Minggu, 13 April 2014

HERMENEUTICS (2)

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div



Prinsip-prinsip Hermeneutics

I) Jangan melepas ayat dari kontexnya (Out of context).


Supaya kita tidak melepas ayat dari kontexnya, maka kita harus:

1)   Memperhatikan seluruh kontex, dan kadang-kadang kita bahkan harus memperhatikan juga kontex sebelum dan sesudah kontex yang kita bahas. Ini penting sekali kita lakukan pada waktu mendengar suatu pelajaran atau membaca buku. Pada saat pengajar / penulis mengajarkan sesuatu dan memberikan satu ayat Kitab Suci sebagai dasar, maka kita perlu melihat kontex dari ayat itu untuk melihat apakah ayat itu ditafsirkan secara out of context atau tidak. Perlu diingat bahwa banyak sekali orang menggunakan / menafsirkan ayat tanpa mempedulikan kontexnya.

Contoh:

a)   Mat 28:20b - “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”, sering dikutip oleh pendeta dalam upacara pemberkatan nikah untuk memberikan janji penyertaan Tuhan bagi orang-orang yang menikah. Tetapi kalau kita lihat dari kontexnya (baca mulai Mat 28:18), maka jelaslah bahwa janji penyertaan Tuhan dalam Mat 28:20b itu hanya berlaku bagi orang-orang kristen yang mengabarkan Injil. Ini tidak berarti bahwa Yesus tidak menyertai orang kristen yang tidak memberitakan Injil. Yesus memang menyertai semua orang kristen, tetapi untuk itu harus digunakan ayat yang sesuai seperti Ibr 13:5b atau Yoh 14:16.

b)   Mat 5:37a, yang berbunyi: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak”, sering dikutip untuk menekankan kejujuran / melarang dusta, tetapi kalau kita lihat kontexnya (baca mulai Mat 5:33), maka jelaslah bahwa Mat 5:37a sama sekali tidak berhubungan dengan kejujuran, tetapi berhubungan dengan sumpah (demikian juga dengan Yak 5:12).

c)   Mat 15:24 (Yesus berkata: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”) dan Kis 11:2-3,19 (dimana orang-orang kristen hanya memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja) dikutip dalam pembukaan suatu Kitab Suci agama lain, untuk menyerang kekristenan dan menunjukkan bahwa Yesus sebetulnya datang hanya untuk bangsa Yahudi saja. Tetapi, kalau kita membaca seluruh kontexnya, yaitu Mat 15:21-28 dan Kis 11:1-20, maka jelaslah bahwa bagian-bagian itu sama sekali tidak mengajarkan demikian.

d)   1Kor 14:33,40 sering dikutip oleh banyak orang untuk menyerang aliran lawannya, yang dianggapnya sebagai ajaran yang kacau.
Contoh:

·     Saksi Yehuwa menggunakan ayat ini untuk menyerang doktrin tentang Allah Tritunggal yang dianggapnya sebagai suatu kekacauan.
“Tetapi, dengan berkukuh bahwa Tritunggal adalah misteri yang begitu membingungkan karena berasal dari wahyu ilahi, mereka menciptakan problem besar lain. Mengapa? Karena dalam wahyu ilahi itu sendiri tidak ada pandangan demikian mengenai Allah: ‘Allah ... bukan Allah yang suka pada kekacauan,’ - 1 Korintus 14:33” - ‘Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?’, hal 4-5.

·         Pdt. dr. Yusuf B. S. menggunakan ayat ini untuk menyerang ajaran Calvinisme / Predestinasi yang dianggapnya sebagai kekacauan.
“Itu (doktrin Predestinasi) bertentangan dengan tawaran yang sudah diberikanNya kepada manusia misalnya: Yoh 1:12 / 3:16 dan sebagainya. Ia selalu berkata: ‘Barangsiapa yang mau percaya ...’, ‘Siapa yang mau ...’ Kalau ternyata sudah ditentukan lebih dahulu, itu berarti Allah bohong, ini tidak mungkin! Allah itu tidak kusut (1Kor 14:33), dan tidak mungkin berdusta (Tit 1:2 / Ibr 6:18 / Bil 23:19)” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 42.

Padahal kalau dilihat kontexnya (seluruh 1Kor 14), maka jelas terlihat bahwa yang dimaksud dengan ‘kekacauan’ dalam 1Kor 14:33 adalah ‘kekacauan dalam kebaktian’ [misalnya kalau semua orang berbahasa Roh (1Kor 14:27-28) atau semua orang bernubuat (1Kor 14:29-32)], dan yang dimaksud dengan ‘Allah menghendaki damai sejahtera dan keteraturan’ adalah ‘Allah menghendaki keteraturan / ketertiban dalam kebaktian’. Jadi ayat-ayat tersebut tidak berhubungan dengan ajaran yang kacau atau hidup seseorang yang kacau, atau rumah tangga yang kacau, tetapi dengan kebaktian yang kacau dan tidak tertib. Menggunakan ayat ini untuk menyerang ajaran yang dianggap kacau, merupakan suatu penafsiran / penggunaan ayat yang out of context!

e)   2Kor 8:9 sering dipakai oleh para pengajar Theologia Kemakmuran untuk mengatakan bahwa orang kristen harus kaya secara jasmani. Tetapi kalau saudara membaca kontexnya mulai 2Kor 8:1, maka saudara akan melihat bahwa yang Paulus maksudkan dengan ‘supaya kamu menjadi kaya’ dalam 2Kor 8:9 adalah kaya secara rohani.

f)    Mat 6:33 juga sering digunakan oleh para pengajar Theologia Kemakmuran untuk mendukung ajaran mereka. Mereka menafsirkan bahwa kata-kata ‘semuanya itu akan ditambahkan kepadamu’ dalam Mat 6:33 itu menunjukkan bahwa Allah akan memberikan segala sesuatu kepada mereka sehingga mereka akan menjadi kaya. Tetapi ini lagi-lagi merupakan suatu penafsiran yang tidak mempedulikan kontexnya / out of context, karena kalau saudara membaca kontexnya, yaitu Mat 6:25-34, saudara akan melihat bahwa yang dibicarakan adalah kebutuhan pokok manusia, seperti makanan, minuman, dan pakaian. Jadi, berdasarkan kontex, haruslah ditafsirkan bahwa kata ‘semuanya’ dalam Mat 6:33 itu menunjuk pada kebutuhan pokok manusia.

g)   Banyak orang menggunakan Mat 10:19-20 untuk mengatakan bahwa kalau pendeta mau berkhotbah ia tidak perlu mempersiapkan khotbah, karena Tuhan berjanji akan memberikan pimpinan dalam berkhotbah. Ini lagi-lagi merupakan penafsiran yang out of context, karena kalau kita membaca Mat 10:17-18 maka kita akan melihat dengan jelas bahwa janji itu diberikan oleh Tuhan pada saat kita ditangkap dan diadili karena iman kita kepada Yesus. Jadi jelas bahwa janji ini tak berlaku untuk pendeta yang mau berkhotbah dalam kebaktian biasa.

h)  Dalam bukunya yang berjudul ‘Jangan Batasi Allah Bila Ingin Bahagia Sejahtera’, Morris Cerullo berkata:
“Kehendak Tuhan ialah mencurahkan berkatNya atas diri anda dan memenuhi segala kebutuhan anda. Tuhan menghendaki agar anda dapat hidup sehat, berbahagia dan serba berkelimpahan” (hal 34).
Sebagai dasar Kitab Sucinya, Morris Cerullo lalu mengutip 3Yoh 2 (terjemahan lama), yang berbunyi: “Hai kekasihku, aku berdoa supaya engkau selamat dan sehat walafiat di dalam segala sesuatu, sebagaimana jiwamupun selamat”.
Padahal kalau saudara melihat ayat itu dalam surat 3 Yohanes, maka saudara bisa melihat dengan jelas bahwa itu adalah salam yang diberikan oleh rasul Yohanes kepada Gayus, kepada siapa surat itu sebetulnya ditujukan.
Menggunakan salam yang ditujukan kepada individu tertentu, sebagai suatu dasar dari ajaran yang berlaku untuk semua orang / umum, jelas merupakan suatu penafsiran yang out of context.

2)   Memperhatikan fokus / arah / tujuan dari kontex itu.
Dalam menafsirkan suatu ayat, kita harus menafsirkannya sesuai / searah dengan fokus / arah / tujuan kontex, contohnya:

a)   1Kor 6:19 penekanan kontexnya adalah bahwa kita harus suci karena Allah diam di dalam tubuh kita. Tetapi orang yang tidak mempedulikan fokus dari kontex ini lalu bisa mendapatkan ajaran Trichotomy dari ayat ini, dengan menafsirkan bahwa Bait Allah terdiri dari 3 bagian, yaitu: Pelataran / halaman, Ruang Suci, Ruang Maha Suci. Jadi manusia yang adalah Bait Allah juga terdiri dari 3 bagian: tubuh, jiwa, dan roh.
Penafsiran seperti ini bukan hanya tidak sesuai dengan arah kontex yang berbicara tentang keharusan menguduskan diri, tetapi juga tidak sesuai dengan arti kata Yunaninya, karena dalam bahasa Yunani ada 2 kata yang bisa diartikan Bait Allah. Kata yang pertama adalah HIERON dan kata yang kedua adalah NAOS. Kata HIERON menunjuk pada seluruh Bait Allah beserta pelatarannya, dan kata ini digunakan misalnya dalam Yoh 2:14,15 (orang-orang itu berjualan di Pelataran / halaman Bait Allah, bukan dalam Ruang Suci atau Ruang Maha Suci). Tetapi kata NAOS hanya menunjuk pada Ruang Suci dan Ruang Maha Suci, dan tidak mencakup Pelataran / halamannya, dan kata inilah yang digunakan dalam 1Kor 6:19 (juga dalam 1Kor 3:16), sehingga sebetulnya ‘Bait Allah’ di sini hanya terdiri dari 2 bagian, bukan 3 bagian!

b)   Yoh 15:1-7 penekanan kontexnya adalah: kita harus terus bersekutu dengan Tuhan. Ada ajaran sesat, yang tanpa mempedulikan fokus ini, lalu berkata: Bapa adalah pengusaha dan Yesus adalah pokok anggur, maka jelaslah bahwa Yesus diciptakan oleh Bapa.

II) Jangan menafsirkan ayat sehingga menentang ayat lain.


1)   Calvin: “Scripture interprets Scripture” (= Kitab Suci menafsirkan Kitab Suci). Jadi kita harus membanding-bandingkan semua bagian-bagian Kitab Suci yang berhubungan dengan ayat yang sedang kita tafsirkan, untuk bisa mendapatkan arti yang benar dari ayat tersebut.

Contoh:

a) Banyak orang yang menggunakan ayat-ayat seperti Mat 7:7  Mark 11:23-24  Yoh 15:7b untuk mengajarkan bahwa asal kita betul-betul berdoa dengan iman, maka Tuhan pasti akan mengabulkan semua permintaan kita, apapun adanya permintaan itu.
Tetapi penafsiran ini dilakukan tanpa menghiraukan ayat-ayat seperti:
·         Mat 7:11 yang mengatakan bahwa Tuhan hanya memberi yang baik kepada kita. Jelas bahwa yang dimaksud ‘baik’ adalah dari sudut Tuhan, bukan dari sudut kita.
·         1Yoh 5:14 yang mengatakan bahwa Tuhan hanya mengabulkan permintaan kita kalau hal itu sesuai dengan kehendakNya / rencanaNya. Bdk. Mat 6:10  Mat 26:39b dimana Yesus mengajar kita supaya menundukkan doa kita kepada kehendak Allah.
·         2Kor 12:7-10 yang menunjukkan bahwa orang seperti rasul Pauluspun doanya bisa tidak dikabulkan.

b)   Banyak orang menyoroti ayat-ayat seperti Mat 12:15b  Mat 14:36  Mat 15:30 (yang menunjukkan bahwa Yesus menyembuhkan semua orang), lalu mengatakan bahwa Tuhan selalu mau menyembuhkan semua orang, dan karena itu orang kristen harus sembuh dari penyakit. Tetapi penafsiran ini dilakukan tanpa menghiraukan ayat-ayat seperti:
·     2Kor 12:7-10 yang menunjukkan bahwa Paulus tidak disembuhkan dari duri dalam dagingnya.
·         Yoh 5:1-9 dimana sekalipun ada banyak orang yang sakit (Yoh 5:3), tetapi hanya satu orang yang disembuhkan oleh Yesus, yaitu orang yang lumpuh selama 38 tahun.
·         Luk 5:15-16 dimana pada waktu ada banyak orang datang kepadaNya untuk disembuhkan, Yesus justru meninggalkan mereka dan mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi.

c)  Banyak orang berdasarkan Mat 19:6 dan Mal 2:16 mengatakan bahwa orang kristen mutlak tidak boleh bercerai. Tetapi penafsiran ini dilakukan tanpa menghiraukan ayat-ayat seperti Mat 5:32 dan Mat 19:9 yang mengatakan secara jelas bahwa ada satu keadaan dimana seorang kristen boleh menceraikan pasangannya, yaitu kalau pasangannya berzinah (perzinahan fisik). Bdk. Yer 3:8.

d)   Dalam Perjanjian Lama ada banyak tokoh saleh, seperti Daud, Salomo, Abraham, dsb yang menganut polygamy. Dan Tuhan tidak mengapa-apakan mereka, bahkan memberkati mereka. Berdasarkan hal ini banyak orang lalu berkata bahwa polygamy memang diijinkan oleh Tuhan. Tetapi penafsiran ini dilakukan tanpa menghiraukan ayat-ayat seperti Ro 7:2-3 yang mengatakan bahwa pernikahan kedua merupakan suatu perzinahan, kecuali kalau pasangannya telah mati..

e)   Banyak orang berdasarkan Mat 7:1-2 mengatakan bahwa kita sama sekali tidak boleh menyalahkan orang, menganggapnya sesat dsb, karena ini semua adalah menghakimi. Tetapi penafsiran seperti ini bertentangan dengan:
·         Mat 7:6,15-dst, karena kita tidak akan dapat mentaati ayat-ayat ini kecuali kita lebih dulu menilai (menghakimi) siapa yang termasuk dalam golongan babi, anjing, dan nabi palsu.
·    Yoh 7:24 dimana Yesus berkata: “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil”.
·  bagian-bagian dimana Yesus, rasul-rasul, nabi-nabi menyalahkan orang, menganggapnya sesat dsb.

f)  Banyak orang yang secara extrim mengharuskan untuk menghan-curkan semua patung, tak peduli itu adalah patung berhala atau patung seni. Ini mereka dasarkan pada Kel 20:4. Tetapi penafsiran seperti ini bertentangan dengan Kel 25:18-20 dan Bil 21:4-9 dimana Tuhan sendiri menyuruh membuat patung.

g)   Banyak orang berdasarkan Mat 5:34 melarang sumpah secara mutlak. Tetapi penafsiran ini bertentangan dengan:
·      ayat-ayat dimana Paulus berulangkali bersumpah (Ro 1:9  Ro 9:1  2Kor 1:23 dsb).
·         Kel 22:10-11 dimana dalam kasus tertentu Tuhan justru mengha-ruskan sumpah.
·         Ibr 6:16 - “Sebab manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala bantahan”.

h)  Banyak orang berdasarkan Mat 18:15-17 mengatakan bahwa semua peneguran harus dilakukan di bawah 4 mata. Tetapi ini bertentangan dengan:
·         Gal 2:11-14 dimana Paulus menegur Petrus di depan banyak orang.
·         1Tim 5:20 yang jelas menunjukkan bahwa ada kasus dimana penegurannya harus dilakukan di depan orang banyak.

Charles Hodge: “The Bible, however, is the word of God and therefore self-consistent. Consequently if a passage admits of one interpretation inconsistent with the teaching of the Bible in other places, and of another interpretation consistent with that teaching, we are bound to accept the latter. This rule, simple and obvious as it is, is frequently violated, not only by those who deny the inspiration of the Scriptures, but even by men professing to recognize their infallible authority” (= Bagaimanapun juga Alkitab adalah Firman Allah dan karena itu konsisten dengan dirinya sendiri. Sebagai konsekwensinya jika suatu text memungkinkan satu penafsiran yang tidak konsisten dengan ajaran Alkitab di tempat-tempat lain, dan suatu penafsiran lain yang konsisten dengan ajaran itu, kita harus menerima penafsiran yang terakhir. Peraturan ini, sekalipun kelihatannya sederhana dan jelas, sering dilanggar, bukan hanya oleh mereka yang menyangkal pengilhaman Kitab Suci, tetapi bahkan oleh mereka yang mengaku mengenali otoritasnya yang tidak bisa salah) - ‘Systematic Theology’, vol III, hal 167.

2)   Dari semua ini jelas sekali terlihat bahwa hafalan ayat Kitab Suci adalah sesuatu yang penting! Karena itu berusahalah untuk bisa menghafal banyak ayat Kitab Suci. Satu kunci dalam kesuksesan menghafal ayat adalah banyak menggunakannya / memberitakannya. Kalau saudara menjadi pengkhotbah, guru sekolah minggu, atau penginjil pribadi dan saudara banyak menggunakan ayat Kitab Suci dalam mengajar / menyampaikannya kepada orang lain, maka saudara pasti akan bisa mengingat / menghafal banyak ayat Kitab Suci.

3)   Hal-hal yang bisa menolong kalau kita belum banyak hafal ayat Kitab Suci:

a)   Menggunakan headnote atau footnote dalam Kitab Suci untuk melihat bagian paralel dari bagian yang kita bahas.
Contoh: Apa artinya kata ‘benci’ dalam Luk 14:26? Kita bisa melihat pada footnote (di bawah Luk 14:35) tertulis Mat 10:37-38, yang menjelaskan arti kata ‘benci’ dalam Luk 14:26.

Catatan:
·         Dalam hal ini ada keuntungannya kalau saudara menggunakan Kitab Suci bahasa Inggris, karena footnotenya lebih lengkap, dengan catatan saudara memilih Kitab Suci bahasa Inggris yang mempunyai footnote (ada Kitab Suci bahasa Inggris yang sama sekali tidak mempunyai footnote).
·         headnote dan footnote bukan termasuk Firman Tuhan, dan karenanya tidak mutlak benar.
Contoh pemberian headnote yang salah:
*        Mat 25:14-30 (perumpamaan tentang talenta), pada headnotenya tertulis Luk 19:12-27 (perumpamaan tentang uang mina), padahal 2 perumpamaan itu berbeda.
*        Yoh 2:13-25 (Yesus menyucikan Bait Allah), pada headnotenya tertulis Mat 21:12-13  Mark 11:15-17  Luk 19:45-46, padahal penyucian Bait Allah dalam Injil Yohanes berbeda dengan penyucian Bait Allah dalam Matius, Markus dan Lukas, karena yang dalam Yohanes terjadi pada awal pelayanan Yesus, sedangkan yang dalam Matius, Markus dan Lukas terjadi pada akhir pelayanan Yesus.

b)   Menggunakan Concordance (= konkordansi) / Nave’s Topical Bible, Thompson Bible, dsb.
Misalnya: kita mendengar khotbah tentang persembahan persepu-luhan. Kita bisa mengechek pada Nave’s Topical Bible dengan melihat pada bagian ‘TITHES’  (= persembahan persepuluhan) dimana tertulis:
“TITHES. Paid by Abraham to Melchizedek, Gen 14:20; Heb 7:2-6. Jacob vows a tenth of all his property to God, Gen 28:22. Mosaic laws instituting, Lev 27:30-33; Num 18:21-24; Deut 12:6,7,17,19; 14:22-29; 26:12-15. Customs relating to, Neh 10:37-38; Amos 4:4; Heb 7:5-9. Tithe of tithes for priests, Num 18:26; Neh 10:38. Stored in the temple, Neh 10:38,39; 12:44 13:5,12; 2Chro 31:11,12; Mal 3:10. Payment of, resumed in Hezekiah's reign, 2Chro 31:5-10. Under Nehemiah, Neh 13:12. Withheld, Neh 13;10; Mal 3:8. Customary in later times, Matt 23:23; Luke 11:42; 18:12. Observed by idolators, Amos 4:4,5.” (= Persembahan persepuluhan. Dibayarkan oleh Abraham kepada Melkisedek, Kej 14:20; Ibr 7:2-6. Yakub menazarkan sepersepuluh dari semua miliknya kepada Allah, Kej 28:22. Hukum Musa menetapkannya, Im 27:30-33; Bil 18:21-24; Ul 12:6,7,17,19; 14:22-29; 26:12-15. Kebiasaan yang berhubungan dengan, Neh 10:37-38; Amos 4:4; Ibr 7:5-9. Persembahan persepuluhan dari persembahan persepuluhan untuk imam, Bil 18:26; Neh 10:38. Disimpan di Bait Allah, Neh 10:38,39; 12:44 13:5,12; 2Taw 31:11,12; Mal 3:10. Pembayaran dari, dilanjutkan dalam pemerintahan Hizkia, 2Taw 31:5-10. Di bawah Nehemia, Neh 13:12. Ditahan, Neh 13;10; Mal 3:8. Kebiasaan pada masa belakangan, Mat 23:23; Luk 11:42; 18:12. Ditaati oleh penyembah berhala, Amos 4:4,5).

Dengan melihat bagian ini kita bisa melihat semua ayat-ayat dalam Kitab Suci tentang tithe / persembahan persepuluhan, sehingga kita dengan mudah bisa mengecheck apakah khotbah itu bertentangan dengan bagian lain dari Kitab Suci atau tidak.

c)   Menggunakan buku-buku tafsiran, tetapi tentu saja harus memilih buku tafsiran yang baik. Disamping itu, kalau menggunakan buku tafsiran, sedapat mungkin gunakan beberapa buku tafsiran, bahkan sebanyak mungkin buku tafsiran, karena dengan demikian kalau ada satu yang memberi penafsiran yang salah, maka yang lain bisa mengoreksi.

III) Telitilah siapa yang berbicara dalam suatu ayat.


Kalau Tuhan yang berbicara, itu pasti betul. Kalau manusia yang berbicara, bisa betul, bisa salah. Kalau setan yang berbicara, bisa betul, bisa salah.
Contoh:
·         dalam Ayub 22:4-dst, kata-kata Elifas salah.
·         dalam Ayub 4:17, kata-kata Elifas betul.
·         dalam Luk 4:6, kata-kata setan salah.
·         dalam Luk 4:41, kata-kata setan betul.

IV) Telitilah untuk siapa firman itu ditujukan.


Ada orang kristen yang berkata bahwa semua janji Tuhan adalah Ya dan Amin untuk dirinya. Kelihatannya hebat dan beriman, tetapi sebetulnya salah! Mengapa? Karena tidak semua perintah maupun janji Tuhan berlaku untuk setiap orang.

1)   Ada bagian-bagian yang memang ditujukan untuk semua orang, misalnya: Kel 20:3-17 (10 Hukum Tuhan), Yoh 3:16, dsb.

2)   Ada bagian-bagian yang ditujukan untuk bangsa Israel pada masa itu saja, atau pada jaman Perjanjian Lama saja, misalnya:
·         perintah untuk menumpas habis suatu bangsa (Ul 7:1-2). Holy War (= Perang suci) seperti ini tidak mungkin ada lagi dalam jaman sekarang.
·         bagian-bagian seperti Kel 23:20-33  Im 26:1-46 (berkat dan kutuk).
·         perintah untuk mendirikan Kemah Suci (Kel 25-dst). Kalau pada jaman Perjanjian Baru orang Yahudi mendirikan lagi Kemah Suci / Bait Allah, maka itu justru adalah dosa.
·         perintah untuk sunat dan mengadakan Perjamuan Paskah (Kej 17:10-dst  Kel 12-13).
·         perintah untuk mengorbankan binatang pada waktu berbuat dosa (Im 4-5).
·         perintah untuk menggunakan abu lembu merah untuk penyucian dosa (Bil 19:1-10).
Ef 2:15 merupakan dasar penghapusan ceremonial law (= hukum yang berhubungan dengan upacara keagamaan). Kalau ini masih kurang meyakinkan, bacalah Ibr 10:1-18, yang membandingkan korban binatang dalam Perjanjian Lama, dan korban Kristus dalam Perjanjian Baru. Lalu perhatikan secara khusus:
*        Ibr 10:9b yang berbunyi: “Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua”.
‘Yang pertama’ jelas menunjuk pada korban binatang dalam Perjanjian Lama, sedangkan ‘yang kedua’ jelas menunjuk pada korban Kristus.
*        Ibr 10:18 yang berbunyi: “Jadi apabila untuk semuanya itu ada pengampunan, tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa”.
Kalau saudara masih juga belum puas, bacalah Ibr 8-9, dan perhatikan khususnya:
*        Ibr 8:7 - “Sebab, sekiranya perjanjian yang pertama itu tidak bercacat, tidak akan dicari lagi tempat untuk yang kedua”.
*        Ibr 8:13 - “Oleh karena Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya”.
*        Ibr 9:9-10 - “(9) Itu adalah kiasan masa sekarang. Sesuai dengan itu dipersembahkan korban dan persembahan yang tidak dapat menyempurnakan mereka yang mempersembahkannya menurut hati nurani mereka, (10) karena semuanya itu, di samping makanan dan minuman dan pelbagai macam pembasuhan, hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, yang hanya berlaku sampai tibanya waktu pembaharuan”.
Semua ini jelas menunjukkan bahwa ceremonial law, termasuk korban dan penyucian Perjanjian Lama sudah tidak berlaku lagi pada jaman Perjanjian Baru sekarang ini.
Karena itu, kalau pada jaman sekarang (jaman Perjanjian Baru) orang melakukan kembali ceremonial law seperti itu, maka itu merupakan penghinaan terhadap pengorbanan Kristus. Kalau hal ini dilakukan oleh bangsa Yahudi yang non kristen, maka sekalipun ini tetap salah, tetapi ini tidak mengherankan, karena mereka memang hidup dalam jaman Perjanjian Lama dan tidak mengakui Perjanjian Baru. Tetapi kalau ada orang kristen, lebih-lebih pendeta kristen, yang menyetujui hal itu, ini betul-betul kegilaan dan kesesatan! Tidak ada orang / bangsa manapun dalam jaman Perjanjian Baru ini yang bisa disucikan dengan apapun (termasuk dengan ‘lembu merah’) selain dengan darah Kristus. Dengan kata lain, supaya seseorang atau suatu bangsa (termasuk bangsa Israel / Yahudi) bisa disucikan, maka ia / mereka harus percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan!

Mungkin ada orang yang menggunakan Bil 19:10, yang menunjukkan bahwa itu adalah ‘ketetapan untuk selama-lamanya, untuk menentang apa yang saya katakan di sini.
Untuk menjawab ini saya ingin mengingatkan bahwa dalam Kej 17:13 sunat juga disebut sebagai ‘perjanjian yang kekal! Apakah saudara mau mengatakan bahwa jaman sekarang kita juga harus disunat? Ini jelas tidak mungkin (bdk. Gal 5:2-6  Gal 6:12-15). Calvin menganggap bahwa yang kekal bukan pelaksanaan sunat itu, tetapi artinya. Juga sunat merupakan TYPE / gambaran / bayangan dari baptisan, dan karena itu pada waktu baptisan tiba maka sunat harus disingkirkan.
Demikian juga dengan perayaan Paskah Perjanjian Lama (Passover), yang dalam Kel 12:14 disebutkan sebagai ‘ketetapan untuk selamanya. Ini merupakan TYPE / gambaran / bayangan dari Kristus (1Kor 5:7 - “Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus”), dan karena itu pada waktu Kristusnya datang, mati dan bangkit, maka hal ini harus disingkirkan.
Jadi, sekalipun sunat dan Paskah disebut ‘perjanjian yang kekal / ‘ketetapan untuk selamanya, itu tidak berarti pelaksanaan sunat dan Paskah itu kekal. Maka demikian juga dengan persoalan lembu merah!

3)   Ada bagian-bagian yang ditujukan untuk orang kristen / percaya saja, seperti: Ro 8:28  1Kor 10:13  Yer 29:11 (bdk. Yer 21:10).
Karena itu, dalam menghibur atau mengcounsel orang kafir / kristen KTP, jangan menggunakan ayat-ayat ini dan menerapkannya bagi mereka.

4)   Ada bagian-bagian yang ditujukan untuk orang-orang tertentu saja, misalnya:
·         Mat 28:20b, ditujukan hanya untuk orang yang memberitakan Injil.
·         Mat 10:16-20, ditujukan hanya untuk orang-orang kristen yang dihadapkan kepada penguasa-penguasa. Bagian ini tidak berlaku untuk pengkhotbah yang mau berkhotbah dalam kebaktian biasa!

5)   Ada bagian-bagian yang ditujukan untuk 1 individu saja, mis:
·         Luk 1:26-35 - untuk Maria saja.
·         Mat 1:20,21 - untuk Yusuf saja.
·         Mat 14:28,29 - untuk Petrus saja.
·         Mat 19:21 - untuk pemuda kaya itu saja.

Catatan: Ini bukan berarti bahwa bagian-bagian yang bukan untuk kita itu tidak ada artinya sama sekali. Kita bisa menarik ‘pelajaran’ yang berharga dari bagian-bagian itu, misalnya:
¨      Mat 14:28-29 memang tidak berarti bahwa kita boleh mencoba untuk berjalan di atas air, tetapi bagian itu mengajar kita untuk tetap percaya dan memandang pada Yesus dalam setiap keadaan.
¨      Mat 19:21 memang tidak berarti bahwa kita harus menjual semua harta kita dan membagi-bagikannya pada orang miskin. Tetapi bagian ini mengajarkan bahwa kita harus mengasihi Kristus lebih dari harta kita.

6)   Ada bagian-bagian yang hanya ditujukan untuk orang-orang tertentu pada satu saat saja.
Misalnya kata-kata Yesus dalam Mat 10:5-10. Orang-orang kristen yang extrim sering menggunakan bagian ini sebagai dasar untuk mengatakan bahwa kitapun diperintahkan oleh Yesus untuk membangkitkan orang mati. Ini salah, karena kata-kata ini hanya berlaku untuk para murid pada saat itu saja. Apa alasannya untuk mengatakan bahwa kata-kata ini hanya berlaku untuk para murid pada saat itu saja? Alasannya: pada saat itu mereka hanya boleh memberitakan Injil kepada orang-orang Israel / Yahudi saja, sedangkan Mat 28:19 menyuruh untuk memberitakan Injil kepada segala bangsa. Juga pada saat itu mereka dilarang membawa bekal, tetapi dalam Luk 22:36 mereka disuruh membawa bekal. Jadi jelas bahwa perintah dalam Mat 10:5-dst itu sudah dianulir / dihapuskan oleh Yesus sendiri!

V) Ayat mudah dan ayat sukar.


Dalam Kitab Suci ada ayat-ayat yang mudah / jelas, tetapi ada juga ayat-ayat yang sukar. Adanya ayat-ayat yang sukar dalam Kitab Suci diakui oleh Kitab Suci sendiri (2Pet 3:15-16). Ada banyak pengajar sesat yang senang menggunakan ayat-ayat yang sukar (misalnya dari kitab Wahyu), supaya mereka bisa menafsirkannya semau mereka. Harus kita ingat bahwa kalau kita menafsirkan ayat yang sukar, maka kemungkinan untuk salah adalah besar. Sedangkan kalau kita menafsirkan ayat yang mudah, kemungkinan untuk salah adalah kecil. Jadi kita harus menggunakan ayat-ayat yang mudah / jelas dalam Kitab Suci untuk mengecheck penafsiran ayat-ayat sukar dalam Kitab Suci.

Contoh:

1)   Wah 7:4-8 adalah ayat / bagian yang sukar. Ini dipakai oleh Saksi Yehuwa untuk mengajar bahwa nanti hanya ada 144.000 orang yang akan masuk surga. Tetapi dalam Kitab Suci, ada ayat-ayat yang lebih jelas, yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran itu. Wah 7:9 mengatakan “tak terhitung banyaknya”. Yoh 3:16 mengatakan bahwa setiap orang yang percaya kepada Kristus akan mendapat hidup kekal, dan mustahil bahwa dalam sepanjang jaman hanya ada 144.000 orang yang percaya kepada Kristus.

2)   Mat 5:5 adalah ayat yang sukar, dan ayat ini dipakai oleh Saksi Yehuwa untuk mengajar bahwa manusia (selain yang 144.000 orang yang masuk surga) akan tinggal di bumi. Tetapi 2Pet 3:10-12 (bdk. Wah 21:1b) secara jelas mengatakan bahwa pada hari kedatangan Kristus yang kedua-kalinya, semua (termasuk bumi) akan dihancurkan.

3)   1Pet 3:19-20 dan 1Pet 4:6 adalah ayat-ayat sukar.
Ini dipakai oleh orang-orang tertentu untuk mengajarkan bahwa setelah kematian masih ada harapan bagi orang-orang yang tidak percaya [adanya penginjilan terhadap orang yang sudah mati, adanya ‘second chance’ (= kesempatan kedua) bagi mereka dsb]. Tetapi Luk 16:19-31 (cerita Lazarus dan orang kaya) secara jelas menunjukkan bahwa tidak ada lagi harapan bagi orang yang tidak percaya setelah mereka mati. Dan Maz 88:12-13 juga secara jelas menunjukkan bahwa kasih Tuhan tidak bisa diberitakan setelah kematian!

Jadi, supaya kita bisa menghindari ajaran-ajaran sesat / salah yang menggunakan ayat-ayat sukar sebagai dasar, maka kita perlu belajar Kitab Suci kita dan menghafalkan ayat-ayat yang mudah / jelas. Dengan demikian kita bisa mengecheck ajaran-ajaran yang menggunakan ayat sukar sebagai dasar. Awas! Ini tidak berarti, kita harus menghindari ayat-ayat sukar! Kita tidak menghindarinya! Tetapi kita mempelajari yang mudah lebih dahulu dan lalu menggunakan pengertian dari ayat-ayat yang mudah itu untuk menafsirkan ayat-ayat yang sukar.

VI) Bagian yang bersifat explicit dan implicit.


Kata explicit berarti ‘tersurat’, sedangkan kata implicit berarti ‘tersirat’.
Bagian yang bersifat explicit adalah bagian yang memberikan pernyataan / ajaran langsung, sedangkan bagian yang bersifat implicit adalah bagian yang memberikan pernyataan / ajaran tidak langsung.

Contoh:

1)   Dalam pembicaraan sehari-hari:
Kalau si A berkata kepada si B: ‘Saya lapar’, maka si B dengan yakin bisa tahu bahwa si A sedang lapar, karena itu dikatakannya secara explicit. Tetapi si B juga bisa menduga-duga / menyimpulkan apa yang si A maksudkan secara implicit dengan kata-kata itu. Mungkin si A mengatakan dirinya lapar, dengan maksud supaya si B mengajaknya makan. Tetapi penafsiran implicit ini tentu tidak pasti benar, karena si B bisa saja salah dalam menarik kesimpulan seperti itu.

2)   Dalam penafsiran Kitab Suci:
Yoh 3:16 secara explicit mengajarkan bahwa:
·         Allah mencintai dunia.
·         Allah telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal.
·         Yang percaya kepada Anak Allah tidak akan binasa tetapi akan mendapat hidup kekal.
Sedangkan secara implicit Yoh 3:16 mengajarkan bahwa: Yang tidak percaya kepada Anak Allah / Yesus akan binasa / masuk neraka.

Jelas bahwa penafsiran yang explicit lebih kuat dari pada penafsiran implicit, dan karenanya, kalau sesuatu yang implicit bertentangan dengan sesuatu yang explicit, maka yang implicitlah yang harus dibuang.
Tetapi bagaimanapun juga, mengambil pengajaran / arti secara implicit dari suatu ayat adalah penting dan sah. Tuhan Yesus sendiri menggunakan bagian yang implicit dari suatu ayat untuk mengajar. Dalam Mat 22:23-33, Ia menggunakan bagian yang implicit dari Kel 3:6 untuk membuktikan adanya kebangkitan / kehidupan setelah kematian.
Dan pada waktu mengucapkan Mat 4:10 Yesus mengutip Ul 6:13, tetapi kalau dalam Ul 6:13 secara explicit tidak ada kata ‘hanya’ (tetapi jelas ada secara implicit), maka waktu mengucapkan Mat 4:10 Yesus memberi kata ‘hanya’ secara explicit.
Catatan: dalam NIV dan NASB, Ul 6:13 menggunakan kata ‘only’ (= hanya), tetapi ini sebetulnya tidak ada. Dan NASB mencetaknya dengan huruf miring untuk menunjukkan bahwa kata itu tidak ada dalam bahasa aslinya.

Bolehnya menarik ajaran implicit ini menyebabkan adanya tindakan-tindakan yang bisa dinyatakan sebagai salah, sekalipun tidak ada dasar secara explicit. Contoh yang jelas adalah tentang merokok, menjadi morfinist, menggunakan ecstasy dsb. Sekalipun secara explicit tidak ada ayat yang melarang hal-hal itu, tetapi secara implicit ada, seperti:
¨      Mat 22:39 selain menyuruh kita mengasihi sesama, juga menyuruh kita mengasihi diri sendiri. Merokok, menjadi morfinist, menggunakan ecstasy, dsb jelas merusak tubuh / kesehatan kita sendiri, dan karenanya jelas bertentangan dengan ayat ini. Bahkan merokok juga merusak kesehatan orang-orang di sekitar si perokok dengan memaksa mereka menjadi perokok pasif. Jadi tindakan merokok ini juga tidak mengasihi sesama.
¨      1Kor 10:23 yang berbunyi: “‘Segala sesuatu diperbolehkan,’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. ‘Segala sesua­tu diperbolehkan,’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun”.
Berdasarkan 1Kor 10:23 ini, maka merokok itu jelas tidak boleh dilakukan, karena merokok itu bukan saja tidak berguna dan tidak membangun, tetapi bahkan merusak / merugikan kesehatan si perokok maupun orang-orang yang di sekitarnya, dan juga merupakan penghamburan uang secara tidak perlu / tidak ada gunanya!
¨      1Kor 6:12 yang berbunyi: “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun”.
Ayat ini mempunyai kemiripan dengan 1Kor 10:23 di atas, tetapi ada tambahannya yang berbunyi ‘aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun’. Ini lebih-lebih lagi menentang tindakan merokok, menjadi morfinist dsb, karena hal-hal itu jelas memperbudak orangnya.

Sekalipun mengambil pengajaran secara implicit adalah suatu tindakan yang sah, tetapi ada juga bahayanya, yaitu kalau mengambilnya salah.

Contoh:
·         Mat 22:23-33 digunakan oleh banyak orang untuk mengajar bahwa nanti di surga kita tidak punya jenis kelamin. Tetapi bagian itu hanya mengatakan ‘tidak kawin dan tidak dikawinkan’, bukannya ‘tidak punya jenis kelamin’. Bandingkan dengan Luk 16:19-31, dimana Abraham disebut ‘Bapa’ (laki-laki).
·         1Tim 3:2,12 secara explicit mengajar bahwa penilik jemaat / diaken tidak boleh beristri lebih dari satu. Lalu ada orang yang menafsirkan secara implicit bahwa jemaat biasa boleh mempunyai istri lebih dari satu. Bandingkan ini dengan Ro 7:2-3 yang secara explicit melarang polygamy / polyandry.
·         Yoh 12:6 secara explicit mengatakan bahwa rombongan Tuhan Yesus mempunyai bendahara. Lalu para penganut Theologia Kemakmuran menafsirkan secara implicit dengan mengatakan bahwa Yesus itu kaya sehingga membutuhkan bendahara. Bandingkan ini dengan Luk 9:58 yang jelas menunjukkan kemiskinan Yesus.
·         Ul 18:22 mengatakan bahwa kalau seorang nabi menubuatkan suatu tanda, dan lalu tanda itu tidak terjadi, maka itu menunjukkan bahwa ia adalah seorang nabi palsu. Itu dinyatakan secara explicit, dan karenanya itu pasti benar. Tetapi kalau kita mengambil arti secara implicit, yaitu: kalau nubuat dari nabi itu terjadi, berarti ia pasti adalah nabi asli, maka ini bertentangan dengan Ul 13:1-5 dan juga Mat 7:22-23. Karena itu arti implicit itu tidak boleh diambil!
Pulpit Commentary tentang Ul 18:20: “The failure of the word of a prophet was decisive proof that he had not spoken by Divine inspiration. Had his word not failed, it would not have followed that he was a true prophet, but it showed conclusively that he was a false one when his word did fail” (= Kegagalan perkataan seorang nabi merupakan bukti yang meyakinkan bahwa ia tidak berbicara oleh ilham Ilahi. Jika perkataannya tidak gagal, tidak berarti bahwa ia adalah seorang nabi yang sejati, tetapi itu menunjukkan secara meyakinkan bahwa ia adalah seorang nabi palsu pada saat perkataannya gagal) - hal 315.

Supaya terhindar dari penafsiran implicit yang salah, maka sesuatu yang implicit harus dicheck dengan bagian-bagian lain dari Kitab Suci, kalau bisa yang bersifat explicit.

Contoh:
¨      Dalam Yoh 3:16, kata-kata ‘... setiap orang yang percaya kepadaNya’ ditafsirkan secara implicit untuk mengajar bahwa setiap orang mampu datang kepada Kristus. Tetapi Yoh 6:44,65 menyatakan secara explicit bahwa manusia tidak mempunyai kemampuan untuk datang kepada Kristus (bdk. 1Kor 12:3). Manusia hanya bisa datang kepada Kristus, kalau Allah menarik dia / mengaruniakan kepadanya. Jadi, di dalam hal ini, penafsiran secara implicit dari Yoh 3:16 tadi harus dibuang!
¨      Fil 2:12 dan Wah 2:10 ditafsirkan secara implicit untuk mengajarkan bahwa keselamatan bisa hilang. Tetapi Yoh 10:27-29 secara explicit menyatakan bahwa kita tidak mungkin kehilangan keselamatan. Jadi, di sini penafsiran implicit dari Fil 2:12 dan Wah 2:10 itu harus dibuang!
¨      Ro 7:18-19 ditafsirkan secara implicit untuk mengajarkan bahwa manusia bisa mempunyai kemauan yang baik, tetapi tetap tidak mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kemauan yang baik itu. Tetapi bandingkan dengan Fil 2:13 - “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya”. Ini terjemahannya kurang jelas. Perhatikan terjemahan-terjemahan Kitab Suci bahasa Inggris di bawah ini:
KJV: “For it is God which worketh in you both to will and to do of his good pleasure” (= Karena Allahlah yang bekerja dalam kamu baik untuk menghendaki maupun untuk melakukan dari kesenanganNya yang baik).
RSV: “for God is at work in you, both to will and to work for his good pleasure” (= karena Allah bekerja dalam kamu, baik untuk menghendaki maupun untuk mengerjakan untuk kesenanganNya yang baik).
NASB: “for it is God who is at work in you, both to will and to work for His good pleasure” (= karena Allahlah yang bekerja dalam kamu, baik untuk menghendaki maupun untuk mengerjakan untuk kesenanganNya yang baik).
NIV: “for it is God who works in you to will and to act according to his good purpose” (= karena Allahlah yang bekerja dalam kamu untuk menghendaki dan untuk berbuat menurut rencanaNya yang baik).
Jadi Fil 2:13 secara explicit mengatakan bahwa bukan hanya kekuatan, tetapi juga kemauan, untuk melakukan yang baik, harus diberikan oleh Allah.

VII) Bagian yang bersifat Descriptive dan Didactic.


1)   Bagian Kitab Suci yang bersifat Descriptive (= bersifat menggambarkan).
Bagian yang bersifat Descriptive adalah bagian yang berupa cerita yang terjadi sungguh-sungguh dan bersifat menggambarkan apa yang terjadi pada saat itu. Ini tidak boleh dipakai sebagai rumus / hukum / norma!
Illustrasi: Dalam hal ini, membaca dan menafsirkan Kitab Suci mempunyai persamaan dengan membaca dan menafsirkan surat kabar. Kalau saudara membaca surat kabar, dan di sana diceritakan tentang adanya orang yang terkena serangan jantung pada waktu nonton TV, maka hal ini tentu bukan norma / hukum. Cerita ini tentu tidak boleh ditafsirkan seakan-akan semua orang yang nonton TV pasti terkena serangan jantung. Juga kalau di surat kabar diceritakan adanya satu keluarga yang piknik ke Tretes dan lalu mengalami kecelakaan, sehingga mati semua. Ini tentu tidak boleh ditafsirkan seakan-akan semua orang yang piknik sekeluarga akan mengalami kecelakaan dan mati semua.

Contoh:
a)   Kel 14, yang menceritakan peristiwa dimana Allah membelah Laut Teberau sehingga bangsa Israel bisa menyeberang di tanah kering, adalah suatu bagian yang bersifat Descriptive (menggambarkan apa yang terjadi pada saat itu). Ini bukan rumus / norma / hukum, artinya, kita tidak diperintahkan untuk menyeberangi laut dengan cara seperti itu!
b)   Yos 6 yang menceritakan robohnya tembok Yerikho setelah dikelilingi selama 7 hari juga merupakan bagian yang bersifat Descriptive, sehingga tidak boleh dijadikan hukum / norma dalam peperangan.
c)   Kel 16:13-16 yang menceritakan pemberian manna kepada bangsa Israel di padang gurun, jelas juga merupakan bagian yang bersifat Descriptive, sehingga tidak boleh dijadikan sebagai rumus / norma dalam kehidupan orang kristen di padang gurun.
d)   Kis 5:18-19 dan Kis 12:3-11 menceritakan bahwa pada waktu rasul-rasul ditangkap dan dipenjarakan, Tuhan membebaskannya dengan menggunakan mujijat. Ini lagi-lagi merupakan bagian yang bersifat Descriptive, dan tidak boleh diartikan seakan-akan setiap orang kristen yang ditangkap / dipenjarakan pasti dibebaskan secara mujijat. Kenyataannya Yohanes Pembaptis dipenjarakan lalu dipenggal (Mat 14:3-12); Yesus sendiri ditangkap lalu disalibkan sampai mati, dan rasul Yakobus ditangkap lalu dipenggal (Kis 12:2).
e)   Yoh 11 menceritakan bahwa Yesus membangkitkan Lazarus yang sudah mati selama 4 hari. Ini adalah bagian yang bersifat Descriptive, sehingga tidak boleh diartikan seakan-akan setiap orang kristen yang mati akan bangkit pada hari ke 4.
f)    Kis 28:1-6 juga bersifat descriptive dan tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk mengajar bahwa orang kristen tidak akan mengalami bahaya apa-apa kalau digigit ular berbisa.
g)   Ada banyak bagian yang bersifat Descriptive dalam Kitab Suci tentang hal-hal yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, yang bukan merupakan norma / hukum, dan karenanya tidak harus kita lakukan. Misalnya:
·         Yesus tidak pernah menikah / pacaran. Ini tentu tidak berarti bahwa semua orang kristen tidak boleh pacaran / menikah.
·         Yesus berpuasa 40 hari 40 malam di padang gurun (Mat 4:1-11  Luk 4:1-13). Ini tidak berarti bahwa semua orang kristen harus berpuasa 40 hari 40 malam di padang gurun.
·         Yesus dan Petrus berjalan di atas air (Mat 14:22-29). Ini tidak berarti bahwa setiap orang kristen harus bisa melakukan hal itu.
·         Yesus hanya mempunyai 12 murid (Mat 10:1-4). Ini tidak boleh diartikan seakan-akan Sekolah Theologia / gereja hanya boleh mempunyai 12 murid / jemaat.

2)   Bagian Kitab Suci yang bersifat Didactic (= bersifat pengajaran).
Bagian yang bersifat Didactic adalah bagian yang bersifat pengajaran (Yunani: DIDACHE), dan bisa berbentuk suatu pernyataan, janji, perintah atau larangan. Ini adalah rumus / hukum / norma bagi kita.

Contoh:

a)   Kis 16:31 yang berbunyi “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat” adalah bagian yang bersifat Didactic. Karena itu, ini merupakan hukum / norma, artinya setiap orang yang percaya kepada Yesus pasti selamat.

b)   Fil 4:4 yang berbunyi “Bersukacitalah senantiasa” adalah bagian yang bersifat Didactic. Ini adalah hukum / norma bagi kita, yang menyuruh kita bersukacita senantiasa.

c)   10 Hukum Tuhan dalam Kel 20:3-17 merupakan bagian yang bersifat Didactic, sehingga merupakan Hukum / Norma bagi kita semua.

Jadi, pada waktu mendengar suatu khotbah / ajaran, telitilah apakah text yang dipakai sebagai dasar itu adalah text yang bersifat descriptive atau didactic! Ini bisa menghindarkan saudara dari ajaran-ajaran yang salah / sesat!

Jaman sekarang, khususnya dalam kalangan Pentakosta / Kharismatik, karena kurangnya / tidak adanya pengertian tentang Hermeneutics, yang menyebabkan mereka tidak membedakan antara bagian yang bersifat Descriptive dan bagian yang bersifat Didactic, maka ada banyak pengajaran salah yang ditimbulkan karena mereka menggunakan bagian yang bersifat descriptive sebagai rumus / hukum / norma, seolah-olah itu adalah bagian yang bersifat didactic.

Contoh:

1.   Mat 12:15b dan Mat 15:30 memang menggambarkan bahwa pada saat itu Yesus menyembuhkan semua orang sakit. Tetapi ini adalah bagian yang bersifat Descriptive, sehingga sebetulnya tidak boleh dijadikan hukum / norma. Tetapi banyak orang menggunakan bagian yang bersifat Descriptive ini sebagai hukum / norma, sehingga mereka berkata bahwa Yesus selalu menyembuhkan semua orang sakit. Ini menyebabkan mereka lalu mengajarkan bahwa setiap orang kristen harus sehat / sembuh dari penyakit, dan kalau tidak sembuh maka pasti orangnya kurang beriman atau berdosa.
Bahwa ini salah bisa terlihat dari ayat-ayat seperti 2Kor 12:7-10  Fil 2:26-27  1Tim 5:23  2Tim 4:20 jelas menunjukkan bahwa orang kristen, yang beriman dan saleh sekalipun, bisa sakit dan bahkan tidak disembuhkan dari penyakit itu.

2.   Kis 2:1-11 menceritakan apa yang terjadi pada hari Pentakosta dimana rasul-rasul kepenuhan Roh Kudus lalu berbahasa Roh / lidah. Ini adalah bagian yang bersifat Descriptive, tetapi banyak orang yang lalu menjadikan hal ini sebagai rumus / hukum / norma dan mereka mengajar bahwa orang yang menerima / dipenuhi Roh Kudus harus berbahasa Roh / lidah. Menghadapi ajaran seperti ini ada 3 hal yang harus diperhatikan, yaitu:
·         Kis 2:1-11 bersifat descriptive, jadi tidak boleh dijadikan rumus / hukum / norma!
·         Ajaran tersebut tidak konsekwen karena mereka mengharuskan bahasa Roh / lidahnya saja, tetapi tidak mengharuskan adanya tiupan angin yang keras dan lidah-lidah api, yang jelas juga ada dalam bacaan itu (Kis 2:2-3). Memang bahasa rohnya gampang dipalsukan, tetapi tiupan angin dan lidah api sukar / tidak dapat dipalsukan!
·         1Kor 12:7-11,28-30 bersifat didactic dan mengajarkan bahwa hanya sebagian orang kristen yang menerima karunia bahasa Roh. Karena 1Kor 12:7-11,28-30 bersifat didactic maka bagian inilah yang harus dianggap sebagai norma / hukum / rumus!

3.   Cerita tentang tokoh-tokoh yang kaya dalam Perjanjian Lama, seperti Abraham, Daud, Ayub, dsb merupakan bagian yang bersifat Descriptive, sehingga tidak boleh dijadikan norma. Tetapi para penganut Theologia Kemakmuran menggunakan bagian-bagian ini sebagai norma, sehingga mereka lalu mengatakan bahwa orang kristen harus kaya.

Ada 2 hal penting yang perlu diketahui:

1)   Bagian yang bersifat Descriptive juga mengandung pengajaran, karena kalau tidak, tentu tidak akan ditulis dalam Kitab Suci.
Contoh:

a)   Peristiwa Petrus berjalan di atas air (Mat 14:28-31) mengajar bahwa:
·         Yesus / Allah berkuasa atas hukum alam, sehingga pada saat tertentu bisa saja ‘melindas’ hukum alam itu.
·         Dalam menghadapi persoalan / bahaya, mata kita harus ditujukan kepada Yesus, supaya kita tetap beriman dan tidak takut / kuatir.

b)   Peristiwa pemberian makan kepada 5000 orang (Yoh 6:1-14), mengajar kita bahwa:
·         Allah sering tidak bisa diukur dengan matematik!
·         sesuatu yang tidak berarti (5 roti dan 2 ikan), pada waktu dipersembahkan kepada Tuhan dengan hati yang tulus, bisa menjadi berkat bagi banyak orang.

c)   Kita bisa menggunakan orang-orang saleh sebagai teladan hidup, asal tidak bertentangan dengan bagian Kitab Suci yang lain.
Misalnya kita boleh menjadikan iman Abraham dalam menantikan janji Tuhan sebagai teladan dalam hidup kita. Juga keberanian Daud, kesalehan Ayub, dsb. Tetapi polygamy yang dilakukan tokoh-tokoh saleh dalam Perjanjian Lama (1Raja 11:3), dan juga dusta Abraham dan Ishak (Kej 12:11-13  Kej 20:2  Kej 26:7), perzinahan Daud (2Sam 11), dsb, jelas tidak boleh dijadikan teladan karena bertentangan dengan Kitab Suci.

2)   Kalau sesuatu yang bersifat Descriptive terjadi terus menerus tanpa kecuali, maka itu memungkinkan kita untuk menjadikan bagian itu sebagai rumus / hukum / norma.
Contoh:
a)   Dalam Kitab Suci baptisan selalu dilakukan dengan air, dan karena itu maka hal ini menjadi rumus / norma.
b)   Dalam Kitab Suci Perjamuan Kudus selalu dilakukan menggunakan roti dan anggur, dan karena itu maka hal ini menjadi rumus / norma.
c)   Dalam Kitab Suci semua kesembuhan ilahi:
·         terjadi secara sempurna (sembuh total).
·         terjadi secara langsung / pada ketika itu juga (bukan secara proses perlahan-lahan).
Karena itu hal ini harus dijadikan norma / hukum.

VIII) Ayat dari sudut Allah dan dari sudut manusia.


Kalau kita tidak bisa membedakan kedua hal itu dalam Kitab Suci, maka kita tidak bisa terhindar dari kontradiksi. Kalau kita bisa membedakan kedua hal tersebut, maka kita bisa mengharmoniskan kedua bagian tersebut.

Contoh:

1)   Dalam Kej 6:5,6  Kel 32:10-14  1Sam 15:11,35  Yes 38:1,5  Yer 18:8  Yun 3:10 dikatakan bahwa Allah itu menyesal dan mengubah keputusanNya. Ini merupakan ayat-ayat yang ditinjau dari sudut manusia!
Khususnya perhatikan Kel 32:10-14 dimana Allah menyesal / bertobat setelah dinasehati oleh Musa! Ini tentu tidak bisa diartikan secara hurufiah, tetapi harus dianggap sebagai sesuatu yang ditinjau dari sudut pandang manusia.
Perhatikan juga bahwa sekalipun kata-kata itu diucapkan oleh Allah sendiri, seperti dalam 1Sam 15:11, tetapi itu tetap merupakan ayat yang ditinjau dari sudut pandang manusia!

Dalam Bil 23:19  1Sam 15:29 & Yer 4:28 jelas dikatakan bahwa Allah tidak akan menyesal dan tidak akan mengubah rencanaNya. Ini peninjauan dari sudut Allah!
Catatan: perhatikan bahwa dalam satu pasal, yaitu dalam 1Sam 15, mula-mula dikatakan bahwa Allah menyesal (ay 11), lalu dikatakan Allah tidak menyesal (ay 29), dan akhirnya dikatakan Allah menyesal lagi (ay 35b). Kalau kita tidak membedakan dua sudut pandang ini, bagaimana kita bisa menafsirkan bagian-bagian tersebut?

Jadi ditinjau dari sudut manusia, Allah memang kelihatannya bisa menyesal dan mengubah RencanaNya, tetapi ditinjau dari sudut Allah, hal itu tidak mungkin.

Illustrasi: Seorang sutradara menyusun naskah untuk sandiwara, dan ia juga sekaligus menjadi salah satu pemain sandiwara tersebut. Dalam sandiwara itu ditunjukkan bahwa ia mau makan, tetapi tiba-tiba ada telpon, sehingga ia lalu tidak jadi makan. Dari sudut penonton, pemain sandiwara itu berubah piki­ran / rencana. Tetapi kalau ditinjau dari sudut naskah / sutradara, ia sama sekali tidak berubah dari rencana semula, karena dalam naskah sudah direncanakan bahwa ia mau makan, lalu ada telpon, lalu ia mengubah rencana / pikirannya, dsb.
Pada waktu Kitab Suci berkata ‘Allah menyesal’ maka memang dari sudut manusia, Allahnya menyesal / mengubah rencanaNya. Tetapi dari sudut Allah / Rencana Allah, sebetulnya tidak ada perubahan, karena semua perubahan / penyesalan itu sudah direncanakan oleh Allah.

2)   Kalau kita melihat Yoh 10:26-29  1Kor 1:8-9  Fil 1:6  1Yoh 2:18-19  Yudas 24 maka jelas sekali bahwa orang kristen tidak mungkin murtad atau dengan kata lain, sekali seseorang selamat ia akan tetap selamat. Ini peninjauan dari sudut Allah! Tetapi:
a)   Dalam Yoh 6:60-66  1Tim 1:19-20  2Tim 2:17-18 ada orang-orang yang murtad. Ini peninjauan dari sudut manusia. Dari sudut manusia, orang-orang itu kelihatannya sudah percaya tetapi lalu murtad.
Kalau kita mau mengharmoniskan bagian ini dengan ayat-ayat yang meninjau dari sudut Allah, haruslah kita katakan bahwa orang-orang yang dari sudut manusia itu kelihatannya sudah percaya, sebetulnya belum sungguh-sungguh percaya. Karena itulah maka mereka bisa murtad.
b)   Dalam Kol 1:23  Ibr 2:1  Ibr 3:14  Wah 2:10b ada peringatan supaya tidak murtad dan ada perintah untuk terus ikut Tuhan. Ini peninjauan dari sudut manusia!
Illustrasi: Bacalah Kis 27:22-25,34b lalu Kis 27:31,33-34a. Jelas bahwa Paulus bukan menentang kata-katanya sendiri. Tetapi mula-mula ia berbicara dari sudut pandang Allah (ay 22-25), dan sesudah itu ia berbicara dari sudut pandang manusia, untuk menekankan tanggung jawab mereka (ay 31,33-34a), lalu ia berbicara dari sudut pandang Allah lagi (ay 34b).
Kesimpulan dari semua ini: sekalipun keselamatan dijamin tidak bisa hilang, manusia tetap mempunyai tanggung jawab untuk memelihara keselamatannya / melakukan yang terbaik.

3)   Dalam Kej 6:9  Luk 1:6  Luk 2:25  Ayub 1:1,8 kita melihat adanya orang-orang yang saleh. Ini dari sudut pandang manusia (manusia memandang mereka sebagai orang yang saleh, atau, dibandingkan manusia yang lain mereka adalah orang yang saleh).
Dalam Ro 3:10-12,23  Yes 64:6 jelas dikatakan bahwa semua manusia adalah orang berdosa, dan segala kesalehannya seperti kain kotor. Ini dari sudut pandangan Allah. Di hadapan Allah yang maha suci, bagaimanapun salehnya seseorang, ia tetap penuh dengan dosa!

4)   Ada banyak ayat dalam Kitab Suci yang menunjukkan kemahatahuan Allah. Ini jelas merupakan ayat-ayat dari sudut pandang Allah.
Tetapi ada ayat yang seolah-olah menunjukkan bahwa Allah itu tidak maha tahu, dan bahkan salah dalam memperkirakan. Misalnya
·         Yer 3:7a - “PikirKu: Sesudah melakukan semuanya ini, ia akan kembali kepadaKu, tetapi ia tidak kembali”.
·         Yer 3:19-20 - “(19) Tadinya pikirKu: ‘Sungguh Aku mau menempatkan engkau di tengah-tengah anak-anakKu dan memberikan kepadamu negeri yang indah, milik pusaka yang paling permai dari bangsa-bangsa. PikirKu, engkau akan memanggil Aku: Bapaku, dan tidak akan berbalik dari mengikuti Aku. (20) Tetapi sesungguhnya, seperti seorang isteri tidak setia terhadap temannya, demikianlah kamu tidak setia terhadap Aku, hai kaum Israel, demikianlah firman TUHAN”.
Ini jelas merupakan ayat-ayat dari sudut pandang manusia, atau ayat-ayat dimana Allah menyatakan diriNya sesuai dengan kapasitas pengertian manusia yang terbatas.
-o0o-

1 komentar: