Rabu, 19 Maret 2014

RAJA YANG TELANJANG


Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div



Mat 27:35-37 - “(35) Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaianNya dengan membuang undi. (36) Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia. (37) Dan di atas kepalaNya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: ‘Inilah Yesus Raja orang Yahudi.’”.
Mark 15:24-26 - “(24) Kemudian mereka menyalibkan Dia, lalu mereka membagi pakaianNya dengan membuang undi atasnya untuk menentukan bagian masing-masing. (25) Hari jam sembilan ketika Ia disalibkan. (26) Dan alasan mengapa Ia dihukum disebut pada tulisan yang terpasang di situ: ‘Raja orang Yahudi’.”.
Luk 23:34-38 - “(34) Yesus berkata: ‘Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.’ Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaianNya. (35) Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: ‘Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diriNya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.’ (36) Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepadaNya (37) dan berkata: ‘Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diriMu!’ (38) Ada juga tulisan di atas kepalaNya: ‘Inilah raja orang Yahudi’”.
Yoh 19:19-24 - “(19) Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: ‘Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi.’ (20) Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani. (21) Maka kata imam-imam kepala orang Yahudi kepada Pilatus: ‘Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi.’ (22) Jawab Pilatus: ‘Apa yang kutulis, tetap tertulis.’ (23) Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaianNya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian - dan jubahNya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja. (24) Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: ‘Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya.’ Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: ‘Mereka membagi-bagi pakaianKu di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubahKu.’ Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu”.

I) Yesus adalah Raja.


1)   Tulisan di atas kepala Yesus.
Mat 27:37 - “Dan di atas kepalaNya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: ‘Inilah Yesus Raja orang Yahudi.’”.
Mark 15:26 - “Dan alasan mengapa Ia dihukum disebut pada tulisan yang terpasang di situ: ‘Raja orang Yahudi’.”.
Luk 23:38 - “Ada juga tulisan di atas kepalaNya: ‘Inilah raja orang Yahudi’”.
Yoh 19:19 - “Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: ‘Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi.’”.

a)   Adanya tulisan di atas kepala Yesus menyebabkan orang menyimpulkan bahwa salib Yesus berbentuk seperti yang sekarang kita kenal.
Salib yang paling awal / mula-mula, hanya berbentuk sebuah tiang tegak (Catatan: kedua tangan dipakukan di atas kepala).
Kata Yunani yang diterjemahkan ‘salib’ adalah STAUROS, yang arti­ sebenarnya adalah ‘tiang tegak’. Jadi, salib yang paling awal hanyalah berbentuk tiang tegak (Karena itu jangan heran kalau Saksi-Saksi Yehuwa berkeras dengan bentuk salib seperti ini / tiang tegak).
Tetapi setelah itu lalu muncul beberapa variasi dari salib, yaitu:
·         seperti yang biasanya kita kenal, ada yang bagian vertikalnya lebih panjang, dan ada juga yang bagian horizontal dan vertikal­nya sama panjang.
·         seperti huruf T.
·         seperti huruf X.
·         seperti huruf Y.

Pada umumnya orang beranggapan bahwa salib yang digunakan untuk Yesus adalah yang pertama dari 3 bentuk di atas, karena dalam Mat 27:37  Mark 15:26  Luk 23:38  Yoh 19:19 dikatakan bahwa diatas kepala Yesus terpasang tulisan, dan ini tidak mungkin terjadi dengan salib yang berbentuk huruf T / X. Sebetulnya argumentasi ini tidak sepenuhnya meyakinkan, dan karena itu, sebetulnya kita tidak tahu dengan pasti bagaimana bentuk dari kayu salib yang digunakan untuk menyalibkan Yesus.

A. T. Robertson (tentang Mat 27:32): “There were various kinds of crosses and we do not know precisely the shape of the Cross on which Jesus was crucified, though probably the one usually presented is correct” (= Ada bermacam-macam bentuk salib dan kita tidak tahu dengan persis / tepat bentuk dari Salib pada mana Kristus disalibkan, sekalipun mungkin bentuk yang biasanya diberikan adalah benar).

b)         Apakah keempat ayat ini bertentangan dengan satu sama lain?
Jawab: tidak, karena para penulis Injil itu masing-masing hanya menuliskan sebagian dari seluruh tulisan itu. Mungkin seluruh tulisannya berbunyi: ‘Inilah Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi’ dan setiap penulis Injil mengambil sebagian-sebagian sehingga kelihatannya mereka berbeda satu sama lain. Tidak ada dari mereka yang wajib menulis seluruh kalimat.

2)   Tulisan itu ada dalam 3 bahasa.

Matthew Henry: “It was written in these three languages that it might be known and read of all men; ... God designed by it to signify that the gospel of Christ should be preached to all nations, beginning at Jerusalem, and be read in all languages” (= Itu ditulis dalam 3 bahasa ini supaya itu bisa diketahui dan dibaca oleh semua orang; ... Allah merencanakan dengan hal itu untuk menunjukkan bahwa injil Kristus harus diberitakan kepada semua bangsa, mulai dari Yerusalem, dan dibaca dalam semua bahasa).

3)   Ketegasan Pontius Pilatus dalam hal tulisan ini.
Peristiwa pemberian tulisan di atas kepala Yesus ini diceritakan secara lebih lengkap dalam Yoh 19:19-22 - “(19) Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: ‘Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi.’ (20) Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani. (21) Maka kata imam-imam kepala orang Yahudi kepada Pilatus: ‘Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi.’ (22) Jawab Pilatus: ‘Apa yang kutulis, tetap tertulis.’”.

Jadi, tokoh-tokoh Yahudi itu sebetulnya keberatan dengan bunyi tulisan itu, tetapi pada waktu mereka memprotesnya, Pontius Pilatus menolak protes itu dengan tegas. William Barclay menganggap bahwa Pontius Pilatus sengaja menuliskan tulisan itu untuk menjengkelkan orang-orang Yahudi.

Terhadap sikap Pontius Pilatus yang bisa menolak dengan tegas ini, William Barclay memberikan komentar sebagai berikut:
“Here is Pilate the inflexible, the man who will not yield an inch. So very short a time before, this same man had been weakly vacillat­ing as to whether to crucify Jesus or to let him go; and in the end had allowed himself to be bullied and blackmailed into giving the Jews their will. Adamant about the inscription, he had been weak about the crucifixion. It is one of the paradoxical things in life that we can be stubborn about things which do not matter and weak about things of supreme importance” (= Inilah Pilatus yang keras / tak dapat diubah, orang yang tak mau menyerah / mundur sedikitpun. Beberapa saat sebelum ini, orang yang sama ini terombang-ambing secara lemah mengenai apakah ia akan menyalibkan Yesus atau membe­baskanNya; dan pada akhirnya membiarkan dirinya sendiri digertak dan dipaksa dengan ancaman sehingga menuruti kemauan orang Yahudi. Ia tak mau menyerah tentang tulisan, tetapi ia lemah tentang penyaliban. Ini merupakan salah satu dari hal-hal yang paradox dalam kehidupan dimana kita bisa keras kepala tentang hal-hal yang tidak penting dan lemah tentang hal-hal yang sangat penting).

Penerapan / contoh:
·         ada orang yang tegas / keras dalam hal-hal yang bersifat jasmani / duniawi, tetapi selalu plin plan / berkompromi dalam hal-hal yang bersifat rohani. Apakah saudara juga demikian?
·         ada gereja yang keras dalam mempertahankan tradisi (misalnya: penggunaan Doa Bapa Kami dan 12 Pengakuan Iman Rasuli dalam kebak­tian, pemakaian toga, dsb), tetapi lemah dalam menjaga mimbar terha­dap nabi-nabi palsu / ajaran yang salah / sesat.

4)   Maksud / rencana manusia dan maksud / rencana Allah dengan tulisan tersebut.
Matthew Henry: “they set up over Christ’s head his accusation written, to give public notice of the charge against him; This is Jesus the King of the Jews. This they designed for his reproach, but God so overruled it, that even his accusation redounded to his honour” (= mereka meletakkan di atas kepala Kristus tulisan tentang tuduhannya, untuk memberikan pemberitahuan kepada umum tentang tuduhan terhadap Dia; Ini adalah Yesus, Raja orang Yahudi. Ini mereka rencanakan / maksudkan sebagai suatu celaan, tetapi Allah melindasnya sedemikian rupa, sehingga bahkan tuduhan terhadapNya berakhir bagi kehormatanNya).

Matthew Henry: “He is put to death for pretending to be the king of the Jews; so they meant it; but God intended it to be a declaration of what he really was, notwithstanding his present disgrace: he is the king of the Jews, the king of the church, and his cross is the way to his crown” (= Ia dibunuh karena berpura-pura sebagai raja orang Yahudi; demikianlah mereka memaksudkannya; tetapi Allah memaksudkannya sebagai suatu pernyataan tentang apa Ia sebenarnya, sekalipun pada saat itu Ia dihinakan: Ia adalah raja orang Yahudi, raja gereja, dan salibNya merupakan jalan kepada mahkotaNya).

5)   Yesus memang dinyatakan / dinubuatkan sebagai Raja, dan Yesus sendiri juga mengakui bahwa diriNya adalah Raja.

a)   Kej 49:10 - “Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa”.
Ini jelas merupakan nubuat tentang Kristus, yang bukan hanya menunjukkan bahwa Ia akan lahir dari suku Yehuda, tetapi juga bahwa Ia akan menjadi seorang raja.
Bdk. Wah 5:5 - “Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: ‘Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya.’”.

Daud diberi janji bahwa kerajaannya akan kekal (2Sam 7:12-dst), dan ini digenapi dalam diri Kristus [bdk. Amos 9:11 - pondok Daud yang roboh dibangunkan kembali oleh Allah (dalam diri Kristus)].
2Sam 7:12-13,16 - “(12) Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. (13) Dialah yang akan mendirikan rumah bagi namaKu dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. ... (16) Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapanKu, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.’”.
Amos 9:11 - “‘Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh; Aku akan menutup pecahan dindingnya, dan akan mendirikan kembali reruntuhannya; Aku akan membangunnya kembali seperti di zaman dahulu kala”.

Kalau nubuat dalam 2Sam 7 itu tidak mencakup Kristus, maka jelas bahwa nubuat itu salah, karena kerajaan Daud betul-betul berakhir. Hanya pada waktu nubuat itu dianggap mencakup diri Kristus, maka nubuat itu bisa menjadi kenyataan.
Bandingkan dengan:
·         Mark 11:10 - “diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!’”.
·         Luk 1:31-33 - “(31) Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. (32) Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadaNya takhta Daud, bapa leluhurNya, (33) dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan KerajaanNya tidak akan berkesudahan.’”.

b)   Yes 9:5 - “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”.
Perhatikan beberapa point di bawah ini:
·         Memang dalam bahasa Inggris kata-kata ‘Raja damai’ ini diterjemahkan ‘prince of peace’ (= pangeran damai), dan ini mungkin sesuai dengan keberadaan Yesus sebagai Anak Allah’. Tetapi ingat juga bahwa berdasarkan Yoh 5:18, istilah ‘Anak Allah’ berarti ‘setara dengan Allah’ / ‘Allah sendiri’.
·         Juga dalam Yes 9:5 ini dikatakan bahwa ‘lambang pemerintahan ada di atas bahunya’. NIV: ‘and the government will be on his shoulders’ (= dan pemerintahan akan ada di atas bahunya).
·         Ayat selanjutnya, yaitu Yes 9:6, berbunyi: Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini”.

c)   Mat 2:1-2 - “(1) Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem (2) dan bertanya-tanya: ‘Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintangNya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.’”.

d)   Yoh 1:49 - “Kata Natanael kepadaNya: ‘Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!’”.

e)   Mat 16:28 - “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam KerajaanNya.’”.

f)    Mat 25:34,40 - “(34) Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kananNya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. ... (40) Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”.

g)   Yoh 12:12-15 - “(12) Keesokan harinya ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, (13) mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: ‘Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!’ (14) Yesus menemukan seekor keledai muda lalu Ia naik ke atasnya, seperti ada tertulis: (15) ‘Jangan takut, hai puteri Sion, lihatlah, Rajamu datang, duduk di atas seekor anak keledai.’”.

h)  Luk 23:42 - “Lalu ia berkata: ‘Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.’”.

i)    Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Kristus akan ‘memerintah’, seperti:
Mikha 5:1 - “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagiKu seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala”.
Ro 15:12 - “Dan selanjutnya kata Yesaya: ‘Taruk dari pangkal Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepadaNyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan.’”.
2Tim 2:12 - “jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Diapun akan menyangkal kita”.

j)    Mat 20:21 - “Kata Yesus: ‘Apa yang kaukehendaki?’ Jawabnya: ‘Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam KerajaanMu, yang seorang di sebelah kananMu dan yang seorang lagi di sebelah kiriMu.’”.

k)   2Pet 1:11 - “Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.

l)    Yoh 18:33,36,37a - “(33) Maka kembalilah Pilatus ke dalam gedung pengadilan, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepadaNya: ‘Engkau inikah raja orang Yahudi?’ ... (36) Jawab Yesus: ‘KerajaanKu bukan dari dunia ini; jika KerajaanKu dari dunia ini, pasti hamba-hambaKu telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi KerajaanKu bukan dari sini.’ (37a) Maka kata Pilatus kepadaNya: ‘Jadi Engkau adalah raja?’ Jawab Yesus: ‘Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja.
Ini menunjukkan bahwa Yesus mengakui diri sebagai seorang Raja, tetapi Ia bukanlah Raja duniawi melainkan rohani.

II) Yesus ditelanjangi di kayu salib.


Pakaian Yesus diundi; ini menunjukkan Yesus ditelanjangi pada waktu disalibkan.
Mat 27:35 - “Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaianNya dengan membuang undi”.
Mark 15:24 - “Kemudian mereka menyalibkan Dia, lalu mereka membagi pakaianNya dengan membuang undi atasnya untuk menentukan bagian masing-masing”.
Luk 23:34b - “Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaianNya”.
Yoh 19:23-24 - “(23) Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaianNya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian - dan jubahNya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja. (24) Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: ‘Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya.’ Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: ‘Mereka membagi-bagi pakaianKu di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubahKu.’ Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu”.

1)   Ini merupakan penggenapan dari Maz 22:19 (bdk. Yoh 19:23-24).
Maz 22:19 - “Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku”.
Yoh 19:23-24 - “(23) Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaianNya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian - dan jubahNya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja. (24) Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: ‘Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya.’ Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: ‘Mereka membagi-bagi pakaianKu di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubahKu.’ Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu”.

2)   Ketidak-pedulian dunia terhadap kasih Allah.
William Barclay: “No picture so shows the indifference of the world to Christ. There on the Cross Jesus was dying in agony; and there at the foot of the Cross the soldiers threw their dice as if it did not matter. ... The tragedy is not the hostility of the world to Christ; the tragedy is the world’s indifference which treats the love of God as if it did not matter (= Tidak ada penggambaran yang begitu menunjukkan ketidak-pedulian / sikap acuh tak acuh dari dunia terhadap Kristus. Disana pada Salib Yesus sedang sekarat dalam penderitaan yang hebat; dan disana pada kaki Salib tentara-tentara melemparkan dadu mereka seakan-akan itu tidak ada artinya. ... Tragedinya bukanlah permusuhan dari dunia terhadap Kristus; tragedinya adalah ketidak-pedulian / sikap acuh tak acuh yang memperlakukan kasih Allah seakan-akan itu tidak ada artinya) - ‘The Gospel of John’, vol 2, hal 254.

3)   Kristus rela ditelanjangi / dihinakan demi saudara; relakah saudara ditelanjangi / dihinakan demi Kristus?
Matthew Henry: “If we be at any time stripped of our comforts for Christ, let us bear it patiently; he was stripped for us” (= Jika pada saat manapun kita ditelanjangi dari kesenangan-kesenangan kita demi Kristus, hendaklah kita menanggungnya dengan sabar; Ia telah ditelanjangi bagi kita).

4)   Anak Allah ditelanjangi supaya oleh ketelanjanganNya kita mendapatkan kekayaan yang membuat kita terhormat di hadapan Allah!

Calvin: “the Evangelists exhibits to us the Son of God stripped of his garments, in order to inform us, that by this nakedness we have obtained those riches which makes us honourable in the presence of God. God determined that his own Son should be stripped of his raiment, that we, clothed with his righteousness and with abundance of all good things, may appear with boldness in company with the angels, whereas formerly our loathsome and disgraceful aspect, in tattered garments, kept us back from approaching to heaven” (= sang penginjil menunjukkan kepada kita Anak Allah dilepaskan pakaianNya untuk memberi tahu kita bahwa oleh ketelanjangan ini kita telah mendapatkan kekayaan yang membuat kita terhormat di hadapan Allah. Allah menetapkan bahwa AnakNya sendiri harus ditelanjangi, supaya kita, dipakaiani dengan kebenaranNya dan dengan hal-hal baik yang berlimpah-limpah, bisa tampil dengan keberanian dalam kumpulan malaikat, padahal sebelumnya, aspek menjijikkan dan memalukan kita, dalam pakaian yang compang camping, menahan kita untuk mendekati surga) - hal 298.

Matthew Henry: “When they nailed him to the cross, they stripped him of his garments, at least his upper garments; for by sin we were made naked, to our shame, and thus he purchased for us white raiment to cover us (= Pada waktu mereka memakukan Dia pada salib, mereka membuka pakaianNya, sedikitnya pakaian luarNya; karena oleh dosa kita dibuat jadi telanjang, yang memalukan kita, dan demikianlah Ia membeli bagi kita pakaian putih untuk menutupi kita).

Matthew Henry: “The shame of nakedness came in with sin. He therefore who was made sin for us bore that shame, to roll away our reproach. He was stripped, that we might be clothed with white raiment (Rev. 3:18)” [= Rasa malu dari ketelanjangan masuk bersama dengan dosa. Karena itu, Ia yang dibuat menjadi dosa karena kita memikul rasa malu itu, untuk menyingkirkan cela kita. Ia ditelanjangi, supaya kita bisa dipakaiani dengan pakaian putih (Wah 3:18)].

Yes 61:10 - “Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya”.

Zakh 3:1-5 - “(1) Kemudian ia memperlihatkan kepadaku imam besar Yosua berdiri di hadapan Malaikat TUHAN sedang Iblis berdiri di sebelah kanannya untuk mendakwa dia. (2) Lalu berkatalah Malaikat TUHAN kepada Iblis itu: ‘TUHAN kiranya menghardik engkau, hai Iblis! TUHAN, yang memilih Yerusalem, kiranya menghardik engkau! Bukankah dia ini puntung yang telah ditarik dari api?’ (3) Adapun Yosua mengenakan pakaian yang kotor, waktu dia berdiri di hadapan Malaikat itu, (4) yang memberikan perintah kepada orang-orang yang melayaninya: ‘Tanggalkanlah pakaian yang kotor itu dari padanya.’ Dan kepada Yosua ia berkata: ‘Lihat, dengan ini aku telah menjauhkan kesalahanmu dari padamu! Aku akan mengenakan kepadamu pakaian pesta.’ (5) Kemudian ia berkata: ‘Taruhlah serban tahir pada kepalanya!’ Maka mereka menaruh serban tahir pada kepalanya dan mengenakan pakaian kepadanya, sedang Malaikat TUHAN berdiri di situ”.

Wah 3:18 - “maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari padaKu emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat”.

William Barclay: “Laodicea prides itself on the magnificent garments it produces but spiritually it is naked and nakedness is shame. ... There is little point in a man adorning his body, if he has nothing to adorn his soul. Not all the clothes in the world will beautify a person whose nature is twisted and whose character is ugly” (= Laodikia membanggakan dirinya sendiri karena pakaian yang sangat indah yang mereka produksi, tetapi secara rohani mereka telanjang dan ketelanjangan merupakan sesuatu yang memalukan. ... Tidak terlalu ada artinya bagi seseorang untuk menghiasi / memperindah tubuhnya, jika ia tidak mempunyai apa-apa untuk menghiasi / memperindah jiwanya. Semua pakaian di dunia inipun tidak bisa mempercantik seseorang yang secara alamiah berbelat-belit dan yang karakternya jelek) - hal 144.

Wilson menghubungkan ‘pakaian putih’ ini dengan dengan kata-kata dari lagu Rock of Ages, cleft for me’, yang pada bait ke 3nya mempunyai kalimat yang berbunyi: ‘Naked, come to Thee for dress’ (= Telanjang, datang kepadaMu untuk pakaian).

Rock of Ages, cleft for me’.

Rock of Ages, cleft for me, (= Batu karang jaman, celah bagiku,)
Let me hide myself in Thee; (= Biarlah aku menyembunyikan diriku di dalamMu,)
Let the water and the blood, (= Biarlah air dan darah,)
From Thy riven side which flowed, (= yang mengalir dari rusuk / sisiMu yang terluka,)
Be of sin the double cure, (= menjadi penyembuhan / pengobatan ganda bagi dosa,)
Cleanse me from its guilt and power (= mencuci aku dari kesalahan dan kuasanya).

Not the labors of my hands, (= bukan pekerjaan tanganku,)
Can fulfill Thy law’s demands; (= Dapat memenuhi tuntutan hukumMu;)
Could my zeal no respite know, (= Andaikata semangatku tidak mengenal istirahat,)
Could my tears forever flow, (= Andaikata airmataku mengalir selama-lamanya,)
All for sin could not atone; (= Semua itu tidak bisa menebus dosa;)
Thou must save, and Thou alone. (= Engkau harus menyelamatkan, dan Engkau saja).

Nothing in my hand I bring, (= Tidak ada yang kubawa dalam tanganku,)
Simply to Thy cross I cling; (= Hanya kepada salib aku berpegang;)
Naked, come to Thee for dress, (= Telanjang, datang kepadaMu untuk pakaian,)
Helpless, look to Thee for grace; (= Tak berdaya, memandangMu untuk kasih karunia;)
Foul, I to the fountain fly, (= Kotor, Aku terbang kepada air mancur,)
Wash me, Saviour, or I die! (= Cucilah aku, Juruselamat, atau aku mati).

While I draw this fleeting breath, (= Sementara waktu aku menarik nafas penghabisan,)
When mine eyes shall close in death, (= Ketika mataku tertutup dalam kematian,)
When I soar to worlds unknown, (= Ketika aku terbang ke dunia tak dikenal,)
See Thee on Thy judgment throne, (= melihatMu pada tahta penghakimanMu,)
Rock of Ages, cleft for me, (= Batu karang jaman, celah bagiku,)
Let me hide myself in Thee; (= Biarlah aku menyembunyikan diriku di dalamMu,)

Penutup / kesimpulan.


Yesus yang adalah Anak Allah dan Raja, rela direndahkan dan ditelanjangi, supaya kita bisa ditinggikan dan dimuliakan. Tetapi semua itu hanya bisa terjadi, kalau saudara mau percaya dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara. Maukah saudara?


-AMIN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar