Minggu, 30 Maret 2014

KESELAMATAN TIDAK BISA HILANG (ROMA 8:31-39)

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div

I) Keselamatan orang percaya.


Bagi orang percaya, semua tuduhan dan hukuman terhadap dosanya sudah bubar (ay 33-34  bdk. Yes 50:8-9a). Tetapi ay 33-34 versi Kitab Suci Indonesia salah terjemahan.

Ay 33-34: “(33) Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? (34) Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?”.

NASB: “(33) Who will bring a charge against God’s elect? God is the one who justifies; (34) who is the one who condemns? Christ Jesus is He who died, yes, rather who was raised, who is at the right hand of God, who also intercedes for us” [= (33) Siapa yang akan menuduh orang pilihan Allah? Allah adalah orang yang membenarkan; (34) siapa orang yang menghukum? Kristus Yesus adalah Dia yang telah mati, ya, bahkan yang telah dibangkitkan, yang ada di sebelah kanan Allah, yang juga membela / menengahi / berdoa syafaat untuk kita].
Jadi, ay 33-34 ini menunjukkan bahwa pembenaran Allah adalah jawab bagi orang yang mau menuduh kita. Dengan adanya pembenaran Allah ini, jelas bahwa semua tuduhan akan bubar (ay 33a). Sebetulnya dengan bubarnya tuduhan, maka otomatis hukuman juga bubar. Tetapi toh untuk membubarkan hukuman itu masih ditambahkan lagi ay 33b-34 yang menunjukkan 3 hal yaitu:

1)   Kematian Kristus (ay 34a).
Kematian Kristus terjadi untuk menebus dosa kita / menanggung hukuman dosa kita. Ini jelas tidak memungkinkan kita dihukum, karena hukuman dosa kita sudah dipikul oleh Kristus di kayu salib.

2)   Kebangkitan Kristus (ay 34b).
Penghapusan dosa memang terjadi karena kematian Kristus, tetapi bahwa dosa-dosa kita betul-betul sudah beres, dibuktikan oleh kebangkitan Kristus. Andaikata Kristus hanya mati di salib untuk menebus dosa kita, tetapi tidak bangkit dari antara orang mati, maka itu menunjukkan bahwa Ia tidak mampu membereskan dosa kita. Karena itu Paulus berkata bahwa jika Kristus tidak bangkit maka sia-sialah iman kita, karena sekalipun kita beriman, kita masih hidup dalam dosa.
1Kor 15:14,17 - “(14) Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. ... (17) Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu”.
Tetapi kenyataannya adalah: Kristus sudah bangkit dari antara orang mati, dan itu membuktikan bahwa Ia sudah berhasil membereskan seluruh dosa kita. Kebangkitan Kristus membuktikan keefektifan kematian Kristus untuk menebus dosa kita. Karena itu dalam ay 34 ada kata-kata ‘bahkan lebih lagi’.

3)  Keberadaan Kristus di sebelah kanan Allah sebagai Pembela / Pengantara / Jurusyafaat kita (ay 34c).
Jadi bisa dibayangkan jika kita (orang percaya) berbuat dosa, dan Bapa murka kepada kita, maka Yesus membela kita dengan berkata: ‘Bapa, Aku sudah menderita dan mati di salib untuk membayar dosa itu, ampu-nilah Dia!’. Dan Bapa yang adil, yang tidak mungkin akan menghukum dosa 2 x (pada diri Kristus dan pada diri kita), pasti akan mengampuni dosa kita itu!

Semua ini merupakan jawab bagi orang yang mau menghukum kita. Jadi semua ini menunjukkan secara dobel bahwa tidak mungkin bisa ada hukuman bagi kita. Ini sesuai dengan Ro 8:1 - “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus”.
Renungkan: apakah saudara yakin bahwa saudara tidak mungkin akan dihukum?

II) Penderitaan bagi orang kristen.


Apa yang sudah kita bahas sampai sini merupakan hal yang enak / menyenangkan bagi orang kristen. Tetapi perlu diketahui bahwa kalau kita menjadi orang kristen / anak Allah, atau ada dalam keadaan diselamatkan, maka hidup kita tidak selalu enak. Paulus menunjukkan adanya beberapa hal yang tidak enak, yaitu:

1)   Lawan.
Ay 31: “Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?”.
Bahwa dengan Allah kita tidak bisa dikalahkan, itu tidak berarti tidak ada orang yang melawan kita. Setan selalu menggerakkan anak-anaknya untuk melawan kita!

2)   Orang yang mau menggugat / menghukum kita (ay 33).
Sekalipun tuduhan dan hukuman sebetulnya sudah bubar, itu tidak berarti bahwa tidak ada orang yang menuduh dan ingin menghukum kita. Setan bisa bekerja untuk menuduh dan menghukum kita, seringkali bahkan melalui diri kita sendiri, tetapi juga melalui orang lain. Misalnya:
·         adanya pikiran bahwa dosa kita terlalu besar atau terlalu sering diulang sehingga Allah pasti tidak mengampuni kita.
·       waktu kita berbuat dosa, ada orang yang ‘menyerang’ kita dengan berkata: ‘Hidupmu begitu kok yakin masuk surga’.
·     orang agama lain / aliran lain (misalnya Islam, Saksi Yehuwa), yang menyatakan bahwa orang kristen justru pasti masuk neraka / dimusnahkan.

3)   Macam-macam penderitaan (ay 35,36,38-39).

a)  Ay 35: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?”.
·         ‘penindasan’. Ini salah terjemahan.
NASB: ‘tribulation’ (= kesengsaraan).
Ini menunjukkan semua problem / penderitaan dari luar.
·         ‘kesesakan’.
Ini menunjuk pada problem di dalam diri kita, seperti kesedihan, keputus-asaan, depresi, dsb.
·         ‘penganiayaan’.
Ini menunjuk pada penyiksaan yang dilakukan oleh orang non kristen kepada kita karena iman, pelayanan dan ketaatan kita kepada Tuhan.
·         ‘kelaparan’ dan ‘ketelanjangan’.
Ini menunjuk pada kemiskinan. Karena itu jangan heran kalau dalam situasi ekonomi ini ada banyak orang kristen yang menjadi miskin.
·         ‘bahaya’ atau ‘pedang’.
Ini menunjuk pada hal-hal yang membahayakan jiwa kita.

b)  Ay 36: “Seperti ada tertulis: ‘Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.’”.
Ini dikutip dari Maz 44:23 - “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami dianggap sebagai domba-domba sembelihan”.
Ini menunjukkan bahwa orang percaya selalu ada dalam bahaya. Ini terjadi ‘karena Engkau’, yaitu karena iman, ketaatan, pelayanan kepada Kristus.

c)  Ay 38-39: “(38) Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, (39) atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”.
Ini menunjukkan banyak hal yang berusaha memisahkan kita dari Allah.

Apakah hal-hal di atas ini harus membuat kita menjadi takut?

III) Orang percaya tidak usah takut. Mengapa?


1)   Karena Allah di pihak kita (ay 31).
Ay 31: ‘Jika Allah di pihak kita, siapakah lawan kita?’.
NIV: ‘If God is for us, who can be against us?’.
Kata ‘jika’ bukannya menunjukkan bahwa Allah bisa ada di pihak kita, tetapi bisa juga tidak. Hendriksen menafsirkan ini sebagai berikut: ‘Jika Allah di pihak kita, dan Ia memang di pihak kita, siapakah lawan kita?’. Bahwa Allah memang ada di pihak kita, terlihat dari kerelaanNya menyerahkan AnakNya bagi kita (ay 32).
Jika semua orang pro saudara, itu tidak ada artinya; tetapi sebaliknya jika Allah pro saudara, sekalipun semua orang anti saudara, saudara tidak perlu takut.

2)   Allah mau menyerahkan AnakNya bagi kita; Ia tentu mau mengaruniakan segala sesuatu kepada kita.
Ay 32: “Ia, yang tidak menyayangkan AnakNya sendiri, tetapi yang menyerahkanNya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”.

a)   ‘menyerahkanNya bagi kita semua’.
·         ‘Menyerahkan’ berarti memberikan untuk disalib.
·      ‘kita semua’ harus diartikan sesuai dengan kontex, yang mempersoalkan orang percaya / pilihan (bdk. ay 33).

b)  Karena Allah mau menyerahkan AnakNya bagi kita, maka Ia pasti mau ‘mengaruniakan segala sesuatu’ kepada kita.
·     Kata ‘mengaruniakan’ diterjemahkan dari kata Yunani KHARISETAI (= ‘freely give’ / memberi dengan cuma-cuma), yang mempunyai akar kata KHARIS (= grace / kasih karunia).
·         ‘segala sesuatu’.
William G. T. Shedd menafsirkan bahwa kata ‘segala sesuatu’ ini menunjuk kepada “everything requisite to eternal life” (= segala sesuatu yang dibutuhkan untuk hidup yang kekal).
Kalau orang kristen bisa murtad sehingga gagal masuk surga, seperti yang dipercaya oleh orang Arminian, maka jelas ay 32 ini harus dihapus dari Kitab Suci!
John Murray kelihatannya berpandangan sama dengan Shedd.
Tetapi William Hendriksen berkata: “I can see no good reason to limit the expression ‘all things’ to spiritual blessings, as some do. ... The expression ‘all things’ should therefore be interpreted in an unqualified sense: material as well as spiritual things” (= Saya tidak bisa melihat alasan yang baik untuk membatasi ungkapan ‘segala sesuatu’ pada berkat rohani, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang. ... Karena itu ungkapan ‘segala sesuatu’ harus ditafsirkan dalam arti yang mutlak / tak terbatas: hal-hal yang bersifat materi maupun rohani).
Kalaupun William Hendriksen benar, bagian ini tetap tidak bisa diartikan seakan-akan Allah memanjakan kita sebagai anak-anakNya dengan memberikan apapun yang kita minta / inginkan. Ia adalah Bapa yang bijaksana, yang hanya memberikan apa yang baik kepada kita.

3)  Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, atau dari kasih Allah dalam Kristus Yesus.
Ay 35,38-39: “(35) Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? ... (38) Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, (39) atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”.

a)   Ay 35 mengatakan ‘kasih Kristus’ bukan ‘kasih Allah’ karena kasih Allah tidak bisa dicari di luar Kristus.
Juga istilah ‘kasih Kristus’ ini bukan menunjuk kepada ‘kasih kita kepada Kristus’, tetapi menunjuk kepada ‘kasih Kristus kepada kita’.

b)   Ay 35b adalah contoh hal-hal yang sering kita anggap sebagai bukti bahwa kita ditinggal / tidak dipedulikan oleh Allah. Tetapi Paulus mengatakan bahwa ini tidak akan memisahkan kita dari kasih Kristus.
Kata ‘memisahkan’ dalam ay 35 itu, dalam bahasa Yunaninya adalah KHORISEI, yang sebetulnya berarti ‘menceraikan’, seperti dalam Mat 19:6  1Kor 7:10,11,15.
Dalam Perjanjian Lama, Allah ‘menceraikan’ Israel karena perzinahan rohani / penyembahan berhala yang mereka lakukan.
Yer 3:8 - “Dilihatnya, bahwa oleh karena zinahnya Aku telah menceraikan Israel, perempuan murtad itu, dan memberikan kepadanya surat cerai; namun Yehuda, saudaranya perempuan yang tidak setia itu tidak takut, melainkan ia juga pun pergi bersundal”.
Tetapi dalam Perjanjian Baru, Allah tidak mungkin melakukan hal itu terhadap kita. Bandingkan dengan 2Tim 2:13 - “jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diriNya”.
Dalam hidup suami - istri, hal-hal dalam ay 35b itu bisa menyebabkan perceraian; seperti berita di koran beberapa waktu yang lalu yang menyatakan bahwa karena krisis moneter, maka banyak pasangan muda yang bercerai. Tetapi ay 35 ini menjamin bahwa Allah tidak akan menceraikan kita!

c)  Ay 38-39: “(38) Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, (39) atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”.
Ini adalah hal-hal lain yang juga tidak bisa memisahkan / menceraikan kita dari Allah (Catatan: kata ‘memisahkan’ dalam ay 39 menggunakan kata Yunani yang sama dengan dalam ay 35):

1.   ‘Maut’.
Ini menunjukkan bahwa kematian tidak bisa memisahkan kita dari Allah!

2.   ‘Hidup’.
Kalau ajaran Arminian benar, bahwa orang bisa murtad sehingga kehilangan keselamatannya, maka itu berarti bahwa ‘hidup’ bisa memisahkan kita dari Allah! Tetapi di sini Paulus mengatakan bahwa bukan hanya ‘maut’, tetapi juga ‘hidup’, tidak bisa memisahkan kita dari Allah.

3.   ‘Malaikat-malaikat’.
Ada yang menganggap bahwa ini menunjuk kepada malaikat yang baik, tetapi ada yang berpendapat bahwa ini menunjuk kepada malaikat yang jahat / setan. Kalau menunjuk pada malaikat yang baik, maka ini merupakan suatu hyperbole (= gaya bahasa yang melebih-lebihkan), sama seperti dalam Gal 1:8, karena malaikat yang baik tidak mungkin berusaha memisahkan kita dari Allah.

4.   ‘Pemerintah-pemerintah’.
Ada yang menafsirkan bahwa ini menunjuk kepada setan, mungkin karena dalam Ef 6:12 kata itu menunjuk kepada setan. Tetapi bisa juga ini menunjuk kepada pemerintah manusia. Pemerintah bisa berubah sikap dari pro kristen / netral menjadi anti kristen (seperti dalam Kel 1:8-dst). Tetapi inipun tidak bisa memisahkan kita dari Allah.
Perlu diingat bahwa Ro 13:1b berkata: “tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah”.
Mengingat bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (Ro 8:28), maka Ia pasti tidak akan memberikan pemerintah yang akan membuat kita terpisah dari Dia. Ia mungkin memberikan pemerintah yang anti kristen, tetapi Ia pasti memberi kekuatan bagi kita.

5.   ‘Baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang’.
Bagian ini salah terjemahan, dan kesalahan penterjemahan ini menyebabkan bagian ini seolah-olah merupakan keterangan dari ‘pemerintah-pemerintah’, padahal sebetulnya bukan.
NASB: ‘nor things present, nor things to come’ (= tidak hal-hal sekarang, tidak hal-hal yang akan datang).
Jadi, bagian ini sebetulnya berdiri sendiri (terpisah dari ‘pemerintah-pemerintah’), dan menunjukkan bahwa ‘waktu’ tidak bisa memisahkan kita dari Allah. Dengan berlalunya waktu, maka godaan memang berubah, tetapi semua ini tetap tidak bisa memisahkan kita dari Allah. Ini jelas menunjukkan bahwa Kitab Suci mengajarkan adanya jaminan keselamatan (sekali selamat pasti tetap selamat). Lagi-lagi terlihat, bahwa seandainya ajaran Arminian benar, bahwa orang kristen bisa murtad dan kehilangan keselamatannya, maka itu berarti bahwa ‘hal-hal yang akan datang’ ini harus dibuang dari ay 38-39.
Calvin: “The meaning then is, - that we ought not to fear, lest the continuance of evils, however long, should obliterate the faith of adoption. This declaration is clearly against the schoolmen, who idly talk and say, that no one is certain of final perseverance, except through the gift of special revelation, which they make to be very rare. By such a dogma the whole faith is destroyed, which is certainly nothing, except it extends to death and beyond death. But we, on the contrary, ought to feel confident, that he who has begun in us a good work, will carry it on until the day of the Lord Jesus” (= Jadi artinya adalah, bahwa kita tidak boleh takut, bahwa dengan berlanjutnya kejahatan, betapapun lamanya, akan bisa menghapuskan iman adopsi. Pernyataan ini jelas menentang para ahli theologia, yang berbicara dan mengatakan tanpa dasar, bahwa tidak seorangpun yang pasti akan ketekunan akhir, kecuali melalui karunia wahyu khusus, yang mereka katakan sebagai jarang terjadi. Dengan dogma seperti itu seluruh iman dihancurkan, dan memang iman itu kosong kecuali iman itu diperluas sampai kematian bahkan melampaui kematian. Tetapi sebaliknya kita harus merasa yakin bahwa Ia yang memulai pekerjaan yang baik di dalam kita, akan meneruskannya sampai hari Tuhan Yesus).
Bdk. Fil 1:6 - “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus”.

6.   ‘Kuasa-kuasa’.
Sama seperti ‘pemerintah-pemerintah’, kata ini bisa menunjuk pada kuasa setan ataupun manusia.

7.   ‘Baik yang ada di atas, maupun yang ada di bawah’.
Bagian ini juga salah terjemahan, dan menyebabkan bagian ini seolah-olah menerangkan ‘kuasa-kuasa’, padahal seharusnya tidak.
NASB: ‘nor height, nor depth’ (= tidak ketinggian, tidak kedalaman).
Macam-macam penafsiran:
·         ‘height’ / ‘ketinggian’ menunjuk pada keadaan yang enak / mulia; sedangkan ‘depth’ / ‘kedalaman’ menunjuk pada keadaan hina / tidak enak.
·         Surga maupun neraka. Kalau diartikan seperti ini, mungkin ini merupakan hyperbole (= gaya bahasa yang melebih-lebihkan), karena orang beriman kepada Kristus tidak mungkin masuk neraka. Jadi artinya adalah: seandainya orang beriman bisa masuk neraka, itu tetap tidak akan memisahkan dia dari kasih Allah dalam Kristus Yesus Tuhan kita!
·         apapun yang ada di surga maupun di bumi.

8.   ‘Makhluk lain’.
NASB: ‘nor any other created thing’ (= tidak benda ciptaan lain yang manapun juga).
NIV: ‘nor anything else in all creation’ (= tidak suatu benda apapun dalam seluruh ciptaan).
Lit: ‘nor any other creature’ (= tidak makhluk ciptaan lain yang manapun juga).
Ini memberikan ketidak-mungkinan yang mutlak bagi seorang kristen untuk terpisah dari Allah / kasih Allah dalam Kristus Yesus!

Loraine Boettner: “The assurance that Christians can never be separated from the love of God is one of the greatest comforts of the Christian life. To deny this doctrine is to destroy the grounds for any rejoicing among the saints on earth; for what kind of rejoicing can those have who believe that they may at any time be deceived and led astray? ... It is not until we duly appreciate this wonderful truth, that our salvation is not suspended on our weak and wavering love to God, but rather upon His eternal and unchangeable love to us, that we can have peace and certainty in the Christian life” (= Kepastian / jaminan bahwa orang-orang kristen tidak pernah bisa dipisahkan dari kasih Allah adalah salah satu dari penghiburan terbesar dalam kehidupan kristen. Menyangkal doktrin ini sama dengan menghancurkan dasar untuk sukacita apapun di antara orang-orang kudus di bumi; karena sukacita apa yang bisa dimiliki oleh mereka yang percaya bahwa setiap saat mereka bisa ditipu dan disesatkan? ... Hanya kalau kita menghargai kebenaran luar biasa ini dengan seharusnya, bahwa keselamatan kita bukannya tergantung pada kasih yang lemah dan terombang-ambing dari kita kepada Allah, tetapi tergantung pada kasih yang kekal dan tidak bisa berubah dari Allah kepada kita, barulah kita bisa mempunyai damai dan kepastian dalam hidup kristen ini) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 194-195.

Loraine Boettner: “The saints in heaven are happier but no more secure than are true believers here in this world” (= Orang-orang kudus di surga lebih berbahagia tetapi tidak lebih aman / terjamin dari pada orang-orang percaya yang sejati di sini di dunia ini) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 183.

4)   Kita lebih dari pemenang, oleh Dia yang mengasihi kita.
Ay 37: “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita”.
Mari kita soroti ay 37 ini sepotong demi sepotong.

a)   ‘Dalam semuanya itu’ (ay 37).
‘Semuanya itu’ menunjuk pada penderitaan-penderitaan dalam ay 35-36. Dalam ay 37 Paulus memang mengatakan kita menang, bahkan lebih dari pemenang, tetapi Paulus juga mengatakan ‘dalam semuanya itu’, yang jelas menunjukkan bahwa kita mengalami semua penderitaan itu.
Bdk. Wah 7:14 - “Maka kataku kepadanya: ‘Tuanku, tuan mengetahuinya.’ Lalu ia berkata kepadaku: ‘Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba”.
Kalau Yesus harus mengalami kematian dan baru sesudah itu mengalami kebangkitan, kenaikan ke surga dan kedudukan di sebelah kanan Allah, maka kalau kita memang adalah pengikut Kristus, kita juga harus seperti itu. Kita mengalami bermacam-macam penderitaan, tetapi akhirnya kita menang!
Ini kontras / berbeda sekali dengan ‘kemenangan’ versi Theologia Kemakmuran, dimana orang kristen dikatakan menjadi kaya raya, sembuh dari penyakit, sukses, dsb. Ini adalah ‘kemenangan’ tanpa salib, dan pada hakekatnya bukanlah kemenangan!

b)   ‘kita lebih dari pada orang-orang yang menang’ (ay 37).
Berbicara tentang kemenangan di sini tidak bisa dilepaskan dari kemenangan Kristus dalam ay 34, yaitu:
·         kemenangan melalui salib.
Sekalipun salib itu sendiri sebetulnya menunjukkan kekalahan, tetapi bahwa Yesus bisa mengatasi ketakutanNya di taman Getsemani sehingga akhirnya Ia mau mati di salib, jelas menunjukkan suatu kemenangan.
·         kemenangan melalui kebangkitan.
Kebangkitan Yesus menunjukkan kemenanganNya terhadap maut, dosa dan setan.
·         kenaikan ke surga dan keberadaan Yesus di sebelah kanan Allah, sebagai penguasa seluruh alam semesta.
Karena Yesus menang, kita yang beriman dan oleh iman itu dipersatukan dengan Yesus, juga pasti menang, bahkan lebih dari pemenang.

c)   oleh Dia yang telah mengasihi kita’ (ay 37).
NIV/NASB: through Him’ (= melalui Dia).
Ini perlu dicamkan, karena kita tidak bisa menang dengan kekuatan kita sendiri. Kita hanya bisa menang melalui Dia.
Fil 4:13 - “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”.
NASB: “I can do all things through Him who strengthens me” (= Aku dapat melakukan segala sesuatu melalui Dia yang menguatkan aku).

Kesimpulan / Penutup:


Melalui kematian dan kebangkitanNya Yesus memberikan keselamatan kepada kita yang percaya. Kita memang akan mengalami banyak penderitaan, tetapi keselamatan kita terjamin. Sama seperti Kristus sudah menang, kitapun pasti menang! Tetapi tetaplah di dalam Dia dan bersandar kepadaNya. Maukah saudara? Tuhan memberkati saudara!

-AMIN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar