Kamis, 03 April 2014

“THE GREATEST GIFT” (PEMBERIAN / HADIAH TERBESAR)

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div

Yoh 3:16 - “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”.

KJV: “For God so loved the world, that he gave his only begotten Son, that whosoever believeth in him should not perish, but have everlasting life” (= Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia memberikan AnakNya yang Tunggal, supaya siapapun yang percaya kepadaNya tidak binasa, tetapi mempunyai hidup yang kekal).

Ada orang yang menambahinya dengan kata-kata tertentu sehingga menjadi seperti ini:
“For God so loved the world, that he gave his only begotten Son, as a Christmas gift to every one, that whosoever believeth in him should not perish, but have everlasting life” (= Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia memberikan AnakNya yang Tunggal, sebagai hadiah Natal bagi setiap orang, supaya siapapun yang percaya kepadaNya tidak binasa, tetapi mempunyai hidup yang kekal).

Streams in the Desert, vol 2, January 15:
“God (the greatest lover) so loved (the greatest degree) the world (the greatest number) that He gave (the greatest act) His only begotten Son (the greatest gift) that whosoever (the greatest invitation) believeth (the greatest simplicity) in Him (the greatest person) should not perish (the greatest deliverance), but (the greatest difference) have (the greatest certainty) everlasting life (the greatest possession)” [= Allah (pecinta terbesar) begitu mengasihi (tingkat terbesar) dunia (jumlah terbesar) sehingga Ia memberikan (tindakan terbesar) AnakNya yang tunggal (pemberian / hadiah terbesar) supaya barangsiapa (undangan terbesar) percaya (kesederhanaan terbesar) kepada Dia (pribadi terbesar) tidak binasa (pembebasan terbesar), tetapi (perbedaan terbesar) mempunyai (kepastian terbesar) hidup yang kekal (milik yang terbesar)] - John 3:16.

I) Allah memberikan AnakNya yang Tunggal.


1)   Allah (pecinta terbesar / pribadi dengan cinta yang terbesar).
Semua kita tentu lebih senang dicintai dari pada dicuekin apalagi dibenci. Tetapi siapa orang yang mencintai itu jelas juga penting. Kalau kita dicintai oleh walikota, kita pasti akan bangga sekali. Apalagi kalau yang mencintai itu gubernur atau presiden. Tetapi ayat ini tidak mengatakan bahwa walikota / gubernur / presiden mencintai kita. Ayat ini mengatakan bahwa Allah mencintai kita! Walikota / gubernur / presiden itu orang besar, tetapi semua mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Allah, yang adalah Pencipta / pemilik seluruh alam semesta dengan segala isinya!

2)   Bukti bahwa Allah adalah pecinta terbesar adalah bahwa Ia memberikan AnakNya yang Tunggal.

a)   Anak Allah.
Jangan berpikir mula-mula ada Allah, lalu suatu waktu Dia beranak, dan muncul Anak Allah. Kalau diartikan demikian, Anak Allah itu tidak kekal, dan Dia bukan Allah.
Kita harus menafsirkan istilah ‘Anak Allah’ itu sesuai dengan pengertian orang-orang di sana pada jaman itu, dan itu bisa terlihat dari ayat-ayat di bawah ini:
Yoh 5:18 - “Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuhNya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan demikian menyamakan diriNya (seharusnya ‘menyetarakan diriNya’) dengan Allah.

Karena itu, tidak salah menyebut Yesus sebagai ‘the greatest person’ (= pribadi yang terbesar).

b)   Tunggal.
Ini ditambahkan untuk membedakan istilah ‘Anak Allah’ yang digunakan terhadap Yesus, dan istilah ‘anak Allah’ pada waktu itu diterapkan kepada kita. Kalau kita percaya kepada Yesus, kita juga disebut ‘anak Allah’ (Yoh 1:12), tetapi itu tidak berarti bahwa kita setara dengan Allah! Mengapa? Karena Yesus adalah Anak Allah yang sesungguhnya / kekal, sedangkan kita menjadi anak Allah karena diadopsi. Yang seperti Yesus itu hanya satu, dan karena itu lalu ditambahkan kata ‘Tunggal’ / ‘satu-satunya’.

c)   Allah memberikan / mengaruniakan AnakNya yang Tunggal.
Ini dilakukan dengan mengutus AnakNya datang ke dalam dunia, menjadi manusia sama seperti kita (kecuali dalam hal dosa), menderita dan mati disalib untuk memikul hukuman dosa kita. Jadi, ada hubungan yang sangat erat / tak bisa dipisahkan antara Natal dan Jum’at Agung. Natal harus ada supaya Jum’at Agung bisa ada!
Yesus dilahirkan pada Natal, supaya bisa menderita dan mati pada Jum’at Agung. Menderita dan mati dengan cara bagaimana? Dengan cara yang paling mengerikan, menyakitkan, hina, dan terkutuk. Penyaliban, yang didahului dengan pencambukan!

Bagi saudara yang mempunyai banyak anak, saya tanya: bolehkah saya minta anak saudara untuk disembelih lalu disate? Sekalipun saudara mempunyai banyak anak, saudara tidak akan ijinkan anak saudara disembelih lalu disate, apalagi kalau punya anak tunggal!

Sebetulnya jangankan anak, tetapi bahkan kalau saudara punya banyak anjing, saya minta satu saja untuk dibuat RW, saudara pasti akan menolak! Tetapi Allah, yang hanya mempunyai satu Anak, rela memberikanNya untuk kita.
Ini membuat Dia memang layak disebut sebagai ‘the greatest lover’ (= pecinta yang terbesar)! KasihNya layak dianggap kasih yang mempunyai ‘the greatest degree’ (= tingkat terbesar), dan tindakanNya dalam memberikan AnakNya itu disebut sebagai ‘the greatest act’ (= tindakan terbesar). Dan ini juga menyebabkan hadiahNya itu layak disebut sebagai ‘the greatest gift’ (= hadiah terbesar)!

II) Allah memberikanNya kepada ‘dunia’.


1)   Siapa yang disebut dengan istilah ‘dunia’ di sini?
Tentu bukan dunia dalam arti alam semesta atau bumi ini, tetapi manusianya. Tetapi manusia yang mana? Yahudi saja? Terus terang, dulu orang-orang Yahudi mempunyai pandangan bahwa yang bisa selamat itu hanya orang-orang Yahudi saja, dan Allah menciptakan orang-orang non Yahudi hanya untuk menjadi bahan bakar di neraka. Karena itu, ada yang mengatakan bahwa kata ‘dunia’ ini digunakan dalam Yoh 3:16 ini untuk menentang pandangan Yahudi bahwa hanya orang-orang Yahudi saja yang bisa selamat. Jadi, kata ‘dunia’ ini diartikan sebagai ‘Yahudi + non Yahudi’! Dengan kata lain, ‘segala bangsa’!

Mari kita bandingkan dengan ayat-ayat Kitab Suci yang lain:

a)   Mat 28:19 - “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”.

b)   Luk 24:47 - “dan lagi: dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem”.

c)   Kis 1:8 - “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.’”.

d)   Dalam Injil Lukas yang datang kepada Yesus pada Natal adalah para gembala (Luk 2:8-20). Ini adalah orang-orang Yahudi. Tetapi dalam Injil Matius yang datang kepada Yesus dalam Natal adalah orang-orang Majus (Mat 2:1-12), yang adalah orang-orang non Yahudi! Apakah yang terakhir ini ditolak? Tidak mungkin ditolak, karena Allah sendiri yang memimpin mereka dengan menggunakan petunjuk bintang!
Catatan: Awas, ini bukan dasar untuk menyetujui / mempercayai horoscope! Bintang dalam Mat 2 itu bersifat mujijat!

Dari semua ini jelas bahwa Yesus adalah hadiah Natal dari Allah kepada segala bangsa, termasuk saudara dan saya, tidak peduli dari bangsa atau suku bangsa apapun kita berasal! Ini cocok disebut sebagai ‘the greatest number’ (= jumlah terbesar).

Dan kebalikannya juga berlaku, yaitu: segala bangsa / suku bangsa hanya mempunyai satu Juruselamat / Penebus, yaitu Yesus Kristus!

2)   Dunia ini adalah dunia yang berdosa.
Sekarang bagaimana keadaan manusia-manusia di dunia ini kok Allah tahu-tahu mau memberikan AnakNya yang Tunggal kepada dunia? Apakah dunia ini begitu baik, suci, mengasihi Allah, selalu menyenangkan dan memuliakan Dia, sehingga Dia lalu mau memberikan AnakNya yang Tunggal kepada dunia?

Ro 3:10-18 - “(10) seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. (11) Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. (12) Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. (13) Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. (14) Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, (15) kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. (16) Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, (17) dan jalan damai tidak mereka kenal; (18) rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.’”.

Melihat dunia yang seperti ini, lalu Allah itu masih mau memberikan AnakNya yang Tunggal kepada dunia, itu betul-betul luar biasa! Tak terbayangkan! Itu sebabnya Ia memang layak disebut sebagai Pecinta terbesar! Bandingkan dengan ayat-ayat ini:

a) Ro 8:32 - “Ia, yang tidak menyayangkan AnakNya sendiri, tetapi yang menyerahkanNya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”.

b)   1Yoh 4:10 - “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita”.

c)   Ro 5:6-8 - “(6) Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. (7) Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar - tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati -. (8) Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa”.

Kata-kata ‘tidak mudah’ oleh KJV diterjemahkan ‘scarcely’, oleh NIV diterjemahkan ‘rarely’, dan oleh RSV/NASB diterjemahkan ‘hardly’. Semua artinya kurang lebih sama, yaitu ‘jarang’ atau ‘sangat jarang’.

III) Mengapa Allah memberikan hadiah itu kepada kita?


Dengan kata lain, mengapa Allah mengutus Yesus datang ke dalam dunia pada Natal, lalu menderita dan mati pada Jum’at Agung? Jawabannya: Yoh 3:16b - “... supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”.
Jadi, Ia memberikan AnakNya yang Tunggal itu supaya kita tidak binasa, atau, untuk menyelamatkan / memberikan hidup kekal kepada kita!

Mungkin ada orang yang bertanya: Tidak bisakah Allah menggunakan cara lain untuk menyelamatkan manusia? Jawabannya: tidak ada! Kalau memang ada, Dia akan pakai cara itu, bukan dengan memberikan AnakNya yang Tunggal!
Mengapa tidak bisa? Karena Allah itu adil. Ini menyebabkan Ia HARUS menghukum setiap orang atas setiap dosa yang diperbuatnya. Kalau Allah tak menghukum apakah Ia baik?
Untuk menjawab ini, mari kita pikirkan suatu analogi: kalau saudara ditangkap polisi karena melanggar peraturan lalu lintas, lalu saudara merayu-rayu polisi itu, dan akhirnya polisi itu membebaskan saudara, apakah polisi itu baik? Bagaimana kalau ada pencopet tertangkap, lalu merayu polisi itu dan lalu dibebaskan? Apakah polisi itu baik? Bagaimana kalau penjual narkoba, perampok, pembunuh, pemerkosa, dsb?

Sekarang kita terapkan kepada Tuhan / Allah sendiri. Kalau Ia tidak menghukum manusia berdosa, Ia bukan Allah yang suci, benar ataupun adil! Kalau ada satu dosa saja, bagaimanapun kecilnya, tidak dihukum selama-lamanya oleh Allah, maka Allah kehilangan keadilanNya! Yang bisa Ia lakukan, adalah menyediakan seorang pengganti untuk memikul hukuman dosa itu. Karena itu, Ia mengutus Yesus menjadi manusia pada Natal pertama, lalu mengorbankanNya pada Jum’at Agung, untuk memikul hukuman dosa umat manusia. Dengan demikian Yesus menjadi pengganti bagi kita.

Yes 53:4-6 - “(4) Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. (5) Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (6) Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.
2Kor 5:15 - “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka”.

Setelah Yesus menderita dan mati untuk menggantikan kita, maka tersedia jalan keselamatan bagi kita. Ingat: seandainya Yesus tidak lahir, menderita dan mati bagi kita, maka tidak ada jalan keselamatan bagi manusia, dan semua manusia mulai Adam dan Hawa sampai kiamat, termasuk saudara dan saya, akan masuk ke neraka selama-lamanya!
Tetapi faktanya adalah Yesus sudah lahir pada Natal yang pertama, lalu menderita dan mati untuk menebus dosa kita, dan sekarang telah tersedia jalan untuk selamat bagi kita.

Ingat hal ini sekali lagi: Ia adalah hadiah untuk seluruh dunia / segala bangsa, dan bagi seluruh dunia / segala bangsa hanya ada satu hadiah ini. Tidak ada banyak hadiah, tidak ada banyak Penebus / Juruselamat, hanya satu, yaitu Yesus Kristus!

Kis 4:12 - “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.’”.
1Yoh 5:11-12 - “(11) Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam AnakNya. (12) Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup”.
Yoh 14:6 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”.

Calvin: our salvation must not be sought any where else than in Christ (= keselamatan kita tidak boleh dicari di tempat lain manapun juga selain dalam Kristus).

Calvin juga mengatakan kebalikannya: “not the least drop of salvation can be found out of Christ” (= tidak satu tetes terkecilpun dari keselamatan bisa ditemukan di luar Kristus).

IV) Apa yang harus kita lakukan?


Terimalah hadiah itu, dengan menerima / percaya kepada Kristus. Maka saudara tidak akan binasa, tetapi memiliki hidup kekal.

“God (the greatest lover) so loved (the greatest degree) the world (the greatest number) that He gave (the greatest act) His only begotten Son (the greatest gift) that whosoever (the greatest invitation) believeth (the greatest simplicity) in Him (the greatest person) should not perish (the greatest deliverance), but (the greatest difference) have (the greatest certainty) everlasting life (the greatest possession)[= Allah (pecinta terbesar) begitu mengasihi (tingkat terbesar) dunia (jumlah terbesar) sehingga Ia memberikan (tindakan terbesar) AnakNya yang tunggal (pemberian / hadiah terbesar) supaya barangsiapa (undangan terbesar) percaya (kesederhanaan terbesar) kepada Dia (pribadi terbesar) tidak binasa (pembebasan terbesar), tetapi (perbedaan terbesar) mempunyai (kepastian terbesar) hidup yang kekal (milik yang terbesar)] - John 3:16.

1)   Tidak binasa.
Kata ‘binasa’ bukan hanya menunjuk pada kematian, tetapi pada perpisahan kekal dengan Allah dan pada hukuman kekal di neraka.

2Tes 1:9 - “Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatanNya.

Wah 21:8 - “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.’”.

‘Tidak binasa’ disebut sebagai ‘the greatest deliverance’ (= pembebasan terbesar)! Memang kalau kita dibebaskan dari problem, penyakit dsb, kita senang juga. Tetapi apa gunanya kaya, sehat, hidup tanpa problem di dunia ini, kalau nanti harus masuk neraka selama-lamanya? Kalau harus memilih, enak jadi Lazarus atau orang kayanya? Jadi, ‘tidak binasa’ ini yang terpenting; ini adalah pembebasan terbesar!

2)   Hidup yang kekal.

a)   Kata ‘hidup’ kontras dengan ‘binasa’, dan kontras itu juga ditunjukkan oleh kata ‘tetapi’.
Dan kata ‘tetapi’ ini mengkontraskan sedemikian rupa sehingga disebut sebagai ‘the greatest difference’ (= perbedaan terbesar).
Pada saat mereka masih hidup di dunia, maka ada kontras yang besar antara Lazarus dan orang kaya. Tetapi setelah mereka mati, keadaan terbalik, dan kontrasnya jauh lebih besar lagi. Memang antara surga dan neraka ada perbedaan yang layak disebut sebagai ‘the greatest difference’ (= perbedaan terbesar).

b)   Kata ‘kekal’ berarti selama-lamanya. Kalau bisa berhenti / hilang itu namanya tidak kekal.

Bdk. Yoh 10:28-29 - “(28) dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. (29) BapaKu, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa”.

Ini jelas menunjukkan bahwa keselamatan tidak bisa hilang!

c)   Ini disebut sebagai ‘the greatest possession’ (= milik yang terbesar).
Lenski: “Not to perish is to have; not to have is to perish” [= Tidak binasa artinya mempunyai (hidup kekal); tidak mempunyai (hidup kekal) artinya binasa] - hal 265.

Apapun yang saudara punyai, itu tidak ada artinya sama sekali kalau saudara tidak mempunyai hidup yang kekal ini!

Mat 16:26 - “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”.

d)   Siapapun yang percaya kepada Yesus dikatakan ‘mempunyai’ hidup yang kekal.
Ini disebut ‘the greatest certainty’ (= kepastian terbesar). Jadi, keselamatan / hidup kekal itu bukan hanya mungkin / kemungkinan besar diterima, tetapi pasti diterima!

3)   Percaya kepada Dia (Yesus Kristus).

Cara / jalan supaya tidak binasa tetapi beroleh hidup kekal adalah dengan percaya kepada Yesus Kristus.
Karena sudah adanya korban Yesus Kristus, maka jalan untuk selamat itu menjadi begitui sederhana dan mudah, yaitu hanya dengan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Cara / jalan ini disebut sebagai ‘the greatest simplicity’ (= kesederhanaan terbesar).
Kita tidak mempercayai keselamatan karena perbuatan baik ataupun karena iman + perbuatan baik! Ini merupakan cara / jalan yang ruwet! Semboyan Reformasi adalah SOLA FIDE (= hanya iman).

Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.

Tetapi karena begitu sederhana, banyak orang lalu meremehkan cara / jalan ini. Tetapi kalau saudara tidak mau jalan yang sederhana ini, tidak ada jalan untuk selamat!

Dan satu hal lagi: ini ditawarkan kepada ‘whosoever’ (= siapapun). Dan ini disebut sebagai ‘the greatest invitation’ (= tawaran / undangan yang terbesar). Jangan sia-siakan undangan ini! Mari kita merayakan Natal tahun ini dengan menerima hadiah terbesar dari Allah itu, dengan percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, dan bahkan dengan membagikannya / menceritakannya kepada orang-orang lain. Maukah saudara? Selamat hari Natal, Tuhan memberkati saudara semua.




-AMIN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar