Rabu, 16 April 2014

ARGUMENTASI DAN THEOLOGIA DALAM MEMBERITAKAN INJIL (2)

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div



 

MENGATASI PENOLAKAN TERHADAP INJIL


Pada waktu kita memberitakan Injil, pasti ada banyak orang yang keberatan / tidak mau menerima Injil yang kita beritakan, dan alasan-alasan yang mereka beriman pastilah bermacam-macam. Dalam bagian ini, saya memberikan alasan-alasan yang sering dikemukakan, dan juga cara menjawabnya.



Macam-macam keberatan dan jawabannya:

1)   Orang yang saudara injili tidak mau percaya kepada Tuhan Yesus karena ia tahu akan adanya banyak orang kristen yang hidupnya jahat, dan bahkan lebih jahat dari dia.

Ia mungkin bahkan memberi contoh-contoh tentang orang kristen seperti itu, misalnya tetangganya, atau salah satu anggota keluarganya atau kenalannya. Dan mungkin sekali orang yang dijadikan contoh itu adalah orang sudah lama menjadi kristen, atau yang mempunyai kedudukan tinggi dalam gereja, seperti guru sekolah minggu, majelis atau bahkan penginjil / pendeta.

Dalam menjawab serangan / keberatan seperti ini ada 2 hal yang harus saudara hindari:

a)   Membela orang kristen yang dianggap jahat itu, kecuali kalau kita betul-betul tahu bahwa apa yang dituduhkan itu tidak benar. Mengapa? Karena kalau saudara membela, padahal orang Kristen yang dibicarakan itu memang salah, itu akan menyebabkan saudara terlihat ‘tidak fair’ / tidak adil / tidak jujur, dan ini bahkan akan menyebabkan orang yang saudara injili itu makin tidak senang pada orang Kristen, dan makin tidak mau mendengarkan Injil dari saudara.

b)   Ikut menjelek-jelekkan orang kristen itu.
Kalau membela orang Kristen itu merupakan extrim kiri, maka yang ini merupakan extrim kanan. Banyak orang yang menghindari extrim kiri, tetapi terjatuh ke extrim kanan.
Ini bisa terjadi, misalnya kalau kita berkata: ‘O ya, orang itu memang brengsek. Aku juga tahu hal itu. Bahkan apa yang kamu katakan tentang dia itu kurang lengkap. Dia itu .... dst’.
Ini akan menyebabkan saudara bukannya memberitakan Injil tetapi lalu menggosip orang.

Catatan: ingat bahwa menjelek-jelekkan / menceritakan kejelekan orang Kristen di depan orang kafir, sering menjadi alasan dari banyak orang kafir untuk tidak mau menjadi Kristen. Karena itu kalau selama ini saudara sering menjelek-jelekkan / menceritakan kejelekan orang di gereja saudara di depan keluarga / teman yang belum kristen, bertobatlah! Ingat bahwa ‘kasih menutupi segala sesuatu’ (1Kor 13:7). Bdk. Amsal 10:12b - “kasih menutupi segala pelanggaran”.

Jawaban yang bisa saudara berikan:


1.   Ada orang kristen yang sungguh-sungguh dan ada orang kristen yang palsu.
Saudara bisa membacakan / menceritakan Mat 13:24-30 (perumpamaan lalang di antara gandum) sebagai dasar Kitab Suci kata-kata saudara ini.
Jadi, mungkin sekali orang kristen yang hidupnya jahat itu hanyalah orang kristen KTP.
Perlu juga saudara beritahukan kepada dia bahwa orang yang sudah lama menjadi kristen, bahkan yang mempunyai kedudukan tinggi dalam gereja (seorang pendeta sekalipun), belum tentu merupakan orang kristen yang sejati. Saudara bisa memberi contoh Yudas Iskariot, yang sekalipun mempunyai jabatan rasul, yang merupakan jabatan tertinggi dalam gereja, tetap hanyalah orang kristen KTP (Yoh 6:64).

2.   Orang kristen yang sungguh-sungguhpun tetap merupakan manusia yang berdosa, yang mudah sekali jatuh dalam dosa. Dan adalah mungkin bagi orang kristen sejati untuk jatuh ke dalam dosa yang hebat sekalipun. Daud saja bisa jatuh dalam perzinahan dan pembunuhan (2Sam 11). Petrus jatuh dalam tindakan penyangkalan 3 x terhadap Yesus (Mat 26:69-75), dan juga dalam tindakan munafik (Gal 2:11-14). Karena itu kalau orang kristen jatuh ke dalam dosa, itu merupakan hal yang manusiawi, yang bahkan tidak terhindarkan.
Bdk. 1Yoh 1:10 - “Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita”.
Justru untuk dosa-dosanya itu Kristus telah mati.

3.   Ia (orang yang saudara injili itu) bertanggung jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.
Ro 14:12 - “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah”.
Kalau ada orang kristen lain (baik yang asli maupun palsu) yang berdosa / jahat, itu adalah urusan orang itu sendiri dengan Allah. Tetapi dia mempunyai tanggung jawab kepada Allah tentang kehidupannya / dosa-dosanya sendiri. Dan satu-satunya cara untuk membereskan dosa-dosanya, adalah dengan percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya.

2)   Orang yang saudara injili itu menganggap hidup saudara juga buruk, bahkan lebih buruk dari dia.

Jawaban yang bisa saudara berikan:


Sama seperti tadi, jangan membela diri, kalau tuduhan orang itu memang benar.

Jawablah sebagai berikut: “Aku memang orang berdosa, dan sekalipun aku sudah menjadi orang Kristen, tetapi aku tetap tidak bisa hidup suci. Aku memang mempunyai kelemahan-kelemahan yang menyebabkan semua dosa-dosa itu. Tetapi aku mempunyai Yesus sebagai Juruselamatku. Ia sudah menderita dan mati untuk menebus dosa-dosaku itu. Itu menyebabkan aku tetap yakin akan masuk surga, kapanpun aku mati. Tetapi bagaimana dengan kamu? Kamu juga adalah orang berdosa. Kalau kamu tidak punya Yesus sebagai Juruselamat, kamu harus membayar sendiri hukuman untuk dosa-dosamu dengan masuk neraka selama-lamanya”.

3)   Orang yang saudara injili itu tidak mau percaya kepada Tuhan Yesus karena ada banyak orang yang lebih banyak dosanya dari dia.

Jawaban yang bisa saudara berikan:


a)   Tuhan akan menuntut tanggung jawabmu terhadap dosa-dosamu sendiri, bukan dosa-dosa orang lain.
Ro 14:12 - “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah”.

Illustrasi: kalau saudara mencuri dan lalu diadili, saudara tidak bisa bebas dari hukuman dengan mengatakan bahwa di luar ada perampok, pemerkosa, pembunuh, yang lebih jahat dari saudara. Kejahatan mereka bukan tanggung jawab / urusan saudara. Tetapi kejahatan saudara sendiri merupakan tanggung jawab saudara.

b)   Sekalipun / andaikatapun dosamu sedikit, hukumanannya tetap adalah maut / neraka (dan sebetulnya, tidak ada orang yang dosanya sedikit; semua orang dosanya banyak - Ro 3:10-dst).
Ro 6:23a - “Sebab upah dosa ialah maut”.
Wah 21:8 - “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.’”.

Illustrasi: kalau kamu mendapat nilai 4 dalam ujian, kamu tetap tidak lulus sekalipun ada orang-orang lain yang mendapat nilai 3 atau 2.

4)   Orang yang saudara injili itu tidak mau percaya kepada Tuhan Yesus karena merasa dirinya cukup baik.
Mungkin ia tidak secara explicit mengatakan bahwa dirinya memang cukup baik, tetapi ia bisa menyatakan hal itu dengan kata-kata lain, seperti:
  • ‘Aku tidak merasa perlu menjadi kristen / percaya Tuhan Yesus, yang penting aku tidak menjahati orang’.
  • ‘Aku tidak merasa perlu menjadi kristen / percaya Tuhan Yesus, yang penting aku sudah berusaha berbuat baik’.
  • ‘Aku tidak merasa perlu menjadi kristen / percaya Tuhan Yesus, yang penting aku banyak menolong orang’, dsb.

Jawaban yang bisa saudara berikan:


a)   Kebaikan manusia itu kotor dihadapan Tuhan

Yes 64:6 - “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin”.
Perhatikan bahwa Yesaya mengatakan ‘segala kesalehan kami seperti kain kotor’. Ia bukan mengatakan ‘segala dosa / kejahatan kami seperti kain kotor’. Ia juga bukan mengatakan sebagian kesalehan kami seperti kain kotor’. Ia mengatakan segala kesalehan kami seperti kain kotor’.

Tit 1:15 - “Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis.

Catatan: kalau orang yang saudara injili itu bisa merasa dirinya cukup baik, maka dalam penginjilan saudara kepada dia, jelas saudara kurang menekankan point I, yaitu tentang dosa. Saudara harus menekankan kepada dia bukan hanya bahwa ia adalah orang berdosa, tetapi bahkan bahwa ia sangat berdosa, dan sama sekali tidak bisa berbuat baik.

b)   Tuhan bukan menuntut supaya manusia itu baik, tetapi supaya manusia itu sempurna / suci.
Mat 5:48 - “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.’”.

Illustrasi: Berbeda dengan di sekolah, dimana kita lulus asal mendapat nilai 60, maka dengan Tuhan tidak demikian. Ia menuntut kesempurnaan. Dengan kata lain, Ia menuntut nilai 100! Andaikatapun saudara mendapat nilai 99, saudara tetap masuk neraka.
Mengapa demikian? Karena Allah itu begitu suci, sehingga Ia sangat membenci dosa, sesedikit apapun dan sekecil apapun. Dan karena Allah itu adil, Ia pasti akan menghukum dosa, sesedikit apapun dan sekecil apapun! Atau hukuman itu diterima oleh Yesus sebagai Penebus, atau hukuman itu diterima oleh orang itu sendiri.

c)   Seandainya kamu bisa berbuat baik, kebaikanmu itu tidak bisa menyelamatkan kamu.
Gal 2:16 - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak ada seorangpun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat”.

Ketaatan pada hukum Taurat / Firman Tuhan / kebaikan kita tidak bisa menutupi dosa-dosa kita, atau menyebabkan kita dibenarkan.

Illustrasi: Seseorang ditangkap polisi karena melanggar peraturan lalu lintas dan 1 minggu setelahnya harus menghadap ke pengadilan. Dalam waktu satu minggu itu ia lalu banyak berbuat baik untuk menebus dosanya. Ia menolong tetangga, memberi uang kepada pengemis, dsb. Pada waktu persidangan, ia membawa semua orang kepada siapa ia sudah melakukan kebaikan itu sebagai saksi. Pada waktu hakim bertanya: ‘Benarkah saudara melanggar peraturan lalu lintas?’, ia lalu menjawab: ‘Benar pak hakim, tetapi saya sudah banyak berbuat baik untuk menebus dosa saya. Ini saksi-saksinya’. Sekarang pikirkan sendiri, kalau hakim itu waras, apakah hakim itu akan membebaskan orang itu? Jawabnya jelas adalah ‘tidak’! Jadi terlihat bahwa dalam hukum duniapun kebaikan tidak bisa menutup / menebus / menghapus dosa! Demikian juga dengan dalam hukum Tuhan / Kitab Suci!

Catatan: Illustrasi ini penting sekali, karena ingat bahwa sebagian besar manusia di muka bumi ini mempercayai keselamatan karena perbuatan baik, atau mempercayai bahwa perbuatan baik bisa menghapuskan dosa.

d)   Kitab Suci tidak pernah mengajarkan bahwa seseorang akan masuk surga kalau perbuatan baiknya lebih banyak dari dosanya.
Tetapi, seandainya kita mau menggunakan prinsip / ajaran seperti itu, maka tetap saja berdasarkan ajaran itu tidak akan ada satu orangpun bisa masuk surga. Semua akan masuk neraka. Mengapa? Karena semua orang bukan hanya berdosa, tetapi sangat berdosa, dan sama sekali tidak bisa berbuat baik! Karena itu, tidak mungkin perbuatan baiknya bisa lebih banyak dari dosanya! Perbuatan baiknya tidak ada sama sekali! Sebaliknya, dosanya luar biasa banyaknya!

5)   Orang yang saudara injili itu tidak mau percaya kepada Tuhan Yesus karena merasa dirinya terlalu jahat sehingga ia merasa bahwa Allah pasti tidak mau menerima dia.
Ini merupakan extrim yang adalah kebalikan dari extrim pada no 4 di atas. Kalau yang tadi orangnya merasa diri cukup baik, maka yang di sini merasa dirinya terlalu jahat.

Jawaban yang bisa saudara berikan:


a)   Tuhan Yesus memang datang ke dunia untuk mencari orang berdosa, bukan orang baik / benar.

Luk 5:29-32 - “(29) Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. (30) Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: ‘Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?’ (31) Lalu jawab Yesus kepada mereka, kataNya: ‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; (32) Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.’”.

Kata-kata Yesus ini tidak berarti bahwa dalam dunia ini ada orang-orang yang benar. ‘Orang berdosa’ adalah ‘orang berdosa yang sadar akan dosanya’, dan ‘orang benar’ adalah ‘orang berdosa yang menganggap dirinya benar / baik’.
Jadi, kalau orang yang saudara injili itu merasa diri terlalu berdosa, Yesus justru datang untuk orang seperti itu.

Saudara bisa menambahkan Luk 18:9-14 - “(9) Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: (10) ‘Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. (11) Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; (12) aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. (13) Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. (14) Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.’”.

Jelaskan bahwa orang Farisi, yang merasa diri benar itu, justru ditolak oleh Tuhan, sedangkan pemungut cukai yang merasa diri sangat berdosa / terlalu berdosa itu, justru diterima!

b)   Tuhan Yesus sudah berjanji untuk tidak menolak seorangpun yang datang kepadaNya.
Yoh 6:37 - “Semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu, dan barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang”.

Ada 3 hal yang perlu disoroti dari ayat ini:

1.         ‘Barangsiapa datang kepadaKu’.
Kata ‘barangsiapa’ mencakup semua orang, dan karena itu pasti juga mencakup orang yang sangat berdosa.

2.   tidak akan Kubuang’.
Dalam bahasa Yunaninya, kata ‘tidak’ di sini menggunakan double negatives (2 x kata ‘tidak’), dan dalam bahasa Yunani ini menunjukkan suatu penekanan.
Jadi maksudnya,  Yesus sekali-kali tidak akan menolak siapapun yang datang kepadaNya. Betapapun kotornya hidup saudara, asal saudara mau datang kepada Yesus, Yesus berjanji untuk tidak menolak saudara! Ingat bahwa Ia memang datang ke dunia untuk mencari orang berdosa, bukan orang benar / orang berdosa yang merasa benar (Mat 9:12-13).

3.         ‘Kubuang’.
NIV: drive away (= mengusir).
NASB: cast out (= mengusir).

Jadi, maksud seluruh ayat ini adalah: merupakan sesuatu yang sangat tidak mungkin bagi Yesus untuk mengusir / menolak / tidak menerima siapapun yang yang datang kepadaNya, tak peduli betapa berdosanya hidup orang itu.

c)   Tuhan Yesus bisa / mau mengampuni dosa yang bagaimanapun besarnya / banyaknya, asal orang itu percaya kepadaNya.
Yes 1:18 - “Marilah, baiklah kita berperkara! - firman TUHAN - Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba”.

d)   Tunjukkan juga ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Yesus memang mau menerima dan mengampuni orang-orang yang sangat berdosa.
Misalnya:
·         Penjahat di kayu salib (Luk 23:42-43).
·         Perempuan yang terkenal sebagai orang berdosa dalam Luk 7:36-50.
·         Rahab, yang tadinya adalah seorang pelacur, dibenarkan oleh Tuhan, karena imannya (Yak 2:25  Ibr 11:31).
·         Para pemungut cukai dan perempuan sundal diterima dan diampuni oleh Yesus, sehingga akan masuk surga (Mat 21:31).

6)   Orang yang saudara injili itu tidak mau percaya kepada Tuhan Yesus karena ia merasa hatinya terlalu keras, tidak bisa diubah sehingga nanti pasti tidak bisa menjadi orang kristen yang baik.

Jawaban yang bisa saudara berikan:


a)   Mengganti hati yang keras dengan hati yang taat adalah peker­jaan Tuhan.
Yeh 36:26-27 - “(26) Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. (27) RohKu akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapanKu dan tetap berpegang pada peraturan-peraturanKu dan melakukannya”.

b)   Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus pasti menerima Roh Kudus (Yoh 14:16  Ef 1:13  Gal 3:2,5 3:26 4:6), dan Roh Kudus ini akan membantunya mengubah hidupnya ke arah yang lebih baik (Gal 5:22-23).

7)   Orang yang saudara injili itu tidak merasa perlu untuk percaya / ikut Tuhan Yesus; yang penting ia tidak memusuhi Tuhan Yesus. Dengan kata lain, ia menganggap dirinya ‘netral’.

Jawaban yang bisa saudara berikan:


a)   Kitab Suci hanya menggolongkan manusia menjadi dua golongan:
·         kawan atau lawan Tuhan Yesus.
Mat 12:30 - “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan”.
Kalau kamu adalah lawan dari Yesus maka ingatlah bahwa lawanmu itu nanti akan menjadi Hakim yang mengadilimu pada akhir jaman (Mat 25:31-46  Yoh 5:22,27).
·         anak Allah atau anak setan.
1Yoh 3:10 - “Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya”.
·         domba atau kambing.
Mat 25:31-46 - “(31) ‘Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaanNya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaanNya. (32) Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapanNya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, (33) dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kananNya dan kambing-kambing di sebelah kiriNya. (34) Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kananNya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. (35) Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; (36) ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. (37) Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? (38) Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? (39) Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? (40) Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (41) Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiriNya: Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. (42) Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; (43) ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. (44) Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? (45) Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. (46) Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.’”.
·         ‘dalam hidup’ atau ‘dalam maut’.
Yoh 5:24 - “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataanKu dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.
·         ‘dalam Adam’ atau ‘dalam Kristus’.
1Kor 15:22 - “Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus”.
Catatan: kata-kata yang saya coret itu seharusnya tidak ada.

Jadi kesimpulan dari text-text di atas ini adalah bahwa daerah / golongan ‘netral’ itu tidak ada!

b)   Yesus adalah Allah sendiri. Tidak mau percaya / ikut Yesus sama dengan tidak mau percaya / ikut Allah (Yoh 1:1  14:1). Dan Allah tidak menghendaki sikap ‘netral’ terhadap diriNya. Ia menghendaki kamu mempercayai Dia (Ibr 11:6), mengasihi Dia (Mat 22:37), menghormati Dia / takut kepadaNya (Mal 1:6), menyembah Dia (Mat 4:10), mentaati Dia (Kis 5:29), melayani Dia (Ro 12:11), dan sebagainya. Disamping, kalau tidak percaya Allah, bagaimana bisa masuk surga, yang adalah milik Allah?

c)   Kalau kamu tidak percaya Yesus itu berarti kamu tidak mempunyai Juruselamat / Penebus dosa. Lalu, siapa yang menebus dosamu?

8)   Orang yang saudara injili itu tidak mau percaya Tuhan Yesus karena jalan kesela­matan seperti itu dianggapnya terlalu mudah.

Jawaban yang bisa saudara berikan:


a)   Mendapat keselamatan / masuk surga sebetulnya sama sekali bukanlah sesuatu yang mudah, karena manusia tidak mungkin menyelamatkan dirinya sendiri (Ro 3:20  Gal 2:16).
Illustrasi: monyet yang masuk ke dalam rawa tidak mungkin menyelamatkan dirinya sendiri.

b)   Manusia lain tidak mungkin menyelamatkan kita (Maz 49:8-9).
Maz 49:8-9 - “(8) Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, (9) karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya”.
Ini salah terjemahan; RSV sama persis salahnya. Bandingkan dengan terjemahan NIV di bawah ini.

Psalm 49:7-8 (NIV): “No man can redeem the life of another, or give to God a ransom for him; the ransom for a life is costly, no payment is ever enough” (= Tidak seorang manusiapun bisa menebus nyawa orang lain, atau memberikan kepada Allah tebusan untuk dia; tebusan untuk suatu nyawa sangat mahal, tidak ada pembayaran yang bisa mencukupi).

c)   Tuhan Yesus sudah menyelesaikan apa yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia.
Yoh 19:30 - “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya”.

d)   Karena sudah adanya karya Kristus itulah maka sekarang untuk mendapatkan keselamatan menjadi mudah bagi kita. Bahkan keselamatan itu sepenuhnya merupakan suatu anugerah / pemberian.
Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.
Ro 3:24 - “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus”.
Ro 6:23 - “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Yes 55:1-2 - “(1) Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! (2) Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat”.

Illustrasi: Seorang penginjil memberitakan Injil kepada seorang pekerja tambang. Pada waktu pekerja tambang itu mendengar bahwa untuk bisa diselamatkan ia hanya perlu percaya kepada Yesus, ia berkata ‘Hanya percaya dan saya selamat? Kok gampang sekali?’. Penginjil itu lalu bertanya: ‘Dimana kamu bekerja?’. Pekerja tambang itu menjawab: ‘Puluhan atau bahkan ratusan meter di bawah permukaan tanah’. Penginjil itu bertanya lagi: ‘Wah, tentu sukar sekali bagi kamu untuk turun ke sana lalu naik lagi ke atas’. Pekerja itu menjawab: ‘Tidak sukar sama sekali. Karena perusahaan saya telah memasang sebuah lift, dan saya hanya tinggal masuk ke dalam lift itu dan lift itu akan membawa saya naik atau turun’. Lalu penginjil itu berkata: ‘Sama seperti perusahaanmu sudah bersusah payah memasang lift, sehingga sekarang bagi kamu tinggal gampangnya, demikian juga Kristus sudah bersusah payah, menderita dan mati di kayu salib untuk menyediakan keselamatan bagimu, sehingga sekarang bagi kamu tinggal gampangnya. Kamu hanya perlu masuk ke dalam Yesus / percaya kepada Yesus, dan Yesus akan mengangkat kamu ke surga!’.

Anonymous: “Salvation is free for you because someone else paid” (= Keselamatan itu gratis bagimu karena seorang lain telah membayarnya) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 587.

9)   Orang yang saudara injili itu sebetulnya mau percaya kepada Yesus, tetapi tidak sekarang. Ia mau menunda untuk percaya / ikut Tuhan Yesus.

Jawaban yang bisa saudara berikan:


a)   Saudara tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Yak 4:14 - “sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap”.
Amsal 27:1 - “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu”.

Kalau saudara mati mendadak, dan itu jelas merupakan sesuatu yang bisa terjadi, saudara tidak akan sempat bertobat. Tidak ada ‘second chance’ (= kesempatan kedua) untuk bertobat. Begitu saudara mati kesempatan untuk bertobat itu tertutup untuk selamanya.

Kesempatan bertobat itu tertutup bukan hanya pada saat seseorang mati, tetapi juga kalau ia menjadi gila, pikun, idiot (karena cedera otak).

Juga ia perlu memperhatikan Yes 55:6 - “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepadaNya selama Ia dekat!”.
Ini menunjukkan bahwa tidak selamanya Tuhan berkenan untuk ditemui!
Bandingkan juga dengan Yoh 7:33-34: “(33) Maka kata Yesus: ‘Tinggal sedikit waktu saja Aku ada bersama kamu dan sesudah itu Aku akan pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku. (34) Kamu akan mencari Aku, tetapi tidak akan bertemu dengan Aku, sebab kamu tidak dapat datang ke tempat dimana Aku berada”.
Kata-kata Yesus ini menunjukkan bahwa setiap orang harus menggunakan kesempatan untuk datang kepada Yesus dengan sebaik-baiknya, karena kalau tidak, akan datang suatu waktu dimana mereka tidak lagi bisa menemukan Yesus.

Bandingkan ini dengan Amsal 1:24-28 - “(24) Oleh karena kamu menolak ketika aku memanggil, dan tidak ada orang yang menghiraukan ketika aku mengulurkan tanganku, (25) bahkan, kamu mengabaikan nasihatku, dan tidak mau menerima teguranku, (26) maka aku juga akan menertawakan celakamu; aku akan berolok-olok, apabila kedahsyatan datang ke atasmu, (27) apabila kedahsyatan datang ke atasmu seperti badai, dan celaka melanda kamu seperti angin puyuh, apabila kesukaran dan kecemasan datang menimpa kamu. (28) Pada waktu itu mereka akan berseru kepadaku, tetapi tidak akan kujawab, mereka akan bertekun mencari aku, tetapi tidak akan menemukan aku”.

Ajaran ini tidak bertentangan dengan Yoh 6:37 yang menunjukkan bahwa Yesus tidak akan menolak orang yang datang kepadaNya. Mengapa? Karena kalau seseorang masih bisa mau datang kepada Kristus, itu berarti Allah memang masih berkenan untuk ditemui. Kalau Allah sudah tidak berkenan ditemui, Ia akan mengeraskan hati orang itu, sehingga orang itu tidak mungkin bertobat / mau percaya kepada Yesus.

Kalau orang yang saudara injili itu menggunakan 1Pet 3:18-20  1Pet 4:6 yang seakan-akan menunjukkan adanya ‘second chance’ (= kesempatan kedua / kesempatan bertobat sesudah kematian), maka:

1.   Tunjukkan Maz 88:12, yang jelas menunjukkan tidak adanya pemberitaan Injil di alam baka, dan katakan bahwa ayat-ayat dalam 1Petrus itu tidak boleh ditafsirkan bertentangan dengan ayat ini.

Maz 88:11-13 - “(11) Apakah Kaulakukan keajaiban bagi orang-orang mati? Masakan arwah bangkit untuk bersyukur kepadaMu? Sela (12) Dapatkah kasihMu diberitakan di dalam kubur, dan kesetiaanMu di tempat kebinasaan? (13) Diketahui orangkah keajaiban-keajaibanMu dalam kegelapan, dan keadilanMu di negeri segala lupa?”.
Jelas bahwa sederetan pertanyaan dalam text ini semuanya harus dijawab ‘Tidak’!

2.   Beri penjelasan tentang 1Pet 3:18-20 dan 1Pet 4:6, dengan penjelasan sebagai berikut:

a.   1Pet 3:18-20 - “(18) Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaanNya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, (19) dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, (20) yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu”.

Arti dari ayat ini adalah: Roh Ilahi Yesus (Logos) memberitakan Injil melalui Nuh, pada jaman sebelum air bah, kepada orang-orang yang masih hidup pada saat itu. Jadi, orang-orang itu masih hidup pada saat diinjili, tetapi pada waktu Petrus menuliskan suratnya ini, mereka sudah mati dan karena itu disebutkan sebagai ‘roh-roh yang di dalam penjara’. Jadi, ayat ini tidak mengajarkan adanya penginjilan terhadap orang mati!

b.   1Pet 4:6 - Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka, sama seperti semua manusia, dihakimi secara badani; tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah”.

Ada 3 penafsiran tentang arti kata-kata ‘orang-orang mati’ dalam 1Pet 4:6 ini:
·         itu diartikan sebagai orang yang mati secara rohani / mati dalam dosa.
·         itu diartikan betul-betul sebagai orang yang sudah mati. Penafsiran ini sesat, tetapi inilah yang diambil oleh orang-orang seperti Andereas Samudera sehingga ia lalu mengadakan penginjilan terhadap orang mati.
·         sama seperti penafsiran yang saya ambil tentang 1Pet 3:18-20, orang-orang itu masih hidup pada saat diinjili, tetapi sudah mati pada waktu Petrus menulis surat ini, sehingga disebutkan sebagai ‘orang-orang mati’. Saya berpendapat bahwa pandangan inilah yang benar.

Catatan: kalau mau mempelajari kedua text ini secara lebih mendetail / terperinci, baca buku saya yang berjudul ‘Penginjilan Terhadap Orang Mati’, jilid 2, dimana kedua text ini saya jelaskan secara sangat terperinci / panjang lebar.

Jadi, ayat-ayat di atas tidak bisa digunakan untuk mengatakan bahwa ada kesempatan bertobat setelah kematian. Kesempatan bertobat hanya ada selagi kita masih hidup. Kalau kita mati, kesempatan itu tertutup untuk selama-lamanya! Karena itu, tindakan menunda pertobatan merupakan suatu tindakan yang sangat beresiko, karena kalau kita mati dengan mendadak, tidak ada kesempatan untuk bertobat!

Illustrasi: Suatu hari ada seseorang yang bermimpi tentang adanya suatu konperensi setan. Konperensi itu dipimpin oleh Iblis sendiri dan bertujuan untuk mencari siasat yang jitu supaya manusia tidak percaya kepada Yesus dan binasa / masuk neraka. Lalu ada seorang setan yang mengusulkan: ‘Baiklah kita membujuk manusia supaya tidak percaya akan adanya Tuhan’. Iblis berkata: ‘Tidak. Manusia merasa dalam hatinya bahwa Tuhan itu ada. Siasat itu tidak akan berhasil’. Setan lain mengusulkan: ‘Baiklah kita mengatakan kepada manusia bahwa mereka itu terlalu jahat untuk bisa diampuni’. Iblis menolak usul itu dengan berkata: ‘Justru kalau manusia sadar bahwa dirinya jahat, itu akan membawa mereka kepada Tuhan. Usul itu masih kurang baik’. Akhirnya seorang setan berkata: ‘Baiklah kita mengatakan kepada manusia bahwa Tuhan itu ada, dan Tuhan itu mencintai mereka yang berdosa, dan bahwa Injil itu benar adanya’. Iblis menjawab: ‘Tetapi bagaimana hal itu bisa membinasakan mereka?’. Setan itu melanjutkan siasatnya: ‘Kita akan mengatakan kepada manusia bahwa sekalipun semua itu benar, dan mereka harus percaya, tetapi masih ada cukup waktu. Mereka tidak perlu percaya sekarang’. Iblis senang sekali dengan usul itu, dan memerintahkan supaya usul itu dilaksanakan.

Ini menyebabkan banyak orang yang pada waktu mendengar Injil, lalu menunda untuk datang kepada Yesus. Tetapi tiba-tiba mereka mendapat kecelakaan atau serangan jantung, yang membuat mereka mati secara mendadak, sehingga tidak ada kesempatan untuk bertobat. Akhirnya mereka terhilang selama-lamanya di dalam neraka, hanya karena mereka menunda untuk percaya kepada Yesus!

b)   Orang yang belum percaya kepada Kristus tidak berada di daerah netral, tetapi di bawah murka Allah.

Yoh 3:36 - “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya”.
Kata ‘tetap’ di sini menunjukkan bahwa dari semula (sejak orang itu lahir, bahkan sejak orang itu ada dalam kandungan), murka Allah itu sudah ada di atasnya. Kalau ia percaya kepada Yesus, maka murka itu dicabut, tetapi kalau ia tidak percaya / tidak taat, maka murka Allah itu tetap ada di atasnya.

Ef 2:1-3 - “(1) Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. (2) Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. (3) Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.
Bagian yang saya garisbawahi itu, terjemahan hurufiahnya adalah seperti yang diberikan oleh NASB: “and were by nature children of wrath, even as the rest” (= dan secara alamiah adalah anak-anak kemurkaan, sama seperti yang lain).
Jadi, ini menunjukkan bahwa manusia itu secara alamiah, maksudnya sejak lahir, adalah orang yang dimurkai oleh Allah.

Banyak orang mengira bahwa mereka ada di daerah netral. Kalau mereka bertobat maka mereka mendapat perkenan Allah, sedangkan kalau mereka berbuat dosa yang hebat, maka barulah mereka mendapat murka Allah. Seandainya keadaannya memang seperti ini, maka mungkin seseorang boleh berlambat-lambat dalam bertobat / percaya kepada Yesus. Mereka tidak berada dalam bahaya, dan karena itu berlambat-lambat tidak jadi soal. Tetapi Kitab Suci mengatakan bahwa keadaan manusia bukan seperti itu! Manusia ada di bawah murka Allah sejak dalam kandungan, dan karena itu setiap saat manusia itu ada dalam bahaya. Mengapa? Karena setiap saat ia bisa saja mati, dan kalau itu terjadi, maka murka Allah itu akan ditimpakan kepadanya dengan sepenuhnya, dan ia akan masuk ke neraka selama-lamanya. Karena itu, maka kita harus berusaha secepatnya, tanpa menunda atau berlambat-lambat, untuk menyingkirkan murka Allah itu dari diri kita. Dan satu-satunya cara adalah dengan secepatnya percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.

c)   Firman Tuhan berkata bahwa hari ini adalah hari penyelama­tan.
2Kor 6:1-2 - “(1) Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima. (2) Sebab Allah berfirman: ‘Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.’ Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.

Barnes’ Notes (tentang 2Kor 6:1-2): “God here speaks of there being an accepted time, a limited period, in which petitions in favor of the world would be acceptable to him. That time Paul says had come; and the idea which he urges is, that people should avail themselves of that, and embrace now the offers of mercy. ... The time will come when it will not be an acceptable time with God. The day of mercy will be closed; the period of trial will be ended; and people will be removed to a world where no mercy is shown, and where compassion is unknown. ... The time of mercy will pass by, and God will not be willing to pardon the sinner who goes unprepared to eternity. ... we cannot calculate on the future. We have no assurance, no evidence that we shall live another day, or hour. ... the time will come when it will not be an accepted time. Now is the accepted time; at some future period it will NOT be. If people grieve away the Holy Spirit; if they continue to reject the gospel; if they go unprepared to eternity, no mercy can be found. God does not design to pardon beyond the grave. He has made no provision for forgiveness there; and they who are not pardoned in this life, must be unpardoned forever” (= Di sini Allah berbicara bahwa ada ‘waktu perkenan / waktu dimana Ia berkenan’, suatu periode yang terbatas, dalam mana permohonan-permohonan untuk kebaikan dunia berkenan kepadaNya. Paulus berkata waktu itu telah datang; dan gagasan yang ia desakkan adalah bahwa orang harus memanfaatkan kesempatan itu, dan menerima sekarang juga tawaran belas kasihan. ... Saatnya akan tiba dimana itu bukan lagi waktu yang berkenan pada Allah. Jaman belas kasihan akan ditutup; periode pencobaan / ujian akan diakhiri; dan orang-orang akan dipindahkan ke suatu dunia dimana tidak ada belas kasihan yang ditunjukkan, dan dimana perasaan kasihan tidak dikenal. ...  Jaman belas kasihan akan berlalu, dan Allah tidak akan mau mengampuni orang berdosa yang pergi menuju kekalan dengan tidak siap. ... kita tidak bisa memperhitungkan masa yang akan datang. Kita tidak mempunyai jaminan, tidak ada bukti bahwa kita akan hidup satu hari lagi atau satu jam lagi. ... waktunya akan datang dimana itu bukanlah waktu yang diperkenan. Sekaranglah waktu perkenanan itu; pada masa yang akan datang, akan tidak demikian.  Jika orang-orang mendukakan Roh Kudus; jika mereka terus menolak Injil; jika mereka pergi dengan tidak siap menuju kekekalan, tidak ada belas kasihan yang bisa ditemukan. Allah tidak merencanakan untuk mengampuni di balik kubur. Ia tidak membuat persediaan untuk pengampunan di sana; dan mereka yang tidak diampuni dalam dunia ini, pasti tidak diampuni selama-lamanya).

d)   Allah tidak mau / tidak bisa dipermainkan.
Gal 6:7-8 - “(7) Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. (8) Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu”.

Orang menunda pertobatan biasanya karena ia mau menikmati dosa dulu. Nanti kalau mau mati / hampir mati baru bertobat. Tetapi ini berarti memper­mainkan Tuhan. Dan ayat Kitab Suci di atas ini mengatakan bahwa Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan!

e)   Tuhan tidak ingin kamu mengeraskan hatimu, pada saat kamu mendengar suaraNya.
Ibr 3:7-8 - “(7) Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: ‘Pada hari ini, jika kamu mendengar suaraNya, (8) janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun”.

Matthew Henry (tentang Ibr 3:7): “I. What he counsels them to do - to give a speedy and present attention to the call of Christ. ‘Hear his voice, assent to, approve of, and consider, what God in Christ speaks unto you; apply it to yourselves with suitable affections and endeavours, and set about it this very day, for to-morrow it may be too late.’ II. What he cautions them against - hardening their hearts, turning the deaf ear to the calls and counsels of Christ: ‘When he tells you of the evil of sin, the excellency of holiness, the necessity of receiving him by faith as your Saviour, do not shut your ear and heart against such a voice as this.’” (= I. Apa yang ia nasehatkan untuk mereka lakukan - untuk memberikan perhatian yang cepat dan sekarang juga terhadap panggilan Kristus. ‘Dengarkan suaraNya, setujuilah, akuilah, dan pertimbangkan, apa yang Allah dalam Kristus katakan kepadamu; terapkan itu kepada dirimu sendiri dengan kasih dan usaha yang sesuai, dan mulailah melakukannya, karena besok mungkin sudah terlambat’. II. Terhadap apa ia memperingatkan mereka - mengeraskan hati mereka, menulikan telinga mereka terhadap penggilan dan nasehat Kristus: ‘Pada waktu Ia memberitahu kamu jahatnya dosa, keunggulan dari kekudusan, perlunya menerima Dia dengan iman sebagai Juruselamatmu, jangan menutup telinga dan hatimu terhadap suara seperti ini’.).

Barnes’ Notes (tentang Ibr 3:7): “‘Today.’ Now; at present. At the very time when the command is addressed to you. It is not to be put off until tomorrow. All God’s commands relate to ‘the present’ - to this day - to the passing moment. He gives us no commands ‘about the future.’ He does not require us to repent and to turn to him ‘tomorrow,’ or 10 years hence. The reasons are obvious: (1) Duty pertains to the present. It is our duty to turn from sin, and to love him now. (2) we know not that we shall live to another day” [= ‘Hari ini’. Sekarang; pada saat ini. Pada saat dimana perintah itu diberikan kepadamu. Itu tidak boleh ditunda sampai besok. Semua perintah Allah berhubungan dengan ‘masa sekarang’ - pada hari ini, pada waktu yang sedang berlalu. Ia tidak memberikan kita perintah ‘tentang masa yang akan datang’. Ia tidak menghendaki kita untuk bertobat dan berbalik kepadaNya ‘besok’, atau 10 tahun lagi. Alasannya jelas: (1) Kewajiban berkenaan dengan masa sekarang. Merupakan kewajiban kita untuk berbalik dari dosa, dan untuk mengasihi Dia sekarang. (2) kita tidak tahu apakah kita akan hidup satu har lagi].

Bdk. Amsal 1:24-33 - “(24) Oleh karena kamu menolak ketika aku memanggil, dan tidak ada orang yang menghiraukan ketika aku mengulurkan tanganku, (25) bahkan, kamu mengabaikan nasihatku, dan tidak mau menerima teguranku, (26) maka aku juga akan menertawakan celakamu; aku akan berolok-olok, apabila kedahsyatan datang ke atasmu, (27) apabila kedahsyatan datang ke atasmu seperti badai, dan celaka melanda kamu seperti angin puyuh, apabila kesukaran dan kecemasan datang menimpa kamu. (28) Pada waktu itu mereka akan berseru kepadaku, tetapi tidak akan kujawab, mereka akan bertekun mencari aku, tetapi tidak akan menemukan aku. (29) Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan tidak memilih takut akan TUHAN, (30) tidak mau menerima nasihatku, tetapi menolak segala teguranku, (31) maka mereka akan memakan buah perbuatan mereka, dan menjadi kenyang oleh rencana mereka. (32) Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya. (33) Tetapi siapa mendengarkan aku, ia akan tinggal dengan aman, terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka.’”.

f)    Tuhan tidak terus menunggu pertobatan seseorang, seakan-akan manusia bisa bertobat kapanpun ia mau.
Yes 55:6 - “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepadaNya selama Ia dekat!”.
Perhatikan kata ‘selama’ yang muncul 2 x dalam ayat ini. Itu menunjukkan bahwa ada saat dimana Tuhan tidak berkenan untuk ditemui. Ini memang tidak berarti bahwa ada kemungkinan dimana seseorang betul-betul bertobat dan mencari Tuhan, tetapi Tuhan tidak mau menerimanya. Kalau ditafsirkan seperti ini akan bertentangan dengan Yoh 6:37 - “Semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu, dan barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang.
Jadi harus ditafsirkan bahwa artinya adalah: kalau kita menyia-nyiakan saat dimana Tuhan memanggil kita untuk bertobat, maka akan datang suatu saat dimana Ia mengeraskan hati kita sedemikian rupa sehingga kita tidak akan mau / bisa bertobat.

g)   Jangan menyalah-gunakan cerita tentang penjahat yang bertobat di kayu salib (Luk 23:39-43).
Cerita ini merupakan cerita yang sangat penting, karena menunjukkan bahwa pada detik terakhirpun dari kehidupan seseorang, kalau ia betul-betul datang / percaya kepada Kristus, ia akan diampuni dan dijamin masuk ke surga.
Tetapi rupanya setan mengilhami banyak orang-orang bodoh dengan menyalah-gunakan cerita ini. Penyalah-gunaan cerita ini menyebabkan mereka merasa lebih baik hidup dalam dosa dulu, dan menunda pertobatan mereka, sampai sesaat sebelum kematian. Kalau saudara berpikir seperti itu, perhatikan kata-kata di bawah ini.

J. C. Ryle: “I know that people are fond of talking about deathbed evidences. They will rest on words spoken in the hour of fear and pain and weakness, as if they might take comfort in them about the friends they lose. But I am afraid in ninety-nine cases out of a hundred such evidences are not to be depended on. I suspect that, with rare exceptions, men die just as they have lived” (= Saya tahu bahwa banyak orang senang membicarakan bukti-bukti ranjang kematian. Mereka bersandar pada kata-kata yang diucapkan pada saat ketakutan dan sakit dan kelemahan, seakan-akan mereka bisa mendapatkan hiburan dalam kata-kata itu tentang sahabat mereka yang hilang / mati. Tetapi saya takut / kuatir bahwa 99 kasus dari 100 bukti-bukti seperti itu tidak bisa diandalkan. Saya menduga bahwa dengan perkecualian yang sangat jarang, orang mati sama seperti mereka telah hidup) - ‘Holiness’, hal 40.

10)      Orang yang saudara injili itu menolak menjadi kristen karena ia berpendapat bahwa Allah itu kasih, sehingga orang yang tidak percayapun akan ke surga / tidak dihukum.

Jawaban yang bisa saudara berikan:


a)   Allah memang adalah kasih, tetapi Ia juga suci, sehingga Ia tidak bisa bersatu dengan dosa.
Yes 59:1-2 - “(1) Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar; (2) tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu”.

b)   Allah memang adalah kasih, tetapi Ia juga adil, sehingga pasti akan menghukum manusia yang berdosa.
Nahum 1:3a - TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah.

c)   Allah berulang-ulang berkata bahwa Ia akan menghukum manusia yang berdosa. Kalau akhirnya, Ia tidak melakukan hal itu, maka Ia berdusta. Tetapi Alkitab mengatakan bahwa Allah tidak mungkin berdusta.
Ibr 6:18 - “supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta, kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita”.

d)   Kitab Suci berulang-ulang berbicara tentang orang-orang yang masuk neraka.
·         Luk 16:19-31 - cerita tentang Lazarus dan orang kaya.
·         Mat 25:41,46 - “(41) Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiriNya: Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. ... (46) Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.’”.
·         Wah 21:8 - “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.’”.

11)      Orang yang saudara injili itu menolak karena ia berpendapat bahwa Allah itu kejam; mungkin ia mengatakan ini karena hidupnya penuh dengan penderitaan.

Jawaban yang bisa saudara berikan:


a)   Penderitaan masuk ke dalam dunia karena dosa manusia sendiri (bdk. Kej 3:1-19).
Allah tidak mencipta manusia dalam keadaan menderita. Mula-mula manusia bahagia, tanpa penderitaan. Tetapi karena manusia berbuat dosa, maka sebagai hukuman Allah, penderitaan masuk ke dalam dunia. Jadi, itu bukan salahnya Allah, tetapi salahnya manusia sendiri.

b)   Sekalipun manusia berdosa, Allah tetap mengasihinya; ini ditunjukkan oleh Allah melalui salib.
Ro 5:6-8 - “(6) Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. (7) Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar - tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati -. (8) Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

c)   Sekarang kamu menderita, bahkan sangat menderita. Tetapi Allah yang maha kasih itu menyediakan suatu tempat dimana penderitaan sama sekali tidak dikenal, dan tempat itu adalah surga.

Wah 21:1-4 - “(1) Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi. (2) Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. (3) Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: ‘Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umatNya dan Ia akan menjadi Allah mereka. (4) Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.’”.

Penderitaanmu hanya sementara, karena kalau kamu mau percaya kepada Yesus, maka pada saat kamu mati, kamu akan pergi ke surga, dan bebas dari semua penderitaanmu. Tetapi sebaliknya, kalau kamu tidak mau percaya kepada Yesus, maka pada saat kamu mati, kamu akan pergi ke neraka, dimana kamu akan menderita, dengan penderitaan yang jauh lebih hebat dari yang sekarang kamu alami, sampai selama-lamanya.

12)      Orang yang saudara injili itu percaya kepada Kristus, tetapi tidak mau pergi ke gereja, dibaptis dsb, karena ia takut diejek / dianiaya.

Jawaban yang bisa saudara berikan:


a)   Orang yang tidak mau mengakui Kristus, juga tidak akan diakui oleh Kristus.
Mat 10:32-33 - “(32) Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan BapaKu yang di sorga. (33) Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan BapaKu yang di sorga.’”.

b)   Kita tidak boleh takut kepada manusia; kita harus takut kepada Allah.
Mat 10:28 - “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka”.

c)   Orang penakut tercatat sebagai ranking 1 dalam daftar orang-orang yang masuk neraka.
Wah 21:8 - “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.’”.
Yang dimaksud dengan ‘orang-orang penakut’ di sini adalah orang-orang yang sekalipun sebetulnya mengerti tentang Kristus dan percaya kepadaNya, tetapi tidak mengikut Dia karena takut.

d)   Tuhan Yesus sudah terlebih dulu menderita dan mati bagi kita; seka­rang kita juga harus mau menderita dan bahkan mati bagi Dia.

e)   Tuhan Yesus sendiri akan menyertai dan menolongnya, kalau kita dimusuhi manusia.

Ibr 13:5 - “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.’”.

Maz 23:1-6 - “(1) Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. (2) Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; (3) Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena namaNya. (4) Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gadaMu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku. (5) Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. (6) Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa”.

Mat 10:17-20 - “(17) Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. (18) Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. (19) Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. (20) Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu”.

f)    Ikut Yesus memang bisa membuat kamu menderita, tetapi penderitaan itu hanya sementara. Begitu mati, kamu bahagia dan bebas dari penderitaan, selama-lamanya. Sebaliknya, kalau kamu tidak mau ikut Yesus mungkin kamu bisa enak (secara duniawi / jasmani), tetapi itu hanya sementara dan semu. Begitu kamu mati, kamu masuk neraka, dimana kamu akan menderita selama-lamanya.

13)      Orang yang saudara injili itu menolak jadi kristen karena ia pernah bersumpah untuk tidak menjadi orang kristen.

Jawaban yang bisa saudara berikan:


a)   Melanggar sumpah adalah dosa, tetapi kalau kamu percaya kepada Tuhan Yesus, dosa itu tetap akan diampuni. Sebaliknya kalau kamu memegang sumpah itu, kamu memang tidak berdosa dalam hal itu, tetapi kamu mempunyai banyak dosa-dosa lain, yang akan membawamu ke neraka selama-lamanya, karena kamu tidak mempunyai Juruselamat / Penebus dosa.

b)   Dalam Luk 16:27-31, orang kaya yang sudah ada dalam neraka itu, ingin sekali keluarganya bertobat. Orang, kepada siapa kamu telah bersumpah (kalau orang itu sudah mati), pasti juga ingin kamu bertobat / membatalkan sumpah.

14)      Orang yang saudara injili itu merasa tidak perlu mempersoalkan percaya atau tidak, karena Tuhan sudah menentukan orang yang akan masuk neraka / surga (predestinasi).

Jawaban yang bisa saudara berikan:


Predestinasi memang ada (Ef 1:4-5,11  Ro 9:10-21), tetapi kita tidak tahu siapa yang ditentukan masuk surga dan siapa yang ditentukan masuk neraka. Kita tidak boleh hidup berda­sarkan kehendak / Rencana Allah yang tidak kita ketahui. Kita harus hidup berdasarkan kehendak Allah yang dinyatakan dalam Firman Tuhan / Kitab Suci.

Ul 29:29 - “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.’”.

Dan dalam FirmanNya, Allah menghen­daki kita untuk percaya kepada Kristus.

Kis 16:31 - “Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’”.

Yoh 14:1,11 - “(1) ‘Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu. ... (11) Percayalah kepadaKu, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri”.

15)      Orang yang saudara injili itu menolak untuk percaya karena ia percaya adanya reinkarnasi.

Jawaban yang bisa saudara berikan:


a)   Reinkarnasi bertentangan dengan Ibr 9:27 - “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi”.

b)   Kalau reinkarnasi itu benar, mengapa manusia di dunia bisa makin lama makin banyak, padahal moral manusia semakin brengsek? Bukankah seharusnya makin lama makin sedikit karena manusia yang hidup jahat itu mati dan dilahirkan lagi sebagai binatang?

Kalau kita bisa menjawab keberatan orang itu dengan benar, jangan menganggap bahwa orang itu pasti akan bertobat. Pertobatan tetap merupakan pekerjaan Tuhan. Kita hanya berusaha melakukan semaximal mungkin, tetapi hasilnya tetap ada di tangan Tuhan. Karena itu, jangan ‘bersandar’ pada jawaban-jawaban terhadap keberatan-keberatan di atas; sebaliknya, tetaplah banyak berdoa dan bersandar kepada Tuhan!



ORANG KRISTEN DUNIAWI


I)  Ajaran di bawah ini dipopulerkan oleh Scoffield Reference Bible dan juga masuk dalam traktat “4 Hukum Rohani”.

Catatan: kabarnya, traktat tersebut sudah direvisi.

Menurut ajaran ini, ada 3 golongan manusia:

1)   Orang non Kristen.
Kristus ada di luar dirinya / hatinya; si Aku bertahta dalam dalam hidupnya.



 
2)   Orang Kristen duniawi.
Kristus ada di dalam dirinya / hatinya, tetapi si Aku masih tetap bertahta di dalam hidupnya, sehingga sama sekali tidak ada perubahan di dalam hidupnya.





3)   Orang Kristen rohani.
Kristus bukan hanya ada di dalam dirinya / hatinya, tetapi juga bertahta di dalam hidupnya, sedangkan si Aku turun tahta.


 
Dasar Kitab Suci yang digunakan oleh ajaran ini adalah 1Kor 2:14-3:3 dimana digunakan tiga istilah bahasa Yunani yaitu:

a)   Psuchikos - diterjemahkan sebagai ‘manusia duniawi’ dalam Kitab suci bahasa Indonesia (1Kor 2:14).

b)   Sarkikos - diterjemahkan juga sebagai ‘manusia duniawi’ dalam Kitab Suci bahasa Indonesia (1Kor 3:1).

c)   Pneumatikos - diterjemahkan sebagai ‘manusia rohani’ dalam Kitab Suci bahasa Indonesia (1Kor 3:1).

1Kor 2:14-3:3 - “(2:14) Tetapi manusia duniawi (PSUCHIKOS) tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. (2:15) Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain. (2:16) Sebab: ‘Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?’ Tetapi kami memiliki pikiran Kristus. (3:1) Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani (PNEUMATIKOS), tetapi hanya dengan manusia duniawi (SARKIKOS), yang belum dewasa dalam Kristus. (3:2) Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. (3:3) Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?”.


II)  Kesalahan dari ajaran tersebut di atas.


1)   Penafsiran yang salah dari 1Kor 3.

a)   Dalam 1Kor 3 itu Paulus menegur jemaat Korintus karena mereka hidup seperti orang-orang yang tidak percaya dalam satu segi kehidupan mereka (grup-grupan / perselisihan / iri hati - ay 3,4). Paulus tidak memaksudkan bahwa mereka hidup seperti orang kafr dalam seluruh segi kehidupan mereka.

b)   Pada waktu Paulus berbicara tentang golongan-golongan manusia, ia hanya mengajarkan adanya dua golongan.

1Kor 2:14-15 - “(14) Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. (15) Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain”.

2Kor 5:17 - “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”.

2Kor 6:14-16 - “(14) Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? (15) Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? (16) Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: ‘Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umatKu”.

Gal 5:17-24 - “(17) Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging - karena keduanya bertentangan - sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. (18) Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. (19) Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, (20) penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, (21) kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu - seperti yang telah kubuat dahulu - bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. (22) Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, (23) kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. (24) Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya”.

Ro 8:5-9 - “(5) Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. (6) Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. (7) Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. (8) Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. (9) Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus”.

c)   Menyerang ajaran tersebut dengan pertanyaan.
Kesalahan dari ajaran tersebut di atas juga dapat terlihat dari pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

1.   Apakah golongan 3 sudah tidak bertumbuh lagi dalam iman maupun kesucian? Kalau mereka masih bertumbuh, apakah lalu nanti menjadi golongan 4 yang super rohani?

2.   Siapa yang berhak menentukan orang Kristen yang mana yang masuk golongan 2 dan orang Kristen yang mana yang masuk golongan 3? Apa dasarnya? Dosa-dosa apa yang menyebabkan orang Kristen masuk golongan 2?

2)   Ajaran tersebut di atas memisahkan pengampunan dosa dan hidup / hati yang diperbaharui (Golongan ke 2 mendapat pengampunan dosa, sekalipun hidupnya / hatinya tak diperbaharui). Tetapi Kitab Suci menunjukkan bahwa pengampunan dosa tidak bisa terjadi tanpa adanya pembaharuan hati / hidup.

Charles Hodge (tentang 2Kor 6:1): “‘That ye receive not the grace of God in vain.’ What is it to receive the grace of God in vain? Some say that the meaning is to accept of the atonement of Christ, or reconciliation with God spoken of in the preceding chapter, and yet to live in sin. The favor of God is then accepted to no purpose. But this is an unscriptural idea. Justification and sanctification cannot be thus separated. A man cannot accept of reconciliation with God and live in sin; because the renunciation of sin is involved in the acceptance of reconciliation. Paul never assumes that men may accept one benefit of redemption, and reject another. They cannot take pardon and refuse sanctification [= ‘Supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima’. Apa artinya menerima kasih karunia Allah dengan sia-sia? Beberapa orang mengatakan bahwa artinya adalah menerima penebusan Kristus, atau perdamaian dengan Allah yang dibicarakan dalam pasal sebelumnya (2Kor 5), tetapi hidup dalam dosa. Dengan demikian kebaikan Allah diterima tanpa ada gunanya. Tetapi ini merupakan pandangan / kepercayaan yang tidak Alkitabiah. Pembenaran dan pengudusan tidak bisa dipisahkan seperti itu. Seseorang tidak bisa menerima perdamaian dengan Allah dan hidup dalam dosa; karena penolakan dosa tercakup dalam penerimaan perdamaian. Paulus tidak pernah menganggap bahwa manusia bisa menerima satu manfaat dari penebusan, dan menolak yang lainnya. Mereka tidak bisa menerima pengampunan dan menolak pengudusan] - ‘I & II Corinthians’, hal 529.

J. C. Ryle: “I fear it is sometimes forgotten that God has married together justification and sanctification. They are distinct and different things, beyond question, but one is never found without the other. All justified people are sanctified, and all sanctified are justified. What God has joined together let no man dare to put asunder” (= Saya takut / kuatir bahwa kadang-kadang dilupakan bahwa Allah telah menikahkan ‘pembenaran’ dan ‘pengudusan’. Tidak diragukan lagi bahwa mereka adalah 2 hal yang berbeda, tetapi yang satu tidak pernah ada / ditemukan tanpa yang lain. Semua orang yang dibenarkan juga dikuduskan, dan semua yang dikuduskan juga dibenarkan. Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia) - ‘Holiness’, hal 46.

Mari kita melihat beberapa ayat Kitab Suci yang menunjukkan hal itu.

Yer 31:31-34 - “(31) Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, (32) bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjianKu itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. (33) Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh TauratKu dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu. (34) Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.’”.

Yeh 36:24-27 - “(24) Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu. (25) Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. (26) Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. (27) RohKu akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapanKu dan tetap berpegang pada peraturan-peraturanKu dan melakukannya.

Ibr 10:15-17 - “(15) Dan tentang hal itu Roh Kudus juga memberi kesaksian kepada kita, (16) sebab setelah Ia berfirman: ‘Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka sesudah waktu itu,’ Ia berfirman pula: ‘Aku akan menaruh hukumKu di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka, (17) dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka.’”.

Catatan: bagian yang saya garis-bawahi menunjukkan hidup / hati yang diperbaharui, sedangkan bagian yang saya cetak miring (ay 17) menunjukkan pengampunan dosa yang Tuhan berikan kepada orang itu.

Kitab Suci mengajarkan bahwa pada saat seseorang dibenarkan oleh Allah, maka saat itu juga pengudusan dirinya mulai berlangsung.

Contoh:

·         Zakheus.
Luk 19:8-10 - “(8) Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: ‘Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.’ (9) Kata Yesus kepadanya: ‘Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. (10) Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.’”.

·         Penjahat yang bertobat di kayu salib.
Mat 27:44 - “Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencelaNya demikian juga.
Mark 15:32 - “Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu, supaya kita lihat dan percaya.’ Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga.
Luk 23:39-42 - “(39) Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: ‘Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diriMu dan kami!’ (40) Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: ‘Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? (41) Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.’ (42) Lalu ia berkata: ‘Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.’”.

Dalam Mat 27:44 / Mark 15:32 dikatakan bahwa kedua penjahat itu mencela Yesus, tetapi dalam Luk 23:39-42 dikatakan bahwa hanya satu penjahat yang menghujat Yesus, sedangkan yang satunya justru menegur temannya itu, dan lalu menyatakan imannya kepada Yesus.
Kelihatannya Mat 27:44 / Mark 15:32 bertentangan dengan Luk 23:39-42, tetapi kalau kita mempercayai bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan, maka kita tidak boleh mempercayai adanya pertentangan yang sungguh-sungguh dalam Alkitab. Kita harus berusaha untuk mengharmoniskan hal-hal yang kelihatannya bertentangan, dan ‘pertentangan’ ini memang bisa dijelaskan / diharmoniskan. Bagaimana cara mengharmoniskannya? Dengan menafsirkan bahwa Matius dan Markus hanya menceritakan bagian awalnya, sedangkan Lukas hanya menceritakan bagian akhirnya. Jadi, mula-mula kedua penjahat itu mencela Yesus; dan inilah yang diceritakan oleh Matius dan Markus (Mat 27:44 / Mark 15:32). Tetapi belakangan / akhirnya, mungkin karena melihat sikap Yesus dalam penderitaan yang begitu berbeda dengan orang-orang lain, salah satu dari penjahat-penjahat itu bertobat, dan yang satunya bahkan menjadi bertambah jahat sehingga lalu menghujat Yesus, dan ini menyebabkan penjahat yang bertobat itu menegur dia. Ini yang diceritakan oleh Lukas (Luk 23:39-42).
Jadi, penjahat yang bertobat itu berubah. Ia baru bertobat, tetapi langsung sudah menunjukkan perubahan. Kalau tadinya ia, bersama dengan penjahat yang satunya, mencela / menghujat Kristus, maka sekarang ia membela Kristus dan mencela penjahat satunya, yang tetap menghujat Kristus.

3)   Ajaran-ajaran tersebut di atas tidak membedakan ‘iman sejati’ dan ‘iman palsu’. Golongan 2 dan golongan 3 sama-sama dianggap beriman.
Kitab Suci jelas menunjukkan adanya iman yang palsu.

Yoh 2:23-24 - “(23) Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam namaNya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakanNya. (24) Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diriNya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua.

Luk 8:13 - “Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.

Yak 2:14,17,20,26 - “(14) Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? ... (17) Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. ... (20) Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? ... (26) Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Berdasarkan Yak 2 ini maka seharusnya kita menganggap iman dari golongan 2 itu adalah iman yang mati / kosong / palsu. Dengan kata lain, mereka sebetulnya tidak beriman!

4)   Ajaran tersebut di atas meremehkan pertobatan / dosa, karena golongan 2 yang tidak bertobat dari dosa-dosanya tetap dianggap selamat / masuk surga.
Ini jelas bertentangan dengan Kitab Suci yang begitu menekankan pertobatan.

Gal 5:16-21 - “(16) Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. (17) Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging - karena keduanya bertentangan - sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. (18) Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. (19) Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, (20) penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, (21) kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu - seperti yang telah kubuat dahulu - bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Ro 6:1-2,11-13 - “(1) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? (2) Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? ... (11) Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. (12) Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. (13) Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran”.

2Kor 5:15 - “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka”.

Kis 8:22 - “Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini”.

5)   Ajaran tersebut di atas memisahkan penerimaan Yesus sebagai Juruselamat dan penerimaan Yesus sebagai Tuhan (pemilik, penguasa) dalam hidup kita.
Kitab Suci tidak memisahkan dua hal tersebut. Dalam pemberitaan Natal yang pertama-kalinya, Yesus sudah diberitakan sebagai Juruselamat dan sebagai Tuhan.

Luk 2:11 - “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud”.

Juga penginjilan yang dilakukan oleh rasul-rasul menekankan Yesus bukan hanya sebagai Juruselamat tetapi juga sebagai Tuhan.

Kis 2:36 - “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.’”.

Kis 16:31 - “Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’”.

Ro 10:9 - “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan”.

2Kor 4:5 - “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus”.

Dalam Kitab Kisah Rasul yang menunjukkan penyebaran kekristenan dan pemberitaan Injil pada abad pertama, kata ‘Juruselamat’ hanya muncul 2 x (Kis 5:31  13:23), sedangkan kata ‘Tuhan’ muncul sebanyak 92 x, kata ‘Tuhan Yesus’ muncul sebanyak 13 x, dan kata ‘Tuhan Yesus Kristus’ muncul sebanyak 6 x. Ini menunjukkan dengan jelas bahwa dalam penginjilan, Yesus harus ditekankan sebagai ‘Tuhan’, dan bukan hanya sebagai ‘Juruselamat’.

Jadi, kalau seseorang hanya menerima Yesus sebagai Juruselamat, tetapi tidak sebagai Tuhan, ia sebetulnya belum merupakan orang kristen yang sejati.

Kesimpulan:


Sekalipun memang ada tingkatan-tingkatan kerohanian (bayi, dewasa, dsb), tetapi Kitab Suci tidak memberikan tembok pemisah antara 2 golongan orang Kristen.


IMAN

I)  Macam-macam iman.


1)   Historical faith (iman yang bersifat sejarah).
·         Orang yang mempunyai iman jenis ini hanya menerima kebenaran tentang Kristus dengan cara yang sama seperti ia menerima ­fakta-fakta sejarah tentang Napoleon, Hitler, dsb.
·         Ini hanya merupakan pengertian intelektual tentang kebenaran, tetapi tidak ada tujuan moral / rohani (tidak ada tujuan supaya bisa dekat pada Tuhan, dosa diampuni, masuk surga, hidup suci, dsb).
·         Orang yang mempunyai iman jenis ini tidak mempunyai hubun­gan pribadi dengan Kristus.
·         Iman seperti ini bisa timbul dari tradisi, pendidikan, lingkungan / keluarga kristen.

2)   Miraculous faith (iman mujijat).
·         Merupakan kepercayaan / keyakinan bahwa Allah akan melakukan mujijat untuk dia / untuk kepentingannya / melalui dirinya (Mat 15:28  Mat 17:20).
·         Iman seperti ini bukan iman yang menyelamatkan (saving faith). Iman seperti ini memang bisa disertai oleh saving faith seperti Mat 8:10-13, tetapi bisa juga tidak, seperti dalam Luk 17:11-19 (untuk yang 9 orang kusta).

3)   Temporary faith (iman sementara).
·         Berbeda dengan historical faith, karena di sini emosi ikut dilibatkan.
Bdk. Mat 13:20-21 - “(20) Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. (21) Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad”.
·         Tujuan / motivasi orangnya adalah kesenangan / kenikmatan pribadi, bukan kemuliaan Allah.
·         Kadang-kadang, atau bahkan seringkali, iman ini sukar dibedakan dari saving faith / iman yang menyelamatkan.
·         Kalau dalam Kitab Suci diceritakan tentang orang-orang yang ‘murtad’ (seolah-olah hilang keselamatannya), seperti misalnya Ibr 6:4-6, maka iman dari orang-orang seperti itu adalah temporary faith (iman sementara).

Ibr 6:4-6 - “(4) Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, (5) dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, (6) namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghinaNya di muka umum”.

Bandingkan dengan 1Yoh 2:18-19 - “(18) Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. (19) Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita”.

4)   True saving faith (iman yang menyelamatkan yang benar).

a)         Iman ini harus didahului oleh regeneration (= kelahiran kembali).

·         Kitab Suci menggambarkan manusia sebagai mati rohani.
Yoh 10:10b - “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”.
Yang Yesus maksudkan dengan ‘mereka’ adalah orang-orang yang saat itu masih hidup (secara jasmani). Jadi, pada waktu Yesus mengatakan bahwa Ia datang supaya mereka mempunyai hidup, maksudnya adalah hidup secara rohani. Jadi pada saat itu mereka sedang dalam keadaan mati secara rohani.
Ef 2:1 - “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu”.

·         Karena itu, ia tidak akan mau dan tidak akan bisa memberi tanggapan terhadap Firman Tuhan / Injil.

1Kor 2:14 - “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani”.

Yoh 6:44,65 - “(44) Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. ... (65) Lalu Ia berkata: ‘Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.’”.

·         Jadi supaya manusia yang mati rohani itu bisa dan mau percaya kepada Yesus, Roh Kudus harus melahirkan dia kembali. Kelahiran kembali merupakan pekerjaan Roh Kudus saja. Jadi di sini kita bisa melihat dengan jelas akan pentingnya doa dalam Pemberitaan Injil. Tanpa doa, Roh Kudus tidak akan bekerja, dan tanpa pekerjaan Roh Kudus, orang yang kita injili itu tidak akan bisa / mau percaya kepada Yesus.

b)         Iman merupakan aktivitas manusia.
Memang iman bisa ada karena pekerjaan Roh Kudus dan iman merupakan anugerah Allah.

1Kor 12:3b - “tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan’, selain oleh Roh Kudus”.

Mat 16:15-17 - “(15) Lalu Yesus bertanya kepada mereka: ‘Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?’ (16) Maka jawab Simon Petrus: ‘Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!’ (17) Kata Yesus kepadanya: ‘Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan BapaKu yang di sorga.

Fil 1:29 - “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”.

Tetapi ingat bahwa Allah tidak beriman untuk kita. Kitalah yang beriman!

II) Elemen-elemen iman yang benar.


1)   Pikiran.

a)   Orang yang beriman itu harus mempunyai pengetahuan / pengertian yang benar tentang Injil / dasar-dasar kekristenan.
Kalau dia tidak pernah mendengar Injil yang benar dan mengertinya, dia tidak mungkin bisa mempunyai iman yang benar.

Ro 10:13-14,17 - “(13) Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. (14) Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya? ... (17) Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

Mat 13:23 - “Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.’”.

Perhatikan bahwa ayat ini ada dalam kontext perumpamaan tentang seorang penabur yang menabur di 4 golongan tanah. Tanah yang baik ini adalah satu-satunya yang dikatakan ‘mendengar dan mengerti.

Karena itu, saya tidak bisa menerima penginjilan yang dilakukan terhadap orang-orang yang tidak bisa mengerti seperti:

·         Orang gila.
Orang yang betul-betul gila tidak bisa mengerti pembicaraan kita dan karena itu juga tidak mungkin bisa diinjili. Kalau gilanya bisa disembuhkan, barulah dia bisa diinjili.

·         Orang yang idiot.
Ini berbeda dengan orang yang bodoh / ber-IQ rendah. Kalau sekedar bodoh, mempunyai IQ rendah, masih bisa diinjili dengan cara yang sederhana (diberi banyak illustrasi). Tetapi orang yang betul-betul idiot, sama sekali tidak bisa diajak bicara, karena mereka tidak bisa mengertinya. Jadi, mereka tidak mungkin bisa diinjili.

·         Anak dibawah 3 tahun.
Sekalipun anak usia 3 tahun sudah bisa diajak bicara, tetapi pembicaraan tentang dosa, Allah, penebusan, iman, pertobatan dsb, merupakan hal-hal yang terlalu abstrak baginya untuk bisa dimengerti. Mungkin ada perkecualiannya, yaitu kalau IQ anak itu sangat tinggi sehingga pada usia itu sudah bisa mengerti. Tetapi secara umum tidak mungkin melakukan penginjilan terhadap anak di bawah 3 tahun.

b)   Orang yang beriman itu harus percaya / setuju secara intelektual pada apa yang diketahui / dimengerti di atas.

2)   Emosi / perasaan.
Tidak cukup kita hanya mengerti dan percaya secara inte­lektual saja. Perasaan juga harus terlibat. Misalnya: sedih karena dosa (bandingkan dengan Petrus yang menangis setelah menyangkal Yesus), merasakan kasih Allah, merasa sukacita karena penebusan Kristus, merasa yakin akan keselamatan, dsb.

3)   Kemauan / kehendak.
Sekalipun pikiran sudah mengerti dan percaya, perasaan sudah terlibat, tetapi kalau kita tidak mau ikut Kristus, kita bukan orang kristen.

Bdk. Mat 19:21-22 - “(21) Kata Yesus kepadanya: ‘Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.’ (22) Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya”.

Seandainya pemuda kaya itu tidak mempercayai kebenaran kata-kata Yesus, maka tidak mungkin ia pergi dengan sedih. Bahwa ia pergi dengan sedih, jelas menunjukkan bahwa sebenarnya ia percaya bahwa kata-kata Yesus itu benar. Tetapi ia lebih mencintai hartanya dari pada hidup kekal itu, dan karena itu ia tetap tidak mau ikut Yesus, dan ia pergi dengan sedih.

Dalam Luk 15:17-20, pertobatan anak bungsu mengandung 3 elemen tersebut di atas.

Luk 15:17-21 - “(17) Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. (18) Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, (19) aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. (20) Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. (21) Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa”.

Kata ‘menyadari’ dalam ay 17 menunjukkan bahwa elemen pikiran tercakup, dan pemikirannya dalam ay 18-19 jelas menunjukkan bahwa elemen perasaan juga tercakup. Lalu tindakan dan kata-katanya dalam ay 20-21 menunjukkan bahwa elemen kehendak juga ada dalam dirinya.


III) ‘TO BELIEVE’ dan ‘TO TRUST’.


‘To believe’ = percaya.
‘To trust’ = mempercayakan.
Tidak adanya ‘trust’ sebetulnya menunjukkan ‘unbelief’ / ‘ketidak-percayaan’.

Illustrasi: Seorang pemain akrobat di atas air terjun Niagara mengatakan bahwa ia bisa membawa seseorang di atas kereta dorong menyeberangi tambang yang melintasi air terjun. Lalu ia bertanya kepada penonton: ‘Percayakah kamu akan hal itu?’. Penonton serempak menjawab: ‘Percaya!’. Lalu ia berkata kepada salah satu dari mereka: ‘Kamu naik ke atas kereta ini’. Orang itu tersentak, dan ia menolak. Ini menunjukkan bahwa ia tidak ‘trust’ / mempercayakan dirinya kepada si pemain akrobat, dan juga menunjukkan bahwa sebetulnya ia tidak percaya kata-kata si pemain akrobat itu.
Kita baru bisa disebut mempunyai iman yang sejati kalau kita bukan sekedar percaya, tetapi kalau kita mau mempercayakan hidup kita setelah kematian, dan juga segala dosa-dosa kita, kepada Kristus.


IV) Object of Faith (Obyek dari iman).


Obyek dari iman adalah Yesus Kristus sendiri. Jadi, kita harus percaya kepada Kristus.

Ada perbedaan tentang 3 hal di bawah ini:

1)   Percaya tentang Kristus (misalnya: tentang kelahiranNya, kematianNya, kebangkitanNya dsb). Ini perlu tetapi tidak cukup!

2)   Percaya pada ajaran Kristus (misalnya: tentang mengasihi Allah dan sesama manusia). Ini juga penting tetapi tidak cukup!

3)   Percaya kepada diri Kristus sendiri. Kalau ini ada barulah bisa timbul ‘trust’.


V) Iman dan keyakinan keselamatan.


1)   Kekristenan bisa memberikan keyakinan keselamatan.
Semua agama lain, dan juga sekte-sekte / aliran-aliran sesat dalam kekristenan, yang mengandalkan perbuatan baiknya untuk selamat, tidak akan bisa mempunyai keyakinan keselamatan. Mengapa? Karena mereka tidak mungkin bisa tahu sebanyak apa perbuatan baik mereka, dan juga sebanyak apa dosa-dosa mereka, dan yang mana yang lebih banyak.
Tetapi kekristenan hanya mengandalkan iman kepada Yesus Kristus untuk selamat. Kita bisa tahu kalau kita beriman, dan karena itu kita bisa mempunyai keyakinan keselamatan.

2)   Keyakinan keselamatan harus ada!
Orang yang betul-betul percaya kepada Kristus harus mempunyai keyakinan keselamatan, artinya mereka harus yakin masuk surga pada saat mereka mati.
Ada orang-orang yang berkata bahwa mereka percaya kalau Kris­tus sudah mati untuk semua dosa-dosa mereka, baik dosa-dosa yang lalu, yang sekarang, maupun yang akan datang, tanpa kecuali. Tetapi anehnya, mereka masih takut-takut bahwa kalau mereka mati akan dihukum Tuhan / masuk neraka. Ini jelas merupakan suatu kontradiksi. Ini menunjukkan bahwa keper­cayaannya bahwa Kristus mati untuk semua dosanya, tidak sungguh-sungguh. Kalau mereka memang percaya bahwa Kristus telah mati untuk membayar semua dosa mereka tanpa kecuali, lalu apa / dosa yang mana yang menyebabkan mereka harus dihukum / masuk neraka? ‘Percaya bahwa Kristus mati untuk semua dosanya’ dan ‘tidak yakin masuk surga / masih takut-takut akan masuk neraka’ merupakan 2 hal yang bertentangan, yang tidak bisa ada bersama-sama dalam diri satu orang. Jadi, orang kristen yang sejati, yang betul-betul percaya bahwa Yesus telah membayar semua dosanya, harus yakin bahwa kalau ia mati, ia pasti akan masuk surga.

1Yoh 5:13 - “Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal”.
Kata ‘tahu’ ini menunjukkan suatu keyakinan bahwa ia memiliki hidup kekal.

Ro 8:16 - “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah”.

Calvin: “Paul means, that the Spirit of God gives us such a testimony, that when he is our guide and teacher, our spirit is made assured of the adoption of God; for our mind of its own self, without the preceding testimony of the Spirit, could not convey to us this assurance” (= Paulus memaksudkan bahwa Roh Allah memberi kita kesaksian sedemikian rupa, sehingga pada saat Ia adalah pembimbing dan guru kita, roh kita dibuat yakin tentang pengadopsian Allah; karena pikiran kita sendiri, tanpa kesaksian lebih dulu dari Roh, tidak bisa memberikan keyakinan ini kepada kita) - hal 299.

Memang ayat ini, maupun penafsiran Calvin, tidak berbicara tentang keyakinan keselamatan tetapi keyakinan tentang keberadaan kita sebagai anak-anak Allah. Tetapi kedua hal itu pasti berhubungan. Kalau kita yakin bahwa kita adalah anak-anak Allah, maka kita juga harus yakin bahwa kita akan masuk ke surga pada saat kita mati.

Ada banyak orang yang punya ‘hobby maju ke depan’ pada waktu ada ‘altar call’ (= pemanggilan untuk maju ke depan bagi yang mau percaya / menerima Yesus). Mereka berulang-ulang / selalu maju ke depan untuk menerima Yesus. Itu justru menunjukkan bahwa mereka tidak mempunyai keyakinan keselama­tan dan jelas belum sungguh-sungguh percaya.

3)   Hanya Calvinisme yang betul-betul memberikan keyakinan keselamatan.
Arminianisme sebetulnya tidak memberikan keyakinan keselamatan, karena Arminianisme mempercayai bahwa keselamatan bisa hilang. Jadi, paling-paling para pengikut Arminianisme bisa yakin bahwa kalau saat ini mereka mati, mereka akan masuk surga. Tetapi kalau mereka mati tahun depan, atau 10 tahun lagi, mereka tidak bisa yakin. Mengapa? Karena mereka beranggapan bahwa mereka bisa saja murtad, lalu terhilang dan masuk neraka.
Saya tidak bisa mengerti bagaimana orang Kristen yang mengerti betapa mengerikannya neraka, bisa mempunyai damai, dan bahkan bisa tidur, dengan kepercayaan seperti ini! Saya tidak ingin saudara mempunyai kepercayaan seperti ini. Saya sendiri adalah seorang Calvinist, yang mempercayai bahwa keselamatan tidak bisa hilang, sehingga saya percaya bahwa kapanpun saya mati, saya pasti masuk surga.

Dasar Kitab Suci bahwa keselamatan tidak bisa hilang:
·         Yoh 6:39 - “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikanNya kepadaKu jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman”.
·         Yoh 10:27-30 - “(27) Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, (28) dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. (29) BapaKu, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. (30) Aku dan Bapa adalah satu.’”.
·         Yoh 11:25-26 - “(25) Jawab Yesus: ‘Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, (26) dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?’”.
·         Ro 5:8-10 - “(8) Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. (9) Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darahNya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. (10) Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian AnakNya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidupNya!”.
·         Ro 8:29-30 - “(29) Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (30) Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya.
·         Ro 8:38-39 - “(38) Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, (39) atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
·         1Kor 1:8-9 - “(8) Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus. (9) Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan AnakNya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.
·         2Kor 1:21-22 - “(21) Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, (22) memeteraikan tanda milikNya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.
·         Fil 1:6 - “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus”.
·         1Pet 1:5 - “Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir”.
·         1Pet 5:10 - “Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaanNya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya”.
·         Yudas 24 - “Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaanNya”.

Beberapa serangan terhadap doktrin ini dan jawabannya:

a)   Bagaimana dengan orang yang ‘murtad’?

Jawab: Orang yang murtad menunjukkan bahwa ia tidak pernah sungguh-sungguh percaya kepada Kristus.

Yoh 8:31 - “Maka kataNya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepadaNya: ‘Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu”.
Kalau seseorang murtad, maka jelas bahwa ia tidak tetap dalam firman. Dan kalau ia tidak tetap dalam firman, menurut kata-kata Yesus di atas ini, ia bukan benar-benar murid Yesus! Hal yang sama ditegaskan oleh 2 text di bawah ini.

1Yoh 2:18-19 - “(18) Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. (19) Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita”.

2Yoh 9 - “Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak”.

Mat 24:24 - “Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga”.
Kata-kata ‘sekiranya mungkin’ jelas menunjukkan bahwa itu tidak mungkin! Setan menggunakan banyak hal untuk menyesatkan manusia, tetapi kalau orang itu adalah orang pilihan, ia tidak mungkin disesatkan!

b)   Mat 7:21-23 menunjukkan adanya orang-orang kristen yang tidak selamat.

Mat 7:21-23 - “(21) Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. (22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? (23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!’”.

Jawab:

¨       Mat 7:21-23 tidak menunjuk kepada orang kristen yang sejati, tetapi menunjuk kepada orang kristen KTP, yang belum pernah sungguh-sungguh percaya kepada Kristus. Karena itu, dalam ay 23, Kristus berkata: ‘Aku tidak pernah mengenal kamu’. Seandainya orang itu pernah menjadi orang kristen yang sejati dan lalu murtad, Yesus tidak bisa mengatakan ‘Aku tidak pernah mengenal kamu’. Ia seharusnya mengatakan ‘dulu Aku kenal kamu, tetapi sekarang tidak’!

¨       Disamping itu kalau saudara melihat seluruh kontext, yaitu Mat 7:15-23, maka saudara bisa melihat dengan jelas bahwa dalam seluruh kontext ini Yesus membicarakan nabi-nabi palsu (ay 15), dan karena itu jelas menunjuk pada orang, yang sekalipun mempunyai jabatan tinggi, tetapi adalah orang kristen KTP.

Mat 7:15-23 - “(15) ‘Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. (16) Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? (17) Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. (18) Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. (19) Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. (20) Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (21) Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. (22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? (23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!’”.

c)   Bagaimana dengan adanya perintah untuk bertekun sampai mati, seperti dalam Wah 2:10?

Wah 2:10 - “Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.

Bdk. Mat 24:13 - “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat”.

Ayat-ayat ini diartikan sebagai berikut oleh orang-orang Arminian: orang-orang yang setia sampai mati / bertahan sampai pada kesudahannya akan menerima mahkota / akan selamat. Jadi, kalau seseorang tidak setia sampai mati / tidak bertahan sampai kesudahannya, ia tidak akan menerima mahkota / tidak akan selamat.

Jawab:
Perintah ini diberikan oleh Allah kepada kita, karena sekalipun Allah berjanji untuk terus ‘memegang’ kita, sehingga keselamatan kita tidak mungkin hilang, tetapi pada saat yang sama, Allah menghen­daki kita untuk berusaha. Jaminan bahwa keselamatan tidak bisa hilang, sama sekali tidak boleh dijadikan alasan untuk hidup seenak kita. Kita harus berusaha untuk memelihara keselamatan kita seakan-akan keselamatan itu bisa hilang.
Hal yang sama terjadi pada waktu Allah menjamin untuk mencukupi kebutuhan hidup anak-anakNya (Mat 6:25-34). Ia tetap mengatakan bahwa kita harus rajin bekerja seperti semut (Amsal 6:6-11), dan kalau seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (2Tes 3:10). Jadi di satu sisi Allah memberikan jaminan supaya kita tidak perlu kuatir, tetapi di sisi lain Allah memberikan kita tanggung jawab!
Dalam urusan keselamatan, terjadi hal yang sama. Di satu sisi Allah memberikan jaminan bahwa keselamatan tidak bisa hilang. Tetapi di sisi lain Ia memberikan kita tanggung jawab untuk menjaga / memelihara keselamatan tersebut!

Illustrasi: Bacalah Kis 27:14-44 - “(14) Tetapi tidak berapa lama kemudian turunlah dari arah pulau itu angin badai, yang disebut angin ‘Timur Laut’. (15) Kapal itu dilandanya dan tidak tahan menghadapi angin haluan. Karena itu kami menyerah saja dan membiarkan kapal kami terombang-ambing. (16) Kemudian kami hanyut sampai ke pantai sebuah pulau kecil bernama Kauda, dan di situ dengan susah payah kami dapat menguasai sekoci kapal itu. (17) Dan setelah sekoci itu dinaikkan ke atas kapal, mereka memasang alat-alat penolong dengan meliliti kapal itu dengan tali. Dan karena takut terdampar di beting Sirtis, mereka menurunkan layar dan membiarkan kapal itu terapung-apung saja. (18) Karena kami sangat hebat diombang-ambingkan angin badai, maka pada keesokan harinya mereka mulai membuang muatan kapal ke laut. (19) Dan pada hari yang ketiga mereka membuang alat-alat kapal dengan tangan mereka sendiri. (20) Setelah beberapa hari lamanya baik matahari maupun bintang-bintang tidak kelihatan, dan angin badai yang dahsyat terus-menerus mengancam kami, akhirnya putuslah segala harapan kami untuk dapat menyelamatkan diri kami. (21) Dan karena mereka beberapa lamanya tidak makan, berdirilah Paulus di tengah-tengah mereka dan berkata: ‘Saudara-saudara, jika sekiranya nasihatku dituruti, supaya kita jangan berlayar dari Kreta, kita pasti terpelihara dari kesukaran dan kerugian ini! (22) Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bertabah hati, sebab tidak seorangpun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini. (23) Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milikNya, berdiri di sisiku, (24) dan ia berkata: Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; dan sesungguhnya oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat karena engkau. (25) Sebab itu tabahkanlah hatimu, saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan kepadaku. (26) Namun kita harus mendamparkan kapal ini di salah satu pulau.’ (27) Malam yang keempat belas sudah tiba dan kami masih tetap terombang-ambing di laut Adria. Tetapi kira-kira tengah malam anak-anak kapal merasa, bahwa mereka telah dekat daratan. (28) Lalu mereka mengulurkan batu duga, dan ternyata air di situ dua puluh depa dalamnya. Setelah maju sedikit mereka menduga lagi dan ternyata lima belas depa. (29) Dan karena takut, bahwa kami akan terkandas di salah satu batu karang, mereka membuang empat sauh di buritan, dan kami sangat berharap mudah-mudahan hari lekas siang. (30) Akan tetapi anak-anak kapal berusaha untuk melarikan diri dari kapal. Mereka menurunkan sekoci, dan berbuat seolah-olah mereka hendak melabuhkan beberapa sauh di haluan. (31) Karena itu Paulus berkata kepada perwira dan prajurit-prajuritnya: ‘Jika mereka tidak tinggal di kapal, kamu tidak mungkin selamat.’ (32) Lalu prajurit-prajurit itu memotong tali sekoci dan membiarkannya hanyut. (33) Ketika hari menjelang siang, Paulus mengajak semua orang untuk makan, katanya: ‘Sudah empat belas hari lamanya kamu menanti-nanti saja, menahan lapar dan tidak makan apa-apa. (34) Karena itu aku menasihati kamu, supaya kamu makan dahulu. Hal itu perlu untuk keselamatanmu. Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan sehelaipun dari rambut kepalanya.’ (35) Sesudah berkata demikian, ia mengambil roti, mengucap syukur kepada Allah di hadapan semua mereka, memecah-mecahkannya, lalu mulai makan. (36) Maka kuatlah hati semua orang itu, dan merekapun makan juga. (37) Jumlah kami semua yang di kapal itu dua ratus tujuh puluh enam jiwa. (38) Setelah makan kenyang, mereka membuang muatan gandum ke laut untuk meringankan kapal itu. (39) Dan ketika hari mulai siang, mereka melihat suatu teluk yang rata pantainya. Walaupun mereka tidak mengenal daratan itu, mereka memutuskan untuk sedapat mungkin mendamparkan kapal itu ke situ. (40) Mereka melepaskan tali-tali sauh, lalu meninggalkan sauh-sauh itu di dasar laut. Sementara itu mereka mengulurkan tali-tali kemudi, memasang layar topang, supaya angin meniup kapal itu menuju pantai. (41) Tetapi mereka melanggar busung pasir, dan terkandaslah kapal itu. Haluannya terpancang dan tidak dapat bergerak dan buritannya hancur dipukul oleh gelombang yang hebat. (42) Pada waktu itu prajurit-prajurit bermaksud untuk membunuh tahanan-tahanan, supaya jangan ada seorangpun yang melarikan diri dengan berenang. (43) Tetapi perwira itu ingin menyelamatkan Paulus. Karena itu ia menggagalkan maksud mereka, dan memerintahkan, supaya orang-orang yang pandai berenang lebih dahulu terjun ke laut dan naik ke darat, (44) dan supaya orang-orang lain menyusul dengan mempergunakan papan atau pecahan-pecahan kapal. Demikianlah mereka semua selamat naik ke darat”.

Dalam ay 22-25 (perhatikan bagian yang saya garis-bawahi) terlihat adanya jaminan bahwa mereka semua pasti selamat. Tetapi dalam ay 26,31,34a (perhatikan bagian yang saya cetak miring) Paulus tetap memberikan hal-hal tertentu yang harus mereka lakukan supaya selamat. Lalu dalam ay 34b (perhatikan bagian yang saya garis-bawahi) ia lagi-lagi memberikan jaminan bahwa mereka semua pasti selamat.
Apakah Paulus mengatakan hal-hal yang saling bertentangan? Tidak! Semua ini menunjukkan bahwa sekalipun ada jaminan keselamatan dari Allah, tetapi hal ini tidak membuang tanggung jawab mereka untuk melakukan hal yang terbaik bagi  keselamatan mereka.

Memang cerita dalam Kis 27 ini berurusan dengan keselamatan jasmani. Tetapi dalam urusan keselamatan rohani berlaku hal yang sama. Allah menjamin bahwa keselamatan tidak bisa hilang. Tetapi ini tidak membuang tanggung jawab kita untuk melakukan hal yang terbaik demi keselamatan kita!

Catatan: serangan-serangan dari pihak Arminianisme yang saya bahas di sini hanyalah serangan-serangan yang paling umum saja. Masih ada serangan-serangan lain yang tidak saya bahas di sini. Kalau saudara ingin mempelajari tentang hal ini dengan lebih mendalam / terperinci, bacalah buku saya yang berjudul ‘keselamatan tidak bisa hilang’.

4)   ‘Yakin masuk surga’ bukan merupakan suatu kesombongan!
Kita harus membedakan antara ‘kesombongan’ dan ‘keyakinan’. Kalau kita yakin bahwa kekristenan itu yang paling benar, atau bahwa Kitab Suci kita adalah satu-satunya Kitab Suci yang benar, atau bahwa kalau mati kita pasti masuk surga, maka itu merupakan suatu keyakinan, bukan suatu kesombongan.
Disamping itu, kita yakin masuk surga, bukan karena kita merasa hidup kita baik, tetapi karena kita yakin bahwa semua dosa kita telah ditebus / dibayar oleh Kristus. Kalau kita yakin masuk surga berdasarkan kesalehan kita sendiri, maka itu memang merupakan kesombongan. Tetapi kalau kita yakin masuk surga karena percaya pada penebusan Kristus, maka itu jelas bukan merupakan kesombongan.
Karena itu, pada saat saudara menyatakan keyakinan bahwa kalau saudara mati saudara pasti masuk surga, tambahilah pernyataan itu dengan kata-kata seperti ini: “Tetapi saya yakin masuk surga bukan karena saya merasa diri saya baik. Saya bukan orang baik. Saya adalah orang yang berdosa, bahkan sangat berdosa. Tetapi saya tetap yakin bahwa kalau saya mati, saya pasti masuk surga, karena saya percaya bahwa semua dosa saya sudah dibayar oleh Kristus, sehingga tidak ada yang harus saya bayar sendiri”.





Apendix

 

PEMBAHASAN YAKOBUS 2:14-26


Yak 2:14-26 - “(14) Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? (15) Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, (16) dan seorang dari antara kamu berkata: ‘Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!’, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? (17) Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. (18) Tetapi mungkin ada orang berkata: ‘Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan’, aku akan menjawab dia: ‘Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.’ (19) Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. (20) Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? (21) Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? (22) Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. (23) Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: ‘Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ Karena itu Abraham disebut: ‘Sahabat Allah.’ (24) Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. (25) Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain? (26) Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati”.


I) ‘Pertentangan’ antara Yakobus dengan Paulus.


Kalau kita sudah pernah membaca surat-surat Paulus, maka kita akan melihat bahwa kelihatannya bagian surat Yakobus ini (khususnya yang saya garis-bawahi) ber­tentangan dengan banyak bagian surat-surat Paulus.
Contoh:

·         Ro 3:28 kelihatannya bertentangan dengan Yak 2:24.
Ro 3:28 - “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat”.
Yak 2:24 - “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman”.

·         Ro 4:1-3 dan Gal 3:6 kelihatannya bertentangan dengan Yak 2:21.
Ro 4:1-3 - “(1) Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? (2) Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. (3) Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? ‘Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’”.
Gal 3:6 - “Secara itu jugalah Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran”.
Yak 2:21 - “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?”.
 
Ada beberapa hal yang perlu dimengerti untuk bisa memperdamai­kan / mengharmoniskan Paulus dan Yakobus:

1)   Jangan cepat-cepat menilai bahwa dalam Yak 2:14-26 ini Yakobus mengajarkan keselamatan / pembenaran karena perbuatan baik, atau keselamatan / pembenaran karena iman + perbuatan baik.
Coba perhatikan bagian-bagian ini:

a)   Yak 2:21,25 - “ (21) Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? ... (25) Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?”.
Dari bagian ini kelihatannya Yakobus mengajarkan keselamatan / pembenaran karena perbuatan baik.

b)   Yak 2:22,24 - “(22) Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. ... (24) Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.
Dari bagian ini kelihatannya Yakobus mengajarkan keselamatan / pembenaran karena iman + perbuatan baik.

c)   Yak 2:23 - “Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: ‘Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ Karena itu Abraham disebut: ‘Sahabat Allah.’”.
Dari bagian ini kelihatannya Yakobus mengajarkan keselamatan / pembenaran karena iman. Di sini, sama seperti Paulus dalam Ro 4:3 dan Gal 3:6, ia mengutip Kej 15:6, yang menunjukkan bahwa Abraham diselamatkan / dibenarkan oleh iman.
Juga, kalau dalam ay 21 kelihatannya ia mengajarkan bahwa Abraham diselamatkan / dibenarkan karena perbuatan baiknya (yaitu mempersembahkan Ishak), maka di sini Yakobus menyatakan berdasarkan Kej 15:6 bahwa Abraham diselamatkan / dibenarkan karena iman.

Sekarang, bandingkan ketiga bagian di atas ini. Apakah Yakobus begitu bodoh sehingga bertentangan dengan dirinya sendiri, dengan mengajarkan 3 macam ajaran yang berbeda / saling bertentangan dalam satu text?
Hal ini harus kita renungkan dan pertimbangkan sebelum kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa Yakobus mengajarkan keselamatan karena perbuatan baik, atau keselamatan karena iman + perbuatan baik.

2)   Adanya perbedaan tujuan antara Paulus dan Yakobus.

a)   Paulus menuliskan suratnya untuk orang-orang yang terpengaruh oleh Yudaisme / ajaran Yahudi yang menekankan keselamatan karena perbuatan baik (bdk. Kis 15:1-2). Karena itu Paulus justru menekankan habis-habisan bahwa hanya iman, dan bukan perbuatan baik, yang menyebabkan kita diselamatkan (Ro 3:27-28  Gal 2:16,21  Gal 3:9,11  Ef 2:8-9  Fil 3:8b-9).
Catatan: karena itu hati-hati dengan orang yang menganggap bahwa kekristenan itu tidak terpisahkan dari Yudaisme, atau bahwa Yudaisme adalah landasan kekristenan. Ini salah sama sekali!

b)   Tetapi Yakobus menulis kepada orang-orang yang sekalipun mengaku sebagai orang kristen, tetapi hidupnya sama sekali tidak mirip hidup kristen. Karena itu ia justru menekankan pentingnya perbuatan baik sebagai bukti dari iman yang sejati (Yak 2:14-26).

3)   Adanya perbedaan penggunaan istilah.
Artinya, sekalipun mereka berdua menggunakan istilah-istilah yang sama, tetapi artinya berbeda.

a)         Istilah ‘pekerjaan / perbuatan baik’.
Kalau Paulus menggunakan istilah ‘perbuatan baik’ ini maka ia memaksudkan ‘perbuatan baik yang digunakan untuk menyelamatkan diri kita’. Karena itu maka ia berkata bahwa perbuatan baik tidak diperlukan (yang menyebabkan kita selamat hanyalah iman!).
Tetapi kalau Yakobus menggunakan istilah ‘perbuatan baik’ ini, ia memaksud­kan ‘perbuatan baik akibat / hasil / bukti dari keselamatan’. Karena itu ia mengatakan bahwa perbuatan baik harus ada dalam diri orang kristen.

b)         Istilah ‘iman’.
Kalau Paulus menggunakan istilah ini, maka ia menunjuk pada ‘iman kepada Yesus Kristus’.
Tetapi kalau Yakobus menggunakan istilah ini, maka ia memaksudkan ‘pengakuan iman dengan mulut’ (bdk. ay 14 - ‘seorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman’).
Catatan: saya berpendapat bahwa istilah ‘percaya’ yang digunakan oleh Yakobus dalam ay 23 harus dikecualikan, karena dalam ay 23 itu ia mengutip Kej 15:6. Jadi, kata ‘percaya’ dalam ay 23 / Kej 15:6 betul-betul menunjuk pada ‘iman’ (sama seperti arti yang digunakan oleh Paulus).

c)         Istilah ‘dibenarkan’.
Kalau Paulus menggunakan istilah ini, maka artinya adalah ‘orangnya dibenarkan / dianggap benar oleh Allah’.
Tetapi kalau Yakobus memakai istilah ini, maka maksudnya adalah ‘pengakuan orang itu yang dibenarkan’ (artinya: pengakuannya bahwa ia adalah orang percaya merupakan pengakuan yang benar / tidak dusta).

Catatan:
·         kita harus membedakan arti dari istilah-istilah ini, karena kalau tidak, maka kita akan betul-betul mendapatkan kontradiksi yang tidak terhamoniskan antara Yakobus dan Paulus.
·         Kalau saudara mau mengerti Yak 2:14-26 ini dengan benar, maka adalah sesuatu yang mutlak penting bagi saudara untuk mengingat dengan baik cara Yakobus menggunakan istilah-istilah di atas!

Kesimpulan: Dalam Yak 2:14-26 ini Yakobus mempunyai satu tujuan pengajaran, yaitu bahwa pengakuan percaya tidak boleh / tidak bisa dipisahkan dari perbuatan baik. Sebaliknya pengakuan percaya harus dibuktikan kebenarannya melalui perbuatan baik. Mengapa ia menuliskan bagian ini? Ada 2 kemungkinan:

1.   Mungkin ia menuliskan bagian ini untuk memberi keseimbangan terhadap doktrin salvation by faith (= keselamatan oleh iman) yang diajarkan oleh Paulus.

2.   Kemungkinan yang lain adalah: ia menuliskan ini untuk memberi keseimbangan terhadap tulisannya sendiri tentang ‘hukum yang memerdekakan’ dalam Yak 1:25  2:12.
Yak 1:25 - “Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya”.
Yak 2:12 - “Berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang.
Dengan demikian secara keselu­ruhan ia mengajarkan bahwa sekalipun orang kristen sudah dimer­dekakan dari dosa oleh iman kepada Kristus, itu tidak boleh diartikan bahwa orang kristen lalu merdeka untuk berbuat dosa!


II) Iman / pengakuan tanpa perbuatan.


1)   Yakobus berkata bahwa ‘iman / pengakuan percaya tanpa perbu­atan’ tidak menyelamatkan (ay 14).
Untuk ini ia memberikan suatu illustrasi dalam ay 15-16: “(15) Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, (16) dan seorang dari antara kamu berkata: ‘Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!’, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?”.
Ini menunjukkan orang yang hanya ngomong tok tetapi tidak melakukan apa-apa. Ini sama sekali tidak ada guna­nya. Demikian juga dengan orang yang cuma mengaku percaya (ngomong tok), tetapi tidak mempunyai perbuatan baik. Itu tidak ada gunanya dan tidak bisa menyelamatkan siapapun.

2)   Yakobus juga berkata bahwa iman seperti itu adalah mati / kosong (ay 17,20,26).
Ini tidak berarti bahwa mula-mula imannya ada / hidup, lalu menjadi mati. Artinya adalah bahwa pengakuan orang itu adalah pengakuan yang kosong, dan ini jelas menunjukkan bahwa orang itu sebetulnya sama sekali tidak mempunyai iman! Karena itu imannya tidak bisa ditunjukkan.
Ay 18: “Tetapi mungkin ada orang berkata: ‘Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan’, aku akan menjawab dia: ‘Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.’”.

Dalam ay 18 ini Yakobus membandingkan 2 orang:

a)   Orang yang pertama (yaitu Yakobus sendiri) mempunyai iman dan perbuatan.
Kata-kata ‘padaku ada perbuatan’ (ay 18a) tidak boleh diartikan seakan-akan ia hanya mempunyai perbuatan tetapi tidak mempunyai iman, karena ini adalah suatu keadaan yang tidak mungkin terjadi, dan juga ini bertentangan dengan ay 18b yang mengatakan ‘aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku’.

b)   Orang yang kedua hanya mempunyai iman / pengakuan percaya dalam mulut. Orang ini tidak bisa menunjukkan imannya, karena memang tidak ada!

3)   Yakobus menyamakan iman seperti itu dengan ‘imannya setan’ (ay 19)!
Ay 19: Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.
Kepercayaan terhadap adanya satu Allah adalah kepercayaan yang benar. Tetapi bagi setan, kepercayaannya akan adanya satu Allah itu sama sekali tidak menghasilkan hidup yang benar! (Catatan: kepercayaan itu hanya menyebabkan ia geme­tar! Ini menunjukkan bahwa pengetahuan yang benar tentang Allah, kalau tidak disertai dengan penebusan, hanya mengha­silkan rasa takut!).
Jadi jelas bahwa orang yang mengaku beriman, tetapi tidak bisa membuktikan imannya dengan perbuatan baik, tidak berbeda dengan setan!

Kesimpulan dari 3 hal di atas:

Kalau seseorang mengaku percaya, tetapi sama sekali tidak ada perbuatan baik dalam hidupnya, maka ia sebetulnya bukan orang kristen!

Perhatikan cara Yakobus menyebut orang itu! Ia tidak pernah menyebutnya sebagai ‘saudara’, tetapi ia menyebutnya:
  • ‘seorang’ (ay 14).
  • ‘orang’ (ay 18).
  • ‘manusia’ (ay 20).

Perhatikan juga bagaimana Yakobus menyebut iman orang itu. Ia menyebutnya sebagai:
¨       ‘iman itu’ (ay 14b). NIV: ‘such faith’ (= iman seperti itu).
¨       ‘iman yang mati’ (ay 17,26).
¨       ‘iman yang kosong’ (ay 20).
Dan ia juga menyamakan iman seperti itu dengan imannya setan (ay 19)!

Penerapan: Kalau saudara mengaku sebagai orang Kristen / orang percaya, maka renungkan hal-hal ini: Apakah ada perubahan hidup ke arah yang positif dalam diri saudara? Apakah saudara berusaha untuk bisa hidup lebih suci? Apakah saudara membenci dosa dan berusaha membuangnya dari hidup saudara?

John Owen: “I do not understand how a man can be a true believer unto whom sin is not the greatest burden, sorrow and trouble” (= Saya tidak mengerti bagaimana seseorang bisa merupakan orang kristen yang sejati, kalau bagi dia dosa bukanlah beban, kesedihan dan kesukaran yang terbesar).


III) Orang yang membuktikan iman dengan perbuatan baik.


1)   Abraham (ay 21-24).

a)   Ay 21: “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?”.
Ini tidak boleh diartikan seakan-akan Abraham dibenarkan karena perbuatannya yaitu pada waktu ia mempersembahkan Ishak.

Alasannya:

1.   Abraham dibenarkan karena imannya.

Ini terlihat dari kata-kata Yakobus dalam ay 23: “Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: ‘Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ Karena itu Abraham disebut: ‘Sahabat Allah.’”.

Di sini Yakobus mengutip Kej 15:6 - “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” - yang menunjukkan bahwa Abraham dibenarkan karena iman.

Dan ada satu hal yang sangat perlu diperhatikan, yaitu: pembenaran karena iman terhadap Abraham yang terjadi dalam Kej 15:6 ini, terjadi lebih kurang 30 tahun sebelum ia mempersembahkan Ishak (Kej 22).

2.   Tindakan Abraham mempersembahkan Ishak itu dikatakan sebagai bukti iman Abraham.

Ibr 11:17-19 - “(17) Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, (18) walaupun kepadanya telah dikatakan: ‘Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.’ (19) Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali”.

Ini jelas menunjukkan bahwa imannya ada lebih dulu dan baru setelah itu ia mempersembahkan Ishak.

Jadi, arti ay 21 ini adalah: tindakan Abraham mempersembahkan Ishak itu adalah perbuatan baik yang membuktikan iman Abraham / membenarkan pengakuan Abraham bahwa ia adalah orang beriman.

b)   Ay 22: “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna”.
Iman / pengakuan saja tidaklah cukup. Pengakuan iman + perbuatan baik barulah sempurna, artinya: ini adalah iman yang sempurna, atau iman yang sungguh-sungguh, atau iman yang sejati.

c)   Ay 23: “Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: ‘Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ Karena itu Abraham disebut: ‘Sahabat Allah.’”.
Kata-kata ‘genaplah nas yang mengatakan’ artinya adalah: dengan adanya persembahan Ishak itu kelihatanlah bahwa Kej 15:6 adalah benar.

d)   Ay 24: “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman”.
Kata-kata ‘manusia dibenarkan’ artinya: manusia dibenarkan pengakuannya, atau tidak dianggap munafik. Kalau hanya mempunyai pengakuan di mulut saja, tanpa adanya perbuatan baik, maka itu tidak ada artinya sama sekali.

2)   Rahab (ay 25).
Ay 25: “Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?”.

Sekarang Yakobus mengambil orang yang sangat kontras dengan Abraham. Kontras itu terlihat dari fakta-fakta ini:
·         Abraham adalah seorang laki-laki; Rahab adalah seorang perempuan.
·         Abraham adalah nenek moyang bangsa Israel; Rahab adalah orang kafir.
·         Abraham adalah orang yang terhormat; Rahab adalah seorang pelacur!

Mengapa Yakobus mengambil contoh orang seperti Rahab, yang begitu kontras dengan Abraham? Karena kalau contohnya hanya orang seperti Abraham maka mungkin orang akan berkata: ‘Itu kan Abraham, dia orang luar biasa. Saya tidak bisa seperti dia’. Supaya orang tidak bisa berkata seperti ini, Yakobus mengambil contoh Rahab. Rahab adalah orang kafir, dan terlebih lagi dia adalah seorang pelacur! Tetapi setelah bertobat, ia termasuk orang yang membuktikan imannya dengan perbuatan baik (bdk. Yos 2:1-7).

Memang perbuatan baik Rahab tidak sempurna, karena mengan­dung dusta / dosa. Tetapi harus diingat hal-hal ini:
¨       Ia adalah orang kafir, yang sama sekali tidak mempunyai pengertian Firman Tuhan.
¨       Ia adalah seorang pelacur.
¨       Ia adalah seorang petobat baru, sehingga sukar diharapkan bisa melakukan perbuatan baik yang sempurna.
¨       Perbuatan baiknya saat itu, dimana ia menyembunyikan mata-mata Israel terhadap tentara Yerikho, mempunyai resiko tinggi.
¨       tidak ada perbuatan baik orang Kristen manapun yang sempurna!

Jadi, sekalipun perbuatan baiknya mengandung dusta / dosa, itu tetap dianggap sebagai perbuatan baik yang membuktikan imannya!
Dengan adanya contoh Rahab ini terlihat dengan jelas, bahwa siapapun orang yang beriman itu, kalau ia memang betul-betul beriman, ia pasti melakukan perbuatan-perbuatan baik sebagai buah / bukti imannya.

Penutup.


Apakah iman saudara sudah terbukti dengan adanya perbuatan-perbu­atan baik? Kalau sudah, puji Tuhan, saudara adalah orang kristen sejati. Teruslah berusaha untuk menyucikan diri saudara. Kalau belum, sadarilah bahwa saudara sebetulnya bukan orang kristen, dan saudara belum diselamatkan. Karena itu datanglah kepada Kristus dan bertobatlah!




-AMIN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar