Kamis, 03 April 2014

DOMBA YANG HILANG

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div


Luk 15:1-7 - “(1) Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. (2) Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: ‘Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.’ (3) Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: (4) ‘Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? (5) Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, (6) dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggan serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. (7) Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.’”.

I) Latar belakang perumpamaan.


1)   Yesus menerima dan mengajar orang-orang berdosa.
Ay 1: Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia”.

a)   Dalam terjemahan KJV ada kata ‘all’ (= semua).
KJV: ‘Then drew near unto him all the publicans and sinners for to hear him’ (= Maka mendekatlah kepadaNya semua pemungut cukai dan orang-orang berdosa untuk mendengarkan Dia).
Kata ‘all’ (= semua) merupakan suatu gaya bahasa yang melebih-lebihkan (hyperbole).

b)   Pemungut cukai sangat direndahkan dan sering digolongkan dengan pelacur.
Bdk. Mat 21:32 - “Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.’”.

c)   Mereka mendekat kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.
Matthew Henry: “They drew near to him, not, as some did, to solicit for cures, but to hear his excellent doctrine. Note, in all our approaches to Christ we must have this in our eye, to hear him; to hear the instructions he gives us, and his answers to our prayers” (= Mereka mendekatiNya, bukan seperti yang dilakukan sebagian orang, untuk mencari kesembuhan, tetapi untuk mendengar ajaranNya yang sangat baik. Perhatikan, dalam semua pendekatan kepada Kristus kita harus memperhatikan ini, untuk mendengarkanNya; mendengarkan instruksi-instruksi yang Ia berikan kepada kita, dan jawaban-jawabanNya terhadap doa-doa kita).

Perhatikan bahwa orang-orang brengsek ini mau mendekati Yesus untuk mendengar Firman Tuhan dari Dia, tetapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat mendekati untuk mencari kesalahan / mengkritik.

2)   Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menjadi marah.
Ay 2: “Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: ‘Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.’”.

a)   Para ahli Taurat dan orang Farisi sangat membenci orang-orang yang tak mengerti / memelihara hukum Taurat.
Yoh 7:49 - “Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!’”.

William Barclay: “These parables arose out of a definite situations. It was an offence to the scribes, and Pharisees that Jesus associated with man and women who, by the orthodox, were labelled as sinners. The Pharisees gave to people who did not keep the law a general classification. They called them ‘The People of the Land’; and there was a complete barrier between the Pharisees and the People of the Land. To marry a daughter to one of them was like exposing her bound and helpless to a lion. The Pharisaic regulations laid it down, ‘When a man is one of the People of the Land, entrust no money to him, take no testimony from him, trust him with no secret, do not appoint him guardian of an orphan, do not make him the custodian of charitable funds, do not accompany him on a journey.’ A Pharisee was forbidden to be the guest of any such man or to have him as his guest. He was even forbidden, so far as it was possible, to have any business dealings with him. It was the deliberate Pharisaic aim to avoid every contact with the people who did not observe the petty details of the law. ... the strict Jew said, not ‘There will be joy in heaven over one sinner who repents,’ but ‘There will be joy in heaven over one sinner who is obliterated before God.’ They looked sadistically forward not to the saving but to the destruction of the sinner” (= Perumpamaan-perumpamaan ini keluar / muncul dari situasi tertentu. Merupakan suatu batu sandungan bagi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi bahwa Yesus bergaul dengan orang-orang yang, oleh orang-orang orthodox, dinamakan sebagai ‘orang-orang berdosa’. Orang-orang Farisi memberi kepada orang-orang yang tidak memelihara hukum Taurat suatu penggolongan umum. Mereka menyebut mereka ‘Orang-orang Negeri’; dan ada tembok pemisah yang sempurna antara orang-orang Farisi dan Orang-orang Negeri. Menikahkan seorang anak perempuan dengan satu dari mereka adalah seperti memberikannya dalam keadaan terikat dan tak berdaya kepada seekor singa. Peraturan orang-orang Farisi mengatakan: ‘Kalau seseorang adalah satu dari Orang-orang Negeri, jangan mempercayakan uang kepadanya, jangan mengambil kesaksian dari dia, jangan mempercayakan rahasia kepadanya, jangan menjadikannya penjaga anak yatim, jangan membuat dia sebagai petugas dari dana untuk amal, jangan menemaninya dalam suatu perjalanan’. Seorang Farisi dilarang untuk menjadi tamu dari orang seperti itu atau mendapat tamu seperti itu. Ia bahkan dilarang, sejauh itu memungkinkan, untuk mempunyai hubungan bisnis dengannya. Merupakan suatu tujuan sengaja dari orang-orang Farisi untuk menghindari setiap kontak dengan orang-orang yang tidak memelihara / mentaati detail-detail kecil dari hukum Taurat. ... orang-orang Yahudi yang ketat berkata, bukan bahwa ‘Ada sukacita di surga atas satu orang berdosa yang bertobat’, tetapi ‘Ada sukacita di surga atas satu orang berdosa yang dilenyapkan di hadapan Allah’. Mereka memandang dengan kejam ke depan, bukan pada penyelamatan tetapi pada penghancuran dari orang berdosa) - hal 199-200.

b)   Ada kontras yang sangat besar antara sikap Yesus dan sikap ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terhadap orang-orang berdosa. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mempunyai ‘a holier-than-thou attitude’ (= sikap merasa diri lebih suci), terhadap orang-orang berdosa. Karena itu mereka mengkritik Yesus yang mau bergaul dengan orang-orang itu. Yesus sudah pernah menjawab kritikan mereka dalam persoalan ini.

Luk 5:29-32 - “(29) Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. (30) Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: ‘Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?’ (31) Lalu jawab Yesus kepada mereka, kataNya: ‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; (32) Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.’”.

Tetapi jelas bahwa jawaban / ajaran Yesus ini tidak mendapat tempat dalam diri ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sehingga di sini mereka tetap mengkritik sikap Yesus yang mau bergaul dengan orang-orang berdosa.

c)   Mereka sangat jengkel melihat Kristus mengajar orang-orang berdosa itu. Tetapi mereka tidak bisa mengecam Dia karena mengajar mereka, dan karena itu mereka mengecam Dia karena makan bersama mereka, yang bertentangan secara lebih explicit dengan tradisi dari tua-tua.

Matthew Henry: “They thought it a disparagement to Christ, and inconsistent with the dignity of his character, to make himself familiar with such sort of people, to admit them into his company and to eat with them. They could not, for shame, condemn him for preaching to them, though that was the thing they were most enraged at; and therefore they reproached him for eating with them, which was more expressly contrary to the tradition of the elders. Censure will fall, not only upon the most innocent and the most excellent persons, but upon the most innocent and most excellent actions, and we must not think it strange (= Mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang merendahkan Kristus, dan tidak konsisten dengan kewibawaan dari karakterNya, untuk membuat diriNya sendiri akrab dengan jenis orang seperti itu, untuk menerima mereka ke dalam kumpulanNya dan makan dengan mereka. Mereka tidak bisa, karena malu, mengecam Dia karena berkhotbah kepada mereka, sekalipun itu adalah hal terhadap mana mereka paling marah; dan karena itu mereka mencela Dia karena makan dengan mereka, yang secara lebih jelas bertentangan dengan tradisi dari tua-tua. Celaan / kecaman akan jatuh, bukan hanya pada orang-orang yang paling tidak bersalah dan paling baik, tetapi juga pada tindakan-tindakan yang paling tidak bersalah dan paling baik, dan kita tidak boleh mengangapnya sebagai sesuatu yang aneh).

Perhatikan juga bahwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat ini mengecam tindakan Yesus bukan berdasarkan Kitab Suci / Firman Tuhan, tetapi berdasarkan tradisi! Kecaman seperti ini tak perlu dihiraukan. Kalau mau mengkritik secara benar, harus mempunyai dasar Kitab Suci yang benar!

II) Yesus menjawab dengan perumpamaan.


1)   Ada 3 perumpamaan dalam Luk 15:1-32, dengan satu penekanan yang sama, yang terlihat dalam ay 7,10,20b-24,32.
a)   Ay 7: “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.’”.
b)   Ay 10: “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.’”.
c)   Ay 20-24: “(20) Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. (21) Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. (22) Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. (23) Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. (24) Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria”.
d)   Ay 32: “Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.’”.

2)   Saya tidak akan membahas ketiga perumpamaan tersebut; saya hanya akan membahas yang pertama saja.

Ay 3-7: “(3) Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: (4) ‘Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? (5) Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, (6) dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. (7) Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.’”.

a)   Perumpamaan tentang domba yang hilang dalam Injil Matius.
Perumpamaan tentang domba yang hilang ini bukan hanya ada dalam Lukas, tetapi juga dalam Matius, tetapi yang dalam Matius tujuannya agak berbeda.

Matthew Henry: “The parable of the lost sheep. Something like it we had in Mt. 18:12. There it was designed to show the care God takes for the preservation of saints, as a reason why we should not offend them; here it is designed to show the pleasure God takes in the conversion of sinners, as a reason why we should rejoice in it” [= Perumpamaan tentang domba yang hilang. Sesuatu yang serupa dengan ini kita dapati dalam Mat 18:12. Di sana (dalam Matius), itu dimaksudkan untuk menunjukkan perhatian Allah untuk pemeliharaan orang-orang kudus, sebagai suatu alasan mengapa kita tak boleh menjadi batu sandungan bagi mereka; di sini (dalam Lukas), ini dimaksudkan untuk menunjukkan kesenangan yang Allah dapatkan karena pertobatan dari orang-orang berdosa, sebagai suatu alasan mengapa kita harus bersukacita karenanya].

Tentang Mat 18:11-13, Calvin berkata: “the object of the discourse is to lead us to beware of losing what God wishes to be saved” (= tujuan dari pembicaraan adalah untuk membimbing kita untuk berhati-hati dari kehilangan apa yang Allah inginkan untuk diselamatkan) - hal 341.

Mat 18:6-17 - “(6) ‘Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepadaKu, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. (7) Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. (8) Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. (9) Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua. (10) Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah BapaKu yang di sorga. (11) [Karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang.](12) ‘Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? (13) Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. (14) Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang.’ (15) ‘Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. (16) Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. (17) Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai”.

Perhatikan bahwa dalam Mat 18, perumpamaan tentang domba yang hilang itu didahului oleh text yang mengancam orang-orang yang menyesatkan ‘anak-anak kecil yang percaya kepadaKu’ (ay 6-7), dan juga tentang orang yang menganggap rendah seorang ‘anak kecil’ (ay 10), lalu diakhiri dengan ay 14 yang menunjukkan bahwa Bapa tak menghendaki ‘seorangpun dari anak-anak itu’ hilang. Dan masih ditambah lagi dengan text yang menyuruh menasehati ‘saudara’ yang berbuat dosa, dengan tujuan mendapatkannya kembali (ay 15-17). Jadi, kelihatannya perumpamaan ini di sini ditujukan untuk menjaga anak-anak Tuhan supaya tidak hilang / sesat.

Penerapan:
1.   Kalau saudara adalah seorang anak Allah, Allah tak menghendaki saudara hilang. Apapun dosa yang telah saudara lakukan, Ia tak menghendaki saudara hilang. Kembalilah kepada Dia, Dia mau menerima saudara.
Yes 1:18 - “Marilah, baiklah kita berperkara! - firman TUHAN - Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba”.
2.   Kalau saudara melihat / tahu tentang seorang anak Tuhan yang tersesat, janganlah membiarkannya sesat dengan alasan apapun juga. Doakan dia, dan usahakan supaya ia kembali kepada Tuhan.

b)   Sekarang kita kembali kepada perumpamaan domba yang hilang dalam Injil Lukas.

1.   Arti dari domba.
Domba di sini tak bisa dipukul rata dan diartikan sebagai orang Kristen. Satu domba yang hilang jelas berbeda dengan 99 domba yang tidak hilang.

a.   Satu domba yang hilang menunjuk kepada orang berdosa.
Yes 53:6 - “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian”.
Luk 19:10 - “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.’”.

Adam Clarke: “The lost sheep is an emblem of a heedless, thoughtless sinner: one who follows the corrupt dictates of his own heart, without ever reflecting upon his conduct, or considering what will be the issue of his unholy course of life. No creature strays more easily than a sheep; none is more heedless; and none so incapable of finding its way back to the flock, when once gone astray: it will bleat for the flock, and still run on in an opposite direction to the place where the flock is; this I have often noticed. No creature is more defenseless than a sheep, and more exposed to be devoured by dogs and wild beasts. Even the fowls of the air seek their destruction. I have known ravens often attempt to destroy lambs by picking out their eyes, in which, when they have succeeded, as the creature does not see whither it is going, it soon falls an easy prey to its destroyer” (= Domba yang hilang adalah simbol dari orang berdosa yang tidak memperhatikan / mempedulikan dan tak memikirkan: seseorang yang mengikuti suara hatinya yang rusak, tanpa pernah memikirkan tingkah lakunya, atau mempertimbangkan apa yang akan merupakan hasil dari jalan kehidupannya yang tidak kudus. Tidak ada makhluk yang lebih mudah tersesat dari domba; tidak ada yang lebih tidak memperhatikan; dan tidak ada yang begitu tidak mampu untuk menemukan jalannya kembali kepada kawanan pada saat mereka tersesat: ia akan mengembik untuk kawanan itu tetapi tetap akan berlari ke arah yang berlawanan dari tempat dimana kawanan itu berada; ini telah sering saya perhatikan. Tidak ada makhluk yang lebih tak mempunyai pertahanan dari pada domba, dan yang lebih terbuka untuk dimangsa oleh anjing-anjing dan binatang-binatang liar. Bahkan burung-burung di udara mencari penghancuran mereka. Saya tahu bahwa burung-burung gagak sering berusaha untuk menghancurkan anak-anak domba dengan mencungkil mata mereka, dalam mana, jika mereka berhasil, karena makhluk itu tak bisa melihat kemana ia pergi, ia dengan cepat menjadi mangsa dari penghancurnya).

b.   Ada pro dan kontra tentang apa arti dari 99 domba yang tidak hilang.
Ada yang menganggap bahwa 99 domba yang tidak hilang menunjuk kepada orang-orang kristen yang sejati, tetapi ada juga yang menganggap bahwa ini menunjuk kepada orang-orang yang self-righteous / yang merasa diri sendiri benar seperti ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Saya lebih condong pada pandangan kedua, karena:
·         ingat latar belakang perumpamaan ini. Perumpamaan ini muncul karena adanya ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang merasa diri benar, yang tidak senang melihat Yesus bergaul / makan bersama dengan orang-orang yang brengsek.
·         dalam perumpamaan ketiga, yaitu tentang anak yang hilang, ‘anak sulung’ jelas menunjuk kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tersebut.

2.   Mengapa gembala itu meninggalkan 99 domba di padang gurun untuk mencari satu domba yang hilang? Apakah yang satu lebih penting dari yang 99? Bagaimana kalau 99 yang ditinggalkan itu hilang semua?

A. T. Robertson: “‘In the wilderness.’ Their usual pasturage, not a place of danger or peril” (= ‘di padang gurun’. Tempat penggembalaan mereka biasanya, bukan suatu tempat yang berbahaya).
Jadi, 99 ekor domba itu bukannya ditinggalkan sembarangan.

Ada penafsir yang mengatakan bahwa gembala tidak hanya satu, tetapi beberapa. Jadi 99 ekor domba itu bukan ditinggal tanpa penjaga sama sekali.

Calvin: “Christ therefore intended to show that a good teacher ought not to labour less to recover those that are lost, than to preserve those which are in his possession” (= Karena itu Kristus bermaksud untuk menunjukkan bahwa seorang guru yang baik tidak boleh berjerih payah kurang / lebih sedikit untuk mengejar / menemukan kembali mereka yang hilang, dari pada untuk memelihara / menjaga / melindungi mereka yang adalah miliknya) - hal 340.

3.   Bahwa gembala meninggalkan yang 99 dan mencari seekor yang hilang, tak menunjukkan bahwa yang seekor itu adalah yang terpenting / terbaik.

Spurgeon: The lost one is not better than any one of the others, but it is brought into prominence by its condition. (= Domba yang hilang tidak lebih baik dari yang manapun yang lain, tetapi menjadi menonjol karena kondisinya).

Illustrasi: kalau saudara mempunyai 5 orang anak, dan suatu hari satu anak sakit keras, maka jelas saudara akan ‘mengabaikan’ yang 4 dan berkonsentrasi pada yang satu. Anak yang sakit ini bukan yang terpenting / terbaik; ia menjadi menonjol dan paling diperhaikan karena kondisinya.

4.   Penekanan dari perumpamaan ini: gembala itu pergi mencari, dan pada waktu menemukan domba yang hilang, ia bersukacita.

a.   Allah mencari orang yang hilang.
Ay 3-4: “(3) Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: (4) ‘Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?”.

William Barclay: “No Pharisee had ever dreamed of a God like that. A great Jewish scholar has admitted that this is the one absolutely new thing which Jesus taught men about God - that he actually searched for men. The Jew might have agreed that if a man came crawling home to God in self-abasement and prayed for pity he might find it; but he would never have conceived of a God who went out to search for sinners. We believe in the seeking love of God, because we see that love incarnate in Jesus Christ, the Son of God, who came to seek and to save that which was lost” (= Tidak ada orang Farisi yang pernah memimpikan Allah seperti itu. Seorang sarjana Yahudi pernah mengakui bahwa ini merupakan satu hal yang baru secara mutlak yang Yesus ajarkan kepada manusia tentang Allah - bahwa Ia sungguh-sungguh mencari manusia. Orang Yahudi bisa setuju bahwa jika seseorang pulang dengan merangkak kepada Allah dalam kerendahan diri dan berdoa untuk belas kasihan, ia mungkin akan menemukannya; tetapi ia tidak pernah mempertimbangkan Allah yang pergi untuk mencari orang-orang berdosa. Kita percaya dalam kasih yang mencari dari Allah, karena kita melihat kasih itu berinkarnasi dalam Yesus Kristus, Anak Allah, yang datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang) - hal 203.

Bdk. Luk 19:10 - “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.’”.

Kalau saudara adalah domba yang hilang itu, yang sedang tersesat dan sama sekali tidak tahu saudara sedang kemana, Allah mencari saudara! Pada waktu saudara mendengar Injil saat ini, itu merupakan pangilan Allah kepada saudara untuk kembali kepada Dia!

2Tes 2:14 - “Untuk itulah Ia telah memanggil kamu oleh Injil yang kami beritakan, sehingga kamu boleh memperoleh kemuliaan Yesus Kristus, Tuhan kita”.

Tanggapilah panggilanNya melalui Injil yang diberitakan kepada saudara! Datanglah kepada Kristus. Dia adalah Allah dan manusia, yang sudah mati di salib untuk menebus dosa manusia. Percayalah Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara, maka saudara akan diampuni dari segala dosa saudara, dan saudara akan diperdamaikan dengan Allah.

Sekarang, kalau Allah itu mencari domba yang hilang, bagaimana kira-kira sikap kita sebagai anak-anak Allah terhadap domba yang hilang?

Wesley: “‘And go after.’ - In recovering a lost soul, God as it were labors. May we not learn hence, that to let them alone who are in sin, is both unchristian and inhuman!” (= ‘Pergi mencari’. Untuk mencari suatu jiwa yang terhilang, Allah seakan-akan bekerja keras. Tidakkah kita bisa belajar dari sini, bahwa membiarkan mereka yang ada di dalam dosa, adalah tidak kristiani dan tidak manusiawi!).

William Hendriksen mengatakan (hal 749) bahwa sedikitnya ada 4 macam sikap terhadap orang-orang yang berdosa / terhilang:
·         Membenci mereka.
·         Bersikap acuh tak acuh terhadap mereka.
·         Menerima / menyambut mereka kalau mereka kembali sendiri kepada kita.
·         Mencari mereka.
Yang mana yang menjadi sikap saudara?

b.   Allah menerima dengan sukacita orang yang kembali / ditemukan.
Ay 5-7: “(5) Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, (6) dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. (7) Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.’”.

Luk 15:20-24 - “(20) Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. (21) Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. (22) Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. (23) Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. (24) Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria”.

William Barclay: “There is a wondrous thought here. It is the truly tremendous truth that God is kinder than men. The orthodox would write off the tax-collectors and the sinners as beyond the pale and as deserving of nothing but destruction; not so God. Men may give up hope of a sinner; not so God. God loves the folk who never stray away; but in his heart there is the joy of joys when a lost one is found and comes home. It is a thousand times easier to come back to God than to come home to the bleak criticism of men” (= Ada pemikiran yang menakjubkan di sini. Itu adalah kebenaran yang luar biasa bahwa Allah lebih baik dari manusia. Orang orthodox mencoret para pemungut cukai dan orang berdosa sebagai di luar batas dan tidak layak mendapat apapun kecuali penghancuran; tidak demikian dengan Allah. Manusia bisa berhenti / menyerah dalam pengharapan tentang seorang berdosa; tidak demikian dengan Allah. Allah mengasihi orang-orang yang tidak pernah tersesat; tetapi dalam hatiNya ada sukacita yang luar biasa pada waktu seorang yang terhilang ditemukan dan pulang. Adalah 1000 x lebih mudah untuk kembali kepada Allah dari pada untuk pulang kepada kritikan manusia yang suram) - hal 201.

Kalau kita jatuh ke dalam dosa / menjauh dari Allah, dan suatu hari kita kembali / bertobat, mungkin kita beranggapan bahwa Allah menerima kita dengan wajah yang cemberut, dan Ia akan membiarkan kita berhari-hari, supaya kita kapok, dan sebagainya. Tetapi bukan itu yang diajarkan oleh Yesus. Allah bersukacita pada waktu ada seorang berdosa bertobat / kembali kepadaNya! Dalam perumpamaan tentang anak yang hilang bahkan digambarkan bahwa pada waktu anak itu masih jauh, bapanya berlari mendapatkannya, memeluknya, menciumnya, dan mengadakan pesta karena kembalinya anak tersebut!


-AMIN-

1 komentar: