Kamis, 27 Maret 2014

SEKITAR JUM’AT AGUNG


Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div


IBRANI 2:9-18
I) Sebelum Jum’at Agung.

1)   Yesus kasihan kepada manusia.
Ay 16: “Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani.

a) Kata ‘kasihani’ oleh NASB diterjemahkan ‘give help’ (= memberi pertolongan), dan oleh NIV diterjemahkan ‘help’ (= menolong).
Tetapi Ia menolong, jelas karena adanya kasih / kasihan. Jadi Ia bukan hanya merasa kasihan tetapi tetap berdiam diri, tetapi Ia lalu bertindak menolong (bdk. 1Yoh 3:18).
Penerapan:
·     kalau saudara melihat orang yang ada dalam dosa, apakah saudara kasihan dan berusaha menolongnya, dengan memberitakan Injil kepadanya?
·        Apakah kadang-kadang saudara benci melihat orang yang ada dalam dosa, khususnya kalau:
*        dosanya merugikan / menyakiti saudara?
*        ia adalah orang beragama lain yang anti kristen?
Ingatlah bahwa sikap ini salah! Saudara seharusnya kasihan dan menolongnya dengan memberitakan Injil kepadanya!

b)   Ay 16 ini menunjukkan bahwa Ia tidak kasihan / menolong malaikat, tetapi kasihan / menolong manusia.
Mengapa? Karena Ia memilih manusia dan bukannya malaikat! Ini kedaulatan Allah. Orang yang tidak percaya pada doktrin tentang Predestinasi harus merenungkan hal ini!
Calvin berkata bahwa ajaran tentang Predestinasi sebetulnya juga terlihat dari akhir ay 13 yang berbunyi: “anak-anak yang telah diberi-kan Allah kepadaKu”. Ini menunjukkan bahwa orang bisa percaya kepada Yesus hanya kalau Allah memberikan orang itu kepada Yesus. Bandingkan dengan Yoh 6:37: “semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu”.
Jadi jelas bahwa:
·         ada orang yang diberikan oleh Bapa kepada Yesus, yang akan menjadi orang percaya.
·       ada juga orang yang tidak diberikan oleh Bapa kepada Yesus. Mereka ini tidak mungkin bisa percaya kepada Yesus.
Apakah Allah memberikan seseorang kepada Yesus atau tidak, itu tergantung dari pemilihan / election / Predestinasi!

Tetapi berbeda dengan Allah, kita tidak mempunyai kedaulatan untuk memilih seperti itu! Kita harus berusaha menolong semua orang yang ada dalam dosa dengan memberitakan Injil kepada mereka semua tanpa pilih-pilih!

2)   Yesus, yang adalah Allah, menjadi sama dengan manusia.
Ini terlihat dari beberapa ayat:

a)    Ay 14: ‘Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka.
NIV: ‘he too shared in their humanity’ (= Ia juga mendapat bagian dalam kemanusiaan mereka).

b)    Ay 17: ‘maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya’.
Ia berbeda dengan kita hanya di dalam hal dosa, tetapi perlu dicamkan bahwa dosa tidak termasuk dalam hakekat manusia. Sebelum Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa mereka sudah adalah manusia! Jadi, bahwa Yesus tidak berdosa tidak menunjukkan bahwa Ia bukan manusia!

c)    Ay 11a: ‘Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu’.
NASB: ‘are all of one Father’ (= semua dari satu Bapa).
Kitab Suci Indonesia dan NASB salah, karena kata ‘satu’ diartikan menunjuk kepada Allah.
NIV: ‘are of the same family’ (= semua dari satu keluarga).
RSV: ‘have all one origin’ (= semua mempunyai satu asal mula).
KJV: ‘are all of one’ (= semua dari satu).
Terjemahan-terjemahan ini lebih benar karena kata ‘satu’ sebetulnya bukan menunjuk kepada Allah, tetapi menunjuk kepada Adam, karena maksud bagian ini adalah untuk menunjukkan bahwa Yesus betul-betul telah menjadi manusia yang sama dengan kita.
Ini menunjukkan bahwa Yesus betul-betul berasal dari benih / sel telur Maria! Ini terlihat dengan lebih jelas dalam Luk 1:42 dimana Elisabet, yang penuh dengan Roh Kudus, menyebut Yesus sebagai ‘buah rahim Maria’. Jadi jelaslah bahwa Yesus bukanlah semacam bayi tabung ‘made in heaven’ (= buatan surga) yang lalu dimasukkan ke dalam kandungan Maria!

d)    Ay 11b: ‘Ia tidak malu menyebut mereka saudara’.
Calvin mengatakan bahwa istilah ‘tidak malu’ menunjukkan besarnya beda tingkat antara kita dan Kristus. Tetapi toh Ia tidak malu untuk menjadi manusia / menyetingkatkan diriNya dengan kita dan menyebut kita saudara! Ini perlu kita renungkan kalau kita malu mengakui Kristus di depan manusia, atau kalau kita malu melakukan pelayanan yang rendah bagi Dia.

e)  Ay 9: ‘Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat’ (bdk. ay 7).
Ini (dan juga ay 7) salah terjemahan!
Dalam bahasa Yunaninya ada istilah BRACHU TI, yang artinya adalah a little (= sedikit). Ada 2 kemungkinan untuk istilah ini:

1.   Istilah ini dihubungkan dengan waktu, dan diartikan a little time (= waktu yang singkat).
RSV: ‘who for a little while was made lower than the angels’ (= yang untuk waktu yang singkat dijadikan lebih rendah dari malaikat-malaikat).
NASB: ‘who has been made for a little while lower than the angels’ (= yang untuk waktu yang singkat telah dijadikan lebih rendah dari malaikat-malaikat).

2.   Istilah ini dihubungkan dengan malaikat, dan diartikan ‘a little lower than angels’ (= sedikit lebih rendah dari malaikat).
NIV: ‘who was made a little lower than angels’ (= yang dijadikan sedikit lebih rendah dari malaikat-malaikat).
KJV: ‘who was made a little lower than the angels’ (= yang dijadikan sedikit lebih rendah dari malaikat-malaikat).
Ada 2 alasan untuk memilih pandangan kedua ini:
a.   Bandingkan ini dengan ay 7 yang dikutip dari Maz 8:6 yang dalam terjemahan KJV (Psalm 8:5) berbunyi: ‘For thou hast made him a little lower than angels’ (= Karena Engkau telah membuatNya sedeikit lebih rendah dari malaikat-malaikat), maka kelihatannya tafsiran no 2 yang benar.
b.   Arti ‘a little while’ (= waktu yang singkat) tidak cocok karena Yesus tidak menjadi manusia untuk sementara waktu saja, tetapi untuk seterusnya / selama-lamanya.

Jadi arti bagian ini: pada waktu Yesus menjadi manusia Ia dijadikan sedikit lebih rendah dari malaikat.

II) Pada Jum’at Agung.

1)   Yesus mengalami penderitaan (ay 10) dan kematian / maut (ay 9).

a)   Inilah sebabnya Yesus menjadi manusia! Sebagai Allah Ia tidak bisa menderita ataupun mati. Kalau Ia mau menebus / memikul hukuman dosa manusia, Ia harus menjadi manusia lebih dulu, maka barulah Ia bisa menderita dan mati!
Jadi, supaya Jum’at Agung bisa ada, Natal harus ada!

b)   Penderitaan dan kematian yang dialami oleh Yesus.
Hal-hal yang secara khusus perlu direnungkan dari penderitaan Yesus adalah:

1.   Pencambukan.

Adam Clarke: “As our Lord was scourged by order of Pilate, it is probable he was scourged in the Roman manner, which was much severe than that of the Jews” (= Karena Tuhan kita disesah oleh perintah dari Pilatus, mungkin Ia disesah dengan cara Romawi, yang jauh lebih berat / hebat dari pada penyesahan Yahudi) - hal 648-649.

Thomas Whitelaw mengatakan (hal 392) bahwa orang Yahudi hanya mencambuki bagian atas dari tubuh, tetapi orang Romawi mencambuki seluruh tubuh.

Cambuk Romawi adalah beberapa tali kulit yang diberi benda-benda tajam, yang merobek-robek orang yang dicambuki.

Pulpit Commentary: “This was no ordinary whip, but commonly a number of leather thongs loaded with lead or armed with sharp bones and spikes, so that every blow cut deeply into the flesh, causing intense pain” (= Ini bukannya cambuk biasa, tetapi biasanya merupakan sejumlah tali kulit yang dimuati / dibebani / diberi timah atau diperlengkapi dengan tulang-tulang runcing dan paku-paku, sehingga setiap cambukan mengiris dalam ke dalam daging, menyebabkan rasa sakit yang sangat hebat) - ‘Matthew’, hal 586.

Pulpit Commentary (tentang Luk 23:23): “This was a horrible punishment. The condemned person was usually stripped and fastened to a pillar or stake, and then scourged with leather throngs tipped with leaden balls or sharp spikes. The effects, described by Romans, and Christians in the ‘Martyrdoms,’ were terrible. Not only the muscles of the back, but the breast, the face, the eyes, were torn; the very entrails were laid bare, the anatomy was exposed, and the sufferer, convulsed with torture, was often thrown down a bloody heap at the feet of the judge. In our Lord’s case this punishment, though not proceeding to the awful consequences described in some of the ‘Martyrologies,’ must have been very severe: this is evident from his sinking under the cross, and from the short time which elapsed before his death upon it” (= Ini adalah hukuman yang mengerikan. Orang hukuman itu biasanya ditelanjangi dan diikat pada sebuah tiang, dan lalu dicambuki dengan tali-tali kulit yang diberi bola-bola timah atau paku-paku yang runcing. Akibatnya, digambarkan oleh orang-orang Romawi dan Kristen dalam ‘Martyrdom’, adalah mengerikan. Bukan hanya otot-otot punggung, tetapi dada, muka, mata, sobek; isi perut terbuka, kerangka terbuka, dan si penderita, dicabik-cabik oleh siksaan, seringkali dilemparkan sebagai suatu onggokan berdarah pada kaki dari hakim. Dalam kasus Tuhan kita hukuman ini, sekalipun tidak berlanjut pada konsekwensi-konsekwensi yang mengerikan yang digambarkan dalam sebagian dari ‘Martyrologies’, haruslah sangat hebat: ini jelas dari robohnya Ia di bawah salib, dan dari waktu yang pendek yang berlalu sebelum kematianNya pada salib itu) - hal 237.

Leon Morris (NICNT): “Scourging was a brutal affair. It was inflicted by a whip of several thongs, each of which was loaded with pieces of bone or metal. It could make pulp of man’s back” (= Pencambukan adalah suatu peristiwa yang brutal. Hal itu diberikan dengan sebuah cambuk yang terdiri dari beberapa tali kulit, yang masing-masing diberi potongan-potongan tulang atau logam. Itu bisa membuat punggung orang menjadi bubur).

Leon Morris (NICNT): “... Josephus tells us that a certain Jesus, son of Ananias, was brought before Albinus and ‘flayed to the bone with scourges’ ... Eusebius narrates that certain martyrs at the time of Polycarp ‘were torn by scourges down to deep-seated veins and arteries, so that the hidden contents of the recesses of their bodies, their entrails and organs, were exposed to sight’ ... Small wonder that men not infrequently died as a result of this torture” (=  ... Josephus menceritakan bahwa seorang Yesus tertentu, anak dari Ananias, dibawa ke depan Albinus dan ‘dikuliti sampai tulangnya dengan cambuk’ ... Eusebius menceritakan bahwa martir-martir tertentu pada jaman Polycarp ‘dicabik-cabik oleh cambuk sampai pada pembuluh darah dan arteri yang ada di dalam, sehingga bagian dalam yang tersembunyi dari tubuh mereka, isi perut dan organ-organ mereka, menjadi terbuka dan kelihatan’ ... Tidak heran bahwa tidak jarang orang mati sebagai akibat penyiksaan ini).

Yesus rela mengalami penyesahan itu untuk kita (bdk. Yes 53:5  1Pet 2:24).
Kita yang adalah orang berdosa, dan karena itu kitalah yang seharusnya mengalami hukuman seperti itu. Tetapi Yesus yang tidak bersalah, karena kasihnya kepada kita, rela menanggung hukuman itu bagi kita, supaya kalau kita percaya kepada Dia, kita bebas dari semua hukuman dosa!

2.   Penyaliban.
Bayangkan / renungkan bagaimana rasanya pada waktu paku-paku menembus tangan dan kaki Yesus. Bayangkan / renungkan juga pada waktu salib yang mula-mula ditidurkan itu diberdirikan, betapa sakitnya lubang di tangan Yesus yang harus menahan berat badan Yesus! Kitalah yang seharusnya merasakan semua ini sebagai hukuman atas dosa-dosa kita, tetapi Yesus rela memikul semua ini bagi kita!

Pulpit Commentary menyebut penyaliban sebagai: “the most painful, barbarous, and ignominious punishment which the cruelty of man ever invented” (= hukuman yang paling menyakitkan, paling biadab / kejam, dan paling jahat yang pernah ditemukan oleh kekejaman manusia).

Pulpit Commentary: “Nails were driven through the hands and feet, and the body was supported partly by these and partly by a projecting pin of wood called the seat. The rest for the feet, often seen in picture, was never used” (= Paku-paku dipakukan menembus tangan dan kaki, dan tubuh disangga / ditopang sebagian oleh paku-paku ini dan sebagian lagi oleh sepotong kayu yang menonjol yang disebut ‘tempat duduk’. Tempat pijakan kaki, yang sering terlihat dalam gambar, tidak pernah digunakan).

F. F. Bruce: “a piece of wood attached to the upright might serve as a sort of seat (sedecula) - not so much for the victim’s relief as to prolong his life and his agony” [= sepotong kayu dilekatkan pada tiang tegak dan bisa berfungsi sebagai semacam tempat duduk (sedecula) - bukan untuk meringankan penderitaan korban tetapi lebih untuk memperpanjang hidupnya dan penderitaannya] - hal 167.

Pulpit Commentary: “A sedile was arranged to bear a portion of the weight of the body, which would never have been sustained by the gaping wounds” (= Sebuah tempat duduk diatur untuk memikul sebagian berat tubuh, yang tidak akan pernah bisa ditahan oleh luka-luka yang menganga) -  hal 426.

William Barclay: “There was no more terrible death than death by crucifixion. Even the Roman themselves regarded it with a shudder of horror. Cicero declared that it was ‘the most cruel and horrifying death.’ Tacitus said that it was a ‘despicable death.’ It was originally a Persian method of execution. It may have been used because, to the Persians, the earth was sacred, and they wished to avoid defiling it with the body of an evil-doer. So they nailed him to a cross and left him to die there, looking to the vultures and the carrion crows to complete the work. The Carthaginians took over crucifixion from the Persians; and the Romans learned it from the Carthaginians. Crucifixion was never used as a method of execution in the homeland, but only in the province, and there only in the case of slaves. It was unthinkable that a Roman citizen should die such a death. ... It was that death, the most dreaded in the ancient world, the death of slaves and criminals, that Jesus died” (= Tidak ada kematian yang lebih mengerikan dari pada kematian melalui penyaliban. Bahkan orang Romawi sendiri memandangnya dengan ngeri. Cicero menyatakan bahwa itu adalah ‘kematian yang paling kejam dan menakutkan’. Tacitus berkata bahwa itu adalah ‘kematian yang tercela / hina / keji’. Pada mulanya itu adalah cara penghukuman mati orang Persia. Itu digunakan karena bagi orang Persia bumi / tanah itu kudus / keramat, dan mereka ingin menghindarkannya dari kenajisan dari tubuh dari pelaku kejahatan. Jadi mereka memakukannya pada salib dan membiarkannya mati di sana, mengharapkan burung nazar dan burung gagak pemakan bangkai menyelesaikan pekerjaan itu. Orang Carthage mengambil-alih penyaliban dari orang Persia, dan orang Romawi mempelajarinya dari orang Carthage. Penyaliban tidak pernah digunakan sebagai cara penghukuman mati di tanah air mereka, tetapi hanya di propinsi-propinsi jajahan mereka, dan hanya dalam kasus budak. Adalah sangat tidak terpikirkan bahwa seorang warga negara Romawi harus mati dengan cara itu. ... Kematian seperti itulah, kematian yang paling ditakuti dalam dunia purba, kematian dari budak dan orang kriminil, yang dialami oleh Yesus) - ‘The Gospel of John’, vol 2, hal 250.

William Barclay (tentang Luk 23:32-38): “The terror of crucifixion was this - the pain of that process was terrible but it was not enough to kill, and the victim was left to die of hunger and thirst beneath the blazing noontide sun and the frost of the night” (= Hal yang mengerikan / menyeramkan dari penyaliban adalah ini - rasa sakit dari proses penyaliban itu luar biasa, tetapi tidak cukup untuk membunuh, dan korban dibiarkan mati oleh kelaparan dan kehausan di bawah sinar matahari yang membakar dan cuaca beku pada malam hari).

William Hendriksen: “It has been well said that the person who was crucified ‘died a thousand deaths.’ Large nails were driven through hands and feet (20:25; cf. Luke 24:40). Among the horrors which one suffered while thus suspended (with the feet resting upon a little tablets, not very far away from the ground) were the following: severe inflammation, the swelling of the wounds in the region of the nails, unbearable pain from torn tendons, fearful discomfort from the strained position of the body, throbbing headache, and burning thirst (19:28)” [= Dikatakan dengan benar bahwa orang yang disalib ‘mati 1000 kali’. Paku-paku besar dipakukan menembus tangan dan kaki (20:25; bdk. Luk 24:40). Di antara hal-hal yang mengerikan yang diderita seseorang pada saat tergantung seperti itu (dengan kaki berpijak pada potongan kayu kecil, tidak terlalu jauh dari tanah) adalah hal-hal berikut ini: peradangan yang sangat hebat, pembengkakan dari luka-luka di daerah sekitar paku-paku itu, rasa sakit yang tidak tertahankan dari tendon-tendon yang sobek, rasa tidak enak yang sangat hebat karena posisi tubuh yang terentang, sakit kepala yang berdenyut-denyut, dan rasa haus yang membakar (19:28)] - hal 427.

Barnes’ Notes: “The manner of the crucifixion was as follows: - After the criminal had carried the cross, attended with every possible jibe and insult, to the place of execution, a hole was dug in the earth to receive the foot of it. The cross was laid on the ground; the persons condemned to suffer was stripped, and was extended on it, and the soldiers fastened the hands and feet either by nails or thongs. After they had fixed the nails deeply in the wood, they elevated the cross with the agonizing sufferer on it; and, in order to fix it more firmly in the earth, they let it fall violently into the hole which they had dug to receive it. This sudden fall must have given to the person that was nailed to it a most violent and convulsive shock, and greatly increased his sufferings. The crucified person was then suffered to hang, commonly, till pain, exhaustion, thirst, and hunger ended his life” (= Cara penyaliban adalah sebagai berikut: - Setelah kriminil itu membawa salib, disertai dengan setiap ejekan dan hinaan yang dimungkinkan, ke tempat penyaliban, sebuah lubang digali di tanah untuk menerima kaki salib itu. Salib diletakkan di tanah; orang yang diputuskan untuk menderita itu dilepasi pakaiannya, dan direntangkan pada salib itu, dan tentara-tentara melekatkan tangan dan kaki dengan paku atau dengan tali. Setelah mereka memakukan paku-paku itu dalam-dalam ke dalam kayu, mereka menaikkan / menegakkan salib itu dengan penderita yang sangat menderita padanya; dan, untuk menancapkannya dengan lebih teguh di dalam tanah, mereka menjatuhkan salib itu dengan keras ke dalam lubang yang telah digali untuk menerima salib itu. Jatuhnya salib dengan mendadak itu pasti memberikan kepada orang yang disalib suatu kejutan yang keras, dan meningkatkan penderitaannya dengan hebat. Orang yang disalib itu lalu menderita tergantung, biasanya, sampai rasa sakit, kehabisan tenaga, kehausan, dan kelaparan mengakhiri hidupnya).

Barnes’ Notes: “As it was the most ignominious punishment known, so it was the most painful. The following circumstances make it a death of peculiar pain: (1.) The position of the arms and the body was unnatural, the arms being extended back and almost immovable. The least motion gave violent pain in the hands and feet, and in the back, which was lacerated with stripes. (2.) The nails, being driven through the parts of the hands and feet which abound with nerves and tendons, created the most exquisite anguish. (3.) The exposure of so many wounds to the air brought on a violent inflammation, which greatly increased the poignancy of the suffering. (4.) The free circulation of the blood was prevented. More blood was carried out in the arteries than could be returned by the veins. The consequence was, that there was a great increase in the veins of the head, producing an intense pressure and violent pain. The same was true of other parts of the body. This intense pressure in the blood vessels was the source of inexpressible misery. (5.) The pain gradually increased. There was no relaxation, and no rest.” [= Itu adalah hukuman yang paling hina / memalukan yang dikenal manusia, dan itu juga adalah hukuman yang paling menyakitkan. Hal-hal berikut ini menyebabkan penyaliban suatu kematian dengan rasa sakit yang khusus: (1.) Posisi lengan dan tubuh tidak alamiah, lengan direntangkan ke belakang dan hampir tidak bisa bergerak. Gerakan yang paling kecil memberikan rasa sakit yang hebat pada tangan dan kaki, dan pada punggung, yang sudah dicabik-cabik dengan cambuk. (2.) Paku-paku, yang dimasukkan melalui bagian-bagian tangan dan kaki yang penuh dengan syaraf dan otot, memberikan penderitaan yang sangat hebat. (3.) Terbukanya begitu banyak luka terhadap udara menyebabkan peradangan yang hebat, yang sangat meningkatkan kepedihan / ketajaman penderitaan. (4.) Peredaran bebas dari darah dihalangi. Lebih banyak darah dibawa keluar oleh arteri-arteri dari pada yang bisa dikembalikan oleh pembuluh-pembuluh darah balik. Akibatnya ialah, terjadi peningkatan yang besar dalam pembuluh darah balik di kepala, yang menghasilkan tekanan dan rasa sakit yang hebat. Hal yang sama terjadi dengan bagian-bagian tubuh yang lain. Tekanan yang hebat dalam pembuluh darah adalah sumber penderitaan yang tidak terlukiskan. (5.) Rasa sakit itu naik secara bertahap. Tidak ada pengendoran, dan tidak ada istirahat].

Saudara adalah orang berdosa, dan sebetulnya saudaralah yang mengalami penyaliban yang mengerikan ini. Tetapi Kristus sudah mengalami penyaliban ini supaya saudara bebas dari hukuman Allah, asal saudara mau percaya dan menerima Dia sebagai Juruselamat dan Tuhan saudara. Sudahkah saudara percaya dan menerimaNya?

3.   Saat Yesus ditinggal oleh Bapa (Mat 27:46).
Hubungan Yesus dengan Bapa adalah hubungan yang paling dekat / intim yang bisa dibayangkan. Karena itu jelas bahwa perpisahan ini adalah sangat menyakitkan bagi Yesus! Kalau suami istri / orang yang berpacaran yang saling mencintai harus mengalami perpisahan, itu pasti merupakan sesuatu yang berat dan sangat menyakitkan. Lebih-lebih Yesus, yang hubungannya dengan Bapa lebih dekat / intim dibandingkan suami istri / orang berpacaran yang manapun juga, pastilah merasakan rasa sakit yang luar biasa akibat perpisahan tersebut.
Kitalah yang seharusnya terpisah selama-lamanya dengan Bapa karena segala dosa kita (2Tes 1:9), tetapi Yesus rela mengalami keterpisahan yang menyakitkan itu, supaya kita bisa diperdamaikan dengan Allah!

2)   Ia mengalami maut bagi semua manusia (ay 9 akhir).

a)   ‘untuk semua manusia’ (for everyone).
Ini tidak menunjuk pada semua manusia, karena ini harus ditafsirkan sesuai dengan:
·         ay 10: ‘banyak orang’. Ini salah terjemahan.
Seharusnya adalah many sons (= banyak anak).
Jadi, hanya menunjuk kepada anak Allah.
·         ay 11: ‘saudara’ (brothers).
·         ay 16: ‘keturunan Abraham’.
A. T. Robertson: “‘The seed of Abraham’. spermatos Abraam. The spiritual Israel (Gal. 3:29), children of faith (Rom. 9:7).” [= Benih / keturunan Abraham. SPERMATOS ABRAAM. Israel rohani (Gal 3:29), anak-anak iman (Ro 9:7)].

Sebagai orang Reformed / Calvinist, saya percaya pada doktrin Limited Atonement (= Penebusan Terbatas), yang mengatakan bahwa tujuan penebusan Kristus bukanlah untuk semua manusia di dunia, tetapi hanya untuk orang-orang pilihan.
Salah satu argumentasinya adalah sebagai berikut: kalau Kristus mati untuk menebus / membayar dosa semua umat manusia, lalu bagaimana dengan orang yang tidak percaya kepada Kristus? Kalau mereka masuk neraka, maka itu berarti bahwa dosa mereka yang sudah dibayar oleh Kristus, ditagih lagi dari mereka oleh Allah. Berarti dosa yang sama dihukum 2 x, 1 x pada diri Kristus, dan 1 x pada diri mereka. Ini jelas tidak adil! Jadi, orang yang mempercayai ‘universal atonement’ (= penebusan universal), atau ‘unlimited atonement’ (= penebusan tak terbatas), seharusnya juga mempercayai Universalisme (= ajaran yang beranggapan bahwa pada akhirnya semua orang akan selamat / masuk surga).

b)   Ay 9 akhir (Inggris): taste death (= mengecap / mencicipi kematian).
Calvin tidak mengerti mengapa digunakan istilah taste (= mengecap mencicipi). Tetapi penterjemah Calvin Commentary (Surat Ibrani), yaitu John Owen, berkata: dalam Kitab Suci, ‘to taste food’ / mencicipi makanan sering diartikan sekedar ‘to eat it’ / memakan makanan itu (Kis 10:10  Kis 20:11  Kis 23:14). Jadi, ‘to taste death’ / mencicipi kematian artinya adalah ‘to die, to undergo death’ (= mati, mengalami kematian). Bandingkan dengan:
·         Mat 16:28 - ‘tidak akan mati’.
NIV: ‘will not taste death’ (= tidak akan mencicipi kematian).
NASB: ‘shall not taste death’ (= tidak akan mencicipi kematian).
·         Luk 9:27 - ‘tidak akan mati’.
NIV: ‘will not taste death’ (= tidak akan mencicipi kematian).
NASB: ‘shall not taste death’ (= tidak akan mencicipi kematian).
Jelas bahwa dalam kedua ayat ini, istilah ‘taste death’ (= mencicipi kematian) ini dipakai dalam arti ‘mati’ / ‘mengalami kematian’.

c)   ‘by the grace of God’ (= oleh kasih karunia Allah).
Kata-kata ini menunjukkan bahwa kita tidak layak menerima pengorbanan Yesus ini.
Kita semua adalah orang berdosa yang layaknya menerima kutukan, hukuman, kematian, dan neraka! Tetapi Allah yang penuh kasih karunia memberikan kepada kita apa yang tidak layak kita terima yaitu pengorbanan Kristus untuk menyelamatkan kita!

III) Setelah / akibat Jum’at Agung.

1)   Bagi Yesus.

a)   Yesus disempurnakan (ay 10).
Ini tentu tidak berarti bahwa Ia tadinya tidak sempurna!
Pada waktu dikatakan bahwa Allah menyempurnakan (to make perfect) Yesus melalui penderitaan, artinya: Allah menjadikan Yesus ‘perfectly qualified’ (= memenuhi syarat secara sempurna) dalam:
1.   Penebusan.
2.   Bersimpati terhadap saudara-saudaraNya.

b)   Yesus dimuliakan (ay 9).
Yesus mengalami perendahan dan derita maut, baru kemuliaan dan hormat!
Pulpit Commentary: “His crowning was the consequence of His suffering” (= PemahkotaanNya merupakan akibat dari penderitaanNya).

Penerapan: Kalau jalan yang dilalui Yesus adalah mengalami penderitaan dan baru kemuliaan, maka kalau kita adalah pengikut Yesus, kita harus melalui jalan yang sama! Karena itu, hati-hatilah dengan ajaran populer jaman ini yang mengatakan bahwa kalau kita ikut Yesus maka segala sesuatu akan menjadi lancar dan enak!
Bdk. Yoh 15:20 - “Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firmanKu, mereka juga akan menuruti perkataanmu”.

c)   Yesus adalah ‘the author of salvation’ (ay 10).
Kitab Suci Indonesia menterjemahkan ay 10: ‘yang memimpin mereka kepada keselamatan’. Ini terjemahan yang salah.
Kitab Suci bahasa Inggris menterjemahkan ‘the author of salvation’.
Istilah ‘author’ diterjemahkan dari kata bahasa Yunani ARCHEGOS, yang artinya bisa bermacam-macam, yaitu: head (= kepala), chief (= kepala / ketua), founder (= pendiri), originator (= yang memulai), source (= sumber), origin (= asal usul).
Jadi, ‘author of salvation’ artinya adalah ‘sumber / asal usul keselamatan’. Ini menunjukkan bahwa keselamatan hanya bisa didapatkan dari / melalui Yesus.
Bdk. Kis 4:12 - “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada kita yang olehnya kita dapat diselamatkan”.
Sejalan dengan ay 10 tadi yang menunjuk Yesus sebagai sumber / asal usul keselamatan, maka Kis 4:12 ini menunjukkan bahwa keselamatan ada, dan hanya ada, di dalam Yesus. Kalau saudara menerima Yesus, saudara secara otomatis juga menerima keselamatan, tetapi kalau saudara menolak Yesus, saudara secara otomatis juga menolak keselamatan, tidak peduli apapun agama saudara (kristen sekalipun), dan tidak peduli betapa baiknya saudara hidup! Ingat bahwa sebaik-baik saudara hidup, saudara tetap mempunyai dosa, dan bahkan mempunyai banyak dosa. Tanpa Yesus sebagai Penebus / Juruselamat dosa saudara, saudara harus membayar sendiri dosa-dosa saudara itu di dalam neraka!

2)   Bagi setan.
Setan, yang berkuasa atas maut, dimusnahkan (ay 14).

a)   Ini tidak berarti setannya betul-betul musnah dalam arti tidak ada lagi, dan juga tidak berarti bahwa setannya dimasukkan ke neraka. Setan baru dimasukkan ke neraka pada akhir jaman (Wah 20:10).
Arti yang benar adalah: setan dikalahkan.

b)   Apakah dengan kematianNya Yesus mengalahkan setan?
Memang dalam arti tertentu, kematian Yesus itu merupakan kekalahan (bdk. Kej 3:15 - ‘tumit yang diremukkan’), tetapi kematian Yesus itu jelas juga adalah suatu kemenangan, karena melalui kematian Yesus itulah keselamatan bisa datang kepada manusia berdosa!

Disamping itu kita perlu mengingat kata-kata Calvin sebagai berikut:
“So then, let us remember that whenever mention is made of His death alone, we are to understand at the same time what belongs to His resurrection. Also, the same synecdoche applies to the word ‘resurrection’: whenever it is mentioned separately from death, we are to understand it as including what has to do especially with His death” (= Jadi, hendaklah kita ingat bahwa kalau hanya disebutkan tentang kematianNya, kita harus mengartikan pada saat yang sama, apa yang termasuk dalam kebangkitanNya. Juga ‘synecdoche’ yang sama berlaku terhadap kata ‘kebangkitan’: kalau kata itu disebutkan terpisah dari ‘kematian’, kita harus menafsirkan kata itu beserta apa yang termasuk dalam kematianNya).

Catatan: Synecdoche adalah suatu gaya bahasa dimana yang sebagian mewakili seluruhnya. Jadi yang dimaksud adalah seluruhnya, tetapi disebutkan hanya sebagian. Contoh: Amsal 15:3 - “Mata TUHAN ada di segala tempat”. Ini tentu tidak berarti bahwa hanya ‘mata TUHAN’ saja yang ada di segala tempat, tetapi ‘seluruh TUHANnya’ ada di segala tempat. Jadi, ‘mata TUHAN’ (sebagian) mewakili ‘TUHAN’ (seluruh).

c)   Dengan demikian, setan cuma bisa menakuti, tetapi tidak mungkin merugikan atau mengalahkan / menghancurkan kita! Ini tidak berarti bahwa kita boleh meremehkan dia! Kita tidak perlu takut kepada dia, tetapi kita tetap harus waspada terhadap dia.
1Pet 5:8 - “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti seekor singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya”.

3)   Bagi kita.

a)   Kita dikuduskan (ay 11).
John Owen: istilah dikuduskan / menguduskan dalam ay 11 ini tidak menunjuk pada sanctification (= pengudusan), karena kontex menunjukkan bahwa di sini istilah itu menunjuk pada expiation / atonement (= penebusan).
Bdk. ay 17: ‘mendamaikan dosa seluruh bangsa’.
NASB: ‘to make propitiation for the sins of the people’ (= untuk membuat pendamaian bagi dosa seluruh bangsa).
NIV: ‘he might make atonement for the sins of the people’ (= Ia bisa membuat penebusan untuk dosa seluruh bangsa).

b)   Kita menjadi anak Allah / saudara Yesus (ay 12,13,14,17).
Dengan kita menjadi anak-anak Allah, maka kita pasti akan menjadi ahli waris Allah, dan karenanya pasti akan masuk ke surga.

c)   Kita dilepaskan dari perhambaan oleh karena ketakutan kepada maut (ay 15).
Orang yang betul-betul percaya kepada Yesus harus yakin akan keselamatannya, dan dengan demikian ia seharusnya tidak lagi takut pada kematian. Orang kristen yang takut mati menunjukkan ada yang sangat tidak beres dengan imannya, karena dengan takut mati ia menunjukkan bahwa ia tidak yakin akan masuk surga pada saat ia mati! Kalau ia memang percaya bahwa Yesus sudah mati untuk membayar semua dosa-dosanya (Kol 2:13  Tit 2:14), lalu dosa yang mana yang menyebabkan ia tidak yakin akan masuk surga? Kalau ia masih berpikir bahwa ia mungkin akan masuk ke neraka, itu menunjukkan bahwa ia tidak percaya bahwa Yesus telah mati untuk menebus semua dosa-dosanya. Mestinya semua orang kristen harus yakin akan keselamatannya, sehingga bisa berkata seperti Paulus: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Fil 1:21).

Tetapi siapa yang dimaksud dengan ‘kita’? Hanya orang yang percaya kepada Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan! Hanya yang percaya kepada Kristuslah yang dijadikan anak Allah (Yoh 1:12)!
·         bukan seadanya orang yang masuk gereja, dibaptis, dsb!
·     bukan juga orang yang percaya kepada Kristus sekedar sebagai penyembuh / dokter, pelaku mujijat, pemberi berkat / kekayaan, dsb!
Sudahkah saudara betul-betul percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan saudara?







-AMIN-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar