Kamis, 03 April 2014

EXPOSISI MARKUS 15:16-32

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div


Ay 16-20a: “(16) Kemudian serdadu-serdadu membawa Yesus ke dalam istana, yaitu gedung pengadilan, dan memanggil seluruh pasukan berkumpul. (17) Mereka mengenakan jubah ungu kepadaNya, menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepalaNya. (18) Kemudian mereka mulai memberi hormat kepadaNya, katanya: ‘Salam, hai raja orang Yahudi!’ (19) Mereka memukul kepalaNya dengan buluh, dan meludahiNya dan berlutut menyembahNya. (20a) Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah ungu itu dari padaNya dan mengenakan pula pakaianNya kepadaNya”.


Bagian ini menceritakan bagaimana Yesus diolok-olok / dihina / dipermalukan.

Calvin: “It is not without reason that these additional insults are related. We know that it was not some sort of ludicrous exhibition, when God exposed his only-begotten Son to every kind of reproaches. First, then, we ought to consider what we have deserved, and, next, the satisfaction offered by Christ ought to awaken us to confident hope. Our filthiness deserves that God should hold it in abhorrence, and that all the angels should spit upon us; but Christ, in order to present us pure and unspotted in presence of the Father, resolves to be spat upon, and to be dishonoured by every kind of reproaches (= Bukan tanpa alasan bahwa penghinaan-penghinaan tambahan ini diceritakan. Kita tahu bahwa itu bukanlah sejenis pertunjukan yang lucu, pada waktu Allah membukakan AnakNya yang Tunggal terhadap setiap jenis celaan. Maka pertama-tama kita harus memikirkan apa yang layak kita dapatkan, dan selanjutnya, pelunasan / penebusan yang dipersembahkan oleh Kristus harus membangkitkan kita pada keyakinan pengharapan. Kekotoran kita layak mendapatkan bahwa Allah menganggapnya menjijikkan, dan bahwa semua malaikat meludahi kita; tetapi Kristus, untuk menghadirkan kita murni dan tak bercacat di hadapan Bapa, memutuskan untuk diludahi, dan dihina dengan setiap jenis celaan) - hal 290.

Calvin: “Here, too, is brightly displayed the inconceivable mercy of God towards us, in bringing his only-begotten Son so low on our account. This was also a proof which Christ gave of his astonishing love towards us, that there was no ignominy to which he refused to submit for our salvation. But these matters call for secret meditation, rather than for the ornament of words (= Di sini, juga ditunjukkan secara jelas belas kasihan yang tak dapat dimengerti dari Allah terhadap kita, dalam membawa Anak TunggalNya begitu rendah karena kita. Ini juga merupakan bukti yang diberikan Kristus tentang kasihNya yang mengherankan terhadap kita, sehingga tidak ada hal memalukan yang ditolakNya untuk keselamatan kita. Tetapi hal-hal ini perlu direnungkan dari pada hanya menjadi hiasan kata-kata) - hal 290-291.

Ay 17: “Mereka mengenakan jubah ungu kepadaNya, menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepalaNya”.


1)  ‘mahkota duri’.

a)   Ada penafsir yang menganggap ini betul-betul ditujukan sebagai siksaan dan karena itu mereka menggambarkan duri itu panjang-panjang sehingga mencocok / melukai kepala Yesus.
Pulpit Commentary: “The pain arising from the pressure of these sharp thorns upon the head must have been excruciating” (= Rasa sakit yang muncul dari penekanan dari duri-duri yang tajam pada kepala pastilah bukan main / luar biasa) - hal  305.

Tetapi banyak juga penafsir yang beranggapan bahwa mahkota duri ini tidak dimaksudkan untuk menyiksa Yesus, tetapi hanya untuk mengejek Yesus. Ini lebih sesuai dengan kontex dari ay 16-20a ini yang memang secara umum bukan menunjukkan penyiksaan, tetapi pengejekan. Kalau memang demikian mungkin sekali durinya tidaklah panjang-panjang, sekalipun memang duri ini tetap mungkin melukai kepala Yesus, apalagi ketika kepala yang bermahkotakan duri itu dipukul dengan buluh (ay 19).

b)   Seorang penafsir mengatakan bahwa duri ada di dunia karena dosa dari Adam pertama (bdk. Kej 3:18), dan sekarang Adam kedua, yaitu Kristus, harus menderita karenanya.

2)   ‘jubah ungu’.
Mat 27:28 - ‘jubah ungu’. Ini salah terjemahan.
NIV/NASB: ‘a scarlet robe’ (= jubah merah tua).
Tetapi dalam Mark 15:17 dan Yoh 19:2 memang dikatakan ‘jubah ungu’ [NIV / NASB: ‘purple’ (= ungu)].

Ada beberapa cara untuk mengharmoniskan bagian-bagian ini:
a)   Warna jubah itu ada di antara merah tua dan ungu.
b)   J. A. Alexander mengatakan bahwa istilah bahasa Yunani untuk warna sangat tidak pasti, sehingga yang mereka sebut dengan ‘ungu’ adalah warna-warna yang terletak di antara merah cerah sampai pada biru gelap.
c)   Kain / jubah ungu pada saat itu adalah kain yang sangat mahal, dan hanya dipakai oleh orang-orang kaya, raja atau orang yang mendapat penghormatan dari raja (bdk. Ester 8:15  Daniel 5:7,29  Luk 16:19  Wah 17:4). Karena itu jelas tidak mungkin bahwa tentara Romawi itu betul-betul memakaikan jubah ungu kepada tubuh Yesus yang penuh dengan darah itu.
Calvin: “Mark uses the word purple instead of scarlet; but though these are different colours, we need not trouble ourselves much about that matter. That Christ was clothed with a costly garment is not probable; and hence we infer that it was not purple, but something that bore a resemblance to it, as a painter counterfeits truth by his likeness” (= Markus menggunakan kata ‘ungu’ dan bukannya ‘merah tua’; tetapi sekalipun ini merupakan warna-warna yang berbeda, kita tidak perlu terlalu bingung tentang persoalan ini. Bahwa Kristus dipakaiani dengan jubah yang mahal tidaklah mungkin; dan karena itu kami menyimpulkan / berpendapat bahwa itu bukanlah warna ungu, tetapi sesuatu yang mempunyai kemiripan dengan itu, seperti seorang pelukis / tukang cat memalsukan kebenaran dengan hal yang mirip) - hal 291.
Sama seperti mahkota yang dipakaikan bukanlah mahkota sungguh-sungguh tetapi mahkota duri (Mat 27:29), dan tongkat kerajaan yang diberikan bukanlah tongkat kerajaan yang sungguh-sungguh tetapi hanyalah sebatang buluh (ay 17  Mat 27:29), maka jelaslah bahwa jubah yang dipakaikan bukanlah betul-betul jubah ungu.
Jadi, mungkin sekali Matius menuliskan ‘merah tua’ sesuai dengan warna asli dari jubah tersebut, tetapi Markus dan Yohanes menuliskan ‘ungu’ karena mereka meninjaunya dari sudut pemikiran para tentara Romawi itu.

Ay 21: “Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus”.


Simon dari Kirene dikatakan sebagai ayah dari Alexander dan Rufus. Barclay mengatakan bahwa Simon ini mungkin sama dengan Simeon dalam Kis 13:1, sedangkan Rufus ini sama dengan Rufus dalam Ro 16:13.

Pulpit Commentary: “Tradition says (Cornelius à Lapide) that the cross was fifteen feet long, the transverse limb was eight feet; and that he so carried it that the upper portion rested on his shoulder, while the foot of the cross trailed on the ground” [= Tradisi mengatakan (Cornelius à Lapide) bahwa salib itu (kayu yang vertikal) panjangnya 15 kaki, dan kayu yang melintang / horizontal panjangnya 8 kaki; dan bahwa ia mengangkatnya sedemikian rupa sehingga bagian atas terletak pada pundaknya, sementara kaki salib menyeret di tanah] - hal  306.

Ay 23: “Lalu mereka memberi anggur bercampur mur kepadaNya, tetapi Ia menolaknya”.


Ada bermacam-macam pandangan tentang pemberian minum anggur bercampur empedu (Mat 27:34) dan mur (Mark 15:23) ini.

1)   Dr. Knox Chamblin: ini bukan obat bius, tetapi hanya olok-olok / ejekan, karena dengan adanya empedu dan mur, anggur itu menjadi tidak bisa diminum. Kalau kita melihat kontex Maz 69:22, maka pemberi­an empedu itu bukanlah suatu tindakan yang baik, tetapi untuk membuat menderita.
Maz 69:22 - “Bahkan, mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam”.
Kata ‘racun’ jelas salah terjemahan; RSV yang menterjemahkan ‘poison’ (= racun), juga sama salahnya.
KJV/NIV/NASB: ‘gall’ (= empedu).
Memang dilihat dari kalimatnya, Maz 69:22 ini memang bukan merupakan tindakan yang baik, tetapi tindakan untuk membuat menderita. Tetapi perlu diingat bahwa Daud menuliskan bagian ini yang merupakan pengalamannya sendiri, dan pada saat yang sama juga merupakan nubuat tentang apa yang dialami oleh Kristus. Dan pada saat nubuat ini digenapi dalam diri Kristus, maka motivasi tindakan itu bisa saja berbeda.

2)   Calvin: “There is greater probability in the conjecture (dugaan) of those who think that this kind of beverage had a tendency to promote the evacuation of blood, and that on this account it was usually given to malefactors, for the purpose of accelerating their death. ... Now Christ, as I have just now hinted, was not led to refuse the wine or vinegar so much by a dislike of its bitterness, as by a desire to show that he advanced (maju ke depan) calmly to death, according to the command of the Father, and that he did not rush on heedlessly (dengan tidak peduli / dengan ceroboh) through want of patience for enduring pain” (= Ada kemungkinan yang lebih besar dalam dugaan dari mereka yang beranggapan bahwa jenis minuman ini mempunyai kecenderungan untuk mempercepat keluarnya darah, dan bahwa karena itu itu biasanya diberikan kepada para pelaku kejahatan dengan tujuan mempercepat kematian mereka. ... Sekarang Kristus, seperti yang baru saya tunjukkan, menolak anggur atau cuka itu bukan karena ketidaksenangan pada pahitnya anggur / cuka itu, tetapi karena suatu keinginan untuk menunjukkan bahwa Ia maju ke depan dengan tenang menuju pada kematian, sesuai dengan perintah Bapa, dan bahwa Ia tidak maju tergesa-gesa dengan ceroboh karena tidak mempunyai kesabaran untuk menanggung / menahan rasa sakit) - hal 297-298.
Catatan: Calvin menyebut ‘vinegar’ (= cuka), tetapi seharusnya adalah ‘anggur bercampur empedu / mur’ (Mat 27:34  Mark 15:23). Nanti pada pemberian minum yang kedua yang diceritakan oleh Yoh 19:29 (dan dinubuatkan oleh Maz 69:22b) barulah Ia Ia diberi minum ‘anggur asam’ [NIV: ‘wine vinegar’ (= anggur cuka); KJV/RSV: ‘vinegar’ (= cuka)].

3)   Mayoritas penafsir: minuman ini berfungsi sebagai obat bius, untuk mengurangi rasa sakit.
Bdk. Amsal 31:6-7 - Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan binasa, dan anggur itu kepada yang susah hati. Biarlah ia minum dan melupakan kemiskinannya, dan tidak lagi mengingat kesusahannya”.
Tradisi mengata­kan bahwa minuman ini dipersiapkan oleh perempuan-perempuan Yerusalem sebagai tindakan belas kasihan terhadap orang yang akan disalibkan.

Alan Cole (Tyndale): “The sour local wine was ‘laced’ with myrrh; this would give it a bitter taste, but a soporific effect. ... He would not take any anaesthetic; all His faculties must be unclouded for what lay before Him. Such wine, tradition tells us, was provided by pious women of Jerusalem for condemned criminals” (= Anggur lokal yang asam ditambahi dengan mur; ini akan memberinya rasa pahit, tetapi mempunyai effek / akibat menidurkan / membius. ... Ia tidak mau menerima pembius apapun; semua panca-inderaNya harus jernih untuk apa yang terletak di hadapanNya. Tradisi mengatakan bahwa anggur seperti itu disediakan oleh perempuan-perempuan saleh dari Yerusalem untuk kriminil-kriminil yang dihukum) - hal 239.

William Barclay: “They offered Jesus drugged wine and he would not drink it. A company of pious and merciful women in Jerusalem came to every crucifixion and gave the criminals a drink of drugged wine to ease the terrible pain. They offered this to Jesus - and he refused it. ... Jesus was resolved to taste death at its bitterest and to go to God with open eyes” (= Mereka menawarkan kepada Yesus anggur yang diberi obat bius dan Ia tidak mau meminumnya. Sekelompok perempuan saleh dan penuh belas kasihan di Yerusalem datang pada setiap penyaliban dan memberi orang-orang kriminil itu minuman dari anggur yang diberi obat bius untuk mengurangi rasa sakit yang luar biasa. Mereka menawarkan ini kepada Yesus - dan Ia menolaknya. ... Yesus berketetapan untuk merasakan kematian yang paling pahit dan pergi kepada Allah dengan mata terbuka) - hal 361-362.

Pulpit Commentary: “This was a kind of stupefying liquor, a strong narcotic, made of the sour wine of the country, mingled with bitter herbs, and mercifully administered to dull the sense of pain. This was offered before the actual crucifixion took place. ... But he received it not. He would not seek alleviation of the agonies of the crucifixion by any drugged potion which might render him insensible. He would bear the full burden consciously” (= Ini merupakan sejenis minuman pembius, obat bius yang kuat, dibuat dari anggur asam dari negeri itu, dicampur dengan jamu / ramuan bumbu yang pahit, dan diberikan sebagai tindakan belas kasihan untuk menumpulkan perasaan sakit. Ini ditawarkan sebelum penyaliban terjadi. ... Tetapi Ia menolaknya. Ia tidak mau mencari pengurangan dari penderitaan penyaliban dengan menggunakan minuman bius apapun yang bisa membuatnya tidak tidak dapat merasa sakit. Ia mau menanggung beban sepenuhnya secara sadar) - hal  306.

Penolakan Yesus terhadap minuman bius itu menunjukkan bahwa Ia tidak mau rasa sakitNya dikurangi, karena Ia mau memikul seluruh (100 %) hukuman dosa kita. Dengan demikian, kalau kita percaya kepadaNya maka kita juga bebas sepenuhnya dari hukuman dosa kita. Karena itulah maka Ro 8:1 mengatakan: Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus”.

Ay 24: “Kemudian mereka menyalibkan Dia, lalu mereka membagi pakaianNya dengan membuang undi atasnya untuk menentukan bagian masing-masing”.


1)   Penyaliban.
Pulpit Commentary: “The evangelist states the fact without staying to dwell on the painful circumstances connected with the act of nailing him to the cross; and pass on to the mention of other things” (= Sang penginjil menyatakan fakta tanpa berlama-lama untuk menceritakan keadaan-keadaan yang menyakitkan yang berhubungan dengan tindakan memakukan Dia pada kayu salib; dan meneruskan untuk menyebutkan hal-hal yang lain) - hal  307.

2)   Pengundian pakaian Yesus. Ini penggenapan dari Maz 22:19.
Calvin: “the Evangelists exhibits to us the Son of God stripped of his garments, in order to inform us, that by this nakedness we have obtained those riches which makes us honourable in the presence of God. God determined that his own Son should be stripped of his raiment, that we, clothed with his righteousness and with abundance of all good things, may appear with boldness in company with the angels, whereas formerly our loathsome and disgraceful aspect, in tattered garments, kept us back from approaching to heaven” (= sang penginjil menunjukkan kepada kita Anak Allah dilepaskan pakaianNya untuk memberi tahu kita bahwa oleh ketelanjangan ini kita telah mendapatkan kekayaan yang membuat kita terhormat di hadapan Allah. Allah menetapkan bahwa AnakNya sendiri harus ditelanjangi, supaya kita, dipakaiani dengan kebenaranNya dan dengan hal-hal baik yang berlimpah-limpah, bisa tampil dengan keberanian dalam kumpulan malaikat, padahal sebelumnya, aspek menjijikkan dan memalukan kita, dalam pakaian yang compang camping, menahan kita untuk mendekati surga) - hal 298.

Ay 25: “Hari jam sembilan ketika Ia disalibkan”.


Pulpit Commentary: “Nails were driven through the hands and feet, and the body was supported partly by these and partly by a projecting pin of wood called the seat. The rest for the feet, often seen in picture, was never used” (= Paku-paku menembus tangan dan kaki, dan tubuh disangga / ditopang sebagian oleh paku-paku ini dan sebagian lagi oleh sepotong kayu yang menonjol yang disebut ‘tempat duduk’. Tempat pijakan kaki, yang sering terlihat dalam gambar, tidak pernah digunakan).

William Barclay: “When they reached the place of crucifixion, the cross was laid flat on the ground. The prisoner was stretched upon it and his hands nailed to it. The feet were not nailed, but only loosely bound. Between the prisoner’s legs projected a ledge of wood called the saddle, to take his weight when the cross was raised upright - otherwise the nails would have torn through the flesh of the hands. The cross was then lifted upright and set in its socket - and the criminal was left to die ... Some­times prisoners hung for as long as a week, slowly dying of hunger and thirst, suffering sometimes to the point of actual madness” [= ketika mereka sampai di tempat penyaliban, salib itu ditidurkan di atas tanah. Orang hukuman itu direntangkan di atasnya, dan tangannya dipakukan pada salib itu. Kakinya tidak dipakukan, tetapi hanya diikat secara longgar. Di antara kaki-kaki dari orang hukuman itu (diselangkangannya), menonjol sepotong kayu yang disebut sadel, untuk menahan berat orang itu pada waktu salib itu ditegakkan - kalau tidak maka paku-paku itu akan merobek daging di tangannya. Lalu salib itu ditegakkan dan dimasukkan di tempatnya - dan kriminil itu dibiarkan untuk mati ... Kadang-kadang, orang-orang hukuman tergantung sampai satu minggu, mati perlahan-lahan karena lapar dan haus, menderita sampai pada titik dimana mereka menjadi gila] - hal 360.
Catatan: Barclay menganggap bahwa yang dipaku hanyalah tangan saja. Kaki hanya diikat secara longgar, tetapi tidak di paku. Ini ia dasarkan pada:
·         tradisi.
·         Yoh 20:25,27 yang tidak menyebut-nyebut tentang bekas paku pada kaki.

Tetapi saya berpendapat bahwa Yesus dipaku bukan hanya tanganNya, tetapi juga kakiNya. Alasan saya:
¨      penulis-penulis lain ada yang mengatakan bahwa tra­disinya tak selalu seperti yang dikatakan oleh Barclay. Misalnya penulis dari Pulpit Commentary yang saya kutip di atas. Dan juga Barnes’ Notes, dalam tafsirannya tentang Mat 27:32, berkata sebagai berikut:
“The feet were fastened to this upright piece, either by nailing them with large spikes driven through the tender part, or by being lashed by cords. To the cross-piece at the top, the hands, being extended, were also fastened, either by spikes or by cords, or perhaps in some cases by both. The hands and feet of our Saviour were both fastened by spikes (= Kaki dilekatkan pada tiang tegak, atau dengan memakukannya dengan paku-paku besar yang dimasukkan melalui bagian-bagian yang lunak, atau dengan mengikatnya dengan tali. Pada bagian salib yang ada di atas, tangan, yang direntangkan, juga dilekatkan, atau dengan paku-paku atau dengan tali, atau mungkin dalam beberapa kasus oleh keduanya. Tangan dan kaki dari Tuhan kita keduanya dilekatkan dengan paku-paku).
Juga ada penafsir yang berkata bahwa tentang pemakuan kaki ini caranya tidak selalu sama. Kadang-kadang kedua kakinya dipaku menjadi satu, dan kadang-kadang kedua kakinya dipaku secara terpisah.
¨      Maz 22, yang adalah mazmur / nubuat tentang salib (baca seluruh mazmur itu dan perhatikan ay 2,8-9,16,17b,19), berkata pada ay 17b: ‘mereka menusuk tangan dan kakiku’.
¨      Dalam Luk 24:39-40, Tuhan Yesus menunjukkan tangan dan kakiNya! Pasti karena ada bekas pakunya!

Selanjutnya Barclay mengutip Klausner sebagai berikut: “The criminal was fastened to his cross, already a bleeding mass from the scourging. There he hung to die of hunger and thirst and exposure, unable even to defend himself from the torture of the gnats and flies which settled on his naked body and on his bleeding wounds” (= Kriminil itu dilekatkan / dipakukan pada salib; pada saat itu ia sudah penuh dengan darah karena pencambukan. Disana ia tergantung untuk mati karena lapar, haus dan kepanasan, bahkan tidak bisa membela dirinya sendiri dari siksaan dari nyamuk dan lalat yang hinggap pada tubuhnya yang telanjang dan pada luka-lukanya yang berdarah).

Barclay lalu mengatakan: “It is not a pretty picture but that is what Jesus Christ suffered - willingly - for us” (= Itu bukanlah suatu gambaran yang bagus, tetapi itulah yang diderita oleh Yesus Kristus - dengan sukarela - bagi kita).

Ay 26: “Dan alasan mengapa Ia dihukum disebut pada tulisan yang terpasang di situ: ‘Raja orang Yahudi’”.


Dalam Yoh 19:21-22 dikatakan bahwa orang-orang Yahudi memprotes tulisan tersebut dan menuntut supaya Pilatus mengubahnya, tetapi Pilatus berkeras untuk mempertahankan tulisan itu.

Pulpit Commentary: “Pilate was divinely restrained from making any alteration in the title, so that it should mean anything less than this” (= Pilatus dikekang secara ilahi dari tindakan mengubah gelar ini, sehingga itu berarti kurang dari ini) - hal  307.

Terhadap sikap Pontius Pilatus yang bisa menolak dengan tegas ini, William Barclay memberikan komentar sebagai berikut:
“Here is Pilate the inflexible, the man who will not yield an inch. So very short a time before, this same man had been weakly vacillat­ing as to whether to crucify Jesus or to let him go; and in the end had allowed himself to be bullied and blackmailed into giving the Jews their will. Adamant about the inscription, he had been weak about the crucifixion. It is one of the paradoxical things in life that we can be stubborn about things which do not matter and weak about things of supreme importance” (= Inilah Pilatus yang keras / tak dapat diubah, orang yang tak mau menyerah / mundur sedikitpun. Beberapa saat sebelum ini, orang yang sama ini terombang-ambing secara lemah mengenai apakah ia akan menyalibkan Yesus atau membe­baskanNya; dan pada akhirnya membiarkan dirinya sendiri digertak dan dipaksa dengan ancaman sehingga menuruti kemauan orang Yahudi. Ia tak mau menyerah tentang tulisan, tetapi ia lemah tentang penyaliban. Ini merupakan salah satu dari hal-hal yang paradox dalam kehidupan dimana kita bisa keras kepala tentang hal-hal yang tidak penting dan lemah tentang hal-hal yang sangat penting).

Penerapan / contoh:
·      ada orang yang tegas / keras dalam hal-hal yang bersifat jasmani / duniawi, tetapi selalu plin plan / berkompromi dalam hal-hal yang bersifat rohani. Apakah saudara juga demikian?
·         ada gereja yang keras dalam mempertahankan tradisi (misalnya: penggunaan Doa Bapa Kami dan 12 Pengakuan Iman Rasuli dalam kebak­tian, pemakaian toga, dsb), tetapi lemah dalam menjaga mimbar terha­dap nabi-nabi palsu / ajaran yang salah / sesat.

Ay 27: “Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kananNya dan seorang di sebelah kiriNya”.


Yesus disalibkan di antara 2 penjahat.
Calvin: “It was the finishing stroke of the lowest disgrace when Christ was executed between two robbers; for they assigned him the most prominent place, as if he had been the prince of robbers. If he had been crucified apart from the other malefactors, there might have appeared to be a distinction between his case and theirs; but now he is not only confounded with them, but raised aloft, as if he had been by far the most detestable of all. ... In order that he might free us from condemnation, this kind of expiation was necessary, that he might place himself in our room. Here we perceive how dreadful is the weight of the wrath of God against sins, for appeasing which it became necessary that Christ, who is eternal justice, should be ranked with robbers. We see, also, the inestimable love of Christ towards us, who, in order that he might admit us to the society of the holy angels, permitted himself to be classed as one of the wicked” (= Ini merupakan pukulan yang mengakhiri dari kehinaan terendah pada waktu Kristus dihukum mati di antara dua perampok; karena mereka memberiNya tempat terutama, seakan-akan Ia adalah pangeran / pemimpin dari perampok. Seandainya Ia disalibkan terpisah dari penjahat-penjahat yang lain, maka akan terlihat suatu perbedaan antara kasusNya dengan kasus mereka; tetapi sekarang Ia bukan hanya dicampurkan dengan mereka, tetapi ditinggikan di atas, seakan-akan Ia adalah betul-betul yang paling menjijikkan dari semua. ... Supaya Ia bisa membebaskan kita dari penghukuman, penebusan seperti ini dibutuhkan, sehingga Ia bisa menempatkan diriNya di tempat kita. Di sini kita mengerti betapa menakutkan beban dari murka Allah terhadap dosa-dosa, karena untuk memuaskan tuntutanNya adalah perlu bahwa Kristus, yang adalah keadilan yang kekal, digolongkan dengan perampok-perampok. Kita juga melihat, kasih yang tak ternilai terhadap kita dari Kristus, yang, supaya bisa menerima kita dalam kumpulan malaikat-malaikat kudus, mengijinkan diriNya sendiri untuk digolongkan sebagai salah satu dari orang-orang jahat) - hal 302.

Ay 28: [Demikian genaplah nas Alkitab yang berbunyi: ‘Ia akan terhitung di antara orang-orang durhaka.’]”.


Ini menunjukkan bahwa kejadian ini menggenapi Yes 53:12. Tetapi banyak manuscripts yang tidak mempunyai ayat ini, dan karena itu ayat ini diletakkan dalam tanda kurung tegak oleh Kitab Suci Indonesia.

Ay 29-32a: “(29) Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia, dan sambil menggelengkan kepala mereka berkata: ‘Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, (30) turunlah dari salib itu dan selamatkan diriMu!’ (31) Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat mengolok-olokkan Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata: ‘Orang lain Ia selamatkan, tetapi diriNya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! (32a) Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu, supaya kita lihat dan percaya.’”.


1)   Bdk. Maz 22:8-9 - “(8) Semua orang yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya; (9) ‘Ia menyerah kepada Tuhan; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?’”.

2)   Tentang ay 31: ‘orang lain Ia selamatkan ...’.
Calvin: “It was an ingratitude which admits of no excuse, that, taking offence at the present humiliation of Christ, they utterly disregarded all the miracles which he had formerly performed before their eyes. They acknowledge that ‘he saved others’. By what power, or by what means? Why do they not in this instance, at least, behold with reverence an evident work of God? But since they maliciously exclude, and - as far as lies in their power - endeavour to extinguish the light of God which shone in the miracles, they are unworthy of forming an accurate judgment of the weakness of the cross” (= Ini merupakan suatu tindakan tidak tahu terima kasih yang tidak bisa dimaafkan, dimana karena perendahan Kristus pada saat ini mereka mengabaikan sama sekali semua mujijat yang telah Ia lakukan di depan mata mereka. Mereka mengakui bahwa ‘orang lain Ia selamatkan’. Dengan kuasa apa, atau dengan cara apa? Mengapa dalam keadaan ini mereka setidaknya tidak memandang dengan rasa hormat pekerjaan yang nyata dari Allah? Tetapi karena mereka secara jahat membuang, dan berusaha semampu mereka untuk memadamkan terang dari Allah yang bersinar dalam mujijat-mujijat itu, mereka tidak layak untuk membentuk suatu penilaian yang akurat tentang kelemahan dari salib) - hal 306.

3)   Tentang ay 32: Baiklah Ia turun dari salib, dan kami akan percaya kepadaNya’.

William Barclay: “The Jewish leaders flung one last challenge at Jesus. ‘Come down from the Cross,’ they said, ‘and we will believe in you.’ It was precisely the wrong challenge. As General Booth said long ago, ‘It was because Jesus did not come down from the Cross that we believe in him.’ (= Pemimpin-pemimpin Yahudi melemparkan tantangan terakhir kepada Yesus. ‘Turunlah dari salib itu,’ kata mereka, ‘dan kami akan percaya kepadaMu’. Ini justru merupakan tantangan yang salah. Seperti dulu dikatakan oleh Jendral Booth: ‘Justru karena Yesus tidak turun dari salib itu maka kita percaya kepadaNya’) - hal 362.

Pulpit Commentary: “He might, indeed, have answered the jibe by coming down from the cross; but then, as Bishop Pearson says, in saving himself he would not have saved us” (= Ia bisa saja menjawab ejekan itu dengan turun dari salib; tetapi, seperti yang dikatakan oleh Bishop Pearson, dalam menyelamatkan diriNya sendiri, Ia tidak akan menyelamatkan kita).

Calvin: “But let us believe that Christ, though he might easily have done it, did not immediately deliver himself from death, but it was because he did not wish to deliver himself. And why did he for the time disregard his own safety, but because he cared more about the salvation of us all? We see then that the Jews, through their malice, employed, in defence of their unbelief, those things by which our faith is truly edified” (= Hendaklah kita percaya bahwa Kristus, sekalipun bisa dengan mudah melakukannya, tidak dengan segera membebaskan diriNya sendiri dari kematian, tetapi itu disebabkan karena Ia tidak mau membebaskan diriNya sendiri. Dan mengapa pada saat itu Ia mengabaikan keamanan / keselamatanNya sendiri; kecuali karena Ia lebih peduli pada keselamatan kita semua? Jadi kita lihat bahwa orang-orang Yahudi, melalui kejahatan mereka, menggunakan sebagai pembelaan terhadap ketidak-percayaan mereka, hal-hal yang olehnya iman kita betul-betul dibangun) - hal 306.
Pulpit Commentary: “Christ might have come down from the cross; but he would not, because it was his Father’s will that he should die upon the cross to redeem us from death. ... He knew that the death upon the cross was necessary for the salvation of men; and therefore he would go through the whole” (= Kristus bisa turun dari salib, tetapi Ia tidak mau karena merupakan kehendak BapaNya bahwa Ia mati di kayu salib untuk menebus kita dari kematian. ... Ia tahu bahwa kematian di kayu salib mutlak diperlukan untuk keselamatan manusia; dan karena itu Ia mau melewati seluruhnya) - hal  308.

Pulpit Commentary: “The sign he had given them was not his coming down from the cross, but his coming up from the grave” (= tanda yang Ia telah berikan kepada mereka bukanlah turun dari salib, tetapi naik / bangkit dari kubur).

Penerapan dari bagian ini ke dalam kehidupan sehari-hari.
a)   Pulpit Commentary: “he despised the taunts of the wicked, that he might teach us by his example to do the same” (= Ia meremehkan celaan / ejekan dari orang jahat, supaya Ia bisa mengajar kita oleh teladanNya untuk melakukan hal yang sama) - hal  308.
b)   Calvin: Because Christ does not immediately deliver himself from death, they upbraid him with inability. And it is too customary with all wicked men to estimate the power of God by present appearances, so that whatever he does not accomplish they think that he cannot accomplish, and so they accuse him of weakness, whenever he does not comply with their wicked desire. ... This, as I said a little ago,  is a very sharp arrow of temptation which Satan holds in his hand, when he pretends that God has forgotten us, because He does not relieve us speedily and at the very moment. ... Satan, therefore, attempts to drive us to despair by this logic, that it is vain for us to feel assured of the love of God, when we do not clearly perceive his aid. And as he suggests to our minds this kind of imposition, so he employs his agents, who contend that God has sold and abandoned our salvation, because he delays to give his assistance. We ought, therefore, to reject as false this argument, that God does not love those whom he appears for a time to forsake; and, indeed, nothing is more unreasonable than to limit his love to any point of time. God has, indeed, promised that he will be our deliverer; but if he sometimes wink at our calamities, we ought patiently to endure the delay. It is, therefore, contrary to the nature of faith, that the word ‘now’ should be insisted on by those whom God is training by the cross and by adversity to obedience, and whom he entreats (meminta) to pray and to call on his name; for these are rather the testimonies of his fatherly love, as the apostle tells us, (Heb. 12:6.) But there was this peculiarity in Christ, that, though he was the well-beloved Son, (Matth. 3:17; 17:5,) yet he was not delivered from death, until he had endured the punishment which we deserved; because that was the price by which our salvation was purchased” [= Karena Kristus tidak segera membebaskan diriNya sendiri dari kematian, mereka mencelaNya dengan ketidak-mampuan. Dan adalah biasa bahwa orang-orang jahat menilai kuasa Allah oleh hal-hal yang terlihat sekarang ini, sehingga apapun yang Ia tidak lakukan mereka kita Ia tidak bisa melakukannya, dan mereka menuduhNya dengan kelemahan, kapanpun Ia tidak memenuhi keinginan mereka yang jahat. ... Ini seperti yang tadi baru saya katakan, merupakan suatu panah pencobaan yang tajam yang dipegang oleh setan di tangannya, pada waktu ia membujuk kita supaya kita percaya bahwa Allah telah melupakan kita, karena Ia tidak membebaskan kita dengan cepat dan pada saat itu juga. ... Karena itu setan mencoba untuk menggiring kita pada keputus-asaan dengan menggunakan logika ini, bahwa adalah sia-sia bagi kita untuk yakin akan kasih Allah, pada waktu kita tidak secara jelas merasakan pertolonganNya. Dan pada saat ia mengusulkan pada pikiran kita tipuan ini, ia juga menggunakan agen-agennya, yang berargumentasi bahwa Allah telah menjual dan meninggalkan keselamatan kita, karena Ia menunda untuk memberikan pertolonganNya. Karena itu kita harus menolak argumentasi yang salah ini, bahwa Allah tidak mengasihi mereka yang kelihatannya Ia tinggalkan untuk sementara waktu; dan memang tidak ada yang lebih tidak masuk akal dari pada membatasi kasihNya pada waktu tertentu. Allah memang berjanji bahwa Ia akan menjadi Pembebas kita; tetapi jika Ia kadang-kadang seolah-olah tidak melihat pada bencana-bencana yang menimpa kita, kita harus dengan sabar menahan penundaan tersebut. Karena itu merupakan sesuatu yang bertentangan dengan sifat dari iman, bahwa kata ‘sekarang’ dipaksakan oleh mereka yang Allah latih oleh salib dan kesengsaraan supaya bisa taat dan yang Ia minta untuk berdoa dan berseru kepada namaNya; karena ini lebih merupakan kesaksian dari kasih bapa, seperti yang dikatakan oleh sang rasuk (Ibr 12:6). Tetapi ada keanehan ini dalam Kristus, dimana sekalipun Ia adalah Anak yang dikasihi (Mat 3:17; 17:5), tetapi Ia tidak dibebaskan dari kematian, sampai Ia telah mengalami hukuman yang sebetulnya layak kita dapatkan; karena itulah harga dengan mana keselamatan kita dibeli] - hal 306,307.

Ay 32b: “Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga”.


1)   Pengharmonisan hal-hal yang kelihatannya bertentangan.
Kedua penjahat mencela Dia. Dalam Mat 27:44 / Mark 15:32 dikatakan bahwa kedua penjahat itu mencela Yesus, tetapi dalam Luk 23:39-42 dikatakan bahwa hanya satu penjahat yang menghujat Yesus, sedangkan yang satunya justru menegur temannya itu, dan lalu menyatakan imannya kepada Yesus.
Bagaimana cara mengharmoniskannya? Ada beberapa cara:
a)   Calvin menganggap bahwa Matius dan Markus menggunakan gaya bahasa synecdoche, dimana sekalipun mereka menuliskan seluruhnya (kedua penjahat), tetapi yang mereka maksudkan adalah sebagian (salah satu penjahat).
Gaya bahasa seperti ini sering dipakai bahkan dalam pembicaraan sehari-hari, misalnya: kalau kesebelasan sepak bola Indonesia kalah, maka orang berkata ‘Indonesia kalah’.
b)   Dalam Kitab Suci kadang-kadang plural / jamak bisa diartikan singular / tunggal.
Contoh: kata ‘mereka’ dalam Mat 2:20 jelas menunjuk pada satu orang, yaitu Herodes (Mat 2:19).
c)   Matius dan Markus hanya menceritakan bagian awalnya, sedangkan Lukas hanya menceritakan bagian akhirnya.
Jadi, mula-mula kedua penjahat itu mencela Yesus (Mat 27:44 / Mark 15:32), tetapi akhirnya salah satu bertobat, dan yang satunya bahkan menjadi bertambah jahat sehingga lalu menghujat Yesus, dan ini menyebabkan penjahat yang bertobat itu menegur dia (Luk 23:39-41).
Saya condong pada penafsiran yang ke 3 ini.

2)   Tentang pertobatan penjahat (Luk 23:40-42).
Tentang penjahat yang bertobat itu Calvin memberi komentar sebagai berikut: “Now if a robber, by his faith, elevated Christ - while hanging on the cross, and, as it were, overwhelmed with cursing - to a heavenly throne, woe to our sloth if we do not behold him with reverence while sitting at the right hand of God; if we do not fix our hope of life on his resurrection; if our aim is not towards heaven where he has entered” (= Jika seorang perampok, oleh imannya, meninggikan Kristus - sementara Ia sedang tergantung pada kayu salib, dan boleh dikatakan diliputi / dibanjiri dengan kutuk - pada takhta surgawi, celakalah kelambanan kita jika kita tidak memandangNya dengan hormat sementara Ia duduk di sebelah kanan Allah; jika kita tidak menancapkan pengharapan kita akan kehidupan pada kebangkitanNya; jika tujuan kita tidak menuju surga kemana Ia telah masuk) - hal 311-312.

3)  Tentang penerimaan Kristus terhadap penjahat yang bertobat.
Luk 23:43 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’”.
Calvin: “we ought to observe his inconceivable readiness in so kindly receiving the robber without delay, and promising to make him a partaker of a happy life. There is therefore no room for doubt that he is prepared to admit into his kingdom all, without exception, who shall apply to him” (= kita harus memperhatikan kesediaanNya yang tak dapat dimengerti yang dengan begitu baik menerima sang perampok tanpa penundaan, dan menjanjikan untuk membuatnya sebagai orang yang ikut ambil bagian dalam kehidupan yang bahagia. Karena itu tidak ada tempat untuk keragu-raguan bahwa ia bersedia untuk menerima ke dalam kerajaanNya semua orang, tanpa kecuali, yang memakai / menggunakan Dia) - hal 312-313.
Calvin: “Christ receives him, as it were, into his bosom, and does not send him away to the fire of purgatory” (= Kristus menerimaNya, boleh dikatakan, pada dadaNya / pelukanNya, dan tidak mengirimnya kepada api dari api pencucian) - hal 313.
Calvin: “What is promised to the robber does not alleviate his present sufferings, nor make any abatement of his bodily punishment. This reminds us that we ought not to judge of the grace of God by the perception of the flesh; for it will often happen that those to whom God is reconciled are permitted by him to be severely afflicted” (= Apa yang dijanjikan kepada sang perampok tidak mengurangi penderitaannya pada saat ini, ataupun membuat peredaan apapun terhadap hukuman badaninya. Ini mengingatkan kita bahwa kita tidak boleh menilai kasih karunia Allah dengan menggunakan penglihatan daging; karena akan sering terjadi bahwa mereka dengan siapa Allah diperdamaikan, diijinkan olehNya untuk disiksa dengan hebat) - hal 314.


-o0o-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar