Minggu, 13 April 2014

PEMBAHASAN TENTANG GEREJA ORTHODOX SYRIA VERSI BAMBANG NOORSENA

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div


Pendahuluan:


Perlu diketahui bahwa Gereja Orthodox Syria yang asli berbeda dengan Gereja Orthodox Syria versi Bambang Noorsena. Gereja Orthodox Syria yang asli, sama seperti Gereja-gereja Orthodox yang lain, sekalipun mempunyai kesalahan-kesalahan / kesesatan-kesesatan yang juga cukup banyak, berpegang sangat kuat pada Pengakuan-pengakuan Iman gereja mula-mula, sehingga justru bagus dalam doktrin tentang diri Kristus maupun Allah Tritunggal. Tetapi Bambang Noorsena, yang menganggap bahwa 2 doktrin tersebut sangat dibenci oleh orang-orang Islam, lalu justru memodifikasi kedua doktrin tersebut, untuk menyesuaikan diri dengan orang-orang Islam, supaya orang-orang Islam bisa menerima ajarannya.

Beberapa kesalahan yang saya ketahui dari Gereja Orthodox Syria versi Bambang Noorsena:

I) Dalam persoalan Kristologi (doktrin tentang Kristus).


1)   Dalam persoalan ketuhanan dan keilahian Yesus.
Sekalipun dalam khotbahnya dalam Seminar / Kursus Singkat STRIS tanggal 3 Juli 2000, Bambang Noorsena mengatakan bahwa Yesus adalah Allah, bahkan sepenuhnya Allah, tetapi dalam khotbah-khotbahnya yang terdahulu, ia pernah menyatakan bahwa Yesus bukan Tuhan dan bukan Allah (the God).
Ia berkata bahwa istilah ‘Tuhan’ dalam bahasa Inggris adalah ‘Lord’ dan dalam bahasa Yunani adalah KURIOS. Ini bisa diartikan sebagai ‘Tuhan’ atau sebagai ‘Tuan’. Ini memang benar. Tetapi ia lalu mengatakan bahwa Yesus disebut ‘Tuhan’ dalam arti yang ke 2!
Juga tentang istilah ‘Allah’ ia berkata bahwa kata ‘Allah’ dalam bahasa Arab selalu menunjuk kepada Allah yang benar, dan karenanya seharusnya diterjemahkan the God’. Ia lalu mengatakan bahwa ia setuju kalau dikatakan ‘God become man’, tetapi tidak setuju kalau dikatakan ‘Allah (the God) menjadi manusia’. Dengan demikian secara implicit ia tidak mengakui bahwa Yesus adalah Allah / ‘the God’.
Catatan: ini diajarkan oleh Bambang Noorsena dalam khotbahnya di restoran Bon Ami tgl 11 Pebruari 1999, dan saya mempunyai bukti rekaman khotbahnya.

Penyangkalan terhadap keilahian Yesus juga diberikan oleh seorang anak buah Bambang Noorsena. Ia menggunakan 1Kor 8:6 untuk membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah.
1Kor 8:6 - namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup”.

Tanggapan saya:

a)  Perlu diketahui bahwa ‘½ Tuhan’ atau ‘½ Allah’, atau ‘adanya Allah besar dan Allah kecil’, merupakan pemikiran dari:
·    agama-agama non kristen atau kafir, seperti dalam kepercayaan-kepercayaan Hindu dan Yunani.
·         sekte-sekte sesat seperti Saksi Yehovah.
Dalam Kristen / Alkitab, batasan antara ‘Allah’ dan ‘bukan Allah’ itu sangat tajam, dan karenanya seseorang itu hanya bisa mempunyai 2 kemungkinan: atau ia adalah Allah sepenuhnya, atau ia sama sekali bukan Allah. Alkitab kita tidak pernah menunjukkan adanya sesuatu / seseorang yang adalah ½ Allah atau sebagian Allah, atau Allah kecil. Dan ini merupakan pilihan kita berkenaan dengan keilahian Yesus. Atau Ia adalah Allah sepenuhnya dan dalam arti setinggi-tingginya, atau Ia sama sekali bukan Allah.

b)   Bukti keilahian dan ketuhanan Yesus.

1.   Yesus disebut Yahweh / Yehovah.
Yer 23:5-6 - Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN-keadilan kita.
Yer 23:5-6 jelas merupakan nubuat tentang Yesus Kristus. Yesus memang sering disebut dan dinubuatkan sebagai ‘tunas’, misalnya dalam Yes 4:2  Yes 11:1  Yes 53:2.
Dalam Yer 23:5-6 itu Yesus disebut sebagai ‘Tuhan keadilan’, dimana kata ‘Tuhan’ (semuanya dengan huruf besar / capital letters) tersebut dalam bahasa Ibraninya adalah Yahweh / Yehovah.
Perlu diketahui bahwa dalam Perjanjian Lama, kata ‘Tuhan’ (hanya ‘T’nya yang huruf besar, huruf-huruf yang lain adalah huruf kecil) berasal dari kata bahasa Ibrani ADONAY, sedangkan kata Tuhan (semua dengan huruf besar / capital letters) berasal dari kata bahasa Ibrani YAHWEH / YEHOVAH.
Juga perlu diketahui bahwa dalam Kitab Suci istilah bahasa Ibrani ‘ADONAY’ (= Tuhan / Lord) bisa digunakan untuk seseorang yang bukan Allah (Misalnya dalam Yes 21:8). Demikian juga dengan istilah bahasa Ibrani ‘ELOHIM’ [= Allah / God(s)], atau istilah bahasa Yunani ‘THEOS’ (= Allah), atau istilah bahasa Yunani ‘KURIOS’ (= Tuhan), bisa digunakan untuk menunjuk kepada dewa dan bahkan manusia (Misalnya: Kel 4:16  Kel 7:1  Kel 12:12  Kel 20:3,23  Hakim 16:23-24  1Raja 18:27  Maz 82:1,6  Kis 28:6).
Tetapi sebutan ‘YAHWEH / YEHOVAH’ (= TUHAN / LORD) tidak pernah digunakan untuk siapapun selain Allah, karena YAHWEH / YEHOVAH adalah nama dari Allah! Dan karena itu kalau dalam Yer 23:5-6 Yesus disebut dengan sebutan ‘YAHWEH / YEHOVAH’, maka tidak bisa tidak hal ini menunjuk­kan bahwa Yesus betul-betul adalah Allah sendiri dalam arti yang setinggi-tingginya!

2.   Yesus adalah the God’.
Terhadap kata-kata Bambang Noorsena bahwa Yesus bukanlah the God’, saya menunjukkan Tit 2:13 dan Ibr 1:8 yang secara explicit menyebut Yesus sebagai Allah.

·    Tit 2:13 - dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus”.
Bagian terakhir dari ayat ini memungkinkan 2 cara pembacaan:
*        (Allah yang Mahabesar) dan (Juruselamat kita Yesus Kristus).
Kalau dipilih pembacaan yang ini, maka ayat ini tidak menunjukkan Yesus sebagai Allah.
*        (Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita), Yesus Kristus.
Kalau dipilih pembacaan yang ini, maka ayat ini menunjukkan Yesus sebagai Allah.
NIV kelihatannya memilih pilihan kedua karena NIV menterjemahkannya sebagai berikut: ‘while we wait for the blessed hope - the glorious appearing of our great God and Savior, Jesus Christ’ (= sementara kita menantikan pengharapan yang mulia - penampilan yang mulia dari Allah kita yang besar dan Juruselamat kita, Yesus Kristus).
Saya sendiri memilih pembacaan kedua, karena untuk kata ‘appearing’ (= penampilan / pemunculan) digunakan kata bahasa Yunani EPIPHANEIA, yang menunjuk pada kedatangan Yesus yang keduakalinya (bdk. 2Tes 2:8  1Tim 6:14  2Tim 4:1,8). Karena itu jelas bahwa ayat ini tidak berbicara tentang 2 pribadi (yang pertama adalah ‘Allah yang mahabesar’, dan yang kedua adalah ‘Juruselamat kita Yesus Kristus’), tetapi ayat ini hanya berbicara tentang 1 pribadi, yaitu Yesus Kristus, yang disebutkan sebagai ‘Allah yang mahabesar dan Juruselamat kita’. Dengan demikian menjadi jelas bahwa di sini Yesus Kristus disebut dengan sebutan ‘Allah yang mahabesar’, atau dalam NIV disebutkan ‘our great God and Savior’ (= Allah kita yang besar dan Juruselamat kita).

·         Ibr 1:8 - Tetapi tentang Anak Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran.’”.

Satu hal penting yang perlu diperhatikan dari 2 ayat di atas ini adalah bahwa kata ‘Allah’ dalam bahasa Yunaninya menggunakan ‘definite article’ (= kata sandang), yang dalam bahasa Inggris seharusnya diterjemahkan ‘the’.
Untuk kata ‘Allah’ dalam Tit 2:13 digunakan istilah bahasa Yunani TOU THEOU, sedangkan untuk kata ‘Allah’ dalam Ibr 1:8 digunakan istilah bahasa Yunani HO THEOS, dimana kata TOU dan HO adalah definite article (= kata sandang). Karena itu jelaslah bahwa istilah itu tidak bisa diterjemahkan a god’, tetapi the God’. Dengan demikian terlihat jelas bahwa ajaran Bambang Noorsena, yang menyatakan bahwa Yesus bukanlah ‘the God’ bertentangan frontal dengan kedua ayat ini.

Catatan: kalau saudara melihat kedua ayat ini dalam Kitab Suci bahasa Inggris, maka memang kata ‘the’ itu tidak ada, karena kalau diberi kata ‘the’ itu, maka kalimatnya menjadi sangat kacau bunyinya.

3.   1Kor 8:6 justru menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah.
1Kor 8:4-6 - Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: ‘tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.’ Sebab sungguhpun ada apa yang disebut ‘allah’, baik di sorga, maupun di bumi - dan memang benar ada banyak ‘allah’ dan banyak ‘tuhan’ yang demikian - namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan:

·         Perhatikan kata-kata ‘satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus’. Ini tidak memungkinkan diartikan ‘tuan’, karena kalau ‘tuan’ pasti tidak cuma satu, tetapi banyak (ay 5b - ‘banyak tuhan yang demikian’).

·         Kalau dari kata-kata ‘hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa’ disimpulkan bahwa Yesus bukanlah Allah, maka konsekwensinya, dari kata-kata ‘satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus’, harus disimpulkan bahwa Bapa itu bukan Tuhan. Ini tentu tidak akan diterima oleh siapapun kecuali oleh orang yang sesat.

·         Juga perhatikan bagian selanjutnya dari ay 6 itu, yang mengatakan: ‘yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup’. Ini jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan / Allah dalam arti yang setinggi-tingginya.

·         Sekalipun Bapa adalah Allah, dan Yesus juga adalah Allah, tetapi tetap hanya ada satu Allah. Demikian juga sekalipun Yesus adalah Tuhan, dan Bapa juga adalah Tuhan, tetapi kita hanya mempunyai satu Tuhan. Ini disebabkan karena sekalipun Allah itu terdiri dari 3 pribadi tetapi hanya mempunyai 1 hakekat. Kristen memang tidak mempercayai banyak Allah / Tuhan. Sebaliknya kita percaya adanya hanya satu Allah / Tuhan (Ul 6:4  1Kor 8:4  1Tim 2:5  Yak 2:19).
Calvin: “Three are spoken of, each of which is entirely God, yet there is not more than one God” (= Tiga yang dibicarakan, masing-masing adalah Allah sepenuhnya, tetapi tidak ada lebih dari satu Allah) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XIII, No 3.
Pengakuan Iman Athanasius:
“15. Thus the Father is God, The Son is God, the Holy Ghost is God.  16. And yet there are not three Gods, but one God.  17. Thus The Father is Lord, the Son is Lord, the Holy Ghost is Lord.  18. And yet there are not three Lords, but one Lord.  19. Because as we are thus compelled by Christian verity to confess each person severally to be God and Lord; so we are prohibited by the Catholic religion from saying that there are three Gods or Lords” (= 15. Demikian juga Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah.  16. Tetapi tidak ada tiga Allah, tetapi satu Allah.  17. Demikian pula Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan.  18. Tetapi tidak ada tiga Tuhan, tetapi satu Tuhan.  19. Karena sebagaimana kami didorong seperti itu oleh kebenaran Kristen untuk mengakui setiap pribadi secara terpisah / individuil sebagai Allah dan Tuhan; demikian pula kami dilarang oleh agama Katolik / universal / am untuk mengatakan bahwa ada tiga Allah atau Tuhan.) - A. A. Hodge, ‘Outlines of Theology’, hal 117-118.
Catatan:
*        kata ‘Katolik’ di sini tidak ada hubungannya dengan Gereja Roma Katolik. Arti kata ‘Katolik’ adalah Universal / Am. Ingat bahwa credo / pengakuan iman ini diciptakan di sekitar jaman Athanasius, yang hidup pada abad ke 4, jauh sebelum adanya Roma Katolik.
*   Beberapa ahli theologia mengatakan bahwa sebetulnya Athanasius bukanlah pengarang dari credo ini. Mungkin diberi nama ‘Athanasius’ karena credo ini sesuai dengan ajaran Athanasius.

·       penafsiran yang sehat tidak akan menafsirkan suatu ayat sehingga bertentangan dengan ayat-ayat lain dalam Kitab Suci. Jadi, 1Kor 8:6 ini tidak boleh diartikan untuk menentang keilahian Yesus yang secara jelas dinyatakan dalam banyak ayat Kitab Suci.

c)   Apakah penjelasan tentang ketuhanan dan keilahian Yesus seperti ini merupakan taktik penginjilan kepada ‘orang seberang’?
Dalam perdebatan antara saya dan beberapa anak buah Bambang Noorsena, dikatakan oleh seorang dari mereka bahwa semua ini merupakan ‘taktik penginjilan kepada orang seberang’. Mereka berpendapat bahwa ‘orang seberang’ (orang Islam) itu sangat alergy terhadap ajaran tentang keilahian dan ketuhanan Yesus, dan karena itu mereka mengatakan bahwa Yesus hanya ‘tuan’ dan bukan ‘the God’.
Dasar yang mereka ajukan adalah:
·         ini mentaati perintah Yesus untuk menjadi ‘cerdik seperti ular’ (Mat 10:16).
·         murid-murid Yesus mula-mula juga dilarang untuk memberitakan bahwa Yesus adalah Mesias, karena dianggap bahwa orang-orang Yahudi itu belum waktunya mendengar hal itu. Lalu mereka membuat analogi: ‘orang seberang’ itu juga belum waktunya mendengar bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah (the God). Karena itu maka diberitakan sebagai ‘tuan’ dan ‘bukan the God’.

Catatan: perdebatan saya dengan beberapa anak buah Bambang Noorsena, dilakukan di GEKARI (Jl Dhamahusada Indah Barat III, Surabaya), tanggal 20 April 1999, dan saya mempunyai bukti rekaman perdebatan tersebut.

Saya menjawab argumentasi mereka ini sebagai berikut:

1.   ‘Tidak memberitakan’ berbeda dengan ‘memberitakan yang salah / sesat’!
Murid-murid Yesus itu tidak memberitakan keMesiasan Yesus’ atau ‘menunda pemberitaan tentang keMesiasan Yesus’. Ini berbeda dengan Bambang Noorsena / Gereja Orthodox Syria, yang ‘memberitakan berita yang diubah menjadi sesat’.
Memberitakan Yesus yang berbeda atau Yesus yang lain, sama dengan memberitakan Injil yang berbeda / Injil yang lain, dan ini jelas dikecam, dan bahkan dikutuk oleh Paulus.

2Kor 11:4 - “Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.

Gal 1:6-9 - “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.

2.   Kalau ia melakukan hal ini memang sebagai taktik penginjilan, maka perlu dipertanyakan: kapan ia akan memberitahu orang itu ajaran yang benar tentang keilahian Yesus? Pada waktu orang itu sudah siap untuk mendengar hal itu, bukankah akan ada orang baru lain dalam gerejanya yang belum siap mendengar berita itu?
Juga perlu dipertanyakan: bagaimana kalau ‘orang seberang’ itu mati sebelum mendengar ajaran yang benar tentang ketuhanan dan keilahian Kristus? Apakah ia bisa diselamatkan dengan mempercayai Yesus hanya sebagai ‘tuan’ dan bukan sebagai ‘the God’?

3.   Yesus memang mengajar kita untuk menjadi ‘cerdik seperti ular’ tetapi perintahnya dalam Mat 10:16 itu tidak hanya berhenti di situ, tetapi dilanjutkan dengan kata-kata ‘dan tulus seperti merpati’. Saya berkata kepada mereka bahwa dengan melakukan taktik penginjilan seperti itu, mereka memang ‘cerdik seperti ular’, tetapi ‘tulusnya juga seperti ular’.

4.   Paulus berkata dalam 1Kor 1:22-23 - “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”.
Jadi, Paulus bukan memberitakan apa yang diinginkan oleh orang Yahudi ataupun Yunani. Ia memberitakan salib / apa yang benar, tidak peduli mereka alergy terhadap salib / kebenaran tersebut, dan tidak peduli apakah kebenaran itu mereka anggap kebodohan atau menjadi batu sandungan bagi mereka atau tidak.

5.   Perlu juga saya tambahkan bahwa dari banyak kali saya mendengar khotbah Bambang Noorsena, baik melalui cassette maupun secara langsung, saya belum pernah mendengar ia memberitakan Injil, dan mendorong orang untuk percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ia hanya sibuk menjelaskan dan mempertahankan ke-exentrik-an dari ajaran / gerejanya. Ini memang merupakan resiko kalau seseorang memegang suatu pandangan yang exentrik. Otomatis ada banyak orang yang menyerang, sehingga ia akan terpaksa menghabiskan seluruh waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membela diri dari semua serangan tersebut, sehingga tidak ada yang tersisa untuk melakukan pemberitaan Injil.
Catatan: yang saya maksudkan dengan ‘Injil’ di sini adalah kabar baik, dimana manusia berdosa yang seharusnya masuk ke neraka selama-lamanya, telah diberikan jalan keselamatan melalui penderitaan dan kematian Kristus di kayu salib, dan dengan demikian bisa masuk surga asal mau percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

d)   Apakah Bambang Noorsena mengubah doktrin Kristologinya?
Setelah perdebatan antara 2 anak buahnya dengan saya, kelihatannya Bambang Noorsena mengubah Kristologinya. Dalam khotbahnya tentang ‘keilahian Yesus’ yang saya dengar sendiri di Hotel Sahid, tgl 21 Mei 1999, ajarannya menjadi lain. Ia menyatakan Yesus itu adalah Firman dan Firman itu adalah Allah. Tetapi:
1.    Firman itu kelihatannya ia anggap hanya sebagai ‘kata-kata Allah’.
2.  Kelihatannya ia tidak menerima Yesus dalam kekekalan itu sebagai Pribadi, tetapi hanya sebagai ‘existence’ (= keberadaan).

Tanggapan saya:
Bahwa Yesus disebut Firman, tidak berarti bahwa Yesus sebelum inkarnasi hanyalah sekedar ‘kata-kata Allah’, sekedar suatu ‘existence’ / keberadaan dan bukan suatu pribadi.
Dr. Kelly:
·         “Greek Logos is totally impersonal; Stoic Rational; whereas Hebrew idea of Logos is personal” (= Logos dalam pemikiran Yunani sama sekali bukan pribadi; dalam pemikiran Stoa rasionil; sedangkan dalam gagasan Ibrani Logos bersifat pribadi).
·   “Logos is the self-communication of the personality of God” (= Logos adalah pengkomunikasian kepribadian Allah).
·         “Word is a who” (= Firman itu adalah siapa).
Catatan: maksudnya Firman itu bukan ‘sesuatu’ tetapi ‘seseorang’.
Dasar dari kepribadian Kristus sebelum inkarnasi ini bisa dilihat di bawah nanti pada waktu saya menjelaskan adanya kejamakan (lebih dari satu pribadi) dalam diri Allah.

2)   Dalam persoalan ‘natures’ (= hakekat-hakekat) dari Kristus.
Ia menolak kalau Gereja Orthodox Syria dianggap sebagai Monophysite (ajaran yang mengatakan bahwa setelah inkarnasi Kristus hanya mempunyai satu nature / hakekat), yang memang merupakan ajaran sesat. Tetapi anehnya ia juga menolak istilah duophysite (dua natures / hakekat), dengan alasan takut menjadi seperti Nestorianisme. Padahal:

a)   DUOPHYSITE justru merupakan istilah yang digunakan dan disetujui oleh Pengakuan Iman Chalcedon, yang mengatakan bahwa Kristus setelah inkarnasi itu ‘existing in two natures’ (= ada / mempunyai keberadaan dalam 2 hakekat). Yunani: EN DUO PHUSESIN. Latin: in duabus naturis.

b)   Ini sama sekali berbeda dengan Nestorianisme, yang mengajarkan 2 pribadi (DUO-HUPOSTASIS).

Catatan: dalam Kristologi, kata ‘nature’ harus diterjemahkan ‘hakekat’, bukan ‘sifat’!

3)   Kristus mempunyai ‘satu kodrat ganda’.
Dalam khotbahnya dalam Seminar / Kursus Singkat STRIS tanggal 3 Juli 2000, Bambang Noorsena mengatakan bahwa dalam diri Yesus ‘kodrat ilahi’ dan ‘kodrat manusia’ menjadi ‘satu kodrat ganda’.

Tanggapan saya:

a)   Menurut saya ini bukan hanya salah tetapi juga bertentangan logika. Ingat bahwa doktrin Tritunggal maupun Kristologi memang melampaui akal, tetapi tidak bertentangan dengan akal. Kalau kita mengatakan Allah itu mempunyai 1 hakekat / essence dalam 3 pribadi, atau Kristus itu 1 pribadi dengan 2 hakekat / natures, itu melampaui akal, tetapi tidak bertentangan dengan akal. Tetapi kalau kita berkata Allah itu satu pribadi dan 3 pribadi pada saat yang sama, itu bertentangan dengan akal. Demikian juga kalau dikatakan Yesus itu satu kodrat dan 2 kodrat, atau satu kodrat ganda. Kita harus mengatakan satu pribadi dengan 2 hakekat / natures.

Ia menjawab dengan mengatakan perbedaan seperti ini bukan perbedaan dalam substansi ajaran. Jangan terjebak dalam terminologi.
Tanggapan saya atas jawabannya:
Ini kelihatannya merupakan cara mengelak yang favorit bagi Bambang Noorsena. Ia berulangkali menggunakan ungkapan yang sejenis, seperti:
·         ‘ini hanya saling silang bahasa’.
·         ‘ini hanya persoalan terminologi’.
·         ‘kita hanya salah paham’.
·         ‘bahasa theologia kami berbeda’.
·         dan sebagainya.

Padahal perlu diingat bahwa theologia memang adalah persoalan terminologi, misalnya:
¨       Doktrin Allah Tritunggal yang benar adalah bahwa Allah hanya mempunyai satu hakekat dalam 3 pribadi. Tetapi Sabelianisme mengajar satu hakekat dalam 3 perwujudan. Kalau mereka mengatakan bahwa ini hanya merupakan ‘persoalan terminologi’, apakah saudara mau menerima?
¨       Arianism mengatakan Yesus itu ‘dari zat yang berbeda’ (Heteroousios) dengan Bapa. Pengakuan Iman Nicea / Athanasius menggunakan istilah HOMOOUSIOS (= dari zat yang sama). Semi-Arianism lalu mau mengambil jalan tengah dan menggunakan istilah HOMOIOUSIOS (= dari zat yang serupa / mirip). Ini tetap ditolak dan dianggap sesat! Mereka tidak mengatakan: ‘Ah tidak apa-apa, ini bukan substansi ajaran yang berbeda, tetapi cuma persoalan terminologi!’.

Jadi, sekali lagi saya tekankan, theologia adalah persoalan terminologi, dan harus menggunakan kata / istilah yang precise (= persis) / akurat. Theologia yang benar menggunakan istilah / terminologi yang benar. Begitu istilah / terminologinya salah, maka theologianya juga salah / sesat.

b)   Sebetulnya setelah kembali di rumah, saya mengerti apa yang ia maksudkan dengan ‘satu kodrat ganda’ itu. Ia berusaha menterjemahkan kata-kata Yunani EIS ... MIAN HUPOSTASIN dari Pengakuan Iman Chalcedon. Kata EIS MIAN / MIA bisa diterjemahkan ‘one virtually by union’ / ‘satu, tetapi sebetulnya karena persatuan’ (bdk. Mat 19:5-6) - Harold K. Moulton, ‘The Analytical Greek Lexicon Revised’, hal 119. Jadi kelihatannya ini merupakan terjemahan Yunani dari kata Ibrani EKHAD, yang berarti ‘a compound one’ (= satu gabungan).
Rupanya ini yang diterjemahkan oleh Bambang Noorsena sebagai ‘satu ... ganda’ tersebut. Saya berpendapat ia seharusnya menggunakan istilah ‘satu yang terdiri dari dua’.
Tetapi disamping itu saya menganggap Bambang Noorsena juga salah dalam penggunaan kata ‘kodrat’, karena ia berkata kodrat manusia’ dan kodrat ilahi’ menjadi ‘satu kodrat ganda’. Dalam Pengakuan Iman Chalcedon, untuk kata kodrat yang pertama dan kedua digunakan kata PHUSIS, sedangkan untuk yang ketiga digunakan kata yang berbeda yaitu HUPOSTASIS. Tetapi Bambang Noorsena tetap menggunakan kata yang sama. Jadi ia tetap bertentangan dengan Pengakuan Iman Chalcedon.
Dalam Pengakuan Iman Gereja Orthodox Syria yang saya dapatkan dari internet bagian itu dikatakan dengan kata-kata ‘... the church maintains that the incarnate Word of God has one person of two, and one compound nature, without confusion or mixture or change, ...’ (= ... gereja mempertahankan bahwa Firman Allah yang telah berinkarnasi itu mempunyai satu pribadi yang terdiri dari dua, dan satu hakekat gabungan, tanpa kekacauan atau percampuran atau perubahan, ...).
Ini berbeda dengan ajaran Bambang Noorsena, dan lebih mendekati Pengakuan Iman Chalcedon, tetapi tetap mempunyai perbedaan dengan Pengakuan Iman Chalcedon, karena Pengakuan Iman Gereja Orthodox Syria berbicara tentang ‘one compound nature’ / ‘satu hakekat gabungan’ (sekalipun tanpa kekacauan, percampuran atau perubahan), sedangkan Pengakuan Iman Chalcedon mengatakan 2 natures / hakekat.

Pengakuan Iman Chalcedon:
“We, then, following the holy Fathers, all with one consent, teach men to confess, one and the same Son, our Lord Jesus Christ; the same perfect in Godhead and also perfect in Manhood; truly God, and truly Man, of a reasonable soul and body; consubstantial with the Father according to the Godhead, and consubstantial with us according to the Manhood; in all things like unto us without sin; begotten before all ages of the Father according to the Godhead, and in these latter days, for us and for our salvation, born of Mary the Virgin Mother of God according to the Manhood. He is one and the same Christ, Son, Lord, Only begotten, existing in two natures without mixture, without change, without division, without separation; the diversity of the two natures not being at all destroyed by their union, but the peculiar properties of each nature being preserved, and concurring to one person and one subsistence, not parted or divided into two persons, but one and the same Son, and Only-begotten, God The Word, the Lord Jesus Christ; as the prophets from the beginning have declared concerning Him, and as the Lord Jesus Christ Himself hath taught us, and as the Creed of the holy fathers has delivered to us” (= Maka, kami semua, mengikuti Bapa-bapa kudus, dengan suara bulat, mengajar manusia untuk menga­ku, Anak yang satu dan yang sama, Tuhan kita Yesus Kristus, sempurna dalam keilahian dan juga sempurna dalam kemanusiaan, sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, dengan jiwa yang bisa berpikir dan tubuh; menurut keilahianNya mempunyai zat / hakekat yang sama dengan Sang Bapa, dan menurut kemanusiaanNya mempunyai zat / hakekat yang sama dengan kita, dalam segala hal sama seperti kita tetapi tanpa dosa; menurut keilahianNya diperanakkan sebelum segala jaman dari Bapa, dan menurut kemanusiaanNya dilahirkan dari Maria, sang Perawan, Bunda Allah dalam hari-hari akhir ini. Ia adalah Kristus, Anak, Tuhan yang satu dan yang sama, satu-satunya yang diperanakkan, mempunyai keberadaan dalam 2 hakekat, tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa perpecahan, tanpa perpisahan; perbedaan dari dua hakekat itu sama sekali tidak dihancurkan oleh persatuan mereka, tetapi sifat-sifat dasar yang khas dari setiap hakekat dipertahankan dan bersatu menjadi satu pribadi dan satu keberadaan / makhluk, tidak berpisah atau terbagi menjadi dua pribadi, tetapi Anak yang satu dan yang sama, dan satu-satunya yang diperanakkan, Allah Firman, Tuhan Yesus Kristus; seperti nabi-nabi dari semula telah menyatakan tentang Dia, dan seperti Tuhan Yesus Kristus sendiri telah mengajar kita, dan seperti pengakuan iman bapa-bapa kudus telah menyampaikan kepada kita).

Catatan: jika saudara ingin mengerti lebih banyak tentang diri Kristus, tentang Pengakuan Iman Chalcedon, ajaran-ajaran sesat tentang Kristologi, persoalan pribadi dan hakekat, dsb., maka bacalah buku saya yang berjudul ‘Christology’.

II) Dalam persoalan doktrin Allah Tritunggal.


Kelihatannya Gereja Orthodox Syria versi Bambang Noorsena tidak mengakui bahwa Allah Tritunggal itu mempunyai 3 pribadi.
Saya menyimpulkan ini dari beberapa sudut:

1)   Dari Bambang Noorsena sendiri.
Dalam khotbah tentang ‘keilahian Kristus’ di Hotel Sahid tanggal 21 Mei 1999, Bambang Noorsena menyinggung tentang Allah Tritunggal, dan kelihatannya ia beranggapan bahwa Allah Tritunggal itu adalah Allah Bapa, Firman / Hikmat, dan Roh Allah.
Ia mengatakan bahwa Firman Allah itu adalah Allah sendiri, tetapi terbedakan dari sudut HUPOSTASISnya, yang ia artikan sebagai ‘keberadaan’ [padahal HUPOSTASIS seharusnya artinya adalah person / pribadi (Latin: persona)]. Ia menolak terjemahan ‘oknum’ dengan alasan bahwa istilah itu mempunyai konotasi negatif, tetapi ia tidak membahas istilah ‘pribadi’ yang tidak mempunyai konotasi negatif. Baru pada Seminar / Kursus Singkat STRIS tanggal 3 Juli 2000, ia menggunakan istilah ‘pribadi’ untuk Yesus. Saya menduga bahwa ia melakukan ini hanya untuk menyesuaikan diri dengan STRIS.

2)   Dari anak buah Bambang Noorsena.
Dalam perdebatan 2 anak buah Bambang Noorsena dengan saya, sekalipun akhirnya mereka terpaksa mengakui bahwa Yesus betul-betul adalah Tuhan dan Allah, tetapi mereka tetap tidak mau mengakui bahwa Allah Tritunggal mempunyai 3 pribadi. Sama seperti Bambang Noorsena, mereka berkata bahwa Yesus sebelum inkarnasi hanyalah suatu ‘existence’ (= keberadaan). Mereka menganggap bahwa Allah hanyalah 1 pribadi, tetapi mempunyai unsur Firman dan Roh.

3)   Dari pemberitaan koran ‘Bangsa’.
Koran ‘Bangsa’, hari Kamis tanggal 25 Mei 2000: “Konsep teologi menurut ajaran KOS antara zat dan sifat adalah dua esensi berbeda namun satu. Zatnya adalah Allah dan sifatnya adalah al-Kalam dan Ruh Qudus. Jadi al-Kalam dan Ruh Qudus itu berada dalam zat. Konsep ini sama dengan pendapat Asy’ariyah, dimana antara zat dan sifat itu mempunyai esensi berbeda tapi keduanya satu” - hal 11, kolom 6.

4)   Dari Pdt. Yusuf Rony.
Pdt. Yusuf Rony, yang pernah bergabung dengan Gereja Orthodox Syria, sekarang juga mempunyai pandangan yang sama.
Majalah ‘NARWASTU’, bulan Juni 2000: Jadi monoteisme Abraham itu meeting point, ketemu dengan agama Islam, juga dengan agama Yahudi. ... telah terjadi pergeseran dalam dunia Kristen yang tidak lagi menyembah Tuhan, yang disembah justru istilah ‘Trinitas’. Istilah Trinitas itulah yang dibela yang dipahami bahkan disembah. Esensinya sudah hilang sama sekali. Padahal semula pengertian Tiofilos dalam rumusannya tidak menggunakan istilah Trinitas tapi menggunakan istilah Ausia dan Hipostasis. Ausia dalam agama Islam berarti: Sifat. Jadi firman itu adalah sifat, bukan Allah yang menjadi manusia, tapi firman yang menjadi manusia. Jadi di sini disimpulkan dengan kata lain, bahwa yang disembah adalah Dzat. Dzat itu tidak bisa disamakan dengan apapun. Karenanya, monoteisme agama Yahudi adalah akar dari monoteisme agama Kristen, itu seharusnya. ... Anak di sini adalah sifat dari Dzat. Bahasa Yunaninya hipostasis dari Ausia. ... Dalam Yohanes 17:5 Aku sudah ada bersama Bapa sebelum dunia dijadikan. Sebelum dunia dijadikan makhluk sudah ada belum? Belum ada. Sedangkan Yesus yang berbicara itu adalah makhluk. Waktu itu tentu ia tidak berbicara sebagai makhluk yang menjadi manusia, ia sebagai Firman yang melekat sehakekat di dalam diri Bapa. Yohanes 1:1, Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama dengan Allah, Firman itu adalah Allah. Firman itu, lho ... bukan Yesus. Ini sehakekat. Jadi Allah itu memiliki Firman juga memiliki Roh. Roh dan Firman adalah dua sifat yang mutlak ada, harus ada, wajib ada, dan mustahil tidak ada. Itu adalah Allah yang kami yakini. ... Yang namanya Allah itu harus ada Roh dan Firman. Kalau Roh dan Firman datang belakangan, dalam arti diciptakan kemudian oleh Allah, berarti Allah sempat tidak punya Roh dan Firman. Jadi sekali lagi Allah yang kami yakini sudah ada Roh dan Firman. Dia Allah yang mutlak dalam keesaan-Nya. ... Jadi kita jangan mengatakan Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus - hal 21-22.
Catatan: cetak miring asli dari majalahnya, tetapi garis bawah dari saya.

Tanggapan saya:

1)   Ajaran mereka tentang Allah Tritunggal jelas berbeda dengan yang seharusnya. Ajaran yang benar tentang Allah Tritunggal adalah bahwa Allah mempunyai hanya satu hakekat, tetapi 3 pribadi.
Dasar Kitab Sucinya adalah sebagai berikut: Pada satu pihak, Kitab Suci menyatakan keesaan Allah (Ul 6:4  1Kor 8:4  1Tim 2:5  Yak 2:19), tetapi pada pihak yang lain, kita melihat bahwa Kitab Suci menyatakan adanya kejamakan dalam diri Allah, misalnya dengan adanya:

a)   Penggunaan kata ganti orang bentuk jamak untuk diri Allah.
Kej 1:26 - Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi’”.

b)   Pembicaraan antara satu pribadi dengan pribadi yang lain.
Maz 2:7 - Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: ‘AnakKu engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.”.

c)   Saling kasih-mengasihi antara pribadi-pribadi itu (Mat 3:17  Yoh 17:23-24).
Yoh 17:23-24 - “Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepadaKu, agar mereka memandang kemuliaanKu yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.

d)   Pengutusan pribadi yang satu oleh pribadi yang lain (Yoh 14:26  Yoh 15:26  Yoh 17:3).
Yoh 14:26 - “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu”.
Yoh 15:26 - “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku”.
Yoh 17:3 - “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus”.

Catatan: ini hanya sebagian kecil dari dasar Kitab Suci dari doktrin Allah Tritunggal. Jika mau mempelajarinya lebih mendetail, bacalah buku saya yang berjudul ‘Theology / Doktrin Allah’.

Pengakuan Iman Athanasius:
“3. But the Catholic faith is this, that we worship one God in trinity, and trinity in unity.  4. Neither confounding the persons, nor separating the substance.  5. For the person of the Father is one, of the Son another, and of the Holy Ghost another.  6. But of the Father, of the Son, and of the Holy Ghost there is one divinity, equal glory and co-eternal majesty.  7. What the Father is, the same is the Son, and the Holy Ghost.  8. The Father is uncreated, the Son uncreated, the Holy Ghost uncreated.  9. The Father is immense, the Son immense, the Holy Ghost immense.  10. The Father is eternal, the Son eternal, the Holy Ghost eternal.  11. And yet there are not three eternals, but one eternal.  12. So there are not three (beings) uncreated, nor three immense, but one uncreated, and one immense.  13. In like manner the Father is omnipotent, the Son is omnipotent, the Holy Ghost is omnipotent.  14. And yet there are not three omnipotents, but one omnipotent.  15. Thus the Father is God, The Son is God, the Holy Ghost is God.  16. And yet there are not three Gods, but one God.  17. Thus The Father is Lord, the Son is Lord, the Holy Ghost is Lord.  18. And yet there are not three Lords, but one Lord.  19. Because as we are thus compelled by Christian verity to confess each person severally to be God and Lord; so we are prohibited by the Catholic religion from saying that there are three Gods or Lords.  20. The Father was made from none, nor created, nor begotten.  21. The Son is from the Father alone, neither made, nor created, but begotten.  22. The Holy Ghost is from the Father and the Son, neither made, nor created, nor begotten, but proceeding.  23. Therefore there is one Father, not three fathers, one Son, not three sons, one Holy Ghost, not three Holy Ghosts.  24. And in this trinity no one is first or last, no one is greater or less.  25. But all the three co-eternal persons are co-equal among themselves; so that through all, as is above said, both unity in trinity, and trinity in unity is to be worship.” (= 3. Tetapi iman Katolik / universal / am adalah ini, bahwa kami menyembah satu Allah dalam tritunggal, dan tritunggal dalam kesatuan.  4. Tidak ada kekacauan / percampuran pribadi-pribadi ataupun pemisahan zat.  5. Karena pribadi dari Bapa adalah satu, dari Anak adalah pribadi yang lain, dan dari Roh Kudus adalah pribadi yang lain.  6. Tetapi dari Bapa, dari Anak, dan dari Roh Kudus ada satu keilahian, kemuliaan yang sama / setara dan keagungan / kuasa yang berdaulat yang sama kekalnya.  7. Apa adanya Bapa itu, demikian juga dengan Anak, dan juga Roh Kudus.  8. Bapa tidak diciptakan, Anak tidak diciptakan, Roh Kudus tidak diciptakan.  9. Bapa itu maha besar, Anak itu maha besar, Roh Kudus itu maha besar.  10. Bapa itu kekal, Anak itu kekal, Roh Kudus itu kekal.  11. Tetapi tidak ada tiga yang kekal, tetapi satu yang kekal.  12. Demikian juga tidak ada tiga (makhluk) yang tidak dicipta, juga tidak tiga yang maha besar, tetapi satu yang tidak dicipta, dan satu yang maha besar.  13. Dengan cara yang sama Bapa adalah maha kuasa, Anak adalah maha kuasa, Roh Kudus adalah maha kuasa.  14. Tetapi tidak ada tiga yang maha kuasa, tetapi satu yang maha kuasa.  15. Demikian juga Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah.  16. Tetapi tidak ada tiga Allah, tetapi satu Allah.  17. Demikian pula Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan.  18. Tetapi tidak ada tiga Tuhan, tetapi satu Tuhan.  19. Karena sebagaimana kami didorong seperti itu oleh kebenaran Kristen untuk mengakui setiap pribadi secara terpisah / individuil sebagai Allah dan Tuhan; demikian pula kami dilarang oleh agama Katolik / universal / am untuk mengatakan bahwa ada tiga Allah atau Tuhan.  20. Bapa tidak dibuat dari apapun, tidak diciptakan, tidak diperanakkan.  21. Anak itu dari Bapa saja, tidak dibuat, tidak dicipta, tetapi diperanakkan.  22. Roh Kudus itu dari Bapa dan Anak, tidak dibuat, tidak dicipta, tidak diperanakkan, tetapi keluar.  23. Karena itu ada satu Bapa, bukan tiga bapa, satu Anak, bukan tiga anak, satu Roh Kudus, bukan tiga Roh Kudus.  24. Dan dalam tritunggal ini tidak ada yang pertama atau terakhir, tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil.  25. Tetapi ketiga pribadi yang sama-sama kekal dan setara di antara mereka sendiri; sehingga mereka semua secara keseluruhan, seperti dikatakan di atas, baik kesatuan dalam tritunggal, maupun tritunggal dalam kesatuan, harus disembah.) - A. A. Hodge, ‘Outlines of Theology’, hal 117-118.

2)   Dalam ajaran tentang Allah Tritunggal (dan juga tentang Kristologi dan doktrin keselamatan) tidak ada ‘meeting point’ (= titik temu) antara Kristen dan Islam, yang memang merupakan 2 agama yang berbeda! Kalau Bambang Noorsena bisa membuat titik temu, jelas itu disebabkan ia sudah mengkompromikan ajaran Kristen dan mengajarkan kesesatan.
Bahkan menurut saya juga tidak ada ‘meeting point’ dengan agama Yahudi, karena agama Yahudi hanya berdasarkan Perjanjian Lama, yang sekalipun sudah mengandung ajaran tentang Allah Tritunggal, tetapi masih samar-samar. Jadi monoteisme agama Yahudi adalah monoteisme yang mutlak, sedangkan monoteisme kristen adalah monoteisme yang tidak mutlak, karena kita mempercayai Allah yang esa dalam 3 pribadi.
Loraine Boettner: “This doctrine, we find, is of such a nature that, on the one hand, it avoids the hard monotheism of the Jews and Mohammedans, and on the other, the crass polytheism of the Greeks and Romans” (= Kami mendapatkan bahwa doktrin ini mempunyai sifat sedemikian rupa sehingga pada satu sisi doktrin ini menghindari monotheisme yang keras dari orang-orang Yahudi dan Islam, dan pada sisi yang lain menghindari polytheisme yang bodoh dari orang Yunani dan Romawi) - ‘Studies in Theology’, hal 110.

3)   Bambang Noorsena kelihatannya bukan hanya mau mempertemukan doktrin Allah Tritunggal dalam Kristen dan doktrin tentang Allah dalam ajaran Islam, tetapi ia juga mau membuat doktrin Allah Tritunggal itu menjadi ajaran yang masuk akal / bisa diterima oleh akal. Dengan mengatakan bahwa Allah hanya 1 pribadi, yang mempunyai Firman dan Roh, maka jelas sekali itu merupakan suatu doktrin yang bisa diterima akal (tetapi tidak alkitabiah).
Dalam mempelajari doktrin tentang Allah, perlu diketahui dan dicamkan bahwa otak kita yang terbatas tidak mungkin bisa mengerti total Allah yang tidak terbatas. Jika ada orang bisa mengajarkan doktrin Allah Tritunggal sehingga bisa diterima akal, itu pasti sesat!

4)   Pada waktu saya menelusuri sejarah tentang ajaran sesat tentang Allah Tritunggal, maka saya mendapatkan bahwa kelihatannya ajaran Bambang Noorsena tentang Allah Tritunggal ini mempunyai kemiripan dengan ajaran sesat tentang Allah Tritunggal yang disebut Dynamic Monarchianism. Kata Monarchianism berarti ‘pemerintah / penguasa tunggal’. Ajaran ini menekankan keesaan Allah, dan ini menyebabkan mereka mengorbankan keilahian Kristus.

Dr. Freundt: “The third century is one in which many anti-trinitarian theories were developed as an attempt to preserve belief in one God along with belief in Christ as the Son of God. (Monarchianism comes from two Greek words meaning a single ruler.) The Monarchianism believed that the doctrine of the Trinity, developed by the Apologists and the old Catholic theologians put in jeopardy the unity of God [= Abad ketiga merupakan saat dimana banyak teori-teori anti-tritunggal berkembang sebagai suatu usaha untuk menjaga kepercayaan kepada satu Allah bersama-sama dengan kepercayaan kepada Kristus sebagai Anak Allah. (Monarchianisme berasal dari 2 kata Yunani yang berarti satu pemerintah / penguasa.) Para pengikut Monarchianisme percaya bahwa doktrin tentang Tritunggal yang dikembangkan oleh para Apologists dan ahli-ahli teologia Katolik / Universal membahayakan kesatuan / keesaan Allah]  - ‘Early Christianity’, hal 47.

Louis Berkhof: “This is the type of Monarchianism that was mainly interested in maintaining the unity of God, and was entirely in line with the Ebionite heresy of the early Church and with present-day Unitarianism” (= Ini merupakan jenis Monarchianisme yang mempunyai keinginan utama untuk mempertahankan keesaan Allah, dan sepenuhnya sejalan dengan bidat Ebionite dari Gereja mula-mula dan dengan Unitarianisme pada jaman sekarang ini) - ‘The History of Christian Doctrines’, hal 77.

Sesuatu yang menarik adalah bahwa ajaran ini diajarkan oleh seorang yang bernama Artemon, seorang yang lahir di Syria, dan seorang pengajar yang paling terkenal dari ajaran ini bernama Paul dari Samosata, seorang bishop dari Antiokhia, Syria (Louis Berkhof, ‘The History of Christian Doctrines’, hal 78). Adapun ajaran Paul dari Samosata adalah sebagai berikut.

Louis Berkhof: “According to him the Logos was indeed homoousios or consubstantial with the Father, but was not a distinct Person in the Godhead. He could be identified with God, because He existed in Him just as human reason exists in man. He was merely an impersonal power, present in all men, but particularly operative in the man Jesus. ... By this construction of the doctrine of the Logos Paul of Samosata maintained the unity of God as implying oneness of person as well as oneness of nature, the Logos and the Holy Spirit being merely impersonal attributes of the Godhead; and thus became the forerunner of the later Socinians and Unitarians” (= Menurutnya Logos memang sehakekat atau dari zat / substansi yang sama dengan Bapa, tetapi bukan merupakan seorang Pribadi yang berbeda dalam diri Allah. Ia bisa disamakan dengan Allah, karena Ia ada dalam Dia sama seperti pikiran / akal manusia ada dalam manusia. Ia hanya semata-mata merupakan kuasa yang bukan merupakan pribadi, hadir dalam semua manusia, tetapi khususnya bekerja dalam manusia Yesus. ... Dengan konstruksi doktrin tentang Logos ini, Paul dari Samosata mempertahankan kesatuan / keesaan Allah sebagai kesatuan pribadi maupun kesatuan hakekat, karena Logos dan Roh Kudus semata-mata merupakan sifat-sifat, yang bukan merupakan pribadi, dari Allah; dan dengan demikian menjadi pelopor dari ajaran Socinians dan Unitarians yang muncul belakangan) - ‘The History of Christian Doctrines’, hal 78.

Selanjutnya Louis Berkhof (hal 83) juga mengatakan bahwa kalau Tertullian dan Hippolytus mempertahankan doktrin Allah Tritunggal terhadap ajaran Monarchianism di Barat, maka Origen mempertahankan doktrin Allah Tritunggal terhadap ajaran Monarchianism di Timur (ingat bahwa Syria termasuk Timur!). Tetapi doktrin Allah Tritunggal dari Origen ternyata cacat, karena ia menganggap bahwa Anak lebih rendah dari pada Bapa dalam hal hakekatnya.

Louis Berkhof: “The Father communicated to the Son only a secondary species of divinity, which may be called Theos, but not Ho Theos. He sometimes even speaks of the Son as Theos Deuteros. This is the most radical defect in Origen’s doctrine of the Trinity” (= Bapa memberikan kepada Anak hanya sejenis keilahian yang kedua / kelas dua, yang bisa disebut THEOS / Allah / God, tetapi tidak HO THEOS / Sang Allah / the God. Ia kadang-kadang bahkan berbicara tentang Anak sebagai THEOS DEUTEROS / Allah yang kedua. Ini merupakan cacat yang paling radikal dalam doktrin tentang Tritunggal dari Origen) - ‘The History of Christian Doctrines’, hal 84.

III) Dalam persoalan doktrin Alkitab.


Dalam acara tanya jawab di Hotel Sahid, April 1999, Bambang Noorsena secara terang-terangan menolak beberapa hal yang merupakan ciri khas golongan yang Alkitabiah dan Injili, yaitu:

1)   Semboyan ‘Back to the Bible’ (= Kembali kepada Alkitab).
Ia berkata bahwa semboyan ini merupakan produk golongan Protestan sebagai reaksi terhadap golongan Roma Katolik. Sedangkan Gereja Orthodox Syria sudah ada sebelum Roma Katolik, dan bahkan ia sebut sebagai ‘mbahnya Katolik’, sehingga tidak mengenal hal ini.
Ada keanehan dalam sesumbar tentang ‘mbahnya Katolik’ ini, karena koran ‘Bangsa’ mengatakan bahwa Gereja Orthodox Syria lahir baru pada abad 18, sehingga tidak mungkin ada sebelum Katolik, apalagi menjadi ‘mbahnya Katolik’.
Koran ‘Bangsa’, hari Jum’at tanggal 26 Mei 2000: “KOS, menurut Syamsudduha, lahir pada akhir abad XVIII di Timur Tengah. Kelahiran KOS di Timur Tengah itu sebagai reaksi atas perkembangan Kristen di Eropa yang semangatnya mulai menurun” - hal 1, kolom 1-2.
Catatan: Drs. Syamsudduha adalah dosen Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Satu pertanyaan yang harus ditanyakan dalam persoalan penolakan semboyan ‘Back to the Bible’ (= Kembali kepada Alkitab) ini adalah: kalau ia tidak mau kembali kepada Alkitab, lalu dengan otoritas apa / siapa ia mengajar, dan apa yang ia pakai sebagai dasar dalam mengajar?

Ini merupakan suatu kesalahan yang sangat parah, sehingga saya berpendapat bahwa andaikata Bambang Noorsena benar dalam semua doktrin yang lain, dan salah hanya dalam hal ini saja, itu sudah cukup untuk menganggapnya sebagai sesat!

2)   Doktrin tentang ‘Inerrancy of the Bible’ (= Ketidakbersalahan Alkitab).
Ia secara terang-terangan menyerang doktrin ini dengan mengatakan bahwa dalam Alkitab ada banyak hal-hal yang bertentangan seperti:

a)   Dalam 1Sam 17 Goliat dibunuh oleh Daud, tetapi dalam 2Sam 21:19 Goliat dibunuh oleh Elhanan.
Tanggapan saya: Ini menunjukkan kebodohan dan kesesatan Bambang Noorsena. Perlu diingat bahwa pada jaman itu ada banyak orang yang namanya sama, dan perlu juga dilihat bagian paralel dari 2Sam 21 itu, yaitu 1Taw 20:5 yang mengatakan bahwa orang yang dibunuh oleh Elhanan itu bernama Lahmi dan merupakan saudara dari Goliat yang dibunuh oleh Daud dalam 1Sam 17.

b)   Maz 45:7 (‘Takhtamu kepunyaan Allah’) bertentangan dengan Ibr 1:8 (‘TakhtaMu, ya Allah’).
Tanggapan saya: Maz 45:7 itu salah terjemahan. Perhatikan terjemahan-terjemahan bahasa Inggris dari Maz 45:7 (Ps 45:6) di bawah ini:
KJV/NASB: ‘Thy throne, O God’ (= TakhtaMu, ya Allah).
RSV: ‘Your divine throne’ (= Takhta ilahiMu). Ini ngawur.
NIV: ‘Your throne, O God’ (= TakhtaMu, ya Allah).
Jadi, sebetulnya Maz 45:7 itu persis sama dengan Ibr 1:8.
Sebagai orang yang mengerti bahasa Ibrani, Bambang Noorsena pasti tahu bahwa Maz 45:7 itu salah terjemahan, tetapi ia tetap menggunakan ayat yang salah terjemahan itu untuk membuktikan pandangannya bahwa Alkitab ada salahnya. Ini merupakan kesesatan / penyesatan yang disengaja!

Saya ingin menambahkan mengapa orang kristen yang Alkitabiah dan Injili mempercayai bahwa Alkitab itu inerrant (= tak ada salahnya). Alasannya adalah:
·         Alkitab itu adalah Firman Allah. Adalah kegilaan untuk mempercayai bahwa Allah bisa salah dalam berbicara.
·         Berulangkali dinyatakan dalam Kitab Suci bahwa Alkitab tidak boleh ditambahi ataupun dikurangi (Ul 4:2  Ul 12:32  Amsal 30:6  Mat 5:19  Wah 22:18-19). Kalau memang Alkitab ada salahnya, bukankah bagian yang salah itu boleh dibuang dan lalu ditambahkan bagian yang benar? Adanya larangan seperti ini menunjukkan bahwa Alkitab memang tidak ada salahnya.

Catatan: yang kita percayai sebagai sama sekali tidak ada salahnya adalah Alkitab aslinya (autograph), dan bukan manuscript / copy / salinan, apalagi yang sudah diterjemahkan ke bahasa lain.

William G. T. Shedd: “One or the other view of the Scriptures must be adopted; either that they were originally inerrant and infallible, or that they were originally errant and fallible. The first view is that of the church in all ages: the last is that of the rationalist in all ages. He who adopts the first view, will naturally bend all his efforts to eliminate the errors of copyists and harmonize discrepancies, and thereby bring the existing manuscripts nearer to the original autographs. By this process, the errors and discrepancies gradually diminish, and belief in the infallibility of Scripture is strengthened. He who adopts the second view, will naturally bend all his efforts to perpetuate the mistakes of scribes, and exaggerate and establish discrepancies. By this process, the errors and discrepancies gradually increase, and disbelief in the infallibility of Scripture is strengthened” (= Salah satu dari pandangan-pandangan tentang Kitab Suci ini harus diterima; atau Kitab Suci orisinilnya itu tidak bersalah, atau Kitab Suci orisinilnya itu bersalah. Pandangan pertama adalah pandangan dari gereja dalam segala jaman: pandangan yang terakhir adalah pandangan dari para rasionalis dalam segala jaman. Ia yang menerima pandangan pertama, secara alamiah akan berusaha untuk menyingkirkan kesalahan-kesalahan dari para penyalin dan mengharmoniskan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian, dan dengan itu membawa manuscript itu lebih dekat kepada autograph yang orisinil. Melalui proses ini, kesalahan-kesalahan dan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian berkurang secara bertahap, dan kepercayaan terhadap ketidakbersalahan Kitab Suci dikuatkan. Ia yang menerima pandangan yang kedua, secara alamiah akan berusaha untuk mengabadikan / menghidupkan terus-menerus kesalahan-kesalahan dari ahli-ahli Taurat / para penyalin, dan melebih-lebihkan dan meneguhkan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian itu. Melalui proses ini, kesalahan-kesalahan dan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian bertambah secara bertahap, dan ketidakpercayaan kepada ketidakbersalahan Kitab Suci dikuatkan) - ‘Calvinism: Pure and Mixed’, hal 137.

IV) Dipertahankannya hal-hal Perjanjian Lama yang seharusnya dibuang pada jaman Perjanjian Baru.


1)   Gereja Orthodox Syria masih mempunyai imam, yang bernama Henney Sumali.
Dalam jaman Perjanjian Lama memang ada imam sebagai pengantara antara Allah dan manusia. Dan imam jaman Perjanjian Lama ini merupakan TYPE dari Yesus Kristus. Pada waktu Yesus sebagai ANTI-TYPEnya datang, mati dan bangkit, maka TYPE ini sudah tergenapi, dan karena itu tidak boleh terus diberlakukan. Ini disimbolkan dengan sobeknya tirai Bait Suci pada saat kematian Kristus (Mat 27:51). Jadi sejak kematian dan kebangkitan Yesus, Yesuslah satu-satunya Imam / pengantara kita (1Tim 2:5  Ibr 4:14).
1Tim 2:5 - Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus”.
Calvin: “they who have actually learned the office of Christ will be satisfied with having him alone, and that none will make mediators at their own pleasure but those who neither know God nor Christ” (= mereka yang betul-betul telah belajar tentang jabatan / tugas Kristus akan puas dengan mempunyai Dia saja, dan bahwa tidak ada orang yang akan membuat pengantara-pengantara sesuka mereka kecuali mereka yang tidak mengenal Allah maupun Kristus) - hal 60.
Kalau sekarang pada jaman Perjanjian Baru kita masih mempunyai imam, maka itu merupakan penghinaan terhadap ke-imam-an Yesus.

2)   Masih adanya sunat / khitan.
Koran ‘Bangsa’, hari Rabu tanggal 24 Mei 2000: “Ajaran lain yang juga mirip dengan Islam adalah soal khitan. Penganut KOS juga khitan. Hanya saja khitan versi KOS bukanlah karena atas dasar syariah, melainkan terdorong tradisi, sebagaimana tradisi Yahudi yang mengkhitan bayi usia 8 hari. Tradisi khitan dalam KOS adalah mengkhitan anak laki-laki pada usia 12 seperti Nabi Ismail yang ketika sunat berusia 12 tahun. Khitan dalam pengertian KOS adalah baptisan atau taharat. Dalam makna religiusnya adalah pentahiran (pensucian) jasmani dan rahani - hal 11, kolom 4-5.

Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dari kutipan di atas:

a)   Perhatikan bagian terakhir kutipan di atas. Kalau memang ada makna religiusnya, yaitu pentahiran / pensucian jasmani dan rohani, maka jelas bahwa itu bukan sekedar tradisi!

Bandingkan dengan ajaran Kitab Suci tentang sunat dalam Perjanjian Baru:

·         Gal 2:3-5 - “Tetapi kendatipun Titus, yang bersama-sama dengan aku, adalah seorang Yunani, namun ia tidak dipaksa untuk menyunatkan dirinya. Memang ada desakan dari saudara-saudara palsu yang menyusup masuk, yaitu mereka yang menyelundup ke dalam untuk menghadang kebebasan kita yang kita miliki di dalam Kristus Yesus, supaya dengan jalan itu mereka dapat memperhambakan kita. Tetapi sesaatpun kami tidak mau mundur dan tunduk kepada mereka, agar kebenaran Injil dapat tinggal tetap pada kamu”.

·         Gal 5:2-6 - “Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan. Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih”.
Dalam tafsirannya tentang bagian ini Calvin mengatakan:
*        “The tendency of their whole doctrine is to blend the grace of Christ with the merit of works, which is impossible. Whoever wishes to have the half of Christ, loses the whole” (= Kecenderungan dari seluruh doktrin mereka adalah mencampurkan kasih karunia Kristus dengan jasa dari perbuatan baik, yang merupakan sesuatu yang mustahil. Siapapun yang ingin mendapatkan setengah dari Kristus, kehilangan seluruhnya) - hal 148.
*        “the Divine appointment of circumcision was only for a time. After the coming of Christ, it ceased to be a Divine institution, because baptism had succeeded in its room” (= penetapan Ilahi tentang sunat hanya untuk sementara waktu. Setelah kedatangan Kristus, sunat berhenti menjadi hukum / sakramen Ilahi, karena baptisan telah menggantikan tempatnya) - hal 150.

·         Gal 6:15 - “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya”.

·         Kis 15:1-2a - “Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: ‘Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.’ Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu”.
·         Ro 2:28-29 - “Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah”.

·         Kol 2:11-12 - “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati”.
Bandingkan dengan bagian kutipan di atas yang menyatakan bahwa Khitan dalam pengertian KOS adalah baptisan atau taharat’. Padahal dalam Kol 2:11-12 ini terlihat bahwa dalam Perjanjian Baru, baptisan seharusnya menggantikan sunat!
Tentang Kol 2:11 ini Calvin berkata: “He proves that the circumcision of Moses is not merely unnecessary, but is opposed to Christ, because it destroys the spiritual circumcision of Christ. For circumcision was given to the Fathers that it might be the figure of a thing that was absent: those, therefore, who retain that figure after Christ’s advent, deny the accomplishment of what it prefigures (= Ia membuktikan bahwa sunat dari Musa bukan sekedar tidak perlu, tetapi bertentangan dengan Kristus, karena itu menghancurkan sunat rohani dari Kristus. Karena sunat diberikan kepada Bapa-bapa supaya sunat itu bisa menjadi gambaran dari hal yang absen pada saat itu: karena itu, mereka yang mempertahankan gambar itu setelah kedatangan Kristus, menyangkal pencapaian / penyelesaian dari apa yang digambarkan oleh sunat itu) - hal 184.

b)   Hal yang lain yang perlu disoroti adalah: mengapa mereka sunat pada usia 12 tahun?
Dalam persoalan bilangan ‘12’ ini saya bertanya-tanya: Apakah korannya salah cetak? Karena menurut saya Ismael disunat pada usia 13 tahun, bukan 12 tahun. Ini bisa dilihat dengan membandingkan Kej 16:15-16 (Ismael lahir pada waktu Abraham berusia 86 tahun) dengan Kej 17:1,23 (waktu Ismael disunat Abraham berusia 99 tahun)].
Tetapi lebih penting lagi adalah pertanyaan: Mengapa mereka disunat pada usia 12 / 13 tahun seperti Ismael / orang Islam, bukan pada usia 8 hari seperti Ishak (Kej 21:4)? Bukankah usia 8 hari itu merupakan ketetapan Tuhan (Kej 17:12)? Kalau memang tidak mau peduli dengan ketetapan Tuhan tersebut, mengapa tidak sekalian menuruti sunatnya Abraham yang dilakukan pada usia 99 tahun (Kej 17:24)?
Bambang Noorsena berulang-ulang berkata bahwa kekristenan di Indonesia sudah diwesternisasikan. Tetapi kelihatannya dalam persoalan ini, dia yang mengalami peng-Arab-an / peng-Islam-an!

3)   Adanya jam doa / solat 7 waktu (Catatan: adanya waktu sembahyang dalam Kis 3:1 ia pakai sebagai dasar), adanya penggunaan kiblat pada waktu doa.

a)         Tentang jam doa.
Koran ‘Bangsa’, hari Rabu tanggal 24 Mei 2000: “Kalau dalam Islam shalat hanya lima waktu (Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’), tetapi KOS malah menyerukan umatnya untuk shalat tujuh kali (waktu). ... Rincian shalat itu sebagai berikut. Salat Subuh dilaksanakan sebagai penyambutan kebangkitan Isa Al Masih. Setelah shalat Subuh kemudian mereka shalat lagi pada sekitar jam 9 (dalam Islam disebut dhuha). Shalat ini dimaksudkan sebagai peringatan terhadap pengadilan Isa al-Masih. Jam 12 (dhuhur) penganut KOS shalat lagi. Shalat ini dimaksudkan sebagai peringatan terhadap penyaliban Isa, sedang shalat Ashar dimaksudkan sebagai peringatan terhadap waktu turunnya Isa dari Salib. Sedang shalat ghurub (dalam Islam shalat maghrib) dimaksudkan sebagai peringatan terhadap pemakaman Isa. Usai melaksanakan shalat ghurub penganut KOS kemudian shalat Isya. Setelah itu baru shalat lail (malam). ‘Isa sudah berpesan bahwa dia akan kembali di waktu malam seperti pencuri,’ kata Henney” - hal 1, kolom 1-3.

Bambang Noorsena bahkan mengatakan bahwa Kristen tidak punya jam doa karena sudah dimodernisir (oleh Barat). Dan dalam salah satu khotbahnya ia mengatakan bahwa Martin Luther masih mempunyai jam doa, tetapi hanya 2, yaitu pagi dan sore.

b)         Tentang kiblat.
Koran ‘Bangsa’, hari Rabu tanggal 24 Mei 2000: “Berbeda dengan Islam yang jika shalat menghadap ka’bah yang dari Indonesia masuk kategori arah barat, penganut KOS malah menghadap ke arah timur, yaitu menghadap baitul Maqdis” - hal 1, kolom 3.
Saya tidak tahu apa Baitul Maqdis itu, dan waktu saya menanyakan kepada seorang Islam, ia menjawab bahwa itu adalah nama sebuah mesjid di Yerusalem.

Tanggapan saya:

a)   Yoh 4:19-24 - Kata perempuan itu kepadaNya: ‘Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Percayalah kepadaKu, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran.’”.
Perhatikan bahwa perempuan Samaria itu menanyakan tempat menyembah yang benar. Dengan kata lain, ia mempersoalkan ibadah yang bersifat lahiriah, yang memang merupakan ciri khas ibadah Perjanjian Lama. Tetapi Yesus mengatakan bahwa ‘saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang’ (artinya saat itu adalah masa transisi) bahwa tempat penyembahan tidak lagi dipersoalkan. Yang dipersoalkan adalah menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Dengan kata-kata ini Yesus membuang semua ibadah lahiriah, dan menekankan ibadah rohani. Yang dimaksud dengan ibadah lahiriah adalah:
·         kiblat. Sekalipun ini memang ada pada jaman Perjanjian Lama (bdk. Daniel 6:11  1Raja 8:44  2Taw 6:34), tetapi ini dihapuskan pada jaman Perjanjian Baru.
·         tempat doa yang ditetapkan.
·         posisi tubuh dalam doa.
·         jam doa.

b)   Tidak ada yang bagian Kitab Suci yang mengajarkan bahwa kita harus berdoa untuk memperingati kebangkitan Yesus, penguburan Yesus dan sebagainya. Lebih-lebih untuk berdoa pada tengah malam karena Yesus berjanji akan datang seperti pencuri di waktu malam. Ini merupakan penafsiran yang menggelikan dari ayat itu, karena ayat itu tidak bisa diartikan bahwa Yesus akan datang keduakalinya pada malam hari / tengah malam. Ayat itu hanya berarti bahwa Yesus akan datang pada saat yang tidak terduga.
Mat 24:43-44 - Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga”.

c)         Dalam 1Tes 5:17 Paulus mengatakan Tetaplah berdoa’.
NIV: ‘pray continually’ (= berdoalah terus menerus).
NASB: ‘pray without ceasing’ (= berdoalah tanpa henti-hentinya).
Dengan kata-kata ini Paulus jelas menghapus jam doa, dan ini menunjukkan bahwa ‘tidak mempunyai jam doa’ bukannya merupakan kekristenan yang sudah diwesternisasikan, tetapi merupakan kekristenan yang alkitabiah!
Tentang Kis 3:1 yang menunjukkan masih adanya jam doa, perlu diketahui bahwa:
·         Jaman Kisah Rasul adalah masa transisi dari jaman Perjanjian Lama ke jaman Perjanjian Baru. Karena itu masih adanya jam doa dalam Kitab Kisah Para Rasul tidak bisa dijadikan dasar untuk terus memberlakukan jam doa.
·         Pada saat terjadinya Kis 3:1 itu, jelas bahwa 1Tes 5:17 belum ditulis.

d)   Saya tidak yakin sama sekali bahwa Martin Luther mempunyai jam doa. Mungkin Bambang Noorsena mencampuradukkan jam doa dengan kebiasaan doa. Hampir setiap orang kristen mempunyai kebiasaan doa, atau pada pagi, atau pada malam, dan sebagainya. Dan saya percaya Martin Luther juga demikian. Ini sangat berbeda dengan orang yang mempunyai jam doa. Perbedaannya biasanya terletak dalam 2 hal:
·         kalau itu hanya merupakan kebiasaan berdoa, maka tidak akan jadi soal kalau saatnya digeser 15 menit atau bahkan 30 menit. Tetapi kalau itu jam doa, maka waktunya harus persis.
·         kalau itu hanya merupakan kebiasaan berdoa, maka isi dari doanya bisa berubah-ubah. Tetapi kalau itu jam doa, biasanya isi doanya selalu sama.

V) Lain-lain.


1)   Dalam persoalan Maria.

a)         Bambang Noorsena mempercayai keperawanan abadi dari Maria.
Catatan: untuk ini saya juga mempunyai bukti rekaman khotbahnya, tetapi saya tidak tahu dimana khotbah itu disampaikan.

b)   Kelihatannya mereka juga mempercayai kesucian Maria, dan mempraktekkan ‘penghormatan’ kepada Maria, menyetujui doa ‘Salam Maria’ (dengan alasan bahwa Gabriel juga memberi salam kepada Maria - Luk 1:28), dan menyetujui Maria sebagai Ibu Gereja.
Koran ‘Bangsa’, hari Selasa tanggal 23 Mei 2000: “Menurut Henney, dalam Injil ini banyak pararel kisah-kisah yang sejajar dengan kisah-kisah dalam al-Qur’an. Ia mencontohkan, dalam al-Qur’an dikatakan Maryam dan putranya adalah manusia yang suci. Dalam ajaran KOS juga ada penghormatan (semacam salawat dalam Islam). Hanya saja salawat dalam KOS diarahkan pada Maryam, sedangkan dalam Islam pada Nabi Muhammad SAW” - hal 11, kolom 5.
Dalam salah satu khotbahnya Bambang Noorsena mengatakan bahwa Salam Maria adalah sesuatu yang Alkitabiah, karena kalimat pertama yaitu ‘Salam Maria, penuh kasih karunia, Tuhan beserta denganmu’, maupun kalimat kedua yaitu ‘berbahagialah engkau di antara wanita, dan diberkatilah buah kandunganmu, Yesus’ diambil dari Alkitab.

Tanggapan saya:

a)   Kitab Suci memang mengajarkan keperawanan Maria, sampai ia melahirkan Kristus. Tetapi Kitab Suci tidak pernah mengajarkan keperawanan yang abadi dari Maria. Ajaran tentang keperawanan yang abadi dari Maria ini bertentangan dengan Mat 1:24-25 - Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus. Perhatikan bahwa ayat ini tidak mengatakan bahwa Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria ‘sampai selama-lamanya’, tetapi ‘sampai ia (Maria) melahirkan anaknya laki-laki’.

b)   Alkitab berkata bahwa sejak kejatuhan Adam ke dalam dosa semua manusia dikandung dan lahir dalam dosa dan bahkan berbuat dosa (Ayub 25:4  Maz 51:7  Maz 58:4  Pengkhotbah 7:20  Ro 3:10-12,23  Ro 5:12,19). Yang dikecualikan hanyalah Tuhan Yesus sendiri (2Kor 5:21  Ibr 4:15). Karena itu haruslah disimpulkan bahwa Maria adalah manusia berdosa seperti kita.
Orang Roma Katolik menekankan kesucian Maria karena mereka ber-pendapat bahwa kalau Yesus itu suci, maka Maria, yang melahirkan-Nya, juga harus suci. Tetapi doktrin ini mempunyai konsekwensi logis sebagai berikut: kalau karena Yesus itu suci maka Maria harus suci, maka karena Maria suci kedua orang tua Maria harus suci. Dan kalau kedua orang tua Maria suci, maka keempat kakek nenek Maria harus suci. Kalau ini diteruskan maka akan menunjukkan bahwa Adam dan Hawapun harus suci! Ini adalah konsekwensi logis yang pasti tidak akan diterima baik oleh orang Roma Katolik maupun Orthodox Syria!

c)   Tentang ‘Salam Maria’.
·         Isi salam Gabriel hanya berbunyi: Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (Luk 1:28). Ini tentu sangat berbeda dengan isi dari ‘Salam Maria’ (Hail Mary / Ave Maria), yang berbunyi sebagai berikut: “Hail Mary, full of grace, the Lord is with thee; blessed art thou amongst women, and blessed is the fruit of thy womb, Jesus. Holy Mary, mother of God, pray for us sinners, now and at the hour of our death. Amen.” (= Salam Maria, penuh kasih karunia, Tuhan beserta denganmu; berbahagialah engkau di antara wanita, dan diberkatilah buah kandunganmu, Yesus. Maria yang kudus, bunda Allah, berdoalah untuk kami orang-orang berdosa, sekarang dan pada saat kematian kami. Amin).
Ini jelas merupakan suatu doa yang ditujukan kepada Maria, dan jelas merupakan sesuatu yang salah.
·         Memang kalimat pertama yaitu ‘Salam Maria, penuh kasih karunia, Tuhan beserta denganmu’ diambil dari Alkitab (Luk 1:28), dan kalimat kedua yaitu ‘berbahagialah engkau di antara wanita, dan diberkatilah buah kandunganmu, Yesus’ juga diambil dari Alkitab (Luk 1:42). Tetapi bagaimana dengan kalimat ketiga yaitu ‘Maria yang kudus, bunda Allah, berdoalah untuk kami orang-orang berdosa, sekarang dan pada saat kematian kami’? Mengapa kalimat ketiga ini tidak dibahas oleh Bambang Noorsena? Yang ini jelas tidak ada dalam Alkitab!
·         Maria sudah mati, dan Kitab Suci tidak pernah mengajar untuk melakukan penghormatan kepada orang yang sudah mati. Gabriel (Luk 1:28) maupun Elisabet (Luk 1:42) memberi salam kepada Maria, pada saat Maria masih hidup. Ini tentu berbeda dengan kalau kita sekarang memberi salam kepada Maria yang sudah mati.

d)   Kalau karena Gabriel memberi salam kepada Maria, lalu dimunculkan doa Salam Maria, maka perlu kita ingat bahwa Yesus juga memberi salam kepada para muridNya (Mat 28:9), dan Paulus memberi salam kepada sederetan orang dalam Ro 16:3-15. Lalu mengapa Gereja Orthodox Syria tidak membuat doa Salam Petrus, doa Salam Matius, dsb?

e)   Kitab Suci juga tidak pernah mengajarkan bahwa Maria adalah Ibu Gereja.

2)   Tradisi Arab / Syria seperti penggunaan peci / jilbab dan penggunaan bahasa Arab, Syria dan sebagainya.

Tanggapan saya:

Kita tidak perlu meniru tradisi Arab / Syria, karena kita bukannya tinggal di Arab / Syria. Bdk. 1Kor 9:20-22 - Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka”.
Ayat ini menunjukkan bahwa Paulus menyesuaikan dirinya dengan orang yang ia layani. Berdasarkan ayat ini, kita yang tinggal di Indonesia harus menyesuaikan diri dengan tradisi Indonesia (selama tradisi itu tidak bertentangan Firman Tuhan), bukan menyesuaikan diri dengan tradisi Arab / Syria.
Kalau mereka mengatakan bahwa penggunaan jilbab dan bahasa Arab merupakan tradisi Islam, dan Gereja Orthodox Syria menyesuaikan diri dengan tradisi Islam tersebut untuk memenangkan orang Islam, menurut saya alasan ini tidak terlalu kuat, karena orang Islam yang menggunakan peci / jilbab, apalagi yang bisa menggunakan bahasa Arab, presentasinya tidaklah terlalu besar.
Saya pernah 2 x mengikuti semacam kebaktian / persekutuan Gereja Orthodox Syria di Hotel Sahid, dan saya melihat suasana yang bukan suasana gereja, tetapi lebih mirip suasana mesjid. Disamping itu baik dalam liturgi kebaktian, maupun dalam khotbah, digunakan begitu banyak bahasa asing (Arab, Syria, Ibrani, Yunani) yang seringkali digunakan tanpa terjemahan, yang menyebabkan jemaat menjadi semacam penonton yang tidak mengerti apa-apa, sehingga tidak bisa betul-betul ikut berbakti dengan hati / pikiran mereka. Saya pikir mereka perlu merenungkan kata-kata Paulus di bawah ini:
·         1Kor 14:9 - Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara!”.
·         1Kor 14:19 - Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh”.

Kesalahan lain dalam penekanan bahasa Arab ini adalah bahwa Bambang Noorsena seringkali menafsirkan suatu ayat berdasarkan bahasa Arab, yang justru berbeda dengan bahasa aslinya, sehingga justru menjadi salah. Misalnya: ia mengatakan bahwa Kel 20:3 seharusnya diterjemahkan ‘Jangan ada padamu illah lain (bukan allah lain) di hadapanKu’, dengan alasan bahwa dalam bahasa Arab, kata ‘Allah’ selalu menunjuk kepada Allah yang benar. Tetapi perlu diingat bahwa Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani, dan bukan dalam bahasa Arab. Dan dalam bahasa Ibrani, istilah ELOHIM bisa menunjuk kepada Allah yang benar maupun kepada berhala / dewa.

3)   Penggunaan bahasa asli (Ibrani dan Yunani) yang membahayakan / menyesatkan.

a)         Bahasa asli sebagai sebagai pameran dan pemikat.
Dalam khotbah-khotbahnya Bambang Noorsena sering menggunakan kata-kata bahasa asing (Arab, Ibrani, Yunani, Aramaic, dsb), tanpa ada gunanya. Bahkan ia pernah berkhotbah dimana pada awal khotbah ia membacakan seluruh text dalam bahasa Yunani. Saya tidak menentang penggunaan bahasa asli atau bahasa asing dalam khotbah, selama memang ada gunanya. Yang saya tekankan adalah penggunaan bahasa asli / asing yang tidak ada gunanya. Penggunaan bahasa asing tanpa ada gunanya ini juga diikuti oleh anak-anak buah Bambang Noorsena. Semua ini memberikan kesan mereka ingin memamerkan kepandaian mereka, mungkin supaya orang terkesan dan lalu mengikuti mereka.
Berkenaan dengan hal ini saya ingin mengingatkan saudara bahwa orang yang menguasai bahasa asli belum tentu benar, apalagi paling benar. Mengapa saya berpendapat demikian? Karena kalau orang yang menguasai bahasa asli memang pasti benar, maka orang-orang Yahudi pada jaman Yesus tentu semua sudah bertobat dan menjadi orang yang benar, karena mereka menguasai semua bahasa asli tersebut. Kenyataannya mereka sesat dan menolak Kristus! Karena itu janganlah mengikuti Bambang Noorsena hanya karena ia menguasai bahasa asli!

b)         Bahasa asli untuk menyesatkan.
Pengkhotbah memang gampang menyesatkan pendengar dengan menggunakan bahasa asli, karena jemaat umumnya tidak punya akses kepada bahasa aslinya. Dan hal seperti ini dilakukan oleh Bambang Noorsena.
Contoh:
·         Dalam sebuah bukunya ia menterjemahkan ulang Maz 133:1 - Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!”. Ia lalu menuliskan ayat ini dalam bahasa Ibrani yang ditransliterasikan (dituliskan dengan huruf biasa / Latin), dan lalu menterjemahkan ulang ayat ini dimana ia mengubah kata ‘saudara-saudara’ menjadi ‘semua orang’. Padahal kata Ibrani yang dipakai adalah AKHIM yang artinya memang ‘saudara-saudara’ (Akh artinya ‘saudara’, sedangkan AKHIM adalah bentuk jamaknya).
Saya menduga ia sengaja mengubah ayat ini menjadi salah untuk mendukung ‘kerukunan’ yang ia bina dengan ‘orang seberang’.
·         dalam salah satu khotbahnya Bambang Noorsena menterjemahkan kata-kata Ibrani AD ET YOLEDAH YALADAH dalam Mikha 5:2 sebagai ‘perempuan yang ditentukan akan melahirkan’, padahal sebetulnya sama sekali tidak ada kata ‘ditentukan’.
·         dalam salah satu khotbahnya, Bambang Noorsena mengatakan bahwa dalam Kis 10:2-3 ada sembahyang Minkah. Katanya ini tidak ada dalam Alkitab bahasa Indonesia tetapi ada dalam bahasa aslinya. Saya mengecheck hal ini, dan ternyata dalam bahasa aslinya / Yunani, kata MINKAH itu tidak ada.
·         dalam khotbah-khotbahnya Bambang Noorsena sering menggunakan kata HUPOSTASIS, tetapi kadang-kadang ia artikan sebagai ‘sifat’, kadang-kadang ia artikan sebagai ‘existence’ (= keberadaan), dan terakhir dalam Seminar / Kursus Singkat STRIS tanggal 3 Juli 2000, ia artikan sebagai ‘pribadi’.
·         Dalam acara tanya jawab dalam Seminar / Kursus Singkat STRIS tanggal 3 Juli 2000, Bambang Noorsena berkata bahwa kata ‘iman’ dan ‘perbuatan baik’ hanya satu kata dalam bahasa Ibrani. Waktu mendengar itu saya sudah tidak percaya, karena 2 kata itu sangat berbeda. Tetapi saya tetap mengechek ulang hal ini. Saya mencari kata ‘percaya’ dalam Perjanjian Lama dan saya ingat akan Kej 15:6 - Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran”. Kata Ibrani yang dipakai adalah Veheemin (= and he believed / dan ia percaya). Lalu saya mencari kata ‘berbuat baik’, dan saya menjumpai dalam Yer 13:23 - Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hai orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat?”. Kata Ibraninya adalah lehetiv (= to do good / berbuat baik). Jelas bahwa kedua kata itu sama sekali berbeda, dan karena itu jelas merupakan suatu omong kosong kalau ‘iman’ dan ‘perbuatan baik’ merupakan satu kata dalam bahasa Ibrani. Kalaupun kata ‘iman’ sudah mencakup perbuatan baik, itu tidak berarti bahwa tidak ada kata lain yang artinya memang ‘perbuatan baik’.
Disamping itu, theologia tentang keselamatan karena iman atau perbuatan baik jelas lebih ditekankan dalam Perjanjian Baru, dan karena itu harus ditelusuri dalam Perjanjian Baru / bahasa Yunani, bukan Perjanjian Lama / bahasa Ibrani. Dan bahasa Yunani jelas membedakan kedua istilah itu.
Saya setuju bahwa iman dan perbuatan baik tidak bisa dipisahkan, artinya kalau ada iman pasti ada perbuatan baik.
Tetapi sekalipun kedua hal itu tidak bisa dipisahkan, mereka dapat dibedakan dan harus dibedakan. Kita diselamatkan hanya oleh iman, tetapi iman itu haruslah iman sejati yang menyatakan dirinya melalui perbuatan baik. Karena itu muncul kata-kata ‘we are justified by faith alone, but not by faith that is alone’ (= kita dibenarkan oleh iman saja, tetapi bukan oleh iman yang ada sendirian).

4)   Roh Kudus keluar hanya dari Bapa.
Kristen (dan Katolik) percaya bahwa Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak.
Doktrin ini terlalu dalam dan rumit untuk dibahas di sini, dan saya beranggapan bahwa kalau mereka salah dalam persoalan ini, itu tidak terlalu jadi soal, karena ini sama sekali bukan merupakan doktrin dasar dalam kekristenan.

5)   Bambang Noorsena berulangkali menyatakan kebanggaannya karena ia diterima oleh tokoh-tokoh ‘orang seberang’ (padahal ‘orang seberang’ itu tidak bertobat / percaya kepada Yesus), dan ia mengecam orang kristen yang tidak diterima oleh ‘orang seberang’.
Ia juga mengatakan bahwa dengan sistim penyampaian seperti yang ia lakukan, sekalipun ia tidak mengkompromikan kepercayaannya, tetapi bisa terjadi ‘agree in disagreement’ (= setuju di dalam ketidaksetujuan).

Tanggapan saya tentang hal ini:

a)   Perlu dipertanyakan mengapa ia bisa diterima oleh ‘orang seberang’ padahal mereka tidak bertobat / percaya kepada Yesus? Jelas karena ajaran yang ia beritakan adalah Kitab Suci / Injil yang sudah disesuaikan dengan telinga ‘orang seberang’ itu.
Misalnya ia berkata: kalau bicara kepada orang Islam sebut Bapa sebagai Wujutulah (= the existence of God / keberadaan Allah), Anak sebagai Kalimatulah (= Firman Allah), Roh Kudus sebagai Rohulah (= Roh Allah), pasti tidak ada batu sandungan.
Bandingkan sikap kompromi Bambang Noorsena ini dengan kata-kata Paulus dalam:
·         2Kor 4:2 - “Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah”.
·         1Kor 1:22-23 - “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”.
Paulus tetap memberitakan salib, sekalipun itu adalah batu sandungan!

b)   Pada waktu Yesus sendiri, rasul-rasul, dan orang-orang kristen abad pertama (bahkan nabi-nabi dalam Perjanjian Lama) memberitakan Injil / Firman Tuhan, saya tidak melihat bahwa orang-orang yang menolak mereka lalu ‘setuju di dalam ketidak-setujuan’. Sebaliknya mereka memusuhi, memfitnah, dan tidak jarang menganiaya dan membunuh pemberita Injil / Firman Tuhan tersebut. Mengapa? Karena berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Bambang Noorsena, mereka ini tidak mengkompromikan Injil / Firman Tuhan tersebut. Bandingkan dengan kata-kata Paulus dalam 2Kor 4:2 di atas.

c)   Dalam Kitab Suci ada beberapa ayat yang berhubungan dengan hal ini yaitu:
·         Yoh 15:18-20a - Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih dari tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu.
·         Mat 10:21-28 - Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena namaKu; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya. Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah. Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka”.
Renungkan kedua text di atas ini. Kalau Bambang Noorsena bisa tidak dimusuhi dengan sistim pemberitaan yang ia gunakan, bukankah ia menjadi hamba / murid yang lebih tinggi dari Tuan / Gurunya?
·         Luk 6:22-23 - “Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi”.
·         Luk 6:26 - “Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu”.

Saya ingin memberikan beberapa kutipan yang berhubungan dengan hal ini:

Calvin: “We cannot be Christ’s soldiers on any other condition, than to have the greater part of the world rising in hostility against us, and pursuing us even to death. The state of the matter is this. Satan, the prince of the world, will never cease to fill his followers with rage, to carry on hostilities against the members of Christ” (= Kita tidak bisa menjadi tentara Kristus dengan kondisi / keadaan yang lain selain mendapatkan sebagian besar dunia ini memusuhi kita, dan mengejar kita sampai mati. Keadaannya adalah seperti ini. Setan, penguasa dunia ini, tidak akan pernah berhenti untuk mengisi pengikut-pengikutnya dengan kemarahan, meneruskan permusuhan terhadap anggota-anggota Kristus).

Luther: “The Church is the community of those who are persecuted and martyred for the gospel’s sake” (= Gereja adalah kumpulan orang yang dianiaya dan dibunuh karena Injil).

Charles Haddon Spurgeon: “If we were more like Christ, we would be more hated by His enemies. It were a sad dishonor to a child of God to be the world’s favourite. It is a very ill omen to hear a wicked world clasp its hands and shout ‘Well done’ to the Christian man. He may begin to look to his character and wonder whether he has not been doing wrong, when the unrighteous give him their approbation” (= Jika kita lebih menyerupai Kristus, kita akan lebih dibenci oleh musuh-musuhNya. Merupakan sesuatu yang memalukan dan menyedihkan bagi seorang anak Allah untuk menjadi favorit / kesayangan dunia. Merupakan suatu pertanda yang sangat buruk untuk mendengar dunia yang jahat bertepuk tangan dan berteriak ‘Baik sekali perbuatanmu’ kepada orang Kristen. Ia boleh mulai melihat pada karakternya dan bertanya-tanya apakah ia tidak melakukan apa yang salah, pada waktu orang yang tidak benar memberinya persetujuan / penerimaan mereka) - ‘Morning and Evening’, Nov 10, evening.

Leon Morris (Tyndale):
·         “It is a danger when all men speak well of you, for this can scarcely happen apart from sacrifice of principle” (= Merupakan sesuatu yang berbahaya kalau semua orang memuji / berbicara baik tentang kamu, karena ini hampir tidak mungkin terjadi terpisah dari pengorbanan prinsip).
·         “It is the false prophets who win wide acclaim (cf. Je. 5:31). A true prophet is too uncomfortable to be popular” [= Adalah nabi-nabi palsu yang memenangkan banyak tempik sorak (bdk. Yer 5:31). Seorang nabi yang benar terlalu tidak menyenangkan untuk menjadi populer].

William Hendriksen: “When everybody speaks well of you it must be that you are a deceitful, servile flatterer” (= Kalau setiap orang berbicara baik tentang kamu / memuji kamu, itu pasti karena kamu adalah seorang penjilat yang mau merendahkan diri dan bersifat penipu).

Dari semua ini, menurut saya, penerimaan oleh ‘orang seberang’ itu tidak seharusnya membuat dia menjadi bangga, tetapi sebaliknya harus membuat ia malu.

Kesimpulan:


1)   Bambang Noorsena adalah seekor bunglon yang selalu menyesuaikan ajarannya dengan orang-orang kepada siapa ia berkhotbah. Ini menyebabkan ia kadang-kadang kelihatan lumayan baik. Ini juga yang menyebabkan ia sangat berbahaya.

2)   Gereja Orthodox Syria versi Bambang Noorsena adalah gereja sesat, dan Bambang Noorsena adalah seorang nabi palsu, karena Gereja Orthodox Syria / Bambang Noorsena salah dalam banyak persoalan dasar dari kekristenan.

Dalam persoalan adanya banyak orang Kristen yang menyebut Gereja Orthodox Syria sebagai sesat, Bambang Noorsena mengatakan: ‘Nenek moyangnya sendiri dikatakan sesat?’. Jadi kelihatannya ia mempunyai motto ‘right or wrong my ancestors’ (= benar atau salah nenek moyang saya). Terhadap kata-kata ini saya ingin menjawab dengan mengutip suatu bagian Kitab Suci, yaitu dari Ul 13:6-11 yang berbunyi: Apabila saudaramu laki-laki, anak ibumu, atau anakmu laki-laki atau anakmu perempuan atau isterimu sendiri atau sahabat karibmu membujuk engkau diam-diam, katanya: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu, salah satu allah bangsa-bangsa sekelilingmu, baik yang dekat kepadamu maupun yang jauh dari padamu, dari ujung bumi ke ujung bumi, maka janganlah engkau mengalah kepadanya dan janganlah mendengarkan dia. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, janganlah mengasihani dia dan janganlah menutupi salahnya, tetapi bunuhlah dia! Pertama-tama tanganmu sendirilah yang bergerak untuk membunuh dia, kemudian seluruh rakyat. Engkau harus melempari dia dengan batu, sehingga mati, karena ia telah berikhtiar menyesatkan engkau dari pada TUHAN, Allahmu, yang telah membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan. Maka seluruh orang Israel akan mendengar dan menjadi takut, sehingga mereka tidak akan melakukan lagi perbuatan jahat seperti itu di tengah-tengahmu”.
Dengan mengutip text ini saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa text ini harus dilakukan secara hurufiah, yaitu dengan betul-betul menghukum mati penyesat tersebut, karena ini merupakan hukum negara pada saat itu, yang tidak harus diberlakukan di tempat lain dan pada jaman yang berbeda. Tetapi saya mengutip text ini dengan maksud untuk menekankan bahwa dalam persoalan kesesatan, kita tidak boleh mengenal keluarga. Kita harus mengasihi Kristus lebih dari keluarga (Mat 10:37  Luk 14:26), dan karena itu jika ada keluarga dekat yang sesat, kita harus tetap mengecam dan bahkan menjauhi dia (setelah menasehatinya - Tit 3:10). Apalagi kalau yang disebut keluarga itu adalah nenek moyang yang jauh, apalagi hanya dalam arti rohani. Karena itu tidak peduli Gereja Orthodox Syria adalah nenek moyang atau bukan nenek moyang, mereka tetap harus dikecam karena kesesatannya!

Pdt. Yusuf Rony, dulunya bergabung dengan Gereja Orthodox Syria, dan memujinya secara luar biasa. Tetapi belakangan ia lalu meninggalkan Gereja Orthodox Syria. Dan majalah Narwastu bulan Juni 2000, hal 18, menuliskan tentang Pdt. Yusuf Rony sebagai berikut:
“Beberapa bulan setelah memproklamirkan diri sebagai pemeluk Orthodox, dalam wawancara khusus dengan Narwastu ia menyatakan telah keluar dari Orthodox. Bahkan dengan tegas ia mengatakan bahwa masuknya dia ke Orthodox merupakan kesalahan besar. ‘Dari pada sesat, lebih baik saya bertobat. Saya tetap Protestan, ... ”.

Saudara bukan hanya wajib menjauhi Gereja Orthodox Syria dan tidak mendukungnya, tetapi juga memperingatkan / memberitahu orang-orang yang disesatkan oleh gereja ini!

Dan bagi Bambang Noorsena dan kelompoknya, saya ingin mengingatkan kata-kata Tuhan Yesus dalam Mat 18:7 - Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya”.




-o0o-


Apendix

Sebagai tambahan saya ingin memberikan Pengakuan Iman Athanasius secara keseluruhan karena ini merupakan yang pengakuan iman yang paling mendetail berkenaan dengan doktrin tentang Allah Tritunggal, dan karena itu merupakan pengakuan iman yang sangat penting.

Pengakuan Iman Athanasius:
“1. Whosoever wishes to be saved, it is above all necessary for him to hold the Catholic faith.  2. Which, unless each one shall preserve perfect and inviolate, he shall certainly perish forever.  3. But the Catholic faith is this, that we worship one God in trinity, and trinity in unity.  4. Neither confounding the persons, nor separating the substance.  5. For the person of the Father is one, of the Son another, and of the Holy Ghost another.  6. But of the Father, of the Son, and of the Holy Ghost there is one divinity, equal glory and co-eternal majesty.  7. What the Father is, the same is the Son, and the Holy Ghost.  8. The Father is uncreated, the Son uncreated, the Holy Ghost uncreated.  9. The Father is immense, the Son immense, the Holy Ghost immense.  10. The Father is eternal, the Son eternal, the Holy Ghost eternal.  11. And yet there are not three eternals, but one eternal.  12. So there are not three (beings) uncreated, nor three immense, but one uncreated, and one immense.  13. In like manner the Father is omnipotent, the Son is omnipotent, the Holy Ghost is omnipotent.  14. And yet there are not three omnipotents, but one omnipotent.  15. Thus the Father is God, The Son is God, the Holy Ghost is God.  16. And yet there are not three Gods, but one God.  17. Thus The Father is Lord, the Son is Lord, the Holy Ghost is Lord.  18. And yet there are not three Lords, but one Lord.  19. Because as we are thus compelled by Christian verity to confess each person severally to be God and Lord; so we are prohibited by the Catholic religion from saying that there are three Gods or Lords.  20. The Father was made from none, nor created, nor begotten.  21. The Son is from the Father alone, neither made, nor created, but begotten.  22. The Holy Ghost is from the Father and the Son, neither made, nor created, nor begotten, but proceeding.  23. Therefore there is one Father, not three fathers, one Son, not three sons, one Holy Ghost, not three Holy Ghosts.  24. And in this trinity no one is first or last, no one is greater or less.  25. But all the three co-eternal persons are co-equal among themselves; so that through all, as is above said, both unity in trinity, and trinity in unity is to be worship.  26. Therefore, he who wishes to be saved must think thus concerning the trinity.  27. But it is necessary to eternal salvation that he should also faithfully believe the incarnation of our Lord Jesus Christ.  28. It is, therefore, true faith that we believe and confess that our Lord Jesus Christ is both God and man.  29. He is God, generated from eternity from the substance of the Father; man, born in time from the substance of his mother.  30. Perfect God, perfect man, subsisting of a rational soul and human flesh.  31. Equal to the Father is respect to his divinity, less than the Father in respect to his humanity.  32. Who, although he is God and man, is not two but one Christ.  33. But one, not from the conversion of his divinity into flesh, but from the assumption of his humanity into God.  34. One not at all from confusion of substance, but from unity of person.  35. For as a rational soul and flesh is one man, so God and man is one Christ.  36. Who suffered for our salvation, descended into hell, the third day rose from the dead.  37. Ascended to heaven, sitteth at the right hand of God the Father omnipotent, whence he shall come to judge the living and the dead.  38. At whose coming all men shall rise again with their bodies, and shall render an account for their own works.  39. And they who have done well shall go into life eternal; they who have done evil into eternal fire.  40. This is the Catholic faith, which, unless a man shall faithfully and firmly believe, he can not be saved.” (= 1. Barangiapa yang ingin diselamatkan, adalah perlu baginya di atas segala-galanya untuk memegang / mempercayai iman Katolik / universal / am.  2. Yang, kecuali setiap orang memelihara / mempertahankannya secara sempurna dan tidak diganggu gugat, ia pasti akan binasa selama-lamanya.  3. Tetapi iman Katolik / universal / am adalah ini, bahwa kami menyembah satu Allah dalam tritunggal, dan tritunggal dalam kesatuan.  4. Tidak ada kekacauan / percampuran pribadi-pribadi ataupun pemisahan zat.  5. Karena pribadi dari Bapa adalah satu, dari Anak adalah pribadi yang lain, dan dari Roh Kudus adalah pribadi yang lain.  6. Tetapi dari Bapa, dari Anak, dan dari Roh Kudus ada satu keilahian, kemuliaan yang sama / setara dan keagungan / kuasa yang berdaulat yang sama kekalnya.  7. Apa adanya Bapa itu, demikian juga dengan Anak, dan juga Roh Kudus.  8. Bapa tidak diciptakan, Anak tidak diciptakan, Roh Kudus tidak diciptakan.  9. Bapa itu maha besar, Anak itu maha besar, Roh Kudus itu maha besar.  10. Bapa itu kekal, Anak itu kekal, Roh Kudus itu kekal.  11. Tetapi tidak ada tiga yang kekal, tetapi satu yang kekal.  12. Demikian juga tidak ada tiga (makhluk) yang tidak dicipta, juga tidak tiga yang maha besar, tetapi satu yang tidak dicipta, dan satu yang maha besar.  13. Dengan cara yang sama Bapa adalah maha kuasa, Anak adalah maha kuasa, Roh Kudus adalah maha kuasa.  14. Tetapi tidak ada tiga yang maha kuasa, tetapi satu yang maha kuasa.  15. Demikian juga Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah.  16. Tetapi tidak ada tiga Allah, tetapi satu Allah.  17. Demikian pula Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan.  18. Tetapi tidak ada tiga Tuhan, tetapi satu Tuhan.  19. Karena sebagaimana kami didorong seperti itu oleh kebenaran Kristen untuk mengakui setiap pribadi secara terpisah / individuil sebagai Allah dan Tuhan; demikian pula kami dilarang oleh agama Katolik / universal / am untuk mengatakan bahwa ada tiga Allah atau Tuhan.  20. Bapa tidak dibuat dari apapun, tidak diciptakan, tidak diperanakkan.  21. Anak itu dari Bapa saja, tidak dibuat, tidak dicipta, tetapi diperanakkan.  22. Roh Kudus itu dari Bapa dan Anak, tidak dibuat, tidak dicipta, tidak diperanakkan, tetapi keluar.  23. Karena itu ada satu Bapa, bukan tiga bapa, satu Anak, bukan tiga anak, satu Roh Kudus, bukan tiga Roh Kudus.  24. Dan dalam tritunggal ini tidak ada yang pertama atau terakhir, tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil.  25. Tetapi ketiga pribadi yang sama-sama kekal dan setara di antara mereka sendiri; sehingga mereka semua secara keseluruhan, seperti dikatakan di atas, baik kesatuan dalam tritunggal, maupun tritunggal dalam kesatuan, harus disembah.  26. Karena itu, ia yang ingin diselamatkan harus berpikir demikian tentang tritunggal.  27. Tetapi adalah perlu untuk keselamatan kekal bahwa ia juga percaya dengan setia / benar inkarnasi dari Tuhan kita Yesus Kristus.  28. Karena itu adalah iman yang benar bahwa kita percaya dan mengaku bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah Allah dan manusia.  29. Ia adalah Allah, diperanakkan dari kekekalan dari zat Sang Bapa; manusia, dilahirkan dalam waktu dari zat ibuNya.  30. Allah yang sempurna, manusia yang sempurna, terdiri dari jiwa yang rasionil dan daging manusia.  31. Setara dengan Sang Bapa dalam hal keilahianNya, lebih rendah dari Sang Bapa dalam hal kemanusiaanNya.  32. Yang, sekalipun adalah Allah dan manusia, bukanlah dua tetapi satu Kristus.  33. Tetapi satu, bukan dari perubahan dari keilahianNya menjadi daging, tetapi dari penerimaan / pengambilan dari kemanusiaanNya kepada / ke dalam Allah.  34. Satu, sama sekali bukan karena percampuran zat, tetapi dari kesatuan pribadi.  35. Karena sebagaimana jiwa yang rasionil dan daging adalah satu manusia, demikian juga Allah dan manusia adalah satu Kristus.  36. Yang menderita untuk keselamatan kita, turun ke neraka, hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati.  37. Naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa, darimana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.  38. Pada kedatangan siapa semua manusia akan bangkit kembali dengan tubuhnya, dan akan mempertanggungjawabkan pekerjaan / perbuatan mereka sendiri.  39. Dan mereka yang telah berbuat baik akan pergi ke dalam kehidupan kekal; mereka yang telah berbuat jahat ke dalam api yang kekal.  40. Inilah iman Katolik / universal / am, yang, kecuali seseorang percaya dengan setia dan teguh, ia tidak bisa diselamatkan) - A. A. Hodge, ‘Outlines of Theology’, hal 117-118.

A. A. Hodge mengomentari pengakuan iman Athanasius ini dengan kata-kata sebagai berikut:
“It presents a most admirably stated exposition of the faith of all Christians, and it is objected to only because of the ‘damnatory clause,’ which ought never to be attached to any human composition, especially one making such nice distinctions upon so profound a subject” [= Ini menyajikan exposisi tertulis yang paling mengagumkan dari iman semua orang Kristen, dan keberatan terhadapnya hanyalah karena ‘kalimat ancaman / kutukan’, yang tidak pernah boleh diberikan pada komposisi manusia manapun, khususnya tentang sesuatu yang membuat perbedaan yang sukar / teliti seperti itu tentang persoalan yang begitu mendalam] - ‘Outlines of Theology’, hal 117-118.
Catatan: yang dimaksud dengan ‘damnatory clause’ (= kalimat ancaman / kutukan) adalah point no 1,2,26,40.

Saya setuju dengan kata-kata A. A. Hodge ini. Doktrin tentang Allah Tritunggal yang begitu rumit ini bukanlah doktrin dasar dalam persoalan keselamatan, dan karena itu tidak boleh dijadikan sebagai syarat keselamatan. Memang di satu sisi saya berpendapat bahwa kalau ada orang ‘kristen’ yang tingkat I.Q.nya maupun pendidikannya cukup baik, dan ia telah mendapat penjelasan tentang Allah Tritunggal lengkap dengan dasar-dasarnya, tetapi ia menolaknya, maka mungkin sekali kita bisa berkata bahwa orang itu pasti bukan kristen sejati, dan karenanya ia tidak selamat. Tetapi di sisi yang lain, kalau ada orang desa yang baik I.Q.nya maupun pendidikannya sangat rendah, sehingga memang tidak memungkinkannya mengerti tentang doktrin yang rumit seperti ini, sukar dipercaya bahwa kepercayaan tentang doktrin ini menjadi syarat mutlak bagi keselamatannya.



-o0o-



8 komentar:

  1. https://www.youtube.com/watch?v=PHhmrATzVJ0

    BalasHapus
  2. Yesus = Allah
    https://www.youtube.com/watch?v=_incLzfQA6c

    BalasHapus
  3. Maaf pak.. Jangan cepat menghakimi..

    BalasHapus
  4. Sebagai orang tdk berpendidikan, Bahasa pak bambang lebih mudah dimengerti, itu saja..

    BalasHapus
  5. Saya lebih mengerti Penjelasa Dr Bambang dripada Anda

    BalasHapus
  6. Yakinilah yang anda yakini dan gak usah ngobok-obok keyakinan lain. Apalagi merasa lebih benar

    BalasHapus