Minggu, 16 Maret 2014

IRRESISTIBLE GRACE (KASIH KARUNIA YANG TIDAK BISA DITOLAK) - Part 2


Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div



 


       10)Yoh 6:44-45 - “(44) Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. (45) Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepadaKu..

Adam Clarke (tentang Yoh 6:45): “‘They shall be all taught of God.’ This explains the preceding verse. God teaches a man to know himself, that, finding his need of salvation, he may flee to lay hold on the hope which his heavenly Father has set before him in the Gospel. God draws men by his love, and by showing them what his love has done for them.” (= ‘Mereka semua akan diajar oleh Allah’. Ini menjelaskan ayat yang mendahuluinya. Allah mengajar orang untuk mengenal diriNya sendiri, sehingga, mendapati kebutuhannya akan keselamatan, ia bisa lari untuk berpegang pada pengharapan yang Bapa surgawinya telah letakkan di hadapannya dalam Injil. Allah menarik manusia oleh kasihNya, dan dengan menunjukkan kepada mereka apa yang kasihNya telah lakukan bagi mereka.).

Dengan penafsiran seperti ini tak terlihat apapun bahwa Allah memberikan iman kepada orang-orang pilihan / orang-orang percaya. Apa masalahnya dengan penafsiran Adam Clarke ini? Ia tidak mempedulikan kata-kata ‘mereka semua’ dan ‘setiap orang’ dalam Yoh 6:45!

Lenski (tentang Yoh 6:45): Jesus first uses διδόναι, ‘to give,’ in v. 37 and 39, he adds ἑλκύειν, ‘to draw,’ in v. 44. He now takes the next step and makes fully clear how this giving and drawing to Jesus is effected by the Father. ‘It has been written in the prophets, And they shall all be people taught of God. Everyone that did hear from the Father and did learn comes to me.’ ... All that they hold and believe is God’s own teaching, none of it comes from themselves or merely from men. Thus we see what it means to be drawn by the Sender of Jesus, namely to be ‘people taught of God.’ (= Yesus pertama-tama / mula-mula menggunakan DIDONAI, ‘memberikan’, dalam ay 37 dan 39, Ia menambahkan HELKUEIN, ‘menarik’, dalam ay 44. Sekarang Ia mengambil langkah berikutnya dan membuat sepenuhnya jelas bagaimana pemberian dan penarikan kepada Yesus ini diadakan / dijalankan oleh Bapa. ‘Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepadaKu.’ ... Semua yang mereka pegang dan percayai adalah ajaran Allah sendiri, tak ada darinya yang datang dari diri mereka sendiri atau semata-mata dari manusia. Maka kita melihat apa artinya ditarik oleh Pengutus dari Yesus, yaitu menjadi ‘orang-orang yang diajar dari / oleh Allah’).

Catatan: sama seperti Adam Clarke, Lenski juga tidak mempedulikan kata-kata ‘mereka semua’ dan ‘setiap orang’ dalam Yoh 6:45!

William Hendriksen (tentang Yoh 6:45): It is not true that 6:45 cancels or at least weakens 6:44. The expression, ‘It is written in the prophets, And they shall all be taught of God,’ does not in any sense whatever place in the hands of men the power to accept Jesus as Lord. Here is more - much more! - than mere intellectual advancement. Here, too, is more than that plus moral suasion. Here is the transformation of the entire personality! (= Tidaklah benar bahwa 6:45 membatalkan atau setidaknya melemahkan 6:44. Ungkapan, ‘Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah’, tidak dalam arti apapun meletakkan dalam tangan manusia kuasa untuk menerima Yesus sebagai Tuhan. Di sini ada lebih - jauh lebih banyak! - dari pada semata-mata kemajuan intelektual. Di sini juga, adalah lebih dari itu ditambah bujukan / desakan. Ini adalah perubahan dari seluruh kepribadian!).

William Hendriksen (tentang Yoh 6:45): Here again the divine and the human activities in the work of salvation are juxtaposed, for immediately after ‘And they shall all be taught of God’ there follows, ‘Everyone who listens to the Father and learns of him will come to me.’ In this connection, however, it should be emphasized that in showing how sinners are saved Scripture never merely places side by side the divine and the human factors, predestination and responsibility, God’s teaching and man’s listening. On the contrary, it is always definitely indicated that it is God who takes the initiative and who is in control from start to finish. It is God who draws before man comes; it is he that teaches before man can listen and learn. Unless the Father draws, no one can come. That is the negative side. The positive is: everyone who listens to the Father and learns of him will come. Grace always conquers; it does what it sets out to do. In that sense it is irresistible. The absolute character of the cooperation between Father and Son, which, in turn, is based upon unity of essence, is stressed once more as in so many other passages in this Gospel: he who listens to the Father (not merely in the outward sense but so that he actually learns of him) comes to the Son, ‘will come to me.’ Such a person will embrace Christ by a true and living faith. [= Di sini lagi-lagi aktivitas ilahi dan manusiawi dalam pekerjaan keselamatan diletakkan berdampingan, karena segera setelah ‘Dan mereka semua akan diajar dari / oleh Bapa’ mengikuti kalimat ‘Dan setiap orang, yang mendengar kepada Bapa dan belajar dari Dia, akan datang kepadaKu.’ Tetapi dalam hubungan ini harus ditekankan bahwa dalam menunjukkan bagaimana orang-orang berdosa diselamatkan, Kitab Suci tidak pernah semata-mata menempatkan berdampingan faktor-faktor ilahi dan manusiawi, predestinasi dan tanggung jawab, pengajaran Allah dan pendengaran manusia. Sebaliknya, selalu secara pasti ditunjukkan bahwa Allahlah yang mengambil inisiatif dan yang mengendalikan dari awal sampai akhir. Allahlah yang menarik sebelum manusia bisa datang; Ialah yang mengajar sebelum manusia bisa mendengar dan belajar. Kecuali Bapa menarik, tak seorangpun bisa datang. Itu adalah sisi negatifnya. Sisi positifnya adalah: setiap orang yang mendengar kepada Bapa dan belajar dari Dia akan datang. Kasih karunia selalu menang; kasih karunia melakukan apa yang kasih karunia maksudkan untuk lakukan. Dalam arti itu kasih karunia tidak dapat ditolak. Karakter mutlak dari kerja sama antara Bapa dan Anak, yang didasarkan pada kesatuan hakekat, ditekankan satu kali lagi seperti dalam begitu banyak text-text dalam Injil ini: ia yang mendengar kepada Bapa (bukan semata-mata dalam arti lahiriah tetapi sedemikian rupa sehingga ia betul-betul belajar dari Dia) datang kepada Anak, ‘akan datang kepadaKu’. Orang seperti itu akan memeluk / percaya kepada Kristus dengan iman yang sejati / benar dan hidup.].

Catatan: perhatikan perbedaan penafsiran antara William Hendriksen di satu pihak dan Adam Clarke dan Lenski di pihak lain. William Hendriksen menafsirkan kata-kata ‘setiap orang’, tetapi Adam Clarke dan Lenski tidak. Penghindaran seperti ini dilakukan untuk membuat ayat itu artinya sesuai dengan theologia mereka.

Calvin (tentang Yoh 6:45): “the Church cannot be restored in any other way than by God undertaking the office of a Teacher, and bringing believers to himself. The way of teaching, of which the prophet speaks, does not consist merely in the external voice, but likewise in the secret operation of the Holy Spirit. In short, this teaching of God is the inward illumination of the heart. ‘And they shall be all taught by God.’ As to the word ‘all,’ it must be limited to the elect, who alone are the true children of the Church. ... Christ, therefore, justly concludes that men have not eyes to behold the light of life, until God has opened them. But at the same time, he fastens on the general phrase, ‘all;’ because he argues from it, that ‘all’ who are ‘taught by God’ are effectually drawn, so as to come; and to this relates what he immediately adds, Whosoever therefore hath heard my Father. The amount of what is said is, that all who do not believe are reprobate and doomed to destruction; because all the sons of the Church and heirs of life are made by God to be his obedient disciples. Hence it follows, that there is not one of all the elect of God who shall not be a partaker of faith in Christ. Again, as Christ formerly affirmed that men are not fitted for believing, until they have been drawn, so he now declares that the grace of Christ, by which they are drawn, is efficacious, so that they necessarily believe. These two clauses utterly overturn the whole power of free will, of which the Papists dream. For if it be only when the Father has drawn us that we begin to ‘come to Christ,’ there is not in us any commencement of faith, or any preparation for it. On the other hand, if all come whom the Father hath taught, He gives to them not only the choice of believing, but faith itself. ... ‘Cometh to me.’ He shows the inseparable connection that exists between him and the Father. For the meaning is, that it is impossible that any who are God’s disciples shall not obey Christ, and that they who reject Christ refuse to be ‘taught by God;’ because the only wisdom that all the elect learn in the school of God is, to come to Christ; for the Father, who sent him, cannot deny himself.” (= Gereja tidak bisa dipulihkan dengan cara lain apapun dari pada dengan Allah mengerjakan jabatan dari seorang Guru / Pengajar, dan membawa orang-orang percaya kepada diriNya sendiri. Cara pengajaran, tentang mana sang nabi berbicara, tidak terdiri semata-mata dalam suara lahiriah, tetapi juga dalam pekerjaan / operasi rahasia dari Roh Kudus. Singkatnya, pengajaran Allah ini adalah pencerahan di dalam dari hati. ‘Dan mereka semua akan diajar oleh Allah’. Berkenaan dengan kata ‘semua’, itu harus dibatasi pada orang-orang pilihan, karena hanya mereka yang merupakan anak-anak yang sejati dari Gereja. ... Karena itu, Kristus secara benar menyimpulkan bahwa manusia tidak mempunyai mata untuk melihat terang kehidupan, sampai Allah telah membuka mata mereka. Tetapi pada saat yang sama, Ia melekatkan pada ungkapan umum, ‘semua’; karena Ia berargumentasi darinya, bahwa ‘semua’ yang ‘diajar oleh Allah’ ditarik secara efektif, sehingga mereka datang; dan dengan hal ini berhubungan apa yang Ia segera tambahkan, Karena itu, ‘barang siapa / setiap orang telah mendengar BapaKu.’ Total dari semua yang Ia katakan adalah, bahwa semua yang tidak percaya adalah reprobate / orang-orang non pilihan dan ditentukan pada kebinasaan / kehancuran; karena semua anak-anak dari Gereja dan ahli-ahli waris dari kehidupan dibuat oleh Allah untuk menjadi murid-muridNya yang taat. Maka akibatnya adalah bahwa di sana tidak ada seorangpun dari semua orang-orang pilihan dari Allah yang tidak akan menjadi seorang pengambil bagian dari iman kepada Kristus. Selanjutnya, sebagaimana Kristus sebelumnya menegaskan bahwa orang-orang tidak cocok untuk percaya, sampai mereka telah ditarik, maka sekarang Ia menyatakan bahwa kasih karunia dari Kristus, dengan mana mereka ditarik, adalah mujarab / pasti berhasil, sehingga mereka pasti percaya. Dua anak kalimat ini sama sekali membalikkan seluruh kekuatan dari kehendak bebas, tentang mana para pengikut Paus bermimpi. Karena jika hanya pada waktu Bapa telah menarik kita maka kita mulai ‘datang kepada Kristus’, di sana tidak ada di dalam kita pemulaian apapun dari iman, atau persiapan apapun untuk iman. Di sisi yang lain, jika semua yang telah diajar Bapa datang, IA MEMBERIKAN KEPADA MEREKA BUKAN HANYA PEMILIHAN UNTUK PERCAYA, TETAPI IMAN ITU SENDIRI. ... ‘Datang kepadaKu’. Ia menunjukkan hubungan yang tak terpisahkan yang ada antara Dia dengan Bapa. Karena artinya adalah, bahwa adalah tidak mungkin bahwa siapapun yang adalah murid-murid Allah tidak akan mentaati Kristus, dan bahwa mereka yang menolak Kristus menolak untuk ‘diajar oleh Allah’; karena satu-satunya hikmat yang dipelajari oleh semua orang-orang pilihan dalam sekolah Allah adalah, datang kepada Kristus; karena Bapa, yang mengutusNya, tidak bisa menyangkal diriNya sendiri.).

Lagi-lagi kita melihat bahwa Calvin, sama seperti William Hendriksen, memperhatikan kata-kata ‘semua’ dan ‘setiap orang / barangsiapa’, yang memang merupakan kata-kata kunci yang sangat penting dalam ayat ini, tetapi diabaikan / dihindari oleh Adam Clarke dan Lenski.

Ini beberapa hal penting yang ditekankan oleh Calvin dalam kutipan di atas:
a)   Ay 45 merupakan kutipan dari Yes 54:13 - Semua anakmu akan menjadi murid TUHAN, dan besarlah kesejahteraan mereka”.
b)   Kata ‘semua’ menunjuk kepada elects (= orang-orang pilihan).
c)   Ini menjelaskan bahwa Allah ‘menarik’ dengan ‘mengajar’. Tetapi jelas bahwa ‘mengajar’ ini bukanlah satu-satunya hal yang Allah lakukan untuk menarik seseorang. Ia juga melahirbarukan (atau ‘membuka mata mereka’), memberikan terang sehingga orang itu mengerti ajaran yang Ia berikan, dan bahkan Ia juga memberikan iman. Saya ingin ulangi bagian terpenting dari kata-kata Calvin di atas.
Calvin (tentang Yoh 6:45): “He gives to them not only the choice of believing, but faith itself.” (= Ia memberikan kepada mereka bukan hanya pemilihan, tetapi iman itu sendiri.).
d)   Orang yang telah mendengar dan menerima ajaran dari Bapa akan datang kepada Yesus (beriman kepada Yesus).

11)Yoh 6:65 - “Lalu Ia berkata: ‘Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.’”.

Adam Clarke (tentang Yoh 6:65): “‘Except it were given unto him.’ None can come at first, unless he be drawn by the Father; and none can continue, unless he continue under those sacred influences which God gives only to those who do not receive his first graces in vain. St. Augustin himself grants that it was the sole fault of these disciples that they did not believe, and were saved. ... If I be asked why these could not believe, I immediately answer, because they WOULD NOT. Aug. Tract. 53, in Joan.” (= ‘Kecuali itu dikaruniakan kepadanya’. Mula-mula tak seorangpun bisa datang, kecuali ia ditarik oleh Bapa; dan tak seorangpun bisa melanjutkan, kecuali ia terus ada di bawah pengaruh-pengaruh kudus itu, yang Allah berikan hanya kepada mereka yang tidak menerima kasih karuniaNya yang pertama dengan sia-sia. Santo Agustinus sendiri mengakui bahwa adalah semata-mata kesalahan dari murid-murid ini bahwa / sehingga mereka tidak percaya dan diselamatkan. ... Jika saya ditanya mengapa orang-orang ini tidak dapat percaya, saya segera menjawab, karena mereka TIDAK MAU. Aug. Tract 53, in Joan.).

Catatan:
a)   Kata-kata Clarke pada bagian awal (yang saya garis-bawahi) lagi-lagi menghindari pembahasan kata-kata dari Yoh 6:65 itu. Kata-katanya boleh dikatakan tidak ada hubungannya dengan ayat itu. Dari mana ia tahu-tahu bicara ada kasih karunia yang pertama, yang kelihatannya ia katakan sebagai ‘tarikan pertama dari Bapa’, yang tidak diterima dengan sia-sia oleh orang itu, dan lalu orang itu harus terus ada di bawah pengaruh kudus dari kasih karunia itu?
b)   Lalu pada bagian bawah, ia mengutip dari Agustinus, yang mengatakan bahwa kalau seseorang tidak percaya itu semata-mata adalah kesalahan orang itu, dan juga bahwa orang tidak percaya itu karena ia tidak mau. Saya tak punya traktat Agustinus ini, sehingga tak bisa melihat dalam kontext apa Agustinus berbicara seperti ini. Yang jelas Calvinisme / Augustinianisme memang mempercayai bahwa kalau seseorang tidak percaya, itu memang kesalahannya sendiri. Dan seseorang tidak percaya karena ia tidak mau. Ini juga benar. Tetapi semua ini dari sudut pandang manusia. Dari sudut pandang Tuhan, orang itu tidak mau karena Bapa tidak mengaruniakan kepadanya. Ini yang tidak dibahas oleh Clarke. Sekarang kita bandingkan dengan kata-kata Agustinus yang lain, yang dikutip oleh Calvin.

John Calvin: “Augustine, the faithful interpreter of them, exclaims: “Our Savior, to teach us that belief comes as a gift and not from merit, says: ‘No one comes to me, unless my Father…draw him’ (John 6:44 p.), and ‘…it be granted him by my Father’ (John 6:65 p.). It is strange that two hear: one despises, the other rises up! Let him who despises impute it to himself; let him who rises up not arrogate it to himself.”” [= Agustinus, penafsir yang setia tentang mereka, berseru: “Juruselamat kita, pada waktu mengajar kita bahwa kepercayaan datang sebagai suatu karunia / pemberian dan bukan dari jasa, berkata: ‘Tak seorangpun datang kepadaKu, kecuali BapaKu ... menariknya’ (Yoh 6:44), dan ‘... itu dikaruniakan kepadanya oleh BapaKu’ (Yoh 6:65). Adalah aneh bahwa dua orang mendengar: yang satu memandang rendah, yang lain bangkit! Hendaklah dia yang memandang rendah memperhitungkannya kepada dirinya sendiri; hendaklah dia yang bangkit tidak mengclaim  dengan sombong hak itu kepada dirinya sendiri.”] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter 2, no 35.

Apakah Clarke hanya melihat sebagian tulisan Agustinus dan mengutipnya? Karena yang saya beri garis bawah ganda itu cocok dengan kata-kata Clarke. Tetapi Calvin mengutip semuanya sehingga lebih obyektif!

Lenski (tentang Yoh 6:65): In v. 44 Jesus had said, ‘No man can come unto me except the Father which sent me draw him’; and in v. 37, ‘All that the Father gives to me shall get to me.’ To these two statements Jesus again refers, only changing the active form into the passive, ‘have been given to him.’ To come to Jesus is to believe in Jesus; and the ability to come is never without the coming. In our abstract thinking we must never separate the two and imagine that the Father grants the ability and that we then may decide whether we will use this ability or leave it unused. (= Dalam ay 44 Yesus telah berkata, ‘Tak seorangpun bisa datang kepadaKu kecuali Bapa yang mengutus Aku menariknya’; dan dalam ay 37, ‘Semua yang Bapa berikan kepadaKu akan datang kepadaKu’. Yesus menunjuk pada 2 pernyataan ini lagi, hanya mengubah bentuk aktif menjadi bentuk pasif, ‘telah diberikan / dikaruniakan kepadanya’. Datang kepada Yesus adalah percaya kepada Yesus; dan kemampuan untuk datang tidak pernah tanpa kedatangan itu. Dalam pemikiran abstrak kita, kita tidak pernah boleh memisahkan dua hal itu, dan membayangkan bahwa Bapa memberikan kemampuan dan bahwa lalu kita bisa memutuskan apakah kita akan / mau menggunakan kemampuan ini atau membiarkannya tidak dipakai.).
Catatan: lagi-lagi aneh, bahwa orang Arminian ini bisa mengeluarkan komentar ‘Reformed’ seperti ini! Tetapi ada satu bagian yang tidak saya mengerti, yaitu kata-kata yang saya beri garis bawah ganda ‘dalam pemikiran abstrak kita’. Apa maksud Lenski dengan kata-kata ‘misterius’ ini?
Sekarang mari kita perhatikan apa yang Lenski katakan selanjutnya di bawah ini.

Lenski (tentang Yoh 6:65): The best commentary on this giving and this drawing is furnished in Concordia Triglotta 1087, etc.: ‘The Father will not do this without means, but has ordained for this purpose his Word and Sacraments as ordinary means and instruments; and it is the will neither of the Father nor of the Son that a man should not hear or should despise the preaching of his Word and wait for the drawing of the Father without the Word and Sacraments. For the Father draws, indeed, by the power of his Holy Ghost, according to his usual order, by the hearing of his holy, divine Word, as with a net, by which the elect are plucked from the jaws of the devil. Every poor sinner should therefore repair thereto, hear it attentively, and not doubt the drawing of the Father. For the Holy Ghost will be with his Word in his power and work by it; and that is the drawing of the Father. - But the reason why not all who hear it believe, and some are therefore condemned the more deeply, is not because God had begrudged them their salvation; but it is their own fault, as they have heard the Word in such a manner as not to learn (v. 45) but only to despise, blaspheme, and disgrace it, and have resisted the Holy Ghost, who through the Word wished to work in them.’ Where the ability to come and the coming are not given, this is not due to the will or the effort of the Giver but to the contrary, hostile will and obdurate, resisting effort of him who should be the recipient, Matt. 23:37, ‘ye would not.’ ‘On this account,’ διὰ τοῦτο, refers back to the statement, ‘But there are some of you that do not believe.’ Faith and coming to Jesus is not theirs and is not given to them because in their persistent preference of unbelief they are determined not to receive it. Their lack of faith is not excused by any inactivity on the Father’s part, for this does not exist; their non-faith is blamed onto them because they nullify the Father’s activity of giving and drawing. [= Tafsiran yang terbaik tentang tindakan memberi dan menarik ini diberikan dalam Concordia Triglotta 1087, dst.: ‘Bapa tidak akan melakukan ini tanpa cara-cara, tetapi telah menentukan untuk tujuan ini Firman dan Sakramen-sakramenNya sebagai cara-cara dan alat-alat yang umum / biasa; dan bukanlah merupakan kehendak Bapa ataupun Anak bahwa seseorang harus mendengar dan memandang rendah pemberitaan Firman dan menunggu tarikan Bapa tanpa Firman dan Sakramen-sakramen. Karena Bapa memang menarik oleh kuasa dari Roh KudusNya sesuai dengan urut-urutanNya yang biasa, dengan mendengar FirmanNya yang kudus dan ilahi, seperti dengan suatu jala, dengan mana orang-orang pilihan diambil dari rahang setan / Iblis. Karena itu, setiap orang berdosa yang malang harus memperbaiki kearah sana, mendengarnya dengan penuh perhatian, dan tidak meragukan tarikan dari Bapa. Karena Roh Kudus akan ada bersama dengan FirmanNya dalam kuasaNya dan bekerja dengannya; dan itu adalah tarikan dari Bapa. - Tetapi alasan mengapa tidak semua yang mendengarnya percaya, dan karena itu sebagian dihukum dengan lebih dalam, bukanlah karena Allah telah memberi mereka dengan segan keselamatan mereka; tetapi itu adalah kesalahan mereka sendiri, karena mereka telah mendengar Firman dengan cara sedemikian rupa sehingga mereka tidak belajar (ay 45) tetapi hanya memandang rendah, menghujat, dan mencemarkannya, dan telah menolak Roh Kudus, yang melalui Firman ingin bekerja dalam diri mereka.’ Dimana kemampuan untuk datang dan tindakan datang itu tidak diberikan, ini bukan disebabkan karena kehendak atau usaha dari sang Pemberi, tetapi sebaliknya, kehendak yang bermusuhan dan keras kepala, menolak usaha dari Dia yang seharusnya menjadi penerima, Mat 23:37, ‘kamu tidak mau’. ‘Sebab itu’, DIA TOUTO, menunjuk ke belakang pada pernyataan, ‘Tetapi ada di antara kamu yang tidak percaya’. Iman dan tindakan datang kepada Yesus bukanlah milik mereka, dan tidak diberikan kepada mereka, karena dalam pemilihan terus menerus untuk tidak percaya dari mereka mereka ditentukan untuk tidak menerimanya. Ketiadaan iman mereka tidak dimaafkan oleh ketidak-aktifan apapun di pihak Bapa, karena ketidak-aktifan ini tidak ada; ketiadaan iman mereka disalahkan kepada mereka karena mereka meniadakan aktivitas memberi dan menarik dari Bapa.].
Catatan:
a)   Bagaimana kata-kata Lenski yang di atas dan di bawah bisa harmonis, saya tidak mengerti. Kedua bagian itu betul-betul bertentangan frontal!
b)   Bagian yang saya beri garis bawah ganda jelas menunjukkan kepercayaan Lenski pada ‘conditional election’ (= pemilihan bersyarat).

William Hendriksen (tentang Yoh 6:65): faith is a gift of God, and it is not given to all men: ‘And he was saying, Therefore said I to you that no one can come to me unless it is given to him by the Father.’ (= iman adalah suatu pemberian / karunia dari Allah, dan itu tidak diberikan kepada semua orang: ‘Dan Ia berkata, Karena itu Aku berkata kepadamu bahwa tak seorangpun dapat datang kepadaKu kecuali itu dikaruniakan kepadaNya oleh Bapa’.).

Calvin (tentang Yoh 6:65): “He again states that faith is an uncommon and remarkable gift of the Spirit of God, that we may not be astonished that the Gospel is not received in every place and by all. ... Christ therefore assigns a reason why there are so few believers, namely, because no man, whatever may be his acuteness, can arrive at faith by his own sagacity; for all are blind, until they are illuminated by the Spirit of God, and therefore they only partake of so great a blessing whom the Father deigns to make partakers of it. If this grace were bestowed on all without exception, it would have been unseasonable and inappropriate to have mentioned it in this passage; for we must understand that it was Christ’s design to show that not many believe the Gospel, because faith proceeds only from the secret revelation of the Spirit. ‘Unless it be given him by my Father.’ He now uses the word ‘give’ instead of the word which he formerly used, ‘draw;’ by which he means that there is no other reason why God draws, than because out of free grace he loves us; for what we obtain by the gift and grace of God, no man procures for himself by his own industry.” (= Ia menyatakan lagi bahwa iman adalah suatu karunia yang tidak biasa / tidak umum dan hebat / luar biasa dari Roh Allah, supaya kita tidak heran bahwa Injil tidak diterima di setiap tempat dan oleh semua orang. ... Karena itu Kristus memberikan suatu alasan mengapa hanya ada sedikit orang-orang percaya, yaitu, karena tak seorangpun, bagaimanapun ketajaman / ketelitiannya, bisa sampai pada iman oleh kecerdasan / kebijaksanaannya sendiri; karena semua orang adalah buta, sampai mereka diterangi oleh Roh Allah, dan karena itu mereka hanya mengambil bagian dari berkat yang begitu besar yang Allah berkenan untuk membuatnya menjadi pengambil bagian darinya. Jika kasih karunia ini diberikan kepada semua orang tanpa kecuali, maka akan tidak sesuai dan tidak cocok untuk menyebutkannya dalam text ini; karena kita harus mengerti bahwa adalah rancangan Kristus untuk menunjukkan bahwa tidak banyak orang percaya Injil, karena iman keluar hanya dari wahyu / penyataan rahasia dari Roh. ‘Kecuali itu dikaruniakan kepadanya oleh BapaKu’. Sekarang Ia menggunakan kata ‘beri’ dan bukannya kata yang sebelumnya Ia gunakan, ‘tarik’; dengan mana Ia memaksudkan bahwa di sana tidak ada alasan lain mengapa Allah menarik, dari pada karena dari kasih karunia yang cuma-cuma Ia mengasihi kita; karena apa yang kita dapatkan oleh karunia dan kasih karunia Allah, tak seorangpun mendapatkannya bagi dirinya sendiri oleh kerajinannya sendiri.).
Catatan: perlu dicamkan bahwa Yoh 6:65 ini muncul dalam kontext yang menceritakan tentang Yesus memberi makan 5000 orang lebih dengan 5 roti dan 2 ikan (Yoh 6:1-14). Jadi mula-mula ada banyak orang, tetapi lalu hampir semua meninggalkan Dia karena kata-kata kerasNya (Yoh 6:60,66).


12)1Kor 12:2-3 - “(2) Kamu tahu, bahwa pada waktu kamu masih belum mengenal Allah, kamu tanpa berpikir ditarik kepada berhala-berhala yang bisu. (3) Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: ‘Terkutuklah Yesus!’ dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan’, selain oleh Roh Kudus.”.

Adam Clarke tak beri apa-apa yang berarti dalam tafsirannya.

Lenski (tentang 1Kor 12:3): Whoever confesses Jesus as ‘Lord’ has the Holy Spirit in his heart (= Siapapun mengakui Yesus sebagai ‘Tuhan’ mempunyai Roh Kudus dalam hatinya).
Tafsiran ini sama sekali tak sesuai dengan kata-kata ayatnya, dan jelas membengkokkan arah dari ayat itu. Ayatnya berbicara tentang bagaimana seseorang bisa mengakui Yesus sebagai Tuhan, tetapi Lenski mempersoalkan apa akibatnya kalau seseorang mengakui Yesus sebagai Tuhan.

Charles Hodge (tentang 1Kor 12:3): “The word ku>riov (KURIOS), LORD, is that by which the word Jehovah is commonly rendered in the Greek version of the Old Testament. To say Jesus is the Lord, therefore, in the sense of the apostle, is to acknowledge him to be truly God. ... What the apostle says, is that no man can make this acknowledgment but by the Holy Ghost. This of course does not mean that no one can utter these words unless under special divine influence; but it means that no one can truly believe and openly confess that Jesus is God manifest in the flesh unless he is enlightened by the Spirit of God.” [= Kata KURIOS, TUHAN, adalah kata dengan mana kata Yehovah biasanya diterjemahkan dalam versi Yunani dari Perjanjian Lama. Karena itu, mengatakan Yesus adalah Tuhan, dalam arti dari sang rasul, adalah mengakui Dia sebagai sungguh-sungguh Allah. ... Apa yang sang rasul katakan, adalah bahwa tak seorangpun bisa membuat pengakuan ini kecuali oleh Roh Kudus. Ini tentu tidak berarti bahwa tak seorangpun bisa mengucapkan kata-kata ini kecuali di bawah pengaruh ilahi yang khusus; tetapi itu berarti bahwa tak seorangpun bisa percaya dengan sungguh-sungguh dan mengaku secara terbuka bahwa Yesus adalah Allah yang menyatakan diri dalam daging kecuali ia diterangi oleh Roh Kudus.].
Memang kalau cuma ‘mengucapkan’ (tanpa hatinya betul-betul percaya), tentu saja seadanya orang munafik bisa melakukannya.
Bdk. Mat 7:21-23 - “(21) Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. (22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? (23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!’”.
Luk 6:46 - “‘Mengapa kamu berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?”.

Tetapi mengaku Yesus sebagai Tuhan / Allah dengan hati yang sungguh-sungguh percaya (bdk. Ro 10:9), tidak mungkin bisa terjadi kalau bukan karena Roh Kudus.
Ro 10:9 - “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.”.

Calvin (tentang 1Kor 12:3): Having admonished them from their own experience, he sets before them a general doctrine, which he deduces from it; for what the Corinthians had experienced in themselves is common to all mankind - to wander on in error, previously to their being brought back, through the kindness of God, into the way of truth. Hence it is necessary that we should be directed by the Spirit of God, or we shall wander on for ever. From this, too, it follows, that all things that pertain to the true knowledge of God, are the gifts of the Holy Spirit. ... ‘no one can speak well of Christ, but by the Spirit of Christ.’ ... To ‘say that Jesus is the Lord,’ is to speak of him in honorable terms and with reverence, and to extol his majesty. Here it is asked - ‘As the wicked sometimes speak of Christ in honorable and magnificent terms, is this an indication that they have the Spirit of God?’ I answer - ‘They undoubtedly have, so far as that effect is concerned; but the gift of regeneration is one thing, and the gift of bare intelligence, with which Judas himself was endowed, when he preached the gospel, is quite another.’ Hence, too, we perceive how great our weakness is, as we cannot so much as move our tongue for the celebration of God’s praise, unless it be governed by his Spirit. (= Setelah menasehati mereka dari pengalaman mereka sendiri, ia meletakkan di depan mereka suatu doktrin / ajaran yang bersifat umum, yang ia simpulkan darinya; karena apa yang orang-orang Korintus telah alami dalam diri mereka sendiri adalah umum bagi semua umat manusia - mengembara dalam kesalahan, sebelum mereka dibawa kembali, melalui kebaikan Allah, ke dalam jalan kebenaran. Jadi, adalah perlu bahwa kita diarahkan oleh Roh Allah, atau kita akan mengembara selama-lamanya. Dari hal ini, juga mengikuti bahwa segala sesuatu yang berkenaan dengan pengetahuan yang benar tentang Allah, adalah karunia-karunia dari Roh Kudus. ... ‘Tak seorangpun bisa berbicara baik tentang Kristus, kecuali oleh Roh Kristus’. ... ‘Mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan’, berarti berbicara tentang Dia dalam istilah-istilah yang menghormat dan dengan rasa hormat / takut, dan meninggikan keagunganNya. Di sini ditanyakan - ‘Karena orang-orang jahat kadang-kadang berbicara tentang Kristus dalam istilah-istilah yang menghormat dan bagus sekali, apakah ini merupakan suatu petunjuk bahwa mereka mempunyai Roh Allah?’ Saya menjawab - ‘Tak diragukan bahwa mereka telah mengatakan hal seperti itu, sejauh hasilnya itu yang diperhatikan; tetapi karunia tentang kelahiran baru sangat berbeda dengan karunia tentang semata-mata kepandaian, dengan mana Yudas sendiri dikaruniai, pada waktu ia memberitakan Injil’. Karena itu, kami juga mengerti betapa besar kelemahan kita, karena kita tidak dapat menggerakkan lidah kita untuk memuji Allah, kecuali lidah itu dikuasai / diperintah oleh RohNya.).

Jadi kesimpulannya adalah: Allah bukan hanya memberikan hal-hal sehingga manusia BISA beriman, tetapi Ia betul-betul memberikan iman itu sendiri.
Jadi jelas bahwa Allah bukan hanya memberikan kasih karunia setengah-setengah sampai pada titik dimana manusia bisa memilih sendiri. Tidak! Ia memberikan kasih karunia sampai mereka percaya dan diselamatkan!

Calvin sendiri mempunyai pandangan bahwa iman tidak tergantung pada kehendak manusia!

Calvin (tentang Yoh 6:37): “In the first place, he says, that all whom the Father giveth him come to him; by which words he means, that faith is not a thing which depends on the will of men, so that this man and that man indiscriminately and at random believe, but that God elects those whom he hands over, as it were, to his Son; for when he says, that whatever is given cometh, we infer from it, that all do not come. Again, we infer, that God works in his elect by such an efficacy of the Holy Spirit, that not one of them falls away; for the word ‘give’ has the same meaning as if Christ had said, ‘Those whom the Father hath chosen he regenerates, and gives to me, that they may obey the Gospel.’” (= Pertama-tama, Ia katakan, bahwa semua orang yang Bapa berikan kepadaNya datang kepadaNya; dengan kata-kata mana Ia memaksudkan, bahwa IMAN BUKANLAH SESUATU YANG TERGANTUNG PADA KEHENDAK MANUSIA, sehingga orang ini atau orang itu secara tak pandang bulu dan secara acak, percaya, tetapi bahwa Allah memilih mereka yang boleh dikatakan Ia berikan kepada AnakNya; karena pada waktu ia mengatakan, bahwa ‘siapapun yang diberikan datang,’ kami menyimpulkan darinya, bahwa tidak semua datang. Lagi, kami menyimpulkan bahwa Allah bekerja dalam orang-orang pilihanNya dengan kemujaraban sedemikian rupa dari Roh Kudus, sehingga tak seorangpun dari mereka meninggalkan; karena kata ‘memberikan’ mempunyai arti yang sama seakan-akan Kristus telah berkata, ‘mereka yang telah Bapa pilih, Ia lahir-barukan, dan berikan kepadaKu, sehingga mereka bisa mentaati Injil’.).

Illustrasi:
Dalam hidup sehari-hari, kalau saya katakan sekarang saya membawa uang 1 juta dalam dompet saya, saudara tidak bisa memutuskan mau percaya atau tidak mau percaya. Tinggal saudara percaya atau tidak percaya. Tidak ada urusan dengan kemauan / kehendak! Jadi, iman bukanlah hasil dari keputusan manusia.

Kesaksian:
Kalau saya merenungkan pertobatan saya, tidak pernah ada saat dalam hidup saya dimana setelah mendengar Injil, saya menimbang-nimbang untung ruginya kalau saya beriman kepada Kristus, atau kalau saya menolak Kristus. Dan lalu, setelah sekian lama menimbang-nimbang maka akhirnya saya mengambil keputusan untuk percaya kepada Kristus! Tidak pernah ada saat seperti itu dalam kehidupan saya! Bagi saya ini omong kosong!
Yang terjadi dalam hidup saya adalah: setelah mendengar Injil secara bertahap, tahu-tahu saya mendapati bahwa diri saya sudah percaya kepada Kristus. Saya tidak ingat kapan persisnya saya percaya, tetapi saya tahu-tahu menyadari bahwa saya sudah percaya. Jadi jelas itu bukan keputusan dari kehendak bebas saya, sebagaimana yang dipercaya oleh orang-orang Arminian!

Bagaimana kalau orang mengatakan bahwa itu kan hanya didasarkan atas pengalamanmu? Pengalaman bukan dasar dari ajaran, karena tiap orang bisa punya pengalaman yang berbeda!

Saya menjawab:

a)   Ini sesuai dengan apa yang saya jelaskan dalam bagian ini, yaitu bahwa iman adalah anugerah Allah kepada orang-orang pilihanNya! Jadi, ayat-ayatnya jelas sangat banyak!

b)   Dalam Alkitab tidak pernah ada pertanyaan Maukah engkau percaya?’. Yang ada adalah pertanyaan ‘Percayakah engkau / kamu ....?’. Mari kita lihat sederetan ayat di bawah ini:

1.   Ayub 39:14 - Percayakah engkau kepadanya, karena kekuatannya sangat besar? Atau kauserahkankah kepadanya pekerjaanmu yang berat?.

2.   Mat 9:28 - Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepadaNya dan Yesus berkata kepada mereka: ‘Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?’ Mereka menjawab: ‘Ya Tuhan, kami percaya.’.

3.   Yoh 9:35 - Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: ‘Percayakah engkau kepada Anak Manusia?.

4.   Yoh 11:26 - dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?.

5.   Yoh 14:10 - Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaanNya..

6.   Yoh 16:31 - Jawab Yesus kepada mereka: ‘Percayakah kamu sekarang?.

7.   Kis 26:27 - Percayakah engkau, raja Agripa, kepada para nabi? Aku tahu, bahwa engkau percaya kepada mereka.’.

c)   Tetapi bagaimana dengan ayat-ayat yang mengandung kata-kata ‘mau / tidak mau percaya’ dan dalam bahasa Inggris ‘will / will not believe’?

1.   Bil 14:11 - TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepadaKu, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka!.
Kalau kita membandingkan dengan terjemahan-terjemahan Alkitab bahasa Inggris maka kita akan melihat bahwa dalam Alkitab-Alkitab bahasa Inggris memang ada kata ‘will’, tetapi menurut saya kata ‘will’ itu bisa diterjemahkan ‘akan’ dan bukannya ‘mau’.
KJV: ‘and how long will it be ere they believe me’ (= dan akan jadi berapa lama lagi sebelum mereka percaya kepadaKu?).
RSV: ‘And how long will they not believe in me’ (= Dan berapa lama lagi / sampai kapan mereka akan tidak percaya kepadaKu).
NIV: ‘How long will they refuse to believe in me’ (= Berapa lama mereka akan menolak untuk percaya kepadaKu).
NASB: ‘And how long will they not believe in Me’ (= Dan berapa lama mereka akan tidak percaya kepadaKu).

2.   Yoh 10:38 - “tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepadaKu, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.’”.
Dalam terjemahan-terjemahan Alkitab bahasa Inggris kata ‘mau’ ini tidak ada.
KJV: ‘though ye believe not me’ (= sekalipun kamu tidak percaya kepadaKu).
RSV: ‘even though you do not believe me’ (= sekalipun kamu tidak percaya kepadaKu).
NIV: ‘even though you do not believe me’ (= sekalipun kamu tidak percaya kepadaKu).
NASB: ‘though you do not believe Me’ (= sekalipun kamu tidak percaya kepadaKu).

3.   Mat 27:42 (KJV): ‘He saved others; himself he cannot save. If he be the King of Israel, let him now come down from the cross, and we will believe him.’ (= Ia menyelamatkan orang-orang lain; diriNya sendiri Ia tidak bisa menyelamatkan. Jika Ia adalah Raja Israel, biarlah Ia sekarang turun dari salib, dan kami mau / akan percaya kepadaNya).
Ini bisa diterjemahkan ‘kami akan percaya’ (= LAI).
Mat 27:42 -   "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepadaNya.”.

4.   Yoh 11:48 (KJV): ‘If we let him thus alone, all men will believe on him: and the Romans shall come and take away both our place and nation.’ (= Jika kita membiarkanNya, semua orang akan percaya kepadaNya: dan orang-orang Romawi akan datang dan mengambil baik tempat dan bangsa kita).
Ini harus diterjemahkan ‘semua orang akan percaya’ (= LAI).
Yoh 11:48 - “Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepadaNya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.’”.

5.   Kel 4:1 (KJV): ‘And Moses answered and said, But, behold, they will not believe me, nor hearken unto my voice: for they will say, The LORD hath not appeared unto thee.’ (= Dan Musa menjawab dan berkata, Tetapi, lihatlah, mereka tidak mau / akan percaya kepadaku, ataupun mendengarkan suaraku: karena mereka akan berkata, TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu).
Ini bisa diterjemahkan ‘mereka tidak akan percaya’.
LAI: ‘mereka tidak percaya’.
Kel 4:1 - “Lalu sahut Musa: ‘Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?’”.

6.   Kel 4:8 (KJV): ‘And it shall come to pass, if they will not believe thee, neither hearken to the voice of the first sign, that they will believe the voice of the latter sign.’ (= Dan akan terjadi, jika mereka tidak mau / akan percaya kepadamu, ataupun mendengarkan suara dari tanda yang pertama, mereka mau / akan percaya suara dari tanda yang belakangan).
Ini bisa diterjemahkan ‘jika mereka akan tidak percaya’ ... ‘mereka akan percaya’.
Kel 4:8 (LAI): “‘Jika mereka tidak percaya kepadamu dan tidak mengindahkan tanda mujizat yang pertama, maka mereka akan percaya kepada tanda mujizat yang kedua.”.

7.   Kel 4:9 (KJV): ‘And it shall come to pass, if they will not believe also these two signs, neither hearken unto thy voice, that thou shalt take of the water of the river, and pour it upon the dry land: and the water which thou takest out of the river shall become blood upon the dry land.’ (= Dan akan terjadi, jika mereka juga tidak mau percaya kedua tanda ini, ataupun mendengarkan suaramu, engkau akan mengambil air dari sungai, dan mencurahkannya pada tanah yang kering: dan air yang engkau ambil dari sungai akan menjadi darah di tanah yang kering).
Ini bisa diterjemahkan ‘jika mereka tidak percaya’ (= LAI).
Kel 4:9 - “Dan jika mereka tidak juga percaya kepada kedua tanda mujizat ini dan tidak mendengarkan perkataanmu, maka engkau harus mengambil air dari sungai Nil dan harus kaucurahkan di tanah yang kering, lalu air yang kauambil itu akan menjadi darah di tanah yang kering itu.’”.

8.   Yes 7:9 (KJV): ‘And the head of Ephraim is Samaria, and the head of Samaria is Remaliah’s son. If ye will not believe, surely ye shall not be established.’ (= Dan kepala dari Efraim adalah Samaria, dan kepala dari Samaria adalah anak Remalya. Jika kamu tidak mau percaya, pasti kamu tidak akan diteguhkan / ditegakkan.).
Ini bisa diterjemahkan ‘Jika kamu tidak percaya’ (= LAI).
Yes 7:9 - “Dan Samaria ialah ibu kota Efraim, dan anak Remalya ialah kepala Samaria. Jika kamu tidak percaya, sungguh, kamu tidak teguh jaya.’”.

9.   Hab 1:5 (KJV): ‘Behold ye among the heathen, and regard, and wonder marvellously: for I will work a work in your days, which ye will not believe, though it be told you.’ (= Lihatlah di antara orang-orang kafir, dan perhatikanlah, dan terheran-heranlah: karena Aku akan mengerjakan suatu pekerjaan pada jamanmu, yang tidak akan kamu percayai, sekalipun itu diceritakan kepadamu.).
Ini harus diterjemahkan ‘tidak akan kamu percayai’ (= LAI).
Hab 1:5 - “Lihatlah di antara bangsa-bangsa dan perhatikanlah, jadilah heran dan tercengang-cengang, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam zamanmu yang tidak akan kamu percayai, jika diceriterakan.”.

10.Luk 22:67 (KJV): ‘Art thou the Christ? tell us. And he said unto them, If I tell you, ye will not believe:’ (= Apakah Engkau adalah Kristus? Beritahukanlah kami. Dan Ia berkata kepada mereka, Jika Aku memberitahumu, kamu tidak akan percaya).
Ini harus diterjemahkan ‘kamu tidak akan percaya’ (= LAI).
Luk 22:67 - “katanya: ‘Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami.’ Jawab Yesus: ‘Sekalipun Aku mengatakannya kepada kamu, namun kamu tidak akan percaya;”.

11.Yoh 4:48 (KJV): ‘Then said Jesus unto him, Except ye see signs and wonders, ye will not believe.’ (= Maka Yesus berkata kepadanya, Kecuali kamu melihat tanda-tanda dan mujijat-mujijat, kamu tidak mau / akan percaya.).
Ini bisa diterjemahkan ‘kamu tidak akan percaya’.
Yoh 4:48 - “Maka kata Yesus kepadanya: ‘Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.’”.

12.Yoh 20:25 (KJV): ‘The other disciples therefore said unto him, We have seen the Lord. But he said unto them, Except I shall see in his hands the print of the nails, and put my finger into the print of the nails, and thrust my hand into his side, I will not believe.’ (= Karena itu, murid-murid yang lain berkata kepadanya, Kami telah melihat Tuhan. Tetapi ia berkata kepada mereka, Kecuali aku melihat pada tanganNya tanda / jejak paku-paku, dan memasukkan jariku ke dalam tanda / jejak paku-paku, dan memasukkan tanganku ke dalam sisiNya, Aku tidak mau / akan percaya.).
Ini bisa diterjemahkan ‘Aku tidak akan percaya’ (= LAI).
Yoh 20:25 - “Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: ‘Kami telah melihat Tuhan!’ Tetapi Tomas berkata kepada mereka: ‘Sebelum aku melihat bekas paku pada tanganNya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya.’”.

Memang dalam menterjemahkan kata ‘will’ ada beberapa kemungkinan, yaitu diterjemahkan ‘mau’, atau ‘akan’ atau tak diterjemahkan (dihapuskan).

Keberatan dari pihak Arminian.

Orang Arminian menganggap sebagai tak masuk akal kalau Allah menyuruh kita beriman, tetapi ternyata Allahlah yang memberikan iman itu.

John Owen: “The Arminians have but one argument, that ever I could meet with, whereby they strive to rob Christ of this glory of meriting and procuring for us faith and repentance; and that is, because they are such acts of ours as in duty and obedience to the precepts of the gospel we are bound to perform; and this they everywhere press at large, ‘usque et usque.’ In plain terms, they will not suffer their idol to be accounted defective in any thing that is necessary to bring us unto heaven.” [= Orang-orang Arminian hanya mempunyai satu argumentasi, yang pernah saya temui, dengan mana mereka berjuang / berusaha keras untuk merampok Kristus dari kemuliaan tentang keberjasaan dan bagaimana mendapatkan iman dan pertobatan; dan itu adalah, karena mereka (iman dan pertobatan) adalah tindakan-tindakan kita seperti dalam kewajiban dan ketaatan kepada ajaran-ajaran / perintah-perintah dari injil yang harus kita lakukan; dan ini mereka tekankan dimana-mana pada umumnya, ‘selalu dan terus menerus’. Dalam istilah-istilah yang jelas, mereka tidak akan membiarkan berhala mereka untuk dianggap cacat dalam hal apapun yang perlu untuk membawa kita ke surga] - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 116 (AGES).
Catatan:
·         kata bahasa Latin ‘usque’ berarti ‘selalu’, ‘setiap saat’, ‘terus menerus’; dan kata bahasa Latin ‘et’ berarti ‘dan’ - Collins Latin Dictionary (Libronix).
·         Saya kira yang Owen maksudkan dengan ‘their idol’ (= berhala mereka) adalah ‘free will’ (= kehendak bebas).

John Owen: “Let us hear them pleading their cause: - ‘It is most certain that that ought not to be commanded which is wrought in us; and that cannot be wrought in us which is commanded. He foolishly commandeth that to be done of others who will work in them what he commandeth,’ saith their Apology.” (= Marilah kita mendengar mereka membela perkara mereka: - ‘Adalah paling pasti bahwa apa yang dibuat di dalam kita itu tidak boleh diperintahkan; dan itu tidak bisa dibuat di dalam kita yang diperintahkan. Ia secara tolol memerintahkan itu untuk dilakukan orang-orang lain yang akan mengerjakan dalam mereka apa yang ia perintahkan’, kata Apology mereka.) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 117-118 (AGES).

John Owen: “‘Faith and conversion cannot be our obedience, if they are wrought in us by God,’ say they at the Hague; and Episcopius, ‘That it is a most absurd thing to affirm that God either effects by his power, or procureth by his wisdom, that the elect should do those things that he requireth of them.’ So that where the Scripture calls faith the gift and work of God, they say it is an improper locution, inasmuch as he commands it; properly, it is an act or work of our own. ... The sum at which they aim is, that to affirm that God bestoweth any graces upon us, or effectually worketh them in us, contradicteth his word requiring them as our duty and obedience.” (= ‘Iman dan pertobatan tidak bisa merupakan ketaatan kita, jika mereka dikerjakan dalam kita oleh Allah’, kata mereka di Hague; dan Episcopius, ‘Bahwa itu adalah suatu hal yang paling menggelikan untuk menegaskan bahwa Allah, atau menghasilkan oleh kuasaNya, atau menyebabkan oleh hikmatNya, bahwa / sehingga orang-orang pilihan melakukan hal-hal itu yang Ia tuntut dari mereka’. Sehingga dimana Kitab Suci menyebut iman sebagai karunia dan pekerjaan dari Allah, mereka katakan itu sebagai suatu cara yang tidak benar untuk mengungkapkan pikiran, karena Ia memerintahkannya; secara tepat / benar, itu adalah suatu tindakan atau pekerjaan dari diri kita sendiri. ... Semua yang mereka tuju adalah, bahwa menegaskan bahwa Allah memberikan kasih karunia apapun kepada kita, atau secara efektif mengerjakan mereka di dalam kita, bertentangan dengan firmanNya yang menuntut mereka sebagai kewajiban dan ketaatan kita.) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 119 (AGES).

Di bawah ini adalah beberapa jawaban dari John Owen terhadap argumentasi Arminian yang telah ia berikan di atas:

1.   Dalam Ul 10:16 Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk menyunat hati mereka dan untuk tidak lagi bersikap tegar tengkuk. Tetapi dalam Ul 30:6 dikatakan bahwa Tuhanlah yang menyunat hati mereka supaya mereka mengasihi Tuhan.
Ul 10:16 - “Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk.”.
Ul 30:6 - “Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup.”.
Jadi, apa yang Tuhan perintahkan, Ia sendiri lakukan di dalam mereka.
John Owen: “First, Deuteronomy 10:16, The Lord commandeth the Israelites to ‘circumcise the foreskin of their hearts, and to be no more stiff-necked;’ so that the circumcising of their hearts was a part of their obedience, - it was their duty so to do, in obedience to God’s command. And yet, in the 30th chapter, verse 6, he affirmeth that ‘he will circumcise their hearts, that they might love the LORD their God with all their hearts.’ So that, it seems, the same thing, in diverse respects, may be God’s act in us and our duty towards him.” - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 119-120 (AGES).
Catatan: Ini tidak saya terjemahkan, karena garis besarnya sudah saya berikan di atas.

2.   Dalam Yeh 18:31 Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk memperbaharui hati / roh mereka, tetapi dalam Yeh 36:26,27 Tuhan mengatakan bahwa Ialah yang melakukan hal itu di dalam mereka. 
Yeh 18:31 - “Buangkanlah dari padamu segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku dan perbaharuilah hatimu dan rohmu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?”.
Yeh 36:26,27 - “(26) Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. (27) RohKu akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapanKu dan tetap berpegang pada peraturan-peraturanKu dan melakukannya.”.
Jadi, apa yang Tuhan perintahkan, Ia sendiri lakukan di dalam mereka.

John Owen: “Secondly, Ezekiel 18:31, ‘Make you a new heart and a new spirit: for why will ye die, O house of Israel?’ The making of a new heart and a new spirit is here required under a promise of a reward of life, and a great threatening of eternal death; so that so to do must needs be a part of their duty and obedience. And yet, Ezekiel 36:26,27, he affirmeth that he will do this very thing that here he requireth of them: ‘A new heart will I give you, and a new spirit will I put within you: and I will take away the stony heart out of your flesh, and I will give you an heart of flesh; and I will cause you to walk in my statutes,’ etc.” - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 120 (AGES).
Catatan: Ini tidak saya terjemahkan, karena garis besarnya sudah saya berikan di atas.

3.   Dalam banyak ayat bangsa Israel diperintahkan untuk takut kepada Tuhan. Tetapi dalam Yer 32:40 Tuhan berkata bahwa Ialah yang akan membuat mereka takut akan Dia.
Yos 24:14 - “Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepadaNya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.”.
Yer 32:40 - “Aku akan mengikat perjanjian kekal dengan mereka, bahwa Aku tidak akan membelakangi mereka, melainkan akan berbuat baik kepada mereka; Aku akan menaruh takut kepadaKu ke dalam hati mereka, supaya mereka jangan menjauh dari padaKu.”.

Jadi, lagi-lagi apa yang Tuhan perintahkan, Ia sendiri yang melakukannya di dalam mereka.

John Owen: “In how many places, also, are we commanded to ‘fear the Lord!’ which, when we do, I hope none will deny it to be a performance of our duty; and yet, Jeremiah 32:40, God promiseth that ‘he will put his fear in our hearts, that we shall not depart from him.’” (= ) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 120 (AGES).
Catatan: Ini tidak saya terjemahkan, karena garis besarnya sudah saya berikan di atas.

John Owen: “‘It is certain that when we do any thing, we do it,’ saith St. Augustine; ‘but it is God that causeth us so to do.’” (= ‘Adalah pasti bahwa pada waktu kita melakukan apapun, kita yang melakukannya’, kata Santo Agustinus; ‘tetapi adalah Allah yang menyebabkan kita melakukan seperti itu’.) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 121 (AGES).



g)         Sola Fide (hanya iman) dan Sola Gratia (hanya kasih karunia).

R. C. Sproul: Evangelicals are so called because of their commitment to the biblical and historical doctrine of justification by faith alone. Because the Reformers saw sola fide as central and essential to the biblical gospel, the term evangelical was applied to them. Modern evangelicals in great numbers embrace the sola fide of the Reformation, but have jettisoned the sola gratia that undergirded it. Packer and Johnston assert: ‘Justification by faith only’ is a truth that needs interpretation. The principle of sola fide is not rightly understood till it is seen as anchored in the broader principle of sola gratia. What is the source and status of faith? Is it the God-given means whereby the God-given justification is received, or is it a condition of justification which is left to man to fulfill? Is it a part of God’s gift of salvation, or is it man’s own contribution to salvation? Is our salvation wholly of God, or does it ultimately depend on something that we do for ourselves? Those who say the latter (as the Arminians later did) thereby deny man’s utter helplessness in sin, and affirm that a form of semi-Pelagianism is true after all. It is no wonder, then, that later Reformed theology condemned Arminianism as being in principle a return to Rome (because in effect it turned faith into a meritorious work) and a betrayal of the Reformation (because it denied the sovereignty of God in saving sinners, which was the deepest religious and theological principle of the Reformers’ thought). Arminianism was, indeed, in Reformed eyes a renunciation of New Testament Christianity in favour of New Testament Judaism; for to rely on oneself for faith is no different in principle from relying on oneself for works, and the one is as un-Christian and anti-Christian as the other. In the light of what Luther says to Erasmus, there is no doubt that he would have endorsed this judgment. I must confess that the first time I read this paragraph, I blinked. On the surface it seems to be a severe indictment of Arminianism. Indeed it could hardly be more severe than to speak of it as ‘un-Christian’ or ‘anti-Christian.’ Does this mean that Packer and Johnston believe Arminians are not Christians? Not necessarily. Every Christian has errors of some sort in his thinking. Our theological views are fallible. Any distortion in our thought, any deviation from pure, biblical categories may be loosely deemed ‘un-Christian’ or ‘anti-Christian.’ The fact that our thought contains un-Christian elements does not demand the inference that we are therefore not Christians at all. I agree with Packer and Johnston that Arminianism contains un-Christian elements in it and that their view of the relationship between faith and regeneration is fundamentally un-Christian. Is this error so egregious that it is fatal to salvation? People often ask if I believe Arminians are Christians? I usually answer, ‘Yes, barely.’ They are Christians by what we call a felicitous inconsistency. What is this inconsistency? Arminians affirm the doctrine of justification by faith alone. They agree that we have no meritorious work that counts toward our justification, that our justification rests solely on the righteousness and merit of Christ, that sola fide means justification is by Christ alone, and that we must trust not in our own works, but in Christ’s work for our salvation. In all this they differ from Rome on crucial points. Packer and Johnston note that later Reformed theology, however, condemned Arminianism as a betrayal of the Reformation and in principle as a return to Rome. They point out that Arminianism ‘in effect turned faith into a meritorious work.’ We notice that this charge is qualified by the words ‘in effect.’ Usually Arminians deny that their faith is a meritorious work. If they were to insist that faith is a meritorious work, they would be explicitly denying justification by faith alone. The Arminian acknowledges that faith is something a person does. It is a work, though not a meritorious one. Is it a good work? Certainly it is not a bad work. It is good for a person to trust in Christ and in Christ alone for his or her salvation. Since God commands us to trust in Christ, when we do so we are obeying this command. But all Christians agree that faith is something we do. God does not do the believing for us. We also agree that our justification is by faith insofar as faith is the instrumental cause of our justification. All the Arminian wants and intends to assert is that man has the ability to exercise the instrumental cause of faith without first being regenerated. This position clearly negates sola gratia, but not necessarily sola fide. Then why say that Arminianism ‘in effect’ makes faith a meritorious work? Because the good response people make to the gospel becomes the ultimate determining factor in salvation. I often ask my Arminian friends why they are Christians and other people are not. They say it is because they believe in Christ while others do not. Then I inquire why they believe and others do not? ‘Is it because you are more righteous than the person who abides in unbelief?’ They are quick to say no. ‘Is it because you are more intelligent?’ Again the reply is negative. They say that God is gracious enough to offer salvation to all who believe and that one cannot be saved without that grace. But this grace is cooperative grace. Man in his fallen state must reach out and grasp this grace by an act of the will, which is free to accept or reject this grace. Some exercise the will rightly (or righteously), while others do not. When pressed on this point, the Arminian finds it difficult to escape the conclusion that ultimately his salvation rests on some righteous act of the will he has performed. He has ‘in effect’ merited the merit of Christ, which differs only slightly from the view of Rome. [= Orang-orang ‘injili’ disebut demikian karena komitmen mereka pada doktrin Alkitabiah dan bersifat sejarah, dari ‘pembenaran oleh iman saja’. Karena para tokoh Reformasi melihat SOLA FIDE sebagai bersifat pokok dan penting / bersifat hakiki pada injil yang Alkitabiah, maka istilah ‘injili’ diterapkan kepada mereka. Orang-orang Injili modern dalam jumlah yang besar memeluk / mempercayai SOLA FIDE dari Reformasi, tetapi telah membuang SOLA GRATIA yang menopang di bawahnya. Packer dan Johnston menegaskan: ‘Pembenaran oleh iman saja’ adalah suatu kebenaran yang membutuhkan penafsiran. Prinsip dari SOLA FIDE tidak dimengerti secara benar sampai itu terlihat dijangkarkan pada prinsip yang lebih luas tentang SOLA GRATIA. Apa yang merupakan sumber dan keadaan / posisi dari iman? Apakah iman adalah cara yang Allah berikan dengan mana pembenaran yang Allah berikan diterima, atau apakah iman adalah suatu syarat pembenaran yang ditinggalkan kepada manusia untuk digenapi / dilakukan oleh manusia? Apakah iman merupakan sebagian dari pemberian keselamatan dari Allah, atau apakah iman merupakan sumbangsih manusia sendiri pada keselamatan? Apakah keselamatan kita sepenuhnya dari Allah, atau apakah iman pada akhirnya tergantung pada sesuatu yang kita lakukan bagi diri kita sendiri? Mereka yang mengatakan yang belakangan (seperti yang dilakukan oleh orang-orang Arminian yang belakangan) dengan itu menyangkal ketidak-berdayaan sama sekali dari manusia dalam dosa, dan menegaskan bahwa bagaimanapun suatu bentuk dari semi-Pelagianisme adalah benar. Maka tidaklah mengherankan bahwa theologia Reformed yang belakangan mengecam Arminianisme sebagai dalam prinsip suatu tindakan kembali pada Roma (karena sebetulnya / dalam faktanya Arminianisme mengubah iman menjadi suatu pekerjaan yang mempunyai jasa) dan suatu pengkhianatan dari Reformasi (karena Arminianisme menyangkal kedaulatan Allah dalam penyelamatan orang-orang berdosa, yang merupakan prinsip agamawi dan theologis yang terdalam dari pemikiran tokoh-tokoh Reformasi). Di mata orang-orang Reformed, Arminianisme memang adalah suatu penolakan / penyangkalan dari kekristenan Perjanjian Baru dan suatu dukungan kepada Yudaisme Perjanjian Baru; karena bersandar pada diri sendiri untuk iman secara prinsip tak berbeda dari bersandar kepada diri sendiri untuk perbuatan baik, dan yang satu sama tidak Kristen dan anti Kristennya seperti yang lain. Dalam terang dari apa yang Luther katakan kepada Erasmus, disana tidak ada keraguan bahwa ia akan sudah mengesahkan / menyokong penghakiman / penilaian ini. Saya harus mengakui bahwa pertama kali saya membaca paragraf ini, saya mengedipkan mata. Di permukaan ini kelihatannya merupakan suatu tuduhan serius terhadap Arminianisme. Memang hampir tak bisa lebih keras dari pada berbicara tentang Arminianisme sebagai ‘tidak Kristen’ atau ‘Anti Kristen’. Apakah ini berarti bahwa Packer dan Johnston mempercayai bahwa orang-orang Arminian bukanlah orang-orang Kristen? Tidak harus demikian. Setiap orang Kristen mempunyai kesalahan-kesalahan dari jenis tertentu dalam pemikirannya. Pandangan-pandangan theologis kita bisa salah. Distorsi apapun dalam pemikiran kita, penyimpangan apapun dari kategori-kategori yang murni dan Alkitabiah bisa secara longgar dianggap sebagai ‘tidak Kristen’ atau ‘anti Kristen’. Fakta bahwa pemikiran theologis kita mengandung elemen-elemen yang tidak Kristen tidaklah menuntut kesimpulan bahwa karena itu kita bukanlah orang-orang Kristen sama sekali. Saya setuju dengan Packer dan Johnston bahwa Arminianisme mengandung elemen-elemen yang tidak Kristen di dalamnya dan bahwa pandangan mereka tentang hubungan antara iman dan kelahiran baru secara dasari tidak Kristen. Apakah kesalahan ini begitu menyolok sehingga itu merupakan sesuatu yang fatal terhadap keselamatan? Orang-orang sering bertanya apakah saya percaya bahwa orang-orang Arminian adalah orang-orang Kristen? Saya biasanya menjawab, ‘Ya, hampir tidak’. Mereka adalah orang-orang Kristen oleh apa yang kami sebut suatu ketidak-konsistenan yang menguntungkan. Ketidak-konsistenan apa ini? Arminianisme menegaskan doktrin pembenaran oleh iman saja. Mereka setuju bahwa kita tidak mempunyai perbuatan / pekerjaan yang berjasa yang diperhitungkan pada pembenaran kita, bahwa pembenaran kita bersandar semata-mata pada kebenaran dan jasa dari Kristus, bahwa SOLA FIDE (iman saja) berarti pembenaran adalah oleh Kristus saja, dan bahwa kita harus percaya bukan kepada pekerjaan / perbuatan baik kita sendiri, tetapi kepada pekerjaan Kristus untuk keselamatan kita. Dalam semua ini mereka berbeda dari Roma pada pokok-pokok yang penting. Tetapi Packer dan Johnston memperhatikan bahwa theologia Reformed yang belakangan mengecam Arminianisme sebagai suatu pengkhianatan terhadap Reformasi dan secara prinsip sebagai suatu tindakan kembali kepada Roma. Mereka menunjukkan bahwa Arminianisme ‘sebetulnya / dalam faktanya mengubah iman menjadi suatu pekerjaan / perbuatan baik yang mempunyai jasa’. Kami memperhatikan bahwa tuduhan ini disyaratkan oleh kata-kata ‘sebetulnya / dalam faktanya’. Biasanya orang-orang Arminian menyangkal bahwa iman mereka adalah suatu pekerjaan / perbuatan baik yang mempunyai jasa. Seandainya mereka berkeras bahwa iman adalah suatu pekerjaan / perbuatan baik yang mempunyai jasa, mereka secara explicit menyangkal pembenaran oleh iman saja. Orang-orang Arminian mengakui bahwa iman adalah sesuatu yang seseorang lakukan. Itu adalah suatu pekerjaan / perbuatan, sekalipun bukan suatu pekerjaan / perbuatan yang mempunyai jasa. Apakah itu suatu pekerjaan baik? Pasti itu bukanlah suatu pekerjaan yang buruk / jahat. Adalah baik bagi seseorang untuk percaya kepada Kristus dan kepada Kristus saja untuk keselamatannya. Karena Allah memerintahkan kita untuk percaya kepada Kristus, pada waktu kita melakukannya kita sedang mentaati perintah ini. Tetapi semua orang Kristen setuju bahwa iman adalah sesuatu yang kita lakukan. Allah tidak melakukan tindakan percaya itu untuk kita. Kita juga setuju bahwa pembenaran kita adalah oleh iman sejauh iman adalah penyebab yang bersifat alat dari pembenaran kita. Semua yang orang-orang Arminian inginkan dan maksudkan untuk tegaskan adalah bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melaksanakan penyebab yang bersifat alat dari iman tanpa harus dilahir-barukan lebih dulu. Posisi ini secara jelas meniadakan SOLA GRATIA, tetapi tidak harus meniadakan SOLA FIDE. Lalu mengapa mengatakan bahwa Arminianisme ‘sebetulnya / dalam faktanya’ membuat iman suatu pekerjaan yang mempunyai jasa? Karena tanggapan yang baik yang dibuat oleh orang-orang kepada injil menjadi faktor penentu akhir dalam keselamatan. Saya sering bertanya kepada teman-teman Arminian saya mengapa mereka adalah orang-orang Kristen dan orang-orang lain tidak. Mereka mengatakan bahwa itu disebabkan karena mereka percaya kepada Kristus sedangkan orang-orang lain tidak. Lalu saya bertanya mengapa mereka percaya dan orang-orang lain tidak? ‘Apakah itu disebabkan karena kamu lebih benar dari pada orang yang tinggal dalam ketidak-percayaan?’ Mereka dengan cepat menjawab ‘tidak’. ‘Apakah itu disebabkan karena kamu lebih pandai?’ Lagi-lagi jawabannya adalah ‘tidak’. Mereka mengatakan bahwa Allah itu cukup murah hati untuk menawarkan keselamatan kepada semua orang yang percaya dan bahwa seseorang tidak bisa diselamatkan tanpa kasih karunia itu. Tetapi kasih karunia ini adalah kasih karunia yang bersifat kerja sama. Manusia dalam keadaannya yang sudah jatuh harus menjangkau dan memegang kasih karunia ini oleh suatu tindakan dari kehendak, yang bebas untuk menerima atau menolak kasih karunia ini. Sebagian menggunakan kehendak dengan benar, sedangkan yang lain tidak. Pada waktu ditekan pada titik ini, orang-orang Arminian mendapati bahwa sukar untuk lolos dari kesimpulan bahwa pada akhirnya keselamatannya berdasar / bersandar pada suatu tindakan benar dari kehendak yang telah ia lakukan. Ia ‘sebetulnya / dalam faktanya’ mengambil jasa Kristus yang hanya sedikit berbeda dengan pandangan dari Roma.] - ‘Willing to Believe’, hal 24-26.
Catatan: kalau dalam kutipan ini dikatakan ‘Roma’ maksudnya adalah ‘Gereja Roma Katolik’.

Jadi, R. C. Sproul telah menunjukkan bahwa pandangan Arminian tentang kasih karunia pada hakekatnya mengandung unsur perbuatan / usaha dari manusia. Dan kalau demikian, maka sebetulnya itu bukan lagi SOLA GRATIA (only grace / hanya kasih karunia), karena Alkitab memang mengajarkan bahwa kasih karunia tidak bisa dicampur dengan perbuatan baik, karena kalau demikian maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.

Bdk. Ro 11:5-6 - “(5) Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. (6) Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.”.

Memang iman dan kasih karunia ada di satu pihak, sedangkan perbuatan baik / ketaatan (works) ada di pihak lain, dan kedua pihak ini sangat dikontraskan dalam Alkitab.

Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”.

Orang-orang yang mempercayai SOLA FIDE dengan benar, dan melandaskannya pada SOLA GRATIA, membuang semua perbuatan dari iman / keselamatan, dan karena itu tidak bisa tidak harus menerima doktrin ‘Irresistible Grace’ (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak).

2)   Doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) ini timbul dari ayat-ayat Alkitab seperti:

a)   Fil 2:13 - “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya”.
Ini terjemahannya kurang jelas. Perhatikan terjemahan-terjemahan Kitab Suci bahasa Inggris di bawah ini:
KJV: ‘For it is God which worketh in you both to will and to do of his good pleasure’ (= Karena Allahlah yang bekerja dalam kamu baik untuk menghendaki maupun untuk melakukan dari kesenanganNya yang baik).
RSV: ‘for God is at work in you, both to will and to work for his good pleasure’ (= karena Allah bekerja dalam kamu, baik untuk menghendaki maupun untuk mengerjakan untuk kesenanganNya yang baik).
NIV: ‘for it is God who works in you to will and to act according to his good purpose’ (= karena Allahlah yang bekerja dalam kamu untuk menghendaki dan untuk berbuat menurut rencanaNya yang baik).
NASB: ‘for it is God who is at work in you, both to will and to work for His good pleasure’ (= karena Allahlah yang bekerja dalam kamu, baik untuk menghendaki maupun untuk mengerjakan untuk kesenanganNya yang baik).

Sekarang mari kita melihat penafsiran Adam Clarke, yang adalah seorang Arminian, tentang Fil 2:13 ini.

Adam Clarke (tentang Fil 2:13): “‘For it is God which worketh in you.’ Every holy purpose, pious resolution, good word, and good work, must come from him; ye must be workers together with him, that ye receive not his grace in vain; because he worketh in you, therefore work with him, and work out your own salvation. ‘To will and to do.’ ‎To ‎‎thelein ‎‎kai ‎‎to ‎‎energein. The power to will and the power to act must necessarily come from God, who is the author both of the soul and body, and of all their powers and energies, but the act of volition and the act of working come from the man. God gives power to will, man wills through that power; God gives power to act, and man acts through that power. Without the power to will, man can will nothing; without the power to work, man can do nothing. God neither wills for man, nor works in man’s stead, but he furnishes him with power to do both; he is therefore accountable to God for these powers. Because God works in them the power to will and the power to do, therefore the apostle exhorts them to work out their own salvation; most manifestly showing that the use of the powers of volition and action belongs to themselves. They cannot do God’s work, they cannot produce in themselves a power to will and to do; and God will not do their work, he will not work out their salvation with fear and trembling. Though men have grievously puzzled themselves with questions relative to the will and power of the human being; yet no case can be plainer than that which the apostle lays down here: the power to will and do comes from GOD; the use of that power belongs to man. He that has not got this power can neither will nor work; he that has this power can do both. But it does not necessarily follow that he who has these powers will use them; the possessson of the powers does not necessarily imply the use of those powers, because a man might have them, and not use or abuse them; therefore the apostle exhorts: Work out your own salvation. This is a general exhortation, it may be applied to all men, for to all it is applicable, there not being a rational being on the face of the earth, who has not from God both power to will and act in the things which concern his salvation. Hence, the accountableness of man. ‘Of his good pleasure.’ Every good is freely given of God; no man deserves anything from him; and as it pleaseth him, so he deals out to men those measures of mental and corporeal energy which he sees to be necessary; giving to some more, to others less, but to all what is sufficient for their salvation.” (= ‘Karena adalah Allah yang bekerja di dalam kamu’. Setiap tujuan / rencana yang kudus, keputusan yang saleh, kata yang baik, dan pekerjaan yang baik, harus datang dari Dia; kamu harus menjadi pekerja-pekerja bersama-sama dengan Dia, supaya kamu tidak menerima kasih karuniaNya dengan sia-sia; karena Ia bekerja di dalam kamu, karena itu bekerjalah bersama / dengan Dia, dan kerjakanlah keselamatanmu sendiri. ‘Untuk menghendaki dan untuk melakukan’. ‎To ‎‎thelein ‎‎kai ‎‎to ‎‎energein. Kuasa untuk menghendaki dan kuasa untuk bertindak harus datang dari Allah, yang adalah pencipta dari baik jiwa maupun tubuh, dan dari semua kuasa dan tenaga mereka, tetapi tindakan dari kehendak dan tindakan dari pengerjaan datang dari manusia. Allah memberi kuasa untuk menghendaki, manusia menghendaki melalui kuasa itu; Allah memberi kuasa untuk bertindak, dan manusia bertindak melalui kuasa itu. Tanpa kuasa untuk menghendaki, manusia tidak bisa menghendaki apapun; tanpa kuasa untuk mengerjakan, manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Allah tidak menghendaki untuk manusia, ataupun bekerja / melakukan di tempat manusia, tetapi Ia memperlengkapinya dengan kuasa untuk melakukan keduanya; karena itu ia bertanggung-jawab kepada Allah untuk kuasa-kuasa ini. Karena Allah mengerjakan di dalam mereka kuasa untuk menghendaki dan kuasa untuk melakukan, karena itu sang rasul mendesak mereka untuk mengerjakan / menyelesaikan keselamatan mereka sendiri; secara paling jelas menunjukkan bahwa penggunaan dari kuasa-kuasa dari kehendak dan tindakan termasuk pada / merupakan kepunyaan mereka sendiri. Mereka tidak bisa melakukan pekerjaan Allah, mereka tidak bisa menghasilkan dalam diri mereka sendiri suatu kuasa untuk menghendaki dan melakukan; dan Allah tidak akan / mau melakukan pekerjaan mereka, Ia tidak akan / mau mengerjakan / menyelesaikan keselamatan mereka dengan takut dan gentar. Sekalipun manusia secara menyedihkan telah membingungkan diri mereka sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan berhubungan dengan kehendak dan kuasa dari manusia; tetapi tak ada kasus yang lebih jelas dari pada itu yang sang rasul letakkan di sini: kuasa untuk menghendaki dan melakukan datang dari Allah; penggunaan dari kuasa itu termasuk pada / merupakan kepunyaan manusia. Ia yang belum menerima kuasa ini tidak bisa menghendaki ataupun melakukan; ia yang mempunyai kuasa ini bisa melakukan keduanya. Tetapi tidak harus / pasti mengikuti bahwa ia yang mempunyai kuasa-kuasa ini akan menggunakan kuasa-kuasa ini; kepemilikan dari kuasa-kuasa tidak harus menunjukkan penggunaan dari kuasa-kuasa itu, karena seorang manusia bisa mempunyai kuasa-kuasa ini, dan tidak menggunakan, atau menyalah-gunakan, kuasa-kuasa ini; karena itu sang rasul mendesak: ‘Kerjakanlah / selesaikanlah keselamatanmu sendiri’. Ini merupakan desakan umum, itu bisa diterapkan kepada semua manusia, karena bagi semua orang ini dapat diterapkan, disana tidak ada suatu makhluk rasionil di muka bumi, yang tidak mempunyai dari Allah baik kuasa untuk menghendaki dan bertindak dalam hal-hal yang menyangkut / berkenaan dengan keselamatannya. ‘Dari perkenanNya / kesenanganNya yang baik’. Setiap apa yang baik diberikan dengan cuma-cuma dari Allah; tak seorangpun layak mendapat apapun dari Dia; dan karena itu menyenangkan Dia, begitulah Ia memberikan kepada orang-orang, takaran tenaga mental dan badani itu, yang Ia anggap perlu; memberi lebih kepada sebagian, kepada orang-orang lain memberi kurang, tetapi kepada semua apa yang cukup untuk keselamatan mereka.).
Catatan: menurut saya, apa yang salah dari tafsiran Clarke ini adalah kata ‘kuasa’ yang ia gunakan berulang-ulang di sini. Mengapa ini salah? Karena ayatnya tak berbicara apapun tentang ‘kuasa’. Ayatnya mengatakan (KJV): ‘Allah bekerja dalam kamu, baik untuk menghendaki maupun untuk mengerjakan.
Apa yang juga saya rasakan sebagai suatu keanehan adalah kalimat terakhir, dimana Clarke mengatakan bahwa ada yang diberi lebih banyak dan ada yang diberi lebih sedikit, tetapi semua diberi cukup untuk keselamatan mereka. Yang saya pertanyakan, apakah itu memang merupakan pandangan Arminian? Karena setahu saya mereka percaya semua orang telah diangkat ke level yang sama.

Saya tak menggunakan tafsiran Lenski tentang ayat ini karena tafsirannya ruwet sekali.
Sekarang kita bandingkan dengan tafsiran Calvin tentang Fil 2:13 ini.

Calvin (tentang Fil 2:13): “It is God that worketh. This is the true engine for bringing down all haughtiness - this the sword for putting an end to all pride, when we are taught that we are utterly nothing, and can do nothing, except through the grace of God alone. I mean supernatural grace, which comes forth from the spirit of regeneration. For, considered as men, we already are, and live and move in God. (Acts 17:28.) But Paul reasons here as to a kind of movement different from that universal one. Let us now observe how much he ascribes to God, and how much he leaves to us. There are, in any action, two principal departments - the inclination, and the power to carry it into effect. Both of these he ascribes wholly to God; what more remains to us as a ground of glorying? Nor is there any reason to doubt that this division has the same force as if Paul had expressed the whole in a single word; for the inclination is the groundwork; the accomplishment of it is the summit of the building brought to a completion. He has also expressed much more than if he had said that God is the Author of the beginning and of the end. For in that case sophists would have alleged, by way of cavil, that something between the two was left to men. But as it is, what will they find that is in any degree peculiar to us? They toil hard in their schools to reconcile with the grace of God free-will - of such a nature, I mean, as they conceive of - which might be capable of turning itself by its own movement, and might have a peculiar and separate power, by which it might co-operate with the grace of God. I do not dispute as to the name, but as to the thing itself. In order, therefore, that free-will may harmonize with grace, they divide in such a manner, that God restores in us a free choice, that we may have it in our power to will aright. Thus they acknowledge to have received from God the power of willing aright, but assign to man a good inclination. Paul, however, declares this to be a work of God, without any reservation. For he does not say that our hearts are simply turned or stirred up, or that the infirmity of a good will is helped, but that a good inclination is wholly the work of God. Now, in the calumny brought forward by them against us - that we make men to be like stones, when we teach that they have nothing good, except from pure grace, they act a shameless part. For we acknowledge that we have from nature an inclination, but as it is depraved through the corruption of sin, it begins to be good only when it has been renewed by God. Nor do we say that a man does anything good without willing it, but that it is only when his inclination is regulated by the Spirit of God. Hence, in so far as concerns this department, we see that the entire praise is ascribed to God, and that what sophists teach us is frivolous - that grace is offered to us, and placed, as it were, in the midst of us, that we may embrace it if we choose; for if God did not work in us efficaciously, he could not be said to produce in us a good inclination. As to the second department, we must entertain the same view. ‘God,’ says he, ‘is o` evnergw/n to. evnergei/n he that worketh in us to do.’ He brings, therefore, to perfection those pious dispositions which he has implanted in us, that they may not be unproductive, as he promises by Ezekiel, - ‘I will cause them to walk in my commandments.’ (Ezekiel 11:20.) From this we infer that perseverance, also, is his free gift. ‘According to his good pleasure.’ Some explain this to mean - the good intention of the mind. I, on the other hand, take it rather as referring to God, and understand by it his benevolent disposition, which they commonly call beneplacitum, (good pleasure.) For the Greek word eujdoki>a is very frequently employed in this sense; and the context requires it. For Paul has it in view to ascribe everything to God, and to take everything from us. Accordingly, not satisfied with having assigned to God the production both of willing and of doing aright, he ascribes both to his unmerited mercy. By this means he shuts out the contrivance of the sophists as to subsequent grace, which they imagine to be the reward of merit. Hence he teaches, that the whole course of our life, if we live aright, is regulated by God, and that, too, from his unmerited goodness.” [= Adalah Allah yang bekerja. Ini adalah alat yang benar untuk menurunkan semua kesombongan - ini (adalah) pedang untuk mengakhiri semua kesombongan, pada waktu kita diajar bahwa kita sama sekali nihil, dan tidak bisa melakukan apa-apa, kecuali melalui kasih karunia Allah saja. Saya memaksudkan kasih karunia yang bersifat supranatural, yang datang dari Roh kelahiran baru. Karena, dipertimbangkan sebagai manusia, kita sudah ada, dan hidup dan bergerak di dalam Allah (Kis 17:28). Tetapi Paulus berargumentasi di sini berkenaan dengan sejenis gerakan yang berbeda dari gerakan yang bersifat universal itu. Hendaklah sekarang kita memperhatikan berapa banyak ia anggap berasal dari Allah, dan berapa banyak ia tinggalkan bagi kita. Di sana ada, dalam tindakan apapun, 2 bagian utama - kecondongan, dan kuasa untuk melaksanakannya. Keduanya ini dia anggap sepenuhnya berasal dari Allah; apa lagi yang tertinggal bagi kita sebagai suatu dasar untuk bermegah? Juga disana tidak ada alasan apapun untuk meragukan bahwa pembagian ini mempunyai kekuatan yang sama seakan-akan Paulus telah menyatakan seluruhnya dalam satu kata; karena kecondongan adalah dasarnya; pencapaian darinya adalah puncak dari bangunan yang diselesaikan. Ia juga telah menyatakan lebih banyak dari pada seandainya ia berkata bahwa Allah adalah Pencipta / Sumber dari permulaan / awal sampai akhir. Karena dalam kasus itu sophist (ahli-ahli argumentasi dalam kepausan) akan menyatakan tanpa bukti, dengan cara mempertengkarkan hal-hal yang remeh, bahwa sesuatu di antara kedua hal itu tertinggal bagi manusia. Tetapi sebagaimana adanya ayat itu, apa yang akan mereka dapatkan yang dalam tingkat apapun adalah sesuatu yang khusus bagi kita? Mereka berjerih payah dengan keras dalam sekolah-sekolah mereka untuk memperdamaikan dengan kasih karunia Allah kehendak bebas - dari sifat dasar sedemikian rupa, saya maksudkan, seperti yang mereka pikirkan tentangnya - yang bisa mampu membalikkan diri sendiri oleh gerakannya sendiri, dan bisa mempunyai suatu kuasa yang khusus dan terpisah, dengan mana itu bisa bekerja sama dengan kasih karunia Allah. Saya tidak mempertengkarkan nama / sebutan, tetapi berkenaan dengan hal itu sendiri. Karena supaya kehendak bebas bisa harmonis dengan kasih karunia, mereka membagi dengan cara sedemikian rupa sehingga Allah memulihkan dalam diri kita suatu pilihan bebas, sehingga kita bisa mempunyainya dalam kuasa kita untuk menghendaki secara benar. Jadi mereka mengakui telah menerima dari Allah kuasa untuk menghendaki secara benar, tetapi menganggap berasal dari manusia kecondongan yang baik. Tetapi Paulus menyatakan ini sebagai suatu pekerjaan Allah, tanpa syarat / pembatasan. Karena ia tidak mengatakan bahwa hati kita sekedar dibelokkan atau diaduk / digerakkan, atau bahwa kelemahan dari suatu kehendak yang baik ditolong, tetapi bahwa suatu kecondongan yang baik sepenuhnya merupakan pekerjaan Allah. Sekarang, dalam fitnahan yang mereka ajukan terhadap kami - bahwa kami membuat manusia menjadi seperti batu, pada waktu kami mengajar bahwa mereka tidak mempunyai apapun yang baik, kecuali kasih karunia yang murni, mereka melakukan suatu bagian yang memalukan. Karena kami mengakui bahwa kita mempunyai dari alam suatu kecondongan, tetapi karena itu adalah bejat melalui perusakan dosa, itu hanya mulai menjadi baik pada waktu itu telah diperbaharui oleh Allah. Juga kita tidak mengatakan bahwa seseorang melakukan apapun yang baik tanpa menghendakinya, tetapi itu hanya pada waktu kecondongannya diatur oleh Roh Allah. Maka, sejauh berkenaan dengan bagian pertama, kami melihat bahwa seluruh pujian dianggap milik Allah, dan bahwa apa yang para sophist ajarkan kepada kami adalah sembrono / tidak karuan - bahwa kasih karunia ditawarkan kepada kita, dan ditempatkan, seakan-akan, di tengah-tengah kita, sehingga kita bisa memeluknya jika kita memilih demikian; karena jika Allah tidak bekerja di dalam kita secara efektif, Ia tidak bisa dikatakan menghasilkan di dalam kita kecondongan yang baik. Berkenaan dengan bagian yang kedua, kita harus mempunyai pandangan yang sama. ‘Allah’, katanya, adalah HO ENERGON TO ENERGEIN, ‘Ia yang mengerjakan di dalam kita untuk melakukan’. Karena itu, Ia membawa kepada kesempurnaan kecondongan-kecondongan yang telah Ia tanamkan di dalam kita, supaya mereka tidak bisa tidak berhasil, seperti yang Ia janjikan oleh Yehezkiel, - ‘Aku akan menyebabkan mereka berjalan / hidup dalam perintah-perintahKu’. (Yeh 11:20). Dari sini kami menyimpulkan bahwa ketekunan, juga merupakan karunia cuma-cumaNya. ‘Sesuai dengan kesenanganNya yang baik’. Sebagian orang menjelaskan bahwa ini berarti ‘maksud yang baik dari pikiran’. Saya, di sisi lain, mengartikannya sebagai menunjuk kepada Allah, dan mengerti olehnya kecondonganNya yang penuh kebaikan, yang biasanya mereka sebut BENEPLACITUM, (perkenan yang baik). Karena kata Yunani EUDOKIA sangat sering digunakan dalam arti ini; dan kontextnya menuntut hal itu. Karena Paulus mempunyai dalam pandangannya untuk menganggap segala sesuatu berasal dari Allah, dan untuk mengambil segala sesuatu dari kita. Sesuai dengan itu, tidak puas dengan telah memberikan kepada Allah tindakan menghasilkan baik tentang menghendaki dan tentang melakukan yang benar, ia menganggap keduanya berasal dari belas kasihanNya yang tak layak kita terima. Dengan cara ini ia menutup penemuan dari para sophist berkenaan dengan kasih karunia yang berikut, yang mereka khayalkan sebagai upah / pahala dari jasa. Maka ia mengajar bahwa seluruh jalan kehidupan kita, jika kita hidup benar, diatur oleh Allah, dan itu juga, dari kebaikanNya yang tak layak kita terima.].
Kis 17:28 - “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.”.
Yeh 11:19-20 - “(19) Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat, (20) supaya mereka hidup menurut segala ketetapanKu dan peraturan-peraturanKu dengan setia; maka mereka akan menjadi umatKu dan Aku akan menjadi Allah mereka.”.

Calvin (tentang Fil 2:12): “‘Work out your own salvation.’ As Pelagians of old, so Papists at this day make a proud boast of this passage, with the view of extolling man’s excellence. Nay more, when the preceding statement is mentioned to them by way of objection, It is God that worketh in us, etc., they immediately by this shield ward it off (so to speak) - ‘Work out your own salvation.’ Inasmuch, then, as the work is ascribed to God and man in common, they assign the half to each. In short, from the word work they derive free-will; from the term salvation they derive the merit of eternal life. I answer, that salvation is taken to mean the entire course of our calling, and that this term includes all things, by which God accomplishes that perfection, to which he has predestinated us by his gracious choice. This no one will deny, that is not obstinate and impudent. We are said to perfect it, when, under the regulation of the Spirit, we aspire after a life of blessedness. It is God that calls us, and offers to us salvation; it is our part to embrace by faith what he gives, and by obedience act suitably to his calling; but we have neither from ourselves. Hence we act only when he has prepared us for acting. The word which he employs properly signifies - to continue until the end; but we must keep in mind what I have said, that Paul does not reason here as to how far our ability extends, but simply teaches that God acts in us in such a manner, that he, at the same time, does not allow us to be inactive, but exercises us diligently, after having stirred us up by a secret influence.” [= ‘Kerjakanlah keselamatanmu sendiri’. Seperti Pelagian dari masa lalu, demikian juga para pengikut Paus pada jaman ini membuat suatu kebanggaan yang sombong tentang text ini, dengan pandangan tentang pemujian keunggulan manusia. Tidak, lebih lagi, pada waktu pernyataan yang mendahului (bukan ‘setelahnya’?) disebutkan kepada mereka sebagai suatu keberatan, ‘Adalah Allah yang mengerjakan di dalam kita dst’, mereka segera menangkisnya (boleh dikatakan) dengan perisai ini - ‘Kerjakanlah keselamatanmu sendiri’. Maka, karena pekerjaan itu dianggap berasal dari Allah dan manusia bersama-sama, mereka memberikan masing-masing setengah bagian. Singkatnya, dari kata ‘kerjakanlah’ mereka mendapatkan kehendak bebas; dari istilah ‘keselamatan’ mereka mendapatkan ‘jasa tentang hidup yang kekal’. Saya menjawab, bahwa ‘keselamatan’ diartikan sebagai ‘seluruh jalan dari panggilan kita’, dan bahwa istilah ini mencakup segala sesuatu, dengan mana Allah mencapai kesempurnaan itu, pada mana Ia telah mempredestinasikan kita oleh pilihanNya yang murah hati / bersifat kasih karunia. Ini tak seorangpun, yang tidak keras kepala dan kurang ajar, akan menyangkal. Kita dikatakan untuk menyempurnakannya, pada waktu, di bawah peraturan dari Roh, kita menginginkan suatu kehidupan yang diberkati. Adalah Allah yang memanggil kita, dan menawarkan kepada kita keselamatan; adalah bagian kita untuk memeluk dengan iman apa yang Ia berikan, dan dengan ketaatan bertindak sesuai dengan panggilanNya; tetapi kita tidak mempunyai yang manapun dari diri kita sendiri. Maka kita bertindak hanya pada waktu Ia telah mempersiapkan kita untuk bertindak. Kata yang ia gunakan secara tepat berarti - ‘meneruskan sampai akhir; tetapi kita harus mencamkan dalam pikiran kita apa yang telah saya katakan, bahwa Paulus tidak berargumentasi di sini berkenaan dengan seberapa jauh kemampuan kita diperluas, tetapi sekedar mengajar bahwa Allah bertindak di dalam kita dengan cara sedemikian rupa, sehingga Ia, pada saat yang sama, tidak mengijinkan kita untuk menjadi tidak aktif, tetapi melatih diri kita dengan rajin, setelah digerakkan oleh suatu pengaruh rahasia.].
Catatan:
1.   Dalam buku tafsirannya kutipan di atas ini ada dalam Fil 2:13.
2.   Kata ‘kerjakanlah’ (Fil 2:12) memang bisa diartikan ‘accomplish’ (= sempurnakanlah / selesaikanlah) - Bible Works 7. Karena itu, adalah konyol dan bodoh untuk mengartikan bahwa kata ‘kerjakanlah’ menunjukkan bahwa kita harus mengusahakan keselamatan kita sendiri (sebagian), dan dengan demikian keselamatan kita merupakan hasil usaha bersama antara Allah dengan kita. Tafsiran seperti ini jelas-jelas bertentangan dengan banyak sekali ayat-ayat dalam Alkitab, yang menunjukkan bahwa keselamatan merupakan anugerah Allah yang kita terima dengan iman. Bdk. Ef 2:8-9  Gal 2:16,21  Ro 3:24,27-28  Kis 15  Luk 23:39-43 (Cerita penjahat yang bertobat di kayu salib), dan sebagainya.

Calvin (tentang Fil 2:12): “‘With fear and trembling.’ In this way he would have the Philippians testify and approve their obedience - by being submissive and humble. Now the source of humility is this - acknowledging how miserable we are, and devoid of all good. To this he calls them in this statement. For whence comes pride, but from the assurance which blind confidence produces, when we please ourselves, and are more puffed up with confidence in our own virtue, than prepared to rest upon the grace of God. In contrast with this vice is that fear to which he exhorts.” (= ‘Dengan takut dan gentar’. Dengan cara ini, ia menghendaki orang-orang Filipi menyaksikan dan menegaskan / menyetujui ketaatan mereka - dengan menjadi tunduk dan rendah hati. Sekarang sumber dari kerendahan hati adalah ini - pengakuan betapa buruk kita adanya, dan tidak mempunyai semua yang baik. Pada hal ini ia memanggil mereka dalam pernyataan ini. Karena dari mana datang kesombongan, kecuali dari keyakinan yang dihasilkan oleh keyakinan buta, pada waktu kita menyenangkan diri kita sendiri, dan lebih membengkak / sombong dengan keyakinan dalam kebaikan kita sendiri, dari pada siap untuk bersandar pada kasih karunia Allah. Kontras dengan kejahatan ini adalah rasa takut itu pada mana ia mendesak.).


William Hendriksen (tentang Fil 2:13): As to willing and working, the facts are exactly as stated in The Canons of Dort III and IV, articles 11 and 12: ‘He infuses new qualities into the will, which though heretofore dead he quickens; from being evil, disobedient, and refractory, he renders it good, obedient, and pliable; actuates and strengthens it, that like a good tree, it may bring forth the fruits of good actions.… Whereupon the will thus renewed, is not only actuated and influenced by God, but in consequence of this influence becomes itself active.’ (= Berkenaan dengan menghendaki dan mengerjakan, faktanya adalah persis seperti yang dinyatakan dalam The Canons of Dort III dan IV, artikel 11 dan 12: ‘Ia memasukkan kwalitet yang baru ke dalam kehendak, yang sekalipun sampai sekarang mati Ia hidupkan; dari jahat, tidak taat, dan keras kepala, Ia membuatnya menjadi baik, taat, dan lembut; menggerakkan dan menguatkannya, sehingga seperti sebuah pohon yang baik, itu bisa menghasilkan / mengeluarkan buah-buah dari tindakan-tindakan yang baik. ... Kemudian kehendak yang diperbaharui seperti itu, bukan hanya digerakkan dan dipengaruhi oleh Allah, tetapi karena pengaruh ini menjadi aktif dalam dirinya sendiri.’).

A. W. Pink: “‘It is God which worketh in you both to will and to do of His good pleasure’ (Philippians 2:13). CONCERNING the nature and the power of fallen man’s will, the greatest confusion prevails today, and the most erroneous views are held, even by many of God’s children. The popular idea now prevailing, and which is taught from the great majority of pulpits, is that man has a ‘free will’, and that salvation comes to the sinner through his will co-operating with the Holy Spirit. To deny the ‘free will’ of man, i.e. his power to choose that which is good, his native ability to accept Christ, is to bring one into disfavor at once, even before most of those who profess to be orthodox. And yet Scripture emphatically says, ‘It is not of him that willeth, nor of him that runneth, but of God that showeth mercy’ (Romans 9:16). Which shall we believe: God, or the preachers?” [= ‘Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu, baik untuk menghendaki dan untuk melakukan dari kesenanganNya yang baik’ (Fil 2:13). BERKENAAN dengan sifat dasar dan kuasa dari kehendak manusia yang jatuh, kebingungan / kekacauan terbesarlah yang berlaku / menang pada jaman ini, dan pandangan-pandangan yang paling salah yang dipercayai, bahkan oleh banyak anak-anak Allah. Gagasan yang populer yang sekarang berlaku / menang, dan yang diajarkan dari mayoritas mimbar-mimbar, adalah bahwa manusia mempunyai ‘kehendak bebas’, dan bahwa keselamatan datang kepada orang-orang berdosa melalui kehendaknya yang bekerja sama dengan Roh Kudus. Menyangkal kehendak bebas dari manusia, yaitu kuasanya untuk memilih apa yang baik, kemampuan asli / dari lahir untuk menerima Kristus, berarti segera membawa seseorang pada ketidak-senangan, bahkan di hadapan kebanyakan dari mereka yang mengaku sebagai ortodox. Tetapi Kitab Suci secara menekankan berkata, ‘Bukanlah dari dia yang menghendaki, ataupun dari dia yang berlari / berusaha, tetapi dari Allah yang menunjukkan belas kasihan’ (Ro 9:16). Yang mana yang kita percayai: Allah, atau pengkhotbah-pengkhotbah?] - ‘The Sovereignty of God’, hal 117 (AGES).
Ro 9:16 - “Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.”.
KJV: So then it is not of him that willeth, nor of him that runneth, but of God that sheweth mercy. (= Jadi, itu bukanlah dari dia yang menghendaki, ataupun dari dia yang berlari / berusaha, tetapi dari Allah yang menunjukkan belas kasihan).

A. W. Pink: “But does not Scripture say, ‘Whosoever will may come’? It does, but does this signify that everybody has the will to come? What of those who won’t come? ‘Whosoever will may come’ no more implies that fallen man has the power (in himself) to come, than ‘Stretch forth thine hand’ implied that the man with the withered arm had ability (in himself) to comply. In and of himself the natural man has power to reject Christ; but in and of himself he has not the power to receive Christ. And why? Because he has a mind that is ‘enmity against’ Him (Romans 8:7); because he has a heart that hates Him (John 15:18). Man chooses that which is according to his nature, and therefore before he will ever choose or prefer that which is divine and spiritual, a new nature must be imparted to him; in other words, he must be born again. Should it be asked, But does not the Holy Spirit overcome a man’s enmity and hatred when He convicts the sinner of his sins and his need of Christ; and does not the Spirit of God produce such conviction in many that perish? Such language betrays confusion of thought: were such a man’s enmity really ‘overcome’, then he would readily turn to Christ; that he does not come to the Savior, demonstrates that his enmity is not overcome. But that many are, through the preaching of the Word, convicted by the Holy Spirit, who nevertheless die in unbelief, is solemnly true. Yet, it is a fact which must not be lost sight of that, the Holy Spirit does something more in each of God’s elect than He does in the non-elect: He works in them ‘both to will and to do of God’s good pleasure’ (Philippians 2:13).” [= Tetapi tidakkah Kitab Suci berkata, ‘Barangsiapa mau boleh datang?’ Ya, tetapi apakah ini menunjukkan bahwa setiap orang mempunyai kehendak / kemauan untuk datang? Bagaimana dengan mereka yang tidak mau datang? ‘Barangsiapa mau boleh datang’ tidak lebih menunjukkan bahwa manusia yang telah jatuh mempunyai kuasa (dalam dirinya sendiri) untuk datang, dari pada ‘Ulurkanlah tanganmu’ menunjukkan bahwa orang dengan tangan yang mati mempunyai kemampuan (dalam dirinya sendiri) untuk menurut. Dalam dan dari dirinya sendiri manusia alamiah mempunyai kuasa untuk menolak Kristus; tetapi dalam dan dari dirinya sendiri ia tidak mempunyai kuasa untuk menerima Kristus. Dan mengapa? Karena ia mempunyai suatu pikiran yang ‘bermusuhan terhadap’ Dia (Ro 8:7); karena ia mempunyai suatu hati yang membenci Dia (Yoh 15:18). Manusia memilih itu yang sesuai dengan sifat dasarnya, dan karena itu sebelum ia pernah akan memilih atau lebih memilih itu yang adalah ilahi dan rohani, suatu sifat dasar / hakekat yang baru diberikan kepadanya; dengan kata lain, ia harus dilahirkan kembali. Kalau ditanyakan, Tetapi bukankah Roh Kudus mengalahkan permusuhan dan kebencian manusia pada waktu Ia meyakinkan orang berdosa tentang dosa-dosanya dan kebutuhannya akan Kristus; dan tidakkah Roh Allah menghasilkan keyakinan seperti itu dalam banyak orang yang binasa? Bahasa / kata-kata seperti itu memperlihatkan kebingungan pemikiran: seandainya permusuhan dari orang seperti itu betul-betul ‘dikalahkan’, maka ia akan dengan siap berbalik kepada Kristus; bahwa ia tidak datang kepada sang Juruselamat, menunjukkan bahwa permusuhannya tidaklah dikalahkan. Tetapi bahwa banyak orang, melalui pemberitaan Firman, diyakinkan oleh Roh Kudus, yang sekalipun demikian mati dalam ketidak-percayaan, adalah sungguh-sungguh benar. Tetapi, merupakan suatu fakta yang tidak boleh kita abaikan, yaitu bahwa Roh Kudus melakukan sesuatu yang lebih, dalam setiap orang-orang pilihan Allah, dari pada yang Ia lakukan dalam orang-orang non pilihan: Ia bekerja dalam mereka ‘baik untuk menghendaki dan melakukan dari kesenangan Allah yang baik’ (Fil 2:13).] - ‘The Sovereignty of God’, hal 118.

A. W. Pink: “In reply to what we have said above, Arminians would answer, No; the Spirit’s work of conviction is the same both in the converted and in the unconverted, that which distinguishes the one class from the other is that the former yielded to His strivings, whereas the latter resist them. But if this were the case, then the Christian would make himself to ‘differ’, whereas the Scripture attributes the ‘differing’ to God’s discriminating grace (1 Corinthians 4:7). Again; if such were the case, then the Christian would have ground for boasting and self-glorying over his cooperation with the Spirit; but this would flatly contradict Ephesians 2:8, ‘For by grace are ye saved through faith; and that not of yourselves: it is the gift of God’.” [= Sebagai jawaban pada apa yang telah kita katakan di atas, orang-orang Arminian akan menjawab, Tidak; pekerjaan Roh dalam meyakinkan adalah sama baik dalam orang yang bertobat dan dalam orang yang tak bertobat, dan yang membedakan golongan yang satu dengan golongan yang lain adalah bahwa yang terdahulu menyerah pada usaha-usahaNya, sedangkan yang belakangan menolaknya. Tetapi seandainya ini adalah kasusnya, maka orang Kristen membuat dirinya sendiri ‘berbeda’, padahal Kitab Suci menghubungkan ‘perbedaan’ itu dengan kasih karunia Allah yang membedakan (1Kor 4:7). Selanjutnya; seandainya itu adalah kasusnya, maka orang Kristen akan mempunyai dasar untuk bermegah dan memuliakan dirinya sendiri atas kerja samanya dengan Roh; tetapi ini akan secara frontal bertentangan dengan Ef 2:8, ‘karena kasih karunia kamu diselamatkan melalui iman; dan bahwa itu bukan dari dirimu sendiri; itu adalah pemberian dari Allah’.] - ‘The Sovereignty of God’, hal 118-119.
Catatan: 1Kor 4:7 tidak saya bahas di sini, karena nanti di bawah kita akan membahasnya.
Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”.

Bandingkan Fil 2:13 ini dengan ayat-ayat yang sejalan dengannya di bawah ini:

1.   Yes 26:12 - “Ya TUHAN, Engkau akan menyediakan damai sejahtera bagi kami, sebab segala sesuatu yang kami kerjakan, Engkaulah yang melakukannya bagi kami.”.

2.   1Kor 15:10 - “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkanNya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”.

3.   Yer 32:39-40 - “(39) Aku akan memberi mereka satu hati dan satu tingkah langkah, sehingga mereka takut kepadaKu sepanjang masa untuk kebaikan mereka dan anak-anak mereka yang datang kemudian. (40) Aku akan mengikat perjanjian kekal dengan mereka, bahwa Aku tidak akan membelakangi mereka, melainkan akan berbuat baik kepada mereka; Aku akan menaruh takut kepadaKu ke dalam hati mereka, supaya mereka jangan menjauh dari padaKu.”.

b)   1Kor 4:7 - Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?”. Bagian yang saya garis-bawahi salah terjemahan!
KJV: ‘For who maketh thee to differ from another?’ (= Karena siapa yang membuat engkau berbeda dari yang lain?).
RSV: ‘For who sees anything different in you?’ (= Karena siapa melihat apapun yang berbeda dalam engkau?).
NIV: ‘For who makes you different from anyone else?’ (= Karena siapa membuat engkau berbeda dari siapapun yang lain?).
NASB: ‘For who regards you as superior?’ (= Karena siapa menganggap engkau sebagai lebih tinggi?).

Adam Clarke (tentang 1Kor 4:7): “‘For who maketh thee to differ.’ It is likely that the apostle is here addressing himself to someone of those puffed up teachers, who was glorying in his gifts, and in the knowledge he had of the Gospel, etc. As if he had said: If thou hast all that knowledge which thou professest to have, didst thou not receive it from myself or some other of my fellow helpers who first preached the Gospel at Corinth? God never spoke to thee to make thee an apostle. Hast thou a particle of light that thou hast not received from our preaching? Why then dost thou glory, boast, and exult, as if God had first spoken by thee, and not by us? This is the most likely meaning of this verse; and a meaning that is suitable to the whole of the context.” (= ‘Karena siapa yang membuat engkau berbeda’. Adalah mungkin bahwa sang rasul di sini menghadapi seseorang dari guru-guru sombong, yang bermegah dalam karunia-karunianya, dan dalam pengetahuan yang ia punyai tentang Injil, dsb. Seakan-akan ia berkata: Jika kamu mempunyai semua pengetahuan yang kamu akui kamu punyai itu, apakah kamu menerimanya dari aku sendiri atau beberapa rekan-rekan penolongku yang pertama-tama memberitakan Injil di Korintus? Allah tak pernah berbicara kepadamu dan membuat kamu seorang rasul. Apakah kamu mempunyai suatu partikel terang yang tidak kamu terima dari pemberitaan kami? Lalu mengapa kamu bermegah, bangga, dan meninggikan diri, seakan-akan Allah telah berbicara pertama-tama oleh kamu, dan bukan oleh kami? Ini adalah arti yang paling memungkinkan dari ayat ini; dan suatu arti yang cocok dengan seluruh kontext.).
Catatan: saya menganggap tafsiran ini sangat tak masuk akal, dan juga tidak cocok dengan kontextnya.

Adam Clarke (tentang 1Kor 4:7): “It has been applied in a more general sense by religious people, and the doctrine they build on it is true in itself, though it does not appear to me to be any part of the apostle’s meaning in this place. The doctrine I refer to is this: God is the foundation of all good; no man possesses any good but what he has derived from God. If any man possess that grace which saves him from scandalous enormities, let him consider that he has received it as a mere free gift from God’s mercy. Let him not despise his neighbour who has it not; there was a time when he himself did not possess it; and a time may come when the man whom he now affects to despise, and on whose conduct he is unmerciful and severe, may receive it, and probably may make a more evangelical use of it than he is now doing. This caution is necessary to many religious people, who imagine that they have been eternal objects of God’s favour, and that others have been eternal objects of his hate, for no reason that they can show for either the one or the other. He can have little acquaintance with his own heart, who is not aware of the possibility of pride lurking under the exclamation, Why me! when comparing his own gracious state with the unregenerate state of another.” (= Itu telah diterapkan dalam suatu arti yang lebih umum oleh beberapa orang-orang yang religius, dan doktrin yang mereka bangun di atasnya adalah benar dalam dirinya sendiri, sekalipun bagi saya itu tak terlihat sebagai bagian apapun  dari arti / maksud sang rasul di tempat ini. Doktrin yang saya tunjuk adalah ini: Allah adalah dasar dari semua kebaikan; tak seorangpun memiliki kebaikan apapun kecuali yang telah ia terima dari Allah. Jika siapapun memiliki kasih karunia yang menyelamatkan dia dari kejahatan-kejahatan besar yang bersifat skandal, hendaklah ia menganggap bahwa ia telah menerimanya sebagai semata-mata suatu karunia cuma-cuma dari belas kasihan Allah. Hendaklah ia tidak memandang rendah sesamanya yang tidak mempunyainya; disana ada suatu waktu pada saat ia sendiri tidak mempunyainya; dan suatu waktu bisa / mungkin datang pada waktu orang yang sekarang ia cenderung untuk rendahkan, dan terhadap tingkah laku siapa ia tidak berbelas kasihan dan keras, bisa / mungkin menerimanya, dan mungkin bisa membuat suatu penggunaan injili darinya dari pada yang sekarang sedang ia lakukan. Peringatan ini perlu bagi banyak orang-orang yang religius, yang membayangkan / mengkhayalkan bahwa mereka telah menjadi obyek kesenangan yang kekal dari Allah, dan bahwa orang-orang lain telah menjadi obyek kebencianNya yang kekal, karena tak ada alasan yang bisa mereka tunjukkan untuk yang satu ataupun untuk yang lain. Ia hanya mempunyai sedikit pengenalan tentang hatinya sendiri, jika ia tidak sadar tentang kemungkinan tentang kesombongan yang mengintai di bawah seruan, ‘Mengapa aku!’ pada waktu membandingkan keadaannya sendiri yang bersifat kasih karunia dengan keadaan orang lain yang belum dilahir-barukan.).
Catatan:
1.   Bagian yang saya beri garis bawah tunggal itu aneh sekali. Adam Clarke, yang adalah seorang Arminian, menerima pandangan Reformed ini? (sekalipun ia menganggap bahwa itu bukan merupakan arti dari ayat ini).
2.   Kata-katanya yang saya beri garis bawah ganda menunjukkan sikap antinya terhadap predestinasi (baik election / pemilihan selamat, maupun reprobation / penentuan binasa).
3.   Sedangkan kata-katanya pada bagian akhir, yang saya cetak dengan huruf besar, bagi saya betul-betul konyol, karena predestinasi, bagi Calvinist, justru memberikan kerendahan hati. Kita percaya, karena kita dipilih. Tetapi orang Arminian berkata: kita percaya karena kita memilih untuk percaya. Ini yang justru adalah kesombongan!

Tentang Lenski, mula-mula ia memberikan penafsiran seperti Adam Clarke, tetapi pada bagian akhirnya, tafsirannya mirip dengan tafsiran para Calvinist.

Lenski (tentang 1Kor 4:7):
“‘Who maketh thee to differ?’ means: differ so that thou hast an advantage over others. ‘Who in the world gave thee a preference over others? Nobody! Thou dost only imagine such preference.’ ... The question is, of course, not general as though any kind of an advantage were referred to, and it is not to be answered in this general way. It rests on the concrete idea of puffing oneself up by boasting of following one great teacher in contrast with others who are esteemed as being inferior. Who gave thee this advantage? Thou gavest it to thyself. Thou dost foolishly invent it so as to be able to throw out thy chest and to boast. The Corinthians would prefer to have better apostles than other Christians had - how they would then boast! If they were living today they would demand no less than an archbishop. Now nobody gives thee a preference like that; you Corinthians are all alike and on the same level with all other Christians. Just as Paul and Apollos are not boasting, the one claiming that he is better and higher than the other, so the Corinthians should not imagine that they had an advantage when some of them followed Paul and others followed Apollos. (= ‘Siapa yang membuat engkau berbeda?’ berarti: berbeda sehingga engkau mempunyai suatu keuntungan atas orang-orang lain. ‘Siapa gerangan yang memberi engkau suatu hak / keadaan lebih disukai atas orang-orang lain? Tak ada! Engkau hanya mengkhayalkan hak / keadaan lebih disukai itu’. .... Pertanyaannya tentu saja bukan bersifat umum seakan-akan jenis apapun dari suatu keuntungan ditunjuk, dan itu tidak boleh dijawab dengan cara yang bersifat umum. Pertanyaan itu berdasar pada suatu gagasan konkrit tentang penyombongan diri sendiri dengan membanggakan tindakan mengikuti satu guru besar dalam kontras dengan orang-orang lain yang dinilai sebagai lebih rendah. Siapa yang memberi engkau keuntungan ini? Engkau memberinya kepada dirimu sendiri. Engkau secara tolol menemukannya sehingga bisa membusungkan dadamu dan bangga. Orang-orang Korintus lebih memilih untuk mempunyai rasul-rasul yang lebih baik dari pada yang dipunyai oleh orang-orang Kristen lain - maka betapa bangganya mereka! Seandainya mereka hidup pada jaman sekarang mereka akan menuntut tidak kurang dari seorang uskup agung. Tak seorangpun memberi engkau suatu hak seperti itu; engkau orang-orang Korintus semuanya adalah sama dan ada pada satu level dengan semua orang-orang Kristen yang lain. Sama seperti Paulus dan Apolos tidak membanggakan diri, dan yang satu tidak mengclaim bahwa ia lebih baik dan lebih tinggi dari pada yang lain, demikian pula orang-orang Korintus tidak boleh mengkhayalkan bahwa mereka mempunyai suatu keuntungan pada waktu beberapa dari mereka mengikuti Paulus dan yang lain mengikuti Apolos.).

Lenski (tentang 1Kor 4:7): The first question deals with an imaginary possession, the second with an actual possession which one may misuse for puffing himself up. ‘And what hast thou that thou didst not receive?’ The context again yields the sense. What hast thou of saving knowledge and of wisdom, of repentance, of faith, of love, and of Christian virtue, that was not given thee and that thou didst not merely receive? Thus they had also been given the teachers, Paul, Apollos, and others, through whom all this grace was conveyed to them, to all of them equally. The aorist ‘didst receive,’ points to the fact. Simply by receiving it each one of the Corinthians obtained what he now has. The moment he looks at his actual possessions in this true light as an unmerited gift that was dropped into his lap by a gracious hand above he will kiss that hand and never think of boasting. If God used a Paul, an Apollos, a Peter, that, too, is a part of his grace and gift and reason enough for thanks and not for puffed-up pride. Hence Paul adds the third question which really expands the second. ‘Now if thou didst also receive it, why dost thou glory as if thou didst not receive it?’ ... The Corinthians ought to praise and to thank God in proper humility instead of boasting as though what they have is due, not to a gracious gift from God, but to some superiority in themselves. It is surely reprehensible to receive something and then to act as though one had not received it. And it is more reprehensible to boast and to glory. (= Pertanyaan pertama menangani suatu milik yang bersifat khayalan, pertanyaan kedua menangani suatu milik sungguh-sungguh yang seseorang bisa salah gunakan untuk menyombongkan dirinya sendiri. ‘Dan apa yang telah engkau miliki yang tidak engkau terima?’ Lagi-lagi kontext memberikan artinya. Apa yang engkau miliki tentang pengetahuan yang menyelamatkan, dan tentang hikmat, tentang pertobatan, tentang iman, tentang kasih, dan tentang kebaikan-kebaikan Kristen, yang tidak diberikan kepadamu dan tidak semata-mata engkau terima? Karena itu, mereka juga telah diberikan pengajar-pengajar, Paulus, Apolos dan orang-orang lain, melalui siapa semua kasih karunia ini diberikan kepada mereka, kepada semua mereka secara sama. Bentuk aorist / lampau ‘memang menerima’, menunjuk pada fakta itu. Hanya dengan menerimanya setiap orang dari orang-orang Korintus mendapatkan apa yang sekarang ia punyai. Pada saat ia melihat pada miliknya yang sungguh-sungguh dalam terang yang benar sebagai suatu pemberian yang tak layak diterima yang dijatuhkan pada pangkuannya oleh tangan yang penuh kasih karunia di atas, ia akan mencium tangan itu dan tidak pernah berpikir tentang pembanggaan. Jika Allah menggunakan seorang Paulus, seorang Apolos, seorang Petrus, itu juga adalah sebagian dari kasih karunia dan pemberianNya dan merupakan alasan yang cukup untuk bersyukur dan bukannya untuk menggelembungkan kesombongan. Karena itu, Paulus menambahkan pertanyaan ketiga yang sebetulnya memperluas / mengembangkan pertanyaan yang kedua. ‘Sekarang jika engkau memang juga menerimanya, mengapa engkau bermegah seakan-akan engkau tidak menerimanya?’ ... Orang-orang Korintus harus memuji dan bersyukur kepada Allah dalam kerendahan hati yang benar dan bukannya bangga seakan-akan apa yang mereka punyai disebabkan, bukan oleh pemberian yang bersifat kasih karunia dari Allah, tetapi oleh suatu kesuperioran tertentu dalam diri mereka sendiri. Pastilah mereka patut dicela untuk menerima sesuatu dan lalu bertindak seakan-akan ia tidak menerimanya. Dan adalah lebih tercela untuk bangga dan bermegah.).

Calvin (tentang 1Kor 4:7): “‘To distinguish’ here means to render eminent. Augustine, however, does not ineptly make frequent use of this declaration for maintaining, in opposition to the Pelagians, that whatever there is of excellence in mankind, is not implanted in him by nature, so that it could be ascribed either to nature or to descent; and farther, that it is not acquired by free will, so as to bring God under obligation, but flows from his pure and undeserved mercy. For there can be no doubt that Paul here contrasts the grace of God with the merit or worthiness of men. (= ‘Membedakan’ di sini berarti membuat / menyebabkan menonjol. Tetapi Agustinus bukannya dengan tidak layak sering menggunakan pernyataan ini untuk mempertahankan, dalam oposisi dengan para Pelagian, bahwa hal yang menonjol apapun yang ada dalam umat manusia, tidaklah ditanamkan di dalam dia secara alamiah, sehingga itu bisa dianggap berasal atau dari alam atau dari keturunan; dan lebih jauh, bahwa itu bukannya didapatkan oleh kehendak bebas, sehingga membawa Allah di bawah kewajiban, tetapi mengalir dari belas kasihanNya yang murni dan tidak layak diterima. Karena tidak bisa diragukan bahwa Paulus di sini mengkontraskan kasih karunia Allah dengan jasa atau kelayakan manusia.).

Calvin melanjutkan: “what greater vanity is there than that of boasting without any ground for it? Now, there is no man that has anything of excellency from himself; therefore the man that extols himself is a fool and an idiot. The true foundation of Christian modesty is this - not to be selfcomplacent, as knowing that we are empty and void of everything good - that, if God has implanted in us anything that is good, we are so much the more debtors to his grace; and in fine, that, as Cyprian says, we must glory in nothing, because there is nothing that is our own.” (= Kesia-siaan apa yang lebih besar disana dari pada kesia-siaan dari pembanggaan tanpa dasar apapun untuknya? Tidak ada orang yang mempunyai apapun yang sangat bagus dari dirinya sendiri; karena itu orang yang memuji dirinya sendiri adalah seorang tolol dan seorang idiot. Dasar yang benar dari kerendahan hati adalah ini - tidak menjadi puas diri, karena tahu bahwa kita adalah kosong dan hampa tentang segala sesuatu yang baik - bahwa, jika Allah telah menanamkan dalam kita apapun yang baik, kita makin adalah orang-orang yang berhutang pada kasih karuniaNya; dan singkatnya, bahwa, seperti Cyprian katakan, kita tidak boleh bermegah dalam apapun, karena tidak ada apapun yang adalah milik kita sendiri.).

John Owen mengomentari 1Kor 4:7 ini dengan berkata: “Every thing that makes us differ from others is received from God; wherefore, the foundation of all difference in spiritual things between the sons of Adam being faith and repentance, they must also of necessity be received from above.” (= Segala sesuatu yang membuat kita berbeda dari orang-orang lain diterima dari Allah; karena itu, dasar dari semua perbedaan dalam hal-hal rohani di antara anak-anak / keturunan Adam yang adalah iman dan pertobatan, hal-hal itu juga harus diterima dari atas.) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 121 (AGES).

Charles Hodge: Cardinal Bellarmin objects to the view above stated that it assumes that the reason why one man believes and another disbelieves, is to be found in the free will of the subject. This, he says, is directly contrary to what the Apostle says in 1 Corinthians 4:7, ‘Who maketh thee to differ? And what hast thou that thou didst not receive?’ ... Here the main principle which distinguishes Augustinianism from all other schemes of doctrine is conceded. Why does one man repent and believe the Gospel, while another remains impenitent? The Augustinian says it is because God makes them to differ. He gives to one what He does not give to another. All Anti-Augustinians say that the reason is, that the one cooperates with the grace of God, and the other does not; or, the one yields, and the other does not; or, that the one resists, and the other does not. (= Kardinal Bellarmin keberatan terhadap pandangan yang dinyatakan di atas karena pandangan itu menganggap bahwa alasan mengapa satu orang percaya dan yang lain tidak percaya, harus ditemukan dalam kehendak bebas dari orangnya. Ini, katanya, bertentangan langsung dengan apa yang sang Rasul katakan dalam 1Kor 4:7, ‘Siapa yang membuat engkau berbeda? Dan apa yang engkau miliki yang tidak engkau terima?’ ... Di sini prinsip utama yang membedakan Augustinianisme dari semua pola-pola lain dari doktrin diakui. Mengapa satu orang bertobat dan percaya Injil, sedangkan yang lain tetap tidak bertobat? Orang-orang Augustinian mengatakan itu disebabkan karena Allah yang membuat mereka berbeda. Ia memberi kepada satu orang apa yang Ia tidak berikan kepada yang lain. Semua orang-orang Anti-Augustinian berkata bahwa alasannya adalah, bahwa yang satu bekerja sama dengan kasih karunia Allah, dan yang lain tidak; atau, yang satu menyerah, dan yang lain tidak; atau, bahwa yang satu menolak, dan yang lain tidak.) - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 678.




Loraine Boettner: The merits of Christ’s obedience and suffering are sufficient for, adapted to, and freely offered to all men. The question then arises, Why is one saved, and another lost? What causes some men to repent and believe, while others, with the same external privileges, reject the Gospel and continue in impenitence and unbelief? The Calvinist says that it is God who makes this difference, that he efficaciously persuades some to come to Him; but the Arminian ascribes it to the men themselves. As Calvinists we hold that the condition of men since the fall is such that if left to themselves they would continue in their state of rebellion and refuse all offers of salvation. Christ would then have died in vain. But since it was promised that He should see of the travail of His soul and be satisfied, the effects of that sacrifice have not been left suspended upon the whim of man’s changeable and sinful will. Rather, the work of God in redemption has been rendered effective through the mission of the Holy Spirit who so operates on the chosen people that they are brought to repentance and faith, and thus made heirs of eternal life. ... If man is dead in sin, then nothing short of this supernatural life-giving power of the Holy Spirit will ever cause him to do that which is spiritually good. ... As Dr. Warfield says, ‘Sinful man stands in need, not of inducements or assistance to save himself, but precisely of saving; and Jesus Christ has come not to advise, or urge, or woo, or help him to save himself, but to save him.’ (= Jasa dari ketaatan dan penderitaan Kristus adalah cukup untuk, disesuaikan dengan, dan ditawarkan dengan cuma-cuma / gratis kepada, semua orang. Maka lalu muncul pertanyaan, Mengapa satu orang diselamatkan, dan yang lain terhilang? Apa yang menyebabkan sebagian orang bertobat dan percaya, sementara orang-orang lain, dengan hak-hak luar / lahiriah yang sama, menolak Injil dan terus ada dalam keadaan tidak bertobat dan tidak percaya? Calvinist berkata bahwa adalah Allah yang membuat perbedaan ini, bahwa Ia secara mujarab membujuk sebagian orang untuk datang kepadaNya; tetapi Arminian menganggapnya berasal dari manusia itu sendiri. Sebagai Calvinist kami percaya bahwa kondisi dari manusia sejak kejatuhan adalah sedemikian rupa sehingga jika dibiarkan / ditinggalkan pada diri mereka sendiri mereka akan terus ada dalam keadaan pemberontakan mereka dan menolak semua tawaran keselamatan. Jika demikian maka Kristus mati dengan sia-sia. Tetapi karena telah dijanjikan bahwa Ia akan melihat kerja keras / penderitaan jiwaNya dan dipuaskan, hasil-hasil dari korban itu tidaklah dibiarkan tergantung pada tingkah dari kehendak yang bisa berubah dan berdosa dari manusia. Sebaliknya, pekerjaan Allah dalam penebusan telah dibuat menjadi efektif melalui misi dari Roh Kudus yang bekerja sedemikian rupa pada orang-orang pilihan sehingga mereka dibawa kepada pertobatan dan iman, dan lalu dibuat menjadi ahli-ahli waris dari hidup yang kekal. ... Jika manusia mati dalam dosa, maka tidak kurang dari kuasa pemberi-hidup dari Roh Kudus ini yang akan menyebabkan ia melakukan apa yang baik secara rohani. ... Seperti dikatakan Dr. Warfield, ‘Manusia berdosa berada dalam kebutuhan, bukan akan bujukan atau bantuan untuk menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi secara tepat / persis akan penyelamatan; dan Yesus Kristus telah datang bukan untuk menasehati, atau mendesak, atau membujuk, atau menolong dia untuk menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi untuk menyelamatkannya.) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 163,164.
Catatan: kata-kata yang saya beri garis bawah ganda dikutip dari Yes 53:11 - Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hambaKu itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.”.
Kata-kata yang saya garis-bawahi diterjemahkan secara berbeda-beda.
KJV: ‘He shall see the travail of his soul, and shall be satisfied’ (= Ia akan melihat kerja keras / penderitaan jiwanya, dan akan puas).
RSV: ‘he shall see the fruit of the travail of his soul and be satisfied’ (= ia akan melihat buah dari kerja keras / penderitaan jiwanya dan menjadi puas).
NIV: ‘After the suffering of his soul, he will see the light of life and be satisfied’ (= Setelah penderitaan jiwanya, ia akan melihat terang kehidupan dan menjadi puas).
NASB: ‘As a result of the anguish of His soul, He will see it and be satisfied’ (= Sebagai akibat dari kesedihan / penderitaan jiwaNya, Ia akan melihatnya dan menjadi puas).

Sekalipun ada terjemahan-terjemahan yang berbeda-beda tetapi inti dari bagian ini jelas adalah bahwa pengorbanan yang Kristus lakukan tidak sia-sia dan pasti akan menghasilkan orang-orang yang percaya / bertobat / diselamatkan.

Loraine Boettner menggunakan ayat ini dan berargumentasi bahwa kalau ternyata pertobatan dari manusia tergantung manusia itu sendiri, maka bisa-bisa janji ini tidak terlaksana. Karena itu, pertobatan manusia harus tergantung sepenuhnya kepada Allah sendiri! Ini, tidak bisa tidak, mengharuskan kita mempercayai doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak).

Catatan: memang sebetulnya Loraine Boettner tidak sedang membahas 1Kor 4:7 yang sedang kita bahas pada point ini, tetapi ia tetap membahas tentang perbedaan antara orang yang percaya dan orang yang tidak percaya, dan karena itu saya masukkan kutipan ini pada point tentang 1Kor 4:7 ini.

c)         Kata ‘ditarik’ atau ‘menarik’ dalam Yoh 6:44  Yoh 12:32.
Yoh 6:44 - “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.”.
Yoh 12:32 - “dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu.’”.

Sekarang mari kita soroti Yoh 6:44.
Yoh 6:44 - “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman”.
Perhatikan kata-kata ‘jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa’.

Ada beberapa penafsiran yang salah tentang bagian ini:

1.   ‘ditarik’ diartikan ‘dipikat’.
Jadi, Bapa hanya ‘memikat’ orang itu, tetapi orang itu datang  kepada Yesus dengan kemauan dan kekuatannya sendiri.
Adam Clarke (tentang Yoh 6:44): “‘Except the Father which hath sent me draw him.’ But how is a man drawn? Augustin answers from the poet, Trahit sua quemque voluptas; a man is attracted by that which he delights in. Show green herbage to a sheep, he is drawn by it: show nuts to a child, and he is drawn by them. They run wherever the person runs who shows these things: they run after him, but they are not forced to follow: they run, through the desire they feel to get the things they delight in. So God draws man: he shows him his wants - he shows the Saviour whom he has provided for him: the man feels himself a lost sinner; and, through the desire which he finds to escape hell, and get to heaven, he comes unto Christ, that he may be justified by his blood. Unless God thus draw, no man will ever come to Christ; because none could, without this drawing, ever feel the need of a Saviour. See August. Tract. 26, in Joan. and Calmet. Drawing, or alluring, not dragging, is here to be understood. ... The best Greek writers use the verb in the same sense of alluring, inciting, etc. (= ‘Kecuali Bapa yang telah mengutus Aku menariknya’. Tetapi bagaimana seseorang ditarik? Agustinus menjawab dari syair, Trahit sua quemque voluptas; seseorang tertarik oleh apa yang ia senangi. Tunjukkan rumput hijau kepada seekor domba dan ia ditarik olehnya: tunjukkan kacang kepada seorang anak, dan ia ditarik olehnya. Mereka berlari kemanapun orang yang menunjukkan hal-hal ini lari: mereka mengejarnya, tetapi mereka tidak dipaksa untuk mengikut: mereka lari, melalui keinginan yang mereka rasakan untuk mendapatkan hal-hal yang mereka senangi. Demikianlah Allah menarik manusia: Ia menunjukkan kepadanya kebutuhannya - Ia menunjukkan sang Juruselamat yang telah Ia sediakan baginya: orang itu merasakan dirinya sendiri sebagai orang berdosa yang terhilang; dan, melalui keinginan yang ia temukan untuk lolos dari neraka, dan mendapat / memasuki surga, ia datang kepada Kristus, supaya ia bisa dibenarkan oleh darahNya. Kecuali Bapa menarik seperti itu, tak seorangpun akan pernah datang kepada Kristus; karena tak seorangpun bisa, tanpa tarikan ini, pernah merasakan kebutuhan akan seorang Juruselamat. Lihat August. Tract. 26, in Joan. and Calmet. ‘Tarikan’, atau ‘pikatan’, bukan ‘seretan’, yang harus dipahami / dimaksudkan di sini. ... Penulis-penulis Yunani yang terbaik menggunakan kata kerja ini dengan arti yang sama dari pikatan, dorongan / desakan, dsb.).

Ada beberapa hal yang akan saya berikan sebagai tanggapan  terhadap kata-kata Adam Clarke ini:

a.   Bagi saya rasanya mustahil Agustinus punya pandangan seperti itu. Lalu saya cek tulisan Clarke di PC Study Bible versi 5, dan ternyata kata-kata ‘Tract. 26, in Joan’ berwarna merah dan digaris-bawahi. Waktu diklik maka tampil tulisan Agustinus yang dimaksud.

Dalam tulisan itu, yang dikutip oleh Clarke ada pada point ke 5, sedangkan pada point no 2 Agustinus berkata sebagai berikut: “... no man can come unto me, except the Father that sent me draw him.’ Noble excellence of grace! No man comes unless drawn. There is whom He draws, and there is whom He draws not; why He draws one and draws not another, do not desire to judge, if thou desirest not to err. (= ...  tak seorangpun bisa datang kepadaKu, kecuali Bapa yang mengutus Aku menariknya’. Keunggulan yang mulia dari kasih karunia! Tak seorangpun datang kecuali ditarik. Di sana ada yang ditarik, dan di sana ada yang tidak Ia tarik; mengapa Ia menarik yang satu dan tidak menarik yang lain, jangan ingin untuk menilai / menghakimi, jika engkau tidak ingin bersalah.).

Lalu dalam tulisan itu, pada point no 4 bagian atas, Agustinus berkata: Do not think that thou art drawn against thy will. ... ‘How can I believe with the will if I am drawn?’ I say it is not enough to be drawn by the will; thou art drawn even by delight. (= Jangan berpikir bahwa engkau ditarik bertentangan dengan kehendakmu. ... ‘Bagaimana aku bisa percaya dengan kehendak jika aku ditarik?’ Aku katakan bahwa tidak cukup untuk ditarik oleh / dengan kehendak; engkau ditarik bahkan oleh kesenangan.).

Jadi, saya menyimpulan bahwa Clarke mengutip kata-kata Agustinus out of context (di luar kontextnya). Karena kata-kata Agustinus yang saya berikan jelas menunjukkan bahwa ia percaya:
(1)Adanya orang-orang yang ditarik dan ada yang tidak.
(2)Orang tidak ditarik bertentangan dengan kehendaknya. Orang bahkan ditarik oleh kesenangannya. Mengapa bisa demikian? Sekalipun Agustinus tak menjelaskan secara explicit, tetapi secara implicit jelas ia memaksudkan bahwa itu bisa terjadi karena orangnya sudah diubahkan oleh kelahiran baru.
Calvinisme memang tidak menganggap tarikan ini sebagai suatu pemaksaan, tetapi tarikan itu pasti efektif. Ini yang paling penting untuk ditekankan.

b.   Tanpa adanya kelahiran baru, manusia berdosa tidak akan tertarik pada Injil yang diberitakan kepadanya, juga tidak kepada Juruselamat. Mereka tak akan peduli pada surga, tak ingin lolos dari neraka dan sebagainya.
1Kor 2:14 - “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.”.
Jadi, sekedar dengan memberikan Injil kepadanya, tak akan menariknya sama sekali. Itu berbeda sama sekali dengan kalau domba diberi rumput hijau, anak diberi kacang dan sebagainya. Dalam diri orang berdosa jelas dibutuhkan hal-hal lain sehingga ia menjadi tertarik pada keselamatan dalam / melalui Yesus.

c.   Kalau Allah hanya memikat / mendorong tetapi tak memberi kemauan / kemampuan, orangnya tidak akan mau dan tidak akan bisa datang kepada Kristus. Ini sudah dibahas di atas dalam pembahasan Fil 2:13.

d.   Adam Clarke mengatakan bahwa penulis-penulis Yunani menggunakan kata Yunani itu dalam arti ‘pikatan’. Kalau memang demikian, maka penulis-penulis Perjanjian Baru menggunakannya dengan cara yang berbeda. Nanti kita akan melihat hal itu.

2.   Bapa hanya menarik orang yang mau ditarik.
Ini juga bertentangan dengan Fil 2:13 yang telah saya bahas di atas, karena kemauan maupun kemampuan untuk berbuat apapun yang baik, termasuk datang kepada Yesus, merupakan pekerjaan Bapa! Jadi, kalau orangnya bisa mau ditarik, maka Allah sudah mengerjakan kemauan dalam diri orang itu, dan itu berarti Allah sudah menarik orang itu!

3.   Orang yang ditarik bisa menolak tarikan Bapa itu.
William Barclay: “The interesting thing about the word is that it almost always implies some kind of resistance ... God can draw men, but men’s resistance can defeat God’s pull” (= Hal yang menarik ten­tang kata ini adalah bahwa kata ini hampir selalu menunjukkan secara tak langsung akan adanya tahanan / penolakan ... Allah bisa menarik manusia, tetapi tahanan / penolakan manusia bisa mengalahkan tarikan Allah) - hal 220.
Saya tidak mengerti dari mana Barclay mendapatkan bagian yang saya garis-bawahi itu, khususnya yang terakhir.

Lenski (tentang Yoh 6:44): “‘No one can come to me unless the Father who did send me shall draw him; and I will resurrect him at the last day.’ Luther has put these words into classical form: ‘I believe that I cannot by my own reason or strength believe in Jesus Christ, my Lord, or come to him; but the Holy Ghost has called me by the gospel, … and will at the last day raise up me and all the dead, and give unto me and all believers in Christ eternal life. This is most certainly true.’ Here Jesus explains the Father’s ‘giving’ mentioned in v. 37 and 39: he gives men to Jesus by drawing them to him. This drawing (ἑλκύειν) is accomplished by a specific power, one especially designed for the purpose, one that takes hold of the sinner’s soul and moves it away from darkness, sin, and death, to Jesus, light, and life. No man can possibly thus draw himself to Jesus. The Father, God himself, must come with his divine power and must do this drawing; else it will never be effected. [= ‘Tak seorangpun bisa datang kepadaKu kecuali Bapa yang mengutusKu menariknya; dan Aku akan membangkitkannya pada hari terakhir’. Luther telah mengatakan kata-kata ini ke dalam bentuk klasik: ‘Aku percaya bahwa aku tidak bisa, oleh akal atau kekuatanku sendiri, percaya kepada Yesus Kristus, Tuhanku, atau datang kepadaNya; tetapi Roh Kudus telah memanggil aku oleh injil, ... dan pada hari terakhir akan membangkitkan aku dan semua orang-orang mati, dan memberi aku dan semua orang-orang percaya dalam / kepada Kristus hidup yang kekal. Ini pasti benar’. Di sini Yesus menjelaskan ‘tindakan memberi’ dari Bapa yang disebutkan dalam ay 37 dan 39: Ia memberikan orang-orang kepada Yesus dengan menarik mereka kepadaNya. Tarikan ini (ἑλκύειν / HELKUEIN) dicapai oleh suatu kuasa yang spesifik, suatu kuasa yang dirancang secara khusus untuk tujuan itu, suatu kuasa yang menguasai jiwa dari orang berdosa dan menggerakkannya menjauhi kegelapan, dosa, dan kematian, kepada Yesus, terang dan kehidupan. Tak seorangpun bisa menarik dirinya sendiri seperti itu kepada Yesus. Bapa, Allah sendiri, harus datang dengan kuasa ilahiNya dan harus melakukan tarikan ini; atau kalau tidak, itu tidak akan pernah berhasil.].

Lenski (tentang Yoh 6:44): The power by which these Jews are at this very moment being drawn is the power of divine grace, operative in and through the Word these Jews now hear from the lips of Jesus. While it is power (Rom. 1:16), efficacious to save, it is never irresistible (Matt. 23:37, ‘and ye would not’). Nor is this power extended only to a select few, for in 12:32 Jesus says, ‘I will draw all men.’ The power of the gospel is for the world, and no sinner has fallen so low but what this power is able to reach him effectually. [= Kuasa dengan mana orang-orang Yahudi ini sedang ditarik pada saat ini adalah kuasa dari kasih karunia ilahi, bekerja di dalam dan melalui Firman yang sekarang didengar oleh orang-orang Yahudi ini dari bibir Yesus. Sekalipun itu adalah kuasa (Ro 1:16), mujarab untuk menyelamatkan, itu tidak pernah tidak bisa ditolak (Mat 23:37, ‘dan kamu tidak mau’). Juga kuasa ini tidak diberikan hanya kepada sedikit orang-orang pilihan, karena dalam 12:32 Yesus berkata ‘Aku akan menarik semua orang’. Kuasa dari injil adalah untuk dunia, dan tak ada orang berdosa yang telah jatuh begitu dalam kecuali apa yang kuasa ini bisa menjangkaunya secara efektif.].
Ro 1:16 - Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.”.
Bagian yang saya beri garis bawah ganda salah terjemahan.
KJV: For I am not ashamed of the gospel of Christ: (= Karena aku tidak malu tentang injil Kristus).
Mat 23:37 - “‘Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.”.
Yoh 12:32 - “dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu.’”.

Ini pendapat saya tentang kata-kata Lenski ini:
a.         Kata-katanya saling bertentangan.
Di satu sisi ia berkata kuasa yang menarik itu mujarab untuk menyelamatkan, tetapi di sisi lain ia berkata itu bisa ditolak. Kalau bisa ditolak, itu tidak mujarab! Kemujarabannya terletak pada kuasa yang menarik itu, atau tergantung kepada orang yang ditarik?
b.   Mat 23:37 menyoroti peristiwa itu dari sudut pandang manusia.
c.   Dalam Yoh 12:32, kata-kata ‘semua orang’ jelas menunjuk pada ‘semua orang pilihan’.
Calvin (tentang Yoh 12:32): “‘I will draw all men to myself.’ The word ‘all,’ which he employs, must be understood to refer to the children of God, who belong to his flock. Yet I agree with Chrysostom, who says that Christ used the universal term, ‘all,’ because the Church was to be gathered equally from among Gentiles and Jews” (= ‘Aku akan menarik semua orang kepada diriKu sendiri’. Kata ‘semua / semua orang’, yang Ia gunakan, harus dimengerti sebagai menunjuk kepada anak-anak Allah, yang termasuk dalam kawanan dombaNya. Tetapi saya setuju dengan Chrysostom, yang mengatakan bahwa Kristus menggunakan istilah universal ‘semua / semua orang’, karena Gereja harus dikumpulkan secara setara / sama dari antara orang-orang non Yahudi dan orang-orang Yahudi).

John Owen: “‘All unregenerate men,’ saith Arminius, ‘have by virtue of their free-will, a power of resisting the Holy Spirit, of rejecting the offered grace of God, of contemning the counsel of God concerning themselves, of refusing the gospel of grace, of not opening the heart to him that knocketh’” (= ‘Semua orang yang belum dilahirbarukan’, kata Arminius, ‘berdasarkan kehendak bebas mereka, mempunyai kuasa untuk menahan / menolak Roh Kudus, untuk menolak kasih karunia Allah yang ditawarkan, untuk meremehkan / menghina rencana Allah tentang diri mereka sendiri, untuk menolak Injil kasih karunia, untuk tidak membuka hati bagi Dia yang mengetuk’) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 117.
Catatan: Dalam kutipan ini John Owen hanya mengutip kata-kata Arminius, tetapi ia sendiri tentu saja tidak mempercayai kata-kata itu.

Kesalahan dari pandangan-pandangan di atas terlihat dari penggu­naan kata ‘ditarik’ (Yunani: HELKO / HELKUO) itu dalam Alkitab. Kata Yunani HELKO / HELKUO ini hanya digunakan 8 x dalam Alkitab / Perjanjian Baru, yaitu dalam:
a.   Yoh 6:44 - “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman”.
b.   Yoh 12:32 - “dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu.’”.
c.   Yoh 18:10 - “Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus”.
d.   Yoh 21:6 - “Maka kata Yesus kepada mereka: ‘Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.’ Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan”.
e.   Yoh 21:11 - “Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak”.
f.    Kis 16:19 - “Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat, bahwa harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa”.
g.   Kis 21:30 - “Maka gemparlah seluruh kota, dan rakyat datang berkerumun, lalu menangkap Paulus dan menyeretnya keluar dari Bait Allah dan seketika itu juga semua pintu gerbang Bait Allah itu ditutup”.
h.   Yak 2:6 - “Tetapi kamu telah menghinakan orang-orang miskin. Bukankah justru orang-orang kaya yang menindas kamu dan yang menyeret kamu ke pengadilan?”.

Yoh 6:44 dan Yoh 12:32 menunjukkan bahwa tindakan ‘menarik’ itu merupakan aktivitas Bapa dan Yesus. Sedangkan dari ke 6 ayat yang lain bisa ditarik kesimpulan bahwa:

1.   Ini bukan sekedar ‘memikat’ tetapi betul-betul ‘menarik’.
Pada waktu Petrus menghunus / menarik pedangnya (Yoh 18:10), atau pada waktu murid-murid menarik jala yang penuh ikan (Yoh 21:6), atau pada waktu orang banyak menyeret Paulus (Kis 16:19  Kis 21:30), atau pada waktu orang kaya menyeret orang miskin ke pengadilan (Yak 2:6), maka itu tentu sama sekali bukan dengan cara ‘memikat’, tetapi betul-betul ‘menarik’.

2.   Ini bukan menarik orang yang mau ditarik.
Waktu Paulus ditarik / diseret, atau waktu ikan dalam jala ditarik, atau waktu orang miskin diseret oleh orang kaya ke pengadilan, mereka tentunya tidak mau ditarik!
Memang ini tidak berarti bahwa Allah menggunakan kekuatan luar untuk menarik / memaksa orang yang terus menerus tak mau ditarik.
Calvin: “True, indeed, as to the kind of drawing, it is not violent, so as to compel men by external force; but still it is a powerful impulse of the Holy Spirit, which makes men willing who formerly were unwilling and reluctant” (= Memang, tentang jenis tarikan, itu bukan sesuatu tarikan yang keras / kasar, seakan-akan memaksa manusia dengan kekuatan luar; tetapi itu tetap merupakan dorongan yang kuat dari Roh Kudus, yang membuat manusia yang tadinya tidak mau dan segan menjadi mau) - hal 257.

3.   Orang yang ditarik tidak bisa menolak tarikan itu.
Dalam ke 6 ayat tersebut di atas, tidak pernah ada perlawanan yang bisa mengalahkan tarikan, dan tarikannya selalu berhasil!
Dengan demikian bisa dikatakan bahwa ay 44 ini mendukung doktrin Reformed tentang Irresistible Grace (= kasih karunia yang tak bisa ditolak / ditahan), yang merupakan point ke 4 dari 5 points Calvinisme.

Menanggapi komentar William Barclay di atas, yang mengatakan bahwa manusia bisa mengalahkan tarikan Allah, Leon Morris (NICNT) mengatakan:
“Barclay gives a number of examples of the use of the verb HELKUO in the New Testament to show that ‘Always there is this idea of resistance.’ This is surely true, and indicates that God brings men to Himself although by nature they prefer sin. But curiously Barclay adds, ‘God can and does draw men, but men’s resistance can defeat the pull of God.’ Not one of his examples of the verb shows the resistance as successful. Indeed we can go further. There is not one example in the New Testament of the use of this verb where the resistance is successful (=  Barclay memberi sejumlah contoh penggunaan kata kerja HELKUO dalam Perjanjian Baru untuk menunjukkan bahwa ‘di sana selalu ada gagasan tentang penolakan’. Ini memang benar, dan menunjukkan bahwa Allah membawa manusia kepada diriNya sendiri sekalipun pada dasarnya / secara alamiah mereka lebih memilih dosa. Tetapi secara aneh / mengherankan Barclay menambahkan, ‘Allah bisa dan Allah memang menarik manusia, tetapi penolakan manusia bisa mengalahkan tarikan dari Allah’. Tidak ada satu con­tohpun dari Perjanjian Baru tentang penggunaan kata kerja ini dimana tahanan / penolakan itu berhasil) - hal 371, footnote.

Berbicara tentang ayat-ayat yang menggunakan kata HELKO / HELKUO di atas, Hendriksen berkata sebagai berikut:
William Hendriksen (tentang Yoh 6:44): “‘No one can come to me unless the Father who sent me draw him, and I will raise him up at the last day.’ Here the emphasis is on the divine decree of predestination carried out in history. When Jesus refers to the divine ‘drawing’ activity, he employs a term which clearly indicates that more than moral influence is indicated. The Father does not merely beckon or advise, he ‘draws’! The same verb (ἕλκω, ἑλκύω) occurs also in 12:32, where the drawing activity is ascribed to the Son; and further, in 18:10; 21:6, 11; Acts 16:19; 21:30; and Jas. 2:6. The ‘drawing’ of which these passages speak indicates a very powerful - we may even say, an ‘irresistible’ - activity. To be sure, man resists, but his resistance is ineffective. It is in that sense that we speak of God’s grace as being irresistible. The net full of big fishes is ‘actually drawn’ or ‘dragged’ ashore (21:6, 11). Paul and Silas ‘are dragged’ into the forum (Acts 16:19). Paul ‘is dragged’ out of the temple (Acts 21:30). The rich ‘drag’ the poor before the judgment-seats (Jas. 2:6). Returning now to the Fourth Gospel, Jesus ‘will draw’ all men to himself (12:32) and Simon ‘drew’ his sword, striking the high priest’s servant, cutting off his right ear (18:10). To be sure, there is a difference between the drawing of a net or a sword, on the one hand, and of a sinner, on the other. With the latter God deals as with a responsible being. He powerfully influences the mind, will, heart, the entire personality. These, too, begin to function in their own right, so that Christ is accepted by a living faith. But both at the beginning and throughout the entire process of being saved, the power is ever from above; it is very real, strong, and effective; and it is wielded by God himself! [= Tak seorangpun dapat datang kepadaKu kecuali Bapa yang mengutus Aku menarik dia, dan Aku akan membangkitkan dia pada hari terakhir’. Di sini penekanannya adalah pada ketetapan ilahi tentang predestinasi yang dilaksanakan dalam sejarah. Pada waktu Yesus menunjuk pada akitivitas ‘menarik’ yang ilahi, Ia menggunakan suatu istilah yang dengan jelas menunjukkan bahwa lebih dari sekedar pengaruh moral ditunjukkan. Bapa tak semata-mata memanggil dengan isyarat atau menasehati, Ia ‘menarik’! Kata kerja yang sama (HELKO, HELKUO) juga muncul dalam 12:32, dimana akitivitas menarik itu dianggap berasal dari sang Anak; dan selanjutnya, dalam 18:10; 21:6,11; Kis 16:19; 21:30; dan Yak 2:6. ‘Tarikan’ tentang mana text-text itu berbicara menunjukkan suatu aktivitas yang sangat kuat, dan bahkan bisa dikatakan ‘tak bisa ditahan / ditolak’. Memang manusia menahan / menolak, tetapi tahanan / penolakannya tidak efektif. Dalam arti seperti itulah kami berbicara tentang kasih karunia Allah yang tidak bisa dito­lak. Jala yang penuh dengan ikan-ikan besar ‘betul-betul ditarik’ atau ‘diseret’ ke pantai (21:6,11). Paulus dan Silas ‘diseret’ ke dalam sidang (Kis 16:19). Paulus ‘diseret’ keluar dari Bait Suci (Kis 21:30). Orang-orang kaya ‘menyeret’ orang-orang miskin ke hadapan kursi penghakiman (Yak 2:6). Sekarang kembali pada Injil yang keempat, Yesus ‘akan menarik’ semua orang kepada diriNya sendiri (12:32) dan Simon ‘menarik / menghunus’ pedangnya, menyambar pelayan imam besar, memotong telinga kanannya (18:10). Sudah tentu, di sana ada perbedaan antara penarikan suatu jala atau pedang, di satu sisi, dan penarikan orang berdosa, di sisi lain. Dengan yang terakhir Allah menangani seperti dengan seorang makhluk yang bertanggung-jawab. Ia secara kuat mempengaruhi pikiran, kehendak, hati, seluruh kepribadian. Hal-hal ini, juga, mulai berfungsi dalam kebenaran / hak (?) mereka sendiri, sehingga Kristus diterima dengan suatu iman yang hidup. Tetapi baik pada awal dan dalam sepanjang seluruh proses penyelamatan, kuasa itu selalu dari atas; itu sungguh-sungguh nyata, kuat, dan efektif; dan itu digunakan oleh Allah sendiri!].



R. C. Sproul: One of the most important teachings of Jesus on this matter is found in the Gospel of John. ‘Therefore I have said to you that no one can come to Me unless it has been granted to him by My Father’ (John 6:65). Let us look closely at this verse. The first element of this teaching is a universal negative. The words ‘No one’ are all-inclusive. They allow for no exception apart from the exceptions Jesus adds. The next word is crucial. It is the word ‘can’. This has to do with ability, not permission. Who has not been corrected by a schoolteacher for confusing the words ‘can’ and ‘may’? I used to have a teacher who never missed an opportunity to drill this point home. If I raised my hand and said, ‘Can I sharpen my pencil?’ the response was always the same. She would smile and say, ‘I am sure that you can. You also may sharpen your pencil.’ The word ‘can’ refers to ability; the word ‘may’ refers to permission. In this passage Jesus is not saying, ‘No one is allowed to come to me… .’ He is saying, ‘No one is able to come to me… .’ The next word in the passage is also vital. ‘Unless’ refers to what we call a ‘necessary condition’. A necessary condition refers to something that must happen before something else can happen. The meaning of Jesus’ words is clear. No human being can possibly come to Christ unless something happens that makes it possible for him to come. That necessary condition Jesus declares is that ‘it has been granted to him by the Father.’ Jesus is saying here that the ability to come to him is a gift from God. Man does not have the ability in and of himself to come to Christ. God must do something first. The passage teaches at least this much: It is not within fallen man’s natural ability to come to Christ on his own, without some kind of divine assistance. To this extent at least, Edwards and Augustine are in solid agreement with the teaching of our Lord. The question that remains is this: Does God give the ability to come to Jesus to all men? The Reformed view of predestination says no. Some other views of predestination say yes. But one thing is certain; man cannot do it on his own steam without some kind of help from God. What kind of help is required? How far must God go to overcome our natural inability to come to Christ? A clue is found elsewhere in this same chapter. In fact, there are two other statements by Jesus that have direct bearing on this question. Earlier in chapter 6 of John’s Gospel Jesus makes a similar statement. He says, ‘No one can come to Me unless the Father who sent Me draws him’ (John 6:44). The key word here is ‘draw’. What does it mean for the Father to draw people to Christ? I have often heard this text explained to mean that the Father must woo or entice men to Christ. Unless this wooing takes place, no man will come to Christ. However, man has the ability to resist this wooing and to refuse the enticement. The wooing, though it is necessary, is not compelling. In philosophical language that would mean that the drawing of God is a necessary condition but not a sufficient condition to bring men to Christ. In simpler language it means that we cannot come to Christ without the wooing, but the wooing does not guarantee that we will, in fact, come to Christ. I am persuaded that the above explanation, which is so widespread, is incorrect. It does violence to the text of Scripture, particularly to the biblical meaning of the word ‘draw’. The Greek word used here is HELKO. Kittel’s Theological Dictionary of the New Testament defines it to mean to compel by irresistible superiority. Linguistically and lexicographically, the word means ‘to compel.’ To compel is a much more forceful concept than to woo. To see this more clearly, let us look for a moment at two other passages in the New Testament where the same Greek word is used. In James 2:6 we read: ‘But you have dishonored the poor man. Do not the rich oppress you and drag you into the courts?’ Guess which word in this passage is the same Greek word that elsewhere is translated by the English word ‘draw’. It is the word ‘drag’. Let us now substitute the word ‘woo’ in the text. It would then read: ‘Do not the rich oppress you and ‘woo’ you into the courts?’ The same word occurs in Acts 16:19. ‘But when her masters saw that their hope of profit was gone, they seized Paul and Silas and dragged them into the marketplace to the authorities.’ Again, try substituting the word ‘woo’ for the word ‘drag’. Paul and Silas were not seized and then wooed into the marketplace. I once was asked to debate the doctrine of predestination in a public forum at an Arminian seminary. My opponent was the head of the New Testament department of the seminary. At a crucial point in the debate we fixed our attention on the passage about the Father’s drawing people. My opponent was the one who brought up the passage as a proof text to support his claim that God never forces anyone or compels them to come to Christ. He insisted that the divine influence on fallen man was restricted to drawing, which he interpreted to mean wooing. At that point in the debate I quickly referred him to Kittel and to the other passages in the New Testament that translate the word ‘drag’. I was sure I had him. I was sure that he had walked into an insoluble difficulty for his own position. But he surprised me. He caught me completely off guard. I will never forget that agonizing moment when he cited a reference from an obscure Greek poet in which the same Greek word was used to describe the action of drawing water from a well. He looked at me and said, ‘Well, Professor Sproul, does one drag water from a well?’ Instantly the audience burst into laughter at this startling revelation of the alternate meaning of the Greek word. I stood there looking rather silly. When the laughter died down I replied, ‘No sir. I have to admit that we do not drag water from a well. But, how do we get water from a well? Do we woo it? Do we stand at the top of the well and cry, ‘Here, water, water, water’?’ It is as necessary for God to come into our hearts to turn us to Christ as it is for us to put the bucket in the water and pull it out if we want anything to drink. The water simply will not come on its own, responding to a mere external invitation. [= Salah satu dari ajaran-ajaran yang terpenting dari Yesus tentang persoalan ini ditemukan dalam Injil Yohanes. ‘Karena itu Aku telah mengatakan kepadamu bahwa tak seorangpun bisa datang kepadaKu, kecuali itu telah dikaruniakan kepadanya oleh BapaKu’ (Yoh 6:65). Mari kita melihat ayat ini dengan lebih teliti. Elemen pertama dari ajaran ini adalah suatu ‘tidak’ yang bersifat universal. Kata-kata ‘tak seorangpun’ merupakan kata-kata yang mencakup semua. Kata-kata itu tidak mengijinkan suatu perkecualian terpisah dari perkecualian-perkecualian yang Yesus tambahkan. Kata selanjutnya sangat penting. Itu adalah kata ‘dapat’. Ini berurusan dengan kemampuan, bukan ijin. Siapa yang tidak pernah dibetulkan oleh guru sekolah untuk pengacauan kata-kata ‘can’ / ‘dapat’ dan ‘may’ / ‘boleh’? Saya pernah mempunyai seorang guru yang tidak pernah melalaikan suatu kesempatan untuk menggiring hal ini ke tempat yang seharusnya. Jika saya mengangkat tangan saya dan berkata, ‘Dapatkah saya meruncingkan pensil saya?’ tanggapannya selalu sama. Ia tersenyum dan berkata, ‘Aku yakin bahwa kamu dapat. Kamu juga boleh meruncingkan pensilmu’. Kata ‘dapat’ menunjuk pada kemampuan; kata ‘boleh’ menunjuk pada ijin. Dalam text ini Yesus tidak berkata, ‘Tak seorangpun diijinkan untuk datang kepadaKu’ ...’. Ia berkata, ‘Tak seorangpun dapat / bisa datang kepadaKu ...’ Kata selanjutnya dalam text itu juga sangat penting. ‘Kecuali’ menunjuk pada apa yang kita sebut ‘syarat yang perlu’. Suatu syarat yang perlu menunjuk pada sesuatu yang harus terjadi sebelum sesuatu yang lain bisa / dapat terjadi. Arti / maksud dari kata-kata Yesus adalah jelas. Tak seorang manusiapun dapat datang kepada Kristus kecuali sesuatu terjadi yang membuatnya mungkin baginya untuk datang. Syarat perlu yang Yesus nyatakan itu adalah bahwa ‘itu dikaruniakan kepadanya oleh Bapa’. Yesus berkata di sini bahwa kemampuan untuk datang kepadaNya merupakan suatu pemberian / anugerah dari Allah. Manusia tidak mempunyai kemampuan dalam dan dari dirinya sendiri untuk datang kepada Kristus. Allah harus melakukan sesuatu lebih dulu. Text ini mengajarkan sedikitnya hal ini: Itu bukanlah dalam kemampuan manusia yang terjatuh untuk datang kepada Kristus dari dirinya sendiri, tanpa sejenis pertolongan ilahi. Sampai pada tingkat ini setidaknya, Edwards dan Agustinus ada dalam persetujuan yang kokoh dengan ajaran dari Tuhan kita. Pertanyaan yang tertinggal adalah ini: Apakah Allah memberikan kemampuan untuk datang kepada Yesus itu kepada semua orang? Pandangan Reformed tentang predestinasi berkata ‘tidak’. Pandangan-pandangan lain tentang predestinasi berkata ‘ya’. Tetapi satu hal adalah pasti; manusia tidak dapat melakukannya dengan tenaganya sendiri tanpa sejenis pertolongan dari Allah. Jenis pertolongan apa yang dibutuhkan? Berapa jauh Allah harus pergi / berjalan untuk mengalahkan ketidak-mampuan alamiah kita untuk datang kepada Kristus? Suatu petunjuk ditemukan di tempat lain dalam pasal yang sama ini. Sebetulnya, di sana ada dua pernyataan lain oleh Yesus yang mempunyai hubungan langsung dengan pertanyaan ini. Di bagian yang lebih awal dalam pasal 6 dari Injil Yohanes, Yesus membuat suatu pernyataan yang mirip. Ia berkata, ‘Tak seorangpun dapat datang kepadaKu kecuali Bapa yang mengutus Aku menariknya’ (Yoh 6:44). Kata kunci di sini adalah ‘menarik’. Apa artinya bagi Bapa untuk menarik orang-orang kepada Kristus? Saya telah sering mendengar text ini dijelaskan untuk berarti bahwa Bapa harus membujuk atau memikat orang-orang kepada Kristus. Tetapi, manusia mempunyai kemampuan untuk menolak bujukan ini dan menolak pikatan ini. Bujukan itu, sekalipun perlu, tidaklah memaksa. Dalam bahasa filsafat itu berarti bahwa tarikan Allah adalah syarat yang perlu, tetapi bukan syarat yang cukup, untuk membawa manusia kepada Kristus. Dalam bahasa yang lebih sederhana, itu berarti bahwa kita tidak dapat datang kepada Kristus tanpa bujukan ini, tetapi bujukan ini tidak menjamin bahwa dalam faktanya kita akan datang kepada Kristus. Saya yakin, bahwa penjelasan di atas, yang begitu tersebar luas, adalah tidak benar. Itu melakukan kekerasan terhadap text dari Kitab Suci, khususnya terhadap arti Alkitabiah dari kata ‘menarik’. Kata Yunani yang digunakan di sini adalah HELKO. Kittel’s Theological Dictionary of the New Testament mendefinisikannya sebagai berarti ‘memaksa dengan kesuperioran yang tak bisa ditolak’. Secara ilmu bahasa dan secara ilmu perkamusan, kata itu berarti ‘memaksa’. ‘Memaksa’ adalah suatu konsep yang jauh lebih kuat dari ‘membujuk’. Untuk melihat ini dengan lebih jelas, hendaklah kita melihat sebentar pada 2 text lain dalam Perjanjian Baru dimana kata Yunani yang sama digunakan. Dalam Yak 2:6 kita membaca: ‘Tetapi kamu telah menghinakan orang-orang miskin. Bukankah justru orang-orang kaya yang menindas kamu dan yang menyeret kamu ke pengadilan?’ Tebaklah kata yang mana dalam text ini yang adalah kata Yunani yang sama yang di tempat lain diterjemahkan oleh kata bahasa Inggris ‘draw’ / ‘menarik’. Itu adalah kata ‘menyeret’. Sekarang mari kita menggantikannya dengan kata ‘membujuk’ dalam text. Maka bunyinya menjadi: ‘Tetapi kamu telah menghinakan orang-orang miskin. Bukankah justru orang-orang kaya yang menindas kamu dan yang membujuk kamu ke pengadilan?’ Kata yang sama muncul dalam Kis 16:19. ‘Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat, bahwa harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa.’ Lagi-lagi, cobalah menggantikan kata ‘membujuk’ untuk kata ‘menyeret’. Paulus dan Silas tidak ditangkap lalu dibujuk ke pasar. Pernah sekali saya diminta untuk memperdebatkan doktrin tentang predestinasi di forum umum di suatu seminari Arminian. Lawan saya adalah kepala / pimpinan dari departemen Perjanjian Baru dari seminari itu. Pada titik yang penting dalam debat itu, kami menancapkan perhatian kami pada text tentang Bapa menarik orang-orang. Lawan saya yang mengemukakan text ini sebagai suatu text bukti untuk mendukung claimnya bahwa Allah tidak pernah memaksa siapapun atau memaksa mereka untuk datang kepada Kristus. Ia berkeras bahwa pengaruh ilahi pada manusia yang telah jatuh, dibatasi pada tindakan menarik, yang ia tafsirkan sebagai berarti ‘membujuk’. Pada titik itu dalam debat itu saya dengan cepat mengarahkan dia kepada Kittel dan pada text-text lain dalam Perjanjian Baru yang menterjemahkan kata ‘menyeret’. Saya yakin bahwa saya telah menempatkan dia di posisi yang tidak menguntungkan. Saya yakin bahwa ia telah berjalan ke dalam suatu kesukaran yang tak terpecahkan untuk posisinya sendiri. Tetapi ia mengejutkan saya. Ia menyergap saya sepenuhnya dengan tak disangka-sangka. Saya tak akan pernah melupakan saat yang sangat menderita pada waktu ia mengutip suatu referensi dari suatu syair Yunani yang tak dikenal dalam mana kata Yunani yang sama digunakan untuk menggambarkan tindakan mengambil air dari sebuah sumur. Ia memandang saya dan berkata, ‘Nah, Profesor Sproul, apakah seseorang menyeret air dari sebuah sumur?’ Dengan segera para penonton meledak tertawa pada penyataan yang mengejutkan ini tentang arti alternatif dari kata Yunani itu. Saya berdiri di sana dan terlihat agak tolol. Pada waktu tertawanya sudah mereda saya menjawab, ‘Tidak pak. Saya harus mengakui bahwa kita tidak menyeret air dari sebuah sumur. Tetapi bagaimana kita mendapat air dari sebuah sumur? Apakah kita membujuknya? Apakah kita berdiri di atas sumur dan berteriak, Kesini, air, air, air?’ Adalah sama perlunya bagi Allah untuk datang ke dalam hati kita untuk membalikkan kita kepada Kristus seperti kita perlu untuk meletakkan ember / timba dalam air dan menariknya keluar jika kita menginginkan apapun untuk minum. Air tak akan datang dari dirinya sendiri, menanggapi semata-mata suatu undangan luar / lahiriah.] - ‘Chosen by God’, hal 67-71.

Arthur W. Pink: In order for any sinner to be saved three things were indispensable: God the Father had to purpose his salvation, God the Son had to purchase it, God the Spirit has to apply it. God does more than ‘propose’ to us: were He only to ‘invite’, every last one of us would be lost. This is strikingly illustrated in the Old Testament. In Ezra 1:1-3 we read, ‘Now in the first year of Cyrus king of Persia, that the word of the Lord by the mouth of Jeremiah might be fulfilled, the Lord stirred up the spirit of Cyrus king of Persia, that he made a proclamation throughout all his kingdom, and put it also in writing saying, Thus saith Cyrus king of Persia, the Lord God of heaven hath given me all the kingdoms of the earth, and He hath charged me to build Him an house at Jerusalem, which is in Judah. Who is there among you of all His people? his God be with him, and let him go up to Jerusalem which is in Judah, and build the house of the Lord God of Israel.’ Here was an ‘offer’ made, made to a people in captivity, affording them opportunity to leave and return to Jerusalem - God’s dwelling-place. Did all Israel eagerly respond to this offer? No indeed. The vast majority were content to remain in the enemy’s land. Only an insignificant ‘remnant’ availed themselves of this overture of mercy! And why did they? Hear the answer of Scripture: ‘Then rose up the chief of the fathers of Judah and Benjamin, and the priests, and the Levites, with all whose spirit God had stirred up, to go up to build the house of the Lord which is in Jerusalem’ (Ezra 1:5)! In like manner, God ‘stirs up’ the spirits of His elect when the effectual call comes to them, and not till then do they have any willingness to respond to the Divine proclamation. [= Supaya orang berdosa manapun diselamatkan tiga hal sangat diperlukan: Allah Bapa harus merencanakan keselamatannya, Allah Anak harus membelinya, Allah Roh Kudus harus menerapkannya. Allah melakukan lebih dari ‘mengusulkan’ kepada kita: seandainya Ia hanya ‘mengundang’, setiap orang dari kita akan terhilang. Ini diilustrasikan secara menyolok dalam Perjanjian Lama. Dalam Ezra 1:1-3 kita membaca, ‘Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia, sehingga disiarkan di seluruh kerajaan Koresh secara lisan dan tulisan pengumuman ini: ‘Beginilah perintah Koresh, raja Persia: Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh TUHAN, Allah semesta langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagiNya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. Siapa di antara kamu termasuk umatNya, Allahnya menyertainya! Biarlah ia berangkat pulang ke Yerusalem, yang terletak di Yehuda, dan mendirikan rumah TUHAN Allah Israel.’ Di sini suatu ‘tawaran’ dibuat, dibuat bagi suatu bangsa dalam pembuangan, memberikan mereka kesempatan untuk meninggalkan dan kembali ke Yerusalem - tempat tinggal Allah. Apakah seluruh Israel dengan keinginan yang besar menanggapi tawaran ini? Tidak. Mayoritas dari mereka puas untuk tinggal di negara / tanah musuh. Hanya suatu ‘sisa’ yang kecil / tak berarti yang memakai kesempatan tawaran belas kasihan ini. Dan mengapa mereka melakukannya? Dengarkan jawaban dari Kitab Suci: ‘Maka berkemaslah kepala-kepala kaum keluarga orang Yehuda dan orang Benyamin, serta para imam dan orang-orang Lewi, yakni setiap orang yang hatinya digerakkan Allah untuk berangkat pulang dan mendirikan rumah TUHAN yang ada di Yerusalem’ (Ezra 1:5)! Dengan cara yang sama, Allah menggerakkan roh-roh dari orang-orang pilihanNya pada waktu panggilan efektif datang kepada mereka, dan tidak sampai saat itu mereka mempunyai kemauan apapun untuk menanggapi proklamasi / pemberitaan Ilahi.] - ‘The Sovereignty of God’ (AGES), hal 129-130.

Calvin (tentang Yoh 6:44): “‘No man can come to me, unless the Father, who hath sent me, draw him.’ He does not merely accuse them of wickedness, but likewise reminds them, that it is a peculiar gift of God to embrace the doctrine which is exhibited by him; which he does, that their unbelief may not disturb weak minds. ... Christ declares that the doctrine of the Gospel, though it is preached to all without exception, cannot be embraced by all, but that a new understanding and a new perception are requisite; and, therefore, that faith does not depend on the will of men, but that it is God who gives it. ‘Unless the Father draw him.’ ‘To come to Christ’ being here used metaphorically for ‘believing’, the Evangelist, in order to carry out the metaphor in the apposite clause, says that those persons are ‘drawn’ whose understandings God enlightens, and whose hearts he bends and forms to the obedience of Christ. The statement amounts to this, that we ought not to wonder if many refuse to embrace the Gospel; because no man will ever of himself be able to come to Christ, but God must first approach him by his Spirit; and hence it follows that all are not ‘drawn,’ but that God bestows this grace on those whom he has elected. True, indeed, as to the kind of ‘drawing,’ it is not violent, so as to compel men by external force; but still it is a powerful impulse of the Holy Spirit, which makes men willing who formerly were unwilling and reluctant. It is a false and profane assertion, therefore, that none are ‘drawn’ but those who are willing to be ‘drawn,’ as if man made himself obedient to God by his own efforts; for the willingness with which men follow God is what they already have from himself, who has formed their hearts to obey him. (= ‘Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, kecuali Bapa, yang telah mengutus Aku, menariknya’. Ia tidak semata-mata menuduh mereka tentang kejahatan, tetapi juga mengingatkan mereka, bahwa itu merupakan suatu pemberian / karunia khusus dari Allah untuk memeluk / mempercayai doktrin yang ditunjukkan olehNya; yang Ia lakukan, supaya ketidak-percayaan mereka tidak mengganggu pikiran yang lemah. ... Kristus menyatakan bahwa doktrin dari Injil, sekalipun itu dikhotbahkan / diberitakan tanpa perkecualian, tidak bisa dipercayai oleh semua orang, tetapi bahwa suatu pengertian yang baru dan suatu persepsi yang baru dibutuhkan; dan karena itu, iman itu tidak tergantung pada kehendak manusia, tetapi bahwa adalah Allah yang memberikannya. ‘Kecuali Bapa menariknya’. ‘Datang kepada Kristus’ digunakan di sini sebagai kiasan untuk ‘percaya’, sang Penginjil, untuk membawa kiasan dalam anak kalimat yang tepat, mengatakan bahwa orang-orang itu ‘ditarik’, yang pengertiannya Allah terangi, dan yang hatinya Ia bengkokkan dan bentuk pada ketaatan Kristus. Pernyataan itu sama dengan ini, bahwa kita tidak boleh heran jika banyak orang menolak untuk percaya pada Injil; karena tak seorangpun akan pernah, dari dirinya sendiri, dapat datang kepada Kristus, tetapi Allah harus pertama-tama mendekatinya oleh RohNya; dan lalu mengikuti bahwa tidak semua orang ‘ditarik’, tetapi bahwa Allah memberikan kasih karunia ini kepada mereka yang telah Ia pilih. Memang, tentang jenis ‘tarikan’, itu bukan sesuatu tarikan yang keras / kasar, seakan-akan memaksa manusia dengan kekuatan luar; tetapi itu tetap merupakan dorongan yang kuat dari Roh Kudus, yang membuat manusia yang tadinya tidak mau dan segan menjadi mau. Karena itu, merupakan suatu penegasan yang salah bahwa tak seorangpun ‘ditarik’ kecuali mereka yang mau untuk ‘ditarik’, seakan-akan manusia membuat dirinya sendiri taat kepada Allah oleh usaha-usahanya sendiri; karena kemauan dengan mana manusia mengikuti Allah adalah apa yang mereka sudah punyai dari Dia sendiri, yang telah membentuk hati mereka untuk mentaati Dia.).

e)   Ro 3:11 dan Ro 10:20.
Ro 3:11 - “Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.
Ro 10:20 - “Dan dengan berani Yesaya mengatakan: ‘Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku.’”.

Mari kita membahas pertanyaan “Siapa yang mencari dan siapa yang dicari?” dalam seluruh Alkitab.

Ro 3:11 ini perlu dicamkan khususnya pada waktu kita melihat ayat-ayat yang menyuruh manusia mencari Allah, seperti:
1.   1Taw 16:11 - Carilah TUHAN dan kekuatanNya, carilah wajahNya selalu!”.
2.   Maz 27:8 - “Hatiku mengikuti firmanMu: ‘Carilah wajahKu’; maka wajahMu kucari, ya TUHAN”.
3.   Maz 105:3-4 - “(3) Bermegahlah di dalam namaNya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! (4) Carilah TUHAN dan kekuatanNya, carilah wajahNya selalu!”.
4.   Yes 55:6 - Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepadaNya selama Ia dekat!”.
5.   Yer 29:13-14a - “(13) Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, (14a) Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN”.
6.   Amos 5:4-6 - “(4) Sebab beginilah firman TUHAN kepada kaum Israel: ‘Carilah Aku, maka kamu akan hidup! (5) Janganlah kamu mencari Betel, janganlah pergi ke Gilgal dan janganlah menyeberang ke Bersyeba, sebab Gilgal pasti masuk ke dalam pembuangan dan Betel akan lenyap.’ (6) Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup, supaya jangan Ia memasuki keturunan Yusuf bagaikan api, yang memakannya habis dengan tidak ada yang memadamkan bagi Betel”.

Saya kira orang Arminian tidak akan menemukan kesulitan dengan sederetan ayat-ayat di atas ini (tetapi anehnya, Adam Clarke tidak memberikan apa-apa dari ayat-ayat ini yang berhubungan dengan doktrin Arminianisme).
Tetapi, bagaimana mereka menafsirkan Ro 3:11b yang berbunyi: “tidak ada seorangpun yang mencari Allah”?

Adam Clarke tak beri komentar apapun tentang ayat ini, dan Lenski hanya mengatakan bahwa kalau dalam Mazmur ayatnya ada dalam bentuk tidak langsung, maka di sini Paulus menuliskannya dalam bentuk langsung.
Maz 14:2 - “TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.”.
Selain itu Lenski tidak memberi komentar apapun tentang Ro 3:11 ini.
Dan tentang Maz 14:2 Clarke hanya mengatakan bahwa ayat itu menggambarkan Allah seakan-akan Ia adalah manusia, dan Ia digambarkan melihat ke bawah / ke dunia ini untuk mengetahui apakah ada orang yang mengerti akan adanya Allah, dan karena itu mencariNya. Ia tak menghubungkan Maz 14:2 dengan Ro 3:11, dan lebih-lebih ia tidak menjelaskan bagaimana kedua ayat itu bisa sesuai dengan theologia dari Arminianisme.

Kalau Maz 14:2 dan Ro 3:11 sudah sangat menyulitkan orang-orang Arminian, lebih-lebih, bagaimana mereka menafsirkan ayat-ayat ini?

Yes 65:1 - Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: ‘Ini Aku, ini Aku!’ kepada bangsa yang tidak memanggil namaKu.”.

Ro 10:20 - “Dan dengan berani Yesaya mengatakan: ‘Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku.’”.

Orang Arminian, yang mengatakan bahwa semua manusia telah diberi kemampuan dari Roh Kudus, sehingga sekarang semua tergantung pada kemauan mereka, pasti akan kebingungan menafsirkan Yes 65:1 / Ro 10:20 ini!

Adam Clarke (tentang Ro 10:20): “‘But Esaias is very bold’ ... He speaks out in the fullest manner and plainest language, Isa 65:1, notwithstanding the danger to which such a declaration exposed him, among a crooked, perverse, and dangerous people: ‘I was found of them that sought me not; I put my salvation in the way of those (the Gentiles) who were not seeking for it, and knew nothing of it: thus, the Gentiles which followed not after righteousness have attained to the law of righteousness,’ Rom 9:30, and they have found that redemption which the Jews have rejected. [= ‘Tetapi Yesaya sangat berani’. ... Ia berbicara dengan tegas dalam cara yang paling penuh / lengkap dan bahasa yang paling sederhana / jelas, Yes 65:1, meskipun ada bahaya pada mana pernyataan seperti itu membuka dia, di antara bangsa yang bengkok, jahat, dan berbahaya: ‘Aku ditemukan mereka yang tidak mencari Aku; Aku meletakkan keselamatanKu di jalan mereka (orang-orang non Yahudi) yang tidak mencarinya, tak tahu apa-apa tentangnya: maka, orang-orang non Yahudi yang tidak mengikuti kebenaran telah mencapai hukum kebenaran’, Ro 9:30, dan mereka telah menemukan penebusan itu yang telah ditolak oleh orang-orang Yahudi.].
Ro 9:30 - “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman.”.    

Jadi, Adam Clarke hanya mengatakan bahwa orang-orang yang tidak mencari keselamatan tetapi memperolehnya, adalah orang-orang non Yahudi. Tetapi lagi-lagi, ia sama sekali tak menghubungkan dengan doktrin Arminianisme yang ia anut, lebih-lebih ia tak menjelaskan bagaimana ayat ini bisa cocok dengan theologianya.

Sekarang mari kita perhatikan tafsiran dari Calvin dan orang-orang Reformed berkenaan dengan ayat-ayat ini.

1.   Tentang Ro 3:11 - “Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.”.

Calvinisme / Reformed menganggap ayat ini menunjukkan secara jelas bahwa keselamatan seseorang tidak tergantung pada kehendak orang itu sendiri, tetapi tergantung kepada Allah.
Ro 3:11 - “Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.
Ini menunjukkan bahwa manusia berdosa itu sendiri, terlepas dari pekerjaan Allah / Roh Kudus dalam dirinya, tidak bisa dan tidak akan mau mencari Allah.
Tetapi mengapa dalam faktanya ada orang-orang yang mencari Allah? Karena dalam diri orang yang adalah ‘orang pilihan’, sekalipun ia mula-mula tidak mencari Allah (sesuai dengan Ro 3:11 ini), Allah bekerja, melahir-barukannya, sehingga ia lalu mencari Allah dan menemukan Allah (melalui Yesus Kristus).
Catatan: perlu diingat bahwa dalam ajaran Calvinist / Reformed, kelahiran baru terjadi sebelum iman!

Calvin (tentang Ro 3:11): “The first effect is, that there is none that understands: and then this ignorance is immediately proved, for they seek not God; for empty is the man in whom there is not the knowledge of God, whatever other learning he may possess; yea, the sciences and the arts, which in themselves are good, are empty things, when they are without this groundwork.” (= Akibat pertama adalah, bahwa di sana tidak ada yang mengerti: lalu ketidak-tahuan ini segera terbukti, karena mereka tidak mencari Allah; karena kosonglah orang dalam siapa disana tidak ada pengetahuan / pengenalan tentang Allah, apapun pengetahuan lain yang ia miliki; ya, ilmu-ilmu pengetahuan dan seni-seni, yang dalam diri mereka sendiri adalah baik, adalah hal-hal yang kosong, pada waktu mereka ada tanpa dasar ini).

Matthew Henry (tentang Ro 3:11): “‘None that seeketh after God,’ that is, none that has any regard to God, any desire after him. Those may justly be reckoned to have no understanding that do not seek after God. The carnal mind is so far from seeking after God that really it is enmity against him. (= ‘Tak seorangpun yang mencari Allah’, artinya, tak seorangpun yang mempunyai kepedulian apapun tentang Allah, keinginan apapun untuk mencariNya. Mereka bisa dengan benar dianggap tidak mempunyai pengertian, kalau mereka tidak mencari Allah. Pikiran daging begitu jauh dari mencari Allah, yang sesungguhnya itu adalah suatu permusuhan terhadap Dia.).

John Murray (tentang Ro 3:11): Verse 10 had been a statement in general terms; this verse is more specific and particularizes respects in which universal sinfulness appears. In the noetic sphere there is no understanding; in the conative there is no movement towards God. With reference to God all men are noetically blind and in respect of Godward aspiration they are dead. (= Ayat 10 merupakan suatu pernyataan dalam istilah-istilah yang umum; ayat ini adalah lebih spesifik dan mengkhususkan hubungan-hubungan dalam mana keberdosaan universal muncul. Dalam hal intelek disana tidak ada pengertian; dalam hal usaha disana tidak ada gerakan menuju Allah. Berkenaan dengan Allah semua manusia adalah buta secara intelektual, dan berkenaan dengan keinginan ke arah Allah mereka mati.) - NICNT.

Charles Hodge (tentang Ro 3:11): “‘There is none who understands, there is none who seeks after God.’ In the Psalms it is said: ‘God looked down from heaven upon the sons of men, to see if there was one wise, seeking after God.’ Here again the apostle gives the thought, and not the precise words. Instead of ‘if there was one wise,’ he gives the idea in a negative form, ‘There is none who understands,’ ... This right apprehension or spiritual discernment of divine things is always attended with right affections and right conduct - he that understands seeks after God - which latter expression includes all those exercises of desire, worship, and obedience, which are consequent on this spiritual discernment. (= ‘Tidak ada yang mengerti, di sana tidak ada yang mencari Allah’. Dalam Mazmur dikatakan: ‘Allah melihat ke bawah dari surga kepada anak-anak manusia, untuk melihat apakah di sana ada orang yang bijaksana / berhikmat, yang mencari Allah’. Di sini lagi-lagi sang rasul memberikan pemikiran, dan bukan kata-kata yang persis. Sebagai ganti dari ‘apakah disana ada orang yang berhikmat / bijaksana’, ia memberikan gagasan dalam bentuk negatif, ‘Disana tidak ada yang mengerti’. ... Pengertian yang benar atau ketajaman rohani tentang hal-hal ilahi ini selalu disertai dengan perasaan yang benar dan tingkah laku yang benar - ia yang mengerti, mencari Allah - dan ungkapan terakhir ini mencakup semua aktivitas dari keinginan, penyembahan, dan ketaatan, yang merupakan akibat dari pengertian rohani ini.).
Catatan: Ro 3:11 dikutip dari Maz 14:2 - “TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.”.

William Hendriksen (tentang Ro 3:11): The picture he draws is dismal: no one is righteous; in fact, no one understands his deplorable condition. And no one is even trying to understand, is even searching for God, the Source of all wisdom and knowledge. But are there no exceptions? Paul answers, ‘There is no one … no one … no one … no one … not even one.’ (= Gambaran yang ia gambarkan adalah suram: tak ada orang yang benar; dalam faktanya, tak ada orang yang mengerti keadaannya yang menyedihkan. Dan tak ada orang yang bahkan mencoba untuk mengerti, mencari Allah, Sumber dari segala hikmat dan pengetahuan. Tetapi apakah di sana ada perkecualian-perkecualian? Paulus menjawab, ‘Disana tidak seorangpun ...  tidak seorangpun ... tidak seorangpun ... tidak seorangpun ... bahkan tidak seorangpun’.).
Ro 3:10-12 - “(10) seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. (11) Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. (12) Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.”.

2.   Tentang Yes 65:1-2 - “(1) Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: ‘Ini Aku, ini Aku!’ kepada bangsa yang tidak memanggil namaKu. (2) Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tanganKu kepada suku bangsa yang memberontak, yang menempuh jalan yang tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri;”.

Tentang Yes 65:1 Adam Clarke hanya meributkan tentang terjemahan yang benar, dan setelah memilih terjemahan yang benar, ia boleh dikatakan tak memberi komentar apapun bagaimana ayat ini bisa cocok dengan theologia Arminiannya. Dan tentang Yes 65:2 ia sama sekali tidak memberi komentar apapun.

E. J. Young (tentang Yes 65:1): God here speaks of the Gentiles, who, in contrast to the Jews, have received His grace even though they had not asked for it. ... In other words, God’s free grace reached those who did not know Him and who made no effort to find Him. They in fact were found of Him. Isaiah’s forceful language simply asserts the reality of sovereign and free grace given to sinners who deserve it not, and who have had no concern for it. (= Allah di sini berbicara tentang orang-orang non Yahudi, yang, dalam kontras dengan orang-orang Yahudi, telah menerima kasih karuniaNya sekalipun mereka tidak mencarinya. ... Dengan kata lain, kasih karunia yang cuma-cuma dari Allah mencapai mereka yang tidak mengenalNya dan tidak melakukan usaha untuk mencariNya. Mereka sesungguhnya ditemukan olehNya. Bahasa / kata-kata yang kuat dari Yesaya hanya menegaskan kenyataan dari kasih karunia yang berdaulat dan cuma-cuma yang diberikan kepada orang-orang berdosa yang tak layak mendapatkannya, dan yang tak mempedulikannya.).

Calvin (tentang Yes 65:2): “By ‘the stretching out of the hands’ he means the daily invitation. There are various ways in which the Lord ‘stretches out his hands to us;’ for he draws us to him, either effectually or by the word. In this passage it must relate chiefly to the word. The Lord never speaks to us without at the same time ‘stretching out his hand’ to join us to himself, or without causing us to feel, on the other hand, that he is near to us. He even embraces us, and shews the anxiety of a father, so that, if we do not comply with his invitation, it must be owing entirely to our own fault.” (= Dengan ‘mengulurkan tangan’ ia memaksudkan undangan harian. Di sana ada bermacam-macam cara dalam mana Tuhan ‘mengulurkan tanganNya kepada kita’; karena Ia menarik kita kepadaNya, atau secara efektif, atau oleh firman. Dalam text ini, itu harus berhubungan terutama dengan firman. Tuhan tidak pernah berbicara kepada kita tanpa pada saat yang sama ‘mengulurkan tanganNya’ untuk menggabungkan kita dengan diriNya sendiri, atau tanpa menyebabkan kita untuk merasa, di sisi lain, bahwa Ia dekat dengan kita. Ia bahkan memeluk kita, dan menunjukkan kekuatiran seorang bapa, sehingga jika kita tidak memenuhi / mengikuti undangannya, itu harus dianggap sepenuhnya sebagai kesalahan kita sendiri.).

3.   Tentang Ro 10:20 - “Dan dengan berani Yesaya mengatakan: ‘Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku.’”.

Charles Hodge (tentang Ro 10:20): “Paul follows the Septuagint version of the passage, merely transposing the clauses. The sense is accurately expressed. ‘I am sought of them that asked not for me, I am found of them that sought me not,’ is the literal version of the Hebrew, as given in our translation. The apostle quotes and applies the passage in the sense in which it is to be interpreted in the ancient prophet. In the first verse of that chapter Isaiah says, that God will manifest himself to those ‘who were not called by his name;’ and in the second, he gives the immediate reason of this turning unto the Gentiles, ‘I have stretched out my hand all the day to a rebellious people.’ This quotation, therefore, confirms both the great doctrines taught in this chapter; the Jews were no longer the exclusive or peculiar people of God, and the blessings of the Messiah’s kingdom were thrown wide open to all mankind. With regard to Israel, the language of God is peculiarly strong and tender. ‘All day long I have stretched forth my hands.’ The stretching forth the hands is the gesture of invitation, and even supplication. God has extended wide his arms, and urged men frequently and long to return to his love; and it is only those who refuse, that he finally rejects.” (= Paulus mengikuti versi Septuaginta dari text ini, semata-mata mengubah urutan anak-anak kalimatnya. Artinya dinyatakan secara akurat. ‘Aku dicari mereka yang tidak menanyakan Aku, Aku ditemukan mereka yang tidak mencari Aku’, adalah terjemahan hurufiah dari bahasa Ibraninya, seperti yang diberikan dalam terjemahan kami. Sang rasul mengutip dan menerapkan text ini dalam arti dalam mana itu diterjemahkan dalam nabi kuno. Dalam ayat yang pertama dari pasal itu Yesaya berkata, bahwa Allah akan menyatakan diriNya kepada mereka ‘yang tidak disebut oleh namaNya’; dan dalam ayat yang kedua, Ia memberi alasan langsung dari pembelokan kepada orang-orang non Yahudi ini, ‘Aku telah mengulurkan tanganKu sepanjang hari kepada suatu bangsa yang suka memberontak’. Karena itu, kutipan ini meneguhkan kedua doktrin-doktrin besar yang diajarkan dalam pasal ini; orang-orang Yahudi tidak lagi merupakan bangsa / umat Allah yang esklusif atau khusus, dan berkat-berkat dari kerajaan Mesias dilemparkan secara lebar kepada seluruh umat manusia. Berkenaan dengan Israel, bahasa / kata-kata Allah kuat dan lembut secara khusus. ‘Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tanganKu’. Penguluran tangan ini adalah suatu gerakan isyarat dari undangan, dan bahkan permohonan. Allah telah mengulurkan tanganNya dengan lebar, dan mendesak manusia secara sering dan lama untuk kembali kepada kasihNya; dan hanyalah mereka yang menolak, yang akhirnya Ia tolak.).
Catatan: Hodge tak mengarah pada pandangan Calvinist, tetapi bahkan berbau ajaran Arminian (bagian yang saya garis-bawahi), atau dalam bagian itu ia hanya meninjaunya dari sudut pandang manusia.

Calvin (tentang Ro 10:20): “Without doubt, then, the Prophet declares it as what would take place, that those who were before aliens would be received by a new adoption unto the family of God. It is then the calling of the Gentiles; and in which appears a general representation of the calling of all the faithful; for there is no one who anticipates the Lord; but we are all, without exception, delivered by his free mercy from the deepest abyss of death, when there is no knowledge of him, no desire of serving him, in a word, no conviction of his truth.” (= Maka, tanpa keraguan, sang nabi menyatakan apa yang akan terjadi, bahwa mereka yang sebelumnya adalah orang-orang asing akan diterima oleh suatu pengadopsian yang baru kepada keluarga Allah. Maka itu merupakan panggilan orang-orang non Yahudi; dan dalam mana terlihat suatu gambaran umum dari panggilan semua orang percaya; karena di sana tidak seorangpun yang mengantisipasi / mendahului Tuhan; tetapi kita semua, tanpa perkecualian, dibebaskan oleh belas kasihanNya yang cuma-cuma dari jurang kematian yang terdalam, pada waktu di sana tidak ada pengetahuan tentang Dia, tak ada keinginan melayani Dia, singkatnya, tak ada keyakinan tentang kebenaranNya.).

William Hendriksen (tentang Ro 10:20): By reminding the hearers that God was found by those who did not seek him, and was revealed to those who did not ask for him, it emphasizes God’s sovereign right to bestow salvation on whomsoever he wills. (= Dengan mengingatkan para pendengar bahwa Allah telah ditemukan oleh mereka yang tidak mencariNya, dan dinyatakan kepada mereka yang tidak menanyakan Dia, itu menekankan hak berdaulat Allah untuk memberikan keselamatan kepada siapapun yang Ia kehendaki.).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar