Kamis, 20 Maret 2014

KEMATIAN YANG TERKUTUK


Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div

GALATIA 3:10-13


Pendahuluan:

Jaman sekarang yang banyak didengar tentang Allah adalah bahwa Allah itu kasih dan karena itu selalu memberi berkat berlimpah-limpah, baik berkat jasmani maupun berkat rohani. Tetapi hari ini saya justru akan membahas tentang kutuk dari Allah kepada manusia!

I) Kutuk.

1)   Mengapa Allah bisa mengutuk?
Allah yang maha kasih bisa mengutuk, karena Ia juga adalah mahasuci dan mahaadil! Jangan sampai saudara terlalu menekankan kasih Allah, sehingga mengabaikan keadilan dan kesucian Allah! Penekanan satu kebenaran secara berlebihan sehingga mengabaikan kebenaran yang lain, menyebabkan terjadinya ajaran sesat.

2)   Dosa selalu menyebabkan kutuk.

a)   Ini terlihat dari banyak ayat Kitab Suci, seperti:
·         Kej 3:14,17 - ular dan tanah dikutuk gara-gara dosa.
·         Kej 4:11-12 - Kain dikutuk karena membunuh Habel.
·         Kej 9:25 - Kanaan dikutuk.
·        Orang yang berzinah dikutuk. Bil 5:11-31 - “(11) TUHAN berfirman kepada Musa: (12) ‘Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila isteri seseorang berbuat serong dan tidak setia terhadap suaminya, (13) dan laki-laki lain tidur dan bersetubuh dengan perempuan itu, dengan tidak diketahui suaminya, karena tinggal rahasia bahwa perempuan itu mencemarkan dirinya, tidak ada saksi terhadap dia, dia tidak kedapatan, (14) dan apabila kemudian roh cemburu menguasai suami itu, sehingga ia menjadi cemburu terhadap isterinya, dan perempuan itu memang telah mencemarkan dirinya, atau apabila roh cemburu menguasai suami itu, sehingga ia menjadi cemburu terhadap isterinya, walaupun perempuan itu tidak mencemarkan dirinya, (15) maka haruslah orang itu membawa isterinya kepada imam. Dan orang itu harus membawa persembahan karena perempuan itu sebanyak sepersepuluh efa tepung jelai, yang ke atasnya tidak dituangkannya minyak dan yang tidak dibubuhinya kemenyan, karena korban itu ialah korban sajian cemburuan, suatu korban peringatan yang mengingatkan kepada kedurjanaan. (16) Maka haruslah imam menyuruh perempuan itu mendekat dan menghadapkannya kepada TUHAN. (17) Lalu imam harus membawa air kudus dalam suatu tempayan tanah, kemudian harus memungut debu yang ada di lantai Kemah Suci dan membubuhnya ke dalam air itu. (18) Apabila imam sudah menghadapkan perempuan itu kepada TUHAN, haruslah ia menguraikan rambut perempuan itu, lalu meletakkan korban peringatan, yakni korban sajian cemburuan, ke atas telapak tangan perempuan itu, sedang di tangan imam haruslah ada air pahit yang mendatangkan kutuk. (19) Maka haruslah imam menyumpah perempuan itu dengan berkata kepadanya: Jika tidak benar ada laki-laki yang tidur dengan engkau, dan jika tidak engkau berbuat serong kepada kecemaran, padahal engkau di bawah kuasa suamimu, maka luputlah engkau dari air pahit yang mendatangkan kutuk ini; (20) tetapi jika engkau, padahal engkau di bawah kuasa suamimu, berbuat serong dan mencemarkan dirimu, oleh karena orang lain dari suamimu sendiri bersetubuh dengan engkau - (21) dalam hal ini haruslah imam menyumpah perempuan itu dengan sumpah kutuk, dan haruslah imam berkata kepada perempuan itu -maka TUHAN kiranya membuat engkau menjadi sumpah kutuk di tengah-tengah bangsamu dengan mengempiskan pahamu dan mengembungkan perutmu, (22) sebab air yang mendatangkan kutuk ini akan masuk ke dalam tubuhmu untuk mengembungkan perutmu dan mengempiskan pahamu. Dan haruslah perempuan itu berkata: Amin, amin. (23) Lalu imam harus menuliskan kutuk itu pada sehelai kertas dan menghapusnya dengan air pahit itu, (24) dan ia harus memberi perempuan itu minum air pahit yang mendatangkan kutuk itu, dan air itu akan masuk ke dalam badannya dan menyebabkan sakit yang pedih. (25) Maka haruslah imam mengambil korban sajian cemburuan dari tangan perempuan itu lalu mengunjukkannya ke hadapan TUHAN, dan membawanya ke mezbah. (26) Sesudah itu haruslah imam mengambil segenggam dari korban sajian itu sebagai bagian ingat-ingatannya dan membakarnya di atas mezbah, kemudian memberi perempuan itu minum air itu. (27) Setelah terjadi demikian, apabila perempuan itu memang mencemarkan dirinya dan berubah setia terhadap suaminya, air yang mendatangkan sumpah serapah itu akan masuk ke badannya dan menyebabkan sakit yang pedih, sehingga perutnya mengembung dan pahanya mengempis, dan perempuan itu akan menjadi sumpah kutuk di antara bangsanya. (28) Tetapi apabila perempuan itu tidak mencemarkan dirinya, melainkan ia suci, maka ia akan bebas dan akan dapat beranak.’ (29) Itulah hukum tentang perkara cemburuan, kalau seorang perempuan telah berbuat serong dan mencemarkan dirinya, padahal ia di bawah kuasa suaminya, (30) atau kalau roh cemburu menguasai seorang laki-laki, sehingga ia cemburu terhadap isterinya; ia harus menghadapkan perempuan itu kepada TUHAN dan imam haruslah melaksanakan seluruh hukum ini kepada perempuan itu. (31) Laki-laki itu akan bebas dari pada salah, tetapi perempuan itu haruslah menanggung akibat kesalahannya”.
·         Ul 27:15-26 - sederetan dosa yang menyebabkan kutuk.
·         Ul 28:15-46 - macam-macam kutuk karena dosa / ketidaktaatan.
·         Hakim 5:23 - kota Meros dikutuk karena tidak ikut berperang.
·    Amsal 3:33 - “Kutuk TUHAN ada di dalam rumah orang fasik, tetapi tempat kediaman orang benar diberkatiNya”.
·         Mal 2:2 - Jika kamu tidak mendengarkan, dan jika kamu tidak memberi perhatian untuk menghormati namaKu, firman TUHAN semesta alam, maka Aku akan mengirimkan kutuk ke antaramu dan akan membuat berkat-berkatmu menjadi kutuk, dan Aku telah membuatnya menjadi kutuk, sebab kamu ini tidak memperhatikan”.
·         Gal 1:6-9 - nabi palsu dikutuk oleh Paulus.
·         Mat 25:41 - ‘kambing-kambing’ yang akan masuk neraka dikutuk.

b)   Ini terlihat juga dari ay 10b yang mengutip dari Ul 27:26.

1.   Perbandingan ay 10b dengan Ul 27:26.

Ay 10b: “Terkutuklah (setiap) orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat”.

Catatan: seharusnya dalam ay 10b ini ada kata ‘setiap’. Bandingkan dengan NIV yang menterjemahkan: “Cursed is everyone who does not continue to do everything written in the Book of the Law” (= Terkutuklah setiap orang yang tidak terus melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam Kitab Hukum Taurat).

Ul 27:26: “Terkutuklah orang yang tidak menepati perkataan hukum Taurat ini dengan perbuatan”.

Ada perbedaan antara ay 10b dan Ul 27:26.
Bedanya adalah:

·         dalam ay 10b ini, Paulus mengatakan kitab hukum Taurat’.
Maksudnya untuk menekankan seluruh hukum Taurat.
·    dalam ay 10b ini, Paulus mengatakan / menambahkan kata-kata ‘segala sesuatu’.

Dalam KJV/NKJV, Ul 27:26 mengandung kata ‘all’ (= semua), sedangkan dalam RSV/NIV/NASB, Ul 27:26 tidak mempunyai kata itu. Dalam semua manuscript bahasa Ibrani, Ul 27:26 tidak mengandung kata ‘all’, sehingga ada yang menganggap bahwa pengcopy Kitab Suci sengaja membuang kata ini, supaya tidak terlihat bahwa kita harus taat secara sempurna baru tidak terkutuk. Tetapi ada 6 manuscript non Ibrani, termasuk Septuaginta / LXX (Perjanjian Lama yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani), dimana Ul 27:26 mengandung kata ‘all’.

Dari semua ini bisa disimpulkan adanya beberapa kemungkinan:

¨      Ul 27:26 ini di dalam autographnya (= manuscript aslinya) memang mengandung kata ‘all’.

¨      Bisa juga bahwa sebetulnya Ul 27:26 memang tidak mengandung kata ‘all’, tetapi karena dalam Ul 28:1,15 ada kata ‘all’, maka Paulus menambahkan kata itu pada waktu mengutip Ul 27:26.

Ul 28:1,15 - “(1) ‘Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintahNya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. ... (15) ‘Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapanNya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk ini akan datang kepadamu dan mencapai engkau”.

¨      Atau, Paulus menafsirkan bahwa Ul 27:26 itu maksudnya adalah all the words of the law’ (= semua kata-kata hukum Taurat). Ingat bahwa kalau penulis Perjanjian Baru menafsirkan Perjanjian Lama pada saat mereka menuliskan Firman Tuhan / Kitab Suci, maka tafsiran mereka infallible (= tidak bisa salah), karena mereka diilhami oleh Roh Kudus!

2.   Dalam ay 10b ini ada 2 hal yang ditekankan oleh Paulus:

·         ‘setia melakukan’ [NIV: continue to do (= terus melakukan)].

Mungkin tidak sukar untuk mentaati hukum Tuhan kalau hanya kadang-kadang saja. Tetapi bagaimana kalau harus terus menerus mentaatinya?
Bayangkan apakah saudara bisa terus menerus jujur / tak berdusta, selalu sabar, selalu rendah hati, selalu rajin, selalu hormat kepada orang tua, selalu memberitakan Injil dalam setiap kesempatan, terus tekun / rajin dalam saat teduh (setiap hari), selalu setia dan mengasihi istri / suami, selalu menghindari perzinahan, dsb.
Kalau tidak bisa, maka ay 10b ini menyatakan saudara sebagai orang terkutuk!

·         ‘segala sesuatu’ (NIV: everything).

Ini menunjukkan bahwa setiap dosa menyebabkan kita terkutuk, tidak peduli apakah itu adalah:

*     dosa besar (berzinah, punya PIL atau WIL) atau dosa kecil / remeh (seperti berdusta, terlambat datang dalam kebaktian, malas dsb).
*   dosa aktif (dimana kita melakukan apa yang dilarang oleh Tuhan) atau dosa pasif (dimana kita tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan).
*        dosa sengaja atau dosa yang tidak disengaja, dsb.

Dalam kontex jaman sekarang, dimana Perjanjian Baru sudah ada, maka ini jelas mencakup hukum-hukum Perjanjian Baru seperti kasihilah musuhmu (Mat 5:44), larangan perzinahan dalam hati / pikiran (Mat 5:28), dsb!

Kalau 2 hal di atas ini digabungkan, maka maksudnya adalah: kalau seseorang tidak dengan setia / terus menerus mentaati semua Firman Tuhan, maka ia adalah orang yang terkutuk. Ini jelas menunjukkan bahwa semua manusia pasti adalah orang terkutuk!

Bdk. Yoh 7:49 - “Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!’”.

Ini adalah kata-kata dari para tokoh Yahudi tentang orang-orang Yahudi awam. Mengapa mereka berkata demikian? Karena ‘tidak mengenal hukum Taurat’, berarti ‘tidak melakukan hukum Taurat’, dan ‘tidak melakukan hukum Taurat’ berarti ‘terkutuk’ (Ul 27:26).

Tetapi para tokoh Yahudi itu lupa bahwa sekalipun mereka mengenal hukum Taurat, tetapi mereka juga adalah orang terkutuk, karena tidak seorangpun bisa taat secara sempurna, dan  ketidak-taatan sedikit saja sudah menyebabkan terkutuk (Ul 28:1,15-dst; Gal 3:10b).

3)   ‘Terkutuk’ adalah suatu kondisi di hadapan Allah.

Ingat bahwa ‘terkutuk’ adalah suatu kondisi di hadapan Allah. Sekalipun bisa terjadi, tetapi tidak selalu keadaan terkutuk itu dimanifestasikan dalam bentuk penderitaan atau hal-hal tidak enak yang lainnya. Jadi jangan bayangkan bahwa orang yang terkutuk itu pasti akan menderita AIDS, jatuh bangkrut, hancur dalam study / pekerjaannya, berantakan keluarganya, dsb.

Sejalan dengan hal itu, maka kata ‘berbahagialah’ [bahasa Inggrisnya: ‘blessed’ (= diberkatilah)] juga merupakan suatu kondisi di hadapan Allah, yang tidak selalu dimanifestasikan dengan pemberian kekayaan, kesehatan dan berkat-berkat jasmani lainnya (bdk. Mat 5:10-12  1Pet 4:14).

Karena itu bisa saja untuk sementara waktu, keadaan terkutuk itu tidak mempunyai perwujudan yang terlalu berarti dalam hidup kita. Karena itu bisa saja seseorang hidup dalam perzinahan, tetapi hidupnya sehat, pekerjaan dan uang lancar, dsb. Karena itu kalau hidup saudara baik-baik saja (pekerjaan / study, keuangan, kesehatan, dsb), jangan terlalu cepat beranggapan bahwa saudara tidak terkutuk di hadapan Tuhan. Pokoknya ada dosa, tidak peduli betapa enaknya dan betapa tidak menderitanya hidup saudara, saudara sebetulnya adalah orang terkutuk di hadapan Allah!
Bandingkan ini dengan cerita Lazarus dan orang kaya; menurut saudara yang mana yang terkutuk, dan yang mana yang diberkati?

Dalam Luk 8:32 permintaan / doa setan-setan untuk masuk ke dalam babi-babi dikabulkan, sedangkan dalam Luk 8:38-39 permintaan / doa dari orang yang disembuhkan itu ditolak. Tetapi yang mana dari mereka yang diberkati, dan yang mana yang dikutuk?

4)   Orang yang mau selamat karena perbuatan baik berada di bawah kutuk.

Ay 10a: “Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk”.

a)   Kata-kata ‘orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat’ (ay 10a) menunjuk pada orang yang percaya pada keselamatan karena perbuatan baik / ketaatan.
Kata-kata ‘yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat’ ini oleh NASB diterjemahkan ‘are of the works of the Law’ (= adalah dari pekerjaan hukum Taurat).

NIV menterjemahkan ay 10a: ‘who rely on observing the law’ (= yang bersandar pada kepatuhan pada hukum Taurat).

Golongan ini kontras dengan golongan orang dalam ay 9 yang ‘hidup dari iman’ [NASB: ‘are of faith’ (= adalah dari iman)].

Jadi ay 9 dan ay 10a mengkontraskan 2 golongan, yaitu:
·         orang yang percaya pada keselamatan karena iman (ay 9).
·         orang yang percaya pada keselamatan karena perbuatan baik (ay 10).
Ay 10a ini secara explicit mengatakan bahwa orang-orang yang berusaha untuk menyelamatkan diri mereka sendiri melalui perbuatan baik adalah orang-orang yang terkutuk.

b)  Tadi sudah kita lihat bahwa orang yang berbuat dosa adalah orang terkutuk. Ini memang tidak aneh. Tetapi sekarang dikatakan bahwa orang yang mau selamat karena perbuatan baik / ketaatan, adalah orang yang ada di bawah kutuk. Ini aneh! Orang itu, karena ingin selamat, lalu berbuat baik dan mentaati hukum Taurat / Firman Tuhan. Bukankah itu baik? Tetapi Firman Tuhan justru berkata bahwa orang seperti itu adalah orang yang ada di bawah kutuk (ay 10a)! Mengapa demikian?

1.  Karena tidak ada orang yang bisa taat sempurna (bahkan sebetulnya tak ada orang yang bisa taat sedikitpun), sedangkan ketidaktaatan sedikit saja sudah menyebabkan seseorang menjadi terkutuk (ay 10b).
Bandingkan dengan ajaran Roma Katolik yang mengatakan bahwa saints (= orang-orang suci) bukan hanya bisa mencapai standard Allah, tetapi bahkan bisa melebihinya! Kalau ajaran ini benar, maka seluruh argumentasi Paulus di sini harus dibuang!
Bandingkan juga dengan ajaran-ajaran gereja-gereja sesat lain yang mengajarkan keselamatan karena perbuatan baik, seperti Saksi Yehuwa, dsb.

2.   Karena hukum Taurat tidak menyediakan / memberikan pengampunan dosa. Baca ay 10,11a,12b yang sedikitpun tidak berbicara tentang pengampunan dosa. Bandingkan juga dengan Ibr 10:1-4 - “(1) Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya. (2) Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya. (3) Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa. (4) Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa”.

Ini menunjukkan bahwa upacara pengorbanan dalam Perjanjian Lama sebetulnya juga tidak memberikan pengampunan dosa. Sebaliknya Firman Tuhan berkata bahwa hukum Taurat membangkitkan murka.

Ro 4:15 - “Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran”.

3.   Karena Firman Tuhan berkata bahwa orang benar hidup oleh iman.

Ay 11 - “Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: ‘Orang yang benar akan hidup oleh iman.’”.

Hab 2:4 - “Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.

Ro 1:17 - “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan hidup oleh iman.’”.
Padahal dasar hukum Taurat bukanlah iman tetapi ketaatan.

Ay 12 - “Tetapi dasar hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya”.

Im 18:5 - “Sesungguhnya kamu harus berpegang pada ketetapanKu dan peraturanKu. Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya; Akulah TUHAN”.

Penerapan:
Apakah saudara termasuk orang yang dibaptis, pergi ke gereja, melayani, memberi persembahan, berdoa, belajar Firman Tuhan, membuangi dosa, mentaati Firman Tuhan dengan tujuan supaya selamat / masuk surga? Kalau ya, maka saudara adalah orang terkutuk! Saudara bukan hanya ‘tidak dijamin selamat’, tetapi bahkan ‘dijamin tidak selamat’! Saudara bukan hanya ‘tidak djamin masuk surga’ tetapi sebaliknya saudara ‘dijamin masuk neraka’!

Ini semua kedengaran mengerikan! Siapa yang tidak pernah berbuat dosa? Tidak ada! Jadi semua orang adalah orang terkutuk. Dan kalau kita mau berbuat baik / mentaati Firman Tuhan dengan tujuan supaya selamat, kita juga terkutuk! Tidak ada jalan keluar! Betulkah tidak ada? Pada saat ini kita boleh merenungkan suatu kabar baik bagi setiap orang yang terkutuk di hadapan Allah! Kabar baik apa itu?

II) Kristus menebus kita dari kutuk hukum Taurat (ay 13).

Pada waktu Kristus mati di atas kayu salib, Ia telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat. Pada saat itu, Dia yang tidak berdosa (dan karenanya tidak layak menerima kutuk!), telah menjadi kutuk karena kita.

Ay 13: “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!’”.

Paulus bisa berkata bahwa Kristus telah menjadi kutuk, berdasarkan Ul 21:23 yang ia kutip dalam ay 13b. Sekarang mari kita membandingkan kedua text tersebut.

Ul 21:22-23 - “(22) ‘Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada sebuah tiang, (23) maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu.’”.

Ay 13: “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!’”.

Catatan: Kitab Suci Indonesia menggunakan kata ‘kayu salib’ dalam ay 13b dan ‘tiang’ dalam Ul 21:22-23. Tetapi baik dalam ay 13b maupun dalam Ul 21:22-23 kedua kata itu diterjemahkan sama, yaitu ‘tree’ (= pohon) oleh KJV, RSV, NIV, NASB, NKJV.

Memang dalam Perjanjian Lama tidak dikenal hukuman salib, sehingga Ul 21:23 sebetulnya tidak menunjuk pada penyaliban, tetapi menunjuk pada orang yang dihukum mati pada sebuah tiang (digantung), atau orang yang setelah dihukum mati lalu mayatnya digantungkan pada sebuah tiang (bdk. Yos 8:29 Yos 10:26-27).

Tetapi Ul 21:23 ini tentu juga berlaku terhadap penyaliban. Ini terbukti dari:

·   adanya permintaan orang-orang Yahudi untuk menurunkan mayat Yesus dan kedua penjahat sebelum hari gelap (Yoh 19:31). Ini jelas untuk mentaati perintah Tuhan dalam Ul 21:22-23 itu.
·   kata-kata Paulus dalam ay 13, mengutip Ul 21:23 ini, dan menerapkannya kepada penyaliban Kristus.

Karena Kristus ingin menebus kita dari kutuk hukum Taurat, maka kematian Kristus tidak bisa terjadi dengan cara penggal, rajam dsb, tetapi harus melalui cara yang terkutuk, yaitu penyaliban!

Memang sebetulnya kalau Kristus mati melalui hukuman gantung, maka Ia memang mengalami kematian yang terkutuk. Tetapi hukuman gantung tidak memenuhi satu persyaratan lain, yaitu kematianNya haruslah kematian yang berdarah. Mengapa harus demikian? Karena type-type tentang Kristus dalam Perjanjian Lama adalah hal-hal yang berdarah, seperti binatang untuk korban dosa, domba Paskah, dsb. Jadi, satu-satunya kematian yang bisa dialami oleh Kristus, kalau Ia mau menjadi Penebus dan pemikul kutuk kita, adalah kematian melalui salib.

Saya pernah menonton sebuah film dimana ada orang yang berkata: andaikata Kristus hidup pada abad 20, maka orang kristen tidak akan berkalungkan salib, tetapi sebuah kursi listrik kecil! Ini omong kosong yang bodoh dari orang yang tidak mengerti theologia! Kristus tidak bisa mati dengan cara dipenggal, dirajam, ditembak, melalui kamar gas ataupun kursi listrik. Ia harus mati melalui suatu kematian yang terkutuk, yaitu penyaliban, karena kalau tidak, Ia tidak memikul kutuk yang seharusnya untuk kita! Apa sebabnya orang-orang Yahudi memilih penyaliban (Mat 27:22-23)? Mengapa mereka tidak memilih perajaman seperti yang mereka lakukan terhadap Stephanus (Kis 7:58-60)? Jelas bahwa Allah ikut bekerja supaya Yesus mati melalui penyaliban, dan dengan demikian Ia bisa memikul kutuk kita!

III) Keselamatan / pembenaran karena iman.

Karena Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat, maka sekarang kita bisa diselamatkan / dibenarkan dengan sangat mudah, yaitu hanya dengan iman / percaya kepada Kristus.

Ay 11b - “karena: ‘Orang yang benar akan hidup oleh iman.’”.

Ay 14b - “oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu”.

Ay 7,9 - “(7) Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. ... (9) Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu.

Ay 24,26 - “(24) Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. ... (26) Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.

Gal 2:16 - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak ada seorangpun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat”.

Bagi saudara yang belum pernah sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, sadarilah bahwa saudara adalah orang terkutuk di hadapan Allah. Kalau saudara tidak mau percaya kepada Yesus Kristus, maka dengarlah nubuat Kristus tentang sikap dan kata-kataNya kepada orang terkutuk: “Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya” (Mat 25:41).

Tetapi sebaliknya, kalau saudara mau percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara, maka pada akhir jaman saudara akan mendengar kata-kata: “Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (Mat 25:34).

Jadi, hanya kalau saudara mau datang dan percaya kepada Kristus maka saudara akan dibebaskan dari kutuk itu dan luput dari api neraka yang kekal itu. Maukah saudara percaya kepada Kristus?

Bagi saudara yang sudah sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, berbahagialah saudara karena saudara bukan lagi orang terkutuk, karena jasa Kristus yang sudah memikul kutuk itu di kayu salib. Karena itu:

·         Hiduplah dalam kasih, pujian, syukur, dan penyerahan yang lebih besar kepada Kristus yang sudah rela memikul kutuk saudara.
·         Beritakanlah Injil kepada banyak orang di luar, yang masih ada di bawah kutuk, supaya mereka mau percaya kepada Yesus Kristus dan dibebaskan dari kutuk itu!





-AMIN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar