Minggu, 16 Maret 2014

LIMITED ATONEMENT (PENEBUSAN TERBATAS) - Part 3


Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div




Calvin (tentang Tit 2:11): “‘Bringing salvation to all men,’ That it is common to all is expressly testified by him on account of the slaves of whom he had spoken. Yet he does not mean individual men, but rather describes individual classes, or various ranks of life (= ‘Membawa keselamatan kepada semua orang’, Bahwa itu bersifat umum bagi semua orang disaksikan secara jelas olehnya karena budak-budak tentang siapa ia telah berbicara. Tetapi ia tidak memaksudkan orang-orang secara individu, tetapi sebaliknya menggambarkan golongan-golongan individu, atau bermacam-macam kedudukan dari kehidupan).
Catatan: kontext memang berkenaan dengan hamba-hamba.

Tit 2:9-11 - “(9) Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah, (10) jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita. (11) Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata”.

William Hendriksen: It brought this salvation to ‘all men.’ ... Here in Titus 2:11 the context makes the meaning very clear. Male or female, old or young, rich or poor: all are guilty before God, and from them all God gathers his people. Aged men, aged women, young women, young(er) men, and even slaves (see verses 1–10) should live consecrated lives, for the grace of God has appeared bringing salvation to men of all these various groups or classes. ‘All men’ here in verse 11 = ‘us’ in verse 12. Grace did not bypass the aged because they are aged, nor women because they are women, nor slaves because they are merely slaves, etc. It dawned upon all, regardless of age, sex, or social standing. Hence, no one can derive, from the particular group or caste to which he belongs, a reason for not living a Christian life [= Itu membawa keselamatan ini kepada ‘semua orang’. ... Di sini dalam Tit 2:11 kontextnya membuat sangat jelas. Laki-laki atau perempuan, tua atau muda, kaya atau miskin: semua bersalah di hadapan Allah, dan dari mereka semua Allah mengumpulkan umatNya. Laki-laki tua, perempuan-perempuan tua, perempuan-perempuan muda, laki-laki (yang lebih) muda, dan bahkan hamba-hamba (lihat ayat 1-10) harus menjalani hidup yang dikuduskan, karena kasih karunia Allah telah muncul / tampak membawa keselamatan kepada orang-orang dari semua kelompok-kelompok dan golongan-golongan yang bermacam-macam ini. ‘Semua orang’ di sini dalam ay 11 = ‘kita’ dalam ay 12. Kasih karunia tidak mem-by-pass / melewati yang tua karena mereka tua, atau perempuan karena mereka adalah perempuan, atau hamba karena mereka adalah semata-mata hamba, dsb. Itu menyingsing kepada semua, tak tergantung pada usia, jenis kelamin, ataupun kedudukan sosial. Jadi, tak seorangpun bisa mendapatkan, dari kelompok atau kasta / golongan khusus dimana mereka termasuk, suatu alasan untuk tidak menjalani suatu kehidupan Kristen].

Tit 2:1-12 - “(1) Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat: (2) Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan. (3) Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik (4) dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, (5) hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang. (6) Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal (7) dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, (8) sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita. (9) Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah, (10) jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita. (11) Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. (12) Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini”.

h)         Pembahasan Ibr 2:9.
Ibr 2:9 - Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.
KJV: ‘he ... should taste death for every man’ (= Ia ... merasakan / mengecap kematian untuk setiap orang).

Penafsiran Arminian tentang Ibr 2:9 ini.

1.   Penafsiran Adam Clarke.
Adam Clarke: “It was a custom in ancient times to take off criminals by making them drink a cup of poison. ... The reference in the text seems to point out the whole human race as being accused, tried, found guilty, and condemned, each having his own poisoned cup to drink; and Jesus, the wonderful Jesus, takes the cup out of the hand of each, and cheerfully and with alacrity drinks off the dregs! Thus having drunk every man’s poisoned cup, he tasted that death which they must have endured, had not their cup been drunk by another” (= Merupakan kebiasaan pada jaman kuno untuk membunuh para kriminil dengan memaksa mereka meminum secawan racun. ... Referensi dalam text ini kelihatannya menunjuk seluruh umat manusia sebagai orang-orang yang dituduh, diadili, dinyatakan bersalah, dan dijatuhi hukuman, masing-masing mempunyai cawan racunnya sendiri untuk diminum; dan Yesus, Yesus yang luar biasa, mengambil cawan itu dari tangan masing-masing, dan dengan gembira dan rela meminum sampah / ampas tersebut! Demikianlah setelah meminum cawan beracun dari setiap orang, Ia merasakan kematian yang harus mereka alami, seandainya cawan mereka tidak diminum oleh orang lain) - hal 697.

Clarke lalu mambandingkan cawan beracun ini dengan cawan dalam Mat 26:39 - “Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.’”.

Dan Clarke lalu mengatakan lagi: “But without his drinking it, the salvation of the world would have been impossible; and therefore he cheerfully drank it in the place of every human soul, and thus made atonement for the sin of the whole world (= Tetapi jika Ia tidak meminumnya, keselamatan dari dunia adalah mustahil; dan karena itu Ia dengan gembira meminumnya untuk menggantikan setiap jiwa manusia, dan dengan demikian membuat penebusan untuk dosa seluruh dunia) - hal 697.

Ada 2 hal yang perlu diberikan sebagai komentar tentang kata-kata Clarke ini:
a.   Clarke terlalu gegabah dan terlalu cepat dalam mengatakan bahwa text ini menunjuk kepada seluruh umat manusia. Ia sama sekali tidak memperhatikan kontext, seperti yang dilakukan oleh para penafsir Reformed di bawah.
b.   Kalau memang cawan beracun, yang merupakan hukuman dosa setiap orang / seluruh umat manusia itu, sudah diminum oleh Kristus, mengapa masih ada orang yang akhirnya harus masuk neraka? Cawan beracun mana lagi yang harus mereka minum?

2.   Penafsiran Albert Barnes.
Barnes’ Notes: “‘For every man.’ For all - uper pantoV - for each and all - whether Jew or Gentile, bond or free, high or low, elect or non-elect. How could words affirm more clearly, that the atonement made by the Lord Jesus was unlimited in its nature and design? How can we express that idea in more clear or intelligible language? That this refers to the atonement is evident - for it says that he ‘tasted death’ for them. The friends of the doctrine of general atonement do not desire any other than Scripture language in which to express their belief. It expresses it exactly - without any need of modification or explanation. The advocates of the doctrine of limited atonement cannot thus use Scripture language to express their belief. They cannot incorporate it with their creeds, that the Lord Jesus ‘tasted death for every man.’ They are compelled to modify it, to limit it, to explain it, in order to prevent error and misconceptions. But that system cannot be true which requires men to shape and modify the plain language of the Bible, in order to keep men from error!” [= ‘Untuk setiap orang’. Untuk semua - uper pantoV - untuk setiap dan semua orang - baik Yahudi maupun non Yahudi, budak atau orang merdeka, tinggi atau rendah, pilihan dan non pilihan. Bagaimana kata-kata bisa menegaskannya dengan lebih jelas, bahwa penebusan yang dibuat oleh Tuhan Yesus adalah tak terbatas dalam sifatnya dan rencana / tujuannya? Bagaimana kita bisa menyatakan gagasan itu dalam bahasa yang lebih jelas / bisa dimengerti? Bahwa text ini menunjuk pada penebusan adalah jelas - karena text ini mengatakan bahwa Ia ‘merasakan kematian’ untuk mereka. Teman-teman dari doktrin penebusan umum (tak terbatas) tidak menginginkan apapun selain bahasa Kitab Suci untuk menyatakan kepercayaan mereka. Text itu menyatakannya secara persis / tepat - dengan tidak membutuhkan modifikasi / perubahan atau penjelasan. Para pendukung dari doktrin penebusan terbatas tidak bisa menggunakan bahasa Kitab Suci seperti itu untuk menyatakan kepercayaan mereka. Mereka tidak bisa memasukkannya ke dalam credo / pengakuan iman mereka, bahwa Tuhan Yesus ‘merasakan kematian untuk setiap orang’. Mereka terpaksa memodifikasinya, membatasinya, menjelaskannya, untuk mencegah kesalahan dan kesalah-pahaman. Tetapi sistim yang mengharuskan orang untuk membentuk dan memodifikasi bahasa yang jelas dari Alkitab untuk mencegah manusia dari kesalahan, tidak mungkin benar] - hal 1238.

Tanggapan saya:
Ini lagi-lagi merupakan suatu ucapan bodoh dari orang yang mau menerima Kitab Suci apa adanya. Kalau memang Kitab Suci harus selalu diterima apa adanya, untuk apa Albert Barnes sendiri menulis buku tafsiran? Memang ada ayat-ayat Kitab Suci yang harus dimengerti apa adanya, tetapi juga ada banyak ayat Kitab Suci yang tidak bisa diterima apa adanya, tetapi harus ditafsirkan sambil memperhatikan kontext atau ayat-ayat lain dari Kitab Suci, dan ayat-ayat yang termasuk golongan kedua ini tentu saja tidak bisa dimasukkan begitu saja ke dalam credo / pengakuan iman.
Misalnya: Yoh 14:28b, dimana Yesus berkata: ‘Bapa lebih besar dari pada Aku’. Siapa yang mau menerima kata-kata ini apa adanya dan memasukkan ke dalam credo / pengakuan imannya, selain dari orang-orang sesat seperti Saksi Yehuwa / Unitarian?
Bahkan Yoh 10:30 yang menunjukkan kesatuan Yesus dengan Bapa, ataupun Fil 2:6 yang menunjukkan kesetaraan Yesus dengan Allah, tidak bisa dimasukkan begitu saja ke dalam credo tanpa penjelasan apa-apa.
Bandingkan dengan kata-kata dalam pengakuan Iman Athanasius, no 31: “Equal to the Father in respect to his divinity, less than the Father in respect to his humanity (= Setara dengan Sang Bapa dalam hal keilahianNya, lebih rendah dari Sang Bapa dalam hal kemanusiaanNya).

Bandingkan juga dengan 2 text di bawah ini, yang jelas menunjukkan bahwa Kitab Suci membutuhkan penjelasan yang baik untuk bisa dimengerti dengan benar.
·         Neh 8:9 - “Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti.
·         2Pet 3:15b-16 - “(15b) ... Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. (16) Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain”.

Penafsiran Reformed tentang Ibr 2:9 ini.

1.   Penjelasan John Owen.

a.   Dalam Kitab Suci, kata-kata ‘semua manusia’ atau ‘setiap orang’ sering digunakan dalam arti terbatas.
John Owen: “The whole question is, who these ‘all’ are, whether all men universally, or only all those of whom the apostle there treateth. That this expression, ‘every man’, is commonly in the Scripture used to signify men under some restriction, cannot be denied” (= Pertanyaannya adalah: siapa ‘semua orang’ ini, apakah itu adalah semua manusia secara universal, atau hanya mereka yang sedang dibahas oleh sang rasul di sini. Bahwa ungkapan ‘setiap orang’ ini sering digunakan dalam Kitab Suci untuk menunjuk kepada orang-orang dalam batasan tertentu, tidak bisa disangkal) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 349.
Owen memberi contoh:
·         Kol 1:28 - Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.
·         1Kor 12:7 - Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.
Dalam kedua ayat di atas ini, jelas bahwa kata-kata ‘tiap-tiap orang’ tidak mungkin berarti ‘semua dan setiap orang di seluruh dunia’.

b.   Kristus jelas hanya merasakan kematian untuk orang-orang pilihan.
John Owen: “‘To taste death’, being to drink up the cup due to sinners, certainly for whomsoever our Saviour did taste of it, he left not one drop for them to drink after him; he tasted or underwent death in their stead, that the cup might pass from them which passed not from him. Now, the cup of death passeth only from the elect, from believers; for whomsoever our Saviour tasted death, he swallowed it up into victory” (= ‘Merasakan kematian’, meminum cawan yang seharusnya untuk orang-orang berdosa, tentu untuk siapapun Juruselamat kita merasakannya, Ia tidak meninggalkan setetespun untuk mereka untuk diminum setelah Dia meminumnya; Ia merasakan atau mengalami kematian di tempat mereka, supaya cawan itu berlalu dari mereka tetapi tidak berlalu dari Dia. Nah, cawan kematian berlalu hanya dari orang-orang pilihan, dari orang-orang percaya; untuk siapapun Juruselamat kita merasakan kematian, Ia menelannya habis ke dalam kemenangan!) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 349-350.

c.   Penulis surat Ibrani ini menuliskan suratnya untuk orang-orang Yahudi, yang menganggap bahwa penebusan Yesus hanya dimaksudkan untuk bangsa Yahudi. Untuk itulah penulis surat Ibrani mengatakan bahwa ‘Yesus merasakan kematian untuk semua orang’, maksudnya bukan hanya untuk orang Yahudi tetapi juga untuk orang non Yahudi.
John Owen: “We see an evident appearing cause that should move the apostle here to call those for whom Christ died ‘all,’ - namely, because he wrote to the Hebrews, who were deeply tainted with an erroneous persuasion that all the benefits purchased by Messiah belonged alone to men of their nation, excluding all others; to root out which pernicious opinion, it behoved the apostle to mention the extent of free grace under the gospel, and to hold out a universality of God’s elect throughout the world” (= Kita melihat penyebab yang jelas yang menggerakkan sang rasul di sini menyebut mereka untuk siapa Kristus mati dengan istilah ‘semua’, yaitu karena ia menulis kepada orang-orang Ibrani / Yahudi, yang mempunyai kepercayaan yang salah bahwa semua manfaat yang dibeli oleh Mesias hanya menjadi milik dari bangsa mereka, dengan membuang semua bangsa lain. Untuk mencabut pandangan yang jahat / merusak ini, adalah perlu bahwa sang rasul menyebutkan luasnya kasih karunia cuma-cuma di bawah injil, dan bersikeras tentang keuniversalan dari orang-orang pilihan Allah di seluruh dunia) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 350.

d.   Kontext menunjukkan bahwa kata-kata ‘semua manusia’ atau ‘setiap orang’ di sini menunjuk hanya kepada orang-orang percaya / pilihan (Owen, hal 350).
Ibr 2:9-15 - “(9) Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia. (10) Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah - yang bagiNya dan olehNya segala sesuatu dijadikan -, yaitu Allah yang membawa banyak orang [KJV/RSV/NIV/NASB: ‘many sons’ (= banyak anak-anak)] kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan. (11) Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara, (12) kataNya: ‘Aku akan memberitakan namaMu kepada saudara-saudaraKu, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat,’ (13) dan lagi: ‘Aku akan menaruh kepercayaan kepadaNya,’ dan lagi: ‘Sesungguhnya, inilah Aku dan anak-anak yang telah diberikan Allah kepadaKu.’ (14) Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; (15) dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.
Kata-kata yang digaris-bawahi itu jelas tidak menunjuk kepada ‘semua orang di dunia ini’, tetapi menunjuk kepada ‘orang-orang pilihan / orang-orang percaya’ saja.

2.   Penjelasan Arthur W. Pink.
Ibr 2:9b - Ia mengalami maut bagi semua manusia.
KJV: ‘he ... should taste death for every man (= Ia ... merasakan / mengecap kematian untuk setiap orang).
Arthur W. Pink mengatakan bahwa sebetulnya dalam bahasa Yunaninya tidak ada kata ‘manusia’. Jadi terjemahannya seharusnya adalah ‘Ia mengalami maut bagi setiap ...’.
Arthur W. Pink: “There is no word whatever in the Greek corresponding to ‘man’ in our English version. In the Greek it is left in the abstract - ‘He tasted death for every.’” (= Tidak ada kata apapun dalam bahasa Yunaninya yang sesuai dengan kata ‘manusia’ dalam versi bahasa Inggris kita. Dalam bahasa Yunani itu dibiarkan dalam keadaan abstrak - ‘Ia merasakan kematian untuk setiap’) - ‘The Sovereignty of God’, hal 67.
Dan Arthur W. Pink mengatakan bahwa kata-kata selanjutnya, yaitu Ibr 2:10, harus digunakan untuk menjelaskan bagian terakhir dari Ibr 2:9 itu. Dan Ibr 2:10 berbunyi sebagai berikut: Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah - yang bagiNya dan olehNya segala sesuatu dijadikan -, yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan”.
Kata ‘orang’ yang saya garis bawahi merupakan terjemahan yang salah. KJV/RSV/NIV/NASB menterjemahkan ‘sons’ (= anak-anak), karena kata Yunani yang dipakai adalah HUIOUS yang artinya memang adalah ‘sons’ (= anak-anak).

A. W. Pink lalu mengatakan (hal 67) bahwa di sini terjadi suatu ellipsis (= penghapusan suatu kata yang sebetulnya dibutuhkan untuk pengertian kalimat itu, tetapi bisa dimengerti dari kontextnya). Dan kata itu adalah ‘sons’ (= anak-anak). Jadi, kata ‘anak-anak’ seharusnya disuplai ke dalam ayat itu tetapi ditulis dengan huruf miring (untuk menandakan bahwa dalam bahasa aslinya kata itu tidak ada).

A. W. Pink menambahkan lagi: “Thus instead of teaching the unlimited design of Christ’s death, Heb. 2:9-10 is in perfect accord with the other scriptures we have quoted which sets forth the restricted purpose in the Atonement: it was for the ‘sons’ and not the human race our Lord ‘tasted death.’” (= Karena itu Ibr 2:9-10 bukannya mengajarkan rencana / tujuan yang tak terbatas dari kematian Kristus, tetapi sesuai secara sempurna dengan ayat-ayat Kitab Suci lain yang telah kami kutip, yang menyatakan tujuan yang terbatas dalam penebusan: adalah untuk ‘anak-anak’ dan bukannya untuk seluruh umat manusia Tuhan kita ‘merasakan kematian’) - ‘The Sovereignty of God’, hal 67.

Arthur W. Pink: ‘But we see Jesus, who was made a little lower than the angels for the suffering of death, crowned with glory and honor; that He by the grace of God should taste death for every man’ (Hebrews 2:9). This passage need not detain us long. A false doctrine has been erected here on a false translation. There is no word whatever in the Greek corresponding to ‘man’ in our English version. In the Greek it is left in the abstract - ‘He tasted death for every.’ The Revised Version has correctly omitted ‘man’ from the text, but has wrongly inserted it in italics. Others suppose the word ‘thing’ should be supplied - ‘He tasted death for every thing’ - but this, too, we deem a mistake. It seems to us that the words which immediately follow explain our text: ‘For it became Him, for whom are all things, and by whom are all things, in bringing many sons unto glory, to make the captain of their salvation perfect through sufferings.’ It is of ‘sons’ the apostle is here writing, and we suggest an ellipsis of ‘son’ - thus: ‘He tasted death for every’ - and supply son in italics. Thus instead of teaching the unlimited design of Christ’s death, Hebrews 2:9, 10 is in perfect accord with the other Scriptures we have quoted which set forth the restricted purpose in the Atonement: it was for the ‘sons’ and not the human race our Lord ‘tasted death’ - ‘The Sovereignty of God’ (AGES), hal 63-64.
Catatan: kutipan dari A. W. Pink ini tidak saya terjemahkan karena intinya sudah saya berikan di atas.

i)          Pembahasan 2Pet 3:9.
Tentang 2Pet 3:9 - “Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.

Ayat ini biasanya lebih sering digunakan untuk menentang doktrin tentang Predestinasi, tetapi kadang-kadang / bisa juga digunakan untuk menyerang doktrin tentang Limited Atonement (= Penebusan Terbatas) ini.

Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dan diartikan dengan benar tentang ayat ini, yaitu:
·         kata ‘menghendaki’.
·         kata-kata ‘jangan ada’ dan ‘semua orang’.

Kalau ‘kehendak’ di sini diartikan sebagai kehendak / rencana Allah yang kekal yang tidak mungkin gagal (Ayub 42:2b), dan kata-kata ‘jangan ada’ dan ‘semua orang’ diartikan ‘semua orang secara mutlak’, maka ayat ini akan mengajarkan Universalisme (= ajaran yang mengatakan bahwa akhirnya semua orang akan selamat), yang jelas merupakan ajaran sesat, dan yang jelas ditentang baik oleh Arminianisme maupun Reformed / Calvinisme.

Untuk menghindari ajaran Universalisme ini, ada 2 cara untuk menafsirkan 2Pet 3:9 ini:

1.   Kata ‘menghendaki’ ditafsirkan ‘mengingini’ atau diartikan sebagai ‘kehendak yang bisa tidak terjadi’; sedangkan kata-kata ‘jangan ada’ dan ‘semua / semua orang’ diartikan secara mutlak.

Barnes’ Notes: “‘Not willing that any should perish.’ That is, he does not desire it or wish it. His nature is benevolent, and he sincerely desires the eternal happiness of all, ... the passage does not refer to what God will do as the final Judge of mankind, but to what are his feelings and desire now towards men. ... it would be agreeable to the nature of God, and to his arrangements in the plan of salvation, if all men should come to repentance, and accept the offers of mercy; ... since it is in accordance with his nature that he should desire that all men may be saved; it may be presumed that he has made an arrangement by which it is possible that they should be” (= ‘Tidak menghendaki siapapun untuk binasa’. Yaitu, Ia tidak menginginkannya atau mengharapkannya. SifatNya adalah penuh kebaikan, dan Ia dengan sungguh-sungguh menginginkan kebahagiaan kekal dari semua, ... text ini tidak menunjuk pada apa yang Allah akan lakukan sebagai Hakim terakhir bagi umat manusia, tetapi pada perasaanNya dan keinginanNya sekarang ini tentang manusia. ... adalah cocok dengan sifat dari Allah, dan dengan pengaturanNya dalam rencana keselamatan, jika semua orang bertobat, dan menerima tawaran belas kasihan; ... karena itu cocok dengan sifatNya bahwa Ia menginginkan supaya semua orang bisa diselamatkan; bisa dianggap bahwa Ia telah membuat suatu pengaturan / rencana yang memungkinkan mereka untuk diselamatkan) - hal 1458.
Catatan:
·         kalau kita membandingkan kata-kata Barnes di sini dengan kata-katanya di atas (tentang Ibr 2:9), maka terlihat bahwa ia tidak konsisten dengan kata-katanya sendiri, karena di sini ia tidak menerima kata-kata Kitab Suci itu apa adanya, tetapi menafsirkannya / menjelaskannya untuk menghindari Universalisme.
·         kata-kata Barnes yang saya beri garis bawah ganda jelas berbau ‘Universal Atonement’ (= Penebusan Universal).

Adam Clarke: “as he is willing that all should come to repentance, consequently he has never devised nor decreed the damnation of any man, nor has he rendered it impossible for any soul to be saved, either by necessitating him to do evil, that he might die for it, or refusing him the means of recovery, without which he could not be saved” (= karena Ia menghendaki supaya semua bertobat, konsekwensinya Ia tidak pernah merencanakan ataupun menetapkan kehancuran / hukuman kekal dari siapapun, ataupun membuat mustahil bagi jiwa yang manapun untuk diselamatkan, apakah itu dilakukan dengan memastikan orang itu untuk melakukan kejahatan, supaya ia mati karenanya, atau menolak untuk memberinya cara pemulihan, tanpa hal mana ia tidak bisa diselamatkan) - hal 892.

Baik Barnes maupun Clarke bukan hanya menghindari Universalisme, tetapi juga mengarahkan ayat ini pada Arminianisme. Tetapi sebetulnya memungkinkan untuk mengambil tafsiran pertama ini tanpa mengarahkannya pada Arminianisme, seperti yang kelihatannya dilakukan oleh Calvin sendiri. Calvin mengatakan bahwa kehendak Allah di sini tidak menunjuk kepada rencana kekal dari Allah, tetapi menunjuk kepada kehendak Allah seperti yang dinyatakan dalam Injil, yang menawarkan keselamatan kepada semua orang.

Calvin: “But it may be asked, If God wishes none to perish, why is it that so many do perish? To this my answer is, that no mention is here made of the hidden purpose of God, according to which the reprobate are doomed to their own ruin, but only of his will as made known to us in the gospel. For God there stretches forth his hand without a difference to all, but lays hold only of those, to lead them to himself, whom he has chosen before the foundation of the world” [= Tetapi bisa ditanyakan: Jika Allah tidak menginginkan seorangpun untuk binasa, mengapa ada banyak yang binasa? Terhadap pertanyaan ini jawaban saya adalah bahwa di sini tidak dibicarakan tentang rencana yang tersembunyi dari Allah, yang menetapkan orang-orang yang ditentukan untuk binasa (reprobate) pada kehancuran mereka sendiri, tetapi hanya tentang kehendakNya seperti yang dinyatakan kepada kita dalam injil. Karena disana Allah mengulurkan tanganNya tanpa pembedaan kepada semua orang, tetapi hanya menangkap mereka, untuk membimbing mereka kepada diriNya sendiri, yang telah Ia pilih sebelum penciptaan dunia ini] - hal 419-420.

Bandingkan juga dengan:
a.   Yeh 18:23 - Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?”.
b.   Yeh 18:32 - Sebab Aku tidak berkenan kepada kematian seseorang yang harus ditanggungnya, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Oleh sebab itu, bertobatlah, supaya kamu hidup!’”.
c.   Yeh 33:11 - Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?”.

2.   Kata ‘menghendaki’ diartikan sebagai rencana yang kekal dari Allah, tetapi kata-kata ‘jangan ada’ dan ‘semua orang’ tidak diartikan secara mutlak, tetapi diartikan sesuai dengan kontexnya.

Pertama-tama kita perlu untuk mengetahui terjemahan yang benar dari ayat ini.
2Pet 3:9 - “Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua (orang) berbalik dan bertobat”.
Kata ‘orang’ saya letakkan dalam tanda kurung, karena sebetulnya tidak ada dalam bahasa Yunaninya.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘all’ (= semua).

Selanjutnya, kata-kata ‘jangan ada’ maupun ‘semua’ harus diartikan sesuai dengan kontextnya, yang membicarakan ‘kamu’ (2Pet 3:9a). Untuk menafsirkan kata ‘kamu’ ini maka:

a.   Perlu diperhatikan bahwa Petrus menujukan suratnya ini kepada ‘mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus’ (2Pet 1:1). Ini adalah orang-orang yang sama dengan yang dikatakan ‘dianugerahi janji-janji yang berharga dan yang sangat besar’ (2Pet 1:4). Ini jelas menunjuk kepada orang-orang Kristen.

b.   Kita harus memperhatikan kontext dari 2Pet 3 ini, dan akan terlihat bahwa ‘kamu’ ini adalah orang-orang yang:
·         disebut dengan istilah ‘saudara-saudaraku yang kekasih’ (2Pet 3:1).
·         dikontraskan dengan ‘pengejek-pengejek’ / ‘orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya’ dalam 2Pet 3:3, untuk siapa digunakan kata ganti orang ‘mereka / nya’.

2Pet 3:1-9 - “(1) Saudara-saudara yang kekasih, ini sudah surat yang kedua, yang kutulis kepadamu. Di dalam kedua surat itu aku berusaha menghidupkan pengertian yang murni oleh peringatan-peringatan, (2) supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu. (3) Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. (4) Kata mereka: ‘Di manakah janji tentang kedatanganNya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.’ (5) Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air, dan bahwa oleh air itu, (6) bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah. (7) Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik. (8) Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. (9) Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.

Bacaan ini memang membicarakan dan mengkontraskan 2 golongan. Mula-mula Petrus berbicara kepada golongan yang pertama, yaitu ‘saudara-saudara yang kekasih’ (ay 1), dan ia menggunakan kata ‘kamu’ atau ‘mu’ (ay 1,2,3).

Lalu Petrus mulai berbicara tentang golongan yang kedua, yaitu ‘pengejek-pengejek’ atau ‘orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya’ (ay 3b), dan ia menggunakan kata ‘mereka’ atau ‘nya’ (ay 3b,4,5).

Tetapi mulai ay 8 Petrus kembali berbicara kepada ‘saudara-saudara yang kekasih’ (ay 8a), dan karena itu ia kembali menggunakan kata ‘kamu’ (ay 8,9).
Karena itu jelaslah bahwa kata-kata ‘kamu’ dan ‘semua orang’ dalam ay 9 menunjuk kepada orang kristen / orang pilihan.

John Owen: “The text is clear, that it is all and only the elect whom he would not have to perish” (= Textnya jelas, bahwa adalah semua dan hanya orang pilihan yang tidak Ia kehendaki untuk binasa) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 349.


j)    Pembahasan Kol 1:20 - dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diriNya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.

Ayat ini agak berbeda dengan ayat-ayat lain dalam kelompok ini, karena tidak menggunakan kata-kata ‘semua orang’, tetapi ‘segala sesuatu’. Ini saja sudah membingungkan, apalagi masih ditambah dengan anak kalimat selanjutnya yang mengatakan  - baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.

Adam Clarke (tentang Kol 1:20): “‘Things in earth, or things in heaven.’ ... If the phrase be not a kind of collective phrase to signify all the world, or all mankind, as Dr. Hammond supposed the things in heaven may refer, according to some, to those persons who died under the Old Testament dispensation, and who could not have a title to glory but through the sacrificial death of Christ: and the apostle may have intended these merely to show, that without this sacrifice no human beings could be saved, not only those who were then on the earth, and to whom in their successive generations the Gospel should be preached, but even those who had died before the incarnation; and, as those of them that were faithful were now in a state of blessedness, they could not have arrived there but through the blood of the cross, for the blood of calves and goats could not take away sin. After all, the apostle probably means the Jews and the Gentiles; the state of the former being always considered a sort of divine or celestial state, while that of the latter was reputed to be merely earthly, without any mixture of spiritual or heavenly good. It is certain that a grand part of our Lord’s design, in his incarnation and death, was to reconcile the Jews and the Gentiles, and make them one fold under himself, the great Shepherd and Bishop of souls. That the enmity of the Jews was great against the Gentiles is well known, and that the Gentiles held them in supreme contempt is not less so. It was therefore an object worthy of the mercy of God to form a scheme that might reconcile these two grand divisions of mankind; and, as it was his purpose to reconcile and make them one, we learn from this circumstance, as well as from many others, that his design was to save the whole human race (= ‘Hal-hal di bumi, atau hal-hal di surga’. ... Jika ungkapan ini bukannya sejenis ungkapan kolektif untuk menunjuk seluruh dunia, atau semua umat manusia, seperti Dr. Hammond menganggap ‘hal-hal di surga’ bisa menunjuk, maka menurut sebagian  orang, itu menunjuk kepada orang-orang itu yang telah mati dalam jaman Perjanjian Lama, dan yang tidak bisa mempunyai suatu hak pada kemuliaan kecuali melalui kematian yang bersifat pengorbanan dari Kristus: dan sang rasul bisa memaksudkan orang-orang ini semata-mata untuk menunjukkan, bahwa tanpa korban ini tak ada manusia yang bisa diselamatkan, bukan hanya mereka yang pada saat itu ada di bumi, dan bagi siapa dalam generasi-generasi mereka yang berikutnya Injil harus diberitakan, tetapi bahkan mereka yang telah mati sebelum inkarnasi; dan, karena mereka yang setia sekarang ada dalam keadaan diberkati, mereka tidak bisa telah sampai di sana kecuali melalui darah dari salib, karena darah dari lembu dan kambing tidak bisa menghapus dosa. Bagaimanapun juga, sang rasul mungkin memaksudkan orang-orang Yahudi dan orang-orang non Yahudi; keadaan yang pertama selalu dianggap sebagai sejenis keadaan ilahi atau surgawi, sementara keadaan yang terakhir dianggap sebagai semata-mata duniawi, tanpa campuran apapun dari kebaikan rohani atau surgawi. Adalah pasti bahwa suatu bagian yang agung / hebat dari rancangan Tuhan kita, dalam inkarnasi dan kematianNya, adalah untuk mendamaikan orang-orang Yahudi dan orang-orang non Yahudi, dan membuat mereka satu kandang di bawah diriNya sendiri, Gembala yang Agung dan Uskup dari jiwa-jiwa (1Pet 2:25). Bahwa permusuhan dari orang-orang Yahudi sangat besar terhadap orang-orang non Yahudi merupakan sesuatu yang sangat terkenal, dan bahwa orang-orang non Yahudi menganggap mereka dalam kejijikan yang tertinggi juga tidak kurang dikenal. Karena itu, itu merupakan suatu obyek / tujuan yang layak dari belas kasihan Allah untuk membentuk suatu rencana yang bisa memperdamaikan dua bagian besar dari umat manusia ini; dan, sebagaimana merupakan rencana / tujuanNya untuk memperdamaikan dan membuat mereka satu, kita belajar dari keadaan ini, maupun dari banyak yang lain, bahwa rancanganNya adalah untuk menyelamatkan seluruh umat manusia).
Catatan: kontext dari Kol 1:20 itu tidak memungkinkan untuk mengartikan kata-kata ‘segala sesuatu’ hanya kepada manusia yang manapun. Kelihatannya kata-kata ‘segala sesuatu’ itu harus menunjuk kepada ‘semua ciptaan’ dalam arti yang mutlak.

Kol 1:14-22 - “(14) di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa. (15) Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, (16) karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. (17) Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. (18) Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. (19) Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, (20) dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diriNya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. (21) Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhiNya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, (22) sekarang diperdamaikanNya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematianNya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapanNya.”.

Lenski (tentang Kol 1:20): All would be perfectly clear and simple if Paul had not written ‘all the things - whether those on the earth or those in the heavens,’ especially the latter. We have no difficulty in understanding the effect of Christ’s redemption on the world in view of Rom. 8:19, etc., and Rev. 21:1, etc. The difficulty lies in a reference to the good angels in heaven and a statement such as that found in Heb. 2:16 (= Semua akan jelas dan sederhana seandainya Paulus tidak menulis ‘segala sesuatu - apakah hal-hal di bumi atau hal-hal di surga’, khususnya yang terakhir. Kita tidak mempunyai kesukaran dalam mengerti akibat / hasil dari penebusan Kristus terhadap dunia / alam semesta mengingat Ro 8:19, dsb., dan Wah 21:1, dsb. Kesukarannya terletak dalam suatu hubungan dengan malaikat-malaikat yang baik di surga dan suatu pernyataan seperti yang terdapat dalam Ibr 2:16).
Ro 8:19-22 - “(19) Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. (20) Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, (21) tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. (22) Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin”.
Wah 21:1 - “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi”.
Ibr 2:16 - “Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani”.

Lenski (tentang Kol 1:20): A great variety of interpretations is offered, among the most unlikely being an angelology which is built up on the basis of Jewish material and is then attributed to Paul, which claims that the good angels were faulty and thus themselves needed a reconciliation and the making of peace. ... It is enough to say that the Scriptures know of no moral fault in the good angels. ... The difficulty clears when we note that not all the objects of the God-man’s reconciling act are affected alike by that act, but that each class is affected according to its nature, its condition, and its relation. We should also remember that ‘all creation’ is a unit, is never viewed otherwise by the Scriptures, and always includes the whole angel world. ‘All creation’ was disrupted: sin arose in heaven and entered men and the physical universe. The Son of God came to the rescue. ... His work of rescue was accomplished ‘through the blood of his cross.’ Now the effects. The evil angels were eliminated eo ipso. The blood of the cross has the same effect for all men who follow these angels and despise this blood; it rescues only the believers (v. 13). This rescue includes the physical creature world. How this is to be understood is shown in Rom. 8:19, etc. This creature world was ‘subject to vanity not willingly,’ it never willed sin. It shall be affected accordingly, i.e., according to its nature and its relation to us: a glorious liberation shall turn it into a new earth (Rom. 8:20), one that is joined to heaven (Rev. 21:1, etc.). Thus as ‘the blood of the cross’ has its effects by eo ipso excluding the evil angels and then also all unbelieving men, as it establishes the eternal kingdom of the Son of God’s love, it has its effects also on the good angels and on all ‘the things in the heaven,’ not, indeed, as though they needed a change in themselves (ἀποκαταλλάσσειν), a ‘being made other’ (ἄλλος) in themselves, but as requiring a change and a new relation to the restored universe. Once there was war (note, for instance, Rev. 12:7) that involved all the good angels; by his cross ‘the first-born from the dead’ has created peace, and this peace shall soon be absolute when the whole universe, heaven and earth united in one (Rev. 21:1, etc.), shall be one kingdom of eternal peace. The cross affects ‘all creation.’ Each part of it is not affected in the identical way but according to the nature, the condition, and the relation of each part to the whole. We distinguish four grand parts. The cross affects each of them, but each of them differently: evil angels - good angels - man, believing or unbelieving - the physical universe. When we say ‘the blood of his cross,’ this means the act of reconciliation, the act of establishing peace. No less than ‘all creation’ is involved in the act of ‘the first-born of all creation.’ ... The root idea lies in ἄλλος, ‘other,’ placing into a relation or a situation that is very much ‘other’ than the existing one. ... The change was made by his establishing peace. We see the full, eternal results in his everlasting kingdom of peace. [= Sejumlah besar penafsiran yang bermacam-macam ditawarkan, di antara yang paling tidak mungkin adalah doktrin tentang malaikat yang dibangun pada dasar dari bahan Yahudi dan lalu dihubungkan dengan Paulus, yang mengclaim bahwa malaikat-malaikat yang baik juga bersalah / bercacat dan dengan demikian mereka sendiri membutuhkan suatu pendamaian dan pembuatan damai. ... Adalah cukup untuk mengatakan bahwa Kitab Suci tidak mengenal kesalahan moral dalam malaikat-malaikat yang baik. ... Kesukarannya hilang pada waktu kita memperhatikan bahwa tidak semua obyek-obyek dari tindakan pendamaian manusia-Allah dipengaruhi secara sama oleh tindakan itu, tetapi bahwa setiap golongan dipengaruhi sesuai dengan sifat dasarnya / hakekatnya, kondisi / keadaannya, dan hubungannya. Kita juga harus mengingat bahwa ‘semua ciptaan’ merupakan satu unit, yang tidak pernah dilihat secara berbeda oleh Kitab Suci, dan selalu mencakup seluruh dunia malaikat. ‘Semua ciptaan’ dikacaukan: dosa muncul di surga dan memasuki manusia dan alam semesta fisik. Anak Allah datang untuk menolong. ... Pekerjaan pertolonganNya tercapai ‘melalui darah dari salibNya’. Sekarang akibat / hasilnya. Malaikat-malaikat yang jahat disingkirkan dengan sendirinya. Darah dari salib mempunyai hasil / akibat yang sama untuk semua manusia yang mengikuti malaikat-malaikat yang jahat ini dan menghina / memandang rendah darah ini; itu hanya menolong orang-orang percaya (ay 13). Pertolongan ini mencakup dunia makhluk-makhluk fisik. Bagaimana ini dimengerti ditunjukkan dalam Ro 8:19-dst. Dunia makhluk ciptaan ini ‘tunduk pada kesia-siaan tidak dengan sukarela / bukan oleh kehendaknya sendiri’; ia tidak pernah mau berdosa. Itu akan dipengaruhi sesuai dengan hal itu, yaitu sesuai dengan sifat dasar / hakekatnya dan hubungannya dengan kita: suatu pembebasan yang mulia akan mengubahnya menjadi bumi yang baru (Ro 8:20), suatu bumi yang bergabung dengan surga (Wah 21:1-dst.). Jadi, sama seperti ‘darah dari salib’ mempunyai akibat / hasilnya yang dengan sendirinya mengeluarkan malaikat-malaikat yang jahat dan lalu juga semua orang-orang yang tidak percaya, pada waktu itu menegakkan kerajaan kekal dari kasih Anak Allah, itu juga mempunyai akibat / hasil pada malaikat-malaikat yang baik dan pada semua ‘hal-hal di surga’, memang bukan, seakan-akan mereka membutuhkan suatu perubahan dalam diri mereka sendiri (ἀποκαταλλάσσειν / APOKATALLASSEIN), suatu ‘pembuatan menjadi yang lain’ (ἄλλος / ALLOS) dalam diri mereka sendiri, tetapi sebagai membutuhkan suatu perubahan dan suatu hubungan yang baru pada alam semesta yang dipulihkan. Pernah terjadi suatu perang (perhatikan, sebagai contoh, Wah 12:7) yang melibatkan semua malaikat-malaikat yang baik; oleh salibNya ‘yang sulung dari orang mati’ telah menciptakan damai, dan damai ini akan segera menjadi mutlak pada waktu seluruh alam semesta, surga / langit dan bumi bersatu menjadi satu (Wah 21:1-dst), akan menjadi satu kerajaan dari damai yang kekal. Salib ini mempengaruhi ‘semua ciptaan’. Setiap bagiannya tidak dipengaruhi dengan cara yang sama, tetapi sesuai dengan sifat dasar / hakekat, kondisi / keadaan, dan hubungan dari setiap bagian dengan keseluruhannya. Kami membedakan empat bagian besar. Salib mempengaruhi setiap mereka, tetapi masing-masing dari mereka secara berbeda: malaikat-malaikat yang jahat - malaikat-malaikat yang baik - manusia, yang percaya atau yang tidak percaya - alam semesta secara fisik. Pada waktu kami mengatakan ‘darah dari salibNya’ ini berarti tindakan pendamaian, tindakan menegakkan damai. Tak kurang dari ‘semua ciptaan’ tercakup dalam tindakan dari ‘yang sulung dari semua ciptaan’. ... Gagasan dasar terletak dalam ἄλλος / ALLOS, ‘yang lain’, menempatkan ke dalam suatu hubungan atau keadaan yang sangat berbeda dari pada hubungan atau keadaan yang ada pada saat ini. ... Perubahan dibuat oleh penegakan damaiNya. Kita melihat hasil-hasil yang penuh, kekal, dalam kerajaan damai yang kekalNya.].
Kol 1:13 - “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan AnakNya yang kekasih;”.
Ibr 2:16 - “Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani”.
Ro 8:19-20 - “(19) Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. (20) Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya”.
Wah 12:7 - “Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya”.
Wah 21:1 - “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi”.
Catatan:
·         tentang bagian yang saya beri garis bawah ganda, bandingkan dengan tafsiran Calvin di bawah.
·         saya tak tahu persis apa arti dari kata-kata Latin EO IPSO yang Lenski gunakan 2x dalam kutipan ini. Tetapi kira-kira artinya adalah ‘by itself’ (= dengan sendirinya).
·         saya menganggap contoh Wah 12:7 itu sama sekali tidak cocok, dalam dalam ayat itu malaikat-malaikat yang baik berperang melawan malaikat-malaikat yang jahat, lalu darah Kristus mendamaikan apanya?
·         Yang jelas, Lenski tidak menganggap bahwa Kol 1:20 ini menentang ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas).

Calvin (tentang Kol 1:20): “‘Both upon earth and in heaven.’ ... There were, it is true, no absurdity in extending it to all without exception; ... I prefer to understand it as referring to angels and men; and as to the latter, there is no difficulty as to their having need of a peace maker in the sight of God. ... Hence the nature of the peace making between God and men was this, that enmities have been abolished through Christ, and thus God becomes a Father instead of a Judge. Between God and angels the state of matters is very different, for there was there no revolt, no sin, and consequently no separation. It was, however, necessary that angels, also, should be made to be at peace with God, for, being creatures, they were not beyond the risk of falling, had they not been confirmed by the grace of Christ. This, however, is of no small importance for the perpetuity of peace with God, to have a fixed standing in righteousness, so as to have no longer any fear of fall or revolt. Farther, in that very obedience which they render to God, there is not such absolute perfection as to give satisfaction to God in every respect, and without the need of pardon. And this beyond all doubt is what is meant by that statement in Job 4:18, He will find iniquity in his angels. For if it is explained as referring to the devil, what mighty thing were it? But the Spirit declares there, that the greatest purity is vile, if it is brought into comparison with the righteousness of God. We must, therefore, conclude, that there is not on the part of angels so much of righteousness as would suffice for their being fully joined with God. They have, therefore, need of a peace maker, through whose grace they may wholly cleave to God. Hence it is with propriety that Paul declares, that the grace of Christ does not reside among mankind alone, and on the other hand makes it common also to angels. Nor is there any injustice done to angels, in sending them to a Mediator, that they may, through his kindness, have a well grounded peace with God (= ‘Baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga’. ... Adalah benar bahwa tak ada kemustahilan / kelucuan untuk memperluasnya kepada semua tanpa kecuali; ... Saya lebih memilih untuk mengartikannya sebagai menunjuk kepada malaikat-malaikat dan manusia; dan berkenaan dengan yang terakhir, di sana tidak ada kesukaran berkenaan dengan kebutuhan mereka akan seorang pembuat damai dalam pandangan Allah. ... Maka sifat dasar dari pembuatan damai antara Allah dan manusia adalah ini, bahwa permusuhan telah dihapuskan melalui Kristus, dan dengan demikian Allah menjadi seorang Bapa dan bukannya seorang Hakim. Antara Allah dan malaikat-malaikat keadaannya sangat berbeda, karena di sana tidak ada pemberontakan, tak ada dosa, dan sebagai akibatnya, tak ada pemisahan. Tetapi adalah perlu bahwa malaikat-malaikat, juga, harus didamaikan dengan Allah, karena, sebagai makhluk-makhluk ciptaan, mereka tidak ada di luar resiko untuk jatuh, seandainya mereka tidak diteguhkan oleh kasih karunia Kristus. Ini, bagaimanapun, bukanlah suatu kepentingan yang kecil untuk keabadian dari damai dengan Allah, untuk mempunyai kedudukan yang tetap dalam kebenaran, sehingga tidak lagi mempunyai rasa takut apapun tentang kejatuhan atau pemberontakan. Selanjutnya, dalam ketaatan yang mereka berikan kepada Allah, di sana tidak ada kesempurnaan mutlak sehingga memberikan kepuasan kepada Allah dalam setiap segi / hal, dan tanpa kebutuhan pengampunan. Dan ini tanpa diragukan adalah apa yang dimaksudkan dengan pernyataan itu dalam Ayub 4:18, Ia akan mendapati kesalahan dalam malaikat-malaikatNya. Karena jika itu dijelaskan sebagai menunjuk kepada Iblis, hal hebat apakah itu? Tetapi Roh menyatakan di sana, bahwa kemurnian yang terbesar adalah kotor / buruk / hina, jika itu dibawa ke dalam perbandingan dengan kebenaran Allah. Karena itu, kita harus menyimpulkan bahwa pada malaikat-malaikat tidak ada kebenaran yang begitu banyak sehingga cukup bagi penggabungan mereka dengan Allah. Karena itu, mereka mempunyai kebutuhan akan seorang pembuat damai, melalui kasih karunia siapa mereka bisa sepenuhnya berpegang erat-erat kepada Allah. Maka dengan benar Paulus menyatakan, bahwa kasih karunia Kristus tidak tinggal / terletak di antara manusia saja, dan pada sisi yang lain membuatnya umum bagi malaikat-malaikat juga. Juga di sana tidak ada ketidak-adilan yang dilakukan terhadap malaikat-malaikat, dalam mengutus mereka kepada seorang Pengantara, supaya mereka bisa, melalui kebaikanNya, mempunyai damai yang mempunyai dasar yang baik dengan Allah).

Ayub 4:18 - “Sesungguhnya, hamba-hambaNya tidak dipercayaiNya, malaikat-malaikatNya didapatiNya tersesat.
KJV: ‘and his angels he charged with folly:’ (= dan malaikat-malaikatNya Ia tuduh dengan kebodohan).
RSV: ‘and his angels he charges with error;’ (= dan malaikat-malaikatNya Ia tuduh dengan kesalahan).
NIV: ‘if he charges his angels with error,’ (= jika ia menuduh malaikat-malaikatNya dengan kesalahan).
NASB: ‘And against His angels He charges error.’ (= Dan terhadap malaikat-malaikatnya Ia menuduhkan kesalahan).

Bdk. Ayub 15:15 - “Sesungguhnya, para suciNya tidak dipercayaiNya, seluruh langitpun tidak bersih pada pandanganNya.
KJV: ‘Behold, he putteth no trust in his saints; yea, the heavens are not clean in his sight’ (= Lihatlah, Ia tidak meletakkan kepercayaan dalam orang-orang kudusNya; ya, surga tidak bersih dalam pandanganNya).
RSV: ‘Behold, God puts no trust in his holy ones, and the heavens are not clean in his sight’ (= Lihatlah, Allah tidak meletakkan kepercayaan dalam para suciNya, dan surga tidak bersih dalam pandanganNya).
NIV: ‘If God places no trust in his holy ones, if even the heavens are not pure in his eyes’ (= Jika Allah tidak menempatkan kepercayaan dalam para suciNya, jika bahkan surga tidak murni dalam pandangan mataNya).
NASB: “‘Behold, He puts no trust in His holy ones, And the heavens are not pure in His sight” (= ‘Lihatlah, Ia tidak meletakkan kepercayaan dalam para suciNya, Dan surga tidak murni dalam pandanganNya).
Catatan: Kata-kata ‘His holy ones’ (= para suciNya) rasanya lebih memungkinkan untuk menunjuk kepada malaikat-malaikat yang baik, bukan pada orang-orang kudus (KJV) yang sudah masuk surga.

Lalu bagaimana dengan Ibr 2:14-17 - “(14) Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; (15) dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. (16) Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani. (17) Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa”?

Saya berpendapat bahwa Ibr 2:16 berbicara tentang malaikat-malaikat yang jatuh; sedangkan Calvin berbicara tentang malaikat-malaikat yang baik.

Calvin (tentang Kol 1:20): “Should any one, on the pretext of the universality of the expression, move a question in reference to devils, whether Christ be their peace-maker also? I answer, No, not even of the wicked men: though I confess that there is a difference, inasmuch as the benefit of redemption is offered to the latter, but not to the former. This, however, has nothing to do with Paul’s words, which include nothing else than this, that it is through Christ alone, that, all creatures, who have any connection at all with God, cleave to him.” (= Jika ada orang, dengan dalih keuniversalan pernyataan ini, menanyakan pertanyaan berkenaan dengan setan, apakah Kristus juga adalah pendamai mereka? Saya menjawab, Tidak, bahkan tidak tentang orang-orang jahat: sekalipun saya mengakui bahwa ada perbedaan, karena keuntungan penebusan ditawarkan kepada orang-orang jahat, tetapi tidak kepada setan. Tetapi ini tak ada hubungannya dengan kata-kata Paulus, yang tidak mencakup yang lain selain ini, bahwa melalui Kristus sajalah bahwa semua makhluk-makhluk ciptaan, yang mempunyai hubungan apapun dengan Allah berpegang erat-erat kepada Dia).
Catatan: yang dimaksud dengan ‘wicked men’ (= orang-orang jahat), jelas adalah orang jahat yang tidak percaya, atau ‘reprobate’ (= orang yang ditentukan untuk binasa).

William Hendriksen (tentang ay 15-20): The passage also clearly teaches that Christ’s redemptive activity is universe-embracing. In Christ God was pleased to reconcile all things to himself. See on 1:20 (= Text ini juga dengan jelas mengajarkan bahwa aktivitas penebusan Kristus mencakup alam semesta. Dalam Kristus Allah berkenan untuk memperdamaikan segala sesuatu dengan diriNya sendiri. Lihat tentang 1:20).

William Hendriksen (tentang ay 20): “The real meaning of Col. 1:20 is probably as follows: Sin ruined the universe. It destroyed the harmony between one creature and the other, also between all creatures and their God. Through the blood of the cross (cf. Eph 2:11-18), however, sin, in principle, has been conquered. The demand of the law has been satisfied, its curse born (Rom. 3:25; Gal. 3:13). Harmony, accordingly, has been restored. Peace was made. Through Christ and his cross the universe is brought back or restored to its proper relationship to God in the sense that as a just reward of his obedience Christ was exalted to the Father’s right hand, from which position of authority and power he rules the entire universe in the interest of the church and to the glory of God. ... There is, of course, a difference in the manner in which various creatures submit to Christ’s rule and are ‘reconciled to God.’ Those who are and remain evil, whether men or angels, submit ruefully, unwillingly. In their case peace, harmony, is imposed, not welcomed. ... The good angels, on the other hand, submit joyfully, eagerly. So do also the redeemed among men. This group includes the members of the Colossian church as far as they are true believers, a thought to which Paul gives expression in the following verses” (= Arti yang sebenarnya dari Kol 1:20 mungkin adalah sebagai berikut: Dosa merusak alam semesta. Itu menghancurkan keharmonisan antara satu makhluk dengan makhluk yang lain, juga antara semua makhluk ciptaan dan Allah mereka. Melalui darah dari salib (bdk. Ef 2:11-18), bagaimanapun, dosa, pada dasarnya, telah ditaklukkan. Tuntutan dari hukum Taurat telah dipuaskan, kutuknya telah dipikul / ditanggung (Ro 3:25; Gal 3:13). Karena itu, keharmonisan telah dipulihkan. Damai telah dibuat. Melalui Kristus dan salibNya alam semesta dibawa kembali atau dipulihkan pada hubungan yang benar dengan Allah dalam arti bahwa sebagai suatu pahala yang benar / adil bagi ketaatanNya, Kristus telah ditinggikan pada tangan kanan Bapa, dari posisi otoritas dan kuasa mana Ia memerintah seluruh alam semesta demi kepentingan dari gereja dan bagi kemuliaan Allah. ... Tentu di sana ada suatu perbedaan dalam cara dalam mana bermacam-macam makhluk ciptaan tunduk pada pemerintahan Kristus dan ‘diperdamaikan dengan Allah’. Mereka yang adalah jahat dan tetap jahat, apakah itu manusia atau malaikat, tunduk dengan sedih / menyesal, dengan terpaksa. Dalam kasus mereka, damai, keharmonisan, dipaksakan / ditentukan, bukan diterima dengan baik. ... Pada sisi yang lain, malaikat-malaikat yang baik tunduk dengan sukacita dan dengan keinginan yang besar. Demikian juga dengan orang-orang yang ditebus dari antara manusia. Kelompok ini mencakup anggota-anggota gereja Kolose sejauh mereka adalah orang-orang percaya yang sejati, suatu pemikiran pada mana Paulus memberikan pernyataan dalam ayat-ayat yang berikutnya) - hal 81-82.

Herbert M. Carson (Tyndale): “this reconciliation is not limited to men. It applies to the whole order of created being. It is significant that Paul does not here say ‘all men’, which would be contrary to his normal teaching, but ‘all things’. The phrase is indefinite and suggests the completeness of the plan of God. Not only is sinful man reconciled, but the created order which has been made subject to vanity because of sin (see Rom. 8:20 ff.) will share also in the fruit of the mighty act of atonement of the cross. It is also significant that in this wide sweep of the scope of reconciliation Paul does not include ‘things under the earth’ as in Philippians 2:10. There he is dealing with the ultimate sovereignty of Christ; and so he insists that one day even Satan and his hosts will be forced to bend the knee. But here he is dealing with reconciliation and its outcome as seen in a new heaven and a new earth wherein dwells righteousness; but from this all finally rebellious beings, whether devils or men, are excluded” (= pendamaian ini tidak dibatasi bagi / pada manusia. Itu diterapkan kepada semua golongan dari mahkluk ciptaan. Merupakan sesuatu yang penting / berarti bahwa Paulus di sini tidak mengatakan ‘semua manusia / orang’, yang akan bertentangan dengan pengajaran normalnya, tetapi ‘segala sesuatu’. Ungkapan ini tak terbatas dan memberikan kesan kelengkapan / ke-menyeluruh-an dari rencana Allah. Bukan hanya manusia berdosa diperdamaikan, tetapi tata tertib / keteraturan ciptaan yang telah dijadikan sasaran kesia-siaan karena dosa (lihat Ro 8:20-dst) juga akan ikut ambil bagian dalam buah dari tindakan penebusan yang hebat dari salib. Juga merupakan sesuatu yang penting / berarti bahwa dalam keluasan yang lebar dari ruang lingkup dari pendamaian ini Paulus tidak mencakup ‘hal-hal di bawah bumi’ seperti dalam Fil 2:10. Di sana ia sedang menangani kedaulatan maximum dari Kristus; maka ia berkeras bahwa suatu hari bahkan Iblis dan pasukannya akan dipaksa untuk berlutut. Tetapi di sini ia sedang menangani perdamaian dan hasil / akibatnya seperti yang terlihat dalam langit yang baru dan bumi yang baru dimana tinggal kebenaran; tetapi dari hal ini akhirnya semua makhluk-makhluk pemberontak, apakah setan-setan atau manusia, dikeluarkan) - hal 46-47.
Ro 8:19-23 - “(19) Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. (20) Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, (21) tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. (22) Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. (23) Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita”.
Fil 2:10 - “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi.
2Pet 3:13 - “Tetapi sesuai dengan janjiNya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.

A. T. Robertson: The use of ta ‎panta (‘the all things,’ ‘the universe’) as if the universe were somehow out of harmony reminds us of the mystical passage in Rom 8:19-23 which see for discussion. Sin somehow has put the universe out of joint. Christ will set it right [= Penggunaan dari TA PANTA (‘segala sesuatu’, ‘alam semesta’) seakan-akan alam semesta entah bagaimana menjadi tidak harmonis, mengingatkan kita tentang text yang bersifat mistik dalam Ro 8:19-23 yang lihatlah untuk diskusi. Dosa entah bagaimana telah meletakkan alam semesta keluar dari sendinya / kesleo. Kristus akan membuatnya benar].

Kesimpulan tentang Kol 1:20 - dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diriNya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.

1.   Ayat ini bukan hanya berbicara tentang manusia, tetapi tentang segala sesuatu dalam arti yang mutlak, yaitu seluruh ciptaan Allah.
2.   Dosa menyebabkan seluruh ciptaan Allah mengalami kekacauan.
3.   Kristus datang untuk membereskan seluruh ciptaan Allah itu, tetapi hasilnya berbeda-beda untuk setiap golongan.

Jadi, kata-kata ‘memperdamaikan’ dan ‘mengadakan perdamaian’ dalam ayat ini diartikan dalam arti yang sama sekali berbeda dengan dalam seluruh bagian Alkitab yang lain, mungkin paling cocok diartikan ‘membereskan’.

Kita tak perlu merasa aneh kalau kata-kata ini diartikan secara khusus, karena kontext menuntut demikian. Ini sama seperti kata ‘roh’ bisa diartikan ‘pengajar firman’ dalam 1Yoh 4:1-3 - “(1) Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. (2) Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, (3) dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia”.

Dengan demikian, tidak mungkin Kol 1:20 ini ditabrakkan dengan doktrin ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas) yang sedang kita bahas ini, karena untuk setan-setan dan orang-orang yang termasuk reprobate (= orang yang ditentukan untuk binasa), mereka ‘dibereskan’ dalam arti mereka dipaksa masuk neraka, tak lagi bisa berbuat jahat kepada orang-orang percaya / orang-orang pilihan.




3)    Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Kristus mati untuk orang yang binasa / akan binasa.

a)   Ro 14:15 - “Sebab jika engkau menyakiti hati saudaramu oleh karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia.

b)   1Kor 8:11 - Dengan jalan demikian orang yang lemah, yaitu saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa karena ‘pengetahuan’mu”.

Dalam kedua ayat di atas ini, orang tersebut disebut dengan istilah ‘saudaramu’, yang menunjukkan bahwa ia adalah orang kristen, dan masih ditambahkan lagi bahwa ‘Kristus telah mati untuk dia’, tetapi lalu dikatakan bahwa ia ‘menjadi binasa’ gara-gara tindakan dari orang kristen yang lain.

c)   Ibr 10:29 - Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?”.
Ayat ini mengatakan bahwa orang tersebut ‘dikuduskan oleh darah perjanjian’, yang menunjukkan bahwa ia adalah orang kristen, dan bahwa Kristus mencurahkan darahNya untuk dia / menebus dia. Tetapi orang tersebut lalu ‘menginjak-injak Anak Allah’, ‘menganggap najis darah perjanjian’, dan ‘menghina Roh kasih karunia’, dan karena itu ‘harus dihukum dengan lebih berat’ (dari pada orang yang menolak hukum Musa (Ibr 10:28). Jadi terlihat bahwa orang untuk siapa Kristus telah mati, ternyata pada akhirnya harus dihukum.

d)   2Pet 2:1 - “Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.
Ayat ini mengatakan bahwa orang-orang sesat / nabi-nabi palsu itu telah ditebus oleh Penguasa / Yesus, tetapi mereka menyangkal Penguasa tersebut, dan dengan demikian ‘mendatangkan kebinasaan atas diri mereka’. Jadi lagi-lagi terlihat bahwa orang-orang yang telah ditebus ternyata bisa binasa.

R. L. Dabney: “Here, it is urged, Calvinists must either hold that some of the elect perish, or that Christ died for others than the elect” (= Di sini, ada desakan bahwa orang-orang Calvinist harus percaya, atau bahwa sebagian dari orang-orang pilihan binasa, atau bahwa Kristus mati untuk orang-orang yang bukan orang pilihan) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 524.

Catatan: Dabney adalah orang Reformed, dan desakan yang ia bicarakan di sini bukanlah desakan dari dia, tetapi dari orang-orang lain / Arminian. Orang-orang Arminian menganggap bahwa orang-orang Reformed / Calvinist hanya mempunyai 2 pilihan dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut di atas:

1.   Dengan menganggap bahwa orang-orang tersebut adalah orang-orang pilihan. Dengan demikian kita harus beranggapan bahwa orang-orang pilihan tersebut gagal untuk diselamatkan, karena dikatakan bahwa mereka binasa. Jadi, ini merupakan serangan terhadap doktrin Predestinasi  / ‘Unconditional Election’ (= Pemilihan yg tidak bersyarat), yang merupakan point ke 2 dari 5 points Calvinisme, dan juga terhadap doktrin ‘Perseverance of the Saints’ (= Ketekunan orang-orang kudus) yang merupakan point ke 5 dari 5 points Calvinisme.

2.   Dengan menganggap bahwa orang-orang tersebut bukan orang-orang pilihan, karena mereka akhirnya binasa. Tetapi kalau kita memilih pandangan ini, kita harus menganggap bahwa Kristus mati untuk orang-orang yang bukan pilihan, dan ini bertentangan dengan doktrin ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas) yang merupakan point ke 3 dari 5 points Calvinisme.

Sekarang kita akan membahas ayat-ayat tersebut satu per satu secara lebih terperinci.

a)   Ro 14:15 - “Sebab jika engkau menyakiti hati saudaramu oleh karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia.
Catatan: untuk bisa mengerti apa yang dibicarakan ayat ini, baca kontextnya mulai Ro 14:1.

Adam Clarke, yang adalah seorang Arminian yang sangat keras, menggunakan Ro 14:15 ini untuk mendukung pandangannya, bahwa orang untuk siapa Kristus telah mati, bisa binasa. Dengan kata lain, ayat ini ia gunakan untuk menentang doktrin Limited Atonement (= Penebusan Terbatas).

Adam Clarke: “This puts the uncharitable conduct of the person in question in the strongest light, because it supposes that the weak brother may be so stumbled as to fall and perish finally; even the man for whom Christ died. ... From this verse we learn that a man for whom Christ died may perish, or have his soul destroyed; and destroyed with such a destruction as implies perdition. ... Christ died in his stead; do not destroy his soul. The sacrificial death is as strongly expressed as it can be, and there is no word in the New Testament that more forcibly implies eternal ruin than the verb apolluw (APOLLUO), from which is derived that most significant name of the Devil, o[ Apolluw (HO APOLLUO), the Destroyer, the great universal murderer of souls” [= Ayat ini meletakkan tingkah laku yang tidak kasih dari orang yang dipersoalkan dalam terang yang terkuat, karena ayat ini menganggap bahwa saudara yang lemah itu bisa tersandung sedemikian rupa sehingga jatuh dan akhirnya binasa; yaitu orang untuk siapa Kristus telah mati. ... Dari ayat ini kita belajar bahwa seseorang untuk siapa Kristus mati bisa binasa, atau dibinasakan jiwanya; dan dibinasakan dengan suatu penghancuran yang menunjuk pada kehancuran total / neraka. ... Kristus mati di tempatnya / menggantikannya; jangan menghancurkan jiwanya. Kematian yang bersifat pengorbanan ditekankan sekeras mungkin, dan tidak ada kata dalam Perjanjian Baru yang menunjuk secara lebih kuat pada kehancuran kekal dari pada kata kerja apolluw (APOLLUO), dari mana  diturunkan nama yang paling penting dari setan, o[ Apolluw (HO APOLLUO), sang Pembinasa / Penghancur, sang pembunuh jiwa universal yang besar] - hal 152-153.

Lenski: ‘by means of food - him in whose behalf Christ died.’ Christ, our Lord, died for this brother, whom thou art destroying with such a trifling thing as thy food! (= ‘oleh karena makanan - dia untuk siapa Kristus mati’. Kristus, Tuhan kita, mati untuk saudara ini, yang engkau sedang hancurkan dengan hal yang remeh seperti makananmu!).

Tanggapan terhadap penafsiran Arminian ini:
Ada bermacam-macam cara penafsiran yang lain dari Ro 14:15 ini yang menyebabkan ayat ini tidak bertentangan dengan doktrin ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas).

1.   Tindakan orang dalam Ro 14:15 itu hanya mempunyai kecenderungan untuk membinasakan saudaranya yang lemah, tetapi tidak berarti bahwa saudara yang lemah itu bisa betul-betul binasa.

W. G. T. Shedd: “To encourage a fellow disciple to violate his conscience, and thereby to fill him with remorse, will end in his ruin, if persisted in. But it does not follow that it will be persisted in (= Mendorong sesama murid untuk melanggar hati nuraninya, dan dengan itu memenuhinya dengan penyesalan yang mendalam, akan berakhir dalam kehancurannya, jika hal itu terus berlangsung. Tetapi itu tidak berarti bahwa hal itu akan terus berlangsung) - ‘Commentary on Romans’, hal 398.

Editor / penterjemah dari Calvin’s Commentary (John Owen): “From the word ‘destroy not,’ &c., some have deduced the sentiment, that those for whom Christ died may perish forever. It is neither wise nor just to draw a conclusion of this kind; for it is one that is negatived by many positive declarations of Scripture. Man’s inference, when contrary to God’s word, cannot be right. Besides, the Apostle’s object in this passage is clearly this, - to exhibit the sin of those who disregarded the good of their brother, and to show what that sin was calculated to do, without saying that it actually effected that evil. ... Apostles and ministers are said to ‘save’ men (Rom. 11:14  1Cor. 7:16  1Cor. 9:22  1Tim. 4:16); some are exhorted here not to ‘destroy’ them. Neither of these effects can follow, except in the first instance, God grants his blessing, and in the second instance his permission; and his permission as to his people he will never grant, as he has expressly told us. See John 10:27-29 [= Dari kata-kata ‘janganlah membinasakan’ dst, beberapa orang menyimpulkan suatu pandangan / pemikiran bahwa mereka untuk siapa Kristus telah mati bisa binasa selama-lamanya. Adalah tidak bijaksana ataupun benar untuk menarik kesimpulan seperti ini; karena itu merupakan sesuatu yang disangkal oleh banyak pernyataan yang positif dari Kitab Suci. Kesimpulan manusia yang bertentangan dengan firman Allah tidak bisa benar. Disamping, tujuan dari sang Rasul dalam text ini jelas adalah ini: memamerkan dosa dari mereka yang tidak menghiraukan kebaikan dari saudara mereka, dan untuk menunjukkan apa yang bisa dilakukan oleh dosa itu, tanpa mengatakan bahwa dosa itu betul-betul mengakibatkan bencana tersebut. ... Rasul-rasul dan pelayan-pelayan dikatakan ‘menyelamatkan’ manusia (Ro 11:14  1Kor 7:16  1Kor 9:22  1Tim 4:16); dan orang-orang di sini didesak untuk tidak ‘membinasakan’ mereka. Tidak ada dari hal-hal ini yang bisa terjadi, kecuali dalam kejadian pertama, Allah memberikan berkatNya, dan dalam kejadian kedua, Ia memberikan ijinNya; dan berkenaan dengan umatNya Ia tidak akan pernah memberikan ijinNya, seperti yang dikatakanNya secara jelas / explicit kepada kita. Lihat Yoh 10:27-29] - hal 505-506.

Saudara yang lemah itu tidak betul-betul bisa binasa, karena:

a.   Kata-kata dalam Ro 14:15 ini diberikan justru supaya kebinasaan dari saudara yang lemah itu tidak terjadi.
Pemberian peringatan disertai ancaman yang tidak betul-betul bisa terjadi ini, juga terjadi dalam Kis 27:31, dimana Paulus memberikan peringatan disertai ancaman dengan berkata: “Jika mereka tidak tinggal di kapal, kamu tidak mungkin selamat. Bahwa ancaman ini tidak mungkin betul-betul terjadi adalah jelas dari Kis 27:22-25, karena Tuhan memberikan janjiNya bahwa semua orang di kapal itu akan selamat. Jadi pemberian peringatan disertai ancaman itu tidak mungkin bisa terjadi, dan justru merupakan cara untuk menyelamatkan semua orang di kapal itu.

Barnes’ Notes: “The word ‘destroy’ here refers, doubtless, to the ruin of the soul in hell. ... Though the apostle believed that all who were true Christians would be saved, Rom. 8:30-39, yet he believed that it would be brought about by the use of means, and that nothing should be done that would tend to hinder or endanger their salvation, Heb. 6:4-9; 2:1. God does not bring his people to heaven without the use of means adapted to the end; and one of those means is that employed here to warn professing Christians against such conduct as might jeopard the salvation of their brethren. ... This passage should not be brought, therefore, to prove that Christ died for all men, or for any who shall finally perish. Such a doctrine is undoubtedly true, (comp. 2Cor. 5:14,15; 1John 2:2; 2Pet. 2:1,) but it is not the truth which is taught here. The design is to show the criminality of a course that would tend to the ruin of a brother. For these weak brethren, Christ laid down his precious life. He loved them; and shall we, to gratify our appetites, pursue a course which will tend to defeat the work of Christ, and ruin the souls redeemed by his blood?” [= Kata ‘membinasakan’ di sini tidak diragukan lagi menunjuk pada kehancuran dari jiwa di dalam neraka. ... Sekalipun sang rasul percaya bahwa semua orang Kristen yang sejati akan diselamatkan, Ro 8:30-39, tetapi ia percaya bahwa hal itu akan terjadi oleh penggunaan cara-cara, dan bahwa tidak ada apapun yang boleh dilakukan yang mempunyai kecenderungan untuk menghalangi atau membahayakan keselamatan mereka, Ibr 6:4-9; 2:1. Allah tidak membawa umatNya ke surga tanpa penggunaan cara-cara yang disesuaikan sampai akhir; dan salah satu dari cara-cara itu adalah yang digunakan di sini dengan memperingati orang-orang yang mengaku sebagai Kristen untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa membahayakan keselamatan dari saudara-saudara seiman mereka. ... Karena itu, text ini tidak boleh digunakan untuk membuktikan bahwa Kristus mati untuk semua orang, atau untuk siapapun yang akhirnya akan binasa. Tak diragukan bahwa doktrin seperti itu memang benar, (bdk. 2Kor 5:14,15; 1Yoh 2:2; 2Pet 2:1), tetapi itu bukanlah kebenaran yang diajarkan di sini. Tujuan dari ayat ini adalah untuk menunjukkan kejahatan dari suatu cara hidup yang cenderung untuk menghancurkan seorang saudara. Untuk saudara-saudara yang lemah ini Kristus menyerahkan jiwaNya yang berharga. Ia mengasihi mereka; dan apakah kita, untuk memuaskan nafsu-nafsu kita, mengikuti cara hidup yang cenderung untuk menggagalkan pekerjaan Kristus, dan menghancurkan jiwa-jiwa yang ditebus oleh darahNya?] - hal 657.

Catatan: Albert Barnes sebetulnya bukan orang Reformed. Ia menolak doktrin ‘Limited Atonement’ (= Penebusan terbatas), tetapi ia menerima doktrin ‘Perseverance of the Saints’ (= Ketekunan orang-orang kudus), yang menekankan bahwa keselamatan dari orang kristen yang sejati tidak mungkin hilang. Ini menyebabkan ia tidak bisa menggunakan Ro 14:15 ini untuk menentang doktrin ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas), karena kalau ia melakukan hal itu, maka Ro 14:15 ini secara otomatis juga menentang doktrin ‘Perseverance of the Saints’ (= Ketekunan orang-orang kudus) yang ia terima.

John Murray (NICNT): “The strength of the word ‘destroy’ underlines the serious nature of the stumbling that overtakes the weak brother. Are we to suppose that he is viewed as finally perishing? However grave the sin he commits it would be beyond all warrant to regard it as amounting to apostasy. The exhortation ‘destroy not’ is directed to the strong. In a similar situation the weak person is represented as perishing (1Cor. 8:11). But here likewise it would be beyond warrant to think of apostasy. Furthermore, the destruction contemplated as befalling the weak should not be construed as eternal perdition. All sin is destructive and the sin of the weak in this instance is a serious breach of fidelity which, if not repaired, would lead to perdition. It is upon the character of the sin and its consequence that the emphasis is placed in order to impress upon the strong the gravity of his offence in becoming the occasion of stumbling. It would load the exhortation with implication beyond this intent to suppose that the weak believer by his sin is an heir of eternal destruction. It is a warning, however, to the strong believer that what he must consider is the nature and tendency of sin and not take refuge behind the security of the believer and the final perseverance of the saints” [= Kekuatan dari kata ‘membinasakan’ menekankan sifat yang serius dari tindakan menyandungi saudara yang lemah. Apakah kita harus menganggap bahwa ia dipandang sebagai binasa pada akhirnya? Betapapun beratnya dosa yang ia lakukan, adalah tidak benar untuk menganggapnya sebagai sama dengan kemurtadan. Desakan ‘janganlah membinasakan’ ditujukan kepada orang kristen yang kuat. Dalam keadaan yang serupa orang yang lemah digambarkan sebagai ‘menjadi binasa’ (1Kor 8:11). Tetapi juga di sini  adalah tidak benar untuk berpikir tentang kemurtadan. Selanjutnya, kebinasaan yang dipertimbangkan akan menimpa saudara yang lemah tidak boleh ditafsirkan sebagai kebinasaan kekal. Semua dosa bersifat menghancurkan dan dosa dari saudara yang lemah dalam kejadian ini merupakan pelanggaran kesetiaan, yang, jika tidak diperbaiki, akan membawa pada kebinasaan. Penekanan diletakkan pada sifat dan konsekwensi dari dosa, untuk menanamkan kesan pada orang kristen yang kuat beratnya pelanggarannya yang menjadi penyebab tersandungnya orang lain. Merupakan sesuatu yang melampaui maksud dari desakan ini jika kita menganggap bahwa orang percaya yang lemah itu, oleh dosanya, adalah seorang pewaris dari kebinasaan kekal. Tetapi ini merupakan suatu peringatan bagi orang percaya yang kuat bahwa apa yang harus ia pertimbangkan adalah sifat dan kecenderungan dari dosa, dan supaya ia tidak berlindung di belakang ‘keamanan orang percaya’ dan ‘ketekunan akhir orang-orang kudus’] - ‘The Epistle to the Romans’, hal 192.

b.   Pasti ada campur tangan Allah sehingga hal itu tidak terjadi.
Perhatikan bahwa dalam pasal yang sama, pada ay 4, Paulus sudah menekankan hal ini.
Ro 14:4 - “Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.

John Brown: “You are doing what may probably involve your brother in guilt, and in the grief, and, if mercy prevent not, the destruction, which are the natural results of guilt.’ ‘Destroy not thy brother;’ that is, ‘Do not what may end - what, but for the interposition of Divine grace, must end - in his destruction. The tendency of every sin is to destroy the soul” [= Kamu sedang melakukan apa yang bisa melibatkan saudaramu dalam kesalahan, dan dalam kesedihan, dan, jika belas kasihan (dari Tuhan) tidak mencegahnya, kehancuran, yang merupakan akibat alamiah dari kesalahan’. ‘Janganlah engkau membinasakan saudaramu’; artinya: ‘Jangan melakukan apa yang mungkin akan berakhir pada apa, yang kecuali karena adanya campur tangan dari kasih karunia Ilahi, pasti berakhir dalam kebinasaannya. Kecenderungan dari setiap dosa adalah menghancurkan / membinasakan jiwa] - hal 528-529.

William Hendriksen: “The apostle is, as it were, saying, ‘Consider what you are doing! So dear is that brother of yours to Christ that he died for him. Nevertheless, you, by means of your unbrotherly conduct, are treating him in a manner which, were it not for God’s irresistible grace, would destroy him. Immediately stop doing what you are doing, and do the very opposite!’” (= Seakan-akan sang rasul berkata: ‘Pertimbangkanlah apa yang sedang kamu lakukan! Kristus sangat mengasihi saudaramu sehingga Ia mati untuknya. Tetapi engkau, oleh tindakanmu yang tidak sesuai dengan tindakan seorang saudara, sedang memperlakukan dia dengan suatu cara, yang, seandainya bukan karena kasih karunia Allah yang tidak bisa ditolak, akan menghancurkan dia. Segeralah berhenti melakukan apa yang sedang engkau lakukan, dan lakukanlah hal yang sebaliknya!’) - hal 463.

Louis Berkhof: “A third class of passages which seem to militate against the idea of a limited atonement consists of those which are said to imply the possibility that those for whom Christ died fail to obtain salvation. Rom. 14:15 and the parallel passage in 1Cor. 8:11 may be mentioned first of all. Some commentators are of the opinion that these passages do not refer to eternal destruction, but it is more likely that they do. The apostle simply wants to bring the uncharitable conduct of some of the stronger brethren in the Church into strong relief. They were likely to offend the weaker brethren, to cause them to stumble, to override their conscience, and thus to enter upon the downward path, the natural result of which, if continued, would be destruction. While Christ paid the price of His life to save such persons, they by their conduct tended to destroy them. That this destruction will not actually follow, is evident from Rom. 14:4; by the grace of God they will be upheld. We have here then, as Dr. Shedd expresses it, ‘a supposition, for the sake of argument, of something that does not and cannot happen,’ just as in 1Cor. 13:1-3; Gal 1:8” (= Golongan ketiga dari text-text yang kelihatannya menentang gagasan tentang penebusan terbatas, terdiri dari ayat-ayat yang dikatakan memberi kesan adanya kemungkinan bahwa mereka untuk siapa Kristus telah mati, gagal mendapatkan keselamatan. Ro 14:15 dan ayat paralelnya dalam 1Kor 8:11 bisa disebutkan sebagai yang pertama. Sebagian penafsir mempunyai pandangan bahwa text-text ini tidak menunjuk pada kebinasaan kekal, tetapi lebih mungkin bahwa ayat-ayat ini memang menunjuk pada kebinasaan kekal. Sang rasul hanya ingin menonjolkan tingkah laku yang tidak kasih dari sebagian saudara-saudara yang kuat dalam Gereja. Mereka mungkin sekali menyinggung / menyandungi saudara yang lemah, menyebabkan mereka jatuh, melindas hati nurani mereka, dan lalu masuk pada jalan yang turun, yang jika diteruskan, mempunyai akibat alamiah berupa kehancuran. Sementara Kristus membayar dengan nyawaNya untuk menyelamatkan orang-orang seperti itu, mereka oleh tingkah laku mereka cenderung untuk menghancurkan orang-orang itu. Bahwa kehancuran ini tidak betul-betul terjadi, nyata dari Ro 14:4; oleh kasih karunia Allah mereka akan ditegakkan. Jadi di sini kita mendapatkan, seperti Dr. Shedd menyatakannya, ‘suatu pengandaian, demi argumentasi, dari sesuatu yang tidak terjadi dan tidak bisa terjadi’, sama seperti dalam 1Kor 13:1-3; Gal 1:8) - ‘Systematic Theology’, hal 397.
Catatan: kata-kata Shedd diambil dari Shedd’s Dogmatic Theology, vol II, hal 481.
1Kor 13:1-3 - “(1) Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. (2) Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. (3) Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku”.
Gal 1:8 - “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia”.

2.   Orang-orang itu (‘saudaramu’) digambarkan sesuai dengan pengakuan mereka bahwa mereka adalah orang kristen, tetapi sebetulnya mereka hanya orang kristen KTP.

Matthew Poole: “Here a question may arise, whether any can perish for whom Christ died? The answer is, They cannot; and for this the Scripture is express, in John 10:28. See also Mat 24:24; John 5:39; 1Pet. 1:5. How then is this text to be understood? The apostle doth not speak of those for whom Christ indeed did die, but of such as, in the judgment of charity, are held to be of that number. We must account all those who confess the faith of Christ, for such as he hath redeemed by his death” [= Di sini muncul suatu pertanyaan apakah orang, untuk siapa Kristus telah mati, bisa binasa? Jawabannya adalah: Mereka tidak bisa (binasa); dan untuk ini Kitab Suci sangat jelas / explicit, dalam Yoh 10:28. Lihat juga Mat 24:24; Yoh 5:39; 1Pet 1:5. Lalu bagaimana text itu harus dimengerti? Sang rasul tidak berbicara tentang mereka untuk siapa Kristus betul-betul telah mati, tetapi tentang mereka yang, dalam penilaian yang murah hati, dianggap termasuk dalam kelompok itu. Kita harus menganggap semua orang yang mengaku percaya kepada Kristus, sebagai orang-orang yang telah Ia tebus oleh kematianNya] - hal 528.

Perlu diketahui bahwa Kitab Suci memang sering menggambarkan orang menurut pengakuan mereka, atau menurut penampilan lahiriah mereka. Misalnya:
a.   Yoh 2:23-25 - “(23) Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam namaNya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakanNya. (24) Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diriNya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, (25) dan karena tidak perlu seorangpun memberi kesaksian kepadaNya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia”.
Perhatikan bahwa sekalipun dalam ay 23nya dikatakan bahwa orang banyak itu ‘percaya dalam namaNya’, tetapi ay 24-25nya menunjukkan secara jelas bahwa mereka tidak sungguh-sungguh percaya kepada Yesus!
b.   Yoh 6:66 - “Mulai dari waktu itu banyak murid-muridNya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia”.
Perhatikan bahwa orang-orang ini disebut dengan istilah ‘murid’, tetapi mereka ternyata berhenti mengikut Kristus. Bandingkan dengan Yoh 8:31 - “Maka kataNya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepadaNya: ‘Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu”. Jelas bahwa berdasarkan Yoh 8:31 ini orang yang berhenti mengikut Kristus bukanlah benar-benar murid!
c.   Yoh 12:42-43 - “(42) Namun banyak juga di antara pemimpin yang percaya kepadaNya, tetapi oleh karena orang-orang Farisi mereka tidak mengakuinya berterus terang, supaya mereka jangan dikucilkan. (43) Sebab mereka lebih suka akan kehormatan manusia dari pada kehormatan Allah.
Sekalipun mula-mula dikatakan bahwa mereka ‘percaya kepadaNya’, tetapi lalu dikatakan bahwa mereka ‘tidak mengakuinya berterus terang’, dan mereka ‘lebih suka kehormatan manusia dari pada kehormatan Allah’. Memang mungkin bahwa di antara orang-orang ini ada yang sungguh-sungguh percaya (seperti Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea), tetapi juga sangat besar kemungkinannya bahwa di antara mereka ada banyak yang hanya mengaku percaya, tetapi sebetulnya tidak sungguh-sungguh percaya kepada Yesus.
d.   Simon tukang sihir juga dikatakan ‘menjadi percaya’ (Kis 8:13a), tetapi dari kata-kata Petrus yang begitu keras kepadanya dalam Kis 8:20-23, dan tanggapannya dalam Kis 8:24, sukar untuk membayangkan bahwa ia adalah orang percaya yang sejati.
Kis 8:13,20-24 - “(13) Simon sendiri juga menjadi percaya, dan sesudah dibaptis, ia senantiasa bersama-sama dengan Filipus, dan takjub ketika ia melihat tanda-tanda dan mujizat-mujizat besar yang terjadi. ... (20) Tetapi Petrus berkata kepadanya: Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang. (21) Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah. (22) Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini; (23) sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan.’ (24) Jawab Simon: Hendaklah kamu berdoa untuk aku kepada Tuhan, supaya kepadaku jangan kiranya terjadi segala apa yang telah kamu katakan itu.’”.

Kalau demikian maka memang memungkinkan bahwa Ro 14:15 juga menggambarkan orang-orang tersebut berdasarkan pengakuan mereka atau berdasarkan penampilan lahiriah mereka. Jadi pada saat mereka disebut sebagai ‘saudara’, atau pada saat dikatakan bahwa ‘Kristus telah mati untuk mereka’, maka fakta sebenarnya tidaklah demikian. Dengan demikian maka ayat ini tidak bertentangan dengan doktrin ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas).

b)   1Kor 8:11 - Dengan jalan demikian orang yang lemah, yaitu saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa karena ‘pengetahuan’mu”.
Catatan: untuk bisa mengerti tentang apa ayat ini berbicara, baca seluruh kontext, yaitu 1Kor 8:1-13. Terlihat bahwa ayat ini sangat mirip dengan ayat yang sudah kita bahas di atas, yaitu Ro 14:15. Hanya saja, dalam Ro 14:15 yang dipersoalkan adalah memakan daging, sedangkan dalam 1Kor 8:11 yang dipersoalkan adalah memakan daging yang sudah dipersembahkan kepada berhala.

Sama seperti dengan Ro 14:15 di atas, ayat ini juga dipakai oleh orang-orang Arminian untuk menyerang doktrin Limited Atonement (= Penebusan terbatas), yang menyatakan bahwa Kristus mati hanya untuk menebus orang-orang pilihan saja, karena 1Kor 8:11 itu mengatakan bahwa orang, untuk siapa Kristus sudah mati, ternyata akhirnya binasa. Jadi, Kristus juga mati untuk orang-orang yang akan masuk neraka (bukan pilihan).

Adam Clarke: “So we learn that a man may perish for whom Christ died: this admits of no quibble. If a man for whom Christ died, apostatizing from Christianity, (for he is called a brother though weak,) return again to and die in idolatry, cannot go to heaven; then a man for whom Christ died may perish everlastingly” [= Jadi kita belajar bahwa seseorang bisa binasa untuk siapa Kristus telah mati: ini tidak mungkin dihindari. Jika seseorang untuk siapa Kristus telah mati, murtad dari kekristenan, (karena ia disebut seorang saudara sekalipun lemah), kembali lagi pada penyembahan berhala dan mati dalam penyembahan berhala, tidak bisa pergi ke surga; maka seseorang untuk siapa Kristus telah mati bisa binasa secara kekal] - hal 233-234.

Gordon D. Fee (NICNT): “Cf. Conzelmann, 149 n. 38: ‘He of course pressuposes the idea that the Christian, too, can lose his salvation.’ This is not a happy thought, but it reflects Paul’s own theology with sober realism” (= Bdk. Conzelmann, 149 n. 38: ‘Ia tentu mensyaratkan gagasan bahwa orang kristen juga bisa kehilangan keselamatannya’. Ini bukan merupakan suatu pemikiran yang menyenangkan, tetapi ini mencerminkan teologia Paulus sendiri dengan realisme yang waras / tenang) - ‘The First Epistle to the Corinthians’, hal 387 (footnote).

Tanggapan terhadap penafsiran Arminian ini:
Ada bermacam-macam cara penafsiran yang lain dari 1Kor 8:11 ini yang menyebabkan ayat ini tidak bertentangan dengan doktrin ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas), bahkan juga tidak bertentangan dengan Predestinasi ataupun Keselamatan yang tidak bisa hilang.

1.   Kata-kata ‘saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati’ diartikan sebagai ‘orang kristen yang sejati’. Tetapi kata ‘binasa’ tidak diartikan ‘masuk ke neraka’, tetapi diartikan ‘jatuh ke dalam dosa’ atau ‘melukai hati nurani dari orang yang lemah’.

Keberatan terhadap penafsiran ini:
Kata Yunani yang diterjemahkan ‘binasa’ adalah APOLLUTAI yang bisa diterjemahkan sebagai:
a.   Membunuh / membinasakan (Mat 2:13  1Kor 10:9-10).
Mat 2:13 - “Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: ‘Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibuNya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh (Yunani: APOLESAI) Dia.’”.
1Kor 10:9-10 - “(9) Dan janganlah kita mencobai Tuhan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka mati (Yunani: APOLLUNTO) dipagut ular. (10) Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan (Yunani: APOLONTO) oleh malaikat maut”.
b.   Membinasakan dalam neraka (Mat 10:28  Yoh 3:16).
Mat 10:28 - “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan (Yunani: APOLESAI) baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka”.
Catatan: 2 kata ‘membunuh’ yang pertama (yang saya beri garis bawah ganda) berasal dari kata Yunani yang berbeda.
Yoh 3:16 - “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa (Yunani: APOLENTAI), melainkan beroleh hidup yang kekal”.
c.   Terhilang / kehilangan (Mat 10:6,42).
Mat 10:6,42 - “(6) melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang (Yunani: APOLOLOTA) dari umat Israel. ... (42) Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia muridKu, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan (Yunani: avpole,sh| / APOLESE) upahnya dari padanya.’”.
d.   Hancur / terbuang (Mark 2:22).
Mark 2:22 - “Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang (Yunani: APOLLUTAI). Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.’”.

Kata APOLLUTAI tidak pernah mempunyai arti / diterjemahkan sebagai ‘jatuh dalam dosa’.

Jawaban terhadap keberatan ini:
Saya tetap berpendapat bahwa ini adalah penafsiran yang memungkinkan, karena kontext dari 1Kor 8:11 ini cocok dengan arti tersebut.
1Kor 8:7-13 - “(7) Tetapi bukan semua orang yang mempunyai pengetahuan itu. Ada orang, yang karena masih terus terikat pada berhala-berhala, makan daging itu sebagai daging persembahan berhala. Dan oleh karena hati nurani mereka lemah, hati nurani mereka itu dinodai olehnya. (8) ‘Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan.’ (9) Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah. (10) Karena apabila orang melihat engkau yang mempunyai ‘pengetahuan’, sedang duduk makan di dalam kuil berhala, bukankah orang yang lemah hati nuraninya itu dikuatkan untuk makan daging persembahan berhala? (11) Dengan jalan demikian orang yang lemah, yaitu saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa karena ‘pengetahuan’ mu. (12) Jika engkau secara demikian berdosa terhadap saudara-saudaramu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakekatnya berdosa terhadap Kristus. (13) Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku”.
Perhatikan kata-kata ‘hati nurani mereka dinodai’ dalam ay 7, dan juga ‘batu sandungan’ dalam ay 9,13, dan juga ‘melukai hati nurani mereka’ dalam ay 12. Disamping itu, saya merasa agak aneh kalau tindakan orang kristen yang kuat, yang hanya makan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala itu, bisa membawa seseorang kristen lain / yang lemah ke dalam neraka!
Kalau kita menerima penafsiran bahwa ‘binasa’ berarti ‘jatuh ke dalam dosa’, maka jelas sekali bahwa ay 11 ini tidak bertentangan dengan doktrin Reformed tentang Limited Atonement (= Penebusan Terbatas), maupun doktrin tentang Predestinasi dan Keselamatan yang tidak bisa hilang!

Gordon D. Fee (NICNT): “... Bruce, 82, who sees kai tuptontej (v. 12) as epexegetic, therefore explaining what ‘destroying’ means” [= ... Bruce, 82, yang melihat kai tuptontej / KAI TUPTONTES / ‘dan melukai’ (ay 12) sebagai penjelasan tambahan, dan karena itu menjelaskan arti dari kata ‘menghancurkan’] - ‘The First Epistle to the Corinthians’, hal 387 (footnote).
1Kor 8:11-12 - “(11) Dengan jalan demikian orang yang lemah, yaitu saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa karena ‘pengetahuan’ mu. (12) Jika engkau secara demikian berdosa terhadap saudara-saudaramu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakekatnya berdosa terhadap Kristus”.
Jadi menurut Bruce, yang dikutip oleh Gordon Fee, kata ‘binasa’ dalam ay 11 tidak berarti ‘masuk neraka’ tetapi hanya sekedar ‘melukai hati nurani mereka yang lemah’.

Matthew Poole: “by ‘perish’ is here meant, be led into sin, by acting contrary to the judgment of his own conscience; for, (as the apostle saith, Rom. 14:23,) ‘He that doubteth is damned if he eat, for whatsoever is not of faith,’ that is, done out of a firm persuasion in the party doing that it is lawful, ‘is sin.’” [= ‘binasa’ di sini berarti ‘dibimbing / diarahkan ke dalam dosa’, dengan bertindak bertentangan dengan penilaian dari hati nuraninya sendiri; karena, (seperti yang dikatakan sang rasul, Ro 14:23), ‘Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman’, yaitu dilakukan dari kepercayaan yang teguh bahwa itu sah / benar menurut hukum, ‘adalah dosa’.] - hal 565.

Gordon H. Clark: “A much better attempt is to examine the verb APOLLUMI and determine whether in every case it means destruction in hell. We have seen that it often does, but let us look at some of the other ninety-two instances. In Matthew 10:42 and Luke 15:4,8,9,24,32 and 33, it means ‘lose’: to lose a coin, to lose a son. Luke 15:17 refers to perishing of hunger. Compare Matthew 5:29,30; 9:17; John 6:12; 2John 8; and other. The conclusion is that since the lost coin was later found, there is no linguistic reason to suppose that APOLLUMI has to mean final, irretrievable destruction in hell. Therefore, only those who want to invent a contradiction in the Bible will so understand it” (= Suatu usaha yang jauh lebih baik adalah memeriksa kata kerja APOLLUMI dan menentukan apakah dalam setiap kasus kata itu berarti ‘kehancuran dalam neraka’. Kita telah melihat bahwa kata itu sering berarti demikian, tetapi mari kita melihat pada beberapa dari 92 contoh / kejadian lainnya. Dalam Mat 10:42 dan Luk 15:4,8,9,24,32 dan 33, itu berarti ‘kehilangan’: kehilangan mata uang, kehilangan anak. Luk 15:17 menunjuk pada mati karena kelaparan. Bandingkan dengan Mat 5:29,30; 9:17; Yoh 6:12; 2Yoh 8; dan yang lainnya. Kesimpulannya adalah bahwa karena mata uang yang hilang itu belakangan ditemukan, maka tidak ada alasan untuk menganggap bahwa APOLLUMI harus berarti ‘kehancuran akhir yang tidak bisa dipulihkan lagi dalam neraka’. Karena itu, hanya mereka yang ingin menemukan kontradiksi dalam Alkitab yang akan mengertinya demikian) - ‘First Corinthians’, hal 137.
Catatan: Dalam Kitab Suci tidak ada Luk 15:33; itu pasti salah.

Mat 10:42 - “Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia muridKu, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.’”.
Luk 15:4,8,9,24,32 - “(4) ‘Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? ...  (8) ‘Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? (9) Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. ... (24) Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. ... (32) Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.’”.
Luk 15:17 - “Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.
Mat 5:29-30 - “(29) Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. (30) Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka”.
Mat 9:17 - “Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.’”.
Yoh 6:12 - “Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-muridNya: ‘Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.’”.
2Yoh 8 - “Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya”.

2.   Kata ‘binasa’ diartikan ‘masuk ke neraka’, tetapi kata-kata ‘saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati’ diartikan sebagai ‘orang kristen KTP’.
Mengapa ‘orang kristen KTP’ digambarkan dengan kata-kata ‘saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati’? Karena Kitab Suci sering menggambarkan seseorang sesuai dengan pengakuan orang tersebut, atau sesuai dengan penampilan lahiriah dari orang tersebut (lihat pada point 2. dari pembahasan tentang Ro 14:15 di atas).
Kalau kita menafsirkan seperti ini, maka jelaslah bahwa ay 11 ini tidak menentang doktrin Reformed tentang Limited Atonement (= Penebusan Terbatas), maupun doktrin tentang Predestinasi dan Keselamatan yang tidak bisa hilang.

3.   Ay 11 ini ditafsirkan bukan sebagai sesuatu yang betul-betul terjadi / sesuatu yang betul-betul bisa terjadi, tetapi sekedar sebagai suatu peringatan, justru supaya hal itu tidak terjadi!
Orang yang sungguh-sungguh kristen, sudah sela­mat, dan pasti tidak akan kehilangan keselamatannya. Tetapi manusia tetap diberi tanggung jawab supaya tidak hidup seenaknya. Orang yang mempunyai pengetahuan, harus hidup sedemikian rupa sehingga tidak menghancurkan keselamatan orang-orang yang lemah. Jadi, ini merupakan suatu peringatan, justru supaya orang-orang kristen yang lemah tidak kehilangan keselamatannya.
Kalau ditafsirkan seperti ini, maka jelas bahwa ay 11 ini tidak menentang doktrin Reformed tentang Limited Atonement (= Penebusan Terbatas), maupun doktrin tentang Predestinasi dan Keselamatan yang tidak bisa hilang!

Barnes’ Notes: “The sense is, that the tendency of this course would be, to lead the weak brother into sin, to apostasy, and to ruin. But this does not prove that any who were truly converted should apostatize and be lost; for, (1) there may be a tendency to a thing, and yet that thing may never happen. ... (2) The warning designed to prevent it may be effectual, and be the means of saving. ... (3) The apostle does not say that any true Christian would be lost. He puts a question; and affirms that if one thing was done, another might follow. But this is not affirming that any one would be lost. ... (4) It is elsewhere abundantly proved, that no one who has been truly converted will apostatize and be destroyed. ... ‘For whom Christ died?’ This is urged as an argument why we should not do anything that would tend to destroy the souls of men. ... If he endured so much to save the soul, assuredly we should not pursue a course that would tend to destroy it” [= Artinya adalah bahwa kecenderungan dari jalan ini adalah mengarahkan saudara yang lemah itu ke dalam dosa, pada kemurtadan, dan pada kehancuran. Tetapi ini tidak membuktikan bahwa ada orang yang betul-betul bertobat bisa murtad dan terhilang; karena, (1) Bisa ada suatu kecenderungan pada sesuatu, tetapi sesuatu itu tidak pernah terjadi. ... (2) Peringatan itu dirancang untuk mencegah terjadinya hal itu, dan merupakan cara penyelamatan. ... (3) Sang rasul tidak mengatakan bahwa ada orang kristen sejati yang bisa terhilang. Ia memberikan suatu pertanyaan; dan menegaskan bahwa jika yang satu terjadi, yang lain bisa mengikuti. Tetapi ini bukan menegaskan bahwa ada seseorang yang akan terhilang. ... (4) Di tempat lain (dalam Kitab Suci) dibuktikan secara berlimpah-limpah bahwa tak seorangpun yang telah betul-betul bertobat akan murtad dan dibinasakan. ... ‘Untuk siapa Kristus telah mati?’ Ini didesakkan sebagai suatu argumentasi mengapa kita tidak boleh melakukan apapun yang cenderung untuk menghancurkan jiwa-jiwa manusia. ... Jika Ia menahan begitu banyak rasa sakit untuk menyelamatkan jiwa, pasti kita tidak boleh menempuh suatu jalan yang cenderung menghancurkan jiwa] - hal 731.
Catatan: 1Kor 8:11 ini dalam KJV berbentuk pertanyaan.
KJV: ‘And through thy knowledge shall the weak brother perish, for whom Christ died?’ (= Dan melalui pengetahuanmu apakah saudara yang lemah akan binasa, untuk siapa Kristus telah mati?).

Charles Hodge: “It was absolutely certain that none of Paul’s companion in shipwreck was on that occasion to lose his life, because the salvation of the whole company had been predicted and promised; and yet the apostle said that if the sailors were allowed to take away the boats, those left on board could not be saved. This appeal secured the accomplishment of the promise. So God’s telling the elect that if they apostatize they shall perish, prevents their apostasy. And in like manner, the Bible teaching that those for whom Christ died shall perish if they violate their conscience, prevents their transgressing, or brings them to repentance. God’s purposes embraces the means as well as the end. If the means fail, the end will fail. He secures the end by securing the means. It is just as certain that those for whom Christ died shall be saved, as that the elect shall be saved. Yet in both cases the event is spoken of as conditional. There is not only a possibility, but an absolute certainty of their perishing if they shall fall away. But this is precisely what God has promised to prevent” (= Adalah pasti bahwa tidak ada dari teman sepelayaran Paulus dalam peristiwa kecelakaan kapal akan kehilangan nyawanya pada peristiwa itu, karena keselamatan dari seluruh rombongan telah diramalkan dan dijanjikan; tetapi sang rasul berkata bahwa jika anak-anak kapal diijinkan mengambil sekoci, mereka yang tertinggal di kapal tidak bisa selamat. Seruan ini memastikan penggenapan / pencapaian dari janji tersebut. Demikian juga pemberitahuan Allah kepada orang-orang pilihan bahwa jika mereka murtad mereka akan binasa, mencegah kemurtadan mereka. Dan dengan cara yang sama, ajaran Alkitab bahwa mereka untuk siapa Kristus telah mati akan binasa jika mereka melanggar hati nurani mereka, mencegah pelanggaran mereka, atau membawa mereka kepada pertobatan. Rencana Allah mencakup cara / jalannya maupun tujuan akhirnya. Jika cara / jalannya gagal, tujuan akhirnya juga akan gagal. Ia memastikan tujuan akhirnya dengan memastikan cara / jalannya. Adalah sama pastinya bahwa mereka untuk siapa Kristus telah mati akan diselamatkan, seperti bahwa orang-orang pilihan akan diselamatkan. Tetapi dalam kedua kasus peristiwa itu dikatakan sebagai bersyarat. Bukan hanya ada kemungkinan, tetapi suatu kepastian yang mutlak tentang kebinasaan mereka jika mereka meninggalkan / murtad. Tetapi ini justru merupakan apa yang Allah janjikan untuk mencegahnya) - ‘I & II Corinthians’, hal 149.
Catatan: bagian yang saya beri garis bawah ganda itu agak aneh, karena kata-kata Paulus ini ditujukan bukan untuk saudara yang lemah, tetapi untuk saudara yang kuat. Jadi seharusnya kata-kata ini diucapkan oleh Paulus bukan supaya saudara yang lemah bertobat sehingga tidak binasa, tetapi supaya saudara yang kuat tidak mencobai yang lemah sehingga binasa.

4.   ‘Saudaramu / orang yang lemah’ itu dianggap sebagai orang kristen KTP, dan kata-kata ‘yang untuknya Kristus telah mati’ diartikan sebagai kematian bukan untuk menebus dosa / menyelamatkan mereka, tetapi hanya untuk memberikan manfaat-manfaat tertentu bagi mereka.

Charles Hodge: “There is, however, a sense in which it is scriptural to say that Christ died for all men. This is very different from saying that he died equally for all men, ... To die for one is to die for his benefit. As Christ’s death has benefited the whole world, prolonged the probation of men, secured for them innumerable blessings, provided a righteousness sufficient and suitable for all, it may be said that he dies for all. And in reference to this obvious truth the language of the apostle, should any prefer this interpretation, may be understood, ‘Why should we destroy one for whose benefit Christ laid down his life?’” [= Tetapi ada suatu arti dimana adalah sesuatu yang alkitabiah untuk mengatakan bahwa Kristus mati untuk semua manusia. Ini sangat berbeda dengan mengatakan bahwa Ia mati secara sama untuk semua manusia, ... Mati untuk seseorang berarti mati untuk keuntungannya. Karena kematian Kristus telah memberikan keuntungan kepada seluruh dunia, memperpanjang masa pencobaan manusia, memastikan untuk mereka berkat-berkat yang tak terhitung, menyediakan suatu kebenaran yang cukup dan cocok untuk semua, maka bisa dikatakan bahwa Ia mati untuk semua. Dan berkenaan dengan kebenaran yang nyata ini, kalau ada orang yang memilih penafsiran ini, maka bahasa / kata-kata dari sang rasul (dalam 1Kor 8:11 ini) bisa diartikan: ‘Mengapa kita harus menghancurkan seseorang untuk keuntungan siapa Kristus telah menyerahkan nyawaNya?’] - ‘I & II Corinthians’, hal 149.



c)   Ibr 10:29 - Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?”.

Ayat ini bisa dipakai oleh orang-orang Arminian untuk menyerang 3 point dari 5 points Calvinisme, yaitu:

1.   Point ke 2 (tentang Predestinasi).
Kata-kata ‘darah perjanjian yang menguduskannya’ bisa dipakai sebagai dasar untuk mengatakan bahwa orang yang dibicarakan ini ditebus oleh darah Kristus, dan karena itu jelas termasuk orang pilihan. Tetapi dari kata-kata ‘hukuman yang harus dijatuhkan atas dia’ terlihat bahwa ia akhirnya binasa. Jadi, predestinasi / penentuan selamat untuk orang ini ternyata gagal.

2.   Point ke 3 (tentang Limited Atonement / Penebusan Terbatas).
Kata-kata ‘darah perjanjian yang menguduskannya’ bisa dipakai sebagai dasar untuk mengatakan bahwa orang yang dibicarakan ini ditebus oleh darah Kristus. Tetapi dari kata-kata ‘hukuman yang harus dijatuhkan atas dia’ terlihat bahwa ia akhirnya binasa. Jadi, Kristus mati untuk orang yang akhirnya binasa / non pilihan, dan ini bertentangan dengan doktrin Limited Atonement (= Penebusan Terbatas).

3.   Point ke 5 (tentang Keselamatan yang tidak bisa hilang / Ketekunan orang-orang kudus).
Kata-kata ‘darah perjanjian yang menguduskannya’ bisa dipakai sebagai dasar untuk mengatakan bahwa orang yang dibicarakan ini bukan hanya ditebus oleh darah Kristus, tetapi juga bahwa orang ini sudah percaya kepada Kristus dan sudah selamat. Tetapi dari kata-kata ‘hukuman yang harus dijatuhkan atas dia’ terlihat bahwa ia akhirnya binasa. Jadi, ini menunjukkan bahwa seseorang yang sudah selamat bisa kehilangan keselamatannya.

Adam Clarke (tentang Ibr 10:26): “If we deliberately, for fear of persecution or from any other motive, renounce the profession of the Gospel and the Author of that Gospel, after having rejected the knowledge of the truth so as to be convinced that Jesus is the promised Messiah, ... for such there remaineth no sacrifice for sins; ... Jesus being now the only sacrifice which God will accept, those who reject him have none other: therefore their case must be utterly without remedy. This is the meaning of the apostle, and the case is that of a deliberate apostate - one who has utterly rejected Jesus Christ and his atonement, and renounced the whole Gospel system. It has nothing to do with backsliders in our common use of that term. A man may be overtaken in a fault, or he may deliberately go into sin, and yet neither renounce the Gospel, nor deny the Lord that bought him. His case is dreary and dangerous, but it is not hopeless; no case is hopeless but that of the deliberate apostate, who rejects the whole Gospel system, after having been saved by grace, or convinced of the truth of the Gospel (= Jika kita dengan sengaja, karena takut terhadap penganiayaan atau dari motivasi / alasan yang lain, meninggalkan pengakuan terhadap Injil dan Pencipta / Sumber dari Injil itu, setelah menolak pengetahuan tentang kebenaran sehingga diyakinkan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan, ... untuk orang-orang seperti itu di sana tidak tersisa korban untuk dosa-dosa; ... Karena sekarang Yesus adalah satu-satunya korban yang Allah akan terima, mereka yang menolakNya tidak mempunyai korban yang lain: karena itu kasus mereka haruslah sepenuhnya tanpa obat. Ini adalah arti dari sang Rasul, dan kasusnya adalah kasus kemurtadan sengaja - seseorang yang telah sepenuhnya menolak Yesus Kristus dan penebusanNya, dan meninggalkan seluruh sistim Injil. Itu tidak berhubungan dengan orang-orang yang mundur / merosot dalam penggunaan umum dari istilah itu. Seseorang bisa diserang secara tiba-tiba dalam suatu kesalahan, atau ia bisa dengan sengaja berjalan ke dalam dosa, tetapi tidak meninggalkan Injil, ataupun menyangkal Tuhan yang telah membelinya. Kasusnya adalah suram dan berbahaya, tetapi itu bukan tanpa harapan; tak ada kasus yang tanpa harapan kecuali kasus dari kemurtadan sengaja, yang menolak seluruh sistim Injil, setelah diselamatkan oleh kasih karunia, atau diyakinkan tentang kebenaran dari Injil) - hal 757.
Catatan: bagian yang saya garis-bawahi, jelas merupakan pandangan Arminian. Saya tak beranggapan bahwa orang ini sungguh-sungguh sudah diselamatkan. Yang seperti ini tidak mungkin murtad.

Penjelasan:

Kita harus membahas Ibr 10:29 dengan memperhatikan kontextnya, yaitu Ibr 10:25-31 - “(25) Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. (26) Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. (27) Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka. (28) Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua atau tiga orang saksi. (29) Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia? (30) Sebab kita mengenal Dia yang berkata: ‘Pembalasan adalah hakKu. Akulah yang akan menuntut pembalasan.’ Dan lagi: ‘Tuhan akan menghakimi umatNya.’ (31) Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup”.

1.   Ada sesuatu yang perlu diperhatikan, yaitu bahwa bagian ini menunjuk pada kemurtadan.
Dasar dari pandangan ini: ay 26 dan ay 28-29 menunjuk pada kemurtadan.

a.   Ay 26: Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.
Ini menunjuk pada kebiasaan yang dilakukan terus menerus; dan ini cocok dengan kemurtadan, karena ‘murtad’ bukanlah tindakan sesaat, tetapi tindakan yang dilakukan terus menerus.
Pulpit Commentary (hal 268) mengatakan bahwa kata Yunani yang digunakan untuk ‘berbuat dosa’ adalah suatu participle, yang berada bukan dalam bentuk aorist / lampau, tetapi dalam bentuk present, dan karena itu menunjukkan suatu kebiasaan terus menerus.
Penafsiran ini juga sesuai dengan ay 25 yang mendahuluinya, yang juga membicarakan kebiasaan buruk, yaitu menjauhkan diri dari pertemuan ibadah.
Ay 25: “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat”.

Calvin (tentang Ibr 10:26): Those who sin, mentioned by the Apostle, are not such as offend in any way, but such as forsake the Church, and wholly alienate themselves from Christ. For he speaks not here of this or of that sin, but he condemns by name those who willfully renounced fellowship with the Church. But there is a vast difference between particular fallings and a complete defection of this kind, by which we entirely fall away from the grace of Christ. And as this cannot be the case with any one except he has been already enlightened, he says, ‘If we sin willfully, after that we have received the knowledge of the truth;’ as though he had said, ‘If we knowingly and willingly renounce the grace which we had obtained.’ (= Mereka yang berbuat dosa, disebutkan oleh sang Rasul, bukanlah orang-orang yang melakukan kesalahan dengan sembarang cara, tetapi orang-orang yang meninggalkan Gereja, dan sepenuhnya menjauhkan diri mereka sendiri dari Kristus. Karena ia berbicara di sini bukan tentang dosa ini atau dosa itu, tetapi ia mengecam dengan nama / sebutan, mereka yang dengan sengaja meninggalkan persekutuan dengan Gereja. Tetapi ada suatu perbedaan besar antara kejatuhan-kejatuhan khusus dan suatu tindakan meninggalkan yang lengkap / sempurna dari jenis ini, dengan mana kita sepenuhnya murtad / jatuh dari kasih karunia Kristus. Dan karena ini tidak bisa merupakan kasus dengan siapapun, kecuali ia telah diterangi, ia berkata, ‘Jika kita berdosa dengan sengaja, setelah kita menerima pengetahuan tentang kebenaran’; seakan-akan ia telah berkata, ‘Jika kita dengan tahu dan sengaja meninggalkan kasih karunia yang telah kita terima’).

Calvin (tentang Ibr 10:26): And that the Apostle here refers only to apostates, is clear from the whole passage; for what he treats of is this, that those who had been once received into the Church ought not to forsake it, as some were wont to do. He now declares that there remained for such no sacrifice for sin, because they had willfully sinned after having received the knowledge of the truth. But as to sinners who fall in any other way, Christ offers himself daily to them, so that they are to seek no other sacrifice for expiating their sins. He denies, then, that any sacrifice remains for them who renounce the death of Christ, which is not done by any offense except by a total renunciation of the faith (= Dan bahwa sang Rasul di sini menunjuk hanya pada orang-orang murtad, adalah jelas dari seluruh text; karena apa yang ia bicarakan adalah ini, bahwa mereka yang telah satu kali diterima ke dalam Gereja tidak boleh meninggalkannya, seperti beberapa orang biasa melakukannya. Sekarang ia menyatakan bahwa untuk orang-orang seperti itu di sana tidak tersisa korban untuk dosa, karena mereka telah berdosa dengan sengaja setelah mendapat pengetahuan tentang kebenaran. Tetapi berkenaan dengan orang-orang berdosa yang jatuh dengan cara lain apapun, Kristus menawarkan diriNya sendiri setiap hari kepada mereka, sehingga mereka tidak boleh mencari korban yang lain untuk menebus dosa-dosa mereka. Jadi, ia menyangkal bahwa korban apapun tersisa untuk mereka yang meninggalkan / menyangkal kematian Kristus, yang dilakukan bukan oleh sembarang pelanggaran kecuali oleh suatu tindakan meninggalkan iman secara total).

Calvin (tentang Ibr 10:26): The clause, ‘after having received the knowledge of the truth,’ was added for the purpose of aggravating their ingratitude; for he who willingly and with deliberate impiety extinguishes the light of God kindled in his heart has nothing to allege as an excuse before God. Let us then learn not only to receive with reverence and prompt docility of mind the truth offered to us, but also firmly to persevere in the knowledge of it, so that we may not suffer the terrible punishment of those who despise it (= Anak kalimat ‘setelah menerima pengetahuan tentang kebenaran’, ditambahkan untuk tujuan memperburuk sikap tidak tahu terima kasih mereka; karena ia yang dengan sukarela dan dengan kejahatan sengaja memadamkan terang Allah yang dinyalakan dalam hatinya tidak mempunyai apapun yang akan dinyatakan sebagai suatu  dalih di hadapan Allah. Jadi hendaklah kita belajar bukan hanya untuk menerima dengan rasa hormat / takut, dan ketundukan langsung dari pikiran terhadap kebenaran yang ditawarkan kepada kita, tetapi juga dengan teguh bertekun dalam pengetahuan tentangnya, sehingga kita tidak mengalami penghukuman yang mengerikan dari mereka yang meremehkan / menghinanya).

b.   Ay 28-29: “(28) Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua atau tiga orang saksi. (29) Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?.

·         Ay 28: “Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua atau tiga orang saksi.
Apa yang dikatakan oleh ay 28 ini tidak menunjuk kepada seadanya dosa (karena dalam hukum Musa tidak semua dosa dihukum mati), tetapi menunjuk kepada dosa kemurtadan, seperti yang digambarkan dalam Ul 17:2-7 - “(2) ‘Apabila di tengah-tengahmu di salah satu tempatmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, ada terdapat seorang laki-laki atau perempuan yang melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, Allahmu, dengan melangkahi perjanjianNya, (3) dan yang pergi beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya, atau kepada matahari atau bulan atau segenap tentara langit, hal yang telah Kularang itu; (4) dan apabila hal itu diberitahukan atau terdengar kepadamu, maka engkau harus memeriksanya baik-baik. Jikalau ternyata benar dan sudah pasti, bahwa kekejian itu dilakukan di antara orang Israel, (5) maka engkau harus membawa laki-laki atau perempuan yang telah melakukan perbuatan jahat itu ke luar ke pintu gerbang, kemudian laki-laki atau perempuan itu harus kaulempari dengan batu sampai mati. (6) Atas keterangan dua atau tiga orang saksi haruslah mati dibunuh orang yang dihukum mati; atas keterangan satu orang saksi saja janganlah ia dihukum mati. (7) Saksi-saksi itulah yang pertama-tama menggerakkan tangan mereka untuk membunuh dia, kemudian seluruh rakyat. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.’”.

Jadi ay 28 ini mendukung tafsiran Calvin tentang ay 26 tadi, bahwa itu bukan sembarang dosa, tetapi dosa meninggalkan Kristus / Gereja (murtad).

·         Ay 29: Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?.

Ay 29 ini menunjukkan bahwa hukuman orang yang murtad dalam jaman Perjanjian Baru lebih berat dari hukuman orang yang murtad pada jaman Perjanjian Lama. Untuk itu perhatikan kata-kata ‘betapa lebih beratnya’ pada awal ay 29.

Barclay: “The conviction of the writer to the Hebrew was that, if under the old law, apostasy was a terrible thing, it had become doubly terrible now that Christ had come” (= Keyakinan dari penulis surat Ibrani adalah bahwa jika pada jaman Perjanjian Lama, kemurtadan merupakan sesuatu yang mengerikan, itu menjadi mengerikan secara dobel karena sekarang Kristus telah datang) - hal 124.
Dan ay 29 ini juga menggambarkan kemurtadan jaman Perjanjian Baru itu sebagai:
*                     menginjak-injak Anak Allah.
*         menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya.
*                     menghina Roh kasih karunia.
Pulpit Commentary: “The blood of Jesus must be either on the heart or under the heel” (= Darah Yesus harus berada, atau di hati, atau di bawah tumit) - hal 274.

Adam Clarke dan Lenski secara explicit bahkan mengatakan bahwa orang-orang ini adalah orang-orang yang menghujat Roh Kudus.

Adam Clarke (tentang Ibr 10:29): “This is properly the sin against the Holy Spirit, which has no forgiveness” [= Ini secara tepat merupakan dosa terhadap / menentang Roh Kudus (menghujat Roh Kudus), yang tidak mempunyai pengampunan].

Lenski (tentang Ibr 10:29): It is on the basis of this mention of the Spirit, to which are added Matt. 12:31, 32; Mark 3:28, 29; Luke 12:10, that this sin is called the sin against the Holy Ghost and the unpardonable sin [= Adalah berdasarkan penyebutan Roh ini, pada mana ditambahkan Mat 12:31,32; Mark 3:28,29; Luk 12:10, bahwa dosa ini disebut dosa terhadap / menentang Roh Kudus (menghujat Roh Kudus) dan dosa yang tidak dapat diampuni] - hal 360.

Saya setuju dengan penafsiran mereka ini, karena memang selama seseorang hanya meninggalkan Kristus, tanpa disertai tindakan menghujat Roh Kudus, seharusnya ia masih bisa bertobat dan diampuni. Tetapi kalau kemurtadannya disertai dengan penghujatan terhadap Roh Kudus, maka itu tidak mungkin lagi bisa diampuni.

2.   Ini tidak berarti bahwa orang kristen sejati bisa murtad.

a.   Ada yang menganggap bahwa orang dalam Ibr 10 ini adalah orang kristen yang sejati, tetapi juga berpendapat bahwa itu tidak berarti bahwa orang kristen yang sejati bisa murtad, karena semua ini hanya merupakan suatu pengandaian, yang tidak betul-betul bisa terjadi.

Barnes’ Notes: “the apostle shows that if a true Christian were to apostatize, nothing would remain for him but the terrific prospect of eternal condemnation. ... The apostle does not, indeed, say that any one ever would thus apostatize from the true religion, nor is there any reason to believe that such a case has occurred; but, if it should occur, the doom would be inevitable” (= sang rasul menunjukkan bahwa jika seorang Kristen sejati murtad, tidak ada yang tertinggal baginya kecuali prospek yang mengerikan dari hukuman kekal. ... Tetapi sang rasul tidak mengatakan bahwa ada orang yang murtad seperti itu dari agama yang benar, juga tidak ada alasan untuk percaya bahwa kasus seperti itu telah terjadi; tetapi, jika hal itu terjadi, malapetaka tidak akan terhindarkan) - hal 1310.

b.   Ada yang menganggap bahwa orang yang dibicarakan di sini adalah orang kristen KTP. Penafsiran ini didasarkan pada ayat-ayat seperti Mat 24:24  Yoh 8:31  1Yoh 2:18-19 dan 2Yoh 9, yang menunjukkan secara explicit bahwa orang kristen yang sejati tidak mungkin bisa betul-betul sesat / murtad.

John Owen: The season and circumstance which state the sin intended is, ‘after we have received the knowledge of the truth.’ There is no question but that by ‘the truth,’ the apostle intends the doctrine of the gospel; and the ‘receiving’ of it is, upon the conviction of its being truth, to take on us the outward profession of it. Only there is an emphasis in that word, th<n ejpi>gnwsin. This word is not used anywhere to express the mere conceptions or notions of the mind about truth, but such an acknowledgment of it as ariseth from some sense of its power and excellency. This, therefore, is the description of the persons concerning whom this sin is supposed: They were such as unto whom the gospel had been preached; who, upon conviction of its truth, and sense of its power, had taken upon them the public profession of it. And this is all that is required to the constitution of this state [= waktu / masa dan keadaan yang menyatakan dosa yang dimaksudkan adalah, ‘setelah kita menerima pengetahuan tentang kebenaran’. Tidak ada keraguan bahwa dengan ‘kebenaran’, sang rasul memaksudkan doktrin / ajaran dari injil; dan ‘penerimaan’nya, pada keyakinan bahwa itu adalah kebenaran, menunjukkan kepada kita pengakuan lahiriah tentangnya. Hanya di sana ada suatu penekanan dalam kata itu, TEN EPIGNOSIN (= ‘the knowledge’ / pengetahuan). Kata ini tidak digunakan dimanapun untuk menyatakan semata-mata pengertian atau pandangan dari pikiran tentang kebenaran, tetapi suatu pengakuan tentangnya yang muncul dari pengertian / perasaan tertentu tentang kuasa dan keunggulan / keindahannya. Karena itu, ini merupakan penggambaran dari orang-orang berkenaan dengan siapa dosa ini dianggap: Mereka adalah orang-orang kepada siapa injil telah diberitakan; yang, pada keyakinan tentang kebenarannya, dan pengertian / perasaan tentang kuasanya, telah melakukan pengakuan umum tentangnya. Dan ini adalah semua yang dibutuhkan bagi pembentukan dari keadaan ini] - ‘The Works of John Owen’, vol 6, hal 530.

Keberatan:
Kalau mereka ini memang orang kristen KTP, mengapa dalam ay 29 dikatakan ‘darah perjanjian yang menguduskannya?

Jawaban terhadap keberatan ini:

Matthew Poole: “‘Wherewith he was sanctified;’ ... to despise that blood by which he thought he was so, and boasted of it, and was so reputed by the church upon his baptism and profession of his faith, and, as a member of the church, had a visible relation to it, ...” (= ‘dengan mana ia dikuduskan’; ... menghina darah itu dengan mana ia kira ia dulunya demikian, dan membanggakan tentangnya, dan dianggap demikian oleh gereja pada baptisannya dan pengakuan tentang imannya, dan sebagai seorang anggota gereja, mempunyai suatu hubungan yang kelihatan dengannya, ...) - hal 857.

Jadi, Matthew Poole menganggap bahwa orang yang murtad itu disebut demikian (‘dikuduskan oleh darah perjanjian’), hanya karena ia tadinya mengaku demikian, atau karena ia diakui oleh gereja sebagai orang kristen, atau karena ia sudah dibaptis, atau karena ia mengaku sebagai orang kristen, atau karena ia menjadi anggota gereja, dan sebagainya. Jadi ayat ini menyebut dia sesuai dengan pengakuannya atau sesuai dengan keadaan lahiriahnya. Kitab Suci memang sering menggambarkan orang sesuai pengakuannya / keadaan lahiriahnya (bdk. Yoh 2:23-25  Yoh 6:66  Kis 8:13).

David Dickson mengatakan (hal 60) bahwa pengudusan ini merupakan pengudusan lahiriah, dimana seseorang dipisahkan dari dunia dan dipersembahkan untuk melayani Allah oleh panggilan (calling) dan perjanjian (covenant), dan ini merupakan sesuatu yang berlaku umum untuk gereja yang kelihatan. Dalam arti seperti ini seluruh / setiap jemaat Israel disebut kudus. Ini berbeda dengan pengudusan batiniah, yang terjadi karena tinggalnya Roh Kudus dalam diri seseorang, dan pengudusan batiniah ini hanya bisa terjadi pada diri orang pilihan.

John Owen kelihatannya mempunyai pandangan yang sama dengan David Dickson.
John Owen: “It is not real or internal sanctification that is here intended; but it is a separation and dedication unto God; in which sense the word is often used. ... those who by baptism, and confession of faith in the church of Christ, were separated from all others, were peculiarly dedicated to God thereby” (= Bukanlah pengudusan yang sungguh-sungguh dan di dalam yang dimaksudkan di sini; tetapi itu merupakan suatu pemisahan dan pendedikasian kepada Allah; dimana arti kata itu sering digunakan. ... mereka yang oleh baptisan, dan pengakuan iman dalam gereja Kristus, dipisahkan dari semua orang lain, secara khusus didedikasikan kepada Allah olehnya) - ‘Hebrews’, vol 6, hal 545.

Kata ‘menguduskan’ tidak diartikan sebagai ‘menyucikan’, tetapi sebagai suatu tindakan memisahkan untuk dipersembahkan kepada Allah. Untuk itu perlu diketahui bahwa arti kata ‘kudus’ sebetulnya adalah:
·         ‘Berbeda dengan’ / ‘terpisah dari’.
·         ‘Dipersembahkan kepada Allah’.
Contoh: bangsa Israel disebut kudus, karena mereka dipisahkan dari bangsa-bangsa lain / dibedakan dari bangsa-bangsa lain, dan lalu dipersembahkan / diperuntukkan bagi Allah. Demikian juga kalau hari Sabat disebut kudus, dan orang kristen disebut kudus.

Juga perhatikan penggunaan kata ‘dikuduskan’ dan ‘kudus’ dalam 1Kor 7:14 - “Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus.
Kita tidak mungkin mengartikan bahwa kata ‘dikuduskan’ / ‘kudus’ di sini berarti ‘disucikan’ / ‘suci’, karena kalau diartikan demikian, maka seseorang bisa nunut / membonceng suami / istri / orang tuanya dalam persoalan keselamatan. Jadi ‘dikuduskan’ / ‘kudus’ di sini harus diartikan ‘berbeda dengan’ / ‘terpisah dari’. Jadi, karena adanya seseorang yang beriman dalam suatu keluarga, maka seluruh keluarga menjadi ‘berbeda dengan’ keluarga-keluarga yang lain, yang seluruhnya kafir. Mengapa berbeda? Karena adanya seorang anggota keluarga yang kristen, sekalipun hal itu tidak menyelamatkan keluarga (kecuali mereka lalu bertobat), tetapi hal itu menyebabkan keluarga tersebut ‘kecipratan’ berkat, seperti perlindungan dan pemeliharaan dari Allah, dan sebagainya.

John Murray menafsirkan text ini secara berbeda. Sama seperti penafsiran Hodge dalam pembahasan tentang 1Kor 8:11 di atas, John Murray beranggapan bahwa sekalipun penebusan yang dilakukan oleh Kristus hanya memberikan keselamatan kekal kepada orang-orang pilihan, tetapi juga memberikan keuntungan-keuntungan jasmani / duniawi yang terbatas hanya dalam kehidupan di dunia ini kepada orang-orang non pilihan. Karena itu tetap bisa dikatakan bahwa Kristus mati untuk mereka yang akhirnya binasa.

John Murray: “there are benefits accruing from the death of Christ for those who finally perish. And in view of this we may say that in respect of these benefits Christ may be said to have died for those who are the beneficiaries. In any case it is incontrovertible that even those who perish are the partakers of numberless benefits that are the fruits of Christ’s death and that, therefore, Christ’s death sustains to them this beneficial reference, a beneficial reference, however, that does not extend beyond this life” (= ada keuntungan-keuntungan yang didapatkan dari kematian Kristus bagi mereka yang akhirnya binasa. Dan mengingat akan hal ini kita bisa mengatakan bahwa berkenaan dengan keuntungan-keuntungan ini bisa dikatakan bahwa Kristus telah mati untuk mereka, yang adalah penerima dari keuntungan-keuntungan itu. Bagaimanapun juga merupakan sesuatu yang tidak dapat dibantah bahwa bahkan mereka yang binasa, ikut ambil bagian dalam keuntungan-keuntungan yang tidak terhitung, yang adalah buah-buah dari kematian Kristus, dan bahwa karena itu, kematian Kristus menyuplai mereka keuntungan ini, tetapi itu merupakan suatu keuntungan yang terbatas dalam kehidupan ini) - ‘Collected Writings of John Murray’, vol 1, hal 64-65.

Louis Berkhof: “the design of God in the work of Christ pertained primarily and directly, not to the temporal well-being of men in general, but to the redemption of the elect; but secondarily and indirectly it also included the natural blessings bestowed on mankind indiscriminately. All that the natural man receives other than curse and death is an indirect result of the redemptive work of Christ” (= rencana Allah dalam pekerjaan Kristus berhubungan terutama dan secara langsung bukan dengan kesejahteraan sementara dari manusia secara umum, tetapi dengan penebusan orang-orang pilihan; tetapi secara sekunder dan tidak langsung itu juga mencakup berkat-berkat alamiah / biasa yang diberikan kepada umat manusia tanpa pandang bulu. Semua yang diterima oleh manusia duniawi selain kutuk dan kematian merupakan hasil tidak langsung dari pekerjaan penebusan dari Kristus) - ‘Systematic Theology’, hal 438-439.

Yang manapun yang benar dari penafsiran-penafsiran di atas ini, menunjukkan bahwa Ibr 10:29 tidak bertentangan dengan doktrin Limited Atonement (= Penebusan Terbatas), ataupun Predestinasi dan Ketekunan orang-orang kudus.




d)   2Pet 2:1 - “Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka [KJV: ‘even denying the Lord that bought them’ (= bahkan menyangkal Tuhan yang telah membeli mereka)] dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.

Adam Clarke: “It is not certain whether God the Father be intended here, or our Lord Jesus Christ; for God is said to have purchased the Israelites, Exod. 15:16, and to be the Father that had bought them, Deut. 32:6, ... or they may point out Jesus Christ, who had bought them with his blood; ... It seems, however, more natural to understand the Lord that bought them as applying to Christ, ... and if so, this is another proof, among many, ... That through their own wickedness some may perish for whom Christ died” (= Tidak pasti apakah yang dimaksudkan di sini adalah Allah Bapa atau Tuhan kita Yesus Kristus; karena Allah dikatakan telah membeli orang-orang Israel, Kel 15:16, dan adalah Bapa yang telah membeli mereka, Ul 32:6, ... atau itu bisa menunjuk kepada Yesus Kristus, yang telah membeli mereka dengan darahNya; ... Tetapi kelihatannya lebih alamiah untuk menerapkan kata-kata ‘Tuhan yang telah membeli mereka’ kepada Kristus, ... dan jika demikian, ini merupakan satu bukti lagi, di antara banyak bukti, ... Bahwa melalui kejahatan mereka sendiri sebagian orang binasa untuk siapa Kristus telah mati) - hal 884.
Catatan: kata-kata ‘Penguasa yang telah menebus mereka’, oleh KJV diterjemahkan ‘the Lord that bought them’ (= Tuhan yang telah membeli mereka).

Kel 15:16 - “Ngeri dan takut menimpa mereka, karena kebesaran tanganMu mereka kaku seperti batu, sampai umatMu menyeberang, ya TUHAN, sampai umat yang Kauperoleh menyeberang”.
Kata ‘Kauperoleh’ oleh KJV/RSV/NASB diterjemahkan: ‘thou hast purchased’ (= telah Kaubeli); dan oleh NIV diterjemahkan: ‘you bought’ (= telah Kaubeli).

Ul 32:6 - “Demikianlah engkau mengadakan pembalasan terhadap TUHAN, hai bangsa yang bebal dan tidak bijaksana? Bukankah Ia Bapamu yang mencipta engkau, yang menjadikan dan menegakkan engkau?”.
Kata ‘mencipta engkau’ oleh KJV diterjemahkan: ‘hath bought thee’ (= telah membeli engkau). NASB » KJV, sedangkan RSV/NIV » Kitab Suci Indonesia.

Pulpit Commentary: “The Lord had bought them; they were not their own, but his, bought with a price, ‘not with corruptible things, as silver and gold, but with the precious blood of Christ’ (1Pet. 1:18; see also the parallel passage Jude 4). These words plainly assert the universality of the Lord’s redemption. He ‘tasted death for every man’ (Heb. 2:9), even for those false teachers who denied him” [= Tuhan telah membeli mereka; mereka bukan milik mereka sendiri, tetapi milikNya, dibeli dengan suatu harga, ‘bukan dengan barang yang fana, seperti perak dan emas, tetapi dengan darah Kristus yang mahal / berharga’ (1Pet 1:18; lihat juga text paralelnya, Yudas 4). Kata-kata ini secara jelas menegaskan keuniversalan dari penebusan Tuhan. Ia ‘mencicipi / mengalami maut bagi semua / setiap orang’ (Ibr 2:9), bahkan untuk guru-guru palsu yang menyangkalNya itu] - hal 43.

Tanggapan:
2Pet 2:1 - “Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.
Kata-kata yang saya beri garis bawah ganda diterjemahkan oleh KJV sebagai berikut:
KJV: ‘even denying the Lord that bought them’ (= bahkan menyangkal Tuhan yang telah membeli mereka).

Orang-orang yang dibicarakan dalam 2Pet 2:1 ini, jelas bukan orang kristen / orang pilihan, tetapi hanya orang kristen KTP. Ini terlihat dari beberapa fakta:
1.   Mereka disebut ‘guru-guru palsu’ (ay 1,3,17), dan mereka disamakan dengan ‘nabi-nabi palsu’ dalam Perjanjian Lama (ay 1).
2.   Adanya kalimat Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan (ay 1).
3.   Neraka telah disediakan untuk mereka.
2Pet 2:3,17 - “(3) Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda. ... (17) Guru-guru palsu itu adalah seperti mata air yang kering, seperti kabut yang dihalaukan taufan; bagi mereka telah tersedia tempat dalam kegelapan yang paling dahsyat.
4.   Penggambaran tentang kehidupan mereka dalam seluruh 2Pet 2 sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka adalah orang kristen yang sejati.
5.   Mereka digambarkan sebagai ‘anjing’ dan ‘babi’.
2Pet 2:22 - “Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: ‘Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.’”.

Jadi, digunakannya kata-kata ‘Penguasa yang telah menebus mereka’ / ‘Tuhan yang telah membeli mereka’ (KJV), tidak menunjukkan bahwa mereka adalah orang kristen yang sejati, tetapi hanya menggambarkan mereka menurut pengakuan mereka.

Alexander Nisbet: “‘That they should deny the Lord that bought them;’ which is not to be understood as if either Christ had died for such men (for then they could not have perished, John 10:11,28), or as if they had expressly denied Christ to be the Redeemer; for then could they not have prevailed as they did with professors of Christ (v 2), ... The meaning therefore is that they, being by profession and in their own and other’s esteem, redeemed ones, should vent such errors as would in substance tend to the denial of the sovereignty and Lordship of Christ over His people” [= ‘Bahwa mereka menyangkal Tuhan yang telah membeli mereka’; yang tidak boleh dimengerti seakan-akan Kristus telah mati untuk orang-orang seperti itu (karena kalau demikian mereka tidak bisa binasa, Yoh 10:11,28), atau seakan-akan mereka secara explicit menyangkal Kristus sebagai Penebus; karena kalau demikian mereka tidak akan bisa diikuti oleh para pengaku Kristus (ay 2), ... Karena itu artinya adalah bahwa mereka mengaku sebagai orang-orang yang ditebus, dan juga dalam pandangan mereka sendiri ataupun orang-orang lain, mereka adalah orang-orang yang ditebus, tetapi mereka menyemburkan kesalahan-kesalahan yang pada hakekatnya merupakan penyangkalan terhadap kedaulatan dan keTuhanan dari Kristus atas umatNya] - hal 245.

Matthew Poole: “This is spoken not only of their pretences, that they should profess themselves redeemed by Christ, but in the style of the visible church, which should judge them to be so till they declared the contrary by their wicked actions; ... whosoever professeth himself to be redeemed by Christ, and yet denies him in his deeds, is said to deny the Lord that bought him” (= Ini dikatakan bukan hanya karena kepura-puraan mereka, dimana mereka mengaku diri mereka sendiri ditebus oleh Kristus, tetapi dalam gaya dari gereja yang kelihatan, yang harus menilai mereka demikian sampai mereka menyatakan sebaliknya oleh tindakan-tindakan mereka yang jahat; ... siapapun mengaku dirinya sendiri ditebus oleh Kristus, tetapi menyangkalNya dalam perbuatan-perbuatannya, dikatakan menyangkal Tuhan yang telah membeli mereka) - hal 921.

Louis Berkhof: “that these false teachers are described according to their own profession and the judgment of charity. They gave themselves out as redeemed men, and were so accounted in the judgment of the Church while they abode in her communion” (= bahwa guru-guru palsu ini digambarkan menurut pengakuan mereka sendiri dan penghakiman / penilaian dari kasih. Mereka menyatakan diri mereka sendiri sebagai orang-orang yang ditebus, dan dianggap demikian dalam penghakiman / penilaian dari Gereja sementara mereka tinggal dalam persekutuan Gereja) - ‘Systematic Theology’, hal 397.

Kesimpulan tentang pembahasan 4 ayat di atas:
1.   Tentang Ro 14:15 dan 1Kor 8:11, saya menganggap bahwa itu hanya merupakan pengandaian, yang tidak betul-betul terjadi. Jadi dalam kedua ayat itu Paulus menasehati saudara yang kuat justru supaya saudara yang lemah tidak kehilangan keselamatannya.
2.   Tentang Ibr 10:29 dan 2Pet 2:1 saya berpendapat bahwa orang yang dibicarakan bukanlah orang Kristen yang sejati, tetapi orang kristen KTP, tetapi mereka digambarkan sesuai dengan pengakuan mereka, atau sesuai dengan kelihatannya.

4)    Kalau Kristus tidak mati untuk semua orang, maka penginjilan kepada semua orang merupakan suatu tawaran yang cuma pura-pura / tidak sungguh-sungguh, karena orang-orang itu tidak ditebus, dan karena itu tidak mungkin diselamatkan.
Catatan: serangan ini juga ditujukan terhadap doktrin tentang predestinasi.

Jawab:

a)   Tidak ada yang tidak sungguh-sungguh dengan penginjilan kepada semua orang.
Dalam penginjilan, kita hanya memberitakan Kristus yang tersalib, dan menyuruh pendengar kita untuk percaya kepadaNya, dan menjanjikan bahwa setiap orang yang percaya akan diselamatkan. Dan memang benar bahwa setiap orang yang percaya akan selamat. Orang pilihan pasti akan percaya (Kis 13:48  Yoh 10:16), sedangkan orang yang bukan pilihan, bagi siapa penebusan Kristus memang tidak ditujukan, tidak akan bisa percaya (Yoh 10:26), dan karena itu tidak akan diselamatkan.

Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.

Yoh 10:16,26 - “(16) Ada lagi padaKu domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suaraKu dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. ... (26) tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-dombaKu.

b)         Penginjilan merupakan perintah Tuhan.

William G. T. Shedd: The question arises: If the atonement of Christ is not intended to be universally applied, why should it be universally offered? The gospel offer is to be made to every man because … 1. It is the divine command ... God has forbidden his ministers to except any man in the offer (= Pertanyaan muncul: Jika penebusan Kristus tidak dimaksudkan untuk diterapkan / digunakan secara universal, mengapa itu harus ditawarkan secara universal? Penawaran injil harus dibuat kepada setiap orang karena ... 1. Itu merupakan perintah ilahi. ... Allah telah melarang para pelayanNya untuk mengecualikan orang manapun dalam penawaran itu) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, Vol II, hal 482.
Bdk. Mat 28:19  Kis 1:8.

c)   Satu-satunya cara penginjilan yang memungkinkan adalah memberitakan Injil kepada semua orang; merupakan suatu kemustahilan untuk memberitakan Injil hanya kepada orang-orang pilihan saja.

William G. T. Shedd: No offer of the atonement is possible but a universal offer. In order to be offered at all, Christ’s sacrifice must be offered indiscriminately. A limited offer of the atonement to the elect only would require a revelation from God informing the preacher who they are. As there is no such revelation and the herald is in ignorance on this point, he cannot offer the gospel to some and refuse it to others. In this state of things there is no alternative but to preach Christ to everybody or to nobody (= Tak ada penawaran dari penebusan yang memungkinkan kecuali penawaran yang bersifat universal. Supaya bisa ditawarkan, korban Kristus harus ditawarkan secara tidak membedakan. Suatu penawaran terbatas dari penebusan hanya kepada orang-orang pilihan, akan membutuhkan suatu wahyu / penyataan dari Allah untuk memberikan informasi kepada sang pengkhotbah siapa orang-orang pilihan itu. Karena tidak ada wahyu / penyataan seperti itu, dan orang yang memproklamirkan injil ada dalam ketidak-tahuan tentang hal ini, ia tidak bisa menawarkan injil kepada sebagian orang dan menolak untuk menawarkannya kepada orang-orang lain. Dalam keadaan ini tidak ada alternatif selain memberitakan Kristus kepada setiap orang atau tidak kepada siapa-siapa) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, Vol II, hal 482.

d)   Injil diberitakan supaya orang percaya kepada Kristus sebagai Juruselamat, bukan supaya mereka percaya pada predestinasi ataupun ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas).

William G. T. Shedd: “The offer of the atonement is universal, because, when God calls upon men universally to believe, he does call them to believe that they are elected, or that Christ died for them in particular (= Penawaran penebusan adalah universal, karena, pada waktu Allah memanggil mereka secara universal untuk percaya, Ia tidak memanggil mereka untuk percaya bahwa mereka dipilih, atau bahwa Kristus mati bagi mereka secara khusus) - ‘Dogmatic Theology’, Vol II, hal 485.

John Murray: “The doctrines of particular election, differentiating love, limited atonement do not erect any fence around the offer in the gospel” (= Doktrin tentang pemilihan khusus, kasih yang mengadakan pembedaan, penebusan terbatas, tidak mendirikan pagar apapun di sekeliling penawaran dalam injil) - ‘Collected Writings of John Murray’, vol 1, hal 81.

e)   Hukum Tuhan yang lain diberitakan kepada semua orang tak peduli mereka bisa mentaatinya atau tidak; injil juga harus diberitakan tak peduli pendengarnya bisa percaya atau tidak.
Ketidak-mampuan manusia untuk taat / percaya kepada Kristus terjadi karena kesalahan manusia sendiri, dan itu tidak membuang atau mengurangi kewajibannya untuk taat / percaya kepada Kristus.

William G. T. Shedd: The atonement is to be offered to every man because it is the duty of every man to trust in it. The atonement is in this particular like the Decalogue. The moral law is to be preached to every man because it is every man’s duty to obey it. The question whether every man will obey it has nothing to do with the universal proclamation of the law. ... In like manner faith in Christ’s atonement should be required as a duty from every man, notwithstanding the fact that ‘no man can come unto Christ except the Father draw him’ (John 6:44); that ‘faith is not of ourselves, but is the gift of God’ (Eph. 2:8); and that Christ is ‘the author and finisher of faith’ (Heb. 12:2). Man’s inability without the grace of God to penitently trust in Christ’s atonement, being self-caused like his inability to perfectly keep the moral law without the same grace, still leaves his duty in the case binding upon him [= Penebusan harus ditawarkan kepada setiap orang karena itu adalah kewajiban dari setiap orang untuk mempercayainya. Penebusan dalam hal khusus ini adalah seperti 10 hukum Tuhan. Hukum moral harus diberitakan kepada setiap orang karena merupakan kewajiban setiap orang untuk mentaatinya. Persoalan apakah setiap orang akan mentaatinya tidak ada hubungannya dengan proklamasi universal dari hukum itu. ... Dengan cara yang sama iman kepada penebusan Kristus harus dituntut sebagai suatu kewajiban dari setiap orang, sekalipun dalam faktanya ‘tak seorangpun dapat datang kepada Kristus kecuali Allah menariknya’ (Yoh 6:44); dan juga ‘iman bukanlah dari diri kita sendiri, tetapi adalah pemberian Allah’ (Ef 2:8); dan bahwa Kristus adalah ‘pencipta dan penyelesai dari iman’ (Ibr 12:2). Ketidak-mampuan manusia tanpa kasih karunia Allah untuk dengan menyesal percaya kepada penebusan Kristus, disebabkan oleh dirinya sendiri seperti ketidak-mampuannya untuk mentaati secara sempurna hukum moral tanpa kasih karunia yang sama, tetap meninggalkan kewajibannya sebagai mengikat dia dalam kasus itu] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, Vol II, hal 487-488.

Ibr 12:2 - “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah”.
KJV: Jesus the author and finisher of our faith (= Yesus pencipta / pemulai dan penyelesai dari iman kita).
NIV: Jesus, the author and perfecter of our faith (= Yesus, pencipta / pemulai dan penyempurna dari iman kita).

f)    Orang-orang pilihan pasti selamat, tetapi mereka tidak mungkin selamat kalau tidak percaya, dan mereka tidak mungkin percaya kalau tidak mendengar Injil, dan mereka tidak mungkin mendengar Injil kalau tidak ada yang memberitakan kepada mereka.

R. C. Sproul mengutip Ro 10:13-15 yang berbunyi sebagai berikut: “(13) Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. (14) Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya? (15) Dan bagaimana mereka dapat memberitakanNya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: ‘Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!’”.

R. C. Sproul: We notice the logic of Paul’s progression here. He lists a series of necessary conditions for people to be saved. Without sending there are no preachers. Without preachers there is no preaching. Without preaching there is no hearing of the gospel. Without the hearing of the gospel there is no believing of the gospel. Without the believing of the gospel there is no calling upon God to be saved. Without the calling upon God to be saved there is no salvation. God not only foreordains the end of salvation for the elect, he also foreordained the means to that end. God has chosen the foolishness of preaching as the means to accomplish redemption. I suppose he could have worked out his divine purpose without us. He could publish the gospel in the clouds using his holy finger in skywriting. He could preach the gospel himself, in his own voice, shouting it from heaven. But that is not his choice. It is a marvelous privilege to be used by God in the plan of redemption. (= Kita memperhatikan logika dari kemajuan Paulus di sini. Ia mendaftar suatu seri dari kondisi / syarat yang perlu supaya orang-orang diselamatkan. Tanpa pengutusan di sana tidak ada pemberita. Tanpa pemberita, di sana tidak ada pemberitaan. Tanpa pemberitaan di sana tidak ada yang mendengar injil. Tanpa mendengar injil di sana tidak ada kepercayaan terhadap injil. Tanpa kepercayaan terhadap injil di sana tidak ada seruan kepada Allah untuk diselamatkan. Tanpa seruan kepada Allah untuk diselamatkan, di sana tidak ada keselamatan. Allah bukan hanya menentukan lebih dulu tujuan dari keselamatan untuk orang-orang pilihan, Ia juga menentukan lebih dulu cara / jalan menuju tujuan itu. Allah telah memilih kebodohan pemberitaan injil sebagai cara / jalan untuk mengerjakan / melengkapi penebusan. Saya anggap Ia bisa mengerjakan tujuan / rencana ilahiNya tanpa kita. Ia bisa mengumumkan injil di awan-awan menggunakan jariNya yang kudus dengan menulis di langit. Ia bisa memberitakan Injil sendiri, dalam / dengan suaraNya sendiri, meneriakkannya dari surga. Tetapi itu bukanlah pilihanNya. Merupakan suatu hak yang mengagumkan untuk dipakai oleh Allah dalam rencana penebusan.) - ‘Chosen by God’, hal 209-210.

R. C. Sproul: We must never underestimate the importance of our role in evangelism. Neither must we overestimate it. We preach. We bear witness. We provide the outward call. But God alone has the power to call a person to himself inwardly. I do not feel cheated by that. On the contrary, I feel comforted. We must do our job, trusting that God will do his (= Kita tidak boleh meremehkan pentingnya peranan kita dalam penginjilan. Kita juga tidak boleh menilainya terlalu tinggi. Kita memberitakan. Kita memberikan kesaksian. Kita menyediakan panggilan luar / lahiriah. Tetapi Allah saja yang mempunyai kuasa untuk memanggil seseorang kepada diriNya sendiri dari dalam. Saya tidak merasa ditipu oleh hal itu. Sebaliknya, saya merasa dihibur. Kita harus melakukan pekerjaan kita, sambil percaya bahwa Allah akan melakukan pekerjaanNya) - ‘Chosen by God’, hal 212.

Bdk. 1Kor 3:5-9 - “(5) Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. (6) Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. (7) Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. (8) Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. (9) Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah”.

g)   Memang mungkin kepercayaan terhadap doktrin ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas) ini agak ‘menyukarkan’ kita dalam memberitakan Injil.
Dalam pemberitaan Injil secara masal (melalui khotbah dsb) maka tak ada masalah. Kita bisa tetap mengatakan bahwa Kristus mati untuk ‘kalian’, tanpa memberi penjelasan siapa saja yang termasuk dalam ‘kalian’ itu. Masakan dari banyak orang yang hadir tak ada yang termasuk orang-orang pilihan? Jadi, itu bukan dusta.
Yang jadi ‘masalah’ adalah dalam penginjilan pribadi. Dulu, sebelum saya percaya pada doktrin ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas) ini, saya dengan mudah bisa berkata ‘Kristus mati untuk kamu, dan dengan demikian menujukan penebusan Kristus khusus untuk dia.
Tetapi sekarang, setelah saya percaya pada doktrin ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas) ini maka kalau saya mengatakan itu, kata-kata itu mungkin sekali merupakan dusta, karena saya tak tahu apakah ia orang pilihan atau bukan. Jadi, saya hanya bisa mengatakan secara umum, bahwa ‘Kristus mati untuk menebus dosa manusia.

Tetapi ‘masalah’ ini bukan masalah. Kalau kita memberitakan Injil dengan cara yang benar, saya percaya bahwa itu bukan hanya tetap akan diberkati, tetapi bahkan akan lebih diberkati (dari pada kalau kita memberitakan Injil dengan cara yang salah)!
Jangan lupa bahwa pertobatan orang yang kita injili tidak tergantung kata-kata kita, tetapi tergantung pekerjaan Roh Kudus, dan Roh Kudus pasti akan lebih senang bekerja kalau kita memberitakan kebenaran.

John Murray: “Sinners do not come to Christ because they first believe that they have been elected. They come to Christ and only then may they believe that they were chosen in Christ before the foundation of the world. The same is true in the matter of the atonement. It cannot be declared to men indiscriminately that, in the proper sense of the term, Christ died for them. The belief of this proposition is the primary act of faith. Only in commitment to Christ as freely offered may we come to know that he died for our sins unto our redemption” (= Orang-orang berdosa tidak datang kepada Kristus karena mereka lebih dulu percaya bahwa mereka telah dipilih. Mereka datang kepada Kristus dan hanya pada saat itu mereka percaya bahwa mereka telah dipilih dalam Kristus sebelum dunia dijadikan. Hal yang sama adalah benar dalam persoalan penebusan. Tidak bisa dinyatakan kepada manusia tanpa pembedaan / pandang bulu bahwa, dalam arti yang benar dari istilah itu, bahwa Kristus mati untuk mereka. Kepercayaan tentang usul / hal ini adalah tindakan utama dari iman. Hanya dalam komitmen kepada Kristus sebagaimana ditawarkan dengan cuma-cuma, kita bisa tahu bahwa Ia mati untuk dosa-dosa kita untuk penebusan kita) - ‘Collected Writings of John Murray’, vol 1, hal 84.


V) Serangan balik.


Dalam pembahasan saya sampai saat ini tentu sudah ada banyak serangan terhadap pandangan Arminianisme, tetapi di sini saya mau menambahkan 2 serangan tambahan.

1)    Ada tiga pilihan yang diberikan oleh John Owen; dan satu-satunya kemungkinan yang benar adalah pandangan ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas).

John Owen: “God imposed his wrath due unto, and Christ underwent the pains of hell for, either all the sins of all men, or all the sins of some men, or some sins of all men. If the last, some sins of all men, then have all men some sins to answer for, and so shall no man be saved; for if God enter into judgment with us, though it were with all mankind for one sin, no flesh should be justified in his sight: ... If the second, that is it which we affirm, that Christ in their stead and room suffered for all the sins of all the elect in the world. If the first, why, then, are not all freed from the punishment of all their sins? You will say, ‘Because of their unbelief; they will not believe.’ But, this unbelief, is it a sin, or not? If not, why should they be punished for it? If it be, then Christ underwent the punishment due to it, or not. If so, then why must that hinder them more that their other sins for which he died from partaking of the fruit of his death? If he did not, then did he not die for all their sins. Let them choose which part they will” (= Allah menjatuhkan kemurkaanNya yang disebabkan oleh, dan Kristus mengalami rasa sakit neraka untuk, atau ‘semua dosa-dosa dari semua manusia’, atau ‘semua dosa-dosa dari sebagian manusia’, atau ‘sebagian dosa-dosa dari semua manusia’. Jika yang terakhir, ‘sebagian dari dosa-dosa dari semua manusia’, maka semua manusia harus bertanggung jawab untuk sebagian dosa-dosanya, dan dengan demikian tidak ada orang yang akan diselamatkan; karena jika Allah menghakimi kita, sekalipun itu dilakukan terhadap seluruh umat manusia hanya  untuk satu dosa, tidak ada manusia yang dibenarkan di hadapanNya: ... Jika yang kedua, maka itu adalah yang kami tegaskan, bahwa Kristus telah menderita di tempat mereka untuk semua dosa-dosa dari semua orang-orang pilihan di dunia. Jika yang pertama, lalu mengapa tidak semua dibebaskan dari hukuman dari semua dosa-dosa mereka? Kamu akan berkata: ‘Karena ketidak-percayaan mereka; mereka tidak mau percaya’. Tetapi, ketidak-percayaan ini adalah suatu dosa, atau bukan? Jika ketidak-percayaan bukan merupakan dosa, mengapa mereka harus dihukum untuk itu? Jika ketidak-percayaan merupakan dosa, maka Kristus mengalami hukuman yang disebabkan oleh dosa itu, atau tidak. Jika ya, lalu mengapa itu harus menghalangi mereka untuk ikut menikmati buah kematianNya lebih dari dosa-dosa mereka yang lain untuk mana Dia mati? Jika tidak, maka Ia tidak mati untuk semua dosa mereka. Biarlah mereka memilih bagian mana yang mereka mau) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, ‘The Death of Christ’, hal 173-174.

Penjelasan kata-kata Owen di atas:
Allah menjatuhkan kemurkaanNya yang disebabkan oleh ..........
Kristus mengalami ‘rasa sakit neraka’ untuk ..............
Titik-titik di atas bisa diisi oleh 3 kemungkinan di bawah ini:
a)   sebagian dosa-dosa dari semua manusia’.
b)   semua dosa-dosa dari sebagian manusia’ - ini pandangan Reformed.
c)   semua dosa-dosa dari semua manusia’ - ini pandangan Arminian.

Pandangan a) jelas sesat, karena kalau Kristus mati hanya untuk sebagian dosa dari semua manusia, semua manusia tetap akan dihukum dalam neraka untuk dosa-dosa mereka yang tidak dipikul oleh Kristus.

Jika pandangan c) yang benar, maka mengapa tidak semua manusia dibebaskan dari hukuman? Orang Arminian menjawab: karena mereka tidak percaya. Sekarang dipertanyakan: ketidak-percayaan itu merupakan dosa atau bukan?
1.   Sebetulnya mengatakan bahwa ketidak-percayaan bukan merupakan dosa merupakan sesuatu yang mustahil. Bdk. Yoh 6:29 - “Jawab Yesus kepada mereka: ‘Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.’”.
Tetapi jika ada orang yang tetap berkeras mengatakan bahwa ketidak-percayaan bukan dosa, mengapa orang harus dihukum karena sesuatu yang bukan dosa? Mengapa orang harus dihukum karena tidak percaya?
2.   Jika ya, Kristus mati untuk dosa itu atau tidak?
a.   Jika ya, mengapa ketidak-percayaan itu menghalangi mereka masuk surga, padahal dosa-dosa mereka yang lain tidak menghalangi mereka masuk surga?
b.   Jika tidak, maka itu berarti Kristus tidak mati untuk semua dosa (ini menjadi pandangan a) yang jelas merupakan pandangan sesat).
Kesimpulan: pandangan c) tidak mungkin benar.

Kalau pandangan a) merupakan pandangan sesat, dan pandangan c) merupakan pandangan yang salah, maka yang tersisa adalah pandangan b) yaitu ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas) yang merupakan pandangan Calvinisme / Reformed .

Catatan: kalau Calvinisme / Reformed percaya bahwa Kristus juga menebus dosa ketidakpercayaan, ini tentu tidak berarti bahwa kita diselamatkan sekalipun kita tidak percaya sampai kita mati.

Ingat bahwa Ia menebus semua dosa dari orang-orang pilihan, yang pasti akan bertobat dan percaya kepada Yesus.
Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.
Orang-orang pilihan, sebelum mereka percaya kepada Yesus, juga adalah orang yang tidak percaya. Jadi, ketidakpercayaan selama mereka belum menjadi orang kristen, tetap ditebus dan diampuni.

2)    Kalau Calvinisme membatasi luas penebusan, maka Arminianisme membatasi kuasa / nilai penebusan.

Loraine Boettner: “When the atonement is made universal its inherent value is destroyed. If it is applied to all men, and some are lost, the conclusion is that it makes salvation objectively possible for all but that it does not actually save anybody. According to the Arminian theory the atonement has simply made it possible for all men to co-operate with the divine grace and thus save themselves - if they will. ... The Arminian limits the atonement as certainly as does the Calvinist. The Calvinist limits the extent of it in that he says it does not apply to all persons; while the Arminian limits the power of it, for he says that in itself it does not actually save anybody. The Calvinist limits it quantitatively, but not qualitatively; the Arminian limits it qualitatively, but not quantitatively. For the Calvinist it is like a narrow bridge which goes all the way across the stream; for the Arminian it is like a great wide bridge which goes half-way across. As a matter of fact, the Arminian places more severe limitations on the work of Christ than does the Calvinist” (= Pada waktu penebusan dijadikan bersifat universal, nilainya dihancurkan. Jika penebusan itu diterapkan kepada semua manusia, dan sebagian ternyata terhilang, kesimpulannya adalah bahwa penebusan itu membuat keselamatan memungkinkan secara obyektif bagi semua orang, tetapi penebusan itu tidak betul-betul menyelamatkan siapapun. Menurut teori Arminian penebusan hanya membuat menjadi mungkin bagi semua orang untuk bekerja sama dengan kasih karunia ilahi dan dengan demikian menyelamatkan diri mereka sendiri, jika mereka mau / menghendakinya. ... Orang Arminian membatasi penebusan sama pastinya seperti yang dilakukan oleh orang Calvinist. Orang Calvinist membatasi luas dari penebusan dalam kata-katanya bahwa penebusan itu tidak berlaku bagi semua orang; sementara orang Arminian membatasi kuasa dari penebusan itu, karena ia mengatakan bahwa dalam dirinya sendiri penebusan itu tidak betul-betul menyelamatkan siapapun. Orang Calvinist membatasi penebusan itu secara kwantitatif / jumlah, tetapi tidak secara kwalitatif / kwalitet; Orang Arminian membatasi penebusan itu secara kwalitatif / kwalitet, tetapi tidak secara kwantitatif / jumlah. Untuk orang Calvinist penebusan itu seperti suatu jembatan yang sempit yang mencapai seberang sungai; untuk orang Arminian penebusan itu seperti jembatan besar yang lebar yang hanya sampai setengah lebar sungai. Dalam faktanya, orang Arminian memberikan batasan-batasan yang lebih keras pada pekerjaan Kristus dari apa yang dilakukan oleh orang Calvinist) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 152-153.

Loraine Boettner mengutip kata-kata Warfield: “The things we have to choose between are an atonement of high value, or an atonement of wide extension. The two cannot go together” (= Hal-hal yang harus kita pilih adalah antara suatu penebusan dengan nilai yang tinggi, atau suatu penebusan yang luas. Dua hal itu tidak bisa berjalan bersama-sama) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 152-153.

Dan Loraine Boettner lalu melanjutkan: “The work of Christ can be universalized only by evaporating its substance” (= Pekerjaan Kristus bisa diuniversalkan hanya dengan menguapkan substansi / zatnya) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 153.

Loraine Boettner juga mengutip kata-kata Charles Hodge:
The sin of Adam did not make the condemnation of all men merely possible; it was the ground of their actual condemnation. So the righteousness of Christ did not make the salvation of men merely possible, it secured the actual salvation of those for whom He wrought (= Dosa dari Adam tidak membuat penghukuman semua manusia sekedar mungkin; itu adalah dasar penghukuman mereka yang sebenarnya. Demikianlah kebenaran Kristus tidak membuat keselamatan manusia sekedar mungkin, itu memastikan keselamatan yang sebenarnya dari mereka untuk siapa Ia mengerjakan) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 154-155.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar