Kamis, 20 Maret 2014

PENDERITAAN & KEMATIAN KRISTUS


Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div

II KORINTUS 5:15;   MATIUS 27:26-50


Pendahuluan:

Penderitaan dan kematian Yesus di atas kayu salib sudah sering kita dengar, tetapi seringkali hal ini tidak terlalu berkesan kepada kita karena:

·         hanya diberitakan secara sepintas lalu.
·         hanya kita dengar / baca dengan otak, tidak dengan hati.
·         tidak pernah kita renungkan.

Karena itu, hari ini saya mengajak saudara untuk melihat lebih jelas tentang penderitaan dan kematian yang Yesus alami bagi kita itu, supaya saudara bisa merenungkannya sehingga semua itu menjadi sesuatu yang ‘hidup’ untuk kita semua!

I) Kristus telah mati (2Kor 5:15).

A)  Kristus adalah Allah sendiri, yang lalu menjadi manusia dengan tujuan utama untuk menderita dan mati bagi manusia yang berdosa (Mat 20:28  Yoh 12:27  Ibr 2:14,16-17  1Pet 1:18-20).

B)  Penderitaan dan kematian Kristus:
Untuk bisa melihat lebih jelas tentang penderitaan dan kematian Yesus, mari kita melihat Mat 27!

1)   Yesus disesah (Mat 27:26)
Hal itu diceritakan begitu singkat, sehingga bisa saja kita menganggap itu sebagai penderitaan yang kecil! Tetapi sesungguhnya jelas tidak demikian. Untuk menunjukkan betapa hebatnya penyiksaan ini, saya memberikan kutipan kata-kata William Barclay yang berbunyi sebagai berikut:

“Roman scourging was a terrible torture. The victim was stripped; his hands were tied behind him, and he was tied to a post with his back bent double and conveniently exposed to the lash. The lash itself was a long leather thong, studded at intervals with sharpened pieces of bone and pellets of lead. Such scourging always preceded crucifixion and ‘it reduced the naked body to strips of raw flesh, and inflamed and bleeding weals’. Men died under it, and men lost their reason under it, and few remained conscious to the end of it” [= Pencambukan Romawi adalah suatu penyiksaan yang hebat. Korban ditelanjangi, tangannya diikat kebelakang, lalu ia diikat pada suatu tonggak dengan punggungnya dibungkukkan sehingga terbuka terhadap cambuk. Cambuk itu sendiri adalah suatu tali kulit yang panjang, yang ditaburi dengan potongan-potongan tulang dan butiran-butiran timah yang runcing. Pencambukan seperti itu selalu mendahului penyaliban dan ‘pencambukan itu men-jadikan tubuh telanjang itu menjadi carikan-carikan daging mentah, dan bilur-bilur yang meradang dan berdarah’. Ada orang yang mati kare-nanya, dan ada orang yang kehilangan akalnya (menjadi gila?) karena-nya, dan sedikit orang bisa tetap sadar sampai akhir pencambukan].

Leon Morris (NICNT):
“Scourging was a brutal affair. It was inflicted by a whip of several thongs, each of which was loaded with pieces of bone or metal. It could make pulp of a man’s back” (= Pencambukan adalah suatu peristiwa yang brutal. Hal itu diberikan dengan sebuah cambuk yang terdiri dari beberapa tali kulit, yang masing-masing diberi potongan-potongan tulang atau logam. Itu bisa membuat punggung seseorang menjadi bubur).

William Hendriksen:
“The Roman scourge consisted of a short wooden handle to which several thongs were attached, the ends equipped with pieces of lead or brass and with sharply pointed bits of bone. The stripes were laid especially on the victim’s back, bared and bent. Gener­ally two men were employed to administer this punishment, one lashing the victim from one side, one from the other side, with the result that the flesh was at times lacerated to such an extent that deep-seated veins and arteries, sometimes even entrails and inner organs, were exposed. Such flogging, from which Roman citi­zens were exempt (cf. Acts 16:37), often resulted in death” (= Cambuk Romawi terdiri dari gagang kayu yang pendek yang diberi beberapa tali kulit, yang ujungnya dilengkapi dengan potongan-potongan timah atau kuningan dan potongan-potongan tulang yang diruncingkan. Pencambukan diberikan terutama pada punggung korban, yang ditelanjangi dan dibungkukkan. Biasanya 2 orang dipekerjakan untuk melaksanakan hukuman ini, yang seorang mencambuki dari satu sisi, yang lain mencambuki dari sisi yang lain, dengan akibat bahwa daging yang dicambuki itu kadang-kadang koyak / sobek sede­mikian rupa sehingga pembuluh darah dan arteri yang terletak di dalam, kadang-kadang bahkan isi perut dan organ bagian dalam, menjadi terbuka / terlihat. Pencambukan seperti itu, yang tidak boleh dilakukan terhadap warga negara Romawi (bdk. Kis 16:37), sering berakhir dengan kematian).

Kalau seseorang dicambuki dengan cambuk biasa saja, maka itu sudah merupakan suatu penderitaan / penyiksaan yang hebat. Apalagi kalau seseorang dicambuki dengan cambuk Romawi. Pada waktu cambuk Romawi itu dicambukkan ke punggung yang sudah ditelanjangi, maka benda-benda tajam yang ada pada cambuk itu menancap di punggung dan menggoresnya / mengirisnya. Itu baru cambukan pertama. Pada waktu cambukan kedua diberikan maka bisa saja benda-benda tajam pada cambuk itu menancap persis pada bagian yang sudah terluka / tergores / teriris oleh cambukan pertama tadi. Tentunya ini akan memperdalam luka tadi. Demikian seterusnya sampai punggung yang dicambuki itu secara hurufiah menjadi hancur / menjadi pita-pita atau bahkan menjadi bubur, dan pembuluh darah dan organ tubuh bagian dalam menjadi terbuka / terlihat.

Sekarang, bisakah saudara merasakan beratnya siksaan ini? Satu-satunya hal yang ‘enak’ dari penyiksaan ini adalah bahwa pencam-bukan sebelum penyaliban ini mempercepat kematian di atas kayu salib (karena darah yang keluar sangat banyak)!

Bayangkan dan renungkan penyesahan yang Yesus alami ini! Ia mengalami hal ini untuk menebus dosa-dosa saudara! Masihkah saudara mau meremehkan dosa?

2)   Yesus diejek dan dihina.

Sebelum Yesus disalibkan, Ia sudah mengalami hinaan dan ejekan (Mat 27:28-31).
Ada yang mengatakan bahwa mahkota duri bukan dimaksudkan untuk menyiksa tetapi hanya untuk mengejek, tetapi ada juga yang beranggapan bahwa mahkota duri dimaksudkan sebagai suatu hinaan / ejekan dan sekaligus juga sebagai suatu penyiksaan. Seseorang mengatakan bahwa disana tumbuh suatu tanaman dengan duri yang panjangnya antara 4-6 inci (10-15 cm)! Ia memperkirakan tanaman inilah yang dipakai untuk membuat mahkota duri yang lalu ditan-capkan ke kepala Yesus!

Pada saat Yesus sudah ada di kayu salib, Iapun tetap masih mene-rima hinaan dan ejekan (Mat 27:39-44). Perhatikan kebodohan dari pengejek-pengejek itu dalam Mat 27:40,42! Mereka berkata bahwa mereka mau percaya kepada Yesus kalau Yesus turun dari kayu salib!
William Booth (pendiri ‘Bala Keselamatan’) mengomentari bagian ini dengan mengatakan:
“It is precisely because he would not come down that we believe in him” (= Justru karena Ia tidak mau turun maka kita percaya kepada Dia).

Memang, kalau Kristus tidak tahan terhadap hinaan / ejekan itu, dan Ia turun dari kayu salib, maka tidak ada Juruselamat / Penebus dosa bagi kita, dan tidak ada gunanya bagi kita untuk percaya kepada Dia. Semua ini akan menyebabkan kita semua akan masuk neraka! Tetapi, puji Tuhan, Ia mau menahan ejekan dan hinaan itu demi kita!

William Barclay memberikan komentar sebagai berikut atas peristiwa ini: “The Jews could see God only in power; but Jesus showed that God is sacrificial love” (= Orang-orang Yahudi itu hanya bisa melihat Allah dalam kuasa, tetapi Yesus menunjukkan bahwa Allah adalah kasih yang berkorban).

3)   Yesus memikul salib (Mat 27:32  bdk. Yoh 19:17).
Ada 2 hal yang perlu diketahui tentang tradisi pemikulan salib:

a)  Yang dipikul bukan seluruh salib, tetapi hanya bagian yang hori-zontal, sedangkan bagian yang vertikal ‘menunggu’ di tempat penyaliban. Tetapi bagian horizontal inipun cukup berat.

b)   Orang yang akan disalib itu harus memikul salibnya ke tempat penyaliban, dan ia digiring melewati route / jalur yang sejauh mungkin, dengan tujuan supaya bisa dilihat oleh sebanyak mung-kin orang, sebagai suatu peringatan bagi orang-orang itu.

4)   Yesus disalibkan (Mat 27:35).

a)   Pemberian minum sebelum penyaliban.
Persis sebelum Yesus disalibkan, Ia diberi minum anggur bercam-pur empedu, tetapi setelah mengecapnya, Ia menolak minuman itu (Mat 27:34). Untuk mengetahui alasan penolakan ini, marilah kita melihat kata-kata William Barclay lagi:

“At that moment, in order to deaden the pain, the criminal was given a drink of drugged wine ... as an act of mercy ... but he would not drink it, for he was determined to accept death at its bitterest and at its grimmest and to avoid no particle of pain” (= Pada saat itu, untuk mematikan / mengurangi rasa sakit, kriminil itu diberi minuman anggur bius ... sebagai tindakan belas kasihan ... tetapi Ia tidak mau meminumnya, karena Ia telah bertekad untuk menerima kematian yang paling pahit dan seram dan untuk tidak menghindari sedikitpun rasa sakit).

Jadi, jelas bahwa Yesus sadar bahwa saat itu Ia sedang memikul hukuman dosa kita. Kalau Ia mau meminum anggur bius itu, maka rasa sakitnya akan dikurangi sehingga Ia tidak memikul seluruh hukuman dosa kita. Kalau itu, terjadi, maka sekalipun kita seka-rang percaya kepada Dia, maka tetap ada sebagian dosa yang harus kita tanggung sendiri! Itu pasti akan mengakibatkan semua kita masuk ke neraka! Tetapi puji Tuhan, Ia menolak minuman itu karena Ia mau memikul 100% hukuman dosa kita! Karena itu, kalau sekarang kita percaya kepada Yesus, maka 100% dosa kita diampuni (baik dosa-dosa yang lalu, yang sekarang, maupun yang akan datang) dan kita tidak mungkin akan dihukum (bdk. Ro 8:1)!

b)   Penyaliban.

Setelah menolak anggur bius itu, Yesus disalibkan! Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang penyaliban:

1.   Penyaliban adalah hukuman yang paling mengerikan!
Seorang penulis Yahudi yang bernama Klausner berkata:
“Crucifixion is the most terrible and cruel death which man has ever devised for taking vengeance on his fellow-men” (= Penyaliban adalah kematian yang paling mengerikan dan kejam yang pernah dipikirkan / ditemukan manusia terhadap sesamanya).

2.   Bentuk dari salib.
Yang paling kuno hanya berbentuk suatu tiang saja. Kata Yu-nani yang diterjemahkan ‘salib’ adalah STAUROS yang sebe-tulnya berarti ‘an upright stake’ (= tiang tegak).

Tetapi dengan berlalunya waktu, lalu muncul beberapa variasi:

a.   Ada yang berbentuk seperti salib yang kita kenal sekarang. Kayu vertikal bisa sama atau lebih panjang dari kayu hori-zontalnya.
b.   Ada yang berbentuk huruf ‘T’.
c.   Ada yang berbentuk huruf ‘X’.
d.   Ada yang berbentuk huruf ‘Y’.

Dari Mat 27:37 dimana dikatakan bahwa di atas kepala Yesus ada tulisan, maka kemungkinan besar salib Yesus berbentuk seperti yang lazim kita kenal (variasi 1).

3.   Penyaliban.
Supaya saudara bisa membayangkan dan merasakan betapa beratnya hukuman ini, maka saya lagi-lagi memberikan kutipan kata-kata William Barclay sebagai berikut:

“When they reached the place of crucifixion, the cross was laid flat on the ground. The prisoner was stretched upon it and his hands nailed to it. The feet were not nailed, but only loosely bound. Between the prisoner’s legs projected a ledge of wood called the saddle, to take his weight when the cross was raised upright - otherwise the nails would have torn through the flesh of the hands. The cross was then lifted upright and set in its socket - and the criminal was left to die ... Sometimes prisoners hung for as long as a week, slowly dying of hunger and thirst, suffering sometimes to the point of actual madness” [= Ketika mereka sampai di tempat penyaliban, salib itu ditidurkan di atas tanah. Orang hukuman itu direntangkan di atasnya, dan tangannya dipakukan pada salib itu. Kakinya tidak dipakukan, tetapi hanya diikat secara longgar. Di antara kaki-kaki dari orang hukuman itu (diselangkangannya), menonjol sepotong kayu yang disebut sadel, untuk menahan berat orang itu pada waktu salib itu ditegakkan - kalau tidak maka paku-paku itu akan merobek daging di tangannya. Lalu salib itu ditegakkan dan dimasukkan di tempatnya - dan kriminil itu dibiarkan untuk mati ... Kadang-kadang, orang-orang hukuman tergantung sampai satu minggu, mati perlahan-lahan karena lapar dan haus, menderita sampai pada titik dimana mereka menjadi gila].

Catatan: Barclay menganggap bahwa yang dipaku hanyalah tangan saja. Kaki hanya diikat secara longgar, tetapi tidak dipaku. Ini ia dasarkan pada:
a.   Tradisi.
b.   Yoh 20:25,27 yang tidak menyebut-nyebut tentang bekas paku pada kaki.

Tetapi saya berpendapat bahwa Yesus dipaku bukan hanya tangannya, tetapi juga kakinya. Alasan saya:

a.  Penulis-penulis lain ada yang mengatakan bahwa tradisinya tak selalu seperti yang dikatakan oleh Barclay. Ada penjahat yang kakinya dipaku menjadi satu, dan ada juga yang kakinya dipaku secara terpisah.
b.   Maz 22, yang adalah mazmur / nubuat tentang salib (baca seluruh mazmur itu), berkata pada ay 17b: ‘mereka menu-suk tangan dan kakiku’.
c.   Dalam Luk 24:39-40, Tuhan Yesus menunjukkan tangan dan kakiNya! Pasti karena ada bekas pakunya!

Klausner juga menggambarkan hebatnya penderitaan orang yang disalib sebagai berikut:

“The criminal was fastened to his cross, already a bleeding mass from the scourging. There he hung to die of hunger and thirst and exposure, unable even to defend himself from the torture of the gnats and flies which settled on his naked body and on his bleeding wounds” [= Kriminil itu dilekatkan / dipakukan pada salib; pada saat itu ia sudah penuh dengan darah karena pencambukan. Disana ia tergantung untuk mati karena lapar, haus dan kepanasan(?), bahkan tidak bisa membela dirinya sendiri dari siksaan dari nyamuk dan lalat yang hinggap pada tubuhnya yang telanjang dan pada luka-lukanya yang berdarah].

Barclay lalu mengatakan:
“It is not a pretty picture but that is what Jesus Christ suffered - willingly - for us” (= Itu bukanlah suatu gambaran yang bagus, tetapi itu adalah apa yang diderita oleh Yesus Kristus - dengan sukarela - bagi kita).

5)   Yesus juga mengalami penderitaan rohani (ay 46).

Dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli ada kalimat yang berbunyi: ‘turun ke dalam neraka / kerajaan maut’.
Bagian ini seringkali ditafsirkan secara salah dan diartikan bahwa Yesus betul-betul turun ke neraka / Hades / Sheol / tempat penantian, dan lalu memberitakan Injil di sana (ayat pendukung yang dipakai secara salah adalah 1Pet 3:18-20). Akhirnya, dari sini timbul ajaran yang mengatakan bahwa kalau di dunia ini kita tidak bertobat, maka ada kesempatan ke dua untuk bertobat, yaitu di tempat penantian, pada waktu Yesus menginjili kita di sana.

Keberatan terhadap ajaran itu:

a)   Andaikatapun dahulu, antara kematian dan kebangkitanNya, Yesus betul-betul turun ke tempat penantian untuk memberitakan Injil, itu tidak berarti bahwa sekarang Ia akan melakukannya lagi!
Jangan percaya akan adanya kesempatan yang kedua! Itu adalah ajaran sesat! Kalau memang ada kesempatan kedua, untuk apa Firman Tuhan menyuruh kita mati-matian memberitakan Injil? Dan untuk apa Firman Tuhan menyuruh kita bertobat cepat-cepat?

b)   Luk 23:46, yang paralel dengan Mat 27:50, menunjukkan bahwa setelah mati, Yesus pergi kepada BapaNya (ke surga). Dan Luk 23:43 menunjukkan bahwa Ia pergi ke Firdaus (dari 2Kor 12:2,4 terlihat bahwa Firdaus adalah surga!).
Dari ayat-ayat ini jelaslah bahwa pada saat mati, Yesus tidak turun kemana-mana, tetapi pergi ke surga!
Catatan: Yoh 20:17 juga sering ditafsirkan secara salah sehingga seolah-olah berarti bahwa Yesus tidak pergi ke surga antara kematian dan kebangkitanNya. Tetapi ayat itu tidak berarti begitu! Dalam ayat itu Yesus bukannya melarang Maria ‘memegang’ Dia (bdk. Mat 28:9 dimana Yesus dipeluk), tetapi melarang Maria untuk ‘menggandoli’ Dia (NIV: ‘Do not hold on to me‘; NASB: ‘Stop clinging to me’), karena Ia harus pergi kepada Bapa (artinya: karena Ia harus naik ke surga!).

Arti yang benar: kata-kata ‘turun ke dalam neraka / Kerajaan Maut’ menunjukkan penderitaan / kematian rohani yang dialami oleh Yesus. Calvin berkata bahwa 12 Pengakuan Iman Rasuli mula-mula menunjukkan penderitaan secara jasmani (yang terlihat oleh mata) yang dialami oleh Yesus, dan setelah itu menunjukkan penderitaan rohani (yang tak terlihat oleh mata).

Dan hal ini terjadi pada Mat 27:46 pada saat Yesus berkata: ‘AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?’. Ini adalah suatu penderitaan / kematian rohani bagi Yesus karena saat itu Allah Bapa meninggalkan Dia (Yesus sebagai Allah dan manusia!). Ini bukanlah suatu perpisahan lokal, tetapi perpisahan rohani! Dan ini adalah sesuatu yang paling menyakitkan bagi Yesus, karena sepanjang hidupNya Ia tidak pernah berpisah dengan BapaNya!

II) Kristus mati untuk semua orang (2Kor 5:15).

1)   Ia mati untuk orang / manusia.
Semua manusia adalah manusia berdosa yang sama sekali tidak layak dikasihi, apalagi ditebus dengan pengorbanan sebesar itu! Tetapi inilah kasih karunia Kristus, yang rela memberi penebusan / anugerah kese-lamatan kepada kita, padahal kita sama sekali tidak layak untuk diberi apapun, kecuali kutukan dan hukuman kekal di neraka!

2)   Ia mati untuk ‘semua orang’.
Dalam ayat ini kata-kata ‘semua orang’ tidak betul-betul berarti ‘semua orang’, tetapi berarti ‘semua orang pilihan’.
Dasar dari pandangan ini:

a)   Dalam Kitab Suci, kata ‘semua’ memang tidak selalu berarti ‘semua’. Kadang-kadang kata ‘semua’ berarti ‘semua orang pilihan / semua orang yang percaya’.
Misalnya: Ro 5:18b  1Kor 15:22b  Kis 2:17.

b)   ‘untuk semua orang’ (2Kor 5:14-15).
Kata ‘untuk’ berasal dari kata Yunani HUPER yang berarti ‘instead of / in place of’ (= sebagai pengganti). Orang yang telah digantikan oleh Kristus dalam memikul hukuman, pasti tidak mungkin dihukum, karena kalau ia tetap dihukum itu berarti Allah menagih hutang yang sudah dibayar oleh Kristus! Itu jelas tidak adil!
Kalau dikatakan bahwa Kristus telah mati untuk semua orang, artinya adalah: Kristus telah mati sebagai pengganti semua orang. Kalau kata ‘semua’ betul-betul diartikan sebagai ‘semua’, maka itu berarti bahwa ayat ini mengajarkan Universalisme (= ajaran yang mengatakan bahwa semua orang akhirnya akan masuk surga), yang jelas merupa-kan ajaran sesat!

c) Kalau ‘semua orang’ berarti ‘semua orang pilihan’, maka ini cocok dengan 2Kor 5:15b, yang mengatakan ‘telah mati dan dibangkitkan untuk mereka’, karena kata ‘mereka’ ini menunjuk pada ‘orang-orang yang hidup’.

III) Tujuan kematian Kristus.

Dalam 2Kor 5:15 dikatakan bahwa tujuan kematian Kristus adalah: ‘supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia’.
Jadi, ada 3 hal yang menjadi tujuan:

1)   Pertama-tama supaya mereka ‘hidup’.

Yang dimaksud dengan hidup di sini tentu saja adalah hidup secara rohani. Semua manusia di dalam Adam mati secara rohani, dan Yesus datang untuk mati bagi kita, supaya dengan demikian, Ia bisa memberi hidup secara rohani kepada kita (Yoh 10:10).

Supaya kita menerima hidup itu, maka kita harus percaya kepada Dia (Yoh 11:25-26).
Hanya percaya? Mengapa begitu mudah? Seorang penafsir menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan:

“The reason it is so easy to obtain salvation is because it cost God so much” (= Alasan mengapa begitu mudah bagi kita untuk mendapatkan keselamatan adalah karena Allah sudah membayar mahal untuk itu).

Sekalipun caranya mudah, tetapi kalau tidak kita lakukan, kita tidak akan mendapatkan hidup, dan itu berarti kita akan masuk neraka!
Sudahkah saudara betul-betul percaya Yesus?

2)   Supaya orang yang ‘hidup’, tidak hidup untuk dirinya sendiri.

a)   Banyaknya problem dan kenikmatan dunia bisa menyebabkan kita hidup untuk diri sendiri, bahkan untuk dosa / setan!
b)   Seseorang mengatakan: “The root of sin is I” (= Akar dari dosa adalah aku).
c)   Yesus sudah rela mengalami penderitaan dan kematian yang begitu mengerikan bagi kita. Pantaskah kalau kita tanggapi dengan hidup untuk diri sendiri? Maukah saudara mati bagi diri sendiri?

3)   Supaya orang yang ‘hidup’ itu hidup untuk Kristus.
Kalau no 2 di atas adalah sesuatu yang bersifat negatif, maka no 3 ini bersifat positif. 2 hal ini saling melengkapi. Yang satu tidak lengkap tanpa yang lain.
Ada orang-orang yang tidak hidup untuk diri sendiri, tetapi hidup untuk:

a)         Umat manusia.
b)         Binatang (grup pencinta binatang).
c)         Ilmu pengetahuan.
d)         Kesenian / musik.
e)         Negara / bangsa.
f)          Keluarga dsb.

Sekalipun mereka tidak melakukan hal yang negatif, tetapi mereka belum melakukan hal yang positif! Kristus bukan hanya menghendaki supaya kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tetapi juga supaya kita hidup untuk Dia! Kita tentu masih juga harus memperhatikan keluarga, negara dan bangsa, umat manusia dsb, tetapi tujuan tertinggi / tujuan akhir kita adalah Kristus!

Penutup:

Renungkan segala penderitaan dan kematian yang Kristus alami bagi saudara, dan ambillah keputusan untuk:

1)   Percaya dengan sungguh-sungguh kepada Dia.
2)   Mati bagi diri saudara sendiri.
c)   Hidup bagi Dia.

Maukah saudara?



-AMIN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar