Kamis, 03 April 2014

DARAH HABEL DAN DARAH KRISTUS

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div


Kej 4:1-12 - “(1) Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: ‘Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.’ (2) Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani. (3) Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; (4) Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, (5) tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkanNya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. (6) Firman TUHAN kepada Kain: ‘Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? (7) Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.’ (8) Kata Kain kepada Habel, adiknya: ‘Marilah kita pergi ke padang.’ Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. (9) Firman TUHAN kepada Kain: ‘Di mana Habel, adikmu itu?’ Jawabnya: ‘Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?’ (10) FirmanNya: ‘Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepadaKu dari tanah. (11) Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. (12) Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi.’”.

Ibr 12:24 - “dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel”.

Pada jaman sekarang, ada banyak pembunuhan, baik yang dilakukan oleh orang-orang jahat ataupun oleh alat negara, dalam perang ada pembantaian, dsb.

I) Dua pembunuhan yang istimewa.


Hari ini kita akan mempelajari tentang 2 pembunuhan yang istimewa yang terdapat dalam Ibr 12:24.

1)   Pembunuhan terhadap diri Habel (bdk. Kej 4:1-12).

a)   Pertama-tama diceritakan bahwa Kain dan Habel sama-sama memberikan persembahan kepada Tuhan, tetapi persembahan Habel diterima oleh Tuhan, sedangkan persembahan Kain ditolak.

b)   Tentu ada sebabnya mengapa persembahan Kain ditolak sedangkan persembahan Habel diterima.
·         Habel adalah orang beriman / benar, dan persembahannya lebih baik dari persembahan Kain.
Kej 4:3-4 - “(3) Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; (4) Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu”.
Ibr 11:4 - Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati”.
·         Kain hidup jahat, dan Habel hidup benar.
1Yoh 3:12 - “bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar.
·         ada juga penafsir yang mengatakan bahwa persembahan Kain tanpa darah, sedangkan persembahan Habel dengan darah (bdk. Kej 4:3-4).
Kej 4:2b-4 - “(2b) Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani. (3) Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; (4) Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni (dan) lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu”.
Bdk. Ibr 9:22 - “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan”.

Perhatikan tentang penerimaan / penolakan persembahan itu dalam Kej 4:4b,5a. Jelas sekali bahwa Habel (pribadinya) diterima dulu, lalu persembahannya juga diterima. Kain ditolak orangnya, lalu persembahannya juga ditolak. Bandingkan dengan 2 ayat ini:
¨      Yes 1:15 - “Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan mukaKu, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah”.
¨      Amsal 21:27 - “Korban orang fasik adalah kekejian, lebih-lebih kalau dipersembahkan dengan maksud jahat”.

Persembahan saudara hanya bisa diterima oleh Allah kalau Allah telah lebih dulu berkenan kepada saudara. Kalau Allah tidak berkenan kepada saudara, berapapun besarnya persembahan saudara, Ia tidak akan menerima persembahan itu. Allah tidak bisa disogok!

c)   Seharusnya setelah persembahannya ditolak, Kain melakukan introspeksi dan bertobat. Tetapi ternyata Kain tidak melakukan hal itu. Ia justru menjadi panas / marah, dan mukanya muram.
Kej 4:5 - “tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkanNya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram”.

d)   Tuhan lalu mengingatkan Kain.
Kej 4:6-7 - “(6) Firman TUHAN kepada Kain: ‘Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? (7) Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.’”.
Ayat ini menunjukkan bahwa kalau kita hidup benar, itu akan membuat kita bahagia, tetapi sebaliknya kalau kita tidak berbuat baik, dosa itu mengintip kita!
Bandingkan dengan kasus Daud dalam 2Sam 11:2 - “Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya”.
Menganggur / tidak berbuat baik merupakan sesuatu yang membahayakan!

e)   Tetapi Kain ternyata tidak mempedulikan Firman Tuhan.
Perhatikan bahwa ‘tidak mempedulikan Firman Tuhan’ merupakan sesuatu yang berakibat sangat fatal!

f)    Kain mengajak Habel ke padang, dan lalu membunuh dia (Kej 4:8).

Pembunuhan yang dilakukan oleh Kain terhadap Habel merupakan suatu pembunuhan yang istimewa karena itu adalah pembunuhan yang pertama dalam sejarah umat manusia.

2)   Pembunuhan yang dilakukan terhadap diri Yesus Kristus.
Pembunuhan ini istimewa karena dilakukan terhadap Allah yang menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus.
Dalam pembunuhan terhadap Habel, jelas bahwa Kain adalah pembunuhnya.
Tetapi, dalam pembunuhan terhadap Kristus, siapakah pembunuhnya? Ada beberapa orang / golongan yang bisa dianggap bertanggung jawab sebagai pembunuh Yesus Kristus, yaitu:

a)   Para tokoh agama Yahudi, Mahkamah Agama, dsb.
Sejak Yesus mulai melayani, mereka iri hati karena Yesus diikuti oleh banyak orang. Pada waktu Yesus mengaku sebagai Anak Allah, mereka menganggap Yesus menghujat Allah, dan mereka mau merajam Yesus. Mereka adalah dalang penangkapan terhadap Yesus. Mereka yang mengajukan saksi-saksi palsu dalam sidang Mahkamah Agama, dan akhirnya mereka menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus. Mereka juga mendesak Pontius Pilatus untuk menjatuhkan hukuman salib kepada Yesus. Jadi jelaslah bahwa mereka memang bertanggung jawab sebagai pembunuh Yesus.

b)   Yudas Iskariot.
Ia menjual Gurunya dengan harga hanya 30 keping perak. Dia yang menunjukkan tempat Yesus berada kepada orang-orang yang mau menangkap Yesus. Jadi jelas bahwa Yudas Iskariot bertanggung jawab sebagai pembunuh Yesus.

c)   Pontius Pilatus.
Orang-orang Yahudi tidak berhak menghukum mati seseorang, dan karena itu setelah Mahkamah Agama menjatuhkan hukuman mati, mereka membawa Yesus ke hadapan Pontius Pilatus, supaya Pontius Pilatus menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus.
Pontius Pilatus jelas melihat bahwa Yesus sama sekali tidak bersalah. Pontius Pilatus bisa, dan seharusnya, membebaskan Yesus. Tetapi ia takut kepada orang banyak, dan akhirnya sambil mencuci tangannya, ia menyerahkan Yesus untuk dihukum mati.
Jelas bahwa Pontius Pilatus juga bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap Yesus tersebut.

d)   Raja Herodes.
Sebelum Pontius Pilatus menyerahkan Yesus untuk dihukum mati, ia berusaha ‘lepas tangan’ dengan mengirimkan Yesus kepada Herodes, karena ia tahu bahwa Yesus berasal dari Galilea, dan Herodes adalah raja wilayah Galilea.
Herodes juga tidak melihat kesalahan Yesus. Herodes sebetulnya bisa melepaskan Yesus, tetapi ia tidak mau melakukan hal itu, dan ia mengirimkan Yesus kembali kepada Pontius Pilatus.
Jelas bahwa Herodes juga bertanggung jawab sebagai pembunuh Yesus.

e)   Masyarakat Yahudi.
Usaha terakhir Pontius Pilatus untuk melepaskan Yesus adalah dengan menghadapkan Yesus dan Barabas ke hadapan orang-orang Yahudi, dan lalu menanyakan: ‘Siapa yang kamu ingin aku lepaskan? Yesus atau Barabas?’.
Yesus selalu melakukan hal-hal yang baik, tindakan kasih, dan sebagainya, sedangkan Barabas adalah seseorang yang terkenal karena kejahatannya. Karena itu, seharusnya orang-orang Yahudi itu memilih supaya Pontius Pilatus membebaskan Yesus. Tetapi karena mereka sudah dihasut oleh para tokoh-tokoh Yahudi, maka mereka berkata: ‘Lepaskan Barabas, salibkan Dia!’. Ini menyebabkan Pontius Pilatus ‘terpaksa’ menyerahkan Yesus untuk disalibkan. Jadi, orang-orang Yahudi ini juga bertanggung jawab terhadap pembunuhan ini.

f)    Tentara Romawi.
Merekalah yang memukuli Yesus dengan cambuk Romawi yang dipenuhi benda-benda tajam, memberikan mahkota duri, menyalibkan Yesus, menusuk rusuk Yesus dengan tombak, dsb.
Jadi jelas bahwa mereka juga bertanggung jawab sebagai pembunuh Yesus.

Apakah hanya 6 kelompok orang ini saja yang adalah pembunuh-pembunuh Yesus? Tidak! Semua orang dari segala jaman dan tempat, untuk siapa Yesus sudah mati, adalah pembunuh Yesus! Itu berarti bahwa saudara dan saya juga adalah pembunuh Yesus! Bukankah karena dosa-dosa kita Yesus harus menderita dan mati? Jadi, jelas bahwa saudara dan saya juga adalah pembunuh-pembunuh Yesus.

Mungkin saudara keberatan dan berkata: ‘Lho, bukankah waktu Yesus mati, saya belum ada, dan demikian juga dengan dosa-dosa saya?’. Memang, tetapi Allah sudah mengetahui dosa-dosa itu, dan Yesus membayarnya di atas kayu salib. Kalau tidak, saudara tidak bisa ditebus dan diselamatkan!

Ada suatu film berjudul ‘The Robe’ (= Jubah). Ini cerita fiksi, dan dalam film itu diceritakan tentang seorang Yunani bernama Dimetrius, yang menjadi hamba pada seorang perwira Romawi. Tetapi hubungan mereka satu sama lain baik sekali, tidak seperti hubungan tuan - hamba pada umumnya.
Waktu di Yerusalem, Dimetrius melihat Yesus masuk ke Yerusalem dengan menunggang seekor keledai. Ia ‘jatuh cinta’ kepada Yesus, sehingga waktu dia mendengar bahwa Yesus akan ditangkap dan dibunuh, ia berusaha untuk menggagalkannya. Tetapi ia gagal. Waktu ia melihat Yesus memikul salib dan jatuh, lalu dipukuli oleh para tentara Romawi, ia menyerang tentara Romawi itu, tetapi ia dipukul sehingga pingsan. Pada saat sadar dari pingsannya, ia melihat Yesus sudah disalibkan. Akhirnya ia tahu bahwa majikannya adalah kepala pasukan Romawi yang menyalibkan Yesus. Ia marah kepada majikannya, ia memaki-makinya, dan meninggalkannya.
Dimetrius hanya sadar bahwa majikannya adalah pembunuh Yesus, tetapi ia tidak sadar bahwa dirinya juga bertanggung jawab dalam pembunuhan terhadap Yesus itu.

Saudara-saudara yang kekasih, mungkin saudara seperti Dimetrius itu. Saudara jengkel dan muak terhadap tokoh-tokoh agama pada saat itu, Yudas Iskariot, Pontius Pilatus dsb., tetapi saudara lupa bahwa saudara juga adalah pembunuh Yesus. Setiap dosa yang saudara lakukan menunjukkan bahwa saudara mempunyai andil dalam pembunuhan terhadap Yesus!

II) Darah yang berteriak.


1)   Sekarang kita kembali kepada pembunuhan terhadap Habel.
Pada waktu ia dibunuh, darahnya tercurah. Pada saat itu belum ada polisi, jaksa, hakim, pengadilan, dsb. Tetapi apakah urusannya berhenti di sana? Sama sekali tidak! Darah Habel berteriak! Berteriak kepada siapa?

a)   Darah Habel berteriak kepada Allah.
Kej 4:10 - “FirmanNya: ‘Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepadaKu dari tanah.
Ibr 11:4 - “Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.

Mungkin teriakannya seperti ini: ‘Ya Tuhan, aku adalah anakMu yang setia kepadaMu, aku selalu memberi yang terbaik kepadaMu, aku selalu berusaha untuk mentaatiMu. Tetapi Tuhan, sekarang aku dibunuh tanpa alasan. O Tuhan yang maha adil, apakah Engkau akan berdiam diri melihat pembunuhan yang keji atas diriku ini?’.

Dengan kata lain, darah Habel berteriak kepada Allah untuk menuntut keadilan, menuntut Allah menghukum Kain, sehingga akhirnya Allah betul-betul menghukum Kain.
Kej 4:11-12 - “(11) Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. (12) Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi.’”.

Tentu saja ini merupakan suatu kiasan. Sebetulnya bukan darah itu berteriak, tetapi pada waktu darah itu tercurah Allah melihatnya dan Allah menghukum.

Kalau saudara beranggapan bahwa kata-kata seperti ini hanyalah khayalan saya, dan kalau saudara beranggapan bahwa orang-orang beriman yang mati dibunuh tidak mungkin berdoa supaya Allah menghukum orang-orang yang membunuh mereka, maka lihatlah ayat di bawah ini.
Wah 6:10 - “Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: ‘Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?’”.
Yang berbicara dalam ayat-ayat ini adalah orang-orang beriman yang mati dibunuh, dan mereka meminta Allah menghakimi / menghukum orang-orang yang membunuh mereka!

b)   Darah Habel berteriak kepada hati nurani dari Kain.
Ini memang tidak diceritakan, tetapi ini pasti ada. Bayangkan: orang-orang jaman sekarang sudah banyak melihat / mendengar tentang pembunuhan yang kejam. Kita sering melihat film tentang pembunuhan yang kejam, dsb, sehingga sedikit banyak hati nurani kita menjadi tumpul. Sekalipun demikian, tetap saja kalau kita membunuh seseorang, apalagi melihat darahnya tercurah dengan sangat banyak, maka hati nurani kita pasti kacau, gelisah dan takut.
Apalagi bagi Kain. Ia belum pernah melihat / mendengar apapun tentang pembunuhan, karena pada saat itu memang belum pernah ada pembunuhan. Karena itu, jelas bahwa hati nuraninya masih sangat peka. Karena itu, pada waktu ia melihat darah adiknya tercurah, dan adiknya menjadi kaku tak bernyawa lagi, pastilah ia takut dan gelisah. Mungkin ia tidak bisa tidur, dan kalaupun tidur ia akan diganggu oleh mimpi-mimpi buruk sehubungan dengan pembunuhan tersebut. Mungkin ini terjadi dalam sepanjang sisa hidupnya.
Jelas bahwa darah Habel sudah berteriak kepada hati nurani Kain dan mengacaukannya.

2)   Sekarang kita beralih kepada pembunuhan terhadap Yesus.
Waktu Yesus dibunuh, darahNya juga tercurah. Kalau waktu darah Habel tercurah, darah itu berteriak, mungkinkah darah Kristus bungkam 1000 bahasa? Tidak mungkin!
Bdk. Ibr 12:24 - “dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel.

Darah Yesus berteriak kepada siapa?

a)   Darah Yesus juga berteriak kepada Allah.
Tetapi bagaimana teriakan darah Yesus itu? Apakah darahNya berteriak seperti ini: ‘Bapa, Engkau melihat AnakMu yang Tunggal, yang selalu hidup berkenan kepadaMu. Engkau lihat tangan dan kakiKu yang selalu melakukan hal-hal yang baik, dan melayani Engkau, sekarang dipakukan di kayu salib. Engkau melihat wajahKu yang selalu memancarkan kasih, sekarang diludahi, ditampar, dan berlumuran darah dari kepalaKu yang ditusuk dengan mahkota duri. Ya Bapa yang maha adil, hukumlah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap pembunuhan ini, dan buanglah mereka ke dalam neraka!’.

Saudara-saudara yang kekasih, kalau darah Yesus berteriak seperti itu kepada Allah, maka celakalah kita semua!
Tetapi puji Tuhan, darah Yesus tidak berteriak seperti itu.
Ibr 12:24 - “dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel”.
Kata-kata ‘lebih kuat’ ini salah terjemahan; seharusnya ‘lebih baik’!
TB2-LAI sama salahnya dengan TB1-LAI.
TL: ‘yang mengatakan perkara-perkara yang lebih baik daripada darah Habel’.
KJV: ‘speaketh better things than that of Abel’ (= mengatakan hal-hal yang lebih baik dari pada hal-hal yang dikatakan Habel).
RSV: ‘speaks more graciously than the blood of Abel’ (= berbicara dengan lebih murah hati dari pada darah Habel).
NIV: ‘speaks a better word than the blood of Abel’ (= mengucapkan suatu kata / ucapan yang lebih baik dari pada darah Habel).
NASB: ‘speaks better than the blood of Abel’ (= berbicara lebih baik dari pada darah Habel).
Ibr 12:24b (FAYH): ‘dan kepada darah yang dipercikkan yang memberikan anugerah pengampunan, bukan seperti darah Habel yang menjerit menuntut balas’.

Jadi, sekalipun darah Yesus memang berteriak kepada Allah, tetapi berbeda dengan darah Habel yang berteriak menuntut balas / keadilan, maka darah Yesus berteriak dengan nada yang lebih baik. Darah Yesus berteriak senada dengan teriakan / kata-kata Yesus di atas kayu salib: ‘Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat’ (Luk 23:34).

Calvin (tentang Ibr 12:24): the blood of Christ is said to speak better things, because it avails to obtain pardon for our sins. The blood of Abel did not properly cry out; for it was his murder that called for vengeance before God. But the blood of Christ cries out, and the atonement made by it is heard daily (= darah Kristus dikatakan mengatakan hal-hal yang lebih baik, karena darah itu berguna untuk mendapatkan pengampunan untuk dosa-dosa kita. Darah Habel tidak berteriak dengan benar; karena adalah pembunuhannya yang meminta pembalasan di hadapan Allah. Tetapi darah Kristus berteriak, dan penebusan yang dibuat oleh darah itu didengarkan setiap hari).

Bible Knowledge Commentary (tentang Ibr 12:24): “whose atoning blood does not cry for judgment as did Abel’s but secures the acceptance of all New-Covenant persons” (= yang darah penebusanNya tidak berteriak untuk penghakiman seperti yang dilakukan oleh darah Habel, tetapi memastikan penerimaan dari semua orang-orang Perjanjian Baru).

The Bible Exposition Commentary: New Testament (tentang Ibr 12:24): “We learned that Abel is still speaking (Heb 11:4); and here we discover that Christ’s blood speaks ‘better things than that of Abel’ (Heb 12:24). Abel’s blood spoke from the earth and cried for justice (Gen 4:10), while Christ’s blood speaks from heaven and announces mercy for sinners” [= Kita mempelajari / tahu bahwa Habel tetap berbicara (Ibr 11:4); dan di sini kita menemukan bahwa darah Kristus mengatakan ‘hal-hal yang lebih baik dari pada darah Habel’ (Ibr 12:24). Darah Habel berbicara dari bumi dan berteriak untuk keadilan (Kej 4:10), sedangkan darah Kristus berbicara dari surga dan mengumumkan belas kasihan untuk orang-orang berdosa].

Pulpit Commentary (tentang Ibr 12:24): “His blood cried from the ground for vengeance, with the accusing voice of primeval sin; Christ’s speaks only of reconciliation and peace” (= Darahnya berteriak atas dasar pembalasan, dengan suara menuduh dari dosa jaman purba; darah Kristus berbicara hanya tentang pendamaian dan damai).

Vincent (tentang Ibr 12:24): “‎The blood is personified, and its voice is contrasted with that of Abel, whose blood cried from the ground for vengeance upon his murderer (Gen 4:10). The voice of Christ’s blood calls for mercy and forgiveness” [= Darah dipersonifikasikan, dan suaranya dikontraskan dengan darah dari Habel, yang darahnya berteriak dari tanah untuk pembalasan terhadap pembunuhnya (Kej 4:10). Suara dari darah Kristus meminta belas kasihan dan pengampunan].

Catatan: saya memberikan banyak kutipan dari para penafsir, karena ada pandangan dari beberapa penafsir yang memberikan penafsiran yang berbeda. Saya tidak membahas pertentangannya di sini, tetapi nanti kalau membahas exposisi surat Ibrani. Tetapi bagi yang mengerti bahasa Inggris dan ingin mempelajarinya, saya memberikan kutipan dari buku tafsiran John Owen tentang surat Ibrani, yang mempertahankan pandangan ini.

John Owen (tentang Ibr 12:24): He describes the blood of Christ by what it doth: ‘It speaketh better things than that of Abel.’ Some copies read para< to>n, which must refer unto the person of Abel in the first place, ‘than Abel speaks.’ Some, para< to>, which are followed by all the ancient scholiasts; and then it must refer to ai=ma, ‘blood,’ ‘the blood of Abel.’ ... [3.] Comparatively, it is said to speak ‘better things than that of Abel.’ For it is granted here that Abel is the genitive case, to be regulated by ai=ma, or ‘blood.’ But there was a double blood of Abel: 1st. The blood of the sacrifice that he offered: for he offered of ‘the firstlings of his flock, and of the fat thereof,’ Genesis 4:4; which was an offering by blood. 2dly. There was his own blood, which was shed by Cain. All the ancients take ‘the blood of Abel’ in this latter sense. Some of late have contended for the former, or the blood of the sacrifice which he offered. The blood of Christ, they say, was better, and spake better things than did Abel in his bloody sacrifice. But (be it spoken without reflection on them) this conjecture is very groundless, and remote from the scope of the place. For, 1st. There is no comparison intended between the sacrifice of Christ and those before the law; which belonged not at all to the design of the apostle. For it was only Mosaical institutions that he considered, in the preference which he gives to the sacrifice of Christ and the gospel, as is evident from the whole epistle. Nor did the Hebrews adhere to any other. Yet the pretense hereof is pleaded in the justification of this conjecture. 2dly. The apostle hath a respect unto some Scripture record of a thing well known to these Hebrews; but there is not any one word therein of any speaking of Abel by the blood of his sacrifice. 3dly. It is expressly recorded, that Abel’s own blood, after it was shed, did speak, cry, and plead for vengeance, or the punishment of the murderer. So speaks God himself: ‘The voice of thy brother’s blood crieth unto me from the ground,’ Genesis 4:10. And the only speaking of Abel is assigned by our apostle to be after his death, Hebrews 11:4, - that is, by his blood; whereunto express regard is had in this place. 4thly. The blood of the sacrifice of Abel did speak the very same things which the blood of Christ speaks, though in a way dark, typical, and obscure. It had nothing in itself of the same efficacy with the blood of Christ, but it spake of the same things. For being a sacrifice by blood, to make atonement in a typical representation of the sacrifice of Christ, it spake and pleaded, in the faith of the offerer, for mercy and pardon. But the opposition here between the things spoken for by the blood of sprinkling, and those spoken for by the blood of Abel, doth manifest that they were of diverse kinds, yea, contrary to one another. 5thly. The ground of the comparison used by the apostle is plainly this: That whereas, as unto men, the blood of Christ was shed unjustly, and he was murdered by their wicked hands, even as Abel was by the hands of Cain, - the consideration whereof might have cast many of the Jews who were consenting thereunto into Cain’s desperation, - he shows that the blood of Christ never cried, as Abel’s did, for vengeance on them by whom it was shed, but pleaded their pardon as sinners, and obtained it for many of them: so speaking things quite of another nature than did that of Abel. This, therefore, is the plain, obvious, and only true sense of the place (= ).

b)   Darah Yesus juga berteriak kepada hati nurani kita sebagai pembunuhNya.
Tetapi lagi-lagi, berbeda dengan teriakan darah Habel yang mengacaukan hati nurani pembunuhnya, darah Yesus berteriak juga dengan teriakan yang lebih baik, karena teriakan darah Yesus justru memberikan sukacita dan damai kepada hati nurani kita.
Memang pada saat Roh Kudus menyadarkan kita bahwa kita adalah pembunuh Yesus, maka itu akan membuat kita sedih dan takut. Tetapi pada saat kita tahu / sadar bahwa darah Yesus dicurahkan bukan hanya oleh kita, tetapi juga bagi kita, maka kita akan mendapatkan damai dan sukacita karena kita tahu bahwa semua dosa-dosa kita telah ditebus.

The Bible Exposition Commentary: New Testament (tentang Ibr 12:24): “Abel’s blood made Cain feel guilty (and rightly so) and drove him away in despair (Gen 4:13-15); but Christ’s blood frees us from guilt and has opened the way into the presence of God” [= Darah Habel membuat Kain merasa bersalah (dan dengan benar demikian) dan mendorongnya ke dalam keputus-asaan (Kej 4:13-15); tetapi darah Kristus membebaskan kita dari kesalahan dan telah membuka jalan ke dalam kehadiran / hadirat Allah].
Kej 4:13-14 - “(13) Kata Kain kepada TUHAN: ‘Hukumanku itu lebih besar dari pada yang dapat kutanggung. (14) Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapanMu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku.’”.

III) Tanggapan kita.


Sekalipun darah Yesus berteriak kepada Allah untuk memintakan pengampunan bagi kita, itu tidak berarti bahwa kita secara otomatis mendapatkan pengampunan. Harus ada sesuatu yang kita lakukan sebagai tanggapan, dan barulah teriakan darah Yesus itu bermanfaat bagi kita, dan kita betul-betul diampuni dan mendapatkan damai dan sukacita.

Lalu apa tanggapan yang harus kita berikan?
Ibr 12:22-24 - “(22) Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, (23) dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna, (24) dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel”.

Jadi, saudara harus datang kepada Yesus, dan percaya bahwa Ia sudah mencurahkan darahNya untuk menebus dosa-dosa saudara, dan saudara harus menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara, maka saudara akan mendapatkan pengampunan, hidup kekal, dan damai / sukacita.

Kalau saudara sudah datang / percaya kepada Yesus, dan saudara jatuh lagi ke dalam dosa, lalu bagaimana? Juga bagaimana kalau saudara jatuh ke dalam dosa yang sangat hebat, atau jatuh berulang-ulang ke dalam dosa yang sama? Mungkin saudara putus asa tentang hal itu, tetapi itu sama sekali tidak perlu. Karena apa? Karena darah Yesus masih tetap berteriak untuk kebaikan kita.

Dalam Ibr 12:24 itu, kata ‘berbicara’ dalam bahasa aslinya menggunakan present tense. Karena itu dalam bahasa Inggris bukan diterjemahkan ‘spoke’ (bentuk lampau), tetapi ‘speaks’ (bentuk present). Jadi darah Yesus berteriak bukan hanya pada jaman dulu, tetapi terus menerus berteriak.

Setiap kali saudara jatuh ke dalam dosa, darah Yesus berteriak kepada Bapa: ‘Bapa, ampunilah dia, karena dia tidak tahu apa yang dia lakukan’. Atau: ‘Bapa, ampunilah dia, karena Aku telah mati untuk dosa itu’. Atau: ‘Bapa ampunilah dosa itu, karena darahKu telah tercurah untuk menebus dosa itu’.

Ini memang bukan berarti bahwa kita boleh menyengaja untuk jatuh ke dalam dosa. Kita memang harus berusaha untuk hidup suci, tetapi setiap kali kita jatuh, darah Kristus selalu siap untuk mengampuni kita.

Bdk. 1Yoh 2:1 - “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.



-AMIN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar