Kamis, 17 April 2014

PEMBAHASAN AJARAN PRIA SEJATI / MAKSIMAL (2)

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div



  

  47) “Ketika saya melihat kelima dosa yang mendasar ini, terlihat dengan jelas dan mencolok bahwa kelima dosa dasar ini masih menjadi akar penyebab manusia hidup dengan potensi yang tidak maksimal. Kelima dosa inilah yang menjadi dasar bagi kegagalan seluruh umat manusia. Allah ingin kita memasuki Tanah Kanaan, tempat perhentian, berkat, keberhasilan, kemampuan, dan otoritas - Allah ingin kita berada di sana.” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 13).



Tanggapan saya:

a)  Saya tidak percaya bahwa kelima dosa yang disebutkan Edwin Louis Cole di atas, sebagai penyebab gagalnya bangsa Israel masuk ke Kanaan, ‘masih tetap menjadi akar penyebab manusia hidup dengan potensi yang tidak maksimal’, dan juga ‘menjadi dasar bagi kegagalan seluruh umat manusia’. Apa dasarnya mengatakan seperti itu? Dalam daftar dosa itu tak ada dosa-dosa tertentu yang juga sangat hebat seperti cinta uang, dan juga kemunafikan / merasa diri sendiri benar (self-righteous), yang boleh dikatakan merupakan dosa yang paling dikecam dalam Perjanjian Baru (dosa-dosa para tokoh agama pada jaman Yesus).

b) Cole mengatakan bahwa Kanaan merupakan simbol dari tempat perhentian, berkat, keberhasilan, kemampuan, dan otoritas. Kelihatannya yang dimaksudkan dengan hal-hal ini adalah dalam persoalan jasmani, setidaknya dalam hidup sekarang ini. Ini jelas salah. Kanaan adalah type dari surga (ini sudah saya bahas dalam pelajaran di depan, dan tidak akan saya ulang di sini).

c)  Ajaran Edwin Louis Cole pada bagian akhir kutipan di atas (bagian yang saya garis-bawahi), berbau kharismatik, yang mengajar kalau taat semua baik / sukses (Theologia kemakmuran / sukses).

48)“Beberapa waktu yang lalu, saya diundang menjadi salah seorang tamu di dalam acara talkshow Kristen. Selama pertunjukkan saya mengatakan kepada pembawa acara dan asistennya bahwa Tuhan menuntun saya untuk memerintahkan kaum pria untuk bertobat. Ada selang waktu untuk beristirahat selama acara berlangsung. Pembawa acara memiringkan badannya ke arah saya dan dengan corong mikrofon yang terpasang mati ia berkata: ‘Tidak, tidak, tidak! Kita tidak memerintahkan orang Kristen, tetapi mengundang orang yang berdosa.’ ‘Tidak, tidak, tidak,’ saya memberikan respons balik dengan bisikan. ‘Kisah Para Rasul 17:30 mengatakan bahwa ‘Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat.’ Ada kunci perbedaan antara memerintahkan dan mengundang. Bila saya memberi undangan kepada Anda, Anda mempunyai kebebasan untuk memilih. Anda bisa saja menerima atau menolak undangan saya itu. Tetapi, bila saya memerintahkan Anda, Anda tidak punya pilihan. Anda harus mentaatinya atau menolaknya. ... Di zaman modern ini, dalam mempsikologikan pekabaran Injil di atas mimbar, kita sering ‘mengundang’ orang-orang untuk menerima Yesus. Kita memberi mereka pilihan, dan mereka menolaknya” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 28).

Tanggapan saya:

a)   Perhatikan kata-kata Edwin Louis Cole yang saya beri garis bawah ganda.
Ada kunci perbedaan antara memerintahkan dan mengundang. Bila saya memberi undangan kepada Anda, Anda mempunyai kebebasan untuk memilih. Anda bisa saja menerima atau menolak undangan saya itu. Tetapi, bila saya memerintahkan Anda, Anda tidak punya pilihan. Anda harus mentaatinya atau menolaknya”.
Dari kata-kata Edwin Louis Cole saya tidak mengerti perbedaannya. Mula-mula ia mengatakan ada kunci perbedaan antara kedua hal itu, tetapi dalam penjabarannya tidak terlihat perbedaan!

b)  Secara prinsip / arti tidak ada perbedaan antara ‘memerintahkan’ dan ‘mengundang’ seseorang untuk percaya kepada Yesus. Kalau Tuhan mengundang dan kita tidak menerimanya, itu merupakan penghinaan, dan membuat murka Allah. Dan tidak ada perbedaan antara ‘menolak undangan’ dan ‘menolak untuk mentaati suatu perintah’. Dalam persoalan ini kelihatannya ada 3 kelompok ayat:

1.   Ayat-ayat yang sekedar menunjukkan undangan.
Contoh: Mat 11:28 - Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”.

2.  Ayat-ayat menunjukkan undangan tetapi mengandung suatu ‘paksaan’, sehingga boleh dikatakan merupakan perintah.
Contoh:

Mat 22:1-14 - “(1) Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: (2) ‘Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. (3) Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. (4) Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. (5) Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, (6) dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. (7) Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. (8) Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. (9) Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. (10) Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. (11) Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. (12) Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. (13) Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. (14) Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.’”.

Luk 14:15-24 - “(15) Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: ‘Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.’ (16) Tetapi Yesus berkata kepadanya: ‘Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. (17) Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. (18) Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. (19) Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. (20) Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. (21) Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. (22) Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat. (23) Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh. (24) Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorangpun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuanKu.’”.

3.   Ayat-ayat yang betul-betul memerintahkan orang untuk percaya kepada Yesus.
Kis 17:30 - Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat.
Kis 16:31 - Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’.

49) “Ketidaktaatan menghancurkan kedamaian. Karena itu, tidak pernah ada roh ketidaktaatan yang masuk ke dalam sorga. Hanya dengan satu roh ketidaktaatan, kedamaian akan menjadi rusak berantakan. Hanya pernah terjadi sekali - Lucifer. Allah langsung memaksa Lucifer angkat kaki dari sorga. Tidak akan pernah ada lagi” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 30).

Tanggapan saya:

a)   Lucifer bukan nama dari komandan setan. Ini sudah saya bahas di no 26 di atas, dan tidak akan saya ulangi di sini.

b)   Istilah ‘roh ketidak-taatan’ itu muncul dari mana?

c)   Apakah ‘Lucifer’ yang ia bicarakan itu bisa merusak kedamaian dari Allah?

50) “Yesus menyatakan kelembutan-Nya dengan penuh kasih di dalam pesan-pesan-Nya, karya-Nya, di dalam kesembuhan dan penghiburan, dan melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Tetapi, Yesus juga ingin mengusap dan membelai anak kecil, dan merangkul mereka ke lengan-Nya dengan erat. Di sisi lain, Yesus juga menunggangbalikkan meja-meja penukar uang dan orang-orang yang berdagang di dalam Bait Allah. Dari hal ini kita bisa melihat suatu gambaran bahwa Yesus adalah Anak  Manusia, sekaligus juga Anak Allah” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 51).

Tanggapan saya:

Yang mana yang menunjukkan Yesus sebagai Anak Manusia dan yang mana yang menunjukkan Yesus sebagai Anak Allah? Kata-kata Edwin Louis Cole ini betul-betul gila, karena baik kelembutanNya maupun kekerasan / ketegasanNya tidak menunjukkan kemanusiaan (Anak  Manusia) maupun keilahianNya (Anak Allah)! Baik Yesus ditinjau sebagai Allah, ataupun sebagai manusia, Ia tetap bisa melakukan kedua-duanya!

51) “Yesus berkata di dalam Yohanes 10:10, ‘Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan.’ Televisi bertindak seperti seorang pencuri” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 117).

Tanggapan saya:

a)   Coba baca Yoh 10:10 secara keseluruhan.
Yoh 10:10 - Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”.

Jelas bahwa Yesus mengkontraskan pencuri itu dengan diriNya sendiri. Jadi, tidak mungkin bahwa pencuri itu adalah televisi! Pencuri itu pastilah seorang nabi palsu, atau seorang pelayan Tuhan yang tidak bertanggung jawab. Dan Edwin Louis Cole adalah salah satu contohnya!
Untuk menunjukkan bahwa penafsir-penafsir menghubungkan Yoh 10:10 dengan nabi-nabi palsu, saya memberikan komentar beberapa penafsir tentang ayat itu.

Calvin: “Not without reason, therefore, does Christ testify that false teachers, whatever may be the mildness and plausibility of their demeanour, always carry about a deadly poison, that we may be more careful to drive them away from us” (= Karena itu, bukan tanpa alasan Kristus menyaksikan bahwa guru-guru palsu, bagaimanapun lembut / halus dan masuk akalnya sikap / kelakuan mereka, selalu membawa racun yang mematikan, supaya kita bisa lebih hati-hati untuk mengusir mereka dari kita).

Barnes’ Notes: “The thief has no other design in coming but to plunder. So false teachers have no other end in view but to enrich or aggrandize themselves” (= Pencuri tidak mempunyai rancangan lain dalam kedatangannya kecuali untuk merampas / menjarah. Demikian juga guru-guru palsu tidak mempunyai tujuan yang kelihatan kecuali untuk memperkaya atau memperbesar kekayaan / memperluas kekuasaan / meninggikan diri mereka sendiri).

Adam Clarke: “Their doctrine is deadly; they are not commissioned by Christ, and therefore they cannot profit the people. Their character is well pointed out by the Prophet Ezekiel, Ezek 34:2, etc” (= Doktrin mereka mematikan; mereka tidak ditugaskan / diberi otoritas oleh Kristus, dan karena itu mereka tidak bisa memberi manfaat kepada orang-orang. Karakter mereka ditunjukkan dengan baik oleh Nabi Yehezkiel, Yeh 34:2-dst).

Bdk. Yeh 34:1-6 - “(1) Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku: (2) ‘Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? (3) Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. (4) Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman. (5) Dengan demikian mereka berserak, oleh karena gembala tidak ada, dan mereka menjadi makanan bagi segala binatang di hutan. Domba-dombaKu berserak (6) dan tersesat di semua gunung dan di semua bukit yang tinggi; ya, di seluruh tanah itu domba-dombaKu berserak, tanpa seorangpun yang memperhatikan atau yang mencarinya”.

Jadi, kalau Edwin Louis Cole menafsirkan TV sebagai ‘pencuri’ dalam Yoh 10:10, itu jelas merupakan kegilaan! Harus diakui bahwa TV memang bisa merugikan kalau disalah-gunakan. Tetapi kalau mau mengajar tentang hal itu, jangan menggunakan Yoh 10:10! Mungkin bisa menggunakan Kel 20:3, karena kalau TV diutamakan lebih dari Tuhan, TV itu menjadi ‘allah lain’ dalam kehidupan kita.

52) “Berjuta anak tanpa orang tua akan menjadi masalah, seperti yang telah dinubuatkan oleh Yesaya: ‘penguasa mereka ialah anak-anak’.” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 139-140).

Tanggapan saya:
Edwin Louis Cole tidak menyebutkan dimana Yesaya mengatakan hal itu. Tetapi kata-kata ‘penguasa mereka ialah anak-anak’ ada dalam Yes 3:12.
Yes 3:12 - “Adapun umatKu, penguasa mereka ialah anak-anak, dan perempuan-perempuan memerintah atasnya. Hai umatKu, pemimpin-pemimpinmu adalah penyesat, dan jalan yang kamu tempuh mereka kacaukan!”.
KJV/RSV: ‘children are their oppressors’ (= anak-anak adalah penindas-penindas mereka).
NIV: ‘Youths oppress my people’ (= Anak-anak muda menindas umatKu / bangsaKu).
NASB: ‘Their oppressors are children’ (= Penindas-penindas mereka adalah anak-anak).

Ini lagi-lagi merupakan penggunaan ayat yang sama sekali tidak pada tempatnya!

Jamieson, Fausset & Brown: “Oppressors - literally, exactors; i.e., exacting princes (Isa 60:17). They who ought to be protectors are exactors: as unqualified for rule as ‘children,’ as effeminate as ‘women.’” [= Penindas-penindas - secara hurufiah, pemeras-pemeras; yaitu pangeran-pangeran / raja-raja yang memeras (Yes 60:17). Mereka yang seharusnya menjadi pelindung-pelindung adalah pemeras-pemeras: sama tidak memenuhi syaratnya untuk memerintah seperti ‘anak-anak’, sama bersifat kewanitaannya seperti ‘perempuan-perempuan’].

Barnes’ Notes: “‘As for my people, children are their oppressors.’ This refers, doubtless, to their civil rulers. They who ‘ought’ to have been their ‘protectors,’ oppressed them by grievous taxes and burdens. But whether this means that the rulers of the people were ‘literally’ minors, or that they were so in ‘disposition and character,’ has been a question. ... Or it may mean that the ‘character’ of the princes and rulers was that of inexperienced children, unqualified for government (= ‘Berkenaan dengan bangsaKu, anak-anak adalah penindas-penindas mereka’. Ini tak diragukan, menunjuk pada pemerintah / penguasa-penguasa sipil mereka. Mereka yang seharusnya menjadi pelindung-pelindung mereka, menindas mereka dengan pajak-pajak dan beban-beban yang menyedihkan. Tetapi apakah ini berarti bahwa pemerintah / penguasa-penguasa dari bangsa itu secara hurufiah adalah orang-orang yang belum dewasa, atau bahwa mereka adalah demikian dalam kecondongan dan karakter, telah menjadi suatu pertanyaan / persoalan. ... Atau itu bisa berarti bahwa karakter dari pangeran-pangeran / raja-raja dan penguasa-penguasa adalah karakter dari anak-anak yang tidak berpengalaman, tidak memenuhi syarat untuk pemerintahan).

Dari penjelasan ini terlihat bahwa Yes 3:12 tak ada hubungannya dengan anak-anak yang menjadi masalah karena tak ada orang tua. Ini sama sekali bukan nubuat tentang hal itu. Ini merupakan penafsiran dari Edwin Louis Cole yang membengkokkan ayat semaunya sendiri.

53) “Allah menginginkan keadaan seperti kanak-kanak, tetapi Ia membenci kekanak-kanakan” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 140).

Tanggapan saya:

a)   Apakah memang Allah membenci kekanak-kanakan? Mana dasar ayatnya?

b)   Apakah memang Allah menginginkan keadaan seperti kanak-kanak? Mari kita baca ayat di bawah ini.
1Kor 14:20 - “Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!”.
Jadi, tidak selalu Allah menginginkan keadaan seperti kanak-kanak! Dalam kejahatan kita harus seperti kanak-kanak (Lit: ‘bayi’), tetapi dalam pemikiran / pengertian kita justru tidak boleh seperti kanak-kanak, tetapi harus seperti orang dewasa!
Dalam hal pengertian, menurut saya, baik Edwin Louis Cole maupun tokoh-tokoh / pengajar-pengajar dalam gerakan pria sejati / maximal ini, betul-betul seperti bayi-bayi, bahkan seperti orang kafir!

54) “Salah satu sifat umum kekanak-kanakan dalam diri pria masa kini adalah kecanduan terhadap pornografi” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 140).

Tanggapan saya:

Saya tak bisa melihat bahwa ini kekanak-kanakan. Ini dosa!

55) “Setiap pria mempunyai pilihan untuk menjadi seorang pria yang kekanak-kanakan, seorang pria dewasa atau seorang pria perjanjian. Yesus bertanya, ‘Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama?’ Kemudian Yesus menjawab sendiri pertanyaan itu, ‘Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya’ (Luk 7:32-35). Dalam bahasa kontemporer, ‘Jika aku tidak bermain menurut peraturanmu, kau akan mengambil bola dan pulang!’ Pria yang sedang bertumbuh berkata kepada istrinya, ‘Ikuti cara saya.’ Kekanak-kanakan!” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 141-142).

Tanggapan saya:

Ini lagi-lagi penggunaan text secara out of context, dan sekaligus suatu penafsiran yang ngawur tidak karuan! Luk 7:32-35 tidak ada hubungannya dengan orang yang berkata Jika aku tidak bermain menurut peraturanmu, kau akan mengambil bola dan pulang!. Juga tidak ada hubungannya dengan pria yang menuntut istrinya mengikuti caranya. Ini juga bukan kekanak-kanakan!

Lalu apa arti dari Luk 7:32-35? Ini merupakan kata-kata Yesus terhadap orang-orang yang menolak (ay 31-35).

a)   Dalam ayat-ayat ini Yesus berbicara tentang orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, yang menolak Yohanes Pembaptis maupun diriNya sendiri.

b)   Dalam ay 32 Yesus memberikan suatu perumpamaan. Perumpamaan itu tentang dua grup anak, dimana grup pertama mengajak bermain tapi grup kedua tidak mau.
1.   Ay 32a: grup pertama mengajak bermain pesta-pestaan, tetapi grup kedua tidak mau.
2.   Ay 32b: grup pertama mengajak bermain tentang suatu perkabungan (sesuatu yang kontras dengan suatu ajakan yang pertama ), tetapi grup kedua lagi-lagi tidak mau .

Grup kedua yang tidak responsive / tidak tanggap ini persis seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.
a.   Pada waktu Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan dan tidak minum (ay 33a). Artinya, Yohanes Pembaptis makan / minum hal-hal tertentu saja (Luk 7:33  Mat 3:4). Tanggapan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat: ia kerasukan setan (ay 33b).
b.   Pada waktu Yesus datang, Ia datang dengan cara yang kontras dengan Yohanes Pembaptis. Ia makan dan minum (ay 34a). Artinya, Yesus makan dan minum seperti orang biasa.
Tanggapan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat: Ia pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang-orang berdosa (ay 34b  bdk. Luk 7:36-50, khususnya ay 39nya).

Jadi memang Yohanes Pembaptis kontras dengan Yesus, tetapi para tokoh agama itu menolak kedua-duanya. Hal apa yang bisa kita pelajari dari sini?
·         Hamba Tuhan / orang kristen selalu serba salah.
Hidup seperti Yohanes Pembaptis salah, hidup seperti Yesus (kontrasnya) juga salah. Setiap orang kristen yang sungguh-sungguh (apalagi seorang hamba Tuhan), harus ‘siap untuk selalu disalahkan’! Kita harus belajar menulikan telinga kita terhadap kritik-kritik yang tidak berdasar (ini tidak berarti bahwa kita harus menolak seadanya kritik!).
Adam Clarke: “Whatever measures the followers of God may take, they will not escape the censure of the world: the best way is not to be concerned at them” (= Tindakan / langkah apapun yang dilakukan oleh pengikut-pengikut Allah, mereka tidak akan lolos dari kritikan dunia: jalan / cara yang terbaik adalah dengan tidak memperhatikan / mempedulikannya) - hal 130.
·         Kalau seorang tidak mau mendengar kebenaran Firman Tuhan, ia selalu bisa mendapatkan alasan. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak Yohanes Pembaptis maupun Yesus dengan alasan-alasan tadi (ay 33b,34b).
Contoh alasan yang sering dipakai untuk menolak Firman Tuhan:
*        Khotbah terlalu panjang atau terlalu pendek.
*        Khotbah terlalu gampang atau terlalu sukar.
*        Khotbah terlalu lunak atau terlalu keras.
*        Khotbah terlalu sukar atau terlalu mudah.
*        dan sebagainya.
Pertanyaan yang harus ditanyakan kepada orang-orang yang menolak Firman Tuhan dengan berbagai alasan itu, adalah: sebetulnya, kamu itu rindu pada kebenaran Firman Tuhan atau tidak?
Adam Clarke: “There are some to whom every thing is useful in leading them to God; others, to whom nothing is sufficient. Every thing is good to an upright mind, every thing is bad to a vicious heart” (= Ada orang-orang bagi siapa segala sesuatu berguna dalam membimbing mereka kepada Allah; dan orang-orang lain bagi siapa tidak ada apapun yang cukup. Segala sesuatu adalah baik bagi pikiran yang lurus, segala sesuatu adalah jelek bagi hati yang jahat) - hal 129.
·         Orang yang menolak Yohanes Pembaptis, juga menolak Yesus.
Kalau saudara menolak seorang hamba Tuhan yang benar, jangan terlalu berharap bahwa saudara bisa mendapatkan berkat dari hamba Tuhan yang lain. Orang yang menolak seorang hamba Tuhan, biasanya juga akan menolak semua hamba Tuhan yang lain.

56) “Dr. Pearsall datang kepada seorang dokter dan menyatakan bahwa ia sedang sakit dan membutuhkan perawatan. Selama enam bulan para dokter mengatakan kepadanya bahwa ia tidak menderita sakit sampai akhirnya salah seorang dokter setuju melakukan MRI untuk membuktikannya. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya sebuah tumor, yang bisa menjadi kanker, di daerah panggul, tepat di tempat yang dirasakan sakit oleh Dr. Pearsall. Ia percaya bahwa hatinya mengatakan suatu hal yang tidak bisa dipahami oleh orang lain. Termasuk dalam temuannya adalah keyakinannya bahwa hati berbicara lebih dulu daripada pikiran dalam mengatakan kepada kita tentang tubuh kita, dan hidup kita. Hal yang menarik! Dalam kandungan, hati dibentuk lebih dahulu sebelum otak. Kita harus lebih banyak mendengarkan hati kita daripada pikiran kita, demikian kata Dr. Pearsall. Ketika ia memberikan kuliah tentang topik ini, seorang psikiater yang hadir dalam kuliah itu bercerita tentang pasiennya. Seorang gadis berusia delapan tahun adalah penerima jantung transplantasi dari seorang donor berusia sepuluh tahun yang juga adalah seorang anak gadis. Gadis donor itu sebelumnya telah diperkosa dan dibunuh. Ibu dari gadis berusia delapan tahun itu mulai berpikir keras ketika anak gadisnya itu menceritakan mimpi-mimpi yang ia alami. Ibu itu membawa putrinya itu ke seorang psikiater untuk mengkonsultasikan tentang masalah itu, dan mereka akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada polisi perihal mimpi-mimpi anak gadis itu. Berdasarkan laporan itu, polisi menangkap tetangga dari anak gadis yang diperkosa dan dibunuh itu. Gadis penerima jantung transplantasi itu melukiskan secara terperinci tentang rumah di mana pembunuhan itu terjadi, bentuk kamarnya, percakapan yang terjadi antara korban dan pembunuh itu, dan semua gambaran yang diberikan oleh gadis itu tepat dan benar sehingga akhirnya si tetangga itu dinyatakan sebagai pembunuh gadis berusia sepuluh tahun itu. Coba pikirkan, seorang gadis berusia delapan tahun penerima jantung transplantasi dari gadis donor berusia sepuluh tahun bisa menceritakan secara terperinci tentang pembunuhan yang telah terjadi. Hati (jantung menurut pengertian Bahasa Inggris) mengetahui semua yang terjadi. Hati tetap hidup. Tubuh dan otak dari gadis donor itu telah tiada, tetapi hatinya tetap hidup karena transplantasi itu dan semua ingatan tentang pembunuhan itu tersimpan di dalam hatinya. ... Hati Dr. Pearsall berbicara kepada dirinya bahwa ia menderita sakit, tetapi pikiran manusia tidak bisa memahami pengetahuan yang berasal dari hati. Hati mengenal apa yang tidak dapat dipahami oleh pikiran. Dalam hal inilah kita terlalu banyak kehilangan. Mengapa? Karena kita terlalu banyak mendengar dengan pikiran kita sehingga kita kehilangan apa yang dikatakan oleh hati kita” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 146-147,148).

Tanggapan saya:
Lagi-lagi ajaran gila tanpa dasar Alkitab, tetapi hanya didasarkan atas pengalaman seseorang, dan pengalaman inipun dianalisa secara acak-acakan.
Ada beberapa hal yang saya soroti:

a)   Dr. Pearsall merasakan sakit di tempat tertentu dari tubuhnya. Jadi jelas bahwa itu bukan urusan hati! Tetapi Edwin Louis Cole mengatakan ‘hatinya mengatakan’, ‘hati Dr. Pearsall berbicara kepada dirinya ...’. Ini omong kosong!

b)   Orang ini mengacau-balaukan hati (heart) sebagai pusat manusia, dan jantung (heart) sebagai organ tubuh! Dan ini terus ia lakukan dalam buku ini hal 146-149.
Kalau kata ‘heart’ (= hati) disoroti sebagai pusat dari manusia maka bisa dikatakan bahwa ‘heart’ (= hati) itu bisa berpikir. Kata-kata ‘berpikir dalam hatinya’ sedikitnya muncul 2 x dalam Perjanjian Baru, yaitu dalam Mark 2:6 dan Luk 5:21.
Mark 2:6 - “Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya:”.
Luk 5:21 - “Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: ‘Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?’”.
Tetapi kalau kata ‘heart’ diartikan sebagai organ tubuh, yaitu jantung, adalah mustahil jantung bisa berpikir!

c)   Merupakan kegilaan dan bahkan kesesatan untuk mengatakan bahwa hati gadis itu hidup terus karena ditransplantasikan ke gadis lain! Dan apakah pengetahuan lain, seperti misalnya yang dipelajari di sekolah, juga ditransfer ke gadis penerima jantung itu? Kalau demikian, ia bisa naik dua tingkat / kelas dalam sekolahnya! Saya berpendapat ada kemungkinan-kemungkinan penjelasan lain untuk cerita ini (kalau ceritanya memang benar):
1.   Allah yang memberikan mimpi-mimpi itu untuk memberikan petunjuk.
2.   Gadis yang mati itu tadinya kerasukan setan, dan setelah ia mati setannya pindah ke gadis penerima jantung itu, dan mentransfer (sebagian) pengetahuan gadis pertama. Ini mirip seperti kasus anak yang tahu tentang masa lalunya, dan setelah diselidiki ternyata semua benar.

d)   Apakah semua orang lain yang menerima transplantasi jantung juga mendapat pengetahuan dari pendonornya? Kalau ya, mengapa tidak pernah ada pemberitaan tentang hal itu, kecuali oleh Edwin Louis Cole? Dan kalau memang kata-kata Cole ini benar, orang Kristen awam yang menerima jantung dari seorang ahli theologia, bisa langsung mempunyai pengetahuan Alkitab yang hebat (hanya pengetahuannya atau juga iman dan kekudusannya?). Kalau ini benar, kalau saya mati, saya mau mendonorkan jantung saya, supaya pengetahuan Alkitab yang telah saya dapatkan tidak hilang. Kalau bisa saya donorkan kepada tokoh-tokoh / pengajar-pengajar dari gerakan pria sejati / maximal, supaya mereka mempunyai pengertian Alkitab yang baik dan berhenti dari penyesatan yang mereka lakukan!

e)   Mari kita soroti cerita tentang Lazarus dan orang kaya dalam Luk 16:19-31.

1.   Setelah mati dan masuk alam maut / neraka, orang kaya tetap ingat bahwa ia mempunyai 5 saudara yang masih hidup, yang juga sama tidak berimannya dengan dirinya sendiri pada saat ia masih hidup di dunia. Ini menyebabkan ia minta supaya Lazarus dibangkitkan untuk memberitakan Injil kepada kelima saudaranya itu.
Luk 16:27-28 - “(27) Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, (28) sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.

2.   Abraham, yang pada saat itu juga sudah mati, juga tetap ingat bahwa dalam kehidupan mereka, orang kaya itu hidup enak, sedangkan Lazarus hidup menderita.
Luk 16:25 - Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.

Apakah sebelum mati mereka berdua mendonorkan jantungnya, sehingga setelah mati, jantung mereka masih hidup di dunia, sehingga setelah mati mereka bisa mengingat hal-hal itu? Tetapi saat itu adalah jaman primitif, sehingga jelas belum ada transplantasi jantung. Lalu bagaimana mereka mendonorkan jantungnya?

f)    Saya sangat meragukan bahwa dalam kandungan, hati (heart - jantung) dibentuk lebih dulu dari otak! Tetapi ini merupakan urusan kedokteran, bukan urusan theologia. Tetapi, kalaupun apa yang dikatakan Edwin Louis Cole dalam hal ini benar, lalu apa hubungannya dengan seluruh cerita ini? Apakah karena hati itu ada lebih dulu, lalu hati (heart - jantung) itu bisa menyimpan pengetahuan lebih lama dari otak? Apa dasarnya beranggapan seperti ini?

57) Melanggar satu perintah sama dengan melanggar semuanya. Tidak ada seorang manusia pun yang dapat taat tanpa cacat kepada perintah-perintah itu, kebanyakan kita sudah pernah melanggar perintah-perintah itu” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 152).

Tanggapan saya:

a)   Perhatikan kata ‘kebanyakan’ dalam kutipan dari kata-kata Edwin Louis Cole di atas. Kebanyakan? Alkitab mengatakan ‘semua’. Yang dikecualikan hanya Yesus Kristus!
Pkh 7:20 - “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!”.
Ro 3:23 - Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.

b)   Lagi-lagi Edwin Louis Cole mengajar tanpa dasar ayat. Ayat yang mungkin ada dalam pikirannya adalah Yak 2:10-11.
Yak 2:10-11 - “(10) Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. (11) Sebab Ia yang mengatakan: ‘Jangan berzinah’, Ia mengatakan juga: ‘Jangan membunuh’. Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga”.
Tetapi apa arti dari ayat ini? Apakah memang seperti yang dikatakan oleh Edwin Louis Cole?
Calvin memberikan komentar tentang ayat ini, yaitu tentang apa yang diajarkan dan yang tidak diajarkan oleh ayat ini.
1.   Ayat ini memaksudkan bahwa Allah tidak akan dihormati dengan memperkecualikan ayat-ayat tertentu dari Alkitab.
2.   Ayat ini memaksudkan bahwa Allah tidak mengijinkan kita untuk memotong / membuang bagian-bagian Alkitab yang tidak / kurang menyenangkan bagi kita.
3.         Ayat ini tidak berarti bahwa semua dosa itu sama berat.
4.   Ayat ini tidak berarti bahwa orang yang bersalah terhadap satu hukum harus dihukum setara dengan dia yang seluruh hidupnya berdosa dan jahat.

Calvin: “What alone he means is, that God will not be honored with exceptions, nor will he allow us to cut off from his law what is less pleasing to us. At the first view, this sentence seems hard to some, as though the apostle countenanced the paradox of the Stoics, which makes all sins equal, and as though he asserted that he who offends in one thing ought to be punished equally with him whose whole life has been sinful and wicked. But it is evident from the context that no such thing entered into his mind. ... We now, then, understand the design of James, that is, that if we cut off from God’s law what is less agreeable to us, though in other parts we may be obedient, yet we be come guilty of all, because in one particular thing we violate the whole law. And though he accommodates what is said to the subject in hand, it is yet taken from a general principle, - that God has prescribed to us a rule of life, which it is not lawful for us to mutilate. For it is not said of a part of the law, ‘This is the way, walk ye in it;’ nor does the law promise a reward except to universal obedience”.
Catatan: bagian ini tidak saya terjemahkan, karena intinya sudah saya berikan di atas.

58) “Catatan firman Tuhan tentang Musa dalam perjalanannya menuju kepemimpinan atas Israel mengatakan bahwa ia sakit sampai hampir mati. Istrinya, Zipora, menyunatkan anak sulungnya, dan Musa menjadi sembuh, lalu melanjutkan perjalanannya ” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 159).
“Adalah tanggung jawab Musa untuk menyunatkan anaknya, namun ia gagal melakukan tanggung jawab itu. Mengapa? Saya tidak tahu. Dari pengalaman praktis saya bisa membayangkan betapa sibuknya dia dengan panggilan Allah di dalam hidupnya sehingga ia menyerahkan tanggung jawabnya itu kepada istrinya untuk memperhatikan keluarganya. Istrinya, Zipora, tidak memiliki kesamaan dalam hal didikan, warisan budaya atau pengertian tentang Yehovah; oleh karena itu ketika ia dipaksa  melakukan tugas itu, ia marah. Dosa Musa karena mengabaikan aspek yang terpenting dalam hidupnya ini - yaitu membapai - kemungkinan disebabkan oleh keterikatannya dengan seorang Midian, yang terlalu baik kepada anaknya, sementara Musa terlalu baik kepada perempuan itu (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 160).

Tanggapan saya:

a)   Sekalipun mungkin, tetapi Alkitab tidak pernah mengatakan / menuliskan bahwa ‘Musa sakit sampai hampir mati’. Alkitab hanya menuliskan bahwa Tuhan ‘berikhtiar untuk membunuhnya’. Alkitab juga tidak pernah menuliskan bahwa setelah penyunatan itu ‘Musa menjadi sembuh’ (sekalipun ini mungkin saja). Alkitab hanya menuliskan ‘Lalu TUHAN membiarkan Musa’.
Kel 4:24-26 - “(24) Tetapi di tengah jalan, di suatu tempat bermalam, TUHAN bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk membunuhnya. (25) Lalu Zipora mengambil pisau batu, dipotongnya kulit khatan anaknya, kemudian disentuhnya dengan kulit itu kaki Musa sambil berkata: ‘Sesungguhnya engkau pengantin darah bagiku.’ (26) Lalu TUHAN membiarkan Musa. ‘Pengantin darah,’ kata Zipora waktu itu, karena mengingat sunat itu”.

Calvin sendiri juga menganggap bahwa pernyataan bahwa Musa dihajar dengan penyakit yang berat merupakan sesuatu yang terlalu berani.

Calvin: Certain Rabbins, then, are unwise in their conjecture, that Moses had provoked God’s vengeance on this occasion against himself, because he took his wife and children with him as being a useless charge, which would be likely to encumber him. They pronounce also, too boldly, on the nature of his scourge, viz., that he was afflicted by a severe disease, which endangered his life. Be it sufficient for us to know that he was terrified by the approach of certain destruction, and that, at the same time, the cause of his affliction was shewn him, so that he hastened to seek for a remedy.
Catatan: bagian ini tidak saya terjemahkan, karena intinya sudah saya berikan di atas.

b)   ‘Anak sulungnya’?
Biarpun tidak dikatakan secara explicit tetapi kelihatannya anak yang disunat oleh Zipora itu bukan anak sulung tetapi anak kedua / bungsu.
Kel 2:21-22 - “(21) Musa bersedia tinggal di rumah itu, lalu diberikan Rehuellah Zipora, anaknya, kepada Musa. (22) Perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, maka Musa menamainya Gersom, sebab katanya: ‘Aku telah menjadi seorang pendatang di negeri asing.’”.
Kel 4:20 - “Kemudian Musa mengajak isteri dan anak-anaknya lelaki, lalu menaikkan mereka ke atas keledai dan ia kembali ke tanah Mesir; dan tongkat Allah itu dipegangnya di tangannya”.
Anak sulung Musa adalah Gersom (Kel 2:22), dan dalam Kel 4:20 ia sudah mempunyai anak-anak (bentuk jamak). Bdk. Kel 18:3-4 dan 1Taw 23:15 yang mengatakan bahwa anak-anak Musa adalah Gersom dan Eliezer.
Kel 18:3-4 - “(3) dan kedua anak laki-laki Zipora; yang seorang bernama Gersom, sebab kata Musa: ‘Aku telah menjadi seorang pendatang di negeri asing,’ (4) dan yang seorang lagi bernama Eliezer, sebab katanya: ‘Allah bapaku adalah penolongku dan telah menyelamatkan aku dari pedang Firaun.’”.
1Taw 23:15 - “Anak-anak Musa ialah Gersom dan Eliezer.

Yang disunat oleh Zipora dalam Kel 4:25 adalah ‘anak’nya (bentuk tunggal), dan kelihatannya ini adalah anak yang kedua / bungsu.
Keil & Delitzsch (tentang Kel 4:24-26): “From the word ‘her son,’ it is evident that Zipporah only circumcised one of the two sons of Moses (v. 20); so that the other, not doubt the elder, had already been circumcised in accordance with the law” [= Dari kata ‘anaknya’, adalah jelas bahwa Zipora hanya menyunatkan satu dari dua anak laki-laki dari Musa (ay 20); sehingga yang satunya, tak diragukan yang lebih tua, telah disunat sesuai dengan hukum Taurat].

c)   Dalam kutipan kedua (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 160) itu, mula-mula Edwin Louis Cole mengatakan ia tidak tahu mengapa Musa tidak menyunatkan anaknya, tetapi mungkin karena kesibukannya, ia lalu melemparkan tugas itu kepada istrinya. Tetapi pada bagian bawah dari kata-katanya (yang saya beri garis bawah ganda) mengatakan bahwa penyebab tidak disunatnya anak itu adalah: Zipora terlalu baik kepada anak itu, dan Musa terlalu baik kepada Zipora. Ini dua hal yang bertentangan!
Menurut saya adalah tidak mungkin Musa melalaikan penyunatan anak itu karena kesibukannya. Penyunatan tidak membutuhkan banyak waktu, dan ia tidak harus menyunat anak itu dengan tangannya sendiri, tetapi bisa menyuruh orang untuk menyunatkan anak itu.
Ada kemungkinan bahwa Musa dan / atau Zipora merasa kasihan kepada anak sulungnya, yaitu Gersom, ketika ia disunat. Karena itu, anak kedua, yaitu Eliezer (Kel 18:4), ditunda penyunatannya.
Atau, seperti dikatakan oleh Calvin, Musa tidak menyunatkan anaknya karena mertua / istrinya tidak menyetujuinya, dan ia lebih ingin menyenangkan orang dari pada Tuhan.

Calvin: Be it sufficient for us to know that he was terrified by the approach of certain destruction, and that, at the same time, the cause of his affliction was shewn him, so that he hastened to seek for a remedy. For, as we have just said, it would never have otherwise occurred to himself or his wife to circumcise the child to appease God’s wrath; and it will appear a little further on, that God was, as it were, propitiated by this offering, since he withdrew his hand, and took away the tokens of his wrath. I therefore unhesitatingly conclude, that vengeance was declared against Moses for his negligence, which was connected with still heavier sins; for he had not omitted his son’s circumcision from forgetfulness, or ignorance, or carelessness only, but because he was aware that it was disagreeable either to his wife or to his father-in-law. Therefore, lest. his wife should quarrel with him, or his father-in-law trouble him, he preferred to gratify them than to give occasion for divisions, or enmity, or disturbance. In the meantime, however, for the sake of the favour of men he neglected to obey God. This false dealing was no light offense, since nothing is more intolerable than to defraud God of his due obedience, in order to please men.
Catatan: bagian ini tidak saya terjemahkan, karena intinya sudah saya berikan di atas.

59) “Abraham adalah bapa segala orang percaya di bumi ini. ... Pekerjaan-pekerjaan apa saja yang Abraham turunkan kepada keturunannya? Pertama, ia dibenarkan karena iman; kedua, ia taat memberikan persepuluhan; ketiga, ia menyelamatkan Lot; keempat, ia memimpin keluarganya. Allah mengangkat Abraham sebagai pemimpin atas keluarga sorgawi yang ada di atas bumi ini melalui kepemimpinannya atas keluarga duniawinya” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 159-160).

Tanggapan saya:

a)   Dari mana tahu-tahu muncul persepuluhan? Abraham memang memberikan 1/10 hasil rampasan kepada Melkisedek (Kej 14:20), tetapi ini tidak bisa dianggap sebagai ketaatan, karena pada saat itu hal itu belum diwajibkan. Memberikan persembahan persepuluhan baru diwajibkan pada jaman Musa.
b)   Penyelamatan Lot juga tidak pernah ditekankan oleh Alkitab sebagai ketaatan Abraham.
c)   Abraham memimpin keluarganya? Inipun tak pernah ditekankan sebagai ketaatan Abraham. Perlu diingat bahwa Abraham melakukan polygamy, karena mengambil Hagar menjadi istri / gundik, biarpun itu ia lakukan atas saran dari Sarai.
d)   Abraham tidak diangkat menjadi pemimpin atas keluarga sorgawi yang ada di atas bumi melalui kepemimpinannya atas keluarga duniawinya! Abraham disebut sebagai ‘bapa orang beriman’ bukan karena keberhasilannya memimpin keluarga duniawinya, tetapi karena imannya!
Ro 4:9-13 - “(9) Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat? Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran. (10) Dalam keadaan manakah hal itu diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia disunat? Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya. (11) Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat. Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya yang tak bersunat, supaya kebenaran diperhitungkan kepada mereka, (12) dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia belum disunat. (13) Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman.
Ro 4:16-25 - “(16) Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, - (17) seperti ada tertulis: ‘Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa’ - di hadapan Allah yang kepadaNya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firmanNya apa yang tidak ada menjadi ada. (18) Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.’ (19) Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. (20) Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, (21) dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. (22) Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. (23) Kata-kata ini, yaitu ‘hal ini diperhitungkan kepadanya,’ tidak ditulis untuk Abraham saja, (24) tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, (25) yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita”.

60) “Pikirkan pekerjaan-pekerjaan seorang ayah sejati, seorang anak Abraham yang sejati, seorang anak Allah yang sejati. Pertama, sunatkan anak laki-lakimu. Dalam Perjanjian Baru pekerjaan penyunatan anak ini (secara rohani) sama dengan memastikan bahwa anak-anak Anda adalah orang-orang Kristen yang sejati, yang lahir dari Roh Allah (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 161).

Tanggapan saya:

a)   Lagi-lagi ajaran tanpa dasar Alkitab. Mana dasar Alkitabnya untuk mengatakan bahwa menyunatkan anak (secara rohani) merupakan pekerjaan dari ayah saja (bukan dari ibu)?

b)   Menyunatkan anak (secara rohani) adalah sama dengan memastikan kekristenan anak? Rasanya lebih cocok kalau disamakan dengan penginjilan terhadap anak.

c)   Dan kalau mau mengikuti ajaran Edwin Louis Cole, itu berarti kita hanya perlu memastikan bahwa anak laki-laki kita adalah orang-orang Kristen sejati. Lalu bagaimana dengan anak-anak perempuan kita?

Dari banyaknya bagian-bagian dimana ajaran-ajaran diberikan atau tanpa dasar Alkitab sama sekali, atau dengan dasar Alkitab yang ditafsirkan secara kacau balau, jelas bahwa adalah tidak mungkin / sukar untuk menyebut gerakan pria sejati / maximal ini sebagai gerakan yang Alkitabiah!

Penerapan: bagi semua saudara, belajarlah untuk hanya menerima ajaran yang mempunyai dasar Alkitab yang ditafsirkan secara benar. Kalau ada orang mengajar tanpa dasar Alkitab, atau menggunakan ayat Alkitab yang ditafsirkan secara kacau balau, tak peduli siapa pengajar itu, jangan pedulikan ajarannya! Sebaliknya, siapapun mengajar dengan menggunakan dasar Alkitab yang benar, terimalah ajarannya. Ini merupakan suatu sikap meninggikan / menghormati otoritas dari Alkitab / Firman Tuhan!

C)  Hal-hal yang salah dalam hal-hal praktis, moral, etika.

1)         Ajaran yang berbau Theologia Kemakmuran / Sukses.

“Yesus mengatakan, ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup’ (Yohanes 14:6). Kebenaran merupakan titik tumpu bagi jalan dan juga kehidupan. ‘Jalan’ adalah arah kita dalam kehidupan ini, ‘kebenaran’ adalah dasar moral dan intelektual untuk kehidupan, sedangkan ‘kehidupan’ adalah buah hubungan kita dengan Yesus. Semakin banyak kita mendasarkan kehidupan ini kepada kebenaran, akan semakin baik jalan kita dan semakin luar biasa pula kehidupan kita (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 172).

“Selanjutnya hikmat Allah itu akan menjadi kunci untuk meraih kemenangan dalam hampir setiap bidang kehidupan ini (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 240).

“Jadi, apakah tujuan hidup kita adalah menjadi serupa dengan Kristus atau sukses mencari kekayaan semata? Apabila kita menjadi serupa dengan Kristus maka kekayaan sejati akan mengikuti kita. Sebaliknya apabila kita mencari kekayaan tanpa keserupaan dengan Kristus hal itu adalah kekayaan yang palsu. Di dalam kekayaan belum tentu ada keserupaan dengan Kristus, tetapi di dalam keserupaan dengan Kristus pasti ada kekayaan sejati. Untuk menjadi sukses kita harus terus-menerus berjalan di dalam keserupaan dengan Kristus (Eddy Leo, ‘Seri Penuntun Saat Teduh Pria’, hal 7).

Tanggapan saya:
Ketiga kutipan di atas ini berbau ajaran Kharismatik / theologia kemakmuran / theologia sukses. Kata-kata ‘dalam hampir setiap bidang kehidupan ini’ (kutipan kedua) tidak mungkin diartikan sukses secara rohani saja, tetapi pasti mencakup hal-hal sekuler / duniawi. Ini tidak cocok dengan Alkitab.

2)         Harus percaya diri (PD)?
“Mereka semua, gembala dan jemaat, secara jasmani mulai menuai hasil kerja mereka, yaitu rasa percaya diri dan harga diri. Kedua hal tersebut merupakan hasil yang mereka peroleh setelah mereka melakukan rencana Allah dengan cara menjadi kreatif” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 263).

Tanggapan saya:

a)   Tentang percaya diri.
Alkitab justru mengecam PD!
Yak 4:13-16 - “(13) Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ‘Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung’, (14) sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. (15) Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.’ (16) Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah”.
Yer 9:23-24 - “(23) Beginilah firman TUHAN: ‘Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, (24) tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.’”.
Yer 17:5,7 - “(5) Beginilah firman TUHAN: ‘Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! ... (7) Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”.
1Kor 1:31 - “Karena itu seperti ada tertulis: ‘Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.’”.

b)   Tentang harga diri.
Saya tidak terlalu mengerti apa yang ia maksudkan dengan ‘harga diri’ dan saya juga tak mengerti mengapa hal yang satu ini ditonjolkan sebagai sesuatu yang positif. Tetapi yang jelas Alkitab / Yesus menyuruh kita untuk menyangkal diri!
Mat 16:24 - “Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku”.

Memang orang yang tidak punya harga diri, misalnya yang kerjanya hutang lalu tidak membayar, atau makan dari keringat orang lain, atau mengemis dsb, adalah salah. Tetapi punya harga diri yang terlalu tinggi, sehingga sedikit-sedikit gengsi, itu jelas adalah kesombongan! Rendah hati, yang merupakan sikap yang benar / saleh, terletak di antara kedua extrim ini, yaitu ‘tak punya harga diri’ dan ‘kesombongan’.

3)         Sikap tidak bertanggung jawab dari Edwin Louis Cole.

a)   Dalam memberikan persembahan.
“Sejak saat itu saya tidak pernah mengkhawatirkan segala sumbangan yang saya berikan. Saya tidak mempersoalkan apa yang dilakukan orang dengan pemberian saya. Kadang-kadang berdasarkan dorongan yang paling lemah sekalipun saya bahkan memberi juga kepada orang-orang yang saya rasa tidak akan memperlakukan pemberian saya secara benar. Tetapi, bukankah mereka sendiri kelak yang harus bertanggung jawab kepada Allah atas sikap mereka terhadap uang itu, dan bukan saya?” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 271).

Menurut saya, kata-kata ini:
1.   Bertentangan dengan Amsal 3:27-28 - “(27) Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. (28) Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: ‘Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,’ sedangkan yang diminta ada padamu”.
2.   Juga menunjukkan suatu sikap tidak bertanggung jawab, dan melemparkan tanggung jawab kepada orang lain! Ini juga merupakan pemberian yang merusak orang, dan karena itu bukan tindakan kasih!

Anehnya, selanjutnya Edwin Louis Cole berkata:
“Penggelapan uang yang dilakukan beberapa pegawai bank tidak membuat saya berhenti menabung di bank. Sebagian uang pajak yang saya bayar mungkin menyelinap ke saku seseorang, namun demikian saya tetap membayar pajak. Dan, meskipun ada hamba Tuhan yang menggunakan pemberian umat Tuhan secara egois, untuk memuaskan hawa nafsu dan kepentingan mereka sendiri, saya tetap tidak akan berhenti memberi untuk Tuhan. Tanggung jawab saya kepada Allah tidak berdasarkan kepada hubungan orang lain dengan Dia. Meskipun demikian, bukan berarti saya sengaja memberi dengan tidak bertanggung jawab, tidak teratur, atau sembrono. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk selalu memberi dengan penuh tanggung jawab dan dengan murah hati agar menyenangkan hati Allah (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 271).
Ini kok bertentangan dengan kata-katanya di atas???

Juga Edwin Louis Cole menyalahkan orang yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam pemilu dengan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
“Orang yang tidak memberi persepuluhan sama dengan orang yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum. Keduanya sama-sama tidak bertanggung jawab” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 272).
Anehnya, mengapa dalam memberikan persembahan kita tidak perlu memilih orang / gereja yang benar yang memang berhak mendapatkan persembahan kita?

b)   Dalam mempersiapkan khotbah.
“Berkhotbah dan mengajar merupakan kerja keras yang mulia. Ringkasan rencana khotbah sering harus saya persiapkan di antara deretan kursi-kursi di dalam pesawat. Kebanyakan persiapan pelayanan saya di ruangan yang sempit itu, yakni di atas meja sandaran kursi yang ada di dalam pesawat terbang” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 1).

“Mesin jet menderu di belakang badan pesawat. Alkitab dan buku catatan saya terbuka di atas meja lipat yang ada di hadapan saya. Tetapi, di dalam perenungan ini, saya seperti kehilangan kesadaran akan keadaan di sekitar saya. Sesuatu sedang bergejolak di dalam roh saya. Saya sadar, hadirat Allah hadir” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 2).

Apakah ini pelayanan yang bertanggung jawab? Tidak heran khotbahnya tak karuan, persiapannya pasti tanpa buku tafsiran / theologia, mungkin karena ia ‘mendapat wahyu’!

c)   Dalam persoalan mengundurkan diri dari jabatan gembala sidang.
“Selama tiga bulan pertama tahun 1981, saya sibuk luar biasa. Saya melayani di dua jaringan televisi, menjadi rektor sekolah Alkitab, menjadi pendeta senior di sebuah gereja, ditambah lagi sebagai pemimpin pertemuan-pertemuan kaum pria. Semua ini sudah lebih dari cukup bagi saya. ... George Otis mengatakan bahwa ia punya ‘pesan’ untuk kami, ... Sekarang saya dipanggil untuk melayani seluruh dunia. ... Dalam dua puluh empat jam, saya menulis surat-surat pengunduran diri dari posisi-posisi yang sedang saya jabat, membebaskan diri saya dari komitmen-komitmen saya yang lain. Sekarang waktunya untuk mengutamakan kaum pria” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 173).

“Dalam waktu dua puluh empat jam kemudian saya segera mengundurkan diri dari tugas penggembalaan di gereja dan dari semua jabatan organisasi yang saya pegang. Empat puluh delapan jam kemudian, di garasi rumah saya, saya memulai tugas pelayanan saya yang baru. Mulai saat itu saya menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu yang khusus melayani kaum pria” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 135).

Apakah ini pria yang bertanggung jawab? Meninggalkan pelayanan gembala sidang dalam 24 jam pasti mengacaukan gereja! Dan itu datang dari Tuhan?

Dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’ dikatakan sebagai berikut: “Kedewasaan seorang pria tidak diukur dari umur tetapi dari penerimaan akan tanggung jawab. ... Apabila pria tidak mau menerima dan melakukan tanggung jawab yang Tuhan taruh dalam kehidupannya, dan jika pria tidak mau bertanggung jawab sebagai kepala di dalam keluarganya, maka keluarganya akan mengalami kehancuran” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 67,68).
Kalau begitu menurut buku ini, big boss-nya sendiri orang yang tidak dewasa, karena bukan hanya tidak tanggung jawab, tetapi juga melemparkan tanggung jawab itu kepada orang lain, sama seperti Adam dan Hawa.

4)         Dalam persoalan persembahan persepuluhan.

a)   Persembahan persepuluhan disamakan dengan buah sulung.

“Persepuluhan adalah ‘buah sulung’ dari penghasilan atau kekayaan seseorang, ...” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 271).

Buah sulung (first fruits) berbeda dengan persembahan persepuluhan!

International Standard Bible Encyclopedia (Revised Edition) dengan topik ‘Tithe’: “The relationship of the first fruits to the tithe is unclear. A. S. Peake distinguished between them (HDB, IV, 780), but Guthrie maintained that they had a common origin. The tithe is not mentioned in the book of the covenant, though the two are mentioned together in Deut 26:1-15. Deut 18:4 complicates the issue by demanding that the first fruits be given to the priests; no such command is asserted about the tithe (McConville, pp. 68-123)” [= Hubungan buah sulung dengan persembahan persepuluhan tidak jelas. A. S. Peake membedakan mereka (HDB, IV, 780), tetapi Guthrie mempertahankan / menyatakan bahwa mereka mempunyai asal usul yang sama. Persembahan persepuluhan tidak disebutkan dalam kitab perjanjian, sekalipun keduanya disebutkan bersama-sama dalam Ul 26:1-15. Ul 18:4 memperumit persoalan dengan menuntut bahwa buah sulung diberikan kepada imam-imam; tak ada perintah seperti itu ditegaskan tentang persembahan persepuluhan (McConville, hal 68-123)].

Ul 26:1-15 - “(1) ‘Apabila engkau telah masuk ke negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, dan engkau telah mendudukinya dan diam di sana, (2) maka haruslah engkau membawa hasil pertama dari bumi yang telah kaukumpulkan dari tanahmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan haruslah engkau menaruhnya dalam bakul, kemudian pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat namaNya diam di sana. (3) Dan sesampainya kepada imam yang ada pada waktu itu, haruslah engkau berkata kepadanya: Aku memberitahukan pada hari ini kepada TUHAN, Allahmu, bahwa aku telah masuk ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang kita untuk memberikannya kepada kita. (4) Maka imam harus menerima bakul itu dari tanganmu dan meletakkannya di depan mezbah TUHAN, Allahmu. (5) Kemudian engkau harus menyatakan di hadapan TUHAN, Allahmu, demikian: Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara. Ia pergi ke Mesir dengan sedikit orang saja dan tinggal di sana sebagai orang asing, tetapi di sana ia menjadi suatu bangsa yang besar, kuat dan banyak jumlahnya. (6) Ketika orang Mesir menganiaya dan menindas kami dan menyuruh kami melakukan pekerjaan yang berat, (7) maka kami berseru kepada TUHAN, Allah nenek moyang kami, lalu TUHAN mendengar suara kami dan melihat kesengsaraan dan kesukaran kami dan penindasan terhadap kami. (8) Lalu TUHAN membawa kami keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, dengan kedahsyatan yang besar dan dengan tanda-tanda serta mujizat-mujizat. (9) Ia membawa kami ke tempat ini, dan memberikan kepada kami negeri ini, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. (10) Oleh sebab itu, di sini aku membawa hasil pertama dari bumi yang telah Kauberikan kepadaku, ya TUHAN. Kemudian engkau harus meletakkannya di hadapan TUHAN, Allahmu; engkau harus sujud di hadapan TUHAN, Allahmu, (11) dan haruslah engkau, orang Lewi dan orang asing yang ada di tengah-tengahmu bersukaria karena segala yang baik yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu dan kepada seisi rumahmu.’ (12) ‘Apabila dalam tahun yang ketiga, tahun persembahan persepuluhan, engkau sudah selesai mengambil segala persembahan persepuluhan dari hasil tanahmu, maka haruslah engkau memberikannya kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim dan kepada janda, supaya mereka dapat makan di dalam tempatmu dan menjadi kenyang. (13) Dan haruslah engkau berkata di hadapan TUHAN, Allahmu: Telah kupindahkan persembahan kudus itu dari rumahku, juga telah kuberikan kepada orang Lewi, dan kepada orang asing, anak yatim dan kepada janda, tepat seperti perintah yang telah Kauberikan kepadaku. Tidak kulangkahi atau kulupakan sesuatu dari perintahMu itu. (14) Pada waktu aku berkabung sesuatu tidak kumakan dari persembahan kudus itu, pada waktu aku najis sesuatu tidak kujauhkan dari padanya, juga sesuatu tidak kupersembahkan dari padanya kepada orang mati, tetapi aku mendengarkan suara TUHAN, Allahku, aku berbuat sesuai dengan segala yang Kauperintahkan kepadaku. (15) Jenguklah dari tempat kediamanMu yang kudus, dari dalam sorga, dan berkatilah umatMu Israel, dan tanah yang telah Kauberikan kepada kami, seperti yang telah Kaujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyang kami - suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.’”.

Ul 18:3-4 - “(3) Inilah hak imam terhadap kaum awam, terhadap mereka yang mempersembahkan korban sembelihan, baik lembu maupun domba: kepada imam haruslah diberikan paha depan, kedua rahang dan perut besar. (4) Hasil pertama dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, dan bulu guntingan pertama dari dombamu haruslah kauberikan kepadanya.

Saya berpendapat bahwa buah sulung / pertama jelas berbeda dengan persembahan persepuluhan.

b)   Tidak memberi persembahan persepuluhan disamakan dengan tidak menggunakan hak pilih dalam pemilu.
“Orang yang tidak memberi persepuluhan sama dengan orang yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum. Keduanya sama-sama tidak bertanggung jawab” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 272).
Menurut saya, kedua hal ini tidak bisa disamakan. Tidak memberikan persembahan persepuluhan jelas merupakan dosa yang dikecam di banyak tempat dalam Alkitab, sedangkan tidak memberikan suara dalam pemilu sama sekali tidak pernah dibicarakan!

5)         Ajarannya tentang stres.
Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:
“Stres merupakan hal yang normal dan bahkan diperlukan dalam kehidupan ini” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 287).
Lalu ia menceritakan tentang seseorang yang mengalami beberapa hal positif dari stress, dan inilah beberapa hal itu.

a)   “Stres diperlukan untuk terjadinya pertumbuhan rohani (Yakobus 1:2-4)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 287).
Yak 1:2-4 - “(2) Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, (3) sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. (4) Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun”.
Apakah pencobaan sama dengan stres???

b)   “Stres membuahkan kasih yang semakin besar dalam diri orang-orang yang setia (Roma 5:3-5)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 287).
Ro 5:3-5 - “(3) Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, (4) dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. (5) Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita”.
Apa urusan text ini dengan stres? Apakah kesengsaraan sama dengan stres?

c)   “Stres menghasilkan kehidupan yang semakin kudus (1 Petrus 4:1)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 288).
1Pet 4:1 - “Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, - karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa -,”.
Stres tidak = penderitaan badani!

d)   “Ujian mempersiapkan Anda untuk menghadapi pekerjaan yang lebih besar (Wahyu 3:12)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 288).
Wah 3:12 - “Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci AllahKu, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama AllahKu, nama kota AllahKu, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari AllahKu, dan namaKu yang baru”.
Ayat ini tentang sorga, dan tak ada urusannya dengan stres. Tetapi Edwin Louis Cole menghapuskan kata ‘stres’ dalam kalimat ini, padahal di awal ia membicarakan ‘aspek positif dari stres’ (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 287).

e)   “Stres memperbesar kebutuhan akan doa (Filipi 4:6)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 288).
Fil 4:6 - “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”.
Ini juga tak bicara tentang stres.

f)    “Stres timbul pada saat kita melawan iblis (1 Petrus 5:9)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 288).
1Pet 5:9 - “Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama”.
Apa urusan ayat ini dengan stres? Dan apa aspek positif dari stres dari kalimat ini?

g)   “Ujian harus dijalani untuk seperti memperoleh kemenangan (Yakobus 1:12; Roma 8:35-37)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 288).
Yak 1:12 - “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia”.
Ro 8:35-37 - “(35) Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? (36) Seperti ada tertulis: ‘Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.’ (37) Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita”.
Lagi-lagi ia tidak bicara tentang stres tetapi tentang ujian / pencobaan. Ini 2 hal yang berbeda.

h)   “Stres mendorong kita mencari Allah, dan dengan cara itu kita akan memuliakan Dia (1 Petrus 4:12-13)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 288).
1Pet 4:12-13 - “(12) Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. (13) Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaanNya”.
Apa urusannya text ini dengan apa yang ia katakan?

6)         Penekanan keluarga (istri dan anak-anak) yang kelewat batas.
“Perkara terbesar yang bisa dilakukan oleh seorang ayah bagi anak-anaknya adalah dengan mengasihi ibu mereka” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 113).

“Hal yang terbesar yang bisa dilakukan seorang ayah bagi anak-anaknya adalah mencintai ibu mereka” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 21).

“Istri dan keluarga harus lebih didahulukan daripada bisnis, pelayanan, atau karier. Sedangkan Allah harus didahulukan daripada istri dan keluarga” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 184).

Tanggapan saya:

Menurut saya ini merupakan suatu peng-extrim-an kasih kepada istri / keluarga! Hal yang terbesar bukan mengasihi Tuhan, bukan memberitakan Injil kepada anak-anak itu, tetapi mengasihi ibu mereka???
Memang Allah dan pelayanan tidak bisa diidentikkan, tetapi kalau pelayanan itu memang diperintahkan oleh Allah, maka pelayanan itu harus diutamakan dari keluarga!

Kej 12:1 - “Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: ‘Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu”.

Kej 22:1-12 - “(1) Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: ‘Abraham,’ lalu sahutnya: ‘Ya, Tuhan.’ (2) FirmanNya: ‘Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.’ (3) Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. (4) Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. (5) Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: ‘Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.’ (6) Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. (7) Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: ‘Bapa.’ Sahut Abraham: ‘Ya, anakku.’ Bertanyalah ia: ‘Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?’ (8) Sahut Abraham: ‘Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagiNya, anakku.’ Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. (9) Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. (10) Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. (11) Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: ‘Abraham, Abraham.’ Sahutnya: ‘Ya, Tuhan.’ (12) Lalu Ia berfirman: ‘Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepadaKu.’”.

Mat 22:37-39 - “(37) Jawab Yesus kepadanya: ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (38) Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. (39) Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.

Mat 10:34-37 - “(34) ‘Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. (35) Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, (36) dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. (37) Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari padaKu, ia tidak layak bagiKu; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari padaKu, ia tidak layak bagiKu”.
Luk 14:26 - “‘Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu”.

Mark 10:28-30 - “(28) Berkatalah Petrus kepada Yesus: ‘Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!’ (29) Jawab Yesus: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, (30) orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal”.

Luk 18:28-30 - “(28) Petrus berkata: ‘Kami ini telah meninggalkan segala kepunyaan kami dan mengikut Engkau.’ (29) Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya atau saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya, (30) akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.’”.

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Luk 18:29): “Observe how our Lord identifies the interests of the kingdom of God with the Gospel’s and with His own - saying alternatively, ‘For the kingdom of God’s sake,’ and ‘for My sake and the Gospel’s.’” (= Perhatikan bagaimana Tuhan kita mengidentikkan kepentingan dari kerajaan Allah dengan kepentingan dari Injil dan dengan diriNya sendiri - dengan mengatakan secara bergantian, ‘Karena Kerajaan Allah’, dan ‘karena Aku dan karena Injil’).

D)  Pernyataan-pernyataan yang ngawur / tanpa dipikir / konyol.

1)   “Kedewasaan seorang pria tidak diukur dari umur tetapi dari penerimaan akan tanggung jawab. ... Apabila pria tidak mau menerima dan melakukan tanggung jawab yang Tuhan taruh dalam kehidupannya, dan jika pria tidak mau bertanggung jawab sebagai kepala di dalam keluarganya, maka keluarganya akan mengalami kehancuran” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 67,68).

“Itulah Yesus sang pria sejati” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 70).

Tanggapan saya:
Yesus tidak menikah. Lalu tanggung jawab sebagai kepala keluarga dimana?

2)   Mirip dengan no 1) tadi, Edwin Louis Cole berkata:
Kristus tidak hanya memiliki ketiga ciri yang dinamis ini, namun juga keenam syarat yang ditetapkan Allah bagi pemimpin sejati. Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus berdasarkan ilham Roh Kudus memberikan persyaratan bagi penilik jemaat yang sesungguhnya berlaku juga bagi setiap pemimpin di muka bumi ini. Dalam persyaratan itu disebutkan bahwa seorang pemimpin harus tidak bercacat (tidak tercela), suami dari satu istri, dapat menahan diri, ....” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 309).

Tanggapan saya:
Bagaimana Yesus bisa memiliki syarat ‘suami dari satu istri’???

3)   “Satu-satunya yang tidak pernah berubah di dalam kehidupan adalah perubahan itu sendiri” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 80).

Tanggapan saya:
Hanya Allah yang tidak berubah! ‘Perubahan’ bisa berubah, yaitu menjadi makin cepat atau makin lambat, menjadi makin baik atau makin buruk!

4)   “Yesus adalah kebenaran! Karena itu, Yesus adalah juga kesejatian!” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 27).

Tanggapan saya:
Apa maksudnya??

5)   “Tuhan Yesus adalah imam besar (Mediator kita) atas perkataan-perkataan kita” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 42).

Tanggapan saya:
Ini omongan apa? Tuhan Yesus adalah mediator antara kita dengan Allah (1Tim 2:5), bukan mediator atas perkataan-perkataan kita! Mediator / pengantara, harus ada di antara dua pihak! Mana pihak ke 2? Antara perkataan-perkataan kita dengan apa / siapa?

6)   “Sebelum manusia sepakat dengan penilaian Allah atas kesalahan mereka dan dengan persediaanNya bagi kepentingan kekal mereka, maka manusia akan berada di luar wewenang dan kemampuan Allah (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 78).

Tanggapan saya:
Lucu sekali!!!! Bagaimana dengan Yunus??? Pada waktu ia menolak perintah Allah, dan pergi ke tempat yang lain, apakah ia berada di luar wewenang Allah?

Bdk. Maz 139:5-12 - “(5) Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tanganMu ke atasku. (6) Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya. (7) Ke mana aku dapat pergi menjauhi rohMu, ke mana aku dapat lari dari hadapanMu? (8) Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. (9) Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, (10) juga di sana tanganMu akan menuntun aku, dan tangan kananMu memegang aku. (11) Jika aku berkata: ‘Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,’ (12) maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagiMu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang”.

7)   “Anugerah keselamatan dari Allah telah memungkinkan Roh Allah bersaksi kepada roh manusia, sehingga kita dapat mengatakan, ‘Ya Abba, ya Bapa’. ... Roh kita selanjutnya juga akan bersaksi kepada Allah dan kepada orang lain” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 137).

Tanggapan saya:
Kata-kata pada bagian awal dari kutipan di atas berasal dari Ro 8:15-16 - “(15) Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’ (16) Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah”.
Calvin menafsirkan bahwa arti dari ay 16nya adalah bahwa Roh Kudus itu meyakinkan kita bahwa kita adalah anak-anak Allah.

Tetapi kata-kata Cole pada bagian akhir dari kutipan di atas itu didapatkan dari mana, dan artinya apa? Bagaimana roh kita bersaksi kepada Allah? Ini merupakan suatu ajaran asing / liar!

8)         “nasihat Gamaliel yang berasal dari Allah ...” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 137).

Tanggapan saya:

Kis 5:26-40 - “(26) Maka pergilah kepala pengawal serta orang-orangnya ke Bait Allah, lalu mengambil kedua rasul itu, tetapi tidak dengan kekerasan, karena mereka takut, kalau-kalau orang banyak melempari mereka. (27) Mereka membawa keduanya dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Imam Besar mulai menanyai mereka, (28) katanya: ‘Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Namun ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami.’ (29) Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: ‘Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. (30) Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. (31) Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kananNya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. (32) Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia.’ (33) Mendengar perkataan itu sangatlah tertusuk hati mereka dan mereka bermaksud membunuh rasul-rasul itu. (34) Tetapi seorang Farisi dalam Mahkamah Agama itu, yang bernama Gamaliel, seorang ahli Taurat yang sangat dihormati seluruh orang banyak, bangkit dan meminta, supaya orang-orang itu disuruh keluar sebentar. (35) Sesudah itu ia berkata kepada sidang: ‘Hai orang-orang Israel, pertimbangkanlah baik-baik, apa yang hendak kamu perbuat terhadap orang-orang ini! (36) Sebab dahulu telah muncul si Teudas, yang mengaku dirinya seorang istimewa dan ia mempunyai kira-kira empat ratus orang pengikut; tetapi ia dibunuh dan cerai-berailah seluruh pengikutnya dan lenyap. (37) Sesudah dia, pada waktu pendaftaran penduduk, muncullah si Yudas, seorang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan cerai-berailah seluruh pengikutnya. (38) Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, (39) tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Allah.’ Nasihat itu diterima. (40) Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu menyesah mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan”.

Paling-paling kita bisa memuji kebijaksanaan Gamaliel, yang dengan nasehatnya itu bisa meredam kemarahan dari Mahkamah Agama Yahudi, sehingga tidak membunuh Paulus. Tetapi kalau kita menilai kata-kata Gamaliel itu sendiri, kata-kata itu jelas salah. Mengapa? Karena kalau kata-kata itu kita turuti, itu berarti kita harus membiarkan kejahatan / kesalahan, dan ‘menyerahkannya’ ke tangan Tuhan saja.

Barnes’ Notes (tentang Kis 5:38): “It will be remembered that this is the mere advice of Gamaliel, who was not inspired, and that this opinion should not be adduced to guide us, except as it was an instance of great shrewdness and prudence. It is doubtless right to oppose error in the proper way and with the proper temper, not with arms, or vituperation, or with the civil power, but with argument and kind entreaty” (= Akan diingat bahwa ini adalah semata-mata nasehat dari Gamaliel, yang tidak diilhami, dan bahwa pandangan ini tidak boleh dikemukakan untuk membimbing kita, kecuali itu merupakan suatu contoh dari kelicinan dan kebijaksanaan yang besar. Tak diragukan bahwa adalah benar untuk menentang kesalahan dengan cara yang benar dan dengan watak / temperamen yang benar, bukan dengan kekuasaan, atau makian / kata-kata kasar, atau dengan kekuasaan sipil, tetapi dengan argumentasi dan doa yang baik).

Calvin (tentang Kis 5:34): if we consider all things well, this judgment and opinion is unmeet for a wise man. I know that many count it as an oracle, but it appeareth sufficiently hereby that they judge amiss, because by this means men should abstain from all punishments, neither were any wicked fact any longer to be corrected (= jika kita mempertimbangkan segala sesuatu dengan baik, penilaian dan pandangan ini tidak cocok bagi seorang yang bijaksana. Saya tahu bahwa banyak orang menganggapnya sebagai suatu sabda / firman, tetapi terlihat secara cukup dengan ini bahwa mereka salah menilai, karena dengan cara ini manusia akan menjauhkan diri dari semua hukuman, dan juga tidak ada fakta kejahatan apapun yang akan dibetulkan).

Calvin lalu menambahkan bahwa karena itu Tuhan memberikan pemerintah hak untuk menggunakan pedang, dan juga memberikan penatua-penatua untuk menertibkan orang-orang yang tegar tengkuk.

Juga kata-kata Gamaliel dalam Kis 5:38b - jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, menurut saya adalah salah. Ada banyak agama / sekte yang jelas salah / sesat dan tidak berasal dari Allah, tetapi bertahan ratusan / ribuan tahun sampai saat ini!

9)   Setelah menceritakan hal-hal yang bagus tentang Winston Churchill, Edwin Louis Cole lalu berkata:
“Ketiga ciri di atas sebenarnya diteladani dari Yesus Kristus” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 308).

Tanggapan saya:
Winston Churchill memang adalah negarawan yang sangat hebat, pejuang yang berani, pemimpin yang luar biasa. Tetapi semua ini hanya dalam hal sekuler. Boleh dikatakan ia sama sekali tak pernah dibicarakan orang dalam urusan rohani. Saya sama sekali tidak yakin bahwa tokoh ini adalah orang kristen yang sejati! Dan karena itu, adalah mustahil bahwa ia meneladani Kristus!

10) “Etika bukanlah sekedar mata kuliah bagi mahasiswa yang menekuni jurusan filsafat” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 311).

Tanggapan saya:
Saya tak mengerti apa hubungan etika dan filsafat!

11) “Kaum Saduki adalah orang yang gemar mengubah hal-hal yang mutlak menjadi bersifat relatif” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 312).

Tanggapan saya:
Apa iya? Apa dasarnya mengatakan hal ini?

12) “Kemampuan untuk mengakui keunikan orang lain merupakan suatu kekuatan tersendiri. Kaum wanita diciptakan dengan suatu keunikan yang berasal dari Allah sendiri. Apabila seorang suami mampu menerima dan menghargai keunikan itu, maka istrinya akan menjadi istri dan sahabat terbaik baginya, dan akan menyempurnakan kehidupannya. Kalau keunikan seorang wanita diabaikan, dipadamkan, atau hanya dipandang sebagai pembangkit hawa nafsu, maka ia akan menjadi wanita yang tidak utuh dan tidak pernah dapat merasakan kepuasan dalam hidupnya (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 330-331).

Tanggapan saya:
a)   Keunikan apa yang ia maksudkan? Hanya kaum wanita punya keunikan itu? Menurut saya setiap orang, pria atau wanita, adalah unik!
b)   Bagian bawah kutipan itu (yang saya beri garis bawah ganda) menunjukkan bahwa kebahagiaan seorang istri secara mutlak tergantung dari sikap suaminya terhadap dia. Ini omong kosong! Tidak peduli bagaimana sikap suaminya terhadap dia, kalau ia menghadapinya dengan benar, ia bisa bahagia!

13) “Hati dan pikiran para veteran perang Vietnam yang sebelumnya selalu dihantui mimpi buruk, kepahitan, kedengkian, permusuhan, dan kebencian saat itu dibasuh oleh firman dan Roh Yesus Kristus” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 359).

Tanggapan saya:
Bukan darah Kristus yang membasuh? Tetapi firman dan Roh Yesus Kristus? Ini ngawur / sesat! Dosa hanya bisa dihapus oleh darah Kristus (1Pet 1:18-19). Kalau untuk pengudusan, baru itu berurusan dengan Firman Tuhan dan Roh Kudus (Yoh 15:3  Yoh 17:17  Gal 5:22-23).
1Pet 1:18-19 - “(18) Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, (19) melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat”.
Yoh 15:3 - “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu”.
Gal 5:22-23 - “(22) Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, (23) kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu”.

14) “Minggu lalu saya menerima surat dari seorang hamba Tuhan yang menulis tentang ‘hari-hari akhir’ dan penghakiman yang akan Allah lakukan terhadap dunia ini. Memang kita perlu memikirkan hal-hal tersebut. Namun, jangan sampai berita negatif itu menghimpit berita yang positif, yaitu bahwa manusia juga dapat menyenangkan hati Allah!” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 359).

Tanggapan saya:
Berita tentang akhir jaman dan penghakiman ia sebut ‘berita negatif’?? Apa yang ia sebut ‘berita yang positif’ itu tidak akan terjadi kalau tidak ada ‘berita negatif’ itu!

Luk 21:34-36 - “(34) ‘Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. (35) Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. (36) Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.’”.

1Tes 5:1-10 - “(1) Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, (2) karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam. (3) Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman - maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin - mereka pasti tidak akan luput. (4) Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, (5) karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. (6) Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. (7) Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam. (8) Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan. (9) Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, (10) yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia”.

Ibr 10:25 - Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

Catatan: yang saya beri garis bawah tunggal adalah ‘berita positif’, sedangkan yang saya beri garis bawah ganda adalah ‘berita negatif’. Keduanya jelas berhubungan, dan ‘berita negatif’ itu yang menyebabkan kita mentaati ‘berita positif’!

15) “Allah berkenan tidak hanya kepada keilahian Yesus, tetapi juga kepada kemanusiaan yang diperlihatkanNya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 361).

Tanggapan saya:
Ini omongan apa???

16) “Dalam diri Yesus, Allah mewujudkan secara nyata apa yang telah difirmankanNya, yaitu bahwa Ia menciptakan pria ‘menurut gambarNya’ ... Bagaimana kita dapat menghampiri Allah-manusia, Yesus Kristus ini? Bahkan bagaimana mungkin kita dapat menyamai sifat-sifat ilahi dari Allah yang Mahakudus yang menyatakan diri di bumi sebagai seorang Pria? Saya mengakui bahwa saya belum mendapatkan seluruh jawabannya.” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 8).

Tanggapan saya:
a)   Gila, siapa yang menyuruh kita menyamai sifat ilahi dari Yesus?
b)   Ia mengatakan ‘Saya mengakui bahwa saya belum mendapatkan seluruh jawabannya’. Jadi ia sudah mendapatkan sebagian jawabannya? Mengapa ia tidak memberitahukan apa yang sebagian itu?

17)       “Kepriaan ada di dalam roh” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 112).

Tanggapan saya:
Lagi-lagi, kata-kata gila dari orang yang asal mangap / buka mulut!

18) “Anda bisa memperoleh kerohanian di dalam gereja dari kaum wanita, tetapi Anda hanya mendapatkan kekuatan dari kaum pria” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 136).

Tanggapan saya:
Apa bisa ada kekuatan tanpa kerohanian?

19) “Apa yang Anda percaya tentang Allah menunjukkan apa yang Anda percaya tentang diri Anda sendiri” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 151).

Tanggapan saya:
Lagi-lagi suatu kegilaan! Kalau saya mempercayai bahwa Allah itu maha kuasa, apakah saya percaya bahwa diri saya juga maha kuasa? Kalau saya percaya bahwa Allah itu kekal, dan ada tanpa diciptakan, dan tidak ada saat dimana Dia tidak ada atau belum ada, apakah saya mempercayai bahwa diri saya juga seperti itu??

20) “Yang menjadi topik saat ini adalah pesan dari kisah penginjilan dan kebenaran utamanya. Kebenaran ini adalah tentang salib, simbol kekristenan. Simbol itu bukanlah palungan atau kubur kosong, tetapi salib di Golgota. Yesus lahir dalam sebuah palungan dan bangkit dari dalam kubur, tetapi penebusan manusia dilakukan di atas kayu salib. ... Salib merupakan topik utama dari Alkitab. ... Salib adalah puncak penyembahan; pertama adalah altar, lalu tabernakel, rumah ibadah dan akhirnya Golgota (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 151,152).

Tanggapan saya:
Omongan konyol! Sebelum pendirian Kemah Suci, orang-orang yang beriman memang mendirikan mezbah (pada jaman Abraham dsb). Lalu muncul Kemah Suci / tabernakel (jaman Musa). Seharusnya lalu muncul Bait Allah (jaman Salomo), dan akhirnya gereja. Tetapi Edwin Louis Cole tahu-tahu mengatakan ‘rumah ibadah’, dan akhirnya Golgota. Apa ini dan dari mana?

21) “Mengapa pria itu begitu penting? Lima kitab pertama dalam Alkitab adalah kisah tentang tujuh orang pria. Kisah Allah tersingkap melalui manusia (pria???). Allah menyingkapkan Diri-Nya sebagai Bapa kita (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 163).

Tanggapan saya:
a)   Lima kitab pertama adalah Kejadian - Ulangan. Siapa tujuh orang pria itu???? Ada banyak pria dalam 5 kitab itu, jauh lebih banyak dari 7! Anak-anak Yakub saja ada 12 pria!
b)   Kisah Allah?? Tersingkap melalui manusia (pria)???
c)   Allah menyingkapkan DiriNya sebagai Bapa kita?? Ini bukan sesuatu yang bisa dipilih oleh Allah. Ia memang adalah Bapa, dan tidak bisa menyatakan diri sebagai sesuatu yang lain. Ia harus menyatakan diriNya sebagaimana adanya Dia, yaitu sebagai Bapa!

22)       “Rohnya terlihat sangat lapar” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 35).

Tanggapan saya:
Bagaimana kelihatannya roh yang sangat lapar???

23) “Allah menghendaki Adam benar-benar menjadi seorang pria. Oleh karena itulah Dia mengajukan pertanyaan berikut ini kepada Adam, ‘Jawab pertanyaan ini: Engkau memakannya atau tidak?’ Namun, Adam ternyata menjawabnya demikian, ‘Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.’ Adam telah gagal dalam menghadapi ujian jati diri pria yang diajukan Allah. ... Jawaban Adam tersebut menentukan jalan kehidupan seluruh kaum pria sejak saat itu (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 227).

Tanggapan saya:
a)   Allah tidak pernah bertanya / berkata kepada Adam ‘Jawab pertanyaan ini: Engkau memakannya atau tidak?’.
Bdk. Kej 3:11-12 - “(11) FirmanNya: ‘Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?’ (12) Manusia itu menjawab: ‘Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.’”.
Jadi, yang Allah tanyakan adalah: “FirmanNya: ‘Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?’” (Kej 3:11). Dan Ia menanyakan pertanyaan ini supaya Adam mau mengakui dosanya, bukan karena Ia ‘menghendaki Adam benar-benar menjadi seorang pria’ atau untuk memberikan ‘ujian jati diri pria’ kepada Adam!
Juga pada waktu Adam mengatakan / menjawab ‘Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.’ (Kej 3:12), ia bukannya ‘gagal dalam menghadapi ujian jati diri pria’, tetapi sekedar tidak mengakui dosanya tetapi melemparkan tanggung jawab kepada Hawa.
b)   Apa yang Cole maksudkan dengan kata-kata ‘Yang menentukan jalan kehidupan seluruh kaum pria sejak saat itu’? Kalau yang Cole maksudkan adalah bahwa sejak saat itu manusia semuanya menjadi berdosa, maka itu disebabkan karena dosa Adam, bukan karena jawaban Adam terhadap pertanyaan Allah!
c)   Kalau Kej 3:11b dianggap sebagai ujian jati diri pria, dan Kej 3:12 sebagai kegagalan Adam dalam ujian tersebut, lalu bagaimana pandangan Edwin Louis Cole terhadap Kej 3:13 - “Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: ‘Apakah yang telah kauperbuat ini?’ Jawab perempuan itu: ‘Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.’”? Apakah ini juga merupakan ujian jati diri pria? Atau ujian jati diri wanita? Dam Hawa juga gagal dalam ujian tersebut?

24) “Begitu juga sikap Allah terhadap anak-anakNya. Ia mengharapkan kita menjadi pria yang bersedia memikul tanggung jawab. Adam adalah pria pertama yang tidak mau bertanggung jawab dan ternyata ia bukan pria yang terakhir yang berlaku demikian” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 229).

Tanggapan saya:
Saya setuju dengan kata-kata ini, dan Edwin Louis Cole sendiri termasuk salah satu di antara pria-pria yang tidak bertanggung jawab itu, khususnya pada waktu ia membuang semua tugasnya dalam waktu 24 jam!

E)  Cerita-cerita konyol yang dijadikan ajaran / dasar ajaran.

1)   “Jack King adalah perwakilan ladang misi bagi Christian Men’s Network. Kami sering bekerja, berdoa, mengadakan perjalanan, dan melayani bersama-sama ke seluruh dunia. Ia masuk ke dalam lembaga pelayanan ini dengan suatu kesaksian yang mengesankan. ‘Pembunuhan Bergaya Hukuman Mati’, begitulah bunyi kepala berita di surat kabar ketika ayah Jack ditemukan terbunuh dengan luka tembakan di wajahnya. Selama bertahun-tahun kemudian Jack selalu menenteng pistol ke mana pun ia pergi dan sebagian besar waktunya dihabiskan untuk merencanakan pembalasan yang setimpal bagi orang yang telah membunuh ayahnya. Sebagai mantan sersan pelatih di Angkatan Darat Amerika Serikat, Jack memiliki tabiat yang keras dan kasar yang kini berubah menjadi kebencian yang mendalam terhadap si pembunuh dan kehausan untuk membalas dendam. Lebih buruk lagi, ia merasa tahu pasti orang yang membunuh ayahnya - seorang rekan bisnis ayahnya. Suatu hari Jack bertobat dan Yesus Kristus mengubah kehidupannya sehingga seketika itu juga ia terlepas dari kebenciannya yang mendarah daging itu. Namun, sekalipun ia sudah lahir baru, perasaan terluka akibat kematian ayahnya itu masih menggores di hatinya. Suatu malam dalam kebaktian di gereja, firman Allah seakan-akan berbicara secara langsung kepadanya bahwa kalau ia tidak mengampuni, Allah juga tidak akan mengampuninya. Pada saat itu juga ia berdoa dan meminta pengampunan Allah atas kebencian dan usaha pembunuhan yang pernah direncanakannya itu. Ia percaya Allah mendengar dan menjawab doanya, namun ia sama sekali belum siap sewaktu Allah langsung memberinya ujian. Beberapa malam kemudian istrinya memintanya pergi ke toko daging untuk membeli daging sapi. Ketika sedang mengendarai mobilnya menembus kegelapan malam, ia melihat sekumpulan orang banyak sedang menyaksikan kebakaran yang terjadi di seberang jalan. Setelah makin dekat, Jack segera mengenali daerah itu sebagai kompleks gudang tempat ia menemukan mayat ayahnya. Gudang itu sekarang dimiliki oleh pria yang diyakini Jack bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Sambil menggumam, ‘Rasain kamu,’ Jack terus melanjutkan perjalanannya ke toko daging. Namun, ada ‘suara kecil’ dalam hatinya yang mengatakan bahwa ia perlu menemui pria itu dan meminta ampun kepadanya. Ketika meninggalkan toko dan bersiap pulang, suara itu masih tetap berbicara dan membuat Jack tiba-tiba berbelok ke jalan itu untuk mencari bekas musuhnya. Jack turun dari mobil tepat di tempat ayahnya ditemukan tewas. Ia lalu berjalan menyusuri gang yang gelap sambil mengamati keributan akibat kebakaran itu dan matanya sibuk mencari rekan bisnis ayahnya itu. Dalam kilasan lampu-lampu mobil pemadam kebakaran Jack melihat ada seseorang yang juga berdiri di gang yang gelap itu. Dengan menajamkan pandangan matanya menembus kegelapan dan gumpalan asap, Jack melihat bahwa itu adalah orang yang dicarinya. Dikumpulkannya segenap kekuatannya, lalu ia melangkah mendekati orang itu dan bertanya, ‘Anda kenal saya?’ ‘Rasanya saya kenal,’ jawab orang itu tercekat. ‘Saya Jack King.’ Meskipun keadaan di tempat itu cukup gelap, Jack dapat melihat wajah orang itu pucat pasi karena ketakutan. Belakangan Jack baru mengetahui bahwa orang itu mengira Jack telah sengaja membakar gudang itu dan kini hendak menuntaskan pembalasannya. ‘Allah telah mengubah kehidupan saya,’ kata Jack kepadanya ‘dan saya datang untuk meminta Anda mengampuni saya karena saya telah menuduh Anda membunuh ayah saya. Saya mau membereskan kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan sebelum bertobat. Salah satunya adalah meminta Anda mengampuni saya karena saya telah membenci Anda dan mengejar-ngejar Anda selama beberapa tahun belakangan ini. Juga karena saya pernah berusaha menghancurkan kehidupan Anda, keluarga Anda, dan karier Anda.’ ‘Yah, baik,’ jawab orang itu. ‘Saya ingin Anda mengampuni saya atas semua kejahatan yang telah saya lakukan pada Anda,’ desak Jack. ‘Ampunilah saya.’ ‘Baiklah. Anda sudah saya ampuni,’ kata orang itu cepat-cepat. Jelas terlihat bahwa ia ingin percakapan itu segera berakhir saja. ‘Tidak,’ desak Jack dengan nada yang semakin tegas. ‘Saya ingin Anda benar-benar mengampuni saya, bukan sekadar dengan perkataan, namun juga dengan sikap yang nyata. Saya tidak mau lagi melukai Anda atau berniat buruk terhadap Anda. Saya ingin Anda tahu itu.’ Keduanya terdiam untuk sesaat lamanya. Akhirnya orang itu menarik napas dalam-dalam, kemudian dengan sikap mantap ia mengampuni Jack. Jack meraih tangan orang itu dan mereka bersalaman” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 231-233).

“Jack bersukacita karena menyadari dirinya telah bertindak sebagai ‘pria sejati’. Sejak saat itu Jack King telah benar-benar berubah menjadi pria yang baru. ... Tetapi akhirnya ia menyadari bahwa kesediaan memikul tanggung jawab atas perbuatannya sendiri serta kerelaan untuk mengampuni orang lain membuatnya menemukan jati dirinya sebagai pria sejati yang tidak mungkin diperolehnya dengan cara lain” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 234).

Tanggapan saya:

a)   Jack belum menyakiti orang itu, dan Allah menyuruh ia minta ampun kepada orang itu? Menurut saya ini merupakan kegilaan! Lalu pembunuhan itu dibiarkan begitu saja? Setelah cerita ini (‘Menjadi Pria Sejati’ hal 234), Edwin Louis Cole mengutip Ro 12:19 (‘pembalasan adalah hakKu’). Apakah ia tidak menyadari bahwa Allah juga yang mengangkat pemerintah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat?

Ro 13:4 - “Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat”.

b)   Perhatikan kalimat yang saya garis-bawahi dalam kutipan di atas. Untuk jelasnya, saya kutip ulang di sini.
Suatu hari Jack bertobat dan Yesus Kristus mengubah kehidupannya sehingga seketika itu juga ia terlepas dari kebenciannya yang mendarah daging itu. Namun, sekalipun ia sudah lahir baru, perasaan terluka akibat kematian ayahnya itu masih menggores di hatinya. Suatu malam dalam kebaktian di gereja, firman Allah seakan-akan berbicara secara langsung kepadanya bahwa kalau ia tidak mengampuni, Allah juga tidak akan mengampuninya.

Bagaimana mungkin Allah bisa tidak mengampuni kalau Jack betul-betul sudah bertobat / lahir baru? Kalau pengampunan Allah didasarkan pada pengampunan kita kepada orang-orang yang bersalah kepada kita, maka itu berarti kita percaya pada keselamatan karena perbuatan baik, yang merupakan ajaran sesat.

Tetapi lalu bagaimana dengan ayat-ayat di bawah ini?

Mat 6:12,14-15 - “(12) dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; ... (14) Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. (15) Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.’”.

Mat 18:21-35 - “(21) Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: ‘Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?’ (22) Yesus berkata kepadanya: ‘Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. (23) Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. (24) Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. (25) Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. (26) Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. (27) Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. (28) Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! (29) Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. (30) Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. (31) Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. (32) Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. (33) Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? (34) Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. (35) Maka BapaKu yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.’”.

Kata-kata Yesus dalam ayat-ayat di atas ini tidak boleh diartikan bahwa pengampunan yang kita berikan menyebabkan kita diampuni. Mengapa? Karena kalau diartikan seperti ini akan menjadi ajaran ‘keselamatan karena perbuatan baik’ yang merupakan ajaran sesat yang bertentangan dengan banyak ayat-ayat Kitab Suci seperti Ef 2:8-9 dan sebagainya. Jadi, bagaimana artinya? Iman kita yang menyebabkan kita diampuni, tetapi iman harus dibuktikan dengan maunya kita mengampuni orang lain.

Calvin: “This condition is added, that no one may presume to approach God and ask forgiveness, who is not pure and free from all resentment. And yet the forgiveness, which we ask that God would give us, does not depend on the forgiveness which we grant to others: ... Christ did not intend to point out the cause, but only to remind us of the feelings which we ought to cherish towards brethren, when we desire to be reconciled to God” (= Syarat ini ditambahkan, supaya tak seorangpun berani mendekati Allah dan meminta pengampunan, jika ia tidak murni dan bebas dari semua kemarahan / kebencian. Tetapi pengampunan yang kita minta Allah berikan kepada kita, tidak tergantung pada pengampunan yang kita berikan kepada orang-orang lain: ... Kristus tidak bermaksud untuk menunjukkan penyebabnya, tetapi hanya mengingatkan kita tentang perasaan yang harus kita pelihara terhadap saudara-saudara kita, pada waktu kita ingin diperdamaikan dengan Allah) - hal 327.

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Mat 6:12): “After what has been said on Matt 5:7, it will not be thought that our Lord here teaches that our exercise of forgiveness toward our offending fellow-men absolutely precedes and is the proper ground of God’s forgiveness of us. His whole teaching, indeed - as of all Scripture - is the reverse of this. But as no one can reasonably imagine himself to be the object of divine forgiveness who is deliberately and habitually unforgiving toward his fellow-men, so it is a beautiful provision to make our right to ask and expect daily forgiveness ... dependent upon our consciousness of a forgiving disposition toward our fellows” (= Setelah apa yang telah dikatakan tentang Mat 5:7, tidak akan dipikirkan bahwa Tuhan kita di sini mengajar bahwa tindakan pengampunan kita terhadap sesama kita yang bersalah kepada kita secara mutlak mendahului dan merupakan dasar yang benar / tepat dari pengampunan Allah kepada kita. Seluruh pengajarannya, bahkan - seperti seluruh pengajaran Kitab Suci - adalah kebalikan dari ini. Tetapi karena tidak seorangpun bisa secara masuk akal membayangkan dirinya sendiri sebagai obyek dari pengampunan ilahi yang secara sengaja dan terus menerus bersikap tidak mengampuni terhadap sesamanya, demikianlah itu merupakan suatu ketetapan / syarat yang indah untuk membuat hak kita untuk meminta dan mengharapkan pengampunan harian ... tergantung pada kesadaran kita tentang suatu kecenderungan mengampuni terhadap sesama kita).

Matthew Henry (tentang Mat 6:12): “if there be in us this gracious disposition, it is wrought of God, ... it will be an evidence to us that he has forgiven us, having wrought in us the condition of forgiveness” (= jika di dalam kita ada kecenderungan yang murah hati / bersifat kasih karunia, itu dibuat oleh Allah, ... itu akan merupakan suatu bukti bagi kita bahwa Ia telah mengampuni kita, setelah membuat di dalam kita syarat dari pengampunan).

2)   “Seorang pria bernama Hal pernah merasa begitu terancam oleh orang-orang di sekelilingnya. Ia sebenarnya bertanggung jawab untuk memimpin sekelompok besar kaum pria di kotanya dan harus banyak berurusan dengan orang-orang yang terkenal, kaya, berkuasa dan berprestise. Ia sendiri belum pernah mengalami keberhasilan semacam itu sehingga merasa rendah diri. Perasaan rendah dirinya itu semakin menjadi-jadi dan ia mulai meragukan kemampuannya sebagai seorang pemimpin. Kami bertiga, yaitu Hal, pendetanya, dan saya kemudian meluangkan waktu khusus untuk berdoa bersama-sama. Pada waktu berdoa, pendeta Hal itu mengucapkan kata-kata hikmat yang luar biasa dan akhirnya menjadi kata-kata kesembuhan bagi Hal. ‘Tuhan, ajarkanlah kepada Hal, bahwa ia tidak perlu menjadi sejajar dengan orang-orang yang dilayaninya itu,’ begitulah kata-kata hikmat dari pendeta itu. Kata-kata tersebut segera melepaskan Hal dari segala rasa takut dan rendah dirinya terhadap orang-orang yang dipimpinnya dan memberinya kepercayaan diri untuk melanjutkan kepemimpinannya itu. Masalah yang dialami Hal ini juga sering menimpa banyak gembala sidang yang dipanggil untuk menggembalakan orang-orang yang sukses dan terkemuka. Untuk mengatasinya, mereka tentu saja juga memerlukan kata-kata hikmat yang telah menyembuhkan penyakit rendah diri dari Hal itu” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 314).

Tanggapan saya:

Banyak kesalahan / keanehan dalam cerita di atas ini:
a)   Pendeta itu berdoa untuk Hal, tetapi penceritaan dari Edwin Louis Cole ini menunjukkan bahwa bukan jawaban doa dari Tuhan yang menyembuhkan Hal, tetapi ‘kata-kata hikmat’ dari pendeta itu. Karena itu Cole bukannya memuji Tuhan tetapi memuji kata-kata hikmat itu!
b)   Pendeta itu berdoa supaya Hal diajar oleh Tuhan untuk tidak perlu menjadi sejajar dengan orang-orang yang dilayaninya. Tetapi apa yang dialami oleh Hal adalah bahwa ia segera terlepas dari segala rasa takut dan rendah dirinya terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Jadi, doa pendeta itu dan apa yang terjadi dalam diri Hal sangat berbeda!
c)   Edwin Louis Cole mengatakan ‘kata-kata hikmat yang luar biasa’.
Bdk. 1Kor 2:1-5 - “(1) Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. (2) Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. (3) Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. (4) Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, (5) supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah”.
d)   Hal segera lepas dari rasa rendah diri. Ini tidak masuk akal. Perubahan hidup / pengudusan selalu merupakan suatu proses yang berjalan / maju sedikit demi sedikit. Karena itu digambarkan sebagai ‘buah’ (Gal 5:22-23), yang membesar dan matang secara bertahap.
e)   Setelah sembuh Hal menjadi percaya diri. PD justru dikecam / dikutuk oleh Alkitab (Yer 9:23-24  Yer 17:5,7).
f)    Apa yang mujarab untuk Hal, diharuskan terjadi untuk orang-orang lain. Ini lagi-lagi salah, karena pengalaman seseorang, kecuali itu didukung oleh Alkitab, tidak harus menjadi pengalaman orang lain.
g)   Semua ini dinyatakan oleh Edwin Louis Cole tanpa dasar Alkitab. Ini ajaran yang hanya didasarkan pada pengalaman.

3)   “Pada tahun 1987 di Harare, Zimbabwe, tiga orang wanita menyampaikan ‘suatu perkataan dari Allah’ kepada saya. Pada mulanya seorang mantan inspektur polisi yang membantu mempersiapkan kebaktian kaum pria yang akan kami adakan di negeri itu suatu sore mengatakan kepada saya bahwa ada tiga wanita yang merasa yakin bahwa saya perlu mendengar perkataan mereka. Jadwal saya yang demikian ketat membuat saya tidak dapat bertemu langsung dengan mereka, sehingga inspektur polisi itu menjadi perantara yang menyampaikan pesan tersebut kepada saya. Sebelum menyampaikan pesan itu, sebagai seorang mantan pejabat milter, ia terlebih dahulu membeberkan secara singkat latar belakang negaranya. Negara yang sebelumnya bernama Rhodesia ini dilanda bencana peperangan selama 14 tahun hingga akhirnya berganti nama menjadi Zimbabwe. Pada masa perang itu kaum pria Zimbabwe berjuang di medan tempur selama enam minggu penuh lalu selama enam minggu berikutnya berada di rumah untuk mencari nafkah dan kemudian kembali lagi ke medan perang. Dapat dibayangkan betapa besar ketegangan dan kecemasan yang dirasakan oleh para keluarga dan seluruh bangsa di negeri itu. Wanita-wanita saleh yang ada di negeri itu mulai bangkit dan melakukan doa syafaat bagi kaum pria dan negeri mereka. Seiring dengan berlalunya waktu, mereka mulai menyadari bahwa diri mereka telah berperan sebagai ‘Ester’. Alkitab mencatat Ester sebagai ratu yang bersyafaat demi keselamatan bangsa dan negerinya dan memohonkan semuanya itu kepada raja yang merupakan suaminya sendiri. .... Kaum wanita Rhodesia yang berdoa bagi bangsanya itu menjadi yakin bahwa mereka bertindak demi bangsanya untuk menghadapi masa perang itu. Akhirnya perang itu pun selesai. Rhodesia berubah menjadi Zimbabwe. Kaum pria pun kembali ke keluarganya. Tetapi, kini muncul persoalan baru yang juga memerlukan perhatian dan doa syafaat mereka seperti yang mereka lakukan di masa perang. Di mata mereka, kaum pria itu telah berubah menjadi pasif, mudah berpuas diri, dan patah semangat. Para ‘Ester’ ini melihat bahwa di masa damai itu dibutuhkan juga doa syafaat yang sama banyaknya dengan yang dibutuhkan pada masa perang. Selama 7 tahun berikutnya mereka terus menaikkan doa syafaat tanpa berkeputusan. Suatu hari ketika sedang berdoa, ketiga wanita ini terkesan dengan sesuatu yang mereka yakini sebagai ‘firman’ yang ditujukan bagi kaum pria di negeri mereka. Mereka terus memelihara ‘firman’ itu dan ‘menanti saatnya’ yang tepat untuk menyampaikannya (Habakuk 2:3). Setahun kemudian mereka mendengar bahwa ‘kesempurnaan seorang pria itu sama dengan keserupaan dengan Kristus’. Ini adalah pengajaran yang kami sampaikan di negeri mereka. Setelah mendengar pengajaran itu, mereka yakin bahwa ‘firman’ yang mereka terima itu perlu disampaikan kepada saya dan lembaga pelayanan kami, Christian Men’s Network. ‘Firman’ yang mereka sampaikan itu begitu sederhana hingga hampir saya mengabaikannya. Namun, selang beberapa lama, ‘firman’ itu bertumbuh terus dalam roh saya dan saat ini saya merasa yakin bahwa ‘firman’ itu sesungguhnya berlaku bukan saja bagi kaum pria Zimbabwe, melainkan juga bagi seluruh pria yang hidup di dunia saat ini - khususnya kaum pria yang telah membiarkan wanita memegang tampuk kepemimpinan di gereja, rumah tangga, dan negara. Firman yang disampaikan ketiga wanita itu adalah ‘Dahulu adalah waktu bagi para Ester, namun kini adalah waktu bagi para Daniel’. Sungguh suatu firman yang penuh kuasa. Para Ester itu adalah kaum wanita yang harus menanggung beban dalam teriknya sengatan kehidupan ini dan harus memikul tanggung jawab yang ditinggalkan kaum pria ketika mereka pergi berperang, yang kemudian tidak mereka ambil alih kembali setelah perang usai. Para wanita Zimbabwe itu melihat bahwa keadaan itulah yang menimpa kehidupan bangsa mereka; tetapi saya melihatnya sebagai suatu masalah yang melanda kaum pria di seluruh dunia. Sudah tiba waktunya bagi kaum pria untuk mau memegang kepemimpinan rohani dan moral dalam keluarga, gereja, serta masyarakat. Kaum pria diharapkan menjadi para Daniel masa kini yang memimpin keluarga, gereja, dan negaranya. Ini merupakan panggilan dari Allah, bukan sekadar seruan kaum wanita” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 319-321).

Tanggapan saya:

a)   Ini cerita yang konyol dan tidak karuan!
Dalam penceritaan waktu perang itu terjadi, dikatakan bahwa Pada masa perang itu kaum pria Zimbabwe berjuang di medan tempur selama enam minggu penuh lalu selama enam minggu berikutnya berada di rumah untuk mencari nafkah dan kemudian kembali lagi ke medan perang’, sedangkan para perempuan / istri hanya berdoa.
Tetapi pada bagian akhir dikatakan bahwa ‘Para Ester itu adalah kaum wanita yang harus menanggung beban dalam teriknya sengatan kehidupan ini dan harus memikul tanggung jawab yang ditinggalkan kaum pria ketika mereka pergi berperang, yang kemudian tidak mereka ambil alih kembali setelah perang usai’.
Mengapa tidak cocok?

b)   Ayat Habakuk yang digunakan itu tidak cocok.
Hab 2:3 - “Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh”.
Ini membicarakan penggenapan dari suatu penglihatan, bukan membicarakan tindakan menunggu penyampaian dari ‘firman’ yang diterima seseorang kepada orang lain!

4)   Di lain pihak, beberapa orang takut untuk mengatakan kebenaran. Mereka takut melukai hati orang lain, atau mereka takut kehilangan kasih dari mereka. Mereka sesungguhnya tidak menyadari bahwa hal itu merupakan kebenaran, yakni membicarakannya di dalam kasih merupakan satu-satunya cara untuk menyatakan kasih yang sebenarnya. Saya menyebut bentuk kasih yang terakhir ini sebagai kasih sayang terbaik. Izinkanlah saya memberikan sebuah ilustrasi. Ketika saya sedang berkhotbah, di tengah-tengah acara kebaktian, seseorang mengangkat tangannya sambil menggenggam sebuah catatan yang mengatakan bahwa rumah salah seorang dari jemaat yang hadir dalam kebaktian baru saja terbakar. Apa yang harus saya perbuat? Orang tersebut berada dalam situasi berbahaya dan ia segera akan kehilangan segala sesuatu yang ia miliki. Tetapi, bila saya menyela acara kebaktian itu dan mengatakan hal itu kepadanya, saya akan membuatnya bingung dan mungkin pula akan merasa sedih, atau malah mungkin akan membuat hatinya terluka. Karena itu, saya tidak ingin ia mengalami banyak kesulitan, kesedihan, atau kebingungan. Dan, saya akhirnya memutuskan untuk tidak memberitakan informasi itu. Kemudian, setelah kebaktian, dalam keadaan ketakutan seorang anggota jemaat datang sambil menangis, ‘Rumah saya hangus terbakar!’ ‘Ya, saya sudah tahu,’ respons saya. Anggota jemaat yang mengalami musibah itu menatap saya dengan mata terbelalak. ‘Anda sudah tahu?’ ‘Betul,’ saya menegaskan. ‘Masih ingatkah Anda dengan tangan yang teracung ke atas sambil memegang catatan ketika acara kebaktian sedang berlangsung? Catatan itu mengatakan, bahwa rumah Anda terbakar.’ ‘Mengapa Anda tidak mengatakannya kepada saya?’ Dan, jawaban saya sederhana saja: ‘Saya tidak ingin mengatakannya kepada Anda karena saya tahu hal itu akan membuat Anda sedih.’” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 33).

Tanggapan saya:
Saya tidak mengerti omongan kacau balau ini. Apa yang Edwin Louis Cole lakukan bertentangan dengan apa yang ia katakan. Apakah ilustrasi itu bukan sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, dan hanya mengilustrasikan suatu ketololan seandainya ia melakukannya? Tetapi dari penceritaannya rasanya tidak demikian. Rasanya itu sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi.
Jadi, pada bagian awal Edwin Louis Cole mengatakan dengan nada mengecam, orang-orang yang takut untuk mengatakan kebenaran. Tetapi dalam ilustrasi yang ia ceritakan, ia sedang berkhotbah, pada waktu seseorang menunjukkan suatu catatan bahwa rumah dari seorang jemaat baru saja terbakar. Tetapi Cole ternyata tidak memberitakan hal itu kepada jemaat itu, karena takut bahwa jemaat itu akan menjadi sedih! Betul-betul lucu!

5)   “Ketika saya masih kanak-kanak, dan ibu saya bertugas di sebuah Sekolah Alkitab di Los Angeles, saya pergi bersamanya dengan murid-murid yang lain ke suatu daerah yang runtuh akibat keributan yang terjadi. Di tempat itulah mereka melakukan pemberitaan Injil. Ibu, Annie, dan mereka semua mengambil gitar, tamborin, dan drum besar. Di sudut jalan itu, mereka bermain musik dan bernyanyi sambil memberitakan Injil. Mereka melayani masyarakat yang mengalami penderitaan yang sangat dalam itu. Suatu sore, setiap orang sedang menyanyikan lagu rohani lama: ‘Dosa dapat di hapus, hanya oleh darah Yesus ...’ Seseorang yang tidak termasuk dalam kelompok kami, dengan tubuh yang tidak terawat, tampaknya ia seorang pecandu berat alkohol datang mendekati Annie. Orang-orang di sekitar daerah itu menyebut dia ‘winos’. Sama seperti yang lainnya, sepotong rokok lusuh menempal di celah-celah jarinya yang kuning dengan kukunya yang kotor. Ia menggunakan kaca mata bergagang tipis, Kulitnya penuh daki, pakaiannya terbuat dari karung, dan napasnya mengeluarkan aroma anggur murahan. Ia menarik lengan Annie, tetapi Annie segera menepisnya. Beberapa kali ia melakukan hal yang sama, sampai akhirnya ia menarik Annie ke arahnya, sehingga pria itu bisa berbicara kepada Annie sementara teman-teman yang lain masih tetap bernyanyi. ‘Saya tahu, apa yang Anda katakan itu benar,’ ia berkata perlahan dan berbisik, dengan suara aneh, janggal, dan parau. ‘Tidak ada yang bisa membasuh dosa kita selain darah Yesus.’ Saya berdiri di sana, mendengar, mengamati, serta merenungkannya. ‘Saya pernah memimpin sebuah seminari,’ ia meneruskan kata-katanya. ‘Saya tahu semua itu. Tetapi, perlu Anda camkan dan ketahui, ada perbedaan, perbedaan yang besar antara dibasuh menjadi putih dengan membasuh menjadi putih.’ Kemudian, ia melengos pergi sambil terhuyung-huyung. Sementara ia berlalu kata-katanya tetap membekas, dan tetap ada dalam ingatan saya sampai saat ini. Allah telah membasuh menjadi putih. Dosa yang tidak diakui adalah dosa yang tidak diampuni. Hikmat manusia menghalangi. Hikmat Allah menyingkapnya. Manusia dibasuh menjadi putih. Allah membasuh menjadi putih.” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 36-37).

Tanggapan saya:
Cerita ini konyol dan tak bisa saya mengerti apa maksudnya. Sama sekali tidak ada apa-apanya, tetapi diceritakan sedemikian rupa seakan-akan ini merupakan cerita yang luar biasa.

6)   “Selama berada di pekarangan, ia mendengar suara dari dalam dirinya yang berkata, ‘Pergilah.’ Pada kesempatan lain, suara yang sama mengatakan hal yang sama lagi. ... Ia ingin tahu, ‘Apakah Roh Kudus yang berbicara kepada saya, ataukah setan - atau yang lain?’ Semakin kami banyak bercakap-cakap, semakin saya menyadari bahwa Allah sedang bekerja di dalam kehidupannya. Tetapi, Rick belum menyadari hal itu. ... Dan kemudian, saya masih tetap mendengar suara ini berkata di dalam diri saya, pergilah.’’. Rick sudah menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadinya beberapa tahun yang lalu. Tetapi, ia belum pernah membuat sebuah komitmen secara menyeluruh. Beberapa bagian dari kehidupannya masih berada di bawah pengawasan pribadi, bukan di bawah pengawasan Allah. Setelah kami berbincang-bincang, kami berdoa bersama. Sinar terang mulai menyeruak di dalam hati Rick. Suara yang ada di dalam diri Rick sesungguhnya adalah suara Allah yang berbicara melalui Roh Kudus. ‘Pergilah’ berarti, pergilah, bebaskan dirimu dan kemudian serahkanlah dirimu sepenuhnya ke dalam genggaman tangan Tuhan, percaya penuh kepada-Nya. Rick memahami perkataan Allah yang sederhana itu, ‘Tinggalkan semua caramu sendiri, dan bergantung sepenuhnya di dalam Aku.’ (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 84-85).

Tanggapan saya:
Kok aneh, kata ‘pergilah’ di artikan seperti itu??? Dan itu disebut ‘sederhana’?

7)   “Tim dan Alice datang kepada saya untuk melakukan konseling. Mereka mengalami penderitaan di dalam pernikahan mereka, padahal Tim adalah seorang hamba Tuhan. Karena hal itu, Tim merasa takut untuk mengungkapkan segala sesuatu yang menyangkut tentang dirinya, takut terhadap tanggapan istrinya terhadap dia. Ada kepedihan di dalam hati dan roh Alice. Juga, ada kegelisahan di dalam diri Tim. Tim berasal dari keluarga pria ‘macho’, di mana kaum prialah yang menguasai segala sesuatunya. Ayah dan saudara laki-lakinya adalah seorang yang tidak beradat, kasar, dan kebanyakan dari mereka bertingkah laku yang tidak bermoral dan juga tidak senonoh. Akan tetapi Tim sudah dipengaruhi oleh firman Allah dan kepada pewahyuan dari jiwanya bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat pribadinya. Ia sudah bertobat dari dosa-dosanya, percaya kepada Tuhan dan menjadi manusia baru ketika Roh Kudus masuk ke dalam hidupnya di dalam kuasa penyelamatan. Karena anugerah Allah yang besar yang ia saksikan, sukacita karena dosanya sudah diampuni, dan kerinduan untuk memberitakan Injil kepada sebanyak mungkin orang, ia kemudian memutuskan untuk mengikuti sekolah Alkitab. Alice ialah seorang guru Sekolah Minggu. Ia dibesarkan di lingkungan gereja, ia belum pernah mengenal lingkungan lain selain kehidupan dan budaya kristiani. Alice, sama seperti Tim, ingin pula menyaksikan kasihnya kepada Yesus kepada seluruh dunia, dan untuk memperlengkapi dirinya dalam misi tersebut, ia mendaftarkan dirinya di sebuah sekolah Alkitab. Tim dan Alice bertemu dan berkenalan di sekolah Alkitab. Mereka berpacaran selama setahun. Saat yang dinanti-nantikan Alice pun datang, ia menerima lamaran Tim, dan mereka segera mengumumkan pertunangan mereka. Tiga minggu sebelum pernikahan dilangsungkan, mereka pergi ke suatu tempat yang tersembunyi. Memeluk Alice membuat gairah Tim meningkat, dan Alice pun menjadi lebih terlena, dan kelihatannya ia sudah tidak mampu lagi untuk menghentikan cumbuan Tim. Tim tidak pernah punya standar kerohanian dan standar alkitabiah untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Pikir Tim: mereka akan menikah tiga minggu lagi - kenapa harus menunggu? Alice tahu lebih banyak mengenai kebenaran, tetapi ia tidak ingin mengecewakan Tim. Akhirnya, ia pasrah. Mereka melakukan hubungan sex di ruang belakang sebuah gedung tua. Enam tahun setelah itu, mereka ada di kantor saya. Di depan umum kehidupan mereka tampaknya penuh kasih sayang, tetapi sesungguhnya mereka mudah mengubah pendirian, mengeluarkan kata-kata kasar, menuduh dengan sengit, termasuk kekejaman fisik yang dilakukan akibat persoalan yang tidak bisa dipecahkan, perbuatan yang tidak mengampuni, dan kasih yang tidak sepenuhnya. Tim mengeluhkan permusuhan tersembunyi yang dilakukan Alice. Alice mengecam rasa tidak bertanggung jawab Tim terhadap dirinya. Berjam-jam saya mengarahkan mereka dari satu pemikiran ke pemikiran yang lain, dan dari satu perasaan ke perasaan yang lain. Akhirnya, kami menemukan batuan keras yang merupakan penghalang hubungan mereka selama ini. Setelah enam tahun pernikahan mereka, Alice mengatakan dengan terus terang tentang apa yang membuat ia tertekan selama ini. Ia sangat membenci Tim karena tidak membiarkan dirinya untuk tetap perawan sampai mereka menuju pernikahan. Dihadapkan dengan masalah itu, Tim memandang Alice dengan perasaan heran bercampur marah. ‘Maksudmu, kau menyalahkan aku atas semua masalah yang pernah kita lakukan? Menyalahkanku karena satu perkara itu? Aku sama sekali tidak pernah mengetahui bahwa hal itu sangat mempengaruhimu!’ Kemarahannya pun meledak. Saya memotong pembicaraan mereka. ‘Tuan, sebenarnya masalah itu ada pada diri Anda - di pihak Anda. Kecuali, kalau Anda mau menerima tanggung jawab Anda atas istri Anda yang sudah merasakan kehilangan dan malu, kecuali kalau Anda mau memohon pengampunan atas tindakan itu, Anda tidak akan pernah mempunyai hubungan yang sehat dengan istri Anda.’ Ia seperti sedang dilanda badai topan yang dahsyat. Wajahnya pucat pasi. Tetapi, setelah ia memikirkannya di rumah, is mulai melihat betapa pentingnya keperawanan itu. Ia merampas apa yang oleh Alice dianggap sebagai pemberian yang paling berharga yang kelak akan diberikan kepadanya. Perbuatan kotor yang mereka lakukan di ruangan belakang gedung tua itu tidak lebih dari sekadar pemerkosaan atas dirinya dibandingkan aktivitas biologis atas dasar kasih yang tertinggi antara seorang pria dengan seorang wanita. Akhirnya, waktu itu datang juga ketika ia harus mengakuinya, bahwa gairah birahinyalah, bukan kasihnya yang telah menyebabkan persoalan. Itu merupakan kesalahannya, dosanya, dan ia bertobat dari hal itu, memohon pengampunan kepada istrinya dan mengadakan pemulihan kepada istrinya. Istrinya sungguh-sungguh mengampuninya. Permusuhan terhadap dirinya tidak ada lagi, dan kehidupan mereka berubah secara dramatis” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 126-128).

Tanggapan saya:
Cerita ini merupakan suatu omong kosong dan salah. Dua orang yang pacaran menjadi begitu bernafsu sehingga akhirnya melakukan hubungan sex. Dikatakan Alice pun ‘menjadi lebih terlena’ dan ‘tidak mampu lagi untuk menghentikan cumbuan Tim’. Juga dikatakan ‘ia tidak ingin mengecewakan Tim. Akhirnya ia pasrah’. Lalu mengapa wanitanya marah? Dan mengapa Tim yang disalahkan dan harus minta maaf? Mengapa disebut sebagai ‘pemerkosaan’? Tidak ada pemerkosaan! Mereka melakukan atas dasar mau sama mau! Jadi, keduanya sama-sama salah, dan sama-sama harus minta ampun kepada Tuhan, dan bukan satu kepada yang lain!

Dan dalam cerita ini juga ada kejanggalan-kejanggalan theologis:
a)   Mula-mula dikatakan Tim ‘sudah dipengaruhi oleh firman Allah dan kepada pewahyuan dari jiwanya bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat pribadinya. Ia sudah bertobat dari dosa-dosanya, percaya kepada Tuhan dan menjadi manusia baru ketika Roh Kudus masuk ke dalam hidupnya di dalam kuasa penyelamatan’.
Tetapi di bagian bawah dikatakan Tim tidak pernah punya standar kerohanian dan standar alkitabiah untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah’.
Tidakkah kedua pernyataan ini saling bertentangan?
b)   Kata-kata Ia sudah bertobat dari dosa-dosanya, percaya kepada Tuhan dan menjadi manusia baru ketika Roh Kudus masuk ke dalam hidupnya di dalam kuasa penyelamatan’ juga salah / sesat secara theologis, karena:
1.   Menunjukkan bahwa pertobatan dari dosa terjadi lebih dulu dari masuknya Roh Kudus ke dalam hidupnya.
2.   Edwin Louis Cole mengatakan bahwa ‘Roh Kudus masuk di dalam hidupnya di dalam kuasa penyelamatan’.
Setelah ia bertobat dari dosa, Roh Kudus masuk, dan menyelamatkan? Ini terbalik tidak karuan! Mestinya percaya Yesus dulu, lalu diselamatkan, dan Roh Kudus masuk (Ef 1:13), lalu terjadi perubahan / pertobatan dari dosa (Gal 5:22-23).

F)   Doktrin-doktrin yang salah / sesat.

1)         Ajaran Arminian.

a)   “Di Kis 13:22 dikatakan, setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud, Allah telah menyatakan: ‘Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hatiKu dan yang melakukan segala kehendakKu.’ Tuhan mencari seorang yang taat untuk melakukan kehendak Tuhan. ... Perhatikanlah, di dalam Firman Tuhan, setiap kali Tuhan ingin melakukan sesuatu untuk kepentingan kerajaan atau umatNya, Tuhan selalu mencari seorang pria terlebih dahulu untuk dapat melakukannya. Setelah Tuhan menemukan pria yang tepat seperti yang Dia inginkan, barulah Tuhan memberitahukan metode apa yang harus dipakainya untuk menyelesaikan semua rencana Tuhan tersebut.” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 74).

Tanggapan saya:

1.   Ini ajaran Arminian! Dalam Reformed, Tuhan memilih dulu (dalam kekekalan), baru menjadikan orang itu sesuai kehendakNya (dalam waktu). Bandingkan dengan:
·         Ro 9:10-13 - “(10) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. (11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’”.
·         Ef 1:4,5 - “(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya”.
·         Paulus maupun Yeremia dipilih oleh Tuhan sejak dari dalam kandungan.
Yer 1:5 - “‘Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.’”.
Gal 1:15 - “Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karuniaNya”.

2.   Pada waktu Allah mau AnakNya lahir sebagai manusia, mengapa Ia mencari Maria, yang adalah seorang wanita?

b)   “... dapat menghapuskan keselamatan jiwa Anda” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 30).

Tanggapan saya:
Ini pandangan Arminian! Dalam theologia Reformed / Calvinisme, orang kristen yang sejati tidak bisa kehilangan keselamatan.
Yoh 10:27-29 - “(27) Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, (28) dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. (29) BapaKu, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa”.

c)   Segala sesuatu dalam hidup ini ada dalam kekuasaan pilihan kita, dan begitu suatu pilihan kita tentukan, kita akan menjadi hamba dari pilihan tersebut” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 302).

Tanggapan saya:

1.   Jangankan memilih segala sesuatu, bahkan memilih percaya Yesus atau tidak, tidak ada dalam kekuasaan kita!
Yoh 6:44,65 - “(44) Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. ... (65) Lalu Ia berkata: ‘Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.’”.

2.   Dalam bagian akhir dari kutipan itu mungkin Cole ‘ada benarnya’. Begitu seseorang memilih untuk memihak gerakan pria sejati ini, ia menjadi hamba dari gerakan ini. Begitu fanatiknya orang-orang ini sehingga sekalipun diserang dengan menggunakan ayat-ayat Alkitab, dan mereka sama sekali tidak bisa menjawab, tetapi mereka sama sekali tidak peduli, dan bahkan menyatakan ingin memperkarakan / menuntut secara hukum orang-orang yang menuduh gerakan mereka sebagai sesat (bdk. 1Kor 6:1-8). Begitu tegar tengkuk, keras kepala, dan tidak tunduk pada Firman Tuhan / Alkitab. Dalam hal-hal ini mereka tidak terlalu berbeda dengan Saksi-Saksi Yehuwa, para pengikut Yahweh-isme, dan sebagainya.

d)   Ketika Roh Kristus masuk ke dalam kehidupan seorang manusia, terjadilah suatu ‘kelahiran’, karena dengan cara itu manusia dibuat hidup di dalam Roh” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 72).
“Dosa karena kelalaian - tidak percaya dan tidak menerima Yesus - itu adalah dasar perpisahan kekal umat manusia dari Allah. Dengan tidak dilahirkan kembali - dan dengan itu manusia tidak menerima Roh Yesus Kristus di dalam hidupnya - sebenarnya manusia sedang mengerjakan semua bentuk pelanggaran dan dosa secara berulang” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 123).

Tanggapan saya:
Kelihatannya ia mengidentikkan kelahiran baru dan berimannya seseorang kepada Kristus. Suatu kesalahan yang umum, dan merupakan ajaran Arminianisme, tetapi ini tetap salah. Ajaran Reformed mengatakan manusia itu mati secara rohani (Yoh 10:10  Ef 2:1), dan karena itu tidak akan bisa memahami ataupun menghargai Injil (1Kor 2:14), dan karena itu harus dilahir-barukan dulu, baru bisa mengerti, menghargai Injil, dan setelah itupun iman masih harus dianugerahkan oleh Allah (Kis 16:14-15  Fil 1:29).

Yoh 10:10 - “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”.
Ef 2:1 - “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu”.
1Kor 2:14 - “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani”.
Kis 16:14-15 - “(14) Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. (15) Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: ‘Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.’ Ia mendesak sampai kami menerimanya”.
Fil 1:29 - “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”.

e)   “Hidup dan mati merupakan keputusan kita” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 114).

Tanggapan saya:
Bahkan orang Arminianpun biasanya tidak mempercayai seperti ini. Hidup mati kita ada di tangan Tuhan, bukan di tangan siapapun / apapun.
Mat 10:28-30 - “(28) Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. (29) Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. (30) Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya”.
Maz 39:5-6 - “(5) ‘Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku! (6) Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku; bagiMu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! Sela”.
Ayub 2:6 - “Maka firman TUHAN kepada Iblis: ‘Nah, ia dalam kuasamu; hanya sayangkan nyawanya.’”.
Dari ayat dalam kitab Ayub ini terlihat bahwa setanpun tidak mungkin bisa membunuh seseorang, kalau itu bukan kehendak Tuhan.

f)    “Jika hukum itu tidak dipahami sepenuhnya, maka orang berdosa tidak akan menghargai kasih karunia Allah yang terpancar dari salib. Mengkhotbahkan tentang anugerah tanpa pengetahuan tentang hukum sama dengan memberikan obat kepada seseorang sementara ia sendiri tidak tahu bahwa ia menderita sakit. Orang tidak dapat menghargai suatu pengobatan jika ia tidak tahu bahwa ia menderita sakit. Hukum menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang sakit karena dosa. Kita membutuhkan pengobatan. Pengobatan itu adalah pemberian cuma-cuma, yaitu keselamatan di dalam Kristus Yesus, tetapi jika kita tidak mengakui bahwa kita menderita sakit, maka pengobatan itu tidak ada artinya bagi kita” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 153).

Tanggapan saya:
Alkitab tidak mengatakan bahwa orang berdosa itu sakit, tetapi mati dalam dosa (Yoh 10:10  Ef 2:1). Karena itu, kita membutuhkan kelahiran baru, bukan pengobatan.
Yoh 10:10 - “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”.
Ef 2:1 - “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu”.

Sekalipun memberikan banyak ajaran Arminian, tetapi di bagian lain dari bukunya, Edwin Louis Cole berkata sebagai berikut: “Jadi, keselamatan itu kita peroleh bukan karena kebaikan kita, melainkan dianugerahkan Allah berdasarkan kemurahan dan kasihNya yang tidak bersyarat” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 33).
Tanggapan saya:
Ini Reformed! Jadi, Edwin Louis Cole mencampur hal-hal yang Reformed dengan yang Arminian!!! Theologia gado-gado?

2)         Setuju dengan Katolik?
“Ada perbedaan yang sangat besar antara Madonna dan Ibu Teresa. Tenar merupakan istilah yang tepat untuk Madona, sedangkan kata Besar layak disandang oleh Ibu Teresa” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 226).

Tanggapan saya:
Orang ini tidak bisa melihat kesesatan dari Ibu Teresa yang adalah orang Katolik! Jangan terlalu dipesonakan oleh ‘kesalehan / kebaikan’ dari Ibu Teresa. Ia tidak pernah memberitakan Injil, lalu bagaimana nasib orang-orang yang ia layani? Juga, bagaimanapun baik / salehnya Ibu Teresa, Alkitab mengatakan bahwa segala kesalehannya seperti kain kotor (Yes 64:6)!

3)         Ajaran tentang iblis / setan / roh jahat.
Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

a)   Yeh 28:14-16 menunjuk pada kejatuhan iblis??? (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 239).

Tanggapan saya:
Memang ada banyak orang yang berpendapat demikian, tetapi ayat-ayat di bawah ini tidak memungkinkan pandangan itu.
Yeh 28:1-2,7-12 - “(1) Maka datanglah firman TUHAN kepadaku: (2) ‘Hai anak manusia, katakanlah kepada raja Tirus: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Karena engkau menjadi tinggi hati, dan berkata: Aku adalah Allah! Aku duduk di takhta Allah di tengah-tengah lautan. Padahal engkau adalah manusia, bukanlah Allah, walau hatimu menempatkan diri sama dengan Allah. ... (7) maka, sungguh, Aku membawa orang asing melawan engkau, yaitu bangsa yang paling ganas, yang akan menghunus pedang mereka, melawan hikmatmu yang terpuja; dan semarakmu dinajiskan. (8) Engkau diturunkannya ke lobang kubur, engkau mati seperti orang yang mati terbunuh di tengah lautan. (9) Apakah engkau masih akan mengatakan di hadapan pembunuhmu: Aku adalah Allah!? Padahal terhadap kuasa penikammu engkau adalah manusia, bukanlah Allah. (10) Engkau akan mati seperti orang tak bersunat oleh tangan orang asing. Sebab Aku yang mengatakannya, demikianlah firman Tuhan ALLAH.’ (11) Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku: (12) ‘Hai anak manusia, ucapkanlah suatu ratapan mengenai raja Tirus dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah.”.

b)   “Iblis adalah makhluk yang paling gila karena ia tidak henti-hentinya percaya bahwa dirinya sanggup mengalahkan Allah” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 239).

Tanggapan saya:
Mana dasar ayatnya???? Bukan hanya tidak ada dasar ayatnya, tetapi Alkitab justru memberikan gambaran yang bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh Edwin Louis Cole berkenaan dengan Iblis. Perhatikan ayat-ayat di bawah ini:

1.   Ayub 1:8-12 - “(8) Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: ‘Apakah engkau memperhatikan hambaKu Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.’ (9) Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: ‘Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? (10) Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu. (11) Tetapi ulurkanlah tanganMu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapanMu.’ (12) Maka firman TUHAN kepada Iblis: ‘Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya.’ Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN.”.

Text ini menunjukkan betapa sadarnya setan / Iblis bahwa ia begitu dibatasi dan tergantung kepada Tuhan. Kalau Tuhan memagari / melindungi Ayub, maka ia tidak bisa berbuat apapun terhadap Ayub. Dan kalau Tuhan mengijinkan ia untuk menyerang Ayub, maka serangannya hanya bisa ia lakukan sebatas yang Tuhan ijinkan. Apakah ini menunjukkan bahwa ia ‘percaya bahwa dirinya sanggup mengalahkan Allah’ seperti yang dikatakan oleh Edwin Louis Cole?

2.   Bdk. Yak 2:19 - “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.”.
Kata ‘mereka gemetar’ jelas menunjukkan bahwa setan sangat takut kepada Allah, dan bukannya ‘percaya bahwa dirinya sanggup mengalahkan Allah’ seperti yang dikatakan oleh Edwin Louis Cole.

3.   Mark 3:11 - “Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapanNya dan berteriak: ‘Engkaulah Anak Allah.’”.
Apakah sikap ‘jatuh tersungkur di hadapanNya’ ini menunjukkan bahwa mereka ‘percaya bahwa dirinya sanggup mengalahkan Allah’ seperti yang dikatakan oleh Edwin Louis Cole?

4.   Mat 8:29 - “Dan mereka itupun berteriak, katanya: ‘Apa urusanMu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?’”.
Jelas ia tahu bahwa akan datang waktunya ia akan disiksa oleh Yesus / Allah. Apakah ini menunjukkan bahwa ia ‘percaya bahwa dirinya sanggup mengalahkan Allah’ seperti yang dikatakan oleh Edwin Louis Cole?

Bdk. Luk 8:30-33 - “(30) Dan Yesus bertanya kepadanya: ‘Siapakah namamu?’ Jawabnya: ‘Legion,’ karena ia kerasukan banyak setan. (31) Lalu setan-setan itu memohon kepada Yesus, supaya Ia jangan memerintahkan mereka masuk ke dalam jurang maut. (32) Adalah di sana sejumlah besar babi sedang mencari makan di lereng gunung, lalu setan-setan itu meminta kepada Yesus, supaya Ia memperkenankan mereka memasuki babi-babi itu. Yesus mengabulkan permintaan mereka. (33) Lalu keluarlah setan-setan itu dari orang itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau lalu mati lemas.”.
Perhatikan kata-kata ‘memohon’ dan ‘meminta’ kepada Yesus. Apakah ini menunjukkan bahwa mereka ‘percaya bahwa dirinya sanggup mengalahkan Allah’ seperti yang dikatakan oleh Edwin Louis Cole?

4)         Ajaran tentang Adam dan Hawa, dosa makan buah, dan dosa asal.

a)   “Pada bab terdahulu kita telah berbicara tentang Hawa yang menyerah pada tiga pencobaan dasar yang disebut ‘dosa asal’. Sekarang kita akan melihat peranan Adam dalam hal ini. Allah secara langsung memerintahkan Adam untuk tidak menyentuh buah pohon pengetahuan yang ada di tengah Taman Eden” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 226).

Tanggapan saya:
Hawa tidak ada urusannya dengan dosa asal! Dosa asal bukanlah tiga pencobaan dasar, tetapi dosa yang ada pada semua manusia (kecuali Yesus Kristus) sejak lahir, karena dosa pertama dari Adam. Juga Allah melarang untuk memakan buah, bukan menyentuh buah! Hawalah yang melebih-lebihkan kata-kata Allah itu.
Kej 2:16-17 - “(16) Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: ‘Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, (17) tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.’”.
Kej 3:1-3 - “(1) Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: ‘Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?’ (2)  Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: ‘Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, (3) tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.’”.

b)   “Beberapa ahli Alkitab berpendapat bahwa Adam diusir dari Taman Eden bukan karena ia berbuat dosa, melainkan karena ia menolak untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Alasan para ahli itu adalah karena Allah tentu akan mengampuni Adam kalau saja ia mau mengakui dosanya, bertobat, dan meminta ampun dengan hati yang tulus. Tetapi, Adam tidak berbuat demikian sehingga Allah tidak dapat membiarkannya tetap tinggal di Taman Eden” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 227).

Tanggapan saya:
Ahli Alkitab yang mana? Ini theologia gila dari orang yang kacau theologianya! Apakah Allah bisa mengampuni tanpa penebusan?
Bdk. Ibr 9:22 - “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.

c)   “Dakwaan Adam terhadap Allah yang bertujuan untuk membenarkan dirinya sendiri itu menunjukkan kerja sama Adam dengan iblis yang disebut sebagai pendakwa saudara-saudara (Wahyu 12:10). Dengan mendakwa Allah, itu berarti Adam telah menyangkal kemahakuasaan Allah. Kemahakuasaan Allah terletak pada hak mutlak yang dimilikiNya untuk menentukan apa yang benar dan yang salah bagi manusia ciptaanNya (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 228).

Tanggapan saya:
1.   Adam memang berdosa, tetapi itu berbeda dengan mengatakan bahwa ia bekerja sama dengan Iblis. Edwin Louis Cole-lah yang bekerja sama dengan Iblis, atau mungkin lebih tepat, dipakai oleh Iblis, sehingga menciptakan buku dan gerakannya yang sesat ini!
2.   Adam memang berdosa dengan tidak mau mengakui dosanya tetapi melemparkan tanggung jawab kepada Hawa dan kepada Allah, tetapi itu berbeda dengan menyangkal kemaha-kuasaan Allah. Kalau ia memang menyangkal kemaha-kuasaan Allah, mengapa ia menjadi takut ketika Allah datang?
Kej 3:8-10 - “(8) Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. (9) Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: ‘Di manakah engkau?’ (10) Ia menjawab: ‘Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.’”.
3.   Kemaha-kuasaan Allah ditunjukkan dengan kemampuan melakukan segala sesuatu, dan tak ada hubungannya dengan menentukan mana yang salah dan mana yang benar. Yang terakhir ini mungkin lebih berhubungan dengan kesucian dan kedaulatan Allah.

5)         Tentang pengampunan / pertobatan.

a)   Tanpa pengakuan dosa tidak ada pengampunan.
“Dosa yang tidak diakui adalah dosa yang tidak dimaafkan. Dosa hanya bisa hilang dari dalam kehidupan manusia melalui mulut.” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 32).

Tanggapan saya:
1.   Di depan saya sudah membahas bahwa pengampunan kita dapatkan karena iman kepada Kristus, bukan karena pengakuan dosa.
2.   Penjahat yang bertobat di kayu salib tak pernah mengaku dosa, tetapi ia diampuni!
3.   Pengakuan dosa merupakan perbuatan baik kita. Kalau hal ini dimutlakkan untuk bisa menerima pengampunan, itu mengajarkan keselamatan karena iman + perbuatan baik, yang adalah ajaran sesat!
4.   Ada berapa orang kristen yang sejati yang sempat mengaku dosa sebelum mati? Lalu yang tidak sempat mengaku dosa, semuanya tidak diampuni, dan masuk neraka?
5.   Yang penting bukan pengakuan dari mulut, tetapi dari hati!
Mat 15:7-8 - “(7)  Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: (8) Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu.
Maz 51:19 - “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah”.
Ro 10:9-10 - “(9) Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. (10) Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan”.
Jelas bahwa ‘mulut’ tanpa ‘hati’ tak ada gunanya!

b)   “Saya sering melihat kaum pria yang bertobat dari dosa mereka, dan mereka sungguh-sungguh merasakan pengampunan itu. Mereka meninggalkan ruang doa dengan rasa puas atas kondisi kerohanian mereka, meskipun mereka menemukan diri mereka memohon pengampunan untuk dosa yang sama, dan kemudian membutuhkan pengampunan yang sama. Kehendak Allah adalah mengampuni kita, kemudian membasuh kita agar kita tidak melanjutkan kebiasaan untuk berbuat dosa. Bebaskanlah diri Anda dari berbuat dosa” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 32).

Tanggapan saya:
Ini kemunafikan dari orang yang ‘self-righteous’ (= merasa diri sendiri benar). Tidak ada orang yang tidak mengulang dosa, dan darah Yesus tercurah untuk dosa-dosa yang diulangi itu. Memang ini bukan hal ideal, tetapi ini fakta! Tidak berarti bahwa kita boleh membiarkan fakta itu berlangsung terus. Kita memang harus berusaha menghentikan dosa, tetapi tidak seorangpun bisa tidak mengulang dosa yang sudah ia akui.
Pengudusan digambarkan sebagai buah Roh Kudus’ (Gal 5:22-23), dan ini menunjukkan suatu proses seumur hidup, yang baru disempurnakan pada saat kita mati, atau sesaat setelah kita mati (Ibr 12:23).
Ibr 12:23 - “dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna.

6)         Tentang mengampuni orang dan diampuni orang.

a)   “Saya sedang berada di Cleveland saat saya sedang membuat kesimpulan khotbah yang baru saja saya sampaikan, ketika seorang pria meminta saya bersama-sama dengan dia berdoa untuk keselamatan kedua anaknya. Ketika kami mulai berdoa, ia berkata: ‘Kedua anak saya pecandu berat alkohol, dan saya tahu, bila Allah menyelamatkan mereka, mereka akan terbebas dari hal itu. ... ‘Apakah Anda pernah menjadi pecandu alkohol juga?’ saya bertanya kepadanya. ... ‘Ya,’ ia menjawab dengan sangat perlahan, bahkan hampir seperti berbisik. ‘Apakah ketika itu anak-anakmu ada di rumah?’ ‘Ya.’ ‘Pernahkah Anda mendatangi anak-anak Anda di rumah dan meminta maaf kepada mereka karena ketika mereka masih kanak-kanak, Anda sudah menjadi seorang pecandu alkohol?’ ... Pria itu menunduk, ‘Belum pernah.’ ... ‘Datangi anak-anak Anda, meminta maaf kepada mereka karena Anda pernah menjadi pecandu alkohol,’ saya mengatakan hal itu, dan kemudian menatapnya dengan sungguh-sungguh, menanti jawabannya. Dia menatap saya kembali, kemudian setuju. ... Dengan memaafkan dosa seseorang, kita sesungguhnya sedang membebaskan mereka, tetapi bila kita tidak memaafkan mereka, dosa yang sudah ia lakukan itu akan tetap mengikatnya. Inilah prinsip Kerajaan Allah. Anak laki-lakinya sangat membenci kebiasaan ayahnya yang kecanduan alkohol. Anak-anaknya tidak pernah memaafkan ayahnya untuk perkara itu. Karena mereka tidak pernah memaafkan hal itu, mereka menyimpan dosa ayah mereka di dalam hati mereka, dan perkara itu menjadi sesuatu yang akhirnya membuat mereka benci terhadap ayahnya. Kebencian akan mengikat dosa tetap berada di dalam diri mereka. Mereka mengikat diri mereka kepada dosa ayahnya (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 41-43).

Tanggapan saya:
1.   Pertama-tama, mana ayat dasar dari ajaran ini?
2.   Ini tolol dan salah, karena berarti bahwa pengudusan kita tergantung pada orang kepada siapa kita berbuat salah! Bagaimana kalau kita sudah minta maaf tetapi orang itu tidak mau memaafkan?
3.   Dan cerita ini membingungkan, karena contohnya tidak cocok dengan pernyataannya. Karena tidak adanya pemaafan, yang terikat dosa itu ayahnya atau anak-anaknya? Kalau dilihat dari bagian yang saya beri garis bawah tunggal maka yang terikat adalah orang yang tidak dimaafkan (ayahnya), tetapi kalau dilihat dari kalimat yang saya beri garis bawah ganda, maka yang terikat adalah orang yang tidak mau memaafkan (anaknya). Jelas bahwa ini adalah omongan kontradiksi dari orang yang IQnya rendah!

b)   “Bila Anda tidak memaafkan dosa yang sudah diperbuat oleh seseorang terhadap Anda, sesungguhnya Anda sedang menanggung dosa tersebut; menahannya. Akibatnya Anda akan membuat kesalahan-kesalahan yang sama terhadapnya” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 44).

Tanggapan saya:

Lagi-lagi suatu kegilaan yang diberikan tanpa dasar Alkitabnya! Memang ‘tidak memaafkan / mengampuni’ merupakan dosa. Tetapi itu tidak menjadikan kita melakukan kesalahan-kesalahan yang sama terhadapnya. Sebagai contoh: kalau seorang gadis diperkosa oleh seorang pemuda, dan ia tidak mau mengampuni pemuda itu, apakah nanti ia akan memperkosa pemuda itu atau menjadi seorang pemerkosa?

c)   “Di Charlotte, North Carolina, ada seorang pria yang tidak pernah memaafkan rekan bisnisnya yang terdahulu. Rekan bisnisnya ini membawa kabur semua uangnya. Akibatnya, ia membayar sendiri semua utang-utangnya. Pria yang marah ini terus mengalami masalah di dalam bisnisnya, sebelum ia memaafkan rekan bisnisnya tersebut pada malam itu. Sekarang ini, ia sungguh-sungguh mengalami keberhasilan yang belum pernah ia alami sebelumnya” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 44-45).

Tanggapan saya:
Sama dengan yang di atas.

d)   “Seorang ahli ilmu pengetahuan ruang angkasa di California mendengar prinsip memaafkan yang saya ajarkan, dan perkara itu mengubah kehidupannya. Ia dan ayahnya tidak pernah lagi berbicara hampir lima belas tahun ketika ayahnya masih hidup. Ayahnya sudah meninggal dua puluh tahun yang lalu. Ini berarti, sudah ada tiga puluh lima tahun ia hidup tanpa pengampunan. Masalahnya, sekarang ahli ilmu pengetahuan ini juga sudah tidak berbicara lagi dengan putrinya selama hampir dua tahun. Sekarang ini, putrinya sudah pindah ke Hawai untuk menghindari dirinya. Malam itu dia sadar, bahwa ia menanggung konsekwensi yang sama pula sebagaimana yang sudah dilakukan ayahnya terhadapnya. Ayahnya sudah meninggal, sekarang apa yang harus ia perbuat? Adalah penting baginya untuk memaafkan ayahnya, meskipun peristiwa itu sudah berlalu. Kami berdoa bersama dan ia mendapatkan pembebasan yang sungguh-sungguh ia butuhkan itu. Malam itu, setelah pertemuan, ia menulis sepucuk surat yang panjang kepada putrinya yang tinggal di Hawai, memohon maaf dan mengatakan kepada putrinya suatu perkara yang belum pernah ia pahami sebelumnya. Beberapa minggu kemudian, saya berjumpa lagi dengannya. Mereka sudah berdamai, dan merencanakan suatu perjalanan ke Hawai untuk mengunjungi putri dan cucunya. Banyak ayah yang meyakini bahwa ketika mereka mengakui kegagalan atau kesalahan mereka kepada anak-anak mereka, atau mengakui dosa-dosa mereka, dan meminta pengampunan, hal ini akan melemahkan diri mereka. Tidak ada perkara yang lebih besar daripada kebenaran ini. Ini adalah bagian yang maximal dari kepriaan Anda. Memberi dan menerima pengampunan adalah tindakan yang menyerupai Kristus. Ini adalah bukti nyata bahwa kebanyakan orangtua yang saat ini memperlakukan anak-anak mereka dengan kejam, mereka juga adalah anak-anak yang dahulunya pernah mendapatkan perlakuan kejam. Banyak orang yang bekerja di dinas-dinas sosial, badan penyuluhan sekolah, dan kepolisian yang tidak memahami perkara yang sudah diajarkan oleh Yesus ini (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 45).

Tanggapan saya:
1.   Kata-kata ‘Tidak ada perkara yang lebih besar daripada kebenaran ini’ apa tidak salah?
2.   Kata-kata ‘Memberi dan menerima pengampunan adalah tindakan yang menyerupai Kristus’ berarti bahwa Kristus juga menerima pengampunan! Ini sesat!
3.   Cerita ini tidak jelas tujuannya. Ayahnya bersalah kepada dia, dan dia tidak memaafkannya sampai ayahnya mati. Lalu dia tidak berbicara dengan putrinya, itu salah siapa? Orang itu lalu meminta maaf kepada putrinya dan mereka berdamai. Apakah karena tadinya ia tidak memaafkan ayahnya maka sekarang setelah ia bersalah kepada putrinya, putrinya tidak mau memaafkan dia? Kalau begitu, dosanya menurun kepada putrinya! Ini salah dan sesat. Alkitab tidak pernah mengajarkan ada dosa menurun dengan cara seperti itu.
4.   Seluruh pelajaran / bab ini penuh dengan contoh-contoh, tetapi tidak ada dasar Alkitab. Tetapi lucunya pada bagian akhirnya Edwin Louis Cole berkata “Banyak orang yang bekerja di dinas-dinas sosial, badan penyuluhan sekolah, dan kepolisian yang tidak memahami prinsip yang sudah diajarkan oleh Yesus ini. Diajarkan oleh Yesus dimana? Oh, pasti diajarkan oleh Yesus langsung kepada Edwin Louis Cole melalui pemberian wahyu!

e)   “Wanita yang merasa bahwa suaminya adalah pria yang tidak percaya - atau seorang suami Kristen yang kurang memaksimalkan potensinya sebagai seorang pria sejati - ada dua langkah kunci yang terdapat dalam Alkitab. Pertama, yakinkanlah diri Anda bahwa Anda sudah mengampuni semua dosa suami Anda. Banyak istri yang tidak mengampuni suami mereka. Tanpa pengampunan, sesungguhnya seorang istri sedang menahan dosa suaminya dan mengikat dosa tersebut di dalam diri sang suami. Pengampunan membuka; tidak adanya pengampunan menutup. Pengampunan membebaskan, tidak adanya pengampunan mengikat. Banyak pria yang sungguh-sungguh ingin menjadi pria sejati seperti yang Allah inginkan atas hidup mereka, dan sering menjumpai diri mereka sedang berjuang untuk terbebas dari perbudakan karena tidak adanya pengampunan dari istri mereka. Kedua, cintailah suami Anda.” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 66).

Tanggapan saya:
1.   Ini sesat! Orang yang berbuat salah kepada seseorang membutuhkan pengampunan dari Tuhan, bukan dari orang kepada siapa ia bersalah!
2.   Dan lucunya, wanita / istri itu tidak disuruh memberitakan Injil kepada suami yang belum Kristen itu.

Tanggapan saya tentang seluruh point ini (tentang pengampunan dosa):
Seluruh ajaran Edwin Louis Cole tentang pengampunan ini (a-e) sesat!

7)         Kelahiran baru mengidentikkan kita kembali dengan Yesus Kristus.
“Tetapi, melalui kelahiran baru, kita diidentikkan kembali dengan Yesus Kristus dan kebenaranNya, dan karena itu tidak ada lagi murka, yang ada adalah anugerah” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 35).

Tanggapan saya:
Melalui kelahiran baru kita diidentikkan dengan Yesus? Apa artinya ‘diidentikkan kembali dengan Yesus Kristus dan kebenaranNya’??? Kapan manusia pernah identik dengan Yesus, kok bisa digunakan kata ‘kembali’? Sampai kapanpun kita tidak akan pernah identik dengan Yesus, yang adalah Allah dan manusia dalam satu pribadi itu!

8)   Kelompok pria sejati / Edwin Louis Cole percaya adanya wahyu dan pengilhaman pada jaman sekarang, dan ia sendiri mengatakan dirinya menerima wahyu, menjadi nabi dan sebagainya.

a)   Pada bagian intro dari buku ‘Hikmat Bagi Pria’: “Apakah Christian Men’s Network? Christian Men’s Network adalah sebuah jaringan pelayanan pria, yang didirikan oleh DR Edwin Louis Cole pada tahun 1979. “Saya percaya Allah telah memanggil saya untuk berbicara dengan suara kenabian kepada pria-pria generasi ini. Dia telah menetapkan saya dengan pelayanan yang berfokus kepada pria, untuk membawa mereka kepada keserupaan dengan Kristus dan menjamah mereka dengan kenyataan bahwa ‘Menjadi pria sejati dan keserupaan dengan Kristus adalah hal yang sama’ (DR Edwin L Cole)”.

Tanggapan saya:
Terlihat bahwa gerakan pria sejati ini (Eddy Leo adalah editor buku ‘Hikmat Bagi Pria’ ini) menyetujui claim dari Edwin Louis Cole bahwa ia adalah seorang nabi! Saya sendiri tidak percaya bahwa pada jaman sekarang ini masih ada nabi. Tetapi kalau nabi palsu banyak sekali, dan Edwin Louis Cole adalah salah satu di antaranya!

b)   “Kalau hati kita berbalik kepada Tuhan, maka selubung (penghalang) kita diambil, sehingga komunikasi kita dengan Tuhan kembali tercipta, dan pewahyuan dari Tuhan menjadi nyata atas kita, sehingga kita tidak berjalan dalam kehendak kita sendiri tetapi berjalan di dalam kehendak Tuhan” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 88).

Tanggapan saya:
Bdk. 2Kor 3:14-16 - “(14) Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. (15) Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. (16) Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya”.

Dari text di atas ini terlihat bahwa kalau seseorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung yang menghalanginya untuk mengerti Firman Tuhan / Perjanjian Lama itu akan diambil, sehingga ia bisa mengerti Firman Tuhan / Alkitab / Perjanjian Lama itu. Jadi, sama sekali tidak berarti ia akan mendapatkan wahyu yang baru!

c)   “Dari nada bicaranya saya segera dapat merasakan bahwa Allah sendiri yang telah mengilhaminya untuk berbicara demikian” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 134).

Tanggapan saya:
1.   Ini lagi-lagi sesat. Kalau ada ilham, maka apa yang dikatakan orang itu harus jadi Alkitab jilid 2! Mengapa? Karena ilham itu yang menjadikan Alkitab adalah Firman Tuhan yang tak ada salahnya.
2Tim 3:16 - Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”.
RSV/NASB: ‘All Scripture is inspired by God’ (= Seluruh Kitab Suci diilhamkan oleh Allah).
2.   Dari mana / bagaimana Edwin Louis Cole bisa ‘merasakan’ ilham itu dalam diri orang lain? Penulis-penulis Alkitab sendiri belum tentu merasakan kalau Allah mengilhaminya dalam menuliskan Alkitab.

d)   “Bertahun-tahun kemudian, Tuhan kembali menyampaikan firmanNya secara khusus kepada saya. Ketika itu saya sedang berpuasa dan seperti biasa, pagi itu saya juga berjalan-jalan menyusuri pantai seorang diri di tengah-tengah udara yang masih terasa begitu dingin dan berkabut. Saya kemudian berseru kepada Allah dan RohNya menyampaikan kelima ‘firman’ ini kepada roh saya:
‘Kuduskanlah dirimu.’
‘Beritakanlah Firman Tuhan.’
‘Jangan ragu akan apapun.’
‘Gunakanlah emas, namun jangan jamah kemuliaannya.’
‘Naikkanlah doa yang terdapat dalam Kisah Rasul 4:24.’” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 135).

e)   “Tiba-tiba anak perempuan kami, Joann, berkata: ‘Pa, tahukah Papa kalau dosa seksual akan merupakan masalah yang melanda gereja pada dasa warsa delapan puluhan nanti? Pada akhir minggu pertama bulan Februari 1980 dalam sebuah retreat kaum pria di Oregon, saya mengutarakan hal itu. Saat itu saya tidak menyadari nubuat yang terkandung dalam pernyataan tersebut” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 135,136).

f)    “Itu sebabnya kita harus memperhatikan perkataan para nabi (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 137).
Nabi Perjanjian Lama atau nabi jaman sekarang? Kelihatannya ia percaya jaman sekarang masih ada nabi.

g)   “Anda harus dapat menjadi wahyu Allah yang dinyatakan bagi orang-orang tersebut. Sebagaimana dahulu Yesus menjadi wahyu Allah yang dinyatakan di atas bumi, demikian pula kaum pria harus berdiri mewakili Kristus dan menjadi wahyu Allah bagi sesamanya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 138).

h)   “Apabila orang menolak wahyu yang baru, maka ia akan terjerumus ke dalam proses kristalisasi. Padahal, Tuhan adalah Allah yang tidak mengenal kemandekan. Dia terus menerus menyatakan diriNya untuk memulihkan segala sesuatu sebelum kedatangan Kristus yang keduakalinya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 142-143).

Tanggapan saya:
Jadi, tak ada henti-hentinya Ia memberi wahyu? Lalu mengapa tak keluar Alkitab jilid 2,3 dst? Allah tidak mengenal kemandekan? Hari ketujuh Allah ‘mandek’ dari pekerjaan penciptaanNya (Kej 2:2-3)!

i)    “... semuanya itu hendaknya tidak membuat manusia lupa untuk kembali kepada Allah guna mendapatkan lagi wahyu yang baru. Bangsa Israel harus mengumpulkan manna segar setiap hari (Keluaran 16:16-21) sebab jika lewat dari satu hari, manna itu akan membusuk. Kalau kita berusaha memuaskan diri dengan wahyu mula-mula saja dan tidak berusaha mencari wahyu baru dari Allah, kita akan mengalami kemerosotan dan menjadi orang yang ‘setengah-setengah’ saja atau bahkan ke tingkat yang lebih rendah lagi (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 148-149).

Tanggapan saya:
1.   Ini lagi-lagi suatu pengalegorian yang ngawur. Kalau ‘manna’ diartikan sebagai ‘wahyu’, maka pada hari Sabat mereka tidak mendapat wahyu, karena Tuhan tidak beri manna pada hari Sabat!
2.   Ini jelas merupakan ajaran yang bertentangan dengan SOLA SCRIPTURA, (hanya Kitab Suci), dan karena itu harus dianggap sebagai ajaran sesat!
3.   Kata-kata Edwin Louis Cole ini secara implicit merendahkan Firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab. Dan anehnya, nabi palsu yang menghina Firman Tuhan / Alkitab ini disanjung dan diikuti oleh banyak orang yang mengaku diri Kristen dan bahkan mengaku diri hamba Tuhan!

j)    “Pada minggu terakhir dari masa puasa selama empat puluh hari yang saya lakukan, saya merasa begitu peka terhadap Roh Allah. Pada saat itulah saya mendapat dorongan yang kuat untuk ..... Ketika akhirnya saya merenungkan kejadian itu, saya mendengar suara lembut Roh Kudus berbicara dalam hati dan pikiran saya dan menyampaikan perkataan Yesus (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 270).

Lalu ada dialog dia dan Roh Kudus (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 271).

k)   “Roh Kudus berbicara kepada saya, ...” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 274).

l)    “Saya juga telah menambahkan beberapa bab yang tidak hanya menguatkan apa yang telah ditulis pada awalnya, tetapi juga memberikan pewahyuan yang luas dan makna yang lebih dalam pada kebenaran bahwa ‘Kesempurnaan seorang pria dan keserupaan dengan Kristus adalah hal yang sama.’” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 0 / prakata untuk edisi baru).

m)  “Mesin jet menderu di belakang badan pesawat. Alkitab dan buku catatan saya terbuka di atas meja lipat yang ada di hadapan saya. Tetapi, di dalam perenungan ini, saya seperti kehilangan kesadaran akan keadaan di sekitar saya. Sesuatu sedang bergejolak di dalam roh saya. Saya sadar, hadirat Allah hadir (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 2).
Catatan: saat ini Edwin Louis Cole sedang mempersiapkan bahan khotbahnya dalam pesawat.

n)   “Pesawat United Airlines membawa saya semakin mendekati tujuan. Momen demi momen mendekatkan saya pada retret yang harus saya layani. Tiba-tiba saya ingin menulis. Saya sadar bahwa Roh Allah di dalam diri saya mengilhami dan menuntun pena saya untuk menuliskan sesuatu di dalam buku catatan (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 5).
Catatan: terlihat bahwa Edwin Louis Cole mempersiapkan khotbahnya tanpa buku-buku yang dipelajari, tetapi hanya bergantung pada pimpinan Roh Kudus. Perhatikan khususnya kata ‘mengilhami’! Catatannya seharusnya menjadi Alkitab jilid 2!

o)   “Sebenarnya perkara ini terlalu keras, terlalu tajam - bahkan untuk seorang nabi-pengkhotbah seperti saya, yang sudah berkhotbah di hadapan ribuan orang” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 5).

Tanggapan saya:
Perhatikan bagaimana orang narsis ini meninggikan dirinya sendiri. Betul-betul memuakkan!

p)   Perkataan yang Allah berikan kepada saya ketika saya masih berada di dalam pesawat menuju retret di Oregon secara spesifik dan langsung tertuju kepada salah satu dari dosa-dosa tersebut: berbuat cabul. Hal ini sungguh memiliki kekuatan dan dampak yang fenomenal. Dua ratus enam puluh lima orang berlari menuju ke depan panggung dan ingin bertobat di hadapan Allah. Malam itu, kuasa Allah begitu kuat, tak seorang pun di antara mereka yang pulang tanpa dijamah atau diubahkan” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 14).

q)   “Dan, ketika saya berdoa bersama orang-orang tersebut di kapel kecil di Oregon tersebut, saya merasakan Roh Kudus membisikkan kepada saya untuk juga menjangkau yang lain” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 15).

r)    “Akan tetapi Tim sudah dipengaruhi oleh firman Allah dan kepada pewahyuan dari jiwanya bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat pribadinya” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 126).

Apa yang orang ini maksudkan dengan ‘pewahyuan dari jiwanya’??? Apa yang ia maksudkan dengan istilah ‘wahyu’????

s)   “Suatu ketika saya sedang melayani seorang pendeta di Chicago, tiba-tiba Roh Kudus mengambil alih ‘saat-saat Allah’ itu. Sambil memandang jemaatnya, saya berkata bahwa ada beberapa orang anggota jemaat yang sedang mencari kesalahan pendeta, mereka mengeluh karena tidak bisa bertemu dengan pendeta atau tidak ada lagi hubungan seperti yang mereka rasakan beberapa tahun sebelumnya. Persoalannya adalah bahwa ia telah bertumbuh ke tingkat-tingkat yang baru, tetapi jemaatnya tidak bertumbuh” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 168).

t)    ‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 39-40, Edwin Louis Cole bercerita tentang anaknya yang mau meminjam mobilnya, dan lalu bersikap kurang ajar pada waktu permintaannya ditolak. Dia mau marah tetapi Roh Kudus melarangnya!
“Saya akan mengajarnya. Tetapi, Roh Kudus melangkah masuk, dengan tenang, dan hening, Ia membisikkan sebuah kalimat di dalam hati saya: ‘Bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu.’” (hal 40).
Ia lalu minta ampun kepada Tuhan, bertobat, mengakui kesalahannya kepada anaknya, dan meminjamkan mobil itu kepada anaknya.

Tanggapan saya:
1.   Perhatikan kata-kata ‘Roh Kudus melangkah masuk, dengan tenang, dan hening, ...’.
2.   Apakah Roh Kudus mengajar kita untuk tidak mendisiplin anak tetapi justru malah memanjakan anak? Ini bertentangan dengan Ibr 12:5-11!
Ibr 12:5-11 - “(5) Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: ‘Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkanNya; (6) karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak.’ (7) Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? (8) Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. (9) Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? (10) Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya. (11) Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya”.
Betul-betul aneh bahwa ajaran langsung (wahyu) dari Roh Kudus ini bisa bertentangan dengan Alkitab / Firman Tuhan yang tertulis!

u)   Dalam buku ‘Menjadi Pria Sejati’, hal 140-148 - istilah ‘wahyu’ maupun ‘inspirasi’ digunakan dalam arti yang ngawur! Dan dalam buku ‘Menjadi Pria Sejati’, hal 141,142,143,145,146,147,148 Cole menggunakan istilah-istilah ‘wahyu yang baru’ dan ‘inspirasi yang baru’.

Orang ini memang sinting dan sesat. Bandingkan dengan kata-kata 2 orang di bawah ini.

Dalam bukunya yang berjudul ‘The Charismatics and the Word of God’, hal 138, Victor Budgen mengutip kata-kata John Owen, seorang ahli theologia Reformed yang hidup pada tahun 1616-1683. John Owen berkata sebagai berikut tentang ‘revelations’ (= wahyu):
“They are of two sorts - objective and subjective. Those of the former sort, whether they contain doctrines contrary unto that of Scripture, or additional thereunto, or seemingly confirmato­ry thereof, they are universally to be rejected, the former being absolutely false, the latter useless. ... By subjective revelations, nothing is intended but that work of spiritual illumination whereby we are enabled to discern and understand the mind of God in the Scripture; which the apostle prays for in the behalf of believers (Eph 1:16-19) ...” [= Mereka (Wahyu-wahyu) terdiri dari 2 macam - obyektif dan subyektif. Yang tergolong jenis pertama (wahyu obyektif), apakah itu berisikan ajaran yang bertentangan dengan Kitab Suci, atau ajaran yang ditambahkan pada Kitab Suci, atau ajaran yang kelihatannya meneguhkan Kitab Suci, harus ditolak secara universal, yang pertama karena palsu, yang terakhir karena tidak berguna. ... Yang dimaksud dengan wahyu subyektif tidak lain adalah pekerjaan pencerahan rohani dengan mana kita dimampukan untuk melihat dan mengerti pikiran Allah dalam Kitab Suci; yang untuknya sang rasul berdoa demi orang percaya (Ef 1:16-19) ...].

Lalu dalam buku yang sama, hal 183, Victor Budgen mengutip lagi dari Charles Haddon Spurgeon (1834-1892) sebagai berikut:
“Every now and then there comes up a heresy, some woman turns prophetess and raves; or some lunatic gets the idea that God has inspired him, and there are always fools ready to follow any impostor” (= Sesekali muncullah seorang penyesat, seorang wanita yang menjadi nabiah dan mengoceh; atau seorang gila yang mempunyai gagasan bahwa Allah mengilhaminya, dan selalu ada orang-orang tolol yang siap untuk mengikuti seadanya penipu).

9)         Peremehan terhadap Alkitab dan peninggian terhadap ajarannya sendiri.

a)   “Saya bahagia sekali menjadi seorang pria. ... Namun demikian, saya belum menjadi manusia yang benar-benar sesuai dengan potensi diri saya yang sesungguhnya sebagai seorang pria. Saat ini saya dapat melangkah dengan mantap dalam perjalanan saya mencapai kepenuhan sebagai seorang pria. Sebelumnya, dalam usaha saya menjadi seorang pria yang sejati, selama bertahun-tahun saya hanya terombang-ambing ke sana kemari tanpa arah yang pasti. Itu disebabkan karena saya tidak pernah diajari cara-cara untuk menjadi pria yang sesungguhnya. Melalui berbagai pergumulan dan kesukaran, keberhasilan serta penghargaan, akhirnya saya belajar banyak hal mengenai hakikat serta cara yang sebenarnya untuk menjadi pria. Sekarang saya dapat mengatakan bahwa hidup sebagai seorang pria adalah suatu kehidupan yang indah” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 3).

Tanggapan saya:
Dia menjadi seperti itu bukan karena belajar Firman Tuhan, tetapi karena melalui banyak pergumulan, kesukaran, keberhasilan, serta penghargaan, ia akhirnya banyak belajar tentang hakikat dan cara sebenarnya untuk menjadi pria!
Bdk. Ef 4:11-15 - “(11) Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, (12) untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, (13) sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, (14) sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, (15) tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala”.
Perhatikan bahwa lima jabatan dalam Ef 4:11 itu semuanya adalah jabatan dari orang-orang yang memberitakan Firman Tuhan! Dan pemberitaan Firman Tuhan yang mereka lakukan itulah yang bisa membuat seseorang menjadi teguh dan tidak lagi terombang-ambing.

b)   “Pengajarannya tentang ‘Sembilan Prinsip Syafaat’ itulah yang mengubah kehidupan pernikahan saya dan Nancy. ... Kami menerima tantangan tersebut dan mulai mempraktekkan sembilan langkah dalam bersyafaat yang diajarkan Joy. Hasilnya sungguh luar biasa” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 134).

Tanggapan saya:
Kalau begitu seluruh sisa Alkitab yang begitu banyak dibuang saja. Toh yang sembilan langkah sudah cukup!

Kata-kata saya ini juga berlaku untuk orang-orang dari kalangan pria sejati yang mengatakan bahwa mereka bisa maju secara rohani, dan maju dalam pengudusan, hanya dengan mempelajari buku Eddy Leo yang berjudul ‘Seri Penuntun Saat Teduh Pria’, yang merupakan sebuah buku tipis yang membimbing orang melakukan Saat Teduh hanya dalam 49 hari! Kalau ini benar, tolollah orang yang membuang bertahun-tahun dan jerih payah yang sangat banyak dengan masuk sekolah theologia dsb dalam usaha mereka untuk mempelajari Kitab Suci.

10)       Keselamatan / masuk surga karena usaha / persiapan kita?

a)   “Yesus memberikan keseimbangan antara pertobatan dan iman yang membuat pintu sorga terbuka (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 79).

Tanggapan saya:

1.   Apa arti dari ‘keseimbangan’? Kalimat ini mengarah pada keselamatan karena iman + perbuatan baik???

2.   Yang membuat pintu surga terbuka bukan iman ataupun pertobatan kita tetapi Yesus, melalui kematian dan kebangkitanNya.
Ef 2:18 - “karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa”.
Ef 3:12 - Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepadaNya.
Ibr 10:20 - “karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diriNya sendiri.
Masuknya kita ke sana, itu karena iman kita.

b)   “Yang mula-mula diinginkan dalam kehidupan ini adalah masuk sorga, namun hal itu baru akan terlaksana di akhir kehidupan. Sebelum keinginan itu terlaksana, kita harus melakukan berbagai persiapan untuk menghadapinya. Mulai sekarang kita harus menyusun suatu rencana dan menjalani kehidupan ini sesuai dengan rencana tersebut agar keinginan mula-mula kita itu dapat tercapai (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 238).

Tanggapan saya:
Jadi, bisanya kita masuk surga terjadi karena persiapan-persiapan / pelaksanaan rencana kita? Perhatikan bahwa di sini Cole sama sekali tidak membicarakan iman kepada Kristus! Jadi, ini ajaran keselamatan semata-mata karena perbuatan baik, dan ini adalah ajaran sesat!

D. James Kennedy mengutip kata-kata Martin Luther sebagai berikut:
“The most damnable and pernicious heresy that has ever plagued the mind of men was the idea that somehow he could make himself good enough to deserve to live with an all-holy God” (= Ajaran sesat yang paling terkutuk dan jahat / merusak yang pernah menggoda pikiran manusia adalah gagasan bahwa entah bagaimana ia bisa membuat dirinya sendiri cukup baik sehingga layak untuk hidup dengan Allah yang mahasuci) - Dr. D. James Kennedy, ‘Evangelism Explosion’, hal 31-32.

c)   “Percaya ditambah dengan perbuatan sama dengan iman” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 86).

Tanggapan saya:
Definisi konyol dan bodoh. Percaya sama dengan beriman. Lalu bagaimana ia bisa berkata bahwa ‘percaya ditambah dengan perbuatan sama dengan iman’???

d)   “‘Bawalah hidupmu kepada salib’ adalah judul dan tema di mana terjadi perubahan kekal dalam hidup kita. Kita membawa:
Kesalahan - dan mendapatkan pengampunan
Pertobatan - dan kita mendapatkan iman” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 152).

Tanggapan saya:
Ini omongan apa? Membawa hidup ke salib kan sudah menunjukkan iman? Tetapi Cole mengatakan bahwa kita membawa pertobatan - dan kita mendapatkan iman???

e)   “Allah berjanji bahwa orang yang bisa mengalahkan dosa percabulan akan duduk bersama-sama dengan Dia di takhta-Nya. Orang yang bisa mengalahkan dosa percabulan tersebut adalah orang yang akan sanggup mencapai kekudusan” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 12).

Tanggapan saya:

1.         Kalimat pertama berbau ajaran sesat keselamatan karena perbuatan baik!
Edwin Louis Cole tidak memberi dasar Alkitab untuk ajarannya ini, tetapi sebetulnya memang ada ayat yang seakan-akan mendukung pandangan Edwin Louis Cole, yaitu 1Kor 6:9-10. Mari kita membaca dan membahas text itu.

1Kor 6:9-11 - “(9) Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, (10) pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. (11) Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita”.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
a.   Text ini bukan hanya berbicara tentang orang cabul, tetapi juga orang yang tidak adil, penyembah berhala, pencuri, orang kikir (seharusnya ‘tamak’), pemabuk, pemfitnah, penipu.
b.   Text ini tidak mengatakan bahwa orang yang bisa mengalahkan dosa-dosa itu akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah atau duduk bersama-sama dengan Dia di takhtaNya. Kalau orang yang mengalahkan dosa bisa masuk Kerajaan Allah, itu menunjuk pada ajaran keselamatan karena perbuatan baik, dan itu sesat!
c.   Ay 11-nya menunjukkan bahwa dahulu jemaat Korintus melakukan dosa-dosa tersebut, tetapi sekarang mereka telah dibenarkan karena iman kepada Kristus, dan karena itu mereka mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Sedangkan ay 9-10 menunjuk kepada orang-orang yang melakukan dosa itu dan tidak pernah bertobat / percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya!

2.   Edwin Louis Cole mengatakan bahwa “Orang yang bisa mengalahkan dosa percabulan tersebut adalah orang yang akan sanggup mencapai kekudusan”.
Ini sama sekali tidak punya dasar Alkitab, dan memang tidak Alkitabiah!
Bagaimana kalau seseorang bisa mengalahkan dosa percabulan, tetapi ia suka berdusta, mencuri, tidak disiplin dsb? Yang benar adalah: setiap orang kristen punya kelemahan! Bisa dalam percabulan, dusta, pelit, sombong, munafik, dan sebagainya.

11)       Penekanan ‘kepriaan’ yang kelewat batas sampai menjadi suatu ajaran sesat!

a)   “Jati diri Daud sebagai pria sejati telah terbukti melalui sikap yang diambilnya dalam menghadapi krisis. ... Paulus mau menerima tanggung jawab untuk menjadi teladan bagi setiap kaum pria yang percaya pada zamannya, dengan mengatakan, ‘Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus’ (1Korintus 11:1)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 230).

Tanggapan saya:
Baik Daud maupun Paulus tidak pernah ditekankan kepriaannya!

b)   “Keberanian moral merupakan suatu kebajikan dalam diri seorang pria, sedangkan kepengecutan moral akan menghancurkan sifat kepriaannya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 312).
Tanggapan saya:
Tak berlaku untuk perempuan?

c)   “Dalam suatu kebaktian, lebih dari dua ribu pria memadati sebuah auditorium di Boston. Banyak di antara hadirin itu yang menerima prinsip dan kebenaran yang akan saya ajarkan, menganutnya, kemudian mengajarkannya kepada pria lain, yang selanjutnya mengajar pria yang lain lagi, dan dengan demikian kebenaran itu pun menyebar luas. Pada hari itu, ketika saya berbicara kepada kumpulan orang banyak tersebut, pengungkapan tentang Pribadi Yesus yang sesungguhnya dan perbuatan-perbuatan yang telah dilakukanNya bagi manusia, khususnya kaum pria, seakan-akan menghunjam ke dalam pikiran dan hati setiap pria yang hadir di sana. Bobot kebenaran itu menciptakan suatu kesenyapan yang begitu hening di antara mereka. Beberapa saat kemudian, keheningan itu pun pecah menjadi ungkapan sukacita yang penuh gairah. Saya berhenti berbicara dan memberi kesempatan bagi para pria yang belum pernah mengambil keputusan untuk menjadi ‘pria sejati’ agar maju dan menyatakan sikap mereka. Sewaktu ratusan pria beringsut maju ke depan, pria-pria yang lain bersorak gemuruh, ‘Yesus, Yesus, Yesus!’ Sewaktu mereka berseru demikian, keyakinan yang terbentuk terasa begitu nyata. Para pria tersebut tiba-tiba menyadari bahwa menjadi pria sejati artinya adalah menjadi seperti Yesus, satu-satunya Pria yang pernah hidup tepat sesuai dengan kehendak dan tujuan Allah dalam menciptakan diriNya (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 8-9).
Catatan: kalau perlu baca terus hal 9nya.

Tanggapan saya:
1.  Kata-kata ‘khususnya kaum pria’ adalah omong kosong. Perbuatan apa yang Yesus lakukan hanya bagi pria, dan tidak bagi wanita?
2.  Ia menulis seakan-akan yang ia adakan adalah suatu KKR penginjilan. Kalau memang KKR penginjilan maka ini bisa saja. Tetapi kalau hanya ajaran tentang ‘pria yang sejati’, itu omong kosong!
3.  Kalau ajaran pria yang sejati menekankan hubungan suami istri dengan anak-anak, bagaimana Yesus bisa mereka teladani mengingat Yesus tidak pernah kawin / punya anak jasmani?
4.  Bagaimana orang-orang yang maju ke depan dalam kebaktian itu bisa membuang botol-botol minumannya (hal 9)? Apakah mereka datang ke kebaktian dengan membawa botol-botol minuman mereka? Atau mereka pulang dulu mengambil botol-botol itu dan lalu membuangnya ke altar gereja?

d)   Buku ‘Menjadi Pria Sejati’, hal 53-61,64,66,69,70,71,72,74,98 - Yesus ditekankan kepriaanNya! Semua kata ‘orang’ atau ‘manusia’ yang ditujukan kepada Yesus, diubah menjadi ‘pria’!

Tanggapan saya:
Sekalipun Yesus memang adalah seorang pria, tetapi dalam kelahiranNya, penderitaanNya, pengadilan terhadapNya, kematianNya dsb, yang ditekankan dari Dia adalah bahwa Ia adalah manusia sama seperti kita (Ibr 2:14-17), bukan kepriaanNya. Apa bahayanya menekankan kepriaan Yesus? Bahayanya: ini bisa mengarah pada ajaran bahwa Ia tidak mati untuk wanita!

Ibr 2:14-17 - “(14) Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; (15) dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. (16) Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani. (17) Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.”.

Alkitab memang membedakan pria dan wanita dalam rumah tangga, karena kepala keluarga harus yang pria. Tetapi dalam persoalan penebusan, keselamatan, pengudusan dsb, tidak ada perbedaan!

e)   “Allah bermegah dalam diri pria yang mau datang kepadaNya dengan rendah hati, yang dengan jujur berusaha berubah untuk menjadi semakin serupa dengan citra seorang pria yang terdapat dalam diri Yesus Kristus, yaitu menjadi seorang ‘pria sejati’” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 74).

f)    “Dia memerintahkan murid-muridNya agar melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti yang telah dilakukanNya, berdasarkan iman (Yohanes 14:12). Dengan berbuat demikian, para pria akan memuliakan Allah seperti Dia juga telah memuliakan Allah. Hanya dengan cara itulah harapan akan menjadi kenyataan. Kaum pria akan mendapatkan penggenapan dan kepuasan dalam menjalani proses pendewasaan menjadi pria yang sesungguhnya, dan pada saat itulah seorang pria akan dapat bersikap sama, baik terhadap orang lain, terhadap dirinya sendiri maupun terhadap Allah” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 74-75).

Tanggapan saya:
Tak berlaku untuk wanita??

g)   “Apa kaitan hal-hal di atas dengan pernikahan? Sederhana saja: Allah, Pria yang paling sempurna itu berkepentingan untuk membentuk para suami menjadi pria yang memiliki nilai-nilai kepriaan yang sejati” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 327).

Tanggapan saya:

Allah adalah seorang pria? Ini bertentangan dengan Yoh 4:24 yang menyatakan bahwa Allah adalah Roh. Kalau Roh, maka tak ada jenis kelamin.
Yoh 4:24 - Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran.’”.

h)   Setelah membicarakan Luk 13 yang menunjukkan seorang petani yang mengharapkan buah pohon ara, sama seperti Allah mengharapkan buah dari kehidupan kita, ia lalu berkata:
“Buah itu adalah ‘karakter kepriaan kita yang sempurna’. ... Hai para pria, Allah menciptakan kita sebagai pria dan menanamkan roh-Nya di dalam diri kita; Ia berharap dapat memperoleh buah kepriaan dari kita.” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 52,53).

Tanggapan saya:
Lalu bagaimana dengan perempuan?

i)    “Adam diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Sebelum Adam jatuh ke dalam dosa, ia merupakan contoh dari pria yang sempurna. Ketika kepriaan tersebut dirusak oleh dosa, Yesus Kristus datang memulihkan citra kaum pria sebagai Adam yang kedua. Kristus datang sebagai ‘pengungkap citra’ Allah, yang mengatakan kepada kita, bahwa kita harus terlebih dahulu ‘dilahirkan kembali’ dan menerima sifat-sifat Allah ke dalam roh kita. Kita harus mempunyai pikiran dan hati yang sudah diperbaharui kembali. Baru kehidupan kita diubahkan, ‘yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.’ Tanpa Yesus Kristus, kaum pria tidak akan pernah bisa dipulihkan ke dalam citra Allah sebagai ‘buatan Allah, diciptakan di dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan yang baik.’ Hanya bersama dengan Yesus hal itu bisa dilakukan saat ini. Dengan gambaran baru tentang kepriaan ini - yang sudah diberikan oleh Yesus - dimeteraikan di dalam pikiran kita, perilaku kita, sikap, dan keinginan kita, semuanya akan menjadi baru” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 106).

Tanggapan saya:
1.   Adam bukan pria yang sempurna. Kalau sempurna, ia tidak akan bisa jatuh ke dalam dosa!
2.   Dosa merusak kepriaan Adam? Jadi, sejak jatuh ke dalam dosa, Adam bukan pria, tetapi wanita / banci?
3.   Yesus datang memulihkan citra kaum pria? Lalu bagaimana dengan perempuan?

j)    Kaum prialah yang menghasilkan suatu bangsa. Suatu bangsa akan besar bila kaum prianya besar. Suatu bangsa akan kuat bila kaum prianya kuat” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 111).

Tanggapan saya:
Ini penghinaan terhadap kaum wanita! Kaum pria tidak bisa berkembang biak kalau tidak ada wanita. Jadi bagaimana Cole bisa mengatakan ‘Kaum prialah yang menghasilkan suatu bangsa’?

k)   “E. M. Bounds menulis, ‘Kaum pria adalah metode-metode Allah.’ Ketika kaum pria mencari metode yang lebih baik, Allah mencari kaum pria yang lebih baik” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 112).

Tanggapan saya:
1. Bagaimana dengan kaum wanita?
2. Allah tergantung manusia / kaum pria?

l)    Perubahan harus dimulai dari kaum pria.

“Karena kaum pria adalah kepala rumah tangga, perubahan harus dimulai dari kaum pria!” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 83).

“Dengan pemahaman itulah kami berdoa. Kami bersepakat dengan Allah. Rick, menanggalkan caranya yang lama, menyerahkan kehidupannya kepada Tuhan Yesus Kristus. Sejak saat itu, Rick menjadi seorang pria yang lebih berpotensial daripada waktu-waktu sebelumnya. ... Perubahan sudah terjadi. Apakah yang terjadi dengan keluarganya? Beberapa bulan kemudian, Rick dan Joan duduk bersama kami di ruang tamu dengan beberapa orang lain. Tiba-tiba, saya menyadari bahwa ternyata Joan menangis. Saya menanyakan sebabnya. ‘Saya tidak sedang menangisi diri saya,’ ia berkata. ‘Saya sesungguhnya sedang menangisi kaum wanita lainnya yang akan mengalami hal yang sama seperti yang sudah saya alami. Sesudah Rick mengalami perubahan itu di dalam kehidupannya, ia kembali ke rumah dan segera segala sesuatunya pun berubah.’ Kemudian, Joan menjelaskan dampak yang luar biasa akibat perubahan yang sudah dialami Rick. ‘Kami tidak mengatakan kepada anak-anak apa yang sudah dialami Rick. Kami hanya ingin membiarkan segala sesuatunya terjadi secara wajar.’ Tetapi, tiga hari setelah Rick datang ke rumah, anak perempuan saya menghampiri saya dan berkata, ‘Mama, apa yang terjadi dengan papa? Papa kelihatannya berubah.’ Rick, Joan, dan anak-anak mereka menemukan bahwa perubahan selalu datangnya dari kepala keluarga (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 85).

“Banyak kaum pria saat ini yang sanggup mengubah istri, anak-anak, bisnis, dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, sedangkan diri mereka sendiri tidak diubahkan. ... Anda adalah seorang pria - Jika Anda berubah, keluarga Anda juga akan berubah. Jika Anda diubahkan, maka bisnis Anda pun akan diubahkan. Hai kaum pria, perubahan harus dimulai pertama-tama di dalam diri Anda” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 89-90).

Tanggapan saya:
1. Katanya perubahan harus dimulai dari kaum pria, tetapi kok bisa ada pria yang mengubah keluarga, tetapi dirinya sendiri tidak berubah??
2. Kata-kata Jika Anda diubahkan, maka bisnis Anda pun akan diubahkan’ berbau theologia Kemakmuran.

“Di dalam Kitab Efesus 5:23 disebutkan bahwa dalam rumah tangga, kaum pria setara dengan Kristus sebagai Kepala gereja. Perkara ini memiliki makna yang dahsyat di dalam diri kaum pria. Kebenaran: Sebagaimana Kristus adalah Juruselamat gereja, yang menyediakan jalan keluar terhadap masalah-masalah jemaat, demikian pula dengan kaum pria. Kaum pria mengambil tugas yang sama di dalam keluarga mereka. Jalan keluar terhadap masalah keluarga tetap diprakarsai oleh kaum pria” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 91).
Catatan: cetak miring dari saya.

Tanggapan saya:

1.   Ef 5:23 mengatakan bahwa suami adalah kepala istri, dan jelas juga kepala keluarga.
Ef 5:23 - “karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh”.
Tetapi Edwin Louis Cole tahu-tahu membelokkan ‘kepala’ menjadi ‘Juruselamat’ (perhatikan kata-kata yang saya cetak miring), dan ini menjadi suatu kegilaan / kesesatan!

2. Kalau suami memang adalah kepala keluarga bukankah ia boleh mengatur sehingga persoalan-persoalan tertentu dibereskan oleh istri?

3.   Ada cerita-cerita Alkitab yang bertentangan dengan ajaran Edwin Louis Cole ini.
a.  Zipora pada waktu ‘menyelamatkan Musa’ dengan menyunatkan anaknya (Kel 4:24-26).
b.   Debora (Hakim 4-5)!
Hak 4:4-9 - “(4) Pada waktu itu Debora, seorang nabiah, isteri Lapidot, memerintah sebagai hakim atas orang Israel. (5) Ia biasa duduk di bawah pohon korma Debora antara Rama dan Betel di pegunungan Efraim, dan orang Israel menghadap dia untuk berhakim kepadanya. (6) Ia menyuruh memanggil Barak bin Abinoam dari Kedesh di daerah Naftali, lalu berkata kepadanya: ‘Bukankah TUHAN, Allah Israel, memerintahkan demikian: Majulah, bergeraklah menuju gunung Tabor dengan membawa sepuluh ribu orang bani Naftali dan bani Zebulon bersama-sama dengan engkau, (7) dan Aku akan menggerakkan Sisera, panglima tentara Yabin, dengan kereta-keretanya dan pasukan-pasukannya menuju engkau ke sungai Kison dan Aku akan menyerahkan dia ke dalam tanganmu.’ (8) Jawab Barak kepada Debora: ‘Jika engkau turut maju akupun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju akupun tidak maju.’ (9) Kata Debora: ‘Baik, aku turut! Hanya, engkau tidak akan mendapat kehormatan dalam perjalanan yang engkau lakukan ini, sebab TUHAN akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan.’ Lalu Debora bangun berdiri dan pergi bersama-sama dengan Barak ke Kedesh”.
Siapa yang memulai inisiatif? Debora, dan ia adalah seorang perempuan!

4.    Bagaimana kalau suami tidak Kristen, sedangkan istrinya Kristen?
Bandingkan dengan ayat-ayat ini:
1Kor 7:16a - Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu?”.
1Pet 3:1-2 - “(1) Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, (2) jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu.
2Tim 1:5 - “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu”.
Catatan: dalam keluarga Timotius, yang kristen duluan justru adalah nenek dan ibunya. Mungkinkah kakek dan ayahnya, yang adalah orang kafir, yang mengajarkan kekristenan kepada Timotius?

12)  Wanita, pria, dan fungsi / pekerjaan Roh Kudus.

“Hal yang sama juga terjadi atas diri wanita Kristen. Mereka menginginkan suami mereka yang belum diselamatkan mendengarkan Kabar Baik tentang Yesus Kristus. Dan, mereka begitu menginginkan hal ini dan sering juga mereka berbuat salah. Mereka kelihatannya percaya bahwa ‘tidak ada laki-laki yang datang kepada Bapa kecuali istri mereka menarik mereka.’ Tidak ada seorang wanita pun yang mampu menarik seorang pria datang kepada Allah - hanya Roh Kudus yang mampu melakukannya. Tidak terkira banyaknya wanita yang sudah menyerahkan tubuh, pikiran, dan jiwa mereka terhadap maksud gila-gilaan ini, mereka mencoba menggantikan tugas Allah Roh Kudus. Berkali-kali para konselor mengatakan kepada para wanita, ‘Jangan mempermainkan Allah.’” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 65).

“Yakinlah bahwa kaum pria adalah imam, dan Allah sudah mengarahkan mereka untuk masuk ke dalam posisi itu. Seorang wanita tidak bisa mendorong seorang pria. Dorongan seorang wanita akan membantu hanya ketika seorang pria memang sudah siap ditarik atau dipimpin oleh Roh Allah menjadi seperti yang Allah inginkan. Kaum pria dapat mengubah kebiasaannya. Tetapi, hanya Allah yang mampu mengubah sifat alamiahnya. Para wanita, janganlah mempermainkan Allah!” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 65-66).

Tanggapan saya:

Apa urusannya ini dengan ‘mempermainkan Allah’? Dan, kalau pria yang melakukan hal itu, apakah mereka juga mempermainkan Allah?

Dan anehnya dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’ dikatakan sebagai berikut: “Setiap wanita memiliki peranan yang sangat besar untuk mendorong suaminya ke arah yang benar, dan tidak membutakan matanya terhadap langkah-langkah menyimpang yang dilakukan suaminya, sebab wanita mempunyai dua kemungkinan, ia dapat menjadi alat pemicu kejahatan bagi suaminya, atau ia menjadi alat kebenaran yang dipakai Tuhan bagi suaminya” (hal 50).
Hebat sekali buku ini bisa menentang big boss-nya sendiri!

Edwin Louis Cole meninggikan pria secara sangat berlebihan (dan dengan cara yang salah), dan sebaliknya, merendahkan wanita, juga secara sangat berlebihan!

Saya setuju bahwa pertobatan seseorang merupakan pekerjaan Allah / Roh Kudus, tetapi itu tidak berarti bahwa kita boleh pasif total kalau kita ingin seseorang bertobat. Kita harus memberitakan Injil, mendoakannya, memberikan teladan yang baik kepadanya, mengajaknya ke gereja, dan sebagainya. Dan ini berlaku baik untuk pria maupun wanita!

Bdk. 1Kor 3:5-9 - “(5) Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. (6) Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. (7) Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. (8) Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. (9) Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah”.

13) Ajaran sesat tentang kebapaan Allah.
“Kehormatan tertinggi yang Tuhan taruh di dalam kehidupan seorang pria adalah menjadi ayah. Karena itu, Tuhan juga memilih untuk menyebut dan memanggil diriNya sebagai Bapa. Kebapaan adalah pekerjaan yang terutama bagi para pria. Tidak ada yang lebih lengkap bagi seorang pria untuk mencapai kepenuhan kecuali menjadi ayah” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 78).

Tanggapan saya: Ini betul-betul gila dan tolol.
a)   Allah bukan memilih untuk menyebut diriNya sebagai Bapa, tetapi Ia memang adalah Bapa, dan Yesus adalah AnakNya. Kalau Ia memilih untuk menyebut / memanggil diriNya sebagai Bapa, berarti kebapaanNya tidak kekal. Dan mungkinkah suatu waktu kelak, Ia memilih menjadi Ibu? Dan Yesus lalu menjadi PutriNya?
b)   Bukan kebapaan manusia yang menjadi pola dari kebapaan Allah, tetapi sebaliknya!
c)   Bagaimana dengan Yesus, yang tidak pernah menjadi bapa, karena tak pernah menikah? Jadi, Ia tidak lengkap untuk mencapai kepenuhan?

14) Ajaran sesat tentang doktrin Allah Tritunggal.

“Para teolog menjelaskan tentang kedudukan Allah, Anak, dan Roh Kudus dalam Tritunggal Allah, sebagai berikut:
Anak = Visioner (pemegang visi)
Roh Kudus = Administrator (pengelola)
Bapa = penguasa” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 129-130).

Tanggapan saya:
Teolog tolol yang mana yang mengatakan ini? Ini teori sinting / sesat tentang Allah Tritunggal. Juga ini dinyatakan tanpa dasar Alkitab!
Disamping itu, dalam apa yang ia bahas pada bagian ini, sebetulnya ia sama sekali tidak perlu berbicara tentang Allah Tritunggal, tetapi ia tahu-tahu nyelonong ke Allah Tritunggal tanpa ada perlunya, dan memasukkan ajaran sesat ini!

15) Tentang Yesus.

a)   Yesus adalah hamba manusia.
“Sifat dasar Allah adalah selalu bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi orang lain, dan Dialah Juruselamat yang menjadi hamba bagi semua orang. Roh yang memampukan Yesus menjadi demikian itu juga bekerja di dalam diri kita untuk ... menciptakan hati seorang hamba” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 326).

Dalam hubungan Yesus dengan kita, Dia adalah Tuhan dan kita yang adalah hamba-hambaNya!

Tetapi bagaimana dengan ayat di bawah ini?
Fil 2:7 - “melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”.
Ini hanya menunjukkan perendahan yang Yesus alami pada waktu berinkarnasi. Allah menjadi manusia, Tuhan menjadi hamba. Tetapi hamba siapa? Tak pernah dikatakan Yesus menjadi hamba kita! Ia menjadi hamba Allah!
Bdk. Yes 52:13 - “Sesungguhnya, hambaKu akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan”.

Terhadap kita, Ia adalah Tuhan kita!
Yoh 13:13  - “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan”.

b)   Tentang penebusan yang Yesus lakukan.

“Kalvari adalah tempat Kristus menukar kebenaranNya dengan keadaan kita yang berdosa, supaya kita dapat menyerahkan keberdosaan kita dan menerima kebenaranNya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 79).

Tanggapan saya: Jadi, Ia menjadi berdosa?

“Allah mengasihi orang berdosa, meskipun Allah sendiri membenci dosa. Tujuan kekal Yesus di atas Golgota adalah memisahkan kita dari dosa kita. Allah murka terhadap dosa. Selama kita masih identik dengan dosa, kita tetap menjadi sasaran murka Allah” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 35).

Tanggapan saya: Tujuan kekal Yesus di atas Golgota adalah memisahkan kita dari dosa kita? Bukannya menebus dosa kita atau memikul hukuman dosa kita?

c)   Yesus sama dengan Bapa.

“Dia menyamakan diriNya sepenuhnya dengan Bapa (Yohanes 10:30)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 308).

Tanggapan saya:
‘Satu dengan Bapa’ (Yoh 10:30), atau ‘setara dengan Bapa’ (Yoh 5:18  Fil 2:6) berbeda dengan ‘menyamakan diri sepenuhnya dengan Bapa’. Yang terakhir ini menjadi ajaran Sabelianisme.

Catatan: Yoh 5:18 versi Kitab Suci Indonesia salah terjemahan. Seharusnya bukan ‘menyamakan diri’ tetapi ‘membuat diri setara’.
Yoh 5:18 - “Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuhNya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan demikian menyamakan diriNya dengan Allah.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘making himself equal with God’ (= membuat diriNya sendiri setara dengan Allah).

d)   Yesus dan firman / kata-kata Allah.

“Semakin banyak firman yang ada di dalam hati Anda, Anda akan semakin menyerupai firman, dengan kata lain semakin menyerupai Kristus. Firman harus diperoleh di dalam roh” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 60).

Tanggapan saya:
Jadi, firman = Kristus? Dan bagaimana cara memperoleh firman di dalam roh? Apa maksudnya?

“Tutur kata adalah ungkapan sifat manusia, sebagaimana firman Allah juga mengungkapkan sifat-sifat Allah. ‘Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah’ (Yohanes 1:1). Kristus datang sebagai penjelmaan Firman Allah” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 47-48).

“Pola kerja Allah secara garis besar adalah sebagai berikut: Allah menyampaikan suatu firman, memberi firman tersebut wujud berupa suatu ‘tubuh’, dan menyembuhkan seluruh dunia.
·         Pola tersebut terlihat nyata dalam kehidupan Yesus. Yesus datang sebagai ‘Firman’, Dia datang dalam wujud tubuh manusia (yang terdiri dari darah dan daging), dan menyampaikan kabar anugerah serta penebusan yang membawa kesembuhan bagi dunia.
·         Allah menyampaikan berita Injil kepada para murid, yang kemudian menjadi tubuh Kristus, dan selanjutnya mereka membawa kesembuhan bagi seluruh dunia” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 138-139).

Dari buku ‘Hikmat Bagi Pria’:
“Isilah otak (pikiran) kita dengan Firman Tuhan dan hiduplah di dalamnya, karena Firman Allah adalah pribadi Allah. Allah adalah Firman, dan Firman adalah Allah, Yoh 1:1. (RO)” (hal 2).
Catatan: RO rupanya adalah Rubin Ong, Youth Minister Fellowship Pemimpin Christian Men’s Network di Indonesia (lihat book cover bagian depan buku ini).

Tanggapan saya:

Ini ajaran sesat dan tolol! ‘Firman’ dalam Yoh 1:1,14 merupakan gelar dari Yesus, dan tidak menunjuk pada kata-kata Allah!

Bandingkan dengan “tetapi berpikiran seperti Firman Tuhan berpikir (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 14).
Ini lagi-lagi ketololan yang searah dengan ajaran di atas! Firman Tuhan tidak bisa berpikir! Kalau ia mengatakan Firman Tuhan berpikir, lagi-lagi ia menganggap Firman Tuhan sebagai pribadi!

Orang ini mengacau-balaukan ‘Firman’ dan ‘Allah’ dalam Yoh 1:1, karena ia mengatakan Allah adalah Firman, dan Firman adalah Allah, Yoh 1:1’. Ini salah sama sekali, dan menunjukkan ketidak-mengertian sama sekali tentang gramatika bahasa Yunani.
Kata-kata ‘Firman itu adalah Allah’ dalam bahaya Yunani adalah THEOS EN HO LOGOS, dan karena kata ‘Firman’ (LOGOS) menggunakan definite article (= kata sandang tertentu), yaitu HO, dan kata ‘Allah’ (THEOS) tidak, maka LOGOS-lah subyeknya dan THEOS-lah predikatnya. Karena itu, harus diterjemahkan ‘Firman itu adalah Allah’, dan tidak bisa / tidak boleh diterjemahkan ‘Allah adalah Firman’! Seandainya kedua kata itu menggunakan definite article (= kata sandang tertentu), maka bisa dibolak-balik. Jadi bisa diterjemahkan ‘Allah adalah Firman’ maupun ‘Firman adalah Allah’. Contoh-contoh lain:
·         Yoh 4:24 - PNEUMA HO THEOS harus diterjemahkan ‘Allah adalah Roh’, bukan ‘Roh adalah Allah’.
·         1Yoh 4:16 - HO THEOS AGAPE ESTIN harus diterjemahkan ‘Allah adalah kasih’ dan bukan ‘kasih adalah Allah’.
·         Yoh 1:14 - HO LOGOS SARX EGENETO harus diterjemahkan ‘Allah menjadi daging’ dan bukan ‘daging menjadi Allah’.

A. T. Robertson: “‘And the Word was God.’ ‎kai ‎‎Theos ‎‎een ‎‎ho ‎‎logos‎. By exact and careful language John denied Sabellianism by not saying ‎ho ‎‎Theos ‎‎een ‎‎ho ‎‎logos‎. That would mean that all of God was expressed in ‎ho ‎‎logos ‎and the terms would be interchangeable, each having the article. The subject is made plain by the article ‎ho ‎‎logos ‎and the predicate without it ‎Theos ‎just as in John 4:24 ‎pneuma ‎‎ho ‎‎Theos ‎can only mean ‘God is spirit,’ not ‘spirit is God.’ So in 1 John 4:16 ‎ho ‎‎Theos ‎‎agapee ‎‎estin ‎can only mean ‘God is love,’ not ‘love is God’ ... So in John 1:14 ‎ho ‎‎Logos ‎‎sarx ‎‎egeneto‎, ‘the Word became flesh,’ not ‘the flesh became Word.’”.
Catatan: saya tak memberikan terjemahannya karena di atas intinya sudah saya berikan dengan kata-kata saya sendiri.

e)   Yesus dilahir-barukan?

Allah menciptakan Adam sebagai seorang anak. Allah juga memperlakukan Adam sebagai seorang anak. Namun, Adam kemudian jatuh ke dalam dosa. Akibatnya sifat Allah sebagai Bapa sorgawi baru dapat disingkapkan secara sempurna pada saat kedatangan Adam yang lain yang disebut ‘Anak tunggal’ Allah. Yesus sebagai ‘Adam yang akhir’ telah menyingkapkan kebenaran tentang Allah sebagai Bapa. Oleh karena kedudukannya sebagai Anak Allah, Yesus memampukan manusia menjadi anak-anak Allah, yaitu dengan cara manusia harus dilahirkan kembali oleh Roh Allah seperti yang telah dialami Yesus (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 228).

Ada banyak kesalahan yang besar / kesesatan di sini:

1.   Siapa mengatakan Adam adalah anak Allah? Kalau ia memang anak Allah, ia tak akan dibuang! Kalau dalam Luk 3:38 Adam disebut ‘anak Allah’, itu dalam arti ‘ciptaan Allah’. Kata ‘Bapa’ bisa berarti Pencipta, dan kata ‘anak’ bisa berarti ‘yang dicipta’. Misalnya:
Ibr 12:9 - “Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?”.
Yoh 8:44 - “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.
Yes 9:5 - “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”.
Kata-kata ‘Bapa yang kekal’ oleh para penafsir dikatakan seharusnya adalah ‘bapa dari kekekalan’, dan ini menunjukkan bahwa Yesus adalah ‘pencipta / sumber dari kekekalan’!

‘Bapa yang kekal’.
KJV/RSV/NIV: ‘everlasting Father’ (= Bapa yang kekal).
NASB: ‘eternal Father’ (= Bapa yang kekal).
Apa arti istilah ‘Bapa yang kekal’ ini?
Barnes’ Notes: “Literally, it is the Father of eternity” (= Secara hurufiah, ini adalah Bapa dari kekekalan) - hal 193.
Barnes’ Notes: “He is not merely represented as everlasting, but he is introduced, by a strong figure, as even ‘the Father of eternity’, as if even everlasting duration owed itself to his paternity” (= Ia tidak semata-mata digambarkan sebagai kekal, tetapi ia diperkenalkan dengan suatu penggambaran yang kuat bahkan sebagai ‘Bapa dari kekekalan’, seakan-akan bahkan kekekalan berhutang dirinya sendiri kepada kebapaannya) - hal 193.

Calvin mengartikan istilah ini sebagai ‘Bapa dari kekekalan’, dimana ‘Bapa’ diartikan author’ / ‘pencipta’ atau ‘sumber’.

Calvin: The name Father is put for Author, because Christ preserves the existence of his Church through all ages, and bestows immortality on the body and on the individual members. Hence we conclude how transitory our condition is, apart from him; for, granting that we were to live for a very long period after the ordinary manner of men, what after all will be the value of our long life? We ought, therefore, to elevate our minds to that blessed and everlasting life, which as yet we see not, but which we possess by hope and faith. (Romans 8:25.) (= ).

2.   Oleh karena kedudukannya sebagai Anak Allah, Yesus memampukan manusia menjadi anak-anak Allah.

Tanggapan saya:
Yesus memampukan manusia jadi anak-anak Allah bukan karena Ia adalah Anak Allah, tetapi karena Ia yang adalah Allah, sudah menjadi manusia, dan mati di salib untuk menebus dosa kita. Itupun harus ditambahi pekerjaan Roh Kudus yang membuat kita beriman, karena tanpa percaya / beriman kepada Kristus, kita bukan anak-anak Allah (Yoh 1:12).

3.   “manusia harus dilahirkan kembali oleh Roh Allah seperti yang telah dialami Yesus.

Tanggapan saya:
Ini puncak dari kegilaan dan kesesatan orang ini! Kalau Yesus dilahirkan kembali, berarti tadinya Ia mati dalam dosa, seperti kita! Dan kalau demikian, Ia tidak bisa menjadi Juruselamat / Penebus kita!

f)    Yesus menjadi serupa dengan manusia.

“Yesus menanggalkan segala kemuliaan yang dimilikiNya di sorga, merendahkan diriNya hingga menjadi sedikit lebih rendah dari malaikat, menjadi serupa dengan manusia, .... ” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 74).

Tanggapan saya:
Ini merupakan ajaran sesat tentang kemanusiaan Yesus, karena seharusnya bukan ‘serupa’ tetapi ‘sama / sama dengan’!! Ibr 2:14-17  Fil 2:7.
Ibr 2:14,17 - “(14) Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; ... (17) Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa”.
Fil 2:7 - “melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Tetapi bagaimana dengan Ro 8:3 - “Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus AnakNya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging”?

Matthew Henry (tentang Ro 8:3): “How Christ appeared: ‘In the likeness of sinful flesh.’ Not sinful, for he was holy, harmless, undefiled; but in the likeness of that flesh which was sinful (= Bagaimana Kristus nampak: ‘Dalam keserupaan dengan daging yang berdosa’. Bukan berdosa, karena Ia adalah kudus / suci, tidak jahat, tidak kotor / rusak; tetapi dalam keserupaan dengan daging yang berdosa itu).

Jangan anggap enteng ajaran sesat tentang kemanusiaan Yesus!
Herschel H. Hobbs: “It is just as great a heresy to deny His humanity as to deny His deity” (= Menyangkal kemanusiaanNya adalah sama sesatnya dengan menyangkal keilahianNya) - ‘The Epistles of John’, hal 21.

Kalau Yesus hanya serupa dengan kita, Dia tidak bisa menebus dosa kita. Untuk bisa menebus dosa kita Dia harus betul-betul menjadi sama dengan kita (Ibr 2:14-17).

g)   Dalam hidupNya, Yesus bergantung kepada Roh Kudus, supaya kita dapat menerima Roh Kudus yang sama.

“Dalam menjalani kehidupanNya, Dia bergantung sepenuhnya kepada Roh Kudus, agar kita dapat menerima Roh Kudus yang sama, sehingga kita dapat hidup sama seperti ketika Dia hidup di muka bumi ini” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 74).

Tanggapan saya:
Yesus hidup suci, bukan supaya kita dapat menerima Roh Kudus! Apa urusan dua hal ini kok bisa dihubungkan?
Yesus hidup suci, karena kalau tidak, Ia tidak bisa mati menebus dosa kita, tetapi mati untuk dosaNya sendiri. Juga kalau Ia tidak suci, pada waktu kita percaya kepada Dia, kita tidak bisa dipakaiani dengan jubah kebenaran / pakaian putih! (Yes 61:10  Wah 3:18). Dengan kata lain, kita tidak bisa dibenarkan!
Tetapi antara kesucian hidup Yesus dan kita menerima Roh Kudus yang sama, tidak ada hubungannya!

Alkitab hanya mengatakan kalau Yesus tidak naik ke surga, maka Roh Kudus tidak akan turun (Yoh 16:7).

G)  Penonjolan diri sendiri / gerakan pria sejati.

“Sejak diperkenalkan, Christian Men’s Network (CMN) telah melayani para pria di 210 negara, membangun 70 kantor nasional dan melayani jutaan pria melalui pertemuan pria Kristen, retreat, pelayanan gereja, video, radio, televisi, buku, kaset, dan siaran satelit. Ribuan pria mengalami perubahan hidup, perkawinan dipulihkan, hubungan dipulihkan, pelayan-pelayan Tuhan bangkit dan dikuatkan, serta lebih dari seratus pelayanan pria dilahirkan. ... Sejak berdiri sampai tahun 2002, CMN Indonesia telah memuridkan lebih dari 1500 pria yang berasal dari berbagai gereja, denominasi, lembaga Kristen, perusahaan, badan pemerintahan. Saat ini, pemuridan pria telah ada di 7 kota: Jakarta, Cirebon, Medan, Semarang, Manado, Samarinda dan Denpasar” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 0).

“Ketika saya menulis bagian pertama dari buku ini, kuasa Allah hadir dan mempercepat apa yang saya tulis, dan saya merasakan bahwa apa yang ditulis itu begitu baik. Saya sadar bahwa urapan Allah hadir, dan kebenaran dalam buku ini telah mengubah hidup banyak pria di seluruh dunia. Di Zimbabwe, ketika saya sedang berbicara dalam sebuah konferensi, seorang pria yang takut akan Allah menantang saya. Pendeta Perkins telah menjadi seorang utusan Injil lebih dari tiga puluh tahun di Zambia dan ia dihormati dan dikasihi. Ia pernah dianiaya dan ditinggalkan di tepi jalan, tubuhnya dibungkus dengan kawat berduri dan dibiarkan agar dia mati. Ia tidak hanya bisa hidup, tetapi menikmati umur yang panjang sampai ia bisa menyaksikan orang-orang yang telah menyiksa dia itu dibawa kepada Kristus. Itulah keadilan yang ia rindukan. Pertama kali saya melihat dia ketika ia diperkenalkan untuk berbicara dalam konferensi itu, dan ia berjalan ke podium dengan perlahan, tetapi penuh empati. Ia berdiri dan menatap para hadirin selama beberapa menit. Lalu, ia mengamati saya di deretan kursi depan. Apa yang kemudian terjadi sungguh mengejutkan semua hadirin dan saya terpana. ‘Di manakah Anda ketika saya membutuhkan Anda?’ ia berteriak kepada saya. ‘Saya telah menghabiskan waktu untuk berkhotbah kepada kaum wanita dan anak-anak, dan baru sekarang ini saya membaca buku Anda, Maximized Manhood. Seandainya saya menghabiskan waktu hidup saya untuk belajar tentang pria, maka pasti saya sudah menyelamatkan bangsa saya. Anda harus masuk ke hutan di mana Anda dibutuhkan di sana.’” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 165,166).

“Setelah hampir lima puluh tahun dalam pelayanan dan lima puluh empat tahun pernikahan, saya masih selalu bepergian, menulis, mengajar dan berkhotbah. Hidup bagi Kristus adalah satu-satunya petualangan terbesar di muka bumi ini. Tidak ada bandingannya. ... Saya ingin berkobar-kobar bagi Allah sampai akhir hidup saya” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 166,170).

Tanggapan saya:

1)   Semua kata-kata di atas ini, menurut saya, merupakan penonjolan diri sendiri dan gerakan pria sejati!

2)   Kalau Cole mau berkobar-kobar bagi Allah sampai mati, itu bagus sekali hanya kalau Ia mempunyai kebenaran! Tetapi dalam faktanya ia sesat, maka sikap berkobar-kobarnya justru sangat membahayakan!
Amsal 19:2 - Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah”.
NIV: It is not good to have zeal without knowledge, nor to be hasty and miss the way’ (= Adalah tidak baik mempunyai semangat tanpa pengetahuan, ataupun tergesa-gesa dan sesat dari jalan).

Juga bandingkan dengan ayat-ayat ini:

Ro 10:1-3 - “(1) Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. (2) Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. (3) Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah”.

Kis 26:9 - “Bagaimanapun juga, aku sendiri pernah menyangka, bahwa aku harus keras bertindak menentang nama Yesus dari Nazaret”.

Yoh 16:1-3 - “(1) ‘Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. (2) Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. (3) Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku.


Penutup.

Selesai camp yang saya ikuti, saya berbicara dengan semua mereka (panitia camp, termasuk Kaleb Kiantoro), dan saya mengatakan kepada mereka tentang ajaran kacau dan sesat dan ajaran tanpa dasar Alkitab, atau dengan dasar Alkitab yang ditafsirkan salah, dan saya mau membetulkan mereka. Mereka bilang mau, lalu saya dirangkul dsb, tetapi saya merasa kalau itu hanya kemunafikan saja. Kenyataannya sama sekali tidak ada kelanjutannya. Jadi akhirnya saya membuat seminar dan tulisan untuk menyerang ajaran ini.

Berkenaan dengan hal baik yang digembar-gemborkan banyak orang berkenaan dengan pria sejati / maximal, yaitu bahwa camp / seminar ini berhasil memperbaiki banyak pernikahan dan kehidupan keluarga (orang tua - anak), ini pendapat saya:

1)  Tak ada metode yang selalu berhasil, atau bahkan, yang pada umumnya berhasil. Ini berlaku baik untuk penginjilan, maupun counseling.

2)   Baik Edwin Louis Cole, maupun Eddy Leo, maupun para pengkhotbah dalam Camp, dan juga fasilitator (pemimpin kelompok) dalam camp, semuanya adalah orang-orang awam dalam urusan keluarga / pernikahan. Mereka tidak punya keahlian khusus, pendidikan khusus berkenaan dengan hal itu! Dari mana saya menyimpulkan hal ini?
a)   Saya sendiri diajar berkenaan dengan hal-hal seperti itu pada saat saya sekolah theologia.
b)   Saya pernah di-counsel dosen saya (seorang Ph. D., dan orang top di RTS dalam urusan counseling), dan itu merupakan suatu seri counseling, bukan satu kali saja.
c)  Saya juga sering ikut acara-acara tentang pernikahan / keluarga yang dipimpin orang-orang yang memang memenuhi syarat, dan mempunyai pendidikan khusus dalam hal itu.
d)  Saya sendiri pernah di-counsel dalam urusan hubungan suami istri oleh orang-orang yang memang memenuhi syarat dan mempunyai pendidikan khusus dalam hal itu.

Dari semua ini saya bisa membedakan orang-orang yang memang memenuhi syarat dan yang tidak, dalam persoalan counseling, pernikahan, keluarga dan sebagainya. Apa yang mereka berikan, baik dalam camp maupun buku-buku mereka, hanyalah hal-hal remeh, sehingga kalau dikatakan bisa mendapatkan hasil yang luar biasa, menurut saya itu adalah omong kosong. Kalau problem keluarga yang kecil-kecil, mungkin bisa. Tetapi untuk problem besar, saya tidak percaya kalau pria sejati ini bisa menolong. Mungkin juga ‘pemulihan’ itu sifatnya semu dan sementara.

Memang Tuhan itu bisa saja menggunakan ‘orang-orang bodoh’, tetapi Tuhan tidak bakal memakai orang-orang, yang ajarannya penuh dengan kesalahan dan kesesatan!

Catatan: bahaya lain dari counsellor awam adalah: biasanya mereka tidak bisa memegang rahasia! Sangat berbahaya kalau pengakuan yang sifatnya sangat pribadi / rahasia, diberikan kepada orang-orang yang tidak bisa memegang rahasia!
Edwin Louis Cole memang mengatakan kata-kata ini: “Orang yang loyal tidak suka membocorkan rahasia. Mereka menjaga rahasia tanpa mengenal kompromi. ... Orang yang loyal tidak pernah mengumbar perkataannya, ‘Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara’ (Amsal 11:13). Pemerintahan di seluruh dunia ini tidak ada yang terluput dari masalah yang disebut dengan ‘kebocoran’, yang menimbulkan kesulitan bagi pemerintah maupun rakyat. ‘Kebocoran’ ini disebabkan oleh orang-orang yang menyebarluaskan hal-hal yang seharusnya mereka jaga kerahasiaannya. Orang yang suka ‘membocorkan’ rahasia atau menggerutu adalah orang yang hanya loyal kepada peraturan mereka sendiri, namun tidak loyal kepada peraturan atasan mereka. Anggota jemaat yang setia tidak akan menyebarkan gosip, mencari-cari kesalahan, atau pun menggerutu tentang gembala mereka. Mereka juga tidak bersedia mendengarkan kabar burung. Kemampuan menjaga rahasia adalah kebaikan yang dimiliki oleh orang yang loyal, sebagaimana loyalitas adalah kebaikan yang ada pada orang yang dapat dipercaya. Gembala yang mendengar sesuatu secara pribadi dan kemudian menceritakannya di muka umum adalah gembala yang tidak loyal dan oleh karenanya juga tidak dapat dipercaya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 161,162).
Tetapi persoalannya, apakah orang-orang di bawah menurutinya?

Hal terakhir yang ingin saya berikan adalah ini: sekalipun dalam camp itu ada penginjilan dan hal-hal yang ‘baik’, tetapi dengan dicampur dengan ajaran-ajaran yang kacau / sesat, ini menjadi sangat membahayakan. Ingat, tak ada ajaran sesat yang tidak mengandung kebaikan. Setan tak setolol itu. Dia berikan hal-hal yang baik, dicampur dengan ajaran-ajaran sesat, dan itu akan ‘membunuh’ saudara! Kalau saudara mau meracun seseorang, apakah memberikan sepiring racun 100 % kepada dia? Tidak! Saudara beri makan yang banyak zat-zat yang baik / berguna, tetapi berikan sedikit racun, dan itu akan membunuh dia! Jadi, bodohlah orang / pendeta yang menganggap camp ini baik / berguna, karena mengandung hal-hal yang baik!

Juga ada orang yang berkata: Tetapi pria sejati kan tak sesesat Saksi Yehuwa? Saya jawab: Ya, Saksi Yehuwa lebih sesat. Tetapi kalau ada 2 piring makanan, yang pertama saya beri 2 sendok racun, dan yang kedua hanya ½ sendok racun, apakah saudara mau memilih makanan di piring yang kedua?

Saran saya: jangan ikut camp ini ataupun mempopulerkannya! Kalau saudara melakukannya, saudara mendukung penyesatan, dan pada hakekatnya saudara mengikuti / melayani setan!




-TAMAT-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar