Kamis, 27 Maret 2014

APA YANG KRISTUS ALAMI BAGI KITA

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div

YOHANES 19:1-5,16-30


I) Penderitaan dan kematian Kristus.

1)   Kristus dicambuki (ay 1).

a) Berapa set pencambukan yang dialami oleh Yesus?
Kalau kita melihat dalam Injil Yohanes, maka Pontius Pilatus dihadap-kan pada 2 pilihan:
· Melepaskan Yesus, tetapi menghadapi kemarahan orang-orang Yahudi. Sebetulnya inilah yang ia inginkan dan inilah yang seha-rusnya ia lakukan, karena ia tahu bahwa Yesus tidak bersalah.
·    Menyalibkan Yesus yang tidak bersalah sesuai dengan keinginan orang-orang Yahudi itu.
Pontius Pilatus lalu ingin mengambil jalan tengah (kompromi), dengan jalan mencambuki Yesus. Ia pikir mungkin dengan demikian orang-orang Yahudi itu sudah cukup puas, dan tidak meneruskan tuntutan mereka untuk menyalibkan Yesus. Jadi dalam Injil Yohanes (juga dalam Luk 23:16,22), pencambukan diberikan kepada Yesus dengan tujuan untuk melepaskan Yesus, dan ini dilakukan sebelum sidang selesai. Tetapi dalam Injil Matius dan Markus (Mat 27:26  Mark 15:15) pencambukan dilakukan sebagai pendahuluan penyaliban, dan dilakukan setelah persidangan selesai. Karena itu ada orang yang berpendapat bahwa Yesus dicambuki 2 x (2 set pencambukan). Tetapi banyak penafsir yang tidak setuju dengan ini.
Kalaupun Yesus hanya mengalami 1 set pencambukan, tahukah sau-dara berapa kali cambuk itu menghajar punggung Yesus? Orang Ya-hudi terikat oleh hukum Tuhan dalam Ul 25:3 yang melarang melaku-kan pencambukan lebih dari 40 x. Dan karena mereka takut salah hitung sehingga melanggar hukum itu, maka pada waktu mereka mencambuki, mereka hanya melakukannya sebanyak 39 x (bdk. 2Kor 11:24 dimana Paulus mengalami pencambukan 39 x itu sebanyak 5 kali). Tetapi yang mencambuki Yesus adalah orang Romawi yang terkenal kejam, dan tidak terikat pada hukum Tuhan. Jadi bisa saja Yesus dicambuki lebih dari 40 x!

b)   Hebatnya pencambukan:
Untuk bisa mengerti lebih baik tentang hebatnya penderitaan Kris­tus pada waktu disesah, mari kita lihat komentar-komentar di bawah ini.

Leon Morris (NICNT):
“Scourging was a brutal affair. It was inflicted by a whip of several thongs, each of which was loaded with pieces of bone or metal. It could make pulp of a man’s back” (= Pencambukan adalah suatu peristiwa yang brutal. Hal itu diberikan dengan sebuah cambuk yang terdiri dari beberapa tali kulit, yang masing-masing diberi potongan-potongan tulang atau logam. Itu bisa membuat punggung seseorang menjadi bubur).

Leon Morris (NICNT):
“... Josephus tells us that a certain Jesus, son of Ananias, was brought before Albinus and ‘flayed to the bone with scourges’ ... Eusebius narrates that certain martyrs at the time of Polycarp ‘were torn by scourges down to deep-seated veins and arteries, so that the hidden contents of the recesses of their bodies, their entrails and organs, were exposed to sight’ ... Small wonder that men not infrequently died as a result of this torture” (=  Josephus menceritakan bahwa seorang Yesus tertentu, anak dari Ananias, dibawa ke depan Albinus dan ‘dikuliti sampai tulangnya dengan cambuk’ ... Eusebius menceritakan bahwa martir-martir tertentu pada jaman Polycarp ‘dicabik-cabik oleh cambuk sampai pada pembuluh darah dan arteri yang ada di dalam, sehingga bagian dalam yang tersembunyi dari tubuh mereka, isi perut dan organ-organ mereka, menjadi terbuka dan kelihatan’ ... Tidak heran bahwa tidak jarang orang mati sebagai akibat penyiksaan ini).

c)   Pada waktu memikul salib ke tempat penyaliban (ay 17), biasanya orang hukuman itu dicambuki sepanjang jalan.

William Barclay:
“Often the criminal had to be lashed and goaded along the road, to keep him on his feet, as he staggered to the place of crucifixion” (= Seringkali orang kriminil itu harus dicambuki dan didorong dengan tongkat sepanjang jalan, supaya ia tetap berdiri pada kakinya, pada waktu ia berjalan terhuyung-huyung menuju tempat penyaliban) - ‘The Gospel of John’, vol 2, hal 250.

d)   Yesus rela mengalami penyesahan itu untuk kita (bdk. Yes 53:4-6  1Pet 2:24).

Yes 53:4-6 berbunyi: “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian”.

Kita yang adalah orang berdosa, dan karena itu kitalah yang seha­rusnya mengalami hukuman seperti itu. Tetapi Yesus yang tidak ber-salah, karena kasihNya kepada kita, rela menanggung hukuman itu bagi kita, supaya kalau kita percaya kepada Dia, kita bebas dari semua hukuman dosa!

2)   Kristus dihina / diejek / dipermalukan.
Ini mencakup beberapa hal:

a)   Pemberian mahkota duri di kepala Yesus dan pemberian jubah ungu (ay 2).

·         Pemberian jubah ungu bertujuan untuk mengejek, karena pada jaman itu jubah ungu hanya dipakai oleh orang kaya, bangsawan, raja dsb (bdk. Luk 16:19). Sekalipun demikian, bagi Yesus ini juga merupakan penderitaan yang hebat. Pada waktu jubah ungu itu dipakaikan kepadaNya, memang tidak apa-apa. Tetapi pada waktu jubah ungu itu dilepaskan, itu pasti sangat menyakitkan, karena jubah ungu itu sudah melekat pada luka-luka di tubuh Kristus.

·    Ada yang menganggap bahwa pemberian mahkota duri bertujuan untuk menyiksa, dan karenanya untuk membuat mahkota itu mereka menggunakan tanaman berduri panjang yang mencocok kepala Yesus. Ada juga yang menganggap bahwa ini hanya ber-tujuan mengejek, bukan untuk menyiksa, sehingga mereka mem-buat mahkota itu sedemikian rupa sehingga duri-durinya mengha-dap ke atas.

William Hendriksen menghubungkan mahkota duri ini dengan Kej 3:18 dengan berkata:
“... the fact that thorns and thistles are mentioned in Gen 3:18 in connection with Adam’s fall. Hence, here in 19:2,3 Jesus is pictured as bearing the curse that lies upon nature. He bears it in order to deliver nature (and us) from it” [= ... fakta bahwa duri dan rumput duri disebutkan dalam Kej 3:18 dalam hubungannya dengan kejatuhan Adam. Karena itu, di sini dalam 19:2,3 Yesus digambarkan menang-gung / memikul kutuk yang ada pada alam. Ia memikulnya untuk membebaskan alam (dan kita) dari kutuk itu].

b)   ‘Penghormatan’ yang diberikan kepadaNya sebagai raja Yahudi dan penamparan (ay 3).

c)    Penelanjangan terhadapNya (ay 23-24).

·         pembagian pakaian dan pengundian jubah ini menggenapi nubuat dalam Maz 22:19.

·         Pulpit Commentary:
“It is implied that his body was exposed naked on the cross” (= Secara tidak langsung dikatakan bahwa tubuhNya telanjang di kayu salib).
Bisakah saudara bayangkan bagaimana malunya kalau ditelan-jangi di depan umum? Itulah yang Yesus alami untuk saudara!

·         Mengapa Yesus harus mengalami hal yang memalukan ini?

*        Lagi-lagi karena Ia sedang menggantikan kita memikul hukum-an dosa kita. Pernahkah saudara pikirkan / renungkan bahwa pada pengadilan akhir jaman nanti manusia berdosa akan di-permalukan? Bayangkan kalau semua dosa kita dibuka dalam pengadilan itu, termasuk segala dusta, pencurian, kemunafikan, percabulan, penyelewengan, perzinahan, dsb. Kristus memikul semua ini bagi kita, dan karena itu Ia harus dipermalukan!

*        Perhatikan kata-kata Calvin di bawah ini:
“Let us also learn that Christ was stripped of his garments, that he might clothe us with righteousness; that his naked body was exposed to the insults of men, that we may appear in glory before the judgment-seat of God” (= Marilah kita belajar bahwa Kristus dilepas jubahNya, supaya Ia bisa memberi kita pakaian dengan kebenaran; bahwa tubuhNya yang telanjang terbuka terhadap penghinaan-penghinaan manusia, supaya kita bisa muncul dalam kemuliaan di depan tahta pengadilan Allah).

3)   Kristus disalibkan.
Hal-hal yang perlu diketahui tentang tradisi penyaliban:

a)   Pemikulan salib (ay 17).
Orang yang disalib harus memikul salibnya menuju tempat penyaliban melalui route yang dipilih sepanjang mungkin. Mengapa?

·         untuk memperingati supaya orang lain tidak berbuat jahat.

·         William Barclay mengatakan bahwa ada alasan lain:
“... there was a merciful reason. ... the long route was chosen, so that if anyone could still bear witness in his favour, he might come forward and do so. In such a case, the procession was halted and the case retried” (= ... ada alasan belas kasihan. ... route / jalan yang panjang dipilih, supaya jika ada seseorang yang bisa memberi kesaksian mem-bela dia, orang itu bisa maju ke depan dan melakukannya. Dalam hal itu, proses penyaliban itu dihentikan dan kasusnya diperiksa ulang).
Betul-betul menyedihkan bahwa dalam kasus Kristus tidak ada seorangpun yang berani maju ke depan untuk membela Dia!

Bagi Kristus yang baru saja dicambuki, pemikulan salib itu bukan hanya berat, tetapi juga sangat menyakitkan, karena kayu salib yang kasar itu mengenai pundakNya yang penuh dengan luka cambuk.

b)   Penyaliban terjadi di luar kota (ay 17 - ‘pergi ke luar’. Bdk. Mat 27:32).
·        Karena Kristus dianggap menghujat Allah (ay 7 bdk. Mat 26:65), maka mereka menghukum mati Dia di luar kota. Bdk. Im 24:14,23 yang menunjukkan bahwa firman Tuhan mengajarkan bahwa penghujat Allah harus dihukum mati di luar perkemahan. (bdk. 1Raja-raja 21:13  Kis 7:58).
Catatan: sekalipun yang melaksanakan penghukuman mati itu ada-lah tentara Romawi, tetapi tokoh-tokoh Yahudi jelas mempunyai ‘suara’ yang sangat kuat (bdk. Mat 27:62-66  Mat 28:11-15).
·         Tetapi semua ini justru menjadikan Kristus sebagai ANTI TYPE / penggenapan dari korban penghapus dosa, yang adalah TYPE dari Kristus, yang harus dibakar / dibunuh di luar perkemahan (Kel 29:14  Im 4:12,21  9:11  16:27  Bil 19:3  bdk. Ibr 13:11-12).
Dari semua ini terlihat dengan jelas bahwa semua ini dikontrol oleh Allah, sehingga terlaksanalah Rencana Allah, yang memang sudah menetapkan Kristus sebagai penggenapan dari korban penghapus dosa.

c)   Adanya ‘tempat duduk’ pada kayu salib yang menahan sebagian berat badan sehingga tidak merobek luka / lubang paku di tangan.

Pulpit Commentary:
“A sedile was arranged to bear a portion of the weight of the body, which would never have been sustained by the gaping wounds” (= Sebuah tempat duduk diatur untuk memikul sebagian berat tubuh, yang tidak akan pernah bisa ditahan oleh luka-luka yang menganga).

‘The International Standard Bible Encyclopedia’ dalam article yang berjudul ‘Cross’ berkata sebagai berikut:
“A small wooden block (sedicula) or a wooden peg positioned midway on the upright supported the body weight as the buttocks rested on it. This feature was extremely important in cases of nailing since it prevented the weight from tearing open the wounds” [= sebuah kotak kayu kecil (sedicula) atau sebuah pasak kayu diletakkan di tengah-tengah tiang tegak untuk menahan berat tubuh pada saat pantat terletak di sana. Bagian ini sangat penting dalam kasus pemakuan karena ini mencegah berat badan sehingga tidak merobek luka].

Barnes’ Notes tentang Mat 27:32:
“On the middle of that upright part there was a projection, or seat, on which the person crucified sat, or, as it were, rode. This was necessary, as the hands were not alone strong enough to bear the weight of the body” (= Di tengah-tengah bagian tegak itu ada suatu tonjolan, atau tempat duduk, di atas mana orang yang disalib itu duduk, atau, mengendarai. Ini penting, karena tangan saja tidak kuat menahan berat badan) - hal 138.

d)   Penyaliban tidak selalu dilakukan dengan pemakuan, kadang-kadang dengan tali (diikat pada salib), dan kadang-kadang menggunakan ikat-an dan paku (mungkin kalau orangnya gemuk / berat). Tetapi dalam kasus Yesus jelas dilakukan dengan paku.

Barnes’ Notes tentang Mat 27:32:
“The feet were fastened to this upright piece, either by nailing them with large spikes driven through the tender part, or by being lashed by cords. To the cross-piece at the top, the hands, being extended, were also fastened, either by spikes or by cords, or perhaps in some cases by both. The hands and feet of our Saviour were both fastened by spikes” (= Kaki dilekatkan pada tiang tegak, atau dengan memakukannya dengan paku-paku besar yang dimasukkan melalui bagian-bagian yang lunak, atau dengan meng-ikatnya dengan tali. Pada bagian salib yang ada di atas, tangan, yang direntangkan, juga dilekatkan, atau dengan paku-paku atau dengan tali, atau mungkin dalam beberapa kasus oleh keduanya. Tangan dan kaki dari Tuhan kita keduanya dilekatkan dengan paku-paku) - hal 138.

Barnes’ Notes tentang Yoh 21:18:
“The limbs of persons crucified were often bound instead of being nailed, and even the body was sometimes girded to the cross” (= Kaki dan tangan dari orang yang disalibkan seringkali diikat dan bukannya dipaku, dan bahkan tubuhnya kadang-kadang diikatkan pada salib) - hal 360.

Point c (adanya ‘tempat duduk’) dan point d (digunakannya tali untuk mengikat) ini menyebabkan pemakuan bisa dilakukan pada tangan. Kita tidak perlu menyimpulkan bahwa pemakuan dilakukan pada per-gelangan tangan.

e)   Pemakuan dilakukan pada saat kayu salib ditidurkan di tanah, dan se-telah itu kayu salib beserta orang yang tersalib itu diberdirikan, dan kayu salib itu dimasukkan ke lubang yang tersedia.

Barnes’ Notes dalam komentarnya tentang Mat 27:35 berkata sebagai berikut:
“The manner of the crucifixion was as follows: - After the criminal had carried the cross, attended with every possible jibe and insult, to the place of execution, a hole was dug in the earth to receive the foot of it. The cross was laid on the ground; the persons condemned to suffer was stripped, and was extended on it, and the soldiers fastened the hands and feet either by nails or thongs. After they had fixed the nails deeply in the wood, they elevated the cross with the agonizing sufferer on it; and, in order to fix it more firmly in the earth, they let it fall violently into the hole which they had dug to receive it. This sudden fall must have given to the person that was nailed to it a most violent and convulsive shock, and greatly increased his sufferings. The crucified person was then suffered to hang, commonly, till pain, exhaustion, thirst, and hunger ended his life” (= Cara penyaliban adalah sebagai berikut: - Setelah kriminil itu membawa salib, disertai dengan setiap ejekan dan hinaan yang dimungkinkan, ke tempat penyaliban, sebuah lubang digali di tanah untuk menerima kaki salib itu. Salib diletakkan di tanah; orang yang diputuskan untuk menderita itu dilepasi pakaiannya, dan direntangkan pada salib itu, dan tentara-tentara melekatkan tangan dan kaki dengan paku atau dengan tali. Setelah mereka memakukan paku-paku itu dalam-dalam ke dalam kayu, mereka menaikkan / menegakkan salib itu dengan penderita yang sangat menderita padanya; dan, untuk menancapkannya dengan lebih teguh di dalam tanah, mereka menjatuhkan salib itu dengan keras ke dalam lubang yang telah digali untuk menerima salib itu. Jatuhnya salib dengan mendadak itu pasti memberikan kepada orang yang disalib suatu kejutan yang keras, dan meningkatkan penderitaannya dengan hebat. Orang yang disalib itu lalu menderita tergantung, biasanya, sampai rasa sakit, kehabisan tenaga, kehausan, dan kelaparan mengakhiri hidupnya) - hal 139.

f)   Hukuman salib adalah penderitaan yang luar biasa.

Barnes’ Notes melanjutkan komentarnya tentang Mat 27:35 dengan berkata sebagai berikut:
“As it was the most ignominious punishment known, so it was the most painful. The following circumstances make it a death of peculiar pain: (1.) The position of the arms and the body was unnatural, the arms being extended back and almost immovable. The least motion gave violent pain in the hands and feet, and in the back, which was lacerated with stripes. (2.) The nails, being driven through the parts of the hands and feet which abound with nerves and tendons, created the most exquisite anguish. (3.) The exposure of so many wounds to the air brought on a violent inflammation, which greatly increased the poignancy of the suffering. (4.) The free circulation of the blood was prevented. More blood was carried out in the arteries than could be returned by the veins. The consequence was, that there was a great increase in the veins of the head, producing an intense pressure and violent pain. The same was true of other parts of the body. This intense pressure in the blood vessels was the source of inexpressible misery. (5.) The pain gradually increased. There was no relaxation, and no rest.” [= Itu adalah hukuman yang paling hina / memalukan yang dikenal manusia, dan itu juga adalah hukuman yang paling menyakitkan. Hal-hal berikut ini menyebabkan penyaliban suatu kematian dengan rasa sakit yang khusus: (1.) Posisi lengan dan tubuh tidak alamiah, lengan direntangkan ke belakang dan hampir tidak bisa bergerak. Gerakan yang paling kecil memberikan rasa sakit yang hebat pada tangan dan kaki, dan pada punggung, yang sudah dicabik-cabik dengan cambuk. (2.) Paku-paku, yang dimasukkan melalui bagian-bagian tangan dan kaki yang penuh dengan syaraf dan otot, memberikan penderitaan yang sangat hebat. (3.) Terbukanya begitu banyak luka terhadap udara menyebabkan peradangan yang hebat, yang sangat meningkatkan kepedihan / ketajaman penderitaan. (4.) Peredaran bebas dari darah dihalangi. Lebih banyak darah dibawa keluar oleh arteri-arteri dari pada yang bisa dikembalikan oleh pembuluh-pembuluh darah balik. Akibatnya ialah, terjadi peningkatan yang besar dalam pembuluh darah balik di kepala, yang menghasilkan tekanan dan rasa sakit yang hebat. Hal yang sama terjadi dengan bagian-bagian tubuh yang lain. Tekanan yang hebat dalam pembuluh darah adalah sumber penderitaan yang tidak terlukiskan. (5.) Rasa sakit itu naik secara bertahap. Tidak ada pengendoran, dan tidak ada istirahat] - hal 139.

William Barclay, dalam komentarnya tentang Luk 23:32-38, berkata sebagai berikut:
“The terror of crucifixion was this - the pain of that process was terrible but it was not enough to kill, and the victim was left to die of hunger and thirst beneath the blazing noontide sun and the frost of the night” (= Hal yang mengerikan / menyeramkan dari penyaliban adalah ini - rasa sakit dari proses penyaliban itu luar biasa, tetapi tidak cukup untuk membunuh, dan korban dibiarkan mati oleh kelaparan dan kehausan di bawah sinar matahari yang membakar dan cuaca beku pada malam hari) - hal 284.

Barnes’ Notes, dalam komentarnya tentang Mat 27:32, berkata sebagai berikut:
“... the body was left exposed often many days, and not unfrequently suffered to remain till the flesh had been devoured by vultures, or putrefied in the sun” (= tubuh itu dibiarkan terbuka seringkali sampai beberapa hari, dan tidak jarang orang itu terus menderita sampai dagingnya dimakan oleh burung pemakan bangkai, atau membusuk  di bawah matahari).

Catatan: dalam kasus Yesus memang penyaliban tidak berlangsung berhari-hari. Mungkin hanya berlangsung selama ± 6 jam, yaitu mulai pukul 9 pagi (Mark 15:25) sampai Ia mati pada ± pukul 3 siang (Mat 27:46-50).

4)   Kristus mengalami kehausan (ay 28-29).

a)   Kehausan adalah salah satu penderitaan hebat yang selalu menyertai penyaliban.

Barnes’ Notes:
“Thirst was one of the most distressing circumstances attending the crucifixion. The wounds were highly inflamed, and the raging fever was caused usually by the sufferings on the cross, and this was accompanied by insupportable thirst” (= Kehausan adalah salah satu keadaan yang paling membuat menderita yang menyertai penyaliban. Luka-luka itu meradang dengan hebat, dan demam yang tinggi biasanya terjadi oleh penderitaan-penderitaan pada salib, dan ini disertai / diiringi oleh kehausan yang tak tertahankan).

b)   Mengapa Kristus harus mengalami kehausan?

·         Karena itu sudah dinubuatkan dalam:
*        Maz 22:16 - ‘lidahku melekat pada langit-langit mulutku’.
*        Maz 69:22b - ‘pada waktu aku haus mereka memberi aku minum anggur asam’.

·        Karena orang yang masuk neraka juga akan mengalami kehausan (bdk. Luk 16:23-24). Dan Kristus memikul hukuman itu, sehingga harus merasakan kehausan yang luar biasa.

c)   Kristus minta minum supaya:

·         nubuat dalam Maz 69:22b tergenapi (ay 28).

·      Ia bisa meneriakkan kata-kata ‘Sudah selesai’ (ay 30), yang mem-punyai arti sangat penting bagi kita. Tanpa minuman itu, mulut, lidah, dan tenggorokan Yesus yang sangat kering karena kehaus-an yang luar biasa itu tidak akan bisa mengucapkan kata-kata itu.

d)   Pada waktu Kristus minta minum, Ia diberi anggur asam (ay 29).
Ada 3 hal yang ingin saya persoalkan di sini:

·         Ay 29: ‘anggur asam’.
Ini sama dengan terjemahan NASB yang menterjemahkan ‘sour wine’. Tetapi KJV/RSV/NIV menterjemahkan ‘vinegar’ (= cuka).
Leon Morris (NICNT):
“‘vinegar’ is a term which signifies a cheap wine, the kind of drink that was used by the masses” (= ‘cuka’ adalah suatu istilah yang berarti anggur murah, jenis minuman yang digunakan oleh orang banyak).

·     Mengapa tentara-tentara itu mau memberiNya minum? Biasanya orang disalib tidak diberi minum. Jelas bahwa di sini Allah bekerja, sehingga nubuat dalam Maz 69:22b itu terjadi.

·       Dengan Kristus meminta minum, dan diberi minum, apakah itu berarti bahwa penderitaanNya dikurangi sehingga Ia tidak me-nanggung 100 % hukuman dosa kita? Tidak! Karena Ia minta minum setelah Ia tahu bahwa semua sudah selesai (ay 28), artinya penebusan yang Ia lakukan sudah cukup untuk menebus dosa kita. Perhatikan kata-kata Calvin di bawah ini:
“Now, it ought to be remarked, that Christ does not ask any thing to drink till all things have been accomplished ... No words can fully express the bitterness of the sorrows which he endured; and yet he does not desire to be freed from them, till the justice of God has been satisfied, and till he has made a perfect atonement” (= Harus diperhatikan, bahwa Kristus tidak meminta minum apapun sampai semua telah selesai / tercapai ... Tidak ada kata-kata yang dapat menyatakan secara penuh kesedihan yang ditahanNya; tetapi Ia tidak ingin dibebaskan darinya, sampai keadilan Allah telah dipuaskan, dan sampai Ia telah membuat penebusan yang sempurna).
Tetapi bagaimana mungkin sudah selesai, padahal Ia belum mengalami kematian? Calvin berkata bahwa Kristus mengucapkan kata-kata ‘sudah selesai’ itu dengan memperhitungkan kematian-Nya yang akan terjadi. Atau ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘sudah selesai’ adalah penderitaan aktifNya dalam memikul hukuman dosa.

5)   Kristus mati.
Dengan demikian Ia membayar upah dosa yang adalah maut! Ia yang hidup rela mati, supaya kita yang mati dalam dosa bisa hidup!

II) Tanggapan terhadap penderitaan & kematian Yesus.

A) Tanggapan yang salah:

1)   Tidak percaya / acuh tak acuh.
Kalau saudara bersikap seperti ini, maka itu berarti saudara harus memikul sendiri hukuman dosa saudara di dalam neraka!

2)   Kasihan kepada Kristus.
Dalam perjalanan memikul salib ke luar kota, terjadi peris­tiwa dalam Luk 23:27-32 (bacalah bagian ini dalam Kitab Suci saudara).

Pulpit Commentary mengomentari bagian ini dengan berkata:
“He does not want our pity. This would be a wasted and mistaken sentiment” (= Ia tidak membutuhkan / menghendaki belas kasihan kita. Ini adalah suatu perasaan yang sia-sia dan salah).

Kalau saudara mempunyai perasaan kasihan kepada Kristus, tetapi tidak percaya kepada Kristus, saudara sudah ditipu oleh setan. De-ngan adanya perasaan kasihan itu saudara seakan-akan adalah orang yang pro Yesus, tetapi ketidakpercayaan saudara membuktikan bahwa saudara tetap anti Yesus!

B) Tanggapan yang benar:

1)   Percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (ay 35  20:31).
Kalau saudara mau percaya kepada Kristus, maka saudara harus percaya hanya kepada Kristus. Tentang kata-kata ‘sudah selesai’ da-lam ay 30, Calvin memberi komentar sebagai berikut:

“If we give our assent to this word which Christ pronounced, we ought to be satisfied with his death alone for salvation, and we are not at liberty to apply for assistance in any other quarter” (= Jika kita menyetujui kata-kata yang Kristus ucapkan, kita harus puas dengan kematianNya saja untuk keselamatan, dan kita tidak boleh menggunakan bantuan dari sudut lain manapun).

Karena itu, jangan menggabungkan Kristus dengan kepercayaan / agama lain, dengan kepercayaan kepada Maria atau orang suci, dengan kepercayaan pada perbuatan baik saudara sendiri, dsb. Keselamatan kita terjadi hanya karena jasa penebusan Kristus, yang kita terima dengan iman!

2)   Kasihilah Yesus lebih dari segala sesuatu / siapapun juga, baik keluarga, anak, uang / pekerjaan, study, teman, hobby, hal-hal du-niawi dsb.
Kalau saudara mengasihi apapun / siapapun ( keluarga, anak, pacar, pekerjaan, uang, study, hobby, dsb) lebih dari Kristus, renungkan: pantaskah semua itu saudara utamakan di atas Kristus, yang sudah rela menderita dan mati secara begitu mengerikan dan memalukan bagi saudara? Tidakkah saudara seharusnya mengasihi Kristus lebih dari segala-galanya? Maukah saudara berusaha untuk bisa lebih mengasihi Yesus, dengan lebih banyak merenungkan apa yang sudah Ia lakukan bagi saudara, dengan lebih banyak bersekutu dengan Dia, dengan lebih banyak belajar tentang Dia (dari Firman Tuhan), dan dengan lebih banyak mentaati Dia?
Adanya kasih kepada Kristus inilah yang memungkinkan kita rela berkorban dalam pelayanan, ketaatan, dalam memberi persembahan, dsb.

3)   Tidak hidup untuk diri sendiri, tetapi untuk Tuhan / kebenaran.
2Kor 5:15 berbunyi: “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka”.
1Pet 2:24 - “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran”.

Penerapan: renungkan baik-baik! Untuk apa / siapa saudara hidup? Untuk diri saudara sendiri? Untuk keluarga? Untuk ilmu pengetahuan? Untuk negara dan bangsa? Tujuan tertinggi dan termulia dalam hidup ini adalah untuk Tuhan!

4)   Berjuang melawan dosa hingga mencucurkan darah.
Ibr 12:1-4 - “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diriNya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah”.

Kalau saudara adalah orang yang sungguh-sungguh sudah percaya kepada Yesus, saya yakin saudara pasti sudah pernah dan sudah sering bergumul melawan dosa. Tetapi seberapa hebat pergumulan yang saudara lakukan? Ayat ini menuntut suatu pergumulan melawan dosa sampai pada titik dimana kita mencurahkan darah. Jadi kita harus rela berkorban apapun dalam pergumulan melawan dosa itu, dan kalau perlu kita harus rela berkorban nyawa. Maukah saudara melakukannya?

-AMIN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar