Senin, 14 April 2014

KHARISMATIK (2)

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div



HARUSKAH KITA SEMBUH DARI SAKIT?



Banyak orang Kharismatik yang beranggapan bahwa orang Kristen tidak boleh sakit atau bahwa orang Kristen harus sembuh dari semua penyakit!

Alasan-alasan dan Sanggahannya:


1)  Dalam Kitab Suci, baik Yesus maupun rasul-rasul selalu menyembuhkan semua orang sakit (Mat 4:23,24  Kis 5:15-16, dsb).

Sanggahan:

Dalam Kitab Suci, baik Yesus maupun rasul-rasul tidak selalu menyem­buhkan semua orang sakit. Ada orang-orang yang tidak disembuhkan.
  • dalam Yoh 5:1-18 ada banyak orang sakit, tetapi hanya satu yang disem-buh­kan oleh Yesus, yaitu orang yang lumpuh selama 38 tahun.
  • dalam 1Tim 5:23  dan 2Tim 4:20, Timotius dan Trofimus sakit, tetapi Pau-lus tidak menyembuhkan mereka.
  • dalam 2Kor 12:7-10, Paulus sendiri mengalami ‘duri dalam daging’. Seka-lipun tidak jelas dengan apa yang dimaksud dengan ‘duri dalam daging’ itu, tetapi rasa-rasanya tidak bisa tidak istilah ini menunjuk pada suatu penyakit jasmani yang menyakitkan. Untuk ini Paulus berdoa sebanyak tiga kali, tetapi Tuhan tidak menyembuhkan dia!
  • dalam Luk 5:15-16 banyak orang datang kepada Yesus untuk disembuh-kan, tetapi Yesus tidak menyembuhkan mereka, sebaliknya Yesus me-ninggalkan mereka.
  • dalam Luk 4:27 Yesus berkata bahwa pada jaman nabi Elisa ada banyak orang sakit kusta di Israel, tetapi mereka tidak ditahirkan seperti Naaman.

2)  Penyakit itu dari setan, dan orang Kristen harus menang atas setan.

Sanggahan:

a)  Penyakit pertama kali masuk ke dalam dunia sebagai hukuman dari Tuhan (bukan dari setan!) atas dosa manusia.

b)  Setan memang bisa memberi penyakit, tetapi hanya kalau Tuhan mengijinkan (Ayub 1-2  2Kor 12:7-10).

c)  Tidak semua penyakit datang dari setan. Misalnya: Kej 48:1. Juga kalau dalam Mat 4:24 terlihat bahwa ‘orang yang menderita pelbagai penyakit’ dibedakan dari ‘orang yang kerasukan’. Demikian juga dalam Mat 10:1,8.

d)  Menang atas setan tidak harus diwujudkan melalui kesembuhan. Kalau seseorang tetap sakit, tetapi dalam sakitnya ia tetap setia kepada Tuhan dan hidup bagi Tuhan, apakah ia tidak menang atas setan?

3)   Penyakit itu disebabkan oleh dosa. Karena itu kalau seseorang bertobat ia pasti sembuh dari penyakit!

Sanggahan:

a)   Penyakit pertama masuk ke dalam dunia memang karena dosa Adam dan Hawa.

b)   Memang ada orang-orang yang sakit sebagai akibat langsung dari dosa mereka (bdk. Maz 107:17-18  2Raja 5:27).

c)   Tetapi tidak semua orang sakit sebagai akibat langsung dari dosanya (Kej 48:1  Ayub 1-2  2Kor 12:7-10  Fil 2:25-27  1Raja 14;1,12,13  Yoh 9:1-3).

d)  Orang percaya baru bisa bebas dari penyakit sebagai akibat dosa, pada saat ia masuk ke surga.

4)   Yesus sudah mati menebus tubuh dan jiwa / roh kita. Karena itu kalau seseorang percaya Yesus / menjadi orang kristen, maka bukan saja dosanya diampuni, tetapi ia juga harus sembuh dari semua penyakit jasmani.

Sanggahan:

a)   Memang Yesus mati untuk menebus kita secara keseluruhan (tubuh + jiwa / roh).

b)  Memang orang yang percaya kepada Yesus langsung diampuni dosa-dosanya pada saat ia percaya, tetapi:
·      ia baru mengalami penyempurnaan jiwa / roh pada saat ia mati (Ibr 12:23). Pada saat sudah mengalami penyempurnaan jiwa / roh, maka ia tidak lagi bisa berbuat dosa. Tetapi sebelum saat itu, ia belum disempurnakan, sehingga masih bisa berbuat dosa (penyakit rohani).
·         ia baru mengalami penyempurnaan tubuh pada akhir jaman / hari kebangkitan. Pada saat sudah mengalami penyempurnaan tubuh, maka ia tidak lagi bisa mengalami penyakit, penderitaan, kematian, dsb (Wah 7:16  21:4). Tetapi sebelum saat itu, ia belum disempurna-kan, sehingga masih bisa sakit (penyakit jasmani). Perhatikan bahwa dalam 2Kor 4:16 Paulus berkata bahwa “manusia lahiriah kami semakin merosot” (maksudnya tentu dalam kesehatan / kekuatan). Dan dalam 1Kor 15:43, ia mengkontraskan tubuh jasmani kita yang sekarang ini dengan tubuh kebangkitan nanti dengan berkata: “Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan.

5)   Allah itu Mahakuasa dan karena itu Ia pasti bisa menyembuhkan anakNya yang sakit!

Sanggahan:

Allah memang mahakuasa sehingga pasti bisa menyembuhkan, tetapi Ia belum tentu mau menyembuh­kan. Banyak orang beranggapan bahwa Allah pasti mau menyembuhkan kita karena adalah sesuatu yang baik kalau kita itu sehat. Orang-orang ini perlu mengingat bahwa pikiran Allah dan pikiran kita berbeda seperti langit dengan bumi (Yes 55:8-9)! Dalam 2Kor 12:7-10, Paulus sendiri berdoa supaya duri dalam dagingnya diangkat, tetapi ia tidak disembuhkan! Allah tidak mau menyembuhkan Paulus, karena penyakit Paulus justru akan menyebabkan Paulus bersandar kepada Tuhan sehingga kuasa Allah bisa mengalir melalui Paulus. Dengan kata lain, dari sudut Allah, penyakit Paulus ini membawa kebaikan baginya dan bagi pelayanannya. Bagi kitapun hal seperti ini bisa terjadi. Kadang-kadang Allah tidak mau menyembuhkan kita karena Ia mempunyai maksud tertentu, yang tentunya berguna untuk kemuliaanNya dan juga untuk kebaikan kita sendiri (bdk. Ro 8:28).

6)   Allah tidak menghendaki orang sakit.
Dalam bukunya yang berjudul ‘Jangan Batasi Allah Bila Ingin Bahagia-Sejahtera’, hal 33-34, Morris Cerullo berkata sebagai berikut:
“Baiklah saya nyatakan kepada anda sekarang juga, bahwa bukanlah kehendak Allah agar anda menderita sakit. Allah tidak menghendaki manusia itu menderita. Bukanlah kehendak Allah anda harus menderita lapar atau dilanda kemiskinan. Kehendak Tuhan ialah mencurahkan berkatNya atas diri anda dan memenuhi segala kebutuhan anda. Tuhan menghendaki agar anda dapat hidup sehat, berbahagia dan serba berkecukupan”.

Ia lalu mengutip 3Yoh 2 dan Mat 8:7 untuk mendukung pandangannya ini.

Sanggahan:

a) Kata-kata Yesus dalam ayat-ayat seperti Mat 8:3,7 dsb tidak berlaku umum, sama seperti kata-kataNya dalam Mat 14:29 (waktu Ia menyuruh Petrus berjalan di atas air) dan dalam Yoh 11:23,40,43 (kata-kataNya berhubungan dengan kebangkitan Lazarus) juga tidak berlaku umum!. Jadi, untuk orang-orang tertentu Ia memang bersedia menyembuhkan, tetapi untuk orang-orang lain bisa saja Ia tidak bersedia menyembuhkan, karena Ia mempunyai tujuanNya sendiri!

b) 3Yoh 2 adalah suatu salam yang jelas tidak bisa diartikan bahwa Allah tidak menghendaki seorangpun sakit!

c) Orang-orang Kharismatik sering menyalahartikan kata ‘baik’, ‘berkat’, dsb, karena mereka menafsirkan ‘baik’ dan ‘berkat’ itu sebagai ‘baik’ dan ‘berkat’ menurut pandangan manusia. Tuhan memang pasti memberi berkat / hal-hal yang baik kepada anak-anakNya (Mat 7:11  Yak 1:17), tetapi yang dimaksud dengan ‘baik’ dan ‘berkat’ adalah ‘baik’ dan ‘berkat’ dalam pandangan Allah! Lagi-lagi perlu diingat bahwa pikiran / rencana Allah berbeda seperti langit dengan bumi dibanding piki­ran / rencana kita (Yes 55:8-9). Allah bisa memberi berkat / hal yang baik melalui hal-hal yang bagi kita kelihatannya tidak baik, seperti penyakit dan penderitaan (2Kor 12:7-10  2Kor 1:8- 9  Fil 1:12  bdk. Ro 8:28).

Illustrasi:
Kalau saudara membawa anak saudara ke dokter, dan anak itu harus disuntik, maka saudara merelakan anak itu menderita sakit, karena semua itu adalah untuk kebaikannya sendiri. Lalu mengapa Tuhan tidak boleh membiarkan kita sakit / menderita, kalau semua itu adalah untuk kebaikan kita?

7)   Allah menjanjikan kesehatan (Kel 15:26).

Sanggahan:

a)  Janji itu hanya berlaku untuk bangsa Israel pada saat itu. Itupun dengan syarat, mereka taat total (Kel 15:26).

b)   Ada perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Dalam Perjanjian Lama, ada banyak janji berkat jasmani yang berkelim-pahan (Ul 28:1-14  Mal 3:10-12), tetapi dalam Perjanjian Baru tidak! (bdk. Mat 6:11,25-34) Karena apa? Karena dalam Perjanjian Lama belum ada salib! Jadi mereka sukar melihat kasih Allah, kecuali ada berkat jasmani yang berkelimpahan. Tetapi bagi orang-orang Perjanjian Baru, karena salib yang merupakan puncak pernyataan kasih Allah sudah terjadi, maka sekalipun tidak ada berkat jasmani yang berkelimpahan, tetap bisa melihat kasih Allah melalui salib itu!
Jadi, sekalipun kita sakit, kita tetap bisa yakin bahwa Allah mengasihi kita. Buktinya Ia mau menjadi manusia dan mati bagi kita dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus (Ro 5:8).

8)  Orang Kristen yang sakit memalukan Tuhan.

Sanggahan:

a)  Ini lagi-lagi salah pengertian tentang istilah ‘memalukan / memuliakan Tuhan’. Kalau orang Kristen sakit dikatakan memalukan Tuhan; itu karena mereka menilai Tuhan seakan-akan Tuhan itu adalah manusia.

b)  Orang kristen yang sakit tidak memalukan Tuhan. Ini terlihat dari Paulus yang pada waktu mengalami duri dalam daging bukan saja tidak memalukan Tuhan, tetapi akhirnya justru membawa kemu­liaan bagi Tuhan (2Kor 12:7-10).
Memang kalau ada orang yang sehat dan kaya bisa percaya kepada Tuhan, hidup sesuai kehendak Tuhan, setia kepada Tuhan dsb, maka ini tentu memuliakan Tuhan. Tetapi kalau ada orang yang sakit, miskin, dan menderita terus menerus, dan dalam kondisi seperti itu ia bisa tetap percaya kepada Tuhan, hidup sesuai kehendak Tuhan, dan setia kepada Tuhan, maka tentu peristiwa ini akan lebih memuliakan Tuhan!

c)   Yang memalukan Tuhan ialah kalau kita sebagai anak-anakNya berbuat dosa. Ini terlihat dari:
·      Mat 5:16 mengatakan bahwa perbuatan baik kita memuliakan Bapa di sorga. Secara implicit ini menunjukkan bahwa dosa kita memalukan Allah.
·        Dalam Wah 3:18, kata-kata ‘ketelanjanganmu yang memalukan’ jelas menunjuk pada dosa-dosa mereka yang memalukan Allah.
Karena itu Paulus / Kitab Suci memberi peraturan bahwa orang Kristen yang berdosa (dosa sengaja terhadap mana ia tidak mau bertobat) harus dikucilkan (1Kor 5:1-13).

d)   Baca juga 1Kor 1:25-29 - “Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah”.

Text Kitab Suci ini tidak mengatakan bahwa Allah malu karena orang-orang yang lemah, bodoh, tidak terpandang, dsb! Ia bahkan memilih mereka untuk mempermalukan orang berhikmat, kuat, dsb. Kalau Allah tidak malu karena orang kristen yang bodoh, lemah, tak terpandang, dsb, mungkinkah Ia malu karena orang kristen yang sakit?

9)   Yesus sering berkata ‘imanmu telah menyembuhkan engkau’ (Mat 8:13  Mat 9:22,29). Jadi, ‘tidak sembuh’ menunjukkan ‘tidak beriman’.

Sanggahan:

a)   Kadang-kadang iman memang dijadikan syarat terjadinya mujijat / ke-sembuhan (Mat 13:58).

b) Tetapi Yesus maupun rasul-rasul tidak selalu menuntut iman sebagai syarat kesembuhan!
·    Bacalah Yoh 5:1-18, khususnya ay 13! Orang buta itu sudah sembuh, tapi tidak / belum menge­nal Yesus. Jelas bahwa disini tidak dituntut iman sebagai syarat kesembuhan.
·       Kis 3:1-10 Petrus juga tidak bertanya kepada pengemis yang lumpuh itu apakah ia beriman atau tidak!
·     Dalam 2Raja 5, Naaman jelas tidak beriman, dan boleh dikatakan bahwa tindakannya untuk menuruti Elisa adalah tindakan coba-coba! Tetapi ia toh disembuhkan!
·         Dalam Yoh 11, pada saat Lazarus dibangkitkan, baik ia maupun Maria dan Marta jelas tidak beriman bahwa Yesus akan membangkitkannya.
Jadi, orang tidak berimanpun bisa sembuh kalau Tuhan mau! Yang menentukan bukan iman kita, tetapi kehendak Tuhan!

c)  Orang berimanpun tidak selalu sembuh (2Kor 12:7-10  1Tim 5:23  2Tim 4:20). Jadi, jelas bahwa ayat-ayat seperti Mat 8:13  Mat 9:22,29 tidak berlaku umum!

d)  Banyak orang beranggapan bahwa kalau ada orang sakit, lalu orang itu berdoa dalam nama Yesus dengan iman, maka ia pasti disembuhkan. Ini didasarkan pada ayat-ayat seperti Mark 11:22-24  Mat 7:7-10  Yoh 14:13-14  Yoh 15:7b dsb. Tetapi perlu diingat bahwa pada waktu menafsirkan ayat-ayat seperti Mark 11:22-24  Mat 7:7-10  Yoh 14:13-14  Yoh 15:7b dsb, kita juga harus memperhatikan ayat-ayat seperti 1Yoh 5:14  Mat 7:11  Yoh 15:7a, yang menjadi syarat pengabulan doa, yaitu:
·    permintaan kita sesuai dengan kehendak / rencana Tuhan (1Yoh 5:14). Ingat juga bahwa beriman pada sesuatu yang bukan kehendak Tuhan, tidak bisa dikatakan beriman!
·       yang kita minta itu merupakan sesuatu yang baik dalam pandangan Tuhan (Mat 7:11).
·         kita tinggal dalam Yesus, dan firman Tuhan tinggal dalam kita (Yoh 15:7a). Dengan kata lain, kita dekat dengan Tuhan dan tunduk pada firman Tuhan.

e) Kalau seseorang berdoa untuk kesembuhan orang sakit, dan orang sakit itu tidak sembuh, bisa saja yang tidak / kurang beriman bukanlah si sakit tetapi si penyembuh. Ini terjadi dalam Mat 17:14-20. Pada waktu itu ada seseorang yang anaknya sakit ayan (ini terjadi karena kerasukan setan - bdk. Mark 9:17-18). Ia membawa anak itu kepada murid-murid Yesus, tetapi ternyata murid-murid itu tidak bisa menyembuhkan anak itu / mengusir setannya. Setelah anak itu dibawa kepada Yesus, maka barulah setannya bisa diusir dan anak itu disembuhkan. Waktu murid-murid bertanya mengapa mereka tidak bisa mengusir setan itu, Yesus berkata: ‘Karena kamu kurang percaya’ (Mat 17:20).
Tetapi ingat bahwa cerita ini tidak boleh diartikan seakan-akan setiap kali seseorang gagal menyembuhkan orang sakit, itu menunjukkan bahwa ia tidak / kurang beriman. Bisa saja orang sakit itu tidak sembuh, bukan karena orang yang mendoakannya kurang beriman, tetapi karena Tuhan memang tidak menghendaki kesembuhan itu.

10) Yesus menyuruh kita menyembuhkan orang sakit (Mat 10:5-8).

Sanggahan:

Perintah ini hanya diberikan untuk rasul-rasul pada saat itu! Ini terlihat dari:

a)    Mereka disuruh memberitakan Injil hanya kepada orang Yahudi. Banding-kan dengan Mat 28:19 yang menyuruh kita menjadikan semua bangsa murid Kristus.

b)    Mereka disuruh ‘membangkitkan orang mati’ (Mat 10:8). Ini jelas bukan perintah untuk kita!

c)  Pada saat itu mereka tidak boleh membawa bekal (Mat 10:9-10). Ban-dingkan ini dengan Luk 22:35-36 dimana mereka boleh membawa bekal.

11) Mark 16:17-18 mengatakan bahwa menyembuhkan orang sakit adalah tanda orang beriman.

Sanggahan:

a)   Mark 16:17-18 terletak dalam kontext Mark 16:9-20 yang diperdebatkan keasliannya. Untuk jelasnya lihat pelajaran Kharismatik 6 (‘Haruskah kita berbahasa Roh?’) -  pada no 12 (hal 51-52).

b)   Mark 16:17-18 menyebutkan bahwa tanda orang beriman bukan hanya menyembuhkan orang sakit, tetapi juga minum racun / memegang ular tanpa celaka dsb. Kalau orang Kharismatik mau menggunakan ayat ini secara konsekwen, maka mereka juga harus berani melakukan hal ini / bisa mengalami hal ini!

12)  Mat 8:16-17 bdk. Yes 53:4-5.
Kesembuhan jasmani yang Yesus lakukan, oleh Matius dihubungkan dengan nubuat nabi Yesaya yang berbunyi: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita”.
Yes 53:4-5 - “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh”.

Sanggahan:

a)   ‘Penyakit’ / ‘kesembuhan’ dalam Yes 53:4-5 itu bersifat jasmani atau rohani? Ada 2 pandangan:

1.   Jasmani dan rohani.
Tetapi bagaimanapun, penyempurnaan jasmani terjadi pada akhir jaman (2Kor 4:16  1Kor 15:43-44).

2.   Hanya rohani. Jadi, ‘penyakit’ menunjuk pada dosa.
·         Baca kontex Yes 53!
*        Ay 5:  ‘pemberontakan’, ‘kejahatan’.
*        Ay 6: ‘sesat seperti domba’, ‘mengambil jalannya sendiri’, ‘kejahatan’.
*        Ay 8: ‘pemberontakan’.
*        Ay 10: ‘korban penebus salah’.
*        Ay 11: ‘kejahatan’.
*        Ay 12: ‘dosa’.
Jadi jelas bahwa kontex Yes 53 adalah rohani!
·         Untuk lebih jelas tentang kontex, baca juga Yes 1:4-6!
·     Bandingkan juga dengan 1Pet 2:22-25, dimana Petrus mengutip Yes 53 ini! Ia jelas menerapkan pada dosa / penyakit rohani!

b)  Kalau Yes 53 itu memang tentang penyakit rohani (dosa), lalu mengapa Matius mengutip Yes 53:4 dan menerapkannya pada kesem­buhan jas-mani dalam Mat 8:17?
Jawabnya: karena Yesus sering melakukan sesuatu yang bersifat jasmani untuk mengajar suatu kebenaran rohani. Ini bukan suatu pengallegorian!
Contoh:
·         Ia mencelikkan mata orang buta dalam Yoh 9. Ini mengilustrasikan diriNya sebagai Terang dunia (Yoh 9:5).
·         Ia membangkitkan orang mati / Lazarus (Yoh 11). Lalu Ia mengajar bahwa Ia adalah Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25-26).
·         Ia melipat gandakan roti (Yoh 6), lalu Ia mengajar bahwa Ia adalah Roti Hidup (Yoh 6:35).

Dalam Mat 8 juga demikian. Ia menyembuhkan secara jasmani (Mat 8:15-16) untuk menunjukkan diriNya sebagai penyembuh rohani / dosa (Mat 8:17 bdk. Yes 53:4-5).
Jadi, sebetulnya sekalipun Mat 8:15-16 berbicara tentang kesembuhan / penyakit jasmani, tetapi Mat 8:17 berbicara tentang kesembuhan / penyakit secara rohani, yaitu dosa. Karena itu Matius lalu menganggap ini sebagai penggenapan dari Yes 53:4-5!

Kesimpulan:


1)    Kesembuhan illahi itu ada!

2)    Tetapi ajaran yang mengatakan bahwa orang Kristen harus sembuh:

a)   Bertentangan dengan Alkitab.

Saya ingin menambahkan satu text Kitab Suci di sini.
Yes 56:4-5 - “(4) Sebab beginilah firman TUHAN: ‘Kepada orang-orang kebiri yang memelihara hari-hari SabatKu dan yang memilih apa yang Kukehendaki dan yang berpegang kepada perjanjianKu, (5) kepada mereka akan Kuberikan dalam rumahKu dan di lingkungan tembok-tembok kediamanKu suatu tanda peringatan dan nama - itu lebih baik dari pada anak-anak lelaki dan perempuan - , suatu nama abadi yang tidak akan lenyap akan Kuberikan kepada mereka”.

Orang-orang kebiri ini tentu tidak bisa mempunyai anak. Pada saat mereka bertobat, dan taat kepada Tuhan, mereka diberi janji berkat, tetapi bukan dalam arti akan mempunyai anak! Jadi, mereka tidak disembuhkan dari keadaan tidak bisa mempunyai anak itu!

b)   Bertentangan dengan fakta / realita.
·         Jelas sekali bahwa banyak orang Kristen yang sakit! Bahkan para penyem­buhnya sering memakai kaca mata. Apakah itu bukan pe-nyakit? Apa bedanya penyakit yang disebabkan oleh bakteri / kuman dan penyakit yang disebabkan oleh usia tua? Bukankah semua itu sama-sama masuk ke dalam dunia karena dosa Adam?
·         Para penyembuh itu sendiri juga pergi ke dokter / dokter gigi, sekali-pun banyak yang pergi secara diam-diam! Bukankah ini adalah ke-palsuan dan kemunafikan yang terkutuk?

Tetapi perlu saya tekankan di sini, supaya orang-orang kristen tidak jatuh pada extrim sebaliknya, yang juga salah dan merugikan, yaitu ‘terlalu cepat menyerah dalam mengharapkan kesembuhan / berdoa untuk suatu kesembuhan’.



MACAM-MACAM KESEMBUHAN

I) Kesembuhan biasa.


Ciri-ciri kesembuhan biasa:

1)   Kesembuhan itu tidak terjadi seketika, tetapi melalui suatu proses.

2)   Adanya penggunaan hal-hal yang secara medis memang bisa memberi-kan kesembuhan seperti: dokter, obat, diet, makanan bergizi, istira­hat, olah raga, perubahan cara hidup, berhenti merokok, dsb.

Perlu diketahui bahwa berbeda dengan pandangan / ajaran banyak orang Pentakosta / Kharismatik yang mengatakan bahwa dokter / obat itu dilarang dan bertentangan dengan iman, Kitab Suci tidak menentang penggunaan dokter / obat. Ini terlihat dari:
·         Yak 5:14 yang berbunyi: “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan”.
‘Minyak’ di sini mungkin sekali berfungsi sebagai obat (bdk. Yes 1:6  Luk 10:34). Pemberian obat oleh penatua ini mungkin disebabkan pada saat itu banyak orang kristen yang miskin, sehingga tidak bisa membeli obat sendiri.
·         Mat 9:12 yang berbunyi: “Yesus mendengarnya dan berkata: ‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit’”.
Dari sini terlihat dengan jelas bahwa Yesus sendiri tidak menentang penggunaan tabib / dokter untuk orang sakit.
·         1Tim 5:23 yang berbunyi: “Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah”.
Ini merupakan nasehat dari rasul Paulus kepada Timotius yang sakit. Aneh sekali bahwa Paulus yang jelas mempunyai karunia kesembuh-an itu, ternyata tidak menyembuhkan Timotius secara mujijat, tetapi menyuruhnya menggunakan anggur sebagai obat!
·         Lukas adalah tabib (Kol 4:14).
Kalau orang kristen tidak boleh menggunakan dokter / obat, maka jelas bahwa dokter / tabib dan penjual obat semuanya harus bertobat. Tetapi sekalipun Lukas adalah seorang tabib, ia tidak pernah dikecam atau disuruh bertobat.

Kalaupun hal-hal yang secara medis bisa memberikan kesembuhan tersebut di atas digabungkan dengan doa, sehingga lalu terjadi kesem-buhan yang luar biasa cepatnya, itu tetap merupakan kesembu­han biasa!

Kalau dikatakan bahwa ini adalah kesembuhan biasa, itu tidak berarti bahwa itu tidak datang dari Tuhan! Kesembuhan ini tetap datang dari Tuhan, tetapi Tuhan menggunakan hal-hal tertentu untuk menyembuhkan. Jadi, Tuhan menyembuhkan secara tidak langsung.
Setiap kali kita sakit, selain kita harus berdoa, kita juga harus menggunakan hal-hal tersebut di atas untuk mendapatkan kesembuhan biasa ini!

II) Kesembuhan psikologis.


Ada banyak penyakit yang ditimbulkan / diperparah / dikambuhkan oleh hal-hal yang bersifat psikologis seperti takut, kuatir, marah, sedih, benci / dendam, stress, dsb.
Dalam Amsal 17:22 dikatakan bahwa ‘hati yang gembira adalah obat yang manjur’. Ini tentu tidak berlaku untuk semua penyakit! Misalnya bagaimanapun orang yang menderita patah tulang bergembira, ia tidak akan disembuhkan oleh kegembiraannya itu! Jadi, ayat ini hanya berlaku untuk penyakit-penyakit yang memang disebabkan oleh hal-hal yang bersifat psikologis.
Di dalam suatu kebaktian kesembuhan, selalu diadakan pembang­kitan emosi menggunakan musik yang keras, nyanyian yang diulang-ulang, kata-kata chairman / pengkotbah yang menggerakkan emosi, bahasa lidah, self-suggestion tentang ‘iman’ (penyugestian diri sendiri bahwa dirinya akan sembuh / sudah sembuh), dsb. Hal-hal ini memang bisa menyebabkan terjadinya kesembuhan secara psikologis terhadap penyakit-penyakit yang memang disebabkan oleh hal-hal psikologis itu! Tetapi, begitu emosi turun (kembali seperti semula), penyakitnya akan kembali / kambuh lagi. Karena itu, ini pada hake­katnya bukan suatu kesembuhan. Ini hanya kesembuhan semu saja!

III) Kesembuhan ilahi.


A)  Ada yang menggunakan benda-benda:

1)         Benda milik si penyembuh, seperti:
a)    Jubah Yesus (Mat 9:20-22  Mat 14:34-36).
b)    Sapu tangan / kain Paulus (Kis 19:12).
Ayat-ayat Kitab Suci ini dipakai sebagai dasar oleh sebagian orang Kharismatik untuk melakukan hal yang serupa!
Contoh:
·         Penginjil Televisi dari Amerika Serikat, Oral Roberts, pernah mem-bagikan 6 juta kantong plastik berisi air kepada semua pengikut-nya di seluruh Amerika, dan lalu dalam siaran TV ia mengajak mereka bersama-sama untuk memecahkan kantong plastik itu pada bagian tubuh yang sakit untuk menyembuhkannya.
·         John F. MacArthur, Jr. menceritakan dalam bukunya bahwa ia pernah menerima ‘miracle prayer cloth’ (= kain doa mujijat), dan bersama dengan kain doa mujijat itu ada suatu pesan yang berbunyi:
“Take this special miracle prayer cloth and put it under your pillow and sleep on it tonight. Or you may want to place it on your body or on a loved one. Use it as a release point wherever you hurt. First thing in the morning send it back to me in the green envelope. Do not keep this prayer cloth; return it to me. I’ll take it, pray over it all night. Miracle power will flow like a river. God has something better for you, a special miracle to meet your needs” (= Ambillah kain doa mujijat yang spesial ini dan letakkanlah di bawah bantalmu dan tidurlah di atasnya malam ini. Atau engkau dapat meletakkannya pada tubuhmu atau pada orang yang engkau cintai. Gunakanlah untuk mengurangi rasa sakit dimanapun engkau merasa sakit. Hal pertama yang harus engkau lakukan pada esok pagi adalah mengi-rimkannya kembali kepada saya di dalam amplop hijau. Janganlah menahan / menyimpan kain doa ini; kembalikanlah kepada saya. Saya akan mengambilnya, mendoakannya sepanjang malam. Kuasa mujijat akan mengalir seperti sungai. Allah mempunyai sesuatu yang lebih baik untuk engkau, suatu mujijat spesial yang sesuai untuk kebutuhanmu) - ‘The Charismatics’, p 130.

Ingat, bahwa sekalipun dalam Kitab Suci pernah terjadi kesembuhan melalui benda seperti jubah Yesus atau sapu tangan Paulus, tetapi Kitab Suci tidak pernah memerintahkan siapapun juga untuk melaku-kan hal itu!
Hal yang harus diperhatikan adalah: Kitab Suci tidak pernah menyuruh / mengijinkan untuk menggunakan benda apapun sebagai jimat. Ini perlu diwaspadai karena adanya gereja di Indonesia yang memberikan sapu tangan yang sudah didoakan untuk disimpan oleh jemaatnya (mirip dengan cerita John F. MacArthur, Jr. di atas). Ini sudah termasuk jimat, dan tentu saja tidak alkitabiah!

2)   Benda-benda yang secara medis tidak bisa menyembuhkan.
Contoh:
Dalam Yoh 9:6-7 Yesus menggunakan ludahnya yang diaduk dengan tanah untuk menyembuhkan orang buta. Secara medis ini bukan saja mustahil untuk menyembuhkan orang buta, tetapi bahkan orang melekpun akan menjadi buta kalau diberi ‘obat’ seperti itu!
Ini berbeda dengan penggunaan obat dalam kesembuhan biasa, karena obat memang bisa memberi kesembuhan (secara medis).

B)  Ada yang menggunakan perintah ‘Dalam nama Yesus....’.
Contoh: Kis 3:6  Kis 9:34 dsb.
Orang-orang anti Kharismatik menganggap ini sebagai karunia kesem-buhan dan mereka beranggapan bahwa hal ini tidak ada lagi jaman ini.
Dasar anggapan ini:

1)   Itu adalah karunia untuk membuktikan kenabian / kerasulan dan juga membuktikan bahwa mereka betul-betul menyampaikan Firman Tuhan (Kel 19:9  2Raja-raja 5:8  Maz 74:9  Mat 9:6  Yoh 3:2  Yoh 6:14  Yoh 11:47  Kis 4:16  Kis 14:3  2Kor 12:12  Ibr 2:3-4).
Karena itulah mereka beranggapan bahwa hal itu tidak ada lagi pada saat ini.

Tanggapan saya:

a)   Tidak ada satupun ayat Kitab Suci yang mengatakan bahwa karu-nia kesem­buhan sudah tidak ada lagi.

b)   Ayat-ayat seperti Kis 14:3  2Kor 12:12  Ibr 2:3,4 tidak berka­ta bah-wa itu adalah satu-satunya tujuan pemberian karunia itu.

John Stott mengatakan: “The major purpose of miracles was to authenticate each fresh stage of revelation” (= Tujuan utama dari mujijat adalah untuk membuktikan / mengesahkan setiap tahap wahyu yang baru) - ‘Baptism and Fullness’, p 97.
Ini jelas menunjukkan bahwa ada tujuan sekunder dari mujijat.

Dan Thomas R. Edgar mengatakan:
“It is also clear that miracles were performed primarily to confirm the gospel and only secondarily for the benefit of the recepients” (= Juga jelas bahwa mujijat dilakukan pertama-tama untuk meneguhkan Injil dan hanya secara sekunder untuk keuntungan si penerima mujijat) - ‘Miraculous Gifts’, p 99.
Jadi, bisa saja bahwa pada jaman ini karunia itu diberikan dengan tujuan lain.

c)   Kalau dulu Allah memberikan karunia itu dengan tujuan membukti-kan kerasulan / kenabian, itu tidak berarti bahwa sekarang Allah tidak bisa memberikan dengan tujuan yang lain.
Yesus sering menyembuhkan karena belas kasihan (Mat 14:14  Mark 1:41-42  Luk 7:13-14); juga Ia pernah menyembuhkan karena itu adalah perbuatan baik (Mat 12:9-13).
Jadi, tidak mungkinkah pada jaman ini Allah memberikan karunia kesembuhan dengan tujuan yang seperti itu?

d)   Dalam 1Kor 12:9,30 tidak kelihatan bahwa karunia ini hanya untuk rasul saja, karena kata ‘seorang’ / ‘yang lain’ dalam 1Kor 12:9 tidak mesti menunjuk kepada seorang rasul. Jadi jelas bahwa karunia ini tidak dimonopoli oleh rasul-rasul saja!

e)   Misionaris-misionaris yang melayani di daerah-daerah dimana ke-kristenan sama sekali tidak dikenal, bisa saja diberi karunia ke-sembuhan oleh Tuhan untuk membuktikan bahwa mereka memang utusan Tuhan.

2)   Dalam Yak 5:14-16, Tuhan sudah memberitahu apa yang Ia kehen-daki untuk kita lakukan pada waktu kita sakit. Kita harus memanggil tua-tua, yang akan berdoa dan memberi obat (minyak). Mengapa Tuhan tidak menyuruh kita untuk pergi kepada orang yang mempunyai karunia kesembuhan? Karena karunia kesembuhan sudah tidak ada lagi.

Tanggapan saya:

Ini hanya cara yang umum. Ini tidak berarti bahwa tidak ada cara yang khusus, dan ini tidak berarti bahwa karunia kesembuhan sudah tidak ada lagi.

3)   Dalam Kitab Suci, yang melakukan kesembuhan hanyalah rasul-rasul dan orang-orang di sekitarnya / orang dalam kalangan rasul, seperti Barnabas (Kis 14:3), Stefanus (Kis 6:8), dan Filipus (Kis 8:6-7).

Tanggapan saya:

a)   Tidak diceritakan tidak berarti tidak ada.

b)   1Kor 12:9,30 menunjukkan bahwa karunia itu tidak hanya untuk rasul-rasul (kata ‘seorang’ / ‘yang lain’ tidak berarti rasul).

Kesimpulan:

Saya beranggapan bahwa karunia kesembuhan masih tetap ada. Tetapi perlu juga diingat bahwa sama seperti bahasa Roh, jaman sekarang ada banyak karunia kesembuhan yang sekalipun menggunakan nama Yesus tetapi merupakan karunia kesembuhan yang palsu (bdk. Mat 7:22-23).

C)  Ada yang menggunakan doa (bdk. Kis 28:8).
Orang-orang anti Kharismatik membedakan kesembuhan mujijat yang terjadi karena doa dengan kesembuhan mujijat yang terjadi karena karunia kesembuhan. Kesembuhan mujijat yang terjadi karena karunia kesembuhan, itu seperti dalam Kis 3:6, dimana si penyembuh langsung memerintahkan dalam nama Yesus supaya orang yang sakit itu sembuh. Ini dianggap tidak ada lagi. Sedangkan kalau kesembuhan mujijat yang terjadi karena doa, itu seperti dalam Kis 28:8, dan ini dianggap masih ada sampai jaman sekarang.
Jadi, orang-orang anti Kharismatikpun percaya bahwa kesembuhan mujijat yang terjadi melalui doa masih ada sampai jaman sekarang, dan karena itu hal ini tidak menjadi bahan perdebatan.

 

Ciri-ciri kesembuhan ilahi:


1)   Kesembuhan itu harus terjadi secara langsung / seketika.
Ada yang menganggap Mark 8:22-25 sebagai dasar untuk percaya akan adanya kesembuhan ilahi yang terjadi secara bertahap (melalui suatu proses). Tetapi saya berpendapat bahwa sekalipun dalam Mark 8:22-25 itu terjadi 2 tahap kesembuhan, tetapi selang waktunya hanyalah bebe-rapa detik, sehingga sebetulnya tetap merupakan kesembuhan seketika (bukan proses). Karena itu saya tetap beranggapan bahwa kesembuhan ilahi harus terjadi secara langsung.
Jaman ini sering terdengar ada orang yang katanya mengalami kesem-buhan ilahi tetapi sembuhnya berangsur-angsur. Saya berpendapat bahwa itu bukan kesembuhan ilahi. Dalam Kitab Suci kesembuhan ilahi selalu terjadi langsung.

2)   Kesembuhan itu harus bersifat total (penyakitnya sembuh total).
Dalam Kitab Suci semua kesembuhan ilahi terjadi seperti itu. Tidak ada orang lumpuh, yang setelah mengalami kesembuhan ilahi, lalu bisa berjalan tetapi pincang! Tidak ada orang buta, yang setelah mengalami kesembuhan ilahi, lalu bisa melihat tetapi harus menggunakan kaca mata minus 15! Tidak ada orang tuli, yang setelah mengalami kesembuhan ilahi, lalu bisa mendengar tetapi harus menggunakan hearing aids (= alat bantu untuk mendengar)!
Tetapi lihatlah ‘kesembuhan-kesembuhan ilahi’ jaman sekarang ini! Bukan main banyaknya orang yang sembuh setengah-setengah tetapi mengaku telah mengalami kesembuhan ilahi! Ini jelas bukan kesembuhan ilahi!

3)   Penyakitnya tidak boleh kambuh.
Ada 3 hal yang bisa dipakai sebagai dasar untuk mengatakan bahwa orang yang mengalami kesembuhan ilahi bisa kambuh lagi penyakitnya:
a)    Dalam Kitab Suci orang-orang yang dibangkitkan dari kematian, akhir-nya akan mati lagi.
Tetapi ini tidak bisa diterima karena kematian berbeda dengan pe-nyakit.
b)    Orang yang disembuhkan dari kerasukan setan, bisa kerasukan lagi (Mat 12:43-45).
Ini juga tidak bisa diterima karena kerasukan setan tidak bisa disama-kan dengan penyakit.
c)    Dalam Yoh 5:14 Yesus berkata kepada orang lumpuh yang telah Ia sembuhkan: ‘Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk’. Ini dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa penyakit seseorang yang mengalami kesembuhan ilahi bisa kambuh kalau ia berbuat dosa.
Inipun tidak bisa diterima karena ‘lebih buruk’ tidak berarti penyakit yang sama akan kembali. Artinya: ia akan mengalami hukuman Tuhan yang lebih berat.

Dalam Kitab Suci tidak pernah ada orang yang setelah mengalami kesembuhan ilahi, lalu kambuh lagi penyakitnya! Bahkan 9 orang kusta yang tidak tahu terima kasih dalam Luk 17:11-19 juga tidak kambuh penyakitnya.
Tetapi jaman sekarang, sering sekali ada orang yang katanya mengalami kesembuhan ilahi, tetapi lalu kambuh kembali penyakitnya. Ini omong kosong! Ini pasti bukan kesembuhan ilahi, tetapi kesembuhan psikologis!

4)   Tidak digunakan dokter / obat.
Semua kesembuhan ilahi dalam Kitab Suci tidak menggunakan obat / dokter.

 

Ciri yang tidak harus ada dalam kesembuhan ilahi:


Dalam suatu kesembuhan ilahi, tidak harus terjadi pertobatan dari orang yang disembuhkan itu. Itu memang bisa terjadi, tetapi tidak selalu terjadi.
Misalnya dalam Luk 17:11-19, kesembilan orang kusta yang tidak tahu berterima kasih itu jelas sekali tidak bertobat! Tetapi mereka toh mengalami kesembuhan ilahi!

 

IV) Kesembuhan dari setan.


1)   Dasar Kitab Suci akan adanya kesembuhan dari setan: Mat 7:22-23  Mat 24:24  2Tes 2:9-12  Wah 13:13-14  Wah 16:13-14.
Semua ayat-ayat ini menyebabkan kita harus berhati-hati pada saat suatu ‘kesembuhan’ / ‘mujijat’ terjadi. Karena Kitab Suci sudah menubuatkan bahwa pada akhir jaman ini akan ada banyak kesembuhan / mujijat yang palsu yang berasal dari setan.

2)   Karena setan adalah seorang yang hebat sekali dalam menipu / memalsu, maka bisa saja keempat ciri kesembuhan ilahi di atas terpenuhi semua, tetapi itu toh merupakan kesembuhan dari setan!

3)   Harus diakui bahwa memang sangat sukar untuk bisa membedakan an-tara kesembuhan ilahi dengan kesembuhan dari setan. Tetapi kadang-kadang bisa terlihat bahwa kesembuhan itu dari setan kalau:

a)   Ada penggunaan hal-hal yang berbau mistik / perdukunan.
Misalnya:
·         harus berdoa pada hari / jam tertentu, supaya bisa sembuh.
·         harus berdoa / tidur dengan telanjang.
·         menggunakan air dan kembang tertentu.
·         disuruh menyimpan jimat / benda-benda tertentu (bahkan salib / kitab Suci / kertas bertuliskan ayat tertentu dari Kitab Suci!).
·         adanya penggunaan mantera.
·         dsb.

Sekalipun hal-hal di atas ini digabungkan dengan:
¨      doa / kata-kata ‘dalam nama Yesus’.
¨      doa Bapa kami.
¨      penggunaan ayat-ayat Kitab Suci.
¨      tanda salib, dsb.
itu tetap dari setan.
Karena itu janganlah membiarkan diri saudara dikelabui hanya dengan penggunaan nama Yesus, doa Bapa Kami, pengutipan ayat Kitab Suci dsb!

b)   Kalau terjadi hal-hal yang tidak Alkitabiah seperti ‘nggeblak’ dsb.
Pada kasus pengusiran setan, orang memang bisa pingsan / diban-ting-banting dsb, tetapi hal itu tidak mungkin terjadi pada kasus ke-sembuhan!



Mujijat


Pandangan Kharismatik tentang mujijat dan tanggapan / jawabannya:

I)  Orang kristen harus terus / selalu mengalami mujijat seperti pada jaman Kitab Suci.


Tanggapan saya:

1)   Dalam Kitab Suci sekalipun mujijat tidak dilakukan / dialami oleh tiap orang percaya pada setiap saat!
Mari kita melihat mujijat-mujijat dalam setiap jaman dalam Kitab Suci:
·         Mulai Adam dan Hawa sampai Nuh, hanya tercatat 1 mujijat, yaitu pengangkatan Henokh (Kej 5:24).
·         Mulai Nuh sampai Abraham, juga tercatat hanya 1 mujijat, yaitu peristiwa menara Babil (Kej 11:1-9).
·         Mulai Abraham sampai Yusuf, ada beberapa mujijat, tetapi bisa dikatakan bahwa pada masa ini tetap jarang sekali terjadi mujijat.
·         Selama bangsa Israel di Mesir (lebih kurang 400 tahun), boleh dikata-kan tidak ada mujijat.
·         Jaman Musa dan Yosua, banyak sekali mujijat.
·         Jaman Hakim-hakim, kadang-kadang saja ada mujijat.
·         Jaman Saul, Daud dan Salomo, jarang sekali ada mujijat.
·         Jaman raja-raja (setelah Israel pecah menjadi dua), jarang sekali ada mujijat.
·         Jaman Elia, Elisa, dan nabi-nabi, banyak sekali mujijat.
·         Jaman Ezra dan Nehemia (setelah kembali dari pembuangan Babil-onia), tidak ada mujijat.
·         selama 400 tahun antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tidak ada mujijat.
·         Pada masa Yohanes Pembaptis dikatakan bahwa ia tidak melakukan satu tandapun (Yoh 10:41).
·         Pada masa tiga setengah tahun pelayanan Yesus, ada banyak sekali mujijat.
·         Pada jaman rasul-rasul, juga ada banyak sekali mujijat.

Kesimpulannya: dalam Kitab Suci mujijat-mujijat itu bergerombol di 4 tempat / masa yaitu:
a)         Jaman Musa dan Yosua.
b)         Jaman Elia, Elisa dan nabi-nabi.
c)         Jaman pelayanan Tuhan Yesus.
d)         Jaman rasul-rasul.
Pertanyaannya adalah: mengapa mujijat-mujijat itu bergerombol seperti itu? John Stott menjawab sebagai berikut:

“The major purpose of miracles was to authenticate each fresh stage of revelation” (= tujuan utama dari mujijat-mujijat adalah membuktikan / mengesahkan setiap tahap baru dari wahyu / penyataan) - John R. W. Stott, ‘Baptism and Fullness’, p 97.

Dasar Kitab Suci: Kel 19:9  Kis 14:3  2Kor 12:12  Ibr 2:3,4.
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang tertentu bisa melakukan mujijat untuk membuktikan bahwa mereka adalah nabi / rasul dan untuk membuktikan / mengesahkan bahwa ajaran mereka betul-betul datang dari Allah.

2)   Sekarang Kitab Suci sudah lengkap. Tidak ada wahyu yang baru lagi!
Memang banyak orang Kharismatik yang percaya bahwa sekarangpun masih ada wahyu Allah. Perhatikan kutipan di bawah ini:
“Kunci penulisan buku ini ialah hikmat dan wahyu yang bergantung pada kenyataan keberadaan Yesus yang tidak pernah berubah baik kemarin, hari ini dan untuk selama-lamanya (Ibr 13:8 ...”.
“Demikian pula halnya pengalaman para nabi dan rasul dalam penerimaan hikmat dan wahyu seperti yang kami alami”.
“Pelayanan kami mengalami perkembangan melalui kuasa pernyataan FirmanNya yang Mujizat dan yang nyata melalui peranan theologia sempurna: hikmat dan wahyu”.
“Oleh kemurahan Tuhan, melalui getaran hikmat dan wahyu ini, Tuhan mulai memakai kami, masing-masing David berusia 6 1/2 tahun dan Ribka 5 tahun, dalam penglihatan dan pendengaran rohani. Hal ini terus berlangsung hingga kini sesudah kami dipakai Tuhan untuk berkhotbah (David 8 tahun dan Ribka 6 1/2 tahun)”.
“Sewaktu penulis menulis buku ini akal pikirannya dipengaruhi / dikuasai oleh Roh Kudus”.
“Wahyu adalah perkataan Kristus yang diterima secara langsung oleh roh manusia / penulis yang selanjutnya dicetuskan dalam penulisan buku ini melalui penglihatan dan pendengaran rohani. Di dalam buku ini kita dapat menemukan kata ‘Aku’ maksudnya adalah Tuhan yang berbicara kepada penulis / berdialog dalam alam roh” - (David dan Ribka Moningka, ‘Pernyataan Firman yang Mujizat’, hal III,IV,VI).

Tetapi kalau memang jaman sekarang ini masih ada wahyu Tuhan, itu berarti bahwa wahyu yang baru itu harus dijadikan Kitab Suci jilid II! Ini berarti menambahi Kitab Suci / Firman Tuhan! Bandingkan ini dengan ayat-ayat seperti Ul 4:2  Ul 12:32  Amsal 30:6  Mat 5:19  Wah 22:18-19 yang jelas mengajarkan bahwa kita tidak boleh menambahi ataupun mengurangi Kitab Suci / Firman Tuhan.

Karena jaman sekarang tidak ada wahyu lagi, dan karena fungsi utama dari mujijat adalah membuktikan / mengesahkan wahyu Tuhan, maka jelas bahwa pada jaman sekarang mujijat harus berkurang frekwensinya. Tetapi ingat, jangan sampai kita terjerumus ke dalam pandangan golong-an Liberal yang sama sekali tidak percaya mujijat. Itu jelas adalah pan-dangan yang tidak alkitabiah. Mujijat tetap ada, tetapi tidak bisa diharap-kan terjadi sesering seperti dalam Kitab Suci. Ingat bahwa sekalipun tujuan utama dari mujijat adalah mengesahkan wahyu Tuhan, tetapi tetap ada tujuan yang lain.

John Stott:
“What then, should be our response to miraculous claims today? It should be neither a stubborn incredulity (‘but miracles don’t happen today’) nor an uncritical gullibility (‘of course! miracles are happening all the time’), but rather a spirit of open-minded enquiry: ‘I don’t expect miracles as a common-place today, because the special revelation they were given to authenticate is complete; but of course God is sovereign and God is free, and there may well be particular situation in which he pleases to perform them’” [= Lalu apa tanggapan kita yang seharusnya terhadap claim mujijat jaman ini? Bukan suatu ketidakpercayaan yang bandel (‘tetapi mujijat tidak terjadi pada jaman ini’), juga bukan sikap mudah tertipu yang tidak kritis (‘tentu saja! mujijat terus terjadi setiap waktu’), tetapi suatu roh penyelidikan dengan pikiran terbuka: ‘Aku tidak mengharapkan mujijat sebagai kejadian sehari-hari, karena wahyu khusus, terhadap mana mereka diberikan untuk menge-sahkan, telah lengkap; tetapi tentu saja Allah itu berdaulat dan Allah itu be-bas, dan mungkin saja ada suatu situasi tertentu dimana Ia berkenan untuk melakukan mujijat] - John R. W. Stott, ‘Baptism and Fullness’, p 98-99.

3)   Mujijat adalah suatu peristiwa yang bertentangan dengan hukum alam atau bertentangan dengan apa yang biasanya terjadi.
Misalnya: manusia tidak bisa berjalan di atas air. Ini adalah hukum alam dan inilah yang biasanya terjadi. Pada saat Yesus dan Petrus bisa berjalan di atas air, itu bertentangan dengan hukum alam / apa yang biasanya terjadi. Jadi, itu adalah mujijat.
Sekarang, kalau mujijat itu harus selalu terjadi (terus menerus), maka mujijat itu menjadi sesuatu yang biasa terjadi dan mujijat itu bukan lagi mujijat!

John Stott berkata:
“... a miracle by definition is an extraordinary event, a creative deviation from God’s normal and natural ways of working. If miracles were to become commonplace they would cease to be miracles” (= ... definisi mujijat adalah suatu kejadian yang luar biasa, suatu penyimpangan dari cara kerja Allah yang normal dan alamiah. Kalau mujijat itu menjadi sesuatu yang biasa / terjadi sehari-hari, maka mujijat itu berhenti menjadi mujijat) - John R. W. Stott, ‘Baptism and Fullness’, p 96.

Misalnya semua orang bisa berjalan di atas air, bukankah hal itu menjadi hal biasa / lumrah, dan bukan lagi merupakan mujijat? Dan sebaliknya bukankah orang yang tenggelam justru menjadi sesuatu yang luar biasa / mujijat?
Jadi, menghendaki mujijat terjadi terus menerus adalah suatu omong kosong yang tolol. Bahkan pada jaman Yesus dan rasul-rasulpun mujijat tidak terjadi secara terus menerus! Bdk. Mat 26:53-54  Kis 4:1-22  Kis 5:26-42  Kis 7:57-60  Kis 9:23-25  Kis 12:1-2  Kis 14:19-20  Kis 27. Dalam semua ayat-ayat ini tidak terjadi mujijat padahal bisa dikatakan ‘dibutuh-kan mujijat’ karena adanya kematian, atau bahaya / penganiayaan di depan mata.

II) Orang kristen (protestan) tidak mengalami mujijat karena mereka tidak percaya / mengharapkan mujijat.


Ayat-ayat yang dipakai sebagai dasar pandangan ini ialah: Mark 6:5  Mat 17:19-20  Mark 11:22-24.
Juga perhatikan kutipan di bawah ini:
“Ada begitu banyak umatKu yang menutup mata dari setiap ren-canaKu. Mereka bertanya-tanya apakah Aku masih terus bekerja hingga saat ini ...
Mereka pula bertanya-tanya mengapa mereka sama sekali tidak mengalami bukti pekerjaanKu. Ketahuilah ... bagaimana Aku dapat menyatakan bukti kuasaKu kepada mereka jika mereka akhirnya tidak dapat menerima dan tidak dapat mengakui hal itu sebagai pernyataan kuasaKu yang berlaku hingga saat ini. Aku tidak pernah dan memang tidak akan pernah berubah. Demikian pula halnya dengan keajaibanKu ...
Mereka tidak akan mengalami mujizat kemenangan yang sempurna dalam segala perkara karena mereka sendiri yang menutup diri dari hal demikian itu” - (David dan Ribka Moningka, ‘Pernyataan Firman yang Mujizat’, hal 1).

Tanggapan saya:

1)   Memang kadang-kadang Tuhan menjadikan iman sebagai syarat terja-dinya mujijat seperti pada ayat-ayat yang dijadikan dasar di atas. Tetapi perlu diketahui bahwa sering juga Tuhan melakukan mujijat, tanpa me-nuntut iman / sekalipun orangnya tidak percaya bahwa mujijat akan ter-jadi.
Contoh:
·         Kebangkitan Lazarus dalam Yoh 11. Tidak seorangpun, baik murid-murid Yesus, maupun Maria atau Marta, dan lebih-lebih Lazarusnya yang sudah mati itu, yang percaya / mengharapkan terjadinya mujijat kebangkitan Lazarus dari antara orang mati, tetapi toh mujijat itu ter-jadi!
·         Mat 11:20-24 menunjukkan bahwa orang-orang yang ada dalam kota itu adalah orang-orang yang tak beriman / tak bertobat, tetapi toh banyak mujijat dilakukan oleh Yesus di sana.
·         Dalam Mark 6:5 sekalipun, juga terjadi mujijat (sekalipun tidak ba-nyak), padahal orang-orangnya tidak percaya.

2)   Sebaliknya, ada banyak orang yang imannya hebat, tetapi tidak meng-alami mujijat.
Contoh:
·         Yohanes Pembaptis dalam Yoh 10:41  Mat 14:1-12.
·         Paulus dalam 2Kor 12:7-10.

Kesimpulannya: mujijat terjadi atau tidak, tergantung pada kehendak Tuhan. Karena itu dalam menafsirkan ayat-ayat seperti Mark 11:22-24, yang menun-jukkan bahwa doa yang disertai iman bisa menghasilkan muijijat, kita juga harus memperhatikan ayat seperti 1Yoh 5:14 yang berbunyi: “Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya”.

III) Tuhan Yesus tidak berubah (Ibr 13:8).


Karena Yesus tidak berubah, maka kalau dahulu Yesus melakukan banyak mujijat, sekarang pasti juga demikian.

Tanggapan saya:

Tuhan Yesus memang tidak berubah, tetapi dalam hal apa? Dalam sifat-sifatNya! Baik dahulu, sekarang maupun selama-lamanya Ia tetap maha kuasa, maha suci, maha adil, berdaulat, dsb. Jadi memang sekarangpun Dia pasti bisa melakukan apa yang dahulu Ia pernah lakukan. Tetapi kalau Yesus bisa melakukan, itu tidak berarti Ia mau melakukan! Dalam Kitab Suci ditunjukkan banyak hal yang pernah Ia lakukan tetapi tidak Ia lakukan lagi, seperti:
  • peristiwa penciptaan alam semesta beserta isinya (Kej 1-2  Yoh 1:1-3). Ini pernah Ia lakukan tetapi tidak pernah Ia ulangi.
  • inkarnasi, kematian dan kebangkitanNya. Inipun Ia lakukan hanya satu kali saja.
  • Ia pernah menyuruh Petrus berjalan di atas air, tetapi Ia tidak pernah mengulang hal itu pada orang lain.
  • Ia pernah menghancurkan dunia dengan menggunakan air bah pada jaman Nuh (peristiwa dahsyat ini jelas merupakan mujijat), tetapi Ia bah-kan berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi (Kej 9:11-17).
  • Ia pernah memimpin bangsa Israel dengan menggunakan tiang awan dan tiang api pada waktu mereka ada di padang gurun (Kel 13:21-22), tetapi Ia tidak pernah mengulangi hal itu.

Kesimpulannya: kalau pada jaman ini Ia melakukan hanya sedikit mujijat, itu tidak berarti Ia berubah!

IV) Kisah 2:17-19 mengharuskan banyak mujijat.


Tanggapan saya:

1)   Kis 2:17-18:

a)   ‘Bernubuat’.
Ada 2 penafsiran tentang kata ‘bernubuat’ ini:
·     memberitakan Firman Tuhan setelah mendapat wahyu langsung dari Allah (seperti nabi-nabi Perjanjian Lama).
·  memberitakan Firman Tuhan setelah mendapat pengertian dari Ki-tab Suci (seperti pengkhotbah jaman sekarang).

b)   ‘Penglihatan dan mimpi’.
Juga ada 2 penafsiran tentang kata-kata ini:
·         kata-kata ini diartikan secara hurufiah.
·  kata-kata ini dianggap sebagai kiasan / simbol yang artinya: Allah akan menyatakan diri kepada manusia (bdk. Bil 12:6).
Alasan untuk memilih tafsiran ke 2 ini ialah: pada hari Pentakosta itu, tidak ada penglihatan ataupun mimpi, sehingga kalau diarti-kan secara hurufiah, berarti nubuat ini tidak tergenapi.

Yang manapun yang benar dari arti-arti ini, jelas bahwa semua ini sudah digenapi pada abad pertama itu.

2)   Kis 2:19-20.
Ada 2 penafsiran juga tentang bagian ini:

a)   Ini menunjuk pada apa yang akan terjadi menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang keduakalinya.

b)   Ini adalah ancaman hukuman (kontras dengan Kis 2:17-18 di atas).
Calvin mengatakan bahwa:
·         ‘matahari’ dan ‘bulan’ menunjuk pada kasih Allah.
·         ‘kegelapan’, ‘api’, dan ‘darah’ menunjuk pada penghukuman / mur-ka Allah.

Arti kedua ini lebih cocok dengan kontexnya karena:
¨      Kis 2:17-18 menunjukkan berkat Tuhan.
¨      Kis 2:19-20 menunjukkan ancaman hukuman / murka Allah.
¨      Kis 2:21 menunjukkan bahwa sekalipun ada ancaman hukuman dalam Kis 2:19-20, tetapi orang yang percaya akan selamat.

Kesimpulannya: Kis 2:17-20 tidak bisa dijadikan dasar untuk berkata bahwa pada akhir jaman akan ada banyak mujijat. Nubuat nabi Yoel itu sudah digenapi pada abad pertama, dan kata-kata ‘mujijat’ dan ‘tanda’ pada Kis 2:19 menunjuk pada ancaman hukuman.

V) Yoh 14:12 mengatakan bahwa orang percaya akan melakukan pekerjaan yang lebih besar dari pekerjaan yang Yesus lakukan.


Tanggapan saya:

1)   Yoh 14:10,11,12 masing-masing mengandung kata ‘pekerjaan-pekerjaan’. Ada bermacam-macam penafsiran tentang arti kata tersebut:

a)   Kata ‘pekerjaan-pekerjaan’ hanya menunjuk pada mujijat-mujijat yang Yesus lakukan.

Keberatan terhadap penafsiran ini:
Pada saat menafsirkan Yoh 14:12, kita harus memperhatikan fakta bahwa dalam Kitab Suci sekalipun tidak ada satu rasulpun yang bisa melakukan mujijat-mujijat yang lebih banyak dan lebih hebat dari mujijat-mujijat yang Yesus lakukan! Jadi jelas bahwa kata ‘pekerjaan’ dalam Yoh 14:12 ini tidak mungkin sekedar diartikan ‘tindakan melakukan mujijat’. Penafsiran seperti ini bertentangan dengan fakta dalam Kitab Suci sendiri!

b)   Pemberitaan Injil / Firman Tuhan yang Yesus lakukan.
Ada juga orang yang menambahkan bahwa di dalam kata ‘pekerjaan-pekerjaan’ itu juga tercakup kesembuhan jiwa dari orang-orang yang bertobat karena pemberitaan Injil tersebut.

Calvin kelihatannya termasuk dalam golongan kedua ini karena dalam tafsirannya tentang Yoh 14:12 ini ia berkata:
“Now the ascension of Christ was soon afterwards followed by a wonderful conversion in the world, in which the Divinity of Christ was more powerfully displayed than while he dwelt among men. Thus, we see that the proof of his Divinity was not confined to the person of Christ, but was diffused through the whole body of the Church” (= Kenaikan Kristus ke surga segera disusul oleh suatu pertobatan yang luar biasa dalam dunia, dimana keilahian Kristus ditunjukkan dengan lebih hebat dari pada waktu Ia diam / tinggal di antara manusia. Jadi, kita lihat bahwa bukti keilahianNya tidak dibatasi pada pribadi Kristus, tetapi disebarkan dalam seluruh tubuh Gereja).

William Hendriksen juga termasuk dalam golongan kedua ini. Ini terlihat dari kata-katanya di bawah (di bawah no 2b).

c)   Gabungan a) dan b).
Kalau dilihat Yoh 14:10 maka kelihatannya arti b) yang lebih cocok.
Kalau dilihat Yoh 14:11 maka kelihatannya arti a) yang lebih cocok.
Karena itu ada orang yang menggabungkan kedua arti ini.
Jadi, ‘pekerjaan’ = mujijat + kesembuhan jiwa / pertobatan yang disebabkan karena Pemberitaan Injil / Firman Tuhan.

Kalau pandangan ketiga ini yang benar, maka sekalipun rasul-rasul / orang kristen melakukan mujijat lebih sedikit dari Yesus (atau bahkan tidak melakukan mujijat sama sekali), tetapi tetap bisa melakukan ‘pekerjaan’ yang lebih besar dari ‘pekerjaan’ Yesus, yaitu kalau mereka mempertobatkan lebih banyak jiwa melalui pemberitaan Injil / Firman Tuhan dibandingkan dengan Tuhan Yesus.

2)   Aspek lain yang harus diperhatikan dimana rasul-rasul / orang percaya bisa melakukan pekerjaan yang lebih besar dari pekerjaan Yesus adalah:

a)         Lebih besar dalam ruang lingkup.
Yesus hanya mencakup orang Yahudi di Palestina, tetapi rasul-rasul dan orang-orang kristen mencakup segala bangsa di seluruh dunia.

b)         Lebih besar dalam hal pengaruh / kwalitet.
Pekerjaan Yesus secara mayoritas terjadi dalam dunia fisik, dimana orang-orang cuma kagum / heran, tetapi tidak bertobat (yang bertobat tentu saja ada, tetapi sangat sedikit).
Pekerjaan rasul-rasul / orang-orang kristen secara mayoritas terjadi dalam dunia rohani, dimana pengaruhnya adalah: banyak orang-orang yang bertobat.

William Hendriksen menekankan kedua hal ini dengan berkata:
“... greater works than these, namely, miracles in the spiritual realm. ... Christ’s works had consisted to a considerable extent of miracles in the physical realm, performed largely among the Jews. When he now speaks about the greater works, he is in all probability thinking of those in connection with the conversion of the Gentiles. Such works were of a higher character and vaster in extent” (= pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari ini, yaitu, mujijat-mujijat dalam dunia rohani. ... Sebagian besar pekerjaan-pekerjaan Kristus terdiri dari mujijat-mujijat dalam dunia fisik, pada umumnya dilakukan di antara orang-orang Yahudi. Sekarang pada waktu Ia berbicara tentang pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar, mungkin sekali Ia berpikir tentang hal itu dalam hubungannya dengan pertobatan orang-orang non Yahudi. Pekerjaan-pekerjaan seperti itu mempunyai sifat / karakter yang lebih besar dan luas yang lebih luas).

Catatan:
Satu hal yang perlu diperhatikan dari kata-kata Hendriksen ini ialah bahwa pertobatan merupakan suatu mujijat (dalam dunia rohani)!

Kesimpulannya: sekalipun saat ini kita tidak melakukan mujijat, itu tidak berarti bahwa Yoh 14:12 tidak tergenapi!

VI) Mujijat harus banyak terjadi supaya orang kafir mau percaya kepada Yesus.


Peter Masters, pada waktu berbicara tentang Dr. Paul Yonggi Cho dan ajarannya, mengatakan:
“This is his own explanation of how he arrived at his teaching on incubating prayer answers and healing diseases. He tells us that he was driven to finding an explanation of how Buddhist monks in Korea managed to perform better miracles than those which his own Pentecostalist churches could perform. It worried him greatly that many Koreans got healing through yoga meditation, and through attending meetings of the Soka Gakkai, a Japanese Buddhist sect with twenty millions members. According to Cho many deaf, dumb and blind people had recovered their faculties through these religious groups. Cho was very jealous of the success which these other religions had in attracting followers. He wrote: ‘While Christianity has been in Japan for more than a hundred years, with only half a percent of the population claiming to be Christians, Soka Gakkai has millions of followers ... Without seeing miracles people cannot be satisfied that God is powerful. It is you (Christians) who are responsible to supply miracles for these people’” [= Ini adalah penjelasannya sendiri tentang bagaimana ia sampai pada ajarannya tentang mengerami jawaban-jawaban doa dan penyembuhan penyakit. Ia menceritakan kepada kami bahwa ia didorong untuk menemukan penjelasan bagaimana biarawan-biarawan Buddha di Korea berhasil mengadakan mujijat-mujijat yang lebih baik dari mujijat-mujijat yang bisa diadakan oleh gereja-gereja Pentakostanya. Merupakan hal yang sangat mencemaskan baginya bahwa banyak orang Korea yang mendapatkan kesembuhan melalui meditasi yoga, dan melalui kehadiran mereka dalam pertemuan-pertemuan Soka Gakkai, suatu sekte Buddha bangsa Jepang dengan 20 juta anggota. Menurut Cho banyak orang-orang tuli, bisu dan buta dipulihkan pancainderanya melalui grup agama ini. Cho sangat cemburu / iri dengan kesuksesan agama-agama lain ini dalam menarik pengikut. Ia menulis: ‘Sementara kekristenan telah ada di Jepang selama lebih dari 100 tahun, dengan hanya setengah persen dari jumlah penduduk mengaku sebagai orang kristen, Soka Gakkai mempunyai jutaan pengikut .... Tanpa melihat mujijat-mujijat orang tidak bisa percaya bahwa Allah itu berkuasa. Kamulah (orang-orang kristen) yang bertanggung jawab untuk menyuplai mujijat untuk orang-orang ini’] - Peter Masters, ‘The Healing Epidemic’, pp 26-27.

Tanggapan saya:

1)   Mujijat tidak mempertobatkan orang.

a)   Yesus melakukan begitu banyak mujijat, tetapi toh hanya mempertobatkan sedikit orang.
Pada waktu Yesus membangkitkan Lazarus, tidak ada tokoh-tokoh agama Yahudi yang bisa menyangkal hal itu. Tetapi apa tanggapan mereka? Mereka ingin membunuh baik Yesus maupun Lazarus (Yoh 11:49-53  Yoh 12:10-11).

b)   Juga perhatikan sikap Abraham terhadap permintaan orang kaya dalam cerita Yesus tentang Lazarus dan orang kaya (Luk 16:19-31).
Dalam cerita itu terlihat bahwa orang kaya yang sudah masuk neraka itu meminta mujijat kepada Abraham, yaitu supaya Lazarus dibangkitkan dari antara orang mati supaya bisa memberitakan Injil kepada 5 saudaranya yang masih hidup (Luk 16:27-28). Tetapi Abraham menjawab bahwa pada kelima orang itu ada kesaksian Musa dan para nabi (yaitu Firman Tuhan / Perjanjian Lama), dan mereka harus memperhatikan Firman Tuhan tersebut (Luk 16:29). Tetapi orang kaya itu lalu berkata bahwa kelima saudaranya itu akan bertobat kalau ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka (Luk 16:30). Dengan kata lain, orang kaya itu beranggapan bahwa Firman Tuhan saja tidak akan mempertobatkan mereka, tetapi mujijat pasti akan mempertobatkan mereka (perhatikan bahwa dalam nerakapun ia masih punya pandangan yang sesat!). Tetapi dalam Luk 16:31, Abraham, yang jelas tidak setuju dengan pandangan orang kaya yang sesat itu, lalu menjawab: “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka juga tidak akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati”.

2)   Yesus tidak mau memberi tanda.
Mat 12:38-40 - “(38) Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: ‘Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari padaMu.’ (39) Tetapi jawabNya kepada mereka: ‘Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. (40) Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam”.
Apa artinya ‘tanda nabi Yunus’? Ada yang menganggap ay 40 sebagai penekanan / inti bagian ini dan lalu berkata bahwa tanda itu adalah kebangkitan Yesus. Tetapi kelihatannya ay 40 ini hanya merupakan tambahan saja dan bukan merupakan inti / penekanan dari bagian ini. Alasannya:
·         Luk 11:29-30 maupun Mat 16:1-4 menyebut tentang Yunus tetapi tidak menyebut tentang ‘3 hari dan 3 malam’.
Luk 11:27-30 - “Ketika orang banyak mengerumuniNya, berkatalah Yesus: ‘Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini”.
Mat 16:1-4 - “Kemudian datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka. Tetapi jawab Yesus: ‘Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak. Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.’ Lalu Yesus meninggalkan mereka dan pergi”.
·         Mark 8:11-12 bahkan hanya berkata bahwa mereka tidak akan diberi tanda. Bagian ini sama sekali tidak menyinggung tentang Yunus!
Mark 8:11-12 - “Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari padaNya suatu tanda dari sorga. Maka mengeluhlah Ia dalam hatiNya dan berkata: ‘Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.’”.
Ini semua menunjukkan bahwa Mat 12:40 bukanlah bagian inti tetapi hanya merupakan tambahan saja, karena kalau Mat 12:40 merupakan penekanan / inti, maka tidak mungkin 3 bagian Kitab Suci yang lain menghapuskan bagian ini.
Kesimpulan: arti bagian ini adalah: mereka tidak akan diberi tanda, tetapi hanya diberi pemberitaan Firman Tuhan! Yunus sendiri juga tidak memberi mujijat apa-apa kepada orang Niniwe; ia hanya memberitakan Firman Tuhan. Mereka harus percaya pada Firman Tuhan tanpa tanda / mujijat.

3)   Dalam 1Kor 1:22-23 Paulus mengatakan bahwa orang Yahudi meminta tanda / mujijat, tetapi Paulus tidak menuruti keinginan mereka! Sebaliknya, Paulus memberitakan Kristus yang tersalib, yang bagi orang-orang Yahudi itu merupakan suatu batu sandungan. Mengapa Paulus melakukan hal itu? Karena memang Injil (bukan mujijat, tetapi Injil!) adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya (Ro 1:16).

Memang sebetulnya, penekanan mujijat dan kesembuhan dalam kekristenan merupakan suatu kebodohan. Mengapa? Karena dalam agama-agama lain dan sekte-sekte sesat, dan bahkan dalam kalangan orang yang mempelajari magic, tenaga dalam, kebatinan, dsb, hal-hal ini juga banyak. Kalau kekristenan menekankan hal-hal itu, kekristenan tidak kelihatan istimewa. Yang istimewa dalam  kekristenan dan yang tidak dipunyai agama lain adalah keselamatan / pengampunan karena penebusan Kristus (Injil), dan ini yang harus ditekankan!

4)   Pertanyaan yang harus diajukan kepada Pdt. Paul Yonggi Cho adalah: mengapa Abraham, Yesus, dan Paulus tidak menunjukkan kuasa Allah, dan menyuplai mujijat, dalam text-text ini? Dan kalau Abraham, Yesus dan Paulus tidak menunjukkan kuasa Allah atau menyuplai mujijat di sini, mengapa orang kristen / hamba Tuhan jaman sekarang salah, kalau mereka hanya memberitakan Injil / Firman Tuhan, tanpa menunjukkan kuasa Allah dalam bentuk mujijat-mujijat?

Penutup:


Orang Kharismatik selalu mencari kuasa / mujijat. Banyak di antara mereka yang membanggakan diri karena mujijat-mujijat itu, dan mereka yang bisa mengada-kan mujijat merasa diri mereka ‘sakti’ dan disanjung oleh banyak orang.
Tetapi marilah kita perhatikan beberapa hal di bawah ini:

1)   Kitab Suci memperingatkan kita akan banyak mujijat-mujijat palsu, khususnya menjelang kedatangan Yesus yang keduakalinya (Mat 7:22-23  Mat 24:24  2Tes 2:9-12  Wah 13:13-14  Wah 16:13-14).

Orang yang selalu tergila-gila pada mujijat, apalagi yang menerima seadanya mujijat tanpa mengujinya dahulu, mempunyai potensi yang sangat besar untuk disesatkan oleh para nabi palsu yang bisa mengadakan mujijat!

2)   Paulus tidak membanggakan mujijat yang ia alami, tetapi sebaliknya ia membanggakan penderitaan / kelemahannya (2Kor 11:30  2Kor 12:1-10).

3)   John F. MacArthur, Jr. mengutip kata-kata dari Michael Green, yang disebutnya sebagai orang yang ‘not unfriendly to the Charismatic position’ (= orang yang bukannya tidak bersahabat dengan posisi Kharismatik), sebagai berikut:
“The Charismatic were always out for power; they were elated by spiritual power, and were always seeking short cuts to power. It is the same today. Paul’s reply is to boast not of his power but of his weakness, through which alone the power of Christ can shine. Paul knew about the marks of an apostle, in signs, and wonders, and mighty deeds (2Cor 12:12) but he knew that the power of an apostle, or of any other Christian, came from the patient endurance of suffering, such as he had with his torn in the flesh, or the patient endurance of reviling and hardship such as he was submitted to in the course of his missionary work (1Cor 4). The Charismatic had a theology of the resurrection and its power; they needed to learn afresh the secret of the cross and its shame ... which yet produced the power of God (1Cor 1:18)” [= Orang Kharismatik selalu mencari kuasa; mereka gembira / berbesar hati oleh kuasa rohani, dan selalu mencari jalan pintas menuju kuasa. Hal yang sama terjadi pada masa ini. Jawaban Paulus adalah memegahkan diri bukan karena kuasanya tetapi karena kelemahannya, yang merupakan satu-satunya jalan melalui mana kuasa Kristus bisa bersinar. Paulus tahu tentang tanda-tanda / ciri-ciri seorang rasul, dalam tanda-tanda, mujijat-mujijat, dan perbu-atan-perbuatan ajaib (2Kor 12:12) tetapi ia tahu bahwa kuasa seorang rasul, atau orang kristen yang manapun juga, datang dari sikap bertahan yang sabar dalam penderitaan, seperti yang ia miliki dengan duri dalam dagingnya, atau sikap bertahan yang sabar terhadap caci maki dan kesukaran terhadap mana ia diserahkan dalam perjalanan misionarisnya (1Kor 4). Orang Kharismatik mempunyai theologia kebangkitan dan kuasanya; mereka perlu untuk mem-pelajari lagi rahasia dari salib dan kehinaannya .... yang menghasilkan kuasa Allah (1Kor 1:18)] - John F. MacArthur, Jr. dalam buku ‘The Charismatics’, p 104. Ia mengutip dari buku karangan Michael Green yang berjudul ‘I believe in the Holy Spirit’, p 208.




Roh jahat

I) Roh jahat dan benda.


Banyak orang Kharismatik yang beranggapan bahwa seadanya patung, gam-bar / lukisan (apalagi yang menggambarkan naga / ular, orang yang matanya menyeramkan, dsb), bahkan souvenir-souvenir sekalipun adalah benda-benda yang mengandung roh jahat dan karena itu harus ditengking dan bahkan dimusnahkan.

Tanggapan saya:

1) Kitab Suci memerintahkan pemusnahan berhala / benda-benda yang berhubungan dengan kuasa gelap, bukan seadanya patung (Ul 7:1-5  Ul 12:3  Kel 32:20  Kis 19:19).
Mengapa benda-benda itu harus dimusnahkan?
·         Apakah karena benda-benda itu ‘ada isinya’ sehingga bisa ‘meng-ganggu’?
Pertanyaan ini sukar dijawab, karena Kitab Suci tidak pernah menga-takan tentang adanya benda yang ‘ada isinya’ sehingga bisa ‘meng-ganggu’. Tetapi Kitab Suci juga tidak pernah mengatakan bahwa hal seperti itu tidak mungkin terjadi. Jadi kemungkinan ini masih tetap terbuka.
·    Supaya benda-benda itu tidak disembah, baik oleh mereka sendiri maupun oleh orang lain (Ul 7:4-5).
Jadi, patung / benda yang termasuk berhala (patung Maria / Yesus / orang suci yang disembah, keris, jimat, hu, patkwa, cincin / batu pusa-ka, dsb) harus dihancurkan sekalipun benda-benda itu terbuat dari emas dsb (Kel 32:20  Ul 7:25). Kalau dalam keristenan ada orang yang extrim kiri dengan menyuruh menghancurkan seadanya patung, maka perlu diingat akan adanya orang yang extrim kanan, yang de-ngan mengandalkan ‘iman’ atau kuasa Tuhan, lalu tetap menyimpan benda-benda yang seharusnya dihancurkan. Lebih-lebih kalau benda-benda itu terbuat dari emas / perak, maka ada orang tamak yang menggunakan ‘iman’ sebagai kedok, dan tetap menyimpan benda-benda seperti itu. Kalau saudara adalah orang seperti itu, perhatikan-lah Ul 7:25-26 yang berbunyi: “Patung-patung allah mereka haruslah kamu bakar habis; perak dan emas yang ada pada mereka janganlah kauingini dan kauambil bagi dirimu sendiri, supaya jangan engkau terjerat karenanya, sebab hal itu adalah kekejian bagi TUHAN, Allah-mu. Dan janganlah engkau membawa sesuatu kekejian masuk ke dalam rumahmu, sehingga engkaupun di-tumpas seperti itu; haruslah engkau benar-benar merasa jijik dan keji terhadap hal itu, sebab semuanya itu dikhususkan untuk dimusnahkan”.

2) Kitab Suci tidak melarang pembuatan seadanya patung! Yang dilarang adalah pembuatan patung untuk disembah (Kel 20:4-5). Perlu diketahui bahwa Kel 20:4 dan Kel 20:5 tidak boleh dipisahkan, seakan-akan Kel 20:4 melarang pembuatan patung dan Kel 20:5 melarang penyembahan patung. Ini penafsiran yang salah! Kel 20:4 dan Kel 20:5 harus digabung-kan sehingga artinya adalah: dilarang membuat patung untuk disembah.
Bahwa membuat patung (yang tidak untuk disembah) tidak dilarang oleh Kitab Suci terlihat dari:
a)   Tuhan sendiri menyuruh membuat patung ular tembaga (Bil 21:4-9). Patung ini nantinya memang dihancurkan, tetapi itu terjadi karena akhirnya patung itu disembah (2Raja-raja 18:4).
b)   Tuhan menyuruh membuat patung kerub / malaikat pada tutup tabut perjanjian (Kel 25:18-20).

Karena itu jelas bahwa kita tidak perlu menghancurkan seadanya patung, lukisan, souvenir, dsb. Tetapi juga harus diingat bahwa ada daerah-daerah, seperti pulau Bali, dimana pembuatan patung / souvenir dilakukan dengan menggunakan kuasa gelap.

Dr. Kurt Koch, dalam bukunya yang berjudul ‘Occult ABC’, berkata:
“Objects carved from new wood and those which were not consecrated to any deity are not dangerous. Unfortunately, it is the custom in some areas, like the island of Bali, to consecrate even the newly carved figures of gods to some demon” (= Benda yang dipahat dari kayu yang baru dan yang tidak pernah dipersembahkan kepada dewa manapun, tidaklah berbahaya. Sayangnya, ada daerah-daerah, seperti pulau Bali, yang mempunyai kebiasaan untuk mempersembahkan bahkan patung-patung dewa yang baru dipahat kepada setan / roh jahat) - ‘Occult ABC’, p290.

3)   Kita memang tidak boleh bersikap gegabah terhadap benda-benda yang ada kuasa gelapnya (misalnya dengan sengaja menyimpan benda-benda seperti itu), tetapi kita juga tidak boleh terlalu takut terhadap benda-benda itu. Kita percaya bahwa Yesus sudah menang atas setan dan Ia me-lindungi kita (Maz 23:4).
Perlu diketahui bahwa:
·         di Indonesia, padi dipersembahkan kepada Dewi Sri.
·  banyak restoran, toko, dsb yang menggunakan kuasa gelap untuk membuat dagangannya laris.
·         banyak cassette-cassette rock yang masternya dipersembahkan ke-pada setan.

Hal-hal ini tidak mungkin bisa kita hindari, sehingga kalau Tuhan tidak menjaga kita dan Ia mengijinkan hal-hal itu dipakai oleh setan untuk me-nyerang / merasuk kita, maka pasti semua orang kristen sudah kerasukan setan.
Jadi jelaslah bahwa kita tidak boleh terlalu takut, seakan-akan seadanya barang bisa menyebabkan kita dirasuk setan. Kita mempunyai Tuhan yang maha kuasa yang melindungi kita! Tanpa ijinNya, setan tidak bisa mengganggu / merugikan kita sama sekali!

II) Roh jahat dan manusia.


A)  Roh jahat dan orang sakit:
Banyak orang Kharismatik yang berpendapat bahwa orang bisa sakit disebabkan oleh pekerjaan setan, sehingga setiap kali mereka meng-hadapi orang sakit, mereka menengking setan.

Tanggapan saya:

1)   Kitab Suci memang mengajarkan adanya orang yang sakit karena kerasukan setan, misalnya dalam Luk 11:14.

2)   Kitab Suci juga mengatakan bahwa setan juga bisa memberi penyakit tanpa merasuk, misalnya dalam kasus Ayub (Ayub 2:7-8) dan Paulus (2Kor 12:7).

3)   Tetapi Kitab Suci juga mengatakan bahwa ada penyakit biasa yang tidak berhubungan dengan setan, misalnya dalam Kej 48:1.
Hal ini juga terlihat dari Mat 4:24 yang membedakan ‘orang yang menderita penyakit’ dengan ‘orang yang kerasukan setan’.

Kesimpulannya: Orang menjadi sakit tidak selalu disebabkan oleh peker-jaan setan / kerasukan setan. Ini perlu saudara ingat baik pada saat sau-dara sendiri sakit maupun pada saat saudara menghadapi orang lain yang sakit.

B)  Roh jahat dan orang yang berbuat dosa:
Banyak orang Kharismatik yang berpendapat bahwa seseorang berbuat dosa karena adanya roh jahat dalam diri orang itu (roh zinah, roh dusta, dsb). Ini bahkan bisa terjadi pada diri orang kristen / anak Allah. Supaya dosa itu bisa dihilangkan, maka roh jahat itu harus ditengking. Ada penulis buku yang bersaksi bahwa dari dirinya pernah ditengking 99 ma-cam roh jahat, dan lalu tinggal 1 roh jahat, yang lalu juga ditengking dan akhirnya semua roh jahat dalam dirinya (jadi suci mendadak?).
Bahkan ada yang percaya bahwa suatu keadaan yang tidak menyenang-kan (misalnya menjadi perawan tua) bisa terjadi karena adanya roh jahat (roh perawan tua) dalam diri orang itu.
Dan ada juga yang percaya bahwa pada waktu kita berbuat baik, itu terjadi karena ada roh yang baik (roh kasih, roh kesabaran, dsb).

Dasar-dasar Kitab Suci yang mereka pakai:

a)         Tentang roh yang baik:
·         Kel 28:3 - ‘roh keahlian’.
·         Ul 34:9 - ‘roh kebijaksanaan’.
·         Maz 51:14 - ‘roh yang rela’.
·         Yes 28:6 - ‘roh keadilan’.
·         Ro 8:15 (NASB) - ‘a spirit of adoption’ (= roh adopsi).
·         1Kor 4:21 (NIV) - ‘a gentle spirit’ (= roh yang lembut).
·         2Kor 4:13 - ‘roh iman’.
·         2Tim 1:7 - ‘roh kekuatan, kasih, ketertiban’.
·         1Pet 3:4 - ‘roh yang lemah lembut dan tenteram’.

b)         Tentang roh yang jahat:
·         Bil 5:14,30 - ‘roh cemburu’.
·         1Raja-raja 22:21-23 - ‘roh dusta’.
·         Yes 19:14 - ‘roh kekacauan’.
·         Hos 4:12 & 5:4 - ‘roh perzinahan’.
·         Zakh 13:2 - ‘roh najis’.
·         Ro 8:15 (NASB) - ‘a spirit of slavery’ (= roh perbudakan).
·         Ro 11:8 (NIV) - ‘a spirit of stupor’ (= roh tidur / pingsan / teler).
·         Gal 5:20 - ‘roh pemecah’.
·         2Tim 1:7 - ‘roh ketakutan’.
·         1Yoh 4:6 - ‘roh yang menyesatkan’.

Tanggapan saya:

1)   Kitab Suci tidak pernah mengajarkan bahwa keadaan yang tidak menyenangkan seperti menjadi perawan tua / tidak menikah dsb, disebabkan oleh suatu dosa ataupun disebabkan oleh roh jahat. Jangan lupa bahwa Yesus sendiri tidak pernah menikah.
Memang ada orang yang karena dosanya (hidupnya jahat) akhirnya tidak ada yang mau menikah dengannya, sehingga ia menjadi pera-wan tua. Tetapi ini tentu tidak berlaku umum!

2)   Hal-hal yang baik dalam diri kita (kasih, kesabaran, dsb) terjadi karena pekerjaan Roh Kudus (Gal 5:22-23). Bandingkan juga Kel 28:3 dan Kel 31:3, maka akan terlihat bahwa keahlian itu datang dari Allah.
Kitab Suci tidak pernah mengajar akan adanya roh-roh (selain dari Roh Kudus) yang membuat kita menjadi baik! Kita memang percaya akan adanya malaikat, tetapi malaikat tidak menolong kita untuk menjadi baik. Hanya Roh Kudus yang menolong kita untuk menjadi baik.

3)   Kata ‘roh’ dalam bahasa Ibraninya adalah RUACH dan dalam bahasa Yunaninya adalah PNEUMA. Kedua kata ini artinya bisa bermacam-macam:

a)   Roh.
Ini bisa menunjuk pada roh manusia, malaikat, setan / roh jahat, maupun Roh Allah.

b)   Angin (Kej 8:1  Yoh 3:8).

c)   Nafas (Ayub 19:17  2Tes 2:8).

d)   Pikiran / kecondongan pikiran / sikap.
Contoh:
·         kata ‘jiwa’ dalam Bil 14:24 seharusnya adalah ‘roh’ (Ibrani: RUACH), dan ini menunjuk pada cara berpikir / sikap.
·         kata ‘hati’ dalam 1Raja-raja 21:5 seharusnya juga adalah ‘roh (Ibrani: RUACH), dan ini menunjuk pada pikiran / hati.
·         Yes 57:15 (NIV): ‘but also with him who is contrite and lowly in spirit to revive the spirit of the lowly’ (= tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati).
Di sini kata ‘spirit’ yang pertama jelas menunjuk pada sikap hati.
·         Amsal 17:27 - ‘berkepala dingin’ (NIV: is even tempered). Dalam bahasa Ibraninya sebetulnya ayat ini mengandung kata RUACH, dan ini tentu juga menunjuk pada sikap hati.
·         kata ‘hati’ dalam Kej 41:8 [NIV: mind (= pikiran)] dalam bahasa Ibraninya adalah RUACH dan ini menunjuk pada hati / pikiran.
·         kata ‘jiwa’ dalam Maz 32:2 dalam bahasa Ibraninya adalah RUACH dan ini menunjuk pada kecondongan hati / pikiran.
·         kata ‘roh’ dalam 2Kor 12:18 (Yunani: PNEUMA) menunjuk pada hati / pikiran / tujuan.
·         kata ‘roh’ dalam Fil 1:27 (Yunani: PNEUMA) menunjuk pada hati / pikiran / tujuan.

e)   Semangat (Yos 2:11  Yos 5:1  Yes 19:3  Luk 1:17).
Sebetulnya ini juga termasuk dalam no d) di atas, karena sema-ngat juga merupakan kecondongan hati / pikiran.

Kesimpulan:
Setelah melihat banyaknya arti dari kata RUACH / PNEUMA maka jelas bahwa: kata-kata ‘roh dusta’ belum tentu menunjuk, atau bahkan tidak menunjuk, pada setan yang mempunyai keahlian mendorong manusia pada dusta. Orang yang mempunyai roh dusta adalah orang yang hati / pikirannya condong pada dusta! Hal yang sama berlaku untuk roh zinah, roh pemecah, dsb.

Problem:
·         Hakim-hakim 9:23 (NIV/NASB): ‘God sent an evil spirit’ (= Allah mengirimkan roh jahat).
Kata ‘roh’ di sini berasal dari kata Ibrani RUACH dan bisa diartikan roh jahat, tetapi bisa juga sekedar diartikan ‘pikiran’.
·         2Raja-raja 19:7.
Ini juga sama. Kata RUACH bisa diartikan roh jahat atau sekedar ‘pikiran’.
·         1Raja-raja 22:21-23.
Ada macam-macam penafsiran:
*        ada yang mengatakan bahwa ini cuma penglihatan / perumpa-maan.
*        ada yang mengatakan bahwa ‘roh’ ini adalah malaikat.
*        ada yang menafsir ‘roh’ itu adalah setan.
Bagaimanapun, ketiga bagian Kitab Suci ini tidak bisa dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa orang kristen bisa mempunyai roh jahat, karena ketiga orang yang diceritakan di sini bukanlah orang percaya.

4)         Kita harus membedakan antara ‘dikuasai setan’ dan ‘dirasuk setan’.
a)   ‘Dikuasai setan’ adalah suatu keadaan dimana setan membujuk seseorang sehingga orang itu tunduk dengan kemauannya, dan mengikuti setan dengan sukarela.
Contoh: Kis 5:3  1Tim 4:1  2Tim 2:26 menunjukkan orang-orang yang dikuasai setan.
b)   ‘Dirasuk setan’ adalah suatu keadaan dimana setan menguasai secara paksa. Orang itu belum tentu menyerahkan kemauannya kepada setan, tetapi ia terpaksa tunduk.
Kalau tidak ada hal-hal yang luar biasa yang jelas menunjukkan kerasukan setan, maka kita tidak boleh sembarangan berkata bahwa seseorang itu dirasuk setan.

Orang kristen bisa dikuasai setan, tetapi tidak bisa dirasuk setan. Dan menghadapi orang yang dikuasai setan, Kitab Suci tidak pernah mengajar untuk menengking setan.

5)   Orang kristen yang sejati tidak mungkin bisa tetap mempunyai kuasa gelap atau dirasuk setan, dan karenanya tidak membutuhkan doa pe-lepasan / penengkingan.
Dasar pandangan ini:

a)   Dalam Kitab Suci tidak pernah ada orang yang setelah jadi kristen yang sungguh-sungguh lalu bisa dirasuk setan atau tetap mempu-nyai roh jahat dalam dirinya, sehingga membutuhkan penengking-an / doa pelepasan dsb!
Raja Saul dan Yudas Iskariot sering dianggap sebagai orang yang sudah percaya yang lalu dirasuk setan, tetapi ini jelas salah karena mereka berdua jelas bukan orang yang sungguh-sungguh percaya!
Juga Mat 16:23 sering ditafsirkan seakan-akan Petrus saat itu dirasuk setan. Tetapi ini merupakan penafsiran yang salah.
Kata-kata Yesus pada saat itu secara hurufiah berbunyi: ‘Go behind me satan’ (= pergilah ke belakangKu setan). Pada waktu itu Petrus sedang menghalangi Yesus yang mau pergi ke Yerusalem dan karena itu Yesus menegur Petrus dengan keras (bukan menegur / menengking setan; hanya saja Petrus disebut ‘setan’) dan menyuruhnya pergi ke belakangNya (mengikut Dia, bukan memimpin Dia).

b)   Yesus adalah Terang dunia (Yoh 8:12  Yoh 9:5). Kalau Yesus masuk ke dalam diri kita, bagaimana mungkin setan yang adalah kegelapan / penguasa kegelapan bisa bertahan dalam diri kita? Pada waktu terang masuk, gelapnya otomatis pergi!

c)   Sebagai orang percaya, kita adalah Bait Roh Kudus (1Kor 6:19), bukan bait setan (Catatan: kata ‘bait’ artinya ‘rumah’). Jadi tidak mungkin setan tetap menghuni diri kita bersama-sama dengan Roh Kudus.

d)   Kalau Allah mengijinkan orang kristen dirasuk setan, maka 1Kor 10:13, yang mengajarkan bahwa Allah berjanji menyensor penco-baan yang kita alami supaya tidak lebih dari kekuatan kita, sudah dilanggar.

6)   Ajaran tentang adanya roh zinah, roh dusta dsb ini mengkambing-hitamkan setan / mengoper kesalahan kepada setan, seakan-akan yang salah bukanlah orang yang berzinah, tetapi roh zinahnya.
Pengoperan kesalahan seperti ini sama seperti yang dilakukan oleh Hawa dalam Kej 3:13. Tetapi sebagaimana saat itu Allah tetap meng-hukum Hawa, demikian juga kita tidak akan terlepas dari hukuman dengan jalan mengkambing-hitamkan setan! Sekalipun kita berbuat dosa / jatuh ke dalam dosa karena bujukan setan, tetapi kitalah yang berbuat dosa dan kitalah yang bertanggung jawab! Jadi jangan meng-operkan kesalahan saudara kepada setan!

7)         Pengudusan adalah suatu proses yang berlangsung seumur hidup.

a)   Pengudusan tentu berhubungan dengan ‘buah Roh Kudus’ dalam Gal 5:22-23. Tidak ada buah yang langsung besar dan matang. Semua buah mula-mula kecil, lalu menjadi makin besar dan makin matang melalui suatu proses. Padahal kalau ajaran Kharismatik tentang penengkingan roh dusta, roh zinah dsb itu memang benar, maka kita bisa menengking semua roh jahat dalam diri kita dan menjadi suci dalam sekejap mata! Ini jelas tidak mungkin!

b)   Pengudusan kilat dengan cara menengking setan itu juga berten-tangan dengan:
·         ayat-ayat seperti Mat 26:41  Ro 7:15-19  Gal 5:17, yang me-nunjukkan bahwa dalam hidup orang kristen yang salehpun selalu ada konflik antara baik dan jahat.
·         Ibr 12:23b yang menunjukkan bahwa penyempurnaan pengu-dusan terjadi pada saat / setelah kita mati.

c)   Pengudusan kita terjadi melalui Firman Tuhan, doa / bersandar ke-pada Roh Kudus, usaha menguduskan diri, iman, menjauhi penco-baan dsb. Kitab Suci tidak pernah mengajarkan cara pengudusan dengan penengkingan setan / roh jahat!

d)   Pengudusan tentu juga berhubungan dengan cara menghadapi godaan setan yang ada dalam Yak 4:7-8 dan 1Pet 5:8-9. Mengapa dalam kedua bagian itu Tuhan tidak menyuruh menengking setan yang menggoda kita?

e)   Saya sering mendengar adanya orang / pendeta / pengkhotbah yang bersaksi bahwa setelah roh jahat diusir dari diri mereka, mendadak mereka yang tadinya senang berzinah lalu menjadi sama sekali tidak tertarik kepada perempuan lain dan hanya mencintai dan tertarik kepada istrinya sendiri.
Menurut saya ini adalah sekedar suatu bualan / omong kosong dari orang yang ingin meninggikan / menyombongkan kesucian dirinya sendiri dengan menggunakan cerita dusta! Mengapa saya berpendapat demikian? Alasannya adalah:
·         seperti sudah saya katakan di atas, pengudusan adalah suatu proses, sehingga tidak bisa terjadi secara mendadak!
·         dalam Gal 5:22-23 dikatakan bahwa hal yang ke sembilan dari buah Roh Kudus adalah ‘penguasaan diri’. Kalau orangnya sudah tidak tertarik kepada perempuan lain, dan hanya men-cintai dan tertarik kepada istrinya sendiri, maka jelas bahwa penguasaan diri tidak dibutuhkan!
·         Mat 26:41  Ro 7:15-19  Gal 5:17 jelas menunjukkan bahwa daya tarik dosa terus ada dalam diri kita.
Karena itu dalam diri orang kristen seharusnya tetap ada keinginan berbuat dosa, tetapi karena pertolongan Roh Kudus, ia bisa me-nguasai dirinya sehingga tidak melakukan dosa itu.




RHEMA / LOGOS DAN PENUMPANGAN TANGAN

I) Rhema vs Logos.


Baik Rhema maupun logos adalah kata-kata dalam bahasa Yunani yang dalam Kitab Suci biasanya diterjemahkan secara sama yaitu ‘firman / kata / perkataan’ (Inggris: word).

Penggunaan kata RHEMA dan LOGOS oleh orang-orang Kharismatik:

1)   John F. MacArthur, Jr. dalam bukunya yang berjudul ‘The Charismatics’ p 69, berkata bahwa Charles Farah, seorang profesor di Oral Roberts University mengatakan bahwa:
“LOGOS is the objective, historic word and RHEMA is the personal, subjective word” (= LOGOS adalah firman yang bersifat sejarah dan obyektif dan RHEMA adalah firman yang bersifat pribadi dan subyektif).

Dan dalam buku yang sama hal 70 John F. MacArthur, Jr. berkata bahwa Charles Farah juga berkata bahwa:
·         “The LOGOS becomes RHEMA when it speaks to you” (= LOGOS menjadi RHEMA kalau itu berbicara kepadamu).
·         “The LOGOS is legal while the RHEMA is experiential” [= LOGOS itu bersifat hukum (?) sedangkan RHEMA adalah sesuatu yang dialami].
·         “The LOGOS does not always become the RHEMA, God’s word to you’”(= LOGOS tidak selalu menjadi RHEMA, firman Allah bagimu).

2)   Orang Kharismatik juga sering berkata: ‘Kalau RHEMAnya turun ...’.
Ini berarti bahwa ia mendapat suatu pimpinan / perintah secara pribadi dari Tuhan, langsung kepada hati / pikirannya. Dan RHEMA yang turun itu bisa berupa ayat Kitab Suci ataupun tidak.

Dasar Kitab Suci yang dipakai oleh orang-orang Kharismatik:
  • Luk 3:2 - ‘datanglah firman (RHEMA) Allah kepada Yohanes’.
  • Mark 14:72 dan Mat 26:75 (dua ayat ini paralel) - Petrus teringat akan kata-kata (RHEMA) Tuhan Yesus.
  • Juga Luk 24:8 dan Kis 11:16 menggunakan kata RHEMA.

Tanggapan saya:

1)   Mark 14:72 dan Mat 26:75 mempunyai ayat paralel yang lain yaitu Luk 22:61. Tetapi anehnya, kalau Mark 14:72 dan Mat 26:75 menggunakan kata Yunani RHEMA, maka Luk 22:61 ternyata menggunakan kata Yunani LOGOS!
Demikian juga, kalau Luk 24:8 dan Kis 11:16 menggunakan kata RHEMA, maka Kis 20:35 menggunakan kata LOGOS, padahal ketiga ayat ini sama-sama berbicara tentang seseorang yang teringat akan kata-kata Yesus!
Dari contoh-contoh ini terlihat bahwa LOGOS dan RHEMA digunakan secara interchangeable (= bisa dibolak-balik) dan tidak ada batasan yang terlalu jelas antara RHEMA dan LOGOS!
Karena itu membedakan RHEMA dan LOGOS seperti yang dilakukan oleh orang-orang Kharismatik, adalah sesuatu yang tidak berdasar!

2)   Orang-orang Kharismatik berkata bahwa kalau firman itu berbicara kepada kita, maka LOGOS itu berubah menjadi RHEMA.
Tetapi dalam Kis 2:41  4:4  8:14  11:1  13:48 sekalipun firman itu jelas berbicara kepada orang-orang itu (karena mereka bertobat), tetapi toh digunakan kata LOGOS dan bukannya RHEMA!
Demikian juga 1Pet 1:23 menggunakan kata LOGOS, padahal firman di sini adalah firman yang melahirbarukan!

3)   Ajaran yang berkata The LOGOS does not always become the RHEMA, God’s word to you” (= LOGOS tidak selalu menjadi RHEMA, firman Allah bagimu), jelas sekali berbau ajaran sesat Neo Orthodox, karena ajaran Neo Orthodox juga berkata bahwa kata-kata dalam Kitab Suci hanya menjadi firman Allah kalau berbicara kepada kita.
Ini jelas merupakan ajaran salah / sesat, karena kita harus percaya bahwa seluruh Kitab Suci adalah firman Allah secara obyektif! Jadi, apakah kita membaca / mendengarnya atau tidak, mengerti atau tidak, merasa Tuhan berbicara kepada kita atau tidak, mentaati atau tidak, Kitab Suci itu tetap adalah firman Allah!
Kalau Kitab Suci hanya menjadi firman Allah kalau berbicara kepada kita, maka orang-orang yang tidak mau bertobat karena tidak merasa Allah berbicara kepada mereka tidak bersalah karena mereka memang belum pernah mendapatkan firman Allah yang menegur / memperingati mereka.

4)   Ajaran Kharismatik tentang RHEMA ini berbahaya, karena ini menyebab-kan banyak orang lalu mencari RHEMA tersebut dalam hati mereka, sehingga lalu mengabaikan Kitab Suci! Lihat kutipan kata-kata Jonathan Edwards di depan (hal 20-21).
Memang Roh Kudus bisa mengingatkan kita akan Firman Tuhan (Yoh 14:26), tetapi kalau kita tidak pernah belajar / mengerti Kitab Suci / Firman Tuhan, maka tidak ada sesuatu yang bisa Ia ingatkan kepada kita!
Karena itu, belajar Kitab Suci dengan sungguh-sungguh dan tekun haruslah menjadi prioritas dalam hidup kita!

II) Penumpangan tangan.


Dalam Kitab Suci penumpangan tangan dilakukan terhadap:

1)   Binatang (Im 1:4  3:2  4:15  16:21).

2)   Manusia.
a)         Pada pentahbisan (Bil 8:10  Bil 27:18-23  Ul 34:9  Kis 6:6  Kis 13:3).
b)         Pada pemberkatan (Kej 48:14  Mat 19:15).
c)   Pada penyembuhan (Mark 6:5  Mark 7:32  Luk 4:40  Luk 13:13  Kis 28:8).
d)   Pada waktu memberikan Roh Kudus / karunia-karunia Roh Kudus (Kis 8:17  Kis 19:6  1Tim 4:14  2Tim 1:6).
e)   Dalam penjatuhan hukuman mati (Im 24:14).

Tetapi, sepanjang yang saya ketahui, dalam seluruh Kitab Suci tidak ada penumpangan tangan terhadap benda.
Jadi, praktek-praktek orang Kharismatik di mana mereka menumpang-tangani seadanya benda, seperti dompet, mobil, rumah, dsb, adalah tindakan yang tidak punya dasar kitab Suci!


 



APENDIX 1

THEOLOGIA KEMAKMURAN


Sekarang banyak gereja / pendeta / orang kristen yang per­caya / mengajarkan Theologia Kemakmuran, dimana mereka percaya / mengajarkan bahwa orang kristen yang sungguh-sungguh beriman dan mengikut Tuhan, pasti akan kaya atau harus kaya.
Banyak orang kristen yang hanya bisa merasakan bahwa ajaran semacam itu adalah ajaran yang salah / sesat, tetapi pada waktu para penganut / pengajar Theologia Kemakmuran itu memberikan argumentasi-argumentasi mereka,  baik berdasarkan Kitab Suci maupun berdasarkan ‘fakta’, maka banyak sekali orang kristen yang tidak bisa menjawab argumentasi-argumen­tasi itu.

Karena itu disini saya ingin mengajak saudara untuk:

1)   Mempelajari argumentasi-argumentasi, baik berdasarkan Kitab Suci maupun berdasarkan ‘fakta’, yang digunakan oleh para penganut Theologia Kemak-muran itu.

2)   Mempelajari kesalahan-kesalahan dari argumentasi-argumen­tasi mereka, dan sekaligus melihat / mempelajari ayat-ayat Kitab Suci yang sengaja dihindari / diabaikan oleh para penganut Theologia Kemakmuran.

3)   Mempelajari ajaran Kitab Suci yang benar tentang kekayaan dan sikap yang benar terhadap kekayaan.

I) Argumentasi-argumentasi Theologia Kemakmuran.


A)  Argumentasi berdasarkan Kitab Suci.

1)   Ayat-ayat Kitab Suci yang  menunjukkan bahwa kita adalah anak-anak Allah (Yoh 1:12  Roma 8:14-17  Gal 3:26  dsb).
Mereka mengatakan bahwa karena kita adalah anak Allah, sedangkan Allah itu maha kaya, maka kita juga harus kaya. Mengaku diri sebagai anak Allah, tetapi hidup dalam kemiskinan, adalah suatu kontradiksi.
Mereka bahkan berani mengatakan bahwa Allah malu mempunyai anak-anak yang miskin!

2)   Ayat-ayat Kitab Suci yang menceritakan tentang orang beriman yang diberkati oleh Tuhan sehingga menjadi kaya. Dalam hal ini biasanya mereka mengambil cerita-cerita tentang tokoh-tokoh Perjanjian Lama yang adalah orang beriman dan sekaligus adalah orang kaya. Misal­nya: Daud, Salomo, Ayub, Abraham, Ishak, Yakub dsb.
Mereka lalu mengatakan bahwa orang-orang itu beriman dan taat kepada Tuhan, dan karena itu mereka diberkati oleh Tuhan sehingga menjadi kaya. Jadi, kalau kita beriman dan taat kepada Tuhan, kita pasti juga menjadi kaya. Mereka bahkan berani mengatakan bahwa kalau kita tidak kaya, itu berarti kita tidak / kurang beriman, dan / atau kita tidak / kurang taat kepada Tuhan.

3)   Ayat-ayat Perjanjian Lama yang menunjukkan bahwa Tuhan berjanji akan memberikan berkat jasmani yang berkelimpahan kepada orang yang mentaati Dia, yang memberikan persembahan perpuluhan dsb.
Misalnya: Im 26:1-13  Ul 28:1-14  Amsal 3:9-10  Maleakhi 3:10-12.
Mereka berkata bahwa Firman Tuhan berlaku kekal dan Tuhan tidak pernah berdusta / melanggar janjiNya, sehingga pada jaman inipun janji-janji itu berlaku dan pasti akan Tuhan genapi, asal kita beriman dan taat kepadaNya!

4)         Ayat-ayat Perjanjian Baru seperti:
·         Mat 6:33 yang menjanjikan bahwa Tuhan akan menambah­kan /  memberikan ‘semuanya’ (yang mereka artikan sebagai ‘kekayaan’)  kepada kita, asal kita mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya.
·         Yoh 10:10 yang mengatakan bahwa Yesus datang supaya kita mempunyai ‘hidup yang berkelimpahan’ (yang mereka artikan sebagai ‘hidup kaya’!).
·         2Kor 8:9 yang mengatakan bahwa Yesus itu rela menjadi miskin, supaya kita yang miskin menjadi kaya (ini mereka artikan ‘kaya secara jasmani’).
·         2Kor 9:6 yang mengatakan bahwa orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit dan orang yang menabur banyak akan menuai banyak. Ini dipakai untuk mendo­rong jemaat untuk memberi per-sembahan sebanyak mung­kin, supaya menjadi kaya!

B)  Argumentasi berdasarkan ‘fakta’.

Kalau kita bisa menunjukkan ayat-ayat KItab Suci yang menentang ajaran Theologia Kemakmuran,  maka para penga­nut Theologia Kemakmuran ini sering menggunakan argumen­tasi yang berdasarkan ‘fakta’, dimana me-reka lalu berkata bahwa ‘fakta’ menunjukkan bahwa:

1)   Gereja yang mengajarkan Theologia Kemakmuran ternyata berkem-bang pesat, yang jelas menunjukkan berkat Tuhan atas gereja itu. Kalau memang ajarannya salah / sesat, mengapa gerejanya bisa begitu diberkati oleh Tuhan?

2)   Jemaat dari gereja itu memang betul-betul makmur / kaya. Bukankah ini menunjukkan bahwa dengan beriman kepada Tuhan, taat kepada-Nya dan memberikan persembahan persepuluhan, mereka betul-betul dijadikan makmur / kaya oleh Tuhan?
Pdt. Dr. Paul Yonggi Cho bahkan pernah bersaksi bahwa dulu jemaat-nya sedikit dan semuanya miskin. Lalu ia mulai mengajar mereka bagaimana menjadi kaya, dan sekarang tidak ada orang miskin di dalam gerejanya.

Bukankah kedua ‘fakta’ ini menunjukkan bahwa ajaran Theologia Kemak-muran memang benar?

II) Tanggapan / jawaban saya.


A)  Tentang argumentasi berdasarkan Kitab Suci.

1)   Kalau kita mau menafsirkan Kitab Suci dengan benar, maka kita harus menafsirkan suatu bagian Kitab Suci dengan memperhatikan semua bagian-bagian lain dalam Kitab Suci yang berhubungan dengan ba-gian yang akan kita tafsirkan itu. Dan kita harus menafsirkan bagian itu sedemikian rupa sehingga tidak bertentangan dengan bagian-bagian lain dari Kitab Suci.
Mengapa harus demikian? Karena Allah itu bukan pen­dusta, dan karena itu kata-kataNya tidak mungkin bisa bertentangan satu sama lain! Kitab Suci adalah firman / kata-kata Allah, sehingga tidak mungkin bertentangan satu sama lain.
Tetapi, para penganut Theologia Kemakmuran ini hanya melihat / menyoroti bagian-bagian tertentu dari Kitab Suci yang mendukung pandangan mereka, dan mereka mengabaikan bagian-bagian lain dari Kitab Suci yang jelas-jelas menentang penafsiran mereka.

Catatan:
Ingatlah bahwa cara penafsiran seperti ini adalah sumber timbulnya semua ajaran sesat, dan juga bahwa cara penafsiran seperti ini merupakan cara dari hampir semua nabi palsu dalam mempertahan-kan ajaran sesat mereka!

Contoh:

a)   Kitab Suci memang menggambarkan hubungan Allah dengan kita sebagai Bapa dengan anakNya. Tetapi Kitab Suci juga menggam-barkan hubungan Allah dengan kita sebagai Tuan dengan hamba (Misalnya: Yoh 13:16), dan juga sebagai Komandan dan prajurit / tentara (2Tim 2:3-4).
Gambaran bahwa kita adalah anak memang bisa menim­bulkan pemikiran bahwa hidup kristen itu enak, kaya dsb. Tetapi gam-baran bahwa kita adalah hamba / tentara jelas menimbulkan kesan yang jauh berbeda. Seharusnya, kita meninjau semua gambaran-gambaran itu dan bukan salah satu saja. Itu akan menunjukkan bahwa di dalam hidup kristen itu bukan hanya terda­pat hal-hal yang enak saja, tetapi juga ada ketun­dukan mutlak, pelayanan, peperangan, penderitaan, bahkan kemiskinan!
Hal-hal seperti ini tidak pernah mereka perhatikan / soroti, atau bahkan sengaja mereka abaikan!

b)   Allah memang adalah Bapa kita, tetapi Ia adalah Bapa kita secara rohani (Yoh 1:12-13)! Dan Ia adalah Bapa yang bijaksana (Ro 11:33)!  Kitab Suci bahkan berkata bahwa Ia menghajar kita pada saat diperlukan (Ibr 12:5-11), dan ini menunjukkan bahwa Ia bukanlah seorang Bapa yang memanjakan anak-anakNya!
Kalau seorang bapa duniawi / jasmani yang bijaksana saja pasti tidak akan memanjakan anaknya dengan memberikan uang sebe-rapa dia kehendaki, maka jelas bahwa Allah, sebagai Bapa rohani kita yang bijaksa­na, juga tidak akan melakukan hal itu! 
Lagi-lagi ini merupakan bagian yang sengaja diabai­kan oleh para penganut Theologia Kemakmuran!

Terhadap orang yang mengatakan bahwa Allah itu malu kalau mempunyai seorang anak yang miskin, saya ingin tanyakan: di bagian mana dari Kitab Suci ada ajaran seperti itu? Dalam Kitab Suci disebutkan ada banyak orang percaya yang miskin. Tetapi tidak pernah dika­takan bahwa Allah malu karena kemiskinan mereka!
Orang yang mengajarkan hal seperti ini memandang Allah secara jasmani / duniawi, seakan-akan Ia adalah seorang manusia seperti kita! Manusia yang kaya memang akan malu kalau anaknya miskin! Tetapi Allah tidak demikian!  Allah tidak malu mempunyai anak yang miskin, sakit dsb. Ia bahkan akan senang kalau mempu-nyai anak yang dalam kemiskinan, kesakitan dan penderitaan, tetap beriman kepadaNya, mengasihiNya, dan mentaatiNya! Hal yang memalukan Allah ialah kalau kita sebagai anak-anakNya hidup dalam dosa (Wah 3:18  bdk. juga Mat 5:16)! Juga kalau kita menekankan keduniawian dan kekayaan lebih dari pada keroha-nian, seperti yang dilakukan oleh para penganut / pengajar Theo­logia Kemakmuran!

c)   Dalam Kitab Suci memang ada banyak orang beriman yang kaya, tetapi juga ada banyak yang tidak kaya, bahkan yang miskin.
Misalnya: Yesus sendiri (Luk 9:58), rasul-rasul (Kis 3:6), jemaat kristen abad pertama (Kis 2:45b  Kis 4:35b  Kis 6:1  Roma 15:26  2Kor 8:2  Wah 2:9).
Memang ada orang Kharismatik yang berkata sebaliknya:
·         Frederick K. C. Price berkata bahwa Yesus itu kaya pada waktu hidup di dunia. Buktinya Ia sampai membutuhkan bendahara (Yoh 12:6) - ‘Christianity in Crisis’, p 25, 382.
·         John Avanzini berkata bahwa Paulus juga kaya. Buktinya seorang pejabat pemerintah sampai menginginkan suap dari dia (Kis 24:26) - ‘Christianity in Crisis’, p 25, 382.
Tetapi penafsiran-penafsiran tolol semacam ini jelas tidak perlu dipedulikan! Ayat-ayat di atas jelas menunjukkan bahwa Yesus, rasul-rasul, dan banyak jemaat kristen abad pertama adalah orang-orang yang miskin!

Lalu mengapa hanya bagian-bagian Kitab Suci yang menceritakan tentang orang beriman yang kaya saja yang diperhatikan dan disoroti? Mengapa bagian-bagian Kitab Suci yang menceritakan tentang orang beriman yang miskin diabaikan?
Beranikah mereka mengatakan bahwa Yesus dan rasul-rasul dan jemaat gereja abad pertama itu miskin karena mereka kurang beriman dan kurang taat? Untuk Yesusnya mungkin mereka akan berkata bahwa Yesus memang rela menjadi miskin supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya (2Kor 8:9). Tetapi bagai-mana dengan rasul-rasul dan jemaat gereja abad pertama yang miskin?

d)   Kitab Suci sering mengajar tentang orang-orang jahat yang kaya dan orang saleh yang miskin.
Contoh:
·         Maz 73 (bacalah seluruh Maz 73!).
·         cerita orang kaya dan Lazarus (Luk 16:19-31).
·         Wah 2:9 menunjukkan bahwa jemaat Smirna yang kaya secara rohani justru miskin secara jasmani, dan sebaliknya, Wah 3:17 menunjukkan bahwa jemaat Laodikia yang miskin secara rohani justru kaya secara jasmani.
·         Pengkhotbah 8:14 berbunyi:
“Ada suatu kesia-siaan yang terjadi di atas bumi: ada orang-orang benar, yang menerima ganjaran yang layak untuk perbuatan orang fasik, dan ada orang-orang fasik yang menerima pahala yang layak untuk perbuatan orang benar”.
Ini jelas memungkinkan adanya orang saleh yang miskin  dan orang jahat yang kaya!

Mengapa para penganut Theologia Kemakmuran menga­baikan bagian-bagian Kitab Suci seperti ini?

e)   Ada banyak ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan sukarnya / beratnya kehidupan orang kristen.
Contoh:
·         Mat 7:13-14 yang berbunyi:
“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya”.
·         Luk 9:58 dimana Yesus berkata kepada seseorang yang mau mengikut Dia:
“Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya”.
·         Yoh 15:20 dimana Yesus sendiri berkata:
“Seorang hamba tidaklah lebih dari tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu”.
·         Kis 14:22b dimana Paulus dan Barnabas memperingati orang-orang kristen bahwa “untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsa­ra”.
·         Fil 1:29 yang berbunyi:
“Sebab kepada kamu dikaru­niakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”.
·         2Tim 3:12 yang berbunyi:
“Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya”.

Pernahkah para penganut Theologia Kemakmuran itu menyoroti dan merenungkan ayat-ayat ini? Atau apakah mereka sengaja mengabaikan ayat-ayat itu karena tidak sesuai dengan ajaran sesat mereka?
Semua ayat-ayat ini menunjukkan bahwa hidup kristen bukanlah hidup yang enak terus!  Sebaliknya, hidup kristen adalah hidup yang penuh dengan penderitaan, kesukaran dan tantangan!
Karena itu ada satu orang yang pernah berkata:
“Allah punya satu anak yang tidak pernah berbuat dosa (yaitu Yesus), tetapi Ia tidak punya anak yang tidak pernah menderita!”

Kalau kita melihat hidup Yesus sendiri, maka kita melihat bahwa hidupNya ‘turun’ dahulu (menjadi manusia, menderita dan mati, dikuburkan), dan setelah itu baru ‘naik’ (bangkit dari antara orang mati, naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah, dan akan da-tang keduakalinya sebagai Hakim).
Karena itu, kalau kita adalah pengikut Kristus, hidup kita juga akan ‘turun’ dulu (mengalami banyak penderitaan, kesukaran dan tan-tangan di dunia ini), dan setelah itu baru ‘naik’ (mengalami ke-muliaan di surga). Bdk. Ro 8:18  2Kor 4:17.
Tetapi, para penganut Theologia Kemakmuran itu mem-by-pass jalan yang menurun itu. Mereka mengajarkan bahwa hidup kristen itu enak dan kaya di dunia, dan juga mulia di surga. Hidup mereka adalah hidup tanpa salib! Tetapi bahwa ini bukanlah hidup Kristen, terlihat dengan jelas dari deretan ayat-ayat di atas!
Kalau memang hidup kristen itu penuh dengan penderitaan dan kesukaran,  maka itu berarti bahwa orang kristen bisa saja menjadi miskin,  justru karena ia menjadi kristen dan karena ia hidup sesuai dengan firman Tuhan!

f)    Kitab Suci mengandung banyak ayat yang memperingat­kan kita akan bahaya dari kekayaan / keinginan untuk menjadi kaya, seperti: Ul 6:10-12  Ul 8:10-18  Amsal 23:4-5  Pengkhotbah 5:9-16  Yer 9:23-24  Yeh 7:19  Mat 6:19-24  Mat 13:22  Mat 19:21-24  Luk 6:24  Luk 12:16-21  Luk 21:34-36  1Tim 6:6-10  1Tim 6:17-19  Yak 1:9-11  Yak 5:1-3 dsb.
Untuk bisa mendapatkan gambaran yang jelas tentang kerasnya peringatan Kitab Suci terhadap kekayaan, bacalah semua ayat-ayat tersebut di atas!
Ayat-ayat Kitab Suci ini jelas memberikan gambaran yang sangat berbeda, bahkan bertentangan, dengan ajaran Theologia Kemak-muran!  Mengapa mereka tidak pernah menyoroti ayat-ayat ini?  Jelas bahwa mereka memang sengaja mengabaikan bagian-bagian Kitab Suci yang tidak sesuai dengan ajaran sesat mereka!

2)   Penafsiran mereka melanggar prinsip Hermeneutics (ilmu penafsiran Kitab Suci) yang penting, yang sekalipun sudah saya jelaskan dalam pelajaran Kharismatik 1 di depan, tetapi akan saya ulangi di sini.
Dalam Kitab Suci ada bagian-bagian yang bersifat Descriptive (= bersifat menggambarkan). Bagian seperti ini hanya menggambarkan apa yang betul-betul terjadi pada saat itu, tetapi tidak dimaksudkan untuk dijadikan rumus / norma / pedoman dalam kehidupan kita.

Contoh:
·         Dalam Mat 14:22-33, diceritakan tentang Yesus dan Petrus yang berjalan di atas air. Ini adalah peng­gambaran dari sesuatu yang betul-betul terjadi, tetapi cerita ini tentu tidak berarti bahwa setiap orang yang beriman pasti bisa berjalan di atas air!
·         Dalam Yoh 11 kita melihat Yesus membangkitkan Laza­rus. Ini memang betul-betul terjadi, tetapi tentu tidak berarti bahwa setiap orang kristen yang mati akan dibangkitkan kembali setelah 4 hari!
·         Dalam Kis 5:17-25 dan Kis 12:1-19, rasul-rasul dimasukkan ke penjara,  tetapi lalu dibebaskan oleh Tuhan secara mujijat. Ini tentu tidak boleh diartikan bahwa semua orang kristen yang dimasukkan ke penjara demi Tuhan, juga akan dibebaskan secara mujijat! Kenyataannya, banyak orang beriman dimasukkan ke penjara demi Tuhan dan akhirnya mati di bunuh / mati syahid, termasuk Yohanes Pembaptis (Mat 14:1-12), dan rasul Yakobus (Kis 12:1-2), dan rasul-rasul yang lain.

Tetapi dalam Kitab Suci juga ada bagian-bagian yang bersifat Didactic (= bersifat mengajar). Ini adalah bagian-bagian yang betul-betul dimaksudkan untuk mengajar, dan harus dijadikan norma / hukum dalam kehidupan kita.

Contoh:
¨      Yoh 3:16 mengajarkan bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus tidak akan binasa, tetapi akan mendapat hidup yang kekal.  Ini adalah hukum / norma yang berlaku untuk setiap orang!
¨      Fil 4:4 dan 1Tes 5:16-18 mengajarkan bahwa orang kristen harus selalu bersukacita, berdoa dan bersyu­kur kepada Tuhan.

Kalau kita berhadapan dengan bagian yang bersifat Descriptive, tetapi kita memperlakukannya sebagai bagian yang bersifat Didactic, dan menafsirkannya sebagai hukum / norma, maka akan timbul ajaran-ajaran yang salah, seperti:
à        Orang kristen harus berbahasa roh, karena dalam Kis 2:1-11, rasul-rasul berbahasa roh.
à        Orang kristen harus sembuh dari penyakit, karena dalam Mat 4:23-24 / Luk 6:17-19 semua orang yang minta kesembuhan, disem-buhkan oleh Tuhan Yesus.

Ajaran Theologia Kemakmuran mendasarkan ajarannya pada bagian-bagian Kitab Suci yang menunjukkan adanya orang-orang beriman yang kaya seperti Salomo, Ayub dsb. Itu berarti bahwa mereka mem-perlakukan bagian-bagian yang bersifat Descriptive sebagai rumus / hukum, dan ini adalah cara penafsiran yang salah!

3)   Terhadap ayat-ayat dalam Perjanjian Lama yang menunjukkan bahwa Tuhan akan memberikan berkat jasmani yang berkelimpahan kepada orang yang beriman dan taat kepadaNya / orang yang memberikan persembahan perse­puluhan, ada 2 hal yang akan saya berikan seba-gai tanggapan:

a)   Perjanjian Lama berbeda dengan Perjanjian Baru dalam persoalan berkat Tuhan!
C. H. Spurgeon: “The promise of the old covenant was prosperity, but the promise of the new covenant is adversity” (= Janji dari perjanjian lama adalah kemakmuran, tetapi janji dari perjanjian baru adalah kesengsaraan) - ‘Morning and Evening’, Jan 22, evening.
Dalam Perjanjian Lama memang ada banyak ayat yang menun-jukkan janji berkat jasmani yang berkelimpahan, seperti Im 26:1-13  Ul 28:1-14  Amsal 3:9-10  Maleakhi 3:10-12 dsb.
Tetapi dalam Perjanjian Baru, terlihat bahwa Allah hanya menjanji-kan berkat jasmani secara cukup saja (tidak berkelimpahan). Ini terlihat dari:
·         Mat 6:25-34.
Bagian ini berbicara tentang makanan, minuman dan pakaian, dan karena itu jelas bahwa bagian ini hanya menekankan kebutuhan-kebutuhan pokok saja, bukan kemewahan!
·         Doa Bapa Kami, dimana Yesus tidak mengajar supaya kita meminta kekayaan yang berlimpah-limpah, tetapi: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya (Mat 6:11).
·         1Tim 6:6,8 dimana Rasul Paulus berkata: “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan yang besar ... Asal ada makanan dan pakaian cukuplah”.

Hal yang perlu kita tanyakan adalah: mengapa ada perbedaan seperti ini antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru? Ada 2 jawaban:

¨      Karena dalam jaman Perjanjian Baru, salib Kristus sudah terjadi, sedangkan dalam Perjanjian Lama belum.
Dalam jaman Perjanjian Baru, karena salib (yang merupakan pernyataan tertinggi dari kasih Allah kepada kita) itu sudah terjadi, maka sekalipun kita tidak kaya, bahkan sekalipun kita miskin, kita tetap bisa memandang ke belakang, kepada salib, dan kita bisa yakin bahwa Allah mengasihi kita.
Tetapi dalam jaman Perjanjian Lama, kalau tidak ada berkat jasmani yang berkelimpahan, agak sukar bagi seseorang untuk bisa percaya bahwa Allah mengasihi dia, karena saat itu salib belum terja­di!
Karena itulah, untuk menunjukkan kasihNya kepada orang-orang beriman dalam Perjanjian Lama, maka pada saat itu Allah lalu memberikan banyak janji berkat jasmani yang berke-limpahan.

Catatan:
Perlu saudara ketahui bahwa ini adalah ajaran dari John Calvin, yang hidup pada abad ke 16, jauh sebelum ajaran Theologia Kemakmuran muncul.

¨      Ayat-ayat yang menunjukkan janji-janji berkat jasmani yang berkelimpahan dalam Perjanjian Lama, merupakan TYPE (ini adalah istilah Hermeneutics / ilmu penafsiran Alkitab) atau bayangan dari janji berkat rohani yang berkelimpahan dalam Perjanjian Baru. Setelah ANTI-TYPEnya (penggenapannya da-lam Perjanjian Baru) datang,  maka TYPEnya tidak berlaku lagi!

b)   Cara para pengajar Theologia Kemakmuran mengajar jemaatnya untuk memberikan persembahan (baik per­sembahan persepuluhan maupun persembahan biasa) dengan menggunakan ayat-ayat Perjanjian Lama seper­ti Maleakhi 3:10-12 dan Amsal 3:9-10  atau-pun ayat Perjanjian Baru seperti 2Kor 9:6, adalah cara yang salah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan! Menga­pa? Karena de-ngan demikian mereka mengajar jemaat untuk memberikan per-sembahan kepada Tuhan dengan pamrih, karena jemaat memberi dengan tujuan supaya Tuhan membalasnya dengan berkat yang lebih besar! Saya memang percaya bahwa ada pahala untuk setiap ketaatan / persembahan yang kita berikan kepada Tuhan, asalkan kita melakukan / memberikan dengan motivasi yang benar, yaitu dengan hati yang betul-betul mencintai Tuhan dan dengan tujuan untuk memuliakan Tuhan (Yoh 14:15  1Kor 10:31).
Tetapi ketaatan ataupun persembahan dengan motivasi supaya kita diberkati, jelas merupakan ketaatan yang dilandasi oleh egoisme, dan pada hakekatnya bukanlah merupakan suatu ke-taatan kepada Tuhan!

4)   Mat 6:33  Yoh 10:10  2Kor 8:9 2Kor 9:6 mereka tafsir­kan tanpa mem-pedulikan kontexnya, sehingga apa yang seharusnya bersifat rohani mereka tafsirkan sebagai hal yang bersifat jasmani.

a)   Dalam menafsirkan Mat 6:33, kita harus memperhati­kan dan mem-baca kontexnya, yaitu Mat 6:25-34. Maka akan terlihat dengan jelas bahwa bagian itu berbicara tentang kekuatiran terhadap tidak adanya makanan, minuman dan pakaian (kebutuhan-kebutuhan pokok). Karena itu, kata ‘semuanya’ dalam Mat 6:33 haruslah diar­tikan ‘kebutuhan-kebutuhan pokok’, dan bukannya kekayaan yang berlimpah-limpah!

b)   Dalam Yoh 10:10, Yesus berkata:
“Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”.
Yesus pasti tidak memaksudkan hidup jasmani, tetapi hidup rohani, karena orang-orang yang Ia maksudkan dengan ‘mereka’, saat itu sedang hidup secara jasmani!  Kalau Yesus memaksud­kan hidup rohani, maka jelaslah bahwa kelimpahan yang Ia maksudkan, juga adalah kelimpahan rohani!

c)   2Kor 8:9 juga harus kita teliti kontexnya, supaya kita bisa mengerti apakah ayat itu memaksudkan kaya secara jasmani atau secara rohani. Bacalah mulai 2Kor 8:1-9! Maka dalam ay 7 saudara akan melihat bahwa Paulus berkata bahwa sekarang mereka kaya dalam segala sesuatu. Tetapi apa yang ia maksudkan dengan ‘segala sesua­tu’ itu?  Baca terus ay 7!  Paulus berkata “dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu kepada kami”.
Ini semua jelas menunjuk pada hal rohani, bukan jasmani!  Karena itu jelaslah bahwa ‘kaya’ dalam 2Kor 8:9 tidak menunjuk pada kekayaan jasmani, tetapi pada kekayaan rohani!

d)   2Kor 9:6 juga harus diperhatikan kontexnya.
Apakah ‘menuai banyak’ dalam 2Kor 9:6 itu harus diartikan berkat jasmani / uang yang banyak? Saya berpendapat bahwa bisa saja orang yang memberi persembahan uang lalu dibalas oleh Allah juga dengan uang. Tetapi tentu saja tidak harus demikian. Ia bisa membalas dengan cara lain. Ini bisa kita lihat dalam 2Kor 9:8 dimana dikatakan:
“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan”.

Jelas ini menunjukkan bahwa orang yang menabur banyak itu memang menuai banyak, tetapi ia menuai bukan berkat jasmani, tetapi berkat rohani!

B)  Tentang Argumentasi berdasarkan ‘fakta’.

1)   Jemaat yang bertambah banyak, tidak membuktikan bahwa ajaran mereka benar, ataupun bahwa mereka diberkati oleh Tuhan.
Sebagai contoh, dalam waktu 10 tahun (1942-1952), jumlah orang Saksi Yehovah di Amerika Serikat berkem­bang 2 x lipat, di Asia 5 x lipat, di Eropa 7 x lipat, dan di Amerika Latin 15 x lipat. Apakah itu membuktikan bahwa ajaran mereka itu benar dan gereja mereka diberkati oleh Tuhan?
Ingatlah bahwa kebenaran bukanlah persoalan demokra­si, dalam arti, yang banyak belum tentu benar! Pada saat Yesus melayani secara jasmani dalam dunia ini, hanya sedikit orang yang sungguh-sungguh percaya dan mengikuti Dia. Apakah ini berarti ajaranNya salah dan pelayananNya tidak diberkati Tuhan?
Ingatlah juga bahwa Tuhan Yesus sendiri sudah menu­buatkan bahwa makin mendekati akhir jaman, makin banyak ajaran sesat, dan makin banyak orang yang tersesat (Mat 18:7  Mat 24:5,11).
Juga ingatlah bahwa Paulus juga menubuatkan bahwa akan datang waktunya orang tidak dapat lagi menerima ajaran yang benar dan mereka akan mengumpulkan guru-guru palsu menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Juga bahwa mereka akan menutup telinganya bagi kebenaran dan membukanya bagi dongeng (2Tim 4:3-4). Jadi, kalau banyak orang senang mendengar ajaran Theologia Kemakmuran, itu hanyalah penggenapan dari nubuat ini!

2)   Kalau mereka mengatakan bahwa jemaat dalam gereja mereka kaya-kaya, maka ada 2 hal yang perlu dipertanyakan:

a)   Benarkah bahwa mereka yang sekarang kaya itu dulu­nya miskin?
Saya lebih condong untuk percaya bahwa jemaat yang miskin itu hilang, lalu digantikan oleh jemaat yang kaya. Mengapa bisa demi-kian? Karena kalau setiap kali jemaat mendengar bahwa miskin menunjukkan dosa, tidak beriman dsb, maka lama kelamaan pasti jemaat yang miskin akan minggat dari gereja itu, sedangkan jemaat yang kaya akan tetap tinggal, karena senang dibuai oleh segala omong kosong itu (bandingkan dengan 2Tim 4:3-4).

b)   Kalau memang benar bahwa mereka yang sekarang kaya itu dulu-nya miskin, maka perlu dipertanyakan lagi:

·         Dengan cara bagaimana mereka menjadi kaya? Apakah betul-betul dengan cara yang benar / cara yang kristiani, seperti jujur, kasih dsb? Atau dengan ‘seadanya cara’? Ada banyak orang yang mendapatkan kekayaan dengan cara duniawi yang kotor tetapi lalu bersaksi bahwa Tuhan memberkatinya dengan keka-yaan!
Ingat bahwa ajaran yang mengatakan bahwa orang kristen harus kaya itu bisa membuat orang berusa­ha mati-matian untuk menjadi kaya, tanpa mempedu­likan caranya halal atau tidak!
·         Siapa yang memberi kekayaan itu? Tuhan atau setan? Memang agak sukar untuk mengetahui hal ini, tetapi perlu diingat bahwa setanpun bisa memberi kekayaan kepada orang-orang itu,  dengan tujuan supaya mereka tetap percaya pada ajaran sesat itu! Dan kalau kekayaan itu didapatkan dengan cara-cara yang kotor, sudah pasti itu bukan berkat Tuhan tetapi berkat setan!

 

III) KESIMPULAN:


1)   Semua ini menunjukkan bahwa sekalipun para penganut Theologia Kemakmuran itu bisa memberikan ayat-ayat Kitab Suci sebagai dasar ajaran mereka,  tetapi jelas bahwa ayat-ayat Kitab Suci itu sudah ditafsir-kan secara salah!
Dengan kata lain, kita harus menyimpulkan bahwa ajaran Theologia Kemakmuran itu adalah suatu ajaran sesat yang sama sekali tidak Alkitabiah!
Selain dari itu,  ajaran Theologia Kemakmuran ini menyebabkan ajaran Kristen dihina / dipandang rendah oleh orang-orang non Kristen (dinilai sebagai agama yang duniawi)! Dengan demikian, ajaran Theologia Kemakmuran ini menjadi batu sandungan bagi banyak orang!

2)   Kalau ajarannya adalah ajaran yang sesat / tidak alkitabiah, maka jelaslah bahwa para pengajar Theolo­gia Kemakmuran itu adalah nabi-nabi palsu!
Karena itu para pengajar Theologia Kemakmuran itu sebaiknya memper-hatikan peringatan Tuhan Yesus dalam Mat 18:7 yang berbunyi:
“Celakalah dunia dengan segala penyesatan­nya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya!”.
 
Ada banyak orang yang menanyakan pertanyaan ini: apakah para pengajar Theologia Kemakmuran itu sendiri tahu bahwa ajaran mereka adalah ajaran sesat yang bertentangan / tidak sesuai dengan Kitab Suci?
Dari begitu banyaknya bagian-bagian Kitab Suci yang bertentangan secara sangat jelas dengan ajaran Theolo­gia Kemakmuran, saya yakin bahwa mereka tahu kalau ajaran mereka itu bertentangan / tidak sesuai dengan Kitab Suci.
Kalau demikian, mengapa mereka tetap mengajarkannya? Jelas sekali supaya mereka mendapat untung dan menjadi kaya!  Memang, didalam mereka mengajar mereka menekan­kan keharusan untuk memberikan persembahan sebanyak-banyaknya (baik persembahan persepuluhan maupun per­sembahan biasa), supaya jemaat diberkati berlimpah-limpah oleh Tuhan. Tetapi apa motivasi mereka yang sebenarnya? Bukankah su-paya mereka sendiri yang menja­di kaya oleh semua persembahan itu?  Memang salah satu ciri nabi palsu adalah ‘mengajar demi keuntungan diri sendiri’ (Yer 8:10  Tit 1:11  2Pet 2:3)!

3)   Kitab Suci memang tidak pernah melarang orang kristen untuk kaya (Catatan: saya tidak menganut Theologia Kemela­ratan!). Tetapi Kitab Suci tidak mengharuskan orang kristen menjadi kaya!

4)   Sekalipun kekayaan itu sendiri bukanlah dosa, tetapi kekayaan itu bisa membahayakan kita,  kalau kita tidak bersikap benar terhadap kekayaan.
Karena itu, janganlah menginginkan kekayaan duniawi (Amsal 23:4  Mat 6:19  1Tim 6:9-10); sebaliknya carilah harta yang kekal di surga (Mat 6:20), supaya saudara jangan menjadi seperti orang kaya yang bodoh (Luk 12:16-21).

Karena itu, kalau saudara berdoa dalam persoalan uang, tirulah doa dalam Amsal 30:8-9, yang berbunyi:
“Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkan-lah aku menikmati makanan yang menjadi bagian­ku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkalMu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemar-kan nama Allahku”.





APENDIX 2

Exposisi I Korintus 14


Baik golongan Kharismatik, maupun golongan anti Kharismatik sering menggu-nakan ayat-ayat dari 1Kor 14 untuk mendukung pandangannya masing-masing. Tetapi sering sekali terjadi bahwa dalam penggunaan ayat-ayat dalam 1Kor 14 ini, kontexnya tidak dipedulikan. Dengan kata lain, banyak orang menggunakan ayat-ayat dalam 1Kor 14 terlepas dari kontexnya. Ini tentu saja merupakan penggunaan / cara penafsiran yang keliru! Ayat Kitab Suci tidak pernah boleh ditafsirkan terlepas dari kontexnya! Karena itu perlu sekali kita mempelajari exposisi dari seluruh 1Kor 14 supaya kita bisa menafsirkan setiap ayat sesuai dengan kontexnya! Untuk itu, sebelum saudara membaca exposisi ayat per ayat di bawah ini, bacalah seluruh 1Kor 14 sedikitnya satu atau dua kali.

Ay 1-5:


1)   Ay 1a: ‘kejarlah kasih itu’.
Setelah menjelaskan tentang kasih dalam 1Kor 13, maka sekarang Paulus berkata ‘kejarlah kasih itu’.

a)   Ini menunjukkan bahwa kasih adalah hal yang sangat penting.
Dalam 1Kor 12 dan 1Kor 14 Paulus sebetulnya membahas tentang karu-nia-karunia untuk melayani Tuhan, tetapi toh ia menyelipi kedua pasal itu dengan 1Kor 13 yang membicarakan tentang kasih, dan lalu berkata bahwa kita harus mengejar kasih. Ini menunjukkan bahwa kasih adalah sesuatu yang mutlak harus ada dalam pelayanan. Tanpa kasih (baik ke-pada Tuhan maupun kepada sesama manusia), pelayanan akan dilaku-kan tanpa beban dan kesungguhan.
Karena itu renungkan: apakah ada kasih dalam diri saudara?

b)   Kasih memang adalah buah Roh Kudus (Gal 5:22), tetapi itu tidak berarti bahwa dengan berdiam diri / bersikap pasif kita bisa menjadi orang yang penuh kasih. Karena itu Paulus berkata ‘kejarlah kasih itu’!
Penerapan:
Boleh jadi saudara mengejar Firman Tuhan, tetapi apakah saudara mengejar kasih?

c)   Ada beberapa hal yang harus saudara lakukan kalau saudara mau menjadi orang yang penuh kasih:
·         mendekatlah dan banyaklah bersekutu dengan Tuhan. Ini akan me-nye­babkan saudara ‘ketularan’ kasih Tuhan. Alegori pokok anggur dengan rantingnya dalam Yoh 15:1-8 menunjukkan bahwa kalau kita mempunyai persekutuan yang baik dengan Yesus, barulah kita bisa berbuah banyak! Karena itu banyaklah bersekutu dengan Tuhan!
·         buanglah segala dosa, baik besar maupun kecil, karena dosa me-misahkan / menjauhkan saudara dari Tuhan, dan membuat kasih saudara kepada Tuhan menjadi hambar! Terhadap jemaat Efesus yang kehilangan kasih yang semula, Tuhan memerintahkan supaya mereka bertobat (Wah 2:5).
·         janganlah mengasihi uang / dunia, karena itu akan menyebabkan saudara tidak mungkin mengasihi Tuhan (Mat 6:24  Yak 4:4  1Yoh 2:15).
·         seringlah merenungkan cinta Tuhan bagi saudara, khususnya yang Ia tunjukkan dengan mati di atas kayu salib bagi saudara! Saudara tidak akan bisa mengasihi Tuhan kalau saudara tidak lebih dahulu me-nyadari bahwa Tuhan betul-betul mengasihi saudara.

2)  Ay 1b: ‘usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat’.

a)   ‘Usahakanlah ... memperoleh’ (bdk. ay 39 dan 12:31 yang menggunakan kata Yunani yang sama).
Kata Yunani yang digunakan adalah ZELOUTE yang arti sebenarnya adalah ‘be zealous for’ (= bersemangatlah / berkobar-kobarlah untuk).

Ada beberapa penafsiran tentang bagian ini:

·         Ini diartikan ‘desire eagerly’ (= inginkanlah dengan sungguh-sungguh), dan ini ditujukan kepada setiap orang kristen.
Jadi, setiap orang kristen harus berusaha mendapatkan karunia- karunia rohani. Ini lalu dijadikan dasar untuk berusaha mendapatkan karunia bahasa Roh.

Tetapi ada keberatan yang serius terhadap ajaran / penafsiran ini:
*        dari 1Kor 12:11,18 jelas terlihat bahwa pemberian karunia dilaku-kan sesuai kehendak Tuhan, bukan kehendak kita. Jadi kita tidak bisa berusaha mendapatkan karunia sesuai keinginan kita!
*        kalaupun bagian ini diartikan bahwa orang kristen harus berusa­ha mendapatkan karunia, jelaslah dari ay 1 ini bahwa karunia yang harus dicari / didapatkan bukanlah karunia bahasa Roh, tetapi karunia bernubuat!

·         Ini diartikan ‘desire eagerly’ (= inginkanlah dengan sungguh-sungguh), tetapi ini tidak ditujukan kepada setiap orang kris­ten, tetapi kepada setiap gereja lokal.
Dasar dari pandangan ini: kata ZELOUTE ini merupakan kata perin­tah bentuk jamak (kata perintah yang ditujukan kepada banyak orang)!
Jadi artinya ialah: gereja lokal harus mencari orang-orang yang mempunyai karunia-karunia rohani, terutama karunia bernubuat.

Penerapan:
Kalau suatu gereja mencari seorang hamba Tuhan, maka yang ter-penting adalah bahwa hamba Tuhan itu mempunyai karunia membe-ritakan Firman Tuhan (berkhotbah / mengajar)! Demikian juga guru sekolah minggu haruslah orang yang betul-betul bisa mengajar!

·         Ini diartikan ‘value highly’ (= hargailah / nilailah tinggi).
Kalau diartikan seperti ini, maka jelas bahwa mereka bukan harus berusaha mendapatkan, tetapi hanya harus menghargai karunia- karunia Roh, khususnya karunia bernubuat.
Rupa-rupanya orang Korintus jaman itu, sama seperti kebanyakan orang Kharismatik jaman ini, terlalu mengagungkan / menghargai karunia bahasa Roh, sehingga dalam ay 1 ini Paulus lalu menyuruh mereka menghargai karunia untuk bernubuat. Dan memang pene-kanan utama dari seluruh 1Kor 14 ini adalah bahwa karunia ber-nubuat jauh lebih berharga dari pada karunia bahasa Roh. Kalau dalam membaca seluruh 1Kor 14 tadi saudara belum melihat pene-kanan utama ini, bacalah seluruh 1Kor 14 sekali lagi!

b)   ‘Terutama karunia untuk bernubuat’.

·         Ini menunjukkan secara jelas bahwa karunia yang terpenting / ter-hebat bukanlah karunia bahasa Roh, tetapi karunia bernubuat.
Penerapan:
*        kalau selama ini saudara menganggap karunia bahasa Roh seba-gai karunia yang terutama dan terpenting / terhebat, baca dan renungkan seluruh 1Kor 14 ini, dan janganlah bersikap tegar teng-kuk, tetapi sesuaikanlah pikiran / pengertian saudara yang salah itu dengan Firman Tuhan!
*        kalau saudara berjumpa dengan orang yang menganggap / meng-ajarkan bahwa karunia bahasa Roh adalah karunia yang ter-penting, ajak­lah orang itu membaca seluruh 1Kor 14 ini, supaya ia melihat sendiri bahwa apa yang ia percayai / ajarkan itu tidak sesuai dengan Firman Tuhan.

·         Apakah artinya karunia bernubuat itu? Ada 2 pandangan:
*        karunia yang ada pada pengkhotbah, dimana ia membaca dan mempe­lajari Firman Tuhan / Kitab Suci, dan lalu mengajarkannya kepada orang lain.
*        karunia yang ada pada seorang nabi, dimana ia mendapatkan wahyu langsung dari Tuhan, dan lalu mengajarkannya kepada orang lain.

Kalau kita membaca seluruh 1Kor 14 maka terlihat bahwa karunia nubuat ini dipentingkan bukan karena melihat cara orang itu menda-patkan beritanya (dengan belajar Kitab Suci atau mendapat­kan lang-sung dari Tuhan), tetapi karena melihat penyampaian Firman Tuhan yang ia lakukan, karena inilah yang membangun jemaat.
Jadi saya berpendapat bahwa semua karunia pemberitaan Firman Tuhan adalah karunia yang terutama / terpenting.

3)   Ay 2:

a)   ‘Berkata-kata dengan bahasa Roh’ (ay 2a).
KJV: unknown tongue’ (= bahasa Roh / lidah yang tidak dikenal). Hal yang sama terjadi pada ay 4,14,19,27.
Mungkin terjemahan KJV inilah yang mengilhami pemikiran / keper­cayaan adanya bahasa Roh yang bukan merupakan bahasa manusia. Tetapi sebenarnya kata ‘unknown’ (= tidak dikenal) ini tidak ada dalam bahasa Yunaninya. NKJV yang merevisi KJV, dan juga semua versi bahasa Inggris yang lain, menghapuskan / tidak menggunakan kata ‘unknown’ (= tidak dikenal) ini.

b)   ‘Tidak berkata-kata kepada manusia tetapi kepada Allah’ (ay 2b).

·         Bagian ini seringkali dijadikan dasar dari doa menggunakan bahasa Roh.
Keberatan: kalimat ay 2b ini jelas tidak bisa diartikan seperti itu, karena banyak bagian Kitab Suci yang menunjukkan bahwa pada saat seseorang berbahasa Roh, ia bukan berbicara kepada Allah, tetapi ia menyampaikan berita dari Allah kepada manusia, dan kita tidak boleh menafsirkan satu ayat Kitab Suci sehingga bertentangan dengan ayat Kitab Suci yang lain.
Contoh:
*        Kis 2:4-13 jelas menunjukkan bahwa pada waktu rasul-rasul berba-hasa Roh pada hari Pentakosta, mereka menyampaikan berita dari Allah untuk manusia.
*        Ay 5 menunjukkan bahwa bahasa Roh yang disertai penafsiran / penterjemahan, menjadi sama seperti nubuat. Sedangkan bernu-buat adalah menyampaikan sesuatu dari Allah kepada manusia.
*        Ay 6 mengatakan bahwa bahasa Roh tidak berguna kalau tidak menyampaikan penyataan Allah, pengetahuan, nubuat, atau ajaran. Jadi jelas bahwa bahasa Roh harus ditujukan kepada ma-nusia.
*        Ay 13,27,28 menunjukkan bahwa bahasa Roh harus disertai penaf­siran / penterjemahan. Ini jelas menunjukkan bahwa bahasa Roh itu ditujukan kepada manusia, karena kalau ditujukan kepada Allah, apa gunanya penterjemahan?

·         Arti sebenarnya dari kalimat ini adalah: tidak ada orang yang mengerti kata-katamu kecuali Allah.
Ada yang menganggap bahwa ini adalah suatu sindiran bagi mereka. Jadi Paulus menyindir mereka: apakah kamu mau berkhotbah kepada Allah?

c)   ‘Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya’ (ay 2c).

·         Ini lagi-lagi sering dijadikan dasar untuk mengatakan adanya bahasa Roh yang bukan bahasa manusia.
Keberatan:
*        kata ‘bahasa’ dalam ay 2c itu sebetulnya tidak ada.
NIV: ‘no one understands him’ (= tidak seorangpun mengerti dia).
NASB: ‘no one understands’ (= tidak seorangpun mengerti).
*        kata ‘tidak seorangpun’ dalam ay 2c ini jelas bukan menunjuk pada semua orang di dunia, tetapi pada orang-orang yang hadir dalam kebaktian.

·         Ay 2c ini hanya memperjelas ay 2b.

d)   ‘Oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia’ (ay 2d).

·         Ada penafsir yang menganggap bahwa kata ‘Roh’ menunjuk pada ‘roh manusia’ (Catatan: ingat bahwa dalam bahasa Yunaninya, kata ‘Roh’ ini tidak dimulai dengan huruf besar), tetapi kebanyakan penafsir menganggap bahwa kata ‘Roh’ ini menunjuk kepada ‘Roh Kudus’.

·         ‘hal-hal yang rahasia’.
Banyak orang Kharismatik yang berdasarkan bagian ini lalu berang-gapan bahwa doa menggunakan bahasa Roh adalah doa yang ter­baik, karena doa bahasa Roh menggunakan bahasa rahasia, yang hanya dimengerti oleh Allah. Begitu rahasianya bahasa ini se­hingga setanpun tidak mengertinya, sehingga ia tidak bisa menyabot / meng-gagalkan doa tersebut.

Tetapi kata ‘hal-hal yang rahasia’ ini (dalam bahasa Inggrisnya: ‘mysteries’) berasal dari kata bahasa Yunani MUSTERION. Dan dalam Kitab Suci, kata MUSTERION itu hanya muncul dalam ayat-ayat di bawah ini:
*        Mat 13:11 / Mark 4:11 / Luk 8:10.
*        Roma 11:25  16:25.
*        1Kor 2:7  4:1  13:2  14:2  15:51.
*        Ef 1:9  3:3,4,9  5:32  6:19.
*        Kol 1:26-27  2:2  4:3.
*        2Tes 2:7.
*        1Tim 3:9,16.
*        Wah 1:20  10:7  17:5-7.
Bacalah semua ayat-ayat tersebut di atas, dan saudara akan melihat bahwa kata ‘rahasia’ (MUSTERION) ini pada umumnya bukan menun-juk pada sesuatu yang tidak dapat diketahui / tidak dapat dimengerti, tetapi sebaliknya menunjuk pada:
¨      suatu kebenaran yang bisa diketahui.
¨      suatu kebenaran yang dulunya tersembunyi, tetapi sekarang sudah dinyatakan / diberitakan sehingga bisa diketahui / dimengerti.
Dengan demikian, kalau ay 2 ini mengatakan bahwa orang yang ber-bahasa Roh itu mengucapkan hal-hal yang rahasia, maka artinya ada-lah: orang yang berbahasa Roh itu menyampaikan kebenaran ilahi (yang dulunya tersembunyi, tetapi sekarang sudah dibuka­kan).

Bisa juga kata MUSTERION ini diartikan ‘hal yang tidak dimengerti’ (tetapi ini tetap tidak bisa dijadikan dasar untuk melakukan doa dengan bahasa Roh). Lalu ay 2 digabungkan dengan ay 3, maka kelihatan dengan jelas bahwa di sini dikontraskan antara bahasa Roh (ay 2) dan nubuat (ay 3). Sehingga mungkin saja artinya hanyalah: bahasa Roh itu tidak dimengerti manusia, dan karena itu sia-sia; sedangkan nubuat itu dimengerti manusia sehingga bisa membangun, menasehati dan menghibur.

4)   Ay 3:

Ay 3 ini menunjukkan alasan mengapa karunia bernubuat itu adalah karunia yang terpenting, yaitu karena karunia itu berguna untuk membangun, me-nasehati, dan menghibur jemaat.

5)   Ay 4:

a)   Ay 4a: ‘siapa yang berkata-kata dengan bahasa Roh, ia membangun dirinya sendiri’.
Ada bermacam-macam tafsiran tentang bagian ini:

·         Banyak orang Kharismatik menafsirkan bahwa dengan menggunakan bahasa Roh, orang kristen bisa menguatkan imannya sendiri. Itu se-babnya mereka menganjurkan setiap orang kristen untuk sesering mungkin menggunakan bahasa Roh.
Keberatan terhadap pandangan ini:
*        Kitab Suci mengatakan bahwa iman tumbuh karena Firman Tuhan (ay 4b,5,31  Ro 10:17  1Pet 2:2). Kalau seseorang menggu­nakan bahasa Roh yang ia sendiri tidak mengerti, maka jelas ia tidak mendapatkan Firman Tuhan, sehingga tidak mungkin imannya di-bangun!
*        semua karunia diberikan untuk membangun jemaat (1Kor 12:7 - ‘untuk kepentingan bersama’), bukan untuk membangun diri sendiri!

·         Orang yang berbahasa Roh itu sendiri mengerti apa yang ia kata­kan, tetapi orang lain tidak. Karena itu hanya ia sendiri yang dibangun imannya.

·         Ini cuma suatu irony (= sindiran / ejekan).
Ingat bahwa surat Korintus mengandung banyak irony, misalnya: 1Kor 4:8,10  2Kor 10:1,12  11:1,5b  12:12-13.
Alasan penafsiran ini: suatu karunia diberikan oleh Tuhan kepada seseorang, selalu dengan tujuan untuk membangun jemaat / gereja, bukan diri orang itu sendiri (ay 5b,12,17,26 12:7), sehingga tidak mungkin karunia bahasa Roh itu membangun iman sendiri.
Kalau memang ay 4 ini adalah suatu irony, maka ay 4 ini menun­jukkan betapa rendahnya karunia bahasa Roh itu dibandingkan dengan karunia bernubuat. Karunia bernubuat membangun jemaat, tetapi ka-runia bahasa Roh membangun dirimu sendiri (artinya: tidak memba-ngun siapa-siapa).

b)   Ay 4b: ‘tetapi siapa bernubuat ia membangun jemaat’.
Jadi terlihat bahwa lagi-lagi dikontraskan antara karunia bahasa Roh (ay 4a) dengan karunia bernubuat (ay 4b).

6)    Ay 5:

a)   Ay 5a: ‘Aku suka supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa Roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat’.
Orang Kharismatik sering memotong bagian ini dan hanya melihat kata-kata ‘Aku suka supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa Roh’, dan lalu menggunakannya sebagai dasar untuk mengharuskan orang kristen berbahasa Roh.
Keberatan terhadap pandangan ini:
·         kalau bagian ini diartikan sebagai sesuatu yang menunjukkan keha-rusan berbahasa roh, maka jelaslah bahwa ay 5a ini (baca seluruh ay 5a!) juga mengharuskan, atau bahkan lebih mengharus­kan, orang kristen bernubuat! Bdk. Bil 11:29 (baca mulai Bil 11:26).
Tetapi kenyataannya, saya tidak pernah mendengar ada orang Kharismatik yang mengharuskan orang kristen bernubuat. Ini menunjukkan penafsiran yang tidak konsekwen!
·         Keharusan mempunyai suatu karunia tertentu jelas bertentangan dengan 1Kor 12:7,8-10,28-30, yang jelas menunjukkan bahwa tiap orang kristen menerima karunia yang berbeda-beda, ada yang menerima karunia ini dan ada yang menerima karunia itu. Jelas bahwa tidak ada karunia apapun yang harus dimiliki oleh setiap orang kristen.

b)   Ay 5b: ‘Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa Roh, kecuali kalau orang itu dapat menafsirkannya’.
·         ‘Sebab’.
Kata ‘sebab’ pada awal ay 5b ini menunjukkan bahwa ay 5b ini adalah alasan dari kata-kata Paulus dalam ay 5a. Jadi, Paulus lebih senang orang bernubuat dari pada berbahasa Roh karena orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berbahasa Roh.
·         ‘kecuali orang itu dapat menafsirkannya’.
Kalau orang yang berbahasa Roh itu bisa menafsirkan bahasa Roh-nya, maka bahasa Roh itu menjadi sesuatu yang bisa dimengerti, sehingga menjadi sama berharganya dengan nubuat.
Tetapi kalau ada seorang yang berbahasa Roh, lalu ada seorang lain yang menafsirkannya, kita tetap harus hati-hati, karena bagaimana kita tahu bahwa itu memang penafsiran yang benar? Bagaimana kalau 2 orang itu ternyata cuma bersandiwara supaya dianggap hebat / rohani / penuh Roh Kudus dsb? Ingat bahwa pada akhir jaman ada banyak nabi-nabi palsu yang tidak akan segan-segan menipu jemaat supaya diikuti banyak orang!

c)   Ay 5c: ‘Sehingga jemaat dapat dibangun’.

·         Bagian ini menunjukkan bahwa tujuan karunia / pelayanan adalah supaya jemaat dapat dibangun!
Memang tujuan utama / tertinggi kita dalam hidup / pelayanan kita adalah untuk memuliakan Allah (1Kor 10:31), tetapi untuk mencapai hal itu, maka kita harus membangun jemaat / gereja, yaitu dengan:
*        mempertobatkan orang yang belum percaya.
*        menumbuhkan iman orang yang sudah percaya.

Penerapan:
Apapun pelayanan saudara saat ini, renungkanlah: apakah pelayanan itu saudara maksudkan untuk membangun jemaat / gereja? Atau saudara melayani hanya karena dipaksa oleh orang lain, atau hanya untuk ramai-ramai saja? Atau saudara punya tujuan yang lebih egois lagi, yaitu untuk kepentingan diri saudara sendiri?

·         Ini juga menunjukkan bahwa jemaat / gereja bisa dibangun hanya dengan menambah pengertian Firman Tuhan.
Bahasa Roh yang tidak diterjemahkan tidak bisa memberikan penger-tian, sehingga tidak bisa membangun jemaat. Tetapi nubuat, ataupun bahasa Roh yang diterjemahkan, memberikan pengertian Firman Tuhan kepada jemaat, sehingga jemaat bisa dibangun.

Penerapan:
*        Dalam pelayanan, usahakanlah supaya seluruh jemaat bisa dibangun dalam pengertian Firman Tuhan. Kalau saudara sekedar mengajak jemaat untuk memasang pohon Natal / menghias gereja, atau datang dalam pesta-pesta yang diadakan oleh gereja, tetapi saudara tidak pernah mengajak / mendorong jemaat untuk rajin ke Kebaktian / Pemahaman Alkitab, maka mungkin sekali saudara sedang giat menuju ke arah yang salah!
*        Kalau saudara melayani Tuhan dalam bentuk puji-pujian, guna-kanlah nyanyian dalam bahasa yang bisa dimengerti jemaat. Kalau toh harus menyanyikan lagu dalam bahasa asing, jelaskan lebih dulu arti kata-kata lagu itu. Kalau tidak demikian, pada hakekatnya saudara tidak berbeda dengan orang yang menggunakan bahasa Roh tanpa penterjemahan.
*        Jaman sekarang juga sering ada pengkhotbah yang menggunakan bahasa asing di mimbar, tanpa menterjemahkannya. Apa tujuan-nya? Untuk pamer kepandaian? Lagi-lagi hal ini sebetulnya tidak berbeda dengan orang yang menggunakan bahasa Roh tanpa penterjemahan.

Ay 6-12:


1)         Ay 6:

a)   Ayat ini menunjukkan juga bahwa bahasa Roh seharusnya menyam-paikan berita dari Allah kepada manusia, dan bukan dari manusia kepada Allah (doa dengan bahasa Roh).
Alasannya:
·         adanya kata ‘kepadamu dalam ay 6 ini.
·         keempat hal yang disebutkan dalam ay 6 ini, yaitu penyataan Allah / revelation, pengetahuan, nubuat, pengajaran, merupakan hal-hal yang berguna bagi manusia dan diberikan oleh Allah kepada manu­sia, bukan sebaliknya.

b)   Ayat ini juga menunjukkan bahwa bahasa Roh yang tidak bisa dime- ngerti adalah sia-sia (perhatikan kata-kata ‘apakah gunanya itu bagimu’). Bahasa Roh seharusnya menyampaikan penya­taan Allah / revelation, pengetahuan (dalam hal rohani / Firman Tuhan), nubuat, pengajaran, dan jelas bahwa kalau hal-hal itu disampaikan dalam suatu bahasa yang tidak dimengerti, maka semua itu akan sia-sia belaka.

2)         Ay 7-9:
Dengan menggunakan bermacam-macam penggambaran, bagian ini mengu-atkan ay 6 dalam menunjukkan kesia-siaan bahasa Roh yang tidak dime-ngerti.

a)   Ay 7 menggambarkan bahasa Roh yang tidak dimengerti itu sebagai alat musik yang tidak bisa mengeluarkan bunyi-bunyi / nada-nada yang berbeda. Kalau suatu alat musik bisa mengeluarkan bunyi-bunyi / nada-nada yang berbeda, maka alat musik itu bisa digunakan untuk mengeluarkan suatu lagu. Tetapi kalau tidak, alat musik itu hanya bisa mengeluarkan suara yang tidak berguna.

b)   Ay 8 menggambarkannya sebagai nafiri / terompet yang tidak ‘menge­luarkan bunyi yang terang’.
Dalam ketentaraan pada saat itu, digunakan nafiri untuk memberikan perintah kepada tentara. Nafiri itu bisa mengeluarkan bermacam-macam bunyi, dan setiap bunyi mempunyai arti tertentu. Kalau nafiri itu ternyata tidak bisa memberikan bunyi-bunyi seperti itu, sekalipun sebetulnya berita yang disampaikan itu penting (misalnya: ada musuh menyerang!), maka nafiri itu sama sekali tak berguna.
Ini gambaran orang yang berbicara dalam bahasa Roh yang tidak dimengerti. Sekalipun berita yang ia sampaikan itu sangat penting, tetapi kalau bahasa Rohnya tidak bisa dimengerti oleh para pendengarnya, maka semua itu akan sia-sia belaka.

c)   Ay 9b menggambarkannya sebagai orang yang mengucapkan kata-kata di udara. ‘Mengucapkan kata-kata di udara’, jelas menunjukkan suatu tindakan yang sia-sia. Bandingkan dengan 1Kor 9:26 dimana tindakan yang sia-sia digambarkan sebagai ‘sembarangan saja memukul’ [NIV: ‘beating the air’ (= memukul udara)].

3)   Ay 10:
Ayat ini menunjukkan kemustahilan adanya suatu bahasa yang mengguna-kan bunyi-bunyi yang tidak ada artinya. Semua bahasa di dunia pasti menggunakan bunyi-bunyi / kata-kata yang ada artinya. Karena itu, bahasa Rohpun harus demikian!
Kesimpulannya: bahasa Roh itu haruslah betul-betul suatu bahasa, yang mempunyai grammar (= tatabahasa), dan perbendaharaan kata / kata-kata yang berbeda-beda.
Ayat ini jelas bertentangan dengan praktek bahasa Roh yang jaman ini banyak terdapat, dimana orangnya hanya menggunakan satu atau dua kata yang tidak ada artinya dan yang diulang terus-menerus. Ini jelas bukan bahasa (karena tidak adanya tatabahasa maupun perbendaharaan kata), dan juga bukan bahasa Roh!

Orang Kharismatik memberikan penjelasan dengan mengibaratkan bahasa Roh seperti itu sebagai suatu telegram, yang sekalipun pada pihak pengirim mengeluarkan bunyi-bunyi yang sama, tetapi pada pihak penerima men-dapatkan pesan dalam bentuk kata-kata yang bisa dimengerti.

Tanggapan terhadap penjelasan ini:
  • tidak ada satupun dasar Kitab Suci yang bisa dipakai untuk mendu­kung penjelasan tersebut. Penjelasan yang hanya menggunakan logika / illustrasi, tetapi tidak punya dasar Kitab Suci harus ditolak!
  • harus diingat bahwa bahasa Roh itu seharusnya ditujukan kepada manu-sia dan bukan kepada Allah. Jadi, penerima ‘telegram’ itu bukan Allah tetapi manusia. Sedangkan kenyataannya penerima ‘telegram’ itupun cuma mendengar bunyi-bunyi yang sama terus-menerus. Jadi, jelas tak cocok dengan penjelasan mereka.

4)         Ay 11-12a:
Ay 11 menunjukkan bahwa pembicara dan pendengar menjadi seperti orang asing satu terhadap yang lain, kalau mereka tidak saling mengerti.
Kata-kata ‘demikian pula dengan kamu’ (ay 12a) menerapkan hal itu dalam dunia bahasa Roh. Jadi, pembicara bahasa Roh itu menjadi seperti orang asing bagi pendengarnya, kalau bahasa Rohnya tidak dimengerti. Ini lagi-lagi menekankan kesia-siaan bahasa Roh yang tidak bisa dimengerti oleh pen-dengarnya.

5)         Ay 12b,c:

a)   Ay 12b: ‘kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh’.
NASB: ‘you are zealous of spiritual gifts’ (= kamu bersemangat / berkobar-kobar tentang karunia-karunia rohani).
Catatan:
Kata yang diterjemahkan ‘zealous’ (= bersemangat / berkobar-kobar) itu, dalam bahasa Yunaninya mempunyai kata dasar yang sama dengan ZELOUTE dalam ay 1, ay 39 dan 12:31 (lihat pembahasan tentang kata ZELOUTE dalam pembahasan ay 1 di atas).
Karena itu jelaslah bahwa ayat ini tidak bisa dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa karunia adalah sesuatu yang bisa dicari / diusa­ha-kan.

b)   Ay 12c: ‘hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun jemaat’.
NASB / Literal: ‘seek to abound for the edification of the church’ (= berusahalah untuk berlimpah-limpah untuk pendidikan gereja).

c)   Jadi, kalau ay 12b dan ay 12c dihubungkan, maka artinya adalah: adalah sesuatu yang bagus kalau kamu bersemangat / berkobar-kobar dalam hal karunia-karunia rohani, tetapi arahmu harus benar, yaitu untuk pendidik-an gereja.
Dari sini bisa didapatkan beberapa hal:
·         bahasa Roh tidak boleh dipakai untuk sombong-sombongan, pamer dsb! Ini bukan mendidik gereja!
·         pendidikan gereja adalah sesuatu yang harus diutamakan dalam gereja.
Penerapan:
*        gereja yang tidak mempunyai Pemahaman Alkitab, atau yang mempunyai Pemahaman Alkitab yang ‘hidup segan mati tak mau’, adalah gereja yang tidak beres!
*        dalam gereja, acara Pemahaman Alkitab tidak boleh ditabrak oleh acara-acara lain seperti rapat, bezoek, latihan koor / vocal group dsb! Mengapa? Supaya jemaat bisa hadir semua dalam acara Pemahaman Alkitab itu, sehingga gereja betul-betul maju dalam pendidikan!
·         semangat yang berkobar-kobar itu hanya baik kalau arahnya benar, dan arah seseorang tidak mungkin benar kalau ia tidak mempunyai pengetahuan Firman Tuhan! Bdk. Amsal 19:2 yang berkata: ‘tanpa pengetahuan, kerajinanpun tidak baik’. Dalam terjemahan NIV bunyinya adalah: “It is not good to have zeal without knowledge” (= adalah tidak baik mempunyai semangat tanpa pengetahuan).

Ay 13-17:


1)         Ay 13:

Kata-kata ‘karena itu’ pada awal dari ay 13, menunjuk pada ay 12c di atas.
Jadi maksud dari ay 13 adalah: karena kamu harus berlimpah-limpah dalam hal pendidikan gereja (ay 12c), sedangkan bahasa Roh yang tidak dimenger-ti tidak ada gunanya (bdk. ay 6-9), maka orang yang berbahasa Roh harus meminta karunia untuk menafsirkannya / menterjemahkannya (ay 13).
Catatan:
Karunia penafsiran / penterjemahan bahasa Roh adalah satu-satu­nya karunia yang bisa diminta dalam doa; itupun hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah mempunyai karunia bahasa Roh. Ini disebabkan karena 2 karunia ini (karunia berbahasa Roh dan karunia menterjemahkan bahasa Roh) memang harus berpasangan (bdk. 12:10b,30b).

2)   Ay 14: ‘Sebab jika aku berdoa dengan bahasa Roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa’.

a)   Terjemahan ay 14 ini kurang tepat. Bandingkan dengan terjemahan di bawah ini.
NIV/NASB: ‘For if I pray in a tongue, my spirit prays, but my mind is unfruitful (= karena jika aku berdoa dalam bahasa Roh, rohku berdoa, tetapi pikiranku tidak berbuah).

b)   Kata ‘jika’ pada awal ay 14 menunjukkan bahwa ini adalah suatu pengandaian. Jadi ay 14 ini tidak berarti bahwa Paulus betul-betul pernah berdoa dalam bahasa Roh.
Bahkan dari ay 15a terlihat bahwa Paulus tidak senang dengan suatu doa dimana pikiran tidak terlibat, dan ini menunjukkan bahwa ia tidak mau dan tidak pernah berdoa dalam bahasa Roh.

c)   Ada bermacam-macam penafsiran / arti yang diberikan oleh para penafsir tentang kata ‘my spirit / rohku’:
·         itu menunjuk pada ‘Roh Kudus’.
Keberatan: dalam Kitab Suci, Roh Kudus tidak pernah disebut ‘rohku’.
·         kata ‘roh’ bisa diterjemahkan ‘nafas’. Jadi bagian ini menjadi ‘nafasku berdoa’. Maksudnya, pada saat ia berdoa, maka hanya nafas dan organ yang berhubungan dengan suaralah yang bekerja (sedangkan otaknya tidak).
·         itu menunjuk pada ‘karunia rohani’.
·         itu menunjuk pada ‘perasaan dan kehendak’, yang dikontraskan dengan pikiran / pengertian.

d)   Kata-kata ‘my mind is unfruitful / pikiranku tidak berbuah’ juga ditafsirkan secara beraneka ragam:
·         otakku tidak mengerti apa yang aku doakan.
·         otakku tidak bekerja / tidak berdoa (seperti Kitab Suci Indonesia).
·         doa itu tidak berbuah dalam diri orang yang mendengar.

e)   Dari semua ini terlihat dengan jelas bahwa ay 14 ini adalah ayat yang sangat sukar. Tetapi sebetulnya penekanan dari ay 14 ini jelas yaitu: doa bahasa Roh adalah doa tanpa menggunakan otak, dan itu adalah salah!

3)         Ay 15: ayat ini terjemahannya kurang tepat.
NASB / Lit: ‘I shall pray with the spirit and I shall pray with the mind also; I shall sing with the spirit and I shall sing with the mind also’ (= Aku akan ber-doa dengan roh dan aku akan berdoa dengan pikiranku; aku akan menyanyi dengan roh dan aku akan menyanyi dengan pikiranku juga).
Jadi, kalau dalam ay 14 memang dikatakan ‘my spirit / rohku’, maka pada ay 15 dikatakan ‘the spirit / roh’.
Ada 2 penafsiran tentang kata ‘the spirit / roh’ dalam ay 15 ini:

a)   Ini menunjuk kepada ‘rohku’ (ini seperti terjemahan Kitab Suci Indonesia maupun NIV).
b)   Ini menunjuk kepada ‘Roh Kudus’.
Jadi, artinya: pada waktu Paulus berdoa dipimpin oleh Roh Kudus sekali-pun, tetap saja ia memakai otaknya dalam berdoa.

Ayat ini jelas sekali menunjukkan perlunya penggunaan otak, baik dalam berdoa maupun dalam menyanyi! Otak harus betul-betul mengikuti kata-kata dalam doa / nyanyian yang dinaikkan. Hal ini jelas tidak mungkin terjadi pada waktu orang berdoa atau menyanyi dalam bahasa Roh, karena mereka tidak mengerti apa yang mereka ucapkan.

Penerapan:
Jaman sekarang kita bisa melihat dengan jelas bahwa ada banyak pemimpin liturgi, orang yang melakukan sharing, pemimpin doa, dan bahkan pengkhotbah yang sama sekali tidak menggunakan otak. Dari cara bicaranya dan apa yang mereka katakan, terlihat dengan jelas bahwa mereka hanya menuruti perasaannya dan mereka membuang pikirannya. Ini jelas tidak sesuai dengan ajaran Paulus dalam bagian ini!

4)         Ay 16-17:

a)   Ay 16a: ‘mengucap syukur’ [NIV: praise (= memuji); NASB: bless (= memberkati)].
Ay 16b: ‘pengucapan syukur’ [NIV: thanksgiving (= pengucapan syukur); NASB: giving of thanks (= mengucap syukur)].
Memang istilah ‘mengucap syukur’ dan ‘memuji / memberkati’ sering bisa dibolak-balik (interchangeable).

b)   Ay 16-17 ini menunjukkan alasan mengapa orang memuji Tuhan / bersyukur kepada Tuhan dengan bahasa Roh itu adalah salah.
Catatan: pada saat itu orang itu berfungsi sebagai pemimpin doa dalam gere­ja.

Alasan 1:

·         Tradisi saat itu dalam melakukan persekutuan doa adalah: satu orang saja yang berdoa dengan suara yang keras, sedangkan jemaat men-dengar dan mengikuti doa itu dalam hati / pikiran, lalu pada akhirnya mengaminkan doa itu.

Calvin: “Paul’s expression, however, intimates, that some one of the ministers uttered or pronounced prayers in a distinct voice, and that the whole assembly followed in their minds the words of that one person, until he had come to a close, and they all said Amen - to intimate, that the prayer offered up by that one person was that of all of them in common” (= Ungkapan Paulus menunjukkan bahwa salah seorang pendeta menaikkan doa dengan suara yang jelas dan seluruh jemaat mengikuti dalam pikiran mereka kata-kata dari orang itu, sampai ia selesai, dan mereka semua berkata Amin - untuk menunjukkan bahwa doa yang dinaikkan oleh satu orang itu adalah doa mereka semua).

Hal ini juga terlihat dari:
*        1Taw 16:7-36.
Dalam ay 7 ditunjukkan bahwa beberapa orang memimpin nyanyi-an (dalam menyanyi bisa saja beberapa orang menyanyi bersama-sama, tetapi dalam berdoa tidak!); nyanyian itu ada dalam ay 8-36a, lalu pada ay 36b jemaat mengucapkan ‘amin’.
*        Maz 106:1-48.
Sekalipun tidak disebutkan, tetapi dari kata-kata dalam mazmur ini terlihat bahwa itu adalah suatu doa. Pada ay 48b (pada akhir dari doa itu) maka semua jemaat mengucapkan ‘amin’.
*        Ul 27:14-26.
Ini adalah pembacaan Firman Tuhan / ayat Kitab Suci. Beberapa orang membacakannya (ay 14), dan setiap ayat ditutup dengan ‘amin’ oleh seluruh jemaat.

Penerapan:
à        ini menunjukkan bahwa ‘doa bersuara’ (‘persekutuan’ doa dimana semua orang berdoa sendiri-sendiri dengan suara keras) adalah sesuatu yang bukan merupakan ajaran Kitab Suci!
à        Dalam memilih orang yang berdoa, kita harus memilih orang yang mempunyai suara cukup keras, dan juga orang yang bisa berdoa dengan terarah (bukan yang doanya mbulet tidak karuan), supaya doanya bisa diikuti oleh semua jemaat.

·         Dengan tradisi seperti ini, maka kalau pemimpin doa menaikkan doa dengan menggunakan bahasa Roh, maka jemaat jelas tidak bisa mengaminkan, karena mereka tidak mengerti apa yang didoakan.

Penerapan:
*        jangan menyuruh misionaris / orang asing yang tidak bisa meng­gunakan bahasa setempat untuk memimpin doa dalam gereja! Ini menyebabkan jemaat tidak bisa mengikuti doanya.
*        penggunaan doa dalam bahasa Latin dalam gereja Katolik juga merupakan sesuatu yang salah.
*        gereja-gereja yang khotbahnya diterjemahkan (Tionghoa-Indonesia atau Jawa-Indonesia dsb) seringkali tidak menterjemahkan doa­nya, sehingga doa dalam kebaktian dinaikkan dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh banyak jemaat. Ini jelas juga salah.

Alasan 2:

Ay 17 menunjukkan bahwa sekalipun pengucapan syukur dari orang yang berdoa itu sangat baik, tetapi itu tidak membangun jemaat, karena mereka tidak mengerti.

Ay 18-19:


1)   Ay 18:

Ayat ini sering dipakai oleh orang-orang Kharismatik untuk mengatakan bah-wa bahasa Roh adalah karunia yang sangat penting / istimewa. Buktinya Paulus bersyukur karena ia berbahasa Roh lebih dari semua orang Korintus.

Keberatan terhadap penafsiran / pandangan ini:
Penafsiran ini bertentangan dengan arah dari seluruh pasal, karena pene-kanan utama dari 1Kor 14 adalah meninggikan karu­nia bernubuat dibanding-kan dengan karunia bahasa Roh, atau merendah­kan karunia bahasa Roh dibandingkan karunia bernubuat. Penafsiran dari satu ayat yang bertentang-an dengan arah seluruh pasal, adalah penafsiran yang out of context, yang jelas merupakan penafsiran yang salah!

Arti yang benar adalah: Dalam ayat-ayat sebelum ay 18 ini, Paulus sudah banyak kali meren­dahkan karunia bahasa Roh dibandingkan dengan karunia bernubuat. Andaikata Paulus sendiri tidak pernah bisa berbahasa Roh, maka besar kemungkinannya orang-orang Korintus akan menganggap bahwa Paulus ‘menyerang’ karunia bahasa Roh karena ia sendiri tidak mempunyai karunia itu, dan ia iri kepada orang-orang Korintus yang mempunyai karunia itu. Tetapi karena Paulus sendiri mempunyai karunia bahasa Roh, bahkan ia lebih banyak berbahasa Roh dari pada semua orang Korintus, maka tentu tidak ada alasan bagi orang-orang Korintus untuk mengatakan bahwa Paulus iri hati kepada mereka. Karena itulah maka Paulus bersyukur bahwa ia mempunyai karunia itu.

Hal yang sama terjadi dalam Fil 3:
  • dalam Fil 3:2-3 Paulus menyerang sunat dan hal-hal lahiriah yang lain.
  • dalam Fil 3:4-6 Paulus menunjukkan bahwa ia sendiri disunat dan mem-punyai hal-hal lahiriah itu secara berlimpah-limpah. Dengan menunjukkan hal ini maka orang-orang Yahudi tidak mungkin menuduh bahwa Paulus menyerang sunat / hal-hal lahiriah itu karena iri hati.

2)         Ay 19:

a)   Ini merupakan sambungan dari ay 18.

b)   Kata ‘beribu-ribu’ dalam ay 19b seharusnya adalah ‘sepuluh ribu’.

c)   Ayat ini menunjukkan bahwa sekalipun Paulus sendiri banyak berba­hasa Roh, tetapi dalam kebaktian / gereja ia lebih suka mengucap­kan 5 kata yang bisa dimengerti untuk mengajar orang, dari pada 10.000 kata dalam bahasa Roh yang tidak dimengerti orang.
Mengapa? Karena mengucapkan 5 kata yang bisa dimengerti (bahkan kurang dari 5 kata sekalipun) bisa mempertobatkan / membangun / me-nguatkan / menasehati orang, misalnya:
·         Bertobatlah, Kerajaan Surga sudah dekat!
·         Allah mengasihi orang berdosa.
·         Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus.
·         Yesus mati untuk menebus dosamu!
Sebaliknya, mengucapkan 10.000 kata (Catatan: perlu saudara ketahui bahwa dibutuhkan waktu yang cukup lama yaitu kira-kira 90 menit untuk mengucapkan 10.000 kata!) dalam bahasa Roh yang tidak dimengerti, tidak akan berguna / membangun siapapun juga!
Karena itu adalah sesuatu yang aneh dan tidak alkitabiah kalau ada:
¨      pengkhotbah atau pemimpin liturgi (chairman) yang sebentar-sebentar menggunakan bahasa Roh di mimbar!
¨      pendeta / pengkhotbah yang sering menggunakan bahasa asing (Inggris, bahkan Ibrani / Yunani), tanpa diterjemahkan! Ini tidak berbe-da dengan mengajar menggunakan bahasa Roh!

Ay 20:


1)         Pembetulan terjemahan:
Dalam Kitab Suci Indonesia ada 2 x kata ‘anak-anak’ (sama seperti KJV menggunakan 2 x kata ‘children’). Tetapi kata ‘anak-anak’ yang ke 2 seharusnya adalah ‘bayi’.
NIV: ‘Brothers, stop thinking like children. In regard to evil be infants, but in your thinking be adults’ (= Saudara-saudara, berhen­tilah berpikir seperti anak-anak. Dalam hal kejahatan jadilah bayi, tetapi dalam pemikiranmu jadilah dewasa).

2)         Arti / penjelasan:

a)   Dalam hal kejahatan, kita tidak boleh menjadi dewasa (karena orang dewasa banyak berbuat jahat), bahkan tidak seperti anak-anak (karena anak-anakpun sudah bisa berbuat jahat), tetapi seperti bayi.
Ada beberapa hal yang bisa dibahas disini:

·         Ini tidak bertentangan dengan Mat 18:3 dimana Yesus menyuruh kita menjadi seperti anak-anak, karena:
*        ini merupakan ilustrasi / perumpamaan yang berbeda / terpisah.
*        Dua perumpamaan ini punya arah yang sama
Contoh:
Kalau saya melihat sesuatu yang terang, lalu saya menga­takan bahwa benda itu seperti lampu halogen, dan sebentar lagi saya mengatakan bahwa benda itu bersinar seperti matahari, maka itu tentu tidak bertentangan.

·         Kata ‘bayi’ itu dalam bahasa Yunaninya adalah NEPIAZETE, yang berasal dari 2 kata bahasa Yunani yaitu:
*        NE, yang berarti ‘not’ (= tidak).
*        EIPO, yang berarti ‘I speak’ (= aku berkata / berbicara).
Jadi, kata NEPIAZETE itu menunjuk pada ‘one that can not speak’ (= orang yang tidak / belum bisa berbicara).
Jadi, Paulus memaksudkan bayi berusia di bawah 6 bulan.

·         Ini sama sekali tidak berarti bahwa bayi itu suci. Kitab Suci jelas mengajarkan adanya dosa asal yang menyebabkan semua orang dilahirkan, bahkan dikandung, di dalam dosa (Kej 6:5  8:21  Ayub 25:4  Maz 51:7  58:4). Tetapi, bagaimanapun juga, bayi itu dianggap ber-dosa karena dosa turunan, bukan karena dosanya sendiri. Sekalipun kecondongan pada dosa sudah ada padanya, tetapi ia sendiri belum berbuat dosa. Karena itulah dalam hal kejahatan kita harus seperti bayi.
 
Penerapan:
Apakah saudara berusaha menyucikan diri saudara sampai hal yang sekecil-kecilnya? Kalau saudara hanya membuang dosa-dosa besar dari hidup saudara, dan membiarkan dosa-dosa kecil / tertentu dalam hidup saudara, atau kalau saudara mengabaikan bagian tertentu dari Firman Tuhan, maka paling-paling saudara menjadi seperti anak-anak, bukan seperti bayi, dalam hal kejahatan.

b)   Dalam pemikiran, kita justru tidak boleh seperti bayi (tidak berpi­kir dan tidak berpengetahuan), tidak juga seperti anak-anak (kurang bisa berpikir dan kurang berpengetahuan), tetapi harus seperti orang dewasa (banyak pengetahuan dan bisa berpikir dengan baik).
Ini perlu direnungkan oleh orang-orang kristen yang sekalipun tidak ba-nyak mengerti tentang Firman Tuhan, tetapi tetap tidak mau berusaha untuk belajar Firman Tuhan!

Ciri-ciri pemikiran anak:
·         Tidak berpikir panjang.
Kalau saudara sering melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang, maka saudara mempunyai pikiran anak-anak!
·         Mudah terombang-ambing (bdk. Ef 4:14).
Kalau saudara selalu mengaminkan / mengiyakan seadanya ajaran yang saudara dengar / baca, maka saudara mempunyai pikiran anak-anak.
·         Mengutamakan / mengagungkan hal-hal yang spektakuler.
Dalam kontex 1Kor 14 ini maka jelaslah bahwa hal yang ke 3 inilah yang paling ditekankan. Mujijat dan bahasa Roh adalah hal-hal yang spektakuler, sehingga sering dianggap sebagai hal-hal yang hebat. Tetapi bagian ini menunjukkan bahwa orang yang mengagungkan / mengutamakan hal-hal yang spektakuler seperti ini adalah orang yang childish (= kekanak-kanakan)!

Supaya kita bisa menjadi dewasa dalam pemikiran, maka jelas bahwa kita harus belajar Firman Tuhan dengan rajin dan tekun (bdk. Ef 4:11-14), termasuk bagian-bagian yang adalah ‘makanan keras’ (bdk. 1Kor 3:1-2  Ibr 5:11-14).

Ay 21-25:


1)         Ay 21:

a)   Ini merupakan kutipan dari Yes 28:11,12b (bdk. Ul 28:47-49).

b)   Kontex Yesaya 28:
Mula-mula Tuhan berfirman dengan bahasa biasa, tetapi Israel tidak menghiraukan firman itu dan menganggap bahwa firman itu hanya cocok untuk bayi (bdk. Yes 28:9-10). Karena itu Tuhan lalu menghukum mereka dengan menggunakan orang-orang yang berbicara dalam bahasa asing, yaitu bangsa Babilonia (Yes 28:11-12a). Tetapi sekalipun demikian, Israel tetap tidak mau taat (Yes 28:12b).

c)   Maksud Paulus mengutip Yes 28:11-12 ialah:
·         Menunjukkan bahwa mendapat guru yang berbicara dalam bahasa asing bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan, karena itu meru­pakan suatu bentuk penghukuman akibat dosa yang mereka lakukan.
Karena itu janganlah terlalu bangga dengan bahasa Rohmu!
·         Penggunaan bahasa asing / bahasa Roh tidak menyebabkan ke-taatan.

2)         Ay 22:

Calvin memberikan 2 kemungkinan arti untuk ayat ini:

a)   Ay 22 ini dihubungkan dengan ay 21.
Jadi, ‘orang yang tidak beriman’ dalam ay 22 menunjuk kepada orang- orang Israel yang tidak percaya, yang akhirnya dihukum oleh Tuhan dengan menggunakan orang asing / bangsa Babilonia (ay 21).

b)   Ay 22 dipisahkan dari ay 21.
Bahasa Roh dikatakannya merupakan tanda untuk orang yang tidak beriman, karena dalam Kis 2:1-13 rasul-rasul memberitakan Injil kepada orang-orang yang tidak percaya dengan menggunakan bahasa Roh. Sifat mujijat dari bahasa Roh itu menyebabkan orang-orang yang tidak beriman itu mau mendengar Injil itu.
Tetapi orang yang percaya tidak membutuhkan pemberitaan Firman Tuhan yang bersifat mujijat, dan karena itu untuk mereka tidak dibutuhkan bahasa Roh. Jadi nubuatlah yang cocok untuk mereka.

Saya lebih condong pada arti yang ke 2.

3)         Ay 23-25:

a)   Ay 23 (bdk. Kis 2:13):
Kalau tadi dalam ay 22a dikatakan bahwa bahasa Roh adalah tanda untuk orang yang tidak beriman, lalu mengapa ay 23 mengatakan bahwa pada waktu orang-orang tidak beriman itu melihat orang-orang kristen berbahasa Roh, mereka menganggap orang-orang kristen itu gila?
Ada 2 kemungkinan jawaban:
·         Sekalipun bahasa Roh merupakan tanda untuk orang tidak beriman, tetapi itu tidak berarti bahwa bahasa Roh itu akan mempertobatkan mereka (bdk. ay 21b yang menunjukkan penggunaan bahasa asing ternyata sia-sia).
·         Sekalipun bahasa Roh itu adalah tanda untuk orang tidak beriman, tetapi karena orang Korintus menggunakan bahasa Roh itu secara salah (tanpa penterjemahan), maka orang tidak beriman itu akhirnya menganggap mereka gila.

Catatan: satu hal yang menarik dari ay 23 ini ialah: kalau ada suatu gere-ja penuh dengan bahasa roh, lalu ada orang luar yang masuk dan meng-anggap mereka gila, maka yang disalahkan oleh Paulus bukanlah orang luar itu, tetapi gerejanya! Tetapi anehnya, jaman sekarang kalau hal itu terjadi, maka orang Kharismatik menganggap bahwa orang luar itu yang salah karena ia menghujat Roh Kudus!

b)   Ay 24-25:

·         ‘semua bernubuat’ (ay 24a) tentu tidak berarti bahwa semua bernu­buat pada saat yang sama (bdk. ay 29-31).

·         ‘orang baru’ (ay 24). Ini salah terjemahan.
NIV: ‘someone who does not understand’ (= seseorang yang tidak mengerti).
Footnote NIV: ‘some inquirer’ (= orang yang bertanya-tanya).
NASB: ‘ungifted man’ (= orang yang tidak berkarunia).
RSV: ‘outsider’ (= orang luar).
KJV: ‘one unlearned’ (= orang yang tidak terpelajar).
NKJV: ‘an uninformed person’ (= orang yang belum diberi informa­si).
Kata bahasa Yunaninya adalah IDIOTES (kata yang diterjemahkan ‘orang-orang luar’ dalam ay 23 dalam bahasa Yunaninya adalah IDIOTAI, yang merupakan bentuk jamak dari IDIOTES).
Adalah sesuatu yang menarik bahwa kata bahasa Inggris ‘idiot’ (= orang yang mempunyai I.Q. dibawah 20) diturunkan dari kata Yunani ini. Memang, orang tidak percaya / orang yang secara rohani tidak mengerti apa-apa adalah orang yang idiot!

·         kata-kata dalam ay 24-25 seperti ‘diyakinkan oleh semua’, ‘diselidiki oleh semua’ dsb, tidak perlu diartikan satu per satu. Seluruhnya jelas menunjukkan bahwa orang itu lalu menjadi sadar dan bertobat.
Catatan: tentu Paulus tidak memaksudkan bahwa pertobatan ini selalu terjadi! Maksudnya: ini adalah hal yang seharusnya terjadi, atau hal yang diharapkan untuk terjadi.

·         kalau tadi dalam ay 22b dikatakan bahwa nubuat bukanlah tanda un-tuk orang tak beriman, mengapa sekarang dalam ay 24-25 nubuat itu justru berguna dan mempertobatkan orang yang tidak beriman? Mungkin yang dimaksud dengan ‘orang tak beriman’ dalam ay 22b adalah ‘orang tak beriman yang bukan termasuk orang pilihan’, sedangkan ‘orang tak beriman’ dalam ay 24-25 adalah ‘orang tak ber-iman yang adalah orang pilihan’ (orang pilihan yang belum bertobat).

c)   Sekalipun ay 23-25 ini adalah bagian yang sangat sukar, tetapi tetap ada satu hal yang sangat jelas disini, yaitu: dalam bagian ini Paulus lagi-lagi merendahkan karunia berbahasa Roh dan meninggikan karunia ber-nubuat.
·         ay 23 - bahasa Roh hanya menyebabkan orang kristen dianggap gila. Ini jelas merendahkan bahasa Roh!
Catatan: kalau suatu gereja dimana semua orangnya berkata-kata dalam bahasa Roh saja sudah dianggap gila, apalagi kalau seluruh gereja terkena Toronto Blessing!
·         ay 24-25 - nubuat mempertobatkan orang. Ini jelas meninggikan nubuat.

Dalam ay 2-5 sudah ditunjukkan bahwa nubuat lebih penting dan lebih berguna dari bahasa Roh, tapi dalam ay 2-5 hal itu ditekan­kan untuk orang-orang yang sudah percaya. Sekarang dalam ay 23-25 hal itu dite-kankan untuk orang yang belum percaya.
Jadi kesimpulannya: baik untuk orang percaya maupun tidak percaya, orang yang ada didalam atau di luar gereja, nubuat tetap lebih penting dan lebih berguna dari bahasa Roh!

d)   Banyak orang-orang Kharismatik menganggap bahwa bahasa Roh merupa­kan bukti bahwa Allah itu hadir. Jadi, karena dalam gereja mereka banyak orang berbahasa Roh dalam kebaktian, maka mereka mengang-gap gereja mereka penuh dengan Roh Kudus. Sedangkan karena dalam gereja-gereja Protestan tidak ada orang berbahasa Roh dalam kebak­tian, maka mereka menganggapnya sebagai gereja yang tidak mempunyai Roh Kudus!
Tetapi benarkah pandangan seperti itu?
Ay 23 menunjukkan bahwa gereja yang penuh bahasa Roh (bukankah ini seperti gereja Kharismatik?) hanya menye­babkan orang kafir mengang-gap mereka gila.
Dan ay 24-25 menunjukkan bahwa gereja yang penuh nubuat / tanpa ba-hasa Roh (bukankah ini seperti gereja Protestan?) menyebabkan orang kafir sadar akan dosanya dan bertobat, sehingga mereka menyadari, me-rasakan dan mengalami kehadiran Allah dalam gereja itu (perhatikan kata-kata ‘sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu’ dalam akhir ay 25).
Pikirkan sendiri, gereja seperti apa yang saudara inginkan? Seperti dalam ay 23 atau seperti dalam ay 24-25?

Ay 26-28:


1)         Ay 26:

a) Kata-kata ‘bilamana kamu berkumpul’ menunjukkan bahwa hal-hal ini hanya berlaku untuk suatu kebaktian / persekutuan.

b)   Sekalipun kata ‘hendaklah’ dalam ay 26 ini sebetulnya tidak ada, tetapi ayat ini tetap menunjukkan bahwa dalam kebaktian, tiap orang kristen ha-rus menggunakan karunianya untuk untuk memberikan suatu sumbangsih / pelayanan yang ditujukan untuk membangun gereja / jemaat (bdk. 1Pet 4:10).

Penerapan:
·         Apakah sampai saat ini saudara datang ke gereja hanya untuk menerima Firman Tuhan saja? Memang, keinginan untuk menerima Firman Tuhan adalah sesuatu yang baik dan harus dipertahankan, tetapi juga harus ditambah dengan keinginan memberi dan keinginan untuk bisa berguna bagi gereja / jemaat. Janganlah puas menjadi orang kristen yang tidak bisa berguna untuk gereja / jemaat.
·         Juga jangan merasa puas kalau saudara sudah memberikan persem-bahan dalam kebaktian, karena hal itu belum cukup. Ay 26 ini me-nunjuk­kan bahwa setiap orang harus memberikan sesuatu dalam hal peng­gunaan karunia untuk melayani! Jadi, carilah karunia apa yang saudara miliki, dan gunakanlah untuk membangun gereja saudara!

c)   Ay 26 ini jelas menunjukkan bahwa tidak setiap / semua orang kristen harus mempunyai karunia bahasa Roh, karena ayat ini menga­takan bah-wa yang seorang memberikan mazmur, yang lain memberikan pengajar-an, yang lain lagi memberikan bahasa Roh dst. Jadi jelas bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang mempunyai karunia bahasa Roh itu! Yang tidak punya karunia itu pasti mempunyai karunia yang lain sehingga tetap bisa berguna untuk gereja.

2)         Ay 27:

a)   Kata ‘jika’ di sini menunjukkan bahwa dalam suatu kebaktian / perseku-tuan, tidak selalu harus ada orang yang berbahasa Roh!

b)   Ay 27 ini memberikan syarat berbahasa Roh dalam kebaktian / perse­kutuan yaitu:
·         yang berbahasa Roh hanya boleh 2-3 orang.
·         mereka harus bergiliran dalam berbahasa Roh.
·         harus ada penafsiran.

Penggunaan bahasa Roh dalam gereja / persekutuan Pentakosta / Kharismatik pada jaman ini, dimana puluhan / ratusan / ribuan orang berbahasa Roh secara bersama-sama dan tanpa ada penafsiran, jelas bertentangan dengan syarat yang ditetapkan oleh Paulus di sini! Tetapi kalau mereka dihadapkan pada ayat ini maka mereka berkata bahwa ada 2 jenis bahasa Roh; untuk jenis yang pertama berlaku syarat-syarat ini, tetapi untuk jenis yang kedua tidak. Dan mereka menggunakan jenis yang kedua ini. Tetapi penjelasan atau jawaban ini sama sekali tidak mempu-nyai dasar Kitab Suci!

3)         Ay 28:

Ayat ini mengatakan bahwa kalau tidak ada orang yang bisa menafsir­kan bahasa Roh itu (artinya: dalam kebaktian itu tidak ada orang yang telah diketahui mempunyai karunia penafsiran bahasa Roh), maka orang yang mau berbahasa Roh itu harus diam, dan ‘hanya boleh berka­ta-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah’. Apa artinya kali­mat ini? Ada 2 penafsiran:
a)   Mereka boleh berdoa dengan bahasa Roh, secara pribadi.
b)   Mereka boleh berbahasa Roh (bukan berdoa dengan bahasa Roh) pada waktu mereka sendirian. Jadi mereka harus menunggu sampai mereka sendirian, barulah mereka boleh berbahasa Roh.
Saya setuju dengan arti kedua ini.

Ay 29-33:


1)         Ay 29:

a)   Sama seperti dalam menggunakan bahasa Roh, maka orang yang bernu­buatpun juga dibatasi sebanyak 2-3 orang.

b)   Ay 29b: yang lain menanggapi apa yang mereka katakan’.

·         kata ‘menanggapi’ ini merupakan terjemahan yang salah.
RSV: weigh (= menimbang).
NIV: weigh carefully (= menimbang dengan hati-hati).
NASB: pass judgment (= memberikan penghakiman).
KJV/NKJV: judge (= menghakimi).
Kata Yunaninya adalah DIAKRINETOSAN, yang sebetulnya berarti discern (= membedakan / melihat perbedaan).

·         kata ‘yang lain’ ditafsirkan bermacam-macam:
*        orang yang mempunyai karunia membedakan roh (bdk. 1Kor 12:10).
Dasarnya: kata Yunani DIAKRISEIS, yang diterjemahkan ‘membeda­kan’ dalam 1Kor 12:10, mempunyai akar kata yang sama dengan kata DIAKRINETOSAN dalam ay 29b ini.
*        orang-orang lain yang juga mempunyai karunia bernubuat.
*        semua jemaat yang lain.
Saya setuju dengan arti ke 3. Ini menunjukkan bahwa semua orang kristen mempunyai kewajiban untuk menilai apakah suatu nubuat /  ajaran itu betul-betul adalah firman Tuhan atau bukan (bdk. Kis 17:11  1Tes 5:20-21  1Yoh 4:1-3).

2)         Ay 30:

Ayat ini menunjukkan bahwa sama seperti dalam penggunaan karunia ba- hasa Roh, maka karunia nubuatpun harus digunakan secara bergiliran. Jadi, orang yang mau bernubuat harus menunggu sampai yang sedang bernubuat selesai.
Ini sebetulnya bukan hanya berlaku untuk orang bernubuat dalam kebaktian, tetapi juga kalau orang berbicara dalam rapat! Jangan bicara selagi ada orang yang sedang bicara! Mengapa? Demi menghargai orang yang sedang berbicara itu, dan juga demi keteraturan (bdk. ay 33,40).

3)   Ay 31:

a)   ‘Kamu semua’:

·         Ini hanya menunjuk kepada orang-orang yang mempunyai karunia bernubuat. Hanya merekalah yang boleh bernubuat dalam gereja!
Dalam persoalan menentukan siapa yang boleh berkhotbah dalam gereja, maka banyak gereja jatuh dalam salah satu dari 2 extrim yang salah di bawah ini:
*        seadanya orang boleh berkhotbah.
Extrim ini banyak terdapat dalam kalangan gereja Pentakosta / Kharismatik.
Dasarnya: setiap orang bisa dipimpin oleh Roh Kudus dalam me- nyampaikan firman Tuhan.
Keberatan: kalau Tuhan mau memakai seseorang untuk berkhot-bah, maka Tuhan pasti akan memberikan karunia untuk berkhot-bah kepada orang itu. Jadi, kalau Tuhan tidak memberikan karunia berkhotbah kepada orang itu, maka itu berarti bahwa Tuhan tidak menghendaki orang itu berkhotbah!
*        hanya orang yang mempunyai gelar Sarjana Theologia (atau lebih tinggi dari itu) yang boleh berkhotbah. Extrim ini banyak terdapat dalam gereja Protestan.
Terhadap extrim ini perlu dikatakan bahwa ada orang-orang yang mempunyai karunia berkhotbah, tetapi tidak mempunyai kesem-patan untuk sekolah theologia, atau mempunyai kesempatan sekolah hanya sebentar saja, atau mempunyai kesempatan sekolah di sekolah theologia yang tidak mengeluarkan gelar, sehingga orang itu tidak mempunyai gelar. Kalau kita melarang orang seperti ini berkhotbah, maka itu berarti kita ‘mengubur talenta’ orang itu (bdk. Mat 25:18)!

·         Ini tentu tidak berarti bahwa semua orang yang mempunyai karunia bernubuat boleh bernubuat dalam satu kebaktian.
Dalam ay 29 tadi telah kita pelajari bahwa dalam satu kebaktian hanya boleh 2-3 orang saja yang bernubuat. Jadi, kalau dalam suatu gereja ada 10 orang yang mempunyai karunia bernubuat, maka bisa saja dalam kebaktian minggu ini 3 diantaranya bernubuat, dan minggu depan 3 orang yang lain dst.

b)   ‘Sehingga kamu semua dapat belajar’.
Ini menunjukkan bahwa nabipun harus mau belajar dari nabi yang lain. Nabi yang hanya mau belajar langsung dari Allah (anti buku tafsiran dsb), adalah nabi yang sombong, yang mungkin sekali justru adalah nabi palsu!

c)   ‘Beroleh kekuatan’.
Kata Yunani yang diterjemahkan ‘kekuatan’ mempunyai arti yang luas yang mencakup:
·         exhortation (= desakan).
·         encouragement (= pengobaran semangat).
·         consolation (= penghiburan).
·         admonition (= nasehat).

4)   Ay 32:
Ini salah terjemahan. Bandingkan dengan terjemahan-terjemahan di bawah ini:
NIV: the spirits of prophets are subject to the control of prophets (= roh nabi-nabi tunduk pada kontrol nabi-nabi).
NASB: the spirits of prophets are subject to prophets (= roh nabi-nabi tunduk pada nabi-nabi).

Artinya adalah: seorang nabi harus bisa menguasai diri dalam bernubuat dan ini harus diwujudkan dengan tidak menyela / memotong nabi lain yang sedang bernubuat.
Jadi, baik bagi orang yang bernubuat maupun bagi orang yang berbaha­sa Roh (ay 27-28), penguasaan diri harus tetap ada! Orang yang bernubuat ataupun yang berbahasa Roh tidak boleh out of control (= tak terkontrol), menjadi histeris, berteriak-teriak tanpa terkendali dsb.
Tetapi pada jaman ini justru ada banyak orang yang kalau berba­hasa Roh lalu betul-betul menjadi tidak terkendali. Matanya terbeliak, mulutnya ber-buih, teriakan-teriakannya tidak karuan, tangisannya histeris, badannya ber-getar tanpa terkendali dsb. Lebih-lebih dengan adanya Toronto Blessing, maka sikap tak terkontrol itu makin menjadi-jadi. Dan anehnya, ini sering diang­gap sebagai tanda kepenuhan Roh Kudus dan dikuasai oleh Roh Kudus. Tetapi Roh Kudus tidak mungkin bekerja dengan cara yang berten-tangan dengan firmanNya sendiri! Bdk. juga dengan Ef 5:18 yang mengkon-traskan orang yang penuh Roh Kudus (ada penguasaan diri yang baik) dengan orang yang mabuk oleh anggur (tak ada penguasaan diri)!
Karena itu kalau ada orang yang bernubuat / berbahasa Roh dalam keadaan tak terkontrol seperti itu, maka hanya ada 2 kemungkinan:
  • Ia sedang kepenuhan roh jahat, bukan Roh Kudus.
Setan memang sering membuat orang menjadi kehilangan kontrol seperti itu (Mark 9:18,20,22,26).
  • Ia memang kepenuhan Roh Kudus, dan semua itu adalah pekerjaan Roh Kudus, tetapi pastilah ada sesuatu yang tidak beres dalam hidup orang itu, sehingga Roh Kudus melakukan hal itu dengan tujuan untuk meng-hajar orang itu.
Contoh: Saul bernubuat dengan telanjang semalam-malaman (1Sam 19:23-24).

5)   Ay 33: ini merupakan dasar dari semua peraturan di atas! Tuhan memberi peraturan tentang penggunaan bahasa Roh dan nubuat itu, demi keter-aturan. Ia tidak menghendaki kebaktian dikacaukan oleh bahasa Roh, apa-lagi oleh hal-hal seperti Toronto Blessing, yang banyak terdapat pada jaman ini.

Catatan: kalau saudara ingin tahu lebih banyak tentang pandangan saya tentang Toronto Blessing, bacalah buku saya yang berjudul ‘Toronto Blessing, Alkitabiahkah?’.

Ay 34-35:


1)   Kata-kata ‘sama seperti dalam semua jemaat orang-orang kudus’ (ay 34a), dalam Kitab Suci bahasa Inggris ditempatkan pada ay 33b. Di samping itu:
  • Oleh NASB/KJV/NKJV bagian ini dihubungkan dengan ay 33.
NASB: ‘for God is not a God of confusion but of peace, as in all the churches of the saints’ (= karena Allah bukanlah Allah dari kekacauan tetapi dari damai, seperti dalam semua gereja orang-orang kudus).
  • Oleh NIV/RSV bagian ini dihubungkan dengan ay 34 (ini sama seperti Kitab Suci bahasa Indonesia).
Saya menganggap inilah yang benar. Kalau memang demikian, maka ini menunjukkan bahwa peraturan tentang perempuan dalam ibadah ini, dimana orang perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan jemaat, adalah sesuatu yang bersifat tradisi dan karena itu tidak harus dilaksana-kan pada saat ini.

2)   Dalam bagian ini dikatakan bahwa dalam kebaktian, perempuan harus diam, tidak boleh berbicara, harus tunduk (kepada pria / suami), bahkan tidak bo-leh bertanya (kalau mau bertanya, harus bertanya kepada suami di rumah). Juga dikatakan bahwa perempuan berbicara dalam kebaktian adalah se-suatu yang tidak sopan.
Kata ‘tidak sopan’ itu sebetulnya kurang tepat terjemahannya.
KJV: a shame (= sesuatu yang memalukan).
NASB: improper (= tidak benar).
NIV: disgraceful (= memalukan).
RSV/NKJV: shameful (= memalukan).
Kata Yunani yang dipakai adalah AISCHROS yang digunakan untuk menun­juk pada sesuatu yang menimbulkan kejijikan.

3)   Bagian ini digunakan untuk mengatakan bahwa perempuan tidak boleh mengajar dalam gereja, karena mengajar berarti berbicara, dan juga berarti perempuan itu menjadi superior dan mempunyai otoritas.
Tentang hal ini ada orang yang pro dan kontra karena ayat-ayat Kitab Suci kelihatannya memang juga ada yang pro dan kontra.

Ayat yang pro: 1Tim 2:11-12 yang berbunyi: “Seharusnya perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki”.

Ayat yang kontra:
  • Kel 15:20 - Miryam, kakak Musa, adalah seorang perempuan, tetapi ia bernubuat / memberitakan Firman Tuhan.
  • Hakim-hakim 4:4 - Debora juga adalah seorang perempuan, tetapi ia adalah seorang nabiah dan hakim!
  • 2Raja-raja 22:14-15 / 2Taw 34:22 - Hulda juga adalah seorang perem-puan, tetapi ia memberitakan Firman Tuhan kepada seorang raja.
  • Kis 21:9 - Filipus mempunyai 4 orang anak perempuan yang mempunyai karunia bernubuat..

4)         ‘Seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat’ (ay 34b).
Ini hanya berhubungan dengan ketundukan perempuan kepada laki-laki, dan ini memang ada dalam hukum Taurat. Misalnya: Kej 3:16.

Ay 36:


1)   Ini terpisah dari ay 34-35, jadi tidak lagi berhubungan dengan perempuan dalam ibadah.
Dasarnya: tadi dalam ay 34-35 Paulus menggunakan kata ganti orang ‘mere­ka’, tetapi sekarang dalam ay 36 Paulus menggunakan kata ganti orang ‘kamu’, yang jelas tidak lagi menunjuk kepada ‘perempuan’ tetapi kepada ‘orang Korintus’.

2)   Ini diucapkan oleh Paulus karena orang Korintus ‘aneh’ sendirian.
Arti pertanyaannya adalah:
  • Apakah kamu adalah gereja induk? (ay 36a).
  • Apakah kamu adalah satu-satunya gereja? (ay 36b).
Tentu saja jawabannya seharusnya adalah ‘tidak’. Tetapi kalau memang tidak, lalu mengapa kamu aneh sendirian / lain dari pada yang lain?
Ini menunjukkan bahwa membandingkan gereja kita dengan gereja-gereja yang lain, adalah sesuatu yang penting. Perlu juga diperhati­kan bahwa pada akhir jaman ini ada begitu banyak gereja yang menyim­pang dari Kitab Suci, sehingga kita tidak bisa asal meniru seadanya gereja pada jaman ini! Kita juga harus membandingkan:

a)   Dengan gereja-gereja dalam sepanjang sejarah.
Sekalipun pada jaman sekarang ada begitu banyak penggunaan bahasa Roh dalam kebaktian, tetapi kalau kita melihat dalam sepanjang sejarah gereja, tentu tidak demikian halnya!

b)   Dengan Kitab Suci sendiri!
Ingatlah selalu untuk tidak sembarangan meniru gereja lain. Kitab Suci adalah standard bagi kita!

Ay 37-38:


1)         Ay 37: ‘ia harus sadar’.
Ini salah terjemahan.
KJV/NKJV/RSV/NIV: acknowledge (= mengakui).
NASB: recognize (= mengakui).
Jadi ay 37 ini menunjukkan bahwa orang yang menganggap dirinya adalah nabi atau orang yang mempunyai karunia rohani, harus mengakui bahwa ajaran / kata-kata Paulus ini adalah Firman Tuhan! bdk. 1Yoh 4:6.

2)   Ay 38: ada bermacam-macam terjemahan.
NIV: if he ignores this, he himself will be ignored (= kalau ia mengabaikan hal ini, ia sendiri akan diabaikan).
RSV/NASB: if anyone does not recognize this, he is not recognized (= kalau seseorang tidak mengakui ini, ia tidak diakui).
KJV/NKJV: if anyman be ignorant, let him be ignorant (= kalau ada orang yang tidak tahu, biarlah ia tidak tahu).

Ay 39-40:


Ini menunjukkan kesimpulan dari seluruh 1Kor 14!

1)   Ay 39:
Ayat ini sering hanya dikutip sebagian oleh orang-orang Kharismatik, yaitu bagian yang berbunyi: ‘Janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa Roh’, dan lalu dijadikan dasar untuk menyerang orang-orang Protes-tan yang menyerang bahasa Roh. Tetapi ini adalah penggunaan ayat yang tidak sesuai dengan kontexnya, karena dalam seluruh ay 39 ini sebetulnya Paulus lagi-lagi mengkontraskan karunia bernubuat dengan karunia berbahasa Roh, dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa karunia bernubuat lebih penting dari karunia bahasa Roh. Perhatikanlah kontras itu di bawah ini:

a)   Ay 39a: ‘Usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernu-buat’.
Ini menunjukkan bahwa kalau untuk karunia bernubuat maka Paulus berkata bahwa itu harus ‘diusahakan untuk diperoleh’ (ini mem-pergunakan kata Yunani ZELOUTE yang telah dibahas dalam ay 1).

b)   Ay 39b: ‘Janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa Roh’.
Ini menunjukkan bahwa kalau untuk karunia bahasa Roh, Paulus hanya berkata bahwa itu jangan dilarang. Itupun tentu saja kalau penggunaan-nya benar (sesuai dengan ay 27-28).

Jadi seluruh ay 39 ini jelas menunjukkan bahwa Paulus jauh lebih memen-tingkan karunia bernubuat dibandingkan dengan karunia bahasa Roh!

2)   Ay 40 (bdk. ay 33) menunjukkan bahwa kita harus mengatur sedemikian rupa sehingga suatu kebaktian berjalan dengan tertib dan teratur.
Ini bukan hanya kewajiban pendeta saja, tetapi juga majelis, pengu­rus dan jemaat!
Penerapan:
  • penggunaan bahasa Roh dalam kebaktian dengan mengabaikan per-aturan penggunaan bahasa Roh dalam ay 27-28, jelas merupakan suatu praktek yang bertentangan dengan ay 40 ini.
  • Toronto Blessing jelas juga bertentangan dengan ay 40 ini.
  • pemilihan pengkhotbah dan chairman yang jelek bisa membuat kebak­tian jadi kacau dan karena itu hal ini harus dihindarkan.
  • adanya anak-anak kecil yang berlari-lari dan ribut dalam kebaktian jelas merupakan sesuatu yang tidak bisa dibiarkan!
  • doa yang dilakukan bersama dengan alat musik / puji-pujian, jelas merupakan suatu kekacauan. Pikirkan: dalam Kitab Suci bagian mana ada doa yang diiringi alat musik? Pada waktu Yesus berdoa Ia mencari ketenangan (Mark 1:35), lalu bagaimana mungkin orang kristen jaman sekarang sengaja membuat musik dalam doa? Disamping itu hal ini membuat pemain musik itu tidak bisa ikut berdoa!
  • ‘doa bersuara’ (doa dimana semua orang sama-sama berdoa dengan me-ngeluarkan suara) jelas juga merupakan suatu kekacauan! Kalau Paulus melarang lebih dari satu orang berbahasa Roh / bernubuat dalam waktu bersamaan, maka adalah sesuatu yang aneh kalau banyak orang boleh berdoa bersama-sama (Catatan: sekalipun thema yang didoakan sama, tetapi kata-katanya jelas berbeda satu sama lain!).
  • seruan keras ‘Amin’, ‘Haleluyah’, dsb dari orang-orang tertentu di tengah-tengah doa / khotbah, jelas juga bertentangan dengan ay 40 ini! Kalau mau mengaminkan, lakukan itu dalam hati saudara, supaya tidak meng-ganggu orang lain / mengacaukan ketertiban!




-o0o-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar