Kamis, 03 April 2014

ROTI HIDUP

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div

Yoh 6:35 - “Kata Yesus kepada mereka: ‘Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi”.

I) Latar belakang ajaran ini.


Yesus mengajarkan diriNya sebagai Roti Hidup dengan latar belakang pemberian makan 5000 orang menggunakan 5 roti dan 2 ikan, yang diceritakan dalam Yoh 6:1-15.
Yesus memang sering melakukan sesuatu yang bersifat jasmani, dengan tujuan mengajarkan sesuatu yang bersifat rohani tentang diriNya.

Misalnya:

1)  Ia mencelikkan mata orang buta dalam Yoh 9. Tujuannya untuk menunjukkan diriNya sebagai ‘terang dunia’ (Yoh 9:5).

2) Ia membangkitkan Lazarus dalam Yoh 11. Tujuannya untuk menunjukkan diriNya sebagai ‘Kebangkitan dan Hidup’ (Yoh 11:25).

3)   Ia menyembuhkan banyak orang yang sakit secara jasmani (Mat 8:16) untuk menunjukkan diriNya sebagai penyembuh dari orang yang sakit secara rohani, sehingga Ia menggenapi Yes 53:4 (Mat 8:17).
Mat 8:16-17 - “(16) Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. (17) Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ‘Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.’”.
Banyak orang, berdasarkan text ini, lalu menekankan Yesus sebagai penyembuh dari penyakit jasmani. Juga kata-kata ‘oleh bilur-bilurNya kita menjadi sembuh’ (Yes 53:5b) sering diterapkan sedemikian rupa untuk mengatakan bahwa orang Kristen harus sembuh dari sakit.
Tetapi ini tidak mungkin karena kontext dari Yes 53 itu jelas merupakan kontext rohani.
Yes 53:4-6 - “(4) Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. (5) Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (6) Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian”.
Jadi, baik ‘penyakit’ maupun ‘sembuh’ dalam text Yes 53 ini harus diartikan secara rohani.

Demikian juga pada waktu Petrus mengutip text Yes 53 itu, ia menerapkannya secara rohani.
1Pet 2:22-25 - “(22) Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulutNya. (23) Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. (24) Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh. (25) Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.

Lalu bagaimana mungkin Matius mengutip Yes 53 itu dan menerapkannya secara jasmani? Satu-satunya penjelasan adalah seperti yang saya katakan di atas. Yesus sering melakukan sesuatu yang bersifat jasmani, dengan tujuan untuk mengajarkan sesuatu yang bersifat rohani tentang diriNya sendiri.

Calvin: “Matthew quotes this prediction, after having related that Christ cured various diseases; though it is certain that he was appointed not to cure bodies, but rather to cure souls; for it is of spiritual disease that the Prophet intends to speak. But in the miracles which Christ performed in curing bodies, he gave a proof of the salvation which he brings to our souls. That healing had therefore a more extensive reference than to bodies, because he was appointed to be the physician of souls; and accordingly Matthew applies to the outward sign what belonged to the truth and reality” (= Matius mengutip ramalan ini, setelah menceritakan bahwa Kristus menyembuhkan bermacam-macam penyakit; sekalipun sudah tentu bahwa Ia ditetapkan bukan untuk menyembuhkan tubuh, tetapi untuk menyembuhkan jiwa; karena adalah penyakit rohanilah yang dibicarakan oleh sang nabi. Tetapi dalam mujijat-mujijat yang dilakukan Kristus dalam menyembuhkan tubuh, Ia memberi suatu bukti tentang keselamatan yang Ia bawa kepada jiwa kita. Karena itu kesembuhan itu mempunyai hubungan yang lebih luas dengan jiwa dari pada tubuh, karena Ia ditetapkan sebagai dokter untuk jiwa; dan sesuai dengan itu Matius menerapkan pada tanda lahiriah apa yang termasuk pada kebenaran dan kenyataan) - hal 115.

Sekarang, kembali pada topik kita tentang Yesus sebagai Roti Hidup. Ia melakukan mujijat dengan melipat-gandakan 5 roti dan 2 ikan sehingga berlebihan untuk memberi makan 5.000 orang lebih (tanpa menghitung wanita dan anak-anak).

II) Yesus adalah ‘roti hidup’.


1)   Roti.
Kalau Ia menggunakan 5 roti dan 2 ikan untuk memberi makan 5.000 orang itu, mengapa ia menyatakan diri sebagai ‘Roti Hidup’ dan bukan sebagai ‘ikan hidup’? Karena roti di sana sama seperti nasi di sini. Banyak orang Indonesia merasa belum makan kalau belum makan nasi. Jadi, makan nasi sepertinya merupakan suatu keharusan / kebutuhan yang mutlak. Demikian juga di sana roti merupakan kebutuhan mutlak. Itu makanan pokok. Tetapi ikan tidak demikian. Tentang ikan orang beranggapan, kalau ada baik, tetapi kalau tidak ada ya tidak apa-apa, karena bisa digantikan dengan yang lain. Karena itu, seandainya Yesus menyatakan diri sebagai ‘ikan hidup’, maka akan menimbulkan kesan bahwa Ia bukanlah kebutuhan pokok / kebutuhan mutlak bagi kita. Ada baik, tak ada ya tidak apa-apa. Ia bisa digantikan dengan yang lain.
Tetapi dengan Ia menyatakan diri sebagai ‘Roti Hidup’, maka akan timbul suatu pemikiran bahwa Ia merupakan kebutuhan pokok / kebutuhan mutlak bagi kita! Kita tidak bisa berpikir, ada Yesus baik, tak ada Yesus ya tidak apa-apa! Kebutuhan kita terhadap Dia tidak bisa digantikan oleh apapun / siapapun.

Bdk. Ef 2:12 - “bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia”.

Yoh 15:5 - “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
KJV: ‘without me ye can do nothing’ (= tanpa Aku kamu tidak bisa berbuat apa-apa).
RSV/NIV/NASB: ‘apart from Me you can do nothing’ (= terpisah dari Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa).

Tanpa Yesus, kita adalah:

a)   Ranting pohon anggur tanpa pokoknya.
Yoh 15:4 - “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku”.

b)   Domba tanpa gembala.
Bil 27:17 - “yang mengepalai mereka waktu keluar dan masuk, dan membawa mereka keluar dan masuk, supaya umat TUHAN jangan hendaknya seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala.’”.
1Raja 22:17 - “Lalu jawabnya: ‘Telah kulihat seluruh Israel bercerai-berai di gunung-gunung seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala, sebab itu TUHAN berfirman: Mereka ini tidak punya tuan; baiklah masing-masing pulang ke rumahnya dengan selamat.’”.
Yes 13:14 - “Seperti kijang yang dikejar-kejar dan seperti domba yang tidak digembalakan, demikianlah mereka akan berpaling, masing-masing kepada bangsanya, dan melarikan diri, masing-masing ke negerinya”.
Mat 9:36 - “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala”.

c)   Orang berdosa tanpa Penebus / Juruselamat.
Ibr 9:22 - “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan”.

d)   Orang buta tanpa terang.

e)   Orang sakit tanpa dokter / tabib.

f)    Murid tanpa guru.

Bdk. Fil 4:13 - “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”. Ini terjemahannya kurang tepat.
KJV: ‘I can do all things through Christ which strengtheneth me’ (= Aku bisa melakukan segala sesuatu melalui Kristus yang menguatkan aku).

2)   Hidup.
Kata ‘hidup’ ini ditambahkan untuk lebih menunjukkan akibat / hasil yang terjadi kalau orang memakan roti itu.
Yoh 6:33-35,48-51,58 - “(33) Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia.’ (34) Maka kata mereka kepadaNya: ‘Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.’ (35) Kata Yesus kepada mereka: ‘Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi. ... (48) Akulah roti hidup. (49) Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. (50) Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. (51) Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.’ ... (58) Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.’”.

Yang saya beri garis bawah tunggal merupakan akibat / hasil yang terjadi kalau seseorang makan Roti Hidup itu. Orang itu:

a)  ‘tidak akan lapar lagi dan tidak akan haus lagi’ (ay 35b).
1.   ‘tidak akan lapar / haus lagi’ artinya ‘dipuaskan’.
2.  Dalam bahasa Yunaninya, kata-kata ‘tidak akan’ yang muncul 2 x itu kedua-duanya menggunakan double negatives (= dua kali kata ‘tidak’), dan ini menunjukkan suatu penekanan.

b)  ‘ia akan hidup selama-lamanya’ (ay 51,58).

Ada beberapa hal yang akan saya soroti / jelaskan:

1.   Orang yang makan Roti Hidup mendapatkan hidup kekal.

a.   Ada kontras antara mereka yang makan manna dan mereka yang makan Roti Hidup:
·         Yang makan manna telah mati.
Perhatikan bagian yang saya beri garis bawah ganda yang menunjukkan bahwa mereka yang makan manna semuanya telah mati (ay 49,58a).
·         Yang makan Roti Hidup akan hidup.
Siapa yang makan Roti Hidup ini tidak akan mati, tetapi akan hidup selama-lamanya (ay 50,51,58), atau akan mendapatkan hidup kekal!

b.   Makan Roti Hidup berarti percaya kepada Yesus.
Ay 35: “Kata Yesus kepada mereka: ‘Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi”.
Jadi, makan roti hidup itu berarti bahwa kita harus datang dan percaya kepada Kristus.
2 hal ini, yaitu ‘datang’ dan ‘percaya’ kepada Yesus, sebetulnya tidak perlu dibedakan. ‘Datang kepada Yesus’ sebetulnya sama saja dengan ‘percaya kepada Yesus’.
Jadi, siapapun yang datang / percaya kepada Yesus mendapatkan hidup kekal.

c.   Janji hidup kekal itu menunjukkan bahwa keselamatan tidak bisa hilang!
Janji bahwa orang yang memakan Roti Hidup itu akan mendapat hidup selama-lamanya / hidup kekal itu, menunjukkan bahwa Yesus / Kitab Suci mempercayai bahwa keselamatan tidak bisa hilang! Dari mana bisa ditafsirkan demikian? Karena orang yang makan Roti Hidup, bukan diberi ‘hidup bersyarat’, atau ‘hidup sementara’, tetapi ‘hidup yang kekal’. Kalau karena dosa atau godaan setan seseorang yang sudah diselamatkan bisa murtad dan akhirnya terhilang / binasa (seperti yang diajarkan oleh Arminianisme), maka itu berarti pada waktu ia percaya, kepada dia hanya diberikan ‘hidup bersyarat / sementara’, bukan ‘hidup yang kekal’!
Pada waktu Adam dan Hawa diciptakan, maka mereka memang hanya mempunyai hidup bersyarat, yaitu: mereka tetap hidup asalkan / selama mereka tidak makan buah terlarang itu (Kej 2:16-17). Kalau mereka memakan buah itu mereka akan mati. Jelas bahwa mereka tidak mempunyai ‘hidup kekal’ tetapi hanya mempunyai ‘hidup bersyarat’. Tetapi kepada kita makan Roti Hidup, tidak diberikan hidup bersyarat seperti itu, melainkan hidup kekal. Karena itu jelas bahwa keselamatan itu tidak bisa hilang!

Hal-hal lain dalam kontext ini yang menunjukkan bahwa keselamatan tidak bisa hilang adalah apa yang dikatakan Yesus dalam ay 39-40: “(39) Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikanNya kepadaKu jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. (40) Sebab inilah kehendak BapaKu, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.’”.

Mula-mula Yesus menyatakan doktrin ini secara negatif, dimana Ia mengatakan bahwa Bapa menghendaki supaya orang yang sudah diberikanNya kepada Yesus tidak ada yang hilang (ay 39). Lalu Yesus menyatakan doktrin ini secara positif, dimana Ia mengatakan bahwa Bapa menghendaki supaya setiap orang yang percaya kepada Yesus beroleh hidup yang kekal dan dibangkit­kan pada akhir zaman (ay 40).

Catatan: dalam Kitab Suci ada banyak sekali ayat yang mendukung doktrin  keselamatan tidak bisa hilang ini, seperti:
·       Yoh 10:28-29 - “(28) dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. (29) BapaKu, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.
·    Ro 5:9-10 - “(9) Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darahNya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. (10) Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian AnakNya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidupNya!”.
·         Ro 8:29-30 - “(29) Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (30) Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya”.
·         Ro 8:38-39 - “(38) Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, (39) atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
·  1Kor 1:8-9 - “(8) Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus. (9) Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan AnakNya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.
·   Fil 1:6 - “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.
·         1Pet 1:4-5 - “(4) untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. (5) Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir”.
·     1Yoh 2:18-19 - “(18) Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. (19) Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita”.
·       Yudas 24-25 - “(24) Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaanNya, (25) Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin”.

2.   Iman / kepercayaan kepada Yesus harus berhubungan dengan / mencakup penebusanNya di kayu salib untuk dosa-dosa kita.
Ay 51,53-56: “(51) Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.’ ... (53) Maka kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darahNya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. (54) Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. (55) Sebab dagingKu adalah benar-benar makanan dan darahKu adalah benar-benar minuman. (56) Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia”.

Dalam ay 51 ini Yesus mengatakan bahwa roti yang Ia berikan adalah dagingNya yang akan Ia berikan untuk hidup dunia, dan dalam ay 53-56 Ia berbicara tentang ‘makan dagingNya dan minum darahNya’. Ini jelas merupakan sesuatu yang bersifat simbolis, bukan hurufiah. Simbol tentang apa? Jelas bahwa di sini Ia berbicara tentang salib yang akan terjadi, karena pada saat itulah tubuh / dagingNya dihancurkan dan darahNya dicurahkan untuk menebus dosa-dosa kita. Dengan cara itulah Ia bisa menjadi Roti Hidup yang memberi hidup kepada dunia. Dengan kata-kata ini Yesus menunjukkan bahwa kepercayaan kepadaNya harus berhubungan dengan penebusan di kayu salib, dan kalau tidak itu bukanlah iman yang sejati.

William Hendriksen: “To believe in Christ means to accept him as the Crucified One. Apart from that voluntary sacrifice, Christ ceases to be bread for us in any sense” (= Percaya kepada Kristus berarti menerima Dia sebagai Orang yang tersalib. Terpisah dari pengorbanan sukarela itu, Kristus berhenti menjadi roti bagi kita dalam arti apapun).

Penerapan:
a.  Jangan hanya percaya kepada Yesus sebagai pemberi berkat, pelaku mujijat, penyembuh penyakit, dsb. Yang terutama saudara harus percaya kepada Dia sebagai Juruselamat / Pene­bus dosa yang sudah mati menggantikan saudara.
b. Dalam penginjilan, khususnya kepada orang yang selalu menekankan Yesus sebagai pemberi berkat, pelaku mujijat, penyem­buh dsb, hal ini harus saudara tekankan! Desak mereka untuk percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat, bukan sekedar sebagai dokter, pelaku mujijat, pemberi kekayaan, dsb.

Bdk. 1Kor 15:19 - “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia”.

3.   Yesus mengajarkan bahwa keselamatan hanya ada di dalam Dia (Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan).
Hal ini Ia ajarkan:

a.   Secara positif.
Ia mengatakan bahwa orang yang memakan Dia / memakan roti hidup / memakan dagingNya dan meminum darahNya, mendapat hidup yang kekal.
Ay 50,51,54,57b,58b: “(50) Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. (51) Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.’ ... (54) Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. ... (57) Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. (58) Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.’”.
Ini menjamin bahwa orang yang percaya kepada Yesus pasti mendapatkan hidup kekal.

b.   Secara negatif.
·       Ia mengatakan bahwa siapa yang tidak makan dagingNya dan minum darahNya tidak mempunyai hidup yang kekal.
Ay 53: “Maka kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darahNya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu”.
Ini menjamin bahwa orang yang tidak percaya kepada Yesus pasti binasa / masuk neraka!
·     Ia mengatakan bahwa yang makan manna (berarti tidak makan Roti Hidup) telah mati.
Perhatikan bahwa manna itu bukannya beracun, dan karena itu tidak bisa secara aktif membunuh mereka. Tetapi karena manna itu tidak bisa memberikan hidup kekal, maka akhirnya mereka yang memakannya akan mati.
Illustrasi: kalau ada penyakit yang mematikan yang hanya bisa disembuhkan dengan obat A, maka orang yang makan apapun yang lain, selain obat A itu, biarpun apa yang ia makan itu tidak beracun, tetap akan mati.
Penerapan: Apapun yang saudara lakukan, kalau itu tidak memberikan hidup kekal kepada saudara, pada dasarnya, dan pada akhirnya, itu akan membunuh saudara. Ini berlaku baik pada waktu saudara:
*        hanya menekankan hal-hal duniawi / jasmani saja.
*        ikut agama-agama yang tidak bisa memberikan hidup kekal kepada saudara.
*   ikut gereja-gereja Kristen yang tidak memberitakan Injil, tetapi hanya mengajarkan ajaran moral dan etika. Ini sebetulnya tidak berbeda dengan ikut agama-agama lain.
*        ikut gereja yang injili tanpa percaya Yesus.
Bdk. ay 27: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meteraiNya.’”.

Penerapan:
Kalau saudara memberitakan Injil, tidak sukar mem­beritakan ajaran positifnya, tetapi apakah saudara juga member­itakan ajaran negatifnya?

III) Tanggapan kita.


1)   Kita bisa memberikan tanggapan negatif, yaitu dengan tidak percaya pada apa yang Yesus janjikan / katakan.

Perhatikan reaksi / tanggapan orang-orang Yahudi tentang claim Yesus sebagai Roti Hidup yang bisa memberikan hidup kekal itu.
Ay 41-42: “(41) Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: ‘Akulah roti yang telah turun dari sorga." (42) Kata mereka: ‘Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?’”.

Mereka tidak bisa menerima claim Yesus yang menyatakan bahwa diriNya bisa memberikan hidup yang kekal, karena mereka meninjau / melihat Yesus secara jasmani, dan secara jasmani Yesus tidak mempunyai sesuatu yang istimewa, sebaliknya berasal dari keluarga miskin.
Bdk. Mat 13:54-57 - “(54) Setibanya di tempat asalNya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: ‘Dari mana diperolehNya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? (55) Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibuNya bernama Maria dan saudara-saudaraNya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? (56) Dan bukankah saudara-saudaraNya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperolehNya semuanya itu?’ (57a) Lalu mereka kecewa dan menolak Dia”.

Ini menggenapi nubuat firman Tuhan dalam Yes 53:2b-3 - “(2b) Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. (3) Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan”.

Penerapan: Hati-hatilah supaya saudara tidak menilai gereja, hamba Tuhan, buku rohani, orang kristen, secara jasmani! Ada banyak gereja, hamba Tuhan, buku rohani, orang kristen yang penampilan luarnya hebat, tetapi sebetulnya brengsek. Sebaliknya ada banyak gereja, hamba Tuhan, buku rohani, orang kristen yang penampilan luarnya jelek, tetapi sebetulnya bagus.

2)   Kita bisa memberikan tanggapan yang positif, yaitu dengan percaya pada kata-kata Yesus, dan mau ‘memakan Roti Hidup’ itu.

Ay 28-29: “(28) Lalu kata mereka kepadaNya: ‘Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?’ (29) Jawab Yesus kepada mereka: ‘Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.’”.

a) Kata ‘pekerjaan’ dalam ay 28 ada dalam bentuk jamak (ERGA = works), tetapi kata ‘pekerjaan’ dalam ay 29 ada dalam bentuk tunggal (ERGON = work). Jadi, Yesus memaksudkan: hanya satu hal yang Allah kehendaki untuk kamu lakukan, yaitu percaya kepada Dia (Yesus)!

b)  Calvin berkata bahwa pada waktu Yesus menyebut iman sebagai work / pekerjaan, Ia tidak berbicara dengan akurasi yang ketat. Tentu bukan maksud Calvin untuk mengatakan bahwa Yesus salah bicara! Maksudnya ia menggunakan kata itu bukan dalam arti theologis yang ketat.
Alasan Calvin adalah: Ro 3:27-28 mengatakan bahwa iman tidak termasuk sebagai work / pekerjaan.
Ro 3:27-28 - “(27) Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! (28) Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat”.
Bdk. Ro 11:6 - “Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia”.

Catatan: sebetulnya, dengan membandingkan pertanyaan dalam ay 28 (dimana kata ‘pekerjaan’ menggunakan bentuk jamak) dengan jawaban dari Yesus dalam ay 29 (dimana untuk kata ‘pekerjaan’ Ia menggunakan bentuk tunggal, sudah jelas bahwa Yesus membedakan kedua hal itu.

Kekristenan yang benar sangat menekankan ‘keselamatan karena iman’, dan ini tidak bisa disamakan dengan ‘keselamatan karena pekerjaan / perbuatan baik’ karena iman bukan merupakan pekerjaan.

Penutup / kesimpulan.


Yesus telah menjadi Roti Hidup dengan mengorbankan tubuh / daging dan darahNya di kayu salib. Hanya kalau saudara mau percaya kepada Dia sebagai penebus / Juruselamat saudara, maka saudara mendapatkan hidup kekal. Kalau tidak, saudara akan masuk ke neraka selama-lamanya. Maukah saudara percaya dengan sungguh-sungguh kepada Yesus?



-AMIN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar