Rabu, 19 Maret 2014

7 KALIMAT DARI SALIB (4)


Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div


Kalimat keempat

Mat 27:46  Mark 15:34


Mat 27:46 - “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ Artinya: AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”.

Mark 15:34 - “Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eloi, Eloi, lama sabakhtani?’, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”.

1)         Ini merupakan penggenapan dari Maz 22:2a.
Maz 22:2a - “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”.

a)   Dalam Maz 22:2, kata-kata ini berlaku untuk diri Daud sendiri.
Mungkin dalam penderitaan yang hebat, ia berdoa dengan tekun, tetapi tak ada jawaban / pertolongan dari Tuhan, sehingga ia merasa / mengira bahwa Tuhan meninggalkannya.

b)   Yesus mengutip kata-kata ini pada saat Ia berada di kayu salib, dan karena itu jelaslah bahwa kata-kata ini juga merupakan suatu nubuat tentang Dia.
Kalau kita membaca Maz 22:1-19, maka akan lebih jelas lagi bahwa boleh dikatakan seluruh Mazmur ini berbicara tentang Kristus atau menubuatkan tentang Kristus. Perhatikan khususnya ay 2,8-9,16,17,19.

Maz 22:1-19 - (1) Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud. (2) Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. (3) Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang. (4) Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel. (5) KepadaMu nenek moyang kami percaya; mereka percaya, dan Engkau meluputkan mereka. (6) KepadaMu mereka berseru-seru, dan mereka terluput; kepadaMu mereka percaya, dan mereka tidak mendapat malu. (7) Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak. (8) Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya: (9) ‘Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?’ (10) Ya, Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan; Engkau yang membuat aku aman pada dada ibuku. (11) KepadaMu aku diserahkan sejak aku lahir, sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku. (12) Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong. (13) Banyak lembu jantan mengerumuni aku; banteng-banteng dari Basan mengepung aku; (14) mereka mengangakan mulutnya terhadap aku seperti singa yang menerkam dan mengaum. (15) Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku; (16) kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku. (17) Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. (18) Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku. (19) Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.

Tentang Maz 22 ini kebanyakan penafsir menganggap bahwa Mazmur itu berhubungan dengan Daud, tetapi juga dengan Yesus.

Calvin: In short, there is no doubt that Christ, in uttering this exclamation upon the cross, manifestly showed, that although David here bewails his own distresses, this psalm was composed under the influence of the Spirit of prophecy concerning David’s King and Lord (= Singkatnya, tidak ada keraguan bahwa Kristus, dalam mengucapkan seruan ini di kayu salib, dengan nyata menunjukkan, bahwa sekalipun Daud di sini meratapi penderitaannya sendiri, mazmur ini disusun di bawah pengaruh dari Roh nubuatan mengenai Raja dan Tuhan dari Daud).

Lenski: “The words of this cry are found also in Ps. 22:1, although neither Matthew nor Mark mention the fact. ... David is not speaking of himself as a type, so that Jesus would be the antitype; David is prophetically describing the suffering Messiah. ... The omniscient Spirit of prophecy alone could have placed at the head of this psalm that supreme cry of agony on the cross. For it is not due to the fact that David wrote this line that Christ made it his cry on the cross, but because Christ would thus cry out on the cross David wrote it as a prophet (= Kata-kata dari teriakan ini ditemukan dalam Maz 22:2, sekalipun baik Matius maupun Markus tidak menyebutkan fakta ini. ... Daud tidak berbicara tentang dirinya sebagai suatu type, dan Yesus sebagai anti-typenya; Daud secara bernubuat menggambarkan Mesias yang menderita. ... Hanya Roh nubuatan yang maha tahu yang bisa menaruh di kepala dari mazmur ini teriakan penderitaan yang paling hebat pada kayu salib. Karena bukan karena fakta bahwa Daud menulis kalimat ini maka Kristus membuatnya sebagai teriakanNya pada kayu salib, tetapi karena Kristus akan berteriak seperti itu maka Daud menuliskannya sebagai seorang nabi) - hal 1117,1118.
Catatan: dalam Kitab Suci Inggris ayat itu ada dalam Psalm 22:1, sedangkan dalam Kitab Suci Indonesia dalam Maz 22:2. Maz 22:1 dalam Kitab Suci Indonesia sebetulnya bukan merupakan bagian dari Kitab Suci / Firman Tuhan, tetapi merupakan judul yang ditambahkan oleh penyalin Kitab Suci.

c)   Ada penafsir-penafsir yang mengatakan bahwa mungkin di kayu salib itu Yesus bukan hanya mengucapkan Maz 22:2 tetapi seluruh Maz 22. Tetapi Lenski membantah teori / kemungkinan seperti itu, dan saya setuju dengan dia.

Lenski: “The ideas that Christ spoke aloud the entire psalm, perhaps also the following psalms, or that he spoke aloud only the first line and silently went through the rest, are without support and destroy the force of Christ’s cry” (= Gagasan-gagasan bahwa Kristus mengucapkan dengan keras seluruh mazmur, mungkin juga mazmur-mazmur setelahnya, atau bahwa Ia mengucapkan dengan keras hanya kalimat / baris pertama dan dengan diam-diam mengucapkan sisanya, tidak mempunyai dukungan dan menghancurkan kekuatan dari teriakan Kristus) - hal 1118.

Catatan: saya kira orang-orang yang menganggap bahwa Kristus mengucapkan seluruh mazmur, mengambil pandangan itu karena mereka tak mau menerima pandangan bahwa pada saat itu Yesus betul-betul ditinggalkan oleh Bapa. Jadi mereka mengatakan bahwa pada saat itu Kristus hanya membacakan Firman Tuhan tersebut, atau berdoa menggunakan Maz 22 itu. Tetapi ini jelas merupakan pandangan yang salah, dan akan saya bahas di bawah.

d)   Perbedaan antara Maz 22:2, Mat 27:46 dan Mark 15:34.
Sebetulnya perbedaan ini terjadi hanya karena bahasa yang berbeda.

Maz 22:2 - ‘Eli, Eli, lama azavtani?’
                                    (Ibrani)

Mat 27:46 - ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’
                           (Ibrani)     (Aramaic)

Mark 15:34 - ‘Eloi, Eloi, lama sabakhtani?’
                                             (Aramaic)

Barnes’ Notes (tentang Mat 27:46): “‘Eli, Eli ...’. This language is not pure Hebrew nor Syriac, but a mixture of both, called commonly ‘Syro-Chaldaic.’ This was probably the language which the Saviour commonly spoke. The words are taken from Ps. 22:1” (= ‘Eli, Eli ...’. Bahasa ini bukanlah Ibrani murni ataupun Aramaic / Syria murni, tetapi suatu percampuran dari keduanya, biasanya disebut ‘Syro-Chaldaic’. Ini mungkin merupakan bahasa yang biasanya digunakan oleh sang Juruselamat. Kata-kata itu diambil dari Maz 22:2).

Lenski: “Matthew, like Mark, has preserved the words of the cry in the original: ‘Eli, Eli (Hebrew), lama sabachtani?’ (Aramaic). Mark has ‘Eloi,’ the Aramaic instead of the Hebrew; he disregards the Hebrew form used by Jesus” [= Matius, seperti Markus, telah memelihara kata-kata dari teriakan itu dalam bahasa aslinya: ‘ELI, ELI (Ibrani), LAMA SABAKHTANI’ (Aramaic / Syria). Markus menuliskan ‘ELOI’, bentuk Aramaic / Syrianya dan bukan bentuk Ibraninya; ia mengabaikan bentuk Ibrani yang digunakan oleh Yesus] - hal 1117.

2)         Ada beberapa penafsiran tentang arti kalimat ini:

a)   Yesus tidak sungguh-sungguh ditinggal / mengalami keterpisahan dengan Allah, karena kata-kata yang Ia ucapkan itu hanyalah:
1.   Perasaan Yesus saja (bahasa jawa: Yesus kroso-krosoen), atau,
2.   Doa Yesus sambil mengutip Maz 22, atau,
3.   Perenungan Yesus tentang firman Tuhan dalam Maz 22.

Keberatan terhadap pandangan ini: kalau demikian Yesus tidak sungguh-sungguh memikul hukuman dosa kita, karena keterpisahan dengan Allah merupakan hukuman dosa!

Calvin: as he became our representative, and took upon him our sins, it was certainly necessary that he should appear before the judgment-seat of God as a sinner. ... there was before his eyes the curse of God, to which all who are sinners are exposed (= karena Ia menjadi wakil kita, dan mengambil pada diriNya dosa-dosa kita, maka pastilah merupakan sesuatu yang perlu bahwa Ia tampil di hadapan takhta pengadilan Allah sebagai / seperti seorang berdosa. ... di hadapan mataNya ada kutukan dari Allah, terhadap mana semua orang yang adalah orang-orang berdosa terbuka).

b)   Allah Anak meninggalkan Yesus sebagai manusia.
Dasar: Yesus berkata AllahKu’, bukan BapaKu’.
Keberatan terhadap pandangan ini:

1.   Dalam Luk 23:34,46 (kalimat pertama dan terakhir) Yesus tetap menyebut ‘Bapa’.

2.   Dalam inkarnasi, Anak Allah mengambil hakekat manusia, yang lalu mendapatkan kepribadiannya dalam diri Anak Allah itu. Seandainya terjadi perpisahan antara Allah Anak dan manusia Yesus, maka yang tertinggal di atas kayu salib hanyalah hakekat manusia itu. Ini tidak mungkin, karena hakekat manusia tidak bisa berada sendirian!
Catatan: untuk mengerti hal ini sepenuhnya, bacalah buku saya yang berjudul ‘CHRISTOLOGY’.

3.   Andaikata Yesus memang mati sebagai manusia saja, maka penebusan yang Ia lakukan tidak bisa mempunyai kuasa yang tidak terbatas!
Maz 49:8-9 - “(8) Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, (9) karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya”.
Dalam text ini Kitab Suci Indonesia salah terjemahan! Bandingkan dengan terjemahan NIV di bawah ini.
Maz 49:8-9 (NIV - Ps 49:6-7): “(7) No man can redeem the life of another or give to God a ransom for him - (8) the ransom for a life is costly, no payment is ever enough” [= (7) Tak seorang manusiapun bisa menebus nyawa orang lain atau memberikan kepada Allah tebusan untuk dia - (8) tebusan untuk suatu nyawa sangat mahal, tak ada pembayaran yang bisa mencukupi].
Jadi, ayat ini mengatakan bahwa manusia tak bisa menebus manusia lain. Jadi, seandainya Yesus mati hanya sebagai manusia saja, maka Ia tidak bisa menebus dosa kita. Kalaupun mau dipaksakan, maka paling banter satu orang hanya bisa menebus satu orang.

Adam Clarke: “Some suppose ‘that the divinity had now departed from Christ, and that his human nature was left unsupported to bear the punishment due to men for their sins.’ But this is by no means to be admitted, as it would deprive his sacrifice of its infinite merit, and consequently leave the sin of the world without an atonement. Take deity away from any redeeming act of Christ, and the redemption is ruined” (= Sebagian orang menganggap ‘bahwa keilahian sekarang telah pergi dari Kristus, dan bahwa hakekat manusiaNya ditinggalkan tanpa dukungan untuk memikul hukuman yang seharusnya bagi manusia untuk dosa-dosa mereka’. Tetapi ini sama sekali tidak boleh diterima, karena itu akan mencabut / menghilangkan manfaat yang tak terbatas dari pengorbananNya, dan sebagai akibatnya dosa dari dunia ditinggalkan tanpa penebusan. Ambillah keilahian dari tindakan penebusan Kristus, dan penebusan itu dihancurkan).

c)   Allah Bapa meninggalkan Yesus sebagai Allah dan manusia.

Wycliffe Bible Commentary: “The full import of this cry cannot be fathomed. But certainly its basis lay not in the physical suffering primarily, but in the fact that for a time Jesus was made sin for us (2 Cor 5:21); and in paying the penalty as the sinner’s substitute, he was accursed of God (Gal 3:13). God as Father did not forsake him (Lk 23:46); but God as Judge had to be separated from him if he was to experience spiritual death in the place of sinful men” [= Makna sepenuhnya dari teriakan ini tidak bisa dimengerti. Tetapi pastilah bahwa dasarnya tidak terletak terutama pada penderitaan fisikNya, tetapi pada fakta bahwa untuk sementara waktu Yesus dibuat menjadi dosa untuk kita (2Kor 5:21); dan dalam membayar hukuman sebagai pengganti orang berdosa, Ia dikutuk oleh Allah (Gal 3:13). Allah sebagai Bapa tidak meninggalkan Dia (Luk 23:46); tetapi Allah sebagai Hakim harus terpisah dari Dia jika Ia mau mengalami kematian rohani di tempat dari manusia berdosa].
Catatan: saya tak setuju dengan kalimat yang saya garis-bawahi. Saya tak mengerti bagaimana Wycliffe bisa memisahkan Allah sebagai Bapa dan Allah sebagai Hakim!

Lenski: “The ideas that either the physical agonies or the inner mental distress of Jesus led to this cry is unsatisfactory, since men have often suffered both and yet have felt deep inner comfort in the fact that God was with them. Nor can the forsaking of which Jesus complains be only an abandonment to the wicked power of his enemies; for this would imply that Jesus had so low an idea of God and of fellowship with him that he felt his nearness only in fortunate days and lost that feeling when his enemies seemed to triumph over him. Again, this cry was not uttered only by his human nature, as though his human nature had been unclothed of the divine and left to stand alone in these three hours of agony in the darkness. Such Nestorianism misunderstands the agony suffered on the cross. Jesus does not  lament that the divine nature or its divine powers have forsaken him, but that another person (‘thou’) has left him [= Gagasan bahwa penderitaan fisik atau batin dari Yesus membimbingNya pada teriakan ini tidak memuaskan, karena manusia telah sering mengalami penderitaan dalam kedua hal itu tetapi telah merasakan penghiburan batin yang dalam di dalam fakta bahwa Allah ada bersama dengan mereka. Juga tindakan meninggalkan yang Yesus keluhkan bukan hanya suatu tindakan meninggalkan pada kuasa jahat dari musuh-musuhNya; karena ini secara tak langsung menunjukkan bahwa Yesus mempunyai gagasan yang begitu rendah tentang Allah dan tentang persekutuan denganNya sehingga Ia merasa kedekatanNya hanya dalam hari-hari yang mujur, dan kehilangan perasaan itu pada waktu musuh-musuhNya kelihatannya menang atasNya. Juga, teriakan ini tidak diucapkan hanya oleh hakekat manusiaNya, seakan-akan hakekat manusiaNya dipisahkan dari hakekat ilahiNya dan ditinggalkan untuk berdiri sendiri dalam 3 jam penderitaan dalam kegelapan ini. Demikianlah Nestorianisme salah mengerti tentang penderitaan yang diderita di kayu salib. Yesus tidak meratap karena hakekat ilahi atau kuasa ilahi telah meninggalkanNya, tetapi karena seorang pribadi lain (‘Engkau’) telah meninggalkanNya] - hal 1118.

Lenski: “Some have supposed that, when Jesus uttered this cry, he virtually tasted of death, and that this is what he had in mind when he spoke of being forsaken of God. But Jesus died, actually died later and in his actual death was not forsaken of God, for he commended his soul into his Father’s hands. ... The forsaking is often combined with the death, yet the two are quite distinct. The forsaking had been completed before the death set in. When Jesus died he placed his soul into the hands of his Father and thus was certainly not forsaken. But while they are distinct, the forsaking and the death are closely connected. The death was the penalty for the sins of the world, and thus in connection with it this forsaking of the dying Savior was necessary. After this had been endured, Jesus could cry, ‘It is finished!’ and then yield his soul into his Father’s hands” (= Beberapa orang menduga bahwa pada waktu Yesus mengucapkan teriakan ini, Ia benar-benar merasakan kematian, dan bahwa inilah yang ada dalam pikiranNya pada waktu Ia berkata bahwa Ia ditinggalkan oleh Allah. Tetapi Yesus baru betul-betul mati belakangan, dan dalam kematianNya yang sungguh-sungguh ini Ia tidak ditinggalkan oleh Allah, karena Ia mempercayakan / menyerahkan jiwaNya ke dalam tangan BapaNya. ... ‘Keadaan ditinggalkan’ ini sering digabungkan / disatukan dengan ‘kematian’Nya, tetapi keduanya berbeda. ‘Keadaan ditinggalkan’ itu telah selesai sebelum ‘kematian’ tiba. Pada waktu Yesus mati Ia menempatkan jiwaNya ke dalam tangan BapaNya dan dengan demikian jelas Ia tidak ditinggalkan. Tetapi sekalipun kedua hal itu berbeda, ‘keadaan ditinggalkan’ dan ‘kematian’ berhubungan dekat. ‘Kematian’ adalah hukuman untuk dosa-dosa dunia, dan karena itu dalam hubungan dengannya ‘keadaan ditinggalkan’ dari sang Juruselamat yang sedang sekarat itu diperlukan. Setelah ini ditanggung, Yesus bisa berteriak, ‘Sudah selesai!’ dan lalu menyerahkan jiwaNya ke dalam tangan BapaNya) - hal 1118,1120-1121.

Lenski: “We must note the difference between Jesus’ experience in Gethsemane and that on Golgotha. In the garden Jesus has a God who hears and strengthens him; on the cross this God has turned wholly away from him. During those three black hours Jesus was made sin for us (2Cor. 5:21), was made a curse for us (Gal. 3:13), and thus God turned completely away from him. ... With his dying powers he cries to God and now no longer sees in him the Father, for a wall of separation has risen between the Father and the Son, namely the world’s sin and its curse as they now lie upon the Son” [= Kita harus memperhatikan perbedaan antara pengalaman Yesus di Getsemani dan di Golgota. Dalam taman (Getsemani), Yesus mempunyai Allah yang mendengarNya dan menguatkanNya; di kayu salib, Allah ini sepenuhnya berbalik dari Dia. Selama 3 jam yang gelap itu Yesus dibuat menjadi dosa untuk kita (2Kor 5:21), dibuat menjadi kutuk untuk kita (Gal 3:13), dan karena itu Allah berbalik sepenuhnya dari Dia. ... Dengan kekuatanNya dalam keadaan sekarat itu Ia berteriak kepada Allah dan sekarang tidak lagi melihat sang Bapa dalam diriNya, karena suatu tembok pemisah telah muncul di antara Bapa dan Anak, yaitu dosa dunia dan kutuknya pada waktu keduanya sekarang terletak pada diri Anak] - hal 1119.

2Kor 5:21 - “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”.

Gal 3:13 - “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!’”.

Lenski: “What is involved in the fact that God forsook or abandoned Jesus during those three awful hours no man can really know. The nearest we can hope to come toward penetrating this mystery is to think of Jesus as being covered with the world’s sins and curse and that, when God saw Jesus thus, he turned away from him. The Son of God bore our sin and its curse in his human nature, this nature supported by the divine” (= Apa yang tercakup dalam fakta bahwa Allah meninggalkan Yesus selama 3 jam yang mengerikan itu tak seorangpun bisa sungguh-sungguh mengertinya. Hal terdekat yang bisa kita harapkan untuk datang menembus misteri ini adalah menganggap Yesus sebagai ditutupi dengan dosa-dosa dunia dan kutuk, dan bahwa pada waktu Allah melihat Yesus dalam keadaan seperti itu, Ia berbalik dariNya. Anak Allah memikul dosa kita dan kutuknya dalam hakekat manusiaNya, hakekat ini ditopang oleh hakekat ilahi) - hal 1119.

Keberatan terhadap pandangan ini: terjadi perpisahan dalam diri Allah Tritunggal.

Jawaban atas keberatan ini:

1.   Ini memang merupakan misteri yang tidak bisa kita mengerti sepenuhnya.

Word Biblical Commentary: Jesus as the sin-bearing sacrifice (cf. 1:21; 20:28; 26:28) must endure the temporary abandonment of his Father, i.e., separation from God. ... it is impossible to assess what this may have meant to Jesus. This is one of the most impenetrable mysteries of the entire Gospel narrative [= Yesus sebagai korban pemikul dosa (bdk. 1:21; 20:28; 26:28) harus menanggung keadaan ditinggalkan secara sementara oleh BapaNya, yaitu keterpisahan dari Allah. ... adalah mustahil untuk menilai apa artinya hal ini bagi Yesus. Ini merupakan salah satu misteri yang paling tak bisa dimasuki / dimengerti dalam seluruh cerita Injil].

2.   Perpisahan Allah Bapa dengan Allah Anak bukan bersifat lokal, seakan-akan yang satu ada di sini dan yang lain ada di sana. Perpisahan secara lokal ini tidak mungkin terjadi karena baik Bapa maupun Anak adalah Allah yang maha ada. Jadi perpisahan ini hanyalah dalam persoalan hubungan / persekutuan saja.
Memang hancurnya hubungan / persekutuan antara Allah dan manusia merupakan hukuman dosa, dan hukuman inilah yang dipikul oleh Kristus!

Bagusnya pandangan ini:

a.   Kristus betul-betul memikul hukuman dosa.
Lenski: “only thus, by actually forsaking Jesus, could the full price of our redemption be paid. To be forsaken of God is undoubtedly to taste his wrath. Jesus endured the full penalty for our sins when God turned from him for three hours while Jesus hung on the cross. During those hours the penalty was paid to the uttermost farthing; and after that had been done, God again turned to Jesus” (= hanya dengan demikian, dengan Yesus betul-betul ditinggalkan, barulah harga penuh dari penebusan kita dibayar. Ditinggalkan oleh Allah tak diragukan berarti merasakan murkaNya. Yesus menanggung hukuman penuh untuk dosa-dosa kita pada waktu Allah berbalik dariNya selama 3 jam pada waktu Yesus tergantung pada kayu salib. Selama jam-jam itu hukuman dibayar sampai sen yang terakhir; dan setelah hal itu telah dilakukan, Allah berbalik kepada Yesus lagi) - hal 1120.

Pulpit Commentary: “He was ‘left’ that he might bear man’s sins in their full and crushing weight, and by bearing save” (= Ia ‘ditinggalkan’ supaya Ia bisa menanggung dosa-dosa manusia dalam beratnya yang penuh dan menghancurkan, dan dengan menanggungnya, Ia menyelamatkan) - hal 593.

b.   Karena Kristus memikul hukuman dosa itu sebagai Allah dan manu­sia, maka penebusanNya mempunyai kuasa yang tak terbatas!
Catatan: ini tidak bertentangan dengan doktrin Limited Atonement (= Penebusan Terbatas), karena yang di sini dibicarakan adalah kuasa penebusan, dan itu memang tak terbatas. Sedangkan dalam doktrin Limited Atonement (= Penebusan Terbatas) itu yang dianggap terbatas adalah design / tujuan dari penebusan itu.

3)   Sedih, tetapi tetap beriman.

a)   Kesedihan.
Kata ‘mengapa’ dalam ay 46 ini tidak menunjukkan bahwa Kristus betul-betul tidak tahu apa sebabnya Ia ditinggalkan oleh BapaNya, tetapi hanya merupakan ungkapan kesedihan karena Ia ditinggal oleh BapaNya.

Dalam hal ini menurut saya Lenski memberikan penafsiran yang saya anggap salah.
Lenski: “The matter that is hidden from Jesus in this fearful ordeal is the object God has in forsaking Jesus. ... We need not be surprised to hear from Jesus himself that this purpose was hidden from him; for in his humiliation other things, too, were kept from him (24:36)” [= Hal yang tersembunyi dari Yesus dalam siksaan yang menakutkan ini adalah tujuan Allah dalam meninggalkan Yesus. ... Kita tidak perlu heran mendengar dari Yesus sendiri bahwa tujuan ini disembunyikan dari Dia; karena dalam perendahanNya hal-hal lain juga ditahan dari Dia (24:36)] - hal 1120.

Saya berpendapat ini tak bisa disamakan dengan Mat 24:36 (tentang Yesus tak tahu hari Tuhan), karena dalam hal ini Yesus tahu tujuan kedatanganNya ke dalam dunia (bdk. Yoh 12:27). Di taman Getsemani Ia sangat takut, dan yang Ia takuti jelas adalah hal ini. Jadi, kata ‘mengapa’ di sini bukan merupakan wujud dari ketidak-tahuan, tetapi merupakan suatu ungkapan kesedihan.

b)   Iman.
Kata ‘AllahKu’ yang diulang sampai 2 x, menunjukkan bahwa dalam kesedihan yang terdalam itu, Ia tetap beriman dan berpegang kepada BapaNya.

Calvin: it should be marked, that Christ, although subject to human passions and affections, never fell into sin through the weakness of the flesh; for the perfection of his nature preserved him from all excess (= harus diperhatikan bahwa Kristus, sekalipun tunduk pada penderitaan dan perasaan manusia, tidak pernah jatuh ke dalam dosa karena kelemahan daging; karena kesempurnaan dari hakekatNya menjagaNya dari semua yang berlebihan).

Arthur W. Pink: “It was a cry of distress but not of distrust. God had withdrawn from Him, but mark how His soul still cleaves to God” (= Itu merupakan suatu teriakan kesedihan tetapi bukan ketidak-percayaan. Allah telah meninggalkanNya tetapi perhatikan bagaimana jiwaNya tetap berpaut kepada Allah) - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 75.

c)   Ini merupakan teladan bagi kita.
Arthur W. Pink: “O what an example has the Saviour left His people! It is comparatively easy to trust God while the sun is shining, the test comes when all is dark. But a faith that does not rest on God in adversity as well as in prosperity is not the faith of God’s elect: ... Fellow-Christian, all may be dark with thee, you may no longer behold the light of God’s countenance. Providence seems to frown upon you, notwithstanding, say still ‘Eli, Eli, My God, My God.’” (= Ini betul-betul merupakan suatu teladan yang telah ditinggalkan oleh sang Juruselamat bagi umatNya! Merupakan sesuatu yang relatif mudah untuk mempercayai Allah pada waktu matahari bersinar; ujian datang pada waktu semua gelap. Tetapi iman yang tidak bersandar kepada Allah dalam kesengsaraan maupun kemakmuran bukanlah iman dari orang-orang pilihan Allah: ... Rekan-rekan Kristen, semua mungkin gelap dengan engkau, engkau mungkin tidak lagi melihat terang dari wajah Allah. Providensia kelihatannya merengut kepadamu, tetapi tetaplah berkata: ‘Eli, Eli, Allahku, Allahku’.) - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 76-77.

4)         Ini merupakan penderitaan terberat bagi Yesus
Matthew Henry: “that Christ’s being forsaken of his Father was the most grievous of his sufferings, and that which he complained most of. Here he laid the most doleful accents; he did not say, ‘Why am I scourged? And why spit upon? And why nailed to the cross?’ Nor did he say to his disciples, when they turned their back upon him, ‘Why have ye forsaken me?’ But when his Father stood at a distance, he cried out thus” (= bahwa Kristus ditinggal oleh BapaNya merupakan penderitaanNya yang paling menyedihkan, dan yang paling Ia keluhkan. Di sini Ia memberikan aksenNya yang paling muram; Ia tidak berkata: ‘Mengapa Aku disesah / dicambuki? Dan mengapa Aku diludahi? Dan mengapa Aku dipakukan pada kayu salib?’ Juga Ia tidak berkata kepada murid-muridNya, pada waktu mereka meninggalkanNya, ‘Mengapa kalian meninggalkan Aku?’. Tetapi pada waktu BapaNya meninggalkanNya, Ia berteriak seperti itu).

Ini merupakan penderitaan yang terberat, karena:

a)   Ini merupakan penderitaan rohani.
Setiap orang yang pernah mengalami penderitaan rohani tahu bahwa penderitaan rohani lebih berat dari penderitaan jasmani.

b)   Yesus selalu dekat dengan BapaNya, tetapi sekarang harus terpisah.
1.   Orang yang berdosa / orang dunia memang tidak peduli kalau dirinya tidak mempunyai hubungan dengan Allah. Tetapi kalau orang itu adalah orang kristen, makin rohani orang itu, makin akan merasa berat kalau menjauh dari Bapa. Apalagi Yesus!
2.   Makin dua orang saling mengasihi, makin berat dan menyakitkan kalau terjadi perpisahan. Dan tidak ada dua pribadi manapun yang kedekatannya seperti Yesus dengan Bapa!

c)   Yesus ditinggal justru di puncak penderitaanNya, yaitu pada saat Ia sedang menderita di atas kayu salib. Ada 2 hal yang perlu diperhatikan:
1.         Pada saat-saat lain, Yesus selalu merasakan kehadiran BapaNya.
2.   Biasanya orang-orang yang hampir mati syahid selalu merasakan kehadiran Allah.
Contoh: Stephanus dalam Kis 7:56 - “Lalu katanya: ‘Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.’”.
Tetapi pada saat Yesus menderita secara luar biasa dan mau mati, Ia justru ditinggal oleh Allah!

Matthew Henry: “When his soul was first troubled, he had a voice from heaven to comfort him (Jn. 12:27-28); when he was in his agony in the garden, there appeared an angel from heaven strengthening him; but now he had neither the one nor the other. God hid his face from him, and for awhile withdrew his rod and staff in the darksome valley” [= Pada waktu jiwaNya susah, Ia mendapatkan suara dari surga untuk menghiburNya (Yoh 12:27-28); pada waktu Ia ada dalam penderitaanNya di taman (Getsemani), di sana muncul seorang malaikat dari surga untuk menguatkanNya; tetapi sekarang Ia tidak mendapatkan yang manapun dari keduanya. Allah menyembunyikan wajahNya dariNya, dan untuk sementara menarik tongkat dan gadaNya dalam lembah kegelapan].

Bandingkan dengan ayat-ayat ini:
·         Yoh 12:27-28 - “(27) Sekarang jiwaKu terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. (28) Bapa, muliakanlah namaMu!’ Maka terdengarlah suara dari sorga: ‘Aku telah memuliakanNya, dan Aku akan memuliakanNya lagi!’.
·         Luk 22:41-43 - “(41) Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kataNya: (42) ‘Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari padaKu; tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi." (43) Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepadaNya untuk memberi kekuatan kepadaNya.

Karena itu, jelas bahwa pada waktu Yesus mengalami ketakutan di taman Getsemani, sebetulnya bukan penderitaan fisik (cambuk, salib), penghinaan, keadaan ditinggal / dikhianati oleh murid-muridNya dsb yang Ia takuti, tetapi peristiwa inilah yang Ia takuti.

5)   Mengapa Yesus harus mengalami semua ini? Tidak cukupkah penghinaan, pukulan, cambukan, penyaliban yang Ia terima?

Jawabnya: tidak cukup, karena:

a)   Manusia terdiri dari tubuh dan roh. Karena itu Yesus harus mengalami penderitaan jasmani maupun rohani.

b)   Karena dosa memisahkan Allah dan manusia.
Kej 3:23-24 - “(23) Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. (24) Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkanNyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan”.
Yes 59:1-2 - “(1) Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar; (2) tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu”.
Mat 25:41 - “Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiriNya: Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya”.
2Tes 1:9 - “Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatanNya”.

Arthur W. Pink: “Sin excludes from God’s presence. That was the great lesson taught Israel. Jehovah’s throne was in their midst, yet was it not accessible. He abode between the cherubim in the holy of holies and into it none might come, saving the high priest, and he but one day in the year bearing blood with him. The Veil which hung both in the tabernacle and in the temple, barring access to the throne of God, witnessed to the solemn fact that sin separates from Him” (= Dosa menjauhkan dari kehadiran Allah. Itu merupakan pelajaran yang besar yang dipelajari oleh Israel. Takhta Yehovah ada di tengah-tengah mereka, tetapi tak bisa dimasuki. Ia tinggal di antara kerubim dalam Ruang Maha Suci, dan ke dalamnya tak seorangpun boleh datang, kecuali imam besar, dan iapun hanya satu hari dalam satu tahun membawa darah dengannya. Tirai yang tergantung baik dalam Kemah Suci maupun dalam Bait Allah, menghalangi jalan masuk ke takhta Allah, memberikan kesaksian pada fakta yang keramat / kudus bahwa dosa memisahkan dari Dia) - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 69.

Karena itu kalau Yesus mau memikul hukuman dosa kita, Ia harus mengalami keterpisahan itu. Keterpisahan dengan Bapa ini menyebabkan terjadinya hal-hal yang bertentangan dengan biasanya.

Arthur W. Pink: “The forsaking of the Redeemer by God was a solemn fact, ... Our Saviour’s position on the Cross was absolutely unique. This may readily be seen by contrasting His own words spoken during His public ministry with those uttered on the Cross itself. Formerly He said, ‘And I knew that Thou hearest Me always’ (John 11:42); now He cries, ‘O My God, I cry in the day time, but Thou hearest not’ (Psa. 22:2)! Formerly He said, ‘And He that sent Me is with Me; the Father hath not left Me alone’ (John 8:29); now He cries, ‘My God, My God, why hast thou forsaken Me?’” [= Tindakan meninggalkan oleh Allah terhadap sang Penebus merupakan suatu fakta yang keramat / kudus, ... Posisi sang Juruselamat pada kayu salib adalah unik secara mutlak. Ini bisa dengan mudah terlihat dengan mengkontraskan kata-kataNya sendiri dalam sepanjang pelayanan umumNya dengan kata-kataNya yang diucapkan pada kayu salib itu. Dahulu Ia berkata, ‘Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku’ (Yoh 11:42); sekarang Ia berteriak, ‘Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab’ (Maz 22:3)! Dahulu Ia berkata, ‘Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri’ (Yoh 8:29); sekarang Ia berteriak, ‘AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?’] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 75.
Catatan: sebetulnya Maz 22:3 tidak diucapkan oleh Yesus di kayu salib.

6)   Ini merupakan peristiwa yang menunjukkan keadilan dan kesucian Allah secara paling menyolok.

Arthur W. Pink: “Not all the thunderbolts of Divine judgment which were let loose in Old Testament times, not all the vials of wrath which shall yet be poured forth on an apostate Christendom during the unparalleled horrors of the Great Tribulation, not all the weeping and wailing and gnashing of teeth of the damned in the Lake of Fire ever gave, or ever will give such a demonstration of God’s inflexible justice and ineffable holiness, of His infinite hatred of sin, as did the wrath of God which flamed against His own Son on the Cross. ... This, then, is the true explanation of Calvary. God’s holy character could not do less than judge sin even though it be found on Christ Himself. At the Cross then God’s justice was satisfied and His holiness vindicated” (= Tidak semua petir dari penghakiman ilahi yang dilepaskan dalam jaman Perjanjian Lama, tidak semua botol kemurkaan yang akan dicurahkan pada orang-orang kristen yang murtad dalam sepanjang kengerian yang tak ada bandingannya dari Masa Kesukaran Besar, tidak semua tangisan dan ratapan dan kertakan gigi dari orang-orang terkutuk dalam lautan api, pernah memberikan, atau akan memberikan, demonstrasi seperti itu dari keadilan yang kaku dan kekudusan / kesucian yang tak terlukiskan, dari kebencianNya yang tak terhingga terhadap dosa, seperti yang dilakukan oleh kemurkaan Allah yang menyala terhadap AnakNya sendiri di kayu salib. ... Maka, inilah penjelasan yang sebenarnya dari Kalvari. Karakter yang kudus / suci dari Allah tidak bisa melakukan kurang dari  menghakimi dosa, sekalipun itu ditemukan pada diri Kristus sendiri. Maka pada salib keadilan Allah dipuaskan dan kekudusan / kesucianNya dipertahankan) - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 72-73.

7)         Karena Yesus sudah mengalami keterpisahan ini, maka:

a)   Orang berdosa yang terpisah / tidak mempunyai hubungan dengan Allah, akan diperdamaikan dengan Allah kalau ia percaya kepada Yesus.

Ro 5:1 - “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus”.

2Kor 5:18-21 - “(18) Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diriNya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. (19) Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. (20) Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. (21) Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”.

Ef 2:13-19 - “(13) Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’, sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus. (14) Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, (15) sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, (16) dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. (17) Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang ‘jauh’ dan damai sejahtera kepada mereka yang ‘dekat’, (18) karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. (19) Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah”.

Penerapan: sudahkah saudara mempunyai hubungan atau berdamai dengan Allah? Ingatlah bahwa sebaik apapun saudara hidup, dan agama apapun yang saudara anut, kalau saudara belum datang dan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara, maka saudara adalah musuh Allah! Datanglah dan percayalah kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara, maka saudara akan diperdamaikan dengan Allah!

b)   Orang kristen yang sudah diperdamaikan dengan Allah, tidak bisa lagi mengalami keterpisahan dari Allah, baik di dunia ini maupun di dalam kekekalan.

C. H. Spurgeon: the only solution of the mystery is this, Jesus Christ was forsaken of God because we deserved to be forsaken of God. He was there, on the cross, in our room, and place, and stead; and as the sinner, by reason of his sin, deserves not to enjoy the favour of God, so Jesus Christ, standing in the place of the sinner, and enduring that which would vindicate the justice of God, had to come under the cloud, as the sinner must have come, if Christ had not taken his place. But, then, since he has come under it, let us recollect that he was thus left of God that you and I, who believe in him, might never be left of God. Since he, for a little while, was separated from his Father, we may boldly cry, ‘Who shall separate us from the love of Christ?’ (Rom 8:35) and, with the apostle Paul, we may confidently affirm that nothing in the whole universe ‘shall be able to separate us from the love of God, which is in Christ, Jesus our Lord’ (Rom 8:39) [= satu-satunya solusi dari misteri ini adalah ini, Yesus Kristus ditinggalkan oleh Allah karena kita layak ditinggalkan oleh Allah. Ia ada di sana, di kayu salib, di tempat / kedudukan kita; dan karena orang berdosa, karena dosanya, layak untuk tidak menikmati kebaikan Allah, maka Yesus Kristus, berdiri di tempat dari orang berdosa, dan menanggung apa yang mempertahankan keadilan Allah, harus datang di bawah awan, sebagaimana orang berdosa harus datang seandainya Kristus tidak mengambil tempatnya. Tetapi, karena Ia telah datang di bawahnya, hendaklah kita mengingat kembali bahwa Ia ditinggalkan seperti itu oleh Allah supaya engkau dan aku, yang percaya kepadaNya, tidak pernah ditinggalkan oleh Allah. Karena Ia, untuk waktu yang singkat, terpisah dari BapaNya, kita bisa dengan berani berteriak, ‘Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?’ (Ro 8:35) dan, bersama dengan rasul Paulus, kita bisa dengan yakin menegaskan bahwa tidak ada apapun di seluruh alam semesta ‘akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita’ (Ro 8:39)] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 4, hal 321.

Bdk. Ibr 13:5b - “Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.’”.

Ada beberapa ajaran yang bertentangan dengan doktrin ini:

1.   Orang kristen yang berbuat dosa akan ditinggal oleh Roh Kudus, dan kalau ia bertobat ia harus mengundang Yesus untuk masuk ke dalam dirinya lagi.
Ini jelas adalah ajaran yang salah! Kita bisa merasa ditinggal oleh Allah, tetapi tidak bisa betul-betul ditinggal oleh Allah, karena Yesus sudah mengalami hal itu untuk kita!

2.   Orang kristen bisa kehilangan keselamatannya. Ini berarti bahwa ia terpisah dari Allah dalam kekekalan. Ini lagi-lagi merupakan suatu ajaran yang salah, karena kita tak mungkin mengalami keterpisahan dari Allah karena hal ini sudah dialami oleh Yesus bagi kita!

Arthur W. Pink: “Here then is the basis of our Salvation. Our sins have been borne. God’s claims against us have been fully met. Christ was forsaken of God for a season that we might enjoy His presence for ever” (= Maka inilah dasar dari Keselamatan kita. Dosa-dosa kita telah ditanggung / dipikul. Tuntutan Allah terhadap kita telah dipenuhi sepenuhnya. Kristus ditinggalkan oleh Allah untuk sementara supaya kita bisa menikmati kehadiranNya selama-lamanya) - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 80.

8)   Kata-kata Kristus ini juga menunjukkan nasib dari orang-orang yang tidak percaya sampai akhir.

Arthur W. Pink: “The cry of the Saviour’s foretells the final condition of every lost soul - forsaken of God! ... this Cry of Christ’s witnesses to God’s hatred of sin. Because He is holy and just, God must judge sin wherever it is found. If then God spared not the Lord Jesus when sin was found on Him, what possible hope is there, unsaved reader, that He will spare thee when thou standest before Him at the great white throne with sin upon thee? If God poured out His wrath on Christ while He hung as Surety for His people, be assured that He will most certainly pour out His wrath on you if you die in your sins. ... God ‘spared not’ His own Son when He took the sinner’s place, nor will He spare him who rejects the Saviour. Christ was separated from God for three hours, and if you finally reject Him as your Saviour you will be separated from God for ever” (= Teriakan dari sang Juruselamat meramalkan keadaan akhir dari setiap jiwa yang terhilang - ditinggalkan oleh Allah! ... Teriakan dari Kristus ini memberi kesaksian tentang kebencian Allah terhadap dosa. Karena Ia kudus / suci dan benar, Allah harus menghakimi dosa dimanapun itu ditemukan. Karena itu, kalau Allah tidak menyayangkan Tuhan Yesus pada waktu dosa ditemukan pada Dia, kemungkinan pengharapan apa yang ada di sana, pembaca yang belum diselamatkan, bahwa Ia akan menyayangkan engkau pada waktu engkau berdiri di hadapanNya pada takhta putih dan besar dengan dosa padamu? Jika Allah mencurahkan kemurkaanNya kepada Kristus pada waktu Ia tergantung sebagai Jaminan / Penanggung bagi umatNya, yakinlah bahwa Ia pasti akan mencurahkan murkaNya kepadamu jika engkau mati dalam dosa-dosamu. ... Allah ‘tidak menyayangkan’ AnakNya sendiri pada waktu Ia mengambil tempat dari orang berdosa, dan Ia juga tidak akan menyayangkan dia yang menolak sang Juruselamat. Kristus dipisahkan dari Allah selama 3 jam, dan jika engkau akhirnya menolak Dia sebagai Juruselamatmu, engkau akan dipisahkan dari Allah untuk selama-lamanya) - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 82,83,84.

Bdk. 2Tes 1:9 - “Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatanNya”.



-o0o-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar