Rabu, 19 Maret 2014

FONDASI KEKRISTENAN: PEGANGAN KATEKISASI (Part 6)


Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div


III) Kematian dan kebangkitan Yesus.


Sebelum saya membahas tentang karya penyelamatan yang Yesus lakukan bagi kita, terlebih dulu saya ingin membahas tentang diri Yesus sendiri. Setelah inkarnasi, Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia.

A) Yesus adalah Allah.

      Bukti bahwa Yesus adalah Allah:

      1)   Yesus menyebut diriNya sendiri ‘Anak Allah’.

Saksi-Saksi Yehuwa maupun para Unitarian berpendapat bahwa karena Yesus adalah Anak Allah, maka Ia bukan Allah. Mereka juga berulangkali mengatakan bahwa Yesus tidak pernah mengclaim diriNya sebagai Allah, tetapi selalu sebagai Anak Allah.

Jawaban:

a)  Yesus memang tidak pernah menyatakan diri sebagai ‘Allah’; Ia selalu menyatakan diri sebagai ‘Anak Allah’. Tetapi perlu dipertanyakan pertanyaan ini: apakah kita harus membentuk pemikiran / kepercayaan / ajaran tentang Yesus hanya berdasarkan kata-kata Yesus sendiri saja, atau juga dari bagian-bagian Kitab Suci yang lain? Yang dianggap sebagai Firman Tuhan itu hanya kata-kata Yesus sendiri saja, atau juga bagian-bagian lain dari Kitab Suci? Sekalipun Yesus sendiri tidak pernah menyatakan diri sebagai ‘Allah’, tetapi banyak ayat-ayat Kitab Suci yang menyatakan demikian, seperti Yes 9:5  Yoh 1:1  Yoh 20:28  Kis 20:28  Ro 9:5  Tit 2:13  Ibr 1:8  2Pet 1:1  1Yoh 5:20  Wah 1:8 dsb. Ayat-ayat ini tidak akan saya bahas sekarang, karena akan saya bahas belakangan.

b)   Ingat bahwa suatu istilah dalam Kitab Suci harus diartikan sesuai dengan pengertian penulisnya / orang jaman itu tentang istilah tersebut, bukan dengan pengertian orang jaman sekarang tentang istilah tersebut.
Tentang istilah ‘Anak Allah’ yang digunakan oleh Yesus terhadap diriNya sendiri ini, banyak orang menyalah-artikan istilah ini, dengan mengatakan bahwa istilah ‘Anak Allah’ menunjukkan bahwa dulu hanya ada Allah saja, yang lalu beranak, dsb. Karena itu jelas bahwa Yesus tidak setua / sekekal BapaNya. Tetapi ini adalah penafsiran yang menggunakan pengertian orang jaman seka­rang tentang istilah ‘Anak Allah’ itu. Padahal istilah itu digunakan sekitar 2000 tahun yang lalu di Palestina, dan karena itu harus diartikan menurut pengertian orang-orang di sana pada jaman itu.
Kalau begitu apa artinya? Tentang istilah / gelar ‘Anak Allah’ bagi Yesus, W. E. Vine memberikan komentar sebagai berikut: “absolute Godhead, not Godhead in a secondary or derived sense, is intended in the title” (= keAllahan yang mutlak, bukan keAllahan dalam arti sekunder atau yang didapatkan, yang dimaksudkan dalam gelar tersebut) - ‘An Expository Dictionary of New Testament Words’, hal 1061.

Tetapi, apa dasarnya pandangan seperti ini?

1.   Kita bisa mendapatkan jawabannya dengan membandingkan istilah ‘Anak Allah’ dengan istilah ‘Anak  Manusia’, yang sama-sama merupakan gelar / sebutan yang sangat sering digunakan oleh Yesus untuk diriNya sendiri. Kalau istilah ‘Anak  Manusia’ diartikan bahwa Yesus ‘betul-betul manusia’, maka istilah ‘Anak Allah’ harus diartikan bahwa Yesus ‘betul-betul Allah’.
Maz 8:5 - “apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?”.
Dalam ayat ini jelas ada dua kalimat paralel, yang artinya sama, tetapi menggunakan kata-kata yang berbeda. Jadi, ‘anak manusia’ sama dengan ‘manusia’!

2.   Bandingkan dengan Mat 14:33 - “Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: ‘Sesungguhnya Engkau Anak Allah.’”.
Pikirkan ayat ini! Mereka menganggap Yesus betul-betul adalah Anak Allah, dan karena itu mereka lalu menyembah Dia. Kalau mereka menganggap bahwa ‘Anak Allah’ itu ‘bukan Allah’, atau ‘lebih rendah dari Allah’, maka mungkinkah mereka, yang adalah orang-orang Yahudi (bangsa monotheist, yang hanya menyembah Allah saja), lalu menyembah Dia? Dari ayat ini jelas bahwa mereka menganggap istilah ‘Anak Allah’ berarti ‘Allah sendiri’.

3.   Bandingkan dengan Yoh 5:17-18 - “(17) Tetapi Ia berkata kepada mereka: ‘BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.’ (18) Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuhNya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan demikian menyamakan diriNya dengan Allah.
NIV/NASB: ‘making himself equal with God’ (= membuat diriNya sendiri setara dengan Allah).
Catatan: kata Yunani yang diterjemahkan ‘menyamakan’ dalam Yoh 5:18 adalah kata yang sama dengan kata Yunani yang diterjemahkan ‘setara’ dalam Fil 2:6. Jadi artinya ‘menyetarakan’ / ‘menyederajatkan’, bukan betul-betul ‘mengidentikkan’.
Di sini terli­hat dengan jelas bahwa pada waktu Yesus menyebut diriNya sebagai ‘Anak Allah’, orang-orang Yahudi pada saat itu mengerti bahwa kata-kata itu berarti bahwa Yesus menganggap diri sehakekat dengan Allah, atau menyamakan diri dengan Allah, atau menganggap diri setara dengan Allah. Ini mereka anggap sebagai penghujatan terhadap Allah, dan karena itu mereka mau merajam Yesus.

Saksi-Saksi Yehuwa maupun para Unitarian menganggap bahwa penyetaraan Yesus dengan Allah itu hanya merupakan anggapan / penafsiran yang salah dari orang-orang Yahudi tentang pengakuan Yesus sebagai Anak Allah.

Jawaban:

Kalau itu memang merupakan pemikiran yang salah dari orang-orang Yahudi tentang kata-kata Yesus itu, mengapa Yesus tidak mengoreksi pemikiran yang salah itu?

Dalam perdebatan antara saya dengan para Unitarian, mereka mengatakan bahwa Yesus sendiri mengoreksi pandangan salah dari orang-orang Yahudi itu dengan mengucapkan kata-kata dalam Yoh 5:19 - “Maka Yesus menjawab mereka, kataNya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak”.

Sekarang mari kita membahas Yoh 5:19 ini.

a.   ‘Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri’ (ay 19b  bdk. ay 30a: ‘Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriKu sendiri’).
Ayat ini dipakai oleh Arius / Arianisme (yang nantinya menjadi dasar dari ajaran Saksi Yehuwa) untuk mengatakan bahwa Yesus lebih rendah dari Bapa, karena Ia tidak bisa melakukan apapun dari diriNya sendiri.
Tetapi sebetulnya ayat ini sama sekali tidak menunjukkan ketidakmampuan Yesus! Dalam kontex dimana Yesus menunjukkan diriNya seba­gai Anak Allah, dan menyamakan diriNya dengan Allah (ay 17-18), tidak mungkin tahu-tahu Ia justru menunjukkan ketidak-mampuanNya.
Kalau demikian, apa arti / maksud kata-kata Yesus ini? Kata-kata Yesus ini bertujuan untuk menekankan kesatuan yang tidak terpisahkan antara Yesus dengan Bapa, yang menyebabkan Yesus tidak bisa melakukan apapun terpisah dari Bapa. Dan jelas bahwa Bapapun tidak bisa melakukan apapun terpisah dari Yesus!
Jadi, Yesus dan Bapa tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Sebaliknya, pekerjaan Yesus adalah pekerjaan Bapa, dan pekerjaan Bapa adalah pekerjaan Yesus.
Dengan demikian, kata-kata Yesus ini menjawab serangan mereka bahwa Yesus melanggar Sabat dan menghujat Allah (ay 18). Kalau Yesus bisa melanggar Sabat dan menghujat Allah, maka itu berarti Ia bisa melakukan sesuatu terpisah dari Bapa. Tetapi Yesus tidak bisa melakukan sesuatu terpisah dari Bapa, dan karena itu jelas bahwa Ia tidak bisa melanggar Sabat maupun menghujat Allah.

b.   Jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang diker­jakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak’ (ay 19c).

·         Kata ‘apa’ dalam bagian ini seharusnya adalah ‘apapun’.
RSV/NIV/NASB: whatever’ (= apapun).
KJV: what things soever’ (= hal-hal apapun juga).
Jadi kata-kata Yesus di sini menunjukkan bahwa Anak / Yesus melaku­kan apapun juga yang dilakukan oleh Bapa. Padahal, apa yang dila­kukan oleh Bapa jelas merupakan pekerjaan ilahi, seperti mencipta­kan alam semesta dengan segala isinya, membangkitkan orang mati, dsb. Bahwa Yesus melakukan apapun juga yang dilakukan Bapa, menun­jukkan bahwa Yesus / Anak adalah Allah!

·         Jangan mengartikan bagian ini seakan-akan Yesus itu cuma bisa meniru BapaNya! Tentang bagian ini NICNT mengutip kata-kata Westcott, yang berkata sebagai berikut: “The things that the Father does that the Son does, too, not in imitation, but in virtue of His sameness of nature” (= Hal-hal yang dilakukan oleh Bapa juga dilakukan oleh Anak, bukan dalam peniruan, tetapi berdasarkan kesamaan hakekatNya).

·         Kalau ay 19 berarti bahwa Yesus hanya bisa meniru apa yang Bapa lakukan, bagaimana mungkin Yesus mencipta alam semesta? Kapan Yesus pernah melihat Bapa melakukan hal itu?

·         Hal lain yang tidak memungkinkan penafsiran Unitarianisme ini adalah bahwa seluruh kata-kata Yesus dalam Yoh 5:19 ada dalam present tense. Kalau itu diartikan tindakan meniru, seharusnya ada dalam bentuk lampau.

4.   Yoh 10:30-33 - “(30) Aku dan Bapa adalah satu.’ (31) Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. (32) Kata Yesus kepada mereka: ‘Banyak pekerjaan baik yang berasal dari BapaKu yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?’ (33) Jawab orang-orang Yahudi itu: ‘Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah [NWT / TDB: “make yourself a god (= menjadikan dirimu suatu allah)] (bdk. Yoh 10:36b - Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?”.).
Catatan: kata-kata ‘menyamakan diriMu dengan Allah’ seharusnya adalah ‘membuat diriMu Allah’.

Dalam Yoh 10:33, sekalipun kata-kata itu memang itu diucapkan oleh orang-orang Yahudi, tetapi lagi-lagi kata-kata itu pasti benar. Mengapa? Karena kalau kata-kata itu salah, Yesus pasti akan membetulkannya / mengoreksinya; Ia pasti akan menyangkal bahwa Ia menyetarakan diriNya dengan Allah. Tetapi Yesus tidak pernah melakukan hal itu! Kalau saudara membaca Yoh 10:34-39 terlihat dengan jelas bahwa Yesus bukannya membetulkan kesalahan mereka, tetapi sebaliknya justru menegaskan bahwa kata-kata mereka itu benar. Supaya lebih jelas, mari kita pelajari bagian itu.

Yoh 10:34-39 - “(34) Kata Yesus kepada mereka: ‘Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? (35) Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah - sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan -, (36) masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutusNya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? (37) Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan BapaKu, janganlah percaya kepadaKu, (38) tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepadaKu, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.’ (39) Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka”.

Ada hal-hal yang ingin saya jelaskan tentang jawaban Yesus dalam Yoh 10:34-38 ini:

a.   Hal yang sangat penting untuk diperhatikan dari seluruh jawaban Yesus ini adalah: terhadap kata-kata orang-orang Yahudi dalam ay 33 (bahwa Yesus menyetarakan diri dengan Allah), Yesus tidak menyangkalnya!
Dalam persoalan Sabat, pada saat mereka menyalahkan Yesus, Yesus sering membantahnya (Mat 12:1-8  Mat 12:9-15a  Luk 13:10-17  Luk 14:1-6  Yoh 5:16-17  Yoh 7:22-24). Tetapi dalam hal ‘tuduhan’ menyetarakan diri dengan Allah, Yesus tidak pernah membantahnya (Yoh 5:17-18  Yoh 10:30-38). Kalau memang pendapat / penafsiran mereka itu salah, mengapa Yesus tidak pernah membantahnya?

Loraine Boettner: “And Jesus did not deny, but acknowledged, the accuracy of their charge. If they had been wrong a word from Him would have set them right, and it would have been nothing short of criminal for Him to have withheld it. ... It was not because of a slight misunderstanding of His claims that He allowed Himself to be murdered by His enemies, but because His claims were insisted upon by Him and accurately understood and resented by the Jews that He went to the cross” (= Dan Yesus tidak menyangkal, tetapi mengakui, keakuratan dari tuduhan mereka. Seandainya mereka salah, maka satu kata dari Dia akan membetulkan mereka, dan merupakan suatu tindakan kriminil dari Dia untuk menahan / tidak mengucapkan kata itu. ... Bukan karena suatu kesalah-pahaman yang kecil tentang claimNya sehingga Ia mengijinkan diriNya sendiri dibunuh oleh musuh-musuhNya, tetapi karena Ia berkeras / bersikukuh tentang claimNya, dan claimNya itu dimengerti secara akurat dan dibenci oleh orang-orang Yahudi sehingga Ia disalibkan) - ‘Studies in Theology’, hal 155.

b.   Jawaban Yesus dalam ay 34-38 terdiri dari 2 hal:
·         Ay 34-36:
Ay 34b dikutip dari Maz 82:6. Yesus berkata bahwa dalam Kitab Suci juga ada orang yang disebut dengan istilah ‘allah’, dan itu tidak dianggap penghujatan. Yesus tidak memaksudkan bahwa Ia juga adalah ‘allah’ dalam arti yang sama. Yesus tidak menyejajarkan diriNya dengan hakim-hakim yang disebut ‘allah’ itu. Maksud Yesus adalah: kalau mereka, yang adalah manusia biasa / hakim, bisa disebut ‘allah’ tanpa harus menghujat Allah, maka lebih-lebih Dia, yang adalah Mesias. Pada waktu Ia menyebut diriNya sendiri ‘Anak Allah’, tentu itu bukan penghujatan.
·         Ay 37-38: Hal kedua yang Yesus tekankan adalah: mujijat-mujijat yang Ia lakukan seharusnya membuat mereka mempercayai kata-kataNya.

c.   Ada 3 kalimat / pernyataan yang artinya sama.
Yoh 10:30-39 - “(30) Aku dan Bapa adalah satu.’ (31) Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. (32) Kata Yesus kepada mereka: ‘Banyak pekerjaan baik yang berasal dari BapaKu yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?’ (33) Jawab orang-orang Yahudi itu: ‘Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah.’ (34) Kata Yesus kepada mereka: ‘Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? (35) Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah - sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan -, (36) masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutusNya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? (37) Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan BapaKu, janganlah percaya kepadaKu, (38) tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepadaKu, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.’ (39) Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka”.

Ingat bahwa semua persoalan ini muncul karena dalam Yoh 10:30 Yesus berkata: ‘Aku dan Bapa adalah satu’.
Sekarang perhatikan bahwa dalam ay 36b Yesus berkata: “karena Aku berkata: ‘Aku Anak Allah’”. Ini aneh! Mengapa Ia tidak berkata: “karena Aku berkata: ‘Aku dan Bapa adalah satu’”? Bukankah kata-kata ‘Aku dan Bapa adalah satu’ dalam ay 30 itu yang dipersoalkan di sini?
Juga dalam ay 38b, Yesus berkata: “Supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa. Ini juga aneh! Mengapa Ia tidak berkata: “Supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa ‘Aku dan Bapa adalah satu’”?

Jawabannya: jelas karena ketiga kalimat itu: yaitu:
·         Aku dan Bapa adalah satu (ay 30).
·         Aku adalah Anak Allah (ay 36b).
·         Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (ay 38b  bdk. Yoh 14:8-11).
maksudnya adalah sama! Semuanya menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah sendiri!

5.   Yoh 19:7 - “Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: ‘Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diriNya sebagai Anak Allah.’”.
Catatan: terjemahan sebenarnya dari kata-kata ‘Ia menganggap diriNya sebagai Anak Allah’ adalah ‘Ia membuat diriNya sendiri Anak Allah’.

Bdk. Mark 14:61-64 - “(61) Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya kepadaNya sekali lagi, katanya: ‘Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?’ (62) Jawab Yesus: ‘Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.’ (63) Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: ‘Untuk apa kita perlu saksi lagi? (64) Kamu sudah mendengar hujatNya terhadap Allah. Bagaimana pendapat kamu?’ Lalu dengan suara bulat mereka memutuskan, bahwa Dia harus dihukum mati.

Pengakuan Yesus bahwa diriNya adalah Anak Allah membuat orang-orang Yahudi itu menganggapNya menghujat Allah, sehingga mereka menganggap bahwa Ia harus dihukum mati. Dan lagi-lagi, tidak ada bantahan / pengkoreksian dari Yesus terhadap tuduhan tersebut.

Kesimpulan: Dari kelima point di atas ini, jelas bahwa pengakuan Yesus bahwa Ia adalah ‘Anak Allah’ adalah sama dengan pengakuan bahwa diriNya adalah Allah / setara dengan Allah.

Pertanyaan: apakah saudara percaya bahwa Yesus adalah Allah sendiri? Kalau ya, apakah saudara mengarahkan hidup saudara sesuai dengan kepercayaan tersebut?


2)   Ada banyak ayat Kitab Suci yang secara explicit mengatakan bahwa Yesus adalah Allah.

a)   Maz 45:7-8 - (7) Takhtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanmu adalah tongkat kebenaran. (8) Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allahmu, telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu..
Ay 8, khususnya ay 8b, menekankan kemanusiaan Yesus, tetapi ay 7 menekankan keilahianNya. Tetapi dalam Kitab Suci Indonesia ay 7 ini salah terjemahan!
RSV: ‘Your divine throne’ (= Takhta ilahiMu). Ini juga salah terjemahan.
KJV: ‘Thy throne, O God’ (= TakhtaMu, ya Allah).
NIV/NASB: ‘Your throne, O God’ (= TakhtaMu, ya Allah).
NWT / TDB: “God is your throne” (= Allah adalah takhtamu).

1.         Penterjemahan Maz 45:7 ini.
Penterjemahan seperti Kitab Suci Indonesia merupakan terjemahan yang mustahil sama sekali.

Matthew Poole (tentang Ibr 1:8): “some heretics, to elude this proof of Christ’s Deity, would make ‘God’ the genitive case in the proposition, as, Thy throne of God, expressly contrary to the grammar, both in Hebrew and Greek” (= beberapa orang sesat / bidat, untuk menghindarkan bukti KeAllahan Kristus ini, membuat kata ‘Allah’ menjadi kasus genitif dalam hal ini, sehingga menjadi ‘Takhtamu dari / milik Allah’, secara jelas bertentangan dengan tata bahasa, baik dalam bahasa Ibrani maupun Yunani) - hal 811.

Calvin: “The Jews, indeed, explain this passage as if the discourse were addressed to God, but such an interpretation is frivolous and impertinent. Others of them read the word µyhla, Elohim, in the genitive case, and translate it ‘of God,’ thus: ‘The throne of thy God.’ But for this there is no foundation, and it only betrays their presumption in not hesitating to wrest the Scriptures so shamefully, that they may not be constrained to acknowledge the divinity of the Messiah.” (= orang-orang Yahudi, memang menjelaskan ayat ini seakan-akan percakapan itu ditujukan kepada Allah, tetapi penafsiran seperti itu sembrono / tolol dan kurang ajar. Orang-orang lain dari mereka membaca kata ELOHIM, dalam kasus genitif, dan menterjemahkannya ‘dari / milik Allah’, maka menjadi ‘Takhta dari / milik Allahmu’. Tetapi untuk ini disana tidak ada dasar, dan itu hanya memperlihatkan kesombongan mereka yang tidak ragu-ragu membengkokkan Kitab Suci dengan cara yang begitu memalukan, supaya mereka tidak terpaksa untuk mengakui keilahian dari sang Mesias).

Dalam bahasa Ibraninya digunakan hanya 2 kata. Kata pertama adalah KISAKA, yang berarti ‘your throne’ (= takhtamu), dan kata kedua adalah ELOHIM, yang berarti ‘God’ (= Allah). Karena itu, hanya ada 2 kemungkinan untuk menterjemahkan:

a.   Kata ‘Allah’ dianggap sebagai bentuk sapaan, sehingga terjemahannya menjadi ‘O God’ / ‘ya Allah’ (KJV/ASV/NKJV/NIV/NASB).

b.   Ditambahkan kata ‘is’ (= adalah) di tengah-tengah kedua kata itu, sehingga menjadi ‘Your throne is God’ (= ‘Takhtamu adalah Allah’) atau ‘God is your throne’ (= Allah adalah takhtamu) seperti dalam NWT / TDB.

Dalam bahasa Ibrani penambahan seperti ini memang biasa terjadi, dan ini bisa terlihat dari kata-kata di bawah ini.
Menahem Mansoor: “Hebrew has no special words for the English verbs am, are, or is. They were understood from the context. Thus, the present tense of to be is not expressed in Hebrew. When you translate into English, you must add the appropriate English verb” (= Bahasa Ibrani  tidak mempunyai kata-kata khusus untuk kata-kata kerja bahasa Inggris ‘am’, ‘are’, atau ‘is’. Kata-kata itu dimengerti dari kontextnya. Maka / karena itu, bentuk present dari ‘to be’ tidak dinyatakan dalam bahasa Ibrani. Pada waktu engkau menterjemahkannya ke dalam bahasa Inggris, engkau harus menambahkan kata kerja bahasa Inggris yang sesuai) - ‘Biblical Hebrew Step By Step’, vol I, hal 61.

Sebagai contoh kalau dalam bahasa Ibrani seseorang mau mengatakan ‘I am the mother’ (= aku adalah sang ibu), maka ia hanya mengatakan:
MxehA            ynixE  (dibaca dari kanan ke kiri)
HA-EM        ANI
the mother    I
sang ibu      aku
Tetapi dalam menterjemahkan kita tidak bisa menterjemahkan: ‘I the mother’ (= Aku sang ibu). Kita harus menambahkan kata ‘am’ (= adalah) sehingga menjadi ‘I am the mother’ (= Aku adalah sang ibu).

Jadi sebetulnya, ditinjau dari sudut bahasa, terjemahan yang dipilih oleh Saksi-Saksi Yehuwa, yaitu ‘Allah adalah takhtaMu’ merupakan sesuatu yang memungkinkan. Tetapi ditinjau dari sudut artinya, terjemahan itu sangat tidak masuk akal. Mengapa? Karena ‘takhta’ adalah tempat duduk dari seorang raja. Jadi terjemahan NWT / TDB menunjukkan bahwa ada seseorang (siapapun dia adanya) yang duduk di atas Allah, yang jelas merupakan sesuatu yang tidak masuk akal.

Karena itu Alexander MacLaren mengatakan bahwa terjemahan ini: “may fairly be pronounced impossible” (= bisa dengan adil / wajar dinyatakan sebagai mustahil) - hal 70.

Barnes’ Notes: “Unitarians proposed to translate this, ‘God is thy throne;’ but how can God be a throne of a creature? What is the meaning of such an expression? Where is there one parallel” (= Para Unitarian / orang-orang yang mempercayai bahwa Allah itu tunggal mutlak mengusulkan untuk menterjemahkan ini: ‘Allah adalah takhtamu’; tetapi bagaimana Allah bisa menjadi suatu takhta dari suatu makhluk ciptaan? Apa arti dari ungkapan seperti itu? Dimana ada satu ungkapan lain yang paralel dengannya?) - hal 1229.

Keil & Delitzsch: “God is neither the substance of the throne, nor can the throne itself be regarded as a representation or figure of God” (= Allah bukan zat dari takhta, juga takhta itu sendiri tidak bisa dianggap sebagai wakil atau gambar dari Allah) - hal 82.

John Owen mengutip kata-kata Stuart sebagai berikut:
“Where is God ever said to be the throne of his creature? and what could be the sense of such an expression?” (= Dimana pernah dikatakan bahwa Allah adalah takhta dari makhluk ciptaanNya? dan apa yang bisa menjadi arti dari ungkapan seperti itu?) - ‘Hebrews’, vol 3, hal 179 (footnote).

John Owen menambahkan dengan berkata bahwa penterjemahan ‘Your Throne is God’ (= Takhtamu adalah Allah) itu “Is contrary to the universally constant use of the expression in Scripture; for wherever there is mention of the throne of Christ, somewhat else, and not God, is intended thereby” (= Bertentangan dengan penggunaan tetap secara universal / tanpa kecuali dari ungkapan itu dalam Kitab Suci; karena dimanapun disebutkan tentang takhta Kristus, maka adalah sesuatu yang lain, dan bukannya Allah, yang dimaksudkan dengannya) - ‘Hebrews’, vol 3, hal 182.

2.   Maz 45 ini hanya menunjuk kepada Kristus saja.

Memang apakah Maz 45 ini pada mulanya (secara orisinil) memang ditujukan kepada seorang raja manusia / Salomo atau tidak, menimbulkan perdebatan yang cukup hebat.

Ada yang mengatakan bahwa Maz 45 itu memang menunjuk kepada seorang raja manusia, dan raja manusia itu adalah:
a.   Daud.
b.   Salomo, yang menikah dengan putri Firaun!
c.   Ahab. Mengapa bisa muncul dugaan bahwa raja ini adalah Ahab? Karena:
·         Ahab mempunyai istana gading - 1Raja 22:39 bdk. Maz 45:9b.
·         adanya istilah ‘Puteri Tirus’ dalam Maz 45:13.
Tetapi Izebel adalah putri raja Sidon, bukan Tirus. Dan kelihatannya Maz 45:13 tidak menunjukkan bahwa putri Tirus itu adalah istri raja itu, tetapi hanya orang yang datang membawa pemberian-pemberian.
Pulpit Commentary (hal 352) menganggap ‘Puteri Tirus’ ini sebagai gambaran dari orang-orang kafir / non Yahudi secara umum.
d.   Yoram, anak Yosafat, yang menikah dengan Atalya, anak Ahab dan Izebel (bdk. 2Raja 8:18,26).
e.   Seorang raja Persia. Alasannya adalah bahwa istilah yang diterjemahkan ‘permaisuri’ dalam Maz 45:10 digunakan untuk ratu Persia dalam Neh 2:6. Tetapi merupakan sesuatu yang sangat tidak masuk akal bahwa raja di sini menunjuk kepada seorang raja Persia, karena bagaimana mungkin muncul kata-kata ‘Allah, Allahmu (Maz 45:8) untuk seorang raja kafir?

Alexander MacLaren menganggap (hal 66,74,78) bahwa Maz 45 ini memang menunjuk kepada seorang raja, tetapi ia tidak bisa mengatakan siapa raja ini. Ini adalah seorang raja ideal, yang merupakan type dari Kristus.

Calvin [juga Derek Kidner (Tyndale)] beranggapan bahwa Maz 45 ditujukan kepada Salomo, yang merupakan TYPE dari Yesus.

Calvin: “Although he is called ‘God’, because God has imprinted some mark of his glory in the person of kings, yet this title cannot well be applied to a mortal man; for we nowhere read in Scripture that man or angel has been distinguished by this title without some qualification. It is true, indeed, that angels as well as judges are called collectively Myhlx, ELOHIM, gods; but not individually, and no one man is called by this name without some word added by way of restriction, as when Moses was appointed to be a god to Pharaoh, (Exod. 7:1.) From this we may naturally infer, that this psalm relates, as we shall soon see, to a higher than any earthly kingdom” [= Sekalipun ia disebut ‘Allah’, karena Allah telah menanamkan tanda kemuliaanNya dalam diri dari raja-raja, tetapi gelar ini tidak bisa dengan benar diterapkan kepada seorang manusia biasa; karena kita tidak pernah membaca dalam Kitab Suci bahwa manusia atau malaikat telah diistimewakan / ditonjolkan dengan gelar ini tanpa pembatasan. Memang benar bahwa malaikat-malaikat maupun hakim-hakim disebut secara kolektif dengan sebutan ELOHIM, allah-allah; tetapi tidak secara individuil, dan tidak ada satu orangpun yang dipanggil dengan nama ini tanpa tambahan kata-kata sebagai pembatasan, seperti pada waktu Musa diangkat menjadi allah bagi Firaun, (Kel 7:1). Dari sini kita secara wajar menyimpulkan, bahwa mazmur ini berkenaan, seperti yang akan kita lihat, dengan suatu kerajaan yang lebih tinggi dari kerajaan duniawi manapun] - hal 178.

Calvin: “the posterity of David typically represented Christ to the ancient people of God” (= keturunan Daud mewakili Kristus sebagai suatu TYPE kepada / bagi umat Allah jaman dulu) - hal 180.

Calvin: “in the kingdom of Solomon God had exhibited a type or figure of that everlasting kingdom which was still to be looked for and expected” (= dalam kerajaan Salomo Allah telah menunjukkan suatu TYPE / bayangan atau gambaran dari kerajaan kekal itu, yang masih harus dicari dan diharapkan) - hal 180.

Calvin: “there is the name Myhlx , ELOHIM, which it is proper to notice. It is no doubt also applied to angels and men, but it cannot be applied to a mere man without qualification. And, therefore, the divine majesty of Christ, beyond all question, is expressly denoted here” (= di sana ada nama ELOHIM, yang perlu diperhatikan. Tidak diragukan bahwa nama ini juga diterapkan kepada malaikat-malaikat dan orang-orang, tetapi nama itu tidak bisa diterapkan kepada seorang manusia biasa tanpa pembatasan. Dan karena itu, tanpa keraguan, keagungan ilahi dari Kristus ditunjukkan secara jelas di sini) - hal 181.

Calvin (tentang Ibr 1:8): “Whosoever will read the verse, who is of a sound mind and free from the spirit of contention, cannot doubt but that the Messiah is called God” (= Siapapun yang membaca ayat itu, yang mempunyai pikiran yang sehat dan bebas dari roh perdebatan / perbantahan, tidak bisa meragukan bahwa Mesias disebut Allah) - hal 45.
Catatan: yang disebut ‘the verse’ (= ayat itu), adalah Maz 45:7.

Berbeda dengan Calvin, maka John Owen, Pulpit Commentary, dan Albert Barnes menganggap bahwa Maz 45 ini hanya menunjuk kepada Yesus saja.

Barnes’ Notes (tentang Maz 45): “The remaining opinion, therefore, is that the psalm had original and exclusive reference to the Messiah. ... the psalm had original and sole reference to the Messiah” (= Karena itu, pandangan yang tersisa adalah bahwa mazmur itu mempunyai hubungan orisinil dan exklusif dengan sang Mesias. ... Mazmur itu mempunyai hubungan orisinil dan satu-satunya dengan sang Mesias) - hal 27,28.
Catatan: kata ‘exclusive’ / exklusif artinya adalah: sendirian, tanpa disertai yang lain, terpisah dari yang lain.

Pulpit Commentary (tentang Maz 45): “To no one, indeed, but Jesus, can we apply the epithets which are herein used” [= Tidak kepada seorangpun, kecuali Yesus, kita bisa menerapkan julukan-julukan / ungkapan-ungkapan / penggambaran-penggambaran yang digunakan di dalam (Mazmur) ini] - hal 354.

Charles Haddon Spurgeon: “Some here see Solomon and Pharaoh’s daughter only - they are short-sighted; others see both Solomon and Christ - they are cross-eyed; well-focused spiritual eyes see here Jesus only” (= Sebagian orang melihat di sini hanya Salomo dan puteri Firaun - mereka mempunyai pandangan cupet / rabun dekat; orang-orang lain melihat baik Salomo maupun Kristus - mereka juling; mata rohani yang terfokus dengan baik, melihat di sini Yesus saja) - ‘The Treasury of David’, vol I, hal 315.

Argumentasi-argumentasi yang diberikan oleh orang-orang yang mempercayai bahwa Maz 45 ini hanya menunjuk kepada Yesus saja, adalah sebagai berikut:

a.   Maz 45 ini membicarakan seorang raja, dan Yesus memang adalah Raja, sekalipun secara rohani.
Bdk. Yoh 18:36-37 - “(36) Jawab Yesus: ‘KerajaanKu bukan dari dunia ini; jika KerajaanKu dari dunia ini, pasti hamba-hambaKu telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi KerajaanKu bukan dari sini.’ (37) Maka kata Pilatus kepadaNya: ‘Jadi Engkau adalah raja?’ Jawab Yesus: ‘Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suaraKu.’”.

b.   Maz 45:3 - Engkau yang terelok di antara anak-anak manusia, kemurahan tercurah pada bibirmu, sebab itu Allah telah memberkati engkau untuk selama-lamanya”.
Catatan: ada yang menterjemahkan kata-kata ‘sebab itu’ sebagai ‘sebab’.
·         Raja itu disebut terelok dari antara anak-anak manusia. Ini tidak boleh diartikan secara fisik, karena akan bertentangan dengan Yes 53:2 yang mengatakan ‘ia tidak tampan’.
Pulpit Commentary: “This kind of beauty - the soul speaking through the countenance - is what we cannot suppose absent in our Lord Jesus” (= Jenis keelokan / keindahan ini - jiwa yang berbicara melalui wajah - adalah apa yang tidak bisa kita anggap tidak ada dalam Tuhan kita Yesus) - hal 353.
Point ini jelas tidak cocok untuk Ahab ataupun Yoram, yang adalah raja-raja yang brengsek.
·         Kata ‘kemurahan’ diterjemahkan ‘grace’ (= kasih karunia) oleh KJV/RSV/NIV/NASB. Bdk. Luk 4:22 (‘indah’ seharusnya ‘gracious’ / ‘bersifat kasih karunia’) yang menunjukkan bahwa ini digenapi dalam diri Kristus.

c.   Maz 45:5 - “Dalam semarakmu itu majulah demi kebenaran, perikemanusiaan dan keadilan! Biarlah tangan kananmu mengajarkan engkau perbuatan-perbuatan yang dahsyat!”.
Kata ‘perikemanusiaan’ oleh NIV diterjemahkan ‘humility’ (= kerendahan-hati); oleh KJV/NASB diterjemahkan ‘meekness’ (= kelemah-lembutan).
Pulpit Commentary: “‘Meekness’ is about the very last thought associated with earthly kings (but see Matt. 11:29)” [= ‘Kelemah-lembutan’ adalah pemikiran yang terakhir berhubungan dengan raja-raja duniawi (tetapi lihat Mat 11:29)] - hal 355.
Mat 11:29 - “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan”.
Jadi, bagian ini boleh dikatakan tidak cocok dengan raja manusia manapun, dan hanya cocok untuk Yesus.

d.   Maz 45:5-6 - “(5) Dalam semarakmu itu majulah demi kebenaran, perikemanusiaan dan keadilan! Biarlah tangan kananmu mengajarkan engkau perbuatan-perbuatan yang dahsyat! (6) Anak-anak panahmu tajam, menembus jantung musuh raja; bangsa-bangsa jatuh di bawah kakimu”.
Salomo tidak pernah dikenal sebagai raja yang suka berperang (bdk. 1Taw 22:9), tetapi Maz 45:5-6 menggambarkannya demikian. Sebaliknya, Mesias memang dianggap sebagai ‘pahlawan perang’ (tentu saja dalam arti rohani), yang akan membebaskan Israel / Yehuda (Yer 23:6).
Barnes’ Notes: “It is to be remembered that the expectation of a Messiah was the peculiar hope of the Jewish people. He is really the ‘hero’ of the Old Testament” (= Harus diingat bahwa pengharapan tentang seorang Mesias adalah pengharapan yang khas dari bangsa Yahudi. Ia betul-betul adalah ‘pahlawan’ dari Perjanjian Lama) - hal 28.
Pulpit Commentary: “All the enemies of Messiah shall one day be chastised, and fall before him” (= Semua musuh-musuh dari Mesias akan dihukum pada satu hari, dan jatuh di hadapanNya) - hal 351.
Ada suatu perubahan yang menyolok tentang penggambaran raja ini dalam Maz 45:5-6, dan Alexander MacLaren mengomentari dengan kata-kata sebagai berikut: “The scene changes with startling suddenness to the fury of battle. ... Very striking is this combination of gentleness and warrior strength ... which is fulfilled in the Lamb of God, who is the Lion of the tribe of Judah” (= Suasana berubah dengan mendadak menuju kedahsyatan pertempuran. ... Kombinasi dari kelembutan dan kekuatan pahlawan ini sangat menyolok ... yang digenapi dalam Anak Domba Allah, yang adalah Singa dari suku Yehuda) - hal 68.
W. S. Plumer mengutip kata-kata Morison sebagai berikut: “By the two methods of judgment and mercy the Messiah deals with the children of men: his arrows either pierce the heart and humble it to receive his great salvation, or they smite the guilty opposer in the dust, and leave him the instructive monument of divine wrath” [= Dengan dua metode dari penghakiman dan belas kasihan sang Mesias menangani anak-anak manusia: anak-anak panahnya menikam jantung / hati dan merendahkannya untuk menerima keselamatannya yang besar, atau mereka memukul penentang yang bersalah dalam debu, dan meninggalkannya sebagai monumen pengajaran dari murka ilahi] - hal 520.

e.   Maz 45:6,18 - “(6) Anak-anak panahmu tajam, menembus jantung musuh raja; bangsa-bangsa jatuh di bawah kakimu. ...  (18) Aku mau memasyhurkan namamu turun-temurun; sebab itu bangsa-bangsa akan bersyukur kepadamu untuk seterusnya dan selamanya”.
Bandingkan juga dengan istilah ‘puteri Tirus’ dalam ay 13.
Pulpit Commentary: “He should have universal sway, and not over Israel only” (= Ia harus mempunyai kekuasaan universal, dan bukan hanya atas Israel saja) - hal 355.
Ini lagi-lagi tidak cocok dengan raja-raja Israel / Yehuda, atau raja manapun, dan hanya cocok untuk Yesus.

f.    Maz 45:7 - “Takhtamu kepunyaan (Ya) Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanmu adalah tongkat kebenaran”.

Kata-kata ‘Ya Allah’ tidak cocok baik untuk Salomo maupun untuk Daud atau raja manusia manapun.
W. S. Plumer: “It cannot without violence be applied to Solomon” [= Ini tidak dapat diterapkan kepada Salomo tanpa melakukan kekerasan (terhadap ayat ini)] - hal 516.

Kalaupun kata-kata ‘Ya Allah’ itu mau diterjemahkan seperti NWT / TDB atau seperti terjemahan-terjemahan yang lain, tetap saja ada kata-kata ‘Takhtamu ... tetap untuk seterusnya dan selama-lamanya’ dalam Maz 45:7 ini, yang tidak cocok baik untuk Salomo maupun untuk Daud atau raja manusia manapun, dan hanya cocok untuk Yesus saja.

Pulpit Commentary: “A dominion to which there will never be any end. This is never said, and could not be truly said, of any earthly kingdom. When perpetuity is promised to the throne of David (2Sam 7:13-16; Ps. 89:4,36,37), it is to that throne as continued in the reign of David’s Son, Messiah [= Suatu kekuasaan yang tidak pernah ada akhirnya. Ini tidak pernah dikatakan, dan tidak bisa secara benar dikatakan, tentang kerajaan duniawi manapun. Pada waktu kekekalan dijanjikan pada takhta dari Daud (2Sam 7:13-16; Maz 89:5,37,38), itu adalah bagi takhta itu, yang berlanjut dalam pemerintahan dari Anak Daud, Mesias] - hal 351.

Charles Haddon Spurgeon: “To whom can this be spoken but our Lord? ... His enlightened eye sees in the royal Husband of the church, God, God to be adored, God reigning, God reigning everlastingly. ... Blind are the eyes that cannot see God in Christ Jesus” [= Kepada siapa kata-kata ini bisa diucapkan kecuali kepada Tuhan kita? ... Matanya (mata si pemazmur) yang diterangi melihat dalam Suami rajani dari Gereja, Allah, Allah yang bertakhta, Allah yang bertakhta selama-lamanya. ... Butalah mata yang tidak bisa melihat Allah dalam Kristus Yesus] - ‘The Treasury of David’, vol I, hal 318.

g.   Maz 45:8 - “Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allahmu, telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu.
·         Ayat ini menunjukkan bahwa raja itu saleh / suci, karena dikatakan bahwa ia mencintai keadilan dan membenci kefasikan.
·         Dan kalau tadi raja itu disebut sebagai ‘Allah’, maka sekarang dikatakan bahwa ia diurapi oleh Allahnya.
Calvin mengatakan bahwa dalam Maz 45 ini, Kristus bukan hanya digambarkan sebagai Allah saja, tetapi juga sebagai Allah yang menjadi manusia (Pengantara), dan karena itu Maz 45:8 (kata-kata ‘Allah, Allahmu telah mengurapi engkau’) kelihatannya menunjukkan bahwa Ia lebih rendah dari Allah.
Pulpit Commentary: “He should be God, and yet be anointed by God. (Vers. 6,7.) How enigmatical before fulfilment! How fully realized in our Immanuel, in him who is at once God and man, David’s Son, yet David’s Lord!” [= Ia harus adalah Allah, tetapi diurapi oleh Allah (ayat 7,8). Alangkah membingungkannya hal itu sebelum hal itu digenapi! Betapa penuhnya hal itu terwujud dalam Imanuel kita, dalam Dia yang pada saat yang sama Allah dan manusia, Anak Daud, tetapi juga Tuhan Daud!] - hal 355.
Charles Haddon Spurgeon: “Observe the indisputable testimony to Messiah’s Deity in verse six, and to his manhood in the present verse. Of whom could this be written but of Jesus of Nazareth? Our Christ is our Elohim. Jesus is God with us” [= Perhatikan kesaksian yang tidak dapat dibantah tentang KeAllahan Mesias dalam ayat 7, dan tentang kemanusiaannya dalam ayat ini (ay 8). Tentang siapa hal ini bisa ditulis kecuali tentang Yesus dari Nazaret? Kristus kita adalah Elohim kita. Yesus adalah Allah dengan / bersama kita] - ‘The Treasury of David’, vol I, hal 318.
·         Juga kata-kata ‘mengurapi engkau dengan minyak ... melebihi teman-teman sekutumu pada ay 8b menunjukkan bahwa raja ini menerima pengurapan yang lebih tinggi dari teman-teman sekutunya. Hal ini juga cocok dengan penggenapannya dalam diri Kristus.
Bahwa Kristus memang diurapi terlihat dari nama ‘Mesias’ / ‘Kristus’, yang artinya ‘yang diurapi’, dan juga ayat-ayat di bawah ini:
*        Kis 4:27 - “Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi.
*        Kis 10:38 - “yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia”.
*        Luk 4:18 - “‘Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku”.
Dan bahwa Yesus diurapi lebih dari orang-orang lain / teman-teman sekutuNya, terlihat dari Yoh 3:34 - “Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan RohNya dengan tidak terbatas.
Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada orang lain yang mendapat pengurapan Roh Kudus sebanyak yang Yesus terima. Dalam arti yang sesungguhnya, Yesus adalah satu-satunya orang yang secara mutlak betul-betul dipenuhi dengan Roh Kudus.

h.   Maz 45:10 - “di antara mereka yang disayangi terdapat puteri-puteri raja, di sebelah kananmu berdiri permaisuri berpakaian emas dari Ofir”.
Tetapi bagaimana dengan Maz 45:10 yang berbicara tentang ‘permaisuri’ dari raja itu? Bukankah ini lebih cocok menunjuk kepada seorang raja manusia / Salomo? John Owen mengatakan bahwa tidak mungkin Roh Kudus merayakan pernikahan Salomo dengan seorang perempuan kafir, mengingat itu merupakan sesuatu yang dilarang oleh Tuhan [‘Hebrews’, vol 3, hal 179 (footnote)].
Tetapi kalau diterapkan kepada Kristus, bukankah lebih tidak cocok mengingat Kristus tidak pernah menikah? Jawabnya: secara jasmani, Kristus memang tidak menikah, tetapi secara rohani ‘gereja’ disebut sebagai ‘mempelai dari Anak Domba’ (bdk. Ef 5:23-32  2Kor 11:2  Wah 21:2,9  Wah 22:17).
Barnes’ Notes: “That queen is the ‘bride of the Lamb’ - the church” (= Permaisuri / ratu itu adalah ‘mempelai / pengantin dari Anak Domba’ - Gereja) - hal 28.

i.    Maz 45:11 - “Dengarlah, hai puteri, lihatlah, dan sendengkanlah telingamu, lupakanlah bangsamu dan seisi rumah ayahmu!”.
Permaisuri / puteri itu disuruh mendengarkan sang raja, dan melupakan bangsa dan seisi rumah ayahnya. Ini mungkin sekali bisa dianalogikan dengan kata-kata Yesus dalam Luk 14:26 - “‘Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu”.

W. S. Plumer: “It is easy to love the best earthly and temporal things excessively; but it is impossible to love Christ too much” (= Adalah mudah untuk mencintai hal-hal duniawi dan sementara yang terbaik secara berlebihan; tetapi merupakan sesuatu yang mustahil untuk terlalu mengasihi Kristus) - hal 521.

j.    Maz 45:12 - “Biarlah raja menjadi gairah karena keelokanmu, sebab dialah tuanmu! Sujudlah kepadanya!”.
KJV: ‘for he is thy Lord; and worship thou him (= karena ia adalah Tuhanmu; dan sembahlah dia).
Dalam ayat ini raja itu disebut sebagai ‘Tuhan’ dari sang Permaisuri, dan Permaisuri itu disuruh sujud kepada raja itu.
W. S. Plumer: “If Christ is the Husband, he is also the Lord of his church” (= Jika Kristus adalah Suami, Ia juga adalah Tuhan dari gereja) - hal 521.
Penyebutan ‘Tuhan’, dan khususnya, perintah untuk sujud kepada raja dalam Maz 45:12 ini merupakan suatu argumentasi yang sangat kuat untuk mengatakan bahwa Maz 45 ini berbicara tentang Kristus, dan bahkan hanya berbicara tentang Kristus. Mengapa? Karena dalam seluruh Kitab Suci tidak pernah ada perintah untuk menyembah kepada yang bukan Allah. Kalau yang dibicarakan adalah Salomo / raja manusia biasa, maka perintah untuk sujud ini merupakan perintah untuk menyembah Salomo / manusia, dan ini bertentangan dengan seluruh Kitab Suci.
W. S. Plumer: “Christ is to be obeyed and worshipped. ... Others have had dominion over us; but to Christ only may we yield implicit and supreme obedience. ... Even in his humiliation Jesus Christ never refused humble and adoring worship. He receives the worship of angels and saints in glory, Rev. 5:9-14” (= Kristus harus ditaati dan disembah. ... Orang-orang lain mempunyai kekuasaan atas kita; tetapi hanya kepada Kristus saja kita boleh memberikan ketaatan yang penuh dan yang tertinggi. ... Bahkan dalam perendahanNya, Yesus Kristus tidak pernah menolak penyembahan yang bersifat rendah hati dan memuja. Ia menerima penyembahan dari malaikat-malaikat dan orang-orang kudus dalam kemuliaan, Wah 5:9-14) - hal 518.

k.   Maz 45:17 - Para bapa leluhurmu hendaknya diganti oleh anak-anakmu nanti; engkau akan mengangkat mereka menjadi pembesar di seluruh bumi.
·         Dalam ayat ini dikatakan bahwa para bapa leluhur (bentuk jamak) dari sang raja akan digantikan oleh anak-anak dari raja itu.
Keil & Delitzsch: “Solomon, however, had a royal father, but not royal fathers [= Tetapi Salomo mempunyai seorang bapa yang adalah raja (Daud), tetapi tidak mempunyai bapa-bapa leluhur (jamak) yang adalah raja-raja] - hal 75.
Tetapi Kristus, sebagai manusia, memang mempunyai banyak nenek moyang yang adalah raja-raja.
·         Dalam ayat ini juga dikatakan bahwa anak-anak dari raja itu akan menjadi ‘pembesar di seluruh bumi. Ini juga tidak cocok bagi Salomo atau raja duniawi manapun, dan hanya cocok untuk Kristus (bdk. Ibr 2:10  Wah 5:10).
·         Jangan terlalu merasa aneh bahwa gereja / orang-orang percaya kadang-kadang disebut sebagai permaisuri / istri / mempelai dari Kristus, tetapi kadang-kadang disebut sebagai ‘anak’ seperti dalam Maz 45:17 ini, dan juga disebut sebagai ‘teman sekutu’ seperti dalam Maz 45:8b. Memang Kitab Suci memberikan bermacam-macam gambaran tentang orang percaya dalam hubungannya dengan Kristus. Sebagai ‘saudara’ (Ro 8:29), sebagai ‘anak’ (Mark 2:5  Mark 10:24  Yoh 13:33), sebagai ‘hamba’ (Yoh 15:20), sebagai ‘sahabat’ (Yoh 15:14), sebagai ‘mempelai’ (Wah 21:9), dsb.

Jadi, terlihat dengan jelas bahwa banyak dari detail-detail dari Maz 45 ini yang tidak bisa diterapkan pada seorang manusia biasa. Dan karena itu saya menyimpulkan bahwa Maz 45 ini hanya menunjuk kepada Kristus saja, tidak kepada Salomo atau raja duniawi manapun. Sebetulnya dari hal ini saja, seluruh argumentasi dari Saksi Yehuwa sudah runtuh, karena mereka mendasarkan argumentasi mereka pada anggapan bahwa Maz 45 ini pada mulanya / secara orisinil berbicara tentang seorang raja manusia, yaitu Salomo.

3.         Maz 45:7 ini dikutip dalam Ibr 1:8, dan jelas diterapkan kepada Yesus!
Ibr 1:8 - “Tetapi tentang (kepada) Anak Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran.”.
KJV/RSV: ‘Thy throne, O God’ (= TakhtaMu, ya Allah).
NIV/NASB: ‘Your throne, O God’ (= TakhtaMu, ya Allah).
Aneh juga bahwa dalam Maz 45:7 Kitab Suci Indonesia dan RSV salah terjemahan, tetapi dalam Ibr 1:8, kedua-duanya menterjemahkannya secara benar, padahal Ibr 1:8 mengutip dari Maz 45:7!

Adam Clarke: this very verse the apostle, Heb 1:8, has applied to Jesus Christ. On this I shall make a very short remark, but it shall be conclusive: If the apostle did not believe Jesus Christ to be the true and eternal God, he has utterly misapplied this Scripture.” (= Ayat ini, sang Rasul, Ibr 1:8, telah terapkan kepada Yesus Kristus. Tentang ini saya akan memberikan kata-kata pendek, tetapi itu akan meyakinkan: Seandainya sang rasul tidak mempercayai Yesus Kristus sebagai Allah yang sejati / benar dan kekal, ia telah sama sekali salah menerapkan Kitab Suci ini).


b)   Yes 9:5 - “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”.

Ayat ini pada bagian awalnya menekankan kemanusiaan Yesus, tetapi pada bagian akhirnya menekankan keilahianNya. Dan ayat ini menyebut Yesus sebagai ‘Allah yang perkasa’!

Saksi Yehuwa mengatakan bahwa Yesus hanya disebut dengan istilah ‘Allah yang perkasa’ (Ibrani: EL GIBOR), bukan ‘Allah yang maha kuasa’ (Ibrani: EL SHADDAY) seperti Bapa.
Kej 17:1 - “Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: ‘Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapanKu dengan tidak bercela”.
Karena itu, Yesus hanyalah ‘allah kecil’, bukan betul-betul Allah.

Jawaban saya:

1.   Istilah ‘allah kecil’ yang digunakan oleh Saksi Yehuwa hanya bisa ada dalam Polytheisme, yang mempercayai banyak dewa / allah, dan yang satu lebih besar dari yang lain.

Walter Martin: “the Watchtower ... make Jesus ‘a second god’ and thus introduce polytheism into Christianity” [= Menara Pengawal ... membuat Yesus ‘allah yang kedua’ dan dengan demikian memasukkan polytheisme ke dalam kekristenan] - ‘The Kingdom of the Cults’, hal 69.
Catatan: istilah ‘the Watchtower’ (= Menara Pengawal) merupakan nama dari majalah pertama dan terutama dari Saksi Yehuwa, sehingga menjadi semacam merk yang khas bagi mereka.

Jadi, kepercayaan Saksi Yehuwa tentang Yesus sebagai ‘allah kecil’ itu membuat Saksi Yehuwa menjadi satu golongan dengan agama-agama kafir. Saksi Yehuwa menuduh, atau lebih tepat memfitnah, bahwa banyak ajaran Kristen yang berasal dari kepercayaan kafir, misalnya ajaran tentang Allah Tritunggal, tentang jiwa yang tidak bisa mati, tentang neraka, dan sebagainya, tetapi sebetulnya ini seperti ‘maling teriak maling’, karena ajaran Saksi Yehuwa sendirilah yang berbau kepercayaan kafir.

2.   Pandangan Saksi Yehuwa tentang Yesus sebagai ‘allah kecil’ ini juga bertentangan dengan:
a.   Kel 20:3 - “Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu”.
Lucunya, Saksi-Saksi Yehuwa justru menggunakan Kel 20:3 ini untuk menyerang doktrin Allah Tritunggal (‘Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?’, hal 13). Tetapi serangan itu justru menjadi bumerang yang berbalik menghantam diri mereka sendiri, karena anggapan mereka bahwa Yesus adalah ‘suatu allah’ yang betul-betul terpisah dari Allah / Yehuwa / Yahweh, jelas menunjukkan bahwa mereka mempunyai ‘allah lain’! Ini berbeda dengan kekristenan yang benar, yang sekalipun menganggap bahwa Yesus adalah Allah, dan bahwa Ia adalah pribadi yang berbeda dengan Bapa, tetapi pada saat yang sama mempercayai bahwa Yesus dan Bapa mempunyai hanya satu hakekat, dan karena itu Yesus bukanlah ‘allah / Allah lain’! Bdk. Yoh 10:30 - “Aku dan Bapa adalah satu”.
b.   Yes 44:6 - “Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: ‘Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari padaKu.
c.   Yes 45:5 - Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku”.
d.   Yes 43:10 - “‘Kamu inilah Saksi-SaksiKu,’ demikianlah firman TUHAN, ‘dan hambaKu yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepadaKu dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.

Walter Martin: “if there has been ‘no god formed before or after Me’ (Jehovah speaking in Isaiah 43:10), then it is impossible on that ground alone, namely God’s declaration, for any other god (‘a God’ included) to exist” [= jika tidak ada allah dibentuk sebelum atau sesudah Aku (Yehovah yang berbicara dalam Yesaya 43:10), maka adalah mustahil berdasarkan pernyataan Allah ini saja, untuk adanya allah lain apapun / manapun (termasuk ‘suatu Allah’)] - ‘The Kingdom of the Cults’, hal 89.

Walter Martin: “we find that Jehovah declares in Isaiah 44:6 that He alone is ... the only God, ... Since Jehovah is the only God, then how can the LOGOS be ‘a god,’ a lesser god than Jehovah, as Jehovah’s Witnesses declare in John 1:1? ... However, despite the testimony of Scripture that ‘... before me there was no God formed, neither shall there be after me’ (Isaiah 43:10), the ‘a god’ fallacy is pursued and taught by Jehovah’s Witnesses in direct contradiction to God’s Word” [= kita mendapati bahwa Yehovah menyatakan dalam Yes 44:6 bahwa Ia saja yang adalah ... satu-satunya Allah, ... Karena Yehovah adalah satu-satunya Allah, maka bagaimana LOGOS bisa adalah ‘suatu allah’, allah yang lebih kecil / rendah dari pada Yehovah, seperti yang dinyatakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa dalam Yoh 1:1? ... Tetapi, sekalipun ada kesaksian dari Kitab Suci bahwa ‘... sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi’ (Yes 43:10), pemikiran yang keliru tentang ‘suatu allah’ terus diikuti dan diajarkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa dalam suatu kontradiksi langsung dengan Firman Allah] - ‘The Kingdom of the Cults’, hal 91.

Lagi-lagi dalam hal ini, kalau kekristenan mengakui Yesus sebagai Allah, itu tidak bertentangan dengan ayat-ayat seperti Yes 43:10  44:6  45:5, karena kekristenan mempercayai bahwa Yesus (sebagai Allah) tidak dicipta, dan sekalipun kekristenan mempercayai Yesus sebagai Allah, tetapi pada saat yang sama juga mempercayai kesatuan Yesus dengan Bapa (dan dengan Roh Kudus), sehingga kekristenan tetap mempercayai adanya hanya satu Allah.
Tetapi Saksi-Saksi Yehuwa yang menganggap Yesus sekedar sebagai ‘suatu allah’, yang dicipta oleh Bapa / Yehuwa, dan yang betul-betul berbeda dan terpisah secara total dari Allah, jelas bertentangan dengan ayat-ayat dalam Yesaya tersebut.

3.   Istilah ‘Allah yang perkasa’ dalam Yes 9:5 berasal dari kata Ibrani EL GIBOR. Apa artinya?
EL artinya ‘Allah’ tetapi bisa juga diartikan ‘seseorang yang kuat’, ‘kekuatan’, ‘kuasa’, dan GIBOR artinya ‘strong / mighty’ (= kuat / perkasa) - Bible Works 7.
Tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa sebutan ini menunjuk kepada ‘allah kecil’ yang tingkatannya lebih rendah dari Allah yang maha kuasa.

Adam Clarke: °Eel gibowr‎, the prevailing or conquering God.” (= EL GIBOR, Allah yang menang dan menaklukkan).

Jamieson, Fausset & Brown: “Horsley translates, ‘God the mighty Hero,’ or ‘Warrior,’ °Eel gibowr‎: the character in which He will manifest Himself against the anti-Christian enemy (Rev 19:11-15).” [= Horsley menterjemahkan, ‘Allah sang Pahlawan atau Pejuang / Prajurit yang kuat’, EL GIBOR: karakter dalam mana Ia akan menyatakan diriNya sendiri terhadap musuh yang anti Kristen (Wah 19:11-15)].

Barnes’ Notes: the natural and obvious meaning of the expression is to denote a divine nature (= arti yang alamiah dan jelas dari ungkapan ini adalah menunjukkan suatu hakekat ilahi).

Calvin: “‘The mighty God.’ la (El) is one of the names of God, though derived from ‘strength,’ so that it is sometimes added as an attribute. But here it is evidently a proper name, because Isaiah is not satisfied with it, and in addition to it employs the adjective rwbg, (gibbor,) which means ‘strong.’ And indeed if Christ had not been God, it would have been unlawful to glory in him; for it is written, ‘Cursed be he that trusteth in man.’ (Jeremiah 17:5.) ... For if we find in Christ nothing but the flesh and nature of man, our glorying will be foolish and vain, and our hope will rest on an uncertain and insecure foundation; but if he shows himself to be to us God and ‘the mighty God,’ we may now rely on him with safety. With good reason does he call him ‘strong or mighty,’ because our contest is with the devil, death, and sin, (Ephesians 6:12,) enemies too powerful and strong, by whom we would be immediately vanquished, if the ‘strength’ of Christ had not rendered us invincible. Thus we learn from this title that there is in Christ abundance of protection for defending our salvation, so that we desire nothing beyond him; for he is God, who is pleased to show himself ‘strong’ on our behalf. [= ‘Allah yang perkasa / kuat’. EL adalah salah satu nama / sebutan Allah, sekalipun diturunkan dari ‘kekuatan’, sehingga itu kadang-kadang ditambahkan sebagai suatu sifat. Tetapi di sini itu dengan jelas merupakan suatu nama diri, karena Yesaya tidak puas dengannya, dan sebagai tambahan baginya menggunakan kata sifat GIBOR, yang berarti ‘kuat’. Dan memang seandainya Kristus bukan Allah, adalah tidak sah untuk bermegah dalam Dia; karena dituliskan ‘Terkutuklah ia yang percaya kepada manusia’ (Yer 17:5). ... Karena jika kita tidak menemukan apapun dalam Kristus kecuali daging dan hakekat manusia, kemegahan kita adalah bodoh dan sia-sia, dan pengharapan kita akan berdasar pada suatu dasar yang tidak pasti dan tidak aman; tetapi jika Ia menunjukkan diriNya sendiri bagi kita sebagai Allah dan ‘Allah yang perkasa / kuat’, kita sekarang bisa bersandar kepadaNya dengan aman. Dengan alasan yang baik ia menyebutNya ‘kuat dan perkasa’, karena pertempuran / perjuangan kita adalah melawan setan, kematian, dan dosa, (Ef 6:12), musuh-musuh yang terlalu berkuasa dan kuat, oleh siapa kita akan segera dikalahkan, jika ‘kekuatan’ dari Kristus tidak membuat kita tak terkalahkan. Maka kita belajar dari gelar ini bahwa dalam Kristus ada perlindungan yang berlimpah-limpah untuk mempertahankan keselamatan kita, sehingga kita tidak menginginkan apapun diluar Dia; karena Ia adalah Allah, yang berkenan menunjukkan diriNya sendiri ‘kuat’ demi kepentingan kita].
Yer 17:5 - Beginilah firman TUHAN: ‘Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri,.
Ef 6:12 - “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.”.

4.   Istilah ‘Allah yang perkasa’ (Ibrani: EL GIBOR) juga digunakan dalam Yes 10:21, tetapi dalam ayat itu istilah itu digunakan untuk menunjuk kepada Bapa / Yahweh.
Yes 10:20-21 - “(20) Tetapi pada waktu itu sisa orang Israel dan orang yang terluput di antara kaum keturunan Yakub, tidak akan bersandar lagi kepada yang mengalahkannya, tetapi akan bersandar kepada TUHAN, Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tetap setia. (21) Suatu sisa akan kembali, sisa Yakub akan bertobat di hadapan Allah yang perkasa (IBRANI: EL GIBOR).

Pada waktu saudara menghadapi Saksi-Saksi Yehuwa, katakan: kalau istilah EL GIBOR / ‘Allah yang perkasa’ ini artinya hanya ‘allah kecil’, maka itu berarti bahwa Bapa / Yahweh juga adalah ‘allah kecil’. Karena baik Yesus maupun Yahweh sama-sama disebut dengan gelar ‘Allah yang perkasa’, maka mereka harus memilih, arti ‘allah kecil’ yang konswekwensinya adalah bahwa Yahweh sendiri juga adalah ‘allah kecil’, atau arti ‘sungguh-sungguh Allah’ yang konsekwensinya adalah bahwa Yesus juga adalah ‘sungguh-sungguh Allah’.

Leupold: He is himself God. That the divine character of the ‘child’ is here asserted appears also from the fact that Isaiah uses the same title unequivocally for God in 10:21 (= Ia sendiri adalah Allah. Bahwa karakter ilahi dari ‘anak’ itu ditegaskan di sini juga terlihat dari fakta bahwa Yesaya mengunakan gelar yang sama dengan jelas / tanpa ragu-ragu untuk Allah dalam Yes 10:21) - Libronix.

Barnes’ Notes: ‘The mighty God.’ ... This is one, and but one out of many, of the instances in which the name God is applied to the Messiah; compare John 1:1; Rom 9:5; 1 John 5:20; John 20:28; 1 Tim 3:16; Heb 1:8. The name ‘mighty God,’ is unquestionably attributed to the true God in Isa 10:21. ... the fact that the name God is so often applied to Christ in the New Testament proves that it is to be understood in its natural and obvious signification. (= ‘Allah yang perkasa’. ... Ini adalah satu, tetapi satu dari banyak, dari contoh-contoh dalam mana sebutan ‘Allah’ diterapkan kepada sang Mesias; bandingkan Yoh 1:1; Ro 9:5; 1Yoh 5:20; Yoh 20:28; 1Tim 3:16; Ibr 1:8. Sebutan ‘Allah yang perkasa’ tidak diragukan dianggap sebagai milik dari Allah yang benar / sejati dalam Yes 10:21. ... fakta bahwa sebutan Allah itu begitu sering diterapkan kepada Kristus dalam Perjanjian Baru membuktikan bahwa itu harus dimengerti dalam arti normal dan jelas.).
Catatan: tentang 1Tim 3:16, hanya KJV yang menggunakan kata ‘Allah’, dan ini sangat diperdebatkan keasliannya. Karena itu, saya tidak menggunakannya untuk membuktikan keilahian Yesus. Ayat-ayat yang lain yang digunakan oleh Barnes akan saya bahas dalam pelajaran selanjutnya.

Ada yang mengatakan bahwa kata EL berbeda dengan ELOHIM dalam arti, kalau kata ELOHIM bisa digunakan untuk yang bukan Allah, maka kata El (bentuk tunggalnya) tidak bisa, dan selalu menunjuk kepada Allah yang benar.
E. J. Young (tentang Yes 9:5): Whereas the word ELOHIM  in the Old Testament may sometimes apply to beings lesser than God, such is not the case with EL. This designation is reserved for the true God and for Him alone. (= Sementara kata ELOHIM dalam Perjanjian Lama kadang-kadang bisa diterapkan kepada makhluk-makhluk yang lebih rendah dari pada Allah, tidak demikian kasusnya dengan EL. Penyebutan ini disediakan untuk Allah yang benar / sejati dan untuk Dia saja.) - Libronix.

Tetapi saya tidak setuju dengan E. J. Young hal ini. Saya menemukan 2 ayat dalam Perjanjian Lama dimana kata EL digunakan untuk menunjuk kepada yang bukan Allah.
Kel 34:14 - “Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah (Ibrani: EL) lain, karena TUHAN, yang namaNya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.”.
Ul 32:12 - “demikianlah TUHAN sendiri menuntun dia, dan tidak ada allah (Ibrani: EL) asing menyertai dia.”.
Istilah ‘allah lain’ atau ‘allah asing’ dalam kedua ayat di atas, jelas tidak menunjuk kepada Allah yang benar / sejati. Dalam Bible Works 7 juga dikatakan bahwa EL bisa menunjuk kepada ‘false god’ (allah palsu / dewa).

5.   Yesus dinyatakan sebagai ‘Allah yang besar’ dalam Tit 2:13 - “dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan (Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita) Yesus Kristus”.
Catatan: tanda kurung dari saya; dan kata ‘maha’ yang saya coret seharusnya tidak ada.
NIV: ‘while we wait for the blessed hope - the glorious appearing of our great God and Savior, Jesus Christ’ (= sementara kita menantikan pengharapan yang mulia - penampilan yang mulia dari Allah kita yang besar dan Juruselamat kita, Yesus Kristus).
Ayat ini, yang menyebut Yesus dengan sebutan ‘Allah yang besar’, betul-betul menabrak secara frontal ajaran Saksi Yehuwa yang mengatakan bahwa Yesus adalah ‘allah kecil’.

6.         Yesus juga disebut maha kuasa, tetapi dalam Perjanjian Baru / bahasa Yunani.
Wah 1:8 - “‘Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.’”.
Memang karena ini dalam Perjanjian Baru, maka tentu tidak digunakan kata Ibrani SHADDAY, tetapi kata Yunani PANTOKRATOR.

c)   Yoh 1:1 - “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Kata ‘Firman’ (bahasa Yunani: LOGOS) di sini jelas menunjuk kepada Yesus. Ini terlihat dari Yoh 1:14a yang mengatakan bahwa ‘Firman itu telah menjadi manusia’ dan dari Yoh 1:14b yang menyebutNya sebagai ‘Anak Tunggal Bapa’.
Yoh 1:14 - Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”.
Dan Yoh 1:1 ini secara explicit mengatakan bahwa Firman / Yesus itu adalah Allah.

Ada dua bantahan terhadap ajaran / penafsiran ini:

Pertama-tama, adalah bantahan dari Unitarianisme (Frans Donald, Benny dsb).

Mereka menterjemahkan / menafsirkan bagian akhir dari Yoh 1:1 itu sebagai ‘Firman itu adalah ilahi’. Jadi, Yesus hanya bersifat ilahi, tetapi bukan betul-betul Allah.
Mereka memberikan illustrasi sebagai berikut: Kata ‘si manis’ adalah kata benda. Tetapi kalau kata sandang tertentunya dibuang, maka menjadi ‘manis’, yang adalah kata sifat.

Jawaban saya:

1.   Illustrasi ini sama sekali tidak cocok, dan sengaja menyesatkan. Mengapa? Karena kata ‘Allah’ adalah kata benda. Mengapa ilustrasinya menggunakan kata ‘manis’ yang merupakan kata sifat? Kalau ilustrasinya juga menggunakan kata benda, seperti ‘raja’ dan ‘sang raja’, maka keduanya tetap kata benda. Jadi, ada atau tidak adanya kata sandang tertentu tidak terlalu membuat perbedaan.

2.   Dalam bahasa Yunani kata sifat ‘ilahi’ itu ada, yaitu THEIOS, misalnya dalam 2Pet 1:3.
2Pet 1:3 - “Karena kuasa ilahiNya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasaNya yang mulia dan ajaib”.
Mengapa bukan kata ini yang digunakan kalau memang mau mengatakan ‘ilahi’?

Kedua, adalah bantahan dari Saksi Yehuwa.

Catatan: sebetulnya Saksi Yehuwa juga termasuk Unitarian, tetapi mereka merupakan kelompok khusus / tersendiri, dan berbeda dengan kelompok dari Benny, Frans Donald dan sebagainya.

Saksi Yehuwa mengatakan bahwa dalam Yoh 1:1 itu kata ‘Allah’ muncul 2x.
Yoh 1:1 - “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Kata ‘Allah’ yang pertama menunjuk kepada Bapa, dan yang ini menggunakan kata sandang tertentu. Jadi, terjemahannya seharusnya adalah the God’ (= sang Allah). Ini betul-betul Allah.
Tetapi kata ‘Allah’ yang kedua, yang menunjuk kepada Firman / Yesus, tidak mempunyai kata sandang tertentu, dan itu bukanlah Allah sungguh-sungguh. Karena itu mereka menterjemahkan a god’ (= suatu allah), yang mereka artikan sebagai ‘allah kecil’.

Jawaban saya:

1.         Kata sandang dan hubungannya dengan kata ‘Allah’.

a.   Berbeda dengan bahasa Inggris yang mempunyai indefinite article / kata sandang tidak tertentu (yaitu ‘a’ / ‘an’), maka bahasa Yunani tidak mempunyainya.
Dana & Mantey: “The Greek had no indefinite article, though tij and ei[j sometimes approximated this idiom (cf. Lk. 10:25; Mt. 8:19).” [= Bahasa Yunani tidak mempunyai kata sandang tidak tertentu, sekalipun tij (TIS) dan ei[j (HEIS) kadang-kadang sangat dekat / mirip dengan ungkapan ini (bdk. Luk 10:25; Mat 8:19)] - ‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 136.

b.   Fungsi / kegunaan dari kata sandang tertentu dalam bahasa Yunani.
Dana & Mantey: “The function of the article is to point out an object or to draw attention to it. Its use with a word makes the word stand out distinctly” [= Fungsi dari kata sandang (tertentu) adalah untuk menunjukkan suatu obyek atau untuk menarik perhatian kepada obyek itu. Penggunaannya dengan suatu kata membuat kata itu menonjol secara jelas] - ‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 137.

c.   Digunakan atau tidak digunakannya definite article / kata sandang tertentu dalam bahasa Yunani.

·         Ada atau tidaknya kata sandang tertentu dalam bahasa Yunani tidak selalu sama dengan terjemahannya dalam bahasa Inggris.
Jadi, sering terjadi dimana kata Yunani yang mempunyai kata sandang tertentu diterjemahkan ke bahasa Inggris tanpa kata sandang tertentu, seperti kata ‘God’ (= Allah) yang pertama dalam Yoh 1:1b itu, yang dalam bahasa Yunaninya adalah TON THEON (= the God).
Demikian pula sebaliknya, kata Yunani yang tidak mempunyai kata sandang tertentu kadang-kadang harus diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan menggunakan kata sandang tertentu.

Dana & Mantey: “It is important to bear in mind that we cannot determine the English translation by the presence or absence of the article in Greek. Sometimes we should use the article in the English translation when it is not used in the Greek, and sometimes the idiomatic force of the Greek article may best be rendered by an anarthrous noun in English” (= Penting untuk diingat bahwa kita tidak bisa menentukan terjemahan bahasa Inggris dengan ada atau tidak adanya kata sandang dalam bahasa Yunaninya. Kadang-kadang kita harus menggunakan kata sandang dalam terjemahan bahasa Inggris pada waktu kata sandang itu tidak digunakan dalam bahasa Yunaninya, dan kadang-kadang kekuatan dari ungkapan dari kata sandang bahasa Yunani bisa diterjemahkan dengan paling baik oleh suatu kata benda yang tidak mempunyai kata sandang dalam bahasa Inggris) - ‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 150-151.

·         Kalau suatu kata benda dalam bahasa Yunani mempunyai kata sandang tertentu, maka benda itu pasti tertentu; tetapi sebaliknya, kalau suatu kata benda tidak mempunyai kata sandang tertentu, maka bendanya bisa tertentu bisa tidak.
Dana & Mantey mengutip kata-kata A. T. Robertson: “Whenever the article occurs the object is certainly definite. When it is not used the object may or may not be” (= Pada waktu kata sandang itu muncul, obyeknya pasti tertentu. Pada waktu kata sandang itu tidak digunakan, obyeknya bisa tertentu atau tidak tertentu) - ‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 137.

·         Nama-nama, dan semua kata-kata benda yang merupakan obyek tunggal, seperti ‘kematian’, ‘kehidupan’, ‘dunia’, dsb. tidak membutuhkan kata sandang tertentu untuk menjadi tertentu.
A. T. Robertson, dalam tafsirannya tentang 1Kor 3:22, mengatakan: “All the words in this verse and 23 are anarthrous, though not indefinite, but definite. ... Proper names do not need the article to be definite nor do words for single objects like ‘world,’ ‘life,’ ‘death.’ (= Semua kata-kata dalam ayat ini dan ayat 23 tidak mempunyai kata sandang tertentu, sekalipun bukannya tidak tertentu, tetapi tertentu. ... Nama-nama yang sungguh-sungguh / nama-nama pribadi / diri, tidak membutuhkan kata sandang tertentu supaya menjadi tertentu, dan demikian juga dengan obyek-obyek tunggal seperti ‘dunia’, ‘kehidupan’, ‘kematian’) - ‘Word Pictures in the New Testament’, vol IV, hal 100,101.

Kata-kata A. T. Robertson ini tentu juga bisa diterapkan untuk kata ‘Allah’, karena Allah juga merupakan obyek tunggal! Jadi, kata ‘Allah’ sekalipun tidak menggunakan kata sandang tertentu, tetap tertentu, dan karena itu tidak bisa diterjemahkan ‘a god’ / ‘suatu allah’!

Dana & Mantey: “Sometimes with a noun which the context proves to be definite the article is not used” (= Kadang-kadang dengan suatu kata benda yang kontextnya membuktikan sebagai tertentu, kata sandang tertentu tidak digunakan) - ‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 149.

Kesimpulan: tidak adanya kata sandang tertentu sebelum kata ‘God’ / ‘Allah’ dalam Yoh 1:1c dalam bahasa Yunaninya, tidak membuat kata itu menjadi tidak tertentu.

d.   Kata ‘Allah’ (secara umum, bukan hanya dalam Yoh 1:1 ini) tidak harus mempunyai kata sandang tertentu.

Gresham Machen: qeoj, o[, a god, God (When it means God, qeoj may have the article)” [= qeoj (THEOS), o[ (HO), ‘suatu allah’, ‘Allah’ (Pada waktu itu berarti ‘Allah’, qeoj (THEOS) bisa mempunyai kata sandang)] - ‘New Testament Greek For Beginners’, hal 39.
Perhatikan bahwa ia menggunakan kata ‘may’ (= bisa). Itu berarti ‘tidak harus’.

Dana & Mantey mengutip kata-kata A. T. Robertson yang mengomentari kata THEOS berkenaan dengan kata sandang, dengan kata-kata sebagai berikut: (THEOS) is treated like a proper name and may have it or not have it” [= (THEOS) diperlakukan seperti nama sungguh-sungguh / nama diri / pribadi dan bisa mempunyai kata sandang atau tidak mempunyainya] - ‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 140.
Catatan: ini menjadi sama seperti kata Yunani KURIOS (= Tuhan), yang juga sering dianggap sebagai ‘proper name’ (= nama sungguh-sungguh / nama diri / pribadi), dan lalu tidak diberi kata sandang tertentu.

Walter Martin: “Omission of the article with THEOS does not mean that ‘a god’ other than the one true God is meant. ... In other words, the writers of the New Testament frequently do not use the article with THEOS and yet the meaning is perfectly clear in the context, namely that the One True God is intended” (= Tidak adanya kata sandang dengan THEOS tidak berarti bahwa yang dimaksudkan adalah ‘suatu allah’ yang lain / berbeda dari satu-satunya Allah yang benar. ... Dengan kata lain, penulis-penulis dari Perjanjian Baru sering tidak menggunakan kata sandang dengan THEOS tetapi artinya sangat jelas dalam kontext, yaitu bahwa satu-satunya Allah yang benar yang dimaksudkan) - ‘The Kingdom of the Cults’, hal 86,86.
Catatan: ada ratusan kali penggunaan kata ‘Allah’ tanpa menggunakan definite article / kata sandang tertentu dalam Perjanjian Baru.

2.   Sebetulnya, istilah ‘a god’ / ‘suatu allah’ untuk Yesus ini adalah istilah omong kosong ciptaan mereka sendiri, yang mungkin mereka sendiri tidak mengerti artinya.

Kalau saudara berdebat dengan Saksi-Saksi Yehuwa tentang hal ini, tanyakan kepada mereka: Apakah ‘suatu allah’ itu? Ia Allah atau bukan? Atau, apakah Ia adalah ‘allah kecil’ atau ‘setengah allah’?
Perlu diingat bahwa Kitab Suci tidak pernah membicarakan hal seperti ini. Kitab Suci memang membicarakan dewa-dewa / allah-allah kafir, tetapi Kitab Suci juga mengatakan bahwa mereka sebetulnya tidak ada / tidak mempunyai existensi (1Kor 8:4-6). Dengan demikian Kitab Suci memberikan batasan yang sangat keras antara ‘Allah’ dan ‘bukan Allah’. Atau sesuatu / seseorang itu adalah Allah (sungguh-sungguh dan sepenuhnya), atau ia sama sekali bukan Allah! Tidak ada sesuatu / seseorang yang bisa disebut ‘allah kecil’, ‘setengah allah’, dsb.

Dan penatua Saksi Yehuwa yang berdiskusi dengan saya, setelah saya desak dengan kata-kata di atas, akhirnya mengaku bahwa Yesus sama sekali bukan Allah. Lalu saya bertanya lagi: ‘Kalau begitu mengapa Kitab Suci menyebut Yesus sebagai Allah?’. Ia menjawab: ‘Karena Yesus yang paling dekat dengan Allah’. Ini jawaban yang dipaksakan, dan sangat tidak masuk akal. Karena, apakah orang yang paling dekat dengan presiden harus disebut sebagai ‘suatu presiden’?

3.   Yesus berulangkali disebut ‘the God’ (HO THEOS / TOU THEOU) dalam Kitab Suci.
Saksi-Saksi Yehuwa mengutip kata-kata bodoh dari suatu buletin / seorang Teolog Katolik bernama Karl Rahner, yang mengatakan bahwa Yesus tidak pernah disebut HO THEOS (= the God’). Kata-kata ini bodoh, tetapi kebodohan seperti ini banyak sekali, karena bukan hanya buletin / teolog itu saja yang menyatakan kata-kata bodoh itu.

Tidak peduli berapa banyak orang yang mengatakan kata-kata itu, tetapi kata-kata itu jelas bodoh dan salah, karena dalam Kitab Suci ada 7 atau 8 ayat yang secara explicit menyebut Yesus dengan sebutan ‘Allah’, dan dalam bahasa Yunaninya menggunakan definite article (= kata sandang tertentu), sehingga secara hurufiah seharusnya diterjemahkan the God’.

Catatan: saya mengatakan ‘7 atau 8 ayat’, karena satu ayat yaitu 2Tes 1:12 diperdebatkan terjemahannya. Kalau ayat itu dihitung, ada 8 ayat yang menyatakan bahwa Yesus adalah the God’. Kalau ayat itu tidak dihitung, hanya ada 7 ayat yang menyatakan Yesus sebagai the God’.

Ayat-ayat itu adalah:
a.   Yoh 20:28 - “Tomas menjawab Dia: ‘Ya Tuhanku dan Allahku!’”.
b.   Tit 2:13 - “dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan [Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita] Yesus Kristus” (tanda kurung dari saya).
c.   Ibr 1:8 - “Tetapi tentang Anak Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran”.
d.   2Pet 1:1 - “Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan [Allah dan Juruselamat kita], Yesus Kristus (tanda kurung dari saya).
2Pet 1:1 (NASB): “... by the righteousness of our God and Savior, Jesus Christ” [= oleh kebenaran Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus].
Jadi di sini Yesus disebut dengan istilah ‘Allah dan Juruselamat kita’.
e.   1Yoh 5:20 - “Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam AnakNya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal”.
f.    Wah 1:7-8 - “(7) Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin. (8) ‘Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.’”.
g.   2Tes 1:12  - “sehingga nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam kamu dan kamu di dalam Dia, menurut kasih karunia Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus.
Catatan: terjemahan dari Kitab Suci Indonesia ini (dan juga terjemahan dari KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV) tidak menunjukkan Yesus sebagai Allah. Tetapi NIV memberikan catatan kakinya yang memberikan terjemahan alternatif, yaitu: ‘our God and Lord, Jesus Christ’ (= Allah dan Tuhan kita, Yesus Kristus). Dalam terjemahan ini, Yesus Kristus disebut baik dengan kata ‘Allah’ maupun ‘Tuhan’.

Ke 7-8 ayat ini secara explicit menyebut Yesus sebagai Allah, dan dalam ke 7-8 ayat ini, kata ‘Allah’ dalam bahasa Yunaninya menggunakan definite article.

Jadi, kalau Yoh 1:1c diterjemahkan ‘the Word was a god (= Firman itu adalah suatu allah), seperti dalam NWT / TDB, itu akan bertentangan dengan ke 7-8 ayat di atas. Bagaimana mungkin Kitab Suci di bagian yang satu menyebut Yesus sebagai ‘a god’ dan di bagian-bagian yang lain menyebut Yesus sebagai ‘the God’?

Saya ingin mengingatkan akan hukum penafsiran dari Saksi-Saksi Yehuwa yang mengatakan: “Dua hal dapat membantu kita mengerti Alkitab dengan benar. Pertama, pertimbangkan ikatan kalimat (ayat-ayat di sekitarnya) dari suatu pernyataan. Kemudian, bandingkan ayat-ayat dengan pernyataan-pernyataan lain dalam Alkitab yang membahas pokok yang sama. Dengan cara demikian, kita membiarkan Firman Allah sendiri membimbing pikiran kita, dan penafsirannya bukan dari kita sendiri tetapi dari Alkitab. Itulah cara yang dipakai dalam publikasi-publikasi Watch Tower - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 48.

Mengapa teori yang bagus ini tidak mereka terapkan dalam penterjemahan / penafsiran dari Yoh 1:1c ini? Mengapa mereka menterjemahkan / menafsirkan Yoh 1:1c ini sedemikian rupa sehingga menyatakan Yesus sebagai ‘a god’ / ‘suatu allah’, dan dengan demikian bertentangan dengan 7-8 ayat lain dalam Kitab Suci yang menunjukkan Yesus sebagai ‘the God’?

4.   Allah (Bapa / YAHWEH) disebut ‘a God’ (= suatu Allah) dalam banyak ayat versi KJV, RSV, NIV maupun NWT. Mengapa ayat-ayat ini tidak menyebabkan mereka menganggap bahwa Bapa / Yahweh juga adalah ‘suatu allah’ / ‘allah kecil’?
Mari kita perhatikan banyak contoh di bawah ini:

a.   Kej 16:13b (RSV): ‘Thou art a God of seeing’ (= Engkau adalah seorang / suatu Allah penglihatan).
NWT: “You are a God of sight” (= Engkau adalah seorang / suatu Allah dari penglihatan).
TDB: Allah yang melihat”.
Jadi di sini TDB menyimpang dari NWT, karena kalau TDB menuruti NWT, TDB seharusnya menterjemahkan seorang / suatu Allah yang melihat’. Dan ini terus dilakukan oleh TDB terhadap semua ayat-ayat di bawah ini, dimana NWT menggunakan kata-kata ‘a God’ untuk Allah (Bapa / YAHWEH).

b.   Ul 32:4b (KJV): ‘for all his ways are judgment: a God of truth and without iniquity’ (= karena semua jalanNya adalah adil: suatu / seorang Allah dari kebenaran dan tanpa kesalahan).
NWT: For all his ways are justice. A God of faithfulness, with whom there is no injustice (= Karena semua jalanNya adalah keadilan. Seorang / suatu Allah dari kesetiaan, pada siapa tidak ada ketidak-adilan).
TDB: Allah yang setia”.

c.   1Sam 2:3b (KJV): ‘let not arrogancy come out of your mouth: for the LORD is a God of knowledge’ (= janganlah kecongkakan keluar dari mulutmu: karena TUHAN adalah seorang / suatu Allah dari pengetahuan).
NWT: Let nothing go forth unrestrained from YOUR mouth, For a God of knowledge Jehovah is (= Janganlah apapun keluar tanpa dikekang dari mulutmu, Karena Yehovah adalah seorang / suatu Allah dari pengetahuan).
TDB: “Yehuwa adalah Allah pengetahuan”.

d.   1Sam 17:46b (KJV): ‘that all the earth may know that there is a God in Israel (= supaya seluruh bumi tahu bahwa ada suatu / seorang Allah di Israel).
NWT: and people of all the earth will know that there exists a God belonging to Israel (= dan bangsa-bangsa dari seluruh bumi akan tahu bahwa ada seorang / suatu Allah kepunyaan Israel).
TDB: “ada Allah bagi Israel.

e.   Neh 9:17b (KJV): ‘but thou art a God ready to pardon, gracious and merciful’ (= tetapi Engkau adalah seorang / suatu Allah yang siap untuk mengampuni, penuh kasih karunia dan belas kasihan).
NWT: But you are a God of acts of forgiveness, gracious and merciful (= Tetapi Engkau adalah seorang / suatu Allah dari tindakan pengampunan, penuh kasih karunia dan belas kasihan).
TDB: “engkau adalah Allah yang mengampuni”.

f.    Maz 5:5a (Psalm 5:4a - KJV): ‘For thou art not a God that hath pleasure in wickedness’ (= Karena Engkau bukanlah seorang / suatu Allah yang senang dengan kejahatan).
NWT: “For you are not a God taking delight in wickedness” (= Karena Engkau bukanlah seorang / suatu Allah yang senang dengan kejahatan).
TDB: “Karena engkau bukanlah Allah yang senang akan kefasikan”.

g.   Maz 58:12b (Psalm 58:11b - KJV): ‘verily he is a God that judgeth in the earth’ (= sesungguhnya Ia adalah seorang / suatu Allah yang menghakimi di bumi).
NWT: “Surely there exists a God that is judging in the earth” (= Pastilah ada seorang / suatu Allah yang sedang menghakimi di bumi).
TDB: “Sesungguhnya ada Allah yang bertindak sebagai hakim di bumi”.

h.   Maz 68:21a (Psalm 68:20a - NIV): ‘Our God is a God who saves’ (= Allah kita adalah seorang / suatu Allah yang menyelamatkan).
NWT: “The (true) God is for us a God of saving acts” [= Allah yang (benar) bagi kita adalah seorang / suatu Allah dari tindakan-tindakan penyelamatan].
TDB: “Bagi kita, Allah yang benar adalah Allah yang menyelamatkan”.

i.    Maz 86:15a (KJV): ‘But thou, O Lord, art a God full of compassion’ (= Tetapi Engkau, Ya Tuhan, adalah seorang / suatu Allah dari perasaan simpati / kasihan).
NWT: “But you, O Jehovah, are a God merciful dan gracious” (= Tetapi Engkau, Ya Yehovah, adalah seorang / suatu Allah yang penuh belas kasihan dan kasih karunia).
TDB: “Tetapi engkau, oh, Yehuwa, adalah Allah yang berbelas kasihan dan murah hati”.

j.    Maz 99:8 (KJV): ‘Thou answeredst them, O LORD our God: thou wast a God that forgavest them, ...’ (= Engkau menjawab mereka, Ya TUHAN Allah kami: Engkau adalah seorang / suatu Allah yang mengampuni mereka, ...).
NWT: “O Jehovah our God, you yourself answered them. A God granting pardon you proved to be to them, ...” (= Ya Yehovah Allah kami, Engkau sendiri menjawab mereka. Engkau terbukti sebagai seorang / suatu Allah yang mengampuni bagi mereka, ...).
TDB: “Bagi mereka, engkaulah Allah yang mengaruniakan pengampunan”.

k.   Yes 30:18b (KJV): ‘for the LORD is a God of judgment’ (= karena TUHAN adalah seorang / suatu Allah dari penghakiman).
NWT: “For Jehovah is a God of judgment” (= Karena Yehovah adalah seorang / suatu Allah penghakiman).
TDB: “Karena Yehuwa adalah Allah keadilan”.

l.    Yes 45:15 (KJV): ‘Verily thou art a God that hidest thyself, O God of Israel, the Saviour’ (= Sesungguhnya Engkau adalah seorang / suatu Allah yang menyembunyikan diriMu sendiri, ya Allah Israel, sang Juruselamat).
NWT: “Truly you are a God keeping yourself concealed, the God of Israel, a Savior” (= Sesungguhnya Engkau adalah seorang / suatu Allah yang menjaga diriMu sendiri tersembunyi, sang Allah Israel, seorang Juruselamat).
TDB: “engkaulah Allah yang tetap membuat dirimu tersembunyi”.

m.  Yer 23:23 (KJV): ‘Am I a God at hand, saith the LORD, and not a God afar off?’ (= Apakah Aku adalah seorang / suatu Allah yang dekat, kata TUHAN, dan bukan seorang / suatu Allah yang jauh?).
NWT: “‘Am I a God nearby,’ is the utterance of Jehovah, ‘and not a God far away?’” (= ‘Apakah Aku seorang / suatu Allah yang dekat’, adalah ucapan dari Yehovah, ‘dan bukan seorang / suatu Allah yang jauh?’).
TDB: “‘Apakah Aku hanya Allah yang dekat,’ demikianlah ucapan Yehuwa, ‘dan bukan Allah yang jauh?’”.

n.   Yer 51:56b (NIV): For the LORD is a God of retribution; he will repay in full (= Karena TUHAN adalah seorang / suatu Allah pembalasan; Ia akan membalas / membayar kembali dengan penuh).
NWT: “for Jehovah is a God of recompenses. Without fail he will repay” (= karena Yehovah adalah seorang / suatu Allah pembalasan. Tanpa gagal Ia akan membayar kembali).
TDB: “sebab Yehuwa adalah Allah pembalasan”.

o.   Daniel 2:28a,47b (KJV): ‘(28a) But there is a God in heaven that revealeth secrets, ... (47b) your God is a God of gods’ [= (28a) Tetapi ada seorang / suatu Allah di surga yang menyatakan rahasia-rahasia, ... (47b) Allahmu adalah seorang / suatu Allah dari allah-allah].
NWT: “(28a) However there exists a God in the heavens who is a Revealer of secrets, ... (47b) the God of you men is a God of gods” [= (28a) Tetapi ada seorang / suatu Allah di surga yang adalah seorang yang menyatakan rahasia-rahasia, ... (47b) Allahmu orang-orang adalah seorang / suatu Allah dari allah-allah].
TDB: “(28a) ada Allah Penyingkap rahasia ... (47b) Allahmu adalah Allah segala allah”.

p.   Mikha 7:18 (KJV): ‘Who is a God like unto thee’ (= Siapa yang adalah seorang / suatu Allah seperti Engkau).
NWT: “Who is a God like you, ...” (= Siapa yang adalah seorang / suatu Allah seperti Engkau, ...).
TDB: “Siapakah Allah seperti engkau, ...”.

q.   Mark 12:27 / Luk 20:38.
Luk 20:38 (KJV): ‘For he is not a God of the dead, but of the living: for all live unto him’ (= Karena Ia bukanlah suatu Allah dari orang mati, tetapi dari orang hidup: karena semua hidup bagi Dia).
Luk 20:38 (NWT): He is a God, not of the dead, but of the living, for they are all living to him.’ (= Ia bukanlah suatu Allah dari orang mati, tetapi dari orang hidup, karena mereka semua hidup bagi Dia).
Catatan:
·         Kata Yunani yang dipakai adalah THEOS (tanpa kata sandang tertentu). Mark 12:27 juga demikian, dan di sana NWT juga menterjemahkan ‘a God’ (= suatu Allah).
·         Baik dalam Mark 12:27 maupun Luk 20:38, TDB menyimpang dari NWT, karena TDB tidak menterjemahkan ‘a God’ ini sebagai ‘suatu Allah’, tetapi sebagai ‘Allah’.

Robert M. Bowman Jr.: “Particularly startling are Mark 12:27 and Luke 20:38, parallel passages in which Jesus calls the true God ‘a God.’ ... Jehovah, then, is ‘a God,’ according to the JWs’ own translation!” (= Mengejutkan secara khusus adalah Mark 12:27 dan Luk 20:38, text-text yang paralel dimana Yesus menyebut Allah yang benar sebagai ‘suatu Allah’. ... Maka, Yehovah adalah ‘suatu Allah’ menurut terjemahan dari Saksi-Saksi Yehuwa sendiri!) - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 48.

Tetapi ternyata dalam ayat paralelnya dalam Injil Matius, yaitu Mat 22:32, dalam bahasa Yunaninya digunakan definite article / kata sandang tertentu di depan kata THEOS (HO THEOS), sehingga di sini baik KJV maupun NWT menterjemahkan ‘the God’ (= sang Allah).
Catatan: ada textual problem dalam ayat ini, karena ada manuscripts yang mengatakan HO THEOS, dan ada yang hanya THEOS.

Kalau NWT menterjemahkan Mark 12:27 dan Luk 20:38 sebagai ‘a God’ (= suatu Allah), tetapi menterjemahkan ayat paralelnya, yaitu Mat 22:32 dengan ‘the God’ (= sang Allah), bukankah mereka mengindentikkan ‘a God’ (= suatu Allah) dengan ‘the God’ (= sang Allah)? Lalu mengapa mereka menterjemahkan Yoh 1:1c sebagai ‘a god’ (= suatu allah) dan menafsirkannya sebagai allah kecil, yang lebih rendah dari Yehuwa?

r.    1Kor 14:33a (NIV): For God is not a God of disorder but of peace’ (= Karena Allah bukanlah seorang / suatu Allah dari kekacauan tetapi dari damai).
NWT: “For God is (a God) not of disorder, but of peace” [= Karena Allah adalah (seorang / suatu Allah) bukan dari ketidak-teraturan, tetapi dari damai].
TDB: “Karena Allah bukanlah Allah kekacauan, tetapi Allah kedamaian”.
Lagi-lagi TDB menterjemahkan berbeda dengan NWT.
Catatan: memang dalam 1Kor 14:33 ini NWT meletakkan kata ‘a God’ (= suatu / seorang Allah) itu dalam tanda kurung, karena sebetulnya kata-kata itu memang tidak ada dalam bahasa aslinya. Tetapi tetap terlihat dari ayat ini bahwa mereka tidak keberatan untuk menyebut Bapa / YAHWEH dengan sebutan ‘a God’ (= suatu / seorang Allah), tetapi tetap menganggapnya sebagai Allah yang sebenarnya, bukan sebagai ‘allah kecil’, ‘bersifat ilahi’, dan sebagainya.

Catatan:
·         Karena ayat-ayat Perjanjian Lama menggunakan bahasa Ibrani dan karena itu tidak menggunakan kata THEOS, dan karena dalam 1Kor 14:33 sebetulnya kata ‘a God’ (= seorang / suatu Allah) itu tidak ada, maka dalam bagian ini serangan terkuat kita adalah dengan menggunakan Mark 12:27 / Luk 20:38, dan dengan membandingkan dengan paralelnya, yaitu Mat 22:32.
·         Bagian ini bisa kita gunakan untuk menyerang terjemahan TDB yang berbeda dengan NWT. Mengapa dalam penterjemahan Yoh 1:1c, pada waktu NWT menterjemahkan ‘a god’, TDB menterjemahkan ‘suatu allah’, sedangkan dalam semua ayat di atas ini tidak demikian?



c)   Ro 9:5 - “Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaanNya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!”.

TDB: “yang memiliki bapak-bapak leluhur dan yang menurunkan Kristus sebagai manusia: Allah, yang ada di atas segalanya, diagungkanlah untuk selama-lamanya. Amin.”.

Kelihatannya TDB mau memisahkan kalimat yang saya garis bawahi dalam Ro 9:5 itu, dengan kalimat sebelumnya, dan menganggap bahwa kalimat pertama berbicara tentang Kristus, sedangkan kalimat kedua (yang saya garis bawahi) mereka anggap sebagai suatu doxology (= kata-kata pujian) dari Paulus kepada Allah (Bapa). Jadi, dengan terpisahnya kedua kalimat ini, maka Ro 9:5 ini tidak menunjukkan Kristus sebagai Allah.

Jawaban saya:
1.         Persoalan terjemahan.
RSV juga menterjemahkan seperti TDB.
RSV: to them belong the patriarchs, and of their race, according to the flesh, is the Christ. God who is over all be blessed for ever. Amen. (= mereka memiliki bapa-bapa leluhur, dan Kristus adalah dari bangsa mereka, menurut daging. Allah yang ada di atas segala sesuatu terpujilah selama-lamanya. Amin.).

Tetapi KJV/NIV/NASB menterjemahkan seluruhnya dalam 1 kalimat (tak termasuk kata ‘Amin’nya).
KJV: Whose are the fathers, and of whom as concerning the flesh Christ came, who is over all, God blessed for ever. (= Yang memiliki bapa-bapa leluhur, dan dari siapa berkenaan dengan daging Kristus datang, yang ada di atas segala sesuatu, Allah yang terpuji untuk selama-lamanya.).
NIV: Theirs are the patriarchs, and from them is traced the human ancestry of Christ, who is God over all, forever praised! (= Milik merekalah bapa-bapa leluhur, dan dari mereka ditelusuri jejak dari keturunan manusia dari Kristus, yang adalah Allah di atas segala sesuatu, dipuji selama-lamanya!).
NASB: whose are the fathers, and from whom is the Christ according to the flesh, who is over all, God blessed forever. (= yang memiliki bapa-bapa leluhur, dan dari siapa Kristus menurut daging, yang ada di atas segala sesuatu, Allah yang terpuji selama-lamanya).
Semua terjemahan ini menunjukkan Kristus sebagai Allah.

Perhatikan beberapa komentar tentang terjemahan dari Ro 9:5 ini.

Bible Knowledge Commentary: Some take these words as a separate sentence (see NIV marg.), but the NIV text seems preferable. [= Sebagian / beberapa orang mengambil kata-kata ini sebagai suatu kalimat yang terpisah (lihat catatan tepi dari NIV), tetapi text dari NIV kelihatannya lebih baik.].

Adam Clarke: “I pass by the groundless and endless conjectures about reversing some of the particles and placing points in different positions, since they have been all invented to get rid of the doctrine of Christ’s divinity, which is so obviously acknowledged by the simple text; it is enough to state that there is no omission of these important words in any manuscript or version yet discovered.” (= Saya abaikan dugaan-dugaan yang tak berdasar dan tak ada habisnya tentang pembalikan / perubahan beberapa dari partikel dan penempatan titik-titik dalam posisi-posisi yang berbeda, karena semua itu diciptakan untuk menyingkirkan doktrin tentang keilahian Kristus, yang dengan begitu jelas diakui oleh text yang sederhana itu; adalah cukup untuk menyatakan bahwa di sana tidak ada penghapusan dari kata-kata penting ini dalam manuscript atau versi manapun yang telah ditemukan.).

Barnes’ Notes: ‘God blessed forever.’ This is evidently applied to the Lord Jesus; and it proves that he is divine. If the translation is fairly made, and it has never been proved to be erroneous, it demonstrates that he is God as well as man. The doxology ‘blessed forever’ was usually added by the Jewish writers after the mention of the name God, as an expression of reverence. (= ‘Allah yang terpuji selama-lamanya’. Ini dengan jelas diterapkan kepada Tuhan Yesus; dan ini membuktikan bahwa Ia adalah Ilahi / Allah. Jika terjemahan dibuat dengan adil / jujur, dan terjemahan itu belum pernah dibuktikan sebagai salah, maka terjemahan itu mendemonstrasikan bahwa Ia adalah Allah maupun manusia. Kata-kata pujian / doxology ‘dipuji selama-lamanya’ biasanya ditambahkan oleh penulis-penulis Yahudi setelah penyebutan nama / sebutan Allah, sebagai suatu ungkapan penghormatan.).

A. T. Robertson: “‘Who is over all, God blessed for ever.’ ‎... A clear statement of the deity of Christ following the remark about his humanity. This is the natural and the obvious way of punctuating the sentence. To make a full stop after ‎sarka ‎(or colon) and start a new sentence for the doxology is very abrupt and awkward.” [= ‘Yang ada di atas segala sesuatu, Allah yang terpuji selama-lamanya’. ... Suatu pernyataan yang jelas tentang keilahian dari Kristus setelah kata-kata tentang kemanusiaanNya. Ini adalah cara yang wajar / alamiah dan jelas tentang pemberian tanda-tanda baca dari kalimat ini. Memberi suatu titik (atau titik dua) setelah SARKA / flesh / daging dan memulai suatu kalimat baru untuk doxology / kata-kata pujian adalah sangat mendadak / tak terduga dan janggal / canggung.].

Calvin: “They who break off this clause from the previous context, that they may take away from Christ so clear a testimony to his divinity, most presumptuously attempt, to introduce darkness in the midst of the clearest light; for the words most evidently mean this, - ‘Christ, who is from the Jews according to the flesh, is God blessed for ever.’ (= Mereka yang memutus anak kalimat ini dari kontext sebelumnya, sehingga mereka bisa membuang dari Kristus suatu kesaksian yang begitu jelas tentang keilahianNya, usaha yang paling kurang ajar / tak berdasar, untuk memperkenalkan kegelapan di tengah-tengah terang yang paling jelas; karena kata-kata itu dengan sangat jelas berarti ini, - ‘Kristus, yang adalah dari bangsa Yahudi menurut daging, adalah Allah yang terpuji selama-lamanya’.).

2.   Dalam Ro 9:5a Paulus baru membicarakan hakekat manusia Kristus. Jadi, sangat cocok kalau dalam Ro 9:5b ini ia memberikan penggambaran tentang hakekat ilahi Kristus, dan bukannya memberikan suatu doxology bagi Bapa (seperti dalam TDB dan RSV).

Charles Hodge: “On any other interpretation there is nothing to answer to the to kata sarka / TO KATA SARKA. ... Why not simply say, ‘of whom Christ came?’ This would have expressed everything, had not the apostle designed to bring into view the divine nature” [= Pada penafsiran lain yang manapun, tidak ada apapun yang sesuai dengan kata-kata to kata sarka (TO KATA SARKA = menurut daging / sebagai manusia). ... Mengapa ia tidak sekedar berkata: ‘dari siapa Kristus datang’? Ini akan menyatakan segala sesuatu, seandainya sang rasul tidak merencanakan untuk menyatakan hakekat ilahi (dari Kristus)] - ‘Romans’, hal 300.

Kalau saya sederhanakan kata-kata dari Charles Hodge ini maka ia berkata sebagai berikut: Kalau Paulus sekedar membicarakan bahwa Mesias itu diturunkan dari bangsa Yahudi, dan ia tidak berkeinginan untuk membicarakan keilahian Mesias itu, untuk apa ia menambahkan kata-kata ‘sebagai manusia’ (terjemahan hurufiah: ‘menurut daging’)? Adanya kata-kata ‘sebagai manusia’ / ‘menurut daging’ ini menuntut kontrasnya, yaitu penggambaran tentang Mesias itu menurut hakekatNya yang lebih tinggi, yaitu sebagai Allah.

Ini serupa dengan yang ada dalam Ro 1:3-4.
Ro 1:3-4 - (3) tentang AnakNya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, (4) dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita..

Calvin juga memberikan argumentasi yang serupa tetapi ia menambahkan sesuatu lagi.

Calvin: “But we have here a remarkable passage, - that in Christ two natures are in such a manner distinguished, that they are at the same time united in the very person of Christ: for by saying that Christ had descended from the Jews, he declared his real humanity. The words ‘according to the flesh,’ which are added, imply that he had something superior to flesh; and here seems to be an evident distinction made between humanity and divinity. But he at last connects both together, where he says, that the Christ, who had descended from the Jew’s according to the flesh, is God blessed for ever. We must further observe, that this ascription of praise belongs to none but only to the true and eternal God; for he declares in another place, (1Timothy 1:17,) that it is the true God alone to whom honor and glory are due. [= Tetapi di sini kita mempunyai suatu text yang luar biasa / hebat, - bahwa dalam Kristus dua hakekat dengan suatu cara tertentu dibedakan, sehingga / bahwa mereka pada saat yang sama bersatu dalam pribadi dari Kristus: karena dengan mengatakan bahwa Kristus telah diturunkan dari bangsa Yahudi, ia menyatakan kemanusiaanNya yang sungguh-sungguh. Kata-kata ‘menurut daging’, yang ditambahkan, secara implicit menunjukkan bahwa Ia mempunyai sesuatu yang lebih tinggi dari daging; dan di sini kelihatan dibuat suatu pembedaan yang jelas antara kemanusiaan dan keilahian. Tetapi ia akhirnya menghubungkan keduanya bersama-sama, dimana ia berkata, bahwa Kristus, yang telah diturunkan dari bangsa Yahudi menurut daging, adalah Allah yang terpuji selama-lamanya. Selanjutnya kita harus memperhatikan, bahwa pernyataan pujian ini tidak menjadi milik siapapun kecuali hanya bagi Allah yang benar dan kekal; karena ia menyatakan di tempat lain, (1Tim 1:17), bahwa adalah Allah yang benar saja bagi siapa hormat dan kemuliaan merupakan hak.].
1Tim 1:17 - “Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.”.

Bdk. Wah 5:12-13 - “(12) katanya dengan suara nyaring: ‘Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!’ (13) Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata: ‘Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!’”.
Catatan: kata ‘puji-pujian’ dalam Wah 5:12 maupun Wah 5:13 diterjemahkan ‘blessing’ oleh KJV/RSV/NASB, dan sebetulnya sama dengan yang digunakan dalam Ro 9:5, hanya saja di sini digunakan kata bendanya, sedangkan dalam Ro 9:5 digunakan kata kerjanya.

d)   Fil 2:5b-7 - “(5b) ... Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Sekarang perhatikan bagaimana terjemahan dari Kitab Suci Saksi Yehuwa.
TDB: “(5) Peliharalah sikap mental ini dalam dirimu, yang juga ada dalam Kristus Yesus, (6) yang, walaupun ada dalam wujud Allah, tidak pernah mempertimbangkan untuk merebut kedudukan, yakni agar ia setara dengan Allah.

Jadi, dalam penafsiran / penterjemahan dari Kitab Suci Saksi Yehuwa ini, ayat ini menunjukkan bahwa Yesus tidak mempunyai kesetaraan dengan Allah, dan Ia tidak memikirkan untuk menjadi setara dengan Allah / merebut kesetaraan itu.
Catatan: saya tak tahu bagaimana mereka menafsirkan kata-kata ‘dalam wujud Allah’ dalam ay 6nya.

Jawaban saya:

1.         Text ini juga jelas menunjukkan keilahian Kristus, karena:
a.   Istilah ‘dalam rupa Allah’ dan ‘kesetaraan dengan Allah’ dalam ay 6a sudah jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah.
b.   Dan kalau kata-kata dalam ay 7 yang mengatakan ‘mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia’ diartikan bahwa Yesus betul-betul menjadi manusia, maka konsek­wensinya, kata-kata dalam ay 6a yang mengatakan bahwa Yesus ada ‘dalam rupa Allah’ dan ‘setara dengan Allah’ haruslah diartikan bahwa Yesus betul-betul adalah Allah.

2.   Penterjemahan Saksi Yehuwa (TDB) itu bertentangan dengan ay 6a.
Kita tidak boleh menafsirkan seakan-akan ayat itu artinya adalah: ‘Yesus itu lebih rendah dari Allah, dan Ia tidak mempertimbangkan untuk merampas kesetaraan dengan Allah itu’, seperti penterjemahan / penafsiran dari Saksi-Saksi Yehuwa. Mengapa? Karena kalau kita memilih penafsiran Saksi-Saksi Yehuwa itu, maka Fil 2:6b ini akan bertentangan dengan Fil 2:6a, yang menunjukkan keilahian Kristus (yang sudah dijelaskan di atas).

3.         Penterjemahan Saksi Yehuwa (TDB) itu tidak cocok dengan kontext (Fil 2:1-4).
Dalam Fil 2:1-4 Paulus sedang menasehati supaya jemaat Filipi mempunyai kerendahan hati dan kasih / ketidak-egoisan.
Fil 2:1-4 - “(1) Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, (2) karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, (3) dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; (4) dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga”.
Lalu dalam Fil 2:5-dst, Paulus menunjuk kepada Yesus sebagai teladan dalam hal kerendahan hati dan kasih / ketidak-egoisan.
Fil 2:5-7 - “(5) Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”.

Sedangkan dalam terjemahan dari TDB itu, kalau dikatakan bahwa Yesus itu lebih rendah dari Allah dan tidak ingin merebut kesetaraan dengan Allah, maka itu bukan merupakan suatu contoh kerendahan hati ataupun kasih / ketidak-egoisan, tetapi hanya merupakan absennya suatu kegilaan!

Illustrasi: kalau saudara adalah warga negara Indonesia, dan saudara tidak berusaha untuk melakukan kudeta, menggulingkan presiden, dan menjadi presiden menggantikan presiden yang sah, maka apakah itu menunjukkan bahwa saudara adalah warga negara yang baik dan rendah hati? Tentu saja tidak! Itu hanya menunjukkan bahwa saudara tidak gila!
Demikian juga kalau Yesus lebih rendah dari Allah, dan Ia hanya tidak berusaha untuk menjadi setara dengan Bapa, itu sama sekali tidak menunjukkan suatu kerendahan hati ataupun kasih. Itu hanya menunjukkan bahwa Ia tidak gila. Dengan demikian Fil 2:5-6 ini menjadi tidak cocok dengan kontextnya (Fil 2:1-4).

Tetapi dalam terjemahan kita sendiri, maka Yesus yang setara dengan Allah itu, rela direndahkan dengan menjadi manusia, supaya bisa mati menebus dosa kita. Ini dengan jelas memang menunjukkan suatu kerendahan hati dan kasih / ketidak-egoisan.

Jadi, terjemahan kita lebih cocok dengan kontextnya, sedangkan TDB sama sekali tidak cocok dengan kontextnya!

e)   Tit 2:13 - “dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus.
Bagian terakhir dari ayat ini (yang saya garis bawahi) memungkinkan 2 cara pembacaan:
1.         (Allah yang Mahabesar) dan (Juruselamat kita Yesus Kristus).
Kalau dipilih pembacaan yang ini, maka ayat ini membicarakan 2 pribadi, yang pertama adalah ‘Allah yang Mahabesar’, dan yang kedua adalah ‘Juruselamat kita Yesus Kristus’. Dengan demikian ayat ini tidak menunjukkan Yesus sebagai Allah.
2.         (Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita), Yesus Kristus.
Kalau dipilih pembacaan yang ini, maka ayat ini hanya membicarakan satu pribadi, yaitu Yesus Kristus, yang digambarkan sebagai ‘Allah yang Mahabesar’ maupun sebagai ‘Juruselamat kita’.

Saksi Yehuwa jelas memilih pembacaan pertama.
TDB: “seraya kita menantikan harapan yang bahagia dan manifestasi yang mulia dari Allah yang besar dan dari Juru Selamat kita, Kristus Yesus”.

NIV memilih pembacaan kedua karena NIV menterjemahkannya sebagai berikut: ‘while we wait for the blessed hope - the glorious appearing of our great God and Savior, Jesus Christ’ (= sementara kita menantikan pengharapan yang mulia - penampilan yang mulia dari Allah kita yang besar dan Juruselamat kita, Yesus Kristus).

Saya sendiri memilih pembacaan kedua, karena:

a.   Kata ‘appearing’ (= penampilan / pemunculan), yang dalam Kitab Suci Indonesia diterjemahkan ‘penyataan’, diterjemahkan dari kata bahasa Yunani EPIPHANEIA, yang selalu menunjuk pada kedatangan Yesus, dan tidak pernah menunjuk kepada Bapa.
Perhatikan ayat-ayat di bawah ini, yang adalah semua ayat dalam Perjanjian Baru, selain Tit 2:13, yang menggunakan kata Yunani EPIPHANEIA itu.
·         2Tes 2:8 - “pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulutNya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali. Ini salah terjemahan.
NASB: by the appearance of His coming (= oleh pemunculan / penampilan kedatanganNya).
Di sini digunakan kata EPIPHANEIA.
·         1Tim 6:14 - “Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diriNya.
NIV/NASB: ‘the appearing’ (= pemunculan / penampilan).
Di sini digunakan EPIPHANEIA.
·         2Tim 1:10 - “dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa”.
NIV/NASB: ‘the appearing’ (= pemunculan / penampilan).
·         2Tim 4:1,8 - “(1) Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataanNya dan demi KerajaanNya: ... (8) Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hariNya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatanganNya”.
NIV/NASB menterjemahkan ‘appearing’ (= pemunculan / penampilan), baik untuk ay 1 maupun untuk ay 8.

Karena itu jelas bahwa ayat ini tidak berbicara tentang 2 pribadi (yang pertama adalah ‘Allah yang mahabesar’, dan yang kedua adalah ‘Juruselamat kita Yesus Kristus’), karena kalau demikian maka kata Yunani EPIPHANEIA harus diterapkan kepada Bapa. Ayat ini hanya berbicara tentang 1 pribadi, yaitu Yesus Kristus, yang disebutkan sebagai Allah yang mahabesar dan Juruselamat kita’, atau dalam NIV disebutkan sebagai our great God and Savior’ (= Allah yang besar dan Juruselamat kita). Sebutan ‘our great God’ / ‘Allah yang mahabesar’ untuk Yesus ini secara jelas menunjukkan keilahianNya.

2.   Pembacaan kedua ini sesuai dengan hukum bahasa Yunani yang diberikan oleh Dana & Mantey, dan juga ahli-ahli bahasa Yunani yang lain.
Dana & Mantey mengatakan bahwa bila kata Yunani KAI (= dan) menghubungkan 2 kata benda dengan case / kasus yang sama, dan jika ada kata sandang yang mendahului kata benda yang pertama, dan kata sandang itu tidak diulangi sebelum kata benda yang kedua, maka kata benda yang terakhir selalu berhubungan dengan pribadi / orang yang dinyatakan / digambarkan oleh kata benda yang pertama. Dengan kata lain, kata benda yang kedua merupakan pengambaran lebih jauh tentang pribadi / orang itu (‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 147). Dengan kata lain, kedua kata benda itu berkenaan dengan satu pribadi!

Jadi, rumus ini berlaku kalau 3 syarat ini dipenuhi:
a.   Ada 2 kata benda dengan case / kasus yang sama.
b.   Kedua kata benda itu dihubungkan dengan kata penghubung KAI (= dan).
c.   Kata benda pertama mempunyai kata sandang tertentu, sedangkan kata benda kedua tidak.

Catatan: ‘case’ / ‘kasus’ merupakan suatu istilah dalam gramatika bahasa Yunani.

Gresham Machen: “The noun in Greek has gender, number, and case. ... There are five cases; nominative, genitive, dative, accusative, and vocative. ... The subject of a sentence is put in the nominative case. ... The object of a transitive verb is placed in the accusative case. ... The genitive case expresses possession. ... The dative case is the case of the indirect object. ... The vocative case is the case of direct address” [= Kata benda dalam bahasa Yunani mempunyai jenis kelamin (laki-laki, perempuan dan netral), bilangan / jumlah (tunggal dan jamak), dan case / kasus. ... Ada lima cases / kasus; nominatif, genitif, datif, akusatif, dan vokatif. ... Subyek dari suatu kalimat diletakkan dalam kasus nominatif. ... Obyek dari suatu kata kerja transitif ditempatkan dalam kasus akusatif. ... Kasus genitif menyatakan kepemilikan. ... Kasus datif adalah kasus dari obyek tidak langsung. ... Kasus vokatif adalah kasus dari sapaan langsung] - ‘New Testament Greek For Beginners’, hal 23,24,25.

Sekarang mari kita melihat hubungan rumus bahasa Yunani ini dengan Tit 2:13.

Tit 2:13 - Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus.
                                            k.b. 1                                                     k.b. 2                       pribadi yg digbrkan

                                      kata penghubung KAI

Di sini ada dua kata benda dengan case yang sama (Genitive Case), yaitu ‘Allah yang Mahabesar’ dan ‘Juruselamat’.
Kedua kata benda itu dihubungkan oleh kata penghubung KAI (= dan).
Kata benda yang pertama, yaitu ‘Allah yang Mahabesar’ mempunyai definite article / kata sandang tertentu (TOU MEGALOU THEOU / the great God), tetapi kata benda yang kedua, yaitu ‘Juruselamat’ tidak mempunyainya (SOTEROS).

Kata benda pertama, yaitu ‘Allah yang Mahabesar’ merupakan penggambaran dari kata ‘Yesus Kristus’. Maka kata benda kedua, yaitu ‘Juruselamat’ merupakan penggambaran lanjutan terhadap pribadi yang sama, yaitu ‘Yesus Kristus’. Jadi, Tit 2:13 ini menggambarkan Yesus Kristus dengan istilah ‘Allah yang Mahabesar’ maupun ‘Juruselamat’.

f)    2Pet 1:1 - “Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.
2Pet 1:1 (NASB): ‘... by the righteousness of our God and Savior, Jesus Christ’ (= ... oleh kebenaran Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus).
Jadi di sini Yesus disebut dengan istilah ‘Allah dan Juruselamat kita’.
Di sini kita kembali bertemu dengan hukum bahasa Yunani yang telah kita bahas pada pembahasan Tit 2:13 di depan.

2Pet 1:1b - Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.
                                 k.b.1             k.b.2            pribadi yg digbrkan
                               
                  kata penghubung KAI

Di sini ada dua kata benda dengan case yang sama (Genitive Case), yaitu ‘Allah’ dan ‘Juruselamat’.
Kedua kata benda itu dihubungkan oleh kata penghubung KAI (= dan).
Kata benda yang pertama (k.b.1), yaitu ‘Allah’ mempunyai kata sandang (TOU THEOU / the God), tetapi kata benda yang kedua (k.b.2), yaitu ‘Juruselamat’, tidak mempunyainya (SOTEROS).

Kata benda pertama, yaitu ‘Allah’ merupakan penggambaran dari kata ‘Yesus Kristus’. Maka kata benda kedua, yaitu ‘Juruselamat’ merupakan penggambaran lanjutan terhadap pribadi yang sama, yaitu ‘Yesus Kristus’. Jadi, 2Pet 1:1b ini menggambarkan Yesus Kristus dengan istilah ‘Allah’ maupun ‘Juruselamat’.

Sekarang mari kita bandingkan dengan terjemahan dari TDB.
TDB: “Dari Simon Petrus, budak dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang memperoleh iman sebagai hak istimewa yang sama seperti yang kamu miliki, oleh karena keadilbenaran Allah kita dan Yesus Kristus, Juru Selamat itu.
Ini terjemahan yang kurang ajar, karena dalam bahasa Yunaninya kata ‘Juruselamat’ ada di depan kata ‘Yesus Kristus’. Dalam TDB dibalik, untuk memisahkan kata ‘Allah’ dan ‘Juruselamat’.



g)   Ibr 1:8 - “Tetapi tentang Anak Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran”.

1.         Terjemahan.
Kata-kata tentang Anak’ bisa diterjemahkan kepada Anak’.
KJV: ‘But unto the Son he saith’ (= Tetapi kepada Anak Ia berkata).
RSV/NIV/NASB menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia.
Calvin (hal 44) menterjemahkan seperti KJV dan demikian juga dengan John Owen (‘Hebrews: The Epistle of Warning’, hal 10).
Dan Bible Works 7 menunjukkan bahwa kedua terjemahan, seperti Kitab Suci Indonesia/RSV/NIV/NASB, maupun seperti KJV/NKJV, memungkinkan.
Saya lebih condong dengan terjemahan dari KJV karena kalau dilihat kata-katanya selanjutnya maka memang ayat ini menunjukkan bahwa Bapa berbicara kepada Anak, bukan tentang Anak.
Jadi, ayat ini menunjukkan bahwa Allah berbicara kepada Anak / Yesus, dan menyebutNya sebagai ‘Allah’!

a.   Unitarianisme.
Ibr 1:8-9 merupakan kutipan dari Maz 45:7-8, yang berbunyi sebagai berikut: “(7) Takhtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanmu adalah tongkat kebenaran. (8) Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allahmu, telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu”.
Unitarianisme mengatakan bahwa yang benar adalah Maz 45:7, dan ini tidak menunjukkan Yesus sebagai Allah.

Jawaban saya:

Kata ‘kepunyaan’ dalam Maz 45:7 itu salah terjemahan; karena seharusnya kata itu tidak ada. RSV menterjemahkan ‘Your divine throne’ (= Takhta ilahiMu’), dan ini juga salah terjemahan. Terjemahan yang seharusnya adalah: ‘TakhtaMu, ya Allah’, seperti dalam terjemahan KJV/NIV/NASB.
Catatan: tentang Maz 45:7 sudah saya bahas panjang lebar di depan.

b.   Saksi Yehuwa.
TDB: “Allah adalah takhtamu”.
Ditinjau dari sudut bahasa, terjemahan yang dipilih oleh Saksi-Saksi Yehuwa, yaitu ‘Allah adalah takhtaMu’ atau ‘takhtaMu adalah Allah’, merupakan sesuatu yang memungkinkan. Tetapi ditinjau dari sudut artinya, terjemahan itu sangat tidak masuk akal. Mengapa? Karena ‘takhta’ adalah tempat duduk dari seorang raja. Jadi terjemahan TDB itu seharusnya mereka artikan bahwa ‘Kristus duduk di atas Allah, yang jelas merupakan sesuatu yang tidak masuk akal.

2.         Kontext.
Kontext mendukung penafsiran bahwa Ibr 1:8 ini menunjukkan Yesus sebagai Allah.
Ibr 1:1-14 - “(1) Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, (2) maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan AnakNya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. (3) Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, (4) jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepadaNya jauh lebih indah dari pada nama mereka. (5) Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: ‘AnakKu Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?’ dan ‘Aku akan menjadi BapaNya, dan Ia akan menjadi AnakKu?’ (6) Dan ketika Ia membawa pula AnakNya yang sulung ke dunia, Ia berkata: ‘Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.’ (7) Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: ‘Yang membuat malaikat-malaikatNya menjadi badai dan pelayan-pelayanNya menjadi nyala api.’ (8) Tetapi tentang Anak Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran. (9) Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, AllahMu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutuMu.’ (10) Dan: ‘Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tanganMu. (11) Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; (12) seperti jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahunMu tidak berkesudahan.’ (13) Dan kepada siapakah di antara malaikat itu pernah Ia berkata: ‘Duduklah di sebelah kananKu, sampai Kubuat musuh-musuhMu menjadi tumpuan kakiMu?’ (14) Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?”.

Perhatikan beberapa point ini:
a.   Ay 3-5 menunjukkan bahwa Yesus / Anak jauh lebih tinggi dari malaikat-malaikat.
Ay 3-5: “(3) Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, (4) jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepadaNya jauh lebih indah dari pada nama mereka. (5) Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: ‘AnakKu Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?’ dan ‘Aku akan menjadi BapaNya, dan Ia akan menjadi AnakKu?’”.
Hanya Allah yang bisa mempunyai kedudukan seperti itu.
b.   Ay 6 menunjukkan bahwa Allah memerintahkan semua malaikat untuk menyembah Yesus.
Ay 6: “Dan ketika Ia membawa pula AnakNya yang sulung ke dunia, Ia berkata: ‘Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.’”.
Ayat yang dianggap sama dengan Ibr 1:6 adalah Maz 97:7 yang berbunyi: “Semua orang yang beribadah kepada patung akan mendapat malu, orang yang memegahkan diri karena berhala-berhala; segala allah sujud menyembah kepadaNya.”.
Calvin dan banyak penafsir lain menganggap bahwa kata ‘allah’ dalam Maz 97:7 menunjuk kepada ‘malaikat-malaikat’, sehingga Maz 97:7 ini sejalan / sama dengan Ibr 1:6.
Hanya Allah yang boleh disembah (Mat 4:10); jadi Yesus pasti adalah Allah!
Mat 4:10 - “Maka berkatalah Yesus kepadanya: ‘Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!’”.
Kata Yunani yang diterjemahkan ‘menyembah’ dalam Ibr 1:6 adalah PROSKUNESATOSAN, yang berasal dari kata dasar PROSKUNEO. Dan tentang kata ini John Owen berkata: “In the New Testament it is nowhere used but for that religious worship which is due to God alone. And when it is remembered of any that they did proskunei~n or perform the duty and homage denoted by this word unto any but God, it is remembered as their idolatry, Revelation 13:12,15.” (= Dalam Perjanjian Baru kata itu tidak digunakan dimanapun kecuali untuk penyembahan agamawi itu yang merupakan hak Allah saja. Dan pada waktu diingat tentang siapapun yang melakukan proskunei~n / PROSKUNEIN atau melakukan kewajiban dan penghormatan / penyembahan yang ditunjukkan oleh kata ini kepada siapapun kecuali Allah, itu diingat sebagai pemberhalaan mereka, Wahyu 13:12,15) - ‘Hebrews’, vol 1, hal 174 (AGES).
Wah 13:12,15 - “(12) Dan seluruh kuasa binatang yang pertama itu dijalankannya di depan matanya. Ia menyebabkan seluruh bumi dan semua penghuninya menyembah (PROSKUNESOUSIN) binatang pertama, yang luka parahnya telah sembuh. ... (15) Dan kepadanya diberikan kuasa untuk memberikan nyawa kepada patung binatang itu, sehingga patung binatang itu berbicara juga, dan bertindak begitu rupa, sehingga semua orang, yang tidak menyembah (PROSKUNESOSIN) patung binatang itu, dibunuh.”.
c.   Dalam ay 7 malaikat-malaikat jelas disebut sebagai ‘pelayan-pelayan’, tetapi dalam ay 8 Yesus / Anak disebut ‘Allah’, dan mempunyai takhta yang kekal dan tongkat kebenaran.
Ay 7-8: “(7) Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: ‘Yang membuat malaikat-malaikatNya menjadi badai dan pelayan-pelayanNya menjadi nyala api.’ (8) Tetapi tentang Anak Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran.”.
Calvin (tentang Ibr 1:8): “Whosoever will read the verse, who is of a sound mind and free from the spirit of contention, cannot doubt but that the Messiah is called God.” (= Siapapun yang membaca ayat ini, yang mempunyai pikiran sehat dan bebas dari roh / kecenderungan pertikaian, tidak bisa meragukan bahwa sang Mesias disebut ‘Allah’).
Calvin (tentang Ibr 1:8): “whose throne can be said to be established forever, except that of God only? Hence the perpetuity of his kingdom is an evidence of his divinity.” (= takhta siapa bisa dikatakan sebagai ditegakkan selama-lamanya, kecuali takhta dari Allah saja? Karena itu, kekekalan dari kerajaanNya merupakan suatu bukti dari keilahianNya.).
d.   Bahwa pada ay 9 dikatakan bahwa Allah mengurapi Yesus, bukan masalah, karena ayat itu menunjukkan / menekankan kemanusiaan Yesus.
Ay 9: “Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, AllahMu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutuMu.’”.
e.   Ay 10 menyebut Yesus sebagai ‘Tuhan’, menunjukkan kekekalanNya (‘Pada mulanya’), dan bahwa Ia adalah Pencipta.
Ay 10: “Dan: ‘Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tanganMu.”.
f.    Ay 11-12 mengkontraskan seluruh ciptaan yang berubah dan akan binasa / musnah, dengan Yesus / Anak yang tetap / tak berubah dan kekal. Tidak bisa tidak, ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah.
Ay 11-12: “(11) Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; (12) seperti jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahunMu tidak berkesudahan.’”.
g.   Ay 13-14 lagi-lagi menunjukkan bahwa Yesus jauh lebih tinggi dari malaikat-malaikat.
Ay 13-14: “(13) Dan kepada siapakah di antara malaikat itu pernah Ia berkata: ‘Duduklah di sebelah kananKu, sampai Kubuat musuh-musuhMu menjadi tumpuan kakiMu?’ (14) Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?”.

Kesimpulan: seluruh kontext memang menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah.


1.   Calvin mengatakan bahwa para pengikut Arianisme berusaha untuk menerapkan kalimat terakhir itu kepada Bapa. Tetapi ada 3 alasan yang tidak memungkinkan hal itu:
a.   Calvin dan A. H. Strong mengatakan bahwa sebutan ‘Allah yang benar’, dalam kalimat yang terakhir itu, tidak mungkin menunjuk kepada Bapa, karena sebelumnya Bapa sudah 2 x disebut dengan istilah ‘Yang benar’. Masakan sekarang disebut lagi dengan istilah ‘Allah yang benar’?
b.   Kalimat terakhir itu diawali dengan kata-kata ‘Dia adalah’. Terjemahan ini agak kurang tepat, karena kata-kata Yunani yang digunakan adalah HOUTOS ESTIN, yang artinya adalah ‘This is’ (= Ini adalah). Kata-kata ini jelas menunjuk kepada ‘orang terakhir’ dari kalimat sebelumnya, yaitu ‘Yesus Kristus’.
c.   Adanya sebutan ‘hidup yang kekal’ pada akhir dari kalimat terakhir itu. Dalam tulisan-tulisannya, Yohanes memang sangat sering menghubungkan hidup yang kekal dengan Yesus (bdk. Yoh 3:15,16,36  4:14  6:27,40,47,54,68  10:28  1Yoh 5:11-13).
Jadi, ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah.

2.         Sekarang mari kita bandingkan dengan terjemahan dari TDB.
Kitab Suci Indonesia (LAI): di dalam AnakNya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal..
TDB: “melalui Yesus Kristus, Putranya. Inilah Allah yang benar dan kehidupan abadi”.
TDB membalik kata-kata ‘Yesus Kristus’ dengan ‘Putranya’. Apa tujuannya TDB membalik seperti itu? Jelas supaya kata-kata ‘Inilah Allah yang benar dan kehidupan abadi’ bisa dihubungkan dengan kata ‘nya’ (yang jelas menunjuk kepada Bapa), bukan dengan ‘Yesus Kristus’. Ini lagi-lagi menunjukkan kekurang-ajaran TDB dalam melakukan penterjemahan.
Anehnya, NWT yang merupakan bahasa asli dari TDB, tidak membalik seperti itu.
NWT: his Son Jesus Christ. This is the true God and life everlasting” (= AnakNya Yesus Kristus. Ini adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal).

i)    Yoh 1:18 - “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya”.
Perhatikan istilah ‘Anak Tunggal Allah’ yang saya garis bawahi itu.
Dalam istilah / bagian ini terdapat textual problem (= problem text, dimana ada perbedaan antara manuscript yang satu dengan manuscript yang lain). Ada 4 golongan manuscript:
1.         the only begotten’ (= satu-satunya yang diperanakkan).
2.         the only begotten Son’ (= satu-satunya Anak yang diperanakkan).
3.         the only begotten Son of God’ (= satu-satunya Anak Allah yang diperanakkan).
4.         (the) only begotten God’ (= satu-satunya Allah yang diperanakkan).
Catatan: untuk yang ke 4 ini ada yang mengatakan bahwa ada definite article / kata sandang tertentu (the only begotten God’), tetapi kebanyakan mengatakan bahwa di sini tidak digunakan definite article / kata sandang tertentu (‘only begotten God’).

Kebanyakan penafsir menganggap bahwa manuscript yang keempatlah yang benar, dengan alasan:

1.         Ini didukung oleh manuscript yang paling kuno.
Makin kuno suatu manuscript, makin dekat manuscript itu dengan autograph / naskah aslinya, sehingga makin dipercaya. Makin baru suatu manuscript, makin jauh manuscript itu dari naskah aslinya sehingga makin tidak dipercaya.
Catatan: autograph adalah naskah asli, yang ditulis langsung oleh para penulis Kitab Suci, dan ini saja yang dianggap sebagai infallible dan inerrant (sama sekali tidak ada salahnya). Tetapi autograph ini sudah tidak ada lagi / musnah. Yang ada hanyalah salinan-salinan atau manuscript-manuscript, yang sudah mengandung kesalahan.

2.         Ini merupakan ‘bacaan yang lebih sukar’ (‘more difficult reading’).
Memang kalau ada perbedaan manuscript, biasanya bacaan yang lebih sukar / ‘lebih tidak masuk akal’ yang diterima, berdasarkan suatu anggapan bahwa penyalin manuscript itu lebih mungkin untuk mengubah dari ‘yang tidak masuk akal’ menjadi ‘yang masuk akal’, dari pada mengubah dari ‘yang masuk akal’ menjadi ‘yang tidak masuk akal’. Dengan kata lain, penyalin manuscript itu mungkin sekali mempermudah bacaan, tetapi tidak mungkin mempersukar bacaan.
Dalam peristiwa ini, kalau yang benar adalah yang no 1, maka tidak mungkin ada penyalin yang mengubahnya menjadi no 2 atau no 3, dan lebih-lebih tidak mungkin ada penyalin yang mengubah menjadi yang no 4, yang ‘begitu tidak masuk akal’. Demikian juga kalau yang benar adalah no 2 atau no 3. Sebaliknya, kalau no 4 yang benar, mungkin sekali penyalin menganggap bacaan itu tidak masuk akal, dan ia menganggapnya sebagai pasti salah, sehingga ia mengubahnya menjadi no 1 atau no 2 atau no 3.

Saksi-Saksi Yehuwa juga menterjemahkan berdasarkan manuscript golongan 4 ini.
Yoh 1:18 (NWT): ‘the only begotten god’ (= satu-satunya allah yang diperanakkan).
Yoh 1:18 (TDB):  “satu-satunya allah yang diperanakkan”.
Jadi, sekalipun terjemahan dari NWT / TDB ini berbeda dengan terjemahan kita (LAI), tetapi sebetulnya terjemahan NWT / TDB ini berasal dari manuscript yang paling benar. Tetapi mereka salah dalam satu hal, yaitu bahwa mereka menggunakan kata ‘god’ / ‘allah’ dan bukannya ‘God’ / ‘Allah’.
Bdk. NASB: ‘the only begotten God’ (= satu-satunya Allah yang diperanakkan).

Saksi-Saksi Yehuwa menganggap bahwa Yesus disebut demikian “karena keunikan kedudukannya sehubungan dengan Yehuwa” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 431.
Ini sama sekali tidak masuk akal. Mengapa kalau kedudukanNya unik, lalu harus disebut sebagai ‘satu-satunya Allah yang diperanakkan’? Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan keunikan!

Pada waktu Yesus disebut dengan istilah only begotten God’ (= satu-satunya Allah yang diperanakkan), maka:
a.   Secara implicit ini menunjukkan bahwa ada semacam kejamakan dalam diri Allah (karena ada Allah yang diperanakkan, dan ada yang tidak) sehingga juga bisa digunakan sebagai dasar dari Allah Tritunggal.
b.   Ini menunjukkan bahwa Yesus betul-betul diperanakkan oleh Bapa. Karena itu ayat ini juga menjadi dasar dari doktrin ‘the eternal generation of the Son’, yang mengajarkan bahwa Anak diperanakkan secara kekal oleh Bapa.
c.   Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah. Bapa dan Roh Kudus adalah Allah, tetapi Mereka tidak pernah diperanakkan; Yesus adalah Allah, dan Ia diperanakkan. Jadi, Ia adalah satu-satunya Allah yang diperanakkan.

j)    Yoh 20:28 - “Tomas menjawab Dia: ‘Ya Tuhanku dan Allahku!’”.
Saksi-Saksi Yehuwa mengatakan bahwa Tomas mengatakan demikian hanya sebagai seruan keheranan / karena kaget. Tetapi ini sama sekali tidak mungkin, karena:

1.         Tomas mengucapkan kata-kata itu kepada Yesus.
NASB (Literal / hurufiah): Thomas answered and said to Him, ‘My Lord and my God!’” (= Tomas menjawab dan berkata kepadaNya: ‘Tuhanku dan Allahku!’).
Perhatikan bahwa dalam terjemahan NASB, yang memang menterjemahkan secara hurufiah ini, dikatakan bahwa ‘Tomas menjawab dan berkata kepadaNya. Kalau seseorang mengucapkan kata-kata seperti ‘Ya Allah’, karena kaget, ia sebetulnya tidak menujukan kata-kata itu kepada siapapun. Jadi, ini bukan sekedar ucapan orang, yang karena kaget, lalu berkata: ‘Tuhanku dan Allahku’. Tidak, ia betul-betul mengucapkan kalimat itu kepada Yesus. Jelas bahwa Tomas mengakui Yesus sebagai Tuhan dan sebagai Allah.

2.   A. H. Strong mengatakan bahwa kebiasaan menyebut nama Allah pada saat kaget seperti itu tidak ada dalam kalangan Yahudi, karena adanya larangan untuk menggunakan nama Allah dengan sembarangan / sia-sia (‘Systematic Theology’, hal 306).

Satu hal lain yang perlu diperhatikan berkenaan dengan ayat ini adalah bahwa Yesus bukan saja tidak menegur / memarahi / menyalahkan Tomas atas kata-katanya itu, tetapi Yesus bahkan lalu mengucapkan kata-kata dalam Yoh 20:29 - “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”.
Ini jelas menunjukkan bahwa Yesus menerima, dan membenarkan, penyebutan ‘Tuhan’ dan ‘Allah’ oleh Tomas terhadap diriNya itu.

k)   Kis 20:28 - “Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperolehNya dengan darah AnakNya sendiri”.
RSV: ‘which he obtained with the blood of his own Son’ (= yang didapatNya dengan darah dari AnakNya sendiri). Ini sama salahnya dengan Kitab Suci Indonesia.
KJV: ‘which he hath purchased with his own blood (= yang telah dibeliNya dengan darahNya sendiri).
NIV: which he bought with his own blood (= yang telah Ia beli dengan darahNya sendiri).
NASB: which He purchased with His own blood (= yang telah Ia beli dengan darahNya sendiri).

Kata ‘Anak’ seharusnya tidak ada. Perlu diketahui bahwa dalam ayat ini, semua manuscripts Yunani tidak mempunyai kata ‘Anak’. Jadi perbedaan terjemahan-terjemahan itu muncul bukan karena ada problem text, tetapi hanya karena sebagian penterjemah keminter. Mereka merasa tidak masuk akal bahwa Allah punya darah, dan karena itu mereka menambahkan kata ‘Anak’.

Kalau kata ‘Anak’ itu dihapus, seperti seharusnya, maka kata ‘Nya’ menunjuk kepada kata ‘Allah’, tetapi pada saat yang sama pasti menunjuk kepada Yesus, karena adanya kata ‘darah’. Jadi, ayat ini menyatakan Yesus sebagai Allah.

l)    Wah 1:8 - “‘Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.’”.
Saksi-Saksi Yehuwa mengatakan bahwa yang dibicarakan dalam Wah 1:8 ini bukan Yesus tetapi Yehuwa (‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 400-401). Dan TDB menterjemahkan kata-kata ‘Tuhan Allah’ dalam Wah 1:8 itu dengan istilah ‘Allah Yehuwa’.
TDB: “‘Aku adalah Alfa dan Omega,’ kata Allah Yehuwa, ‘Pribadi yang sekarang ada dan yang dahulu ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa”.

Jawaban saya:

1.   Dari mana muncul kata ‘Yehuwa’ itu? Ini terjemahan yang kurang ajar! Kata ‘Yehuwa’ itu tidak pernah ada dalam bahasa asli (Yunani) dari Wah 1:8 itu, dan bahkan nama ‘Yehuwa’ / ‘YAHWEH’ tidak pernah muncul dalam seluruh bahasa asli / Yunani dari Perjanjian Baru.

2.   Siapa yang berbicara dalam Wah 1:8?
Untuk bisa tahu dengan jelas siapa yang berbicara dalam Wah 1:8 ini, mari kita membaca lagi bagian itu mulai dari ay 7nya.
Wah 1:7-8 - “(7) Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin. (8) ‘Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.’”.
Kontext sebelumnya, yaitu Wah 1:7, jelas menunjuk kepada Yesus. Dan kalau kita membaca kontext setelah Wah 1:8 itu, yaitu Wah 1:9-dst, maka kita melihat bahwa di sana rasul Yohanes mendapat penglihatan tentang Yesus.
Wah 1:9-20 - “(9) Aku, Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, berada di pulau yang bernama Patmos oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus. (10) Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala, (11) katanya: ‘Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia.’ (12) Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas. (13) Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas. (14) Kepala dan rambutNya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mataNya bagaikan nyala api. (15) Dan kakiNya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suaraNya bagaikan desau air bah. (16) Dan di tangan kananNya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulutNya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajahNya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik. (17) Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kakiNya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kananNya di atasku, lalu berkata: ‘Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, (18) dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut. (19) Karena itu tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini. (20) Dan rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kananKu dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat.’”.

Kalau yang dibicarakan dalam Wah 1:7nya adalah Yesus, dan Wah 1:9-dst juga membicarakan tentang Yesus, maka yang berbicara dalam Wah 1:8nya pasti juga Yesus.

William Hendriksen: “That this glorious title refers to Christ should not be open to doubt. Both the immediately preceding and the immediately succeeding context have reference to Christ (see verses 7,13)” [= Bahwa gelar yang mulia ini menunjuk kepada Kristus tidak boleh diragukan. Baik kontext yang persis mendahuluinya maupun kontext yang persis sesudahnya mempunyai hubungan dengan Kristus (lihat ayat-ayat 7,13)] - ‘More Than Conquerors’, hal 54.

3.   Dalam Wah 1:8 ini dikatakan bahwa yang berfirman adalah ‘Tuhan Allah’. Jadi jelaslah bahwa Yesus disebut dengan istilah ‘Tuhan Allah’. Dan di sini kata ‘Allah’ dalam bahasa Yunaninya adalah HO THEOS (= ‘the God’).
Masih ditambahkan lagi bahwa Ia menyebut diriNya ‘Yang Mahakuasa’.

Sekalipun ada banyak ayat Kitab Suci yang menyebut Yesus dengan sebutan ‘Allah’, tetap saja Saksi-Saksi Yehuwa menolak keilahian Yesus. Mereka berkata bahwa dalam Kitab Suci kata ‘allah’ / ‘Allah’ sering diberikan kepada yang bukan Allah, baik itu malaikat, manusia, dewa / berhala, atau bahkan setan. Jadi, pada waktu Yesus disebut ‘Allah’ itu tidak membuktikan bahwa Ia adalah Allah.

Tanggapan saya:

1.   Perlu diperhatikan bahwa: sekalipun dalam Kitab Suci kata ‘allah’ memang bisa digunakan untuk malaikat, setan, dan bahkan manusia, tetapi kata itu tidak pernah digunakan sesering kata itu digunakan terhadap Yesus.

2.   Pada saat Kitab Suci menyebut seseorang yang bukan Allah yang sesungguhnya dengan sebutan ‘allah’, Kitab Suci selalu menunjukkan secara jelas bahwa orang-orang itu disebut ‘allah’ bukan dalam arti seperti biasanya / yang sesungguhnya.

Contoh:

a.   Kel 7:1 - “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah (ELOHIM) bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu”.
Perhatikan bahwa sekalipun ayat ini menyebut Musa sebagai ‘Allah’, tetapi ada tambahan kata-kata ‘bagi Firaun’. Dan ini jelas menunjukkan bahwa Musa bukanlah Allah dalam arti yang sesungguhnya.

b.   Kel 12:12 - “Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah (ELOHEY = gods of / allah-allah dari) di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN”.
Jelas bahwa kata ‘allah’ di sini tidak menunjuk kepada Allah yang sejati, karena dikatakan bahwa Allah yang sejati itu akan menghukum ‘semua allah’ ini. Jadi di sini kata itu menunjuk kepada dewa-dewa sembahan Mesir, yang sering berupa binatang, khususnya sapi. Pada saat Tuhan menghukum Mesir dengan membunuh semua anak sulung, maka anak binatang (dewa / allah mereka) juga ikut dibunuh / dihukum.

c.   Kel 20:3 - “Jangan ada padamu allah (ELOHIM) lain di hadapanKu”.
Adanya kata-kata ‘lain’ dan ‘di hadapanKu’, membuat ayat ini jelas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan ‘allah’ bukanlah Allah yang sebenarnya.
Selain dalam ayat ini, dalam banyak ayat-ayat lain, kata ‘allah’ digunakan untuk menunjuk kepada dewa / berhala dari bangsa-bangsa kafir, dan kontextnya selalu menunjukkan secara jelas bahwa yang dimaksud bukanlah Allah yang sesungguhnya, tetapi hanya dewa / berhala yang dalam Kitab Suci dikatakan tidak mempunyai existensi (Bdk. 1Kor 8:4-6).

d.   Hak 5:8 - “Ketika orang memilih allah (ELOHIM) baru, maka terjadilah perang di pintu gerbang. Sesungguhnya, perisai ataupun tombak tidak terlihat di antara empat puluh ribu orang di Israel.
Kata-kata dari ayat ini yang mengatakan bahwa ‘orang memilih allah baru’, sudah menunjukkan bahwa kata ‘allah’ ini tidak digunakan dalam arti yang sebenarnya. Jadi ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang Israel memilih dewa / berhala baru (sambil meninggalkan YAHWEH), dan sebagai akibatnya terjadilah bencana seperti perang dan sebagainya.

e.   1Sam 28:13b: “Perempuan itu menjawab Saul: ‘Aku melihat sesuatu yang ilahi (ELOHIM) muncul dari dalam bumi.’”.
KJV: ‘gods’ (= allah-allah).
RSV/NWT: ‘a god’ (= suatu allah).
NIV: ‘a spirit’ (= suatu roh).
NASB: ‘a divine being’ (= suatu makhluk yang ilahi).
Kata Ibrani yang dipakai adalah ELOHIM.
Ada 2 penafsiran tentang bagian ini:
·         Kata ELOHIM menunjuk kepada penampilan yang supranatural / gaib.
·         Kata ELOHIM digunakan karena ‘arwah’ itu boleh dikatakan merupakan allah dari si dukun yang memanggilnya.
Tidak peduli mana arti yang benar, yang jelas ayat itu sendiri secara menyolok menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan ELOHIM di sini bukanlah Allah yang sesungguhnya. Ada yang menganggap bahwa ini betul-betul adalah roh Samuel, tetapi saya yakin bahwa itu salah, dan bahwa ini hanyalah setan yang menyamar sebagai roh Samuel. Jika saudara mau mempelajari hal ini secara mendetail, bacalah buku saya yang berjudul ‘Penginjilan Terhadap Orang Mati’.

f.    Maz 82:1-8 - “(1) Mazmur Asaf. Allah berdiri dalam sidang ilahi, di antara para allah (Ibrani: ELOHIM) Ia menghakimi: (2) ‘Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim dan memihak kepada orang fasik? Sela (3) Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan! (4) Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin, lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik!’ (5) Mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa, dalam kegelapan mereka berjalan; goyanglah segala dasar bumi. (6) Aku sendiri telah berfirman: ‘Kamu adalah allah (Ibrani: ELOHIM), dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian. - (7) Namun seperti manusia kamu akan mati dan seperti salah seorang pembesar kamu akan tewas.’ (8) Bangunlah ya Allah, hakimilah bumi, sebab Engkaulah yang memiliki segala bangsa”.
Yang disebut ELOHIM (‘allah-allah’) dalam ay 1 dan ay 6 itu jelas adalah hakim-hakim yang lalim / tidak adil pada saat itu. Sekalipun mereka disebut ‘allah-allah’ (ELOHIM), tetapi mereka jelas bukan Allah dalam arti yang sesungguhnya, dan itu terlihat dari:
·         mereka ini bukan satu orang tetapi sekelompok orang, sehingga tidak mungkin mereka adalah Allah semua, karena akan menimbulkan polytheisme.
·         mereka dihakimi oleh Allah (ay 1).
·         mereka menghakimi dengan tidak adil (ay 2-4), dan hidup dalam kegelapan (ay 5).
·         mereka akan mati seperti manusia (ay 7).

g.   Maz 95:3 - “Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah (ELOHIM).
Dalam ayat ini yang disebut ‘allah’ (ELOHIM) juga adalah sekelompok orang. Ada yang menganggap mereka ini sebagai dewa-dewa, dan ada juga yang menganggap mereka ini sebagai malaikat-malaikat. Bahwa mereka ini sekelompok, bukan tunggal, dan bahwa TUHAN dikatakan mengatasi mereka semua, jelas menunjukkan bahwa pada saat kata ‘allah’ (ELOHIM) diterapkan kepada mereka, kata itu tidak digunakan dalam arti yang sebenarnya.

h.   Maz 96:4-5 - “(4) Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah (ELOHIM). (5) Sebab segala allah (ELOHIM) bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi Tuhanlah yang menjadikan langit”.
Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa yang disebut ‘allah’ di sini adalah berhala-berhala / dewa-dewa.

i.    Maz 97:7,9 - “(7) Semua orang yang beribadah kepada patung akan mendapat malu, orang yang memegahkan diri karena berhala-berhala; segala allah (ELOHIM) sujud menyembah kepadaNya. ... (9) Sebab Engkaulah, ya TUHAN, Yang Mahatinggi di atas seluruh bumi, Engkau sangat dimuliakan di atas segala allah (ELOHIM).”.
Calvin dan banyak penafsir lain menafsirkan bahwa kata ‘allah’ (ELOHIM) dalam 2 ayat ini menunjuk kepada malaikat-malaikat. Apapun arti yang diberikan kepada kata ‘allah’ di sini, jelas bahwa kalimatnya menunjukkan bahwa ‘allah’ dalam kedua ayat ini bukan betul-betul ‘Allah’!

j.    Maz 138:1 - “Aku hendak bersyukur kepadaMu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah (ELOHIM) aku akan bermazmur bagiMu.
Calvin menganggap bahwa kata ELOHIM di sini menunjuk atau kepada malaikat-malaikat atau kepada raja-raja; Calvin lebih condong pada arti pertama. Siapapun yang disebut sebagai ELOHIM di sini, jelas sekali bahwa mereka bukanlah Allah dalam arti sesungguhnya, karena dalam ayat ini Allah yang sesungguhnya disebut ‘Mu’, kepada siapa Daud bersyukur dan bermazmur.

k.   1Kor 8:4-6 - (4) Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: ‘tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.’ (5) Sebab sungguhpun ada apa yang disebut ‘allah’ (THEOI = gods / allah-allah), baik di sorga, maupun di bumi - dan memang benar ada banyak ‘allah’ (THEOI) dan banyak ‘tuhan’ yang demikian - (6) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.
Apakah yang disebut dengan ‘allah’ dalam ay 5 itu, malaikat atau berhala, tidak jadi soal. Yang jelas kata-kata dalam ay 4 dan dalam ay 6nya menunjukkan bahwa ‘allah’ dalam ay 5 itu bukan betul-betul Allah.

l.    Kis 12:22 - “Dan rakyatnya bersorak membalasnya: ‘Ini suara allah (THEOU) dan bukan suara manusia!’”.
Jelas bahwa ini tidak menunjuk kepada Allah yang benar, karena kata-kata ini ditujukan kepada Herodes (baca kontextnya).

m.  2Kor 4:4 - “yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah”.
KJV/RSV/NASB: ‘the god of this world’ (= allah dari dunia ini).
NIV: ‘the god of this age’ (= allah dari jaman ini).
Kata Yunani yang diterjemahkan ‘ilah’ (‘god’ / allah) di sini adalah HO THEOS (= the God / sang Allah)! Jelas bahwa di sini kata itu tidak menunjuk kepada Allah yang sejati, tetapi menunjuk kepada setan, yang membutakan pikiran manusia.

n.   2Tes 2:4 - “yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah (THEON). Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah (TOU THEOU).
Kontext menunjukkan bahwa ini sama sekali tidak menunjuk kepada Allah yang sebenarnya, tetapi mungkin ini menunjuk kepada Antikristus.

Jadi, dengan banyak contoh (dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) saya sudah menunjukkan bahwa kalau kata ‘Allah’ digunakan untuk menunjuk kepada yang bukan Allah, maka selalu diberi penjelasan yang secara jelas menunjukkan bahwa yang dimaksud bukanlah Allah yang sejati.
Tetapi pada waktu kata ‘Allah’ digunakan untuk Yesus, Kitab Suci tidak memberi petunjuk apapun bahwa kata itu digunakan bukan dalam arti yang sesungguhnya, tetapi sebaliknya bahkan memberikan keterangan yang menunjukkan bahwa Ia memang adalah Allah yang sejati.

Calvin (tentang Maz 45:7): when the name µyhla, Elohim is ascribed either to angels or men, some other mark is at the same time usually added, to distinguish between them and the only true God; but here it is applied to Christ, simply and without any qualification. (= Pada waktu nama / sebutan µyhla, ELOHIM diberikan atau kepada malaikat-malaikat atau manusia-manusia, pada saat yang sama beberapa tanda lain biasanya ditambahkan, untuk membedakan antara mereka dan satu-satunya Allah yang benar; tetapi di sini sebutan itu diterapkan kepada Kristus, secara sederhana dan tanpa pembatasan / persyaratan apapun.).

A. H. Strong: “It is sometimes objected that the ascription of the name ‘God’ to Christ proves nothing as to his absolute deity, since angels and even human judges are called gods, as representing God’s authority and executing his will. But we reply that, while it is true that the name is sometimes so applied, it is always with adjuncts and in connections which leaves no doubt of its figurative and secondary meaning. When, however, the name is applied to Christ, it is, on the contrary, with adjuncts and in connections which leaves no doubt that it signifies absolute Godhead (= Kadang-kadang diajukan keberatan yang mengatakan bahwa pemberian nama ‘Allah’ kepada Kristus tidak membuktikan apa-apa berkenaan dengan keilahianNya yang mutlak, karena malaikat-malaikat dan bahkan hakim-hakim manusia disebut allah-allah, karena mewakili otoritas Allah dan melaksanakan kehendakNya. Tetapi kami menjawab bahwa sekalipun memang benar bahwa nama itu kadang-kadang diterapkan seperti itu, itu selalu disertai dengan tambahan / keterangan dan dalam hubungan yang membuang semua keragu-raguan tentang arti kiasan dan arti sekundernya. Tetapi pada waktu nama itu diterapkan kepada Kristus, sebaliknya itu disertai dengan tambahan / keterangan dan dalam hubungan yang membuang semua keragu-raguan bahwa itu menunjukkan keAllahan yang mutlak) - ‘Systematic Theology’, hal 307.

Contoh:
a.   Yes 9:5 yang mengatakan bahwa Yesus adalah Allah yang perkasa, menambahi dengan sebutan-sebutan ilahi yang lain, baik dalam Yes 9:5 itu sendiri, maupun dalam ayat selanjutnya (Yes 9:6).
Yes 9:5-6 - “(5) Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. (6) Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.”.
Catatan: Yes 9:5a menekankan kemanusiaan Yesus, tetapi bagian akhirnya menekankan keilahianNya.
b.   Yoh 1:1c, yang mengatakan bahwa ‘Firman (Yesus) itu adalah Allah’, didahului oleh kata-kata Pada mulanya adalah Firman’, yang menunjukkan kekekalan dari Firman itu. Kata-kata ‘pada mulanya’ itu muncul lagi dalam Yoh 1:2,  dan lalu dilanjutkan dengan Yoh 1:3, yang menunjukkan bahwa Firman / Yesus itu adalah Pencipta segala sesuatu!
Yoh 1:1-3 - “(1) Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. (2) Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. (3) Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
c.   Ro 9:5, yang menyatakan Yesus sebagai Allah, juga menambahkan bahwa Ia ada di atas sesuatu, dan harus dipuji selama-lamanya.
Ro 9:5 - “Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaanNya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!”.
d.   Ibr 1:8, selain menyebut Anak sebagai Allah, juga mengatakan bahwa Ia mempunyai takhta yang kekal, dan masih disusul lagi oleh Ibr 1:10-12 yang menyatakan Anak sebagai Tuhan, dan sebagai Pencipta, yang kekal dan yang tidak pernah berubah.
Ibr 1:8-12 - “(8) Tetapi tentang (kepada) Anak Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran. (9) Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, AllahMu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutuMu.’ (10) Dan: ‘Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tanganMu. (11) Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; (12) seperti jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahunMu tidak berkesudahan.’”.
e.   Wah 1:8, selain menyebut Yesus sebagai ‘Tuhan Allah’, juga menyebutNya dengan sebutan ‘Yang Mahakuasa’ dan ‘Alfa dan Omega’.
Wah 1:8 - “‘Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.’”.

Semua ini menunjukkan bahwa sebutan ‘Allah’ bagi Yesus tidak bisa disamakan dengan sebutan ‘allah’ bagi malaikat, setan, dan manusia. Pada saat sebutan ‘Allah’ itu digunakan untuk Yesus, itu betul-betul menyatakan bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh dan dalam arti yang setinggi-tingginya!

3)   Kitab Suci memberikan nama-nama / gelar-gelar ilahi untuk Yesus.
Contoh:

a)   Yesus disebut YAHWEH / YHWH!
Yer 23:5-6 - “(5) Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. (6) Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN-keadilan kita.
Yang dimaksudkan dengan ‘Tunas adil bagi Daud’ dalam text ini jelas adalah Yesus. Jadi ayat ini jelas juga merupakan nubuat tentang Kristus, dan dalam ayat itu Kristus disebut sebagai ‘TUHAN keadilan’, dimana kata ‘TUHAN’ tersebut dalam bahasa Ibraninya adalah YHWH / YAHWEH. Ini adalah ayat-ayat yang sangat penting dalam menghadapi para Saksi Yehuwa karena dalam ayat-ayat ini Yesus Kristus disebut dengan sebutan YHWH / YAHWEH.
Perlu diketahui bahwa dalam Kitab Suci kata Ibrani ‘ADONAY’ (= Tuhan / Lord) bisa digunakan untuk seseorang yang bukan Allah, misalnya dalam Yes 21:8.
Yes 21:8 - “Kemudian berserulah orang yang melihat itu: ‘Di tempat peninjauan, ya tuanku (ADONAY), aku berdiri senantiasa sehari suntuk, dan di tempat pengawalanku aku terpancang setiap malam.’”.
Demikian juga dengan kata Ibrani ‘ELOHIM’ [= Allah / God(s)], atau kata Yunani THEOS (= God / Allah), bisa digunakan untuk menunjuk kepada dewa dan bahkan manusia (Misalnya: Kel 4:16  Kel 7:1  Kel 12:12  Kel 20:3,23  Hakim 16:23-24  1Raja 18:27  Maz 82:1,6  Kis 28:6).
Kel 4:16 - “Ia harus berbicara bagimu kepada bangsa itu, dengan demikian ia akan menjadi penyambung lidahmu dan engkau akan menjadi seperti Allah (ELOHIM) baginya.”.
Kis 28:6 - “Namun mereka menyangka, bahwa ia akan bengkak atau akan mati rebah seketika itu juga. Tetapi sesudah lama menanti-nanti, mereka melihat, bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi padanya, maka sebaliknya mereka berpendapat, bahwa ia seorang dewa (THEON).”.
Tetapi sebutan YHWH / YAHWEH (= TUHAN / LORD) adalah nama pribadi dari Allah sendiri (Kel 3:15  Yes 42:8), dan karena itu, tidak pernah digunakan untuk pribadi manapun selain Allah (Maz 83:19)!
Kel 3:15 - “Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: ‘Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN (YHWH), Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah namaKu untuk selama-lamanya dan itulah sebutanKu turun-temurun.”.
Yes 42:8 - Aku ini TUHAN (YHWH), itulah namaKu; Aku tidak akan memberikan kemuliaanKu kepada yang lain atau kemasyhuranKu kepada patung.”.
Maz 83:19 - “supaya mereka tahu bahwa Engkau sajalah yang bernama TUHAN (YHWH), Yang Mahatinggi atas seluruh bumi”.
NIV menterjemahkan secara berbeda.
NIV: Let them know that you, whose name is the LORD - that you alone are the Most High over all the earth (= Biarlah mereka mengetahui bahwa Engkau, yang namaNya adalah TUHAN - bahwa Engkau saja adalah Yang Maha Tinggi atas seluruh bumi).
Tetapi KJV/RSV/NASB menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia.
KJV: ‘That men may know that thou, whose name alone is JEHOVAH, art the most high over all the earth’ (= Supaya manusia bisa mengetahui bahwa Engkau sendiri yang namaNya adalah Yehovah, adalah yang maha tinggi atas seluruh bumi).
RSV: ‘Let them know that thou alone, whose name is the LORD, art the Most High over all the earth’ (= Biarlah mereka mengetahui bahwa Engkau saja, yang namanya adalah TUHAN, adalah Yang Maha Tinggi atas seluruh bumi).
NASB: That they may know that Thou alone, whose name is the LORD, Art the Most High over all the earth (= Supaya mereka bisa mengetahui bahwa Engkau saja, yang namanya adalah TUHAN, adalah Yang Maha Tinggi atas seluruh bumi).
Karena itu, kalau Yesus disebut dengan istilah YAHWEH / YEHOVAH dalam Yer 23:6, itu jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah sendiri.

b)   Dalam Perjanjian Lama, sebutan ‘Juruselamat’ dan ‘Penebus / Penolong’ ditujukan kepada Allah (Yes 43:3,11  Yes 45:15  Yer 14:8  Hos 13:4). Jadi, ini merupakan gelar-gelar ilahi. Tetapi dalam Perjanjian Baru, sebutan-sebutan itu ditujukan kepada Yesus (2Tim 1:10  Tit 1:4  Tit 2:13  Tit 3:6  2Pet 1:11  2Pet 2:20  2Pet 3:18).
Yes 43:3,11 - “(3) Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu. Aku menebus engkau dengan Mesir, dan memberikan Etiopia dan Syeba sebagai gantimu. ... (11) Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari padaKu.
2Tim 1:10 - “dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa”.

c)   Dalam Mat 1:23 Yesus disebut dengan istilah Immanuel, yang artinya adalah ‘God with us’ (= Allah dengan kita).
Mat 1:23 - “‘Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel’ - yang berarti: Allah menyertai kita”.

d)   ‘Yesus’ dan ‘Tuhan’ / ‘Allah’ digunakan secara interchangeable (bisa dibolak-balik).
Ini terlihat kalau kita melihat Mark 5:18-20 dan Luk 8:38-39.
Mark 5:18-20 - “(18) Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia. (19) Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: ‘Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!’ (20) Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran”.
Luk 8:38-39 - “(38) Dan orang yang telah ditinggalkan setan-setan itu meminta supaya ia diperkenankan menyertaiNya. Tetapi Yesus menyuruh dia pergi, kataNya: (39) ‘Pulanglah ke rumahmu dan ceriterakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasmu.’ Orang itupun pergi mengelilingi seluruh kota dan memberitahukan segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya”.
Yesus yang menyembuhkan orang itu. Tetapi dalam Mark 5:19 Yesus menyuruh orang itu untuk menceritakan apa yang diperbuat Tuhan atasnya, sedangkan dalam Luk 8:39 Ia menyuruh orang itu untuk menceritakan apa yang diperbuat Allah atasnya. Lalu bagaimana tanggapan orang itu? Baik Markus maupun Lukas mengatakan bahwa orang itu lalu memberitakan apa yang diperbuat Yesus atasnya (Mark 5:20  Luk 8:39). Jadi, jelas bahwa ‘Yesus’ dan ‘Tuhan’ / ‘Allah’ bisa dibolak-balik dan itu berarti Yesus adalah Tuhan / Allah!

e)   1Kor 2:8 menyebut Yesus sebagai ‘the Lord of glory’ (= Tuhan kemuliaan / Tuhan yang mulia).
1Kor 2:8 - “Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘the Lord of glory’ (= Tuhan kemuliaan).

Albert Barnes dalam tafsirannya tentang 1Kor 2:8 mengatakan bahwa:
1.   Dalam Maz 24:7-10, YAHWEH disebut / diberi gelar ‘the King of glory’ (= Raja kemuliaan).
Maz 24:7-10 - “(7) Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! (8) ‘Siapakah itu Raja Kemuliaan?’ ‘TUHAN, jaya dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan!’ (9) Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! (10) ‘Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?’ ‘TUHAN semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!’ Sela”.
Perhatikan bahwa kata ‘TUHAN’ semua hurufnya menggunakan huruf besar, dan ini menunjukkan bahwa itu berasal dari kata Ibrani YHWH yang merupakan nama pribadi dari Allah.
2.   Dalam Kis 7:2, Allah disebut / diberi gelar ‘the God of glory’ (= Allah yang maha mulia / Allah kemuliaan).
Kis 7:2 - “Jawab Stefanus: ‘Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah! Allah yang Mahamulia telah menampakkan diriNya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran.
KJV/RSV/NIV/NASB/Lit: ‘the God of glory’ (= Allah kemuliaan).

Jadi, kalau sekarang dalam 1Kor 2:8 Yesus disebut dengan ‘the Lord of glory’ (= Tuhan kemuliaan), maka Barnes menganggap itu sebagai gelar ilahi yang diberikan kepada Yesus, dan ini membuktikan bahwa Ia adalah Allah sendiri.

f)    Dalam Ibr 1:8,10 Allah menyebut Yesus / Anak dengan sebutan ‘Allah’ dan ‘Tuhan’.
Ibr 1:8,10 - “(8) Tetapi tentang (kepada) Anak Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran. ... (10) Dan: ‘Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tanganMu”.
Kata-kata ‘tentang Anak’ seharusnya diterjemahkan ‘kepada Anak’. Jadi, dalam text ini Allah berbicara kepada Yesus, dan menyebutNya sebagai ‘Allah’ dan ‘Tuhan’!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar