Minggu, 16 Maret 2014

BISAKAH ORANG KRISTEN KEHILANGAN KESELAMATAN? - Part 2


Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div



    4)   Orang dapat mulai dengan Roh dan berakhir dengan daging.
Gal 3:3-4 - “(3) Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? (4) Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!”.

Jawaban saya:
Kata-kata terakhir dari ayat ini, yaitu ‘masakan sia-sia!’ justru menunjukkan bahwa hal itu tidak mungkin terjadi! Dan Paulus menuliskan surat Galatia dengan tujuan supaya kemurtadan mereka tidak terjadi. Kalau toh ada yang betul-betul murtad dari jemaat Galatia, itu pasti orang kristen KTP, karena orang kristen yang sejati tidak mungkin murtad (1Yoh 2:19).
Jawaban ini juga berlaku untuk ayat-ayat lain dalam surat Galatia, yang seakan-akan menunjukkan bahwa mereka murtad (Gal 1:6  4:9-11  5:2-4,7).

5)   Mat 7:21-23 - “(21) Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. (22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? (23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!’”.

Pdt. Jusuf B. S.: “Ini orang-orang yang benar, yang sudah percaya dan selamat, sebab:
1.  Ini sambungan dari ayat 21 dan 22, yaitu tentang orang-orang yang sudah percaya, sudah menyeru nama Tuhan, sebab itu sudah selamat (Rom 10:10). ...
2.   Dari buah-buah pelayanan yang disebutkan di sini, kita melihat dengan jelas bahwa ini adalah orang-orang yang percaya, sudah lahir baru, sudah selamat. Semua dilakukan di dalam nama Yesus dengan sungguh-sungguh.
3.  Mereka membuang setan dengan nama Tuhan Yesus. Kalau seseorang hanya dengan main-main memakai nama Yesus untuk mengusir setan, pasti gagal seperti Kis 19:13. Jadi mereka ini adalah orang-orang yang sungguh-sungguh percaya.
4.  Mereka membuat mujizat dengan nama Tuhan, ini orang-orang yang betul. Andaikata mereka tidak satu golongan dengan kita, mereka tetap diakui Tuhan (Mrk 9:38-40/ Luk 9:49-50). Jadi orang-orang yang disebut di sini, pastilah orang-orang yang sudah percaya (sudah selamat), sudah pernah sungguh-sungguh ikut Tuhan.
5.   Lima Anak Dara yang Bodoh.
Mat 25:11-13 Kemudian daripada itu datang pula anak dara yang lain itu sambil berkata: Ya Tuan, ya Tuan, bukakanlah kiranya kami pintu. Tetapi ia menjawab serta berkata: Sesungguhnya aku berkata kepadamu: Tiada aku kenal kamu. Sebab itu hendaklah kamu berjaga-jaga, karena tiada kamu ketahui akan hari atau waktunya.
Jawaban Tuhan bagi 5 anak dara ini sama seperti jawaban Tuhan dalam Mat 7:23. Jawaban ini diberikan kepada 5 anak dara yang bodoh. Siapakah 5 anak dara yang bodoh ini? Apakah mereka orang yang belum percaya pada Tuhan Yesus? Mustahil! Mereka sudah bersama-sama dengan yang lain pergi menyambut pengantin Laki-laki, mereka berpakaian sama seperti 5 anak dara yang pintar. Mereka juga mempunyai minyak dalam pelitanya yang sama-sama menyala dengan teman-temannya yang pandai, sebab itu tidak mungkin mengartikan 5 anak dara yang bodoh ini sebagai orang yang belum percaya, tidak mungkin! Lima anak dara ini adalah orang-orang yang sudah percaya pada Tuhan Yesus, sudah mempunyai pelita = pelayanan yang tertentu (Wah 2:5), sudah bersinar, sudah penuh Roh Kudus, sudah dimeteraikan dan mempunyai pakaian yang sama, tetapi mereka ditolak dari Kerajaan Sorga seperti Matius 7:23. Mereka inilah orang-orang yang mulai dengan Roh, tetapi mengakhirinya dengan kedagingan, mulai bersinar tetapi sesudah itu menjadi gelap” - ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 87-89.

Pdt. Jusuf B. S.: “Kesimpulan: Mat 7:23 ini bukan tentang orang-orang yang tidak pernah diselamatkan, tetapi justru tentang orang-orang yang pernah selamat bahkan dipakai Tuhan dengan heran, tetapi tidak berjaga-jaga, akhirnya undur dalam dosa dan kejahatannya sampai mati, sehingga mereka masuk dalam kebinasaan kekal” - ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 91.

Jawaban saya:

a)   Penafsiran Pdt. Jusuf B. S. ini tidak mempedulikan kontext dari Mat 7:21-23 itu yang jelas-jelas berbicara tentang nabi-nabi palsu. Mari kita membaca text tersebut mulai dari ay 15nya.
Mat 7:15-23 - “(15) ‘Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. (16) Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? (17) Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. (18) Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. (19) Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. (20) Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (21) Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. (22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? (23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!’”.
Jadi kontextnya ini menunjukkan bahwa mereka adalah serigala yang buas tetapi menyamar sebagai domba. Karena itu tidak heran bahwa dilihat dari luar / secara lahiriah, mereka terlihat seperti orang kristen. Ingat bahwa lalang mirip dengan gandum.

b)   Bahwa dalam Kis 19:13 orang-orang itu tidak bisa mengusir setan dengan nama Yesus, tidak berarti bahwa selalu harus demikian. Ingat bahwa setan itu begitu cerdik, sehingga ia mempunyai banyak taktik. Pada saat itu ia merasa bahwa yang terbaik baginya adalah tidak keluar dari orang yang dirasuknya dan bahkan lalu memukuli orang yang menengkingnya. Tetapi pada kali-kali yang lain, ia bisa saja menganggap bahwa lebih baik keluar dari orang yang dirasuknya, supaya banyak orang percaya kepada nabi palsu yang menengkingnya. Dengan demikian justru ia ‘mendapatkan lebih banyak jiwa’.

c)   Lima anak dara yang bodoh dalam Mat 25:1-13 itu jelas juga menggambarkan orang kristen KTP. Orang kristen yang sejati tidak biasanya disebut ‘bodoh’ dalam Kitab Suci. Disamping itu, lima anak dara yang bodoh itu hanya kelihatannya saja siap menyambut mempelai laki-laki. Bahwa mereka tidak membaca cadangan minyak, menunjukkan bahwa persiapan mereka sama sekali tidak memadai. Juga bahwa mereka tadinya mempunyai minyak dalam pelita / lampu mereka, tidak boleh dialegorikan sebagai Roh Kudus, karena kalau minyak itu diartikan sebagai Roh Kudus, lalu apa artinya ‘cadangan minyak’ / ‘minyak dalam buli-buli’ (ay 4) yang dibawa oleh lima gadis yang bijaksana? Juga apa artinya ‘membeli minyak’ dan ‘penjual minyak’ (ay 9-10a)?

d)   Dalam Mat 7:23 itu Tuhan berkata bahwa Ia bukan sekedar ‘tidak mengenal’ mereka, tetapi ‘tidak pernah mengenal’ mereka.
Mat 7:23 - “Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!’”.
Kalau orang-orang itu pernah percaya dan akhirnya murtad, maka Tuhan tidak bisa berkata ‘tidak pernah mengenal’. Ia seharusnya berkata: ‘Dahulu Aku mengenal kamu, tetapi sekarang tidak’.

Terhadap hal ini Pdt. Jusuf B. S. memberikan jawaban sebagai berikut:
Pdt. Jusuf B. S.: “Mengapa tidak pernah dikenal? Ini istilah Alkitab (kata-kata Allah) untuk semua orang yang sudah dibuang dari hadapan Allah, itu dilupakan sama sekali, tidak diingat lagi seperti tidak pernah dikenal!
Misalnya:
1.   Hidup yang tidak pernah dinajiskan.
Wahyu 3:4 Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu.
Tidak menajiskan, tidak pernah berdosa? Semua orang pernah berdosa, bahkan sesudah percaya (kecuali ia sudah sempurna dengan mutlak). Mengapa beberapa orang-orang di Sardis disebut dengan kata-kata ini. Inilah orang-orang yang sudah dilepaskan dari dosa, dosa-dosanya sudah dibuang, dihapus begitu bersih, oleh darah Yesus, sehingga menjadi seolah-olah tidak pernah menajiskan pakaiannya. Allah lupa akan keadaan orang-orang itu sebelum bertobat; Seolah-olah Allah tidak pernah mengenal keadaan pribadi mereka sebelum bertobat, sehingga mereka dikenal Allah sebagai orang-orang yang tidak pernah berdosa!
2.   Allah tidak lagi ingat dosa-dosa yang sudah diampuni. Luar biasa. Allah yang maha tahu, tahu segala-galanya dapat lupa, tidak ingat lagi, tidak lagi mengenali dosa-dosa yang sudah ditutup darah Yesus” - ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 89.

Jawaban saya:
1.   Jemaat Sardis itu tidak dikatakan ‘tidak pernah mencemarkan pakaiannya’, tetapi ‘tidak mencemarkan pakaiannya’. Pdt. Jusuf B. S. menambahkan kata ‘pernah’ dalam penafsiran / penjelasannya. Ia seharusnya memperhatikan ancaman dalam Wah 22:18-19 bagi orang-orang yang mengurangi atau menambahi Kitab Suci.
2.   Kitab Suci tidak pernah mengatakan bahwa Allah lupa akan dosa-dosa yang sudah diampuni. Kitab Suci mengatakan ‘tidak mengingat-ingat’ (Yes 43:25  Yer 31:34  Ibr 10:17) dan ini berbeda dengan ‘lupa’. ‘Tidak mengingat’ merupakan suatu tindakan sengaja dan berada di dalam kontrol si pelaku, dan ini berbeda dengan ‘lupa’, yang merupakan tindakan yang tidak disengaja dan berada di luar kontrol si pelaku.
3.   Bahwa Allah ‘tidak mengingat’ dosa kita, tidak bisa dikatakan bahwa Ia ‘tidak pernah mengetahui’ dosa kita. Ia tahu, tetapi tidak mau mengingat-ingat dosa-dosa itu. Ini berbeda dengan Mat 7:23 yang secara jelas mengatakan ‘tidak pernah mengenal’.

6)   Adanya banyak ayat Kitab Suci yang memberikan peringatan terhadap kemurtadan.
Misalnya: Mat 24:13 - “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat”.
Dalam Kitab Suci masih ada banyak ayat lain yang sejenis / yang memberikan peringatan terhadap kemurtadan seperti Mat 10:22  Kol 1:23  Ibr 2:1  Ibr 3:14  Ibr 6:11. Juga dalam Kitab Suci ada ayat-ayat yang mendorong orang kristen untuk bertekun sampai akhir seperti 1Kor 15:2  Wah 2:10. Secara implicit ini menunjukkan bahwa orang kristen bisa tidak bertahan sampai akhir (murtad), sehingga kehilangan keselamatannya.

Jawaban saya:

a)         Orang kristen yang sejati pasti akan bertahan sampai akhir, karena:
·         penulis surat Ibrani mengatakan dalam Ibr 10:38-39 - “(38) Tetapi orangKu yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.’ (39) Tetapi kita (orang kristen yang sejati) bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup”. Ini menunjukkan bahwa orang kristen yang sejati pasti akan bertahan sampai akhir.
·         1Yoh 2:19 - “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita”. Ini jelas menunjukkan bahwa yang murtad itu pasti orang kristen KTP.

b)   ‘Jaminan keselamatan’ tidak bertentangan dengan ‘perintah untuk bertekun sampai akhir / larangan murtad’.
Sekalipun kita dijamin tidak akan kehilangan keselamatan kita, tetapi kita tetap diberi tanggung jawab untuk bertekun sampai akhir dan memelihara keselamatan kita.
Untuk menjelaskan tentang hal ini saya akan memberikan suatu illustrasi dari Kitab Suci, yaitu dari Kis 27:22-34 - “(22) Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bertabah hati, sebab tidak seorangpun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini. (23) Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milikNya, berdiri di sisiku, (24) dan ia berkata: Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; dan sesungguhnya oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat karena engkau. (25) Sebab itu tabahkanlah hatimu, saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan kepadaku. (26) Namun kita harus mendamparkan kapal ini di salah satu pulau.’ (27) Malam yang keempat belas sudah tiba dan kami masih tetap terombang-ambing di laut Adria. Tetapi kira-kira tengah malam anak-anak kapal merasa, bahwa mereka telah dekat daratan. (28) Lalu mereka mengulurkan batu duga, dan ternyata air di situ dua puluh depa dalamnya. Setelah maju sedikit mereka menduga lagi dan ternyata lima belas depa. (29) Dan karena takut, bahwa kami akan terkandas di salah satu batu karang, mereka membuang empat sauh di buritan, dan kami sangat berharap mudah-mudahan hari lekas siang. (30) Akan tetapi anak-anak kapal berusaha untuk melarikan diri dari kapal. Mereka menurunkan sekoci, dan berbuat seolah-olah mereka hendak melabuhkan beberapa sauh di haluan. (31) Karena itu Paulus berkata kepada perwira dan prajurit-prajuritnya: ‘Jika mereka tidak tinggal di kapal, kamu tidak mungkin selamat.’ (32) Lalu prajurit-prajurit itu memotong tali sekoci dan membiarkannya hanyut. (33) Ketika hari menjelang siang, Paulus mengajak semua orang untuk makan, katanya: ‘Sudah empat belas hari lamanya kamu menanti-nanti saja, menahan lapar dan tidak makan apa-apa. (34) Karena itu aku menasihati kamu, supaya kamu makan dahulu. Hal itu perlu untuk keselamatanmu. Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan sehelaipun dari rambut kepalanya.’”.

Jadi, cerita Kitab Suci ini menunjukkan bahwa Allah mengirim malaikat yang memberikan Firman Tuhan yang menja­min keselamatan (jasmani) semua mereka, kecuali kapalnya (ay 23-24). Dan Paulus percaya penuh akan Firman Tuhan yang telah ia terima itu (ay 22,25,34b), tetapi itu tidak menyebabkan Paulus hanya berdi­am diri, beriman, berdoa saja! Sekalipun ada Firman Tuhan yang menjamin keselamatan mereka, tetapi Paulus tetap memberikan nasehat supaya Firman Tuhan / janji Tuhan itu terjadi.
1.   Ay 26: Paulus menasehati mereka untuk mendamparkan kapal di salah 1 pulau. Perhatikan kata ‘namun’ dan ‘harus’ (ay 26).
2.   Ay 31: Paulus menasehati perwira dan prajurit untuk tidak membi­arkan anak-anak kapal melarikan diri. Perhatikan kata-kata ‘Jika ..., kamu tidak mungkin selamat’ (ay 31).
3.   Ay 33-34: Paulus menasehati mereka untuk makan. Perhatikan bahwa sekalipun ia yakin akan keselamatan mereka (ay 34b), ia tetap berkata ‘ini perlu untuk keselamatanmu’ (ay 34a).

Jadi, sekalipun ada janji Tuhan dan kita percaya janji itu, itu tidak berarti bahwa kita tidak perlu berusaha supaya janji itu tergenapi!
Contoh:
·         Janji bahwa Allah akan mencukupi hidup kita (Mat 6:25-34) tidak berarti bahwa kita tidak perlu bekerja untuk mencari nafkah (bdk. 2Tes 3:10b) ataupun mengatur pengeluaran kita dengan bijaksana.
·         Janji bahwa orang kristen tidak akan kehilangan keselamatannya (Yoh 10:27-29  Ro 5:9-10  1Kor 1:8-9  2Kor 1:21-22  Fil 1:6  1Yoh 2:18-19), tidak berarti bahwa kita tidak perlu berusaha untuk setia, untuk memelihara keselamatan dan menjauhi hal-hal yang membinasakan (bdk. Wah 2:10b  Mat 24:13).

7)   Fil 2:12 - “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir”.
Pdt. Jusuf B. S.: “Mengapa sampai takut dan gentar kalau keselamatan tidak bisa hilang?!” - ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 48.

Jawaban saya:

a)   Ini sama seperti no 6 di atas. Adanya jaminan keselamatan tidak membuang tanggung jawab kita dan tidak berarti bahwa kita boleh hidup seenaknya sendiri.

b)   Calvin mengatakan kata-kata Paulus dalam Fil 2:12 itu dimaksudkan untuk membuang keyakinan yang berlebihan pada diri sendiri, yang menyebabkan kita hidup secara sombong dan ceroboh / tidak waspada. Calvin juga mengatakan bahwa ada rasa takut yang menyebabkan kita ragu-ragu, dan ada rasa takut yang membangkitkan kerendahan hati. Yang diinginkan oleh Paulus tentu saja adalah yang kedua.

8)   Ibr 10:38-39 - “(38) Tetapi orangKu yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.’ (39) Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.
Pdt. Jusuf B. S. (hal 47-48) menggunakan text ini untuk menunjukkan adanya orang-orang yang mengundurkan diri sehingga binasa.

Jawaban saya:

a)   Menurut saya merupakan sesuatu yang bodoh untuk menggunakan text ini untuk mendukung pandangan Arminian, karena text ini, khususnya ay 39nya, justru menunjukkan bahwa orang percaya tidak akan mengundurkan diri dan binasa.

b)   Kalau ay 38nya memberikan semacam ancaman kepada orang-orang yang mengundurkan diri, maka saya menjawab dengan cara yang sama seperti pada no 6 di atas, yaitu bahwa adanya jaminan keselamatan tidak berarti bahwa kita tidak harus berusaha supaya tetap selamat.

Charles Hodge (tentang 1Kor 10:12): Neither the members of the church nor the elect can be saved unless they persevere in holiness; and they cannot persevere in holiness without continual watchfulness and effort (= Tak ada anggota-anggota gereja ataupun orang-orang pilihan yang bisa diselamatkan kecuali mereka bertekun dalam kekudusan; dan mereka tidak bisa bertekun dalam kekudusan tanpa berjaga-jaga dan usaha yang terus menerus).

9)   2Pet 2:20-22 - “(20) Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. (21) Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. (22) Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: ‘Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.’”.
Bagian ini lagi-lagi diartikan oleh Pdt. Jusuf B. S. sebagai orang kristen yang sejati yang murtad.

Jawaban saya:
Bagian ini jelas sekali berbicara tentang orang kristen KTP, karena:

a)   Kontext dari 2Pet 2 itu berbicara tentang nabi-nabi palsu (bacalah 2Pet 2 itu mulai dari ay 1nya). Dan pembicaraan tentang nabi-nabi palsu itu terus berlangsung sampai akhir dari 2Pet 2 itu, yaitu ay 20-22.
Dengan menafsirkan orang-orang ini sebagai orang kristen yang sejati, lagi-lagi Pdt. Jusuf B. S. menafsirkan tanpa mempedulikan kontextnya.

b)   Mereka tetap disebut sebagai ‘anjing’ dan ‘babi’ (ay 22). Sebutan ini tidak pernah digunakan untuk menunjuk kepada orang kristen yang sejati.

Jadi, kata-kata ‘telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia’ (ay 20) dan ‘mengenal jalan kebenaran’ (ay 21) harus diartikan secara lahiriah. Jadi, secara lahiriah mereka telah meninggalkan dosa-dosa mereka dan mengenal jalan kebenaran / kekristenan, tetapi mereka belum pernah betul-betul percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka.

10)Mat 12:43-45 - “(43) Apabila roh jahat keluar dari manusia, iapun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya. (44) Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapih teratur. (45) Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula. Demikian juga akan berlaku atas angkatan yang jahat ini”.

Pdt. Jusuf B. S.: “Dalam ayat-ayat ini terlihat jelas bahwa dengan kuasa Allah hati orang itu sudah dibersihkan. Ini berarti ia sudah masuk Kerajaan Allah dan selamat. Lukas 11:20 Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu (sudah masuk kerajaan Allah!). Tetapi orang-orang seperti ini masih bisa undur kembali sehingga hatinya penuh dengan 8 setan. Orang seperti ini, kalau sampai mati tidak bertobat, binasa; hilang keselamatannya.” - ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 48.

Jawaban saya:
Rumah itu dikatakan ‘kosong’ karena tidak adanya Roh Kudus dalam orang itu, dan ini menunjukkan bahwa ia bukanlah orang kristen yang sejati. Kata-kata ‘bersih tersapu dan rapih teratur’ maksudnya adalah ‘bersih tersapu dan rapih teratur bagi setan’. Jadi maksudnya adalah: kehidupan orang itu adalah sedemikian rupa (tidak belajar Firman Tuhan, tidak pernah berdoa / berbakti dsb), sehingga hatinya menjadi tempat yang cocok / menyenangkan bagi setan. Jelas ini tidak mungkin menggambarkan orang kristen yang sejati!

11)            Doktrin yang mengatakan bahwa keselamatan tidak bisa hilang ini dianggap bertentangan dengan kebebasan manusia.

Jawaban saya:

a)   Di surga nanti kita juga tidak bisa berbuat dosa; apakah itu berarti free will hilang?
Loraine Boettner: “No one denies that the redeemed in heaven will be preserved in holiness. Yet if God is able to preserve His saints in heaven without violating their free agency, may He not also preserve His saints on earth without violating their free agency?” (= Tak seorangpun menyangkal bahwa orang-orang yang ditebus di surga akan dijaga dalam kekudusan. Kalau Allah mampu untuk menjaga / memelihara orang-orang kudusNya di surga tanpa melanggar kebebasan mereka, tidak bisakah Ia juga menjaga / memelihara orang-orang kudusNya di bumi tanpa melanggar kebebasan mereka?) - Loraine Boettner, ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 184.

b)   Dalam kasus Yunus, apakah ia kehilangan free will? Mengapa Tuhan tak ijinkan ia lari terus, tetapi ‘memaksa’ dia untuk melakukan perintah Allah?

c)   Malaikat-malaikat sekarang ini juga tidak mungkin berbuat dosa. Apakah itu berarti tak ada free will?

d)   Pada saat Tuhan menjaga supaya orang kristen yang sejati tidak murtad, Ia tidak memaksa kehendak mereka, seakan-akan mereka ingin murtad tetapi dihalangi oleh Tuhan. Tuhan bekerja melalui kehendak mereka, sehingga mereka sendiri tidak ingin murtad. Jadi mereka tetap merupakan manusia yang bebas.

e)   Kalau seseorang mempunyai anak, dan anak itu mau bunuh diri, atau menggunakan narkoba, atau melakukan sesuatu yang lain apapun yang sangat buruk, tidakkah orang tua yang baik akan mencegah tindakan itu kalau mereka bisa melakukannya? Lalu mengapa kita harus percaya bahwa Allah, demi ‘free will’, harus membiarkan anak-anakNya yang mau murtad?

12)Doktrin yang mengatakan bahwa keselamatan tidak bisa hilang ini dianggap menyebabkan orang kristen berani hidup dalam dosa dan tidak mau memikul salib, sehingga akhirnya justru binasa / masuk neraka.
Pdt. Jusuf B. S.: “Peluang untuk berdosa. Menurut ‘teori’ Calvin’ ini: Sekali selamat tetap selamat. Keselamatan tidak dapat hilang, sekalipun seseorang berbuat dosa, hanya pahalanya yang hilang. ... Teori ini membuat orang berani memilih dan main-main dalam dosa, toh selamat” - ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 29.
Pdt. Jusuf B. S.: “Memang mereka tidak mengajar orang untuk berdosa, tetapi jelas sekali bahwa ‘Teori’ ini memberi peluang untuk berdosa. Seolah-olah dosa bukan penghalang untuk masuk Kerajaan Surga, padahal jelas sekali Firman Tuhan berkata: Dosa tidak boleh masuk Surga (1Kor 6:9-10/ Gal 5:19-21/ Ef 5:5/ Wah 21:8,27/ 22:15). Tuhan Yesus datang dalam dunia ini karena dosa (Yoh 1:29). Supaya manusia lepas dan bebas dari dosa (Mat 1:21/ Yoh 8:36/ 1Yoh 3:6-9). Teori-teori manusiawi ini yang memberi peluang untuk berbuat dosa, itu sangat bertentangan dengan Firman Tuhan yang sangat tegas terhadap dosa. Mereka berkata: Dosa yang paling dahsyatpun, paling-paling dihukum seperti 1Kor 5:5/ 1Tim 1:20, tetapi tetap selamat, masuk surga. Ini salah!” - ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 30-31.
Pdt. Jusuf B. S.: “Dosa tidak boleh masuk Surga. Orang yang tidak bertobat, di dalam negeri yang semata-mata betul (Surga) akan tetap berbuat salah lagi, sebab itu ditolak oleh Tuhan. Tidak masuk Surga!” - ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 31.
Ia lalu mengutip Yes 26:10 dari terjemahan lama: “Jikalau dilakukan kasihan kepada orang fasik, tiada juga ia belajar membuat barang yang benar, melainkan salah jua perbuatannya di dalam negeri yang semata-mata betul (berontak lagi di Surga), dan tiada dipandangnya akan kebesaran Tuhan”.

Pdt. Jusuf B. S.: “Teori Calvin dapat memberi kesimpulan: Tidak perlu pikul salib, tetap selamat! ... Kalau berbuat dosa tidak apa-apa, tetap selamat, hanya pahalanya hilang (menurut teori Calvin, bukan menurut Firman Tuhan!) dengan mudah salib ditinggalkan. Buat apa pikul salib? Sebab itu orang-orang Calvinis ini akan lebih mudah memilih melazatkan daging, nikmat untuk daging ... Bagi orang Kristen yang cinta daging dan dunia, teori Calvin dapat menenangkan perasaan hati, bahkan dapat menghanguskannya, sehingga walau berdosa berlapis-lapis senang juga hatinya (Ams 14:16) sebab toh selamat. ... Teori ini seperti candu, merusak habis-habisan sampai binasa dan orangnya tidak merasa, tahu-tahu sesudah mati berada di Neraka!” - ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 32,33,34.

Jawaban saya:

a)   Injil itu sendiri, yang mengatakan bahwa semua dosa kita telah dibayar oleh Kristus, juga bisa menyebabkan orang-orang tertentu untuk lalu sengaja berbuat dosa. Dalam hal ini, yang salah bukan ajarannya, tetapi oknumnya!

b)   Adanya jaminan keselamatan justru menyebabkan seseorang makin merasakan kasih Allah, dan ini seharusnya menyebabkan ia makin mencintai dan mentaati Tuhan.
R. L. Dabney: “Such a gift of redemption as the Calvinist represents is far nobler and more gracious, and hence elicits more love and gratitude, which are the noblest motives, the strongest and best. ... It is love and confidence, not selfish fear, which most effectually stimulates Christian effort (= Karunia penebusan seperti itu, yang digambarkan oleh orang Calvinist jauh lebih mulia dan lebih murah hati, dan karena itu mendatangkan lebih banyak kasih dan syukur, yang merupakan motivasi-motivasi yang paling mulia, paling kuat dan paling baik. ... Kasih dan keyakinanlah, bukan rasa takut yang bersifat egois, yang secara paling effektif mendorong / menggairahkan usaha Kristen) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 697,698.
Catatan: ‘rasa takut yang bersifat egois’ itu mungkin ia tujukan terhadap orang-orang Arminian, yang mentaati Tuhan karena takut kehilangan keselamatannya.

Terhadap hal ini Pdt. Jusuf B. S. berkata sebagai berikut: “Seorang Pendeta (R. Hendrata) menceritakan pengalamannya sebagai berikut: Ada seorang direktur pabrik gula (di Jawa) yang sukses dan kaya. Ia (orang Belanda) mengangkat anak. Anak ini sangat beruntung di rumah bapak angkatnya, lebih-lebih dengan pendidikan dan kemewahan orang barat. Ia disayang dan dilengkapi segala kebutuhannya. Tentu seharusnya ia sangat berterima kasih. Sesudah dewasa, ternyata anak angkat ini membunuh bapak angkatnya hanya karena hendak mengambil kepala sabuk dari emas yang dipakai bapak angkatnya. Orang-orang menyesali anak ini. Ia sudah sangat beruntung boleh menjadi anak angkatnya, sekarang justru membunuh bapak angkatnya. ... Ada lagi seorang pemilik toko yang mengangkat anak dari anak pembantu rumah tangganya. Sesudah anak itu menjadi dewasa dan selesai sekolah, pemilik toko ini berharap anak angkatnya ini bisa ikut membantu toko dan gudangnya. Ia diberi juga kunci gudang. Ternyata tidak lama sesudah kunci gudang sampai ke dalam tangannya, mulailah kecurangannya. Setiap kali barang-barang di gudang diam-diam dijual keluar dengan harga lebih murah, dan uangnya masuk ke dalam kantong pribadi anak angkat ini. Betapa orang tua angkatnya menyesal mengetahui hal ini. Anak ini sudah menikmati kebaikan orang tua angkatnya, tetapi tidak menyenangkan mereka. Contoh-contoh ini untuk menyadarkan kita bahwa rasa syukur karena keyakinan selamat ‘yang tipis ini’ (sebab siapa yang tahu dengan pasti keputusan Allah tentang dirinya?) tidak akan cukup, apa lagi kalau digerogoti kehendak daging yang dibiarkan ...” - ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 36,37.

Saya berpendapat bahwa ini merupakan jawaban / argumentasi yang tidak alkitabiah, karena hanya mengandalkan suatu kejadian, bukan ayat Kitab Suci. Disamping itu, contoh-contoh yang ia berikan itu berbeda dengan kasus kita sebagai orang kristen, karena dalam kasus kita, ada Roh Kudus yang memimpin dan menopang kita.

c)   Jangan menganggap bahwa ajaran Calvinisme yang mengatakan bahwa keselamatan tidak bisa hilang menyebabkan orang Calvinist tidak mempunyai rasa takut. Perhatikan kata-kata Dabney di bawah ini.
R. L. Dabney:
“when the Arminian would be led by a backsliding, to fear he had fallen from grace, the Calvinist would be led, just as much, to fear he never had had any grace; a fear much more wholesome and searching than the erring Arminian’s. For this alarmed Calvinist would see, that, while he had been flattering himself he was advancing heavenward, he was, in fact, all the time in the high road to hell; and so now, if he would not be damned, he must make a new beginning, and lay better foundations than his old ones (not like the alarmed Arminian, merely set about the same old ones)” [= pada saat seorang Arminian mengalami kemunduran, ia akan dibimbing oleh rasa takut bahwa ia telah jatuh dari kasih karunia; seorang Calvinist yang mengalami kemunduran, bisa dibimbing juga dengan rasa takut, bahwa ia tidak pernah mempunyai kasih karunia; dan rasa takut seperti ini lebih sehat / bermanfaat dan lebih menyebabkan ia mencari / menyelidiki dirinya sendiri dari pada rasa takut yang salah dari orang Arminian. Karena orang Calvinist yang takut ini akan melihat bahwa sementara ia sedang mengumpak dirinya sendiri bahwa ia sedang menuju ke surga, dalam faktanya ia senantiasa sedang ada di jalan besar menuju neraka; dan sekarang, jika ia tidak mau dihukum, ia harus membuat permulaan yang baru, dan meletakkan fondasi yang lebih baik dari pada yang lama (tidak seperti orang Arminian yang takut, yang semata-mata memulai hal lama yang sama lagi)] - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 697.

d)   Pdt. Jusuf B. S. menggunakan Yes 26:10 untuk mendukung pandangannya, tetapi ia sengaja memilih Terjemahan Lama supaya ayat itu bisa sesuai dengan pandangannya.
Yes 26:10 (TL) - “Jikalau dilakukan kasihan kepada orang fasik, tiada juga ia belajar membuat barang yang benar, melainkan salah jua perbuatannya di dalam negeri yang semata-mata betul, dan tiada dipandangnya akan kebesaran Tuhan”.
Yes 26:10 (TB) - “Seandainya orang fasik dikasihani, ia tidak akan belajar apa yang benar; ia akan berbuat curang di negeri di mana hukum berlaku, dan tidak akan melihat kemuliaan TUHAN”.
KJV/RSV/NASB: in the land of uprightness (= di negeri kelurusan / kebenaran).
NIV: in a land of uprightness (= di suatu negeri kelurusan / kebenaran).
Jelas bahwa dalam terjemahan-terjemahan yang lain, kata ‘semata-mata’ itu tidak ada. Dalam bahasa Ibraninya juga tidak ada. Dan memang ayat ini tidak berbicara tentang surga, tetapi tentang Yerusalem yang dipulihkan.

13)            1Kor 9:27 - “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak”.
Ada orang yang menganggap bahwa ayat ini menunjukkan bahwa Paulus takut kehilangan keselamatannya, dan karena itu, jelaslah bahwa keselamatan bisa hilang!

Jawaban saya:
Pandangan seperti itu salah, karena ayat ini terletak dalam kontex yang berbicara tentang pertandingan lari, dan yang dipersoalkan adalah hadiah / mahkota / pahala.
1Kor 9:24-27 - “(24) Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! (25) Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. (26) Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. (27) Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak”.
Karena itu, yang ditakutkan oleh Paulus dalam ayat ini bukanlah kehilangan keselamatannya, tetapi kehilangan pahalanya!
Karena itu maka NIV menterjemahkan sebagai berikut: “No, I beat my body and make it my slave so that after I have preached to others, I myself will not be disqualified for the prize (= Tidak, aku menguasai tubuhku dan membuatnya hambaku supaya setelah aku berkhotbah kepada orang-orang lain, aku sendiri tidak didiskwalifikasi untuk hadiahnya).
Harus diakui bahwa dalam bahasa aslinya, kata-kata ‘for the prize’ itu tidak ada. Tetapi, kontexnya membenarkan penafsiran seperti itu!

14)Kalau keselamatan tidak bisa hilang maka setan tidak akan menyerang manusia mati-matian.
Pdt. Jusuf B. S.: “Kalau keselamatan tidak bisa hilang, kalau semua orang sudah ditentukan selamat atau binasa secara sepihak oleh Allah, maka Iblis dan kawan-kawannya tidak perlu ngotot mencari mangsa, sia-sia! ... Tetapi bagaimana dalam kenyataannya? Iblis berusaha mati-matian hendak menjatuhkan semua orang, istimewanya yang penting-penting” - ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 26-27.
Ia lalu mengutip Luk 22:31-32 - “(31) Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, (32) tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.’”.
Pdt. Jusuf B. S.: “Jadi secara tidak langsung, dari sikap dan cara kerja ilbis dan kawan-kawannya kita dapat menyimpulkan bahwa tidaklah betul kalau Allah secara sepihak menentukan lebih dahulu keselamatan setiap orang. Orang-orang beriman masih mungkin hilang keselamatannya dan kemungkinan inilah yang dipakai Iblis baik-baik” - ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 27.

Jawaban saya:

a)  Iblis itu tekun, Tuhan Yesus saja terus dicobai (bdk. Luk 4:13).

b)  Kalaupun ia tidak bisa membatalkan keselamatan orang-orang pilihan / percaya, ia bisa membuat mereka menderita, mengganggu mereka dalam pelayanan / penginjilan dan ketaatan, sehingga mereka jatuh ke dalam dosa, dan dengan demikian menyakiti hati Allah. Karena itu ia tetap menyerang orang percaya.

15)Kemurtadan Salomo (1Raja 11:1-43).

a)   Pembicaraan tentang dosa Salomo sudah dimulai pada 1Raja 10:
1.   1Raja 10:14-25,27 - ia mengumpulkan emas dan perak.
2.   1Raja 10:26,28-29 - ia mengumpulkan banyak kuda dan kereta.
Dan sekarang dalam 1Raja 11, ia mempunyai banyak istri.
1Raja 11:3 - Salomo mempunyai 700 istri dan 300 gundik (semua ini mungkin merupakan bilangan hasil pembulatan).
Bagaimanapun juga, dan apapun alasannya, semua ini bertentangan dengan Ul 17:14-17.

b)   Yang menjadi tekanan dari dosa Salomo dalam 1Raja 11 ini bukanlah banyak istri, tetapi ‘banyak istri asing’. Ini bertentangan dengan larangan Tuhan dalam ay 2a: “padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada orang Israel: ‘Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan merekapun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka.’”. Bdk. Kel 34:12-16  Ul 7:1-5.

c)   Mentoleransi penyembahan berhala oleh para istri asing tersebut di negaranya.

d)   Pada masa tuanya Salomo tertarik kepada penyembahan berhala dari para istri asing tersebut, dan bahkan ia mendirikan kuil bagi berhala-berhala tersebut (1Raja 11:3-8).
Ada beberapa hal yang ingin saya bahas dalam persoalan kejatuhan Salomo ke dalam penyembahan berhala ini:

1.   Sampai sejauh mana kemurtadan / penyembahan berhala yang dilakukan oleh Salomo?
Adam Clarke mengatakan bahwa Salomo betul-betul murtad sejauh mungkin.
Adam Clarke: “He seems to have gone as far in iniquity as it was possible” (= Kelihatannya ia telah pergi / berjalan di dalam dosa sejauh hal itu memungkinkan) - hal  427.
Tetapi kebanyakan penafsir tidak sependapat dengan Adam Clarke.
Albert Barnes (hal 178) mengatakan bahwa Salomo tidak pernah betul-betul murtad.
Poole (hal 679) mengatakan bahwa kemurtadan Salomo bukan berarti bahwa ia berubah pikiran tentang Allah, tetapi bahwa ia menjadi dingin / suam. Juga ia mengijinkan dan bahkan membangun kuil-kuil berhala, dan mungkin kadang-kadang ikut secara lahiriah dalam upacara-upacara berhala.
Pulpit Commentary: “The text does not limit Solomon’s polygamy to the time of old age, but his idolatrous leanings. I say ‘leanings’ for it is doubtful to what extent Solomon himself took part in actual idolatry” (= Text ini tidak membatasi polygamynya Salomo pada masa tuanya, tetapi membatasi kecondongan penyembahan berhalanya. Saya mengatakan ‘kecondongan’ karena diragukan sampai sejauh mana Salomo sendiri ikut serta dalam penyembahan berhala yang sungguh-sungguh) - hal 221.
Alasannya:
a.   Tidak pernah dikatakan bahwa Salomo ‘served’ [= melayani / beribadah; Ibrani: dbafA (ABAD)] allah lain, suatu ungkapan / istilah yang selalu digunakan untuk penyembahan berhala. Bdk. 1Raja 16:31  22:53  2Raja 16:3 dan sebagainya.
b.   Kalau ia memang menyembah berhala, maka dosanya lebih besar dari pada dosa Yerobeam (1Raja 12:29). Lalu mengapa selanjutnya bukan dosa Salomo, tetapi dosa Yerobeam, yang selalu dijadikan patokan dari kejahatan, seperti dalam 1Raja 15:34  16:2,19,26,31  22:53 dan sebagainya?
c.   Kata-kata ‘tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN / mengikuti TUHAN’ (1Raja 11:4,6) menunjukkan bahwa Salomo tidak sepenuhnya meninggalkan Tuhan.
d.   Kalau ia betul-betul murtad, bagaimana mungkin dikemudian hari kehidupannya, bersama-sama dengan kehidupan Daud, masih tetap dijadikan teladan?
2Taw 11:17 - “Demikianlah mereka memperkokoh kerajaan Yehuda dan memperkuat pemerintahan Rehabeam bin Salomo selama tiga tahun, karena selama tiga tahun mereka hidup mengikuti jejak Daud dan Salomo.

Salomo memang ikut membangun kuil, dan itu jelas salah, tetapi ia tidak pernah betul-betul ikut menyembah berhala. Perhatikan 1Raja 11:7-8, yang menunjukkan bahwa Salomo hanya membangun kuilnya, tetapi para istri asing itulah yang mempersembahkan korban kepada berhala / dewa mereka.
Pulpit Commentary: “It was not actual idolatry. True, Solomon built altars, but he built them for his wives (vers. 7,8).” [= Itu bukan betul-betul penyembahan berhala. Memang benar bahwa Salomo membangun altar-altar / mezbah-mezbah, tetapi ia membangun altar-altar / mezbah-mezbah itu untuk istri-istrinya (ay 7,8)] - hal 223.
Pulpit Commentary: “the distinction, so far as the sin is concerned, between this and actual idolatry is a fine one. It is not implied, however, that Solomon ever discarded the worship of Jehovah” (= Mengenai dosa yang dipersoalkan, perbedaan antara dosanya ini dan penyembahan berhala yang sungguh-sungguh, merupakan perbedaan yang tipis. Tetapi bagaimanapun text itu tidak menunjukkan bahwa Salomo pernah membuang penyembahan kepada Yehovah) - hal 222.

2.   Problem 1Raja 11:33: apakah ayat ini menunjukkan bahwa Salomo betul-betul jatuh ke dalam penyembahan berhala?
Ayat ini adalah ayat satu-satunya yang seolah-olah menunjukkan bahwa Salomo betul-betul jatuh ke dalam penyembahan berhala secara pribadi.
1Raja 11:33: “Sebabnya ialah karena ia telah meninggalkan Aku dan sujud menyembah kepada Asytoret, dewi orang Sidon, kepada Kamos, allah orang Moab dan kepada Milkom, allah bani Amon, dan ia tidak hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dengan melakukan apa yang benar di mataKu dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan dan peraturanKu, seperti Daud, ayahnya.
Tetapi sebetulnya belum tentu, karena ayat ini salah terjemahan. Terjemahan Kitab Suci Indonesia diambil dari LXX / Septuaginta (= Perjanjian Lama yang sudah diterjemahkan ke bahasa Yunani) yang dalam seluruh ayat ini menggunakan bentuk tunggal. Bandingkan dengan terjemahan KJV di bawah ini.
KJV: Because that they have forsaken me, and have worshipped Ashtoreth the goddess of the Zidonians, Chemosh the god of the Moabites, and Milcom the god of the children of Ammon, and have not walked in my ways, to do [that which is] right in mine eyes, and [to keep] my statutes and my judgments, as [did] David his father (= Karena mereka telah meninggalkan Aku, dan telah menyembah Asytoret dewi orang Sidon, Kamos dewa orang Moab, Milkom dewa bangsa Amon, dan telah tidak berjalan dalam jalanKu, melakukan apa yang benar di mataKu, dan memelihara hukum-hukumKu dan penghakimanKu, seperti yang dilakukan oleh Daud, bapanya).
Jadi KJV menterjemahkan hampir seluruh ayat itu dalam bentuk jamak, kecuali bagian terakhir dari ayat itu.

Pulpit Commentary: “But the plural is to be retained, the import being that Solomon was not alone in his idolatrous leanings; or it may turn our thoughts to the actual idolaters - his wives - whose guilt he shared. The singular looks as if an alteration had been made to bring the words into harmony with the context, and  especially with the concluding words of this verse, ‘David his father.’” (= Tetapi bentuk jamak itu harus dipertahankan, maksudnya adalah bahwa Salomo tidak sendirian dalam kecondongannya pada penyembahan berhala; atau itu bisa mengarahkan pikiran kita kepada penyembah-penyembah berhala yang sesungguhnya - istri-istrinya - dengan siapa ia ikut bersalah. Bentuk tunggal kelihatannya seakan-akan suatu perubahan telah dibuat untuk mengharmoniskan kata-kata ini dengan kontext, dan khususnya dengan kata-kata penutup dari ayat ini, ‘Daud, bapanya’) - hal 236-237.

Saya sendiri beranggapan bahwa kata-kata ‘mereka meninggalkan Aku’ tidak bisa diterapkan kepada istri-istri asing tersebut, karena mereka belum pernah mengenal / mengikut Tuhan. Jadi itu harus diterapkan kepada Salomo dan istri-istrinya yang bukan orang asing / penyembah berhala.
Demikian juga dengan kata-kata pada bagian akhir ay 33 itu - telah tidak berjalan dalam jalanKu, melakukan apa yang benar di mataKu, dan memelihara hukum-hukumKu dan penghakimanKu’. Ini semua hanya berlaku untuk Salomo dan istri-istrinya yang bukan orang asing / penyembah berhala, dan tidak berlaku untuk istri-istri asing Salomo.
Kalau demikian, maka bisa juga diambil kebalikannya, yaitu dengan menerapkan kata-kata telah menyembah’ hanya kepada para istri asing tersebut, dan tidak kepada Salomo.

Salomo memang mungkin sekali ikut dalam upacara / kebaktian penyembahan berhala itu, tetapi jelas bahwa hatinya tidak sungguh-sungguh mempercayai berhala-berhala tersebut. Dengan kata lain, ia hanya ikut secara lahiriah. Bandingkan dengan Naaman dalam 2Raja 5:17-18 yang meminta ijin kepada Elisa untuk ikut sujud menyembah kepada dewa Rimon (secara lahiriah). Saya berpendapat tindakan itu salah, dan Elisa juga salah dalam memberikan ijin, tetapi itu tetap bukan merupakan suatu kemurtadan. Jadi, demikian juga dengan tindakan Salomo. Kalau ia secara lahiriah ikut menyembah dewa-dewa istri-istrinya, itu jelas merupakan suatu kompromi yang bersifat dosa, tetapi itu bukan merupakan kemurtadan yang sungguh-sungguh.

3.   Apakah Salomo akhirnya bertobat dari dosa-dosanya ini? 1Raja 11 ini ditutup dengan cerita tentang kematian Salomo, tanpa menceritakan sedikitpun tentang pertobatannya.

a.   Pandangan Adam Clarke: Salomo tidak pernah bertobat sampai akhir hidupnya, dan ia binasa dalam dosanya (tidak diselamatkan).
Adam Clarke: “This dismal account has a more dismal close still; for, in the same place in which we are informed of his apostasy, we are informed of his death, without the slightest intimation that he ever repented and turned to God” [= Cerita yang menyedihkan ini mempunyai penutup yang lebih menyedihkan; karena di tempat yang sama (pasal yang sama) dimana kita diberi informasi tentang kemurtadannya, kita juga diberi informasi tentang kematiannya, tanpa petunjuk sedikitpun bahwa ia pernah bertobat dan berbalik kepada Allah] - hal  433.

Adam Clarke: “It is true that what is wanting in fact is supplied by conjecture; for it is firmly believed that ‘he did repent, and wrote the book of Ecclesiastes after his conversion, which is a decided proof of his repentance.’” (= Memang benar bahwa apa yang dalam faktanya tidak ada disuplai oleh suatu dugaan; karena dipercaya secara teguh bahwa ‘ia memang bertobat, dan menuliskan kitab Pengkhotbah setelah pertobatannya, yang merupakan suatu bukti yang nyata / pasti tentang pertobatannya’) - hal  433.
Adam Clarke: “I am sorry I cannot strengthen this opinion; of which I find not the shadow of a proof” (= Saya minta maaf bahwa saya tidak bisa menguatkan pandangan ini; tentang mana saya tidak bisa menemukan bayangan dari bukti) - hal  433.

Clarke lalu memberikan beberapa hal untuk menentang pandangan tersebut:
·         Kitab Pengkhotbah sekalipun berbicara tentang banyak kesia-siaan tetapi sama sekali tidak berbicara tentang kesia-siaan dari penyembahan berhala, yang merupakan dosa / kemurtadan Salomo.
·         Kitab Pengkhotbah tidak menggunakan kata-kata dari orang yang bertobat dari dosa yang hebat / kejatuhan yang dalam, karena sama sekali tidak ada pengakuan dosa di dalamnya dan sama sekali berbeda dengan Maz 51, yang merupakan doa pengakuan dosa dari Daud.
·         Diragukan bahwa Salomo menulis kitab Pengkhotbah, karena dalam beberapa bagian terlihat bahwa itu berasal dari jaman sesudah Salomo (Clarke, hal 434).
·         Terhadap pandangan yang mengatakan bahwa Salomo merupakan type dari Kristus dan karena itu ia pasti selamat, Clarke mengatakan:
*        ia tidak menganggap Salomo sebagai type dari Kristus.
*        seandainya ia memang type dari Salomo, itu tidak membuktikan pertobatan / keselamatannya, karena ular tembaga yang jelas merupakan type dari Kristus (Yoh 3:14-15), akhirnya dihancurkan karena disembah (2Raja 18:4).
Adam Clarke: “Typical persons and typical things may perish as well as others; the antitype alone will infallibly remain” (= Orang-orang atau hal-hal / benda-benda yang merupakan type bisa binasa seperti yang lain; hanya anti typenya saja yang tertinggal secara mutlak) - hal 434.

Adam Clarke: “there seems every evidence that he died in his sins. ... there is not a single testimony in the Old or New Testament that intimates he died in a safe state” (= kelihatannya ada setiap bukti bahwa ia mati dalam dosa-dosanya. ... tidak ada satupun kesaksian dalam Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru yang menunjukkan bahwa ia mati dalam keadaan selamat) - hal  434.
Adam Clarke: “That awful denunciation of Divine justice stands point blank in the way of all contrary suppositions: ‘If thou forsake the Lord, he will cast thee off for ever,’ 1Chron. 28:9. He did forsake the Lord; and he forsook him in his very last days; and there is no evidence that he ever again clave to him” (= Ancaman yang mengerikan dari keadilan Ilahi berada secara langsung di jalan dari semua anggapan yang bertentangan: ‘Jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya’, 1Taw 28:9. Ia memang meninggalkan Tuhan; dan Ia meninggalkannya pada hari-hari terakhirnya; dan tidak ada bukti bahwa ia pernah berpegang kepadaNya lagi) - hal  434.

1Taw 28:9 (kata-kata Daud) - “Dan engkau, anakku Salomo, kenallah Allahnya ayahmu dan beribadahlah kepadaNya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. Jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya.

Adam Clarke: “Reader, let him that standeth take heed lest he fall; not only foully but finally. Certainly, unconditional final perseverance will find little support in the case of Solomon. He was once most incontrovertibly in grace. He lost that grace and sinned most grievously against God. He was found in this state in his old age. He died, as far as the Scripture informs us, without repentance. Even the doubtfulness in which the bare letter of the Scripture leaves the eternal state of this man, is a blast of lightning to the syren song of ‘Once in grace, and still in grace;’ ‘Once a child, and a child for ever.’” (= Pembaca, siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh; bukan hanya jatuh secara buruk, tetapi jatuh pada akhirnya / sampai akhir. Jelas bahwa ketekunan akhir yang tidak bersyarat tidak menemukan dukungan dalam kasus Salomo. Bahwa ia pernah berada dalam kasih karunia merupakan sesuatu yang tidak dapat dibantah. Ia kehilangan kasih karunia itu dan berdosa secara sangat menyedihkan terhadap Allah. Ia didapati dalam keadaan ini pada masa tuanya. Ia mati, sejauh yang Kitab Suci informasikan kepada kita, tanpa pertobatan. Bahkan keragu-raguan dimana huruf-huruf telanjang dari Kitab Suci menyerahkan keadaan kekal dari orang ini, merupakan suatu ledakan petir bagi nyanyian ... (?) ‘Sekali dalam kasih karunia, dan tetap dalam kasih karunia’; ‘Sekali seorang anak, dan seorang anak selama-lamanya’.) - hal  434.

Alasan lain yang dipakai untuk menunjukkan bahwa Salomo tidak bertobat adalah: seandainya ia bertobat, ia pasti akan menghancurkan kuil-kuil yang ia bangun, tetapi kenyataannya semua itu masih ada setelah kematiannya. 2Raja 23:13 - “Bukit-bukit pengorbanan yang ada di sebelah timur Yerusalem di sebelah selatan bukit Kebusukan dan yang didirikan oleh Salomo, raja Israel, untuk Asytoret, dewa kejijikan sembahan orang Sidon, dan untuk Kamos, dewa kejijikan sembahan Moab, dan untuk Milkom, dewa kekejian sembahan orang Amon, dinajiskan oleh raja”.
Matthew Poole (hal 768) menafsirkan ini bukan sebagai apa yang didirikan oleh Salomo, karena itu sudah dihancurkan pada saat ia bertobat, tetapi lalu diatasnya didirikan lagi oleh orang lain, di tempat yang sama, dan untuk penggunaan yang sama, sehingga disebut dengan nama Salomo.
Catatan: Memang di antara jaman Salomo dan jaman Yosia yang melakukan apa yang tertulis dalam 2Raja 23:13 ini, ada jaman Yehu, yang menghancurkan semua berhala, kecuali anak lembu yang dibuat oleh Yerobeam (2Raja 10:26-29). Maka adalah aneh kalau bukit-bukit yang didirikan oleh Salomo belum dihancurkan dan bertahan sampai jaman Yosia.

b.   Penafsir-penafsir lain kelihatannya tidak ada yang setuju dengan Adam Clarke. Hampir semua beranggapan bahwa Salomo bertobat dan diselamatkan.
Matthew Poole menganggap Salomo bertobat dan diselamatkan. Alasannya:
·         Matthew Poole: “We read nothing of the repentance of Adam, Noah, after his drunkenness, Lot, Samson, Asa, &c.; shall we therefore conclude they were all damned? The silence of the Scripture is a very weak argument in matters of history” (= Kita tidak pernah membaca tentang pertobatan Adam, Nuh, setelah ia mabuk, Lot, Simson, Asa, dsb; apakah karena itu kita akan menyimpulkan bahwa mereka semua dihukum? Diamnya Kitab Suci merupakan suatu argumentasi yang lemah dalam persoalan-persoalan sejarah) - hal 682.
·         Poole menambahkan bahwa kalau ia bertobat, dan Kitab Suci tidak menceritakan sehingga ada keraguan tentang nasib akhirnya, maka itu menjadi sesuatu yang membuat takut orang-orang kristen sehingga tidak sembarangan berbuat dosa.
·         Bahwa ia bertobat bisa terlihat secara implicit dari bagian setelah Salomo mati, dimana jalannya dan jalan Daud digabungkan menjadi satu sebagai teladan.
2Taw 11:17 - “Demikianlah mereka memperkokoh kerajaan Yehuda dan memperkuat pemerintahan Rehabeam bin Salomo selama tiga tahun, karena selama tiga tahun mereka hidup mengikuti jejak Daud dan Salomo.
·         Kitab Pengkhotbah yang ditulis oleh Salomo setelah pertobatannya, menunjukkan pertobatan tersebut.
Pulpit Commentary: “We need not attempt to solve the purely speculative question as to whether he ever recovered from his fall; his later writings suggest at least the hope that it was so (= Kita tidak perlu mencoba untuk menyelesaikan pertanyaan yang sepenuhnya bersifat spekulasi berkenaan dengan apakah ia pernah pulih dari kejatuhannya; tulisan-tulisannya pada masa belakangan sedikitnya menunjukkan harapan bahwa ia memang pulih / bertobat) - hal 231.
Keil & Delitzsch: “Whether Solomon turned to the Lord again with all his heart, a question widely discussed by the older commentators ... cannot be ascertained from the Scriptures. If the Preacher (Koheleth) is traceable to Solomon so far as the leading thoughts are concerned, we should find in this fact an evidence of his conversion, or at least a proof that at the close of his life Solomon discovered the vanity of all earthly possessions and aims, and declared the fear of God to be the only abiding good, with which a man stand before the judgment of God” (= Apakah Salomo berbalik kepada Tuhan lagi dengan segenap hatinya, suatu pertanyaan yang didiskusikan secara meluas oleh penafsir-penafsir kuno ... tidak bisa dipastikan dari Kitab Suci. Jika kitab Pengkhotbah bisa ditelusuri jejaknya sampai kepada Salomo sejauh pokok-pokok utamanya yang dipersoalkan, kita harus mendapatkan dalam fakta ini suatu bukti dari pertobatannya, atau sedikitnya suatu bukti bahwa pada akhir hidupnya Salomo menemukan kesia-siaan dari semua milik dan tujuan duniawi, dan menyatakan rasa takut kepada Allah sebagai satu-satunya hal baik yang menetap, dengan mana seseorang berdiri di hadapan penghakiman Allah) - hal 182,183.
Catatan: terhadap argumentasi Clarke di atas yang mengatakan bahwa dalam kitab Pengkhotbah tidak disebutkan tentang kesia-siaan dari penyembahan berhala, dan juga tidak ada pengakuan dosa / permintaan ampun, saya menjawab sebagai berikut:
*        penjahat yang bertobat di kayu salib juga tidak diceritakan bahwa ia mengaku dosa, minta ampun dan sebagainya. Tetapi tetap ia dianggap betul-betul bertobat!
*        pertobatan dari pemungut cukai (Luk 18:13), yang juga tidak membicarakan korupsi / penindasan yang ia lakukan, tetapi ia toh diampuni / dibenarkan.
*        Maz 51 itu sendiri, yang merupakan doa pengakuan dosa raja Daud, sama sekali tidak menyinggung tentang perzinahan (dengan Batsyeba) dan pembunuhan (terhadap Uria) yang ia lakukan.
Catatan: perlu diketahui bahwa Maz 51:1-2 dalam Kitab Suci Indonesia, yang memang membicarakan perzinahannya dengan Batsyeba, sebetulnya tidak termasuk dalam Kitab Suci. Itu mungkin hanya merupakan catatan tambahan dari ahli Taurat yang menyalin manuscript / naskah. Dalam Kitab Suci bahasa Inggris bagian-bagian seperti itu selalu diletakkan di headnote (catatan kepala).
*        kitab Pengkhotbah memang bukan merupakan suatu doa pengakuan dosa seperti Maz 51. Tetapi dari isinya kita bisa melihat sikap hati Salomo.

Matthew Poole: “And therefore we have reason to conclude that Solomon did repent, and was saved” (= Dan karena itu kita mempunyai alasan untuk menyimpulkan bahwa Salomo memang bertobat, dan diselamatkan) - hal 682.

Tetapi bagaimana tentang kata-kata Daud dalam 1Taw 28:9 - “Dan engkau, anakku Salomo, kenallah Allahnya ayahmu dan beribadahlah kepadaNya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. Jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya?
Mungkin Daud sengaja memperkeras kata-katanya, untuk membuat Salomo lebih sungguh-sungguh dalam mengikut Tuhan.

Saya sendiri ingin menambahkan satu hal lagi yang mendukung keselamatan dari Salomo, yaitu 2Sam 7:12-16 (kata-kata Tuhan melalui nabi Natan kepada Daud) - “(12) Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. (13) Dialah yang akan mendirikan rumah bagi namaKu dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. (14) Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anakKu. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia. (15) Tetapi kasih setiaKu tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. (16) Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapanKu, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.’”.
Kata-kata ‘kasih setiaKu’ diterjemahkan berbeda-beda:
KJV: ‘my mercy’ (= belas kasihanKu).
RSV: ‘my steadfast love’ (= kasih setiaKu).
NIV: ‘my love’ (= kasihKu).
NASB: ‘My lovingkindness’ (= kebaikan dari kasihKu).

Dalam tafsirannya tentang bagian ini Adam Clarke berkata: “he shall have affliction, but his government shall not be utterly subverted. But this has a higher meaning. ... His house shall be a lasting house, and he shall die in the throne of Israel, his children succeeding him; and the spiritual seed, Christ, possessing and ruling in that throne to the end of time. The family of Saul became totally extinct; the family of David remained till the incarnation” (= ia akan mendapatkan penderitaan, tetapi pemerintahannya tidak akan ditumbangkan sepenuhnya. Tetapi bagian ini mempunyai arti yang lebih tinggi. ... Keluarganya akan ada selama-lamanya, dan ia akan mati di takhta Israel, keturunannya menggantikannya; dan benih / keturunan rohani, Kristus, memiliki dan memerintah di takhta itu sampai akhir jaman. Keluarga Saul punah secara total; keluarga Daud tetap ada sampai inkarnasi) - hal 325.

Saya berpendapat bahwa ia menghindari kata-kata dari text ini, dan menujukannya hanya untuk keadaan jasmani dari Salomo, dan menerapkannya secara penuh untuk Yesus Kristus.
Memang dalam text tersebut ada bagian-bagian yang ditujukan kepada Kristus, tetapi bagian yang saya garis bawahi dari text itu tidak mungkin ditujukan kepada Kristus, karena berbicara tentang ‘kesalahan’ dan ‘hukuman Tuhan baginya’. Itu hanya bisa diterapkan / ditujukan kepada Salomo.
Tentang hal ini Clarke (hal 327) mengatakan bahwa kata-kata ‘to commit iniquity’ (= melakukan kejahatan) bisa diterjemahkan ‘to suffer for iniquity’ (= menderita untuk kejahatan). Juga ia berpendapat bahwa kata ‘iniquity’ (= kejahatan) bisa diterjemahkan ‘punishment’ (= hukuman). Jadi, ia lalu mengubah kata-kata ‘if he commit iniquity’ (= jika ia melakukan kejahatan) menjadi ‘even in his suffering for iniquity’ (= bahkan dalam penderitaannya untuk kejahatan).
Juga kata-kata ‘Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia’ diartikan oleh Clarke sebagai menunjuk kepada penderitaan Kristus dalam memikul dosa / hukuman kita (bdk. Yes 53:4-5). Dengan demikian, menurut Clarke, bagian ini cocok untuk Mesias.
Adam Clarke: “if the Messiah be the person here meant, as suffering innocently for the sins of others, Solomon cannot be” (= jika sang Mesias adalah orang yang dimaksudkan di sini, yang menderita secara tak bersalah untuk dosa-dosa orang-orang lain, maka tentu bukan Salomo yang dimaksud) - hal  327.

Tetapi terjemahannya ini:
·         sepanjang yang saya ketahui tidak didukung oleh terjemahan Kitab Suci manapun, bahkan tidak oleh Living Bible ataupun Good News Bible.
·         menjadi sangat tidak cocok dengan kontext, yang mengkontraskan Salomo (yang sekalipun berdosa, tetapi tidak ditinggalkan oleh Tuhan) dengan Saul (yang ditinggalkan Tuhan karena berdosa).

Adam Clarke menambahkan lagi: “Many have applied these verses and their parallels to support the doctrine of unconditional final perseverance; but with it the text has nothing to do; and were we to press it, ... the doctrine would most evidently be ruined, for there is neither proof nor evidence of Solomon’s salvation” (= Banyak orang yang menerapkan ayat-ayat ini dan ayat-ayat paralelnya untuk mendukung doktrin dari ketekunan akhir yang tak bersyarat; tetapi text itu tidak mempunyai hubungan dengan doktrin itu; dan seandainya kita mau memaksakannya, ... doktrin ini justru akan hancur, karena tidak ada bukti dari keselamatan Salomo) - hal  325.

Keil & Delitzsch: “It is very obvious, from all the separate details of this promise, that it related primarily to Solomon, and had a certain fulfilment in him and his reign. ... But in his old age Solomon sinned against the Lord by falling into idolatry; and as a punishment for this, after his death his kingdom was rent from his son, not indeed entirely, as one portion was still preserved to the family for David’s sake (1Kings 11:9 sqq.). Thus the Lord punished him with rods of men, but did not withdraw from him His grace [= Adalah sangat jelas, dari semua detail-detail yang terpisah dari janji ini, bahwa itu secara terutama berhubungan dengan Salomo, dan mempunyai penggenapan tertentu dalam dia dan pemerintahannya. ... Tetapi pada masa tuanya Salomo berdosa terhadap Tuhan dengan jatuh ke dalam penyembahan berhala; dan sebagai hukuman untuk ini, setelah kematiannya kerajaannya disobek dari anaknya, memang tidak seluruhnya, karena satu bagian masih ada pada keluarga tersebut demi Daud (1Raja 11:9dst). Demikianlah Tuhan menghukumnya dengan rotan dari manusia, tetapi tidak menarik kasih karuniaNya darinya] - hal 346.

Kelihatannya Keil & Delitzsch ini menganggap bahwa kata-kata ‘kasih setiaKu tidak akan hilang dari padanya’ hanya menunjuk pada fakta bahwa Salomo tetap menjadi raja sampai mati, dan demikian juga dengan keturunannya sampai jaman Yesus berinkarnasi. Tetapi saya berpendapat bahwa kata-kata itu tidak mungkin hanya mempunyai arti jasmani / duniawi saja. Adalah aneh untuk mengatakan bahwa Tuhan tidak menjauhkan kasih / kasih setiaNya dari Salomo, tetapi Salomo masuk neraka.

Kesimpulan: Cerita tentang ‘kemurtadan’ Salomo ini tidak menunjukkan bahwa orang percaya yang sejati bisa murtad dan terhilang / binasa, karena:
·         Salomo tidak betul-betul murtad secara total. Bdk. Mat 24:24 - “Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. Kata-kata ‘sekiranya mungkin’ jelas menunjukkan bahwa itu tidak mungkin terjadi.
·         Salomo akhirnya bertobat dan diselamatkan.

IV) Sedikit tambahan dari ajaran Pdt. Jusuf B. S.


Rupanya Pdt. Jusuf B. S. juga menyadari akan adanya begitu banyak ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa keselamatan tidak bisa hilang. Lalu bagaimana ia menafsirkan semua ini? Ada beberapa hal yang ia berikan ‘untuk mengatasi’ hal ini:

1)   Ia berkata supaya orang kristen tidak kuatir akan kehilangan keselamatannya, karena keselamatan itu tidak mudah hilang.
Pdt. Jusuf B. S.: “Sebaliknya jangan takut kehilangan keselamatan. Allah tidak bekerja separuh hati. Adalah kehendak Allah supaya kita tetap selamat, pasti! (2Pet 3:19/ Yoh 3:16). Sekalipun manusia tidak setia, Allah tetap tinggal setia (2Tim 2:13). Jangan ragu-ragu akan kesetiaan Allah (Fil 1:6/ Yoh 13:1). Jangan mau dituduh iblis. Sekalipun sumbu tinggal berasap, Tuhan masih mau menyalakannya. Bahkan cabang yang terkulai tidak dipatahkan (Mat 12:20). Tuhan tidak ingin seorangpun binasa. Jangan mau ditipu dan dituduh setan! Sehingga ragu-ragu akan kesungguhan dan jaminan Allah bagi orang yang tinggal di dalam Kristus” - ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 66.
Pdt. Jusuf B. S.: ‘Keselamatan itu bisa hilang; tetapi orang beriman yang mau tetap selamat, tidak akan kehilangan keselamatannya” - ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 73.
Pdt. Jusuf B. S.: “Sesungguhnya keselamatan yang diberikan Allah itu tidak mudah hilang, ... ” - ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 75.
Pdt. Jusuf B. S.: “Jadi keselamatan itu tidak mudah hilang, jangan kuatir atau ragu-ragu, asal kita mau tetap percaya dan bertekun sampai ke akhir. Allah sudah siap menolong kita sampai ke akhir, dan Dia sanggup!” - ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 79-80.

Tanggapan saya:
Pdt. Jusuf B. S. berkata: ‘Jangan mau dituduh iblis. ... Jangan mau ditipu dan dituduh setan!’. Saya pikir kata-katanya ini aneh. Bukankah yang dalam sepanjang bukunya mengatakan bahwa keselamatan bisa hilang itu adalah dia sendiri? Mengapa sekarang menyalahkan setan / iblis? Saya pikir dialah setan / ilbisnya yang membuat orang kristen ragu-ragu akan keselamatannya!

2)   Ia membagi orang kristen menjadi 3 bagian, sesuai dengan bagian-bagian Kemah Suci / Bait Allah, yang ia alegorikan:
a)         Orang kristen halaman.
Pdt. Jusuf B. S.: “Kristen Halaman adalah orang Kristen yang tetap tinggal kanak-kanak, tidak tumbuh, terus jatuh bangun dalam dosa. Inilah orang Kristen duniawi, yang tidak sungguh-sungguh bertobat atau suam. ... Orang Kristen Halaman itu terus berubah-ubah, sebentar dingin sebentar panas. Ia terus tertuduh oleh dosa-dosanya, yang tidak kunjung lepas, sebab itu juga kepastian keselamatannya itu masih goyah, kadang-kadang yakin sudah selamat, kadang-kadang tertuduh dan ragu-ragu. Memang Roh Kudus tidak bisa meyakinkan dengan kuat keselamatannya kalau hidupnya melawan Roh. Sebab itu orang-orang Kristen yang terus tinggal di Halaman seringkali keyakinannya goyah. Tetapi kalau ia tumbuh terus, biasanya keyakinan akan tetap mantap. ... Golongan Halaman ini memang rawan, seperti Israel yang terus beredar-edar di padang gurun sebab keras hati, bersungut-sungut, tinggal dalam dosa, tinggal kanak-kanak rohani. Kanak-kanak rohani ini memang mudah terpengaruh ajaran sesat Ef 4:14, mudah kena godaan dunia, sering berkelahi seperti 1Kor 3:3, mudah terpancing sehingga ditewaskan oleh kejahatan. Jadi masa depan orang-orang Halaman itu tidak tentu. Sulit mengatakan tentang orang-orang Halaman, apakah mereka bisa setia sampai ke akhir, sedangkan ‘hari ini’ saja hatinya masih bercabang. Sebab itu jangan tinggal kanak-kanak rohani, tetapi meningkatlah lebih tinggi” - ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 68,69.
b)         Orang kristen Ruangan Suci.
Pdt. Jusuf B. S.: “Kristen Ruangan Suci adalah orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh seperti carang yang terus tinggal di dalam pokok yang benar (Yoh 15:1-8) yang selalu hidup dengan Allah, dipimpin Roh senantiasa. ... Orang-orang yang sudah lahir baru, penuh dan dipimpin Roh itu lebih stabil. Dalam tingkatan ini (Ruangan Suci), keyakinan selamat orang-orang ini kokoh, pada umumnya mereka pasti selamat. Biasanya orang-orang ini bisa berkata bahwa ia pasti selamat, kapan saja ia dipanggil Tuhan, ... Orang yang di dalam Ruangan Suci masih bisa turun kembali ke Halaman, tetapi lebih tinggi ia meningkat, lebih kecil kemungkinan berbalik, sekalipun kemungkinan itu masih tetap ada” - ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 68,69,70.
c)         Orang kristen Ruangan Maha Suci.
Pdt. Jusuf B. S.: “Kristen Ruangan Maha Suci adalah orang-orang Kristen yang sempurna, yang mutlak tidak lagi bisa berbuat dosa. Orang-orang ini langsung naik ke tahta Allah” - ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 68.

Tanggapan saya:
1.   Penafsiran alegoris seperti itu salah sama sekali, dan hanya bisa muncul dari orang yang tidak mengerti Hermeneutics (ilmu penafsiran alkitab). Apa dasarnya untuk mengatakan bahwa bagian-bagian Kemah Suci itu menyimbolkan 3 golongan orang kristen?
2.   Bagi saya, yang ia sebut orang kristen halaman itu kelihatannya adalah orang kristen KTP, yang tentu saja belum selamat.
3.   Dimana ada orang kristen yang sempurna, yang mutlak tidak lagi berbuat dosa, yang ia gambarkan sebagai orang kristen Ruangan Maha Suci itu? Apakah ia memaksudkan dirinya sendiri? Siapapun yang ia anggap sebagai orang kristen sempurna itu, jelas bertentangan dengan:
a.   1Yoh 1:10 - “Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita”.
b.   Fakta yang menunjukkan bahwa Paulus sendiri menyadari bahwa dirinya masih terus berbuat dosa (Ro 7:15-23).
Dan karena golongan ketiga ini tidak pernah ada dalam hidup ini, maka jelas bahwa orang-orang Arminian tidak mempunyai keyakinan keselamatan. Setiap saat mereka bisa saja mundur, tersesat dan lalu binasa selama-lamanya di dalam neraka.

3)   Ia mengatakan 2 pernyataan (hal 69):
a)   Keselamatan tidak dapat hilang ® SALAH.
b)   Keselamatan saya tidak dapat hilang ® BENAR

Tanggapan saya:
Saya heran bagaimana seorang manusia yang berakal bisa mengeluarkan 2 pernyataan yang bertentangan seperti ini. Kalau setiap orang kristen bisa berkata: ‘Keselamatan saya tidak dapat hilang’, bukankah semua itu menuju pada suatu pernyataan ‘keselamatan tidak dapat hilang’ yang berlaku secara umum / untuk semua orang kristen?

V) Serangan-serangan yang paling hebat bagi Arminianisme.


1)   Kalau semua janji Tuhan dalam Injil diberi persyaratan ‘asal orang percaya itu tidak mundur / murtad’, maka janji itu menjadi tidak ada harganya.

Robert Louis Dabney:
“I am well aware that the force of these and all similar passages has been met, by asserting that in all gospel promises there is a condition implied, viz: That they shall be fulfilled, provided the believer does not backslide, on his part, from his gospel privileges. But is this all which these seemingly precious words mean? Then they mean nothing. To him who knows his own heart, what is that promise of security worth, which offers him no certainty to secure him against his own weakness? ‘All his sufficiency is of God.’ See also Rom. 7:21. If his enjoyment of the promised grace is suspended upon his own perseverance in cleaving to it, then his apostasy is not a thing possible, or probable, but certain. There is no hope in the gospel” (= Saya sadar bahwa kekuatan dari text-text ini dan text-text yang serupa telah dijawab dengan menegaskan bahwa dalam semua janji-janji Injil secara implicit ada suatu syarat, yaitu: bahwa janji-janji itu akan digenapi, asal orang percaya itu tidak mundur, dari hak-hak injil. Tetapi apakah ini arti dari semua kata-kata yang berharga itu? Maka janji-janji itu tidak berharga apa-apa. Bagi dia yang mengenal hatinya sendiri, apa nilai dari janji keamanan itu, yang tidak menawarkan kepadanya kepastian untuk mengamankan dia terhadap kelemahannya sendiri? ‘Semua kecukupannya adalah dari Allah’. Lihat juga Ro 7:21. Jika kemungkinan menikmati kasih karunia yang dijanjikan itu tergantung pada ketekunannya dalam berpegang kepadanya, maka kemurtadannya bukan hanya mungkin terjadi, tetapi pasti terjadi. Maka tidak ada pengharapan dalam injil) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 693-694.
Catatan: Kutipan ayat dari 2Kor 3:5b versi KJV.
Ro 7:21 - “Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku”.

Dabney lalu menambahkan: “And when such a condition is thrust into such a promise as that of Jno. 10:27: ‘None shall pluck them out of My hand,’ provided they do not choose to let themselves be plucked away; are we to suppose that Christ did not know that common Bible truth, that the only way any spiritual danger can assail any soul successfully, is by persuasion: that unless the adversary can get the consent of the believer’s free will, he cannot harm him? ... Surely Jesus knew this; and if this supposed condition is to be understood, then this precious promise would be but a worthless and pompous truism. ‘Your soul shall never be destroyed, unless in a given way,’ and that way, the only and the common way, in which souls are ever destroyed. ‘You shall never fall, as long as you stand up.’” (= Dan pada saat persyaratan seperti itu dimasukkan ke dalam suatu janji seperti Yoh 10:27: ‘seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu’, asalkan mereka tidak memilih untuk membiarkan diri mereka direbut; apakah kita menganggap bahwa Kristus tidak tahu akan kebenaran umum dari Alkitab, bahwa satu-satunya jalan melalui mana bahaya rohani bisa menyerang jiwa dengan sukses, adalah melalui bujukan: bahwa kecuali sang musuh / setan bisa mendapatkan persetujuan dari kehendak bebas orang percaya, ia tidak bisa menyakiti / merugikannya? ... Jelas Yesus mengetahui hal ini; dan jika syarat ini ada dalam janji itu, maka janji yang berharga itu menjadi tak berharga dan hanya merupakan suatu kebenaran yang dibesar-besarkan. ‘Jiwamu tidak akan pernah dihancurkan, kecuali dengan cara tertentu’, dan cara itu adalah satu-satunya cara dan merupakan cara yang umum, melalui mana jiwa-jiwa dihancurkan. ‘Engkau tidak akan pernah jatuh, selama engkau berdiri’) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 694.
Catatan: ayat yang dimaksud sebetulnya bukan Yoh 10:27 tetapi Yoh 10:28.

Mungkin kata-kata Dabney ini agak mbulet dan sukar dimengerti oleh orang kristen yang tidak terbiasa dengan bahasa theologia. Karena itu saya mencoba untuk menjelaskannya dengan kata-kata saya sendiri di bawah ini.
Kejatuhan manusia selalu terjadi karena adanya bujukan setan yang lalu dituruti oleh manusia. Jadi ini merupakan jalan yang umum untuk jatuh. Yesus sendiri pasti mengetahui hal ini. Dan karena itu Ia tidak mungkin memberikan janji sebagai berikut: ‘seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu, asalkan mereka tidak menyerah pada bujukan setan. Mengapa? Karena perkecualian yang Ia berikan justru merupakan jalan yang umum bagi manusia untuk jatuh. Dengan memberikan perkecualian seperti ini, maka janji itu menjadi tidak ada harganya.
Illustrasi:
·         ada seseorang yang berlatih angkat besi dengan maksud mengikuti suatu kejuaraan angkat besi. Lalu ada seorang pelatih angkat besi yang melatihnya, dan memberinya jaminan sebagai berikut: ‘Saya menjamin engkau pasti menang, asalkan waktu mengangkat barbel, engkau bertekun sehingga barbel itu naik ke atas’. Bukankah ini suatu lelucon? Semua lifter gagal dalam kejuaraan angkat besi, karena mereka tidak berhasil mengangkat barbelnya. Dengan demikian jaminan yang ia berikan merupakan jaminan yang kosong.
·         ada seorang pelatih sirkus yang melatih orang untuk berjalan di atas tali. Dan ia memberikan jaminan kepada orang yang ia latih dengan kata-kata sebagai berikut: ‘Saya menjamin engkau pasti bisa sampai ke seberang, asal engkau tidak kehilangan keseimbanganmu’. Semua orang tahu bahwa seorang yang berjalan di atas tali akan gagal sampai ke seberang kalau ia kehilangan keseimbangannya. Itu jalan yang umum yang menyebabkan seseorang tidak sampai ke seberang. Kalau pelatih itu memberikan jaminan, dengan hal itu sebagai perkecualian, maka jaminan yang ia berikan menjadi tidak ada harganya!
Demikian juga adanya perkecualian / persyaratan yang diberikan oleh orang Arminian terhadap janji-janji dari Injil, menyebabkan janji-janji Injil itu kosong dan tak berguna.

Dabney menambahkan lagi: “the promise in Jer. 32:40, ... most expressly engages God to preserve believers from this very thing - their own backsliding. Not only does He engage that He will not depart from them, but ‘He will put His fear in their heart, so that they shall not depart from Him.’ (= janji dalam Yer 32:40, ... dengan cara yang paling jelas mengikat Allah dengan janji untuk menjaga orang-orang percaya justru dari hal yang satu ini - kemunduran mereka sendiri. Ia bukan hanya berjanji bahwa Ia tidak akan meninggalkan mereka, tetapi ‘Ia akan menaruh rasa takutNya dalam hati mereka, sehingga mereka tidak akan meninggalkan Dia’) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 694.
Yer 32:40 - “Aku akan mengikat perjanjian kekal dengan mereka, bahwa Aku tidak akan membelakangi mereka, melainkan akan berbuat baik kepada mereka; Aku akan menaruh takut kepadaKu ke dalam hati mereka, supaya mereka jangan menjauh dari padaKu”.

Inilah ajaran Reformed! Allah bukan hanya berjanji untuk menyelamatkan, tetapi juga berjanji akan menolong mereka sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan murtad!

2)   Ajaran Arminian ini menghancurkan damai, sukacita dan kepastian dari kehidupan kristen.

A. H. Strong mengutip kata-kata Adolph Saphir sebagai berikut:
“My objection to the Arminianism or semi-Arminianism is not that they make the entrance very wide; but that they do not give you anything definite, safe and real, when you have entered. ... Do not believe the devil’s gospel, which is a chance of salvation: chance of salvation is chance of damnation (= Keberatan saya terhadap Arminianisme atau semi-Arminianisme bukan bahwa mereka membuat jalan masuk sangat lebar; tetapi bahwa mereka tidak memberikan kepadamu apapun yang pasti, aman, dan nyata, pada saat kamu masuk. ... Jangan percaya kepada injil setan, yang merupakan suatu kemungkinan untuk selamat: kemungkinan untuk mendapat keselamatan adalah kemungkinan untuk mendapat penghukuman) - A. H. Strong, ‘Systematic Theology’, hal 605.
Catatan: kata-kata Strong ini bukan main kerasnya. Ia menyebut ajaran Arminian sebagai ‘injil setan’!

Loraine Boettner:
“A consistent Arminian, with his doctrine of free will and of falling from grace, can never in this life be certain of his eternal salvation. He may, indeed, have the assurance of his present salvation, but he can have only a hope of his final salvation. He may regard his final salvation as highly probable, but he cannot know it as a certainty. He has seen many of his fellow Christians backslide and perish after making a good start. Why may not he do the same thing?” (= Seorang Arminian yang konsisten, dengan doktrinnya tentang kehendak bebas dan kemurtadan, tidak akan pernah dalam hidup ini mempunyai keyakinan akan keselamatan yang kekal. Ia memang bisa mempunyai keyakinan untuk keselamatannya saat ini, tetapi ia hanya bisa mempunyai pengharapan tentang keselamatan akhirnya. Ia bisa menganggap keselamatan akhirnya sebagai sangat memungkinkan, tetapi ia tidak bisa mengetahuinya sebagai suatu kepastian. Ia telah melihat banyak sesama Kristennya mundur dan binasa setelah melakukan permulaan yang baik. Mengapa ia tidak bisa melakukan hal yang sama?) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 193.

Loraine Boettner:
“The assurance that Christians can never be separated from the love of God is one of the greatest comforts of the Christian life. To deny this doctrine is to destroy the grounds for any rejoicing among the saints on earth; for what kind of rejoicing can those have who believe that they may at any time be deceived and led astray? ... It is not until we duly appreciate this wonderful truth, that our salvation is not suspended on our weak and wavering love to God, but rather upon His eternal and unchangeable love to us, that we can have peace and certainty in the Christian life” (= Kepastian bahwa orang-orang Kristen tidak pernah bisa dipisahkan dari kasih Allah adalah salah satu penghiburan terbesar dari kehidupan Kristen. Menyangkal doktrin ini sama dengan menghancurkan dasar untuk sukacita apapun di antara orang-orang kudus di bumi; karena jenis sukacita apa yang bisa mereka miliki jika mereka percaya bahwa pada setiap saat mereka bisa ditipu dan disesatkan? ... Hanya kalau kita menghargai dengan seharusnya kebenaran yang hebat ini, bahwa keselamatan tidak tergantung pada kasih kita yang lemah dan berubah-ubah kepada Allah, tetapi pada kasihNya yang kekal dan tak berubah kepada kita, maka kita bisa mendapatkan damai dan kepastian dalam kehidupan Kristen) - Loraine Boettner, ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 194-195.

Alan P. F. Sell mengutip kata-kata Thomas Watson (1620-1686) sebagai berikut:
“How despairing is the Arminian doctrine of falling from grace! To-day a saint, to-morrow a reprobate; to-day a Peter, to-morrow a Judas. This must needs cut the sinews of a Christian endeavour, and be like boring a hole in a vessel: to make all the wine of joy run out ... What comfort were it to have one’s name written in the book of life, if it might be blotted out again? But be assured, for your comfort, grace, if true, though never so weak, shall persevere” (= Alangkah tidak ada harapannya doktrin Arminian tentang kemurtadan! Hari ini seorang kudus, besok seorang yang ditetapkan binasa; hari ini seorang Petrus, besok seorang Yudas. Ini pasti memotong otot dari usaha Kristen, dan seperti melubangi bejana: untuk membuat semua anggur sukacita keluar ... Penghiburan apa untuk mendapati nama seseorang tertulis dalam kitab kehidupan, jika itu bisa  dihapus lagi? Tetapi yakinlah, untuk penghiburanmu, kasih karunia, jika itu benar / sejati, tetapi tidak pernah begitu lemah, akan bertekun) - ‘The Great Debate, Calvinism, Arminianism and Salvation’, hal 30.

Kesimpulan / penutup.


Loraine Boettner: “The saints in heaven are happier but no more secure than are true believers here in this world” (= Orang-orang kudus di surga lebih bahagia, tetapi tidak lebih aman, dari pada orang-orang percaya yang sejati di sini di dunia ini) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 183.



-o0o-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar