak disusun sebagai khotbah un-tuk kebaktian tetapi sebagai bahan untuk Pemahaman Alkitab.

I) Pematahan kaki (ay 31-33,36).

1)   Dalam tradisi penyaliban orang Romawi, mereka membiarkan begitu saja orang yang disalib itu sampai mati. Ini bisa memakan waktu berhari-hari. Setelah orang itu mati, kadang-kadang mereka membiarkan mayat itu begitu saja pada salibnya sebagai peringatan bagi semua orang, dan kadang-kadang mereka menurunkannya dan membiarkan mayat itu dima-kan burung pemakan bangkai / anjing.

Leon Morris (NICNT):
“The Roman custom was to leave the bodies of crucified criminals on their crosses as a warning to others. It was therefore necessary to obtain permission before removing a body” (= Kebiasaan Romawi adalah membiarkan mayat-mayat dari orang-orang kriminil yang disalib itu pada salib mereka sebagai suatu peringatan bagi yang lain. Karena itu perlu mendapatkan ijin sebelum menurunkan suatu mayat / tubuh).

William Barclay:
“When the Romans carried out crucifixion under their own customs, the victim was simply left to die on the cross. He might hang for days in the heat of the midday sun and the cold of the night, tortured by thirst and tortured also by the gnats and the flies crawling in the weals on his torn back. Often men died raving mad on their crosses. Nor did the Romans bury the bodies of crucified criminals. They simply took them down and let the vultures and the crows and the dogs feed upon them” (= Kalau orang Romawi melakukan penyaliban dalam tradisi mereka, korban dibiarkan begitu saja untuk mati pada salib. Ia bisa tergantung selama berhari-hari dalam panasnya matahari pada tengah hari dan dinginnya malam, disiksa oleh kehausan dan disiksa juga oleh serangga dan lalat yang merayap pada punggungnya yang sudah tercabik-cabik. Seringkali orang-orang mati pada salib mereka sambil ngoceh tak karuan seperti orang gila. Juga orang Romawi tidak mengubur mayat-mayat dari penjahat-penjahat yang disalib. Mereka hanya menurun-kan mereka dan membiarkan burung pemakan bangkai dan gagak dan anjing memakan mereka).

2)   Orang-orang (tokoh-tokoh) Yahudi meminta dilakukannya pematahan kaki dan penurunan mayat dari kayu salib (ay 31). Mengapa?

a)         Mereka harus mempersiapkan diri untuk masuk hari Sabat (ay 31).
Persiapan Sabat dimulai Jum’at pukul 3 siang.

b)         ‘Sabat itu adalah hari yang besar’ (ay 31).
Maksudnya itu adalah Sabat yang istimewa, karena menjelang / bertepatan dengan Paskah / Passover.
Catatan: Paskah di sini bukan ‘Easter’ (= Paskah Perjanjian Baru yang menunjuk pada khari Kebangkitan Yesus), tetapi ‘Passover’ (Paskah Perjanjian Lama, yaitu hari peringatan keluarnya orang Israel dari Mesir).

c)   Mereka tidak mau bahwa pada hari Sabat istimewa itu, tanah mereka dinajiskan oleh adanya mayat / orang yang tergantung pada salib.
Bdk. Ul 21:22-23 - “(22) ‘Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada sebuah tiang, (23) maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu.’”.

d)   Tentang hukum dalam Ul 21:22-23 ini, perlu diketahui bahwa pada jaman Perjanjian Lama salib belum dikenal. Karena itu Ul 21:22-23 sebetulnya menunjuk pada hukuman gantung dimana orangnya lang-sung mati, atau menunjuk kepada orang yang setelah dihukum mati, lalu mayatnya digantung. Tetapi pada jaman Yesus, hukum ini dite-rapkan pada penyaliban yang bisa berlangsung berhari-hari. Bahwa orang yang disalib bisa bertahan berhari-hari, terlihat dari kutipan-kutipan di bawah ini:

‘The International Standard Bible Encyclopedia’ dalam article berjudul ‘Cross’ berkata sebagai berikut:
“The length of this agony was wholly determined by the constitution of the victim and the extent of the prior flogging, but death was rarely seen before 36 hours had passed (= Lamanya / panjangnya penderitaan ini se-penuhnya ditentukan oleh keberadaan korban itu secara fisik dan mental dan tingkat pencambukan yang mendahuluinya, tetapi kematian jarang terlihat sebelum 36 jam berlalu).
Bandingkan dengan Mark 15:44 dimana Pilatus heran karena Yesus mati begitu cepat.

Thomas Whitelaw:
“When violence was not used, the crucified often lived 24 or 36 hours, sometimes three days and nights (= Kalau kekerasan tidak digunakan, orang yang disalib sering hidup selama 24 atau 36 jam, kadang-kadang 3 hari 3 malam).

William Barclay dalam komentarnya tentang Luk 23:32-38 berkata se-bagai berikut:
“Many a criminal was known to have hung for a week upon his cross until he died raving mad” (= Banyak penjahat diketahui tergantung selama seminggu pada salibnya sampai ia mati sambil mengoceh tidak karuan seperti orang gila).

‘Unger’s Bible Dictionary’ dalam artikel berjudul ‘Crucifixion’ berkata sebagai berikut:
“Instances are on record of persons surviving nine days (= Ada contoh-contoh / kejadian-kejadian yang tercatat dari orang-orang yang bertahan sampai 9 hari).

e)   Kalau orang hukuman itu diturunkan dari salib dalam keadaan masih hidup, maka itu berarti bahwa ia tidak jadi dihukum mati. Karena itulah mereka meminta dilakukan pematahan kaki lebih dulu, supaya orang hukuman itu cepat mati. Setelah orangnya mati, barulah mayatnya diturunkan.

Dari semua ini terlihat bahwa orang-orang Yahudi ini mentaati peraturan kecil, tetapi melanggar peraturan besar, yaitu membunuh Yesus yang tak bersalah. Bandingkan dengan kecaman Yesus terhadap mereka dalam Mat 23:23-24 - “(23) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. (24) Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan”.

Charles Haddon Spurgeon:
“Their consciences were not wounded by the murder of Jesus, but they were greatly moved by the fear of ceremonial pollution. Religious scruples may live in a dead conscience” (= Hati nurani mereka tidak terluka oleh pembunuhan terhadap Yesus, tetapi mereka sangat tergerak oleh rasa takut akan pen-cemaran yang bersifat upacara. Keberatan agama bisa hidup dalam hati nurani yang mati) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’,  hal 665.

3)   Tentang pematahan kaki.
Para penafsir mengatakan bahwa pematahan kaki orang yang disalib ini dilakukan pada bagian di antara lutut dan pergelangan kaki, dan ini di-lakukan dengan menggunakan besi atau martil yang berat. Ini tentu meru-pakan suatu tindakan yang sangat kejam, karena menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, tetapi pematahan kaki ini mempercepat kematian.

Pulpit Commentary:
“Though a cruel act, it was designed to shorten the sufferings of the crucified” (= Sekalipun merupakan tindakan yang kejam, tindakan ini bertujuan untuk memperpendek penderitaan orang yang disalib).

Pulpit Commentary:
“ ...  a brutal custom, which added to the cruel shame and torment, even though it hastened the end” (= ... kebiasaan / tradisi yang brutal, yang ditambahkan pada rasa malu dan penyiksaan yang kejam, sekalipun ini mempercepat kematian).

Ada 2 pandangan mengapa pematahan kaki bisa mempercepat kematian:

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Crucifixion’: Death, apparently caused by exhaustion or by heart failure, could be hastened by shattering the legs (crurifragium) with an iron club, so that shock and asphyxiation soon ended his life [= Kematian, rupanya disebabkan oleh kehabisan tenaga atau oleh gagal jantung, bisa dipercepat oleh penghancuran kaki-kaki (crurifragrium) dengan suatu pentungan besi, sehingga kejutan / shock dan sesak nafas segera mengakhiri hidupnya].

a)         Karena sesak nafas.
Orang yang disalib sukar bernafas, dan setiap mau bernafas harus menjejakkan kakinya untuk mengangkat dadanya ke atas. Pada waktu kaki-kakinya dipatahkan, maka ia tidak lagi bisa melakukan hal ini, dan akan mengalami sesak nafas, yang mempercepat kematiannya.

F. F. Bruce:
“The common view today seems to be that the breaking of the legs hastened death by asphyxiation. The weight of the body fixed the thoracic cage so that the lungs could not expel the air which was breathed in, but breathing by diaphragmatic action could continue for a long time so long as the legs, fastened to the cross, provided a point of leverage. When the legs were broken this leverage was no longer available and total asphyxia followed rapidly” (= Kelihatannya pandangan yang umum pada jaman ini  adalah bahwa pematahan kaki mempercepat kematian oleh sesak nafas. Berat badan menyebabkan ruang dada tidak bisa dikempiskan sehingga paru-paru tidak dapat mengeluarkan udara yang dihisap, tetapi bernafas dengan menggunakan diafragma bisa dilakukan untuk waktu yang lama selama kaki, yang dipakukan pada salib, memberikan tekanan ke atas. Pada waktu kaki-kaki dipatahkan pengangkatan ke atas ini tidak ada lagi, dan sesak nafas total akan menyusul).

Leon Morris (NICNT):
“The victims of this cruel form of execution could ease slightly the strain on their arms and chests by taking some of their weight on the feet. This helped to prolong their lives somewhat. When the legs were broken this was no longer possible. There was then a greater constriction of the chest, and the death came on more quickly. This was aided also, of course, by the shock attendant on the brutal blows as the legs were broken with a heavy mallet” (= Korban-korban dari hukuman mati yang kejam ini bisa mengurangi sedikit ketegangan pada lengan dan dada mereka dengan memindahkan sebagian berat pada kaki / menekan pada kaki. Ini menolong untuk memperpanjang hidup mereka. Pada saat kaki mereka dipatahkan ini tidak lagi mungkin dilakukan. Karena itu lalu terjadi kesesakan yang lebih besar pada dada, dan kematian datang lebih cepat. Tentu saja ini didukung pula oleh kejutan yang menyertai pukulan-pukulan brutal pada saat kaki-kaki mereka dipatahkan dengan martil yang berat).

b)   Adanya rasa sakit yang luar biasa atau shock / kejutan yang ditim-bulkannya, sehingga menyebabkan terjadinya kematian.

Charles Haddon Spurgeon:
“... hastening death by the terrible pain which it would cause, and the shock to the system which it would occasion” (= ... mempercepat kematian oleh rasa sakit yang luar biasa yang disebabkannya, dan kejutan pada sistim yang ditimbulkannya) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’,  hal 666.

William Hendriksen:
“Such breaking of the bones (crurifragium, as it is called) by means of the heavy blows of a hammer or iron was frightfully inhuman. It caused death, which otherwise might be delayed by several hours or even days. Says Dr. S. Bergsma in an article ...: ‘The shock attending such cruel injury to bones can be the coup de grace causing death’” [= Pematahan tulang (disebut dengan istilah crurifragium) dengan cara pemukulan menggunakan martil atau besi merupakan sesuatu yang menakutkan yang tidak manusiawi. Ini menyebabkan kematian, yang sebetulnya bisa ditunda beberapa jam atau bahkan beberapa hari. Kata Dr. S. Bergsma dalam suatu artikel... : ‘Kejutan yang ditimbulkan oleh pelukaan yang kejam pada tulang seperti itu bisa menjadi tindakan yang mengakhiri penderitaan dengan kematian’].

4)   Para tentara Romawi lalu mematahkan kaki dari 2 penjahat yang disalib bersama Yesus (ay 32).

a)   Sesuatu yang penting diperhatikan dalam bagian ini adalah bahwa penjahat yang bertobat mengalami nasib yang sama dengan penjahat yang tidak bertobat. Tuhan tidak lalu mengadakan ‘rapture’ bagi dia dan ‘mengambilnya’ sebelum hal itu dilakukan!

Charles Haddon Spurgeon:
“It is a striking fact that the penitent thief, although he was to be in Paradise with the Lord that day, was not, therefore, delivered from the excruciating agony occasioned by the breaking of his legs. We are saved from eternal misery, not from temporary pain” (= Adalah merupakan fakta yang menyolok bahwa pencuri / penjahat yang bertobat, sekalipun akan bersama dengan Tuhan di Firdaus pada hari itu, tidak dibebaskan dari penderitaan yang menyakitkan yang ditimbulkan oleh pematahan kaki-nya. Kita diselamatkan dari kesengsaraan kekal, bukan dari rasa sakit sementara) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’,  hal 666.

Penerapan:
·         Seorang kristen berkata kepada saya bahwa menurut dia 5 orang yang mati dibakar di Situbondo itu pasti tidak merasa sakit. Sebelum mereka merasa sakit, Tuhan sudah ‘mengangkat’ mere-ka. Saya sama sekali tidak yakin akan kebenaran kata-kata ini!
·         Kalau ada gempa bumi, banjir, atau bencana lain apapun juga, jangan heran kalau gereja / orang kristen juga terkena. Tuhan memang bisa menghindarkan hal itu dari gereja / orang kristen, dan kadang-kadang Ia melakukan hal itu, tetapi seringkali Ia membiarkan orang kristen terkena bencana bersama-sama dengan orang kafir!

b)   Tetapi sekalipun pematahan kaki ini memberi penderitaan luar biasa bagi penjahat yang bertobat itu, pematahan kaki ini juga dipakai oleh Tuhan untuk memberi berkat kepadanya, karena melalui pematahan kaki ini ia mati hari itu juga sehingga kata-kata / janji Yesus kepadanya dalam Luk 23:43 tergenapi.

Charles Haddon Spurgeon:
“Suffering is not averted, but it is turned into a blessing. The penitent thief entered into Paradise that very day, but it was not without suffering; say, rather, that the terrible stroke was the actual means of the prompt fulfilment of his Lord’s promise to him. By that blow he died that day; else might he have lingered long” (= Penderitaan tidak dicegah / dihindarkan, tetapi penderitaan itu diubah menjadi suatu berkat. Pencuri yang bertobat itu masuk ke Firdaus hari itu juga, tetapi itu tidak terjadi tanpa penderitaan; sebaliknya pukulan yang mengerikan itu merupakan jalan / cara yang sebenarnya untuk penggenapan yang tepat dari janji Tuhannya kepadanya. Oleh pukulan itu ia mati pada hari itu; kalau tidak ia mungkin akan tetap hidup lama) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’,  hal 666.

5)   Yesus sudah mati, sehingga kakiNya tidak dipatahkan (ay 33).
Allah mengatur supaya Yesus mati lebih dulu, supaya tulangNya tidak dipatahkan. Bisa juga dikatakan bahwa Yesusnya sendiri mengatur supaya Ia mati lebih dulu, sehingga tulangNya tidak dipatahkan. Bahwa Yesusnya sendiri mengatur kematianNya bisa terlihat dari Mat 27:50 dan Luk 23:46 dimana Ia mati karena Ia menyerahkan nyawa / rohNya ke tangan Bapa. Bandingkan ini dengan Yoh 10:17b-18 yang berbunyi:

“Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali. Tidak seorang-pun mengambilnya dari padaKu, melainkan Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa meng-ambilnya kembali”.

Ini tidak berarti bahwa Ia tidak memikul sepenuhnya hukuman dosa kita. Perhatikan ay 28 yang mengatakan bahwa ‘semuanya telah selesai’. Juga ay 30 dimana Yesus berkata ‘Sudah selesai’. Jadi Ia menyerahkan nyawa / rohNya, setelah penebusan dosa yang dilakukanNya selesai.
Tetapi bagaimana bisa selesai padahal Ia belum mati? Calvin mengata-kan bahwa tentu Yesus sudah memperhitungkan kematianNya di dalam kata-kata ‘Sudah selesai’ itu.

6)   Mengapa Allah / Yesus mengatur sehingga kaki Yesus tidak dipatahkan?
Jawabnya ada dalam ay 36. Jadi, kaki / tulang Yesus dijaga supaya tidak dipatahkan, supaya nubuat Kitab Suci / Perjanjian Lama tergenapi. Nubuat yang mana?

·         Ada yang mengatakan bahwa nubuat yang tergenapi adalah Maz 34:21 (dalam bahasa Inggris - Psalm 34:20). Tetapi kebanyakan penafsir menganggap bahwa tidak dipatahkannya kaki Yesus bukan merupakan penggenapan dari Maz 34:21 ini, karena ayat ini tidak berbicara tentang Kristus, tetapi tentang orang benar secara umum. Dan kalau dikatakan tulang orang benar dijaga supaya tidak patah, tentu tidak boleh diartikan secara hurufiah. Maksudnya adalah bahwa Allah akan menjaga kesejahteraannya secara umum.

F. F. Bruce:
“Whereas in Ps. 34:20 the guarding of the righteous man’s bones means the preservation of his general well-being, the literal sense of the term in John’s narrative consorts better with its literal sense in the prescription regarding the passover lamb” (= Mengingat bahwa dalam Maz 34:21 penjagaan tulang orang benar berarti penjagaan / pemeliharaan kese-jahteraan / kesehatannya secara umum, arti hurufiah dari istilah itu dalam cerita Yohanes  lebih cocok dengan arti hurufiahnya dalam pe-tunjuk / ketentuan tentang domba Paskah).

·         Nubuat yang digenapi dengan tidak dipatahkannya kaki / tulang Yesus adalah Kel 12:46 dan Bil 9:12, yang memberi peraturan tentang dom-ba Paskah (Passover Lamb), dimana tulangnya tidak boleh dipatah-kan. Domba Paskah ini adalah Type / gambaran dari Kristus (1Kor 5:7).

II) Penusukan tombak (ay 34-35,37).

1)   Tentara Romawi sebetulnya mau mematahkan kaki Yesus, tetapi melihat bahwa Yesus sudah mati, mereka tidak mematahkan kaki Yesus. Tetapi seorang tentara, mungkin karena ingin memastikan kematian Yesus, atau mungkin sekedar ingin melakukan sesuatu yang brutal terhadap mayat Yesus, lalu menusuk Yesus dengan tombak (ay 34).

2)   Penusukan tombak terhadap Yesus.

a)         Di bagian mana Yesus ditusuk dengan tombak?
Kitab Suci Indonesia menterjemahkan ‘lambung’. Ini salah terjemahan.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘side’ (= sisi).

b)   Yesus ditusuk tombak di rusuk / sisi yang mana? Yang kiri atau yang kanan?
Ada tradisi yang mengatakan rusuk kanan, dan beberapa penafsir mengatakan bahwa kita tidak bisa tahu apakah itu rusuk kiri atau kanan. Tetapi saya sangat condong untuk menyetujui pandangan dari mayoritas penafsir yang mengatakan bahwa yang ditikam adalah rusuk kiri. Alasannya:
·         Seorang tentara dilatih untuk membunuh, sehingga tentu ia akan menusuk jantung.
·         Kalau tentara itu tidak kidal, maka ia akan memegang tombak dengan tangan kanan di bagian belakang tombak dan tangan kiri di bagian depan tombak. Dalam posisi seperti ini, kalau ia mau menusuk rusuk kanan Yesus, ia harus berada hampir di belakang Yesus. Ini rasanya tidak memungkinkan. Lebih mungkin ia menu-suk pada posisi berhadapan derngan Yesus, sehingga pasti akan menusuk rusuk kiri Yesus.
William Hendriksen:
“If the spear was held in the right hand, as is probable, it was in all likelihood the left side of Jesus that was pierced” (= Jika tombak itu dipegang dalam tangan kanan, dan ini mungkin sekali, maka besar kemungkinannya bahwa sisi / rusuk kiri Yesus yang ditusuk).
·         Ada juga yang mengatakan bahwa kalau yang ditusuk bukan rusuk kiri maka tidak mungkin bisa keluar darah dan air.

c)         Arah penusukan tombak.
Kita perlu mengingat bahwa orang yang disalib posisinya lebih tinggi sekitar 3 kaki (90 cm) dari orang lain.

William Barclay (dalam Luk 23:32-38):
“It was quite low, so that the criminal’s feet were only two or three feet above the ground” (= Itu cukup rendah, sehingga kaki dari orang kriminil itu hanyalah 2 atau 3 kaki di atas tanah).

Penafsir yang lain mengatakan jarak / tinggi kaki orang yang disalib dari tanah adalah 3-4 kaki.

Karena orang yang disalib itu letaknya agak tinggi, jelas bahwa arah penusukan tombak itu ke atas (ke jantung).

Charles Haddon Spurgeon:
“... probably thrusting his lance quite through the heart” (= ... mungkin menusukkan tombaknya betul-betul menembus jantung) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’,  hal 667.

d)         Dalamnya penusukan tombak / besarnya luka penusukan tombak.
Luka pada rusuk Yesus karena penusukan tombak ini cukup besar. Dari mana kita tahu hal itu? Dari:
·         Yoh 20:25 - ‘... sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambungNya ...’.
·         Yoh 20:27 - ‘Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu, ulur-kanlah tanganmu dan cucukkanlah ke dalam lambungKu ...’.

Untuk bekas paku di tangan Yesus, Thomas ingin mencucukkan jarinya, tetapi untuk bekas tombak pada rusuk Yesus, Thomas ingin mencucukkan tangannya. Ini menunjukkan bahwa bekas penusukan tombak itu sangat besar dan jauh lebih besar dari bekas paku di tangan Yesus. Supaya bisa menghasilkan lubang sebesar itu tombak harus ditusukkan cukup dalam, sedikitnya sedalam 4-5 inci.

e)         Komentar tentang lubang penusukan tombak.
George Hutcheson:
“As a hole was made in Adam’s side to take out a wife, so a hole was made in his side to take in his beloved bride to his heart” (= Sebagaimana sebuah lubang dibuat pada rusuk Adam untuk mengeluarkan seorang istri, begitu juga sebuah lubang dibuat di rusukNya untuk memasukkan pengantin tercintaNya kepada jantung / hatiNya).

f)    Perlu ditekankan bahwa bukan penusukan tombak itu yang menye-babkan Yesus mati, karena pada waktu ditusuk tombak, Yesus sudah mati (ay 33), hanya saja kita tidak tahu sudah berapa lama Ia mati.

Hendriksen mengutip Dr. Bergsma:
“To presuppose, as some do, that the spear pierced the still living heart, and thus to account for the blood and water is contrary ... to science, for pure blood would have issued forth. It was in the crucifixion itself that his death was to be accomplished, not in a spear-thrust by a soldier” (= Menganggap, seperti yang dilakukan beberapa orang, bahwa tombak itu menusuk jantung yang masih hidup, sehingga menyebabkan keluarnya darah dan air, bertentangan ... dengan ilmu pengetahuan, karena kalau demikian maka darah murni yang akan keluar. Dalam penyaliban itu sendiri kematianNya terjadi, bukan dalam penusukan tombak oleh seorang tentara).

3)   Pada waktu Yesus ditusuk tombak, maka keluar darah dan air (ay 34b).
Keluarnya darah dan air dari rusuk Yesus ini membingungkan semua penafsir, karena banyak orang berkata bahwa kalau orang hidup ditusuk maka hanya akan keluar darah (tanpa air), dan kalau orang mati ditusuk maka tidak akan keluar apa-apa. Lalu mengapa pada waktu Yesus ditusuk, bisa keluar darah dan air?
Ada yang sekedar mengatakan bahwa Yohanes tidak mempedulikan penyebab kematian Kristus, atau bagaimana Kristus mati, tetapi hanya peduli dengan fakta bahwa Kristus memang sudah mati.

F. F. Bruce:
“Not surprisingly, the diagnoses have varied: for one thing, John does not say which side was pierced (an early tradition specifies the right side)” [= Tidak mengherankan kalau diagnosa-diagnosa berbeda-beda / bervariasi: karena satu hal, Yohanes tidak mengatakan sisi / rusuk yang mana yang ditikam (suatu tradisi kuno menyatakan sisi / rusuk kanan)].

F. F. Bruce:
“... but it was with the fact of death, not with the cause of death, that John was concerned” (= ... tetapi yang diperhatikan oleh Yohanes adalah fakta ke-matiannya, bukan penyebab kematiannya).

Tetapi kebanyakan penafsir berusaha menjelaskan bagaimana darah dan air itu bisa keluar dari rusuk Yesus. Ada bermacam-macam teori yang mencoba untuk menjelaskan hal ini:

a)         Ini adalah mujijat / tanda.
Origen mengatakan bahwa darah membeku pada orang mati, dan air juga tak akan keluar dari orang mati. Karena itu ini jelas adalah suatu mujijat.

b)   Darah keluar dari jantung dan air keluar dari pericardium / kantung pembungkus jantung.

Barnes’ Notes:
“The heart is surrounded by a membrane called the pericardium. This membrane contains a serous matter or liquor resembling water, which prevents the surface of the heart from becoming dry by its continual motion” (= Jantung dibungkus oleh membran yang disebut pericardium. Membran ini terdiri dari zat yang tipis dan berair atau cairan yang mirip air, yang menjaga supaya permukaan jantung tidak menjadi kering karena pergerakannya yang terus-menerus).

Catatan:
Pericardium = PERI (= around / sekeliling) + KARDIA (= heart / jantung). Jadi Pericardium = the thin, membrane sac enclosing the heart (= kantung membran tipis yang membungkus jantung).

Adam Clarke:
“It may be naturally supposed that the spear went through the pericardium and pierced the heart; that the water proceeded from the former, and the blood from the latter” (= Adalah wajar untuk menganggap bahwa tombak itu menembus pericardium dan menusuk jantung; bahwa air keluar dari yang terdahulu, dan darah dari yang terakhir).

c)   Ini disebabkan pencambukan yang dialami Yesus.
‘The International Standard Bible Encyclopedia’ dalam article berjudul ‘Blood and water’:
“A. F. Sava ... suggests that the blood and water were accumulated in the pleural cavity between the rib cage and the lung. He shows that severe nonpenetrating chest injuries are capable of producing such an accumulation, and suggests that a scourging such as Jesus received several hours before His death was sufficient to account for the accumulation that flowed forth when the chest wall was pierced. Also, there was enough time between the scourging and the piercing to allow the red blood cells to separate from the lighter clear serum” (= A. F. Sava ... mengusulkan bahwa darah dan air terkumpul dalam rongga di antara rusuk dan paru-paru. Ia menunjukkan bahwa luka-luka hebat yang tidak menembus dada bisa menimbulkan pengumpulan seperti itu, dan mengatakan bahwa pencambukan seperti yang diterima oleh Yesus beberapa jam sebelum kematianNya cukup untuk menimbulkan pengumpulan itu, yang lalu keluar pada waktu dinding dada ditikam. Juga, ada cukup waktu antara pencambukan dan penikaman untuk mengijinkan sel-sel darah merah berpisah dengan cairan jernih yang lebih encer).

d)         Tubuh / daging Yesus unik, karena tidak mengalami pembusukan.

Charles Haddon Spurgeon:
“It was supposed by some that by death the blood was divided, the clots parting from the water in which they float, and that in a perfectly natural way. But it is not true that blood would flow from a dead body if it were pierced. ... The flowing of this blood from the side of our Lord cannot be considered as a common occurrence ... Granted, that blood would not flow from an ordinary dead body; yet remember, that our Lord’s body was unique, since it saw no corruption. ... therefore there is no arguing from facts about common bodies so as to conclude therefrom anything concerning our blessed Lord’s body” (= Beberapa orang menganggap bahwa oleh kematian darah dipisahkan, bekuan-bekuan darah berpisah dari air dimana mereka mengapung, dan itu terjadi betul-betul secara alamiah. Tetapi adalah tidak benar bahwa darah akan keluar dari mayat yang ditikam. ... Mengalirnya darah dari rusuk Tuhan kita tidak bisa dianggap sebagai kejadian yang umum ... Memang darah tidak akan mengalir dari mayat biasa; tetapi ingat bahwa tubuh Tuhan kita itu unik, karena tubuh itu tidak mengalami pembusukan. ... karena itu tidak ada perdebatan dari fakta-fakta tentang mayat-mayat biasa untuk menyimpulkan dari sana apapun tentang tubuh Tuhan kita yang mulia / diberkati) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’,  hal 667.

Catatan:
·         Spurgeon mengatakan bahwa tubuh Kristus tidak mengalami pembusukan berdasarkan Kis 2:31, yang mengutip dari Maz 16:10. Tetapi untuk bagian-bagian ini Kitab Suci Indonesia salah ter-jemahan, karena menterjemahkannya ‘tidak mengalami kebina-saan’.
NASB/Lit: ‘nor did His flesh suffer decay’ (= dagingNya tidak mengalami pembusukan).
NIV: ‘nor did his body suffer decay’ (= tubuhNya tidak mengalami pembusukan).
KJV: ‘neither his flesh did see corruption’ (= dagingNya tidak meng-alami pembusukan).
RSV: ‘nor did his flesh see corruption’ (= dagingNya tidak meng-alami pembusukan).
·         Penjelasan Spurgeon ini tidak menjelaskan mengapa rusuk Yesus bisa mengeluarkan air.

e)         Darah dari jantung, air dari lambung.
Tasker (Tyndale) mengutip kata-kata / pendapat seorang dokter yang bernama John Lyle Cameron:

“After pointing out that the unexpectedly early death of Jesus is a clear indication that a fatal complication had suddenly developed, he asserts that the insatiable thirst and the post-mortem treatment of the body described in John 19:34 substantiate the conclusion that this complication could only have been acute dilatation of the stomach. He then adds: ‘The soldier was a Roman: he would be well trained, proficient, and would know his duty. He would know which part of the body to pierce in order that he might obtain a speedily fatal result or ensure that the victim was undeniably dead. He would thrust through the left side of the chest a little below the centre. Here he would penetrate the heart and the great blood vessels at their origin, and also the lung on the side. The soldier, standing below our crucified Lord as He hung on the cross, would thrust upwards under the left ribs. The broad, clean cutting, two-edged spearhead would enter the left side of the upper abdomen, would open the greatly distended stomach, would pierce the diaphragm, would cut, wide open, the heart and great blood vessels, arteries and veins now fully distended with blood, a considerable proportion of all the blood in the body, and would lacerate the lung. The wound would be large enough to permit the open hand to be thrust into it. Blood from the greatly engorged veins, pulmonary vessel and dilated right side of the heart, together with water from the acutely dilated stomach, would flow forth in abundance.’” (= Setelah menunjukkan bahwa kematian cepat yang tidak terduga dari Yesus merupakan petunjuk yang jelas bahwa komplikasi yang fatal telah terjadi, ia menegaskan bahwa kehausan yang tidak terpuaskan dan tindakan yang dilakukan kepada tubuh setelah mati dalam Yoh 19:34 menyokong / membenarkan kesimpulan bahwa kom-plikasi ini adalah lambung / usus yang membesar secara akut. Ia lalu menambahkan: ‘Tentara itu adalah tentara Romawi: ia terlatih dengan baik, cakap, dan tahu kewajibannya. Ia tahu bagian mana dari tubuh yang harus ditusuk supaya mendapatkan hasil fatal yang cepat atau memastikan bahwa korban itu betul-betul mati. Ia menikam melalui bagian kiri dari dada sedikit di bawah pusat. Di sini ia akan menembus jantung dan pembuluh-pembuluh darah besar pada asal mulanya / pangkalnya, dan juga paru-paru. Tentara itu, berdiri di bawah Tuhan kita yang tergantung pada kayu salib, menusuk ke atas di bawah rusuk kiri. Mata tombak yang lebar, tajam, bermata dua menusuk perut atas, membuka lambung / usus yang menggelembung besar, menusuk dia-fragma, memotong, membuka lebar, jantung dan pembuluh-pembuluh darah besar, arteri dan pembuluh darah sekarang menggelembung dengan darah, bagian yang cukup banyak dari semua darah dalam tubuh, dan mencabik paru-paru. Luka itu cukup besar untuk memung-kinkan tangan terbuka dimasukkan ke dalamnya. Darah dari pembuluh darah yang sangat padat dengan darah, pembuluh paru-paru dan bagian kanan dari jantung yang membesar, bersama-sama dengan air dari lambung / usus yang membesar secara akut, mengalir keluar dalam jumlah yang banyak).

f)          Teori jantung pecah.
William Barclay:
“Normally, of course, the body of a dead man will not bleed. It is suggested that what happened was that Jesus’s experiences, physical and emotional, were so terrible that his heart was ruptured. When that happened the blood of the heart mingled with the fluid of the pericardium which surrounds the heart. The spear of the soldier pierced the pericardium and the mingled fluid and blood came forth. It would be poignant thing to believe that Jesus, in the literal sense of the term, died of a broken heart” (= Biasanya, tentu saja, tubuh orang mati tidak mengeluarkan darah. Diusulkan bahwa apa yang terjadi adalah bahwa pengalaman Yesus, secara fisik dan emosi, begitu mengerikan sehingga jantungNya pecah. Pada saat hal ini terjadi darah dari jantung bercampur dengan cairan dari kantung pembungkus jantung. Tombak tentara itu menusuk kantung pembungkus jantung dan campuran cairan dan darah itu keluar. Adalah sesuatu hal yang meme-dihkan untuk percaya bahwa Yesus, dalam arti hurufiah dari istilah ini, mati karena jantung yang pecah).

William Hendriksen:
“... the death of Jesus resulted from rupture of the heart in consequence of great mental agony and sorrow. Such a death would be almost instantaneous, and the blood flowing into the pericardium would coagulate into the red clot (blood) and the limpid serum (water). This blood and water would then be released by the spear-thrust” [= kematian Yesus diakibatkan oleh pecahnya jantung sebagai akibat dari penderitaan mental dan kesedihan yang hebat. Kematian seperti itu terjadi hampir seketika, dan darah yang mengalir ke pericardium (kantung membran tipis yang membungkus jantung) akan membeku / mengental menjadi gumpalan merah (darah) dan serum / cairan yang transparan (air). Darah dan air ini lalu keluar karena tusukan tombak].

William Hendriksen:
“He (Dr. Bergsma) wisely refrains from drawing a definite conclusion. The matter is too uncertain, and specialists on heart-diseases (and particularly on the rupture of the heart) do not seem to be in complete agreement. Nevertheless, it is clear from the article that Dr. Bergsma leans somewhat toward the ruptured-heart theory as an explanation of the blood and water issuing from the side of Jesus” [= Ia (Dr. Bergsma) secara bijaksana menahan diri dari penarikan kesimpulan yang pasti. Persoalan ini terlalu tidak pasti, dan para spesialis penyakit jantung (dan khususnya tentang pecahnya jantung) tidak sependapat dalam hal ini. Meskipun demikian, jelas dari artikel itu bahwa Dr. Bergsma condong pada teori jantung pecah ini sebagai penjelasan dari darah dan air yang keluar dari sisi / rusuk Yesus].

Penolakan terhadap teori jantung pecah:
‘The International Standard Bible Encyclopedia’ dalam article berjudul ‘Blood and water’ menolak teori jantung pecah ini dengan berkata:
“The romantic notion that Jesus died literally of a broken heart - first advanced by Stroud in 1847 - has fallen from favor. Spontaneous rupture of the heart is not unknown, but it does not occur under the pressure of mental or emotional stress. It is the result of preexisting heart disease, for which, in the case of Jesus, we have no indication” (= Pikiran / gagasan yang romantis bahwa Yesus secara hurufiah mati karena jantung yang pecah - mula-mula diajukan oleh Stroud pada tahun 1847 - telah kehilangan peminat. Pecahnya jantung dengan sendirinya memang dikenal, tetapi hal itu tidak terjadi di bawah tekanan mental atau emosi. Itu merupakan akibat dari penyakit jantung yang mendahuluinya, untuk mana, dalam kasus Yesus, kita tidak mempunyai petunjuk).

Jawaban terhadap penolakan ini:
Terhadap ini perlu dijawabkan bahwa apa yang Yesus alami pada saat itu memang luar biasa, sehingga tidak perlu heran kalau terjadi hal yang unik / lain dari pada lain.

·         Hendriksen mengutip Dr. Bergsma:
“... the presence of any considerable quantity of serum and blood clot, issuing after a spear wound as described above, could only come from the heart or the pericardial sac. We must agree from the outset that no pre-existing disease affected Christ’s body. He was a perfect lamb of God. It is extremely rare, well-nigh impossible, authorities say, for the normal heart muscle to rupture. Christ, however, suffered as no man before or since has suffered. Ps. 69:20 says prophetically, ‘Reproach has broken my heart.’ The next verse continues, ‘They gave me gall for my food; and in my thirst they gave me vinegar to drink’. We take the second prophecy as literally fulfilled, but many consider it fantastic to take verse 20 also literally. If Christ’s heart did not rupture, it is difficult to explain any accumulation of blood and water as described by John. The normal pericardial effusion of an ounce or less would be a mere trickle unobserved by anyone [= ... adanya sejumlah cairan dan bekuan darah yang keluar dari luka tusukan tombak seperti digambarkan di atas, hanya bisa keluar dari jantung atau dari kantung tipis pembungkus jantung. Kita harus setuju dari permulaan bahwa sebelum ini tidak ada penyakit pada tubuh Kristus. Ia adalah domba Allah yang sempurna. Orang-orang yang mempunyai otoritas berkata bahwa adalah sesuatu yang sangat jarang, hampir tidak mungkin, bahwa sebuah otot jantung bisa pecah. Tetapi Kristus, menderita seperti yang tidak pernah dialami oleh siapapun sebelum atau sesudah itu. Maz 69:21 menubuatkan, ‘Cela itu telah mematah-kan / memecahkan jantungku’. Ayat selanjutnya melanjutkan, ‘Mereka memberiku empedu sebagai makananku; dan pada waktu aku haus mereka memberi aku minum cuka / anggur asam’. Kita menganggap bahwa nubuat yang kedua digenapi secara hurufiah, tetapi banyak yang menganggapnya sebagai sesuatu yang fantastis untuk menafsirkan ay 21 juga secara hurufiah. Jika jantung Kristus tidak pecah, adalah sukar untuk menjelaskan pengumpulan darah dan air seperti yang digambarkan oleh Yohanes. Keluarnya cairan dari pericardial / kantung pembungkus jantung normal sebanyak 1 ounce (= 28 gram) atau kurang dari itu hanya merupakan cucuran kecil yang tidak akan diperhatikan oleh siapapun].

Catatan:
¨      Dalam Kitab Suci Indonesia Maz 69:21a berbunyi: “Cela itu telah mematahkan hatiku.
Tetapi dalam terjemahan NIV Psalm 69:20 berbunyi: “Scorn has broken my heart (= Caci maki telah mematahkan hatiku / meme-cahkan jantungku).
¨      Dalam Kitab Suci Indonesia Maz 69:22 berbunyi: “Bahkan me-reka memberi aku makan racun dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam”.
Tetapi dalam terjemahan NIV Psalm 69:21 berbunyi:
“They put gall in my food and gave me vinegar for my thirst” (= mereka memberi empedu dalam makananku dan memberiku cuka / anggur asam untuk kehausanku).

·         William Hendriksen:
“This theory emphasizes the greatness of Christ’s mental and spiritual agony. Ordinarily death by crucifixion might not cause the heart to rupture, but this was no ordinary death. This Sufferer bore the wrath of God against sin. He suffered eternal death, the pangs of hell!” (= Teori ini menekankan kehebatan dari penderitaan mental dan rohani Kristus. Biasanya kematian oleh penyaliban tidak menyebabkan jan-tung pecah, tetapi ini bukanlah kematian biasa. Penderitanya me-mikul murka Allah terhadap dosa. Ia mengalami penderitaan kematian kekal, rasa sakit dari neraka!).

·         ‘The International Standard Bible Encyclopedia’ dalam article berjudul ‘Bloody sweat’ (= keringat berdarah): “As the agony of Our Lord was unexampled in human experience, it is conceivable that it may have been attended with physical conditions of a unique nature” (= Karena penderitaan Tuhan kita tidak ada contohnya dalam penga-laman manusia, maka dapat dimengerti bahwa hal itu disertai dengan kondisi-kondisi fisik yang bersifat unik).

Kalau di taman Getsemani, pada waktu Yesus bergumul dalam doa, sudah terjadi phenomena yang luar biasa, yang boleh di-katakan tidak masuk akal, yaitu keluarnya keringat seperti titik darah (Luk 22:44), maka kalau pada salib terjadi phenomena yang lebih luar biasa / lebih tidak masuk akal, seperti jantung yang pecah, itu bukanlah sesuatu yang mengherankan.

4)   Apa artinya darah dan air yang keluar dari rusuk Yesus itu?

a)   Ada yang berkata: Tidak ada arti apa-apa, kecuali menunjukkan bah-wa Yesus sudah mati.

b)   Tetapi kebanyakan penafsir memberikan arti bagi darah dan air yang keluar dari rusuk Yesus itu. Tetapi tentang apa arti darah dan air di sini, ada bermacam-macam penafsiran:

1.   Cara / alat keselamatan.
Pulpit Commentary:
“Macarius Magnes and Apollinarius saw an allusion to the side of Adam, from which Eve, the source of evil, was taken; that now the side of the second Adam should give forth the means of salvation” (= Macarius Magnes dan Apollinarius melihat hubungan tak langsung dengan sisi / rusuk Adam, dari mana Hawa, sumber kejahatan, diambil; bahwa sekarang sisi / rusuk dari Adam kedua mengeluarkan alat / cara keselamatan).
Saya berpendapat bahwa pandangan ini kurang specific.

2.   Air menunjuk pada baptisan dan darah menunjuk pada Perjamuan Kudus.
Saya tidak setuju dengan penafsiran ini karena bagaimana mung-kin suatu simbol (darah dan air) menunjuk pada simbol yang lain (Perjamuan Kudus dan baptisan)?

3.   Darah menunjuk pada pengampunan dosa, air menunjuk pada hi-dup secara rohani.

4.   Pandangan Calvin dan Spurgeon.

Calvin menganggap bahwa:
·         darah menunjuk pada penebusan, yang menyebabkan kita mendapatkan justification / pembenaran.
·         air menunjuk pada pembasuhan, yang menyebabkan kita men-dapatkan sanctification / pengudusan.
Catatan: ada yang menganggap air sebagai simbol dari ke-hidupan rohani.
Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Anti-Type dari sacrifice / korban (» darah) dan washings / pembasuhan (» air) dalam Per-janjian Lama.
Spurgeon membandingkan bagian ini dengan Zakh 12:10, dan ia mengajak untuk membaca Zakharia ini terus sampai Zakh 13:1 yang berbunyi: “Pada waktu itu akan terbuka suatu sumber bagi keluarga Daud dan bagi penduduk Yerusalem untuk membasuh dosa dan kecemaran”. Jadi, darah untuk menangani dosa, air untuk menangani kecemaran.

Jelas bahwa pandangan Calvin dan Spurgeon ini boleh dikatakan sama, dan saya paling condong pada pandangan ini.

Rupa-rupanya berdasarkan ajaran inilah seorang yang bernama Toplady menulis lagu yang berjudul: Rock of Ages, cleft for me (‘Padamu Batu Zaman’).

Rock of Ages, cleft for me, (= Batu karang jaman, celah bagiku,)
Let me hide myself in Thee; (= Biarlah aku menyembunyikan diriku di dalamMu,)
Let the water and the blood, (= Biarlah air dan darah,)
From Thy riven side which flowed, (= yang mengalir dari rusuk / sisiMu yang terluka,)
Be of sin the double cure, (= menjadi penyembuhan / pengobatan ganda bagi dosa,)
Cleanse me from its guilt and power (= mencuci aku dari kesalahan dan kuasanya).

Satu pertanyaan yang perlu dipertanyakan adalah: adakah hubungan antara ‘darah dan air’ di sini dengan ‘air dan darah’ dalam 1Yoh 5:6a?
1Yoh 5:6a - “Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah”.

F.F. Bruce menjawab pertanyaan ini sebagai berikut:
“... it is doubtful whether there is any direct correlation between the ‘water and blood’ of 1John 5:6,8, and the ‘blood and water’ mentioned here” (= ... adalah meragukan apakah ada hubungan langsung antara ‘air dan darah’ dari 1Yoh 5:6,8 dan ‘darah dan air’ yang disebutkan di sini).

Tetapi Calvin dan banyak penafsir lain beranggapan bahwa ay 34 ini memang sangat berhubungan dengan 1Yoh 5:6.

c)   Satu lagi arti yang diberikan oleh banyak penafsir tentang darah dan air yang keluar dari rusuk Yesus ialah bahwa ini menunjukkan kalau Yesus betul-betul adalah manusia. Ini untuk menentang pandangan dari ajaran yang disebut Docetism, yang mengatakan bahwa Yesus hanya kelihatannya saja mempunyai tubuh manusia.

5)   Pencatatan peristiwa ini oleh Yohanes (ay 35).

a)   Ay 35 ini kelihatannya menunjukkan bahwa peristiwa dalam ay 34 adalah sesuatu yang luar biasa.
Charles Haddon Spurgeon:
“... he took care to report it with a special note” (= ... ia berhati-hati untuk melaporkannya dengan catatan khusus) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’,  hal 667.
Adanya ay 35 ini menyebabkan dari banyak pandangan mengapa dari rusuk Yesus bisa keluar darah dan air itu, saya lebih condong pada pandangan yang bersifat luar biasa (pandangan no 1 atau no 6).

b)   Tujuan Yohanes menuliskan ini adalah supaya orang percaya kepada Yesus (ay 35).

6)   Tanpa disadari oleh tentara Romawi yang menombak Yesus itu, tindakan-nya ini menggenapi nubuat Kitab Suci / Perjanjian Lama tentang Yesus. Ini terlihat dari ay 37 yang mengutip dari Zakh 12:10.

a)   Ini menunjukkan adanya Providence of God yang mengatur semua ini.

Charles Haddon Spurgeon:
“That which lies immediately before us was a complicated case; for if reverence to the Saviour would spare his bones, would it not also spare his flesh? If a coarse brutality pierced his side, why did it not break his legs? How can men be kept from one act of violence, and that an act authorized by authority, and yet how shall they perpetrate another violence which had not been suggested to them? ... The hand of the Lord is here, and we desire to praise and bless that omniscient and omnipotent Providence which thus fulfilled the word of revelation. God hath respect unto his own word, and while he takes care that no bone of his Son shall be broken, he also secures that no text of Holy Scripture shall be broken” (= Apa yang terletak di depan kita adalah suatu kasus yang rumit; karena jika rasa hormat kepada Juruselamat menyebabkan tulangNya tidak dipatahkan, bukan-kah rasa hormat itu juga akan membiarkan dagingNya? Jika kebrutalan yang kasar menikam sisi / rusukNya, mengapa kebrutalan itu tidak mematahkan kakiNya? Bagaimana seseorang bisa ditahan dari suatu tindakan kekerasan / kekejaman, dan itu merupakan tindakan untuk mana ia diberi hak oleh orang yang berwenang, tetapi bagaimana ia bisa melakukan kekerasan / kekejaman yang lain yang tidak dianjurkan kepadanya? ... Tangan Tuhan ada di sini, dan kami ingin memuji dan memuliakan Providence yang mahatahu dan mahakuasa yang dengan demikian menggenapi kata-kata wahyu. Allah menghormati FirmanNya sendiri, dan sementara Ia memperhatikan supaya tidak ada tulang AnakNya yang dipatahkan, Ia juga memastikan supaya tidak ada text Kitab Suci yang kudus yang dipatahkan / dilanggar) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’,  hal 668-669.

Hal lain yang ditekankan oleh Spurgeon sehubungan dengan hal ini adalah bahwa para tentara bertindak dengan kehendak bebas (free will) mereka, baik pada waktu mereka tidak mematahkan kaki Yesus, maupun pada waktu seorang dari mereka menikam Yesus dengan tombak, tetapi pada saat yang sama mereka menggenapi ketetapan kekal dari Allah.

Charles Haddon Spurgeon:
“They acted of their own free will, and yet at the same time they fulfilled the eternal counsel of God. Shall we never be able to drive into men’s mind the truth that predestination and free agency are both facts? Men sin as freely as birds fly in the air, and they are altogether responsible for their sin; and yet everything is ordained and foreseen of God. The fore-ordination of God in no degree interferes with the responsibility of man. I have often been asked by persons to reconcile the two truths. My only reply is - They need no reconciliation, for they never fell out. Why should I try to reconcile two friends? Prove to me that the two truths do not agree. In that request I have set you a task as difficult as that which you propose to me. These two facts are parallel lines; I cannot make them unite, but you cannot make them cross each other” (= Mereka bertindak dengan kehendak bebas mereka, tetapi pada saat yang sama mereka menggenapi rencana yang kekal dari Allah. Apakah kita tidak akan pernah bisa menancapkan ke dalam pikiran manusia kebenaran bahwa predestinasi dan kebebasan agen / manusia dua-duanya merupakan fakta? Manusia berbuat dosa sebebas burung-burung yang terbang di udara, dan mereka semuanya bertanggung jawab untuk dosa mereka; tetapi segala sesuatu ditetapkan dan dilihat lebih dulu oleh Allah. Penetapan lebih dulu dari Allah sama sekali tidak mengganggu tanggung jawab manusia. Saya sering ditanya oleh orang-orang untuk mendamaikan dua kebenaran ini. Jawaban saya hanyalah - Mereka tidak membutuhkan pendamaian, karena mereka tidak pernah bertengkar. Mengapa saya harus mendamaikan 2 orang sahabat? Buktikan kepada saya bahwa dua kebenaran itu tidak setuju / cocok. Dalam permintaan itu saya telah memberimu suatu tugas yang sama sukarnya seperti yang kaukemukakan kepada saya. Kedua fakta ini adalah garis-garis yang paralel; saya tidak bisa membuat mereka bersatu, tetapi engkau tidak bisa membuat mereka bersilangan) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’,  hal 670-671.

b)   Arti ay 37:

·       Ini merupakan ancaman bahwa Yesus akan datang sebagai pembalas. Bandingkan ini dengan Wah 1:7 yang berbunyi:
“Lihatlah, Ia akan datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin”.
Perlu diketahui bahwa ‘meratapi Dia’ dalam Wah 1:7 bukan me-nunjukkan pertobatan, tetapi ketakutan / keputusasaan (bdk. Wah 6:12-17).

·     Ini janji bahwa orang-orang Yahudi akan bertobat / percaya kepada Yesus (bdk. Zakh 12:10 yang menunjukkan pertobatan).
Pertobatan orang-orang Yahudi terjadi pada hari Pentakosta (Kis 2:37-41). Bagi mereka yang bertobat, tentu saja tidak akan mengalami Wah 1:7.

Penutup:

Maukah saudara bertobat / percaya kepada Yesus? Sebagai penutup mari kita nyanyikan lagu Rock of Ages, cleft for me’ sekali lagi, dan kali ini kita nyanyikan semua baitnya. Sambil menyanyi, hayatilah kata-kata dalam lagu ini!

Rock of Ages, cleft for me, (= Batu karang jaman, celah bagiku,)
Let me hide myself in Thee; (= Biarlah aku menyembunyikan diriku di dalamMu,)
Let the water and the blood, (= Biarlah air dan darah,)
From Thy riven side which flowed, (= yang mengalir dari rusuk / sisiMu yang terluka,)
Be of sin the double cure, (= menjadi penyembuhan / pengobatan ganda bagi dosa,)
Cleanse me from its guilt and power. (= mencuci aku dari kesalahan dan kuasanya).

Not the labors of my hands, (= bukan pekerjaan tanganku,)
Can fulfill Thy law’s demands; (= Dapat memenuhi tuntutan hukumMu;)
Could my zeal no respite know, (= Andaikata semangatku tidak mengenal istirahat,)
Could my tears forever flow, (= Andaikata airmataku mengalir selama-lamanya,)
All for sin could not atone; (= Semua itu tidak bisa menebus dosa;)
Thou must save, and Thou alone. (= Engkau harus menyelamatkan, dan Engkau saja).

Nothing in my hand I bring, (= Tidak ada yang kubawa dalam tanganku,)
Simply to Thy cross I cling; (= Hanya kepada salib aku berpegang;)
Naked, come to Thee for dress, (= Telanjang, datang kepadaMu untuk pakaian,)
Helpless, look to Thee for grace; (= Tak berdaya, memandangMu untuk kasih karunia;)
Foul, I to the fountain fly, (= Kotor, Aku terbang kepada air mancur,)
Wash me, Saviour, or I die! (= Cucilah aku, Juruselamat, atau aku mati).

While I draw this fleeting breath, (= Sementara waktu aku menarik nafas penghabisan,)
When mine eyes shall close in death, (= Ketika mataku tertutup dalam kematian,)
When I soar to worlds unknown, (= Ketika aku terbang ke dunia tak dikenal,)
See Thee on Thy judgment throne, (= melihatMu pada tahta penghakimanMu,)
Rock of Ages, cleft for me, (= Batu karang jaman, celah bagiku,)
Let me hide myself in Thee. (= Biarlah aku menyembunyikan diriku di dalamMu.)


-o0o-



Tidak ada komentar:

Posting Komentar