Jumat, 28 Maret 2014

KASIH YANG SEMULA

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div

Wahyu 2:1-7


I) Kasih yang semula.

1)   Ini harus ada / pernah ada dalam diri orang kristen.
Dalam jemaat Efesus, kepada siapa bagian ini ditujukan (ay 1), hal ini terlihat dari:
·         tindakan mereka membakar buku-buku sihir (Kis 19:19-20).
·         kesedihan mereka waktu ditinggal oleh Paulus (Kis 20:36-38).
·     Ef 1:15 dimana Paulus berkata bahwa mereka mempunyai kasih kepada semua orang kudus. Ingat bahwa cinta terhadap Tuhan sangat berhubungan dengan cinta terhadap orang kudus (1Yoh 5:1  1Yoh 4:20-21).

2)   Kasih yang semula ini tidak bisa diusahakan sendiri.
Pada saat percaya kepada Yesus, Roh Kudus memberikan buah Roh, yaitu kasih (Gal 5:22). Sebaliknya, kalau saudara tidak pernah sungguh-sungguh percaya kepada Yesus, jelas bahwa saudara tidak pernah mengalami kasih yang semula ini, dan ini tidak akan bisa saudara usahakan kecuali saudara mau datang dan percaya kepada Yesus.

II) Orang yang kehilangan kasih semula.

A)  Hal-hal baik dalam hidup mereka:

1)   Mereka masih tetap melayani Tuhan (ay 2a).

2)   Mereka benci / tak dapat sabar terhadap orang jahat (ay 2b).
NIV: ‘you cannot tolerate wicked men’ (= kamu tidak bisa menoleransi orang-orang jahat).

Tyndale:
“While love is the typical Christian attitude, love for the good carries with it a corresponding hatred for what is wrong” (= Sekalipun kasih adalah sikap kristen yang khas, kasih terhadap yang baik membawa hal yang cocok dengannya yaitu kebencian terhadap apa yang salah).

Hailey:
“This attitude toward evil men is commendable; if they will not be transformed, let them be transferred” (= Sikap terhadap orang-orang jahat ini patut dipuji; jika mereka tidak mau diubah, biarlah mereka dipindahkan).

3)   Mereka berhati-hati dengan ajaran yang mereka terima (ay 2b).
Paulus memang sudah pernah menubuatkan akan munculnya nabi-nabi palsu di Efesus (Kis 20:29). Mereka menanggapi nubuat Paulus ini dengan baik.

4)   Mereka mau menderita untuk Tuhan dan mereka menderita dengan sabar (ay 3).

5)   Mereka membenci perbuatan pengikut Nikolaus (ay 6).
Tentang apa yang dimaksud dengan ‘perbuatan pengikut Nikolaus’ ada bermacam-macam pandangan:
·         Irenaeus: mereka hidup dengan hawa nafsu yang tidak dikekang.
·         Clement of Alexandria: mirip dengan Irenaeus.
·       Pulpit Commentary: mereka menganggap diri di atas hukum, sehingga boleh berbuat apa saja.
Ini sama seperti orang yang salah gunakan kasih karunia Allah untuk melampiaskan hawa nafsu mereka (Yudas 4).

Hailey: “The child of God who does not hate wickedness does not love righteousness” (= Anak Allah yang tidak membenci kejahatan tidak mengasihi kebenaran).

Perhatikan bahwa mereka membenci perbuatan pengikut Nikolaus, bukan membenci pengikut Nikolausnya sendiri. Ini sesuatu hal yang hebat!

B)  Dari hal-hal ini kelihatannya mereka adalah orang yang hebat, tetapi mereka toh dikecam, karena kehilangan kasih yang semula (ay 4). Jadi sekalipun dari luar kelihatannya semua baik-baik, tetapi sebetulnya hati mereka sudah kehilangan kasih yang semula.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:

1)   Pulpit Commentary:
“It is possible to hate what Christ hates without loving what he loves” [= Adalah mungkin untuk membenci apa yang Kristus benci (bdk. ay 6) tanpa mengasihi apa yang Ia kasihi].
Orang-orang Efesus ini membenci dosa, nabi palsu dsb, tetapi tidak lagi mengasihi Allah seperti semula.

2)  Tentu saja kalau hal ini dibiarkan, maka keadaan pasti memburuk sehingga dari luarpun akan terlihat kalau saudara kehilangan kasih semula.

Pulpit Commentary:
“The outward forms may be perfect, zeal may be maintained, patience unwearied, orthodoxy untarnished; but if love - the soul’s secret energy - be impaired, time only is needed to bring the church to utter decay” (= Hal-hal luar / lahiriah mungkin sempurna, semangat mungkin dipertahankan, kesabaran tidak pernah lelah, keorthodoxan tidak bercacat; tetapi kalau kasih - kekuatan rahasia dari jiwa - berkurang / rusak, hanya waktu yang dibutuhkan untuk membawa gereja pada kebusukan total).

Penerapan: Apakah saudara saat ini sedang mengasihi Tuhan dengan kasih yang semula? Atau dengan kasih yang sudah dingin?
Spurgeon mengatakan bahwa tidak ada orang kristen tidak pernah mengalami backsliding (= kemerosotan ke belakang). Tanda-tandanya: malas berdoa, malas mendengar / membaca / belajar Firman Tuhan, meremehkan dosa, kembalinya dosa-dosa lama yang tadinya sudah ditinggalkan, cinta dunia / uang, dsb.

III) Sikap Tuhan terhadap gereja itu.

1)   Tuhan sedih / tidak senang.
Bahwa Tuhan begitu sedih / tidak senang kalau anakNya kehilangan kasih yang semula, digambarkan oleh nabi Yeremia dalam Yer 2:1-5.
Pernahkah saudara merasakan kesedihan / sakit hati karena pasangan saudara kehilangan kasih yang semula kepada saudara? Demikian juga Tuhan sakit hati / sedih kalau saudara kehilangan kasih yang semula kepada Dia!

2)   Tuhan menegur / mengecam (ay 4).
Kalau baru dalamnya tanpa kasih semula, sudah ditegur seperti ini, apalagi kalau aktivitas luar sudah terpengaruh!

3)   Tuhan mengancam (ay 5).
Perlu diperhatikan bahwa Tuhan bukan hanya mengecam tetapi juga mengancam gereja yang kehilangan kasih yang semula itu.
Kata-kata / ancaman ‘mengambil kaki dian dari tempatnya’ akan menyebabkan gereja itu tidak lagi bisa menyinarkan terang. Dengan kata lain gereja itu berhenti menjadi gereja di hadapan Tuhan!
Bagi Dia dari pada ada gereja yang tidak mempunyai kasih semula, lebih baik tidak ada gereja! Tuhan mempunyai motto: “Better nothing than something”.

IV) Bagaimana kembali pada kasih yang semula?

1)   Bandingkan keadaan dulu (pada waktu punya kasih semula) dan sekarang.
Ay 5: ‘Ingatlah, betapa dalamnya engkau telah jatuh’.
Saudara tidak akan bisa mengetahui betapa dalamnya saudara telah jatuh, kecuali saudara membandingkan keadaan dahulu (sebelum jatuh) dan keadaan sekarang (setelah jatuh).
Bandingkan:
·         damai / sukacita yang dahulu ada, tetapi sekarang lenyap.
·         kehidupan doa / saat teduh yang dahulu begitu manis, tetapi sekarang begitu hambar.
·      kerinduan saudara akan Firman Tuhan dan sukacita yang saudara alami dalam belajar Firman Tuhan yang dahulu begitu hebat, tetapi sekarang sudah sangat memudar.
·     semangat saudara dalam melayani Tuhan / mencari jiwa, yang dahulu begitu berkobar-kobar, tetapi sekarang sudah padam dan menjadi pelayanan yang hanya bersifat rutinitas.

2)   Disuruh mengingat saat mulai kehilangan kasih semula.
Ay 5 (Lit): ‘Remember therefore whence thou hast fallen’ (= karena itu, ingatlah dari mana engkau telah jatuh).
Apa yang terjadi pada saat itu? Ada dosa? Ada allah lain? Ada kebencian / gegeran? Ada perzinahan? Kalau saudara tidak bisa mendiagnosa apa yang terjadi pada saat itu, yang menyebabkan saudara lalu kehilangan kasih yang semula, maka tentu saja saudara juga tidak bisa memperbaiki keadaan saudara!

3)   Bertobat dan kembali ke jalan yang benar (ay 5).
Dalam bahasa Yunaninya kata ‘semula’ dalam ay 5 sama dengan kata ‘semula’ dalam ay 4. Jadi ay 5 ini menyuruh kita kembali pada kehidupan kita yang semula pada waktu kita mempunyai kasih yang semula.
Memang kehilangan kasih semula pasti disebabkan oleh dosa (aktif atau pasif), seperti:
·         ada kebencian
·         tidak menolong orang (1Yoh 3:17).
·         perzinahan.
·         cinta dunia (1Yoh 2:15).
·         tak beri persembahan yang seharusnya.
·         melalaikan persekutuan dengan Tuhan / saat teduh / doa.
·         melalaikan Pemahaman Alkitab / belajar Firman Tuhan.
·         berhenti pelayanan / memberitakan Injil.
Bertobatlah dari semua dosa-dosa itu!

4)   Mendengar Firman Tuhan (ay 7a).
Kalimat ini muncul dalam ke 7 surat dalam Wah 2-3 ini, menunjukkan bahwa ini adalah sesuatu yang penting.
Mendengar dalam ay 7a berhubungan dengan menang dalam ay 7b. Jadi orang yang mau menang harus mau mendengar Firman Tuhan!
Bdk. Yak 1:19-20.

Maukah saudara melakukan hal-hal ini supaya kembali pada kasih yang semula?


-AMIN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar