Minggu, 30 Maret 2014

DAMAI DENGAN ALLAH (KOLOSE 1:19-29)

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div

I) Salib mendamaikan kita dengan Allah.


1)   Kita (orang yang belum percaya) membutuhkan pendamaian dengan Allah. Mengapa? Karena:

a)   Kita hidup jauh dari Allah (ay 21 bdk. Ef 2:12b - ‘tanpa Allah’).

b)   Kita memusuhi Allah dalam hati dan pikiran kita (ay 21).
·         ‘dalam hati dan pikiran’ (ay 21). Ini salah.
NASB: in mind (= dalam pikiran).
NIV: in your mind (= dalam pikiranmu).
·         memusuhi Allah dalam pikiran ini tidak mesti diartikan bahwa dalam pikirannya manusia itu betul-betul membenci Allah dan menganggap Allah sebagai musuhnya. Tetapi maksudnya adalah bahwa kita selalu menginginkan hal-hal yang tidak disenangi oleh Allah (bdk. Ro 8:7-8).
Calvin: “We all, however, stand in need of Christ as our peace-maker, because we are the slaves of sin, and where sin is, there is enmity between God and men” (= Bagaimanapun kita semua membutuhkan Kristus sebagai pendamai kita, karena kita adalah hamba dosa, dan dimana dosa ada, di situ ada permusuhan antara Allah dengan manusia).

c)   ‘Memusuhi Allah dalam pikiran’ akhirnya terwujud melalui ‘perbuatanmu yang jahat’ (ay 21).
Memang kalau pikiran kita tidak benar, maka lambat atau cepat kehidupan kita (kata-kata maupun tindakan) juga akan tidak benar.

Karena semua ini, maka murka Allah ada di atas kita (Ef 2:3  Yoh 3:36), dan kita membutuhkan pendamaian. Ini perlu disadari oleh semua manusia, yang belum percaya kepada Kristus!

2)   Pendamaian oleh Kristus.
Ay 20: oleh Dialah Ia mendamaikan segala sesuatu dengan diriNya ... sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus’.
Bdk. Ro 3:25 - “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pen-damaian karena iman, dalam darahNya”.

Calvin: “such is the determination of God - not to communicate himself, or his gifts to men, otherwise than by his Son. ‘Christ is all things to us: apart from him we have nothing. ... we cannot be joined to God otherwise than through him” (= begitulah ketetapan / penentuan Allah - tidak memberikan diriNya sendiri, atau karunia-karuniaNya kepada manusia kecuali melalui AnakNya. ‘Kristus adalah segala-galanya bagi kita: terpisah dari Dia kita tidak mempunyai apa-apa. ... kita tidak bisa disatukan / digabungkan dengan Allah kecuali melalui Dia).

Pendamaian manusia dengan Allah hanya dimungkinkan melalui Kristus karena Kristus sudah mati di salib, mencurahkan darahNya untuk mene-bus dosa kita. Ini yang seharusnya direnungkan / dikenang dalam mera-yakan Jum’at Agung! Kita harus merenungkan salib Kristus sedemikian rupa sampai kita betul-betul merasakan kasih Allah kepada kita, dan juga sampai kita membalas mengasihi Allah.

William Barclay: “The Cross is the proof that there is no length to which the love of God will refuse to go in order to win men’s hearts; and a love like that demands an answering love. If the Cross will not waken love in men’s hearts, nothing will” (= Salib adalah bukti bahwa tidak ada jarak yang tidak mau ditempuh oleh kasih Allah untuk memenangkan hati manusia; dan kasih seperti itu menuntut kasih balasan. Jika salib tidak membangunkan / menghidupkan kasih dalam hati manusia, maka tidak ada apapun yang akan membangunkan / menghidupkannya).

3)   Siapa yang diperdamaikan dengan Allah?
Ay 20 mengatakan ‘segala sesuatu’ dan bahkan menambahi dengan kata-kata ‘baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga’.
Macam-macam tafsiran:

a)   Malaikat juga punya dosa. Dasar Kitab Suci: Ayub 4:18  15:15.
Calvin mengatakan bahwa sekalipun malaikat tidak mempunyai dosa tetapi kesucian mereka kotor dibandingkan dengan kebenaran / kesucian Allah, sehingga mereka juga perlu pendamai.
Keberatan: malaikat hanya mempunyai 2 kemungkinan:
·         jatuh dalam dosa ini. Ini menjadi setan dan para pengikutnya, dan yang ini jelas tidak ditebus (Ibr 2:14-17).
·         Tetap suci. Yang ini tidak membutuhkan penebusan / pendamaian.

b) Origen, yang menurut Hendriksen adalah Universalist yang pertama, berpendapat bahwa ini menunjukkan bahwa Iblis dan malaikat-malaikatnya juga ditebus, sehingga nanti pada akhirnya mereka juga diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Kristus.

c)   Theodoret dan Erasmus: malaikat-malaikat itu bukan diperdamaikan dengan Allah, tetapi dengan manusia. Tetapi ini bertentangan dengan kata-kata ‘dengan diriNya’ dalam ay 20. Hebatnya Barclay mengang-gap ini sebagai ‘the most interesting suggestion’ (= usul yang paling menarik).

d)  ‘Yang ada di sorga’ menunjuk kepada semua orang pilihan / percaya yang sudah mati, sedangkan ‘yang ada di bumi’ menunjuk kepada semua orang pilihan / percaya yang masih hidup.
Sebagai tambahan, bandingkan ini dengan ay 23: ‘dikabarkan di seluruh alam di bawah langit’. Ini salah terjemahan.
NIV: ‘has been proclaimed to every creature under heaven’ (= telah dikabarkan kepada setiap makhluk ciptaan di bawah langit).
NASB/Lit: ‘was proclaimed in all creation under heaven’ (= telah dikabarkan dalam semua ciptaan di bawah langit).
Ini tidak ditafsirkan bahwa Paulus memberitakan Injil kepada setan, binatang, atau batu / pohon, tetapi diartikan bahwa Paulus memberita-kan Injil kepada ‘semua manusia’! Jadi ay 20 juga tidak perlu mencakup malaikat, setan atau binatang.
Tetapi mengapa untuk ay 20 kita tidak menafsirkan ‘semua orang’ tetapi ‘semua orang pilihan’? Karena:
·     Ay 20 tidak menyebut yang di neraka. Jadi memang ada orang yang tidak diperdamaikan dengan Allah.
·      Jika ‘segala sesuatu’ dalam ay 20 ini ‘semua orang’, maka ini menjurus pada Universalisme, karena ay 20 ini mengatakan ‘memperdamaikan segala sesuatu dengan diriNya’.

Calvin: “Should any one, on the pretext of the universality of the expression, move a question in reference to devils, whether Christ be their peace-maker also? I answer, No, not even of the wicked men: though I confess that there is a difference, inasmuch as the benefit of redemption is offered to the latter, but not to the former” (= Jika ada orang, dengan dalih keuniversalan pernyataan ini, menanyakan pertanyaan berkenaan dengan setan, apakah Kristus juga adalah pendamai mereka? Saya menjawab, Tidak, bahkan Kristus bukanlah pendamai orang-orang jahat: sekalipun saya mengakui bahwa ada perbedaan, karena keuntungan penebusan ditawarkan kepada orang-orang jahat, tetapi tidak kepada setan).
Catatan: yang dimaksud dengan ‘wicked men’ (= orang-orang jahat), jelas adalah orang jahat yang tidak percaya, atau ‘reprobate’ (= orang yang ditentukan untuk binasa).

Lalu bagaimana kita bisa tahu kita orang pilihan atau bukan? Kalau saudara bisa percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka saudara adalah orang pilihan. Kalau saudara bukan orang pilihan, paling banter saudara hanya bisa menjadi orang kristen KTP.

II) Apa yang harus dilakukan setelah damai dengan Allah?


1)   Pengudusan (ay 22).
Tujuan dari perdamaian itu adalah kekudusan (bdk. Ef 2:10).
Beberapa penafsir mengatakan bahwa ‘tak bercela dan tak bercacat di hadapan Allah’ ini menunjuk pada keadaan orang percaya pada akhir jaman. Memang sekalipun dalam hidup ini kita berjuang menguduskan diri, kita tetap tidak bisa menjadi ‘tak bercela dan tak bercacat di hadapan Allah’ pada akhir jaman. Kita tetap membutuhkan penghapusan dosa melalui darah Kristus. Tetapi itu tidak berarti bahwa kita lalu boleh mengabaikan pengudusan itu! Kristus mati untuk dosa kita bukan supaya kita bisa terus hidup di dalam dosa! Bdk. 2Kor 5:15.

2)   Bertekun dalam iman (ay 23).

a)   Kata-kata ‘sebab itu’ di awal ay 23 merupakan terjemahan yang salah.
NIV/NASB: ‘if’ (= jika).
Yunani: EI (= jika).
Jadi ‘tak bercela dan tak bercacat di hadapan Allah’ dalam ay 22, hanya bisa terjadi kalau kita bertekun dalam iman.
William Hendriksen: “Divine preservation always presupposes human perseverance. Perseverance proves faith’s genuine character, and is therefore indispensable to salvation” (= Pemeliharaan ilahi selalu mensya-ratkan ketekunan manusia. Ketekunan membuktikan sifat asli dari iman, dan karena itu mutlak dibutuhkan).

b)   Hal-hal yang bisa menggeser kita dari iman / pengharapan Injil adalah:
·         ajaran sesat. Ini yang dipersoalkan oleh Paulus di Kolose ini.
·         problem / kesukaran / penderitaan. Ingat akan tanah golongan ke 2 (Mat 13:5-6,20-21).
·   daya tarik duniawi (uang, sex, kekuasaan, kesenangan). Ingat tanah golongan 3 (Mat 13:7,22).

c)   Hal-hal yang perlu dilakukan supaya bisa bertekun dalam iman, adalah:
·         belajar Firman Tuhan.
·         berdoa.

3)   Melayani Injil (ay 23b,25-28).
Ay 23: ‘pelayannya’ dimana kata ‘nya’ jelas menunjuk pada ‘Injil’.
William Hendriksen: “A minister of the Gospel is one who knows the gospel, has been saved by the Christ of the gospel, and with joy of heart proclaims the gospel to others. Thus he serves the cause of the gospel” (= Seorang pelayan Injil adalah seorang yang mengetahui Injil, telah diselamatkan oleh Kristus dari Injil, dan dengan sukacita dari hati memberitakan Injil kepada orang-orang lain. Jadi ia melayani gerakan Injil).
Pada hari Jum’at Agung ini renungkan seberapa aktifnya saudara dalam memberitakan Injil? Sudah cukup aktifkah? Atau sebaliknya kurang aktif? Atau sudah berkurang keaktifannya, dalam arti dulu aktif sekarang tidak?
Kristus mati bukan hanya untuk saudara, tetapi untuk semua orang pilihan, dan banyak dari orang pilihan yang belum mendengar Injil dan karenanya belum diselamatkan. Kita memang tidak bisa tahu yang mana dari orang-orang yang belum percaya itu yang adalah orang pilihan dan yang mana yang bukan, dan karena itu kita harus memberitakan Injil kepada semua orang.

4)   Menderita untuk jemaat / gereja (ay 24).

a)   Ay 24: ‘aku boleh menderita’.
NASB: ‘in my sufferings (= dalam penderitaan-penderitaanku). Ini bentuk jamak.
Kelihatannya pada saat menulis surat Kolose ini Paulus ada dalam penjara (bdk. 4:10,18). Ini jelas merupakan penderitaan yang hebat. Tetapi hebatnya, ia bersukacita karena hal itu (ay 24a)!

b)   ‘aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam daging-ku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuhNya, yaitu jemaat’ (ay 24b).
Roma Katolik menafsirkan bahwa ay 24b ini menunjukkan bahwa penebusan Kristus tidak sempurna, perlu ditambahi dengan pende-ritaan dari para martir. Dan memang dalam ajaran Roma Katolik ada hal-hal yang sejalan dengan ketidaksempurnaan penebusan Kristus, seperti:
·         api pencucian.
·         perbuatan baik manusia punya andil dalam keselamatan.

Tetapi ay 24b ini tidak mungkin diartikan bahwa penebusan Kristus tidak sempurna, karena:

1.  Itu bertentangan dengan ajaran Kitab Suci yang ditunjukkan oleh ayat-ayat seperti Yoh 19:30  dan Ibr 10:11-14.

2.  Dalam surat Kolose Paulus justru menyerang ajaran sesat yang menekankan ketidak-cukupan penebusan Kristus, dan Paulus menekankan kecukupan penebusan Kristus. Jadi tidak mungkin dalam Kol 1:24 Paulus justru berbicara sebaliknya, dan dengan demikian menentang kata-katanya sendiri.
Herbert M. Carson (Tyndale): “Furthermore, he is dealing here at Colossae with a false teaching which denies the sufficiency of the work of Christ, and insists that it must be supplemented by asceticism and other human endeavours. Paul has replied in his opening chapter with an uncompromising stress on the preeminence of Christ, and the completeness of the redemption which He has accomplished. Is it then likely that he would cast this position to the winds and introduce a view which envisaged the perfecting of an incomplete atonement?” (= Selanjutnya, di sini di Kolose ia sedang menangani ajaran sesat yang menyangkal kecukupan pekerjaan Kristus, dan mendesak bahwa itu harus ditambahi dengan pertapaan dan usaha-usaha manusia yang lain. Paulus telah menjawab dalam pasal pembukaannya dengan penekanan yang tidak berkompromi pada penonjolan Kristus, dan kelengkapan / kesempurnaan dari penebusan yang telah Ia selesaikan. Lalu mungkinkah sekarang ia membuang pandangannya dan mengajukan suatu pandangan yang menggambarkan penyempurnaan dari suatu penebusan yang tidak lengkap?) - ‘The Epistles of Paul to the Colossians and Philemon’, hal 50.
Catatan: bagian yang saya garis bawahi itu mungkin menunjuk kepada ayat-ayat seperti Kol 1:13-14,20-22 - “(13) Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan AnakNya yang kekasih; (14) di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa. ... (20) dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diriNya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. (21) Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhiNya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, (22) sekarang diperdamaikanNya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematianNya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapanNya”.
Bandingkan juga dengan Kol 2:8-23 - “(8) Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. (9) Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keAllahan, (10) dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa. (11) Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, (12) karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. (13) Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, (14) dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakanNya dengan memakukannya pada kayu salib: (15) Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenanganNya atas mereka. (16) Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; (17) semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus. (18) Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi, (19) sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya. (20) Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: (21) jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; (22) semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. (23) Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi”.

3.  Kata Yunani yang diterjemahkan ‘penderitaan’ tak pernah digunakan dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk kepada penderitaan Kristus dalam menebus dosa manusia.
Herbert M. Carson (Tyndale): “The very word used here for suffering, thlipsis, is nowhere used in the New Testament to describe the atoning death of Christ, and, as Lightfoot points out, it ‘certainly would not suggest a sacrificial act’” (= Kata yang digunakan di sini untuk penderitaan, THLIPSIS, tidak pernah digunakan dalam Perjanjian Baru untuk menggambarkan kematian Kristus untuk menebus dosa, dan, seperti ditunjukkan oleh Lightfoot, itu ‘pasti tidak menunjukkan suatu tindakan pengorbanan’) - ‘The Epistles of Paul to the Colossians and Philemon’, hal 50-51.

4.  Dalam ay 25 Paulus menyebut dirinya ‘pelayan jemaat’. Jika dalam ay 24 ia memang mengajarkan bahwa penderitaan yang ia alami itu adalah untuk penebusan dosa, seharusnya ia mengaku diri sebagai ‘pengantara’ atau ‘penebus’.

Lalu, apa artinya ay 24b ini?

1. Ini adalah penderitaan dalam pembangunan tubuh Kristus, dan dalam hal ini Kristus memberikan tempat untuk penderitaan lebih lanjut bagi para pengikutNya.
William Barclay: “He thinks of the sufferings through which he is passing as completing the sufferings of Jesus Christ himself. Jesus died to save his Church; but the Church must be upbuilt and extended; it must be kept strong and pure and true; therefore, anyone who serves the Church by widening her borders, establishing her faith, saving her from errors, is doing the work of Christ. And if such service involves suffering and sacrifice, that affliction is filling up and sharing the very suffering of Christ” (= Ia berpikir tentang penderitaan yang ia lalui sebagai melengkapi penderitaan Yesus Kristus sendiri. Yesus mati untuk menyelamatkan GerejaNya; tetapi Gereja harus dibangun dan diperluas; itu harus dijaga agar tetap kuat dan murni dan benar; karena itu, setiap orang yang melayani Gereja dengan memperluas batasan-batasannya, meneguhkan imannya, menyelamatkannya dari kesalahan, sedang melakukan pekerjaan Kristus. Dan jika pelayanan seperti itu mencakup penderitaan dan pengorbanan, penderitaan itu memenuhkan dan mengambil bagian dalam penderitaan Kristus).

James Fergusson (Geneva): “As the personal sufferings of Christ were for the church’s redemption, and to satisfy the Father’s justice for the sins of the elect, Acts 20:28, which he did completely, John 19:30; so the suffering of the saints are also for the church’s good, though not for her redemption or expiation of sin, neither in its guilt nor punishment, 1John 1:7; yet to edify the church by their example, James 5:10, to comfort her under sufferings, 2Cor. 1:6, and to confirm that truth for which they do suffer, Phil. 2:17” (= Seperti penderitaan pribadi Kristus adalah untuk penebusan gereja, dan untuk memuaskan keadilan Bapa terhadap dosa-dosa orang pilihan, Kis 20:28, yang Ia lakukan secara lengkap, Yoh 19:30; begitulah penderitaan dari orang-orang kudus juga untuk kebaikan gereja, sekalipun bukan untuk penebusannya atau penebusan / pembayaran dosa, tidak dalam kesalahannya ataupun hukumannya, 1Yoh 1:7; tetapi untuk mendidik gereja oleh teladan mereka, Yak 5:10, untuk menghibur gereja dalam penderitaan, 2Kor 1:6, dan untuk meneguhkan kebenaran untuk mana mereka menderita, Fil 2:17).

2.   Karena adanya kesatuan antara Kristus dan para pengikutNya, maka pada waktu pengikutNya menderita, Kristus juga menderita dalam dia.
James Fergusson (Geneva): “The sufferings of Paul, and of any other saints, are the sufferings of Christ, and the filling up of his sufferings; not as if Christ’s personal sufferings for the redemption of sinners were imperfect, and so to be supplied by the sufferings of others, (see Heb. 10:14) but such is that sympathy betwixt Christ and believers, Acts 9:4, and so strict is that union among them, whereby he and they do but make up one mystical Christ, 1Cor. 12:12, that in those respects the sufferings of the saints are his sufferings, to wit, the sufferings of mystical Christ, which are not perfect nor filled up, until every member of his body endure their own allotted portion and share” (= Penderitaan dari Paulus, dan dari orang kudus yang lain, adalah penderitaan Kristus, dan memenuhkan / melengkapi penderitaanNya; bukan seakan-akan penderitaan pribadi Kristus untuk penebusan orang berdosa adalah tidak sempurna, dan karena itu harus disuplai oleh penderitaan orang-orang lain, (lihat Ibr 10:14) tetapi begitulah simpati antara Kristus dan orang-orang percaya, Kis 9:4, dan begitu ketat persatuan antara mereka, dengan mana Ia dan mereka membentuk satu Kristus yang mistik, 1Kor 12:12, bahwa dalam hal itu penderitaan orang-orang kudus adalah penderitaanNya, yaitu, penderitaan dari Kristus mistik, yang tidak sempurna atau penuh, sampai setiap anggota tubuhNya menanggung bagian mereka).

Pulpit Commentary keberatan dengan pandangan ini dengan alasan sebagai berikut: “this view identifies Pauls’ sufferings with his Master’s while he expressly distinguishes them” (= pandangan ini mengidentikkan penderitaan Paulus dengan penderitaan TuanNya sementara ia secara jelas membedakan mereka).

3.   Ini ditinjau dari sudut musuh-musuh Kristus.
William Hendriksen: “... although Christ by means of the affliction which he endured rendered complete satisfaction to God, so that Paul is able to glory in nothing but the cross (Gal. 6:14), the enemies of Christ were not satisfied! They hated Jesus with insatiable hatred, and wanted to add to his afflictions. But since he is no longer physically present on earth, their arrows, which are meant especially for him, strike his followers. It is in that sense that all true believers are in his stead supplying what, as the enemies see it, is lacking in the afflictions which Jesus endured. Christ’s afflictions overflow toward us” [= ... sekalipun Kristus melalui penderitaan yang Ia tanggung memberikan pemuasan lengkap / penuh kepada Allah, sehingga Paulus bisa bermegah hanya dalam salib (Gal 6:14), musuh-musuh Kristus tidak dipuaskan! Mereka membenci Yesus dengan kebencian yang tidak terpuaskan, dan ingin menambah penderitaanNya. Tetapi karena Ia tidak lagi hadir secara jasmani di bumi ini, panah-panah mereka, yang sebetulnya dimaksudkan secara khusus untuk Dia, menyerang pengikut-pengikutNya. Adalah dalam arti ini dimana semua orang yang sungguh-sungguh percaya ada di tempatNya menyuplai apa, sebagaimana musuh-musuh itu melihatnya, yang kurang dalam penderitaan yang telah Yesus tanggung. Penderitaan Kristus meluap / melimpah kepada kita].
Bdk. Kis 9:4-5  2Kor 1:5  Gal 6:17  Fil 3:10  Wah 12:13 (‘perempuan’ = gereja).

Kesimpulan / penutup:

Untuk saudara yang belum yakin akan keselamatan / perdamaian dengan Allah, cepatlah datang kepada Kristus dan menerimaNya sebagai Juruselamat pribadi saudara. Untuk saudara yang sudah diperdamaikan dengan Allah, berjuanglah dalam pengudusan, bertekunlah dalam iman, aktiflah pemberitaan Injil, dan juga maulah dalam menderita bagi gereja! Kiranya Tuhan memberkati saudara.



-AMIN-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar