Kamis, 03 April 2014

KEMATIAN ROHANI

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div


Yoh 10:10 - “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”.

Ada seorang pendeta baru di suatu gereja yang mempunyai 2.000 jemaat (dalam daftar). Tetapi pada waktu kebaktian, yang hadir hanya sekitar 20 orang. Pendeta itu lalu membuat pengumuman yang disebarkan kepada setiap jemaat. Pengumuman itu mengatakan bahwa ada seorang jemaat yang mati, dan pada hari dan tanggal tertentu akan dikuburkan, dan didahului dengan upacara penguburan di gereja. Semua jemaat diundang untuk hadir.
Dan jemaat memang hadir. Kalau kebaktian mereka tidak hadir, tetapi kalau upacara penguburan mereka hadir. Mungkin mereka takut kalau mereka tidak hadir, nanti pada saat mereka mati tidak ada yang hadir. Jadi gereja itu penuh sesak. Pendeta lalu naik mimbar dan mulai berbicara: ‘Saudara sekalian, saudara diberi tahu bahwa ada jemaat yang mati, tetapi saudara belum tahu siapa yang mati itu. Karena itu saya persilahkan satu per satu maju ke depan, untuk melihat ke dalam peti mati (yang belum ditutup), supaya saudara tahu siapa jemaat yang mati itu’.
Maka jemaat satu per satu maju ke depan dan melihat ke dalam peti mati. Setiap orang yang melihat ke dalam peti itu kelihatan kaget. Mengapa? Karena peti mati itu ternyata kosong dan pendeta itu memasang sebuah cermin di dasar peti itu, sehingga setiap orang yang melihat ke dalam peti melihat wajah / dirinya sendiri di dalam peti.
Setelah semua selesai, pendeta itu lalu mulai khotbah: ‘Sekarang saudara semua pasti tahu siapa yang mati. Tidak lain dan tidak bukan itu adalah saudara sendiri. Saudara memang hidup secara jasmani, tetapi mati secara rohani’.

Saudara-saudara yang kekasih, bagaimana dengan diri saudara sendiri? Apakah saudara sama dengan jemaat gereja tersebut? Apakah saudara hanya hidup secara jasmani, tetapi mati secara rohani?

I) Kematian rohani.


Kitab Suci memang mengajarkan bahwa manusia berdosa itu bukan hanya sekedar sakit secara rohani, tetapi mati secara rohani, terlihat dari:

1)   Yoh 10:10b - “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”.
Bahwa Yesus datang dengan tujuan supaya mereka / manusia berdosa mempunyai hidup, jelas menunjukkan bahwa manusia itu mati (secara rohani).

2)   Ef 2:1-3 - “(1) Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. (2) Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. (3) Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain”.

Mati secara rohani / mati dalam dosa artinya adalah:

a)   Ia aktif berbuat dosa.
Ini terlihat dari Ef 2:1-3 di atas, yang sekalipun dalam ay 1nya menunjukkan bahwa manusia itu mati dalam dosa, tetapi menunjukkan dalam ay 2-3nya bahwa itu adalah kehidupan yang berdosa.
Jadi, kalau di atas telah kita lihat bahwa manusia berdosa itu tidak bisa berbuat baik, maka sekarang kita lihat bahwa manusia berdosa itu aktif / terus menerus berbuat dosa.

b)   Ia tidak peduli pada hal-hal rohani, baik dosanya maupun Allah, Firman Tuhan / Injil, dsb. Ini menyebabkan ia:

1.   Tidak kenal Allah, dan tidak peduli kepada Allah.
Ro 3:10-18 - “(10) seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. (11) Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. (12) Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. (13) Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. (14) Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, (15) kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. (16) Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, (17) dan jalan damai tidak mereka kenal; (18) rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.’”.
Penerapan: bisakah saudara berkata dengan tulus dan jujur bahwa saudara peduli Allah dan kenal Allah? Kalau tidak, saudara adalah orang yang mati secara rohani.

Ini membawa konsekwensi lain, yaitu orang yang mati secara rohani itu tidak akan mempunyai damai dalam hatinya. Manusia baru bisa damai kalau mempunyai damai dengan Allah dan persekutuan yang baik dengan Allah. Tetapi orang yang mati rohani ini tak peduli Allah dan tak kenal Allah, sehingga ia tidak mungkin bisa mempunyai damai. Ia boleh mempunyai banyak uang, mobil, rumah mewah, semua kesenangan duniawi, tetapi ia tidak bisa mempunyai damai, sukacita, kebahagiaan yang sejati. Apakah saudara seperti itu?

2.   Berani berbuat dosa dan tidak menyesal setelah tahu dirinya melakukan dosa, dan bahkan ‘krasan’ di dalam dosa.
Dosa merupakan suatu persoalan rohani dan karena itu orang yang mati secara rohani tidak akan mempedulikan dosa. Tahu kalau dusta itu dosa, dia tetap berdusta. Tahu kalau zinah itu dosa, dia tetap berzinah. Tahu kalau benci itu dosa, dia tetap membenci dan mendendam, dsb. Apakah saudara seperti itu? Kalau ya, saudara adalah orang yang mati secara rohani.

3.   Tidak senang doa, dan tidak bisa doa.
Dosa merupakan suatu persoalan rohani, dan karena itu orang yang mati secara rohani tidak bisa berdoa (tak bisa konsentrasi, ngelamun, dsb), dan tidak senang berdoa.
Ada orang yang berkata: ‘Banyak orang memperlakukan Tuhan sebagai seorang pengacara. Mereka hanya datang kepadanya kalau mereka mendapatkan problem’. Kalau saudara termasuk orang seperti ini, itu menunjukkan bahwa saudara adalah orang yang mati secara rohani.

4.   Tidak senang pada Firman Tuhan / Kitab Suci.
Kitab Suci / Firman Tuhan adalah hal rohani, dan karena itu orang yang mati secara rohani tidak akan menyenanginya.
Apakah saudara senang membaca Kitab Suci? Bersaat teduh? Belajar Firman Tuhan? Dengar khotbah? Ingat bahwa ada beda antara senang / rindu pada Firman Tuhan, dan sekedar mau mendengar Firman Tuhan. Juga ada beda antara senang mendengar khotbah, dan senang kepada Firman Tuhan. Karena apa? Karena tidak semua khotbah adalah Firman Tuhan. Jaman sekarang ada banyak khotbah yang hanya dipenuhi dengan lelucon, cerita dan kesaksian, tetapi tidak ada pelajaran Kitab Sucinya. Itu bukan Firman Tuhan! Orang kafirpun bisa senang khotbah seperti itu. Juga ada orang yang senang khotbah, asal khotbahnya menyenangkan telinga, seperti memberikan penghiburan, menjanjikan kesembuhan, kekayaan, dsb. Ini lagi-lagi bukan senang Firman Tuhan. Kalau saudara memang senang Firman Tuhan, harus senang semua, bahkan yang menegur dan menyingkapkan dosa-dosa saudara.
Coba pikirkan dari sudut Firman Tuhan ini? Apakah saudara hidup atau mati secara rohani?

Saudara-saudara yang kekasih, apakah saudara adalah orang yang mati secara rohani? Kalau ya, jangan anggap enteng hal itu, karena itu akan membawa saudara ke tempat kebinasaan yang kekal, yaitu neraka!

II) Yesus datang supaya kita hidup secara rohani.


Allah tahu bahwa penyebab kematian rohani itu adalah dosa (Kej 2:16-17). Karena itu, kalau Allah mau membereskan kematian rohani itu, Ia harus membereskan penyebabnya, yaitu dosa. Lalu bagaimana?
1)   Diampuni begitu saja? Tidak mungkin, karena Allah itu adil. Kalau Ia mengampuni begitu saja, Ia kehilangan keadilanNya!
2)   Menyuruh manusia yang mati rohani itu berbuat baik? Juga tidak mungkin, karena manusia yang mati secara rohani itu, senang berbuat dosa, dan tidak bisa berbuat baik.

Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh oleh Allah adalah: Ia sendiri harus menebus dosa kita atau menerima hukuman dosa kita. Tetapi hukuman dosa salah satunya adalah maut / kematian, dan Allah tidak bisa mati. Supaya bisa mati, maka Allah harus menjadi manusia. Dan inilah yang Allah lakukan dalam diri Yesus Kristus. Karena itu Yesus berkata dalam Yoh 10:10b - “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”.

Ada beberapa hal yang ingin saya soroti:
a)   Aku datang. Ini menunjukkan Yesus sudah ada sebelum lahir, dan itu menunjukkan keilahian Yesus.
b)   Ia datang untuk memberikan hidup rohani kepada manusia yang mati secara rohani. Karena itu, Ia mendertita dan mati di kayu salib untuk memikul hukuman dosa kita. Ia yang hidup harus mati, supaya kita yang mati menjadi hidup.

III) Tanggapan kita.


Bahwa Yesus sudah mati menebus dosa-dosa umat manusia tak berarti bahwa semua manusia menjadi hidup secara rohani / mendapatkan kehidupan secara rohani.
Kita harus percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, baru kita akan mendapat hidup secara rohani. Tetapi bagaimana manusia bisa percaya? Memang sebetulnya manusia yang mati secara rohani itu tidak akan mau dan tidak akan bisa percaya kepada Yesus dengan kekuatan dan kemauannya sendiri. Injil dan iman adalah persoalan rohani, dan karena manusia itu mati secara rohani, maka manusia tidak bisa mengerti Injil, menghargai Injil, apalagi percaya kepada Injil.

Jadi Allah harus melakukan sesuatu yang lain, yaitu melahir-barukan manusia yang mati secara rohani itu. Dalam doktrin Reformed, lahir baru tidak sama dengan iman. Lahir baru mendahului iman. Lahir baru merupakan pekerjaan Roh Kudus secara mutlak. Kita pasif total. Dia melahirbarukan kita, sehingga kita mulai hidup secara rohani, dan kita mulai bisa mendengar Injil, menghargai Injil dan mempercayainya.

Karena kelahiran baru itu mutlak adalah pekerjaan Roh Kudus, itu tak perlu / tak dapat kita usahakan. Kalau itu belum terjadi seseorang tidak mungkin percaya. Kalau itu sudah terjadi seseorang pasti akan percaya.

Kalau kita percaya kepada Yesus, lalu apa yang terjadi?
Yoh 11:25-26 - “(25) Jawab Yesus: ‘Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, (26) dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?’”.

Maukah saudara percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi saudara?


-AMIN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar