Senin, 24 Maret 2014

KEMATIAN YANG MENGERIKAN


Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div

LUKAS 13:1-9


Pendahuluan:

Kalau kita mendengar berita tentang kematian yang mengerikan yang di alami seseorang, maka kita sering menganggap bahwa orang itu mengalami hal itu sebagai hukuman dari Tuhan, karena ia sangat berdosa di hadapan Tuhan, atau lebih berdosa dibandingkan dengan orang lain
Pandangan seperti ini sudah ada pada jaman dulu.

I) Pandangan umum pada saat itu.

Pada jaman itu ada pandangan yang umum yang mengatakan bahwa orang benar / saleh pasti akan diberkati Tuhan sehingga akan selamat dan baik-baik saja. Sehingga kalau seseorang terkena bencana yang hebat, apalagi mengalami kematian yang mengerikan, itu membuktikan bahwa Tuhan tidak berkenan akan hidup orang itu dan karena itu Tuhan memberikan bencana / kematian itu sebagai hukuman.
Pandangan ini mirip sekali dengan pandangan banyak orang Kharismatik jaman ini, dan juga dengan ajaran Theologia Kemakmuran!

Bahwa pandangan seperti itu merupakan pandangan yang umum pada saat itu bisa terlihat dari:
·  pada waktu Ayub menderita / terkena bencana yang hebat, teman-teman-nya menganggap bahwa Ayub hidup sangat berdosa dan menyuruhnya bertobat (bdk. Ayub 4:7  22:4-10).
·       dalam Yoh 9:2 ketika murid-murid Yesus melihat orang yang buta sejak lahirnya, mereka bertanya kepada Yesus: ‘Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?’
·       dalam Kis 28:3-4, ketika Paulus digigit oleh ular berbisa, orang-orang menganggapnya sebagai seorang pembunuh!

Juga dalam Luk 13:1-5 ini diceritakan tentang 2 buah peristiwa yang menun-jukkan bahwa banyak orang mempunyai pandangan seperti itu:

1)   Peristiwa yang diceritakan beberapa orang kepada Yesus, dimana ada orang-orang Galilea yang dibunuh oleh Pilatus (ay 1).
Mungkin sekali orang-orang Galilea itu sedang mempersembahkan kor-ban di Bait Allah ketika mereka dibantai oleh tentara yang disuruh oleh Pilatus, sehingga darah mereka tertumpah ke mezbah dan bercampur dengan darah dari binatang yang sedang dikorbankan kepada Tuhan.
Orang-orang yang menceritakan peristiwa ini kepada Yesus tidak men-ceritakan peristiwa ini untuk menunjukkan kekejaman Pilatus, ataupun untuk menunjukkan bahwa mereka berbelas kasihan kepada orang-orang yang dibantai itu. Dari jawaban Yesus dalam ay 2-3 terlihat bahwa pada saat orang-orang itu menceritakannya, mereka mempunyai anggapan bahwa:
·       orang-orang itu mengalami kematian yang mengerikan karena hukum-an Tuhan atas dosa-dosa mereka yang luar biasa hebatnya.
·     kalau mereka sendiri (orang-orang yang menceritakan peristiwa itu kepada Yesus) sekarang masih hidup dan tidak mengalami nasib seperti orang-orang yang dibantai Pilatus, itu menunjukkan bahwa mereka lebih baik hidupnya dari orang-orang yang mati secara mengerikan itu.

2)   Peristiwa 18 orang yang mati ditimpa menara di kolam Siloam (ay 4).
Peristiwa ini diceritakan oleh Yesus sendiri sebagai tambahan atas cerita yang pertama tadi, karena Ia tahu bahwa sekalipun kedua peristiwa itu mempunyai perbedaan (pada peristiwa pertama orang-orang itu mati dibunuh, sedangkan pada peristiwa kedua orang-orang itu mati karena kecelakaan), tetapi orang-orang itu mempunyai penafsiran yang sama terhadap peristiwa ini, yaitu bahwa orang-orang itu mati karena dosa mereka yang hebat.

II) Pandangan Tuhan Yesus.

1)   Tuhan Yesus tidak menyetujui pandangan yang mengatakan bahwa orang yang mengalami kematian yang mengerikan pasti adalah orang yang sangat berdosa sehingga dihukum oleh Tuhan dengan cara itu. Ini terlihat dari kata-kata: ‘Tidak! KataKu kepadamu’, yang Ia katakan sampai 2 kali (ay 3,5).

Ada 2 hal yang perlu kita perhatikan:

a) Perhatikan bahwa sekalipun ini adalah pandangan umum, tetapi Ye-sus berani menentangnya secara terang-terangan. Bagaimana sikap saudara terhadap pandangan umum yang salah, misalnya:
·         semua agama itu sama.
·         orang kristen tidak boleh fanatik (bdk. Wah 3:15-16).
·         orang kristen harus sembuh dari penyakit.
·         orang bisa sakit pasti karena dirasuk roh jahat dsb.

b) Ketidak setujuan Yesus terhadap pandangan umum ini memang se-suai dengan Kitab Suci:

·         Kitab Suci memang menunjukkan bahwa kematian yang mengeri-kan / adanya bencana belum tentu merupakan hukuman atas dosa orang yang mengalaminya.
Memang ada orang-orang yang mengalami kematian yang menge-rikan sebagai hukuman Allah atas dosa-dosanya, seperti:
*        Izebel dalam 2Raja-raja 9:10-37  bdk. 1Raja-raja 21:23.
*        Yudas Iskariot dalam Mat 27:5 dan Kis 1:18.
*        nabi yang diterkam singa dalam 1Raja-raja 13:20-25.
Tetapi juga ada banyak orang yang mengalami bencana / kematian yang mengerikan bukan sebagai hukuman Allah atas dosa-dosa mereka, seperti:
*        Ayub.
*        raja Yosia (2Raja-raja 22-23).
*        Elisa (2Raja-raja 13:14).

Sebaliknya, Kitab Suci juga menunjukkan adanya orang-orang jahat / fasik yang mati dengan tenang.
Ayub 21:7-15 - “(7) Mengapa orang fasik tetap hidup, menjadi tua, bahkan menjadi bertambah-tambah kuat? (8) Keturunan mereka tetap bersama mereka, dan anak cucu diperhatikan mereka. (9) Rumah-rumah mereka aman, tak ada ketakutan, pentung Allah tidak menimpa mereka. (10) Lembu jantan mereka memacek dan tidak gagal, lembu betina mereka beranak dan tidak keguguran. (11) Kanak-kanak mereka dibiarkan keluar seperti kambing domba, anak-anak mereka melompat-lompat. (12) Mereka bernyanyi-nyanyi dengan iringan rebana dan kecapi, dan bersukaria menurut lagu seruling. (13) Mereka menghabiskan hari-hari mereka dalam kemujuran, dan dengan tenang mereka turun ke dalam dunia orang mati. (14) Tetapi kata mereka kepada Allah: Pergilah dari kami! Kami tidak suka mengetahui jalan-jalanMu. (15) Yang Mahakuasa itu apa, sehingga kami harus beribadah kepadaNya, dan apa manfaatnya bagi kami, kalau kami memohon kepadaNya?”.

·    Kitab Suci mengajar bahwa Tuhan mempunyai waktu yang berbe-da dalam menghukum orang yang berbeda. Misalnya dalam Kej 19:1-29 Sodom dan Gomora dihancurkan, tetapi dalam Kej 15:12-16 dikatakan bahwa untuk orang Amori / Kanaan, Ia menunggu 400 tahun lagi!
Tuhan sering menunda hukuman (ay 6-9), dan Ia mempunyai belas kasihan / kemurahan hati yang berbeda untuk setiap orang (Ro 9:15,18), sehingga lamanya penundaan itu bisa berbeda untuk setiap orang.
Karena itu jelaslah bahwa orang-orang yang masih hidup tidak bisa beranggapan bahwa orang yang sudah mati pasti lebih berdosa dari diri mereka, karena mungkin saja mereka yang sebetulnya lebih berdosa, tetapi Tuhan masih menunda penghukumanNya atas diri mereka.

·         Dalam dunia ini Allah memang membiarkan orang saleh dan orang jahat hidup bersama-sama, dan mereka sama-sama terbuka ter-hadap bencana ataupun kematian, bahkan terhadap kematian yang mengerikan.
Dalam kehidupan yang akan datang, barulah mereka dipisahkan (Mat 25:31-46), sehingga yang saleh akan bahagia sedangkan yang jahat akan menderita. Pada saat itulah baru kita bisa menilai siapa yang saleh dan siapa yang jahat dari keba-hagiaan / penderitaan yang mereka alami.

·         Kalaupun bencana dan kematian yang dialami seseorang itu adalah hukuman Tuhan, itu jelas belum seluruh hukuman Tuhan, karena masih ada neraka! Bencana / kematian / penderitaan di dunia itu diberikan oleh Tuhan hanya supaya kita ‘mencicipi’ hukuman Tuhan! Dan bisa saja si A diberi cicipan yang lebih banyak dari si B (sehingga si B lebih enak hidupnya dari si A), sekalipun si B lebih berdosa dari si A!

2)   Tuhan Yesus juga berpandangan bahwa bencana / kematian yang me-ngerikan yang menimpa orang lain, merupakan panggilan untuk bertobat bagi kita yang masih hidup (ay 3,5)!

Ini menunjukkan betapa kuatnya dorongan untuk memberitakan Injil dalam diri Tuhan Yesus! Ia bisa saja hanya menjelaskan bahwa pandang-an umum itu salah, tetapi tidak menyuruh mereka bertobat. Tetapi Ia ter-nyata melanjutkan dengan menyuruh mereka bertobat!

Penerapan:
Gunakan setiap kesempatan untuk membelokkan pembicaraan pada pemberitaan Injil! Misalnya kalau seseorang menceritakan kesukaran-kesukarannya kepada saudara, jangan sekedar menghiburnya, tetapi sekaligus arahkan pembicaraan itu kepada Injil sehingga orang itu bisa datang / percaya kepada Yesus.

Sekarang mari kita membahas tentang pertobatan yang ditekankan oleh Tuhan Yesus:

a)   Ingat bahwa saudara yang masih hidup juga adalah orang yang berdosa, dan karena itu, jelas bahwa saudarapun bisa mengalami bencana / kematian yang mengerikan seperti yang dialami oleh orang-orang itu. Karena itu, setiap saudara melihat / mendengar bencana / kematian yang dialami orang lain, renungkanlah kehidupan saudara yang berdosa, dan bertobatlah!

Pulpit Commentary:
·         “The fate of the dead was no proof of special sin, but it was a clear call to repentance addressed to the survivors” (= Nasib dari orang yang mati bukanlah bukti adanya dosa khusus, tetapi merupakan panggilan bertobat yang nyata yang ditujukan kepada orang-orang yang masih hidup)
·         “These terrible calamities are allowed to occur, not that we may uncharitably criticize the conduct of the dead, but that we may carefully review the conduct of ourselves who survive, and repent before God” (= Bencana-bencana yang mengerikan itu diijinkan untuk terjadi bukan supaya kita bisa dengan keras mengkritik kelakuan orang yang sudah mati, tetapi supaya kita yang masih hidup dengan teliti memeriksa kembali kelakuan kita, dan bertobat di hadapan Allah).

b)   Pertobatan mempunyai 2 aspek.
Ini terlihat karena kata ‘bertobat’ dalam ay 3 menggunakan kata Yunani yang berbeda dengan kata ‘bertobat’ dalam ay 5.
·         Kata ‘bertobat’ dalam ay 3 berasal dari kata Yunani METANOETE.
A. T. Robertson: metanoeete ... Present active subjunctive of metanoeoo, to change mind and conduct, linear action, keep on changing” (= METANOEETE ... Subjunctive aktif dalam bentuk present dari METANOEOO, mengubah pikiran dan kelakuan, tindakan tetap, terus berubah) - ‘Word Pictures in the New Testament’, vol 2, hal 185.
·         Kata ‘bertobat’ dalam ay 5 berasal dari kata Yunani METANOESETE.
A. T. Robertson: metanoeeseete. First aorist active subjunctive, immediate repentance in contrast to continued repentance, metanoeete in Luke 13:3” (= METANOEESEETE. Subjunctive aktif dalam bentuk lampau, pertobatan sesaat yang kontras dengan pertobatan yang terus menerus, METANOEETE dalam Luk 13:3) - ‘Word Pictures in the New Testament’, vol 2, hal 186.

Ini menunjukkan bahwa pertobatan sejati selalu mempunyai 2 aspek:

1.   Datang dan percaya kepada Yesus dan menerimaNya sebagai Juruselamat saudara. Ini hanya perlu dilakukan 1 x seumur hidup!
Kristen adalah satu-satunya agama yang mengajarkan adanya Juruselamat / Penebus (orang yang membayar hutang dosa saudara).
Dalam agama-agama lain, manusia harus berusaha membayar hutang dosanya sendiri dengan kekuatan dan usahanya sendiri! Tetapi kekristenan mengajarkan bahwa Allah sendiri telah menger-jakan keselamatan untuk kita yaitu dengan jalan menjadi manusia dan mati di salib untuk menebus dosa kita. Dan karena Allah telah selesai mengerjakan keselamatan bagi kita, maka tidak ada lagi usaha yang perlu kita lakukan untuk selamat. Kita hanya perlu percaya bahwa Yesus telah mengerjakan semua itu bagi kita! Tetapi ingat bahwa sekalipun ini kelihatannya merupakan sesuatu yang mudah untuk dilakukan, tetapi ini bukanlah sesuatu yang remeh, karena kalau saudara tidak melakukannya, saudara pasti akan binasa / masuk ke neraka! Sudahkah saudara datang dan percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat / Penebus dosa saudara?

2.   Senantiasa berusaha membersihkan diri dari dosa, baik dosa aktif (melakukan apa yang dilarang oleh Tuhan), maupun dosa pasif (tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan), misalnya dengan:
·         memberikan diri dibaptis.
·         rajin ke gereja / berbakti kepada Tuhan.
·         rajin dalam belajar Firman Tuhan / datang dalam Pemahaman Alkitab.
·         rajin dalam bersaat teduh / berdoa.
·         melayani Tuhan / memberitakan Injil.
·         memberikan persembahan persepuluhan / biasa.
·         berusaha bersekutu dengan sesama saudara seiman.
·    membuang semua dusta, kesombongan, percabulan, perzi-nahan, kemalasan, pencurian, kebencian, kemunafikan, dsb.

Memang kita diselamatkan hanya karena iman, bukan karena perbuatan baik (Ef 2:8-9), tetapi orang yang mengaku beriman tetapi tidak mewujudkan iman itu dengan perbuatan baik, jelas sebetulnya bukanlah orang yang beriman (Yak 2:17,26).

c)   Untuk lebih menekankan tentang pertobatan, maka Tuhan Yesus lalu menyambung kata-kataNya dengan memberikan suatu perumpamaan (ay 6-9).
Tujuan / penekanan utama dari perumpamaan ini adalah: kalau saudara diberi kesempatan untuk bertobat, janganlah sia-siakan kesempatan itu dengan mengeraskan hati saudara, tetapi sebaliknya cepatlah bertobat / bertobatlah sekarang! Kalau tidak, hukuman pasti akan menimpa saudara!

Ada 2 hal yang perlu saudara perhatikan dari perumpamaan ini:

·         Setelah tidak menghasilkan buah selama 3 tahun (ay 7), pohon ara itu diberi kesempatan 1 tahun lagi (ay 8-9). Kalau tetap tidak ber-buah, maka pohon itu akan ditebang.
Tentu saja ‘1 tahun’ itu tidak boleh diartikan secara hurufiah. Itu adalah suatu jangka waktu yang ditetapkan oleh Tuhan sendiri, yang tidak kita ketahui, dan untuk setiap orang jangka waktunya bisa berbeda-beda. Tetapi bagaimanapun juga, ini menunjukkan bahwa kesempatan itu terbatas!
Seseorang mengatakan:
“God is very patient. However, his patience does not last forever” (= Allah itu sangat sabar. Tetapi, kesabaranNya tidak berlangsung selama-lamanya).
Ingatlah bahwa sekalipun Allah itu maha kasih / sabar, tetapi Ia juga suci dan adil, sehingga ada saatnya Ia akan menghukum orang berdosa yang tidak mau bertobat. Bandingkan dengan Nahum 1:3 yang berbunyi: “TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah” dan Ro 2:4-5 yang berbunyi: “Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahanNya, kesabaranNya dan kelapangan hatiNya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan”.

·         kita tidak tahu dimana batasan antara 3 tahun (ay 7) dan 1 tahun (ay 8-9) itu terjadi dalam hidup kita. Itu bisa terjadi pada saat ini, tetapi juga bisa sudah terjadi dahulu! Siapa tahu saat ini saudara sudah ada pada hari ke 365 dari waktu 1 tahun itu?

Dua hal ini sama-sama menekankan perlunya untuk bertobat seka-rang juga! Jangan sekali-kali menunda pertobatan!

d)   Apa yang terjadi kalau orang yang diberi kesempatan bertobat itu tetap tidak mau bertobat?
·         Ia akan ditebang (ay 9).
·         Ia akan binasa (ay 3,5).
Ay 3,5: ‘kamu semua akan binasa dengan cara demikian’.
RSV / NASB: ‘you will all likewise perish’.
Kata ‘likewise’ ini bisa ditafsirkan dengan dua cara:
*        diartikan: ‘dengan cara yang sama’.
Kalau diambil arti ini, maka akan menjadi seperti terjemahan Indonesia. Tetapi penafsiran ini tidak masuk akal, karena itu berarti bahwa semua orang itu harus mati dengan 2 cara, yaitu seperti ay 1 dan seperti ay 4.
*        diartikan: ‘juga’.
Kalau diambil arti ini, maka akan menjadi seperti terjemahan NIV: ‘you too will all perish’ (= kamu semua juga akan binasa).
Saya lebih setuju dengan penafsiran ini.
Jadi, arti ay 3,5 itu adalah: kalau mereka tidak bertobat, mereka juga akan binasa (bisa dengan cara yang berbeda).

Penutup:

Di sekitar kita banyak kematian (karena bencana alam, perang, pembunuhan, penyakit, kecelakaan dsb). Kalau sampai saat ini saudara yang berdosa masih hidup, itu hanya penundaan hukuman, dan itu merupakan kesempatan untuk bertobat bagi saudara! Karena itu bertobatlah dengan datang kepada Kristus dan membuang semua dosa dari hidup saudara. Kalau saudara terus menolak, celakalah saudara! Perhatikan Ro 2:4-5 sekali lagi.

Roma 2:4-5 - “Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahanNya, kesabaranNya dan kelapangan hatiNya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan”.






-AMIN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar