Rabu, 19 Maret 2014

7 KALIMAT DARI SALIB (7)


Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div


Kalimat ketujuh

Luk 23:46


Luk 23:46 - “Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya”.

Ayat-ayat lain yang berhubungan dengan Luk 23:46 adalah:
·         Mat 27:50 - “Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawaNya”.
·         Mark 15:37 - “Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawaNya (EXEPNEUSEN).
·         Yoh 19:30 - “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya.

Catatan: semua kata ‘nyawa’ dalam Mat 27:50  Luk 23:46a dan Yoh 19:30 seharusnya adalah ‘roh’ (Yunani: PNEUMA). Tetapi kata-kata ‘menyerahkan nyawaNya’ dalam Mark 15:37 dan Luk 23:46b adalah EXEPNEUSEN. Kata Yunani ini juga muncul dalam Mark 15:39.
A. T. Robertson dalam tafsirannya tentang Luk 23:46 mengatakan bahwa kata Yunani EXEPNEUSEN berasal dari kata Yunani EKPNEO, yang berasal dari akar kata PNEUMA.

I) Kata-kata ini dikutip dari kata-kata Daud dalam Perjanjian Lama.


1)   Kalimat ini merupakan bagian dari Kitab Suci (Perjanjian Lama).
A. T. Robertson mengatakan bahwa kata-kata yang Yesus ucapkan dalam Luk 23:46 itu dikutip dari Maz 31:6 - Ke dalam tanganMulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia”.
Matthew Henry juga berpandangan seperti A. T. Robertson dalam hal ini.

Perhatikan bahwa Kristus hanya mengutip / mengucapkan Maz 31:6a, tetapi tidak Maz 31:6b. Mengapa? Adam Clarke mengatakan karena memang hanya Maz 31:6a yang cocok dengan Dia, sedangkan Maz 31:6b-nya tidak cocok. William Hendriksen juga berpendapat sama dengan Clarke.
Ada penafsir seperti Jamieson, Fausset & Brown yang mengatakan bahwa Maz 31:6b juga berlaku untuk Kristus, dan menunjuk pada pembebasan Kristus oleh Bapa dari Setan, kematian dan kubur, dalam kebangkitanNya dari antara orang mati.
Tetapi saya lebih setuju dengan tafsiran Clarke / William Hendriksen.

Matthew Henry (tentang Luk 23:46): “He borrowed these words from his father David (Ps. 31:5); not that he needed to have words put into his mouth, but he chose to make use of David’s words to show that it was the Spirit of Christ that testified in the Old-Testament prophets, and that he came to fulfil the scripture. Christ died with scripture in his mouth. Thus he directs us to make use of scripture language in our addresses to God” [= Ia meminjam kata-kata ini dari nenek moyangNya, Daud (Maz 31:6); bukan bahwa Ia butuh kata-kata untuk diletakkan ke dalam mulutNya, tetapi Ia memilih untuk menggunakan kata-kata Daud untuk menunjukkan bahwa adalah Roh Kristus yang bersaksi dalam nabi-nabi Perjanjian Lama, dan bahwa Ia datang untuk menggenapi Kitab Suci. Kristus mati dengan Kitab Suci di mulutNya. Demikianlah Ia mengarahkan kita untuk menggunakan bahasa / kata-kata dari Kitab Suci dalam berbicara kepada Allah].

Albert Barnes, dalam tafsirannya tentang Maz 31:6, mengatakan bahwa sekalipun Kristus menggunakan kata-kata dalam Maz 31:6a, itu tidak berarti bahwa kata-kata itu betul-betul menunjuk kepada Dia, dan merupakan suatu nubuat yang lalu digenapi olehNya. Ia mengucapkan kata-kata itu, hanya karena kata-kata itu cocok dengan Dia.

Barnes’ Notes (tentang Maz 31:5): this does not prove that the psalm had originally a reference to him, or that he meant to intimate that the words originally were a prophecy. The language was appropriate for him, as it is for all others in the hour of death; and his use of the words furnished the highest illustration of their being appropriate in that hour. The act of the psalmist was an act of strong confidence in God in the midst of dangers and troubles; the act of the Saviour was of the same nature, commending his spirit to God in the solemn hour of death” (= ini tidak membuktikan bahwa mazmur itu dari semula mempunyai hubungan dengan Dia, atau bahwa Ia memaksudkan untuk menunjukkan bahwa kata-kata itu dari semula merupakan suatu nubuat. Bahasa / kata-kata itu cocok bagi Dia, seperti itu cocok bagi semua orang lain pada saat kematian; dan penggunaan kata-kata ini olehNya memberikan ilustrasi tertinggi tentang kecocokan kata-kata itu pada saat itu. Tindakan dari si pemazmur merupakan tindakan dari keyakinan yang kuat kepada Allah di tengah-tengah bahaya dan kesukaran; tindakan dari sang Juruselamat merupakan tindakan yang sifatnya sama, menyerahkan rohNya kepada Allah pada saat yang khidmat dari kematian).

2)   Perbedaan Daud dan Yesus dalam mengucapkan kalimat ini.
Lenski, dalam tafsirannya tentang Luk 23:46, menekankan perbedaan antara Daud dan Yesus, dalam mengucapkan kata-kata ini, yaitu:
a)   Yesus menambahkan kata ‘Bapa’, yang tidak ada dalam Maz 31:6.
Ingat bahwa dalam arti sebenarnya, Yesus adalah satu-satunya Anak dari Bapa, dan karena itu Ia disebut sebagai Anak Tunggal (Yoh 1:14,18).
b)   Pada saat Daud mengucapkan kata-kata itu, ia bukannya sedang sekarat / mau mati. Kata-kata itu diucapkan justru supaya ia luput dari kematian. Sedangkan Kristus mengucapkan kata-kata itu pada saat mau mati. Dia bukannya mengucapkan kata-kata itu supaya diluputkan dari kematian.
c)   Daud mengucapkan kata-kata itu pada saat ia sedang ada dalam kesukaran, dan ia mengucapkan kata-kata itu supaya Allah menolongnya dari kesukaran itu. Kristus mengucapkan kata-kata itu, setelah Ia mengucapkan kata-kata ‘Sudah selesai’, dan jelas menunjukkan bahwa kesukaran yang Ia alami memang sudah lewat, dan karena itu, Ia lalu menyerahkan rohNya ke dalam tangan Bapa.

Lenski (tentang Luk 23:46): “The appropriation of David’s words on the part of Jesus is thus to be understood only in a limited sense and should not be stressed beyond this narrow limitation” (= Karena itu, kecocokan kata-kata Daud pada pihak Yesus harus dimengerti hanya dalam arti yang terbatas, dan tidak boleh ditekankan melebihi batasan yang sempit ini) - hal 1153.

II) Kematian yang sengaja dan sukarela dari Yesus.


Ini merupakan kematian yang sukarela dan disengaja oleh Yesus. Bukti-bukti berkenaan dengan kesengajaan dan kesukarelaan dari kematian Yesus ini:

1)   Ayat-ayat di atas mengatakan bahwa Yesus ‘menyerahkan nyawa / rohNya’.
Bahwa Yesus menyerahkan rohNya, menunjukkan bahwa:

a)         KematianNya merupakan tindakan aktif.
Untuk menunjukkan kelahiranNya, Ia sering menggunakan kata ‘datang’ yang menunjukkan tindakan aktif (Yoh 1:11  10:10 dsb).
Sekarang untuk menunjukkan kematianNya, Ia menggunakan kata ‘Kuserahkan rohKu’ yang juga merupakan tindakan aktif.
Semua ini menunjukkan bahwa Yesus bukan sekedar manusia biasa, tetapi juga adalah Allah sendiri!

Catatan: kata-kata Yesus ini sekalipun mirip, tetapi berbeda, dengan kata-kata Stefanus: “Tuhan Yesus, terimalah rohku” (Kis 7:59). Kata-kata Stefanus ini tidak menunjuk pada tindakan aktif, dan juga tidak menunjukkan bahwa Ia mati oleh kehendaknya sendiri. Kata-kata Stefanus ini hanya merupakan suatu permohonan supaya rohnya diterima oleh Yesus.

Arthur W. Pink: “The uniqueness of our Lord’s action may be seen by comparing His words on the Cross with those of dying Stephen. As the first Christian martyr came to the brink of the river, he cried, ‘Lord Jesus, receive my spirit’ (Acts 7:59). But in contrast with this Christ said, ‘Father, into Thy hands I commend My spirit.’ Stephen’s spirit was being taken from him. Not so with the Saviour. None could take from Him His life. He ‘gave up’ His spirit” [= Keunikan dari tindakan Tuhan kita bisa terlihat dengan membandingkan kata-kataNya di kayu salib dengan kata-kata dari Stefanus yang sedang sekarat. Pada waktu martir Kristen pertama itu sampai di tepi sungai, ia berseru: ‘Tuhan Yesus, terimalah rohku’ (Kis 7:59). Tetapi kontras dengan ini Kristus berkata: ‘Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan rohKu’. Roh Stefanus diambil dari dia. Tidak demikian dengan sang Juruselamat. Tidak seorangpun bisa mengambil nyawaNya dari Dia. Ia ‘menyerahkan’ rohNya] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 5.
Catatan: ‘sampai di tepi sungai’ menunjuk pada perbatasan antara hidup dan mati.

b)         Ia mati karena kehendakNya sendiri.
Bdk. Yoh 10:17-18 - “(17) Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali. (18) Tidak seorangpun mengambilnya dari padaKu, melainkan Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari BapaKu.’”.
William Hendriksen: “He gave it. No one took it away from him. He laid down his life” (= Ia menyerahkannya. Tidak seorangpun yang mengambilnya dari Dia. Ia menyerahkan nyawaNya) - hal 435.
A. T. Robertson (tentang Mat 27:50) mengutip kata-kata Agustinus: “He gave up his life because he willed it, when he willed it, and as he willed it” (= Ia menyerahkan nyawaNya karena Ia menghendakinya, pada saat Ia menghendakinya, dan sebagaimana Ia menghendakinya).

Arthur W. Pink: “The Death of Christ was super-natural. By this we mean that it was different from every other death. In all things He has the pre-eminence. His birth was different from all other births. His life was different from all other lives. And His death was different from all other deaths. This was clearly intimated in His own utterance upon the subject - ‘Therefore doth My Father love Me, because I lay down My life, that I might take it again. No man taketh it from Me, but I lay it down Myself. I have power to take it again’ (John 10:17,18)” [= Kematian Kristus merupakan sesuatu yang bersifat supra natural. Dengan ini kami memaksudkan bahwa kematianNya itu berbeda dengan setiap kematian yang lain. Dalam segala hal Ia mempunyai keunggulan. KelahiranNya berbeda dengan semua kelahiran yang lain. KehidupanNya berbeda dengan semua kehidupan yang lain. Dan kematianNya berbeda dengan semua kematian yang lain. Ini dengan jelas ditunjukkan dalam ucapanNya sendiri tentang hal ini - ‘Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari padaKu, melainkan Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali’ (Yoh 10:17-18)] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 3.

Adam Clarke (tentang Mat 27:50): “as giving up the spirit, ghost, or soul, is an act not proper to man, though commending it to God, in our last moments, is both an act of faith and piety; and as giving up the ghost, i. e. dismissing his spirit from his body, is attributed to Jesus Christ, to whom alone it is proper, I therefore object against its use in every other case” (= karena penyerahan roh atau jiwa bukanlah suatu tindakan yang cocok bagi manusia, sekalipun tindakan mempercayakannya kepada Allah, pada saat terakhir kita, merupakan suatu tindakan iman dan kesalehan; dan karena penyerahan roh, yaitu pembubaran / pembebasan rohNya dari tubuhNya, dihubungkan dengan Yesus Kristus, bagi siapa itu cocok, maka karenanya saya menentang penggunaannya dalam setiap kasus yang lain).
Catatan: saya tidak bisa menterjemahkan bagian yang saya garis bawahi itu dengan persis, dan ada kata penting yang saya hilangkan, yaitu kata ‘alone’ (= hanya, sendirian, seorang diri). Adanya kata itu menunjukkan bahwa Clarke menganggap bahwa hanya Kristus yang bisa melakukan hal itu, tidak ada orang lain yang bisa.

Wycliffe Bible Commentary (tentang Mat 27:50): “All the Synoptics indicate the death of Christ was not the exhaustion of crucifixion, but a voluntary surrender of his life” (= Semua Injil sinoptik menunjukkan bahwa kematian Kristus bukanlah karena kehabisan tenaga karena penyaliban, tetapi merupakan suatu penyerahan yang sukarela dari nyawaNya).

Leon Morris (NICNT) - tentang Yoh 19:30: “John goes on, ‘and gave up his spirit’. This is not the usual way of referring to death. Indeed in none of the four Gospels is there any usual expression to describe the manner of Jesus’ end. His relation to death is not the same as that of other people. It may be going too far to say that He ‘dismissed His spirit’, but there does seem to be an element of voluntariness that is not found in the case of others” (= Yohanes melanjutkan ‘dan menyerahkan nyawa / rohNya’. Ini bukan suatu cara yang biasa untuk menunjuk pada kematian. Dalam keempat Injil tidak ada ungkapan biasa untuk menggambarkan cara kematian dari Yesus. HubunganNya dengan kematian tidaklah sama dengan hubungan orang-orang lain dengan kematian. Mungkin terlalu jauh untuk mengatakan bahwa Ia ‘membubarkan rohNya’, tetapi memang kelihatannya ada suatu unsur kesengajaan / kesukarelaan yang tidak ditemukan dalam kasus orang-orang lain) - hal 815-816.

2)   Dalam bahasa Yunani kata-kata ‘menyerahkan nyawa / roh’ itu bukan merupakan imperfect tense, tetapi aorist tense.
Wycliffe Bible Commentary (tentang Mark 15:37): “‘Gave up the ghost.’ The Greek word is exepneusen ... It was not a prolonged struggle, such as the imperfect tense would describe. Instead, the aorist tense depicts a brief, momentary occurrence. He breathed out his spirit and was gone” (= ‘Menyerahkan rohNya’. Kata Yunaninya adalah EXEPNEUSEN ... Itu bukanlah suatu pergumulan yang berkepanjangan, seperti seandainya digunakan imperfect tense untuk menggambarkan hal itu. Sebaliknya, digunakan aorist / past tense yang menggambarkan suatu kejadian yang singkat / sebentar. Ia menghembuskan rohNya dan pergi).

Kalau Ia betul-betul mati sepenuhnya dan semata-mata karena penyaliban itu, maka Ia pasti mati melalui suatu pergumulan yang berkepanjangan. Bahwa matinya itu merupakan suatu tindakan sesaat, menunjukkan bahwa Ia mati dengan sengaja / sukarela, dan sesuai dengan kehendakNya sendiri.

3)   Ia mengucapkan kata-kata dalam Luk 23:46 itu dengan suara nyaring.
Luk 23:46 - “Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya”.
Bahwa Yesus mengucapkan kata-kata itu ‘dengan suara nyaring’ jelas berbeda dengan pengucapan kata-kata yang keluar dari mulut orang lain yang sedang sekarat, yang biasanya hampir-hampir tak terdengar, karena orangnya memang sudah tidak mempunyai kekuatan untuk mengucapkannya. Bahwa Kristus bisa mengucapkan kata-kata terakhir itu dengan suara nyaring, menunjukkan bahwa sekalipun Ia telah mengalami semua rasa sakit dan kelelahan itu, Ia tetap cukup kuat. Ini menunjukkan bahwa kehidupanNya / nyawaNya bukan ‘diambil dengan paksa’ dari Dia, tetapi dengan sukarela Ia berikan kepada Bapa.

A. T. Robertson (tentang Mat 27:50): “Jesus did not die from slow exhaustion, but with a loud cry” (= Yesus tidak mati karena pelan-pelan kehabisan tenaga, tetapi dengan teriakan yang nyaring).

Arthur W. Pink: “Why is it that the Holy Spirit tells us that the Saviour uttered that terrible cry ‘with a loud voice?’ ... Do they not intimate that His strength had not failed Him? that He was still the Master of Himself, that instead of being conquered by death, He was but yielding Himself to it?” (= Mengapa Roh Kudus memberitahu kita bahwa sang Juruselamat mengucapkan teriakan yang dahsyat itu ‘dengan suara yang nyaring’? ... Bukankah ini menunjukkan bahwa kekuatanNya belum meninggalkanNya? bahwa Ia masih tetap merupakan tuan dari diriNya sendiri, dan bukannya dikalahkan oleh kematian, tetapi Ia hanya menyerahkan diriNya sendiri kepada kematian itu?) - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 4.

4)   Ia menundukkan kepalaNya, lalu menyerahkan nyawa / rohNya.
Bdk. Yoh 19:30 - “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya.
Ada 2 hal yang perlu diperhatikan:

a)         Ia menundukkan kepala dengan sengaja.
Arthur W. Pink (tentang Yoh 19:30): “What are we intended to learn from these words? What is here signified by this act of the Saviour? Surely the answer is not far to seek. The implication is clear. Previous to this our Lord’s head had been held erect. It was no impotent sufferer that hung there in a swoon. Had that been the case His head had lolled helplessly on His chest, and it would have been impossible for Him to ‘bow’ it. And mark attentively the verb used here: it is not His head ‘fell,’ but He - consciously, calmly, reverently - bowed His head” (= Apa yang dimaksudkan untuk kita pelajari dari kata-kata ini? Apa yang ditunjukkan di sini oleh tindakan sang Juruselamat ini? Jelas bahwa jawabannya tidak usah dicari terlalu jauh. Maksud / pengertiannya jelas. Sebelum ini kepala Tuhan kita tetap tegak. Itu bukanlah seorang penderita yang tidak bertenaga yang tergantung di sana dengan lemah. Seandainya itu merupakan kasusnya maka kepalaNya telah bersandar tak berdaya di dadaNya, dan adalah tidak mungkin bagiNya untuk menundukkannya. Dan perhatikanlah dengan penuh perhatian kata kerja yang digunakan di sini: bukan bahwa kepalaNya ‘jatuh’, tetapi Ia, dengan sadar, dengan pelan-pelan / tenang, dengan hormat, menundukkan kepalaNya) - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 5.

b)         Ia menundukkan kepalaNya dulu, baru menyerahkan nyawa / roNya.
Perhatikan bahwa urut-urutannya adalah ‘menundukkan kepalaNya’ lebih dulu, dan setelah itu baru ‘menyerahkan nyawa / rohNya’! Renungkan / pikirkan hal ini! Bukankah ini aneh dan seharusnya terbalik?

Matthew Henry (tentang Yoh 19:30): “he bowed his head. Those that were crucified, in dying stretched up their heads to gasp for breath, and did not drop their heads till they had breathed their last; but Christ, to show himself active in dying, bowed his head first, composing himself, as it were, to fall asleep” (= ‘Ia menundukkan kepalaNya’. Mereka yang disalibkan, pada saat mati menjulurkan kepala mereka ke atas untuk mengambil nafas, dan tidak menjatuhkan kepala mereka sampai mereka telah menghembuskan nafas terakhir mereka; tetapi Kristus, untuk menunjukkan diriNya sendiri aktif dalam matiNya, menundukkan kepalaNya lebih dulu, menyusun / mengatur tubuhNya sendiri, seakan-akan jatuh tertidur).

Saya menganggap ini sebagai suatu komentar yang luar biasa, dan memang menunjukkan bahwa kematianNya itu disengaja. Tetapi Matthew Henry lalu menambahkan sebagai berikut:

Matthew Henry (tentang Yoh 19:30): “God had laid upon him the iniquity of us all, putting it upon the head of this great sacrifice; and some think that by this bowing of his head he would intimate his sense of the weight upon him” (= Allah telah meletakkan padaNya kejahatan kita sekalian, meletakkannya pada kepala dari Korban agung ini; dan beberapa orang menganggap bahwa dengan menundukkan kepalaNya ini Ia menunjukkan perasaanNya tentang berat dari beban itu padaNya).
Catatan: Saya tidak tahu apakah kata-kata / pandangan Matthew Henry yang ini bisa dibenarkan.

5)   Bukti-bukti dari bagian-bagian lain dari Kitab Suci:
a)   Pada waktu Ia tahu bahwa waktunya sudah tiba bagiNya untuk mati, Ia sengaja pergi ke Yerusalem (Mat 16:21-24).
b)   Pada waktu ditangkap, Ia tidak melawan / lari (Yoh 18:1-11).
c)   A. W. Pink menganggap bahwa kematian Yesus yang terjadi begitu ‘cepat’ (hanya dalam 6 jam) pada waktu disalibkan, sehingga membuat Pontius Pilatus menjadi heran (Mark 15:44), karena kematian karena salib biasanya baru terjadi dalam 2-3 hari, menunjukkan bahwa Ia memang sengaja menyerahkan nyawaNya / rohNya.

Penerapan: kerelaan dan kesengajaan Yesus untuk menderita dan mati bagi kita harus selalu kita renungkan dan camkan, khususnya pada saat kita sendiri segan, berat hati, tidak rela melakukan apapun yang Ia kehendaki untuk kita lakukan, seperti:
  • berbakti.
  • belajar Firman Tuhan.
  • berdoa.
  • melayani.
  • memberitakan Injil.
  • memberikan persembahan / persembahan persepuluhan.
  • mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan kesenangan kita, dan bahkan diri kita sendiri, untuk kepentinganNya / kemuliaanNya.
Pantaskah kerelaanNya kita balas dengan ketidak-relaan kita?

III) Hal-hal theologis berkenaan dengan kematian Yesus.


1)   Ini menunjukkan roh / jiwa tetap ada pada saat terpisah dari tubuh.
Matthew Henry: “By this it appears that our Lord Jesus, as he had a true body, so he had a reasonable soul, which existed in a state of separation from the body” (= Dengan ini terlihat bahwa Tuhan kita Yesus, sebagaimana Ia mempunyai tubuh yang sungguh-sungguh, demikian juga Ia mempunyai jiwa yang bisa berpikir, yang tetap ada dalam keadaan terpisah dari tubuh).

Adam Clarke (tentang Luk 23:46): “Another proof of the immateriality of the soul, and of its separate existence when the body is dead” (= Bukti yang lain dari jiwa yang bukan bersifat materi, dan tentang keberadaannya yang terpisah pada waktu tubuh mati).

2)   Kematian Yesus tidak mempengaruhi persatuan LOGOS dengan hakekat manusia Yesus.
Lenski (tentang Luk 23:46): “The death of Jesus affected in no way the union of the Logos with the human nature. This death affected only the human nature, for by it alone was the Son able to die. God’s Son died in his human nature, and in that alone” (= Kematian Yesus tidak mempengaruhi dengan cara apapun persatuan Logos dengan hakekat manusia. Kematian ini hanya mempengaruhi hakekat manusia, karena olehNya saja Anak bisa mati. Anak Allah mati dalam hakekat manusiaNya, dan hanya dalam hakekat manusia saja) - hal 1154.

3)   Kematian Kristus ini sudah ditetapkan dalam rencana kekal dari Allah.
Arthur W. Pink: “the Death of Christ was preter-natural. By this we mean that it was marked out and determined for Him beforehand. He was the Lamb slain from the foundation of the world (Rev. 13:8). Before Adam was created the Fall was anticipated. Before sin entered the world, salvation from it had been planned by God. In the eternal counsels of Deity it was fore-ordained that there should be a Saviour for sinners, a Saviour who should die in order that we might live. ... It was in view of that approaching Death that God ‘justly passed over the sins done aforetime’ (Rom. 3:25 R. V.). Had not Christ been, in the reckoning of God, the Lamb slain from the foundation of the world, every sinning person in the Old Testament times would have gone down to the Pit the moment he sinned!” [= Kematian Yesus bersifat preter-natural. Dengan ini kami memaksudkan bahwa hal itu telah ditandai dan ditentukan bagiNya sebelumnya. Ia adalah Anak Domba yang disembelih sebelum dunia dijadikan (Wah 13:8). Sebelum Adam diciptakan, kejatuhan ke dalam dosa telah diantisipasi. Sebelum dosa masuk ke dalam dunia, keselamatan dari dosa telah direncanakan oleh Allah. Dan rencana kekal Allah ditentukan lebih dulu bahwa harus ada seorang Juruselamat bagi orang-orang berdosa, seorang Juruselamat yang harus mati supaya kita bisa hidup. ... Dengan memandang pada Kematian yang mendekat inilah Allah ‘dengan adil membiarkan dosa-dosa yang terjadi dahulu’ (Ro 3:25). Seandainya dalam perhitungan Allah, Kristus bukanlah Anak Domba yang telah disembelih sejak penciptaan dunia, maka setiap orang yang berbuat dosa dalam jaman Perjanjian Lama akan sudah turun ke neraka pada saat ia berbuat dosa!] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 2-3.
Catatan: kata ‘preter’ berarti ‘sebelum’ atau ‘lampau’.

Wah 13:8 (KJV): ‘And all that dwell upon the earth shall worship him, whose names are not written in the book of life of the Lamb slain from the foundation of the world (= Dan semua yang diam di bumi akan menyembahnya, yang nama-namanya tidak tertulis dalam kitab kehidupan dari Anak Domba yang disembelih sejak penciptaan dunia).
Ada 2 kemungkinan untuk menterjamahkan ayat ini. Kata-kata ‘sejak penciptaan dunia’ bisa dihubungkan dengan kata ‘disembelih’, dan ini yang diambil oleh KJV. Tetapi kata-kata ‘sejak penciptaan dunia’ juga bisa dihubungkan dengan kata-kata ‘tidak tertulis dalam kitab kehidupan’, dan ini yang diambil oleh Kitab Suci Indonesia. Tetapi kalaupun Kitab Suci Indonesia yang benar, kita tetap percaya bahwa kematian Kristus bagi dosa-dosa umat manusia memang sudah ditentukan dalam rencana Allah sebelum dunia dijadikan.
Bdk. Kis 2:23 - “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka”.

Ro 3:25 - “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darahNya. Hal ini dibuatNya untuk menunjukkan keadilanNya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaranNya”.

4)   Yesus adalah Anti Type dari anak domba Paskah.
Kristus mati pada sekitar pukul 3 siang, dan itu bertepatan dengan saat penyembelihan domba Paskah.
Luk 23:44-46 - “(44) Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, (45) sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua. (46) Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya”.

Matthew Henry (tentang Mat 27:50), dan juga Adam Clarke (tentang Mark 15:37), mengatakan bahwa saat Kristus mengucapkan kata-kata ini adalah saat penyembelihan domba Paskah.
Bdk. Kel 12:6 - “Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja.

Dengan demikian lagi-lagi Yesus menggenapi TYPE dalam Perjanjian Lama, dan Ia menjadi ANTI TYPE dari domba Paskah.
Bdk. 1Kor 5:7b - “Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.

Bahwa Kristus menjadi penggenapan dari type anak domba Paskah ini, maka kita bisa melihat adanya analogi antara anak domba Paskah itu dengan Kristus. Pada jaman itu, darah anak domba Paskah, yang disapukan pada ambang pintu, merupakan satu-satunya jalan untuk bebas dari hukuman Allah. Sekarang, darah Kristus juga merupakan satu-satunya jalan untuk bebas dari hukuman Allah. Bdk. Ibr 9:22 - “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.

6)   Yesus memang harus betul-betul mati untuk memikul hukuman dosa yaitu kematian / maut.

Pulpit Commentary (tentang Mark 15): “the most stupendous, pathetic, and momentous event which this world has witnessed. The Being who was ‘the Life’ bowed his head in death (= peristiwa yang paling mengagumkan / menakjubkan, menyedihkan, dan penting, yang telah disaksikan oleh dunia ini. Makhluk / Orang yang adalah ‘hidup’ menundukkan kepalaNya dalam kematian) - hal 316.

Matthew Henry (tentang Mat 27:50): “That then he yielded up the ghost. ... His soul was separated from his body, and so his body was left really and truly dead. It was certain that he did die, for it was requisite that he should die; ... Death being the penalty for the breach of the first covenant (Thou shalt surely die), the Mediator of the new covenant must make atonement by means of death, otherwise no remission, Heb. 9:15” [= Bahwa lalu Ia menyerahkan rohNya. ... JiwaNya terpisah dari tubuhNya, dan dengan demikian tubuhNya ditinggalkan dan betul-betul mati. Adalah pasti bahwa Ia memang mati, karena memang dibutuhkan bahwa Ia harus mati; ... Kematian merupakan hukuman dari pelanggaran dari perjanjian pertama (pastilah engkau mati), sang Pengantara dari perjanjian yang baru harus membuat penebusan dengan cara / melalui kematian, karena kalau tidak, maka tidak ada pengampunan, Ibr 9:15].
Ibr 9:15 - “Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggara yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama.
Catatan: Kata-kata ‘pastilah engkau mati’ diambil dari Kej 2:17 - “tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.’”.

George Hutcheson: “Death, and no less than death, is the wages of sin; therefore, after the former sufferings, our Surety behoved also to give up the ghost, to finish his work” (= Kematian, dan tidak kurang dari kematian, merupakan upah dari dosa; karena itu, setelah penderitaan-penderitaan sebelumnya, Penanggung kita juga perlu untuk menyerahkan rohNya, untuk menyelesaikan pekerjaanNya) - hal 405.

George Hutcheson: “Christ, by undergoing bodily death for his people, hath hereby purchased that however they must die, yet death is no punishment of sin to them; for his suffering of death hath taken that sting out of it” (= Kristus, dengan mengalami kematian jasmani bagi umatNya, telah dengan ini membeli, sehingga bagaimanapun mereka harus mati, tetapi kematian itu bukanlah hukuman dosa bagi mereka; karena penderitaan kematianNya telah mengambil sengat dari kematian itu) - hal 405.

Bdk. Ibr 2:14-15 - “(14) Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; (15) dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.

Dengan telah terjadinya kematian Kristus untuk menebus dosa-dosa kita, maka kematian, sekalipun tetap harus terjadi pada diri orang percaya, tidak lagi merupakan sesuatu yang menakutkan. Kita bisa, bersama-sama dengan Paulus, berkata seperti dalam Fil 1:21-23 - “(21) Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. (22) Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. (23) Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus - itu memang jauh lebih baik.

Kesimpulan / penutup.


Sesuai dengan rencana Allah, Yesus Kristus bukan saja telah mengalami bermacam-macam penderitaan, tetapi juga telah mati dengan sengaja dan sukarela, untuk menebus dosa-dosa kita. Karena itu, kalau kita mau percaya kepadaNya, sekalipun kita tetap akan mati, tetapi itu bukan lagi hukuman dosa, tetapi merupakan pintu gerbang, melalui mana kita akan masuk ke surga. Maukah saudara percaya dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara? Kiranya Tuhan memberkati saudara.



-AMIN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar