Senin, 31 Maret 2014

PENGADILAN & PENYALIBAN (YOHANES 18:28-19:18)

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div

I) Yesus diserahkan kepada Pilatus (Yoh 18:28-32).


1) Ini mereka lakukan karena di bawah penjajahan Romawi mereka dilarang menjatuhkan dan melaksanakan hukuman mati. Dalam kasus Stefanus (Kis 7:57-60), mereka melanggar peraturan itu.

2)   Tuduhan orang-orang Yahudi terhadap Yesus.
Dalam sidang Mahkamah Agama tuduhan mereka yang terutama adalah penghujatan, karena Yesus menganggap diri sebagai Anak Allah (Mat 26:63-66). Tetapi mereka tahu bahwa tuduhan seperti itu tidak akan ada artinya di depan Pontius Pilatus, dan karena itu di depan Pilatus mereka mengubah tuduhan itu menjadi:
·         Yesus adalah seorang penjahat (Yoh 18:29-30).
·    menyesatkan bangsa, melarang orang membayar pajak kepada Kaisar, dan menyatakan diri sebagai raja (Luk 23:2).
Semua ini jelas merupakan tuduhan palsu. Kebencian mereka terhadap Yesus menyebabkan mereka melakukan segala macam cara asalkan bisa membunuh Yesus.

William Barclay: “Hatred is a terrible thing and does not hesitate to twist the truth” (= Kebencian adalah hal yang mengerikan dan tidak segan-segan untuk membengkokkan kebenaran) - hal 236.

3)   Penyerahan kepada Pilatus ini harus terjadi supaya nubuat Yesus tentang kematianNya digenapi (Yoh 18:32 - “Demikianlah hendaknya supaya genaplah firman Yesus, yang dikatakanNya untuk menyatakan bagaimana Ia akan mati”).

a)   Yesus telah mengatakan bahwa Ia harus mati melalui salib (Yoh 12:32  Mat 20:19  Mat 26:2), padahal hukuman mati untuk seorang penghujat seharusnya adalah perajaman (Im 24:16). Dengan dilaksanakannya hukuman mati oleh pihak Romawi, maka akhirnya Yesus mati melalui penyaliban, seperti yang telah Ia nubuatkan.

b) Yesus juga telah menubuatkan bahwa Ia harus diserahkan ke tangan orang non Yahudi (Mat 20:19). Karena itu Ia harus mati di tangan orang Romawi, bukan di tangan orang Yahudi.
Catatan: dalam Mat 20:19, kata-kata ‘bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah’ terjemahan hurufiahnya adalah ‘bangsa-bangsa’; NIV/NASB menterjemahkan ‘Gentiles’ / ‘bangsa-bangsa non Yahudi’.

II) Pilatus mengadili Yesus (18:33-19:15).


Dalam proses pengadilan ini terjadi dialog yang cukup banyak antara Yesus dan Pilatus, dan antara Pilatus dengan orang-orang Yahudi. Ada beberapa hal yang ingin saya soroti dari dialog ini.

1)   Yesus adalah Raja (18:33-37a).
Yoh 18:37b - “Engkau mengatakan bahwa Aku adalah raja”.
William Hendriksen: “The reply cannot mean, ‘That is what you are saying, but I have never said that,’ The immediately following context leaves room for only one interpretation, namely, that Jesus in replying, ‘You say that I am a king,’ definitely meant that Pilate was correct in inferring that the prisoner possessed and claimed royal authority! Note what follows: ‘For this purpose was I born,’ etc. Hence, the meaning is ‘I am, indeed, a king; I was born for this very purpose.’” (= Jawaban ini tidak bisa berarti: ‘Itu adalah yang kaukatakan, tetapi Aku tidak pernah mengatakan itu’. Kontext setelahnya hanya memungkinkan satu penafsiran, yaitu bahwa Yesus dalam menjawab: ‘Engkau mengatakan bahwa Aku adalah raja’, secara jelas memaksudkan bahwa Pilatus benar dalam menyimpulkan bahwa sang tahanan mempunyai dan mengclaim otoritas raja! Perhatikan bagian berikutnya: ‘Untuk itulah Aku lahir’ dst. Jadi, artinya adalah ‘Aku memang adalah seorang raja; Aku lahir untuk tujuan ini’) - hal 409.

Jadi, Yesus mengaku bahwa Ia memang adalah Raja, tetapi KerajaanNya bersifat rohani. Andaikata kerajaanNya bersifat duniawi maka hamba-hambaNya pasti akan melawan di bawah pimpinanNya, tetapi yang terjadi justru sebaliknya (Yoh 18:36-37  bdk. Yoh 18:10-11).
Renungkan: apakah Yesus adalah Raja dalam hidup saudara?

2)   Yesus memberi kesaksian tentang kebenaran (Yoh 18:37b-38).
a)  Yesus memberi kesaksian tentang kebenaran, dan setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suaraKu (Yoh 18:37b).
Kata ‘mendengarkan’ di sini harus diartikan ‘mendengar dan taat’, bukan ‘asal mendengar’!
b)   Yoh 18:38 - “Kata Pilatus kepadaNya: ‘Apakah kebenaran itu?’. Sesudah mengatakan demikian, keluarlah Pilatus lagi mendapatkan orang-orang Yahudi ....”.
Ada yang mengatakan bahwa Pilatus mengatakan ini karena ingin tahu, tetapi Calvin berkata bahwa Pilatus mengatakan ini sebagai penghinaan / peremehan / ejekan. Calvin jelas benar karena Pilatus langsung keluar tanpa menunggu jawaban dari Yesus.
William Hendriksen: “Pilate blurts out: ‘What is truth,’ not realizing that the answer was standing in front of him” (= Pilatus mengatakan: ‘Apakah kebenaran itu’, tanpa menyadari bahwa jawabannya sedang berdiri di depannya) - hal 410. Bdk. Yoh 14:6 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan ....’”.

3)   Pilatus tidak mendapati kesalahan pada diri Yesus.
Yoh 19:6b - “sebab aku tidak mendapati kesalahan apapun padaNya”.
Dalam Injil Yohanes, ini adalah untuk ketiga-kalinya Pilatus mengatakan itu; yang pertama dan kedua ada dalam Yoh 18:38b dan Yoh 19:4b. Dan dalam Injil-injil yang lain hal itu tercatat dalam Mat 27:23,24  Mark 15:14  Luk 23:4,13-15,22.
Calvin: “he had several times acquitted him with his own mouth, in order that we may learn from it, that it was for our sins that he was condemned, and not on his own account” (= ia telah beberapa kali membebaskanNya dari tuduhan dengan mulutnya sendiri, supaya kita bisa mengertinya dari sini, bahwa untuk dosa-dosa kitalah Ia dihukum, dan bukan karena dosa-dosaNya sendiri) - hal 223.

4)   Pilatus berusaha membebaskan Yesus.

a)   Menyuruh orang Yahudi memilih: membebaskan Yesus atau Barabas (Yoh 18:39-40  bdk. Mat 27:15-19).
1.   Pada saat itu ada kebiasaan untuk membebaskan seorang penjahat pada hari Paskah. Calvin mengatakan bahwa kebiasaan / tradisi melepaskan seorang penjahat pada hari Paskah merupakan kebiasaan yang salah, karena itu sama dengan membenarkan orang salah (bdk. Amsal 17:15).
2.   Pilatus lalu menawarkan apakah ia harus membebaskan Yesus atau Barabas.
·    Barabas adalah seorang penyamun dan pembunuh yang terkenal kejahatannya (18:40 bdk. Mat 27:15-26  Mark 15:6-15  Luk 23:17-25  Kis 3:14).
·      Pilatus memberikan pilihan seperti itu, karena ia mengira bahwa orang-orang Yahudi itu tentu akan memilih untuk melepaskan Yesus dari pada melepaskan Barabas.
·     Pilatus berpikir bahwa yang penting ia bisa membebaskan Yesus; tidak jadi soal sekalipun Yesus bebas dengan predikat ‘penjahat yang dibebaskan pada Paskah’.
3.   Di luar dugaan Pilatus, orang-orang Yahudi, yang telah dihasut oleh imam-imam kepala dan tua-tua (Mat 27:20), meminta untuk melepaskan Barabas (18:40).
John Henry Jowett: “Barabbas rather than Christ! The destroyer of life rather than the Giver of life! This was the choice of the people; and it is a choice which has often stained and defiled my own life. When I choose revenge rather than forgiveness, I am preferring Barabbas to Christ. ... When I choose carnal passion before holiness, I am preferring Barabbas to Christ” (= Barabas dan bukannya Kristus! Pembunuh kehidupan dan bukannya Pemberi kehidupan! Ini adalah pilihan dari orang-orang itu; dan itu adalah suatu pilihan yang sering menodai dan menajiskan hidup saya sendiri. Pada saat saya memilih balas dendam dan bukannya pengampunan, saya memilih Barabas dan bukannya Kristus. ... Pada saat saya memilih nafsu daging lebih dari kekudusan, saya memilih Barabas dan bukannya Kristus) - ‘Spring of the Living Water’, March 28.

b)   Menyesah Yesus (Yoh 19:1-5 bdk. Luk 23:22b).

1.   Dalam Injil Yohanes diceritakan bahwa Pilatus menyesah Yesus sebagai suatu usaha untuk melepaskan Yesus dari kematian. Ia berpikir bahwa setelah Yesus disesah, orang banyak itu akan kasihan kepadaNya dan berhenti menuntut kematianNya (Ini jelas merupakan kompromi yang salah, karena kalau ia beranggapan Kristus tidak salah, ia tidak boleh mencambuki Kristus). Tetapi dalam Injil Matius dan Markus, penyesahan Yesus terjadi setelah persidangan selesai, dan ini merupakan pendahuluan terhadap penyaliban (Mat 27:26  Mark 15:15b). Karena itu ada penafsir yang mengatakan bahwa penyesahan terhadap Yesus dilakukan 2 x.

2.   Sekarang mari kita perhatikan beberapa kutipan tentang tradisi pencambukan / penyesahan di bawah ini.

Pulpit Commentary: “This was no ordinary whip, but commonly a number of leather thongs loaded with lead or armed with sharp bones and spikes, so that every blow cut deeply into the flesh, causing intense pain” (= Ini bukannya cambuk biasa, tetapi biasanya merupakan sejumlah tali kulit yang dimuati / dibebani / diberi timah atau diperlengkapi dengan tulang-tulang runcing dan paku-paku, sehingga setiap cambukan mengiris dalam ke dalam daging, menyebabkan rasa sakit yang sangat hebat) - ‘Matthew’, hal 586.

William Hendriksen: “The Roman scourge consisted of a short wooden handle to which several thongs were attached, the ends equipped with pieces of lead or brass and with sharply pointed bits of bone. The stripes were laid especially (not always exclusively) on the victim’s back, bared and bent. The body was at times torn and lacerated to such an extent that deep-seated veins and arteries - sometimes even entrails and inner organs - were exposed. Such flogging, from which Roman citizens were exempt, often resulted in death” (= Cambuk Romawi ter­diri dari gagang kayu yang pendek yang diberi beberapa tali kulit, yang ujungnya dilengkapi dengan potongan-potongan timah atau kuningan dan potongan-potongan tulang yang diruncingkan. Pencambukan diberikan terutama, tetapi tidak selalu hanya, pada punggung korban, yang ditelanjangi dan dibungkuk­kan. Tubuh itu kadang-kadang koyak dan sobek sedemikian rupa sehingga pembuluh darah dan arteri yang terletak di dalam - kadang-kadang bahkan isi perut dan organ bagian dalam - menjadi terbuka / terlihat. Pencambukan seperti itu, yang tidak boleh dilakukan terhadap warga negara Romawi, sering berakhir dengan kematian) - hal 414.

William Barclay: “When a man was scourged he was tied to a whipping-post in such a way that his back was fully exposed. The lash was a long leather thong, studded at intervals with pellets of lead and sharpened pieces of bone. It literally tore a man’s back into strips. Few remained conscious throughout the ordeal; some dies; and many went raving mad” (= Pada waktu seseorang disesah ia diikat pada tiang pencambukan sedemikian rupa sehingga punggungnya terbuka sepenuhnya. Cambuk itu adalah tali kulit yang panjang, yang pada jarak tertentu ditaburi dengan butiran-butiran timah dan potongan-potongan tulang yang diruncingkan. Itu secara hurufiah merobek punggung seseorang menjadi carikan-carikan. Sedikit orang bisa tetap sadar melalui siksaan itu; sebagian orang mati; dan banyak yang menjadi gila) - hal 244.

Leon Morris (NICNT): “Scourging was a brutal affair. It was inflicted by a whip of several thongs, each of which was loaded with pieces of bone or metal. It could make pulp of man’s back” (= Pencambukan adalah suatu peristiwa yang brutal. Hal itu diberikan dengan sebuah cambuk yang terdiri dari beberapa tali kulit, yang masing-masing diberi potongan-potongan tulang atau logam. Itu bisa membuat punggung orang menjadi bubur) - hal 790.

Leon Morris (NICNT): “... Josephus tells us that a certain Jesus, son of Ananias, was brought before Albinus and ‘flayed to the bone with scourges’ ... Eusebius narrates that certain martyrs at the time of Polycarp ‘were torn by scourges down to deep-seated veins and arteries, so that the hidden contents of the recesses of their bodies, their entrails and organs, were exposed to sight’ ... Small wonder that men not infrequently died as a result of this torture” (=  Josephus menceritakan bahwa seorang Yesus tertentu, anak dari Ananias, dibawa ke depan Albinus dan ‘dikuliti sampai tulangnya dengan cambuk’ ... Eusebius menceritakan bahwa martir-martir tertentu pada jaman Polycarp ‘dicabik-cabik oleh cambuk sampai pada pembuluh darah dan arteri yang ada di dalam, sehingga bagian dalam yang tersembunyi dari tubuh mereka, isi perut dan organ-organ mereka, menjadi terbuka dan kelihatan’ ... Tidak heran bahwa tidak jarang orang mati sebagai akibat penyiksaan ini) - hal 790.

Sebetulnya saudara dan sayalah yang seharusnya dicambuki sebagai hukuman atas dosa-dosa kita, tetapi Kristus telah memikul hukuman kita. Dengan demikian kalau kita mau percaya kepadaNya, kita bebas dari hukuman dan mendapatkan hidup yang kekal. Bdk. Yes 53:5 - “oleh bilur-bilurNya kita telah menjadi sembuh”. Kesembuhan yang dimaksudkan di sini jelas adalah ‘kesembuhan rohani’.

3.   Ternyata dengan cara ini Pilatus gagal lagi untuk membebaskan Yesus, karena orang-orang Yahudi sama sekali tidak merasa kasihan terhadap Yesus, dan tetap menuntut penyaliban terhadap Yesus (19:6-7).

Calvin: “we see here the amazing cruelty of the Jewish nation, whose minds are not moved to compassion by so piteous a spectacle; but all this is directed by God, in order to reconcile the world to himself by the death of his Son” (= kita melihat di sini kekejaman yang mengherankan dari bangsa Yahudi, yang pikirannya tidak tergerak kepada belas kasihan oleh tontonan yang begitu menyedihkan / memilukan; tetapi semua ini diarahkan oleh Allah, untuk mendamaikan dunia kepada diriNya sendiri oleh kematian AnakNya) - hal 215.

Calvin: “When he labours so earnestly, and without any success, we ought to recognise in this the decree of Heaven, by which Christ was appointed to death” (= Pada waktu ia berusaha dengan begitu sungguh-sungguh, dan tanpa hasil, kita harus mengenali dalam hal ini ketetapan Surga, dengan mana Kristus ditetapkan untuk mati) - hal 214.

5)   ‘Pukulan mematikan’ dari orang-orang Yahudi terhadap Pilatus.

a)   Yoh 19:12 - ‘Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar’.
Barclay (hal 236-dst) mengatakan bahwa sebelum peristiwa ini Pilatus sudah pernah melakukan 2 x kesalahan, yang dilaporkan kepada kaisar. Ancaman di sini berhubungan dengan kedua kesalahan terdahulu itu. Seakan-akan mereka berkata: ‘Pilatus, ingatlah bahwa engkau sudah punya 2 catatan kesalahan di hadapan kaisar. Kalau kali ini kami melaporkan kamu lagi, kamu pasti akan dipecat / dihukum oleh kaisar’.

William Barclay: “He was blackmailed into assenting to the death of Christ, because his previous mistakes had made it impossible for him both to defy the Jews and to keep his post. Somehow one cannot help being sorry for Pilate. He wanted to do the right thing, but he had not the courage to defy the Jews and do it. He crucified Jesus in order to keep his job” (= Ia dipaksa / diancam untuk menyetujui kematian Kristus, karena kesalahan-kesalahannya yang terdahulu menyebabkan tidak mungkin baginya untuk menentang orang-orang Yahudi dan mempertahankan jabatannya. Bagaimanapun juga seseorang tidak bisa tidak merasa kasihan kepada Pilatus. Ia ingin melakukan hal yang benar, tetapi ia tidak mempunyai keberanian untuk menentang orang-orang Yahudi dan melakukan hal yang benar itu. Ia menyalibkan Yesus untuk mempertahankan pekerjaannya) - hal 240.
Penerapan: pernahkah saudara ‘menyalibkan’ Yesus / menyakiti Yesus untuk mempertahankan pekerjaan saudara? Misalnya dengan mau menuruti perintah boss untuk berdusta?

b)   Yoh 19:15 - “Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar”.
Pada waktu Roma menjajah mereka, dan lalu mengadakan sensus untuk mengatur perpajakan, orang-orang Yahudi melawan / memberontak, karena mereka berkeras bahwa Tuhan adalah raja mereka, dan hanya kepada Dia mereka mau membayar upeti / pajak. Tetapi sekarang, kebencian mereka kepada Yesus, dan keinginan mereka untuk membunuh Yesus menyebabkan mereka lalu berkata: “Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar” (Yoh 19:15).
William Barclay: “Never in history was the insanity of hatred so vividly shown” (= Dalam sejarah tidak pernah ditunjukkan kegilaan dari kebencian secara begitu hidup) - hal 236.
Tetapi, sekalipun kata-kata ini adalah dusta dan kemunafikan, kata-kata ini memaksa Pilatus memenuhi tuntutan mereka. Kalau tidak, ia akan digolongkan dengan Yesus sebagai pemberontak terhadap kaisar.

III) Pilatus menyerahkan Yesus untuk disalibkan (19:16-18).


1)   Hal-hal yang perlu diketahui tentang tradisi penyaliban.

William Barclay: “There was no more terrible death than death by crucifixion. Even the Roman themselves regarded it with a shudder of horror. Cicero declared that it was ‘the most cruel and horrifying death.’ Tacitus said that it was a ‘despicable death.’ It was originally a Persian method of execution. It may have been used because, to the Persians, the earth was sacred, and they wished to avoid defiling it with the body of an evil-doer. So they nailed him to a cross and left him to die there, looking to the vultures and the carrion crows to complete the work. The Carthaginians took over crucifixion from the Persians; and the Romans learned it from the Carthaginians. Crucifixion was never used as a method of execution in the homeland, but only in the province, and there only in the case of slaves. It was unthinkable that a Roman citizen should die such a death. ... It was that death, the most dreaded in the ancient world, the death of slaves and criminals, that Jesus died” (= Tidak ada kematian yang lebih mengerikan dari pada kematian melalui penyaliban. Bahkan orang Romawi sendiri memandangnya dengan ngeri. Cicero menyatakan bahwa itu adalah ‘kematian yang paling kejam dan menakutkan’. Tacitus berkata bahwa itu adalah ‘kematian yang tercela / hina / keji’. Pada mulanya itu adalah cara penghukuman mati orang Persia. Itu digunakan karena bagi orang Persia bumi / tanah itu kudus / keramat, dan mereka ingin menghindarkannya dari kenajisan dari tubuh dari pelaku kejahatan. Jadi mereka memakukannya pada salib dan membiarkannya mati di sana, mengharapkan burung nazar dan burung gagak pemakan bangkai menyelesaikan pekerjaan itu. Orang Carthage mengambil-alih penyaliban dari orang Persia, dan orang Romawi mempelajarinya dari orang Carthage. Penyaliban tidak pernah digunakan sebagai cara penghukuman mati di tanah air mereka, tetapi hanya di propinsi-propinsi jajahan mereka, dan hanya dalam kasus budak. Adalah sangat tidak terpikirkan bahwa seorang warga negara Romawi harus mati dengan cara itu. ... Kematian seperti itulah, kematian yang paling ditakuti dalam dunia purba, kematian dari budak dan orang kriminil, yang dialami oleh Yesus) - hal 250.

Pulpit Commentary: “the most painful, barbarous, and ignominious punishment which the cruelty of man ever invented” (= hukuman yang paling menyakitkan, biadab / kejam, dan tercela / memalukan yang pernah ditemukan oleh kekejaman manusia) - ‘Matthew’, hal 585.

William Hendriksen: Rome generally (not always!) reserved this form of punishment for slaves and those who had been convicted of the grossest crimes. ... It has been well said that the person who was crucified ‘died a thousand deaths.’ Large nails were driven through hands and feet (20:25; cf. Luke 24:40). Among the horrors which one suffered while thus suspended (with the feet resting upon a little tablets, not very far away from the ground) were the following: severe inflammation, the swelling of the wounds in the region of the nails, unbearable pain from torn tendons, fearful discomfort from the strained position of the body, throbbing headache, and burning thirst (19:28)” [= Roma pada umumnya (tidak selalu!) menyimpan jenis hukuman ini untuk budak-budak dan mereka yang terbukti bersalah dalam kejahatan-kejahatan yang paling besar. ... Dikatakan secara benar bahwa orang yang disalib ‘mati 1000 kali’. Paku-paku besar dipakukan menembus tangan dan kaki (20:25; bdk. Luk 24:40). Di antara hal-hal yang mengerikan yang diderita seseorang pada saat tergantung seperti itu (dengan kaki berpijak pada potongan kayu kecil, tidak terlalu jauh dari tanah) adalah hal-hal berikut ini: peradangan yang sangat hebat, pembengkakan dari luka-luka di daerah sekitar paku-paku itu, rasa sakit yang tidak tertahankan dari tendon-tendon yang sobek, rasa tidak enak yang sangat hebat karena posisi tubuh yang terentang, sakit kepala yang berdenyut-denyut, dan rasa haus yang membakar (19:28)] - hal 427.

Pulpit Commentary: “Nails were driven through the hands and feet, and the body was supported partly by these and partly by a projecting pin of wood called the seat. The rest for the feet, often seen in picture, was never used” (= paku-paku menembus tangan dan kaki, dan tubuh disangga / ditopang sebagian oleh paku-paku ini dan sebagian lagi oleh sepotong kayu yang menonjol yang disebut ‘tempat duduk’. Tempat pijakan kaki, yang sering terlihat dalam gambar, tidak pernah digunakan) - ‘Matthew’, hal 588.

Catatan: kata-kata Hendriksen bertentangan dengan Pulpit Commentary, karena Hendriksen mengatakan ada tempat pijakan kaki, sedang Pulpit Commentary mengatakan tidak ada.

2)   Yesus mengalami penghakiman dan penyaliban demi kita yang berdosa.

Calvin: “For the Son of God chose to stand bound before an earthly judge, and there to receive sentence of death, in order that we, delivered from condemnation, may not fear to approach freely to the heavenly throne of God” (= Karena Anak Allah memilih untuk berdiri dengan terikat di depan hakim dunia, dan menerima hukuman mati di sana, supaya kita, dibebaskan dari penghukuman, tidak usah takut mendekat secara bebas pada tahta surgawi Allah) - ‘Harmony of Matthew, Mark, Luke’, hal 275.

Calvin: “So then, the Son of God stood, as a criminal, before a mortal man, and there permitted himself to be accused and condemned, that we may stand boldly before God. His enemies, indeed, endeavoured to fasten upon him everlasting infamy; but we ought rather to look at the end to which the providence of God directs us. For if we recollect how dreadful is the judgment-seat of God, and that we could never have been acquitted there, unless Christ had been pronounced to be guilty on earth, we shall never be ashamed of glorying in his chains” (= Demikianlah, Anak Allah berdiri, sebagai seorang kriminil, di depan manusia yang fana / bisa mati, dan di sana mengijinkan dirinya sendiri dituduh dan dihukum, supaya kita bisa berdiri dengan berani di depan Allah. Musuh-musuhNya memang berusaha melekatkan padaNya hal yang buruk / memalukan yang bersifat kekal; tetapi kita harus melihat pada akhirnya kemana Providensia Allah mengarahkan kita. Karena jika kita mengingat betapa menakutkan tahta penghakiman Allah, dan bahwa kita tidak akan pernah bisa dibebaskan di sana, kecuali Kristus dinyatakan bersalah di bumi, kita tidak akan pernah malu untuk bermegah dalam belengguNya) - ‘Harmony of Matthew, Mark, Luke’, hal 275.

Kesimpulan / penutup.


Yesus sudah diadili, dihukum dan disalib bagi kita, dan karena itu kalau saudara mau percaya dan menerima Kristus sebagai Juruselamat saudara, maka semua dosa saudara akan diampuni, dan saudara tidak perlu takut pada penghakiman akhir jaman, dan saudara pasti akan masuk ke surga. Tetapi kalau saudara menolak Yesus, tidak ada pengampunan bagi saudara, dan penghakiman akhir jaman akan menjadi saat yang sangat menakutkan bagi saudara, dan saudara akan dihukum selama-lamanya di neraka. Pilihan ada di tangan saudara.

-AMIN- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar