Minggu, 30 Maret 2014

ULAR TEMBAGA (BIL 21:4-9 YOH 3:14-15)

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div

I) Dosa Israel (Bil 21:4-5).


1)   Berkata-kata melawan Allah (Bil 21:5).
Pernahkah / seringkah saudara berkata-kata melawan Allah? Itu bisa saudara lakukan dengan berbicara kepada Allah dalam doa, tetapi dengan hati yang jengkel kepada Tuhan. Atau mungkin bahkan ada yang cukup berani untuk memaki-maki Tuhan.

2)   Berkata-kata melawan Musa (Bil 21:5).
Musa dipilih oleh Tuhan menjadi pemimpin bangsa Israel. Karena itu seharusnya mereka wajib untuk tunduk kepada Musa. Tetapi dalam kejengkelan mereka, mereka berkata-kata melawan / menentang Musa.
Mungkin saudara beranggapan bahwa dalam Bil 21 ini bangsa Israel dihukum berat bukan karena mereka berkata-kata menentang Musa tetapi karena mereka berkata-kata menentang Allah. Tetapi itu tidak benar. Lihatlah:
·         Bil 12:1-dst. dimana Miryam dan Harun menentang Musa.
·         Bil 14:1-dst. dimana umat Israel menentang Musa.
·         Bil 16:1-dst dimana Korah, Datan dan Abiram menentang Musa.
maka saudara akan melihat bahwa mereka semua dihukum berat karena menentang Musa / hamba Tuhan.

Penerapan: dalam hidup kita juga ada orang-orang yang oleh Tuhan di-beri otoritas, misalnya:
¨      dalam keluarga: suami / orang tua mempunyai otoritas (bdk. Kel 20:12  Ef 5:22).
¨      dalam sekolah: guru / dosen mempunyai otoritas.
¨      dalam negara: pemerintah mempunyai otoritas (bdk. Ro 13:1-dst).
¨      dalam pekerjaan: boss / atasan mempunyai otoritas (bdk. 1Pet 2:18).
¨      dalam gereja: hamba Tuhan / majelis mempunyai otoritas.
Apakah saudara sering tidak tunduk / tidak menghormati orang-orang itu? Memang kalau mereka menyuruh sesuatu yang bertentangan dengan Firman Tuhan, tentu saudara tidak boleh mentaati mereka (bdk. Kis 5:29), tetapi saudara tetap harus menghormati mereka.

3)   Tidak mau berjalan pada jalan Tuhan, dan bahkan menghina jalan Tuhan (Bil 21:5b).
Pada saat itu mereka dipimpin oleh Tuhan menggunakan tiang awan dan tiang api, tetapi mereka lalu menghina pimpinan Tuhan itu. Sekarang kita dipimpin dengan Firman Tuhan. Kita menghina jalan Tuhan kalau kita tidak senang terhadap Firman Tuhan itu atau kalau kita menganggapnya tidak bijaksana, tidak benar, atau tidak masuk akal. Misalnya: mengapa Tuhan mengijinkan punya istri cuma 1? Mengapa dilarang berzinah? Me-ngapa hari Sabat harus istirahat dan pergi ke gereja? Mengapa harus memberikan persembahan persepuluhan? Mengapa harus mengasihi musuh? Mengapa istri yang harus tunduk kepada suami dan bukan sebaliknya? Ingat, kita tidak mempunyai hak untuk mempertanyakan Firman Tuhan! Tugas kita adalah mengertinya dan mentaatinya, bukan menilai benar tidaknya, menghakiminya, dan menghinanya.

4)   Menghina pemberian Tuhan (Bil 21:5c).
Di padang gurun mereka diberi makan manna, dan itu mereka sebut se-bagai ‘makanan hambar’ terhadap mana mereka ‘sudah muak’ (Bil 21:5c).
NIV: ‘And we detest this miserable food’ (= Dan kami benci / jijik terhadap makanan yang jelek ini).
NASB: ‘And we loathe this miserable food’ (= Dan kami benci / jijik terhadap makanan yang jelek ini).
Penerapan:
Dalam masa krisis moneter ini adalah sangat mudah untuk merasa tidak puas akan pemeliharaan Tuhan dan bahkan merendahkannya / meng-hinanya. Mungkin sekarang saudara harus makan beras kelas dua, memakai pakaian yang lebih jelek, naik kendaraan yang lebih rendah, dsb, tetapi pikirkanlah bahwa ada banyak orang di Indonesia saat ini yang akan senang mendapatkan hal itu, karena tingkat hidup mereka lebih rendah lagi dari saudara. Karena itu sebetulnya saudara harus bersyukur dan bukannya mengomel.

5)   Tidak dapat lagi menahan hati (Bil 21:4).
NIV: ‘But the people grew impatient on the way’ (= Tetapi bangsa itu menjadi tidak sabar di jalan).
NASB: ‘and the people became impatient because of the journey’ (= dan bangsa itu menjadi tidak sabar karena perjalanan itu).
RSV: ‘and the people became impatient on the way’ (= dan bangsa itu menjadi tidak sabar di jalan).
KJV: ‘and the soul of the people was much discouraged because of the way’ (= dan jiwa bangsa ini menjadi kecil hati karena jalan itu).
Jadi sebetulnya sudah sejak lama mereka mau melakukan dosa-dosa yang sudah kita bahas di atas, tetapi mereka tahan-tahan. Mereka ber-usaha untuk sabar. Tetapi setelah beberapa lama, mereka tidak tahan lagi, mereka kehilangan kesabaran, dan mereka lalu melakukan dosa-dosa itu.
Penerapan: apakah saudara mengalami problem / penderitaan yang sela-ma ini saudara tahan-tahan, tetapi sekarang saudara sudah mencapai titik dimana saudara saudara mulai / sudah kehilangan kesabaran? Baca Yak 5:7-11.

II) Hukuman dosa (Bil 21:6).


Tuhan menghukum mereka dengan ‘ular tedung’ (Bil 21:6).
NIV: ‘venomenous snakes’ (= ular berbisa).
KJV/RSV/NASB: ‘fiery serpents’ (= ular berapi).
Disebut demikian karena kalau seseorang digigit ular ini ia akan merasa panas seperti terbakar.
Charles Haddon Spurgeon menceritakan tentang seseorang penjaga reptil di kebun binatang yang dalam keadaan mabuk lalu bermain-main dengan ular. Mula-mula ia mengambil seekor ular Maroko yang berbisa, dan bermain-main dengannya, tetapi ular itu tidak menggigit. Lalu ia mengambil seekor Kobra dan bermain-main dengannya, tetapi Kobra itu lalu menggigitnya di tengah-tengah kedua matanya. Lalu ia dibawa ke rumah sakit. Mula-mula suaranya hilang, lalu penglihatannya hilang, lalu pendengarannya hilang. Setelah itu denyut nadinya melemah, dan dalam waktu 1 jam setelah digigit, ia menjadi mayat (‘Christ in the Old Testament’, hal 257-258).
Hukuman seperti inilah yang diberikan oleh Tuhan kepada bangsa Israel!

Pada jaman ini Tuhan tidak harus menghukum dengan ular tetapi Ia bisa menghukum dengan:
·     penderitaan. Memang ada penderitaan yang diberikan kepada manusia bukan sebagai hukuman, tetapi sebagai ujian. Tetapi juga ada penderi-taan yang bisa menimpa manusia karena dosa-dosa mereka.
·         keadaan tidak damai, sumpek, gelisah, kosong. Di luar jalan Tuhan tidak mungkin ada damai! Boleh saja saudara kaya, dan bisa menikmati banyak hal-hal duniawi yang menyenangkan, tetapi saudara tidak mungkin mempunyai damai / sukacita di hati!
·         kematian. Ini tidak bisa dihindari!
Illustrasi: ada dongeng kuno tentang seorang pedagang di Bagdad. Suatu hari ia suruh pelayannya pergi ke pasar. Pelayan itu kembali dengan muka pucat ketakutan. Tuannya bertanya: ‘Ada apa?’. Pelayan itu men-jawab: ‘Tuan, aku bertemu dengan maut. Maut itu melihat aku, lalu meng-gerak-gerakkan tangannya secara menakutkan. Tuan, aku takut sekali, tolong pinjami aku kuda, supaya aku bisa lari’. Tuan itu bertanya: ‘Kamu mau lari kemana?’. ‘Aku mau lari ke kota Samarra’. Tuan itu kasihan dan lalu meminjamkan kudanya dan pelayan itu lari ke kota Samarra. Tuan itu lalu merasa penasaran, dan ia lalu pergi ke kota untuk mencari maut itu. Waktu bertemu dengan maut, ia lalu bertanya: ‘Hai maut, mengapa kamu menakut-nakuti pelayanku?’. Maut menjawab: ‘Aku tidak menakut-nakuti dia. Aku hanya heran melihat dia di pasar di kota Bagdad ini, karena aku mempunyai perjanjian untuk bertemu dengan dia malam ini di kota Samarra’.
Penekanan cerita ini jelas, yaitu bahwa kematian tidak bisa dihindari. Bagi orang percaya, kematian bukan hukuman, tetapi pintu gerbang menuju surga. Tetapi bagi orang yang belum percaya kepada Yesus, kematian adalah hukuman / pintu gerbang neraka. Bisa datang lambat atau cepat, tetapi pasti datang! Siapa tahu ia mempunyai perjanjian untuk bertemu dengan saudara malam ini di kota ini? Siapkah saudara kalau ia datang malam ini?
·         Neraka.
Ada banyak orang senang membuat neraka sebagai bahan guyonan. Misalnya dengan berkata: ‘Enak kalau masuk neraka bisa ketemu bin-tang-bintang film, sex bom, Marlyn Monroe, dsb’. Terhadap orang seperti ini saya cuma mau mengatakan bahwa saudara tidak akan menikmati pertemuan dengan Marlyn Monroe dengan sebuah kompor yang menyala diletakkan di bawah pantat saudara, lebih-lebih kalau saudara sedang berada dalam lautan yang menyala-nyala dengan api dan belerang (bdk. Wah 21:8), atau kalau saudara sedang dikerumuni dan digerogoti oleh milyaran ulat bangkai (zet) yang tidak bisa mati (bdk. Mark 9:44-48)!

III) Obat.


Karena hukuman Tuhan itu, Israel datang kepada Musa untuk minta ampun, dan Musa lalu berdoa untuk mereka (Bil 21:7). Dan Tuhan lalu memerintah-kan Musa membuat patung ulang tedung dan memasangnya pada sebuah tiang. Dan Tuhan berkata bahwa ‘setiap orang yang terpagut, jika ia meli-hatnya, akan tetap hidup’ (Bil 21:8b). Musa mentaati perintah Tuhan itu, dan ia membuat patung ular dari tembaga dan meletakkannya pada sebuah tiang, sehingga orang yang digigit ular bisa memandangnya dan menjadi sembuh.
Perlu dicamkan bahwa penekanan Bil 21:4-9 ini bukanlah dosa / hukuman dosa, tetapi ‘obat’ yang Tuhan berikan ini.
Ular tembaga ini merupakan TYPE dari Kristus, karena dalam Yoh 3:14-15 dikatakan sebagai berikut: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal”.
Jadi, pada jaman itu Israel berdosa, Tuhan menghukum dengan ular. Untuk menyelamatkan dari hukuman, Tuhan memberi ular tembaga sebagai obat.
Pada jaman ini, kita berdosa, hukuman kekal menanti kita. Untuk menye-lamatkan kita dari hukuman, Tuhan memberi Kristus sebagai obat!

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari tentang obat yang Tuhan berikan ini:

1)   Obat itu menggelikan / tidak masuk akal.
Coba pikirkan: kalau saudara jadi orang Israel yang kena gigit ular ber-bisa, dan saudara merasakan rasa sakit dan panas pada daerah sekitar gigitan itu, apakah saudara percaya bahwa hanya dengan memandang kepada patung ular tembaga itu saudara bisa sembuh? Bukankah itu tidak masuk akal? Bukankah ada banyak obat lain yang lebih masuk akal, seperti pergi ke dokter / tabib, mengikat bagian yang tergigit dsb?
Analoginya: Jaman sekarang Kristus juga adalah obat yang menggelikan.
1Kor 1:22-24 - “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah”.
Allah menjadi manusia, mati menebus dosa yang saat itu belum terjadi, kebangkitan, kenaikan ke surga, dsb, bagi banyak orang adalah hal-hal yang menggelikan dan tidak masuk akal. Karena itu mereka lalu mencari obat lain yang lebih masuk akal, misalnya dengan berusaha berbuat baik, beragama dsb.
Tetapi ingat! Obat yang menggelikan itu, baik patung ular tembaga maupun Kristus, diberikan oleh Allah! Orang yang bersandar kepada rasio / perasaannya sendiri dan menolak obat ini, pasti akan binasa. Tetapi sebaliknya, orang yang mau menerima obat ini akan selamat.
1Kor 1:21b - “Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil”.
Bandingkan ini dengan cerita tentang Naaman dalam 2Raja 5, yang juga diberi obat yang menggelikan, yaitu mandi 7 x di sungai Yordan, tetapi yang ternyata menyembuhkannya.

2)   Obat itu adalah satu-satunya jalan untuk bebas dari hukuman, atau satu-satunya jalan keselamatan.
Tuhan tidak memberikan banyak patung binatang, atau memberikan satu patung ular tembaga, satu ular perak, satu ular emas dsb. Tuhan hanya memberikan satu ular dari tembaga, tidak ada yang lain. Kalau mereka menolak jalan itu dan mencari jalan yang lain, apakah dengan berobat kepada tabib / dukun, atau dengan mengikat bagian yang digigit, atau dengan mencari obat lain manapun juga, mereka pasti mati. Hanya kalau mereka mau memandang kepada ular tembaga yang dibuat Musa barulah mereka bisa sembuh.

Sebetulnya pemberian satu jalan keselamatan sudah pernah terjadi sebelum peristiwa ular tembaga ini, yaitu:

a)   Bahtera Nuh (Kej 6-8).
Pada jaman Nuh itu, kalau orang tidak mau masuk ke dalam bahtera, maka tidak ada jalan lain baginya melalui mana ia bisa selamat. Pada waktu banjir itu mulai meninggi, ia mungkin akan mencoba naik pohon, naik atap rumah, naik gunung yang tinggi, dsb, tetapi ia akan tetap mati, karena air bah itu merendam seluruh dunia bahkan gunung yang tertinggi sekalipun (bdk. Kej 7:19-20). Jadi jelas bahwa bahtera itu adalah satu-satunya jalan keselamatan.

b)   Darah pada ambang pintu (Kel 12:3-7,12-13,21-23,25-30  1Kor 5:7).
Pada waktu Allah mau menghukum orang Mesir dengan membunuh semua anak sulung, Allah memberikan jalan melalui mana bangsa Israel bisa lolos dari hukuman itu. Caranya adalah menyapukan darah domba Paskah pada ambang pintu. Dan ini adalah satu-satunya jalan melalui mana mereka bisa lolos dari hukuman Allah itu.
Selanjutnya, 1Kor 5:7b berbunyi: “Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus”. Jadi, jelaslah bahwa anak domba Paskah yang darahnya merupakan satu-satunya jalan keselamatan pada saat itu, juga merupakan TYPE / gambaran dari Kristus.

Analoginya: Jaman ini, Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Ini terlihat dari banyak ayat di bawah ini:
·         Yoh 14:6 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku’”.
·     Kis 4:12 - “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan”.
·         1Yoh 5:11-12 - “Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam AnakNya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup”.
·      1Tim 2:5 - “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus”.
·      Yoh 8:24b - “Jikalau kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu”.

Kalau saudara menolak satu-satunya jalan keselamatan ini, tidak peduli jalan lain apa yang saudara tempuh, saudara pasti akan binasa / masuk neraka. Tetapi kalau saudara mau menerima Yesus yang adalah satu-satunya jalan keselamatan, saudara akan selamat! Dan satu hal yang harus saudara camkan: yang adalah satu-satunya jalan keselamatan itu bukanlah gereja, tetapi Yesus. Saudara mungkin sudah datang ke gereja, tetapi kalau saudara belum datang kepada Yesus, saudara tidak akan selamat!

3)   Obat itu dibutuhkan oleh semua orang.
Tidak ada orang yang setelah digigit tidak membutuhkan obat itu.
Analoginya: Jaman sekarang semua orang membutuhkan Kristus sebagai obat. Mengapa? Karena Kitab Suci mengatakan ‘semua orang telah ber-buat dosa’ (Ro 3:23). Banyak orang mengira mereka tidak membutuhkan Yesus. Mereka mengira bahwa dengan berbuat baik, membuang dosa dsb mereka bisa selamat / masuk surga. Tetapi ini salah dan bodoh! Semua manusia adalah orang berdosa, dan itu juga mencakup diri saudara, sehingga kalau tidak mempunyai Penebus dosa / Juruselamat dosa, maka mereka / saudara harus menanggung sendiri hukuman dosa itu dengan masuk ke neraka selama-lamanya.

IV) Kesembuhan / keselamatan.


Apa yang harus dilakukan dengan obat itu supaya sembuh / selamat?

Dalam Bil 21:9 orang Israel yang digigit ular itu harus memandang kepada patung ular tembaga itu, maka mereka akan sembuh.
Bagaimana dengan jaman sekarang? Bagaimana analoginya? Yoh 3:14-15 berkata: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepa-daNya beroleh hidup yang kekal”.
Jadi, kalau dahulu orang Israel hanya perlu memandang kepada patung ular tembaga, maka sekarang kita hanya perlu percaya kepada Yesus.
Dahulu tidak ada orang yang memandang ular tembaga tetapi tetap mati; sekarang tidak ada orang yang percaya kepada Yesus tetapi binasa / masuk neraka.

Pada saat itu, sudah ada orang-orang Israel yang mati. Untuk mereka ini tentu tidak ada obat. Tetapi untuk mereka yang masih hidup, apakah mereka baru digigit atau sudah hampir mati, belum terlambat untuk memandang kepada ular tembaga itu. Kalau mereka melakukan hal itu mereka pasti sembuh. Demikian juga dengan jaman sekarang. Untuk orang yang sudah mati tanpa Kristus, tidak ada obat lagi. Tetapi untuk orang yang masih hidup, apakah dia masih muda atau sudah tua dan hampir mati, tetap belum terlambat.

Pada saat itu, kalau orang menunda untuk memandang kepada ular tembaga itu, maka ia bisa terlambat. Sekarang juga demikian. Kalau saudara menun-da-nunda untuk percaya kepada Yesus, saudara bisa terlambat. Karena itu cepatlah datang kepada Yesus, besok mungkin sudah terlambat!



-AMIN-









Tidak ada komentar:

Posting Komentar