Jumat, 18 April 2014

DOKTRIN ALLAH (2)

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div


The eternal generation & procession



I) The eternal generation of the Son.

1)   Arti kata.
a) ‘to generate’ = memperanakkan, memproduksi keturunan.
b) ‘generation’ = tindakan memperanakkan.

2)   Definisi dari doktrin ini:

a) Hal ini adalah suatu tindakan yang tidak bisa tidak dilaku­kan oleh Allah (It is a necessary act of God).

b)   Ini merupakan tindakan kekal dari Allah.
Dengan kata lain, hal ini bukanlah sesuatu yang dilakukan oleh Allah Bapa di masa yang lalu, tetapi merupakan tindakan yang dilakukan secara terus-menerus.

Herman Bavinck:
“It is not to be regarded as having been complet­ed once for all in the past, but it is an act eternal and immutable, eternally finished yet continuing forevermore. As it is natural for the sun to give light and for the fountain to pour forth water, so it is natural for the Father to generate the Son” (= Hal itu tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang telah diselesaikan sekali dan selamanya pada waktu lampau, tetapi merupakan suatu tindakan yang kekal dan abadi, diselesaikan secara kekal tetapi berlangsung selama-lamanya. Sebagaimana adalah alamiah bagi matahari untuk memberikan sinar dan bagi mata air untuk mengeluarkan air, begitu pula adalah alamiah bagi Bapa untuk memperanakkan Anak) -’The Doctrine of God’, hal 309.

Illustrasi / analogi yang dipakai oleh Bavinck di sini adalah sangat penting. ‘Bapa memperanakkan Anak’ merupakan suatu tinda­kan yang sudah selesai, tetapi terus berlangsung secara kekal. Analoginya adalah matahari yang memancarkan sinarnya. Matahari itu sudah selesai memancarkan sinarnya, tetapi hal itu tetap berlangsung terus menerus. Dengan analogi ini terlihat bahwa sama seperti kita tidak bisa mengatakan bahwa matahari itu ada lebih dulu dari sinarnya (ingat bahwa matahari tanpa sinar tidak bisa disebut sebagai mata-hari!), maka kitapun tidak bisa mengatakan bahwa Bapa itu lebih kekal dari pada Anak.

William G. T. Shedd mengutip kata-kata Turrettin:
“‘The Father,’ says Turrettin, ‘does not generate the Son either as previously existing, for in this case there would be no need of generation; nor as not yet existing, for in this case the Son would not be eternal; but as coexisting, because he is from eternity in the Godhead’” (= ‘Bapa’, kata Turretin, ‘tidak memperanakkan Anak seakan-akan Anak itu sudah ada sebelumnya, karena kalau begitu maka tidak diperlukan tindakan memperanakkan itu; juga tidak seakan-akan Anak itu belum ada, karena kalau begitu maka Anak itu tidak kekal; tetapi sebagai ada bersama-sama, karena Ia ada dalam diri Allah sejak kekekalan’) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 293-294.

Dari penjelasan-penjelasan ini terlihat bahwa sekalipun Yesus memang betul-betul diperanakkan oleh Bapa, Ia tetap sama kekal-nya dengan Bapa. Jadi doktrin ini memang disusun sedemikian rupa sehingga melindungi kekekalan Anak, dan dengan demikian juga melindungi keilahian Anak.

c)   Hal ini merupakan kelahiran / generation dari pribadi, bukan kelahiran / generation dari hakekat Anak Allah.

Louis Berkhof:
“It is better to say that the Father generates the personal subsistence of the Son, but thereby also communicates to Him the divine essence in its entirety. But in doing this we should guard against the idea that the Father  first generated a second person, and then communicated the divine essence to this person, for that would lead to the conclusion that the Son was not generated out of the divine essence but created out of nothing. In the work of generation there was a communication of essence; it was one indivisible act” (= Lebih baik untuk mengatakan bahwa Bapa memperanakkan keberadaan pribadi dari Anak, tetapi dengan demikian juga memberikan kepadaNya seluruh hakekat ilahi. Tetapi dalam melakukan ini kita harus waspada terhadap gagasan bahwa Bapa mula-mula memperanakkan pribadi yang kedua, dan lalu memberikan hakekat ilahi kepada pribadi ini, karena itu akan membawa pada kesimpulan bahwa Anak bukan diperanakkan dari hakekat ilahi tetapi diciptakan dari ‘tidak ada’. Dalam pekerjaan memperanakkan ada pemberian hakekat; itu adalah satu tindakan yang tidak terpisahkan) - ‘Systematic Theology’, hal 93,94.

‘Communication of essence’ (= pemberian hakekat) ini menyebabkan Anak mempunyai  hidup dari diriNya sendiri (Yoh 5:26).

Catatan: kata bahasa Inggris ‘communication’ berasal dari kata bahasa Latin ‘Communicatio’. Dalam bahasa Yunani istilah Communicatio ini diterjemahkan dengan istilah KOINONIA.
Dan kata Yunani KOINONIA bisa berarti:
1.   fellowship (= persekutuan).
2.   a close mutual relationship (= hubungan timbal balik yang dekat).
3.   participation (= partisipasi).
4.   sharing in (= sama-sama menikmati / memiliki).
5.   partnership (= persekutuan).
6.   contribution (= sumbangan).
7.   gift (= pemberian).
Dalam kontext ini kelihatannya yang harus ditekankan adalah arti ke 4 dan ke 7. Jadi, kalau dikatakan bahwa Bapa melakukan ‘communication of essence’ kepada Anak, maka itu berarti Bapa memberikan essence / hakekat kepada Anak, atau Bapa dan Anak sama-sama memiliki essence / hakekat itu.

d)   Hal ini bersifat rohani dan illahi.
Louis Berkhof:
“This generation must not be conceived in a physical and creaturely way, but should be regarded as spiritual and divine, excluding all idea of division or change” (= Tindakan memperanakkan ini tidak boleh dipahami / dibayangkan secara fisik dan bersifat ciptaan, tetapi harus dianggap sebagai rohani dan ilahi, membuang semua gagasan tentang perpecahan atau perubahan) - ‘Systematic Theology’, hal 94.

Catatan: keempat definisi di atas ini kelihatannya diberikan begitu saja tanpa dasar Kitab Suci, tetapi saya berpendapat bahwa dasarnya sebe-tulnya ada. Dalam menyusun definisi-definisi itu, para ahli theologia mem-perhatikan beberapa hal (yang jelas merupakan ajaran Kitab Suci) yang tidak boleh dilanggar, yaitu:
1.  Anak adalah Allah, dan harus bersifat kekal, dan bahkan sama kekal-nya dengan Bapa.
2.   Allah tidak bisa berubah.

3)   Dasar Kitab Suci dari “the eternal generation of the Son”.

a)   Dasar yang salah:
Maz 2:7 yang berbunyi: “Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: ‘AnakKu engkau! Engkau telah Kuper-anakkan pada hari ini”.
Pdt. Stephen Tong dalam seminar dan buku ‘Allah Tritunggal’ (hal 40-41,43) menggunakan Maz 2:7 ini sebagai dasar dari ‘the eternal gene-ration of the Son’, dan Calvin juga mengatakan bahwa ada orang-orang yang menggunakan Maz 2:7 sebagai dasar dari doktrin ‘the eternal generation of the Son’.
Orang yang menggunakan Maz 2:7 ini sebagai dasar biasanya mendefinisikan doktrin ‘the eternal generation of the Son’ ini sebagai suatu tindakan Bapa yang terjadi di minus tak terhingga, dan lalu berkata bahwa pada saat itu waktupun belum ada sehingga tidak ada ‘sebelum’ atau ‘sesudah’. Dengan demikian tidak bisa dikatakan bahwa Bapa ada sebelum Anak.

Tetapi saya tidak setuju dengan argumentasi ini. Untuk itu saya akan mengutip kata-kata John Murray dalam tafsirannya tentang Ro 9:11 (NICNT) dimana ia berkata: “This consideration that the electing purpose is supratemporal does not, however, rule out the thought of priority; there can be priority in the order of thought and conception quite apart from the order of temporal sequence” (= Pertimbangan bahwa rencana pemilihan ini ada di atas waktu tidak menyingkirkan pemikiran tentang ke-lebih-dahulu-an; bisa ada ke-lebih-dahulu-an dalam urut-urutan pemikiran dan pengertian terlepas dari urut-urutan waktu).
John Murray mendukung hal ini menggunakan Ro 8:29 (KJV): ‘For whom he did foreknow, he also did predestinate [to be] conformed to the image of his Son, that he might be the firstborn among many brethren’ (= Karena mereka yang dikenalNya lebih dulu, juga dipredestinasikanNya untuk menjadi serupa dengan gambar AnakNya, supaya Ia bisa menjadi yang sulung di antara banyak saudara).
Perhatikan bagian yang digaris-bawahi itu. Kedua kata kerja itu (‘foreknew’ dan ‘predestinate’) sama-sama terjadi di minus tak terhingga, tetapi toh Paulus menuliskannya sedemikian rupa sehingga terlihat bahwa ‘foreknew’ mendahului ‘predestinate’.

Karena itu, kalau kita mengatakan bahwa Anak diperanakkan di satu saat pada waktu yang lampau, sekalipun itu terjadi di minus tak terhingga, pada saat waktupun belum ada, maka secara logika kita tetap bisa melihat bahwa Bapa lebih kekal dari Anak, dan juga bahwa terjadi perubahan dalam diri Allah dari satu pribadi menjadi dua pribadi.
Tetapi dengan mendefinisikan bahwa Bapa memperanakkan Anak secara kekal / terus menerus, maka prinsip Kitab Suci tentang ‘keilahian dan kekekalan Yesus’ dan ‘ketidakberubahan Allah’ bisa dipertahankan.

Calvin juga tidak setuju dengan penggunaan Maz 2:7 sebagai dasar dari doktrin ‘the eternal generation of the Son’ ini. Saya setuju dengan Calvin, dan saya berpendapat bahwa ada beberapa alasan yang menyebabkan Maz 2:7 tidak bisa menjadi dasar dari doktrin ‘the eternal generation of the Son’ ini, yaitu:
1.   Kata-kata ‘hari ini’ menunjuk pada satu titik di masa yang lampau, dan dengan demikian maka tindakan memperanakkan itu merupa-kan suatu tindakan yang terjadi pada masa yang lampau, dan ini tidak sesuai dengan definisi dari ‘the eternal generation of the Son’ (lihat point 2,a dan 2,b di atas, dan perhatikan juga catatan di bawah point 2,d di atas).
2.   Maz 2:7 hanya menunjukkan bahwa Allah memberikan kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Allah.
Calvin: “He is not said to be begotten in any other sense than as the Father bore testimony to him as being his own Son” (= Ia tidak dikatakan diperanakkan dalam arti yang lain dari pada bahwa Bapa memberikan kesaksian kepadaNya sebagai AnakNya sendiri).
3.   Kata-kata ‘hari ini’ menunjuk pada saat dimana ke-Anak-an Yesus diproklamirkan kepada dunia.
Calvin: “This expression, to be begotten, does not therefore imply that he began to be the Son of God, but that his being so was then made manifest to the world” (= Ungkapan ‘diperanakkan’ ini tidak berarti bahwa Ia mulai menjadi Anak Allah, tetapi bahwa keberadaanNya sebagai Anak Allah dinyatakan kepada dunia pada saat itu).
4.   Maz 2:7 dikutip 3 kali dalam Perjanjian Baru, yaitu dalam Kis 13:33  Ibr 1:5  Ibr 5:5, dan tidak ada satupun dari ayat-ayat itu yang me-ngutipnya untuk menunjuk pada ‘the eternal generation of the Son’.

b)         Dasar yang benar:
a.   Sebutan ‘Bapa’ dan ‘Anak’ menunjukkan bahwa Bapa memper-anakkan Anak.
b.   Sebutan ‘Anak Tunggal’ bagi Yesus / Anak Allah (Yoh 1:14  3:16,18  1Yoh 4:9). Dalam bahasa Inggris digunakan istilah ‘the only begotten (= satu-satunya yang diperanakkan).
c.   Sebutan ‘sulung’ bagi Yesus / Anak Allah (Kol 1:15  Ibr 1:6). Dalam bahasa Inggris digunakan istilah ‘firstborn (= dilahirkan pertama).
d.   Kitab Suci berkata bahwa Allah Bapa ‘memberikan’ Allah Anak untuk mempunyai hidup dalam diriNya sendiri (Yoh 5:26 bdk. Yoh 6:57).
e.   Yoh 1:18 - 'Anak Tunggal Allah'.
Dalam istilah / bagian ini terdapat textual problem (= problem text, dimana ada perbedaan antara manuscript yang satu dengan manuscript yang lain).
Ada 4 golongan manuscript:
1.   The only begotten (= satu-satunya yang diperanakkan).
2.   The only begotten Son (= satu-satunya Anak yang diperanak-kan).
3.   The only begotten Son of God (= satu-satunya Anak Allah yang diperanakkan).
4.   Only begotten God (= satu-satunya Allah yang diperanakkan).
Kebanyakan penafsir menganggap bahwa yang keempatlah yang benar, dengan alasan:
a.   Ini didukung oleh manuscript yang paling kuno.
b.   Ini merupakan bacaan yang ‘lebih sukar’, atau yang lebih tidak masuk akal. Memang kalau ada perbedaan manuscript, biasanya bacaan yang lebih sukar / lebih tidak masuk akal yang diterima, dengan suatu anggapan bahwa penyalin manuscript itu lebih mungkin untuk mengubah dari yang tidak masuk akal menjadi masuk akal, dari pada mengubah dari yang masuk akal menjadi yang tidak masuk akal.
Dalam peristiwa ini, kalau yang benar adalah yang no 1 atau no 2 atau no 3, tidak mungkin penyalin manuscript itu lalu mengubah menjadi yang no 4. Sebaliknya, kalau no 4 yang benar, mungkin sekali penyalin menganggap bacaan itu tak masuk akal sehingga ia mengubahnya menjadi no 1 atau no 2 atau no 3.

II) The eternal procession of the Holy Spirit.

1)    Arti kata.
·         ‘to proceed’ = keluar.
·         ‘procession’ = tindakan keluar.

2)    Seperti Anak,  Roh Kudus juga sehakekat dengan Bapa.

3)    Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak (The Holy Spirit proceeds from the Father and the Son).
Point ini memecah gereja menjadi dua pada abad ke 11, yaitu:
·         Gereja Orthodox, yang mempercayai bahwa Roh Kudus hanya keluar dari Bapa.
·         Roma Katolik, yang mengatakan bahwa Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak.

4)    Banyak hal-hal tentang ‘eternal generation’ yang juga berlaku untuk ‘eternal procession’. Semua point dalam definisi dari ‘the eternal generation of the Son’ juga berlaku di sini.

5)    Perbedaan ‘Generation’ dengan ‘Spiration’.
a)    ‘Generation’ adalah pekerjaan Bapa saja, sedangkan ‘Spira­tion’ meru-pakan pekerjaan Bapa dan Anak.
b)    Karena adanya ‘Generation’, maka Anak bisa ikut ambil bagian dalan ‘Spiration’.
c)    Secara logika (bukan secara chronologis!), ‘Generation’ mendahului ‘Spiration’. Tetapi faktanya adalah bahwa keduanya sama-sama merupakan tindakan kekal.

Catatan: kata ‘spiration’ tidak ada dalam kamus, bahkan dalam kamus Webster sekalipun. Tetapi kelihatannya, kalau ‘procession’ berarti ‘tindak-an keluar’, maka ‘spiration’ berarti ‘tindakan mengeluarkan’. Kalau ‘procession’ adalah ‘the property of the Holy Spirit’ (= milik Roh Kudus), maka ‘spiration’ adalah ‘the property of the Father and the Son’ (= milik Bapa dan Anak).
Tetapi Louis Berkhof berkata: “This procession of the Holy Spirit, briefly called spiration, is his personal property” (= Keluarnya Roh Kudus, secara singkat disebut ‘spiration’, adalah milik pribadiNya) - ‘Systematic Theology’, hal 97.
Kelihatannya ia mencampuradukkan ‘procession’ dan ‘spiration’.

6)   Dasar Kitab Suci dari ‘the eternal procession of the Holy Spirit from the Father and the Son’:
a)    Roh Kudus disebut sebagai Roh Allah / Roh Bapa (Ro 8:9  Mat 10:20) dan juga sebagai Roh Kristus / Roh Anak (Ro 8:9  Gal 4:6). Kata ‘Roh’ bisa diartikan sebagai ‘nafas’ dan ini secara tidak langsung menunjuk-kan bahwa Ia keluar dari Bapa dan Anak.
b)    Yoh 15:26 & Yoh 14:26 mengatakan bahwa Roh Kudus keluar dari Bapa dan diutus oleh Bapa.
c)    Yoh 15:26 dan 16:7 mengatakan bahwa Roh Kudus diutus oleh Anak.
Catatan: tidak adanya ayat yang menyatakan bahwa Roh Kudus keluar dari Anak menyebabkan Gereja Orthodox menganggap bahwa Roh Kudus hanya keluar dari Bapa. Tetapi bahwa Roh Kudus disebut Roh Kristus, dan kata ‘Roh’ bisa diartikan nafas, secara tidak langsung menunjukkan bahwa Roh Kudus juga keluar dari Anak.

III) Keberatan dan jawabannya.

1)   Loraine Boettner tidak setuju dengan kedua doktrin ini.

a)         Doktrin ‘the eternal generation of the Son’:
Loraine Boettner berkata bahwa ayat-ayat seperti Yoh 5:26 Ibr 1:6 Yoh 3:16, tidak mengajarkan doktrin ini. Tujuan utama dari ayat itu dan dari ayat-ayat lain yang serupa adalah mengajarkan bahwa:
·         Kristus berhubungan secara intim dengan Bapa.
·         Anak sama dengan Bapa dalam kuasa, kemuliaan dan ‘nature’.
·         Anak adalah Allah sepenuhnya.
Loraine Boettner juga berkata bahwa rupa-rupanya pandangannya juga merupakan pandangan John Calvin, karena pada bagian terakhir dari pasalnya tentang Tritunggal, Calvin berkata:
“But studying the edification of the Church, I have thought it better not to touch upon many things, which unnecessarily burdensome to the reader, without yielding him any profit. For to what purpose is it to dispute whether the Father is always begetting? For it is foolish to imagine a continual act of regeneration, since it is evident that three Persons have subsisted in God from all eternity” (= Tetapi mempelajari pendidikan Gereja, saya berpikir lebih baik tidak menyentuh banyak hal, yang secara tidak perlu memberatkan pembaca tanpa memberikan keuntungan / manfaat apapun kepadanya. Karena apa tujuannya memperdebatkan apakah Bapa itu terus memperanakkan? Karena adalah bodoh untuk membayangkan suatu tindakan melahirkan yang terus menerus, karena adalah jelas bahwa tiga Pribadi terus ada dalam Allah dari kekekalan) - Loraine Boettner, ‘Studies in Theology’, hal 122 (ini dikutip oleh Loraine Boettner dari ‘Insitutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XIII, No 29).

Tetapi dalam bagian sebelumnya Calvin berkata:
“... and we must not seek in eternity a before or an after, nevertheless the observance of an order is not meaningless or superfluous, when the Father is thought of as first, then from him the Son, and finally from both the Spirit. ... For this reason, the Son is said to come forth from the Father alone; the Spirit, from the Father and the Son at the same time” (= ... dan kita tidak boleh mencari sebelum atau sesudah dalam kekekalan, meskipun demikian pengamatan tentang suatu urut-urutan bukanlah tanpa arti ataupun berlebihan, ketika Bapa dianggap sebagai yang pertama, lalu dari Dia Anak, dan akhirnya dari keduanya Roh. ... Karena itu, Anak dikatakan muncul / lahir dari Bapa saja; Roh, dari Bapa dan Anak pada saat yang sama) - ‘Insitutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XIII, No 18.

b)   Doktrin ‘The Eternal Procession of the Holy Spirit’:
Loraine Boettner berkata sebagai berikut:
·         Hanya ada 1 ayat dalam Kitab Suci yang bisa dipakai sebagai dasar doktrin ini, yaitu Yoh 15:26.
·         Ada ahli-ahli theologia yang berpendapat bahwa ayat ini mengajarkan doktrin ini, tetapi ada pula yang berkata bahwa ayat itu semata-mata menunjukkan misi dari Roh Kudus untuk datang ke dunia.
·         Dalam Yoh 16:28, Yesus menggunakan bentuk yang mirip dengan Yoh 15:26.
*        Yoh 15:26 - “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku”.
*        Yoh 16:28 - “Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa”.
Dalam Yoh 16:28 jelas menunjukkan bahwa Yesus berbicara tentang misiNya untuk datang ke dunia, bukan tentang ‘eter­nal generation’, karena dalam ayat itu Tuhan Yesus mengkontraskan antara ‘datang dari Bapa ke dalam dunia’ dengan ‘meninggal­kan dunia dan pergi kepada Bapa’.
Jadi, kalau Yoh 16:28 menunjuk pada misi Tuhan Yesus dan bukan pada ‘eternal genera­tion’, maka Yoh 15:26 juga menunjuk pada misi Roh Kudus dan bukan pada ‘eternal procession’.
·         Yoh 15:26 diucapkan oleh Tuhan Yesus pada saat Ia sudah mendekati saat penyaliban. Jadi rasanya tidak mungkin saat itu Tuhan Yesus mengajarkan hal-hal yang bersifat filsafat dan begitu menda­lam. Lebih cocok, kalau pada saat itu Tuhan Yesus mengajar hal-hal yang bersifat praktis dan berguna untuk meme-nuhi kebutuhan murid-murid (menghibur dan menguatkan mereka) pada saat Tuhan Yesus ditang­kap, disalibkan dan mati. Jadi ayat ini tidak boleh diarti­kan sebagai ‘eternal procession’, tetapi hanya sebagai janji Tuhan Yesus bahwa Ia akan memberikan seorang Penolong yang lain yang keluar dari Bapa.

c)   Kesimpulan Loraine Boettner tentang ‘eternal generation’ dan ‘eternal procession’:
“We prefer to say, as previously stated, that within the essential life of the Trinity no one Person is prior to, nor generated by, nor proceeds from, another” (= Kami lebih suka berkata, seperti telah dinyatakan sebelumnya, bahwa di dalam kehidupan hakiki dari Tritunggal tidak seorangpun yang mendahului, atau dilahirkan oleh, atau keluar dari, yang lain) - ‘Studies in Theol­ogy’, hal 123.

2)   Pandangan William G. T. Shedd.
Pandangan William G. T. Shedd tentang orang yang menolak kedua doktrin ini: Ini adalah sesuatu yang tidak konsisten. Nama-nama ‘Bapa’, ‘Anak’, dan ‘Roh’ yang diberikan kepada Allah dalam Kitab Suci, menimbul­kan ide / gagasan tentang paternity (= yang berhubungan dengan bapa), filiation (= yang berhubungan dengan anak), spiration, dan proces­sion.
Seseorang tidak bisa menyebut oknum I sebagai Bapa, dan menyangkal bahwa Ia memperanakkan. Juga tidak bisa menyebut oknum ke II sebagai Anak, dan menyangkal bahwa Ia diperanakkan. Juga tidak bisa menyebut oknum ke III sebagai Roh, dan menyangkal bahwa Ia keluar dari Bapa dan Anak.
Kalau seseorang percaya / menerima bahwa kata-kata ‘Bapa’, ‘Anak’, ‘Roh’ itu menyampaikan kebenaran yang mutlak, maka ia juga harus percaya / menerima kata-kata ‘beget’ (= memperanakkan), ‘begottten’ (= diperanakkan), ‘spirate’ (= mengeluarkan), ‘proceed’ (= keluar) juga menyampaikan suatu kebenaran yang mutlak (Shedd’s Dogmatic Theology, vol I, hal 292-293).


-o0o-



PROVIDENCE OF GOD


Pendahuluan:

1)         Doktrin Providence of God ini penting bagi kita:
Calvin:
  • “Ignorance of Providence is the ultimate of all miseries; the high­est blessedness lies in the knowledge of it” (= ketidaktahuan ten­tang Providence adalah asal mula semua kesengsaraan; berkat yang terbesar terletak dalam pengenalan tentang providence) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, No 11.
  • “Nothing is more profitable than the knowledge of this doctrine” (= tidak ada yang lebih berguna dari pada pengenalan tentang doktrin ini) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, No 3.

2)         Siapa saja yang percaya / mengajarkan doktrin Providence of God ini?
Doktrin ini dipercaya dan diajarkan oleh: Agustinus, John Calvin, Martin Luther, Jerome Zanchius, John Owen, Charles Hodge, R.L. Dabney, Louis Berkhof, Loraine Boettner, W.G.T. Shedd, Herman Hoek­sema, Herman Bavinck, G.C. Berkouwer, B.B. Warfield, John Murray, Gresham Machen, Arthur W. Pink, dsb. Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada satupun orang Reformed yang sejati yang tidak mempercayai doktrin ini. Juga doktrin ini masuk dalam Westminster Confession of Faith, yang merupakan pengakuan iman dari gereja-gereja Reformed / Presbyterian di Amerika. Karena itu saya berpendapat bahwa orang yang mengaku dirinya Reformed, tetapi tidak percaya pada doktrin ini, sebetulnya hanyalah orang yang Semi-Reformed!

I) Definisi ‘Providence’.

Kalau dilihat dalam kamus, maka ‘Providence’ berarti ‘pemeliharaan baik’. Tetapi dalam Theologia, ‘Providence’ berarti lebih dari sekedar ‘pemelihara-an baik’. ‘Providence’ adalah pelaksanaan yang tidak mungkin gagal dari Rencana Allah, atau, pemerintahan / pengaturan terhadap segala sesuatu sehingga Rencana Allah terlaksana.
B. B. Warfield: “His works of providence are merely the execution of His all-embracing plan” (= PekerjaanNya dalam providence semata-mata merupakan pelaksanaan dari rencanaNya yang mencakup segala sesuatu) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 281.
Jadi sekalipun Providence berbeda dengan Rencana Allah, tetapi keduanya berhubungan sangat erat.

II) Providence tidak mungkin gagal.

A)  Rencana Allah sudah ada / direncanakan sejak semula (2Raja-raja 19:25  Maz 139:16  Yes 25:1  Yes 37:26  Yes 46:10  2Tim 1:9) dan Rencana Allah itu tidak mungkin berubah / gagal (Bil 23:19  1Sam 15:29  Maz 33:11).
Charles Hodge:
“Change of purpose arises either from the want of wisdom or from the want of power. As God is infinite in wisdom and power, there can be with Him no unforeseen emergency and no inadequacy of means, and nothing can resist the execution of his original intention” (= Perubahan rencana timbul atau karena kekurangan hikmat atau kekurangan kuasa. Karena Allah itu tidak terbatas dalam hikmat dan kuasa, maka dengan Dia tidak bisa ada keadaan darurat yang tidak dilihat lebih dulu, dan tidak ada kekurangan jalan / cara, dan tidak ada yang bisa menahan / menolak pelaksanaan dari maksud / rencana yang semula) - ‘Systematic Theology’, vol I, hal 538-539.

Kalau manusia membuat rencana, maka manusia membuatnya secara bertahap. Misalnya pada waktu kita ada di SMP kita merencanakan untuk masuk SMA tertentu, dan pada waktu di SMA baru kita meren­canakan untuk masuk perguruan tinggi tertentu. Setelah lulus dari perguruan tinggi, baru kita merencanakan untuk bekerja di tempat tertentu, dsb. Tidak ada manusia yang dari lahir lalu bisa meren­canakan segala sesuatu dalam seluruh hidupnya! Mengapa? Karena manusia tidak maha tahu sehingga ia tidak mampu melakukan hal itu. Manusia membutuhkan penambahan pengetahuan untuk bisa membuat rencana lanjutan.
Tetapi Allah yang maha tahu dan maha bijaksana, merencanakan seluruh RencanaNya sejak semula!

Orang Arminian / non Reformed percaya bahwa Allah bisa mengubah RencanaNya, dan percaya bahwa Rencana Allah bisa gagal. Sebetul­nya ini merupakan suatu penghinaan bagi Allah karena ini menyamakan Allah dengan manusia, yang sering harus mengubah rencananya dan gagal dalam mencapai rencananya!
Ada banyak alasan / dasar yang menyebabkan kita harus percaya bahwa Allah tidak mungkin mengubah rencanaNya atau gagal dalam mencapai rencanaNya:
·         Ayat-ayat pada point II A di atas secara jelas menunjukkan bahwa Rencana Allah tidak mungkin gagal!
·         kemahatahuan Allah.
Pada waktu Allah merencanakan, bukankah Ia sudah tahu apakah rencanaNya akan berhasil atau gagal? Kalau Ia tahu bahwa Renca­naNya akan gagal, lalu mengapa Ia tetap merencanakannya?
·         kemahabijaksanaan Allah.
Kebijaksanaan Allah menyebabkan Ia pasti membuat rencana yang terbaik. Kalau ini diubah, maka akan menjadi bukan yang ter­baik. Ini tidak mungkin!
·         kemahakuasaan Allah.
Manusia sering gagal mencapai rencananya atau terpaksa mengubah rencananya karena ia tidak maha kuasa, sehingga tidak mampu untuk mencapai / melaksanakan rencananya. Tetapi Allah yang maha kuasa tidak mungkin gagal mencapai rencanaNya atau terpaksa harus mengubah rencanaNya (Yes 14:24,26-27  25:1b  37:26  43:13b)!
·         kedaulatan Allah tidak memungkinkan Ia untuk mengubah rencana-Nya, karena perubahan rencana membuat Ia menjadi tergantung pada situasi dan kondisi (tidak lagi berdaulat).

B)  Providence / pelaksanaan Rencana Allah tidak mungkin gagal (Ayub 42:2  Yes 14:24,26-27  Yes 46:10-11).
Contoh:
·         Allah merencanakan supaya Rut dan Boas menikah dan dari pernikahan itu mereka menurunkan Yesus / Mesias.
Kelihatannya Rencana Allah ini sukar terlaksana karena Rut ada di Moab dan Boas ada di Yehuda. Tetapi Allah yang maha kuasa itu mengatur sehingga hal itu akhirnya terjadi juga, sehingga mereka menikah dan akhirnya menurunkan Yesus (baca Rut 1-4).
·         Allah merencanakan bahwa Yesus akan lahir di Betlehem (Mikha 5:1  Luk 2:1-7). Kelihatannya Rencana Allah yang satu ini akan gagal, karena Maria sudah hamil besar dan saat itu ia masih ada di Nazaret. Tetapi Allah mengatur dengan menggerakkan hati kaisar untuk meng-ada­kan sensus (bdk. Amsal 21:1) sehingga Yusuf dan Maria terpaksa pergi ke Betlehem dan akhirnya Yesus lahir di Betlehem.

C)  Problem ‘Allah menyesal’ (Kej 6:5-6  Kel 32:10-14  1Sam 15:11  Yes 38:1,5  Yer 18:8  Yunus 3:10  Amos 7:3,6).
Apakah ini berarti bahwa Allah mengubah RencanaNya? Tidak!
Penjelasan:

1)   Prinsip Hermeneutics yang sangat penting adalah: kita tidak boleh menafsirkan suatu bagian Kitab Suci sehingga bertentangan dengan bagian lain dari Kitab Suci. Karena itu, maka penafsiran ayat-ayat pada point C) ini tidak boleh bertentangan dengan ayat-ayat pada point A) dan B). Kalau kita menafsirkan bahwa ‘Allah menyesal’ dalam ayat-ayat di sini memang menunjukkan bahwa Allah mengubah renca-naNya, maka jelas bahwa ayat-ayat ini akan bertentangan dengan ayat-ayat pada point A) dan B).

2)   ‘Allah menyesal’ adalah Anthropopathy.
Kitab Suci sering menggunakan bahasa Anthropomorphism (bahasa yang menggam­barkan Allah seakan-akan Ia adalah manusia) dan Anthropopathy (bahasa yang menggambarkan Allah dengan perasa-an-perasaan manusia). Kalau Kitab Suci menggunakan bahasa An-thropomorphism, maka tidak boleh diartikan betul-betul demikian. Misalnya kalau dikatakan ‘tangan Allah tidak kurang panjang’ (Yes 59:1), atau pada waktu dikatakan ‘mata TUHAN ada di segala tempat’ (Amsal 15:3). Ini tentu tidak berarti bahwa Allah betul-betul mempu-nyai tangan / mata. Ingat bahwa Allah adalah Roh (Yoh 4:24). Demi-kian juga pada waktu Kitab Suci menggunakan Anthropopathy / meng-gambarkan Allah menggunakan perasaan-perasaan manusia, kita tidak boleh mengartikan bahwa Allahnya betul-betul seperti itu. Con-tohnya adalah ayat-ayat yang menunjukkan ‘Allah menyesal’ ini.
Perlu saudara ingat bahwa manusia bisa menyesal, karena ia tidak maha tahu. Misalnya, seorang laki-laki melihat seorang gadis dan ia menyangka gadis itu seorang yang layak ia peristri. Tetapi setelah menikah, barulah ia tahu akan adanya banyak hal jelek dalam diri istrinya itu yang tadinya tidak ia ketahui. Ini menyebabkan ia lalu menyesal telah memperistri gadis itu.
Tetapi Allah itu maha tahu, sehingga dari semula Ia telah tahu segala sesuatu yang akan terjadi. Karena itu tidak mungkin Ia bisa menyesal!
Kalau Kitab Suci mengatakan bahwa Allah menyesal karena terjadinya sesuatu hal, maka maksudnya hanyalah menunjukkan bahwa hal itu tidak menyenangkan Allah.

3)   Pada waktu Kitab Suci mengatakan ‘Allah menyesal’ maka itu berarti bahwa hal itu ditinjau dari sudut pandang manusia.
Illustrasi: Ada seorang sutradara yang menyusun naskah untuk sandi-wara, dan ia juga sekaligus menjadi salah satu pemain sandiwara tersebut. Dalam sandiwara itu ditunjukkan bahwa ia mau makan, tetapi tiba-tiba ada telpon, sehingga ia lalu tidak jadi makan. Dari sudut penonton, pemain sandiwara itu berubah piki­ran / rencana. Tetapi kalau ditinjau dari sudut naskah / sutradara, ia sama sekali tidak ber-ubah dari rencana semula, karena dalam naskah sudah direncanakan bahwa ia mau makan, lalu ada telpon, lalu ia mengubah rencana / pikirannya, dsb.
Pada waktu Kitab Suci berkata ‘Allah menyesal’ maka memang dari sudut manusia, Allahnya menyesal / mengubah rencanaNya. Tetapi dari sudut Allah / Rencana Allah, sebetulnya tidak ada perubahan, karena semua perubahan / penyesalan itu sudah direncanakan oleh Allah.

III) Providence berhubungan dengan segala sesuatu.

A)  Rencana Allah berhubungan dengan segala sesuatu.
Dasar dari pandangan ini:

1)         Dasar Kitab Suci:
·         Maz 139:16 - ‘... dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya’.
·         Mat 10:29-30 - hal-hal yang remeh seperti jatuhnya burung pipit yang tidak berharga, atau rontoknya rambut kita, ternyata hanya bisa terjadi kalau itu sesuai dengan kehendak / Rencana Allah.
·         Kel 21:13 - hal-hal yang kelihatannya kebetulan hanya bisa terjadi kalau itu sesuai kehendak Allah.
Semua ini menunjukkan bahwa dalam membuat rencanaNya, Allah bukan hanya merencanakan / menetapkan garis besarnya saja, tetapi lengkap dengan semua detail-detailnya.

2)   Bahwa Rencana Allah berhubungan dengan segala sesuatu, juga bisa terlihat dari kemahatahuan Allah:

a)   Loraine Boettner:
“Foreknowledge implies certainty and certainty implies foreordination” (= pengetahuan lebih dulu secara tidak langsung menunjuk pada kepastian, dan kepastian secara tidak langsung menunjuk pada penetapan lebih dulu) - Loraine Boettner, ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 44.

Penjelasan: Bayangkan saat dimana alam semesta, malaikat, manusia, dsb belum diciptakan. Yang ada hanyalah Allah sendiri. Pada saat itu, karena Allah itu maha tahu, maka Ia sudah tahu segala sesuatu (dalam arti kata yang mutlak) yang akan terjadi, termasuk dosa. Semua yang Ia tahu akan terjadi itu pasti terjadi persis seperti yang Ia ketahui. Dengan kata lain, semua itu sudah tertentu pada saat itu. Kalau sudah tertentu, pasti ada yang menentukan (karena tidak mungkin hal-hal itu menentukan dirinya sendiri). Karena pada saat itu hanya ada Allah sendiri, maka jelas bahwa Ialah yang menen­tukan semua itu.

b)   Dalam persoalan ini perlu saudara ketahui bahwa penentuan itu terjadi bukan karena Allah sudah tahu.
Roma 8:29 (NIV) - “For those He foreknew, He also predestined ...” (= Karena mereka yang Ia ketahui lebih dulu, juga Ia tentukan ...).
Ayat ini sering dipakai oleh orang Arminian sebagai dasar untuk mengatakan bahwa Allah menentukan karena Dia sudah tahu bahwa hal itu akan terjadi. Jadi, Allah menentukan supaya si A menjadi orang beriman, karena Ia tahu bahwa orang itu akan menjadi orang beriman. Allah menentukan si B menjadi orang saleh, karena Ia tahu si B akan mentaati Dia, dsb.

Untuk mengerti Ro 8:29 ini mari kita melihat penjelasan di bawah ini:

1.         Pembahasan kata ‘know’ (= tahu) dalam Kitab Suci.

·         dalam Perjanjian Lama.
Kata ‘know’ (= tahu) dalam bahasa Ibrani adalah YADA.
Kata YADA ini digunakan dalam Kej 4:1 (KJV/Lit): “Adam knew Eve his wife, and she conceived” (= Adam tahu / kenal Hawa istrinya, dan ia mengandung).
Dari sini bisa kita lihat bahwa ‘to know’ tidak selalu sekedar berarti ‘tahu’, tetapi ada kasih / hubungan intim di dalamnya.
Kata YADA ini digunakan dalam Kej 18:19 dan diterjemahkan ‘memilih’ oleh Kitab Suci Indonesia.
“Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikanNya kepadanya”.
RSV, NIV, NASB menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia!
ASV/KJV/NKJV tetap menterjemahkan ‘know’, tetapi kalimatnya jadi aneh.
Kej 18:19 (KJV): “For I know him, that he will command his children and his household after him, and they shall keep the way of the LORD, to do justice and judgment; that the LORD may bring upon Abraham that which he hath spoken of him” (= Karena Aku mengetahui / mengenalnya, bahwa ia akan memerintahkan anak-anaknya dan seisi rumahnya / keturunannya, dan mereka akan hidup menurut jalan TUHAN, melakukan keadilan dan penghakiman; supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dikatakanNya kepadanya).
Dalam Amos 3:2, kata YADA diterjemahkan ‘kenal’ oleh Kitab Suci Indonesia.
“Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu”.
KJV/ASV/RSV tetap menterjemahkan ‘know’, tetapi NIV/NASB menterjemahkan ‘choose’ (= memilih).
Tentang kata YADA dalam Amos 3:2 ini B. B. Warfield berkata: “what is thrown prominently forward is clearly the elective love which has singled Israel out for special care” (= apa yang ditonjolkan ke depan secara menyolok jelas adalah kasih yang memilih yang telah memilih / mengkhususkan Israel untuk perhatian istimewa) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 288.
Loraine Boettner: “The word ‘know’ is sometimes used in a sense other than that of having merely an intellectual perception of the thing mentioned. It occasionally means that the persons so ‘known’ are the special and peculiar objects of God’s favor, as when it was said of the Jews, ‘You only have I known of all the families of the earth,’ Amos 3:2.” [= Kata ‘tahu’ kadang-kadang digunakan bukan dalam arti sekedar pengetahuan intelektual tentang hal yang disebutkan. Kadang-kadang kata ini berarti bahwa orang yang ‘diketahui’ merupakan obyek istimewa dan khusus dari kemurahan / kebaikan hati Allah, seperti pada waktu dikatakan tentang orang-orang Yahudi: ‘Hanya kamu yang Kukenal / Kuketahui dari segala kaum di muka bumi’ (Amos 3:2)] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 100.
Penggunaan kata YADA yang lain:
*        Kel 2:25 - diterjemahkan ‘memperhatikan’.
*        Maz 1:6 - diterjemahkan ‘mengenal’.
*        Maz 101:4 - diterjemahkan ‘tahu’.
*        Nahum 1:7 - diterjemahkan ‘mengenal’.
Dalam semua ayat-ayat di atas ini kata YADA tidak memungkinkan untuk diartikan sebagai sekedar suatu pengetahuan intelektual.

·         dalam Perjanjian Baru.
Kata ‘know’ (= tahu) dalam bahasa Yunani adalah GINOSKO, dan digunakan dalam Mat 7:23  Yoh 10:14,27  1Kor 8:3  Gal 4:9  2Tim 2:19. Baca ayat-ayat ini dan saudara akan melihat bahwa dalam ayat-ayat inipun kata know / GINOSKO tidak bisa diartikan sekedar sebagai pengetahuan intelektual.

2.   Pembahasan kata ‘foreknow’ (= mengetahui lebih dulu) / ‘fore-knowledge’ (= pengetahuan lebih dulu).
Ayat-ayat yang mengandung kata-kata foreknowledge, fore-knew, dsb: Ro 11:2  Kis 2:23  1Pet 1:2  1Pet 1:19-20.

Loraine Boettner:
“Those in Romans 8:29 are foreknown in the sense that they are fore-appointed to be the special objects of His favor. This is shown more plainly in Rom. 11:2-5, where we read, ‘God did not cast off His people whom He foreknew’” (= Mereka dalam Ro 8:29 diketahui lebih dulu dalam arti bahwa mereka ditetapkan lebih dulu untuk menjadi obyek khusus kemurahan hatiNya. Ini ditunjukkan lebih jelas dalam Ro 11:2-5, dimana kita membaca: ‘Allah tidak menolak / membuang umatNya yang dipilihNya / diketahuiNya lebih dulu’) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 100.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah:
¨      ‘menentukan karena sudah tahu’ tidak bisa disebut sebagai ‘menentukan’.
¨      Kalau Allah sudah tahu bahwa suatu hal akan terjadi, maka hal itu pasti akan terjadi. Lalu apa gunanya ditentukan lagi?
¨      Kalau kita menafsirkan Ro 8:29 sebagai ‘menentukan karena sudah tahu’, maka ini akan bertentangan dengan Ef 1:4,5,11.
Þ    Ef 1:4 mengatakan bahwa kita dipilih supaya menjadi kudus / tak bercacat. Jadi, pemilihan itulah yang menyebabkan kita menjadi kudus / tak bercacat. Jadi, dalam pemikiran Allah, pemilihan itu yang ada dulu, dan tujuannya adalah supaya kita menjadi kudus dan tidak bercacat. Sedangkan kalau diambil penafsiran tadi / penafsiran Arminian, maka ‘kudus / tak bercacat’ inilah yang ada dulu dalam pemikiran Allah, dan sebagai akibatnya maka kita dipilih.
Þ    Ef 1:5b,11b menunjukkan bahwa kita dipilih sesuai dengan kerelaan kehendak Allah (dalam bahasa Jawa / pasaran mungkin bisa dikatakan ‘saksirnya Allah’). Jadi jelas bahwa pemilihan itu dilakukan oleh Allah bukan karena Ia melihat akan adanya sesuatu yang baik dalam diri kita!   

c)   Hubungan yang benar tentang kemahatahuan Allah dan penetapan Allah.
B. B. Warfield: “... God foreknows only because He has pre-determined, and it is therefore also that He brings it to pass; His foreknowledge, in other words, is at bottom a knowledge of His own will” (= ... Alah mengetahui lebih dulu hanya karena Ia telah menentukan lebih dulu, dan karena itu juga Ia menyebabkannya terjadi; dengan kata lain, pengetahuan lebih dulu ini pada hakekatnya adalah pengetahuan tentang kehendakNya sendiri) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 281.

B)  ‘Providence’ adalah pelaksanaan Rencana Allah dan karena Rencana Allah berhubungan dengan segala sesuatu, maka ‘Providence’ juga berhubungan dengan segala sesuatu.
Hal-hal alamiah yang kelihatannya terjadi dengan sendirinya (secara otomatis, diatur oleh hukum alam), ternyata juga diatur / diperintah / dikontrol oleh Allah setiap saat.
Contoh:
·         matahari (Yos 10:13  Yes 38:8).
·         kelihatannya tumbuh-tumbuhan hidup karena sinar matahari, tetapi Allah menciptakan tumbuh-tumbuhan pada hari ke 3 dan matahari pada hari ke 4, dan ini menunjukkan bahwa tumbuh-tumbuhan itu mendapatkan kehidupan dari Allah, bukan dari matahari.
·         orang mendapat anak (Maz 127:3  1Sam 1:5,19-20).
·         semua makhluk / binatang dapat makan (Maz 136:25  Maz 104:27-28).
·         kesehatan bukan dari makanan tetapi dari Allah (Dan 1:8-15).

Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa ‘Providence’ berhubungan dengan segala sesuatu:
¨      Kel 12:36 - Tuhan yang membuat orang Mesir bermurah hati kepada orang Israel.
¨      2Sam 17:14 - Tuhan yang bekerja sehingga nasehat Ahitofel ditolak dan ini menyebabkan kekalahan Absalom.
¨      Ezra 1:1 - Tuhan menggerakkan hati raja Koresy.
¨      Maz 75:7-8 - peninggian / perendahan seseorang merupakan pekerjaan Allah.
¨      Maz 135:6-7 - semua yang terjadi di bumi, di laut / samudera raya, baik kabut, kilat, angin dsb merupakan pekerjaan Allah.
¨      Amsal 16:1,9 - kata-kata dan arah langkah kita telah ditetapkan oleh Tuhan (bdk. Amsal 20:24).
¨      Amsal 19:21 - manusia bisa merencanakan, tetapi keputusan Tuhan-lah yang terlaksana.
¨      Amsal 21:1 - Hati raja diarahkan oleh Tuhan sesuai kehendakNya.
¨      Amsal 21:31 - kemenangan dalam perang bukan tergantung persiapan kekuatan pasukan, tetapi tergantung Tuhan.
¨      Amsal 22:2 (NIV) - “Rich and poor have this in common: The LORD is the Maker of them all” (= orang kaya dan miskin mempunyai persamaan dalam hal ini: Tuhan adalah pembuat mereka semua).
Ini sesuai dengan Maz 75:7-8 di atas, dan menunjukkan bahwa orang bisa jadi kaya / miskin karena pekerjaan Tuhan.
¨      Pengkhotbah 7:14 - hari malang juga dijadikan oleh Allah
¨      Yes 45:7 - nasib mujur / malang diciptakan Tuhan.
¨      Ratapan 3:37-38 - dari mulut Tuhan keluar apa yang buruk dan yang baik.
¨      Amos 3:6 - Tuhanlah yang mengerjakan semua malapetaka.
¨      Yak 4:13-16 - keberhasilan dalam usaha kita tergantung pada kehendak Tuhan.

C)  Bahwa Rencana Allah dan Providence of God berhubungan dengan segala sesuatu menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang berdau­lat secara mutlak!
Kata ‘berdaulat’ dalam bahasa Inggris adalah ‘sovereign’, yang berasal dari bahasa Latin superanus (super = above, over), dan yang dalam Kamus Webster diberikan definisi sebagai berikut:
a)Above or superior to all others; chief; greatest; supreme.
b)supreme in power, rank, or authority.
c)of or holding the position of a ruler; royal; reigning
d)independent of all others.
Karena itu kalau kita percaya bahwa Allah itu berdaulat, maka kita juga harus percaya bahwa Ia menetapkan segala sesuatu, dan Ia melaksana-kan ketetapanNya itu tanpa tergantung pada siapapun dan apapun di luar diriNya!
Jelas adalah omong kosong kalau seseorang berbicara tentang kedaulatan Allah / mengakui kedaulatan Allah, tetapi tidak mempercayai bahwa Rencana Allah dan Providence of God itu men­cakup segala se-suatu dalam arti kata yang mutlak!

D)  Rencana Allah dan pelaksanaannya (Providence of God) tidak terlepas dari sifat-sifat Allah, seperti kasih, bijaksana, dan suci.

Loraine Boettner:
“Although the sovereignty of God is universal and absolute, it is not the sovereignty of blind power. It is coupled with infinite wisdom, holiness and love. And this doctrine, when properly understood, is a most comforting and reassuring one. Who would not prefer to have his affairs in the hands of a God of infinite power, wisdom, holiness and love, rather than to have them left to fate, or chance, or irrevocable natural law, or to short-sighted and perverted self? Those who reject God’s sovereignty should consider what alternatives they have left” (= Sekalipun kedaulatan Allah itu bersifat universal dan mutlak, tetapi itu bukanlah kedaulatan dari kuasa yang buta. Itu digabungkan dengan kebijaksanaan, kekudusan dan kasih yang tidak terbatas. Dan doktrin ini, jika dimengerti dengan tepat, adalah doktrin yang paling menghibur dan menenteramkan. Siapa yang tidak lebih menghendaki perkaranya ada dalam tangan Allah yang mempunyai kuasa, kebijaksanaan, kekudusan dan kasih yang tidak terbatas, dari pada menyerahkannya pada nasib / takdir, atau kebetulan, atau hukum alam yang tidak bisa dibatalkan, atau pada diri sendiri yang cupet dan sesat? Mereka yang menolak kedaulatan Allah harus mempertimbangkan alternatif-alternatif lain yang ada) - Loraine Boettner, ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 32.

IV) Providence dan dosa.

1)   Rencana Allah dan dosa.
Bahwa dalam Rencana Allah juga tercakup dosa bisa terlihat dari:

a)   Dalam point III A di atas sudah ditunjukkan bahwa Rencana Allah berhubungan dengan segala sesuatu, dan itu berarti terma­suk dosa.

b)   Rencana Allah tentang penebusan dosa oleh Kristus (1Pet 1:19-20) menunjukkan adanya Rencana / penentuan terjadinya dosa.
Bahwa penebusan dosa sudah ditentukan, jelas menunjukkan bahwa:
·         dosa yang akan ditebus itupun harus juga sudah ditentukan! Ka-rena kalau tidak, bisa-bisa penebusan dosa itu tidak terjadi.
·         pembunuhan yang dilakukan terhadap Kristus, yang dilakukan dengan menyalibkan Dia, jelas juga sudah ada dalam Rencana Allah (Kis 2:23  Kis 4:27-28). Padahal pembunuhan ini jelas adalah dosa!
Charles Hodge: “The crucifixion of Christ was beyond doubt foreordained of God. It was, however, the greatest crime ever committed. It is therefore beyond all doubt the doctrine of the Bible that sin is foreordained” (= Penyaliban Kristus tidak diragukan lagi ditentukan lebih dulu oleh Allah. Tetapi itu adalah tindakan kriminal terbesar yang pernah dilakukan. Karena itu tidak perlu diragukan lagi doktrin Alkitab bahwa dosa itu ditentukan lebih dulu) - ‘Systematic Theology’, vol I, hal 544.

c)         Dosa / kejatuhan Adam mempunyai 3 kemungkinan:
·         Adam ditentukan untuk tidak jatuh.
Kemungkinan ini harus dibuang, karena kalau Adam direncanakan untuk tidak jatuh, maka ia pasti tidak jatuh (ingat bahwa Rencana Allah tidak bisa gagal - lihat point II A di atas).
·         Allah tidak merencanakan apa-apa tentang hal itu.
Ini juga tidak mungkin karena kalau Allah mempunyai Rencana / kehendak tentang hal-hal yang remeh / tidak berarti seperti jatuhnya burung pipit ke bumi atau rontoknya rambut kita (bdk. Mat 10:29-30), bagaimana mungkin tentang hal yang begitu besar dan penting, yang menyangkut kejatuhan dari ciptaanNya yang tertinggi, Ia tidak mempunyai Rencana?
·         Allah memang merencanakan / menetapkan kejatuhan Adam ke dalam dosa.
Inilah satu-satunya kemungkinan yang tertinggal, dan inilah satu-satunya kemungkinan yang benar, dan ini menunjukkan bahwa dosa sudah ada dalam Rencana Allah.

d)   Dasar Kitab Suci yang menunjukkan adanya dosa dalam Rencana Allah:
·         Kel 3:19 - Firaun ditentukan untuk tidak taat.
·         Ul 31:16-21 - Allah sudah menetapkan kemurtadan Israel.
·         2Sam 12:11-12 (bdk. 2Sam 16:22) - bahwa Absalom akan meniduri istri-istri Daud adalah sesuatu yang sudah ditentukan sebe­lumnya.
·         2Raja 8:11-13 - kekejaman Hazael sudah ditentukan sebe­lumnya.
·         Yes 6:9-10 (bdk. Mat 13:13-15 / Mark 4:12 / Luk 8:10  Yoh 12:40  Kis 28:26-27) - Allah sudah menentukan bahwa Yehuda akan menolak Firman Tuhan yang akan disampaikan oleh Yesaya, dan Allah juga sudah menentukan bahwa orang-orang Yahudi akan menolak Kristus.
·         Daniel 11:36 - dosa dari raja ini sudah ditetapkan.
·         Mat 18:7 - penyesatan harus ada. Ini jelas adalah dosa, tetapi ini telah ditetapkan oleh Allah.
·         Mat 24:5,10-12,24 - nabi palsu dan Mesias palsu harus ada.
·         Mark 14:27-31,66-72 - larinya murid-murid meninggalkan Yesus, dan penyangkalan Petrus sebanyak 3 x sudah ditentukan sebelumnya. Bahkan saat penyangkalan sudah ditentukan, yaitu sebelum ayam berkokok 2 x. Bagaimanapun kerasnya keinginan Petrus untuk menolak terjadi­nya hal itu, akhirnya hal itu tetap terjadi.
·         Luk 17:25 - Penolakan dan penyiksaan terhadap Yesus harus terjadi.
·         Luk 22:22 - “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan”.
Ayat ini menunjukkan bahwa pengkhianatan yang dilakukan oleh Yudas terhadap Yesus, yang jelas adalah suatu dosa, telah ditetapkan oleh Allah.
Sesuatu yang sangat menarik dan sangat penting untuk diperhatikan adalah bahwa ayat paralel dari Luk 22:22 itu, yaitu Mat 26:24, berbunyi sebagai berikut: “Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan”.
Dengan membandingkan kedua ayat yang paralel ini, terlihat jelas bahwa tertulisnya pengkhianatan Yudas dalam Kitab Suci (Mat 26:24) berarti bahwa hal itu memang telah ditetapkan oleh Allah (Luk 22:22). Jadi, kalau dalam Kitab Suci dinubuatkan sesuatu, itu tidak sekedar berarti bahwa Allah hanya tahu hal itu akan terjadi dan lalu memberitahukan hal itu kepada manusia, tetapi berarti bahwa Allah sudah menetapkan hal itu! Bdk. Yes 46:10-11. Bdk. juga Amos 3:7 - ‘menyatakan keputusanNya kepada hamba-hambaNya, para nabi’ = menyatakan decree of God / ketetapan Allah kepada para nabi untuk dinubuatkan.
·         Kis 2:23  Kis 3:18-20  Kis 4:27-28 - pembunuhan terhadap Kristus (ini adalah dosa yang paling terkutuk) sudah ditentu­kan sejak semula. Perhatikan khususnya Kis 4:28 yang menggunakan kata ‘tentukan’. Jelas ini bukan sekedar menunjuk pada foreknowledge (= pengetahuan lebih dulu) dari Allah.
·         1Tim 4:1 - bahwa orang-orang akan murtad dan mengikuti ajaran-ajaran sesat sudah ditentukan sebelumnya.
·         2Tim 3:1-5 - kebrengsekan orang-orang pada akhir jaman sudah ditetapkan dan pasti akan terjadi.
·         2Tim 4:3-4 - Paulus mengatakan bahwa akan datang waktunya orang tidak dapat lagi mendengar ajaran sehat, tetapi akan mengumpulkan guru-guru palsu yang menyenangkan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.
·         Wah 6:11 - istilah ‘genap’ menunjukkan bahwa jumlah orang yang dibunuh sudah ditentukan.

e)   Penentuan dosa sejalan dengan doktrin-doktrin Reformed yang lain, seperti:
·         Election / pemilihan (Ro 9:6-24  Ef 1:4,5,11  1Tes 5:9  2Tes 2:13  2Tim 1:9), karena manusia dipilih untuk diselamatkan dari dosa.
·         Reprobation / penentuan binasa (Amsal 16:4  Yoh 17:12  Ro 9:13,17-18,21-22  1Pet 2:8  Yudas 4), yang jelas mensyaratkan penetapan dosa dalam kehidupan orang-orang yang ditentukan untuk binasa itu.
·         Infralapsarianisme maupun Supralapsarianisme, yang sama-sama percaya adanya penetapan dosa.
Jika saudara adalah orang yang mengaku Reformed, tetapi tidak percaya Allah tetapkan dosa, maka renungkanlah hal-hal di atas ini!

2)   Terjadinya dosa.

a)   Dalam hal ini Allah bekerja secara pasif (dalam terjadinya hal-hal yang baik, misalnya dalam kelahiran baru, pengudusan, dsb, Allah bekerja secara aktif). Dengan kasih karuniaNya, Allah mengekang / menahan manusia sehingga tidak berbuat dosa. Pada saat Allah menghendaki dosa terjadi (sesuai dengan RencanaNya), maka Ia mengangkat kasih karuniaNya itu, dan dosapun terjadi.
Perhatikan istilah ‘Allah menyerahkan’ dalam Ro 1:24,26,28 (bdk. Maz 81:12-13). Ini menunjukkan bahwa Allah mencabut kasih karunia-Nya yang tadinya menahan manusia untuk berbuat dosa, dan karena itu dosapun terjadi.
Lihat juga Kis 14:16 yang berbunyi: ‘Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing’.

b)   Allah menggunakan ‘second causes’ (= penyebab-penyebab kedua), misalnya:
·         setan.
Contoh:
*        Ayub 1:15,17
*        1Sam 16:14
*        1Raja-raja 22:19-23
*        1Taw 21:1 & 2Sam 24:1
·         manusia.
Contoh:
*        1Raja-raja 22:19-23
*        Mat 24:4-5

Kedua point di atas (Allah pasif dan adanya penggunaan ‘second causes’) menyebabkan Allah bukanlah pencipta dosa (God is not the author of sin).

c)         Istilah ‘Allah mengijinkan’.

·         Banyak orang menggunakan istilah ini untuk melindungi kesucian Allah. Tetapi kalau ‘penentuan Allah tentang terja­dinya dosa’ dianggap sebagai dosa, maka ‘pemberian ijin dari Allah sehingga dosa terjadi’ juga harus dianggap sebagai dosa (dosa pasif). Sama halnya kalau saya membunuh orang maka itu adalah dosa (dosa aktif). Tetapi kalau saya membiarkan / mengijinkan seseorang bunuh diri, padahal saya bisa mencegahnya, maka saya juga berdosa (dosa pasif) - bdk. Yak 4:17!

·         Istilah ‘Allah mengijinkan’ boleh digunakan, tetapi artinya harus benar. Ini tidak berarti bahwa sebetulnya Allah merencanakan seseorang berbuat baik / tidak berbuat dosa, tetapi karena orangnya memaksa berbuat dosa, maka Allah mengijinkan. Kalau diartikan seperti ini, maka itu berarti bahwa Rencana Allah sudah gagal, dan ini bertentangan dengan point II,A dan II,B di atas.  ‘Allah mengijinkan’ berarti bahwa Allah bekerja secara pasif dan Ia menggunakan second causes, tetapi dosa yang diijinkan itu pasti terjadi, persis sesuai dengan rencana Allah! Jadi digunakannya istilah ‘Allah mengijinkan’ hanyalah karena dalam pelaksanaannya Allah bekerja secara pasif dan menggunakan second causes.

3)   Ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan hubungan Providence & dosa:
·         Kej 45:5-8 - khususnya perhatikan kata-kata ‘Allah menyuruh aku mendahului kamu’ (ay 5,7) dan ‘bukan kamu yang menyuruh aku ke sini tetapi Allah’ (ay 8). Bdk. Maz 105:17 - ‘diutusNyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual sebagai budak’.
Semua ini menunjukkan bahwa penjualan Yusuf ke Mesir, yang jelas adalah suatu dosa, merupakan pekerjaan Allah, yang melakukan semua itu untuk melaksanakan rencana tertentu.
Dalam tafsirannya tentang bagian ini, Calvin berkata:
“Good men are ashamed to confess, that what men undertake cannot be accomplished except by the will of God; fearing lest unbridled tongues should cry out immediately, either that God is the author of sin, or that wicked men are not to be accused of crime, seeing they fulfil the counsel of God. But although this sacrilegious fury cannot be effectually rebutted, it may suffice that we hold it in detestation. Meanwhile, it is right to maintain, what is declared by the clear testimonies of Scripture, that whatever men may contrive, yet, amidst all their tumult, God from heaven overrules their counsels and attempts; and, in short, does, by their hands, what he himself decreed” (= Orang-orang saleh malu mengakui, bahwa apa yang manusia lakukan tidak bisa tercapai kecuali oleh kehendak Allah; karena mereka takut bahwa lidah-lidah yang tidak dikekang akan segera berteriak, bahwa Allah adalah pencipta dosa, atau bahwa orang jahat tak boleh dituduh karena kejahatannya, mengingat mereka menggenapi rencana Allah. Tetapi sekalipun kemarahan yang tidak senonoh ini tidak bisa dibantah secara efektif, cukuplah kalau kita menganggapnya sebagai sesuatu yang menjijikkan. Sementara itu, adalah benar untuk mempertahankan, apa yang dinyatakan oleh kesaksian yang jelas dari Kitab Suci, bahwa apapun yang manusia usahakan / rencanakan, di tengah-tengah segala keributan mereka, Allah dari surga menguasai rencana dan usaha mereka, dan, singkatnya, melakukan dengan tangan mereka apa yang Ia sendiri tetapkan).
Calvin melanjutkan dengan berkata:
“Good men, who fear to expose the justice of God to the calumnies of the impious, resort to this distinction, that God wills some things, but permits others to be done. As if, truly, any degree of liberty of action, were he to cease from governing, would be left to men. If he had only permitted Joseph to be carried into Egypt, he had not ordained him to be the minister of deliverance to his father Jacob and his sons; which he is now expressly declared to have done. Away, then, with that vain figment, that, by the permission of God only, and not by his counsel or will, those evils are committed which he afterwards turns to a good account” (= Orang-orang saleh, yang takut membuka keadilan Allah terhadap fitnahan dari orang-orang jahat, memutuskan untuk mengadakan pembedaan ini, yaitu bahwa  Allah menghendaki beberapa hal, tetapi mengijinkan hal-hal yang lain untuk dilakukan. Seakan-akan Ia berhenti dari tindakan memerintah, dan memberikan kebebasan bertindak tertentu kepada manusia. Jika Ia hanya mengijinkan Yusuf untuk dibawa ke Mesir, Ia tidak menetapkannya untuk menjadi pembebas bagi ayahnya Yakub dan anak-anaknya; yang dinyatakan secara jelas telah dilakukanNya. Maka singkirkanlah isapan jempol yang sia-sia yang mengatakan bahwa hanya karena ijin Allah, dan bukan karena rencana atau kehendakNya, hal-hal yang jahat itu dilakukan yang setelah itu Ia balikkan menjadi sesuatu yang baik).
·         Kej 50:19-20 secara explicit menunjukkan bahwa sekalipun saudara-saudara Yusuf mereka-rekakan / memaksudkan yang jahat terhadap Yusuf, tetapi Allah telah mereka-rekakannya / memaksudkannya untuk kebaikan! Jadi, jelas bahwa Allah bekerja menggunakan dosa dari saudara-saudara Yusuf demi kebaikan Yusuf / Israel.
Dalam tafsirannya tentang bagian ini, Calvin berkata:
“The selling of Joseph was a crime detestable for its cruelty and perfidy; yet he was not sold except by the decree of heaven. For neither did God merely remain at rest, and by conniving for a time, let loose the reins of human malice, in order that afterwards he might make use of this occasion; but, at his own will, he appointed the order of acting which he intended to be fixed and certain. Thus we may say with truth and propriety, that Joseph was sold by the wicked consent of his brethren, and by the secret providence of God” (= Penjualan terhadap Yusuf adalah suatu kejahatan yang menjijikkan karena kekejaman dan pengkhianatannya; tetapi ia tidak dijual kecuali oleh ketetapan dari surga. Karena Allah bukannya semata-mata berdiam diri, dan sambil menutup mata / pura-pura tidak melihat untuk sementara waktu, melepaskan kendali terhadap keinginan jahat manusia, supaya setelah itu Ia bisa menggunakan kejadian ini; tetapi, pada kehendakNya sendiri, Ia menetapkan urut-urutan tindakan yang Ia maksudkan untuk menjadi tetap dan tertentu. Jadi kita bisa berkata dengan benar dan tepat, bahwa Yusuf dijual oleh persetujuan jahat dari saudara-saudaranya, dan oleh providensia rahasia dari Allah).
·         Kel 1:8-10 bdk. Maz 105:25. Jelas dikatakan bahwa Tuhanlah yang mengubah hati orang Mesir untuk membenci Israel, supaya dengan demikian rencanaNya bisa terlaksana.
·         Kel 4:21  7:3,22  8:15,19,32  9:12  9:15-16 (bdk. Ro 9:15-18)  9:34-35  10:1-2,20,27  11:10  14:4,8,17. Berulang kali dikatakan bahwa Allah mengeraskan hati Firaun! Dan itulah yang menyebabkan hati Firaun menjadi keras. Bahkan setelah Firaun terpaksa membiarkan Israel meninggalkan Mesir, Tuhan lalu bekerja mengeraskan hati Firaun, sehingga ia memerintahkan tentaranya untuk mengejar Israel. Tujuan Allah ialah supaya baik Israel maupun Mesir bisa melihat kuasaNya (Kel 10:1-2 14:4,17-18,30-31).
·         Ul 2:30 - Allah mengeraskan hati Sihon supaya bisa menyerahkannya ke tangan Israel.
·         Yosua 11:20 - Allah mengeraskan hati orang Kanaan supaya mereka tidak dikasihani tetapi ditumpas.
·         Hakim 9:22-24,56-57 - Allah membangkitkan semangat jahat dalam diri orang-orang tertentu supaya Ia bisa menghukum mereka (ay 23)!
·         Hakim 14:3-4 - Simson mau kawin dengan orang Filistin / kafir, dan hal itu datang dari Tuhan, karena Tuhan menghendaki Simson mencari gara-gara terhadap orang Filistin!
·         1Sam 2:25b - Tuhan bekerja sehingga anak-anak Eli tidak menuruti nasehat ayahnya (Catatan: ini adalah dosa!) karena Tuhan hendak membunuh mereka.
·         2Sam 12:11 bdk. 2Sam 16:20-23 - Tuhan bekerja sehingga Absalom tidur dengan gundik-gundik Daud.
·         2Sam 16:10-11 - Tuhan ‘menyuruh’ (= bekerja sehingga) Simei mengutuki Daud.
·         2Sam 24:1 bdk. 1Taw 21:1.
Dua bagian Kitab Suci ini akan bertentangan kecuali kita menafsirkan Allah sebagai first cause (= penyebab pertama), dan setan sebagai second cause (= penyebab kedua) dari peristiwa sensus ini.
Catatan: Orang yang menolak doktrin Providence of God yang diajarkan oleh orang Reformed / Calvinist ini pasti akan kesulitan untuk mengharmoniskan 2 bagian Kitab Suci yang kelihatannya bertentangan ini!
·         1Raja 11:14,23 - Tuhan membangkitkan lawan-lawan untuk memberontak terhadap Salomo.
·         1Raja 12:15,24 (2Taw 10:15  11:4) - Tuhan bekerja sehingga Rehabeam menolak nasehat yang baik dari tua-tua, karena Tuhan mau memecah Israel.
·         1Raja 22:20-23 (2Taw 18:19-22) - Tuhan ‘kongkalikong’ dengan setan? Ini lagi-lagi menunjukkan Tuhan sebagai first cause dan setan sebagai second cause pada peristiwa penyesatan oleh nabi-nabi palsu terhadap Ahab.
·         2Raja 19:25 - Tuhan mewujudkan ketetapan / rencanaNya tentang penghancuran Israel / Yerusalem.
·         1Taw 10:4,14 - sekalipun Saul bunuh diri, tetapi tetap dikatakan bahwa ‘Tuhan yang membunuh dia’ (ay 14).
·         2Taw 21:16-17 - Tuhan menggerakkan hati orang Filistin dan Arab untuk melawan Yoram.
·         2Taw 25:16,20 - penolakan Amazia terhadap nasehat nabi membuat nabi itu yakin / tahu bahwa Allah telah menentukan supaya Amazia tidak mendengarkan nasehatnya, karena Allah hendak menyerahkan-nya ke tangan Yoas.
·         2Taw 36:17 - Tuhan menggerakkan raja orang Kasdim untuk meng-hancurkan Yehuda.
·         Ayub 1:21  42:11b - Semua malapetaka yang dialami Ayub adalah pekerjaan Tuhan.
·         Amsal 16:4 - Tuhan membuat orang fasik untuk hari malapetaka!
·         Yes 10:5-7,12,15,22,23 - Penindasan oleh Asyur terhadap Yehuda merupakan pekerjaan Tuhan yang menggunakan Asyur sebagai ‘cambuk murka / tongkat amarah’ (ay 5). Padahal penindasan itu sendiri adalah dosa, dan karena itu akhirnya Asyur dihukum oleh Tuhan (ay 12).
·         Yes 63:17a - “Ya TUHAN, mengapa Engkau biarkan kami sesat dari jalanMu, dan mengapa Engkau tegarkan hati kami, sehingga tidak takut kepadaMu?”.
·         Yer 19:7-9 - Tuhan membuat orang Yehuda mati oleh pedang lawan, dan Tuhan membuat mereka memakan anak dan temannya sendiri! Perbuatan kanibal ini datang dari Tuhan!
·         Yer 25:9-12 - Tuhan bekerja sehingga Babilonia menghancurkan Yehuda.
·         Yer 43:10-11 - Tuhan bekerja menggunakan Babilonia untuk menghancurkan Mesir.
·         Yer 47:6-7 - Tuhan menyuruh pedang Firaun untuk membunuhi orang Filistin.
·         Yer 50:9 - Tuhan menggerakkan bangsa-bangsa besar dari Utara untuk menghancurkan Babel.
·         Ratapan 2:6 - Tuhan menjadikan orang lupa akan perayaan dan sabat!
·         Yeh 14:9 - kalau nabi palsu membiarkan dirinya tergoda dengan me-ngatakan suatu ucapan, maka Tuhan yang menggoda nabi palsu itu.
·         Hab 1:6,12 - Tuhan membangkitkan orang Kasdim untuk membunuh / menyiksa.
·         Zakh 14:2 - Tuhan bekerja mengumpulkan segala bangsa untuk me-merangi mereka, dan melakukan perampokan dan pemerkosaan.
·         Mat 11:25,26,27b - Tuhan menyembunyikan Injil terhadap orang pan-dai. Ini membuat mereka tidak mungkin bisa percaya kepada Kristus.
·         Mark 4:11-12  Yoh 12:39-40 - Tuhan bekerja sehingga nubuat Yesaya terjadi.
·         Kis 2:23  4:27-28 - Tuhan bekerja sehingga pembunuhan / penyaliban terhadap Yesus yang sudah Ia tetapkan, terlaksana.
·         Ro 11:7-8,25b - Orang-orang menjadi tegar karena Allah membuat mereka tertidur, memberi mata / telinga yang tidak dapat melihat / mendengar. Jelas bahwa ketegaran mereka merupakan pekerjaan Tuhan.
·         Ro 11:32 berkata bahwa Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahanNya atas mereka semua!
·         2Tes 2:10-11 - Allah mendatangkan kesesatan atas mereka yang menyebabkan mereka percaya akan dusta!
·         Wah 17:17 (NIV) - “For God has put it into their hearts to accomplish his purpose by agreeing to give the beast their power to rule, until God’s words are fulfilled” (= Karena Allah telah memasukkan hal itu kedalam hati mereka untuk melaksanakan tujuanNya dengan menyetujui untuk memberikan binatang itu kuasa untuk memerintah, sampai firman Allah tergenapi).
Ini menunjukkan bahwa Allah bekerja sehingga orang-orang itu mau tunduk kepada binatang itu!

Kalau saudara betul-betul ingin mengetahui apakah doktrin Providence of God ini betul-betul merupakan ajaran Kitab Suci, bacalah semua ayat-ayat di atas ini dengan teliti!

4)   Sekalipun ada dosa dalam Providence of God, itu tentu tidak berarti bahwa dosa itu merupakan tujuan akhir dari Allah. Kalau Allah menetapkan terjadinya dosa dan lalu melaksanakan rencanaNya itu, maka tentu Ia mempunyai tujuan yang baik.
Ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan hal itu:
·         Ro 3:5 - ‘... ketidakbenaran kita menunjukkan kebenaran Allah’.
·         Ro 3:7 - ‘... kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaanNya’.
·         Ro 5:20b - ‘di mana dosa bertambah banyak di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah’.
·         Ro 11:32 - ‘Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahanNya atas mereka semua’.
Kata-kata ‘telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan’ menunjukkan bahwa dalam Providence of God ada dosa, dan kata-kata ‘supaya Ia dapat menunjukkan kemurahanNya atas mereka semua’ menunjukkan adanya tujuan yang baik di dalam semua itu.
·         1Tim 1:13-16, khususnya ay 16nya, menunjukkan bahwa kebejadan Paulus sebelum ia menjadi kristen justru akhirnya menjadi suatu contoh bagi orang bejad lainnya. Tentu saja bukan supaya mereka meniru kebejadan itu, tetapi supaya mereka melihat dalam diri Paulus bahwa orang bejadpun bisa diampuni asal mau percaya kepada Yesus. Dengan dermikian ini menjadi suatu dorongan bagi orang-orang bejad yang lain untuk percaya kepada Yesus, dan sekaligus menjadi suatu jaminan bahwa kalau mereka mau percaya kepada Yesus, maka sama seperti Paulus merekapun akan diampuni.
·         Adanya dosa memang menunjukkan kasih / kemurahan Allah secara lebih menyolok, karena kalau tidak ada dosa, kita tidak bisa melihat bagaimana Allah mengampuni manusia berdosa melalui salib.
·         Adanya dosa juga menunjukkan kesabaran Allah, yang tidak langsung menghukum pada waktu melihat dosa (bdk. Ro 2:4).
·         Adanya dosa juga lebih bisa menunjukkan keadilan dan kesucian Allah.
Jadi jelas dari semua contoh di atas ini bahwa dosa akhirnya memang bisa membawa kemuliaan bagi Allah!

Catatan: Tetapi awas, ini tak berarti kita boleh / harus berbuat dosa untuk bisa memuliakan Allah (bdk. Ro 3:7-8  Ro 6:1-2,12-14).

V) Providence dan tanggung jawab manusia:

Adanya Rencana Allah dan Providence of God tidak membuang tanggung jawab manusia.
Alasannya:

1)   Kita harus hidup sesuai dengan kehendak Allah yang dinyatakan kepada kita (yaitu Firman Tuhan), bukan berdasarkan kehendak Allah yang tersembunyi / yang tidak kita ketahui.
Ul 29:29 - Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini”.
Charles Haddon Spurgeon:
“Let the providence of God do what it may, your business is to do what you can” (= Biarlah providensia Allah melakukan apapun, urusanmu adalah melakukan apa yang kamu bisa) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 43.
Contoh: Tuhan sudah menentukan / memilih orang-orang tertentu untuk sela­mat (Ef 1:4,5,11) dan orang-orang tertentu untuk binasa / masuk neraka (Yoh 17:22  Ro 9:22), tetapi kita / manusia tidak tahu siapa yang dipilih untuk selamat dan siapa yang dipilih untuk binasa. Jadi itu adalah kehendak Allah yang tersembunyi dan tidak boleh kita jadikan dasar / pedoman hidup kita, misalnya dengan berpikir / bersikap seperti ini:
·         sekarang ini saya tak perlu percaya kepada Yesus. Kalau saya memang ditentukan selamat, nanti pasti akan percaya dengan sendirinya.
·         mungkin orang itu bukan orang pilihan, sehingga hanya membuang-buang waktu dan tenaga untuk menginjili dia. Biarkan saja dia, kalau ternyata dia orang pilihan, toh nanti akan percaya dengan sendirinya.
Kita harus hidup berda­sarkan Firman Tuhan (kehendak Allah yang dinya-takan bagi kita), misalnya:
¨      Kis 16:31 - perintah untuk percaya kepada Yesus.
¨      Mat 28:19-20 - perintah untuk memberitakan Injil kepada semua orang.

2)   Sekalipun Allah menentukan dan mengatur terjadinya dosa, tetapi pada saat dosa itu terjadi, manusia melakukan dosa itu dengan kemauannya sendiri! Ini menunjukkan bahwa kebebasan manusia tidak dibuang!
Contoh:
·         Kel 7:3,13 - Allah mengeraskan hati Firaun, tetapi Firaun juga mengeraskan hatinya sendiri.
·         Ul 2:30 - Allah mengeraskan hati Sihon, tetapi Sihon juga menge-raskan hatinya sendiri.
·         Ayub 1:15,17,21 - Ayub berkata bahwa ‘Tuhan yang mengambil’; tetapi orang-orang Syeba dan Kasdim melakukan hal itu dengan kemauan mereka sendiri.
·         Yes 10:5-7 - Asyur adalah alat Tuhan, tetapi Asyur melakukan sendiri dengan motivasi lain.
·         Yer 25:9-12 - Allah menggunakan Nebukadnezar, tetapi ia dihukum oleh Allah karena hal itu.

Charles Haddon Spurgeon: (tentang tentara yang tak mematahkan kaki Kristus tetapi menusuk Kristus dengan tombak)
“They acted of their own free will, and yet at the same time they fulfilled the eternal counsel of God. Shall we never be able to drive into men’s mind the truth that predestination and free agency are both facts? Men sin as freely as birds fly in the air, and they are altogether responsible for their sin; and yet everything is ordained and foreseen of God. The fore-ordination of God in no degree interferes with the responsibility of man. I have often been asked by persons to reconcile the two truths. My only reply is - They need no reconciliation, for they never fell out. Why should I try to reconcile two friends? Prove to me that the two truths do not agree. In that request I have set you a task as difficult as that which you propose to me. These two facts are parallel lines; I cannot make them unite, but you cannot make them cross each other” (= Mereka bertindak dengan kehendak bebas mereka, tetapi pada saat yang sama mereka menggenapi rencana yang kekal dari Allah. Apakah kita tidak akan pernah bisa menancapkan ke dalam pikiran manusia kebenaran bahwa predestinasi dan kebebasan agen / manusia dua-duanya merupakan fakta? Manusia berbuat dosa sebebas burung-burung yang terbang di udara, dan mereka semuanya bertanggung jawab untuk dosa mereka; tetapi segala sesuatu ditetapkan dan dilihat lebih dulu oleh Allah. Penetapan lebih dulu dari Allah sama sekali tidak mengganggu tanggung jawab manusia. Saya sering ditanya oleh orang-orang untuk mendamaikan dua kebenaran ini. Jawaban saya hanyalah - Mereka tidak membutuhkan pendamaian, karena mereka tidak pernah bertengkar. Mengapa saya harus mendamaikan 2 orang sahabat? Buktikan kepada saya bahwa dua kebenaran itu tidak setuju / cocok. Dalam permintaan itu saya telah memberimu suatu tugas yang sama sukarnya seperti yang kaukemukakan kepada saya. Kedua fakta ini adalah garis-garis yang paralel; saya tidak bisa membuat mereka bersatu, tetapi engkau tidak bisa membuat mereka bersilangan) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’,  hal 670-671.

Ini semua menyebabkan manusia tetap bertanggung jawab atas dosa-dosanya, dan ini membedakan manusia dari robot / wayang.
Ini menyebabkan Calvinism / Reformed berbeda dengan Fatalism maupun Hyper-Calvinism, yang karena percaya bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu, lalu hidup secara apatis / acuh tak acuh / tak bertanggung jawab!

VI) Keberatan / serangan terhadap doktrin ini:

1)   Manusia menjadi seperti robot / wayang.
Jawab: Lihat point V di atas.

2)   Kalau Allah sudah menetapkan segala sesuatu, bagaimana mungkin manusia masih bisa mempunyai kebebasan, dan bahkan harus bertanggung jawab atas dosanya?
Jawab:

a)   Terus terang, tidak ada orang yang bisa mengharmoniskan 2 hal yang kelihatannya bertentangan ini. Orang Reformed hanya melihat bahwa 2 hal itu sama-sama diajarkan oleh Kitab Suci, tetapi Kitab Suci tidak pernah mengharmoniskannya. Karena itu orang Reformed juga mengajarkan kedua hal itu, tanpa bisa mengharmoniskannya.

Loraine Boettner:
“But while the Bible repeatedly teaches that this providential control is universal, powerful, wise, and holy, it nowhere attempts to inform us how it is to be reconciled with man’s free agency” (= Tetapi sementara Alkitab berulangkali mengajar bahwa penguasaan providence ini bersifat universal, berkuasa, bijaksana, dan suci, Alkitab tidak pernah berusaha untuk memberi informasi kepada kita tentang bagaimana hal itu bisa diperdamaikan / diharmoniskan dengan kebebasan manusia) - Loraine Boettner, ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 38.

Charles Haddon Spurgeon:
“man, acting according to the device of his own heart, is nevertheless overruled by that sovereign and wise legislation ... How these two things are true I cannot tell. ... I am not sure that in heaven we shall be able to know where the free agency of man and the sovereignty of God meet, but both are great truths. God has predestinated everything yet man is responsible” (= manusia, bertindak sesuka hatinya, bagaimanapun dikalahkan / dikuasai oleh pemerintahan yang berdaulat dan bijaksana ... Bagaimana dua hal ini bisa benar saya tidak bisa mengatakan. ... Saya tidak yakin bahwa di surga kita akan bisa mengetahui dimana tindakan bebas manusia dan kedaulatan Allah bertemu, tetapi keduanya adalah kebenaran yang besar. Allah telah mempredestinasikan segala sesuatu tetapi manusia bertanggungjawab) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 10.

Charles Hodge:
God can control the free acts of rational creatures without destroying either their liberty or their responsibility” (= Allah bisa mengontrol tindakan-tindakan bebas dari makhluk-makhluk rasionil tanpa menghancurkan kebebasan ataupun tanggung jawab mereka) - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 332.

Saya berpendapat bahwa bagian yang harus diperhatikan dalam kata-kata Charles Hodge ini adalah ‘God can’ (= Allah bisa).
Kalau saya membuat film, maka saya akan menyusun naskah, dimana setiap pemain sudah ditentukan harus bertindak apa atau berkata apa. Tetapi selalu ada sedikit kebebasan bagi para pemain. Kalau saya tidak memberikan kebebasan sama sekali, maka para pemain itu akan menjadi robot, yang tidak lagi mempunyai kebebasan apapun.
Tetapi Allah berbeda dengan saya atau dengan manusia lain. Allah bisa menentukan dan mengontrol segala sesuatu sampai detail-detail yang sekecil-kecilnya, tanpa menghancurkan kebebasan manusia! Bagaimana Ia bisa melakukan hal itu, merupakan suatu mystery bagi kita, tetapi yang jelas Kitab Suci menunjukkan bahwa Allah memang menentukan dan menguasai segala sesuatu, tetapi manusia tetap mempunyai kebebasan.

b)   Dalam hal yang lain, kita juga melihat hal yang sama. Misalnya: kita percaya bahwa Allah itu maha kasih dan mahatahu. Tetapi kita juga percaya bahwa Allah menciptakan neraka dan orang tertentu yang Ia tahu bakal masuk ke neraka. Kalau memang Ia maha kasih dan maha tahu, mengapa Ia tidak hanya menciptakan orang yang akan masuk ke surga? Saya yakin tidak ada orang yang mengharmoniskan 2 hal itu, tetapi toh semua orang kristen percaya dan mengajarkan ke 2 hal itu, karena Kitab Suci memang jelas mengajarkan kedua hal itu. Lalu mengapa dalam hal doktrin Providence of God ini kita tidak mau bersikap sama?

3)   Bagaimana Allah yang maha suci bisa  menciptakan dosa?
Jawab:
a)   Allah memang menetapkan terjadinya dosa dan mengatur sehingga dosa terjadi, tetapi Allah bukan pencipta dosa. Lihat point IV, 2, a,b di atas.
b)   Dalam menetapkan dan mengatur terjadinya dosa Allah mempunyai tujuan yang baik. Lihat point IV, 4 di atas.

4)   Ada banyak orang yang keberatan dengan diajarkannya doktrin ini karena bisa menimbulkan tanggapan yang negatif, misalnya malah berbuat dosa karena toh sudah ditentukan, marah kepada Allah seba­gai penentu penderitaan kita, malas berdoa / memberitakan Injil karena semua toh sudah ditentukan, dsb.
Jawab:
Harus diakui bahwa tanggapan salah seperti itu bisa saja terjadi, tetapi itu adalah kesalahan orang yang mendengar ajaran ini! Jangan lupa bahwa Injilpun bisa menimbulkan tanggapan yang negatif. Misal­nya: Kalau ada orang yang mendengar bahwa Yesus sudah mati untuk menebus dosa-dosanya, baik yang dulu, yang sekarang, maupun yang akan datang, maka bisa saja ia lalu malah berbuat dosa karena toh sudah dibayar / ditebus oleh Yesus. Lalu, apakah Injil sebaiknya tidak diajarkan karena bisa menimbulkan tanggapan negatif seperti ini?

John Murray berkata:
“... perversion does not refute the truth of the doctrine perverted” (= penyim-pangan tidak menyangkal kebenaran dari doktrin yang disimpangkan) - ‘Collected Writings of John Murray’, vol II, hal 87.

VII) Guna doktrin ini bagi kita:

Doktrin ini mempunyai banyak manfaat yang penting dalam hidup kita, seperti:

1)   Pada saat kita mengalami penderitaan, kesedihan dsb, kita harus ingat bahwa segala sesuatu terjadi karena kehendak / Rencana Allah, dan kita juga harus percaya bahwa semua itu terjadi untuk kebaikan kita yang adalah anak-anakNya / orang pilihanNya (Ro 8:28). Ini akan merupakan penghiburan yang luar biasa di tengah-tengah segala penderitaan / kesedihan.

John Owen:
“Amidst all our afflictions and temptations, under whose pressure we should else faint and despair, it is no small comfort to be assured that we do nor can suffer nothing but what his hand and counsel guides unto us, what is open and naked before his eyes, and whose end and issue he knoweth long before; which is a strong motive to patience, a sure anchor of hope, a firm ground of consolation” (= Di tengah-tengah semua penderitaan dan pencobaan, yang tekanannya bisa membuat kita lemah / takut dan putus asa, bukan penghiburan kecil untuk yakin bahwa kita tidak bisa menderita apapun kecuali apa yang tangan dan rencanaNya pimpin kepada kita, apa yang terbuka dan telanjang di depan mataNya, dan yang akhirnya dan hasilnya Ia ketahui jauh sebelumnya; yang merupakan motivasi yang kuat pada kesabaran, jangkar pengharapan yang pasti, dasar penghiburan yang teguh) - ‘The works of John Owen’, vol 10, hal 29.

2)   Dalam keadaan bahaya / kritis, doktrin ini memberikan ketenangan kepada kita karena kalau kita yakin bahwa Allah mengontrol segala sesuatu maka kita tidak perlu kuatir terhadap apapun juga.

3)   Pada saat kita mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang lain, kita bisa lebih mengampuni dan tidak mendendam, kalau kita mengingat bahwa dibalik semua itu ada Rencana Allah dan Providence of God.
Contoh:
·         Yusuf dalam Kej 45:5,7,8  Kej 50:20
·         Ayub dalam Ayub 1:21
·         Daud dalam 2Sam 16:5-11
·         Yesus dalam Yoh 18:11

VIII) Kutipan-kutipan pendukung:

Bahwa apa yang saya ajarkan di atas memang adalah ajaran Calvinism / Re­formed yang sejati, dan bukannya ajaran Hyper-Calvinism, saya buktikan di bawah ini dengan mengutip dari tulisan-tulisan John Calvin, dari Westminster Confession of Faith (Pengakuan Iman dari gereja-gereja Presbyterian / Reformed di Amerika), dan dari tulisan-tulisan para ahli Theologia Reformed.
Perlu saya tekankan sekali lagi bahwa tujuan saya memberikan kutipan-kutipan yang banyak di bawah ini, bukanlah untuk membuktikan kebenaran dari doktrin Providence of God ini. Bukti dan dasar Kitab Suci dari doktrin Providence of God telah saya berikan di depan. Juga saya tidak memberikan kutipan-kutipan ini secara sistimatis, karena tujuan saya memberikan kutipan-kutipan ini hanyalah untuk membuktikan bahwa doktrin Providence of God yang saya ajarkan ini benar-benar merupakan ajaran Refomed yang dipercaya dan diajarkan oleh John Calvin dan ahli-ahli theologia Reformed yang lain.

John Calvin, ‘Institutes of the Christian Religion’:
“But anyone who has been taught by Christ’s lips that all the hairs of his head are numbered (Matt 10:30) will look farther afield for a cause, and will consider that all events are governed by God’s secret plan [= Tetapi setiap orang yang telah diajar oleh bibir Kristus bahwa semua rambut kepalanya terhitung (Mat 10:30) akan melihat lebih jauh untuk suatu penyebab, dan akan menganggap bahwa semua kejadian diatur oleh rencana rahasia Allah] - Book I, Chapter XVI, no 2.
“... we make God the ruler and governor of all things, who in accord­ance with his wisdom has from the farthest limit of eternity decreed what he was going to do, and now by his might carries out what he has decreed. From this we declare that not only heaven and earth and the inanimate creatures, but also the plans and intentions of men, are so governed by his providence that they are borne by it straight to their appointed end” (= ... kami membuat Allah pengatur dan pemerintah segala sesuatu, yang sesuai dengan kebijaksanaanNya telah menetapkan sejak batas terjauh dari kekekalan apa yang Ia akan lakukan, dan sekarang dengan kuasaNya melaksanakan apa yang telah Ia tetapkan. Dari sini kami menyatakan bahwa bukan hanya surga dan bumi dan makhluk tak bernyawa, tetapi juga rencana dan maksud manusia begitu diperintah / diatur oleh providenceNya sehingga mereka dilahirkan olehnya langsung menuju tujuan yang ditetapkan bagi mereka) - Book I, Chapter XVI, no 8.
“Does nothing happen by chance, nothing by contingency? I reply: Basil the Great has truly said that ‘fortune’ and ‘chance’ are pagan terms, with whose significance the minds of the godly ought not to be occu­pied. For if every success is God’s blessing, and calamity and adver­sity his curse, no place now remains in human affairs for fortune or chance” (= Apakah tidak ada yang terjadi secara kebetulan? Saya menjawab: Basil yang Agung secara benar telah berkata bahwa ‘nasib baik’ dan ‘kebetulan’ adalah istilah kafir, dan pikiran orang benar tidak seharusnya diisi dengan istilah itu. Karena jika setiap sukses adalah berkat Allah, dan malapetaka dan kemalangan adalah kutukanNya, tidak ada tempat tertinggal dalam hidup manusia untuk nasib baik atau kebetulan) - Book I, Chapter XVI, no 8.
“God wills that the false king Ahab be deceived; the devil offers his services to this end; he is sent, with a definite command, to be a lying spirit in the mouth of all the prophets (1Kings 22:20,22). If the blinding and insanity of Ahab be God’s judgment, the figment of bare permission vanishes: because it would be ridiculous for the Judge only to permit what he wills to be done, and not also to decree it and to command its execution by his ministers” [= Allah menghendaki bahwa raja Ahab yang tidak benar ditipu; setan menawarkan pelayanannya untuk tujuan ini; ia dikirim, dengan perintah yang pasti, untuk menjadi roh dusta dalam mulut semua nabi (1Raja-raja 22:20,22). Jika pembutaan dan kegilaan Ahab adalah penghakiman Allah, isapan jempol tentang ‘sekedar ijin’ hilang: karena adalah menggelikan bagi Hakim untuk hanya mengijinkan apa yang Ia kehen-daki untuk dilakukan, dan tidak juga menetapkannya dan memerintahkan pelaksanaannya oleh pelayan-pelayanNya] - Book I, Chapter XVIII, no 1.
“Those who are moderately versed in the Scriptures see that for the sake of brevity I have put forward only a few of many testimonies. Yet from these it is more than evident that they babble and talk absurdly who, in place of God’s providence, substitute bare permission - as if God sat in a watchtower awaiting chance events, and his judgments thus depended upon human will”(= Mereka yang betul-betul mengetahui Kitab Suci melihat bahwa untuk singkatnya saya hanya memberikan sedikit dari banyak kesaksian. Tetapi dari kesaksian-kesaksian ini adalah lebih dari jelas bahwa mereka mengoceh dan berbicara secara menggelikan yang, menggantikan providence Allah dengan ‘sekedar ijin’ - seakan-akan Allah duduk di menara pengawal menunggu kejadian-kejadian yang terjadi secara kebetulan, dan dengan demikian penghakimanNya tergantung pada kehendak manusia) - Book I, Chapter XVIII, no 1.
“Likewise in Isaiah, He declares that he will send the Assyrians against the deceitful nation and will command them ‘to take spoil and seize plunder’ (Isa 10:6) - not because he would teach impious and obstinate men to obey him willingly, but because he will bend them to execute his judgments, as if they bore his commandments graven upon their hearts; from this it appears that they had been impelled by God’s sure determination. I confess, indeed, that it is often by means of Satan’s intervention that God acts in the wicked, but in such a way that Satan performs his part by God’s impulsion and advances as far as he is allowed” [= Demikian juga dalam Yesaya, Ia menyatakan bahwa Ia akan mengirim orang Asyur terhadap bangsa yang dusta dan akan memerintahkan mereka ‘untuk melakukan perampasan dan penjarahan’ (Yes 10:6) - bukan karena Ia akan mengajar orang-orang jahat dan keras kepala untuk mentaatiNya secara sukarela, tetapi karena Ia akan membengkokkan mereka untuk melaksanakan penghakimanNya; seakan-akan mereka mempunyai perintahNya tertulis dalam hati mereka; dari sini terlihat bahwa mereka dipaksa oleh penentuan yang pasti dari Allah. Saya mengakui bahwa seringkali Allah bertindak dalam diri orang jahat dengan menggunakan intervensi Setan, tetapi dengan cara sedemikian rupa sehingga Setan melakukan bagiannya oleh dorongan Allah dan bergerak maju sejauh ia diijinkan] - Book I, Chapter XVIII, no 2.
“To sum up, since God’s will is said to be the cause of all things, I have made his providence the determination principle for all human plans and works, not only in order to display its force in the elect, who are ruled by the Holy Spirit, but also to compel the reprobate to obedience” (= Kesimpulannya, karena kehendak Allah dikatakan sebagai penyebab dari segala sesuatu, saya telah membuat providenceNya suatu prinsip yang menentukan untuk semua rencana dan pekerjaan manusia, bukan hanya untuk menunjukkan kekuatannya dalam diri orang pilihan, yang dipimpin oleh Roh Kudus, tetapi juga untuk memaksa orang yang bukan pilihan pada ketaatan) - Book I, Chapter XVIII, no 2.
“... so that in a wonderful and ineffable manner nothing is done without God’s will, not even that which is against his will. For it would not be done if he did not permit it, yet he does not unwillingly permit it, but willingly; nor would he, being good, allow evil to be done, unless being also almighty he could make good even out of evil” (= ... sehingga dalam cara yang indah dan tidak terkatakan tidak ada sesuatupun yang terjadi tanpa kehendak Allah, bahkan apa yang bertentangan dengan kehendakNya. Karena itu tidak akan terjadi jika Ia tidak mengijinkannya, tetapi Ia tidak mengijinkannya dengan terpaksa, tetapi dengan sukarela; dan Ia, karena Ia adalah baik, tidak akan mengijinkan kejahatan terjadi, kecuali Ia, yang juga adalah mahakuasa, bisa membuat yang baik bahkan dari hal yang jahat) - Book I, Chapter XVIII, no 3 (bagian ini dikutip oleh Calvin dari Agustinus).

‘Westminster Confession of Faith’:
Chapter II, 1: ... God, ... working all things according to the counsel of His own immutable and most righteous will” (= ... Allah ... mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan rencana dari kehendakNya sendiri yang tetap dan paling benar).
Chapter III, 1: God from all eternity, did, by the most wise and holy counsel of His own will, freely, and unchangeably ordain whatsoever comes to pass; yet so, as thereby neither is God the author of sin, nor is violence offered to the will of the creatures; nor is the liberty or contingen­cy of second causes taken away, but rather established” (= Allah dari sejak kekekalan, melakukan, oleh rencana kehen-dakNya sendiri yang paling bijaksana dan suci, dengan bebas, dan dengan tidak berubah menetapkan apapun yang akan terjadi; tetapi dengan demikian Allah bukan pencipta dosa, dan kekerasan tidak digunakan terhadap kehendak dari makhluk ciptaan; juga kebebasan atau ketidakpastian dari penyebab kedua tidaklah diambil, tetapi sebaliknya diteguhkan).
Chapter III, 2: Although God knows whatsoever may or can come to pass upon all sup­posed conditions, yet hath He not decreed any thing because He foresaw it as future, or as that which would come to pass upon such condi­tions” (= Sekalipun Allah mengetahui apapun yang bisa terjadi dalam segala kondisi yang mungkin, tetapi Ia tidak menetapkan sesuatupun karena Ia melihatnya lebih dulu sebagai masa depan, atau sebagai apa yang akan terjadi dalam kondisi seperti itu).
Chapter V, 1: God the great Creator of all things doth uphold, direct, dispose, and govern all creatures, actions, and things, from the greatest even to the least, by His most wise and holy providence, according to His infallible foreknowledge, and the free and immutable counsel of His own will, to the praise of the glory of His wisdom, power, justice, goodness, and mercy” (= Allah Pencipta yang besar dari segala sesuatu menegakkan, mengarahkan, menentukan / mengatur, dan memerintah semua makhluk ciptaan, tindakan dan benda-benda, dari yang terbesar bahkan sampai kepada yang terkecil, oleh providenceNya yang paling bijaksana dan kudus, sesuai dengan pengetahuan-lebih-duluNya yang tidak bisa salah, dan rencana kehendakNya sendiri yang bebas dan tetap / kekal, untuk memuji kemuliaan dari hikmat, kuasa, keadilan, kebaikan, dan belas kasihanNya).
Chapter V, 4: The almighty power, unsearchable wisdom, and infinite goodness of God so far manifest themselves in His providence, that it extendeth itself even to the first fall, and all other sins of angels and men; and that not by a bare permission, but such as hath joined with it a most wise and powerful bounding, and otherwise ordering and governing of them, in a manifold dispensation, to His own holy ends; yet so, as the sinfulness thereof proceedeth only from the creature, and not from God, who, being most holy and righteous, neither is nor can be the author or approver of sin” (= Kemahakuasaan, hikmat yang tak terselami, dan kebaikan yang tak terbatas dari Allah begitu jauh memanifestasikan dirinya dalam providenceNya, sehingga menjangkau bahkan kejatuhan pertama ke dalam dosa, dan semua dosa-dosa lain dari malaikat dan manusia; dan itu bukan sekedar suatu ijin, tetapi sedemikian rupa sehingga telah menggabungkan dengannya batasan yang paling bijaksana dan kuat, dan selain itu menetapkan / mengatur dan menguasai mereka, dalam berbagai-bagai pengaturan, untuk tujuanNya sendiri yang kudus; tetapi sedemikian rupa sehingga keberdosaan dari padanya keluar hanya dari makhluk ciptaan, dan bukan dari Allah, yang karena keberadaanNya yang paling kudus dan benar, bukanlah dan tidak bisa menjadi pencipta atau penyetuju dosa).
Chapter VI, 1: Our first parents, being seduced by the subtilty and temptation of Satan, sinned, in eating the forbidden fruit. This their sin, God was pleased, according to His wise and holy counsel, to permit, having purposed to order it to His own glory” (= Nenek moyang kita yang pertama, setelah digoda oleh kelicinan / kelicikan dan pencobaan Setan, berdosa dengan memakan buah terlarang. Dosa mereka ini, Allah berkenan, menurut rencanaNya yang bijaksana dan kudus, mengijinkannya, setelah menetapkan untuk menentukannya untuk kemuliaanNya sendiri).

‘The Larger Catechism’:
Question 12: “What are the decrees of God?” (= Pertanyaan 12: Apakah ketetapan-ketetapan Allah itu?).
Answer: “God’s decrees are the wise, free, and holy acts of the counsel of His will, whereby, from all eternity, he hath, for his own glory, unchangeably foreordained whatsoever comes to pass in time, especially concerning angels and men” (= Jawab: Ketetapan-ketetapan Allah adalah tindakan-tindakan dari rencana kehendakNya yang bijaksana, bebas dan kudus, dengan mana dari sejak kekekalan, Ia telah, untuk kemuliaanNya sendiri, menentukan secara tidak bisa berubah segala sesuatu yang akan terjadi dalam waktu, khususnya berhubungan dengan malaikat dan manusia).

John Owen, ‘The works of John Owen’, vol 10:
“Whatsoever God hath determined, according to the counsel of his wisdom and good pleasure of his will, to be accomplished, to the praise of his glory, standeth sure and immutable” - hal 20.
“If God’s determination concerning any thing should have a temporal original, it must needs be either because he then perceived some goodness in it of which before he was ignorant, or else because some accident did affix a real goodness to some state of things which it had not from him; neither of which, without abominable blasphemy, can be affirmed, seeing he knoweth the end from the beginning” - hal 20.
“Out of this large and boundless territory of things possible, God by his decree freely determineth what shall come to pass, and makes them future which before were but possible. After this decree, as they commonly speak, followeth, or together with it, as others more exactly, taketh place, that prescience of God which they call ‘visionis,’ ‘of vision,’ whereby he infallibly seeth all things in their proper causes, and how and when they shall some to pass” - hal 23.

Louis Berkhof, ‘Systematic Theology’:
“Reformed Theology stresses the sovereignty of God in virtue of which He has sovereignly determined from all eternity whatsoever will come to pass, and works His sovereign will in His entire creation, both natural and spiritual, according to His predetermined plan. It is in full agreement with Paul when he says that God ‘worketh all things after the counsel of His will’ (Eph 1:11)” - hal 100.
“In the case of some things God decided, not merely that they would come to pass, but that He himself would bring them to pass, either immediately, as in the work of creation, or through the mediation of secondary causes, which are continually energized by His power. He himself assumes the responsibility for their coming to pass. There are other things, however, which God included in His decree and thereby rendered certain, but which He did not decide to effectuate Himself, as the sinful acts of His rational creatures” - hal 103.
“It is customary to speak of the decree of God respecting moral evil as permissive. By His decree God rendered the sinful actions of man infallibly certain without deciding to effectuate them by acting immediately upon and in the finite will. This means that God does not positively work in man 'both to will and to do', when man goes con­trary to His revealed will. It should be carefully noted, however, that this permissive decree does not imply a passive permission of something which is not under the control of the divine will. It is a decree which renders the future sinful acts absolutely certain, but in which God determines (a)not to hinder the sinful self-determination of the finite will; and (b)to regulate and control the result of this sinful self-determination” - hal 105.

Robert L. Dabney, ‘Lectures in Systematic Theology’:
“The decrees of God are His eternal purpose according to the counsel of His will, whereby, for His own glory, He hath foreordained whatso­ever comes to pass” - hal 121.
“God’s decree ‘foreordained whatsoever comes to pass’; there was no event in the womb of the future, the futurition of which was not made certain to God by it” - hal 213.
“By calling it permissive, we do not mean that their futurition is not certain to God; or that He has not made it certain; we mean that they are such acts as He efficiently brings about by simply leaving the spontaneity of other free agents, as upheld by His providence, to work of itself, under incitements, occasions, bounds and limitations, which His wisdom and power throw around. To this class may be attributed all the acts of rational free agents, except such are evoked by God’s own grace, and especially, all their sinful acts” - hal 214.

B. B. Warfield, ‘Biblical and Theological Studies’:
“the minutest occurrences are as directly controlled by Him as the greatest (Matt. 10:29-30, Luke 12:7)” -  hal 296.
“Throughout the Old Testament, behind the processes of nature, the march of history and the fortunes of each individual life alike, there is steadily kept in view the governing hand of God working out His preconceived plan - a plan broad enough to embrace the whole universe of things, minute enough to concern itself with the smallest details, and actualizing itself with inevitable certainty in every event that comes to pass” - hal 276.
“an all-inclusive plan embracing all that is to come to pass; in accordance with which plan He now governs His universe, down to the least particular, so as to subserve His perfect and unchanging purpose” - hal 278.
“According to the Old Testament conception, God foreknows only because He has pre-determined, and it is therefore also that He brings it to pass; His foreknowledge, in other words, is at bottom a knowledge of His own will, and His works of providence are merely the execution of His all-embracing plan” - hal 281.
“We are never permitted to imagine, to be sure, that God is the author of sin, either in the world at large or in any individual soul ... But neither is God’s relation to the sinful acts of His creatures ever represented as purely passive ... Nevertheless, it remains true that even the evil acts of the creature are so far carried back to God that they too are affirmed to be included in His all-embracing decree, and to be brought about, bounded and utilized in His providential government. It is He that hardens the heart of the sinner that persists in his sin (Ex. 4:21, 7:3, 10:1,27, 14:4,8, Deut 2:30, Jos 11:20, Isa 63:17); it is from Him that the evil spirits proceed that trouble sinners (1Sam. 16:14, Judg. 9:23, 1Kings 22, Job 1); it is of Him that the evil impulses that rise in sinners’ hearts take this or that specific form (2Sam. 24:1)” - hal 284.
“this God is e Person who acts purposefully; there is nothing that is, and nothing that comes to pass, thatHe has not first decreed and then brought to pass by His creation or providence” - hal 284.
“But, in the infinite wisdom of the Lord of all the earth, each event falls with exact precision into its proper place in the unfolding of His eternal plan; nothing, however small, however strange, occurs without His ordering, or without its peculiar fitness for its place in the working out of His purpose; and the end of all shall be the manifestation of His glory, and the accumulation of His praise” - hal 285.

Charles Hodge, ‘Systematic Theology’, vol I:
“By this is meant that from the indefinite number of systems, or series of possible events, present to the divine mind, God determined on the futurition or actual occurrence of the existing order of things, with all its changes, minute as well as great, from the beginning of time to all eternity. The reason, therefore, why any event occurs, or, that it passes from the category of the possible into that of the actual, is that God has so decreed” - hal 537.
“Change of purpose arises either from the want of wisdom or from the want of power. As God is infinite in wisdom and power, there can be with Him no unforeseen emergency and no inadequacy of means, and nothing can resist the execution of his original intention” - hal 538-539.
“The decrees of God are certainly efficacious, that is, they render certain the occurrence of what He decrees. Whatever God foreordains, must certainly come to pass. ... All events embraced in the purpose of God are equally certain, whether He has determined to bring them to pass by his own power, or simply to permit their occurrence through the agency of his creatures. ... Some things He purposes to do, others He decrees to permit to be done. He effects good, He permits evil. He is the author of the one, but not of the other” - hal 540-541.
“... the unity of God’s plan. If that plan comprehends all events, all events stand in mutual relation and dependence. If one part fails, the whole may fail or be thrown into confusion” - hal 541.
“The doctrine of the Bible is, that all events, whether necessary or contingent, good or sinful, are included in the purpose of God, and that their futurition or actual occurrence is rendered absolutely certain” - hal 542.
“With regard to the sinful acts of men, the Scriptures teach, (1)That they are so under the control of God that they can occur only by His permission and in execution of His purposes. He so guides them in the exercise of their wickedness that the particular forms of its manifes­tation are determined by His will” - hal 589.

Charles Hodge, ‘Systematic Theology’, vol II:
“As God works on a definite plan in the external world, it is fair to infer that the same is true in reference to the moral and spiritual world. To the eye of an uneducated man the heavens are a chaos of stars. The astronomer sees order and system in this confusion; all those bright and distant luminaries have their appointed places and fixed orbits; all are so arranged that no one interferes with any other, but each is directed according to one comprehensive and magnificent conception” -  hal 313.
“And as God is absolutely sovereign and independent, all his purposes must be determined from within or according to the counsel of his own will. They cannot be supposed to be contingent or suspended on the action of his creatures, or upon anything out of Himself” - hal 320.
“If He foreordains whatsoever comes to pass, then events correspond to his purposes; and it is against reason and Scripture to suppose that there is any contradiction or want of correspondence between what He intended and what actually occurs” - hal 323.

William G. T. Shedd, ‘Calvinism: Pure & Mixed’:
“When God executes his decree that Saul of Tarsus shall be ‘a vessel of mercy’, he works efficiently within him by his Holy Spirit ‘to will and to do’. When God executes his decree that Judas Iscariot shall be ‘a vessel of wrath fitted for destruction’, he does not work efficiently within him ‘to will and to do’, but permissively in the way of allowing him to have his own wicked will. He decides not to restrain him or to regenerate him, but to leave him to his own obstinate and rebellious inclination and purpose; and accordingly ‘the Son of man goeth, as it was determined, but woe unto that man by whom he is betrayed’ (Luke 22:22; Acts 2:23). The two Divine methods in the two cases are plainly different, but the perdition of Judas was as much foreordained and free from chance, as the conversion of Saul” - hal 31.
“Whatever undecreed must be by hap-hazard and accident. If sin does not occur by the Divine purpose and permission, it occurs by chance. And if sin occurs by chance, the deity, as in the ancient pagan theologies, is limited and hampered by it. He is not ‘God over all’. Dualism is introduced into the theory of the universe. Evil is an independent and uncontrollable principle. God governs only in part. Sin with all its effects is beyond his sway. This dualism God condemns as error, in his words to Cyrus by Isaiah, ‘I make peace and create evil’; and in the words of Proverbs 16:4, ‘The Lord hath made all things for himself; yea, even the wicked for the day of evil’” - hal 36.
“Nothing comes to pass contrary to his decree. Nothing happens by chance. Even moral evil, which he abhors and forbids, occurs by ‘the determinate counsel and foreknowledge of God’; and yet occurs through the agency of the unforced and self-determining will of man as the efficient” - hal 37.

Loraine Boettner, ‘The Reformed Doctrine of Predestination’:
“Since the universe had its origin in God and depends on Him for its continued existence it must be, in all its parts and at all times, subject to His control so that nothing can come to pass contrary to what He expressly decrees or permits. Thus the eternal purpose is represented as an act of sovereign predestination or foreordination, and unconditioned by any subsequent fact or change in time. Hence it is represented as being the basis of the divine foreknowledge of all future events, and not conditioned by that foreknowledge or by anything originated by the events themselves” - hal 14.
“The Pelagian denies that God has a plan; the Arminian says that God has a general plan but not a specific plan; but the Calvinist says that God has a specific plan which embraces all events in all ages” - hal 23.
“His choice of the plan, or His making certain that the creation should be on this order, we call His foreordination or His predestina­tion. Even the sinful acts of men are included in this plan. They are foreseen, permitted, and have their exact place. They are controlled and overruled for the divine glory” - hal 24.
“Even the sinful acts of men are included in the plan and are overruled for good” - hal 29.
“All that we need to know is that God does govern His creatures and that His control over them is such that no violence is done to their natures. Perhaps the relationship between divine sovereignty and human freedom can best be summed up in these words: God so presents the outside inducements that man acts in accordance with his own nature, yet does exactly what God has planned for him to do” - hal 38.
“The Arminian objection against foreordination bears with equal force against the foreknowledge of God. What God foreknows must, in the very nature of the case, be as fixed and certain as what is foreordained; and if one is inconsistent with the free agency of man, the other is also. Foreordination renders the events certain, while foreknowledge presupposes that they are certain” - hal 42.
“Common sense tells us that no events can be foreknown unless by some means, either physical or mental, it has been predetermined. Our choice as to what determines the certainty of future events narrows down to two alternatives - the foreordination of the wise and merciful heavenly Father, or the working of blind, physical fate” - hal 42.

Herman Hoeksema, ‘Reformed Dogmatics’:
“For this same reason the Bible always emphasizes the fact that God ordained all things and knew them from before the foundation of the world” - hal 157.
“Nor must we, in regard to the sinful deeds of men and devils, speak only of God’s permission in distinction from His determination. Holy Scripture speaks a far more positive language. We realize, of course, that the motive for speaking God’s permission rather than of His predetermined will in regard to sin and the evil deeds of men is that God may never be presented as the author of sin. But this purpose is not reached by speaking of God’s permission or His permissive will: for if the Almighty permits what He could just as well have prevented, it is from an ethical viewpoint the same as if He had committed it Himself. But in this way we lose God and His sovereignty: for permis­sion presupposes the idea that there is a power without God that can produce and do something apart from Him, but which is simply permitted by God to act and operate. This is dualism, and it annihilates the complete and absolute sovereignty of God. And therefore we must main­tain that also sin and all the wicked deeds of men and angels have a place in the counsel of God, in the counsel of His will. Thus it is taught by the Word of God. For it is certainly according to the deter­minate counsel of God that Christ is nailed to the cross, and that Pilate and Herod, with the Gentiles and Israel, are gathered together against the holy child Jesus. It is therefore much better to say that the Lord also in His counsel hates sin and determined that that which He hates should come to pass in order to reveal His hatred and to serve the cause of God’s covenant” - hal 158.

Herman Bavinck, ‘The Doctrine of God’:
“All events are included in that counsel, even the sinful deeds of man” - hal 342.
“God’s decree is his eternal purpose whereby he has foreordained whatsoever comes to pass. Scripture everywhere affirms that whatsoever is and comes to pass is the realization of God’s thought and will, and has its origin and idea in God’s eternal counsel or decree, ...” - hal 369.
“Furthermore, God’s thought, embodied in creation, cannot be conceived of as an uncertain idea, doubtful of realization; it is not a ‘bare knowledge’ that receives its contents from creation; it is not a plan, a project, or purpose whose execution can be frustrated” - hal 370.
“God’s counsel is no more an act that pertains to the past than is the generation of the Son; it is eternal, divine act, eternally finished, yet continuing forevermore, apart from and raised above time. Scaliger correctly observed that God’s decree was not preceded by a long period of reflection and deliberation, so that for a long time God would have been without purpose and without a will; neither is it a plan once for all completed and finished and simply awaiting execution. But God’s decree is the eternally active will of God: it is the willing and purposing God himself; it is not something accidental to God, but being God’s will in action, it is one with his essence. It is impossi­ble to conceive of God as a being without a purpose and without an active and operative will. Nevertheless, all this does not conceal the fact that God’s decree is an ‘immanent work’ determined by nothing else than by God himself, and distinct in character from God’s works in time, Acts 15:18; Eph 1:4” - hal 370.

John Murray, ‘Collected Writings of John Murray’, vol II:
“It is true that all our choices and acts are foreordained, and only foreordained acts come to pass” - hal 64.
“The foreknowledge of God presupposes certainty of occurrence; hid foreordination renders all occurrence certain; by his providence what is foreordained is unalterably put into effect” - hal 65-66.
“The question here is that of the divine causality in connection with sin. ... There is divine predetermination or foreordination in connection with sin. The fall was foreordained by God and its certainty was therefore guaranteed. ... The first sin, like all other sins, was committed within the realm of God’s all-sustaining, directing and governing power. Outside the sphere of his foreordination and providence the fall could not have occurred. The arch-crime of history - the crucifixion of our Lord - was perpetrated in accordance with the determinate counsel and foreknowledge of God (Acts 2:23). So, too, was the fall” - hal 72-73.

Gresham Machen, ‘The Christian View of Man’:
“How much is embraced in that eternal counsel of God? The true answer to that question is very simple. The true answer is ‘Everything’. Everything that happens is embraced in the eternal purpose of God; nothing at all happens outside of His eternal plan” (= Berapa banyak yang dicakup dalam rencana kekal Allah itu? Jawaban yang benar terhadap pertanyaan itu sangat sederhana. Jawaban yang benar adalah ‘segala sesuatu’. Segala sesuatu yang terjadi tercakup dalam ren-cana kekal Allah; tidak ada sedikitpun yang terjadi di luar rencana kekalNya) - hal 35.

Arthur Pink, ‘The Sovereignty of God’:
“To declare that the Creator’s original plan has been frustrated by sin, is to dethrone God. To suggest that God was taken by surprise in Eden and that He is now attempting to remedy an unforeseen calamity, is to degrade the Most High to the level of a finite, erring mortal” - hal 21-22.

Arthur Pink, ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross”:
“It was no accident that the Lord of Glory was crucified between two thieves. There are no accidents in a world that is governed by God. Much less could there have been any accident on that Day of all days, or in connection with that Event of all events - a Day and an Event which lie at the very centre of the world’s history. No; God was presiding over that scene. From all eternity He had decreed when and where and how and with whom His Son should die. Nothing was left to chance or the caprice of man. All that God had decreed came to pass exactly as He had ordained, and nothing happened save as He had eternally purposed. Whatsoever man did was simply that which God’s hand and counsel ‘determined to be done’ (Acts 4:28). When Pilate gave orders that the Lord Jesus should be crucified between the two malefactors, all unknown to himself, he was but putting into execu­tion the eternal decree of God and fulfilling His prophetic word. Seven hundred years before this Roman officer gave command, God had declared through Isaiah that His Son should be ‘numbered with the transgressors’ (Isa 53:12). ...Not a single word of God can fall to the ground. ‘Forever, O LORD, Thy word is settled in heaven’ (Ps 119:89). Just as God had or­dained, and just as He had announced, so it came to pass” [= bukanlah suatu kebetulan bahwa Tuhan Kemuliaan disalibkan di antara 2 pencuri. Tidak ada kebetulan dalam dunia yang diperintah oleh Allah. Lebih-lebih lagi tidak ada kebetulan pada Hari segala hari, atau dalam hubungannya dengan Peristiwa di antara segala peristiwa - suatu Hari dan Peristiwa yang terletak di pusat sejarah dunia. Tidak; Allah mengontrol adegan / peristiwa itu. Dari kekekalan Allah telah menentukan kapan dan dimana dan bagaimana dan dengan siapa AnakNya harus mati. Tidak ada yang terjadi karena kebetulan atau karena perubahan pikiran manusia. Semua yang telah Allah tentukan terjadi persis seperti yang Ia tentukan, dan tidak ada sesuatupun yang terjadi kecuali yang sudah Ia rencanakan secara kekal. Apapun yang manusia lakukan hanyalah apa yang kuasa / tangan dan rencana / kehendak Allah ‘tentukan untuk terjadi’ (Kis 4:28). Ketika Pilatus memberikan perintah supaya Tuhan Yesus disalibkan di antara 2 krimi­nil, tanpa ia sendiri sadari, ia sedang melaksanakan ketetapan kekal dari Allah dan menggenapi firman nubuatanNya. Tujuh ratus tahun sebelum pejabat Romawi ini memberikan perintah, Allah telah menyata­kan melalui nabi Yesaya bahwa AnakNya harus ‘diperhitungkan sebagai pemberon-tak / pelanggar’ (Yes 53:12). ... Tidak satupun dari firman Allah bisa jatuh ke tanah / gagal. ‘Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firmanMu ditetapkan di surga’ (Maz 119:89 - diterjemahkan dari KJV). Persis seperti yang Allah telah tentukan, dan persis seperti yang Ia beritakan, begitulah hal itu terjadi] - hal 24-25.

Jerome Zanchius, ‘The Doctrine of Absolute Predestination’:
“We assert that God did from eternity decree to make man in His own image, and also decreed to suffer him to fall from that image in which he should be created, and thereby to forfeit the happiness with which he was invested, which decree and consequences of it were not limited to Adam only, but included and extended to all his natural posterity” - hal 87-88.
“That he fell in consequence of the Divine decree we prove thus: God was either willing that Adam should fall, or unwilling, or indifferent about it. If God was unwilling that Adam should transgress, how came it to pass that he did? ... Surely, If God had not willed the fall, He could, and no doubt would, have prevented it; but He did not prevent it: ergo, He willed it. And if he willed it, He certainly decreed it, for the decree of God is nothing else but the seal and ratification of His will. He does nothing but what He decreed, and He decreed nothing which He did not will, and both will and decree are absolutely eter­nal, though the execution of both be in time. The only way to evade the force of this reasoning is to say that ‘God was indifferent and unconcerned whether man stood or fell’. But in what a shameful, unwor­thy light does this represent the Deity! Is it possible for us to imagine that God could be an idle, careless spectator of one of the most important events that ever came to pass? Are not ‘the very hairs of our head are numbered’? Or does ‘a sparrow fall to the ground without our heavenly Father’? If, then, things the most trivial and worthless are subject to the appointment of His decree and the control of His providence, how much more is man, the masterpiece of this lower creation?” - hal 88-89.
Catatan: Jerome Zanchius sebetulnya tidak bisa disebut sebagai seorang Calvinist / Reformed, karena ia hidup sejaman dengan Calvin, yaitu tahun 1516-1590. Tetapi pandangannya dalam hal ini jelas merupakan pandangan Reformed.


-o0o-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar