Senin, 31 Maret 2014

GELAR-GELAR KRISTUS (YESAYA 9:5-6)

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div

I) Nubuat tentang kelahiran Yesus (ay 5a).


1)   Ay 5a ini jelas merupakan nubuat tentang kelahiran Yesus.
Tetapi ada yang aneh dengan nubuat ini, yaitu dalam Kitab Suci Indonesia itu ditunjukkan dalam waktu lampau (ay 5: ‘telah lahir’ ... ‘telah diberikan’).
Tetapi Kitab Suci bahasa Inggris ada yang memberikannya dalam bentuk present tense (waktu sekarang), dan ada bahkan yang dalam future tense (waktu yang akan datang).
KJV/RSV/NIV: ‘is born ... is given’.
NASB: ‘will be born ... will be given’.
Sebetulnya yang benar justru adalah Kitab Suci Indonesia, karena dalam bahasa Ibraninya memang digunakan bentuk lampau.
E. J. Young: “He speaks of the birth as though it had already occurred, even though from his standpoint it was yet to take place in the future” (= Ia berbicara tentang kelahiran itu seakan-akan itu telah terjadi, sekalipun dari sudut pandangnya itu masih akan terjadi di masa yang akan datang) - hal 329.
Mengapa dalam bentuk lampau? Ada 2 kemungkinan jawaban:
a)   Sekalipun ini adalah nubuat, tetapi digunakan bentuk lampau, seakan-akan hal itu sudah terjadi, untuk menunjukkan kepastian terjadinya nubuat itu.
b)   Barnes’ Notes: “Not that he was born when the prophet spake. But in prophetic vision, as the events of the future passed before his mind, he saw that promised son, and the eye was fixed intently on him” (= Bukan bahwa ia telah dilahirkan pada waktu sang nabi berbicara. Tetapi dalam penglihatan yang bersifat nubuat, pada waktu peristiwa-peristiwa dari masa yang akan datang lewat di depan pikirannya, ia melihat anak yang dijanjikan itu, dan matanya diarahkan dengan sungguh-sungguh kepadanya) - hal 191.
Jadi, Yesaya menuliskannya dalam bentuk lampau, karena ia sudah melihat Anak itu dalam penglihatan yang diberikan kepadanya.

2)   ‘seorang putera telah diberikan untuk kita’ (ay 5).
Menyoroti kata ‘telah diberikan‘ ini Barnes’ Notes memberi komentar sebagai berikut: “The Messiah was pre-eminently the gift of the God of love. Man had no claim on him, and God voluntarily gave his Son to be a sacrifice for the sins of the world” (= Mesias merupakan pemberian dari Allah yang adalah kasih. Manusia tidak mempunyai hak atasNya, dan Allah dengan sukarela memberikan AnakNya untuk menjadi korban untuk dosa-dosa dunia) - hal 191.
Bdk. Yoh 3:16 - “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, tetapi beroleh hidup yang kekal”.

II) Nama Kristus.


Ay 5b: ‘namanya disebutkan orang’. Ini tak berarti bahwa Kristus betul-betul dipanggil dengan nama ini. Artinya: Kristus layak mendapatkan sebutan-sebutan / nama-nama ini karena ini memang menunjukkan diri dan karakterNya.

Sekarang mari kita membahas nama-nama dalam ay 5b ini.

1)   ‘Penasihat Ajaib’.
Ada 2 macam terjemahan.
RSV/NIV/NASB: ‘Wonderful Counsellor’ (= Penasihat Ajaib).
KJV: ‘Wonderful, Counsellor’ (= Ajaib, Penasihat).

a)   Ada yang menyatukan kedua istilah ini menjadi satu nama (seperti KS Indonesia, RSV, NIV, NASB)
Yang menyatukan kedua istilah ini menganggap bahwa nama ini sesuai dengan Yes 28:29 (NIV): ‘wonderful in counsel’ / ‘ajaib dalam nasehat’ (KS Indonesia menterjemahkan ‘ajaib dalam keputusan). Dalam Yes 28:29 itu hal itu ditujukan kepada YAHWEH. Dengan demikian pada waktu dalam ay 5b ini nama ini diberikan kepada Kristus, ini menunjukkan keilahian Kristus.

b)   Tetapi ada yang memisahkan kedua istilah ini menjadi 2 nama (seperti KJV).
Kebanyakan buku-buku tafsiran yang saya pakai menganggap bahwa 2 istilah ini harus dipisah. J. A. Alexander menyatakan bahwa kata ‘wonderful’ / ‘ajaib’ (kata sifat) secara hurufiah terjemahannya adalah ‘wonder’ / ‘keajaiban’ (kata benda), dan karenanya memang lebih cocok kalau diterjemahkan sebagai 2 nama.

·         ajaib / keajaiban.
Charles Haddon Spurgeon: “Beloved, there are a thousand things in this world, that are called by names that do not belong to them, but in entering upon my text, I must announce at the very opening, that Christ is called Wonderful, because he is so. God the Father never gave his Son a name which he did not deserve” (= Saudara yang kekasih, ada 100 hal di dunia ini, yang disebut dengan nama yang tidak semestinya, tetapi pada waktu memasuki text saya, saya harus mengumumkan pada pembukaannya, bahwa Kristus disebut Ajaib, karena Ia memang begitu. Allah Bapa tidak pernah memberi AnakNya nama yang tidak layak Ia dapatkan) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol II, ‘The Messiah’, hal 108.
Mesias memang ajaib dalam keberadaanNya sebagai Allah dan manusia dalam 1 pribadi, dalam ajaranNya yang mengherankan banyak orang (bdk. Mat 7:28), dalam tindakanNya, dalam kelahiranNya dari perawan, kematianNya, kebangkitanNya dan kenaikanNya ke surga, dll.
Juga kasih karunia Allah yang menebus dosa kita dan menyelamatkan kita melalui kedatangan dan penebusan Kristus, lebih ajaib dari mujijat apapun.
Ada yang membandingkan nama ini dengan Hak 13:18 dimana Malaikat TUHAN menjawab Manoah (ayah Simson) yang menanyakan namaNya dengan jawaban: ‘Mengapa engkau juga menanyakan namaKu? Bukankah nama itu ajaib?’. Jawaban ini jelas menunjukkan keilahian dari Malaikat TUHAN itu. Jadi dalam Yes 9:5 ini nama itu juga menunjukkan keilahian Kristus.

·         ‘Counsellor’ (= Penasihat).
Bdk. Yes 11:2 yang menubuatkan bahwa pada Kristus ada ‘roh hikmat’. Kristus memang memberi kita hikmat sehingga kita menjadi bijaksana (bdk. Amsal 8:12-30  1Kor 1:24,30). Ia menasehati kita dari dalam melalui Roh Kudus, dan Ia juga menasehati kita dari luar melalui hamba-hambaNya / para pemberita Firman Tuhan.
Tentang nama ‘Counsellor’ (= Penasihat) ini Charles Haddon Spurgeon memberikan komentar sebagai berikut:
“It was by a Counsellor that this world was ruined. Did not Satan mask himself in the serpent, and counsel the woman with exceeding craftiness, that she should take unto herself of the fruit of the tree of knowledge of good and evil, in the hope that thereby she should be as God? Was it not that evil counsel which provoked our mother to rebel against her Maker, and did it not as the effect of sin, bring death into this world with all its train of woe? Ah! beloved, it was meet that the world should have a Counsellor to restore it, if it had a Counsellor to destroy it. It was by counsel that it fell, and certainly, without counsel it never could have arisen. But mark the difficulties that surrounded such a Counsellor. ‘Tis easy to counsel mischief; but how hard to counsel wisely! To cast down is easy, but to build up how hard!” (= Adalah karena seorang penasihat dunia ini dihancurkan / dirusakkan. Bukankah Setan menyembunyikan dirinya dalam ular, dan menasehati si perempuan dengan kelicikan yang hebat, sehingga ia mengambil bagi dirinya buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat, dengan harapan bahwa dengan itu ia akan menjadi seperti Allah? Bukankah nasehat jahat itu yang menyebabkan ibu kita memberontak terhadap Penciptanya, dan tidakkah itu sebagai akibat dosa membawa kematian ke dalam dunia ini dengan semua rentetan kesengsaraan / kutuk? Ah, saudara yang kekasih, adalah cocok bahwa dunia ini mempunyai seorang Penasihat untuk memulihkannya, jika dunia ini mempunyai seorang Penasihat untuk menghancurkannya. Adalah karena suatu nasehat dunia ini jatuh, dan pastilah tanpa nasehat dunia ini tak bisa dibangkitkan. Tetapi perhatikan kesukaran yang meliputi Penasihat itu. Adalah mudah untuk memberi nasehat yang jahat; tetapi alangkah sukarnya memberikan nasehat yang bijaksana! Menghancurkan itu mudah, tetapi alangkah sukarnya membangun) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol II, ‘The Messiah’, hal 115.

2)   ‘Allah yang perkasa’ (Ibrani: EL GIBOR).

E. J. Young: “Whereas the word ELOHIM in the Old Testament may some-times apply to beings lesser than God, such is not the case with EL. This desig-nation is reserved for the true God and for Him alone” (= Kalau kata ELOHIM dalam Perjanjian Lama kadang-kadang bisa digunakan terhadap makhluk yang lebih rendah dari Allah, tidak demikian halnya dengan EL. Nama ini disediakan untuk Allah yang benar dan hanya untuk Dia saja).

Louis Berkhof (hal 48) kelihatannya menentang pandangan E. J. Young ini, dan saya juga berpendapat bahwa kata-kata E. J. Young di sini adalah salah, karena jelas ada banyak kasus dimana kata EL digunakan bukan untuk menunjuk kepada Allah yang benar. Contoh:
·       Kel 15:11 - “Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah (ELIM, bentuk jamak dari EL), ya TUHAN; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusanMu, menakutkan karena perbuatanMu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban?”.
·         Kel 34:14 - “Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah (EL) lain, karena TUHAN, yang namaNya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu”.
·        Ul 32:12 - “demikianlah TUHAN sendiri menuntun dia, dan tidak ada allah (EL) asing menyertai dia”.
·     Hak 9:46 - “Mendengar itu masuklah seluruh warga kota Menara-Sikhem ke dalam liang di bawah kuil El-Berit”. Bdk. Hak 9:33 dan 9:4 dimana digunakan kata ‘BAAL-BERIT’.

Tetapi istilah ‘Allah yang perkasa’ yang digunakan terhadap Yesus ini tetap menunjukkan keilahian Yesus, karena dalam Yes 10:21 istilah yang persis sama (EL GIBOR) digunakan untuk Allah. Jadi bahwa di sini istilah / nama ini diberikan kepada Kristus, menunjukkan bahwa Ia adalah Allah.

Pulpit Commentary: “What the Messiah was to do, could be done by none less than God. He was to redeem mankind; he was to vanquish death and sin; he was to triumph over Satan; he was to be a meritorious Sacrifice. ‘God with us’ had already been declared to be one of his names (ch 7:14). Now he is announced as ‘God the Mighty One’” [= Apa yang harus dilakukan oleh Mesias, tidak bisa dilakukan oleh siapapun yang lebih rendah dari Allah. Ia harus menebus umat manusia; Ia harus mengalahkan kematian dan dosa; Ia harus menang atas Setan; Ia harus menjadi Korban yang bermanfaat. ‘Allah bersama / dengan kita’ telah dinyatakan sebagai salah satu dari nama-namaNya (pasal 7:14). Sekarang Ia diumumkan sebagai ‘Allah yang perkasa’] - hal 170.

3)   ‘Bapa yang kekal’.
KJV/RSV/NIV: ‘everlasting Father’ (= Bapa yang kekal).
NASB: ‘eternal Father’ (= Bapa yang kekal).

a)   Sebutan ‘Bapa’ bagi Kristus ini membingungkan, sehingga menim-bulkan ajaran sesat.
Pulpit Commentary: “He is the Son, and yet it can be said of him that he is the ‘Everlasting Father.’ This last assertion seems to be the most astonishing of them all. ‘The Son is the Father.’” (= Ia adalah Anak, tetapi bisa dikatakan tentang Dia bahwa Ia adalah ‘Bapa yang kekal’. Pernyataan terakhir ini kelihatannya merupakan yang paling mengherankan dari semua. ‘Anak adalah Bapa’) - hal 181.
Tafsiran ini jelas berbau ajaran Sabelianisme, yang merupakan ajaran sesat tentang Allah Tritunggal, karena ajaran ini mempercayai bahwa Allah Tritunggal bukan terdiri dari 3 pribadi tetapi 3 perwujudan. Jadi mereka beranggapan bahwa yang berinkarnasi menjadi manusia adalah Allah Bapa sendiri!

b)  Dalam hubunganNya dengan pribadi-pribadi lain dalam Tritunggal, Kristus jelas tidak bisa disebut ‘Bapa’.
Charles Haddon Spurgeon: “the Messiah is not here called ‘Father,’ by way of any confusion with him who is pre-eminently called ‘THE FATHER.’ Our Lord’s proper name, so far as Godhead is concerned, is not the Father, but the Son. Let us beware of confusion. The Son is not the Father, neither is the Father the Son; and though they be one God, essentially and eternally, being for evermore one and indivisible, yet still the distinction of persons is to be carefully believed and observed” (= Mesias di sini tidak disebut ‘Bapa’ untuk mengacaukan dengan Dia yang disebut ‘Bapa’. Nama yang benar dari Tuhan kita, berkenaan dengan keilahian, bukanlah Bapa, tetapi Anak. Biarlah kita berhati-hati terhadap kekacauan. Anak bukanlah Bapa, dan Bapa bukanlah Anak; dan sekalipun mereka adalah satu Allah, secara hakiki dan kekal, karena selama-lamanya adalah satu dan tak terbagi-bagi, tetapi perbedaan pribadi harus tetap dipercaya dan diperhatikan) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol II, ‘The Messiah’, hal 132.
Barnes’ Notes: “The term ‘Father’ is not applied to the Messiah here with any reference to the distinction in the Divine nature; for that word is uniformly, in the Scriptures, applied to the first, not to the second person of the Trinity” (= Istilah ‘Bapa’ di sini tidak diterapkan kepada Mesias berhubungan dengan perbedaan dalam hakekat ilahi; karena dalam Kitab Suci kata itu secara seragam diterapkan kepada pribadi pertama, bukan kepada pribadi kedua dari Tritunggal) - hal 193.

c)   Dalam hubunganNya dengan orang percaya, bisakah Kristus disebut Bapa?
E. J. Young menafsirkan bahwa nama ini berarti bahwa Kristus itu adalah Bapa secara kekal. Dan Ia bertindak seperti seorang Bapa.
Tetapi bukankah Kitab Suci tidak pernah menyebut Kristus sebagai ‘Bapa’? Ia disebut ‘saudara kita’ (Ro 8:29  Mat 12:50  Mat 25:40  Ibr 2:11-12  bdk. Yoh 20:17).
Tetapi dalam Mat 9:2,22  Wah 21:7 Yesus menyebut ‘anakKu’ (tetapi, Wah 21:7 ini tentang Allah Bapa atau tentang Kristus?).
Saya sendiri tetap mempunyai kecondongan bahwa dalam hubunganNya dengan orang percayapun Kristus tidak cocok disebut ‘Bapa’.

d)   Apa arti istilah ‘Bapa yang kekal’ ini?
Barnes’ Notes: “Literally, it is the Father of eternity” (= Secara hurufiah, ini adalah Bapa dari kekekalan) - hal 193.
Matthew Henry: “He is the everlasting Father, or the Father of eternity;” (= Ia adalah Bapa yang kekal, atau Bapa dari kekekalan;).
Adam Clarke: “‘The everlasting Father.’ ‘The Father of the everlasting age.’ Or ‎Abiy ‎ad‎, the Father of eternity.” (= ‘Bapa yang kekal’. ‘Bapa dari jaman yang kekal’. Atau ABIY AD, Bapa dari kekekalan.).
Jamieson, Fausset & Brown: “the ‘everlasting Father’ ...  - literally, ‘The Father of eternity’ (AD).” [= sang ‘Bapa yang kekal’ ... - secara hurufiah, ‘Bapa dari kekekalan’ (AD)].
E. J. Young: “The word AD signifies perpetuity or duration. It may have the sense of eternity, as when Isaiah speaks of the ‘high and lofty One that inhabiteth eternity …’ (57:15).” [= Kata AD menunjuk / berarti kekekalan atau durasi. Itu bisa mempunyai arti kekekalan, seperti pada waktu Yesaya berbicara tentang ‘Seseorang yang tinggi yang menghuni kekekalan’ (57:15).].
Catatan: Yes 57:15 diambil dari KJV/RSV.
Dalam Yes 57:15 kata yang diterjemahkan ‘eternity’ (= kekekalan) adalah AD, yang menurut Bible Works 7 adalah suatu kata benda!
The Bible Exposition Commentary (New Testament): “‘Everlasting Father’ does not suggest that the Son is also the Father, for each Person in the Godhead is distinct. ‘Father of eternity’ is a better translation. Among the Jews, the word ‘father’ means ‘originator’ or ‘source.’ For example, Satan is the ‘father (originator) of lies’ (NIV John 8:44, NIV).” [= ‘Bapa yang kekal’ tidak menunjukkan / berarti bahwa Anak juga adalah Bapa, karena setiap Pribadi dalam Allah adalah berbeda. ‘Bapa dari kekekalan’ merupakan suatu terjemahan yang lebih baik. Di antara orang-orang Yahudi, kata ‘bapa’ berarti ‘pemulai’ atau ‘sumber’. Sebagai contoh, Iblis adalah ‘bapa (pemulai) dari dusta-dusta (NIV Yoh 8:44, NIV)].
Catatan: sekalipun kebanyakan Alkitab bahasa Inggris menterjemahkan ‘the eternal / everlasting Father’ (= Bapa yang kekal), tetapi ada yang menterjemahkan ‘the Father of eternity’ (= Bapa dari kekekalan), seperti CJB (The Complete Jewish Bible 1998), DBY (The Darby Bible 1884 / 1890), YLT (Young’s Literal Translation 1862 / 1898).

1.   Kata ‘Bapa’ oleh Pulpit Commentary diartikan ‘Protector’ (= pelindung), seperti dalam Ayub 29:16 Ayub disebut sebagai ‘bapa bagi orang miskin’, dan dalam Yes 22:21 Elyakim disebut sebagai ‘bapa bagi penduduk Yerusalem’. Juga bisa ditambahkan arti ‘Creator’ (= Pencipta) dan ‘Preserver’ (= Pemelihara).

2.   Calvin mengartikan istilah ini sebagai ‘Bapa dari kekekalan’, dimana ‘Bapa’ diartikan author’ / ‘pencipta’ atau ‘sumber’.
Bandingkan dengan:
a.   Yoh 8:44 - “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.
b.   Ibr 12:9 - “Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?”.
Dalam kedua ayat di atas ini, kelihatannya istilah ‘bapa’ harus diartikan sebagai ‘pencipta / sumber’.

3.   Istilah ‘Bapa’ di sini harus diartikan sesuai dengan kebiasaan orang di sana pada jaman itu
Charles Haddon Spurgeon: “It is the manner of the Easterns to call a man the father of a quality for which he is remarkable. To this day, among the Arabs, a wise man is called ‘the father of wisdom;’ a very foolish man ‘the father of folly.’ The predominant quality in the man is ascribed to him as though it were his child, and he the father of it. Now, the Messiah is here called in the Hebrew ‘the father of eternity,’ by which is meant that he is pre-eminently the possessor of eternity as an attribute. Just as the idiom, ‘the father of wisdom,’ implies that a man is pre-eminently wise, so the term, ‘Father of eternity,’ implies that Jesus is pre-eminently eternal; that to him, beyond and above all others, eternity may be ascribed. ... not only is eternity ascribed to Christ, but he is here declared to be parent of it. Imagination cannot grasp this, for eternity is a thing beyond us; yet if eternity should seem to be a thing which can have no parent, be it remembered that Jesus is so surely and essentially eternal, that he is here pictured as the source and Father of eternity. Jesus is not the child of eternity, but the Father of it. Eternity did not bring him forth from its mighty bowels, but he brought forth eternity” (= Merupakan kebiasaan orang Timur untuk menyebut seseorang  sebagai bapa dari kwalitet yang luar biasa / lain dari yang lain dalam dirinya. Sampai saat ini, di antara orang Arab, seorang yang bijaksana disebut ‘bapa dari hikmat’; seorang yang sangat bodoh disebut ‘bapa dari kebodohan’. Kwalitet yang utama / menonjol dalam seseorang dianggap berasal dari dia seakan-akan itu adalah anaknya, dan ia adalah bapa dari kwalitet itu. Sekarang, Mesias di sini disebut dalam bahasa Ibrani ‘bapa dari kekekalan’ dengan mana dimaksudkan bahwa ia adalah pemilik dari kekekalan sebagai suatu sifat. Sama seperti ungkapan ‘bapa dari hikmat’ menunjukkan bahwa orang itu bijaksana, demikian pula istilah ‘Bapa dari kekekalan’ menunjukkan bahwa Yesus itu kekal; sehingga di atas semua yang lain, kekekalan dianggap berasal dari dia. ... bukan hanya kekekalan dianggap berasal dari Kristus, tetapi di sini ia dinyatakan sebagai orang tua dari kekekalan. Imaginasi tidak dapat mengertinya, karena kekekalan merupakan sesuatu yang melampaui kita; tetapi jika kekekalan kelihatannya adalah hal yang tidak bisa mempunyai orang tua, haruslah diingat bahwa Yesus begitu kekal secara pasti dan hakiki, sehingga di sini ia digambarkan sebagai sumber dan Bapa dari kekekalan. Yesus bukanlah anak dari kekekalan, tetapi Bapa dari kekekalan. Kekekalan tidak melahirkannya, tetapi ia melahirkan kekekalan) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol II, ‘The Messiah’, hal 134-135.
Barnes’ Notes: “it may be used in accordance with a custom in Hebrew and in Arabic, where he who possess a thing is called the father of it. Thus ‘the father of strength’ means strong; ‘the father of knowledge’, intelligent; ‘the father of glory’, glorious; ‘the father of goodness’, good; ‘the father of peace’, peaceful. According to this, the meaning of the phrase, ‘the Father of eternity’ is properly eternal” (= ini mungkin dipakai sesuai dengan kebiasaan dalam bahasa Ibrani dan Arab, dimana ia yang memiliki sesuatu disebut bapa dari sesuatu itu. Jadi, ‘bapa dari kekuatan’ berarti kuat; ‘bapa dari pengetahuan’ berarti pandai; ‘bapa dari kemuliaan’ berarti mulia; ‘bapa dari kebaikan’ berarti baik; ‘bapa dari damai’ berarti cinta damai. Menurut ini, arti dari ungkapan ‘Bapa dari kekekalan’ adalah kekal) - hal 193.
Barnes’ Notes: “He is not merely represented as everlasting, but he is introduced, by a strong figure, as even ‘the Father of eternity’, as if even everlasting duration owed itself to his paternity” (= Ia tidak semata-mata digambarkan sebagai kekal, tetapi ia diperkenalkan dengan suatu penggambaran yang kuat bahkan sebagai ‘Bapa dari kekekalan’, seakan-akan bahkan kekekalan berhutang dirinya sendiri kepada kebapaannya) - hal 193.

Apakah istilah ini hanya menunjukkan kekekalan Kristus, atau bahkan menunjukkan bahwa Kristus adalah pencipta, sumber, dan pemelihara dari kekekalan, itu tetap menunjukkan keilahian Kristus.

4)   ‘Raja Damai’ [prince of peace (= pangeran damai)].

a)   ‘Raja’ atau ‘Pangeran’?
Istilah yang benar memang adalah ‘Pangeran Damai’, tetapi saya berpendapat bahwa istilah ‘prince’ (= pangeran), digunakan karena Yesus adalah Anak Allah. Dengan memberi gelar ‘Pangeran’ kepada Yesus, maka secara implicit Allah Bapa digambarkan sebagai Raja. Tetapi saya berpendapat tidak terlalu jadi soal kalau kita mau menyebut Yesus sebagai ‘Raja Damai’, karena:
·  kita tahu dari Yoh 5:18 dan Yoh 10:30-33 bahwa istilah ‘Anak Allah’ sebetulnya menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah.
·         ay 5b menunjukkan Yesus sebagai Raja.
Ay 5b: ‘dan lambang pemerintahan ada di atas bahunya’.
NIV: ‘and the government will be on his shoulders’ (= dan pemerintahan akan ada di atas bahunya).
Ini menunjukkan bahwa Kristus adalah Raja atau Kristus memegang pemerintahan.
·         ay 6 juga menunjukkan Yesus sebagai Raja, bahkan sebagai Raja Damai.
Ay 6: ‘tahta Daud’.
Daud diberi janji bahwa kerajaannya akan kekal (2Sam 7:12-dst), dan ini digenapi dalam diri Kristus [bdk. Amos 9:11 - pondok Daud yang roboh dibangunkan kembali oleh Allah (dalam diri Kristus)].
J. A. Alexander: “the Messiah is not only called the Branch or Son of David (2Sam 7:12,13  Jer 23:5  33:15), but David himself (Jer 30:9  Ezek 34:23,24  37:24  Hos 3:5). The two reigns are identified, not merely on account of an external resemblance or a typical relation, but because the one was really a restoration or continuation of the other. ... The Jewish nation, as a spiritual body, is really continued in the Christian church” [= Mesias bukan hanya disebut sebagai Tunas atau Anak Daud (2Sam 7:12,13  Yer 23:5  33:15), tetapi juga disebut Daud sendiri (Yer 30:9  Yeh 34:23,24  37:24  Hos 3:5). Kedua pemerintahan ini disamakan, bukan semata-mata karena kemiripan lahiriah atau hubungan yang khas, tetapi karena yang satu betul-betul merupakan pemulihan atau kelanjutan dari yang lain. ... Bangsa Yahudi, sebagai suatu tubuh rohani, betul-betul dilanjutkan dalam Gereja Kristen] - hal 135.

Penerapan: Apakah Yesus adalah Raja dalam hidup saudara? Menjadikan Yesus sebagai Raja atau sebagai Tuhan dalam hidup kita, tidaklah terlalu berbeda. Jadi hal ini bisa dibandingkan dengan Luk 2:11 - “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud”. Pemberitaan Injil oleh malaikat pada Natal yang pertama ini menggabungkan 2 gelar bagi Yesus, yaitu ‘Juruselamat’ dan ‘Tuhan’. Orang yang menerima Dia sebagai Juruselamat, juga harus menerimaNya sebagai Tuhan. Orang yang menolak Dia sebagai Tuhan, sebetulnya juga tidak pernah menerimaNya sebagai Juruselamat.

b)   Raja / Pangeran Damai.
Yesus disebut Raja / Pangeran Damai karena:
·         Ia mendamaikan manusia (yang mau percaya kepadaNya) dengan Allah (Ro 5:1  Ef 2:16-18  2Kor 5:18-21).
Siapapun saudara dan bagaimanapun jahatnya saudara, kalau saudara mau percaya kepada Yesus, maka saudara akan diperdamaikan dengan Allah. Sebaliknya, betapapun baiknya / salehnya saudara, saudara tetap mempunyai dosa yang menjadikan saudara musuh Allah. Jadi saudarapun harus percaya kepada Yesus supaya bisa diperdamaikan dengan Allah.
·         Ia memberikan damai dalam hati orang yang percaya kepadaNya (Yoh 14:27  Mat 11:28-30).
E. J. Young: “True peace comes to us because a Child was born. That Child, and He alone, is the Prince of Peace. Would we have peace, it is to Him that we must go” (= Damai yang sejati datang kepada kita karena seorang Anak dilahirkan. Anak itu, dan hanya Dia saja, adalah Pangeran Damai. Jika kita menginginkan damai, kepada Dialah kita harus pergi) - hal 340.
·    Ia mendamaikan orang dengan orang (Ef 2:14). Ini terwujud dalam persekutuan orang Kristen.
·         E. J. Young: “This One is a Prince, and He seeks the greatness of His kingdom and of Himself not in war, as do ordinary rulers, but in peace” (= Orang ini adalah seorang Pangeran, dan Ia mengusahakan kebesaran KerajaanNya dan DiriNya sendiri bukan dalam perang, seperti yang dilakukan penguasa-penguasa biasa, tetapi dalam damai) - hal 339.
E. J. Young: “Peace and the government are mentioned together. This is striking, for most governments find their increase through war. Unlike other kingdoms, this one will grow through the means of peace, through the gracious working of the Spirit of God in the hearts of men and through the preaching of the gospel” (= Damai dan pemerintahan disebutkan bersama-sama. Ini menyolok, karena kebanyakan pemerintahan mendapatkan perluasan melalui perang. Tidak seperti kerajaan-kerajaan yang lain, yang ini akan bertumbuh melalui jalan damai, melalui pekerjaan kasih karunia dari Roh Allah dalam hati manusia dan melalui pemberitaan injil) - hal 343. Bdk. Mat 20:24-28  Mat 26:47-56  Luk 9:51-56  1Pet 2:23.
Penerapan: kalau saudara mau Kerajaan ini bertumbuh, banyaklah memberitakan Injil.

c)   PemerintahanNya berbeda dengan pemerintahan seorang tiran / diktator.
Ini terlihat dari kata-kata ‘dengan keadilan dan kebenaran’ dalam ay 6b.

d) Kerajaan dari Raja Damai ini kekal, dan ini ditunjukkan oleh kata-kata ‘tidak akan berkesudahan’ dalam ay 6a, dan kata-kata ‘dari sekarang sampai selama-lamanya’ dalam ay 6c (bdk. Dan 2:44a  Dan 7:27  Luk 1:32-33).
Bahwa Kerajaan ini kekal, jelas menunjukkan bahwa ini tidak menunjuk pada kerajaan yang berlangsung selama 1000 tahun (hurufiah) seperti yang dipercaya oleh sebagian orang kristen.
E. J. Young: “That interpretation which would apply this prophecy to a literal throne of David to be established in Jerusalem during a ‘millennium’ must be rejected for the following reasons: The reign begins with the birth of the YELED, who sits upon the throne of David and reigns eternally. To limit this reign to a period of one thousand years is to neglect the words, ‘there is no end.’ And to make the beginning coincide with the beginning of a millennium is to ignore the fact that it begins with the birth of the Child” (= Penafsiran yang menerapkan nubuat ini kepada tahta hurufiah dari Daud yang akan ditegakkan di Yerusalem pada kerajaan 1000 tahun harus ditolak karena alasan sebagai berikut: Pemerintahan itu dimulai dengan kelahiran dari sang YELED, yang duduk di atas tahta Daud dan memerintah secara kekal. Membatasi pemerintahan ini pada masa 1000 tahun berarti mengabaikan kata-kata ‘tidak akan berkesudahan’. Dan membuat permulaannya bertepatan dengan permulaan dari kerajaan 1000 tahun berarti mengabaikan fakta bahwa kerajaan itu dimulai dengan kelahiran dari sang Anak) - hal 343.
Catatan: YELED adalah kata Ibrani yang artinya ‘a boy’ (= seorang anak laki-laki).

e)   KerajaanNya ini bertumbuh terus.
Sebetulnya hal ini bisa terlihat dari ay 6a. Tetapi ay 6a versi Kitab Suci Indonesia salah terjemahan, sehingga tidak menunjukkan hal itu.
Ay 6a: ‘Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan’.
NIV: ‘of the increase of his government and peace there will be no end’ (= tentang pertumbuhan dari pemerintahannya dan damai tidak akan berkesudahan).
NASB: ‘there will be no end to the increase of His government or of peace’ (= tidak akan ada kesudahan bagi pertumbuhan dari pemerintahaNya atau dari damai).
Adam Clarke: “his government increases, and is daily more and more extended, and will continue till all things are put under his feet” (= pemerintahanNya bertumbuh, dan makin hari makin meluas, dan akan berlanjut sampai segala sesuatu diletakkan di bawah kakiNya) - hal 65.
Bdk. 1Kor 15:25 - Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuhNya di bawah kakiNya”.
Calvin: “Though the kingdom of Christ is in such a condition that it appears as if it were about to perish at every moment, yet God not only protects and defends it, but also extends its boundaries far and wide, and then preserves and carries it forward in uninterrupted progression to eternity. We ought firmly to believe this, that the frequency of those shocks by which the Church is shaken may not weaken our faith, when we learn that, amidst the mad outcry and violent attacks of enemies, the kingdom of Christ stands firm through the invincible power of God, so that, though the whole world should oppose and resist, it will remain through all ages. We must not judge of its stability from the present appearances of things, but from the promise, which assures us of its continuance and of its constant increase” (= Sekalipun kerajaan Kristus ada dalam keadaan sedemikian rupa dimana kelihatannya kerajaan itu akan binasa setiap saat, tetapi Allah bukan hanya melindungi dan mempertahankannya, tetapi juga memperluas batasannya, dan lalu memeliharanya dan meneruskannya dalam kemajuan yang tak putus-putusnya sampai kekekalan. Kita harus dengan teguh mempercayai hal ini, supaya goncangan-goncangan yang sering menimpa Gereja tidak melemahkan iman kita, pada waktu kita mempelajari / mendengar bahwa di tengah-tengah teriakan marah dan serangan bengis dari para musuh, kerajaan Kristus berdiri teguh melalui kuasa Allah yang tak terkalahkan, sehingga sekalipun seluruh dunia melawan dan menentang, kerajaan itu akan tetap ada sepanjang jaman. Kita tidak boleh menilai kestabilan kerajaan itu berdasarkan kelihatannya pada saat ini, tetapi dari janji, yang meyakinkan kita tentang kelanjutannya dan tentang pertumbuhan / perluasannya yang konstan) - hal 313-314.
Pulpit Commentary: “It must be progressive, because it has vitality, which necessarily involves increase and growth; it must be aggressive, because there is a war-spirit in all righteousness; it cannot abide quietly beside evil, or rest until all evil is conquered and won” (= Itu harus progresif / maju, karena itu mempunyai vitalitas / kekuatan yang hidup, yang pasti menyangkut pertambahan dan pertumbuhan; itu harus agresif, karena di situ ada roh perang dalam semua kebenaran; itu tidak bisa tinggal dengan tenang disamping kejahatan, atau beristirahat sampai semua kejahatan dikalahkan) - hal 183.
Penerapan: apakah saudara agresif dalam Pemberitaan Injil? Apakah saudara selalu ‘memerangi’ kejahatan?

Kesimpulan / penutup.


Calvin: “Now, to apply this for our own instruction, whenever any distrust arises, and all means of escape are taken away from us, whenever, in short, it appears to us that everything is a ruinous condition, let us recall to our remembrance that Christ is called Wonderful, because he has inconceivable methods of assisting us, and because his power is far beyond what we are able to conceive. When we need counsel, let us remember that he is the Counsellor. When we need strength, let us remember that he is Mighty and Strong. When new terrors spring up suddenly every instant, and when many deaths threaten us from various quarters, let us rely on that eternity of which he is with good reason called the Father, and by the same comfort let us learn to soothe all temporal distresses. When we are inwardly tossed by various tempests, and when Satan attempts to disturb our consciences, let us remember that Christ is The Prince of Peace, and that it is easy for him quickly to allay all our uneasy feelings. Thus will these titles confirm us more and more in the faith of Christ, and fortify us against Satan and against hell itself” (= Sekarang, untuk menerapkan ini bagi pengajaran kita, kapanpun ada ketidak-percayaan yang muncul, dan semua jalan keluar diambil dari kita, singkatnya, kapanpun kelihatan bagi kita bahwa segala sesuatu ada dalam kondisi yang hancur, biarlah kita mengingat bahwa Kristus disebut Ajaib, karena Ia mempunyai metode-metode yang tak dapat dibayangkan / dipahami untuk menolong kita, dan karena kuasaNya jauh melebihi apa yang bisa kita bayangkan. Pada waktu kita membutuhkan nasehat, biarlah kita mengingat bahwa Ia adalah Penasehat. Pada waktu kita membutuhkan kekuatan, biarlah kita mengingat bahwa Ia Perkasa dan Kuat. Pada waktu ketakutan yang baru mendadak muncul, dan pada waktu banyak kematian mengancam kita dari banyak sudut, biarlah kita bersandar pada kekekalan terhadap apa Ia dengan alasan yang benar disebut Bapa, dan oleh penghiburan yang sama biarlah kita belajar untuk menenangkan / menyejukkan semua kesukaran / kesusahan yang sementara. Pada waktu kita diombang-ambingkan secara batin oleh bermacam-macam badai, dan pada waktu Setan mencoba mengganggu hati nurani kita, biarlah kita mengingat bahwa Kristus adalah Raja / Pangeran Damai, dan bahwa adalah mudah bagiNya untuk menenangkan secara cepat semua perasaan gelisah / tak tenang kita. Demikianlah gelar-gelar ini akan membuat kita makin lama makin teguh dalam iman dari Kristus, dan membentengi kita terhadap Setan dan terhadap neraka sendiri) - hal 312-313.




-AMIN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar