Kamis, 03 April 2014

DAMAI

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div


Mat 11:28-30 - “(28) Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (29) Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. (30) Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKupun ringan.’”.
Yoh 14:27 - “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu”.

Ada sesuatu yang diinginkan oleh setiap manusia, dan itu adalah damai dalam hati. Baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, kaya maupun miskin, pasti menginginkan untuk memiliki damai dalam hati.
Tetapi adalah suatu fakta bahwa pada umumnya manusia justru tidak memiliki damai dalam hatinya.Yang ada dalam dirinya adalah kekuatiran, kekecewaan, kecemasan, ketakutan, kesumpekan, hati yang kosong, dan sebagainya.

Illustrasi: ada seseorang yang pergi ke dokter dan mengatakan kalau hatinya selalu gelisah dan tidak damai, sehingga ia tidak bisa tidur. Setelah dokter itu memeriksanya, ternyata tidak ada penyakit apa-apa. Dokter itu lalu berkata: ‘Kamu sebetulnya tidak sakit. Saya kira kamu hanya stress saja. Kamu harus mencari hiburan supaya stressmu bisa hilang. Saya dengar bahwa di lapangan sana ada sirkus, dan ada badut yang sangat lucu, dan membuat semua orang ketawa terpingkal-pingkal. Itu baik untuk kamu. Cobalah ke sana dan nonton sirkus dan badut itu’. Orang itu menjawab: ‘Dokter tidak mengerti, sayalah badut itu’. Badut itu bisa membuat orang tertawa, dan dia sendiri kelihatannya senang dan juga tertawa, tetapi ternyata dalam hatinya ia sebetulnya sedih.

Bdk. Amsal 14:13 - “Di dalam tertawapun hati dapat merana, dan kesukaan dapat berakhir dengan kedukaan”.

I) Cara-cara yang banyak ditempuh manusia untuk mencari damai.


Manusia yang tidak memiliki damai itu lalu berusaha untuk mendapatkan damai, dan mereka berusaha dengan bermacam-macam cara, seperti:

1)   Manusia berusaha untuk bebas.
Mereka berpendapat bahwa yang menyebabkan mereka tidak bahagia / tidak damai adalah batasan-batasan dalam hidup mereka.
a)   Di sekolah, guru-guru / dosen-dosen membatasi.
b)   Di rumah, orang tua membatasi.
c)   Di tempat kerja, boss / atasan membatasi.
d)   Dalam negara, sebagai anggota masyarakat, undang-undang membatasi.
e)   Di gereja dan dalam kehidupan sehari-hari, Firman Tuhan membatasi.

Mereka mengira bahwa ini yang menyebabkan hidup mereka tidak enak, tidak bahagia, tidak damai. Mereka mengira bahwa kalau semua batasan itu dibuang, maka hidup menjadi senang, bahagia, dan damai. Jadi, mereka lalu membuang semua batasan-batasan itu. Mereka ingin bebas, dalam segala hal. Hidup semau gue, free sex, dan sebagainya.
Tetapi betulkah hidupnya lalu menjadi enak, senang, bahagia, dan damai? Di negara-negara barat, dimana kebebasan jauh lebih besar dari di Indonesia, justru tambah banyak orang yang sakit jiwa. Seorang dokter mengatakan kepada saya, bahwa tidak ada obat penenang / obat tidur yang tidak laku!

Bdk. Pkh 2:10-11 - “(10) Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apapun, sebab hatiku bersukacita karena segala jerih payahku. Itulah buah segala jerih payahku. (11) Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.

2)   Manusia berusaha untuk mengejar kepandaian.
Mereka mengira bahwa yang menyebabkan hidup itu tidak enak, tidak bahagia, tidak damai, adalah karena mereka tidak mempunyai kepandaian. Mereka mengira bahwa kalau mereka pandai, mempunyai banyak pengetahuan / ilmu, maka mereka akan senang, bahagia, dan damai. Lalu mereka belajar / sekolah mati-matian. Apa hasilnya? Mereka menjadi orang-orang yang pinter, yang kepalanya penuh, tetapi hatinya kosong! Saya yakin bahwa saudara mengenal / mengetahui banyak orang-orang yang sangat pinter dan terpelajar, tetapi hidupnya sama sekali tidak bahagia / tidak damai!

Bdk. Pkh 1:17-18 - “(17) Aku telah membulatkan hatiku untuk memahami hikmat dan pengetahuan, kebodohan dan kebebalan. Tetapi aku menyadari bahwa hal inipun adalah usaha menjaring angin, (18) karena di dalam banyak hikmat ada banyak susah hati, dan siapa memperbanyak pengetahuan, memperbanyak kesedihan”.
Catatan: tentu yang dimaksud hikmat dan pengetahuan di sini, adalah hikmat dan pengetahuan duniawi / sekuler.

3)   Manusia berusaha untuk menjadi populer / kaya.
Mereka mengira bahwa mereka tidak bahagia / tidak damai, karena mereka tidak terkenal, dan mereka miskin. Bagi orang-orang yang tidak terkenal dan miskin, segala sesuatu repot. Mau sekolah repot, mau cari pacar repot, mau cari kerja repot. Jadi mereka lalu berusaha untuk menjadi terkenal dan kaya. Betulkah setelah menjadi terkenal dan kaya mereka menjadi senang, bahagia dan damai? Saya yakin saudara juga tahu / kenal orang-orang yang terkenal / kaya yang sama sekali tidak bahagia / tidak damai! Contoh:
a)   Mohammad Ali, siapa yang lebih terkenal dan kaya dari dia? Apakah dia damai? Dalam suatu percakapan dengan George Foreman, ia pernah mengatakan bahwa ia tidak mempunyai damai, dan Foreman menginjili dia, dengan mengatakan bahwa Ali harus datang kepada Kristus untuk bisa mendapatkannya.
b)  Merlyn Monroe, bintang film, sex bom yang paling top pada tahun 1950an. Ia bintang film pertama yang berani main telanjang. Ia cantik, terkenal, dan pasti kaya. Tetapi ia mati bunuh diri!

Bdk. Pkh 2:4-11 - “(4) Aku melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, mendirikan bagiku rumah-rumah, menanami bagiku kebun-kebun anggur; (5) aku mengusahakan bagiku kebun-kebun dan taman-taman, dan menanaminya dengan rupa-rupa pohon buah-buahan; (6) aku menggali bagiku kolam-kolam untuk mengairi dari situ tanaman pohon-pohon muda. (7) Aku membeli budak-budak laki-laki dan perempuan, dan ada budak-budak yang lahir di rumahku; aku mempunyai juga banyak sapi dan kambing domba melebihi siapapun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku. (8) Aku mengumpulkan bagiku juga perak dan emas, harta benda raja-raja dan daerah-daerah. Aku mencari bagiku biduan-biduan dan biduanita-biduanita, dan yang menyenangkan anak-anak manusia, yakni banyak gundik. (9) Dengan demikian aku menjadi besar, bahkan lebih besar dari pada siapapun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku; dalam pada itu hikmatku tinggal tetap padaku. (10) Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apapun, sebab hatiku bersukacita karena segala jerih payahku. Itulah buah segala jerih payahku. (11) Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.

4)   Manusia berusaha untuk mencari kesenangan-kesenangan.
Mereka berpikir bahwa hati yang tidak bahagia / tidak damai ini harus dihibur. Dan itu bisa dilakukan dengan macam-macam hal, seperti: pesta, makan, diskotik, film / bioskop, shopping, jalan-jalan / piknik, sex, dan bahkan dengan narkoba!
Memang pada waktu mereka sedang melakukan hal-hal itu, mungkin hatinya bisa senang, tetapi kesenangan itu hanya kesenangan daging / lahiriah, yang bersifat semu dan sementara! Pada waktu semua itu selesai, ketidak-damaian / kekosongan hati itu kembali lagi.

Bdk. Pkh 2:8,10-11 - “(8) Aku mengumpulkan bagiku juga perak dan emas, harta benda raja-raja dan daerah-daerah. Aku mencari bagiku biduan-biduan dan biduanita-biduanita, dan yang menyenangkan anak-anak manusia, yakni banyak gundik. ... (10) Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apapun, sebab hatiku bersukacita karena segala jerih payahku. Itulah buah segala jerih payahku. (11) Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.

5)   Manusia berusaha untuk mencari kesibukan.
Mereka merasakan bahwa kalau mereka sedang menganggur, maka ketidak-damaian, kegelisahan, kesumpekan / kekosongan hati itu makin terasa. Karena itu mereka lalu berpikir untuk mengatasinya dengan terus menerus menyibukkan diri.
Mereka bisa menyibukkan diri dengan macam-macam hal, seperti:
a)   Bekerja / sekolah / belajar.
b)   Main game.
c)   Olah raga.
d)   Membaca buku, seperti novel, majalah, buku silat, dan sebagainya.
e)   Keluyuran.
f)    Dan sebagainya.

Bisakah hal-hal ini memberi kebahagiaan / kedamaian? Tidak, orang Jawa bilang paling-paling mereka ‘keslimur’ untuk sementara. Begitu mereka nganggur, ketidak-damaian dsb itu datang kembali.

Secara sadar atau tidak, setiap manusia pernah melakukan cara-cara tersebut di atas untuk memperoleh damai. Tetapi cara-cara itu tidak mungkin memberikan damai yang sejati. Untuk bisa mendapatkan damai yang sejati, mula-mula kita perlu tahu apa yang menjadi sumber / menyebabkan ketidak-damaian itu.

II) Sumber ketidak-damaian dan pemberesannya.


1)   Sumber ketidak-damaian.
Apa sebabnya manusia menjadi tidak damai? Apakah pada saat Allah menciptakan manusia, sudah demikian halnya? Tidak! Allah menciptakan manusia tanpa penderitaan, baik fisik maupun batin.
Kej 1:31 - “Maka Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam”.

Jadi, mula-mula semua baik, manusia bahagia dan damai. Tetapi dalam Kej 3, dosa lalu masuk ke dalam dunia, dan lalu apa akibatnya? Mereka putus hubungan dengan Allah, karena Allah yang suci itu tak bisa bersekutu dengan manusia yang berdosa! Dan putusnya hubungan dengan Allah ini menyebabkan mereka lalu mengalami ketakutan, rasa malu, dan segala sesuatu dalam hati yang bersifat negatif! Manusia memang direncanakan untuk hidup bersekutu dengan Allah, dan selama manusia hidup sesuai dengan rencana itu, mereka bahagia dan damai. Tetapi begitu mereka hidup tidak sesuai dengan rencana itu, mereka akan kehilangan damai.

Illustrasi: sepeda motor direncanakan oleh pabriknya menggunakan ban yang diisi angin. Kalau kita menggunakannya sesuai rencana itu, maka akan enak. Tetapi kalau kita menggunakannya tidak sesuai dengan rencana itu, misalnya kita isi dengan semen, supaya tidak bisa gembos, maka tidak akan enak!

Kej 3:6-10 - “(6) Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. (7) Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. (8) Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. (9) Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: ‘Di manakah engkau?’ (10) Ia menjawab: ‘Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.’”.

Yes 48:22 - “‘Tidak ada damai sejahtera bagi orang-orang fasik!’ firman TUHAN”.

Amsal 28:1 - “Orang fasik lari, walaupun tidak ada yang mengejarnya, tetapi orang benar merasa aman seperti singa muda”.

Im 26:14-17,36-37 - “(14) ‘Tetapi jikalau kamu tidak mendengarkan Daku, dan tidak melakukan segala perintah itu, (15) jikalau kamu menolak ketetapanKu dan hatimu muak mendengar peraturanKu, sehingga kamu tidak melakukan segala perintahKu dan kamu mengingkari perjanjianKu, (16) maka Akupun akan berbuat begini kepadamu, yakni Aku akan mendatangkan kekejutan atasmu, batuk kering serta demam, yang membuat mata rusak dan jiwa merana; kamu akan sia-sia menabur benihmu, karena hasilnya akan habis dimakan musuhmu. (17) Aku sendiri akan menentang kamu, sehingga kamu akan dikalahkan oleh musuhmu, dan mereka yang membenci kamu akan menguasai kamu, dan kamu akan lari, sungguhpun tidak ada orang mengejar kamu. ... (36) Dan mengenai mereka yang masih tinggal hidup dari antaramu, Aku akan mendatangkan kecemasan ke dalam hati mereka di dalam negeri-negeri musuh mereka, sehingga bunyi daun yang ditiupkan anginpun akan mengejar mereka, dan mereka akan lari seperti orang lari menjauhi pedang, dan mereka akan rebah, sungguhpun tidak ada orang yang mengejar. (37) Dan mereka akan jatuh tersandung seorang kepada seorang seolah-olah hendak menjauhi pedang, sungguhpun yang mengejar tidak ada, dan kamu tidak akan dapat bertahan di hadapan musuh-musuhmu”.

Ul 28:15,65-67 - “(15) ‘Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapanNya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk ini akan datang kepadamu dan mencapai engkau: ... (65) Engkau tidak akan mendapat ketenteraman di antara bangsa-bangsa itu dan tidak akan ada tempat berjejak bagi telapak kakimu; TUHAN akan memberikan di sana kepadamu hati yang gelisah, mata yang penuh rindu dan jiwa yang merana. (66) Hidupmu akan terkatung-katung, siang dan malam engkau akan terkejut dan kuatir akan hidupmu. (67) Pada waktu pagi engkau akan berkata: Ah, kalau malam sekarang! dan pada waktu malam engkau akan berkata: Ah, kalau pagi sekarang! karena kejut memenuhi hatimu, dan karena apa yang dilihat matamu”.

Rat 1:20 - “Ya, TUHAN, lihatlah, betapa besar ketakutanku, betapa gelisah jiwaku; hatiku terbolak-balik di dalam dadaku, karena sudah melampaui batas aku memberontak; di luar keturunanku dibinasakan oleh pedang, di dalam rumah oleh penyakit sampar”.

2)   Usaha membereskan sumber ketidak-damaian itu.
Kalau sekarang kita sudah mengetahui bahwa sumber ketidak-damaian itu adalah dosa, maka kita harus berusaha untuk membereskannya. Selama dosa itu belum beres, maka ketidak-damaian itu tetap ada.

Illustrasi: Ada seorang tuan yang kaya, memiliki rumah besar dan halaman yang luas, dan ia memiliki 2 orang pelayan, yang satu tugas di dalam rumah, dan yang lain tugas di luar rumah (halaman). Pegawai yang tugas luar, katakan saja namanya si A, suatu hari menggiring banyak bebek milik tuannya untuk masuk ke kandangnya. Tetapi satu bebek nakal, dan terus lari. Akhirnya si A marah dan melempar bebek itu dengan batu. Celakanya, batu itu kena kepala  bebek itu sehingga bebek itu mati. Si A ketakutan, dan waktu ia lihat kiri dan kanan dan tak ada orang, ia lalu mengubur bebek itu dengan diam-diam. Tetapi tanpa ia sadari pelayan yang tugas di dalam rumah, katakan saja namanya si B, melihat semua perbuatannya. Si B diam saja, tetapi pada waktu ketemu si A, ia lalu berkata: ‘A, kamu harus isi air di bak kamar mandi!’. Si A berkata: ‘Lho itu kan tugasmu, aku tugas di luar, kamu di dalam’. Si B berkata: ‘Kamu tidak mau? Ingat bebek!’. Si A terkejut dan takut. Ternyata si B tahu, dan ia dengan terpaksa harus menuruti perintah si B, kalau tidak, ia takut dilaporkan sang majikan. Tetapi si B lalu menyuruh dia melakukan semua tugas si B, dan setiap kali ia menolak, si B mengancam dengan kata ‘bebek’! Si A mula-mula bertahan dalam keadaan itu, tetapi kala kelamaan ia tidak tahan lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk mengakui kesalahannya kepada tuannya. Dan tuannya mengampuninya. Si B, yang tidak tahu akan hal itu, menyuruh si A lagi. Tetapi sekarang, sekalipun diancam dengan kata ‘bebek’, si A tak peduli! Ia sudah diampuni sehingga tak usah takut lagi!
Demikian juga dengan kita. Kita semua adalah orang berdosa. Selama dosa kita belum dibereskan, kita akan terus takut dan tidak mempunyai damai! Lalu, apa yang harus kita lakukan? Sumber ketidak-damaian itu harus dibereskan. Kalau dosa beres, maka hubungan dengan Allah menjadi baik, dan kita akan damai. Tetapi sekarang, persoalannya jadi sukar, karena tidak ada orang yang bisa membereskan dosanya sendiri!
Illustrasi: monyet yang masuk rawa tak bisa mengeluarkan dirinya sendiri, kecuali seseorang di luar menarik dia.

Dosa itu tidak bisa dibereskan dengan:

a)   Membenarkan diri / tak mengakui dosa tersebut.
Lihat Adam dan Hawa yang melakukan hal ini. Itu tidak akan membereskan dosa mereka.

Bdk. Maz 32:1-5 - “(1) Dari Daud. Nyanyian pengajaran. Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! (2) Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! (3) Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; (4) sebab siang malam tanganMu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Sela (5) Dosaku kuberitahukan kepadaMu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: ‘Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,’ dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela”.

b)   Menutupinya dengan perbuatan baik.
Illustrasi: Menutupi dosa dengan perbuatan baik, bisa diibaratkan seperti orang yang berkeringat, sehingga bau, lalu menutupinya dengan minyak wangi!

c)   Menutupinya dengan segala macam kesenangan, kekayaan, kesibukan dan sebagainya.

Jadi, jelaslah bahwa kalau saudara mau memiliki damai dengan cara dan usaha saudara sendiri, maka saudara pasti gagal, karena bagaimanapun juga, saudara tidak akan bisa membereskan dosa saudara sendiri.

III) Cara yang Allah sendiri berikan.


Tetapi puji Tuhan, Dia telah menyediakan cara / jalanNya! Pada Natal yang pertama Allah telah menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus, dan Ia telah menderita dan mati di salib untuk menebus / membereskan dosa-dosa kita, yang merupakan penyebab putusnya hubungan kita dengan Allah, dan sekaligus merupakan penyebab ketidak-damaian tersebut.
Di atas kayu salib, Yesus berseru: ‘Sudah selesai’ (Yoh 19:30), untuk menunjukkan bahwa dosa-dosa kita, semuanya telah dibereskan!
Nah saudara, Yesus sudah melakukan bagianNya, sekarang apa yang harus kita lakukan supaya damai yang telah Dia sediakan itu bisa menjadi milik kita?

1)   Kita harus datang / percaya kepada Yesus.
Mat 11:28-30 - “(28) Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (29) Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. (30) Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKupun ringan.’”.

Perhatikan beberapa hal:

a)   Yesus mengundang orang yang letih lesu, dan berbeban berat, orang-orang yang menderita, yang tidak bahagia, yang gelisah, yang tidak damai. ‘Marilah kepadaKu’! Dan Ia berjanji untuk memberikan kelegaan / damai kepada mereka yang mau datang kepadaNya!

b)   Ingat bahwa Ia berkata ‘Marilah kepadaKu. Bukan datang kepada pendeta, penginjil, gereja, baptisan, orang Kristen dsb, tetapi datang kepada Yesus sendiri!

c)  Undangan ini berlaku untuk semua orang, karena Yesus mengatakan ‘Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat’.
Illustrasi: seorang gadis diundang ke pesta dansa, dan waktu mau mengambil rok untuk pesta itu ia bertemu dengan pendetanya, yang lalu memberitakan Injil kepadanya. Ia menjadi marah, dan tetap pergi ke pesta. Selesai pesta ia pulang, tetapi tidak merasakan damai. Kata-kata pendetanya terus mendengung di telinganya. Ia lalu datang kepada pendetanya, dan ia disuruh untuk percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Ia bertanya: Apa Yesus mau menerima aku, aku terlalu banyak dosa. Pendeta itu berkata: Datanglah sebagaimana adamu, Ia mau menerima kamu.
Ia pulang, lalu berdoa kepada Yesus, dan menerimaNya sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, dan ia mendapatkan damai dari Tuhan.
Ia lalu mengambil pena dan kertas dan menulis syair, yang lalu menjadi lagu yang berjudul ‘Just as I am’ / ‘Sebagaimana adaku’.
Saudara yang kekasih, lakukan apa yang dilakukan gadis itu. Datanglah kepada Kristus, dan saudara akan mendapatkan damai yang sejati.

2)   Kita harus taat kepada Yesus.
Mat 11:28-30 - “(28) Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (29) Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. (30) Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKupun ringan.’”.

Perhatikan ay 29nya. Memikul kuk berarti kita harus mentaati Dia! Kalau setelah datang kepada Yesus, kita tidak mau mentaati Dia, maka hubungan dengan Allah, sekalipun tidak putus, tetapi menjadi renggang. Dan ini menyebabkan kita kembali tidak damai!

Yes 48:18 - “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintahKu, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti”.

Kesaksian: saya dulu sering merasa hati kosong, seperti ada pisau mengiris-iris, padahal kalau dilihat hidup saya seharusnya bahagia. Tetapi setelah saya datang kepada Yesus, saya mempunyai damai!
Maukah saudara datang / percaya kepada Yesus, dan mentaatiNya? Tuhan memberkati saudara.

-AMIN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar