Kamis, 27 Maret 2014

PERCAYA SEKALIPUN TIDAK MELIHAT

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div

YOHANES 20:24-29

I) Mengapa orang sukar percaya pada kebangkitan?

1)   Karena setan bekerja.
Setan selalu bekerja pada saat manusia mendengar suatu kebenaran rohani.
Ada suatu fakta yang sangat penting untuk diperhatikan, yaitu bahwa pada waktu seseorang mendengar sesuatu dari surat kabar, majalah, TV, bahkan iklan dan gossip, ia dengan mudah percaya, tanpa meminta bukti. Tetapi kalau seseorang mendengar firman Tuhan, maka seringkali ia tidak mau percaya sebelum ada buktinya! Mengapa? Jelas karena dalam kasus pertama, ia mendengar sesuatu yang bersifat jasmani / duniawi, sehingga setan tidak merasa perlu untuk bekerja. Tetapi dalam kasus kedua, ia mendengar suatu kebenaran rohani sehingga setan merasa perlu untuk bekerja supaya orang itu tidak percaya!

Percaya pada kebangkitan orang mati adalah sesuatu yang penting, karena kalau orang menganggap bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian, maka ia pasti akan hidup semaunya sendiri.
Bdk. 1Kor 15:32b - “Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka ‘marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati’”.

Kepercayaan pada kebangkitan Yesus dari antara orang mati, lebih-lebih merupakan sesuatu yang sangat vital untuk keselamatan kita. Ini terlihat dari Ro 10:9-10 yang berbunyi: “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan”.

Itu sebabnya dalam pemberitaan Injil, selain menekankan kematian Kristus untuk dosa-dosa kita, Paulus juga menekankan kebangkitan Kristus dari antara orang mati. Ini terlihat dari 1Kor 15:3-4 yang berbunyi: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci”.

Karena itu jelaslah bahwa pada waktu seseorang mendengar Firman Tuhan, baik tentang kebangkitan orang mati maupun tentang kebangkitan Kristus, setan pasti akan bekerja mati-matian untuk membuat orang itu tidak percaya.

2)   Hal itu dianggap tidak rasionil / tidak masuk akal.
Ini biasanya merupakan anggapan dari orang-orang yang membanggakan rasionya / kepandaiannya. Tetapi, kalau mereka sampai pada kesimpulan seperti itu, saya berpendapat bahwa itu menunjukkan kalau sebetulnya mereka justru kurang tajam / kurang teliti dalam menganalisa. Mengapa?

a)   Jelas sekali bahwa dalam menganalisa persoalan kebangkitan, mereka tidak memperhitungkan kuasa Allah yang tidak terbatas!
Kalau mereka memperhitungkan kemahakuasaan Allah, maka jelaslah bahwa mereka tidak akan menyimpulkan bahwa kebangkitan adalah sesuatu yang tidak masuk akal.
Bandingkan dengan Kis 26:8 dimana Rasul Paulus berkata: “Mengapa kamu menganggap mustahil, bahwa Allah membangkitkan orang mati?”. Juga bandingkan dengan Luk 1:37 - “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.’”.

b)   Sebetulnya kelahiran seseorang ke dalam dunia, adalah suatu peristiwa yang lebih ajaib, dan lebih ‘tidak masuk akal’, dibandingkan dengan peristiwa kebangkitan. Bagaimana bisa begitu? Perhatikan kata-kata Blaise Pascal di bawah ini:
“What reason have atheists for saying that we cannot rise again? Which is the more difficult, to be born, or to rise again? That what has never been, should be, or that what has been, should be again? Is it more difficult to come into being than to return to it? (= Apa alasan orang-orang atheis untuk mengatakan bahwa kita tidak dapat bangkit kembali? Yang mana yang lebih sukar, dilahirkan atau bangkit kembali? Sesuatu yang tidak pernah ada, menjadi ada, atau sesuatu yang sudah ada, menjadi ada lagi? Apakah lebih sukar untuk menjadi ada dari pada untuk kembali ada?) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 566.
Keterangan: Saya kira kalimat terakhir (yang digaris-bawahi) susunannya terbalik! Tetapi, bagaimanapun juga maksud dari orang itu jelas sekali. Kelahiran adalah suatu peristiwa dimana seseorang yang tadinya tidak ada, lalu menjadi ada. Ini jelas lebih ajaib / lebih tidak mungkin / lebih sukar dari peristiwa kebangkitan, dimana seseorang yang tadinya sudah ada, lalu menjadi ada lagi! Tetapi anehnya, semua orang percaya pada kelahiran, tetapi tidak percaya pada kebangkitan!

3)   Ketidakpercayaan pada Firman Tuhan, dan tidak adanya pekerjaan Roh Kudus dalam diri mereka.
Orang yang betul-betul percaya pada Firman Tuhan, pasti tidak akan sukar untuk mempercayai kebangkitan. Tetapi manusia, yang condong kepada dosa, tidak mungkin bisa percaya pada Firman Tuhan maupun kebangkitan kalau Roh Kudus tidak bekerja dalam dirinya dan memberikan iman kepadanya.

II) Mengapa Tomas tak percaya kebangkitan Yesus?

Selain ketiga alasan di atas, ada juga alasan-alasan lain:

1)   Karena Tomas tidak hadir bersama murid-murid yang lain, ketika Yesus menampakkan diri kepada mereka (ay 24  bdk. ay 19-23).
Mungkin kesedihan karena kematian Yesus menyebabkan Tomas menyendiri. Hal ini sebetulnya tidak salah. Salahnya adalah bahwa ia melakukan hal itu secara kelewat batas, sehingga ia sama sekali tidak bersekutu dengan saudara-saudara seimannya.
Kita memang tidak tahu apa tujuan para murid berkumpul pada saat itu, tetapi sedikitnya itu adalah suatu persekutuan. Bahkan ada penafsir yang beranggapan bahwa murid-murid berkumpul pada hari minggu dalam ay 19 itu, untuk berbakti.

Barnes’ Notes: “It is worthy of remark that this is the first assembly that was convened for worship on the Lord’s Day, and in that assembly Jesus was present. Since that time, the day has been observed in the church as the Christian Sabbath, particularly to commemorate the resurrection of Christ” (= Layak diperhatikan bahwa ini adalah perkumpulan pertama yang dilakukan untuk kebaktian pada hari Tuhan, dan dalam perkumpulan itu Yesus hadir. Sejak saat itu, hari itu dihormati dalam gereja sebagai Sabat Kristen, khususnya untuk memperingati kebangkitan Kristus).

Membolosnya Tomas dari kebaktian ini menyebabkan Tomas tidak menerima berkat dan sukacita yang diterima oleh murid-murid lain, karena penampakan Yesus yang terjadi pada saat itu!

Matthew Henry: “by his absence he missed the satisfaction of seeing his Master risen, and of sharing with the disciples in their joy upon that occasion. Note, Those know not what they lose who carelessly absent themselves from the stated solemn assemblies of Christians” (= karena absennya ia tidak mendapatkan kepuasan dari melihat Tuannya bangkit, dan tidak ikut ambil bagian dengan murid-murid dalam sukacita mereka pada peristiwa itu. Perhatikan, Mereka tidak tahu mereka kehilangan apa pada waktu mereka secara ceroboh absen dari perkumpulan khidmat yang ditetapkan dari orang-orang Kristen).

Penerapan: Saudara tidak akan pernah tahu berapa banyak sukacita dan berkat Tuhan yang gagal saudara terima karena saudara membolos dari Kebaktian maupun Pemahaman Alkitab! Karena itu jangan membolos! Tetapi kalau toh terpaksa tidak bisa hadir, mengingat di gereja ini ada rekaman cassette dan makalah khotbah, maka usahakanlah untuk mendengar cassette dan mempelajari makalahnya!

Ada penafsir yang bahkan beranggapan bahwa dengan absennya, Tomas bukan saja tidak menerima hal yang baik, tetapi ia mendapatkan hal yang buruk.

Adam Clarke: “Thomas had lost much good, and gained much evil, and yet was insensible of his state. Behold the consequences of forsaking the assemblies of God’s people! Jesus comes to the meeting - a disciple is found out of his place, who might have been there; and he is not only not blessed, but his heart becomes hardened and darkened through the deceitfulness of sin” (= Tomas kehilangan banyak hal yang baik, dan mendapatkan banyak hal yang buruk / jahat, tetapi ia tidak sadar akan keadaannya. Lihatlah konsekwensi dari tindakan meninggalkan perkumpulan umat Allah! Yesus datang ke pertemuan itu - seorang murid didapati tidak di tempatnya, yang sebetulnya bisa ada di sana; dan ia bukan hanya tidak diberkati, tetapi hatinya menjadi keras dan gelap melalui tipu daya dari dosa).

Kalau pada akhirnya ia toh menerima berkat dan sukacita yang sama, itu terjadi hanya karena kasih karunia Kristus. Tetapi ingat, bahwa tidak selalu hal itu terjadi. Seringkali, berkat / sukacita yang gagal kita dapatkan karena absennya kita dalam kebaktian / Pemahaman Alkitab, tidak akan kita dapatkan selama-lamanya.

2)   Tomas adalah seorang skeptis (seorang yang selalu ragu-ragu dan tidak gampang percaya), dan juga secara alamiah adalah seorang pesimis (selalu meninjau masa depan secara negatif).
Ini terlihat dalam Yoh 11:16, dan terlihat lagi di sini!

a)   Murid-murid yang lain, yang jumlahnya adalah 10 orang, bercerita kepada Tomas bahwa mereka telah melihat Yesus (ay 25a).
Matthew Henry: “Note, The disciples of Christ should endeavour to build up one another in their most holy faith, both by repeating what they have heard to those that were absent, that they may hear it at second hand, and also by communicating what they have experienced. Those that by faith have seen the Lord, and tasted that he is gracious, should tell others what God has done for their souls” (= Perhatikan, Murid-murid Kristus harus berusaha untuk saling membangun dalam iman mereka yang paling kudus, baik dengan mengulangi apa yang telah mereka dengar kepada mereka yang absen, supaya mereka bisa mendengar dari tangan kedua, dan juga dengan menyampaikan apa yang mereka alami. Mereka yang oleh iman telah melihat Tuhan, dan mengecap bahwa Ia itu murah hati, harus memberi tahu yang lain apa yang telah Allah lakukan untuk jiwa mereka).

b)   Tetapi Tomas tetap tidak percaya (ay 25b).
Ada beberapa hal yang bisa kita dapatkan dari kata-kata Tomas dalam ay 25b itu:

1.   Ada sesuatu yang bagus dalam sikap / kata-kata Tomas ini, yaitu bahwa ia jujur / tidak munafik tentang ketidak-percayaannya. Ia tidak berpura-pura untuk percaya, sekalipun 10 murid yang lain percaya bahwa Yesus sudah bangkit dari antara orang mati.
William Barclay: “He would never still his doubt by pretending that they did not exist. He was not the kind of man who would rattle off a creed without understanding what it was all about” (= Ia tidak pernah mau menenangkan keraguannya dengan berpura-pura bahwa hal itu tidak ada. Ia bukanlah jenis orang yang mau mengucapkan pengakuan iman tanpa mengerti tentang hal itu).
Penerapan: Apakah saudara sering pura-pura percaya padahal saudara ragu-ragu, atau bahkan tidak percaya? Kemunafikan saudara akan menyebabkan tidak adanya orang menolong saudara dalam hal itu, tetapi sebaliknya, keterusterangan saudara akan memudahkan saudara-saudara seiman saudara untuk menolong saudara!

2.   Tetapi ketidakpercayaan Tomas yang diungkapkan dengan kata-kata seperti itu, juga bisa berakibat negatif terhadap orang-orang lain. Jadi, kalau mau menyatakan ketidak-percayaan, lakukan itu kepada orang-orang yang teguh imannya, bukan kepada orang-orang kristen baru / lemah.

3.   Sikap Tomas ini bertentangan dengan banyak ayat Kitab Suci / Firman Tuhan.
Ibr 11:1 - Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
2Kor 5:7 - “sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat”.
Yoh 11:40 - “Jawab Yesus: ‘Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?’”.

4.   Kata-kata Tomas ini menunjukkan betapa keras kepalanya Tomas itu!
Ay 25 akhir: ‘Aku tidak akan percaya’.
NIV: ‘I will not believe’ (= Aku tidak mau percaya).
Adam Clarke: “His unbelief became obstinate: he was determined not to believe on any evidence that it might please God to give him: he would believe according to his own prejudices, or not at all” (= Ketidak-percayaannya menjadi tegar tengkuk: ia berketetapan untuk tidak percaya karena bukti apapun yang Allah berkenan berikan kepadanya: ia mau percaya menurut prasangka / pandangannya sendiri, atau tidak sama sekali).

5.   Ini menunjukkan dalamnya kejatuhan Tomas. Ia menjadi seperti orang kafir! Kalau rasul saja bisa jatuh seperti itu, lebih-lebih orang kristen biasa! Karena itu jangan sembarangan menghakimi pada saat saudara melihat orang jatuh!
Calvin: “The same thing happens sometimes with many persons; for they grow wanton for a time, as if they had cast off all fear of God, so that there appears to be no longer any faith in them; but as soon as God has chastised them with a rod, the rebellion of their flesh is subdued, and they return to their right senses” (= Hal yang sama kadang-kadang terjadi dengan banyak orang; mereka hidup sembarangan untuk suatu jangka waktu tertentu, seakan-akan mereka telah membuang semua rasa takut kepada Allah, sehingga kelihatannya tidak lagi ada iman dalam diri mereka; tetapi begitu Allah menghajar mereka dengan tongkat, pemberontakan daging mereka ditundukkan, dan mereka kembali sadar).
Calvin lalu memberi contoh tentang kejatuhan Daud (berzinah dengan Batsyeba, membunuh Uria dsb).

6.   Bagaimanapun juga, ketidakpercayaan Tomas ini adalah sesuatu yang aneh dan keterlaluan, karena:
·   ia pasti tahu bahwa dalam Perjanjian Lamapun ada orang-orang yang bangkit dari kematian (1Raja 17:17-24  2Raja 4:18-37  2Raja 13:21).
·     ia sendiri melihat Yesus membangkitkan orang mati sebanyak 3 x (Mark 5:21-43  Luk 7:11-17  Yoh 11).
·         Pada waktu Yesus mati, banyak orang kudus bangkit dari kubur (Mat 27:52-53).
·  Yesus sudah berulang-ulang memberitakan / menubuatkan tentang kematian dan kebangkitanNya (Yoh 2:18-22  Mat 16:21  Mat 17:22-23  Mat 20:18-19  Mat 26:2).
·         ada 10 murid laki-laki yang bersaksi bahwa mereka telah melihat Yesus!

III) Sikap / tindakan Yesus.

1)   Membiarkan Tomas selama 1 minggu.

a)   Ay 26: ‘8 hari kemudian’.
Maksudnya adalah 8 hari setelah ay 19. Hari pertama adalah hari Minggu. 8 hari setelah itu / hari ke 8 setelah itu juga adalah hari Minggu! (bandingkan dengan Yesus yang mati pada hari Jum’at, lalu bangkit pada hari ke 3 yang adalah hari Minggu - itulah cara mereka menghitung hari!). Jadi Yesus membiarkan Tomas selama 1 minggu

b)   Mengapa Yesus membiarkan selama 1 minggu?

1. Untuk memberi kesempatan kepada Tomas untuk bertobat dari ketidak-percayaannya terhadap kebangkitan Yesus. Mungkin selama itu, karena melihat pada sukacita yang ada dalam diri murid-murid yang lain, Tomas bisa berubah dan menjadi percaya. Tetapi ternyata Tomas tetap tidak bertobat.

2.   Supaya Tomas merasakan akibat ketidakpercayaannya.

3.   Untuk menekankan perubahan Sabat dari Sabtu menjadi hari pertama (Minggu).
Barnes’ Notes: “‘And after eight days again’. That is, on the return of the first day of the week. From this it appears that they thus early set apart this day for assembling together, and Jesus countenanced it by appearing twice with them. It was natural that the apostles should observe this day, but not probable that they would do it without the sanction of the Lord Jesus. His repeated presence gave such a sanction, and the historical fact is indisputable that from this time this day was observed as the Christian Sabbath. See Acts 20:7; 1 Cor. 16:2; Rev. 1:10.” (= ‘Dan setelah 8 hari lagi’. Yaitu, pada kembalinya hari pertama dari suatu minggu. Dari sini kelihatannya mereka demikian awal memisahkan hari ini untuk berkumpul bersama-sama, dan Yesus menyetujuinya dengan muncul 2 x bersama mereka. Adalah sesuatu yang wajar bahwa rasul-rasul memperingati hari ini, tetapi tidak mungkin bahwa mereka melakukan hal itu tanpa persetujuan dari Tuhan Yesus. KehadiranNya yang terulang memberikan persetujuan seperti itu, dan fakta historis tidak dapat dibantah bahwa sejak saat ini hari ini diperingati sebagai Sabat Kristen. Lihat Kis 20:7; 1Kor 16:2; Wah 1:10).
Jadi Barnes beranggapan bahwa rasul-rasul yang lebih dulu melakukan perubahan Sabat, dan Yesus lalu merestuinya. Tetapi saya lebih condong pada pandangan di bawah ini.
Matthew Henry: “He deferred it so long as seven days. And why so? ... that he might put an honour upon the first day of the week, and give a plain intimation of his will, that it should be observed in his church as the Christian sabbath, the weekly day of holy rest and holy convocations. That one day in seven should be religiously observed was an appointment from the beginning, as old as innocency; and that in the kingdom of the Messiah the first day of the week should be that solemn day this was indication enough, that Christ on that day once and again met his disciples in a religious assembly” (= Ia menunda itu selama 7 hari. Dan mengapa demikian? ... supaya Ia bisa meletakkan suatu penghormatan pada hari pertama dari suatu minggu, dan memberikan suatu isyarat yang jelas dari kehendakNya, bahwa hari itu harus diperingati / dihormati dalam gerejaNya sebagai Sabat Kristen, hari libur mingguan dan pertemuan kudus mingguan).
Jamieson, Fausset & Brown: “‘And after eight days’ - that is, on the eighth or first day of the following week. They themselves probably met every day during the preceding week, but their Lord designedly reserved His second appearance among them until the recurrence of His resurrection-day, that He might thus inaugurate the delightful sanctities of THE LORD’S DAY (Rev. 1:10).” [= ‘Dan setelah 8 hari’ - yaitu, pada hari ke 8 atau hari pertama dari minggu berikutnya. Mereka sendiri mungkin bertemu setiap hari dalam sepanjang minggu yang lalu, tetapi Tuhan mereka dengan terencana menahan pemunculanNya yang kedua di antara mereka sampai kembalinya hari kebangkitanNya, supaya dengan demikian Ia bisa melantik kekudusan yang menggembirakan dari HARI TUHAN (Wah 1:10)].
Jelas bahwa inisiatif perubahan Sabat itu tidak mungkin datang dari rasul-rasul, yang lalu disetujui oleh Yesus. Inisiatif itu datang dari Yesus sendiri, yang secara sengaja dan terencana melakukan 2 x pemunculan pada hari Minggu, dan dengan demikian memberikan isyarat yang jelas tentang hal itu.

2)   Menampakkan diri lagi (ay 26-27).

a)   Mereka semua, termasuk Tomas, sedang berkumpul (ay 26).
·        Tomas tidak mereka kucilkan. Para murid yang lain ingin menolong Tomas yang sedang jatuh (bdk. Luk 22:32).
·      ay 26 mirip sekali dengan ay 19, dan memang merupakan pengulangan dari ay 19! Jadi, ini adalah pengulangan ‘warta berita’, khusus untuk Tomas!

b)   Yesus menampakkan diri dan mengijinkan Tomas merabaNya.
Ay 27: “Kemudian Ia berkata kepada Tomas: ‘Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambungKu dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.’”.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1.   Di sini Tomas diberi mujijat sesuai permintaannya, tetapi ingat bahwa tidak setiap orang yang menginginkan mujijat / bukti lalu diberi mujijat / bukti oleh Tuhan. Bandingkan dengan:
·      Luk 16:27-31 - “(27) Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, (28) sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. (29) Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. (30) Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. (31) Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.’”.
·         1Kor 1:22-23 - “(22) Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, (23) tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”.
Karena itu kalau saudara hanya mau percaya kepada Yesus hanya kalau saudara melihat mujijat, sikap itu bisa membawa saudara ke neraka!

2.   Dalam ay 27 (bdk. ay 25), Yesus berkata tentang ‘tanganNya’:
·        bukan ‘pergelangan tangan’. Jadi, yang dipaku adalah tangan, dan bukan pergelangan tangan! Ada orang yang mengatakan bahwa dalam kedokteran kata ‘tangan’ menunjuk pada seluruh lengan atas sampai tangan, dan karena itu adalah mungkin bahwa yang dimaksud dengan ‘tangan’ di sini adalah ‘pergelangan tangan’. Problem dari pandangan ini adalah: mungkinkah rasul Yohanes, yang adalah seorang nelayan, menggunakan istilah ‘tangan’ dengan arti yang dimaksud oleh ilmu kedokteran modern?
·       apakah kaki Yesus tidak dipaku? Dari Maz 22:17b dan Luk 24:39-40, terlihat dengan jelas bahwa kaki Yesus juga dipaku!

3.   Kata-kata Yesus dalam ay 27 ini sangat sesuai dengan tuntutan Tomas dalam ay 25b, dan ini menunjukkan bahwa Yesus mendengar kata-kata Tomas itu, dan ini membuktikan bahwa Ia memang hidup.
Wycliffe Bible Commentary: “By his very language the Lord revealed that he knew what Thomas had asserted. Therefore he must have been alive when the doubting apostle spoke those words about the hands and the side” (= Oleh kata-kataNya Tuhan menyatakan bahwa Ia tahu apa yang ditegaskan oleh Tomas. Karena itu Ia pasti telah hidup pada waktu rasul yang ragu-ragu ini mengucapkan kata-kata tentang tangan dan sisi / rusuk).

c)   Yesus menghendaki supaya Tomas percaya pada kebangkitanNya (ay 27 akhir).
·         Ay 27 ini merupakan suatu teguran.
Seseorang mengatakan: “to suspend our believing upon our sight is reproof-worthy” (= menggantungkan kepercayaan kita pada penglihatan adalah sesuatu yang layak dicela).
·      Yesus tidak menegur dengan keras, tetapi dengan lemah lembut. Ini adalah sesuatu yang harus kita tiru dalam menghadapi orang yang jatuh!
Matthew Henry: “He will not break the bruised reed, but, as a good shepherd, gathers that which was driven away, Ezek. 34:16. We ought thus to bear the infirmities of the weak, Rom. 15:1-2.” [= Ia tidak akan memutuskan buluh yang patah terkulai (Yes 42:3), tetapi, seperti seorang gembala yang baik, mengumpulkan domba-domba yang hilang / tersesat, Yeh 34:16. Demikianlah kita harus menanggung kelemahan dari orang-orang yang lemah, Ro 15:1-2].
·         Ini menunjukkan betapa pentingnya kepercayaan pada kebangkitan Yesus!

IV) Reaksi Tomas.

1)   Tomas percaya.
Banyak orang mempertanyakan apakah Tomas meraba lubang paku / tombak itu atau tidak?

a)   Ada yang menganggap ya. Alasannya:
·         Yesus memerintahnya untuk meraba (ay 27).
·         Sekalipun ay 28 memang tidak menceritakan bahwa Tomas meraba / mencucukkan jari dan tangannya, itu tidak membuktikan bahwa ia tidak meraba / mencucukkan jarinya. Dalam Luk 24:39-43, pada waktu Yesus mempersilahkan murid-murid untuk meraba, juga tidak diceritakan bahwa mereka meraba, tetapi toh dari 1Yoh 1:1 kelihatannya Yohanes meraba Yesus.
1Yoh 1:1 - “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup - itulah yang kami tuliskan kepada kamu”.

b)   Ada yang menganggap tidak. Alasannya:
·         ay 28 tidak mengatakan bahwa ia meraba.
·         ay 29: ‘Engkau telah melihat Aku’, bukan ‘Engkau telah meraba Aku’.
Saya lebih condong pada pandangan ini.

2)   Menyebut Yesus ‘Tuhanku dan Allahku’ (ay 28).
Ay 28: ‘Tomas menjawab Dia.
NASB / Lit: “Thomas answered and said to him (= Tomas menjawab dan berkata kepada Dia).
Jelaslah bahwa kata-kata ini:
·         tidak ditujukan kepada Bapa.
·     bukan sekedar kata-kata yang terlontar karena kaget, yang pada dasarnya tidak ditujukan kepada siapa-siapa. Kalau itu hanya sekedar kata-kata yang terlontar karena kaget, maka itu merupakan pelanggaran terhadap hukum ke 3 dari 10 hukum Tuhan, dan Yesus pasti tidak akan mengucapkan ay 29 terhadap orang yang melanggar hukum ke 3 tersebut.
Barnes’ Notes: “In this passage the name God is expressly given to Christ, in his own presence and by one of his own apostles. ... If this was not the meaning of Thomas, then his exclamation was a mere act of profaneness, and the Saviour would not have commended him for taking the name of the Lord his God in vain” (= Dalam text ini nama Allah secara jelas diberikan kepada Kristus, pada saat Ia sendiri hadir, dan oleh satu dari rasul-rasulNya sendiri. ... Jika ini bukan maksud dari Tomas, maka seruan ini semata-mata merupakan tindakan kecemaran / tidak hormat, dan sang Juruselamat tidak akan memuji dia untuk penyebutan nama Tuhan Allahnya dengan sia-sia).
Kedua penafsiran salah di atas sering dipaksakan kepada ayat ini untuk menghindari keilahian Yesus. Tetapi penafsiran-penafsiran itu pasti salah. Kata-kata Tomas itu jelas ditujukan kepada Yesus, dan dengan demikian:
¨      Ia mengakui Yesus sebagai Tuhan (bdk. Ro 10:9  1Kor 12:3).
¨      Ia mengakui Yesus sebagai Allah.
Adam Clarke: “The resurrection from the dead gave them the fullest proof of the divinity of Christ” (= Kebangkitan dari orang mati memberikan mereka bukti yang paling penuh tentang keilahian dari Kristus).
Ro 1:4 - “dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita”.
¨      Ia mengakui Yesus sebagai ‘Tuhanku dan Allahku!
Penerapan: apakah saudara mengakui Yesus sama seperti ini?

V) Kata-kata Yesus (ay 29).

1)   Ay 29a: ‘karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya’.

a)   Sebetulnya murid-murid lainpun juga begitu (bdk. ay 8  Luk 24:9-11).

b)   Mengapa disebut ‘percaya’ padahal sudah melihat? Bandingkan dengan:
·   2Kor 5:7 - “sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat”.
·         Ibr 11:1 - “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”.
Illustrasi: kalau saya berkata kepada saudara bahwa saya mempunyai uang 1 milyar, dan saudara percaya hanya berdasarkan kata-kata saya itu, maka saudara memang percaya kepada saya. Tetapi kalau saya menunjukkan surat deposito dari bank atas nama saya dengan jumlah 1 milyar, dan saudara percaya akan hal itu, apakah itu bisa disebut ‘percaya’? Rasanya tidak. Itu bukan ‘percaya’, tetapi ‘tahu’.

Lalu mengapa Tomas tetap disebut percaya, sekalipun sudah melihat? Calvin menjawab: karena ia percaya bukan sekedar karena melihat, tetapi karena setelah Allah yang membangunkan dia dari ‘tidur’nya, ia ingat pada ajaran / Firman Tuhan yang tadinya hampir ia lupakan.
Mungkin bisa ditambahkan bahwa kalaupun seseorang melihat Yesus bisa saja ia tetap tidak percaya, dan menganggapNya sebagai hantu / setan dan sebagainya. Jadi memang tetap dibutuhkan pekerjaan Allah supaya Tomas bisa percaya.

2)   Kata-kata Yesus dalam ay 29a, secara implicit menunjukkan bahwa Ia menerima pengakuan Tomas pada ay 28, dan ini membuktikan bahwa Yesus memang adalah Tuhan dan Allah sendiri!
Adam Clarke: “Dr. Pearce says here: ‘Observe that Thomas calls Jesus his God, and that Jesus does not reprove him for it, though probably it was the first time he was called so.’ And, I would ask, could Jesus be jealous of the honour of the true God - could he be a prophet - could he be even an honest man, to permit his disciple to indulge in a mistake so monstrous and destructive, if it had been one?” (= Dr. Pearce berkata di sini: ‘Perhatikan bahwa Tomas menyebut Yesus Allahnya, dan bahwa Yesus tidak memarahinya untuk hal itu, sekalipun mungkin itu adalah untuk pertama kalinya Ia disebut demikian’. Dan saya bertanya: bisakah Yesus sangat menghormati Allah yang benar - bisakah Ia adalah seorang nabi - bisakah Ia bahkan adalah seorang manusia yang jujur, dengan mengijinkan muridNya menuruti hatinya dalam suatu kesalahan yang begitu besar dan menghancurkan / merusak, seandainya kata-kata Tomas itu memang adalah suatu kesalahan seperti itu?).
Memang, kalau Yesus bukan Tuhan / Allah, tetapi tidak menegur Tomas, dan sebaliknya mau menerima pengakuan Tomas tentang diriNya sebagai Tuhan dan Allah, maka Ia betul-betul adalah orang brengsek! Yang mana yang saudara percayai, ‘Yesus adalah Tuhan / Allah’, atau ‘Yesus adalah orang brengsek’?

3)   Ay 29b: ‘Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya’ (bdk. 1Pet 1:8).

Barnes’ Notes: “Many now are unwilling to believe because they do not see the Lord Jesus, and with just as little reason as Thomas had. The testimony of those eleven men - including Thomas who saw him alive after he was crucified; who were willing to lay down their lives to attest that they had seen him alive; who had nothing to gain by imposture, and whose conduct was removed as far as possible from the appearance of imposture, should be regarded as ample proof of the fact that he rose from the dead” (= Sekarangpun banyak orang tidak mau percaya karena mereka tidak melihat Tuhan Yesus, dan dengan alasan yang sama sedikitnya seperti yang dipunyai Tomas. Kesaksian dari 11 orang itu, termasuk Tomas, yang melihatNya hidup setelah Ia disalibkan; yang rela untuk meletakkan / menyerahkan nyawa mereka untuk menegaskan bahwa mereka telah melihatNya hidup; yang tidak mendapatkan keuntungan apa-apa oleh penipuan seperti ini, seharusnya dianggap sebagai bukti yang cukup tentang fakta bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati).

Adalah sesuatu yang alamiah kalau manusia ingin melihat seperti Tomas. Tetapi, bagaimanapun juga, keinginan ini tidak cocok dengan kata-kata Yesus dalam ay 29b ini!

Matthew Henry: “he never showed himself alive after his resurrection to all the people, Acts 10:40-41. We should have said, ‘Let his ignominious death be private, and his glorious resurrection public.’ But God’s thoughts are not as ours; and he ordered it that his death should be public before the sun, by the same token that the sun blushed and hid his face upon it. But the demonstrations of his resurrection should be reserved as a favour for his particular friends, and by them be published to the world, that those might be blessed who have not seen, and yet have believed” (= Ia tidak pernah menunjukkan diriNya sendiri hidup setelah kebangkitanNya kepada seluruh bangsa, Kis 10:40-41. Kita seharusnya berkata: ‘Hendaklah kematianNya yang memalukan / hina bersifat rahasia / tidak terbuka untuk umum, dan kebangkitanNya yang mulia bersifat umum’. Tetapi pikiran Allah bukan pikiran kita; dan Ia menetapkan / mengaturnya bahwa kematianNya harus bersifat umum di depan matahari, begitu pula bahwa matahari menjadi malu dan menyembunyikan wajahnya terhadapnya. Tetapi demonstrasi dari kebangkitanNya harus dibatasi sebagai suatu kebaikan untuk sahabat-sahabatNya yang khusus, dan oleh mereka dipublikasikan kepada dunia, supaya mereka yang tidak melihat tetapi percaya, bisa diberkati).

Kis 10:40-41 - “Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati”.

Setelah kebangkitanNya Yesus memang menampakkan diri hanya kepada relatif sedikit orang, paling banyak 500 orang (1Kor 15:6). Mengapa Ia tidak menampakkan diri kepada Pontius Pilatus, Herodes, para tentara Romawi, orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat, imam-imam, Sanhedrin / Mahkamah Agama, masyarakat Yahudi, atau singkatnya kepada dunia? Bukankah kalau Ia melakukan hal itu semua menjadi Kristen? Ia tidak melakukannya, karena Ia tidak ingin manusia percaya setelah melihat. Ia ingin manusia percaya sekalipun tidak melihat. Kita harus percaya hanya berdasarkan pemberitaan Firman Tuhan.
Saudara tidak pernah melihat Yesus. Tetapi saudara mendengar tentang Dia, kematianNya, kebangkitanNya, dari Kitab Suci / Firman Tuhan. Maukah saudara percaya, sekalipun tidak melihat?






-AMIN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar