Minggu, 16 Maret 2014

IRRESISTIBLE GRACE (KASIH KARUNIA YANG TIDAK BISA DITOLAK) - Part 4


Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div


   B)  Doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) ini dianggap bertentangan dengan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa manusia bisa menolak kasih karunia Allah itu.

     a)   Luk 7:30 - “Tetapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap diri mereka, karena mereka tidak mau dibaptis oleh Yohanes.”.

Adam Clarke: “‘Rejected the counsel of God.’ Or, frustrated the will of God. ... The will of God was that all the inhabitants of Judea should repent at the preaching of John, be baptized, and believe in Christ Jesus. Now as they did not repent, &c., at John’s preaching, so they did not believe his testimony concerning Christ: thus the will, gracious counsel, or design of God, relative to their salvation, was annulled or frustrated” (= ‘Menolak maksud / rencana Allah’. Atau, ‘menggagalkan kehendak Allah’. ... Kehendak Allah adalah bahwa semua penduduk Yudea bertobat oleh pemberitaan / khotbah Yohanes, dibaptiskan, dan percaya kepada Kristus Yesus. Sekarang, karena mereka tidak bertobat dsb, oleh khotbah Yohanes, demikian juga mereka tidak percaya pada kesaksiannya mengenai Kristus: maka kehendak, maksud / rencana yang penuh kasih karunia, atau rancangan dari Allah, berhubungan dengan keselamatan mereka, dibatalkan atau digagalkan) - hal 413.

Lenski: Their leaders, ... refused John’s baptism and thus from the start ‘nullified’ (ἀθετέω), made void the counsel of God for themselves. This counsel (βουλή) is what the will of God fixed and planned; it was exhibited in John and in his work. [= Pemimpin-pemimpin mereka, ... menolak baptisan Yohanes dan dengan demikian dari permulaan ‘menghapuskan’ (ATHETEO), membatalkan rencana Allah bagi diri mereka sendiri. Rencana ini (BOULE) adalah apa yang kehendak Allah tentukan dan rencanakan; itu ditunjukkan dalam Yohanes dan dalam pekerjaannya.].
Catatan: saya tak tahu kata ‘nya’ (his) yang terakhir itu menunjuk kepada Allah atau kepada Yohanes Pembaptis.

Jadi, jelaslah bahwa kedua penafsir Arminian ini menganggap bahwa ayat ini menunjukkan bahwa kehendak / rencana Allah digagalkan oleh orang-orang itu.

Luk 7:30 - ‘menolak maksud Allah terhadap diri mereka’.
KJV: ‘rejected the counsel of God against themselves’ (= menolak rencana Allah terhadap / menentang mereka sendiri).
NIV: rejected God’s purpose for themselves (= menolak rencana Allah untuk / bagi mereka sendiri).

Mari kita menyoroti kata ‘maksud’ [Inggris: ‘counsel’ (= rencana); Yunani: BOULE].
Ada yang mengatakan bahwa kata Yunani BOULE menunjuk pada rencana kekal dari Allah, sedangkan kata Yunani Thelema menunjuk pada perintah Allah. Dengan demikian Luk 7:30, yang menggunakan kata Yunani BOULE, menunjukkan bahwa rencana kekal dari Allah itu bisa digagalkan oleh kehendak bebas dari manusia.

Ada 2 hal yang saya berikan sebagai tanggapan:

1.   Mengatakan bahwa manusia bisa menggagalkan rencana Allah bertentangan dengan banyak ajaran Alkitab, yang menyatakan rencana Allah tidak bisa gagal.

·         Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal.”.

·         Maz 33:10-11 - “(10) TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; (11) tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun.”.

·         Yes 14:24,26-27 - “(14) TUHAN semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: ... (26) Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?.

·         Yes 25:1 - “Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi namaMu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancanganMu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu.”.

·         Yes 37:26 - “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu.”.

·         Yes 43:13 - “Juga seterusnya Aku tetap Dia, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tanganKu; Aku melakukannya, siapakah yang dapat mencegahnya?.

·         Yes 46:10-11 - “(10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya.”.

·         Yer 4:28 - “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu.’”.

Memang, baik dari sudut logika, maupun dari sudut Alkitab, jelas bahwa adanya kemahatahuan dan kemahakuasaan Allah menyebabkan rencana Allah tidak mungkin bisa gagal / digagalkan oleh siapapun / apapun juga.

2.   Setelah saya memeriksa penggunaan kata BOULE dan THELEMA dalam seluruh Kitab Suci, saya yakin bahwa pembedaan seperti ini tidak bisa dipertanggung-jawabkan, karena:

a.   Kata Yunani THELEMA memang sering digunakan untuk menunjuk pada perintah Allah, seperti misalnya dalam Mat 7:21 dan Luk 12:47.

Mat 7:21 - “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga.”.
Luk 12:47 - “Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan.”.

Tetapi kata ini juga sangat sering digunakan untuk menunjuk pada rencana kekal dari Allah, yaitu dalam:

Mat 6:10 - “datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga.”.

Mat 26:42 - “Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendakMu!’”.

Kis 21:14 - “Karena ia tidak mau menerima nasihat kami, kami menyerah dan berkata: ‘Jadilah kehendak Tuhan!’”.

Ro 1:10 - “Aku berdoa, semoga dengan kehendak Allah aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu.”.

Ro 15:32 - “agar aku yang dengan sukacita datang kepadamu oleh kehendak Allah, beroleh kesegaran bersama-sama dengan kamu.”.

1Kor 1:1 - “Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita,”.

2Kor 1:1 - “Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Timotius saudara kita, kepada jemaat Allah di Korintus dengan semua orang kudus di seluruh Akhaya.”.

Gal 1:4 - “yang telah menyerahkan diriNya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita.”.

Ef 1:1,5 - “(1) Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. ... (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya,”.

Kol 1:1 - “Dari Paulus, rasul Kristus Yesus, oleh kehendak Allah, dan Timotius saudara kita,”.

2Tim 1:1 - “Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus,”.

1Pet 3:17 - “Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.”.

1Pet 4:19 - “Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.”.

1Yoh 5:14 - “Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya.”.

Kata ‘kehendak’ dalam ayat-ayat di atas ini menggunakan kata THELEMA, padahal ini pasti menunjuk pada rencana kekal dari Allah.

b.   Kata Yunani BOULE dalam ayat-ayat tertentu memang menunjuk pada rencana kekal dari Allah, seperti misalnya dalam Kis 2:23 dan Kis 4:28.

Kis 2:23 - “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.”.

Kis 4:28 - “untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu.”.

Tetapi kata itu juga pernah digunakan untuk menunjuk pada perintah Allah, yaitu dalam Kis 13:36 dan Kis 20:27.

Kis 13:36 - “Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya, dan ia memang diserahkan kepada kebinasaan.”.
Jelas bahwa kata ‘kehendak’ di sini tidak mungkin menunjuk pada rencana Allah, karena Daud tidak tahu rencana Allah itu. Ini pasti menunjuk pada perintah-perintah Allah, dan menunjukkan Daud sebagai orang yang taat kepada Tuhan.

Kis 20:27 - “Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu.”.
Kata ‘maksud’ di sini menggunakan kata BOULE, dan tidak mungkin kata ini menunjuk pada rencana kekal dari Allah, karena Paulus tidak mungkin bisa memberitakan seluruh rencana kekal dari Allah, yang tidak dia ketahui. Yang dimaksud pasti adalah perintah / ajaran dari Allah.

c.   Sesuatu yang menarik terjadi dalam Ef 1:11 - “Aku katakan ‘di dalam Kristus’, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan - kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya -”.
KJV: ‘who worketh all things after the counsel of his own will (= yang mengerjakan segala sesuatu menurut rencana dari kehendakNya sendiri).
Untuk kata ‘counsel’ digunakan kata BOULE, sedangkan untuk kata ‘will’ digunakan kata THELEMA.

3.   Komentar-komentar dari beberapa penafsir.

Norval Geldenhuys / NICNT (tentang Luk 7:30): “Here boulh (BOULE) does not refer to the eternal decree of God (Eph. 1:1), which cannot be broken or put aside by the creature, but to God’s dispensing of salvation as it is revealed in John’s mission and work’.” [= Di sini BOULE tidak menunjuk pada ketetapan kekal dari Allah (Ef 1:1), yang tidak bisa dihancurkan atau disingkirkan oleh makhluk ciptaan, tetapi pada penyaluran / pembagian keselamatan sebagaimana dinyatakan dalam misi dan pekerjaan Yohanes’.] - hal 230.

Robert L. Dabney: “When it is said that the Pharisees rejected the counsel of God concerning themselves, the word ‘counsel’ means but ‘precept.’” (= Ketika dikatakan bahwa orang-orang Farisi menolak maksud / rencana Allah mengenai diri mereka sendiri, kata ‘maksud / rencana’ hanya berarti ‘perintah / ajaran’) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 222.

Barnes’ Notes ( tentang Luk 7:30): “‘The counsel of God.’ The counsel of God toward them was the solemn admonition by John to ‘repent’ and be baptized, and be prepared to receive the Messiah. This was the command or revealed will of God in relation to them. When it is said that they ‘rejected’ the counsel of God, it does not mean that they could frustrate his purposes, but merely that they violated his commands. Men cannot frustrate the ‘real’ purposes of God, but they can contemn his messages, they can violate his commands, and thus they can reject the counsel which he gives them, and treat with contempt the desire which he manifests for their welfare” (= ‘Rencana Allah’. Rencana Allah terhadap mereka adalah nasehat khidmat oleh Yohanes untuk bertobat dan dibaptis, dan dipersiapkan untuk menerima sang Mesias. Ini adalah perintah dan kehendak yang dinyatakan dari Allah berkenaan dengan mereka. Pada waktu dikatakan bahwa mereka ‘menolak’ rencana Allah, itu tidak berarti bahwa mereka bisa menggagalkan rencanaNya, tetapi semata-mata bahwa mereka melanggar perintah-perintahNya. Manusia tidak bisa menggagalkan rencana yang sungguh-sungguh dari Allah, tetapi mereka bisa meremehkan berita-beritaNya, mereka bisa melanggar perintah-perintahNya, dan dengan demikian mereka bisa menolak rencana yang Ia berikan kepada mereka, dan memperlakukan dengan jijik keinginan yang Ia nyatakan bagi kesejahteraan mereka).

William Hendriksen: Probable meaning in the light of the context: Jesus has shown that John was great indeed (verse 28). As God’s voice to the people he had pressed upon them these divine requirements: they must turn from their evil ways and bear good fruit. [= Arti yang memungkinkan dalam terang dari kontext: Yesus telah menunjukkan bahwa Yohanes memang orang besar (ay 28). Sebagai suara Allah kepada bangsa itu ia telah menekankan kepada mereka tuntutan-tuntutan ilahi ini: mereka harus berbalik dari jalan-jalan mereka yang jahat dan menghasilkan buah yang baik.].

b)   Mat 23:37 - “‘Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau..

Ayat ini sangat banyak digunakan oleh orang-orang Arminian / non Reformed untuk menekankan free will, dan juga untuk menentang doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) ini.

Adam Clarke (tentang Mat 23:37): “1. It is evident that our blessed Lord seriously and earnestly wished the salvation of the Jews. 2. That he did everything that could be done, consistently with his own perfections, and the liberty of his creatures, to effect this. 3. That his tears over the city, Luke 19:41, sufficiently evince his sincerity. 4. That these persons nevertheless perished. And 5. That the reason was, they would not be gathered together under his protection: therefore wrath, i.e. punishment, came upon them to the uttermost. From this it is evident that there have been persons whom Christ wished to save, and bled to save, who notwithstanding perished, because they would not come unto him, John 5:40” (= 1. Adalah jelas bahwa Tuhan kita yang terpuji secara serius dan sungguh-sungguh menginginkan keselamatan dari orang-orang Yahudi. 2. Bahwa Ia melakukan segala sesuatu yang bisa dilakukan, dengan / secara konsisten dengan kesempurnaanNya sendiri, dan kebebasan dari makhluk-makhlukNya, untuk menghasilkan hal ini. 3. Bahwa air mataNya atas / karena kota itu, Luk 19:41, secara cukup menunjukkan dengan jelas ketulusan / kesungguhanNya. 4. Bahwa meskipun demikian orang-orang ini binasa. Dan 5. Bahwa alasannya adalah, mereka tidak mau dikumpulkan bersama-sama di bawah perlindunganNya: karena itu murka, yaitu hukuman, datang kepada mereka sampai sepenuhnya. Dari ini adalah jelas bahwa disana ada orang-orang yang Kristus ingin untuk selamatkan, dan berkorban / mencurahkan darah untuk menyelamatkan, tetapi yang bagaimanapun juga binasa, karena mereka tidak mau datang kepadaNya, Yoh 5:40).

Luk 19:41 - “Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya,”.

Yoh 5:39-40 - “(39) Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa olehNya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, (40) namun kamu tidak mau datang kepadaKu untuk memperoleh hidup itu.”.
Kata ‘olehNya merupakan terjemahan yang salah.
KJV/RSV/NASB: ‘in them’ (= dalam mereka).
NIV: ‘by them’ (= oleh mereka).
Catatan: kepercayaan Arminian bahwa Tuhan sungguh-sungguh ingin menyelamatkan semua orang, dan melakukan apa yang bisa Ia lakukan untuk mencapai hal itu, tetapi toh akhirnya orang-orang itu binasa, menurut saya berbau penghujatan, karena menunjukkan ‘ketidak-mampuan’ Allah! Juga pandangan ini tak bisa menjawab pertanyaan ini: ‘Kalau memang pandangan itu benar, mengapa ada banyak orang yang sampai mati tidak pernah mendengar Injil?’.

Lenski: the very ones whom Jesus willed to gather refused to be gathered: rulers and people alike. ... John describes Jesus’ ministry in the capital at length, but all of Jesus’ ministry to the Jews is here included: ‘thy children,’ the nation. One of the inexplicable features of divine love is the fact that, in spite of the infallible foreknowledge that all will be in vain, its call and its effort to save never cease until the very end. Judas is another example. Such knowledge would either stop us at once or make our efforts a mere pretense. So far is God above us in this respect that our minds cannot follow his ways. (= orang-orang yang Yesus mau kumpulkan menolak untuk dikumpulkan: pemimpin-pemimpin dan orang-orang sama saja. ... Yohanes akhirnya menggambarkan pelayanan Yesus di ibu kota, tetapi semua pelayanan Yesus kepada orang-orang Yahudi dicakup di sini: ‘anak-anakmu’, bangsa itu. Salah satu dari hal menonjol yang tidak bisa dijelaskan tentang kasih ilahi adalah fakta bahwa, sekalipun ada pra-pengetahuan yang tidak bisa salah bahwa semua akan sia-sia, panggilan dan usaha dari kasih ilahi untuk menyelamatkan tak pernah berhenti sampai akhir. Yudas adalah contoh yang lain. Pengetahuan seperti itu atau akan menghentikan kita dengan segera atau membuat usaha-usaha kita semata-mata suatu kepura-puraan. Begitu jauh Allah itu ada di atas kita dalam hal ini sehingga pikiran kita tidak bisa mengikuti jalan-jalanNya.).

Komentar saya:
1.   Lagi-lagi, bagaimana kata-kata Lenski ini bisa sesuai dengan fakta bahwa ada banyak orang yang sampai mati tidak mendengar Injil?
2.   Sekalipun saya percaya bahwa ada hal-hal berkenaan dengan Allah dan rencanaNya yang tidak bisa dijelaskan, tetapi tentang hal yang sedang dibicarakan ini, saya tidak percaya bahwa itu termasuk dalam golongan yang tidak bisa dijelaskan. Lalu mengapa Lenski mengatakan ‘tidak bisa dijelaskan’? Karena dia mengikuti pandangan yang salah! Pandangan salah itu menyebabkan munculnya suatu kontradiksi, yang ia usahakan untuk tutup-tutupi dengan kata-kata ‘tidak bisa dijelaskan’. 

Lenski: The verb ἠθέλησα denotes the gracious, saving will of Jesus. It is the so-called antecedent will which takes into account only our lost condition from which it works to deliver us and not our reaction to this will. The will which deals with this reaction is always the subsequent will, and for the obdurate this will is judgment. Determinism and other confusions result when this distinction is ignored. The gracious antecedent will and its call to grace is equal for all. To make it serious and real only in the case of one class of men and only a pretense in the case of another class, is to attribute duplicity to God, against which all Scripture cries out, Rom. 11:32. ... Who dares to say that Jesus willed to save even the Sanhedrists less than he willed to save the Twelve; or Judas less than Peter? [= Kata kerja ἠθέλησα / ETHELESA (= ingin / rindu) menunjuk pada kehendak Yesus yang murah hati / bersifat kasih karunia dan menyelamatkan. Adalah apa yang disebut ‘kehendak yang mendahului’ yang mengingat hanya akan kondisi terhilang kita dari mana itu bekerja untuk membebaskan kita dan tidak mengingat akan reaksi kita terhadap kehendak ini. Kehendak yang menangani reaksi ini selalu adalah kehendak yang berikut / sesudahnya, dan bagi orang-orang yang keras kepala kehendak ini adalah penghakiman. Determinisme dan kebingungan-kebingungan yang lain dihasilkan pada waktu pembedaan ini diabaikan. Kehendak yang mendahului yang murah hati dan panggilannya kepada kasih karunia adalah sama / setara bagi semua orang. Membuatnya serius dan sungguh-sungguh hanya dalam kasus dari satu golongan manusia, dan hanya merupakan suatu kepura-puraan dalam kasus dari golongan yang lain, sama dengan menghubungkan sikap bermuka dua kepada Allah, terhadap / menentang hal mana seluruh Kitab Suci berteriak, Ro 11:32. ... Siapa berani mengatakan bahwa Yesus ingin menyelamatkan bahkan para Sanhedrin kurang dari Ia ingin menyelamatkan 12 Rasul; atau Yudas kurang dari Petrus?].
Ro 11:32 - “Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahanNya atas mereka semua.”.
Catatan: Determinisme secara kasar bisa disamakan dengan doktrin Predestinasi.

Tanggapan saya:

1.   Lenski menganggap ada dua kehendak, ‘kehendak yang mendahului’ yang ingin menyelamatkan, dan ‘kehendak yang berikutnya / sesudahnya’ yang merupakan penghakiman terhadap orang-orang yang keras kepala. Ini menunjukkan adanya perubahan rencana dalam diri Allah, dan ini bertentangan dengan banyak ayat di bawah ini:

2Raja 19:25 - “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari, dan telah merancangnya pada zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu.”.

Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal’.”.

Maz 33:10-11 - “(10) TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; (11) tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun.”.

Yes 14:24,26-27 - “(14) TUHAN semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: ... (26) Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?”.

Yes 25:1 - “Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi namaMu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancanganMu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu.”.

Yes 37:26 - “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu,”.

Yes 46:10 - “yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan,”.

Yer 4:28 - “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu.’”.

2.   Tentang kata-kata Lenski bahwa panggilan Allah setara bagi semua orang, lagi-lagi saya tekankan, bagaimana mungkin ini sesuai dengan fakta bahwa ada banyak orang mati tanpa pernah mendengar Injil?

3.   Lenski menggunakan Ro 11:32 tanpa memperhatikan kontext dari ayat itu, yang menunjukkan bahwa Allah sengaja mengeraskan hati orang-orang Yahudi, sehingga mereka menolak Kristus, dan lalu Allah bisa mengalihkan Injil kepada orang-orang non Yahudi.

Ro 11:7-8,11,15,25,30 - “(7) Jadi bagaimana? Israel tidak memperoleh apa yang dikejarnya, tetapi orang-orang yang terpilih telah memperolehnya. Dan orang-orang yang lain telah tegar hatinya, (8) seperti ada tertulis: ‘Allah membuat mereka tidur nyenyak, memberikan mata untuk tidak melihat dan telinga untuk tidak mendengar, sampai kepada hari sekarang ini.’ ... (11) Maka aku bertanya: Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu. ... (15) Sebab jika penolakan mereka berarti perdamaian bagi dunia, dapatkah penerimaan mereka mempunyai arti lain dari pada hidup dari antara orang mati? ... (25) Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. ... (30) Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka,”.

Jadi, apa arti dari Ro 11:32?
Ro 11:32 - “Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahanNya atas mereka semua.”.
Kata-kata ‘mereka semua’, dilihat dari kontextnya, tidak mungkin menunjuk kepada semua orang tanpa kecuali, tetapi menunjuk kepada ‘semua orang-orang pilihan’!

4.   Tentang kalimat terakhir, saya tanggapi dengan mengatakan bahwa saya bukan hanya berani mengatakan bahwa Allah ingin menyelamatkan si A lebih dari si B, tetapi saya bahkan berani mengatakan bahwa Allah ingin menyelamatkan si A dan sama sekali tidak ingin menyelamatkan si B.

Ro 9:10-13 - “(10) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. (11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya (Dia yang memanggil) - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’”.
Bagaimana text seperti ini bisa diartikan bahwa Allah ingin menyelamatkan Esau sama seperti Ia ingin menyelamatkan Yakub? Yang benar adalah: Ia merencanakan untuk menyelamatkan Yakub, tetapi tidak Esau!

Bandingkan dengan Yoh 17:9,20 yang menunjukkan bahwa Yesus hanya berdoa untuk orang-orang yang sudah percaya dan orang-orang yang akan percaya. Jadi Ia berdoa untuk orang-orang pilihan, BUKAN UNTUK DUNIA!
Yoh 17:9,20 - “(9) Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab mereka adalah milikMu ... (20) Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepadaKu oleh pemberitaan mereka;”.

Lenski: So this nation belonged to Jesus, and as his very own he willed to gather it together. ... Nothing is more tragic than the outcome of this gracious will of Jesus: ‘and you did not will.’ As so often, the adversative idea is added with a telling copulative καί. ... The sentence ought to close: ‘and you willed’; but now it closed: ‘and you willed NOT!’ Only this, nothing more, is said. No qualification, no modifiers, no explanations, no additions. The one fatal thing is: ‘you did not will.’ Despite its brevity this expression includes many facts. Grace is not irresistible; every case of resistance proves this, notably this glaring case of the Jews. Damnation results from man’s own will which becomes permanent, obdurate, unaccountable resistance against God’s will of grace. The more God draws the will with the power of grace, the more this will rejects God until grace can do no more. (= Maka bangsa ini adalah milik Yesus, dan sebagai milikNya, Ia ingin mengumpulkannya bersama-sama. ... Tak ada yang lebih tragis dari pada hasil dari kehendak yang murah hati dari Yesus: ‘Dan kamu tidak mau’. Seperti begitu sering, gagasan yang berlawanan ditambahkan dengan kata penghubung yang berpengaruh, KAI. ... Kalimat itu seharusnya ditutup dengan ‘dan kamu mau’; tetapi sekarang itu ditutup dengan ‘dan kamu tidak mau!’ Hanya ini, tak ada lain, yang dikatakan. Tak ada kwalifikasi / syarat / pembatasan, tak ada pemodifikasi, tak ada penjelasan, tak ada tambahan. Satu hal yang fatal adalah: ‘kamu tidak mau’. Sekalipun singkat, ungkapan ini mencakup banyak fakta. Kasih karunia bukannya tidak bisa ditolak; setiap kasus dari penolakan membuktikan ini, khususnya kasus yang menyolok dari orang-orang Yahudi ini. Penghukuman muncul dari kehendak manusia sendiri yang menjadi penolakan yang permanen, keras kepala, tak bisa dipertanggung-jawabkan terhadap / menentang kehendak dari kasih karunia Allah. Makin Allah menarik kehendak itu dengan kuasa dari kasih karunia, makin kehendak ini menolak Allah sampai kasih karunia tidak bisa melakukan apa-apa lagi.).

Tanggapan saya:
1.   Lenski terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa ayat ini membicarakan kehendak / rencana Allah. Pertama-tama, perlu diperhatikan bahwa Yesus mempunyai 2 kehendak, ilahi dan manusiawi. Ini bisa saja hanya menunjuk pada kehendak manusiawiNya. Kedua, penggunaan kata ‘kehendak’ untuk Allah, bisa mempunyai 3 arti, yaitu:
a.   Rencana Allah. Ini tak bisa gagal.
b.   Keinginan / kesenangan Allah. Ini bisa gagal.
c.   Perintah / larangan Allah. Ini bisa gagal / dilanggar oleh manusia.
2.   Kata-kata bagian akhir dari kutipan dari Lenski di atas, betul-betul konyol, karena menunjukkan bahwa Allahnya frustrasi, karena Ia mau memberikan kasih karunia, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa lagi menghadapi kekuatan dari free will manusia yang menolaknya.

Lenski: Why do some wills resist thus? This asks for a reasonable explanation for an unreasonable act - no such explanation exists. To say that this is due to inborn sin is not an explanation, for men who have the same inborn sin are won, and their wills assent under grace. Moreover, this obdurate resistance is produced only when grace operates with its power. The spring is poisonous and throws out a poisonous stream. The gratia sufficiens is applied to spring and stream with power sufficiens to unpoison both. Behold, now the spring and the stream are a hundred times more poisonous than before. Explain that! All we know is that the mystery of this resistance lies in the will itself and in no way in God. How could Satan fall? How could Adam sin? How can man resist grace and salvation? How can a believer whose will is changed turn to unbelief and be damned? It is all one and the same question. (= Mengapa beberapa kehendak menolak seperti itu? Ini menanyakan / meminta untuk suatu penjelasan yang masuk akal untuk suatu tindakan yang masuk akal - penjelasan seperti itu tidak ada. Mengatakan bahwa ini disebabkan oleh dosa bawaan (sejak lahir) bukanlah suatu penjelasan, karena orang-orang yang mempunyai dosa bawaan (sejak lahir) yang sama dimenangkan, dan kehendak mereka menyetujui di bawah kasih karunia. Selanjutnya, penolakan yang keras kepala ini dihasilkan hanya pada waktu kasih karunia bekerja dengan kuasanya. Sumbernya beracun dan mengeluarkan suatu aliran yang beracun. Kasih karunia yang cukup diterapkan kepada sumber dan aliran dengan kuasa yang cukup untuk membuang racun keduanya. Lihatlah, sekarang sumber dan alirannya adalah 100 x lebih beracun dari pada sebelumnya. Jelaskan itu! Semua yang kami ketahui adalah bahwa misteri dari penolakan ini terletak dalam kehendak itu sendiri dan sama sekali bukan di dalam Allah. Bagaimana Iblis bisa jatuh? Bagaimana Adam bisa berdosa? Bagaimana manusia bisa menolak kasih karunia dan keselamatan? Bagaimana seorang percaya yang kehendaknya diubah bisa berbalik pada ketidakpercayaan dan binasa? Ini semua merupakan pertanyaan yang satu dan yang sama.).

Tanggapan saya:
Semua pertanyaan yang oleh Lenski dianggap tak bisa dijawab ini bisa dijawab seandainya ia memeluk Calvinisme. Mari kita membahas pertanyaan-pertanyaan yang dianggap sebagai misteri oleh Lenski ini dari sudut Calvinisme.

1.  Mengapa sebagian orang menolak? Calvinisme menjawab: karena mereka tak diberi kasih karunia. Mengapa mereka tidak diberi kasih karunia? Karena mereka bukan orang-orang pilihan Allah.
2.   Sekarang kita perhatikan kata-kata Lenski yang ini Semua yang kami ketahui adalah bahwa misteri dari penolakan ini terletak dalam kehendak itu sendiri dan sama sekali bukan di dalam Allah.’.
Arminianisme mempercayai bahwa semua manusia sejak lahir telah diberi kasih karunia yang mendahului (prevenient grace), sehingga semua ada pada level yang sama, bisa berbuat baik dan bisa percaya kepada Kristus. Kalau penolakan mereka bukan karena sesuatu yang ada di dalam diri Allah (predestinasi), maka itu pasti karena kehendak mereka sendiri, dimana ada yang mau dan ada yang tidak mau. Lalu mengapa ada yang percaya dan ada yang tidak? Pasti karena yang satu lebih baik dari yang lain. Tetapi Lenski jelas tak mau menerima ini, sehingga ia menganggap ini sebagai suatu misteri, padahal ini sebetulnya bukan misteri.
Calvinisme mengajarkan bahwa penolakan mereka ini memang karena sesuatu dalam diri Allah (predestinasi)!
3.   Bagaimana Iblis dan Adam bisa jatuh? Calvinisme menjawab: karena itu adalah rencana Allah, sehingga pada waktuNya, Ia menarik kasih karuniaNya dari mereka, dan secara tak terhindarkan, merekapun jatuh.
4.   Bagaimana manusia bisa menolak kasih karunia dan keselamatan? Calvinisme menganggap ini sebagai suatu omong kosong. Kalau Allah memang memberi kasih karunia dan bermaksud untuk menyelamatkan, maka orang itu tidak akan menolaknya.
5.   Bagaimana orang percaya bisa berbalik / murtad dan akhirnya binasa? Calvinisme lagi-lagi menganggap ini sebagai omong kosong, karena orang percaya yang sejati tidak mungkin murtad (1Yoh 2:19).



Word Biblical Commentary (tentang Mat 23:37): In the message of the dawning of the kingdom, this salvation had been offered repeatedly to the Jews. ... Despite the invitation to receive what Jesus was bringing, the Jews refused it: καὶ οὐκ ἠθελήσατε, ‘and you would not have it’ (cf. 22:3; Luke 19:14; John 1:11; 5:40). [= Dalam pesan tentang menyingsingnya kerajaan, keselamatan ini telah ditawarkan secara berulang-ulang kepada orang-orang Yahudi. ... Sekalipun ada undangan untuk menerima apa yang Yesus sedang bawa, orang-orang Yahudi menolaknya: KAI OUK ETHELESATE, ‘dan kamu tidak menghendakinya’ (bdk. 22:3; Luk 19:14; Yoh 1:11; 5:40).] - Libronix.

Mat 22:3 - “Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.”.

Luk 19:14 - “Akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami.”.

Yoh 1:11 - “Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya.”.

Yoh 5:40 - namun kamu tidak mau datang kepadaKu untuk memperoleh hidup itu.”.

Jadi, Yesus ingin mengumpulkan orang-orang Yahudi itu, diartikan bukan sebagai rencana Allah, yang lalu gagal / ditolak oleh orang-orang Yahudi itu, tetapi hanya dianggap sebagai undangan untuk percaya, atau penawaran keselamatan, kepada orang-orang Yahudi itu.

Matthew Henry (tentang Mat 23:37): “‘How often!’ Christ often came up to Jerusalem, preached, and wrought miracles there; and the meaning of all this, was, he would have gathered them. He keeps account how often his calls have been repeated. As often as we have heard the sound of the gospel, as often as we have felt the strivings of the Spirit, so often Christ would have gathered us. (= ‘Betapa sering!’ Kristus sering datang / naik ke Yerusalem, berkhotbah, dan melakukan mujijat-mujijat di sana; dan arti dari semua ini adalah, ‘Ia mau mengumpulkan mereka’. Ia mencatat berapa sering panggilanNya telah diulang. Sesering kita telah mendengar suara dari injil, sesering kita telah merasakan usaha / perjuangan dari Roh, begitu seringnya Kristus mau mengumpulkan kita.).

Calvin (tentang Mat 23:37): “Again, when the sophists seize on this passage, to prove free will, and to set aside the secret predestination of God, the answer is easy. ‘God wills to gather all men,’ say they; ‘and therefore all are at liberty to come, and their will does not depend on the election of God.’ I reply: The will of God, which is here mentioned, must be judged from the result. For since by his word he calls all men indiscriminately to salvation, and since the end of preaching is, that all should betake themselves to his guardianship and protection, it may justly be said that he wills to gather all to himself. It is not, therefore, the secret purpose of God, but his will, which is manifested by the nature of the word, that is here described; for, undoubtedly, whomsoever he efficaciously wills to gather, he inwardly draws by his Spirit, and does not merely invite by the outward voice of man. If it be objected, that it is absurd to suppose the existence of two wills in God, I reply, we fully believe that his will is simple and one; but as our minds do not fathom the deep abyss of secret election, in accommodation to the capacity of our weakness, the will of God is exhibited to us in two ways. And I am astonished at the obstinacy of some people, who, when in many passages of Scripture they meet with that figure of speech (a]nqrwpopa>qeia) which attributes to God human feelings, take no offense, but in this case alone refuse to admit it. But as I have elsewhere treated this subject fully, that I may not be unnecessarily tedious, I only state briefly that, whenever the doctrine, which is the standard of union, is brought forward, God wills to gather all, that all who do not come may be inexcusable.” [= Lagi-lagi, pada waktu para Sophists menggunakan text ini untuk membuktikan kehendak bebas, dan untuk menyingkirkan predestinasi rahasia dari Allah, jawabannya mudah. ‘Allah menghendaki untuk mengumpulkan semua manusia’, kata mereka; ‘dan karena itu semua bebas untuk datang, dan kehendak mereka tidak tergantung pada pemilihan dari Allah’. Saya menjawab: Kehendak Allah, yang disebutkan di sini, harus dinilai dari hasilnya. Karena oleh firmanNya Ia memanggil semua orang tanpa pembedaan kepada keselamatan, dan karena tujuan dari pemberitaan adalah, supaya semua orang membawa diri mereka sendiri pada penjagaan dan perlindunganNya, maka secara benar dikatakan bahwa Ia menghendaki untuk mengumpulkan semua orang kepada diriNya sendiri. Karena itu, bukanlah rencana rahasia dari Allah, tetapi kehendakNya, yang dinyatakan oleh sifat dasar dari firman yang digambarkan di sini; karena, dengan tak diragukan, siapapun yang Ia kehendaki secara efektif untuk kumpulkan, Ia tarik dari dalam oleh RohNya, dan tidak semata-mata undang oleh suara lahiriah dari manusia. Jika ada yang keberatan, bahwa adalah menggelikan untuk menganggap keberadaan dari dua kehendak di dalam Allah, saya menjawab, kami sepenuhnya percaya bahwa kehendakNya sederhana dan satu; tetapi karena pikiran kita tidak mengerti jurang yang dalam dari pemilihan rahasia, dalam penyesuaian dengan kapasitas dari kelemahan kita, kehendak Allah dinyatakan kepada kita dengan dua jalan / cara. Dan saya heran pada kekeras-kepalaan dari sebagian orang, yang pada waktu dalam banyak text dari Kitab Suci mereka bertemu dengan gaya bahasa itu (ANTHROPOPATHEIA) yang menghubungkan dengan Allah perasaan-perasaan manusia, tidak marah / tersandung, tetapi dalam kasus ini saja menolak untuk mengakuinya. Tetapi seperti saya telah membahas di tempat lain pokok / hal ini dengan sepenuhnya, supaya saya tidak membosankan secara tidak perlu, saya hanya menyatakan secara singkat bahwa, kapanpun doktrin ini, yang adalah standard dari persatuan, dikemukakan, Allah menghendaki untuk mengumpulkan semua orang, sehingga semua orang yang tidak datang tidak bisa dimaafkan.].
Catatan: ‘sophist’ = ahli argumentasi dalam kepausan / Katolik.

Jadi, sama seperti dua penafsir di atas, Calvin menafsirkan bahwa Yesus ingin mengumpulkan semua orang itu melalui pemberitaan Injil / firman.
Tetapi Calvin menambahkan bahwa ini (kerinduan Yesus, tangisan Yesus) merupakan bahasa Anthropopathy, yaitu gaya bahasa yang menggambarkan Allah dengan perasaan-perasaan manusia.
Dan Calvin menambahkan lagi bahwa orang-orang Arminian itu, yang dalam banyak bagian Alkitab yang lain bertemu dengan gaya bahasa ini, sama sekali tidak mempersoalkannya, tetapi di sini, dan hanya di sini, mempersoalkannya, dan tidak mau mengakui ini sebagai Anthropopathy.

c)   Yes 65:2 - “Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tanganKu kepada suku bangsa yang memberontak, yang menempuh jalan yang tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri;”.

Sebelum kita membahas ayatnya, mari kita memperhatikan kontext dari ayat itu.

Yes 65:1-2 - “(1) Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: ‘Ini Aku, ini Aku!’ kepada bangsa yang tidak memanggil namaKu. (2) Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tanganKu kepada suku bangsa yang memberontak, yang menempuh jalan yang tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri;”.

E. J. Young (tentang Yes 65:1): God here speaks of the Gentiles, who, in contrast to the Jews, have received His grace even though they had not asked for it. ... In other words, God’s free grace reached those who did not know Him and who made no effort to find Him. They in fact were found of Him. Isaiah’s forceful language simply asserts the reality of sovereign and free grace given to sinners who deserve it not, and who have had no concern for it. (= Allah di sini berbicara tentang orang-orang non Yahudi, yang, dalam kontras dengan orang-orang Yahudi, telah menerima kasih karuniaNya sekalipun mereka tidak mencarinya. ... Dengan kata lain, kasih karunia yang cuma-cuma dari Allah mencapai mereka yang tidak mengenalNya dan tidak melakukan usaha untuk mencariNya. Mereka sesungguhnya ditemukan olehNya. Bahasa / kata-kata yang kuat dari Yesaya hanya menegaskan kenyataan dari kasih karunia yang berdaulat dan cuma-cuma yang diberikan kepada orang-orang berdosa yang tak layak mendapatkannya, dan yang tak mempedulikannya.).

Jadi, ayat sebelumnya, yaitu Yes 65:1 ini justru merupakan bukti dari doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak), karena bangsa yang tidak mencari Tuhan, justru diselamatkan oleh Tuhan. Sekarang, bagaimana dengan Yes 65:2-nya?

E. J. Young (tentang Yes 65:2): Verses 1 and 2 are a general answer to the question raised in the preceding chapter, namely, ‘Will there ever be an end to the divine wrath? Must God’s own people forever suffer the hiding of His face?’ By way of answer, God declares that He will indeed come in grace, but to a people who had not sought Him, i.e. the Gentiles. To the chosen people, however, which throughout their entire history had been rebellious (cf. 63:10), there was no hope. It is the truth that Christ later declared: ‘The kingdom of God shall be taken from you, and shall be given to a nation which shall bring forth fruit’ (Matt. 21:43; cf. also Deut. 32:5,6,21). [= Ayat 1 dan 2 merupakan suatu jawaban umum terhadap pertanyaan yang diberikan dalam pasal sebelumnya, yaitu, ‘Apakah akan ada suatu akhir dari murka ilahi? Haruskah bangsa / umat Allah sendiri selama-lamanya mengalami penyembunyian wajahNya?’ Sebagai jawaban, Allah menyatakan bahwa Ia memang akan datang dengan kasih karunia, tetapi kepada suatu bangsa yang tidak mencariNya, yaitu orang-orang non Yahudi. Tetapi kepada bangsa pilihan, yang selama seluruh sejarah mereka telah menjadi bangsa pemberontak (bdk. 63:10), disana tidak ada harapan. Ini merupakan kebenaran yang belakangan Kristus nyatakan: ‘Kerajaan Allah akan diambil dari padamu, dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan mengeluarkan / menghasilkan buah’ (Mat 21:43; bdk. juga Ul 32:5,6,21).].
Catatan: pertanyaan dalam pasal sebelumnya yang dipersoalkan oleh E. J. Young saya berikan di bawah ini.

Yes 64:8-12 - “(8) Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tanganMu. (9) Ya TUHAN, janganlah murka amat sangat dan janganlah mengingat-ingat dosa untuk seterusnya! Sesungguhnya, pandanglah kiranya, kami sekalian adalah umatMu. (10) Kota-kotaMu yang kudus sudah menjadi padang gurun, Sion sudah menjadi padang gurun, Yerusalem sunyi sepi. (11) Bait kami yang kudus dan agung, tempat nenek moyang kami memuji-muji Engkau, sudah menjadi umpan api, maka milik kami yang paling indah sudah menjadi reruntuhan. (12) Melihat semuanya ini, ya TUHAN, masakan Engkau menahan diri, masakan Engkau tinggal diam dan menindas kami amat sangat?.

Yes 63:10 - “Tetapi mereka memberontak dan mendukakan Roh KudusNya; maka Ia berubah menjadi musuh mereka, dan Ia sendiri berperang melawan mereka.”.

Mat 21:43 - “Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.”.

Ul 32:5,6,21 - “(5) Berlaku busuk terhadap Dia, mereka yang bukan lagi anak-anakNya, yang merupakan noda, suatu angkatan yang bengkok dan belat-belit. (6) Demikianlah engkau mengadakan pembalasan terhadap TUHAN, hai bangsa yang bebal dan tidak bijaksana? Bukankah Ia Bapamu yang mencipta engkau, yang menjadikan dan menegakkan engkau? ... (21) Mereka membangkitkan cemburuKu dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan sakit hatiKu dengan berhala mereka. Sebab itu Aku akan membangkitkan cemburu mereka dengan yang bukan umat, dan akan menyakiti hati mereka dengan bangsa yang bebal.”.

Tetapi, kalau Yes 65:1 merupakan bukti dari Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak), tidakkah Yes 65:2 merupakan kebalikannya? Allah kelihatannya membatalkan pemilihanNya dan pemberian kasih karuniaNya kepada Israel karena mereka terus memberontak. Mengapa kasih karunia Allah itu tidak bisa mempertobatkan mereka?

Yes 65:2 - “Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tanganKu kepada suku bangsa yang memberontak, yang menempuh jalan yang tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri;”.

E. J. Young (tentang Yes 65:2): Spreading out the hand is an action denoting God’s love and willingness to receive His people. God performed this action not merely once, but all the day, (= Mengulurkan tangan adalah suatu tindakan yang menunjukkan kasih dan kerelaan Allah untuk menerima bangsaNya. Allah melakukan tindakan ini bukan hanya satu kali tetapi sepanjang hari,).

Calvin (tentang Yes 65:2): “He accuses the Jews, and complains of their ingratitude and rebellion; and in this manner he proves that there is no reason why they should say that the Lord does them wrong if he bestow his grace on others. The Jews conducted themselves proudly and insolently toward God, as if they had been elected through their own merit. On account of their ingratitude and insolence the Lord rejects them as unworthy, and complains that to no purpose did he ‘stretch out his hands’ to draw and bring them back to him. By ‘the stretching out of the hands’ he means the daily invitation. There are various ways in which the Lord ‘stretches out his hands to us;’ for he draws us to him, either effectually or by the word. In this passage it must relate chiefly to the word. The Lord never speaks to us without at the same time ‘stretching out his hand’ to join us to himself, or without causing us to feel, on the other hand, that he is near to us. He even embraces us, and shews the anxiety of a father, so that, if we do not comply with his invitation, it must be owing entirely to our own fault.” (= Ia menuduh orang-orang Yahudi, dan mengeluh tentang rasa tidak tahu terima kasih dan pemberontakan mereka; dan dengan cara ini ia membuktikan bahwa disana tidak ada alasan mengapa mereka harus berkata bahwa Tuhan melakukan kesalahan kepada mereka jika Ia memberikan kasih karuniaNya kepada orang-orang lain. Orang-orang Yahudi bertingkah laku secara sombong dan kurang ajar terhadap Allah, seakan-akan mereka telah dipilih melalui jasa mereka sendiri. Karena rasa tidak tahu terima kasih dan kekurang-ajaran mereka, Tuhan menolak mereka sebagai tidak layak, dan mengeluh bahwa tidak ada gunanya Ia ‘mengulurkan tanganNya’ untuk menarik dan membawa mereka kembali kepadaNya. Dengan ‘mengulurkan tangan’ ia memaksudkan undangan harian. Di sana ada bermacam-macam cara dalam mana Tuhan ‘mengulurkan tanganNya kepada kita’; karena Ia menarik kita kepadaNya, atau secara efektif, atau oleh firman. Dalam text ini, itu harus berhubungan terutama dengan firman. Tuhan tidak pernah berbicara kepada kita tanpa pada saat yang sama ‘mengulurkan tanganNya’ untuk menggabungkan kita dengan diriNya sendiri, atau tanpa menyebabkan kita untuk merasa, di sisi lain, bahwa Ia dekat dengan kita. Ia bahkan memeluk kita, dan menunjukkan kekuatiran seorang bapa, sehingga jika kita tidak memenuhi / mengikuti undanganNya, itu harus dianggap sepenuhnya sebagai kesalahan kita sendiri.).

Jadi jelas bahwa menurut Calvin, Yes 65:2 tidak menunjukkan pemberian Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) kepada Israel, yang ternyata akhirnya bisa mereka tolak. Kata-kata ‘mengulurkan tangan’ diartikan oleh Calvin hanya sebagai pemberitaan firman kepada mereka, atau merupakan panggilan luar / lahiriah kepada mereka.

d)   Luk 9:23 - KataNya kepada mereka semua: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.

Betul-betul tolol bahwa dari kata ‘mau’ di sini Lenski menganggap bahwa Yesus tidak mengajarkan Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak)!

Lenski: “‘Christ does not pull his sheep by a rope; in his army are none but volunteers.’ E. Frommel. Jesus knows of no irresistible grace but only of the grace which draws the will and wins it for himself. And this grace excludes no one - TIS is like a blank space into which you are invited to write your name, no matter who you may be” [= ‘Kristus tidak menarik dombaNya dengan sebuah tali; dalam pasukannya tidak ada orang kecuali sukarelawan’. E. Frommel. Yesus tidak mengenal kasih karunia yang tidak bisa ditolak tetapi hanya kasih karunia yang menarik kemauan / kehendak dan memenangkannya untuk diriNya sendiri. Dan kasih karunia ini tidak mengeluarkan siapapun - kata Yunani TIS (= anyone / siapapun / setiap orang) adalah seperti suatu spasi / tempat kosong ke dalam mana engkau diundang untuk menuliskan namamu, tak peduli siapapun engkau adanya] - hal 517.

Tanggapan saya:
1.   Bagaimana kata-kata Lenski ini bisa diharmoniskan dengan fakta bahwa ada banyak orang yang sampai mati tidak pernah diberi kesempatan untuk mendengar Injil?
2.   Bagaimana kata-kata Lenski pada bagian awal dari kutipan di atas bisa sesuai dengan ayat-ayat ini yang menunjukkan bahwa Allah memang menarik orang-orang sehingga menjadi orang-orang yang percaya?

Bdk. Yoh 6:44,65 - “(44) Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. ... (65) Lalu Ia berkata: ‘Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.’”.

Kesimpulan: semua ayat yang menunjukkan penolakan manusia tidak menunjuk pada penolakan terhadap kasih karunia Allah, tetapi hanya menunjukkan penolakan manusia terhadap Injil / undangan lahiriah dari Tuhan!

C)   Doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) ini dianggap bertentangan dengan ayat-ayat Alkitab yang menawarkan keselamatan kepada setiap orang.

Misalnya: Yoh 3:16 - “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang (Inggris: whoever / whosoever / barangsiapa) yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”.

Ini berlaku juga untuk ayat-ayat lain yang menunjukkan adanya undangan kepada setiap orang untuk datang kepada Tuhan dan diselamatkan. Ayat-ayat seperti ini dianggap menunjukkan bahwa manusia mampu percaya kepada Kristus asal ia mau, dan karena itu tidak dibutuhkan Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak).

R. C. Sproul: non-Reformed views find one of their main proof texts to argue that fallen man retains a small island of ability to choose Christ. It is John 3:16: ‘For God so loved the world that He gave His only begotten Son, that whoever believes in Him should not perish but have everlasting life.’ What does this famous verse teach about fallen man’s ability to choose Christ? The answer, simply, is nothing. The argument used by non-Reformed people is that the text teaches that everybody in the world has it in their power to accept or reject Christ. A careful look at the text reveals, however, that it teaches nothing of the kind. What the text teaches is that everyone who believes in Christ will be saved. Whoever does A (believes) will receive B (everlasting life). The text says nothing, absolutely nothing, about who will ever believe. It says nothing about fallen man’s natural moral ability. Reformed people and non-Reformed people both heartily agree that all who believe will be saved. They heartily disagree about who has the ability to believe. Some may reply, ‘All right. The text does not explicitly teach that fallen men have the ability to choose Christ without being reborn first, but it certainly implies that.’ I am not willing to grant that the text even implies such a thing. However, even if it did it would make no difference in the debate. Why not? Our rule of interpreting Scripture is that implications drawn from the Scripture must always be subordinate to the explicit teaching of Scripture. We must never, never, never reverse this to subordinate the explicit teaching of Scripture to possible implications drawn from Scripture. This rule is shared by both Reformed and non-Reformed thinkers. If John 3:16 implied a universal natural human ability of fallen men to choose Christ, then that implication would be wiped out by Jesus’ explicit teaching to the contrary. We have already shown that Jesus explicitly and unambiguously taught that no man has the ability to come to him without God doing something to give him that ability, namely drawing him. [= pandangan-pandangan non-Reformed menemukan satu dari text-text bukti utama mereka untuk berargumentasi bahwa manusia yang telah jatuh mempertahankan suatu pulau kecil dari kemampuan untuk memilih Kristus. Itu adalah Yoh 3:16: ‘Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.’ Apa yang diajarkan oleh ayat yang terkenal ini tentang kemampuan dari manusia yang telah jatuh untuk memilih Kristus? Jawabannya, sederhana, tidak ada. Argumentasi yang digunakan oleh orang-orang non-Reformed adalah bahwa text ini mengajar bahwa setiap orang dalam dunia mempunyai dalam kuasa mereka untuk menerima atau menolak Kristus. Tetapi suatu pandangan yang teliti pada text itu menyatakan bahwa text itu tidak mengajar apapun tentang hal itu. Apa yang diajarkan oleh text itu adalah, bahwa setiap orang yang percaya kepada Kristus akan diselamatkan. Siapapun yang melakukan A (percaya) akan menerima B (hidup yang kekal). Text itu tidak berkata apa-apa tentang siapa yang akan percaya. Text itu tidak berkata apa-apa tentang kemampuan moral alamiah dari manusia yang telah jatuh. Orang Reformed dan orang non-Reformed sama-sama setuju dengan sungguh-sungguh bahwa semua orang yang percaya akan diselamatkan. Mereka sungguh-sungguh tidak setuju tentang siapa yang mempunyai kemampuan untuk percaya. Sebagian mungkin menjawab, ‘OK, textnya tidak secara explicit mengajar bahwa manusia yang telah jatuh mempunyai kemampuan untuk memilih Kristus tanpa dilahir-barukan lebih dulu, tetapi text itu pasti secara implicit mengajarkan hal itu’. Saya tidak mau mengakui bahwa text itu bahkan secara implicit mengajarkan hal seperti itu. Tetapi, bahkan seandainya text itu mengajarkan hal itu secara implicit, itu tidak akan membuat perbedaan dalam debat ini. Mengapa tidak? Peraturan kita tentang menafsirkan Kitab Suci adalah bahwa kesimpulan yang ditarik dari Kitab Suci harus selalu tunduk pada ajaran explicit dari Kitab Suci. Kita tidak pernah, tidak pernah, tidak pernah boleh membalik ini, untuk menundukkan ajaran explicit Kitab Suci pada kesimpulan yang memungkinkan yang ditarik dari Kitab Suci. Peraturan ini dipakai bersama-sama oleh baik pemikir-pemikir Reformed maupun non-Reformed. Seandainya Yoh 3:16 secara implicit mengajarkan suatu kemampuan manusia alamiah yang bersifat universal dari manusia yang telah jatuh untuk memilih Kristus, maka kesimpulan itu akan dihapuskan oleh ajaran explicit yang sebaliknya dari Yesus. Kami telah menunjukkan bahwa Yesus secara explicit dan secara tak meragukan mengajarkan bahwa tak ada orang yang mempunyai kemampuan untuk datang kepadaNya tanpa Allah melakukan sesuatu yang memberinya kemampuan itu, yaitu menariknya (Yoh 6:44).] - ‘Chosen by God’, hal 73-74.

R. C. Sproul: Fallen man is flesh. In the flesh he can do nothing to please God. Paul declares, ‘The fleshly mind is enmity against God; for it is not subject to the law of God, nor indeed can be. So then, those who are in the flesh cannot please God’ (Rom. 8:7, 8). We ask, then, ‘Who are those who are ‘in the flesh’?’ Paul goes on to declare: ‘But you are not in the flesh but in the Spirit, if indeed the Spirit of God dwells in you’ (Rom. 8:9). The crucial word here is ‘if’. What distinguishes those who are in the flesh from those who are not is the indwelling of the Holy Spirit. No one who is not reborn is indwelt by God the Holy Spirit. People who are in the flesh have not been reborn. Unless they are first reborn, born of the Holy Spirit, they cannot be subject to the law of God. They cannot please God. God commands us to believe in Christ. He is pleased by those who choose Christ. If unregenerate people could choose Christ, then they could be subject to at least one of God’s commands and they could at least do something that is pleasing to God. If that is so, then the apostle has erred here in insisting that those who are in the flesh can neither be subject to God nor please him. [= Manusia yang telah jatuh adalah daging. Dalam daging ia tidak bisa melakukan apapun untuk memperkenan Allah. Paulus menyatakan, ‘Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.’ (Ro 8:7,8). Maka kita bertanya, ‘Siapakah mereka yang ada di dalam daging?’ Paulus melanjutkan untuk menyatakan: ‘Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu.’ (Ro 8:9). Kata yang sangat penting di sini adalah kata ‘jika’. Apa yang membedakan mereka yang ada dalam daging dengan mereka yang tidak, adalah penghunian oleh Roh Kudus. Tak seorangpun yang tidak dilahirkan kembali dihuni oleh Allah Roh Kudus. Orang-orang yang ada di dalam daging, belum dilahirkan kembali. Kecuali mereka pertama-tama dilahirkan kembali, dilahirkan dari / oleh Roh Kudus, mereka tidak bisa tunduk pada hukum Allah. Mereka tidak bisa memperkenan Allah. Allah memerintahkan kita untuk percaya kepada Kristus. Ia diperkenan oleh mereka yang memilih Kristus. Jika orang-orang yang belum dilahirbarukan bisa memilih Kristus, maka mereka bisa tunduk pada sedikitnya satu dari perintah-perintah Allah, dan mereka setidaknya bisa melakukan sesuatu yang menyenangkan / memperkenan Allah. Jika demikian, maka sang rasul telah bersalah di sini dalam berkeras bahwa mereka yang ada dalam daging tidak bisa tunduk kepada Allah ataupun memperkenan Dia.] - ‘Chosen by God’, hal 74-75.

Loraine Boettner: But some may ask, Do not the many passages in the Bible such as, ‘If thou shalt obey,’ ‘If thou turn unto Jehovah,’ ‘If thou do that which is evil,’ and so forth, at least imply that man has free will and ability? It does not follow, however, that merely because God commands man is able to obey. ... In these passages man is taught not what he can do, but what he ought to do; (= Tetapi beberapa orang bisa bertanya, Bukankah banyak text dalam Alkitab seperti ‘Jika engkau taat’, ‘Jika engkau berbalik kepada Yehovah’, ‘Jika engkau melakukan apa yang jahat’, dsb, setidaknya menunjukkan secara implicit bahwa manusia mempunyai kehendak bebas dan kemampuan? Tetapi bukanlah merupakan konsekwensinya, bahwa semata-mata karena Allah memerintahkan, maka manusia mampu untuk mentaati. ... Dalam text-text ini manusia diajar bukan apa yang bisa ia lakukan, tetapi apa yang harus ia lakukan;) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 178.


-o0o-



Tidak ada komentar:

Posting Komentar